[SF] Two of Us – Chapter 33

holding hands

Chapter 33

“Apa kau yakin ingin sekolah, Jun?” tanya Kyuhyun dengan khawatir.

Well, ini sudah beberapa hari sejak kejadian Jun kabur dan masuk rumah sakit. Tapi melihat tangannya masih perlu menggunakan sling paling tidak selama dua minggu, permintaan Jun untuk masuk sekolah hari Senin ini, tak ayal membuat Kyuhyun cemas. Walaupun yang terluka adalah tangan kirinya.

Jun menghabiskan roti dengan selai coklat yang dibuatkan oleh Kyuhyun. “Jika aku tidak sekolah, apa aku harus ikut Appa ke kantor? Itu membosankan. Tidak ada yang bisa kulakukan selagi Appa bekerja.”

“Tapi itu jauh lebih baik,” gumam Kyuhyun pelan.

Oh, hari ini dia akan kembali ke kantor. Walaupun direksi sudah menyetujui cuti selama satu bulan, tapi Kyuhyun akan semakin gila jika ia terus berada di rumah. Satu minggu sudah cukup baginya. Lagipula, Kyuhyun bisa hanya membaca beberapa draft naskah atau mungkin memeriksa persiapan akhir untuk fan-event Penulis Choi. Walaupun ia yakin, Gil akan mencoba mengusirnya dari kantor.

Kyuhyun menghela nafas dan melirik ponselnya. Min Hyun mungkin sedang tidak banyak pekerjaan, tapi Jun sepertinya masih begitu sensitive. Bahkan setiap kali, Min Hyun datang untuk melihat kondisinya, Jun secara sengaja mengabaikannya.

“Jun…”

Jun menatap sang ayah dengan lekat. “Aku akan minta Ssaem menghubungi Appa jika aku mulai merasa tidak nyaman. Okay?”

Well, Kyuhyun akan selalu kalah dari putranya.

*****

Kyuhyun mengantarkan Jun sampai depan kelas. Walaupun Jun menyuruhnya langsung ke St. Heaven, tapi itu tidak menghilangkan rasa khawatirnya. Kyuhyun memperhatikan Jun yang berjalan ke mejanya. Beberapa teman menghampirinya dan bertanya tentang tangannya. Jun hanya tertawa dan mengatakan kalau dia bersikap nakal di akhir pekan kemarin.

Heck, Kyuhyun baru kali ini melihat anak usia enam tahun bercanda mengenai lukanya. Dia tidak tahu di bagian mana dari cara mendidik Jun hingga membuat putranya bersikap seperti itu.

“Ayah Jun…”

Kyuhyun menoleh dan sedikit membungkuk memberi salam pada Nam Ssaem. Sang guru melirik sekilas pada Jun yang masih mengobrol dengan temannya. “Ibu Jun memberitahuku tentang kejadian akhir minggu lalu.”

“Ah… begitu.”

Well, Kyuhyun tidak tahu apa yang dikatakan Min Hyun pada guru Jun. Sejak Jun masuk sekolah, hanya Min Hyun yang sering berkomunikasi dengan Nam Ssaem. Walaupun sebenarnya Kyuhyun juga mempunyai nomor ponsel sang guru dan terkadang Nam Ssaem mengiriminya beberapa pesan singkat mengenai perkembangan Jun di sekolah.

Nam Ssaem tersenyum pada Kyuhyun. “Jangan khawatir. Saya akan menghubungi anda jika terjadi sesuatu.”

Kyuhyun mengangguk kecil. “Terima kasih. Saya titip Jun pada anda.”

Nam Ssaem hanya mengangguk sekali lalu beranjak memasuki kelas. Sepertinya kelas akan segera dimulai. Kyuhyun kembali memperhatikan putranya. Jun menoleh ke arahnya dan melambaikan tangannya. Kyuhyun tersenyum dan membalas lambaian tangan itu sebelum ia beranjak meninggalkan gedung sekolah.

*****

Gil tengah disibukkan dengan beberapa draft naskah terakhir yang akan segera dibawa ke bagian percetakan ketika Kyuhyun berjalan menuju ruangannya. Beberapa editor yang melihat kedatangannya hanya menatapnya dengan sedikit terkejut. Tapi Kyuhyun hanya tersenyum dan mengabaikan semua tatapan itu seraya ia memasuki ruangannya.

Gil masih belum menyadari kedatangannya. Tapi Yoon segera menghampiri meja Gil.

“Sunbae…” ucap Yoon pelan. Gil hanya bergumam pelan, fokusnya masih tertuju pada draft dihadapannya. Yoon menghela nafas pendek. “Gil sunbae, Kepala Editor datang…”

Gil mengangkat kepalanya. Ia menatap Yoon lekat. “Itu tidak mungkin. Kepala editor masih…” ucapanya terhenti ketika Gil melirik ke ruangan kepala editor dan melihat sosok Kyuhyun melambaikan tangan ke arahnya dengan senyuman lebar.

Gil mengumpat pelan lalu beranjak ke ruangan atasannya.

“Kepala Editor..!!” seru Gil keras.

Kyuhyun menatapnya dan tersenyum. “Selamat pagi untukmu, Gil.”

Gil mendengus. Ia menghampiri meja kerja dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Oh, dia benar-benar tidak mengerti dengan sikap Kyuhyun. Sekretariat direksi sudah memberikannya ijin cuti selama satu bulan selama masa pemulihannya, tapi hanya satu minggu –itu pun Kyuhyun selalu muncul di tempat interview Penulis Choi– sang kepala editor sudah kembali ke kantor.

Sebelumnya karena cidera punggungnya, Kyuhyun hanya beristirahat di rumah selama satu minggu lalu kembali bekerja.

“Pak, saya tahu anda merasa baik-baik saja, tapi bukankah dokter meminta untuk tidak bekerja keras minimal selama satu bulan? Ini baru satu minggu dan anda….”

Kyuhyun memotong ucapan Gil. “Satu minggu tidak melakukan apa pun. Itu membosankan, Gil. Lagipula aku masih mempunyai satu minggu larangan untuk tidak menggunakan laptop, jadi kau tidak perlu khawatir. Aku datang hanya untuk membaca beberapa draft naskah. Kau pasti mengalami kesulitan dengan semua pekerjaanku yang dialihkan padamu. Hanya membaca draft naskah, Gil. Kau masih bertugas untuk sisa pekerjaanku selama aku cuti. Okay?”

“Tapi Pak…”

“Lagipula aku merasa tidak nyaman. Aku masih menerima gaji, tapi selama satu bulan aku tidak melakukan pekerjaan apa pun.”

Gil mendesah. Kyuhyun terlalu keras kepala. Sebelumnya, Kyuhyun juga pernah datang dan hanya duduk di ruangannya selama beberapa jam sebelum pergi meninggalkan St. Heaven. Itu masih diterima oleh Gil. Tapi saat ini berbeda. Kyuhyun mungkin hanya akan membaca draft naskah yang menumpuk, tapi situasi di St. Heaven sedang tidak baik.

Selain karena pelaku pemukulan Kyuhyun di basement parkir belum ditemukan, sistem keamanan sedang ditingkatkan. Ini pun berkaitan beberapa kasus yang pernah terjadi di St. Heaven. Mulai dari kasus balon darah, pemukulan Kyuhyun, hingga paling anyar adalah perusakan mobil Kyuhyun yang bahkan tidak terjadi di St. Heaven. Semua ini telah menjadi perhatian khusus direksi.

St. Heaven bahkan sudah melakukan beberapa meeting internal mengenai semua kejadian tersebut. Walaupun mereka pernah mengalami beberapa kejadian –memang tidak sama– tapi tidak pernah menyasar pada Kyuhyun secara pribadi ataupun pegawai St. Heaven lainnya. Sejak Penulis Choi menjadi penulis VIP St. Heaven, ada beberapa kejadian yang bahkan tidak diketahui banyak orang –termasuk Kyuhyun.

Direksi mulai merasa khawatir dan karena itulah team security St. Heaven mulai meningkatkan keamanan baik area gedung St. Heaven maupun yang berkaitan langsung dengan pegawai St. Heaven. Kyuhyun mungkin tidak menyadarinya karena dia tidak masuk kantor selama satu minggu. Dan pihak Direksi menginginkan Kyuhyun tetap tidak tahu sampai dia masuk kembali setelah satu bulan.

Well, itu tidak akan terjadi jika Kyuhyun bersikap kepala untuk masuk kerja.

“Pak…”

Ucapan Gil kali ini terinterupsi oleh ketukan pintu. Gil berbalik dan menatap Ji Hoon yang masuk ke dalam ruangan. Ji Hoon melirik Gil lalu menoleh pada Kyuhyun.

“Pak, sekretariat direksi menghubungi. Anda diminta menghadap,” tutur Ji Hoon.

Gil kembali mendesah. Well, tentu saja Direksi pasti mengetahui dengan cepat kedatangan Kyuhyun. Team Security berada dibawah bagian sekretariat direksi. Ketika id Kyuhyun terekam di bagian keamanan, laporannya pasti langsung masuk ke bagian direksi. Ini bahkan belum sepuluh menit sejak Kyuhyun memasuki ruangannya.

Kyuhyun mengernyit. “Sekretariat direksi? Tapi aku bahkan tidak…”

“Sebaiknya anda langsung menemui direksi, Pak,” tutur Gil.

Kyuhyun berdiri walaupun ia tidak mengerti. Ia memandang Gil dengan lekat. “Kau tidak langsung memberitahu direksi kalau aku masuk kantor, bukan?”

“Pak, saya berdiri di sini dan tidak memegang ponsel saat ini. Bagaimana saya bisa memberitahu direksi,” tukas Gil.

Kyuhyun lalu menoleh pada Ji Hoon. Well, jika bukan Gil pasti salah satu dari editor junior. Kyuhyun mendengus jengkel lalu berjalan kelua ruangannya untuk menuju lift. Gil menghembuskan nafas panjang dan menatap Ji Hoon.

“Bawa masuk beberapa draft naskah. Setidaknya itu akan membuat Kepala Editor merasa sibuk selama beberapa jam,” ucap Gil.

Satu alis Ji Hoon naik. “Anda tidak akan memaksanya untuk pulang?”

“Kau sudah bekerja di St. Heaven cukup lama. Well yeah… aku ingin melihat kau mencobanya, Ji Hoon.”

*****

Donghae mengucapkan terima kasih pada beberapa orang dari team security St. Heaven –yang bertugas menjadi bodyguard Siwon selama masa promosi– yang membawakan beberapa kotak besar berisi hadiah-hadiah yang dikirimkan oleh para fans Siwon. Hadiah yang terlalu banyak dan Donghae yakin semua itu akan berakhir di gudang yang disiapkan oleh CR untuk menampung semua kiriman hadiah fans Siwon. Well, dan gudang itu berada di Brooklin.

Donghae memperhatikan semua kotak yang hampir memenuhi studio. Entah bagaimana ia mengirim semua itu ke Brooklin. Kemudian ia menoleh pada Siwon yang berfokus pada laptopnya sejak ia datang. Siwon bahkan sepertinya –belum– merasa terganggu dengan banyaknya fans yang menunggu di luar gedung studio. Mungkin salah satu alasannya karena bodyguard yang mendampinginya.

“Siwon…” ucap Donghae seraya berjalan menghampirinya.

Siwon menggumam dengan tangan yang masih bergerak lincah di atas keyboard. Matanya masih terfokus pada layar laptop.

“Semua hadiah itu, ingin kau apakan? Dikirim ke Brooklin atau ingin kau buka satu per satu?” tanya Doghae.

“Heum? Hadiah ke Brooklin? Hadiah dari siapa?”

Donghae mendengus. Hell, terkadang ia benci dengan jika Siwon sudah terlalu fokus pada tulisannya. Entah apa yang tengah dikerjakannya saat ini. Selain CR belum mengirim respon revisi atas buku terbaru Siwon, Donghae yakin tulisan ini bukanlah project novel terbarunya.

“Choi Siwon, fokuslah sejenak. Lihat sendiri, okay? Ada begitu banyak hadiah yang dikirimkan oleh fansmu. Itu semua mau diapakan?” tukas Donghae.

Akhirnya, Siwon mengangkat kepalanya dan begitu terkejut melihat kotak-kotak besar yang memenuhi studionya. “Woah… Kenapa mereka mengirimkan begitu banyak?!!”

Donghae memutar matanya. “Jadi, mau kau apakan? Kau buka dulu atau langsung dikirim ke Brooklin?”

“Brooklin? Ah… gudang penyimanan. Uhm… Mungkin diupdate terlebih dahulu baru dikirim ke Brooklin dalam beberapa hari. Biasanya juga seperti itu, bukan?” ujar Siwon.

Well, salah satu tugas Donghae sebagai agent Siwon –yang mungkin bisa disamakan sebagai managernya– adalah mengupdate blog fan milik Siwon berikut dengan beberapa akun media sosialnya. Update yang terkait beberapa kegiatan event promosi atau pun mengenai informasi terbaru mengenai buku Siwon. Hal-hal yang berkaitan Choi Siwon sebagai Penulis Choi.

Donghae mendesah lalu berbalik menatap semua kotak-kotak itu. “Mungkin beberapa foto cukup,” ujarnya yang kembali menoleh pada Siwon. “Mungkin kau bisa membuka beberapa hadiah. Hanya untuk update foto.”

“Apa itu perlu? Sebelumnya tidak begitu,” tukas Siwon.

“Hanya beberapa foto, Siwon. Mungkin kau bisa membuka tiga atau empat hadiah. Itu tidak akan sulit. Lagipula fansmu memintamu sedikit bersikap terbuka. Entah apa maksudnya, tapi mungkin karena selama ini kau bersikap terlalu defensif.”

Siwon mendesah. “Aku akan bersikap terbuka, jika mereka bisa menjaga sikap agresifnya pada level minimum. Bagaimana bisa aku bersikap terbuka, jika setiap kali mereka akan selalu menarikku bahkan hingga melukaiku?”

“Aku akan menuliskan tentang itu di blog. Tapi setidaknya, berikan mereka sedikit fanservice. Okay?”

“Tidak perlu sekarang, bukan?”

“Tentu saja sekarang. Lebih cepat, lebih baik, bukan? Kau bisa kembali fokus pada apa pun yang kau tulis itu,” sahut Donghae.

Siwon mengernyit. Biasanya Donghae tidak banyak ikut campur jika ia sedang menulis. Tapi sepertinya reaksinya sedikit berbeda. Namun, Siwon menyerah. Ia menyimpan dokumen tulisannya lalu menutup laptopnya.

“Hanya beberapa foto saja, okay?”

Donghae mengangguk seraya menyiapkan kamera.

*****

“Katakan apa yang perlu dikatakan, Direktur Min,” ucap Kyuhyun.

Ia begitu jengkel dengan direktur di hadapannya saat ini. Min Jang Hoon. Salah satu teman terlama Kyuhyun di St. Heaven, bahkan walaupun dia menduduki salah satu slot direktur St. Heaven. Sebenarnya karena Min Jang Hoon juga Kyuhyun bekerja di St. Heaven dan ia sangat bersyukur atas hal itu. Namun, terkadang Kyuhyun dibuat kesal oleh sikap pria berusia hampir empatpuluhlima tahun tersebut.

Mungkin sikap menyebalkannya itu karena hingga hari ini, Min Jang Hoon belum menemukan sosok untuk dinikahi walaupun keluarganya sudah berulang-kali berusaha menjodohkannya –mulai dari wanita hingga pria.

Min Jang Hoon mengetukkan jemarinya di armchair beberapa kali. Ekspresinya terlihat tidak menyebalkan –ketika sikap anehnya sedang muncul– bahkan terkesan begitu serius. Dan Kyuhyun benar-benar tidak bisa membaca apa yang tengah dipikirkan oleh pria itu.

“Min Jang Hoon…” ucap Kyuhyun lagi.

Ketukan jemarinya terhenti. “Bagaimana kondisimu, Kyuhyun?”

Kyuhyun mengerang. Tentu, itu hanyalah pertanyaan basa-basi. Ia bukanlah orang bodoh tapi sepertinya Min Jang Hoon mengira begitu. “Hentikan basa-basimu, Min Jang Hoon. Katakan apa yang ingin kaukatakan dan aku bisa kembali ke ruanganku dan membaca beberapa draft naskah.”

“Kau seharusnya tidak berada di St. Heaven, Kyuhyun. Kau sedang cuti,” ujar Jang Hoon serius.

“Katakan yang tidak kuketahui, Direktur Min. Dan ayolah, memang kau pikir aku bisa tahan tidak bekerja selama satu bulan?Dan menjawab pertanyaanmu sebelumnya, aku baik-baik saja. Larangan tanpa laptop masih berlaku satu minggu lagi sebelum aku kembali ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Puas?” sahut Kyuhyun.

Jang Hoon menghembuskan nafas. “Kau bisa pergi liburan, Kyuhyun. Pulang ke Pohang untuk beberapa hari atau pergi ke mana pun. Jepang. Hongkong. Macau. Atau bahkan Amerika ataupun Eropa. Lakukan hal yang tidak pernah kau lakukan selama beberapa tahun karena kau begitu sibuk dengan pekerjaan.”

“Tidak bisa ke Pohang jika orangtuaku akan memperlakukan seperti aku ini masih putra remaja mereka. Usiaku sudah tigapuluhdelapan tahun. Dan aku tidak bisa pergi ke luar negeri, persidangan banding hak asuh Jun belum selesai,” tutur Kyuhyun pelan. “Ah… Dan, mungkin dalam waktu dekat ini aka nada kunjungan dari dinas sosial.”

Kening Jang Hoon mengernyit. “Kunjungan dinas sosial? Terkait Jun?”

“Begitu kata pengacaraku. Mungkin untuk melihat bagaimana situasi pekerjaanku untuk mendukung perkembangan Jun. Mereka mungkin juga akan mengunjungi sekolah Jun dan rumahku. Hell, terparah mereka mungkin akan mewawancarai beberapa orang terdekatku.”

Jang Hoon mengangguk. “Kalau begitu bukanlah liburan adalah keputusan tepat.”

Mata Kyuhyun memicing. “Apa maksudmu?”

“Jika dinas sosial akan datang ke St. Heaven untuk melihatmu lingkungan pekerjaanmu, bukankah akan lebih baik jika kau bersikap bahwa pekerjaan bukanlah hal terpenting dalam hidupmu? Kau sendiri mengatakan mereka mungkin akan melakukan wawancara ke beberapa orang. Kau tentu bisa menebak apa pertanyaan yang akan mereka ajukan. Jika kau terus bekerja tanpa pernah mengambil cuti liburan, apakah itu akan baik? Dalam hal ini, Min Hyun mempunyai posisi aman. Dia bekerja di studio dan lebih banyak berada di rumah. Bahkan jika ada jadwal promosi, itu bahkan tidak lama,” tukas Jang Hoon.

Dan Kyuhyun semakin membenci pria itu karena apa yang dikatakannya adalah benar. Jika saat ini saja, Kyuhyun begitu keras kepala untuk tetap bekerja padahal dia mendapatkan cuti selama satu bulan, itu tidak akan baik baginya.

“Lalu apa yang harus kulakukan selama tiga minggu, eoh? Liburan ke luar negeri itu bukanlah pilihan. Setiap minggu, aku berencana datang ke setiap persidangan,” ucap Kyuhyun.

Jang Hoon tersenyum. Well, Kyuhyun begitu mudah dibujuk jika sudah berkaitan dengan Jun. “Seperti yang kukatakan, pergi liburan. Ke Pohang atau pun kota lain. Kau bisa pergi dua atau tiga hari sebelum atau setelah persidangan. Kau bisa melepaskan stressmu dan bertemu dengan orang-orang baru dalam perjalananmu. Itu akan baik untukmu juga.”

“Aku merasa ada maksud lain dari ucapanmu itu.”

“Aku tahu perceraianmu belum lama, tapi kau mungkin harus bertemu dengan orang baru. Seseorang yang membuatmu tertarik. Well, aku menyarankan bukan seseorang di St. Heaven atau mungkin beberapa kolegamu. Percayalah, itu tidak akan berhasil,” tutur Jang Hoon.

Kyuhyun terdiam dan mengalihkan perhatiannya. Seseorang yang membuatnya tertarik. Well, sudah ada satu orang. Tapi jika Jang Hoon mengatakan jangan seseorang di St. Heaven atau koleganya, maka apakah Choi Siwon juga tidak akan berhasil? Praktisnya, Choi Siwon bukanlah orang St. Heaven dan bahkan tidak bisa disebut sebagai kolega juga. Tapi jauh dari sudut akal sehatnya, Kyuhyun tahu ada kemungkinan bahwa hubungan mereka bisa berakhir buruk.

Entah Choi Siwon yang akan meninggalkannya atau Kyuhyun yang akan membuat Siwon meninggalkannya. Keduanya sama buruknya bagi Kyuhyun.

Jang Hoon menatap Kyuhyun dengan seksama. Ia bisa melihat ada perubahan dari sikap dan ekspresi Kyuhyun ketika ia mengatakan agar Kyuhyun bertemu dengan orang baru. Sekilas, ia berasumsi mungkin Kyuhyun sudah bertemu dengan seseorang itu.

Terlebih dengan perubahan Kyuhyun yang begitu nampak. Gaya pakaiannya berubah banyak. Biasanya Kyuhyun berpakaian semi formal, tapi hari ini, pria itu memakai kemeja berwarna pink lembut dengan jeans sekaligus sepatu sneakers. Hell, bertahun-tahun Jang Hoon berteman dengan Kyuhyun, sang kepala editor tidak pernah memakai kemeja pink. Bahkan ketika ia masih menikah dengan Min Hyun.

Tapi ekspresi sedih di wajah Kyuhyun itu tidak membuat Jang Hoon merasa senang walaupun perubahan pria itu terlihat baik untuknya.

“Kyuhyun…”

Kyuhyun kembali menoleh pada sang direktur. Ia menarik nafas panjang. “Aku akan melakukan apa yang kau inginkan –menikmati cutiku, tapi biarkan hari ini aku tetap di St. Heaven. Paling tidak hingga jam makan siang, okay?”

Jang Hoon hanya mengangguk.

*****

Siwon menyimpan tulisannya setelah ia mencapai target halaman yang telah ia tentukan untuk hari ini. setelah sedikit peregangan otot-otonya, Siwon mematikan laptop dan menyimpannya di dalam brankas laci mejanya. Setelah mengganti password lamanya, Siwon lalu meraih ponselnya dan mengetik pesan singkat.

Kau di rumah? Makan siang bersama?

Aku masih di studio, tapi mungkin akan sampai dalam tigapuluh menit.

Siwon tersenyum kecil ketika pesan itu sudah terkirim. Ia lalu beranjak berdiri dan berbalik untuk melihat ke luar jendela. Siwon bisa melihat para fansnya masih menunggu di luar gedung dan bahkan ada beberapa di sebrang jalan. Dan sebagaian besar mungkin remaja –ada dari mereka yang menggunakan seragam.

Hell, bagaimana bisa mereka tidak pergi ke sekolah dan malah berdiri di sana selama berjam-jam. Siwon benar-benar tidak mengerti. Ia bahkan bukanlah seorang anggota idol group dan bahkan usianya juga tidak muda lagi. Tapi bagaimana bisa ada fans yang bersikap seperti ini? Jujur saja, ini hanya terjadi di beberapa negara Asia yang ia kunjungi. Tapi bahkan di Singapura, kondisinya tidak separah ini.

Tiba-tiba, ponselnya berdering singkat. Tanda pesan masuk. Siwon langsung membacanya.

Tidak di rumah. Aku sedang di St. Heaven, membaca beberapa draft naskah karena bosan.

Jika ingin makan siang, kita bisa bertemu di restaurant. Mungkin yang sedikit private.

Kening Siwon mengernyit. Sedang apa Kyuhyun di St. Heaven ketika ia masih mempunyai tiga minggu cuti? Lagipula bagaimana dengan Jun? Rasanya Kyuhyun tidak akan membiarkan Jun sendirian berada di apartment.

Kau di St. Heaven? Lalu Jun? Apa dia juga ikut denganmu?

Setelah mengirim pesan balasan itu, Siwon kembali duduk di kursinya. Menunggu Kyuhyun membalas pesannya.

Jun di sekolah. Dia memaksa pergi. Aku belum menerima pesan dari gurunya, jadi kupikir kondisinya baik-baik saja.

Mungkin aku akan pergi menjemput Jun di sekolahnya dan kita bisa makan siang bertiga. Itu jika kau tidak keberatan.

Dengan cepat, Siwon mengetik balasannya.

Kenapa aku harus keberatan? Apa kau mengendarai mobil yang dikirimkan St. Heaven?

Jika tidak, aku bisa menjemputmu di St. Heaven lalu kita menjemput Jun. Kita bisa makan siang di apartment saja. Aku yang memasak.

Siwon lalu mencari kunci mobilnya dan tersadar kalau ia datang dengan memakai mobil dan supir yang disediakan oleh St. Heaven. Hell, jika ia pergi ke St. Heaven untuk menjemput Kyuhyun, itu akan membuat pertanyaan. Dan Siwon tidak mungkin kembali ke gedung apartment hanya untuk mengambil mobilnya dulu sebelum ke St. Heaven. Itu sangatlah tidak efektif.

Tak lama, Donghae memasuki studio dan menatap Siwon dengan bingung. “Kau kenapa?”

Oh, Siwon bisa meminjam mobil Donghae. Tapi dia mungkin akan… perhatian Siwon teralih pada ponselnya saat balasan Kyuhyun datang.

Aku pergi dengan taksi. Rasanya masih sulit untuk mengendarai mobil lain selain mobilku sendiri.

Tidak apa, aku bisa pergi menjemput Jun sendiri. Aku yakin, kau akan mengalami kesulitan jika harus menjemputku.

Kita bertemu di apartment saja. Oh, aku pikir tidak ada bahan makanan di lemari pendinginku. Jadi, mungkin harus pergi belanja dulu.

Siwon berjalan mendekati Donghae seraya mengetik balasan untuk Kyuhyun.

Aku bisa pergi belanja. Kurasa akan jauh lebih baik jika kau menggunakan mobil dari St. Heaven, setidaknya sampai kau siap membeli mobil baru. Itu juga akan lebih memudahkan untuk Jun, bukan?

Kita bertemu di apartment saja, okay?

“Apa?” tanya Donghae.

Siwon menatap Donghae lalu menepuk lengannya. “Aku akan pulang.”

Kemudian, pria itu berjalan keluar studio, meninggalkan Donghae yang masih kebingungan dengan sikap Siwon.

“Ehh…?! Bukannya dia bilang akan makan siang bersama?!”

*****PART 2*****

Kyuhyun meraih tas Jun ketika putranya keluar dari kelas. “Kau bersenang-senang? Tidak merasakan ketidak-nyamanan dengan tangan kirimu itu?”

“Halo juga untukmu, Appa,” sahut Jun. “Dan ya, aku cukup bersenang-senang. Ini tidak terasa apa pun. Setidaknya aku bisa bertahan sehari, bukan?”

Kyuhyun menahan diri untuk tidak memutar matanya. Well, Jun memang putranya. Kemudian ia sedikit berpindah sebelah kanan Jun dan mengulurkan tangannya. Untuk ini, Jun memutar matanya dengan jengkel tapi menyambut tangan kiri ayahnya yang terbuka.

Kedua lalu berjalan menuju pintu keluar gedung sekolah.

“Lalu apa kau bisa bertahan besok?” tanya Kyuhyun.

“Tentu saja. Ini bahkan sudah tidak terasa sakit. Aku bahkan tidak tahu kenapa dokter memaksaku untuk memasang sling seperti ini.”

Kyuhyun menurunkan kepalanya untuk menatap putranya. “Jun…”

“Okay.. Okay,” tukas Jun. Dan Kyuhyun hanya tertawa kecil. “Appa, kita akan naik taksi lagi?”

Kyuhyun mengangguk. “Begitulah. Kenapa?”

“Hanya penasaran. Mobil Appa ke mana?”

Itu membuat Kyuhyun terdiam. Ia tidak menceritakan pada Jun mengenai mobilnya yang dirusak oleh seseorang yang tidak dikenal dan kini dia tengah berusaha untuk membeli mobil baru. Pada saat mereka kembali dari rumah sakit, Jun mungkin masih shock hingga ia tidak bertanya apa pun kenapa Heechul yang mengantarkan mereka pulang.

“Appa membeli mobil baru. Jadi, butuh waktu untuk dokumennya siap dan mobilnya dikirim.”

Oh, setidaknya itu bukan sepenuhnya kebohongan.

Jun hanya bergumam pelan. Ia mengucapkan salam pada petugas keamanan yang berada di pintu utama gedung. Jun memang selalu bersikap ramah pada siapa pun. Mengucapkan kata tolong, maaf dan terima kasih. Kyuhyun dan Min Hyun memastikan bahwa Jun selalu bersikap baik pada semua orang.

“Paman Pyo…”

Kyuhyun terdiam sejenak ketika ia melihat pria itu berjalan menghampiri mereka. Tanpa sadar, ia mengeratkan genggaman tangannya pada Jun. Sang anak sedikit mendongak pada ayahnya dan melihat ekspresi tegang Kyuhyun. Jun bukanlah tipikal anak kecil yang polos. Jun tahu persis masalah di antara ayahnya, ibunya dan Paman Pyo.

Han Pyo tersenyum pada mereka berdua –mungkin lebih ditujukan pada Jun. “Halo, Jun. Paman dengar, kau sudah kembali ke sekolah.”

Kyuhyun menahan diri. Tentu saja, Nam Ssaem akan memberitahu Min Hyun dan sang mantan istri akan memberitahu Han Pyo. Tapi kenapa pria itu datang ke sekolah Jun?

“Aku tidak melihat mobilmu, Kyuhyun,” ujar Han Pyo. “Jadi, kupikir kau tidak datang untuk menjemput Jun.”

Kyuhyun mendelik. “Itu bukan…”

“Appa membeli mobil baru. Tapi mobilnya belum sampai,” tukas Jun cepat.

Oh, Kyuhyun tidak tahu kenapa Jun tiba-tiba bicara begitu. Han Pyo tidak perlu mengetahui tentang hal tersebut. Tapi bukan berarti dia akan memarahi Jun untuk hal itu. Han Pyo-lah yang perlu menahan diri untuk tidak ikut campur dalam kehidupan Kyuhyun lagi.

“Ah, begitu rupanya. Kalau begitu, aku bisa mengantar kalian pulang.”

“Itu tidak perlu. Kami bisa naik taksi,” tolak Kyuhyun cepat.

Han Pyo menggeleng. “Jangan begitu. Pertimbangkan kondisi Jun saat ini, Kyuhyun. Ini hanya tawaran untuk mengantar pulang ke apartment-mu. Tidak lebih. Dan… Jujur, aku bersikeras.”

*****

Siwon menatap troli belanjaan yang sudah terisi oleh bahan makanan, buah dan beberapa jenis snack. Dia mungkin sedikit bersikap impulsive. Tapi di sini ia berbelanja untuk dirinya dan untuk Kyuhyun, dan Jun tinggal bersama Kyuhyun saat ini. Kyuhyun tidak akan sempat pergi ke supermarket untuk sekadar belanja. Siwon juga hanya berpikir untuk membeli snack yang disukai oleh anak seusia Jun. Jadi, jumlah belanjaan yang ia masukkan ke dalam trolinya tentu jumlah yang masuk akal.

Atau mungkin juga tidak, jika jumlah belanjaannya hampir mencapai lima ratus ribu won lebih. Well, jika kau seorang pria yang tinggal seorang diri, belanjaan sebesar itu tidaklah masuk akal. Itulah arti tatapan dari kasir yang menjumlah harga belanjaan Siwon.

“Totalnya lima ratus tujuh puluh tiga ribu delapan ratus won.”

Siwon lalu mengeluarkan kartunya dan menyodorkan pada sang kasir. Ia menatap pada pegawai lainnya yang memasukkan semua belanjaannya ke kantung plastic besar dan menaruhnya pada troli. Oh, dia harus memisahkan mana belanjaan miliknya dan milik Kyuhyun.

Setelah memastikan semuanya benar, kasir mengembalikan kartu milik Siwon berikut dengan struk belanja.

“Thank you..” gumam Siwon seraya memasukkan kembali kartu itu ke dalam dompetnya sedangkan lembar struk dimasukkan ke dalam salah satu kantung. Hell, Siwon tidak pernah peduli dengan berapa besar setiap ia pergi belanja atau membeli sesuatu.

Kemudian Siwon mendorong trolinya dengan beberapa orang yang mengikutinya di belakangnya –bodyguard dari St. Heaven. Mereka sedikit berguna, tapi terkadang Siwon juga merasa jengkel. Mungkin karena ia tidak terlalu terbiasa dengan keberadaan bodyguard –karena di negara lain, ia sama sekali tidak mendapatkan perlakukan seperti ini.

Siwon mendorong troli itu sampai ke area parkir di mana mobil diparkirkan. Dan ketika hampir dekat, supir segera membukakan pintu trunk. Salah seorang bodyguard membantu Siwon memasukkan semua kantung itu ke mobil dan lainnya berjaga-jaga. Hell, memangnya siapa yang tiba-tiba mendekati Siwon di area parkir supermarket seperti ini?

Tapi tentu saja, takdir tidak akan selalu setuju dengan Choi Siwon.

“Penulis Choi…”

Siwon berbalik dan gerakan cepat, salah satu bodyguard berdiri di hadapan Siwon untuk menghalangi seorang fan yang tiba-tiba datang berlari ke arah Siwon. Sepertinya, fan itu juga sedikit terkejut karena ia sontak berhenti.

Siwon menghela nafas pendek. Ia sedikit menepuk bahu bodyguard itu agar sedikit bergeser hingga ia bisa melihat sang fan. Siwon tersenyum tipis pada fan tersebut. “Hey, maaf untuk hal ini.”

“Ti-tidak apa-apa. Ta-tapi bisakah aku meminta tanda-tanganmu?” ujar fan itu sembari menyodorkan sebuah novel milik Siwon.

Sang penulis menghela nafas. Dia tidak pernah sembarangan memberikan tanda-tangan. Kecuali untuk event fansign, Siwon hampir tidak pernah memberikan tanda-tangan di bukunya. Namun, Siwon juga tidak bisa menolak begitu kasar pada fan perempuan tersebut.

“Kau tidak mengikuti event yang diadakan St. Heaven untuk fansign?” tanya Siwon.

Fan itu menunduk. “Aku mengikutinya, tapi dengan banyaknya yang ikut mendaftar aku tidak yakin bisa terpilih. Hanya tigapuluh orang. Dan karena tidak sengaja melihat Penulis Choi di sini, makanya aku… Apa tidak boleh?”

Siwon bisa saja mengatakan, iya. Tapi Donghae mengatakan bahwa ia harus sedikit bersikap terbuka pada fans. Dan fan ini sepertinya bisa menghormati privasinya. Bahkan saat mereka berbicara ini, ada jarak sekitar tiga meter. Selain itu, fan tersebut bukanlah tipe sasaengfan yang selalu mengikutinya.

“Bukan tidak boleh. Jika hal ini tersebar, bukankah itu akan membuatmu tidak nyaman. Fans lain tidak akan senang dan mereka bisa saja….” Siwon terdiam. Dia sedikit besar kepala. Rasanya popularitasnya tidak sebesar grup idola, bahkan jika pun ada fan yang merasa cemburu mereka mungkin tidak akan bersikap impulsive –tapi lain hal jika itu adalah sasaengfan.

“Asalkan bukan novel, aku bisa menanda-tanganinya.”

Wajah fan itu berbinar. Kemudian ia membuka tasnya dan mencari barang yang bisa ditanda-tangani. Siwon sendiri berjalan mendekati fan tersebut. Dua bodyguard mengikutinya, hanya untuk berjaga. Dan ketika fan itu mengeluarkan sebuah notebook, ia sedikit terkejut karena Siwon berdiri cukup dekat dengannya.

Fan itu menyodorkan notebook beserta sebuah pulpen. Siwon mengambilnya dan membuka halaman pertama untuk di tanda-tangani.

“Ini buku apa?” tanya Siwon.

“Mh… Itu buku untuk outline tulisanku.”

Siwon melirik fan tersebut. “Benarkah? Kau ingin jadi penulis? Siapa namamu?”

“Han Sohee. Tidak harus menjadi penulis, tapi aku suka menulis sejak membaca novel Penulis Choi. Ibuku yang membawakan salah satu novel anda ketika ia pulang dari London.”

Siwon hanya bergumam pelan. Kemudian ia mengembalikan notebook serta pulpen tersebut. “Well, jika tulisanmu cukup baik, kurasa tidak ada salahnya jika kau mencoba untuk mengirimnya ke penerbit. Tapi itu adalah keputusanmu.”

“Terima kasih.”

Siwon kembali tersenyum lalu kembali ke mobilnya. Salah satu bodyguard menutup pintu trunk dan Siwon berbalik menatap fan tersebut. “Han Sohee, jika bisa jangan sebarkan tentang hal ini okay?”

Fan tersebut tersenyum dan mengangguk.

*****

Kyuhyun menghembuskan nafas panjang seraya memejamkan mata. Ia bersandar pada sisi lift. Rasanya ia begitu lelah. Mungkin karena kecanggungan selama perjalanan dari sekolah Jun hingga gedung apartmentnya. Han Pyo tidak pernah memulai percakapan basa-basi dan Kyuhyun tidak ingin mengatakan apa pun. Hell, ini terakhir kalinya ia berada di mobil yang sana dengan pria itu.

“Appa sakit lagi?” tanya Jun pelan.

Sontak Kyuhyun membuka mata dan mendapati putranya tengah memandanginya dengan khawatir. Ia tersenyum kecil. “Tidak, sayang. Hanya sedikit lelah.”

Tak lama, lift berhenti di lantai limabelas dan pintunya terbuka. Jun melangkah keluar terlebih dahulu dan diikuti Kyuhyun. Dan sebenarnya Kyuhyun tidak akan terkejut jika ia melihat Siwon menunggunya di depan pintu. Tapi tetap saja, melihat pria itu membuat Kyuhyun merasa begitu lega. Seperti bebannya menghilang begitu saja.

“Paman Siwon…!”

Siwon tersenyum pada Jun yang menghampirinya. “Hey, big boy. Bagaimana sekolahmu? Tanganmu tidak terasa sakit?”

Jun menggeleng cepat. “Sama sekali tidak sakit. Nam Ssaem juga sangat baik pada Jun. Seharian Jun tidak pernah dimarahi.”

Kyuhyun menahan diri untuk tidak memutar matanya. Nam Ssaem memang guru yang baik dan sangat sabar, hanya saja Jun terkadang bisa bersikap ajaib terlebih jika Jun setelah sakit. Akan ada banyak sikap anehnya yang muncul tiba-tiba. Oh, Kyuhyun tidak akan menyebut satu per satu hal ajaib yang dilakukan Jun, itu hanya akan membuatnya sakit kepala. Well, ibunya selalu mengatakan bahwa sikap dan sifat Jun sangat mirip dengannya saat Kyuhyun masih kecil. Tapi Kyuhyun tidak percaya begitu saja. Terkadang orangtua selalu bersikap berlebihan –terutama jika berkaitan dengan anaknya.

Seperti kau tidak melakukan hal yang sama, Cho Kyuhyun!

Siwon hanya tertawa kecil dan mengusak rambut Jun lembut. Kemudian ia menatap pada sang ayah. “Kau tidak mendapat masalah di kantor karena masuk di waktu cutimu?”

“Jangan dibahas, Siwon,” tukas Kyuhyun jengkel.

Siwon kembali tertawa lalu sedikit berlutut di hadapan Jun. “Makan siang dengan Paman? Paman akan buatkan makanan kesukaan Jun.”

“Apa pun?!” seru Jun.

Siwon mengangguk. “Apa pun.”

Sedangkan Kyuhyun hanya mengusap wajahnya frustasi. Oh, Siwon tidak pernah tahu apa yang akan dialaminya, terlebih jika berkaitan dengan permintaan Jun.

“Kalau begitu aku mau….”

*****

Siwon sedikit khawatir, tapi melihat Jun yang begitu lahap membuat kekhawatiran itu terkesan begitu berlebihan. Tapi bagaimana Siwon tidak khawatir, permintaan Jun untuk menu makan siangnya terbilang cukup aneh untuk selera anak usia enam tahun.

Hamburg roasted beef dengan saus kare dengan pancake kentang saus coklat.

Itu menu yang tidak pernah didengar oleh Siwon sebelumnya. Hamburg roasted beef dengan saus kare itu masih terdengar normal, tapi pancake kentang dengan saus coklat? Siwon bisa membuat pancake biasa, tapi dengan berbahan kentang? Ditambah dengan lelehan saus coklat.

Siwon lalu melirik Kyuhyun yang sibuk dengan hamburg roasted beefnya. Oh, Siwon tidak mungkin membuat satu porsi saja, bukan? Tapi pria itu terlihat biasa saja dengan menu unik pilihan Jun. Well, Jun adalah putranya, jadi Kyuhyun mungkin sudah terbiasa Dan tentu saja, pancake kentang itu adalah buatan Kyuhyun. Siwon tidak pernah mengerti resep yang dijelaskan oleh Jun.

“Itu enak?” tanya Siwon pada Jun.

Sang anak mengangguk antusias dengan mulut penuh makanan. Dan walaupun hanya dengan satu tangan, Jun terlihat tidak kesulitan untuk makan sendiri. Siwon tersenyum lalu menoleh pada Kyuhyun lagi.

“Apa Jun selalu meminta menu unik seperti itu?”

Kyuhyun menatap Siwon dan mengangguk kecil. Ia menelan makanannya terlebih dahulu sebelum menjawab. “Aku tidak pernah menanyakan apa yang ingin dimakan oleh Jun, terlebih setelah ia sakit. Karena menunya… anggapnya saja tidak normal. Pernah sekali waktu, dia minta dibuatkan bubur avocado yang dicampur dengan tangsuyuk. Lalu mie gandum dengan kuah dari buah peach.”

Mata Siwon membulat. “Kau membuat untuknya dan dihabiskan?”

“Untuk bubur avocado, aku tidak membuatnya. Siapa yang ingin makan avocado dengan dicampur tangsuyuk dengan sausnya yang asam manis itu? Tapi jika menunya masih terdengar normal, aku dan Min Hyun masih bisa membuatnya walaupun tidak pernah dihabiskan,” tukas Kyuhyun.

Jun mendelik pada ayahnya. “Tapi aku selalu menghabiskan semua makanan. Buktinya, aku menghabiskan bubur kacang kedelai.”

“Tidak, Jun sayang. Bubur kacang kedelai dengan saus bulgogi itu Appa yang habiskan. Dan setiap kau minta dibuatkan menu yang aneh-aneh, kau selalu menyisakan setengah porsi. Entah Appa atau Eomma yang selalu menghabiskannya untukmu,” tukas Kyuhyun.

“Atau dibuang karena rasanya yang tidak karuan.”

Jun mendengus lalu memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya. Kyuhyun tertawa kecil melihat putranya bersungut seperti itu. Ia mengusap lembut kepala Jun. Dan sedikit terdiam ketika ia menyadari kalau Siwon tengah memperhatikannya.

Siwon hanya tersenyum pada Kyuhyun. Sorot matanya seolah mengatakan bahwa pria itu kagum dengan sikap Kyuhyun terhadap Jun. Tapi Siwon tidak pernah mengatakan sepatah kata. Itulah yang membuat wajah Kyuhyun terasa hangat.

Kemudian dia menunduk lalu kembali menghabiskan makan siangnya.

*****

Siwon menutup pintu kamarnya secara perlahan.

Setelah makan siang, Jun mengatakan kalau ia merasa lelah dan Siwon membawanya ke kamar walaupun Kyuhyun sedikit protes dengan mengatakan Jun bisa tidur di kamarnya sendiri –di unit apartmentnya. Tapi tentu saja, Siwon jauh lebih keras kepala. Dan di saat Siwon membantu Jun untuk melepaskan sling dari bahunya, Kyuhyun merapikan meja makan dan mencuci semua piring kotor. Well, setelah Siwon yang sibuk memasak, tentu saja mencuci piring adalah tugas Kyuhyun.

Siwon berjalan menuju dapur dan mendapati Kyuhyun tengah mencuci tangannya. Semua piring, gelas, sendok, garpu dan pisau sudah bersih dan ditata di rak. Kyuhyun jelas melakukan pekerjaan dengan cepat, sedangkan Siwon begitu malas. Walaupun hanya satu piring, satu mangkuk serta sepasang sumpit dan gelas. Well, Kyuhyun sepertinya sudah sangat terbiasa melakukan pekerjaan rumah seperti ini –selain karena selama proses perceraiannya, Kyuhyun harus tinggal sendiri dan terkadang bersama Jun, jadi, dia harus melakukannya sendiri.

“Kau melakukannya dengan cepat,” tukas Siwon.

Kyuhyun berbalik seraya mengeringkan tangannya dengan tisu kertas yang langsung dibuangnya ke tempat sampah. Ia hanya mengangkat bahunya, seolah apa yang dilakukannya adalah hal sepele. “Jun sudah tidur?”

“Pulas sekali.”

Kyuhyun menghampiri Siwon yang bersandar di meja counter. “Kau tidak perlu melakukannya. Jun bisa tidur di kamarnya sendiri.”

“Tidak masalah, Kyuhyun. Hanya tidur siang. Itu tidak akan lama,” tukas Siwon seraya berjalan menuju lemari pendingin. Well, dia tidak bisa mengatakan secara langsung kalau ia menginginkan Kyuhyun berada di apartmentnya lebih lama. Siwon membuka pintu lemari pendingin.

“Kau ingin buah?”

Kyuhyun tidak menjawab tapi Siwon mengeluarkan satu buah peach berukuran besar. Ia mencucinya lalu mengambil pisau buah. Siwon lalu menatap Kyuhyun lagi.

“Dengan kulit atau tanpa kulit. Aku dengar kulit buah sebenarnya juga mempunyai manfaat. Hanya saja karena penggunaan pestisida, jadi membuatnya tidak layak untuk dimakan langsung. Tapi aku bertanya pada pegawai supermarket dan memastikan bahwa distributor buah mereka sama sekali tidak ada yang menggunakan pestisida,” jelas Siwon.

Kyuhyun menghembuskan nafas. “Terserah padamu, Siwon.”

“Okay, dengan kulit.”

Selagi, Siwon memotong buah peach tersebut, Kyuhyun beralih menuju ruang tengah. Ia membuka pintu veranda dan merasakan hembusan angin yang menyentuh wajahnya. Hampir memasuki musim panas. Sudah dua bulan lebih sejak Siwon berada di Seoul. Dan hampir seminggu sejak Kyuhyun memutuskan menjalani hubungan dengan Siwon. Rasanya begitu aneh. Selain karena Kyuhyun menjalani hubungan pria, waktunya bahkan masih dekat dengan perceraian resminya dengan Min Hyun.

Kyuhyun lalu berjalan mendekati railing. Angin yang berhembus membuat rambutnya sedikit berantakan tapi Kyuhyun menyukainya. Rasanya begitu bebas.

“Kau terlihat begitu damai,” tukas Siwon yang berdiri di sampingnya dan menyodorkan mangkuk berisi potongan buah peach.

Kyuhyun mengambil satu potongan kecil dan memasukan ke dalam mulut. Ia hanya tersenyum tipis. Siwon ikut tersenyum karenanya. Ia juga menyukai Kyuhyun yang seperti ini. Terlihat begitu damai, tenang, dan begitu bebas.

Siwon memasukan satu potongan ke dalam mulut, mengunyahnya perlahan dan menelannya. “Aku bertemu dengan seorang fan di supermarket.”

Hal itu membuat Kyuhyun menoleh dengan cepat. “Sasaengfan?”

“Bukan. Hanya fan biasa. Dia hanya ingin tanda-tanganku. Dia mengikuti event St. Heaven untuk fansign tapi tidak percaya diri kalau akan terpilih. Jadi, saat melihatku, dia mungkin berpikir itu adalah satu-satunya kesempatan,” cerita Siwon.

“Lalu kau memberikan tanda-tangan?” Kyuhyun kembali memasukan satu potongan ke dalam mulutnya.

Siwon mengangguk. “Awalnya aku ingin menolak. Jika aku memberikan tanda tangan pada novelnya, itu tidak akan adil bagi tigapuluh orang yang akan terpilih nanti. Jadi, kukatakan aku tidak bisa menandatangani novelnya, tapi mungkin di barang lainnya. Kemudian dia mengeluarkan sebuah notebook.”

“Notebook?”

“Dia bilang itu buku di mana ia menulis semua outline ide tulisannya. Lalu aku bertanya apakah dia ingin menjadi seorang penulis.”

Kyuhyun sedikit merubah posisi tubuhnya menjadi menghadap Siwon. “Jawabannya?”

“Dia bilang tidak harus menjadi penulis,” tukas Siwon seraya melirik Kyuhyun. “Dia hanya menyukai menulis. Dia bilang itu dimulai setelah membaca novelku. Ibunya yang membawakan dari London.”

Kyuhyun tersenyum tipis. “Tulisanmu menginspirasinya.”

“Well, aku tidak ingin besar kepala. Bisa saja, sejak dulu sebelum membaca novelku sebenarnya dia sudah mempunyai bakat menulis.”

“Tapi tetap saja. Dia pertama-kali menulis setelah membaca novelmu.”

Siwon hanya tersenyum dan menyodorkan mangkuk buah itu pada Kyuhyun. Sang editor mengambil dan Siwon duduk di lantai veranda dengan bersandar pada railing. Kyuhyun mengikutiya. Mangkuk buah berada di atas pahanya.

“Aku ingat, Jun pernah mengatakan kalau kau pernah mengikuti olimpiade matematika. Tapi pekerjaanmu lebih banyak berkutat pada Bahasa. Dan aku tidak pernah bertanya, kau mengambil jurusan apa saat kuliah,” tutur Siwon.

Kyuhyun menghela nafas. Itu adalah cerita lama yang sangat panjang.

“Saat kuliah aku mengambil jurusan pajak dan akuntansi. Tapi menjadi editor sebenarnya adalah ketidak-sengajaan. Salah satu direktur St. Heaven sekarang adalah temanku dan dia menawari pekerjaan di St. Heaven. Awalnya sebagai akuntan, tapi ada kesalahan hingga aku malah dikirim ke department editorial. Dan proses untuk transfer department biasanya akan memakan waktu empat hingga enam bulan. Jadi, selama itu aku terpaksa berada di department editorial, mengerjakan apa saja yang diberikan oleh editor senior.”

Siwon mengulas sebuah senyuman. “Lalu pada akhirnya, kau tertarik dengan editorial dan memutuskan untuk tetap di department tersebut hingga sekarang kau menjadi Kepala Editor?”

“Singkat ceritanya seperti itu. Tapi aku tidak menyesal untuk bertahan di editorial,” gumam Kyuhyun.

Ya, dia tidak menyesal karena dia bisa bertemu dengan Min Hyun lalu mereka menikah dan mendapatkan seorang putra yang begitu disayanginya. Walaupun pernikahan mereka harus berakhir dengan begitu banyak meninggalkan masalah. Kyuhyun juga tidak menyesal untuk memilih bertahan di editorial karena dia bisa bertemu dengan Choi Siwon.

Tch…. Itu begitu klise, Cho Kyuhyun.

Kyuhyun memasukan beberapa potong peach ke dalam mulutnya. Siwon memperhatikannya dengan seksama. Kyuhyun sepertinya cukup menyukai memakan peach dengan kulit. Karena sebagian besar orang yang dikenal Siwon, tidak suka makan buah dengan kulitnya.

“Kau sepertinya cukup menyukai makan buah dengan kulitnya.”

Kyuhyun melirik Siwon. “Oh, sebenarnya aku tidak suka. Tapi ini tidak begitu buruk. Mungkin karena kau sudah memastikan kalau buah ini tidak terkena pestisida.”

Siwon hanya bergumam pelan. Ia mengulurkan tangannya untuk menyeka sedikit juice peach yang ada di ujung mulut Kyuhyun. Itu membuat Kyuhyun sedikit terkejut. Lalu dengan cepat, ia menyeka mulutnya dengan punggung tangan. Hell, Siwon mungkin kini berpikir Kyuhyun makan seperti anak kecil. Begitu berantakan.

Namun, tiba-tiba Siwon meraih wajah Kyuhyun. Ia tersenyum lembut. Kyuhyun sedikit membungkuk untuk lebih dekat pada Siwon. Begitu juga dengan Siwon. Hingga bibir mereka berdua bertemu.

Siwon menempelkan bibirnya dengan kuat ke bibir Kyuhyun dan dia sedikit membuka bibirnya, mengundang lidah Kyuhyun masuk. Kyuhyun menerima undangan itu tanpa ragu sedikit pun. Dia tahu dia bodoh –dengan Jun yang tertidur di kamarnya– tapi Siwon benar-benar tidak bisa menahan diri.

Siwon dan Kyuhyun sedang begitu mabuk dengan ciuman mereka, hingga tidak ada satu pun yang menyadari suara pintu yang terbuka. Terdengar suara seseorang yang begitu terkesiap.

“Choi Siwon…”

Sontak Siwon melepaskan bibir Kyuhyun dan matanya membulat ketika ia melihat Lee Donghae berdiri di hallway dengan pandangan yang tertuju pada ia dan Kyuhyun yang masih berada di veranda. Saat itu juga, Siwon merasakan tubuh Kyuhyun menegang.

Siwon meraih tangan Kyuhyun dan meremasnya kuat. “Hey…” bisiknya lembut. “Aku yang akan menjelaskan pada Donghae, okay? Aku pinjam unitmu sebentar.”

Kyuhyun hanya mengangguk kecil. Lalu Siwon berdiri dan berjalan menghampiri Donghae. Tanpa mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh Donghae, Siwon menarik pria itu keluar dari unitnya.

Meninggalkan Kyuhyun yang masih terduduk lemas di veranda, dengan wajah pucat. Seolah semuanya telah berakhir.

*****

“What the hell, Choi Siwon?!!” seru Donghae ketika Siwon mendorongnya masuk ke unit Kyuhyun. Lalu ia memperhatikan unit tersebut dan sekali lagi ia dikejutkan dengan kenyataan bahwa unit yang mereka masuki adalah milik Kyuhyun.

Dan Choi Siwon mengetahui kode pintunya.

Donghae kembali menatap Siwon. “Jadi, selama ini kau dan Cho Kyuhyun bertetangga?! Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?! Oh, dan Kyuhyun juga tidak mengatakan apa pun.”

“Karena ini adalah urusan pribadi Kyuhyun, Donghae. Di mana ia tinggal adalah urusannya, kenapa dia harus memberitahumu? Menjadi tetangga adalah sebuah kebetulan dan aku berpikir kau tidak perlu tahu karena di gedung apartment ini, hubungan kami hanyalah tetangga.”

Donghae mendengus. “Oh yeah, kau selalu mencium tetanggamu dengan begitu berhasrat.”

Siwon menghela nafas pendek. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan hal ini pada Donghae. “Dengar, aku tahu kau terkejut. Tapi hubunganku dengan Kyuhyun…”

“Kalian berkencan?” sahut Donghae.

Siwon memijat keningnya dengan keras. “Yes.”

“Sejak kapan?”

“Belum satu minggu. Dan aku bersumpah Lee Donghae, kalau….”

“Well, that’s good.”

Siwon terdiam sejenak. Ekspresinya berubah dipenuhi dengan kebingungan. Donghae terlihat tidak begitu marah dan malah terlihat lega. Itu membuat Siwon semakin tidak mengerti. “Apa maksudmu?”

“Well Choi Siwon, satu hal yang perlu kau tahu bahwa aku tidaklah bodoh. Aku mungkin bukan tipe orang yang sensitive pada setiap perubahan, tapi aku mengenalmu bertahun-tahun. Aku sudah mulai berasumi ketika kau mulai bersikap tidak seperti dirimu. Aku memperhatikan semua sikap dan tindakanmu selama ini. Hingga ketika Kyuhyun dilarikan ke rumah sakit karena pemukulan….”

“Wait!” seru Siwon. “Kau mengetahuinya? Ba-bagaimana bisa? Maksudku, aku dan Kyuhyun bahkan tidak…. Dan apa maksudmu dengan rumah sakit? Kau tidak…”

“Please, Choi Siwon. Aku mempunyai mata dan kau selalu bersikap aneh. Duabelas tahun aku mengenalmu, apa kau pikir aku tidak akan bisa melihat kebiasaanmu? Dan mengenai rumah sakit, itu adalah rumah sakit yang sama di mana mendiang Bibi Sangmi dirawat dan mungkin secara tidak sengaja aku mendengar suster yang membicarakan tentang Kyuhyun –karena semua orang mengetahui kalau Cho Kyuhyun adalah Kepala Editor St. Heaven yang terkenal,” tutur Donghae.

Okay, itu sama sekali tidak pernah terlintas oleh Siwon. Tapi itu sudah cukup lama dan selama ini Donghae tidak mengatakan apa pun. Tidak bertanya apa pun pada Siwon bahkan ketika ia sudah mengetahuinya?

“Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian. Dan saat itu aku menyadari bahwa kau jatuh cinta padanya. Di satu sisi, aku senang karena kau menemukan seseorang –bukan sebagai pengganti Noah– tapi aku senang. Di sisi lain, aku juga khawatir,” ujar Donghae.

Lalu ia berjalan mendekati Siwon dan menatap sang penulis itu dengan seksama. “Selain diriku, siapa lagi yang mengetahui hubungan kalian?”

Siwon menggeleng. “Ti-tidak ada. Dan aku juga tidak berencana mengumumkannya secara public.”

“Itu bagus. Semakin sedikit orang yang mengetahuinya, semakin baik. Aku tidak menentangnya, tapi jika sampai hubungan kalian diketahui public, itu tidak akan baik. Terutama untuk Kyuhyun. St. Heaven mungkin tidak akan masalah dengan hubungan kalian, toh sebelumnya Kyuhyun juga pernah menjalin hubungan dengan penulisnya, bukan?”

Oh, Donghae tidak akan menyebut nama Kang Min Hyun dihadapan Siwon. Lalu ia kembali melanjutkan. “Tapi reaksi public tidak akan baik. Dan mereka akan lebih menyerang Kyuhyun, bukan dirimu. Setelah mantan istrinya yang adalah penulis di St. Heaven dan saat ini kau masih menjalani kontrak dengan St. Heaven, orang-orang mungkin akan menganggap Kyuhyun menggoda semua penulis yang pernah ditanganinya. Kau mengerti maksudku?”

Kali ini, Siwon mengangguk. Hell tentu saja, pernah terlintas dalam benaknya mengenai resiko hubungannya dengan Kyuhyun. Tapi dengan Donghae lebih menekannya seperti itu, Siwon merasa begitu tertampar.

Donghae menghela nafas dan menepuk bahu Siwon. “Kau tahu aku akan selalu mendukungmu, bukan? Tapi kau juga harus bisa menahan dirimu. Bukan hanya untukmu, tapi untuk Kyuhyun. Terlebih scenario terburuk, ini bisa berdampak pada putra Kyuhyun juga.”

*****

Kyuhyun memperhatikan putranya yang masih terlelap dengan pulas. Ia begitu menyayangi putranya hingga Kyuhyun akan rela melakukan apa saja untuknya. Bahkan jika Kyuhyun harus merelakan nyawanya. Itu tidak masalah baginya, karena yang terpenting Jun bahagia.

Namun kini, Kyuhyun tidak pelak merasakan sedikit rasa egois yang menyeruak di hatinya. Ia ingin merasa bahagia. Tentu, Kyuhyun merasa bahagia bersama dengan Jun tapi ia menginginkan kebahagiaan lainnya juga. Choi Siwon.

Dan Kyuhyun sadar, bahwa keinginannya itu bisa menyakiti putranya. Kyuhyun tidak ingin hal itu terjadi. Ini semua terasa begitu ironis.

Pernikahannya dengan Min Hyun mungkin pernah mengalami masa bahagia, tapi tidak beberapa tahun terakhir. Hingga mereka bercerai. Keduanya merasa tidak bahagia dengan satu sama lain, hingga Min Hyun menemukan kebahagiaannya. Lalu apakah Kyuhyun tidak berhak mengalami hal yang sama? Mungkin dengan Choi Siwon. Mungkin tanpa Choi Siwon.

Kyuhyun menghela nafas berat. “Ayahmu begitu bodoh, nak.”

Kemudian ia menoleh saat pintu terbuka. Siwon berdiri di ambang pintu. Kyuhyun mencium kening putranya lalu berjalan keluar kamar tersebut. Siwon sedikit mundur beberapa langkah saat Kyuhyun keluar dan menutup pintu rapat.

Pria itu menahan Siwon dengan lekat. “Di mana Donghae?”

“Sudah pergi,” ujar Siwon.

Kyuhyun mengangguk kecil. “Aku akan kembali ke unitku. Jika Jun sudah bangun, kau bisa menghubungiku.”

“Kyuhyun…” tangan Siwon berusaha menahan Kyuhyun ketika pria itu hendak beranjak meninggalkan apartmentnya.

Kyuhyun berusaha menepisnya. Ini adalah scenario terburuk. Semuanya berakhir. Untuk waktu yang begitu cepat. Dan Kyuhyun tidak ingin berada bersama Siwon untuk saat ini. Namun, pria itu begitu kuat hingga berhasil menarik tubuh Kyuhyun dalam dekapannya.

Wajah Kyuhyun terasa begitu panas dan matanya terasa begitu perih. Hell, Kyuhyun tidak akan menangis hanya untuk ini. Dia sudah berusia tiga puluh delapan tahun. Dia tidak akan menangis hanya karena hubungan pendeknya berakhir. Bahkan Kyuhyun tidak menangis ketika perceraian diresmikan.

“Lepaskan, Siwon.”

Siwon mengeratkan pelukannya. Ia menggeleng dan menenggelamkan wajahnya di rambut Kyuhyun. “Dengarkan Kyuhyun. Pembicaraanku dengan Donghae tidak berakhir buruk. Ini bukanlah sesuatu yang kau pikirkan.” Kemudian Siwon menarik wajahnya agar ia bisa menatap Kyuhyun dengan langsung.

Tangannya menyentuh wajah Kyuhyun. “Donghae sudah berasumsi sebelumnya, mengenai perasaanku padamu. Tapi dia tidak mengatakan apapun, menunggu hingga aku yang datang padanya dan mengatakan semuanya. Donghae sangat senang aku menemukanmu. Tapi dia sedikit jengkel karena aku sama sekali tidak memberitahunya kalau kita bertetangga.”

Kening Kyuhyun mengernyit. “Dia jengkel karena itu?”

Siwon tertawa kecil. “Itu memang terdengar bodoh. Tapi semuanya baik-baik saja. Dan sebaiknya kau buang jauh-jauh pikiran negative yang ada di kepalamu saat ini,” tukasnya sembari sedikit menyentil kening Kyuhyun.

“Aku tidak memikirkan apa pun,” dengus Kyuhyun sembari mengusap keningnya.

Siwon mengecup bibir Kyuhyun. “Big liar. But.. that’s okay. So, stay with me.”

Kyuhyun tidak mengatakan apa pun. Dia hanya kembali memeluk Siwon erat. Ia menarik nafas dalam, merasakan aroma tubuh Siwon yang begitu kental dan terasa menenangkan. Semuanya baik-baik saja, Kyuhyun mengucapkan kalimat itu berulang-ulang di kepalanya.

“I’ll stay with you,” bisiknya.

Siwon tersenyum dan mengecup bahu Kyuhyun. Lalu memulai menciumi leher Kyuhyun. Siwon mengisap lembut dan Kyuhyun mengerang, tubuhnya bereaksi atas sentuhan tersebut. Perlahan, Siwon mendorong mereka berdua menuju sofa, hingga Kyuhyun jatuh di sofa dan Siwon berasa di atas tubuhnya.

“Aku tahu ini sangat tidak sopan, karena Jun. But, keep your voice down, okay?” bisik Siwon di telinga Kyuhyun, membuat pria itu mendesah.

Kyuhyun mengangguk kecil. Siwon tersenyum tipis atas reaksi pria di bawahnya.

“God, you feel so good,” ucap Siwon sambil menjajaki tubuh Kyuhyun dengan tangannya. Mengangkat kemeja Kyuhyun hingga ia bisa menyentuh permukaan kulit Kyuhyun.

Sebelum Kyuhyun mengetahuinya, Siwon sudah berada di lantai, menempatkan dirinya di antara kaki Kyuhyun. Perlahan, dengan sangat perlahan, Siwon membuka kancing celana Kyuhyun dan mulai menurunkannya. Dia membelai penis Kyuhyun di atas celana dalamnya. Dan saat Siwon menarik tangannya, Kyuhyun tidak mengatakan apapun tentang itu. Ia hanya memandangi Siwon.

Siwon mulai menciumi paha Kyuhyun dan sang editor mengeluarkan rengekan kecil, sebelum akhirnya ia mengisap bagian yang basah di celana Kyuhyun –precum Kyuhyun. Kyuhyun mengusap rambut Siwon, sedikit menariknya, berharap itu akan mendorong Siwon untuk bergerak lebih cepat.

“Please, Siwon..” Kyuhyun mengeram rendah saat Siwon akhirnya mengaitkan jarinya di bagian elastis celananya tapi tetap saja tidak menariknya ke bawah.

“God, you’re beautiful,” gumam Siwon saat akhirnya, ia membebaskan penis Kyuhyun dan menjilat bagian kepalanya. “Aku sudah memikirkannya sejak aku menciummu di veranda. I want to make you come, Kyuhyun.”

“Then do it.”

Kyuhyun mengangkat kepalanya ke belakang dan memejamkan matanya. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba mengendalikan erangannya. Jun berada di kamar Siwon dan ia bisa mendengarnya. Hell, Kyuhyun tidak ingin membuat putranya terbangun ketika ia dalam gairah besar seperti ini.

Siwon meraih bagian dasar batang penis Kyuhyun dan membelai sedikit. Ia mengerang pelan saat ia mengisap ereksi Kyuhyun dan kemudian menjilatnya, dan mengulangi prosesnya berulang-ulang. Siwon menggerakan tangannya di kaki Kyuhyun, meremasnya dengan ringan –bersamaan dengan gerakan kepala dan lidahnya. Kyuhyun tidak bisa berkata apa-apa, kecuali erangan yang berusaha dihindarinya dan kemudian Siwon mengisapnya lebih keras.

“Oh my… I’m goona…” itu yang dikatakan Kyuhyun sebelum ia menumpahkannya ke tenggorokan Siwon dan Swon tidak begeming. Tentu saja, ini bukanlah pertama kalinya bagi Siwon, namun dibandingkan dengan yang terakhir kali Siwon melakukannya, Kyuhyun tidak berpikir Siwon bisa mengejutkannya, bahkan lebih.

Ketika Siwon melepaskan penis Kyuhyun dari mulutnya, ia menundukkan kepalanya di paha Kyuhyun dan menggerakan tangannya, berusaha untuk melepaskan dirinya.

“Come here, Siwon,” ucap Kyuhyun berusaha membuat Siwon bangin dan menariknya lebih dekat.

Celana Siwon sudah setengah turun dan penisnya berada di tangan sembari Siwon mengusap ibu jarinya di bagian atas. Kyuhyun merasakan sensasinya. “Turunkan celanamu,” kata Kyuhyun dan ia menolong Siwon menurunkan celana sepenuhnya.

Lalu, Siwon mulai lagi, duduk dengan canggung di pangkuan Kyuhyun dan memompa dirinya sendiri. Kyuhyun tidak peduli dengan rasa sakit, cara duduk Siwon tidak penuhnya nyaman tapi dia hanya perlu menjaga pria itu tetap berada di atasnya. Kyuhyun memperhatikan wajah Siwon dengan begitu konsentrasi, ia bisa melihat Siwon begitu dekat dengan orgasmenya.

“Come for me..”

“Fuck!”

Siwon terengah, mengangkat kepalanya ke belakang dan memejamkan matanya saat cairan sprema keluar membasahi kemeja pink Kyuhyun. Itu adalah hal paling erotis yang pernah Kyuhyun lihat. Seumur hidupnya.

Tubuh Siwon lalu jatuh di atas Kyuhyun dan secara insting Kyuhyun mulai mengusap punggungnya. Siwon terengah-engah, nafasnya terasa panas di bahu Kyuhyun, namun begitu menenangkan.

Kemudian Kyuhyun mencium kepala Siwon. “Thank you…”

Siwon hanya tersenyum dan melingkarkan tangannya di leher Kyuhyun, memeluknya erat. Tidak peduli dengan celana mereka yang masih berada di bawah.

*****

NOTE: Semoga full updatenya bisa di tanggal 3 Februari yaa…

NOTE 2: I’m sorry, baru di update sekarang. Karena saat nulis part 2, aku sempet ketiduran hehehe… Jadi, baru kelar di jam dua pagi..

Well, last scene is bonus

Advertisements

44 thoughts on “[SF] Two of Us – Chapter 33

  1. Seneng banget lihat email kakak update :DD

    Saat lihat nomor chapternya aku bener-bener nggak nyangka. Udah chapter 30an Dan hubungan mereka berjalan lambaaattt banget. Apa perasaan aku aja ya hehe tapi aku suka banget sama gaya nulis kakak. Nggak terkesan cepat Dan nggak bikin bosan~

    Di tunggu update nya kak~ sehat terus yaaa

  2. Cie cie yang mau maksi brg sm sang kekasih + calon anak ( ups…bingung bilang Jun tuh sebutannya apa ya kalo buat Siwon 😁😁😀 ). Moga2 Jun merestui hubungan mereka deh biar Kyu ada temen kalo mau curhat😅😅

  3. Hyaaaa…. kira-kira masalah seperti apa yg terjadi di kantor yg ditutupi dari Kyuhyun??!apa begitu serius!?!
    Hmm.. senang rasanya melihat orang-orang disekitar Kyuhyun begitu baik dan perhatian dengannya.Semoga semua akan baik-baik saja.
    Okey….dan untuk acara WonKyu dan juga Jun….semoga berjalan lancar kkkkkk .

    Yippiiiiiii….semoga berjalan lancar eonni Ditunggu slalu.😊

  4. Kasihan donghae..siwon sudah jatuh cinta parah sehingga dia lupa perkara2 lain..hihi

    Semoga acara lunch mereka ber3 berjalan baik

  5. editor chooo…
    jatuh cinta emang bisa bikin beda ya..lucu deh ngebayangin editor cho yg biasa pake pakaian formal jd pake casual..kemeja pink pula..😍
    kayanya lebih enak dr pihak penulis choi (manajer lee) ato editor cho (pengacara kim) tau hub mereka..biar mereka masing2 ada yg bs diajak sharing..
    aaah..ga sabar update an selanjutnya..
    semoga bisa tgl 3 ya..pas tgl ultah kyuuu… 😘

  6. akhirnya update walau nanggung dan bikin penasaran …

    gemes dech sama jun 😘😘😘 kek nya jun nyaman sama siwon. semoga gk akan ada masalah …

    ceper update full yach 😙😙😙😙

  7. Huwaa…msh penasaran knp dg sikap Jun thdp eommanya, apa alasan yg membuat dia bersikap sprt tu. Apa benar hanya karna eommanya melarang bertemu dg appanya??
    Dan apa yg disadari siwon dr sikap Han pyo, apa han pyo jg menyukai kyuhyun??

  8. Endingnya nanggung bener… Tp gapapa untung nanti update lagi~ hehe ><
    Hm kepo deh kenapa jun kayak kzl bgt gt sama minhyun? Apa dia mgeliat/denger sesuatu yg bikin ksl banget gt? Hmmm

  9. fiuuuh..ternyata donghae yg mergokin mereka..kirain jun..sempet nahan nafas..but..yeaaah..thx god..it’s donghae..
    yaaah..lega sekarang..ada yg tau hubungan mereka n ngedukung..
    ooh no..editor cho..your so sweet..it’s normal to be sad when u know that..your love will be ending soon..but no..it’s just ur asume..congratulation..
    last scene..so hot..menegangkaaaan..takut jun keluar kameeeer…cepet2 selsein ya..
    aaah..can’t wait next chap..

    thx Diera-ssi..

  10. Nungguin dr kemarin lhoh akuu..
    Gak pa2 telat dikit updatenya.
    Hayolo ke-gep dongek.. 😂 Tapi dongek sebelumnya udah tau wonku ada something jadi gak begitu kaget lah yaa..
    Nekad juga wonkyu ‘gitu2’ pas lg ada jun.
    Tapi aku penasarannya siwon masih belum mau ngelakuin seks ‘sesungguhnya’ kah ?
    Next yakk

  11. Kakakkk aku suka banget chapter iniii rasanya takut buat scroll down karena takut selesaiii XD
    Penasaran sama hanpyo. Nanti bakal kakak bahas nggak soal hanpyo? Have a lot question in my mind but its to long so i won’t write it wkwk
    Semangat terus kak nulisnyaaa ohya, jaga kesehatan ya kakkk di tunggu chapter selanjutnyaaa

  12. Ohoho saya berharap mereka berdua terjebak dlm waktu yg lama di apartemen itu, dan semoga jun tidak bangun dalam waktu dekat, kira kira siwon tau gak ya kalo hanpyo yg ngater kyuhyun sama jun pulang gimana reaksinya?

  13. Cool 👍😊 !!!!!!!
    Benar-benar berharap WonKyu akan terus berjuang buat mempertahankan hubungan mereka.Karna sepertinya memang tidak akan mudah.
    Jun….kamu memang unik.Teruslah berbahagia…😉

    Thank you so much eonni 😘

  14. bisa ga sih itu Han Pyo dihilangin? aku tuh suka kesel tiap ada dia soalnya bkin kyu esmosi :v
    asdfghjkl!! kirain Donghae bakal marah sma Siwon krna Siwon jalin hubungan sma Kyu,eh taunya Donghae menerima hubungan wonkyu 😆
    tinggal Jun nih ya blm tau,penasaran sma reaksi nya klo Appa nya jalin hubungan a Paman Siwon.
    tetap dirahasiakan atau? lgian Jun bkn anak kecil yg polos /eh
    ciaaaat!! dasar kaliaaan..hubungan intim masa di siang bolong? untung Kyu ga teriak ya,coba klo teriak Jun bakal bangun trs udh deh ketauan 😂
    yosshh..slalu ditunggu lanjutan nya,fighting!!

  15. uuhhh adegan wonkyu panas sekaliiii, semoga mereka tetap bersama..
    aku berpikir mungkin han pyo itu suka sama kyuhyun, bukan sama minhyun..
    keep fighting and writing author

  16. Kereennnn wooaahh kyuhyun udah mulai trgantung yak am siwon .. Bklan nangis klo siwon ninggalin dia hahahha.. Manis banget kyuhyun di sini..
    Si han pyo udah mulai nunjukin rasa sikanya ke kyuhyun kali ya.. Mkanya antrin kyuhyun pulang..
    Dan yeaahhhh buat scene trakhir aku suka suka suka sekali hahhahaa. Ahhh mereka saling sentuh mulu. Kapan yang “itu”nya bneran thorrrr…. Di bikin siiii udah gk sabar pingin baca bagian itu… Hahhahaaa..
    Semngat trus yak.. 😘😘😘😘

  17. kirain aku kyuhyun bakal crita klo td di anter sama han pyo,rupanya belum,tp jujur aku knp suka ya klo han pyo deketin kyuhyun,karna pasti siwon bakal cemburu dan bakal lebih protect babykyunya,hihi
    jadi,semoga han pyo makin gencar deketin kyuhyun,kkkk

  18. Ketauan Donghae masih gak masalah, secara dia udah bisa nebak dari awal kalo siwon cinta sama kyuhyun bahakan sebelum siwon sendiri sadar sama persaannya. Nah yang bikin degdegan kalau ketauan sama Jun, kaya apa reaksinya nanti? Pemikiran Jun kan suka dewasa sebelum waktunya.

    Kira kira apa ya reaksi siwon jalau tau han pyo yang nganterin kyuhyun?

  19. Itu fans nya siwon kan??
    Bukan berubah jadi sesaeng nantinya? Hahaha terlalu takut karena siwon banyak juga sesaengnya..
    Btw han pyo mulai mndekati kyu dan lagi2 kyu g ngeuh, padahl dia udah berubah semenjak jatuh cinta sama siwon.. Apa dia g bakalan ngerti ama perlakuan han pyo selama ini??
    Woooww donge ternyata kasih izin ya hahaha moga jun juga..
    Btw kaliaaan gimana klo jun tetiba bangun beuh bisa gawat, tapi amazing hhaha…
    Selalu lah berbahagia walo itu sulit

  20. Maaf bru coment. Bru dpt link ff ini di grup wa. Coba baca trnyt udh part 33 huhf. Baca ulang and skrng bru kelar. Maaf jg ga stiap chap coment hehe. Entah lah wonkyu itu slalu bkin senyum2 sendiri hahaaa… semngt2 bwat lanjutin y. Hrus tgl 8 nh hehe

  21. Untung donghae, amaann…
    Sbenarnya bnyk yg kulewati tpi aku suka, aku jga masih bingung ama han pyo sepertinya sikapnya sedikit aneh, di awal aku kira sbenarnya suka sma kyu tpi entahlah, tunggu authornya aja.

  22. Aku jadi mikirin ucapan Donghae sama atasannya Kyu, bener nggak sih hubungan Siwon sm Kyu juga nggak akan berjalan baik.

    Huhu gemassss sm mereka, apalagi di adegan akhir itu ❤❤

    Makasih udah update, Kak. Semangat! ❤

  23. I’ve read this chapter twice tp baru nak komen. Sorry✌
    Kyu sgt pesimis dgn hubungan mereka padahal Donghae tidak mempermasalahkan hubungan mereka.
    Han pyo selalu ada di mana Kyu berada. Semacam selalu mengikuti kyu.
    Wonkyu sgt berani, bagaimana jika Jun terbangun.
    Keep on writing & update soon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.