[SF] Two of Us – Chapter 32

Chapter 32

Gil menghampiri Kyuhyun ketika ia melihat sang atasan memasuki café untuk interview salah satu stasiun televisi. Ini adalah interview publik terakhir minggu ini. Karena minggu depan, event promosi mulai berorientasi pada penggemar dan klub buku. Walaupun team PR belum menyelesaikan untuk event fansign di penghujung minggu akhir promosi.

Kyuhyun sering-kali datang tiba-tiba ke lokasi interview. Saat ditanya alasannya pun, sang kepala editor hanya mengatakan bahwa ia ingin melihat-lihat saja. Kyuhyun berada di lokasi interview pun hanya sekitar sepuluh hingga lima-belas menit. Setelah menyapa Agent Lee dan Penulis Choi, Kyuhyun kemudian pamit pada Gil.

Well, Gil sendiri tidak mengerti dengan tindakan Kyuhyun. Entah memang hanya ingin melihat-lihat atau Kyuhyun masih belum melepaskan tanggung-jawab team pada Gil.

“Kepala Editor…”

Kyuhyun menepuk pelan bahu Gil dan memperhatikan Siwon yang masih menjalani interview. “Semuanya lancar?” tanyanya sembari memperhatikan area café tersebut.

Sejak kasus mobilnya di awal minggu, St. Heaven menambahkan jumlah petugas team security. Walaupun belum ada kecurigaan kalau pelaku ulah tersebut adalah sasaengfan, tapi mereka tidak bisa lengah begitu saja.

“Semuanya baik-baik saja. Anda ke sini dengan taksi lagi?” ujar Gil.

Kyuhyun menggumam. “Itu lebih memudahkan.”

Well, pihak St. Heaven sebenarnya telah memberikan fasilitas mobil untuk Kyuhyun selama sang kepala editor belum mempunyai mobil baru. Tapi Kyuhyun jarang menggunakannya dan masih terparkir di basement apartmentnya. Dan jika ia pergi ke mana pun, Kyuhyun jadi lebih sering menggunakan transportasi publik.

“Lebih mudah jika anda mengendarai mobil sendiri, Pak.”

Kyuhyun melirik Gil. “Apa kau menyuruhku cepat-cepat membeli mobil baru?”

“Bukan begitu tapi…”

Kyuhyun tertawa kecil dan sedikit meninju bagian perut Gil. “Jangan dipikirkan. Hari ini polisi akan mengembalikan mobilku yang rusak. Jika memang tidak bisa diperbaiki, aku akan langsung pergi ke dealer.”

Gil hanya menghela nafas pendek. Ia lalu mendengar tanda dari salah satu staff stasiun televisi kalau mereka akan istirahat sejenak. Gil lalu menghampiri Jeon meninggalkan Kyuhyun yang mencari meja kosong agak pojok dekat pintu masuk.

Kyuhyun memperhatikan Siwon yang menghampiri Donghae dan berbicara singkat sebelum sang penulis menghampirinya. Kyuhyun sedikit melirik pada Gil yang sepertinya mulai menyadari sesuatu –karena ekspresinya berubah saat melihat Siwon berjalan mendekati Kyuhyun. Kyuhyun menghela nafas.

“Kau datang lagi, Editor Cho,” ucap Siwon yang menarik kursi dan duduk di hadapan Kyuhyun.

Siwon tidak pernah memanggil Kyuhyun dengan sebutan kasual jika mereka berada di ruang publik. Sang penulis selalu memanggil Kyuhyun dengan Editor Cho, walau terkadang Siwon juga memanggilnya Kyuhyun-sshi.

Kyuhyun tersenyum tipis. “Hanya berusaha menepati janji,” gumamnya.

Jawaban itu membuat Siwon menyeringai. Kemudian salah seorang staff menghampiri mereka dengan membawa satu gelas cup Americano untuk Siwon.

“Kepala Editor, anda ingin minum sesuatu?”

Kyuhyun menggeleng. “Aku tidak akan lama. Hanya mampir sebelum ke kantor polisi.”

Staff itu mengangguk kecil lalu meninggalkan mereka berdua. Siwon memandang Kyuhyun dengan serius.

“Mengenai mobilmu? Apa mereka sudah menemukan pelakunya?”

Kyuhyun menyandarkan punggungnya. “Belum. Tapi mereka masih menunggu.”

Kening Siwon berkerut. “Menunggu apa?”

Kyuhyun menatap Siwon dengan serius. Ini bukanlah tempat yang tepat untuk membicarakannya. “Bisakah kita bicarakan ini nanti saja.” Kemudian ia melirik jam di pergelangan tangannya. “Aku harus ke kantor polisi.”

“Interview akan selesai sebelum makan siang. Aku tunggu di apartment, okay?”

Kyuhyun mengangguk kecil dan tersenyum tipis. Ia berdiri dan menghampiri Gil untuk berpamitan.

*****

Donghae menyusul Siwon yang sudah berada di mobil terlebih dahulu. Selesai interview, Donghae sedikit berbincang dengan beberapa staff St. Heaven untuk konfirmasi jadwal event berikutnya. Oh, tak lupa Donghae juga berterima-kasih pada reporter stasiun televisi. Setidaknya mereka mengganti beberapa pertanyaan yang sudah ditandai merah oleh Donghae tiga hari sebelumnya.

Semua pertanyaan interview baik majalah dan televisi harus melalui persetujuan dari Donghae. Karena sebelumnya, Donghae membuat permintaan khusus agar tidak menanyakan tentang beberapa hal. Sebagian besar mengikuti permintaan Donghae, tapi ada juga yang dengan sengaja membuat pertanyaan tersirat mengarah pada hal yang sensitif. Itulah alasan Donghae selalu meminta susunan pertanyaan beberapa hari sebelum hari interview.

Donghae hanya ingin memastikan semua baik-baik saja. Toh, saat mereka melakukan interview seperti ini di Negara-negara lain, Donghae selalu menyortir pertanyaan.

Donghae memanjat ke dalam mobil dan menutup pintu dengan agak keras. Siwon yang duduk di sebelahnya hanya sibuk mendengarkan music dengan earphonenya sembari memejamkan mata.

“Kita makan siang dulu?” tanya Donghae sembari memakai seatbelt.

Siwon membuka matanya dan melirik Donghae. “Aku ingin langsung pulang ke apartment.”

Donghae menatap Siwon sejenak. Supir menyalakan mesin mobil dan menunggu keputusan Donghae ke mana tujuan mereka selanjutnya.

“Aku ingin istirahat, Donghae,” gumam Siwon kembali memejamkan mata.

Donghae menghela nafas pendek. “Ke apartment, Pak.”

“Baik.”

Mobil mewah itu lalu melaju meninggalkan area café. Sepanjang perjalanan, Siwon hanya diam menikmati music yang bisa terdengar oleh Donghae. Sesekali sang agent melirik pada Siwon memastikan entah pria itu tertidur atau hanya memejamkan mata. Siwon sepertinya tengah berusaha untu mengontrol emosinya.

Well, itu sudah disadari oleh Donghae sejak awal minggu. Sejak kejadian mobil Kyuhyun. Donghae menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah. Terlebih dengan Kyuhyun yang sering mampir ke setiap lokasi interview, walaupun hanya untuk sepuluh menit. Dan di antara waktu itu, Siwon selalu menyempatkan untuk menghampiri Kyuhyun dan berbincang selama beberapa menit. Lalu ketika Kyuhyun pergi dan Siwon harus kembali menyelesaikan interviewnya, saat itulah Siwon sering-kali kehilangan fokusnya.

Donghae bisa berasumsi tapi ia tidak bisa bertanya untuk membuktikan asumsinya tersebut. Mungkin tidak sekarang.

“Siwon…” ucap Donghae pelan.

Siwon menggumam. Tanda pria itu tidak tidur. Well, itu bagus, pikir Donghae.

“Hari Minggu, mau ikut denganku?”

Siwon membuka matanya dan memiringkan kepalanya. “Ke mana?”

“Melihat Bibi Sangmi,” gumam Donghae pelan.

Siwon hanya sekali melihat ibunya. Dan ketika prosedur pelepasan alat bantu pada Senin malam lalu, pria itu tidak datang. Donghae tentu mengerti alasannya. Namun, kali ini berbeda. Setelah prosedur tersebut, keluarganya mengadakan tiga hari berkabung sebelum memakamkan Ahn Sangmi. Dan Donghae hanya pergi ke rumah duka di hari pertama dan tidak mengikuti acara pemakaman karena kesibukan promosi Siwon.

Jadi, saat ia ingin pergi ke makam bibi Sangmi, Donghae bisa mengajak Siwon. Itu pun kalau Siwon ingin.

Siwon belum menjawab apa pun. Dia hanya menatap Donghae lekat.

“Jika kau tidak mau, tidak apa-apa. Aku hanya menawarkan saja,” tukas Donghae.

Siwon tidak mengatakan apa pun. Dia memalingkan wajahnya ke arah luar jendela. Mobil mereka melaju di antara mobil-mobil lainnya yang menembus kemacetan kota Seoul.

Sang penulis menarik nafas panjang. Sikapnya mungkin salah. Karena wanita itu adalah ibunya. Melihatnya sekali sebelum prosedur pelepasan alat bantu yang terpasang selama sepuluh tahun, itu terdengar kejam. Terlebih Siwon seperti tidak merasakan apa pun saat Donghae mengiriminya pesan yang mengatakan bahwa ibunya telah meninggal pada malam itu.

Namun, bukankah itu adalah perasaan yang wajar. Tigapuluh tahun lalu, ibunya menelantarkanya. Dengan hanya sebuah tanda-tangan, Siwon diberikan pada keluarga asing. Keluarga yang membesarkannya dan memberikan rumah serta kasih sayang. Lalu ketika mendekati ajalnya, wanita itu seolah datang dan meminta pengakuan darinya bahwa wanita itu adalah ibunya. Itu terdengar begitu ironis.

“Berikan saja…” ucap Siwon pelan. “Alamat pemakamannya. Jika aku ingin, aku akan pergi sendiri.”

Donghae tersenyum tipis. “Oh, aku akan memberikannya lewat pesan.”

Setidaknya, ia telah berusaha.

*****

Kyuhyun menatap mobil di hadapannya. Ia berpikir kalau tidak akan mudah untuk memperbaikinya. Bahkan jika ia harus mengeluarkan uang, bukanlah lebih baik digunakan untuk membeli mobil baru dibandingkan memperbaiki mobil tersebut. Well, Kyuhyun mungkin bisa meminta Heechul mengurus surat mobilnya.

Seorang polisi menghampirinya untuk memberikan kunci mobil tersebut.

“Anda akan memperbaikinya?”

Kyuhyun mengambil kunci tersebut. “Terlalu mahal. Aku hanya akan mengambil beberapa barang yang masih ada di dalam mobil. Pengacaraku mungkin akan datang untuk mengurus surat-suratnya.”

Polisi itu mengangguk. “Itu mungkin keputusan yang baik. Dan mungkin mobil anda masih akan berada di sini untuk dua minggu selama masa penyelidikan. Kalau begitu, saya tinggal masuk ke dalam. Jika anda sudah selesai, kuncinya bisa anda tinggalkan di bagian barang bukti.”

Kyuhyun tersenyum dan mengangguk kecil. Polisi tersebut lalu meninggalkan Kyuhyun dengan mobilnya. Sang editor itu menghela nafas pendek sebelum ia mematikan alarm mobil. Well, paling tidak mesin dan system keamanan mobil itu masih berfungsi. Jika penyelidikan selesai, pihak kepolisian mungkin bisa memanfaatkannya.

Kyuhyun lalu membuka pintu dan melihat kondisi dalam mobilnya. Tidak ada yang hilang.

“I’m sorry..” gumamnya pelan.

Kemudian Kyuhyun memanjat masuk. Ia mengambil foto Jun yang ada di dashboard mobil dan beberapa barang lainnya. Kyuhyun juga memeriksa beberapa bagian agar tidak ada barang pribadinya yang tertinggal.

Tidak banyak, jadi Kyuhyun bisa memasukkan ke saku jaketnya. Setelah selesai, Kyuhyun menutup pintu mobil sebelum mengembalikan kuncinya ke bagian barang bukti. Well, dalam perjalanan pulang, ia akan menghubungi Heechul.

*****

Min Hyun tersenyum saat ia melihat Jun yang berjalan keluar kelasnya. Beberapa teman sebayanya sudah berlarian di lorong menuju pintu utama lobby di mana orang tua mereka sudah menunggu. Dan ketika Nam Ssaem keluar kelas, Min Hyun membungkuk memberi salam. Sang guru membalas salamnya sembari tersenyum kecil. Kemudian Min Hyun terfokus pada Jun. Putranya itu berjalan lunglai pada ibunya. Min Hyun mengernyit lalu berjongkok untuk menyamakan tinggi tubuhnya dengan Jun. Min Hyun mengulurkan tangannya.

Jun menyambut tangan tersebut. Min Hyun lalu mengecup punggung tangan putranya.

“Kau kenapa begitu lesu? Kenapa tidak tersenyum seperti biasanya?” tanya Min Hyun.

Jun menatap ibunya. “Apa Eomma bersama Paman Pyo?”

“Tidak. Hari ini, Eomma datang sendiri. Kenapa?”

Jun diam untuk sejenak. Seolah ia tengah mempertimbangkan sesuatu. Min Hyun menunggu sampai Jun bicara.

“Bisa hari ini kita pergi menemui Appa?”

Min Hyun terdiam untuk sesaat. Ia lalu meraih kedua tangan putranya tersebut. “Bukankah Appa sudah menemuimu minggu lalu di sekolah? Nam Ssaem memberitahu Eomma kalau Appa datang ke sekolah.”

Jun tertunduk. Ia memang sengaja tidak memberitahu ibunya tentang hal itu. Tapi siapa sangka kalau gurunya yang memberitahu Min Hyun. Lalu jika ibunya sudah tahu, kenapa tidak bertanya pada Jun yang menutupi kedatangan ayahnya tersebut.

“Jun…”

“Aku hanya rindu dengan Appa.”

Min Hyun menghela nafas pendek. “Jadwal pertemuan dengan Appa masih sepuluh hari lagi.”

Jun mengangkat kepalanya dan menatap ibunya dengan lekat. “Tapi aku ingin bertemunya sekarang.”

Untuk saat ini, Min Hyun bisa melihat persamaan Jun dengan Kyuhyun. Terkadang itu membuat Min Hyun berpikir. Ayah dan anak itu terlalu mirip, bahkan Jun lebih sering menyebut dan seolah membandingkan Kyuhyun dengan Han Pyo.

Min Hyun lalu berdiri. Dengan satu tangan yang menggenggam erat tangan Jun, ia mulai berjalan menuju lobby.

“Eomma….”

“Sepuluh hari lagi, sayang. Itu adalah putusan persidangan. Bahkan jika hakim tahu kalau Appa menemuimu sebelum waktunya, maka….”

Jun sontak menarik tangannya dari genggaman Min Hyun. Sang ibu menoleh dan menatap putranya. Matanya membulat ketika ia melihat wajah Jun memerah dengan mata yang mulai berair. Tapi sepertinya Jun berusaha keras untuk tidak menangis.

“Jun…”

Tapi Jun tidak mengatakan apa pun. Ia hanya kembali berjalan mendahului Min Hyun.

*****

Siwon mengangkat kepalanya ketika mendengar suara pintu terbuka. Ia sudah menunggu hampir satu jam. Dan saat ia melihat Kyuhyun memasuki ruang tengah, Siwon tersenyum lebar. Kyuhyun berjalan mendekat.

“Kau masuk tanpa ijin,” tukas Kyuhyun sembari mengambil duduk di sofa tunggal.

Siwon masih tersenyum tanpa rasa bersalah. “Kau mungkin harus mengganti kode pintunya.”

Kyuhyun hanya mendengus sembari mengeluarkan semua benda yang diambilnya dari mobil. Siwon mengernyt lalu mengambil satu foto Jun.

“Kau mengambilnya dari mobilmu?” tanya Siwon.

Kyuhyun mengangguk. “Tidak bisa diperbaiki lagi. Jadi, aku akan membeli mobil baru.”

“Oh. Lalu mengenai surat-suratnya? Saat aku membawa mobilku dari Singapura, itu membutuhkan dokumen yang begitu rumit. Atau mungkin birokrasinya sedikit lebih mudah?”

“Aku sudah menghubungi pengacaraku untuk mengurus suratnya. Mungkin aku baru bisa membeli mobil baru setelah surat dari kepolisian selesai. Satu atau dua minggu lagi.”

Siwon hanya bergumam pelan. Kyuhyun lalu melepaskan jaketnya lalu beranjak ke dapur untuk mengambil minum. Tapi ia sedikit terkejut melihat ada beberapa bahan makanan yang sudah dipersiapkan.

“Kau akan memasak?” tanya Kyuhyun dari dapur seraya ia mengambil botol minum dari lemari pendingin.

Siwon menaruh kembali foto Jun ke atas coffee table lalu menyusul ke dapur. “Oh. Aku pikir kita bisa makan siang bersama. Atau sebelumnya kau sudah makan?”

Kyuhyun menggeleng. Ia meneguk beberapa kali sebelum ia mengembalikan botol minum itu kembali ke lemari pendingin. “Kimchi stew?” tanyanya lagi saat melihat semua bahan yang tersedia.

“Kau ingin sesuatu yang berbeda?”

“Tidak,” sahut Kyuhyun dengan cepat. Ia menyeringai.

Siwon hanya tertawa kecil. “Ganti bajumu dulu. Aku akan memulai memasak.”

“Uhm… Aku akan membantumu.”

Siwon mengangguk kecil seraya Kyuhyun bergegas ke kamar untuk mengganti pakaian. Kemudian Siwon mencuci tangannya di wastafel. Setelah memakai apron, Siwon membuka salah satu cabinet untuk mengambil pot untuk memasak kimchi stew. Lima menit berselang, Kyuhyun yang sudah berganti pakaian dengan lebih kasual kembali ke dapur. Ia melihat sebagian besar bahan sudah diolah oleh Siwon.

“Ada yang bisa kubantu?” tanya Kyuhyun.

“Kau sudah cuci tangan?” Kyuhyun mengangguk. Lalu Siwon menunjuk green pumpkin. “Kau bisa memotong itu. Aku sudah menyiapkan bumbu tepungnya.”

Kyuhyun lalu mengambil pisau dan mulai memotong green pumpkin tersebut dengan ukuran tidak terlalu tebal. Sementara Siwon memasukkan bahan terakhir ke kimchi stew, dan akan memulai menu lainnya.

Kyuhyun memperhatikan semua bahan yang ada di counter. Rasanya dia tidak mempunyai bahan makanan sebanyak ini. “Apa kau membawa semua ini dari apartmentmu?”

“Hanya sebagian. Aku sempat pergi ke supermarket,” ujar Siwon sembari mengambil pisau lainnya.

Kyuhyun meliriknya. “Dengan Donghae?”

“Tidak, sendiri.”

Kyuhyun sontak menatapnya. “Kenapa pergi sendiri? Bagaimana jika kau diikuti oleh sasaengfan?”

Siwon tersenyum tipis. Well, Kyuhyun begitu mencemaskannya. “Jangan khawatir. Dengan sedikit penyamaran, tidak ada orang yang mengenaliku.”

“Tch…” Kyuhyun mendengus. “Penyamaran?! Memangnya kau itu idol?”

Siwon tertawa. Ia meletakan pisau lalu mendekati Kyuhyun, berdiri di sisinya dengan terlalu dekat. “Why? You sound very concern right now.”

“Eoh? Kenapa aku harus khawatir?” tukas Kyuhyun sembari terus memotong green pumpkin tersebut. “Dan… bisakah kau sedikit memberiku ruang. Aku sedang memegang pisau saat ini.”

Siwon menyentuh pergelangan tangan Kyuhyun yang memegang pisau. Dengan satu gerakan hati-hati, ia mengambil pisau dan menaruhnya agak jauh. Kyuhyun sontak menoleh pada Siwon, membuat jarak di antara mereka jadi begitu dekat. Kyuhyun menahan nafasnya.

Siwon tersenyum tipis lalu sedikit menyundul pelan kepala Kyuhyun dengan kepalanya. “Keep breathing, Kyuhyun.”

Kyuhyun lalu menghembuskan nafas. “And.. you should…” Kyuhyun memberi isyarat agar Siwon mundur beberapa langkah untuk memberi ruang.

Siwon tertawa kecil. Ia menangkup wajah Kyuhyun dan mengecup bibir pria itu. Namun hanya untuk beberapa detik, karena Kyuhyun segera mendorong tubuh Siwon.

“Kompornya masih menyala.”

Siwon lalu berbalik untuk mematikan kompor. Lagipula kimchi stew-nya sudah matang. Kemudian, Siwon meraih pergelangan tangan Kyuhyun dengan tangan lainnya menyentuh pinggang Kyuhyun. Tanpa membuang waktu, Siwon kembali mencium bibir Kyuhyun.

Sedikit menunda waktu makan siang mereka

*****

Waktu menunjukkan pukul lima sore ketika Kyuhyun dan Siwon sedang rileks di ruang tengah sembari memutar musik. Kyuhyun yang focus membaca sebuah buku dengan Siwon berbaring di atas pangkuan Kyuhyun yang juga membaca salah satu buku dari ruang kerja Kyuhyun.

Selama makan siang, mereka banyak berbincang. Mengenai kasus perkembangan kasus Kyuhyun dan beberapa cerita Siwon saat ia tinggal di beberapa negara. Siwon juga bertanya pada Kyuhyun mengenai project buku yang paling berkesan baginya. Hanya sebuah perbincangan ringan.

Selesai makan siang dan mencuci semua piring dan pot kotor, keduanya kembali di ruang tengah, dengan posisi mereka saat ini.

Kyuhyun menurunkan sedikit bukunya dan memperhatikan Siwon yang sepertinya begitu focus pada bukunya. Call me by your name oleh Andre Aciman, salah satu buku yang dipesan oleh Kyuhyun melalui situs belanja luar negeri karena buku itu tidak masuk di toko buku Korea. Well, mungkin karena buku itu menceritakan kisah hubungan asmara Elio Perlman dengan pria bernama Oliver.

Kyuhyun sangat menyukai buku tersebut. Dan kabar terakhir yang ia dengar, kalau buku tersebut akan difilmkan. Mungkin Kyuhyun akan menontonnya. Jika sudah ada di Netflix atau dvdnya sudah rilis.

Ada beberapa quote dari buku tersebut yang sangat disukai oleh Kyuhyun. Tapi favoritnya adalah

‘We belonged to each other, but had lived so far apart that we belong to others now’.

Dan quote paling fenomenal dari buku tersebut adalah ‘Call me by your name and I’ll call you by mine’.

Entah bagian mana yang paling disukai oleh Siwon.

“Kau menyukainya?” gumam Kyuhyun pelan seraya ia menempatkan pembatas buku pada halaman terakhir yang dibacanya.

Siwon menggumam tanpa melepaskan buku tersebut. “Donghae pernah menyebut judul buku ini saat kami tinggal di Zurich. Tapi aku tidak pernah membacanya. Mungkin Donghae pernah.” Kemudian Siwon menggumamkan sesuatu dengan suara pelannya hingga Kyuhyun harus berkonsentrasi dengan apa yang sedang diucapkan oleh Siwon.

“Over the years I’d lodged him in the permanent past, my pluperfect lover, put him on ice, stuffed him with memories and mothballs like a hunted ornament confabulating with the ghost of all my evenings. I’d dust him off from time to time and then put him back on the mantelpiece. He no longer belonged to earth or to life. All I was likely to discover at this point wasn’t just how distant were paths we’d taken, it was the measure of loss that was going to strike me—a loss I didn’t mind thinking about in abstract terms but which would hurt when stared at in the face, the way nostalgia hurts long after we’ve stopped thinking of things we lost and may never have cared for.”

Kyuhyun terdiam saat Siwon mengucapkan salah satu bagian dari halaman yang mungkin sedang dibacanya saat ini. “Are you thinking about Noah?”

“Untuk sesaat,” ungkap Siwon.

Kyuhyun menghembuskan nafas. Ia mengusap perlahan rambut Siwon. Well, itu tidak terelakan. “Apa pernah kau mengunjunginya? Maksudku, makamnya.”

Siwn menurunkan novelnya. Ia menatap Kyuhyun yang berada di atasnya. “Sebelum pergi ke Liverpool untuk promosi novelku. Saat itu promosi luar negeri pertama-ku.”

“Itu… Bukanlah sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu? Karena kau bilang kau tidak pernah pulang lagi ke Amerika.”

“Begitulah,” ujar Siwon seraya meraih tangan Kyuhyun. Ia memperhatikan jemari panjang Kyuhyun lalu menautkan jemari mereka berdua. “Kenapa?”

“Nothing. Apa kau ingin kembali menemuinya? Suatu hari nanti,” tanya Kyuhyun lagi.

Siwon menghembuskan nafas perlahan. Ia lalu mengecup jemari Kyuhyun. “Mungkin. Suatu hari nanti. Apa kau ingin menemaniku? Jika aku ingin pergi melihatnya?”

Kyuhyun memperhatikan Siwon cukup lama sebelum tersenyum tipis. “Mungkin. Jika pekerjaanku tidak banyak.”

“Mungkin kau harus membuat permintaan cuti khusus. Selain mengunjungi Noah, aku juga bisa mengenalkanmu pada keluargaku.”

Kyuhyun tidak merespon apa pun selain tersenyum. Siwon lalu melepaskan tautan jemari mereka dan kembali membaca novel tersebut. Kyuhyun kembali menyusuri surai rambut hitam Siwon dengan lembut. Ia tidak kembali melanjutkan membaca seperti Siwon, malah Kyuhyun memperhatikan ke arah jendela di mana langit sudah berwarna orange terang dengan semburat merah muda.

Well, rasanya sudah lama sekali sejak Kyuhyun melihat langit sore. Bahkan di saat waktu liburnya atau beberapa hari sebelumnya di masa cuti paksanya, Kyuhyun tidak pernah memperhatikan langit sore dan betapa menenangkannya waktu tersebut. Mungkin karena dia selalu memikirkan pekerjaannya. Jadi, Kyuhyun selalu lupa menikmati waktu senggang seperti ini.

Lalu, tentu saja, di saat seperti ini selalu ada sedikit gangguan. Suara bel pintu.

Kyuhyun menghela nafas dan memberi isyarat agar Siwon bangun agar ia bisa membuka pintu. Siwon merubah posisinya menjadi duduk tapi tidak melepaskan buku tersebut. Kyuhyun beranjak menuju pintu untuk melihat siapa tamu yang datang.

Namun, siapa yang menyangka kalau tamu tersebut adalah Kang Min Hyun dengan ekspresi khawatir dan begitu pucat.

“Apa Jun ada di sini?”

Satu pertanyaan singkat yang membuat Kyuhyun menjadi tegang seketika.

*****

Siwon menghembuskan nafas panjang. Ia tengah bersandar di dinding, tepat di sebelah pintu ruangan security gedung apartment, di mana Kyuhyun dan Kang Min Hyun tengah mengecek rekaman CCTV untuk mencari keberadaan Jun –atau paling tidak mereka berharap Jun sempat datang ke gedung apartment namun tidak pergi ke unit milik ayahnya. Jika itu yang terjadi, mereka akan lebih mudah mencari Jun.

Ini sudah lebih dari setengah jam dan sepertinya mereka belum selesai. Siwon memeriksa jam di pergelangan tangannya. Hampir waktu makan malam. Well, bukan itu yang ia khawatirkan. Jika sudah semakin malam, akan sulit melakukan pencarian. Dan satu-satunya jalan adalah menghubungi kantor polisi.

Siwon mengetukkan sepatunya di lantai. Jujur saja, Siwon bukan tipe orang yang mudah menunggu. Dia ingin sekali masuk ke dalam ruangan itu, menarik Kyuhyun dalam dekapannya dan mengatakan bahwa ia akan melakukan apa saja untuk menemukan Jun. Hanya saja, dia tidak bisa melakukannya –untuk bagian memeluk Kyuhyun karena ada begitu banyak orang yang melihat dan Siwon tidak ingin membuat Kyuhyun canggung apalagi di hadapan mantan istrinya. Tapi ia serius akan melakukan apa saja untuk menemukan Jun.

Siwon mengangkat kepalanya ketika ia mendengar suara derap langkah yang berlari. Dari kejauhan ia melihat sosok Kim Heechul dan di belakangnya pria bernama Han Pyo. Well, Kyuhyun akan semakin tidak senang jika ia melihat pria itu datang.

Heechul menyadari keberadaan Siwon dan hanya sekilas menyapanya sebelum masuk ke dalam ruangan security. Namun, berbeda dengan Han Pyo yang berdiri dengan jarak tiga langkah dari posisinya. Pria itu menatap Siwon dengan lekat.  Seolah sedang mempertanyakan alasan keberadaan Siwon berada di sana.

Satu alis Siwon terangkat. Ia bisa dengan mudah membaca ekspresi Han Pyo yang sepertinya terlihat tidak senang atas keberadaannya.

“Penulis Choi…” ucap Han Pyo.

Siwon hanya mengangguk kecil. Mereka tidak pernah berkenalan secara resmi, hanya pertemuan singkat, jadi Siwon tidak akan bersikap akrab padanya. Tapi sedikit mengejutkan pria itu tidak menyusul Kim Heechul masuk ke dalam ruangan dan hanya menunggu di luar bersama Siwon.

Itu sedikit aneh, pikir Siwon.

Tak lama, pintu terbuka. Siwon menegakkan tubuhnya dan melihat Kyuhyun keluar diikuti Min Hyun dan Heechul. Dan Han Pyo masih berada di posisinya tanpa berencana mendekati Min Hyun. Tapi wanita itu yang mendekati Han Pyo. Kyuhyun tidak peduli mengenai hal itu. Yang dikhawatirkannya adalah Jun.

“Kyuhyun, kita harus cepat,” ujar Heechul.

Siwon mengernyit. “Sudah menemukan Jun?”

Kyuhyun menggeleng. “Belum dipastikan. Heechul sunbae bilang ada laporan tentang seorang anak dibawa ke rumah sakit pukul enam. Anak itu tidak mengatakan apa pun saat ditanya, hanya terlihat ketakutan.”

Siwon mengumpat pelan. Heechul berjalan terlebih dahulu menuju pintu lobby. Siwon sekilas melirik pada Min Hyun yang tengah bicara pada Han Pyo. Kemudian ia menghampiri Kyuhyun. Siwon ingin sekali memberikan dukungan moral pada Kyuhyun –seperti hanya menyentuh lengannya tapi ia tidak bisa melakukannya.

“Kau ingin aku ikut?” tanya Siwon.

“Tidak. Tapi bisakah kau membuatkan sup? Jika itu benar Jun, aku ingin…..” Kyuhyun menghembuskan nafas. Ia terlihat begitu lelah dan juga frustasi. “Hanya sup. Please…?”

Siwon mengangguk. Kyuhyun tersenyum tipis dan menyusul Heechul. Kemudian Min Hyun dan Han Pyo juga berjalan menuju pintu lobby. Mungkin mereka akan pergi ke rumah sakit. Well, rasanya itu tidak adil bagi Kyuhyun. Jika Min Hyun mempunyai Han Pyo sebagai dukungan moral, kenapa Siwon tidak bisa melakukannya pada Kyuhyun?

Namun, Siwon menyadari ada sesuatu yang aneh. Pada sosok Han Pyo tersebut.

*****

Heechul mengarahkan Kyuhyun ke area ER di salah satu rumah sakit di mana ia mendapatkan laporan dari kantor polisi setempat. Di belakang mereka, ada Min Hyun dan Han Pyo, yang diabaikan oleh Kyuhyun.

Kyuhyun sampai di meja stasiun suster. “Seorang anak kecil dibawa ke sini pukul enam. Aku mendapat laporannya dari kantor polisi.”

Seorang suster menatap Kyuhyun. “Apa anda orang tuanya?”

“Aku ingin memastikan apa itu putraku. Tolong,” ucap Kyuhyun.

Suster itu menghembuska nafas pendek dan mengangguk kecil. Lalu suster itu berfokus pada computer di hadapannya. “Seorang anak dengan luka di tangan kirinya. Ia dibawa ke ruang X-ray sekitar duapuluh menit lalu. Mungkin sebentar lagi selesai, anda bisa menunggu…” suster itu mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah pintu lainnya. “Oh, itu dia.”

Seorang suster mendorong kursi roda di mana ada seorang anak duduk dengan sling di bahunya. Kyuhyun lalu bergegas menghampiri mereka. Dan ia hampir jatuh karena kakinya menjadi lemas saat melihat anak itu benar adalah Jun.

“Jun…” gumam Kyuhyun pelan.

Jun hanya meliriknya sekilas lalu menunduk kembali. Kyuhyun bisa melihat raut penyesalan di wajah putranya. Ia berlutut di hadapan Jun, melihat tangan kirinya yang sudah terpasang sling. Kyuhyun juga memeriksa apakah ada luka lainnya.

“Hey…” ucap Kyuhyun. “Kau baik-baik saja?”

Jun mengangguk kecil. Kyuhyun tersenyum tipis. “Appa lega, kalau begitu.”

Kemudian Min Hyun ikut berlutut di samping Kyuhyun. “Jun…” ucapnya seraya hendak menyentuh kepala Jun.

Tapi dengan cepat, Jun menghindari tangan Min Hyun. Hal itu tidak hanya membuat Min Hyun terkejut, tapi juga Kyuhyun.

“Dokter akan segera menjelaskan kondisi putra kalian,” tutur suster tersebut.

Kyuhyun dan Min Hyun berdiri dan mengangguk kecil. Dan suster itu membawa Jun ke salah satu ranjang yang kosong. Kyuhyun bisa bernafas lega. Setidaknya Jun sudah ditemukan walaupun ia juga sekaligus merasa bersalah karena putranya terluka.

Lagi, reaksi Jun atas sentuhan Min Hyun. Itu membuat Kyuhyun bertanya.

“Apa yang terjadi Min Hyun?” tanya Kyuhyun.

Min Hyun menatap Kyuhyun. “Apa maksud pertanyaanmu? Aku sudah menjelaskan padamu kalau…”

“Kau memang sudah menjelaskan tentang Jun kabur. Tapi reaksi Jun barusan, itu sama sekali tidak menjelaskan apa pun. Bahkan jika pun Jun merasa marah padamu, dia tidak akan bereaksi seperti tadi dan kabur sampai ia harus masuk rumah sakit seperti ini,” tutur Kyuhyun.

Min Hyun tidak mengatakan apa pun. Dia hanya berjalan menuju ranjang di mana Jun dibawa. Dan Kyuhyun mendengus. Min Hyun selalu seperti ini. Dia akan selalu mengalihkan perhatian jika tidak ingin menjawab pertanyaan apa pun dari Kyuhyun.

Mungkin ini adalah sumber masalah perceraian mereka, selain pria bernama Han Pyo. Kyuhyun yang selalu berusaha mengajukan pertanyaan, tapi Min Hyun menghindar memberi jawaban. Situasi ini terus berulang sejak awal pernikahan mereka. Jika Jun tidak pernah lahir, sudah sejak dulu mereka bercerai.

*****

Siwon tersenyum ketika ia melihat Kyuhyun berjalan dari hallway dengan membawa Jun pulang. Walaupun ia sedikit prihatin dengan kondisi anak tersebut. Tapi Siwon tidak bisa menunjukkannya, itu hanya akan membuat Jun akan merasa bersalah. Di belakang Kyuhyun dan Jun, Min Hyun dan Han Pyo berjalan masuk.

Well, sebelumnya Kyuhyun tidak mengijinkan pria itu memasuki unitnya, tapi mungkin kali ini Kyuhyun hanya berfokus pada Jun.

“Hey Jun, kau lapar?” tanya Siwon.

Jun tersenyum saat melihat Siwon. “Paman Siwon…”

Kemudian Siwon mengulurkan tangannya. “Paman membuatkan sup.”

Jun menoleh pada Kyuhyun. Sang ayah hanya mengangguk kecil. Lalu Jun meraih tangan Siwon dengan tangan kanannya yang tidak terluka. Namun, sebelum mereka ke meja makan, Kyuhyun memanggil Siwon.

“Siwon, boleh aku ke unitmu sejenak. Ada yang perlu kubicarakan dengan Min Hyun,” kata Kyuhyun.

Siwon melirik pada Min Hyun yang terlihat begitu tegang. Ia mengangguk kecil. “Aku akan menyisakan sup.”

Kyuhyun menggumamkan terima kasih sebelum berbalik. Ia menatap Min Hyun dan memberi isyarat padanya untuk mengikutinya. Sedangkan Siwon membawa Jun ke meja makan. Han Pyo sendiri sepertinya tidak berencana mengikuti Kyuhyun dan Min Hyun. Well, Siwon tidak peduli.

Setelah membantu Jun untuk duduk, Siwon menyiapkan semangkuk sup cream yang telah disiapkannya dengan dengan beberapa potong roti. Siwon menyajikannya di hadapan Jun. “Hati-hati karena masih agak panas.”

Jun mengangguk kecil. Ia meraih sendok dengan tangan kanannya dan mulai melahap sup cream tersebut. Siwon tersenyum tipis lalu menoleh pada Han Pyo yang masih berdiri canggung di tengah ruangan.

“Kau mau sup?” tanya Siwon pada Han Pyo.

Pria itu sedikit tersentak karena pertanyaan Siwon. Ia melirik Jun yang sedang menyeruput supnya perlahan. Han Pyo menggeleng.

Siwon mengangkat bahu lalu pergi ke balik counter untuk menuangkan kopi. “Kalau kopi?”

“Boleh,” ucap Han Pyo.

Siwon lalu mengambil satu gelas lainnya dari kabinet dan menuangkan kopi untuk Han Pyo. Ia membawa dua gelas itu dan memberikan satu pada Han Pyo. Siwon membiarkan Jun makan di meja makan sedangkan ia duduk di sofa ruang tengah. Han Pyo masih berdiri dengan canggung.

“Ini bukan rumahku, tapi kau bisa duduk,” tukas Siwon.

Han Pyo menyeruput kopi perlahan lalu beranjak ke arah sofa. Siwon sedikit bergeser ke bagian ujung, hingga ada cukup jarak di antara mereka. Han Pyo melirik ke arah coffee table di mana ia melihat dua buku –yang dibaca sebelumnya oleh Kyuhyun dan Siwon sebelum Min Hyun datang. Well, Han Pyo tentu saja mengetahui buku tersebut.

“Kyuhyun memberitahumu kode pintu,” ucap Han Pyo.

Siwon menatapnya sejenak. “Karena situasi saja. Tapi aku tidak pernah masuk tanpa ijinnya.”

Well, kecuali untuk tadi siang.

“Dan sepertinya Kyuhyun juga mengetahui kode pintu unit apartmentmu,” gumam Han Pyo pelan. Sebelum Siwon merespon, pria itu kembali bicara, “Dia juga membiarkanmu memasak. Kau bahkan sepertinya begitu hafal di mana letak semua barang.”

Okay, Han Pyo mulai bicara menyasar secara spesifik. Tapi kenapa ia begitu peduli. Ini adalah unit Kyuhyun dan bukankah Han Pyo adalah kekasih Min Hyun –saat ini?

“Dan kau juga membaca buku favoritnya.”

“Apa yang ingin kau katakan?”

Han Pyo kembali menyeruput kopi panas tersebut. “Kyuhyun adalah kepala editor St. Heaven dan kau adalah Penulis Choi.”

“Lalu?”

Okay, Siwon merasa semakin kesal dengan bicara Han Pyo yang begitu berbelit. Sebenarnya apa yang ingin disampaikan oleh Han Pyo? Kenapa rasanya pria itu terkesan begitu cemburu? Pria itu mempunyai hubungan dengan Min Hyun dan jika ia harus merasa cemburu lalu kenapa harus ditujukan pada Siwon?

Siwon bahkan tidak tertarik pada Kang Min Hyun.

Oh..? Oh..!!

Mata Siwon membulat. Ia menatap Han Pyo cukup lama, hingga pria itu menaruh gelas di atas coffee table. Siwon sangat tidak percaya dengan apa yang disadarinya. Heck, bagaimana tidak ada seorang pun yang menyadarinya? Bahkan termasuk Kyuhyun dan Kang Min Hyun.

Sudah berapa lama sejak… Oh, ya Tuhan. Siwon begitu membenci dirinya saat ini. Kenapa harus ia yang menyadarinya pertama kali?

Han Pyo meneguk perlahan kopi untuk terakhir kali dan menaruh gelas itu ke atas coffee table. Ia berdiri dan menatap Siwon dengan lekat. “Terima kasih kopinya.”

Lalu pria itu meninggalkan unit apartment Kyuhyun.

*****

Kyuhyun berjalan memasuki unitnya dengan lelah. Setelah perdebatan panjang, akhirnya Min Hyun pergi setelah mendapatkan pesan dari Han Pyo. Sekali lagi, Kyuhyun sudah tidak peduli. Yang penting saat ini, putranya sudah kembali. Dan atas kejadian ini, Kyuhyun semakin yakin untuk merebut hak asuh Jun dari Min Hyun. Karena jika ini yang terjadi ketika Jun meminta bertemu dengannya tapi Min Hyun menolak dan beralasan dalam sepuluh hari adalah pertemuan resmi mereka sesuai putusan sidang. Lalu apa yang akan terjadi lagi di masa depan?

Kyuhyun tidak ingin mengorbankan putranya seperti ini.

Dan mengenai putranya, Kyuhyun tidak melihat siapa pun di ruang tengah ataupun dapur. Jadi, dia beranjak menuju kamar Jun. Pintunya terbuka dan Kyuhyun bisa melihat Siwon sedang membantu Jun untuk mengganti pakaiannya, dengan sangat hati-hati.

“Sakit?” tanya Siwon saat ia melepaskan sling dari bahu Jun.

Jun menggeleng. Siwon tersenyum. “Mungkin obat biusnya masih cukup kuat. Kau akan merasa tidak nyaman nanti.”

“Tidak apa. Jika Appa kuat, maka aku juga bisa.”

“Apa maksudmu?” tanya Siwon sembari membantu melepaskan kaus Jun dengan hati-hati saat melewati lengan kirinya yang diperban.

Jun menarik nafas pendek. “Aku tahu Appa masuk rumah sakit. Eomma tidak mengatakan apa pun, tapi aku bisa mengetahuinya.”

Siwon menatap Jun sejenak. Lalu ia beralih ke lemari untuk mengambil baju tidur dengan kancing. “Bagaimana kau bisa tahu kalau Eomma tidak memberitahumu? Paman yakin, Appa juga tidak mengatakan apa pun.”

“Aku meminta bantuan temanku untuk mengirim email ke St. Heaven.”

Siwon berbalik dan menatap Jun dengan mengernyit. Kyuhyun juga ikut mengerutkan dahi. Jun meminta bantuan temannya untuk mengirim email? Kyuhyun rasa, teman sekolahnya tidak ada yang bisa menggunakan internet atau bahkan email.

“Temanmu? Teman sekolah?” tanya Siwon pelan sembari memakaikan baju tidur berwarna biru tersebut.

Jun menggeleng. “Tetangga Eomma mempunyai anak. Seorang siswa sekolah menengah. Jun meminta bantuannya untuk mengirim email ke St. Heaven dan bertanya mengenai Appa.”

Well, jika siswa sekolah menengah itu terdengar masuk akal. Tapi itu tidak menjawab bagaimana Jun mengetahui kalau Kyuhyun masuk rumah sakit.

Siwon mengancingkan baju tersebut. “Okay, jadi kau mengirim email ke St. Heaven, lalu dibalas kalau Appa masuk rumah sakit?”

“Tidak. Aku meminta agar dibuatkan jadwal pertemuan dengan Appa. Tapi dibalas kalau Appa sedang tidak bisa menerima pertemuan apa pun selama satu bulan karena masalah kesehatan. Appa tidak pernah punya masalah kesehatan serius. Tapi karena sebulan, jadi aku pikir benar-benar serius sampai mungkin harus dirawat.”

Siwon tidak bisa menentukan Jun termasuk anak yang nekat atau pintar. Mana ada anak usia enam tahun yang meminta siswa sekolah menengah mengirim email ke tempat kerja ayahnya hanya untuk meminta dibuatkan jadwal pertemuan? Terlebih jika Jun ingin bertemu dengan ayahnya, bukankah ia bisa mengatakannya pada ibunya? Kenapa harus melakukan cara seperti itu?

“Jadwal pertemuan? Apa itu…. Tunggu dulu, kau mengirim email dan dibalas. Apa mereka tidak curiga kalau yang mengirim email itu adalah siswa sekolah menengah? Maksud Paman, dengan penulisan diksi dan…”

Jun memutar matanya. “Paman, kami mencari contohnya dari internet. Itu sangat mudah.”

Kyuhyun hampir tertawa mendengar sahutan Jun.

“Oh…” Well, Siwon tidak tahu kalau anak sekarang begitu mudah mencari informasi seperti itu. Hanya dengan bermodal internet. “Okay, jadi kau tahu kalau Appa sakit.”

Jun mengangguk kecil. “Dan saat Appa ke sekolah waktu itu, wajahnya juga masih terlihat pucat.”

Kyuhyun terdiam. Ia tidak tahu kalau Jun bisa melakukan cara seperti itu. Lagi, Jun juga berpura tidak mengetahui apa pun saat Kyuhyun datang tempo hari ke sekolahnya. Saat mereka bersama, Kyuhyun juga berusaha untuk tidak membuat Jun khawatir. Tapi dia salah. Jun malah yang berusaha keras agar Kyuhyun tidak berpikir membuatnya khawatir.

Putranya masih berusia enam tahun, tapi sudah bersikap begitu dewasa. Itu membuat Kyuhyun sedikit takut.

Siwon lalu mengambil sling yang sudah dilepaskannya. “Ini mau dipakai lagi?”

“Tidak mau. Kalau dibawa tidur, pasti tidak nyaman,” tukas Jun.

“Baiklah,” sahut Siwon yang menyimpan sling itu di atas meja.

Well, sepertinya ini waktunya Kyuhyun muncul. Dengan satu tarikan nafas dalam, Kyuhyun lalu memasuki kamar. Seolah ia tidak pernah mendengar perbincangan Siwon dan Jun barusan. Kyuhyun tersenyum pada Jun. Ia berlutut di hadapan Jun dan mengusap kepala putranya dengan sayang.

“Kau akan tinggal dengan Appa untuk sementara ini, okay? Tapi Eomma mungkin akan sering datang untuk melihat kondisimu,” ucap Kyuhyun.

Jun menggumam pelan. “Appa tidak marah? Aku pergi dari apartment Eomma seorang diri dan sampai seperti ini.” Menunjuk pada luka di lengan kirinya.

“Appa hanya khawatir, sayang. Jika kau ingin bertemu dengan Appa, kau bisa meminta bantuan orang lain untuk menghubungi Appa. Tapi tidak dengan cara pergi seperti itu.”

“Tapi Eomma bilang, kalau Appa bertemu dengan Jun bukan di hari sesuai putusan sidang, nanti Appa bisa mendapat masalah. Jun tidak mau Appa mendapat masalah,” tutur Jun.

Kyuhyun menggeleng kecil. Ia mengusap wajah putranya lembut. “Jangan khawatirkan tentang itu. Jika Jun ingin bertemu dengan Appa, maka Jun bisa bertemu dengan Appa. Kapan pun itu. Okay?”

“Okay…” gumam Jun.

Kyuhyun tersenyum lebar dan mengecup bibir Jun singkat.

“Kau sudah sikat gigi, bukan? Kalau begitu waktunya tidur. Appa akan membiarkan pintunya terbuka, jadi saat kau merasa tidak nyaman, kau bisa memanggil Appa.”

*****

“Jadi, bagaimana?” tanya Siwon.

Kyuhyun baru keluar dari kamar Jun setelah ia memastikan posisi lengan kiri Jun cukup nyaman dan tidak akan menganggu selama tidur. Kyuhyun sudah begitu lelah dan ia bahkan belum makan malam. Tapi rasanya ia hanya ingin tidur dengan semua hal yang terjadi sore ini. Kyuhyun berjalan menuju dapur di mana Siwon mengikutinya dan bersandar di counter. Sedangkan Kyuhyun mengeluarkan sekaleng beer.

“Siang ini, Jun meminta Min Hyun agar bisa bertemu denganku. Tapi Min Hyun menolak, beralasan dalam sepuluh hari kami akan bertemu karena sesuai putusan sidang. Terlebih Min Hyun mengatakan kalau ia tahu beberapa hari lalu aku datang ke sekolah. Itu pertemuan di luar putusan dan tanpa sepengetahuan Min Hyun, jadi aku mungkin bisa dapat masalah.”

Siwon memperhatikan Kyuhyun yang meneguk beernya perlahan. “Lalu Jun nekat pergi sendiri. Tapi bagaimana ia bisa hilang? Maksudku, dia bahkan pernah kabur dari sekolah untuk ke sini, bukan? Ingat kejadian dulu.”

Kyuhyun mengangguk kecil. Ia menaruh kaleng beer di atas counter. “Mungkin karena dia belum mengingat betul lingkungan apartment Min Hyun dibandingkan dengan dari sekolah ke sini. Ia tidak tahu ke mana arah untuk menuju apartmentku atau bis nomor berapa. Dan Jun mungkin tidak akan bertanya karena itu hanya akan membuat orang lain curiga.”

“Itu masuk akal,” gumam Siwon.

Kyuhyun menghembuskan nafas dan memejamkan matanya. Dengan perlahan ia memijat lehernya. Shit, ini bahkan terasa jauh lebih melelahkan dibandingkan ia harus lembur hampir empatpuluh jam.

“Kau ingin makan sesuatu? Masih ada sup. Dan kau juga belum makan malam, bukan?”

Kyuhyun membuka matanya dan menatap Siwon. Ia hanya mengangguk kecil. Siwon lalu menyiapkan sebuah mangkuk untuk sup dan nanti ia akan menghangatkannya sejenak di mircowave. Sedangkan Kyuhyun beranjak ke meja makan dengan membawa kaleng beernya.

“Kau ingin dengan roti?” tanya Siwon.

Kyuhyun memperhatikan Siwon yang sedang menuangkan sup ke dalam mangkuk. “Tidak perlu. Hanya sup saja.”

Siwon mengerti. Setelah cukup, ia memasukan mangkuk itu ke dalam microwave dan menyetel waktunya selama tigapuluh detik. Selagi menunggu, Siwon menyiapkan sebuah sendok. Tak lama, penanda waktu di microwave berbunyi, Siwon mengeluarkan mangkuk itu dan menghidangkannya di hadapan Kyuhyun.

Siwon menyodorkan sendok pada Kyuhyun seraya duduk di sebelah sang editor.

“Kau tidak makan? Atau malah sudah makan?”

Siwon tersenyum. “Aku sudah makan. Jadi, makanlah..”

Siwon hanya diam sembari memperhatikan Kyuhyun menghabiskan sup cream buatannya. Ia tersenyum tipis saat mendengar Kyuhyun memuji pintar memasak. Well, menurut Siwon itu bukanlah sesuatu yang besar untuk mendapat pujian, tapi ia senang.

Namun, ia kembali teringat pada Han Pyo.

“Kyuhyun…” gumam Siwon.

Kyuhyun meliriknya sembari terus menghabiskan supnya. Siwon kemudian malah terdiam. Entah ini baik atau tidak, jika ia harus memberitahu Kyuhyun tentang apa yang disadarinya. Lagipula, Kyuhyun mungkin tidak akan percaya begitu saja padanya.

Mungkin sudah bertahun-tahun dan tidak ada yang pernah menyadarinya, hingga Kyuhyun akan mementahkan apa yang diucapkan Siwon nanti mengenai pria itu. Selain itu, Siwon juga tidak bisa memberikan bukti apa pun untuk menguatkan argumennya karena selama pria itu berdiri di pihak Min Hyun.

“Kenapa?” tanya Kyuhyun.

Siwon menghembuskan nafas. “Boleh aku menginap? Maksudku, kau mungkin akan kerepotan mengurus Jun malam ini. Terlebih jika efek obat biusnya habis. Jun akan terus mengeluh kesakitan sepanjang malam. Dan aku hanya ingin membantu.”

Kyuhyun sepertinya tidak bisa menolak karena Siwon sudah memikirkan puluhan alasan untuk berargumen dengannya. Tapi tetap saja itu membuat Kyuhyun merasa canggung. Pria ini belum lama masuk dalam hidupnya, tapi sudah begitu banyak melakukan apa pun untuknya. Well, jika Noah masih hidup saat ini, pria itu akan sangat beruntung mempunyai Siwon.

Siwon menunggu jawaban Kyuhyun. Pria itu hanya menatapnya cukup lama hingga membuat Siwon sedikit merasa kikuk. Mungkin Kyuhyun tengah memikirkan cara untuk menolaknya secara halus. Ini adalah Jun, putranya dan Siwon masih sosok orang asing walaupun mereka tengah menjalani hubungan saat ini.

Kyuhyun kemudian menghembuskan nafas. Ia menunduk menatap mangkuk sup yang sudah kosong. Well, tidak memungkiri kalau Siwon cukup piawai mengurus anak, terlebih ia tidak pernah mempunyai pengalaman sebelumnya. Tapi Kyuhyun bisa melihat bagaimana Siwon memperlakukan Jun tadi.

Kyuhyun beranjak dan membawa mangkuk kosong itu ke wastafel untuk mencucinya. “Tapi aku tidak punya kamar kosong. Jadi, kau mungkin harus tidur di sofa?”

Siwon berkedip beberapa kali mendengar ucapan Kyuhyun. Pria itu tengah memunggunginya. Awalnya ketika Kyuhyun berdiri dan tanpa mengatakan apa pun, Siwon berpikir kalau ia akan menolak dan menyuruhnya untuk pulang. Tapi kemudian dengan suara yang terdengar pelan dan mungkin sedikit malu, Kyuhyun mengatakan bahwa dia harus tidur di sofa, membuat Siwon menyeringai.

Perlahan, Siwon beranjak dan berjalan menghampiri Kyuhyun yang baru selesai mencuci piring. Ia berdiri di sebelah pria itu. Dengan pelan, Siwon menyenggol lengan Kyuhyun. Sedikit mneggodanya. “Well, bukankah kita sudah beberapa kali tidur satu ranjang.”

Wajah Kyuhyun menghangat. “Uhm…. Tidak bisa. Kau tetap tidur di sofa.”

“Tapi sofa tidak akan nyaman, Kyuhyun.”

Kyuhyun mendelik. Ia tahu Siwon tengah menggodanya saat ini. Jadi, dia tidak akan terpengaruh. Setelah mematikan keran wastafel, Kyuhyun berbalik menatap Siwon. “You still sleepin on the sofa.”

“Oh, come on. I’m sleeping with you. In the bed.”

Kyuhyun menggeleng. “Sofa…” ujarnya sekali lagi seraya beranjak meninggalkan dapur.

Siwon mengikutinya. “Nah, I’m sleeping with you. I insist.”

Kyuhyun masih menggeleng seraya terus berjalan menuju kamarnya. “Sofa, Siwon…”

Namun, Siwon terus mengikuti Kyuhyun hingga ke kamarnya. Well, dan ia menutup pintu kamar dengan rapat.

*****

NOTE: Okay.. sepertinya saya akan mengupdate dua kali setiap chapternya. Jadi, nanti chapter 32 ini akan diupdate lagi untuk part 2 nya, seperti chapter 31. Jadi, setelah diupdate, judul akan berubah menandakan kalau ada update baru. Alasannya untuk mempersingkat jumlah chapter. Jadi, goal saya untuk fanfic ini sekitar 40-50 chapter ajah. Gak mau panjang-panjang.. Jadi, mohon dimaklumi yaa..

P.S. Kalian bisa cek film Call Me By Your Name. Serius, itu film bagus banget. Di rotten tomatoes dapet rating yang bagus banget -tapi saya lupa. Pokoknya kalian bisa cek sendiri. Kalau novelnya, saya belum baca soalnya belum dapet. Jadi, quote di chapter ini saya cari dari goodread.

Sekian..

NOTE KE-2 : Sorry ya agak lama, seminggu ini aku sakit lagi…

Advertisements

52 thoughts on “[SF] Two of Us – Chapter 32

  1. Wahhh aku kangen baca wonkyu. Akhirnya aku bisa baca juga…
    Karena diera eoni update smut chapter jdi aku semangat nglanjutin ff ini. Sempet lama banget gak baca… Kangen juga ternyata…

    Jun, pinter juga yah bisa punya ide seperti itu. Daebak heheh..

    Semangat diera eonni.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.