[SF] Two of Us – Chapter 31

Chapter 31

Kyuhyun terbangun di sebuah kamar yang begitu asing. Dengan suara debur ombak yang terdengar begitu dekat. Ia menghembuskan nafas dan teringat bahwa ia masih berada di sebuah guesthouse di pantai Gyeongpo. Siwon yang menyewanya. Dan pria itu masih menemaninya.

Mungkin.

Setelah makan siang, Siwon bersikeras meminta Kyuhyun untuk beristirahat. Setidaknya tidur siang selama satu atau dua jam setelah perjalanan panjang dari Seoul. Dan Kyuhyun tidak mempunyai alasan untuk membalas argument tersebut.

Kemudian ia menyibak selimut dan berjalan keluar kamar tersebut.

Saat Kyuhyun memasuki ruang tengah, ia melihat Siwon tengah focus membaca sebuah buku –mungkin salah satu dari rak buku yang ada di guesthouse tersebut. Kyuhyun memperhatikan pria itu dengan seksama. Siwon masih bersamanya.

“Kau sudah bangun,” ucap Siwon yang menyadari Kyuhyun berdiri dengan canggung.

Kyuhyun bergumam pelan lalu berjalan menuju sofa. Ia lalu duduk di ujung sofa, sedikit jauh dari posisi Siwon saat ini. Dan penulis itu menatapnya bingung. Namun, Siwon tidak mengatakan apa pun. Ia menutup bukunya setelah meletakan pembatas buku di halaman yang belum diselesaikan.

“Kau lapar lagi?” tanya Siwon.

Kyuhyun menggeleng. “Kau sudah menemui pemilik guesthousenya lagi?”

Siwon tersenyum tipis. “Sudah. Aku mengatakan akan tinggal setidaknya sampai besok pagi. Pemiliknya cukup senang dan beliau mengatakan akan membawakan makan malam.”

Kyuhyun mengangguk kecil. Lalu ia menunduk hanya menatap jemarinya yang diatas pangkuannya. Ini terasa begitu canggung. Kyuhyun bahkan tidak bisa menempatkan bagaimana hubungan mereka saat ini. Apakah mereka berkencan? Atau…

“Apa kau memikirkan sesuatu?” tanya Siwon lagi.

Kyuhyun menghembuskan nafas panjang. “Bukan apa pun.”

Siwon masih memperhatikan ekspesi sang editor. Wajah Kyuhyun masih terlihat lelah, tapi dari geriknya yang masih menjaga jarak dengannya, Siwon tidak bisa memastikan apa yang tengah dipikirkan oleh Kyuhyun saat ini.

Kemudian Siwon sedikit bergeser, mendekati Kyuhyun yang duduk di ujung sofa. Kedua lutut mereka bertemu. Lalu Siwon menyentuh tangan Kyuhyun. “Katakan saja. Apa pun yang sedang kau pikirkan, katakan padaku. Kita bisa memikirkannya bersama.”

Kyuhyun menatap tangan besar Siwon yang menyentuh jemarinya. “Apa kita berkencan? Maksudku, apa kita….”

“Kau mau berkencan denganku?”

Kyuhyun sontak menatap Siwon dengan terkesiap. Pertanyaan itu tidak terduga. Padahal ia yang bertanya pertama kali.

Siwon tersenyum. “Apa kau mau pergi berkencan denganku? Kita bisa pergi ke suatu tempat. Bukan tempat yang cukup ramai. Tapi paling tidak kita bisa menghabiskan waktu bersama.”

“Ka-kau mau?”

“Apa maksudnya dengan ‘kau mau’ itu, eoh? Aku yang mengajakmu bukan? Tentu saja, aku ingin. Walaupun aku tidak bisa memberikan sebuah kencan yang seharusnya, tapi yang terpenting bagiku adalah kau bersamaku.”

Kyuhyun terdiam. Sebuah kencan yang seharusnya. Well, itu memang tidak mungkin. Dengan popularitas Siwon saat ini, mereka tidak bisa muncul di public bersama, bukan? Bahkan jika pun bisa, itu pun sekedar urusan pekerjaan.

Siwon sedikit memiringkan kepalanya. “Hey, tidak apa, bukan? Atau kau ingin…”

“Tidak masalah,” ucap Kyuhyun dengan cepat.

Siwon tersenyum kecil. “Terima kasih.”

Kyuhyun bergumam pelan. Ia sedikit melirik pada tangan Siwon yang kini berada di atas pahanya. Sensasi hangat menguar dari telapak tangan sang penulis dan terus bergerak menyebar ke seluruh tubuh sang editor. Detak jantungnya berdegub cukup keras hingga Kyuhyun yakin Siwon bisa mendengarnya. Heck, dulu saat masih bersama Min Hyun, rasanya Kyuhyun tidak pernah mengalami sensasi yang begitu besar seperti ini.

“Kyuhyun…”

Sontak Kyuhyun mengangkat wajahnya dan mendapati wajah Siwon sudah begitu dekat dengannya. Deru nafas pria itu menyentuh kulitnya dengan hangat. Sesaat itu, Kyuhyun menahan nafasnya.

Apa Siwon akan menciumnya? Lagi? Hell, pria itu sudah beberapa kali mencium Kyuhyun, tapi bagaimana bisa Kyuhyun tetap merasa begitu canggung. Dengan usianya saat ini, rasanya sedikit memalukan jika Kyuhyun bersikap seperti pemuda belasan tahun yang baru pertama-kali jatuh cinta.

Kemudian Kyuhyun memejamkan matanya.

Melihat hal itu, Siwon sedikit terkejut dan berusaha untuk menahan tawanya. Well, dia tidak ingin Kyuhyun mengira bahwa ia tengah mempermalukannya. Pria itu bereaksi seperti itu karena mengira Siwon akan menciumnya.

Heck, itu memang benar. Siwon ingin sekali mencium Kyuhyun. Namun, apakah ini pantas? Walaupun sebelumnya Siwon sudah mencium Kyuhyun beberapa kali, tapi saat ini Siwon menginginkan sebuah perbedaan besar. Mereka berkencan. Sepasang kekasih. Boyfriend and boyfriend. A lover. Apa pun sebutan untuk hubungan mereka saat ini.

Jadi, Siwon menginginkan sebuah perbedaan.

 “Hey…” bisik Siwon.

Kyuhyun hanya menggumam. Matanya masih terpejam.

“May I kiss you?”

Siwon bisa merasakan helaan nafas panjang Kyuhyun sebelum pria itu membuka matanya. Terlihat gurat pertanyaan di wajahnya. Mungkin karena Siwon melontarkan pertanyaan padanya. Tapi sekali lagi, Siwon menginginkan perbedaan.

“May I kiss you?” ucap Siwon sekali lagi.

“You’ve already kissed me. You know… couple days before. And I kissed you too. Why you…”

Siwon tersenyum. Wajah Kyuhyun yang diterangi lampu ruang tengah membuatnya seperti bersinar. Dan Siwon tidak bisa menahan diri. Dengan satu tangan lainnya, Siwon mengangkat tangan ke kepala Kyuhyun untuk menyentuh untaian rambut Kyuhyun yang terasa lembut di kulitnya.

“Still…” gumam Siwon pelan, tangannya memegangi paha Kyuhyun, hangat dan nyaman, saat ia membungkuk ke depan, menekan tubuh Kyuhyun ke belakang sampai ia berada diatasnya. “May I?”

Nafas Kyuhyun tertahan di tenggorokannya, jantungnya berdebar kencang di dadanya saat ia menatap Siwon, lalu menyadari bahwa dia belum pernah menginginkan orang lain seperti ia menginginkan Siwon. Bahkan tidak dengan Min Hyun.

“Yes, you may.”

Kemudian Siwon menangkap bibir Kyuhyun dengan bibirnya sendiri, menciumnya dengan lembut. Kyuhyun mengerang, melingkarkan lengannnya ke bahu Siwon untuk menariknya mendekat saat ciuman mereka semakin dalam.

Bobot tubuh Siwon terasa begitu benar di atas Kyuhyun, dan membuatnya merasa aman dan semakin menginginkannya. Bibir Siwon terasa seperti manis gula, kayu manis dan surga. Kyuhyun meminum semuanya dengan begitu rakus.

Kyuhyun memejamkan matanya, ia telah hanyut dan hilang dalam ciuman. Sangat mudah bagi Kyuhyun saat ini hanyut dalam dekapan Siwon, untuk sesaat melupakan hal buruk dalam hidupnya dan memusatkan perhatiannya pada sosok yang indah dan menakjubkan yaitu Choi Siwon.

*****

Heechul mengernyit ketika ia melihat Kyuhyun baru kembali entah dari mana. Semalam, ia mengirimkan pesan pada Kyuhyun dan mengatakan kalau ia akan mampir ke apartment sang editor. Namun, Kyuhyun mengatakan bahwa ia sedang tidak berada di Seoul dan jika Heechul ingin bicara, mereka bisa bertemu menjelang makan siang.

Pengacara itu tidak mengatakan apa pun. Lalu ia datang ke gedung apartment Kyuhyun di pagi hari dan menunggunya di dalam mobil di basement parkir. Menunggu Kyuhyun pulang.

Saat ia melihat mobil Kyuhyun memasuki basement parkir, Heechul hendak memanjat keluar untuk menghampirinya sampai ia menyadari bahwa ada mobil lainnya yang memasuki basement parkir. Mobil itu terparkir tepat di sebelah mobil Kyuhyun. Satu alis Heechul terangkat ketika ia mengetahui bahwa pemiliknya adalah Choi Siwon.

Heechul masih berada di mobil sembari terus memperhatikan apa yang sebenarnya tengah terjadi. Kyuhyun yang sudah keluar mobil terlebih dahulu, tersenyum pada Siwon yang baru saja keluar dari mobil. Penulis itu menghampiri Kyuhyun dan membalas senyuman Kyuhyun. Heck, bahkan dari jarak jauh pun, Heechul bisa merasakan ada aura kecanggungan. Namun, melihat ekspresi Kyuhyun saat ini, Heechul yakin telah terjadi sesuatu.

Kyuhyun dan Siwon lalu berjalan bersebelahan memasuki gedung. Heechul menghembuskan nafas panjang dan berusaha mencerna tentang apa yang baru saja disaksikannya. Terlebih dengan bagaimana wajah Kyuhyun saat ini. Jauh berbeda dengan saat mereka bertemu di pengadilan beberapa hari lalu.

Saat Heechul melihatnya di pengadilan, wajah Kyuhyun terlihat begitu pucat dan lemas. Ia tahu kalau Kyuhyun baru keluar dari rumah sakit. Tapi penampilannya saat itu jauh lebih buruk dibandingkan pada saat Kyuhyun jatuh sakit sebelumnya.

Namun hari ini, hanya berselang dua hari dari pertemuan mereka di pengadilan, Kyuhyun jauh lebih sehat dan dia bahkan bisa tersenyum. Oh, jangan berburuk sangka, Heechul tentu senang jika Kyuhyun sudah kembali sehat dan bisa tersenyum. Tapi melihat bagaimana Kyuhyun tersenyum pada Siwon, Heechul tentu memikirkan sebuah asumsi.

“Cho Kyuhyun, jangan katakan kalau kau sedang jatuh cinta.”

*****

Siwon berusaha untuk focus pada tulisan yang saat ini tengah dikerjakannya. Ia hanya berharap tidak akan membutuhkan waktu lama untuk selesai. Dibandingkan dengan project novel biasanya, kali ini Siwon hanya menulis sesuatu yang ringan tanpa harus melakukan research yang begitu mendalam. Toh, ini adalah pengalamannya sendiri.

Dan Siwon tidak berniat untuk mempublishnya. Tulisan ini adalah sebuah hadiah.

“Siwon…” panggil Donghae pelan.

Siwon bergumam tanpa melepaskan fokusnya dari layar laptop. Jemarinya terus bergerak lincah di atas keyboard.

“Email dari CR? Apa kau sudah membacanya? Aku memfoward email tersebut padamu,” tutur Donghae.

“Sudah. Mereka bilang belum ada keputusan approve untuk novel yang kukirim, tapi terlihat ada kabar baik,” jawab Siwon.

Donghae mengangguk kecil. Lalu ia menghampiri meja kerja Siwon dan meletakan sebuah tumpukan berisi beberapa lembar kertas. Siwon meliriknya sekilas. Ia bahkan berhenti mengetik untuk sejenak menatap Donghae.

“Ini apa?”

“Beberapa pamphlet dari dinas pariwisata dan beberapa rekomendasi guesthouse. Kau bilang setelah promosi di Seoul selesai, ingin mencari tempat yang sedikit lebih tenang. Kau juga ingin hiatus, bukan?”

Siwon terdiam sejenak. Ia kembali menatap tumpukan tersebut. Benar, itu yang dikatakan Siwon pada Donghae sebelumnya. Pergi meninggalkan Seoul, mencari kota di Negara lain yang lebih tenang dan hiatus untuk beberapa waktu. Namun, kini rencana Siwon sedikit berubah.

Donghae menatap Siwon yang terlihat ragu. “Kenapa? Apa kau ingin tinggal lebih lama di Seoul?”

“Bukan, hanya saja….”

Siwon tidak mengatakan apa pun lagi selain bergumam terima kasih. Lalu sang penulis kembali melanjutkan apa yang tengah diketiknya saat ini.

Donghae masih memandangi pria yang kembali sibuk dengan laptopnya tersebut. Keraguan Siwon yang ia lihat saat ini mungkin ada kaitannya dengan Kyuhyun. Well, Donghae belum mengatakan apa pun pada Siwon –atau pun pada Kyuhyun– kalau ia sempat mendengar pembicaraan mereka di rumah sakit. Walaupun ia tahu, menutupi sesuatu dari Siwon hanya akan berakhir buruk.

Tapi untuk masalah ini, Donghae tidak bisa ikut campur. Ini mengenai perasaan Siwon. Donghae bisa saja memberi masukan, tapi tetap saja keputusan akhir ada pada Siwon.

*****

“Kau terlihat jauh lebih sehat,” ucap Heechul.

Kyuhyun hanya tersenyum kecil dibalik cangkir kopi. Perlahan ia menyeruputnya. “Hanya butuh waktu dan tempat untuk beristirahat sejenak, jauh dari kota.”

“Itu alasan kau tidak berada di rumah kemarin?”

Kyuhyun menaruh cangkir kopi tersebut dan mengangguk. “Aku merasa sangat bosan berada di rumah. Setelah beberapa jam di kantor dan pergi ke sekolah Jun, aku memutuskan untuk pergi keluar Seoul. Itu sedikit membantu.”

Heechul tidak mengatakan apa pun terkait apa yang dilihatnnya tadi pagi di basement parkir gedung apartment. Kyuhyun belum menyebut nama Siwon dan Heechul tidak ingin bersikap ikut campur ke dalam kehidupan pribadi Kyuhyun.

“Itu bagus,” tuturnya. “Jika kau merasa butuh waktu dan ruang jauh dari Seoul, pergi keluar kota itu sangat bagus.”

Kyuhyun hanya tersenyum. “Lalu apa yang ingin kau bicarakan kemarin? Mengenai sidang lanjutan?”

“Uhm. Sepertinya pengadilan akan membutuhkan bukti baru yang lebih objektif dibandingkan pernyataan dari saksi yang diajukan. Misalnya dari dinas sosial.”

Kening Kyuhyun berkerut. “Maksudnya?”

“Ini masih asumsiku semata, tapi mungkin pihak pengadilan akan meminta pendapat objektif dari pihak ketiga yakni dinas sosial. Mereka mungkin akan mengirim orang untuk melihat bagaimana sikap parenting kalian terhadap Jun.”

“Aku dan Min Hyun? Bersamaan?”

Heechul mendesah. “Entah. Bisa secara terpisah, mungkin bisa bersama-sama. Itu akan ditentukan oleh hakim nanti. Aku hanya ingin memberikan sedikit peringatan padamu.”

“Itu akan buruk. Maksudku, dalam waktu dekat ini –setelah aku selesai dari masa cuti– akan ada banyak pekerjaan yang menumpuk. Aku bahkan akan jauh lebih sibuk dari biasanya karena jumpah novel yang diterbitkan dalam waktu dua bulan mendatang. Jika dalam waktu  mereka melakukan observasi bersamaan dengan…. maka… Kau tidak bisa mencari tahu apakah pengadilan akan membuat keputusan itu atau tidak?” tanya Kyuhyun.

“Aku mungkin bisa mencari sedikit informasi dari salah satu temanku. Tapi tidak akan bisa menjanjikanmu apa pun, Kyuhyun. Kau mungkin harus membicarakan tentang hal ini dengan St. Heaven. Jika kau ingin hak asuh Jun jatuh padamu, kau harus membuat sedikit pengorbanan.”

Well, tentu saja Kyuhyun tahu persis mengenai hal itu. Demi Jun, dia rela mengorbankan apa saja. Mungkin dalam waktu dekat ini, ia harus kembali ke St. Heaven dan membuat janji pertemuan dengan pihak direksi.

Sepertinya Kyuhyun harus memikirkan tentang pengunduran dirinya sebagai Kepala Editor sedikit lebih cepat.

*****

Siwon membuka pintu dan sedikit terkejut saat ia melihat Kyuhyun di balik pintu dan menyodorkan sebotol wine padanya.

“Apa kau sibuk?”

Siwon mengambil botol wine tersebut. Kyuhyun lalu berlalu masuk ke dalam unit Siwon. Hal itu membuat Siwon sedikit terkesiap dengan sikap sang editor hari ini. Siwon menutup pintu lalu berjalan masuk. Ia melihat Kyuhyun berdiri di ruang tengah mendapati coffee table di penuhi oleh beberapa tumpukan kertas dan sebuah laptop. Sepertinya Siwon tengah sibuk, mungkin dengan research untuk tulisannya barunya.

“Kupikir kau sudah selesai dengan novel barumu.”

Siwon yang berjalan menuju dapur hanya menggumam. “Itu hanya untuk back-up revisi jika CR meng-approve novel baruku. Mereka biasanya akan memberikan beberapa catatan revisi,” ujar Siwon sembari mengambil pembuka botol wine dan menyiapkan dua gelas. Heck, karena tidak ada gelas besar, Siwon akan memakai gelas yang ada saja.

Kyuhyun lalu beralih menuju dapur. Ia memperhatikan Siwon yang membuka botol wine itu dengan terampil. Sepertinya pria itu cukup sering melakukannya. Terdengar suara pop kecil saat gabus penutup botol terbuka. Siwon lalu menuangkan wine tersebut ke dalam gelas –bukan gelas yang seharusnya jika kau ingin meminum wine. Heck, mungkin Kyuhyun perlu membawa gelas dari unitnya.

Siwon hendak menyodorkan gelas itu pada Kyuhyun ketika ia teringat. “Apa dokter mengijinkanmu minum alcohol? Bukankah dengan kondisimu saat ini…”

Tapi Kyuhyun tidak ingin mendengar ceramah Siwon. Ia segera mengambil gelas itu dari tangan Siwon dan menyesap sedikit. Hell, Kyuhyun selalu menyukai red wine.

“Kyuhyun…”

“Akan kutanggung akibatnnya,” tukas Kyuhyun yang kemudian meneguk habis wine tersebut.

Siwon hanya bisa menggeleng dengan sikap keras kepala Kyuhyun. “Apa kau tengah memikirkan sesuatu? Dari ekspresimu, sepertinya ada masalah yang sedang kau pikirkan. Kau bisa membicarakannya denganku –itu jika kau ingin.”

Kyuhyun terdiam sejenak. Ia menaruh gelas kosong itu kemudian menarik nafas panjang. Kyuhyun tidak ingin membicarakan mengenai masalah persidangan hak asuh Jun. Walaupun saat ini mereka telah memasuki tahap hubungan yang lebih intim, tapi Kyuhyun selalu merasa apa yang menjadi masalah pribadinya, maka Siwon –atau pun orang lain– tidak perlu mengetahuinya.

“Hanya mengenai persidangan hak asuh Jun. Tidak perlu khawatir,” ucap Kyuhyun.

Siwon masih memperhatikan sang editor. Kyuhyun masih terlihat begitu berhati-hati padanya. Tentu saja, ia bisa memahaminya. Status baru mereka baru hitungan jam, jika Kyuyun tiba-tiba langsung terbuka pada Siwon mengenai semua permasalahan yang tengah dihadapinya, itu membuat Siwon canggung juga.

Dan untuk saat ini, Siwon hanya bisa terus berada di sisi Kyuhyun. Ia tidak bisa ikut campur begitu saja. Siwon menggumam pelan. “Jika kau ingin bicara, aku selalu ada untukmu.”

Kyuhyun menatap Siwon dengan seksama. Pria itu menyesap winenya dan tersenyum tipis padanya. Dengan helaan nafas, Kyuhyun kemudian menghampiri Siwon. Ia meraih gelas wine dari tangan Siwon dan menaruhnya ke atas meja.

Kyuhyun memandang Siwon. Pria itu belum mengatakan apa pun. Tapi Siwon bisa merasakan ada perubahan suasana yang begitu menonjol. Seolah suhu ruangan yang tiba-tiba naik dan Siwon yakin itu bukanlah efek dari wine. Walaupun Siwon tidak terlalu bisa minum alcohol. Hanya sedikit tegukan wine tidak akan membuat Siwon mabuk begitu cepat.

Kemudian Kyuhyun tersenyum tipis. Itu sedikit membuat Siwon terkesiap. Sudah berkali=kali, Siwon melihat senyuman Kyuhyun tapi sensasi ini begitu berbeda. Jantungnya berdebar begitu cepat hingga Siwon bisa mendengarnya di telinga dengan sangat jelas.

“Terima kasih.”

Dan hanya dengan satu kata itu, sudah membuat Siwon begitu menggila. Itu dan senyuman Kyuhyun. Heck, Siwon bahkan tidak membutuhkan apa pun selagi ia mempunyai Kyuhyun berada di sisinya.

*****

Siwon melangkah mendekati Kyuhyun, memaksanya mundur hingga Kyuhyun bertemu dengan dinding. Siwon mendekatinya, meletakan tangannya di kedua sisi kepala Kyuhyun dan bersandar begitu dekat sehingga Kyuhyun bisa merasakan kehangatan dari tubuhnya, dan aroma khas dari colognenya.

Siwon menutup celah di antara mereka, mencium Kyuhyun sekali lagi. Kyuhyun mencengkram bahu Siwon untuk menariknya mendekat, mengerang saat Siwon mendorong kakinya di antara paha Kyuhyun; tidak cukup panas yang Kyuhyun pikirkan, namun ia tidak mengeluh. Kyuhyun merasa penisnya memberikan reaksi dan ia melengkung ke tubuh Siwon, hingga ia bisa merasakan penis Siwon di balik celana jeansnya.

“Siwon…” Kyuhyun bergumam terengah-engah di mulut Siwon. “Aku ingin… bisakah aku menyentuhmu?”

“Yeah,” desis Siwon, meraih tangan Kyuhyun dan membimbingnya ke arah bagian celananya. “Can I?

Kyuhyun mengangguk, matanya terpejam saat Siwon tidak membuang waktu untuk menekan tangannya yang hangat melawan ereksi Kyuhyun yang mulai terasa sakit.

Sementara focus Kyuhyun terpecah, bibir Siwon menyentuh rahang Kyuhyun dan lehernya, mencium dan menggigit kulit yang sensitive. Erangan Kyuhyun berubah menjadi desahan saat Siwon menyelipkan jemarinya di bahwa ikat pinggant jeans Kyuhyun untuk menyentuhnya.

Tubuh Kyuhyun bereaksi pada sentuhan Siwon, lalu menggerakkan jearinya yang gemetar untuk membuka kancing celana Siwon untuk membebaskan penis penulis itu. Siwon bergidik saat Kyuhyun menyentuhnya, hangat dan berdenyut di bawah tangannya.

“Fuck…” Siwon tersentak, menjatuhkan kepalanya di bahu Kyuhyun. “Fuck… don’t stop.”

Kyuhyun membelai Siwon pelan-pelan, mengusap ibu jarinya dengan sengaja sedikit menekan di bagian atas penis Siwon. Siwon meraih pinggul Kyuhyun dengan satu tangan saat dia mendesaknya ke depan agar ia bia menurunkan celana Kyuhyun, dan giliran Kyuhyun mengumpat saat Siwon menyentuhnya dengan sempurna di tangan besarnya.

Gerakan Siwon lebih cepat, lebih agresif dari pada Kyuhyun, mendorong pria itu untuk mempercepat gerakannya sendiri agar sesuai dengan kecepatan Siwon.

Siwon menggerakan kepalanya untuk menyentuhkan dahinya dengan milik Kyuhyun, dan ketika Kyuhyun membuka matanya, ternyata Siwon mengamatinya dengan tatapan tajam, pupilnya melebar. Bibir Siwon terbuka dan memerah, nafasnya terengah. Kyuhyun tidak mengalihkan pandangannya dari mulut Siwon, mulut mereka saling berdekatakn tapi tidak cukup untuk berciuman.

Kyuhyun bisa merasakan tekanan saat Siwon terus-menerus mengelusnya tanpa henti, dan baru saat dia merasakan orgasme yang membasahi dirinya, sehingga Kyuhyun mengalihkan pandangannya, matanya terpejam ketika spermanya membasashi tangan Siwon. Mulut Siwon menyentuh mulutnya, menggigit bibir Kyuhyun dan menciumnya cukup bergairah saat ia menumpahkan spermanya sendiri ke tangan Kyuhyun

“Fuck…” gumam Siwon sambil menarik diri. “That was….”

“Yeah.”

*****

Kyuhyun terbangun di sofa, seorang diri. Ia menyibak selimut dan bangun perlahan. Matanya tertuju pada laptop dan semua tumpukan kertas research milik Siwon. Kyuhyun juga melihat sebuah mug dengan sebuah post-it yang menempel di permukaannya. Ia meraihnya dan membaca pesan yang ditinggalkan Siwon.

Pergi ke supermarket untuk setengah jam. Well… mungkin empatpuluh lima menit.

Makan malam bersama, okay?

Siwon

Kyuhyun tersenyum tipis membaca pesan tersebut. Kemudian ia meraih mug yang berisi susu yang sudah tidak terasa hangat. Mungkin Siwon sudah cukup lama pergi. Kyuhyun meminumnya perlahan, menghabiskannya.

Ia memperhatikan semua pekerjaan Siwon yang tergeletak di atas coffee table. Kyuhyun mengambil beberapa kertas dan membaca isinya. Tapi hanya sekilas memeriksa isi kertas tersebut karena hasil research yang dilakukan Siwon dalam Bahasa Inggris. Setelah mengembalikan beberapa kertas itu, mata Kyuhyun tertuju pada beberapa tumpuk pamphlet.

Kyuhyun membaca diantaranya. “Xiamen. Guam. Saipan. New Zealand. Georgia. Ragusa?”

Dan ada beberapa pamphlet dari beberapa Negara dan kota lainnya. Kyuhyun mengembalikan semua pamphlet itu ke atas coffee table.

Benar, kebiasaan Siwon. Walaupun Siwon mengatakan padanya bahwa ia menemukan sebuah alasan untuk tetap tinggal di Seoul, tapi sepertinya itu pun masih belum cukup. Alasan ‘Cho Kyuhyun’ masih belum cukup meyakinkan.

Dengan helaan nafas berat, Kyuhyun beranjak ke dapur untuk mengembalikan mug tersebut. Kyuhyun membuang sisa susu yang tinggal sedikit di wastafel lalu mencuci mug tersebut.

Lalu terdengar suara kunci pintu terbuka. Kyuhyun juga mendengar suara kantung plastic yang bergesekan. Setelah membilas mug tersebut, Kyuhyun mematikan keran air dan menaruh mug itu di atas rak.

“Oh, kau sudah bangun,” tukas Siwon yang terlihat sumringah. Ia menaruh kantung belanja di atas meja counter. Siwon lalu menghampiri Kyuhyun dan memeluk pria itu. “Merasa jauh lebih baik?”

“Apa maksudmu?” tanya Kyuhyun pelan.

“Well… you know. Atau kau merasa canggung?”

Kyuhyun menghembuskan nafas. Pelukan Siwon terasa begitu hangat, tapi jika jujur, Kyuhyun juga merasa canggung seperti yang diucapkan Siwon. Ini adalah hubungan pertamanya dengan seorang pria, walaupun sudah begitu lama Kyuhyun tidak terlalu mempermasalahkan tentang seksualitasnya.

Itu adalah sebuah kisah lama.

“Sedikit,” gumam Kyuhyun.

Siwon tersenyum dan menyentuh pipi sang editor dengan jemarinya lembut. “Itu tidak terelakan, bukan? Kau tidak pernah menjalin hubungan dengan pria sebelumnya, benar?”

Kyuhyun mengangguk. Kemudian Siwon mencium bibir Kyuhyun sekilas. “That’s okay. Kita akan melakukannya secara perlahan. Tidak perlu terburu-buru karena aku tidak akan pergi ke mana pun.”

Kyuhyun menatap Siwon lekat. “Benarkah?”

“Itu benar. Sudah kukatakan kalau aku akan tetap tinggal, bukan?”

“Lalu bagaimana dengan pamphlet yang ada di atas meja itu?”

Satu alis Siwon terangkat. “Pamphlet? Oh… itu dari Donghae. Dia memberikan itu setelah pergi ke dinas pariwisata. Sebelumnya aku pernah mengatakannya untuk mencari kota yang tidak begitu ‘ramai’ karena aku merencanakan untuk hiatus sejenak. Aku belum mengatakan padanya tentang perubahan rencana itu. Kenapa? Apa kau berpikir aku akan tetap pergi, karena pamphlet itu?”

Kyuhyun melepaskan diri dari pelukan Siwon. Ia sedikit menjaga jarak dengan Siwon. Dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada –untuk melindungi dirinya, Kyuhyun bersandar pada counter dan memandang Siwon serius.

“Rencanamu masih bisa berubah kapan saja.”

“Kyuhyun…”

Kyuhyun memalingkan wajahnya dan melihat kantung berisi bahan makanan. “Kau ingin buat apa untuk makan malam?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

Siwon memandang kekasihnya dengan lekat. Masih begitu panjang perjalanan hubungan mereka dan ini adalah permulaannya. Hal pertama yang harus dilakukan oleh Siwon adalah meyakinkan Kyuhyun. Membicarakannya beberapa-kali tidak akan membuat pria itu langsung percaya padanya.

Siwon menghembuskan nafas. “Roasted beef with gravy. Itu akan cocok dengan wine yang kau bawa sebelumnya. Kau bisa membuat saladnya.”

Kyuhyun mengangguk kecil.

*****

Suasana toko buku di Gangnam begitu riuh.

Hal ini begitu berbeda dengan hari biasanya dengan jumlah pengunjung yang begitu banyak hingga pihak toko buku harus mengerahkan team keamanan tambahan. Waktu bahkan belum menunjukkan pukul sepuluh, di mana waktu tersebut adalah jadwal operasional toko buku. Namun sejak pukul tujuh pagi, sudah banyak antrian pengunjung.

Well, hari ini adalah hari pertama promosi resmi Penulis Choi.

Gil, yang menjadi team leader editorial menggantikan Kyuhyun, memperhatikan staff toko buku yang melakukan pengecekan terakhir. Walaupun sebenarnya team PR yang lebih banyak terlibat dalam promosi ini, tapi Kyuhyun menekankan bahwa team editorial juga perlu terlibat. Sekilas, Gil memeriksa jam di pergelangannya. Hampir pukul sepuluh tapi belum ada tanda kedatangan Penulis Choi.

“Bagaimana?” tanya Jeon dari team PR yang menghampiri Gil.

Gil mengangguk kecil pada Jeon. “Sepertinya berjalan lancar. Oh ya, bagaimana dengan rekayasa kedatangan Penulis Choi. Jika melalui pintu utama, bukankah itu akan terlalu beresiko?”

Gil lalu melirik ke arah luar toko buku di mana sudah ada banyak antrian yang mengular dari pengunjung yang kebanyakan adalah fans Penulis Choi. Dan karena terlalu banyak, pihak toko buku menambah jumlah team keamanan. Mereka tidak boleh lengah karena di antara kumpulan para fan yang menunggu ada sasaengfans.

Jeon juga memperhatikan ke arah luar toko buku. “Team leader security St. Heaven sudah berkoordinasi dengan team keamanan toko buku. Mereka telah menyiapkan jalur khusus. Jangan khawatir. Aku tahu Kepala Cho selalu menekankan bahwa keamanan tidak boleh lengah karena sasaengfans, tapi team security sudah sangat berpengalaman. Kau bisa rileks sejenak.”

Gil melirik Jeon dengan sedikit jengkel. Ia kembali memperhatikan stage kecil yang disiapkan oleh toko buku di mana Penulis Choi akan melakukan sedikit talk-show, team PR menjadwalkan hanya sekitar duapuluh menit. Terkadang pria itu terlalu meremehkan sesuatu. Jika terjadi kesalahan, bukan hanya team PR yang akan terkena masalah tapi semua team yang terlibat termasuk editorial. Gil tidak ingin membuat Kyuhyun yang bertanggung-jawab.

“Dan kau terlalu rileks.”

Gil dan Jeon berbalik dan melihat sosok Kyuhyun yang berjalan menghampiri mereka. Di belakangnya ada dua orang team security yang sepertinya membantu Kyuhyun untuk memasuki toko buku karena kondisi di luar begitu ramai. Kyuhyun mengucapkan terima kasih kepada dua orang tersebut.

Gil menghela nafas pendek. “Pak, anda tidak bisa…”

Tapi Kyuhyun mengangkat tangannya dengan cepat untuk menghentikan ucapan Gil. Hell, Kyuhyun tahu persis apa yang ingin dikatakan oleh Gil. “Aku bosan. Dan berhenti melarangku pergi ke mana pun. Ini bahkan bukan St. Heaven.”

“Saya tidak melarang anda Pak,” ucap Gil. Kyuhyun memberikan ekspresi tidak percaya. Gil menyerah. Atasannya itu memang sudah gila kerja. “Hanya untuk memperhatikan saja. Anda masih cuti. Jika ada masalah…”

“Tidak akan ada masalah!” sahut Jeon yang membuat Gil mendesis jengkel.

“Jika ada masalah,” Gil kembali mengulang ucapannya. “Anda tidak bisa ikut terlibat. Anda tidak sedang bekerja, Pak.”

Kyuhyun memutar matanya. “Terserah. Team leader editorial adalah dirimu.”

Gil mengangguk kecil. Kyuhyun sepertinya tahu persis batasannya. Paling tidak, itu bisa mengontrol Kyuhyun saat ini. Kemudian mereka melihat salah satu team PR sedang mengarahkan beberapa reporter yang datang untuk meliput ke tempat yang sudah diatur. Heck, Gil tidak menyukai hal ini. Jumlah reporternya melebihi jumlah yang disepakati sebelumnya.

Gil menatap Jeon yang sepertinya masih terlihat tenang. “Lebih 5 reporter dari jumlah awal, Jeon.”

“Aku tahu. 5 reporter itu kantor berita luar negeri. Mereka mengaku kalau tidak mengetahui untuk meliput event promosi Penulis Choi harus menghubungi St. Heaven terlebih dahulu. Awalnya aku menyuruh mereka untuk pergi dan bisa ikut pada event selanjutnya setelah mendapatkan persetujuan St. Heaven. Tapi mereka memberikan argument yang sulit. Akhirnya, aku memutuskan membiarkan mereka masuk tapi hanya untuk liputan di toko buku ini saja,” jelas Jeon.

Gil melirik Kyuhyun yang sepertinya juga terlihat tidak senang dengan apa yang dilakukan oleh Jeon. Tapi Kyuhyun tidak memberikan komentar apa pun. Well, itu bagus. Gil menghela nafas pendek. “Jika mereka mengajukan ijin liputan, masukkan pada event di tiga hari terakhir. Tidak peduli jika mereka dari kantor berita luar negeri. Kita tidak bisa mengubah rencana yang sudah disiapkan selama satu bulan.”

“Fine..” kemudian Jeon pergi meninggalkan Gil dan Kyuhyun untuk melakukan pemeriksaan akhir sebelum Penulis Choi memasuki toko buku.

Gil menarik nafas dan menatap Kyuhyun lekat. “Anda tidak senang, Pak.”

“Begitu juga dengan Agent Lee dan Penulis Choi. Temui Agent Lee dan jelaskan mengenai perubahan ini. Ingat, kau yang bertanggung-jawab saat ini,” tutur Kyuhyun.

Gil mengangguk kecil. Lalu terdengar suara teriakan keras dari arah luar. Well, sepertinya Penulis Choi sudah datang. Gil lalu meninggalkan Kyuhyun untuk bergabung dengan Jeon.

*****

Siwon tersenyum lebar. Walaupun matanya terasa sakit karena kilatan flash kamera dari repoter yang datang meliput event promosinya. Selain itu, telinganya mulai terasa berdenging karena teriakan keras pengunjung yang datang. Donghae sudah memberi peringatan padanya, tapi Siwon tetap saja merasa tidak siap.

Dari sudut matanya, Siwon bisa melihat sosok Kyuhyun yang berdiri di antara team St. Heaven. Itu membuat Siwon merasa jauh lebih tenang karena Kyuhyun menepati ucapannya. Kemarin, saat Siwon menanyakan apakah Kyuhyun akan datang ke event di toko buku, Kyuhyun mengatakan bahwa itu bukanlah tanggung-jawabnya dan jika ia muncul begitu saja di toko buku, team editorial kemungkinan akan menyuruhnya untuk pulang beristirahat –tidak peduli kalau jabatan Kyuhyun adalah Kepala Editor St. Heaven. Kyuhyun mengatakan dia mungkin bisa datang untuk beberapa menit.

Dan saat Siwon memasuki toko buku dan melihat sosok Kyuhyun dengan pakaian kasualnya –tshirt long-sleeve berwarna putih dengan jaket denim biru muda dengan jeans serta sepatu sneakersnya– hatinya terasa hangat. Walaupun ia belum bisa menyapanya –secara langsung– karena salah seorang dari team PR mengarahkannya langsung ke stage.

Event sudah berlangsung setengah jam. Pengambilan foto oleh reporter adalah bagian akhir sebelum mereka akan berpindah untuk melakukan sekitar tiga interview singkat dan pergi ke toko buku lainnya setelah makan siang.

Siwon bersyukur ketika staff memberikan tanda bahwa event telah berakhir. Ia masih tersenyum dan melambaikan tangan pada pengunjung yang hadir sebelum turun dari stage. Well, event pertama tidak begitu buruk. Siwon juga cukup puas dengan team security.

Siwon berjalan menghampiri Donghae yang menunggu dengan beberapa orang team dari St. Heaven termasuk Kyuhyun. Ia tersenyum pada Kyuhyun sekilas. Pria itu hanya memberikan respon mengangguk kecil. Well, sepertinya Kyuhyun masih menahan diri untuk tidak menunjukkan apa pun di hadapan public.

Dan walaupun saat ini, Siwon tahu ada seseorang yang tengah bicara padanya tapi ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun. Terlebih pria itu memberi kesan mengabaikannya dan seolah tidak menyadari perhatian Siwon.

Itu menggemaskan, pikir Siwon.

“Siwon…” ucap Donghae.

Sang penulis itu tersadar dan menatap Donghae. Ia bergumam pelan. Donghae hanya mendengus, seolah dia menyadari sesuatu. “Kita harus pergi untuk interview.”

“Oh. Okay, lead the way..”

Siwon melirik Kyuhyun dan memberi isyarat. Kyuhyun kembali hanya mengangguk kecil. Kemudian Siwon mengikuti Donghae yang berjalan menuju pintu belakang toko buku.

*****

“Anda tidak akan tiba-tiba muncul di tempat interview Penulis Choi, bukan?” tukas Gil yang menemani Kyuhyun sampai ke mobilnya, setelah itu ia baru menyusul Jeon dan team lainnya yang sudah pergi terlebih dahulu.

Kyuhyun mengeluarkan kunci dari jaket denimnya. “Tidak, Gil. Walaupun aku tahu di mana tempatnya, aku tidak akan pergi ke sana. Mungkin akan mampir sejenak ke kantor dulu.”

“Kepala Editor…”

“Aku perlu menemui bagian secretariat untuk mengatur jadwal pertemuan pribadi dengan direksi. Ada sesuatu yang harus kudiskusikan,” tutur Kyuhyun.

Kening Gil berkerut. “Pertemuan pribadi?”

Kyuhyun menatap Gil lalu menepuk lengannya. “Bukan hal yang terlalu serius. Sebaiknya kau pergi menyusul team yang lainnya. Oh… Setelah cutiku selesai, aku ingin laporan lengkap, okay?”

Gil hanya mengangguk lalu Kyuhyun berjalan sedikit lebih cepat hingga ia berhenti dengan mata melebar. Gil mengumpat pelan lalu mengeluarkan ponselnya. Kyuhyun menarik nafas perlahan, berusaha untuk tetap tenang. Walaupun ia pikir ini benar-benar tidak masuk akal.

Seseorang merusak mobilnya. Siraman cat berwarna merah menutupi bagian kaca depan dan kap mobil. Bagian jendela juga berusaha dipecahkan namun tidak berhasil. Tapi tetap saja bagian jendelanya itu retak parah. Beberapa bagian body mobil juga seperti dipukul oleh benda keras.

Hell, event itu hanya berlangsung setengah jam, tapi kondisi mobilnya sudah seperti ini. Selain itu, juga tidak ada pengumuman laporan tentang perusakan mobil. Terlebih dengan petugas keamanan yang berjaga. Selain itu, dengan kondisi banyak orang seharusnya ada yang melihat dan melaporkannya.

“Pak…” ucap Gil. “Petugas keamanan akan segera datang. Kita bisa memeriksa CCTV dan melihat siapa pelakunya.”

Kyuhyun menoleh pada Gil. Ia teringat kasus pemukulan sebelumnya. “Pelaku pemukulan itu, apa sudah ada penyelidikan lebih lanjut? Aku tidak pernah bertanya lagi padamu tentang hal itu.”

Gil mengusak rambutnya. Oh, hell! “Team security yang melakukan penyelidikan. Terakhir, mereka sudah mengirimkan bukti CCTV kepada pihak kepolisian. Pak, apa anda berpikir pelakunya adalah orang yang sama?”

Kyuhyun melirik mobilnya. “Itu bisa saja. Rasanya tidak mungkin jika ada begitu banyak orang yang membenciku hingga melakukan ini.”

“Pak, tidak ada yang….” Ucap Gil terhenti ketika beberapa orang dari team security datang. Gil kemudian yang memberikan penjelasan.

Kyuhyun menghela nafas panjang. Ia menggenggam erat kunci mobil hingga jemarinya terlihat memutih. Heck, Kyuhyun pikir bahwa kesialan yang menimpanya hanya terhenti pada pemukulan sebelumnya. Namun sepertinya pelakunya masih belum puas dan seolah menunggu untuk waktu tepat. Jika ini terus dibiarkan, lalu apa lagi? Sekarang mungkin mobil, tapi di hari berikutnya si pelaku mungkin akan menyasar rumahnya dan lebih parah adalah orang-orang terdekatnya.

Jun.

*****

Siwon masih menjalani interview ketika dari sudut matanya, ia melihat sedikit perubahan dari team St. Heaven yang menemaninya. Terlihat kalau mereka sangat terkejut dan bahkan Siwon bisa melihat ekspresi frustasi dan emosi kemarahan di wajah Jeon.

Itu membuat Siwon bertanya. Apakah ada kejadian buruk di St. Heaven? Siwon lalu menoleh pada Donghae dan memberi isyarat untuk mencari tahu. Donghae melirik pada team St. Heaven dan mengangguk kecil. Ia lalu berjalan mendekati team St. Heaven.

Siwon kembali berfokus pada reporter yang kembali mengajukan pertanyaan baru.

Setelah hampir setengah jam, Siwon akhirnya selesai. Mereka akan istirahat sebelum melanjutkan pada interview yang kedua. Reporter yang melakukan interview pertama mengatakan bahwa mereka akan mengatur untuk jadwal pemotretan. Well… semua interview yang telah dijadwalkan, mereka sudah mengajukan permintaan pemotretan. Namun, Siwon belum menyetujuinya.

Siwon tersenyum terakhir kali pada reporter tersebut sebelum menghampiri Donghae yang menunggu di salah satu meja. Team St. Heaven menyewa beberapa jam sebuah café yang letaknya tidak begitu jauh dari lokasi toko buku.

Siwon menarik kursi dan duduk dihadapan Donghae yang terlihat cukup serius. Ia meraih gelas kopinya. “Jadi, apa yang terjadi?” tanyanya sembari menyeruput ice Americano.

Donghae menarik nafas dan menegakkan tubuhnya. “Dengar, kau mungkin tidak akan senang mendengarnya dan memilih untuk menghentikan jadwal promosi hari ini. Tapi aku harap kau tidak melakukannya. St. Heaven sudah merencanakannya dan kau tidak bisa mengambil keputusan sepihak hanya karena apa yang terjadi.”

Well, sepertinya ini serius. Jika tidak, Donghae tidak akan bicara dengan nada seperti itu. Siwon menaruh gelas kopinya dan mengangguk kecil. “Okay, aku hanya akan mendengarkan dan tidak akan melakukan hal gila seperti pergi begitu saja dan membuat berantakan jadwal promosi. Jadi, katakan.”

“Seseorang merusak mobil Editor Cho,” ucap Donghae.

Sontak air wajah Siwon berubah. Lalu dengan cepat Donghae kembali meneruskan penjelasannya. “Saat Editor Cho berjalan ke parkiran untuk meninggalkan area toko buku, ia melihat kondisi mobilnya sudah dirusak oleh seseorang. Editor Gil yang masih bersamanya, sudah melaporkan kejadian ini pada petugas keamanan. Mereka memeriksa CCTV dan akan memberikannya pada pihak kepolisian.”

“Lalu? Apa lagi?”

Donghae menghela nafas. Nada bicara Siwon terdengar begitu berbahaya. Hell, entah bagaimana ia harus menjalani interview kedua. “Editor Cho baik-baik saja. Editor Gil masih bersamanya hingga saat ini. Itu sebabnya dia tidak bisa datang ke sini. Manager Jeon mengatakan kalau mereka akan saling terus berkomunikasi….”

Hell, rasanya percuma menjelaskan apa pun pada Siwon. Walaupun Donghae bersyukur karena pria itu belum bergerak sedikit pun dari kursinya.

“Dengar, Siwon, aku tahu kau marah tapi bersikaplah professional. Kita masih mempunyai dua interview lagi dan kunjungan terakhir ke toko buku. Hanya untuk beberapa jam, Siwon. Bersikaplah professional-lah selama beberapa jam ini, okay?”

Siwon belum mengatakan apa pun. Pikirannya begitu kacau. Seseorang mengincar Kyuhyun. Itu sudah pasti. Setelah kejadian pemukulan di basement parkir St. Heaven, kejadian perusakan mobil Kyuhyun pasti dilakukan oleh orang yang sama. Hell, bagaimana bisa St. Heaven belum menemukan pelakunya hingga hari ini.

Apa mereka baru bisa menangkapnya jika Kyuhyun sudah terluka parah?

“Siwon…?! Apa kau mendengarkanku?” seru Donghae.

Siwon menatap Donghae lekat. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya. “Aku dengar. Aku akan bersikap professional. Jangan khawatir.”

Well, Donghae tidak percaya begitu saja. Tapi ini sudah cukup. Jika Siwon bisa menahan diri, maka itu sudah cukup. Untuk saat ini.

*****

Siwon menekan bel pintu apartment Kyuhyun.

Setelah Donghae mengantarkannya pulang, Siwon langsung bergegas menuju lift dan menekan tombol lantai 15. Well, jadwal promosi hari ini berjalan cukup lancar, terlebih setelah Siwon mendengar apa yang terjadi pada mobil Kyuhyun. Walaupun Siwon sempat beberapa-kali termenung memikirkan Kyuhyun saat interview berlangsung –karena pria itu tidak membalas pesan yang dikirim oleh Siwon– tapi semuanya berakhir baik.

Ketika pintu apartment terbuka dan Siwon melihat sosok Kyuhyun, dengan cepat ia mendorong Kyuhyun masuk dan menutup pintu. Masih di foyer, Siwon memeluk Kyuhyun dengan sangat erat.

“Si-siwon…”

Siwon mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di bahu Kyuhyun. “Oh, God! Syukurlah kau baik-baik saja. Syukurlah…”

“A-aku… Siwon, hanya mobilku saja yang rusak. Aku tidak…”

Siwon lalu melonggarkan pelukannya. Ia menatap Kyuhyun dengan seksama. “Aku mengirimu pesan. Berkali-kali tapi kau tidak membalasnya. Aku memang mendengar kalau hanya mobilmu yang…. Oh Tuhan! Tapi aku tetap khawatir, Kyuhyun.”

“Aku tidak sempat membalas pesanmu karena mengurus pelaporan di kantor polisi. Gil menemaniku hingga kami selesai. Saat aku membaca pesanmu, aku tidak bisa membalasnya. Kau sedang sibuk dengan jadwal promosi dan aku tidak ingin… Hahh, aku minta maaf. Tapi aku baik-baik saja,” tutur Kyuhyun.

Siwon memperhatikan Kyuhyun lebih lama. Pria dalam dekapannya itu terlihat baik-baik saja –pucat namun baik-baik saja. Dan Siwon bersyukur atas hal tersebut. Ia kembali menarik tubuh Kyuhyun dalam pelukannya.

“Siwon…,” ucap Kyuhyun pelan. “Aku sedang makan malam, jadi bisakah…”

Sontak Siwon melepaskan pelukannya. “Oh, kau sedang makan? Maaf, aku pikir…”

“Kau sudah makan? Kalau belum, ayo makan denganku.”

Siwon melepaskan sepatunya di foyer. “Aku sudah makan. Tapi aku bisa menemanimu.”

*****

Siwon tidak tahu kalau kerusakan mobil Kyuhyun jauh lebih parah dari apa yang dibayangkannya. Jika hanya dari penjelasan Donghae, yang mencari tahu dari team St. Heaven, membayangkan kondisi kerusakan mobil Kyuhyun akan mengira bahwa mobil itu pasti masih bisa diperbaiki. Namun, saat Siwon meminta Kyuhyun untuk memperlihatkan foto-foto mobilnya, well… Kyuhyun sepertinya harus membeli mobil baru.

Siwon lalu menaruh ponsel tersebut di atas coffee table saat Kyuhyun kembali dari dapur dengan membawa dua gelas teh hangat. Siwon mengambil salah satunya saat Kyuhyun duduk di sampingnya.

“Mengenai mobilmu, apa pihak asuransi akan mengcover biayanya?” tanya Siwon.

Kyuhyun menyeruput teh hangatnya perlahan. “Kurasa tidak. Kerusakannya bukan akibat kecelakaan atau insiden tak sengaja lainnya. Bahkan jika bisa dimenutupi biaya perbaikan, mungkin hanya setengahnya saja.”

“Berencana membeli mobil baru?”

Kyuhyun bergumam pelan. Siwon mengambil gelas dari tangan Kyuhyun dan menaruh ke dua gelas itu di atas coffee table. Kemudian ia meraih tangan Kyuhyun, menautkan jemari mereka.

“Tidak tahu. Belum,” gumam Kyuhyun. “Mungkin menunggu setidaknya satu minggu. Mobilku saat ini ada di kantor polisi. Jika mereka sudah selesai memeriksa barang bukti, aku akan membawa seseorang untuk melihat kerusakannya. Jika masih bisa diperbaiki, well… harganya pasti akan mahal. Entahlah.”

Siwon sedikit bergeser lebih mendekat pada Kyuhyun. “Jika kau butuh bantuan, apa pun, aku akan membantumu. Tapi bukan berarti aku merendahkanmu. Jika kau ingin menyelesaikannya sendiri, tidak apa-apa. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa kau bisa mengandalkanku.”

Kyuhyun tersenyum tipis. “Terima kasih.”

Siwon mengangguk.

Dengan tubuh Kyuhyun yang terasa hangat dan aroma cologne Siwon yang mahal, membuat suasananya berubah begitu cepat. Siwon cukup dekat sehingga bisa menangkap lekuk senyum Kyuhyun dan helai rambut sang editor. Ia bisa merasakan hawa hangat nafas Kyuhyun di pipinya dan itu membuatnya menggigil. Sudah lama sekali, well lima belas tahun tepatnya, sejak Siwon melakukannya dengan seseorang.

“Bagaimana dengan promosi pertama?” tanya Kyuhyun pelan. “Maaf, aku tidak bisa ikut terlibat dalam team.”

“Semuanya lancar. Walaupun Donghae sempat menegurku karena beberapa-kali aku kehilangan focus saat interview. Tapi semuanya lancar dan sesuai dengan rencana,” ujar Siwon.

“Jika semuanya lancar, maka itu bagus.” Kyuhyun lalu mendorong tangan lainnya melewati rambut hitamnya.

Siwon bergerak mendekat. Dia tidak begitu yakin, tapi Kyuhyun sepertinya mempunyai energy magnetis yang selalu menariknya. Hell, Siwon bahkan terdengar gila. “Aku masih berharap kau tergabung dalam team. Paling tidak, aku ingin kau selalu datang di salah satu event promosi. Walaupun hanya untuk sepuluh menit, aku ingin kau selalu ada di sana.”

Kyuhyun memejamkan matanya ketika nafas Siwon menyapa wajahnya. God! Kyuhyun bisa merasakan bayang bibir Siwon di depan bibirnya. Jarak mereka sudah begitu dekat, tapi Siwon belum juga menciumnya. Itu belum cukup.

“Aku bisa datang, walaupun Gil mungkin akan selalu mengusirku dan mengatakan bahwa aku harus istirahat,” gumam Kyuhyun.

Siwon menyeringai. “That’s okay. That’s all I need. Thank you.”

“Now, will you kiss me?”

Siwon tertawa kecil lalu mengabulkan permintaan Kyuhyun. Ciuman itu terasa hangat, manis dan begitu menakjubkan. Siwon selalu menggambarkannya seperti itu. Ciuman Kyuhyun akan selalu menakjubkan. Siwon melumat bibir Kyuhyun dengan lembut dan perlahan. Satu tangan bebasnya, bergerak ke bagian belakang leher Kyuhyun.

Kyuhyu mendesah. Tubuh Siwon bereaksi atas gairah Kyuhyun. God, Siwon ingin menyentuh Kyuhyun. Sekali lagi. Lebih intim. Ia tidak tahu apakah Kyuhyun sudah siap. Beberapa kali Siwon pernah melihat bagian intim Kyuhyun, bahkan menyentuhnya. Tapi kali ini, Siwon sedikit ragu.

Perlahan ia menarik ciuman tersebut. Siwon melihat wajah pink Kyuhyun dengan nafas terengah dan bibir memerah.

“I want you to touch me,” ucap Siwon seraya melepaskan tangannya dari tautan tangan Kyuhyun agar ia bisa membuka resleting jeansnya.

Sontak Kyuhyun membuka matanya. Pupilnya membesar saat ia melihat Siwon sedikit menurunkan jeans dan celana dalam hitamnya. “What?! But… but I’ve never… I’ve only been with woman. I never…”

Siwon mempertimbangkan ini sejenak, lalu menarik tangan Kyuhyun dan membimbingnya ke arah kemaluannya. “I’ll show you.” Siwon berbicara pelan, melirik sekilas ke mata Kyuhyun. “Seperti kau melakukan masturbasi pada dirimu sendiri.”

Kyuhyun membiarkan Siwon membimbing tangannya, merasakan jantungnya berdegup kencang di dadanya. Ketika jari-jari Kyuhyun, akhirnya menyentuh penis Siwon, dia menarik nafas, terkejut karena terasa lembut. Penis Siwon sangat hangat dan Kyuhyun hampir bisa merasakannya berdenyut saat Siwon membimbing tangannya untuk membungkusnya.

Tangan mereka bergerak bersama selama beberpa kali, Siwon membimbing tangan Kyuhyun perlahan naik turun. Kyuhyun bisa merasakan perubahannya, menjadi lebih penuh di bawah sentuhan mereka. Tidak seperti masturbasi, tapi ada sesuatu yang jauh terasa lebih saat menyentuh orang lain.

Sudut yang berbeda, hampir canggung. Jika bukan karena tangan Siwon, mungkin Kyuhyun tidak yakin bagaimana ia menyentuhnya. Siwon mencondongkan tubuhnya lebih jauh ke dalam ruang Kyuhyun, bahu mereka saling bersentuhan dan begitu juga dengan pipi mereka saat Kyuhyun berkonsentrasi pada tugasnya.

Kyuhyun bisa melihat cairan di bagian ujung penis Siwon, jernih dan cerah. Dia menggerakan tangannya, menggunakan ibu jarinya secara eksperimental. Tangan Kyuhyun dan penis Siwon sudah dibasahi oleh precum sang penulis. Terasa udara hangat menyentuh bagian rahang Kyuhyun dan Siwon bicara, suaranya begitu dalam.

“Yeah… you’ve got it.”

Siwon membiarkan tangannya jatuh, menekannya ke sofa yang lembut dan mencoba menyembunyikan tangannya yang gemetar. Saat Siwon menarik tangannya, Kyuhyun membeku, tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

“Hey, don’t just stop. You doing great, Kyuhyun. Keep movin`.”

Kata-kata itu menghilangkan keraguan Kyuhyun, dan ia mulai menggerakan tangannya sekali lagi. Siwon menghela nafas di telinga Kyuhyun saat sang editor menaikkan irama gerakannya. Dengan setiap gerakan tangan Kyuhyun, Siwon sepertinya lebih condong pada pria tersebut. Kepalanya tertuju pada leher Kyuhyun, helaian rambut lembut menggelitik bagian bawah dagu Kyuhyun. Desahan dan nafas Siwon adalah satu-satunya yang bisa didengar Kyuhyun.

“Harder, Kyuhyun. Fuck.! That’s it, Kyuhyun. You’re doing very good.”

Kyuhyun tidak bisa menahan diri atas senyuman Siwon. Dia melanjutkan tugasnya, memperhatikan bagaimana reaksi Siwon. Sebuah sentuhan mendekati bagian ujung penis Siwon, sedikit menekannya lebih keras, sesekali membuat Siwon berteriak penuh gairah di leher Kyuhyun. Kepada Siwon bergetar di bawah Kyuhyun, hidungnya menempel di sisi leher Kyuhyun.

Siwon menekankan wajahnya ke leher Kyuhyun, menggigit bibirnya untuk meredam suara desahan yang begitu keras. Tubuhnya menegang. God, Siwon tidak bisa menahan dirinya lagi. Dengan satu tangan dan tenaga yang tersisa, Siwon bergerak ke atas tubuh Kyuhyun, menekannya ke sofa. Dan Kyuhyun menyadarinya. Jadi, ia semakin menaikkan irama gerakan tangannya.

Tidak lama kemudian, orgasme Siwon datang. Ia berseru keras di leher Kyuhyun. Penisnya berdenyut dengan cairan sperma yang keluar membasahi jemari, pergelangan tangan Kyuhyun dan pakaiannya. Hell!

Kyuhyun menggigit bibirnya agar tidak mengerang saat melihat Siwon bergetar dengan kekuatan orgasme yang kuat. Ada sesuatu yang aneh sekaligus indah menyaksikan hal tersebut. Hell… Choi Siwon benar-benar indah.

Siwon berusaha mengejar nafasnya. Itu benar-benar orgasme hebatnya setelah limabelas tahun. Selama limabelas tahun, Siwon mengaku aseksual, itu pun karena ia tidak pernah menemukan seseorang yang membuatnya orgasme seperti yang pernah dilakukan Noah. Tidak dengan semua petualangannya di klub malam dengan semua orang asing itu.

Siwon lalu menarik wajahnya dari leher Kyuhyun. Di bagian pahanya, Siwon bisa merasakan ereksi Kyuhyun. Ia tersenyum tipis.

“Need help?”

*****

NOTE: Yes… Yes… Telatnya banyak banget. Biasa akhir tahun /ngeles ajah bisanya

Walaupun ini gak banyak tapi ya lumayan. Kemungkin chapter 31 akan diupdate lagi. Tapi hanya sebuah kemungkinan yaa.. Karena sekarang aku masih sibuk nyelesain laporan akhir tahun. Semoga bisa selesai dua tiga hari ini yaa

Dan sudah akhir tahun, tapi utang saya masih banyak di blog ini /mojok~

NOTE KE-2: HAPPY NEW YEAR!!! Semoga tahun 2018, saya agak lebih rajin update hahahaha

Advertisements

54 thoughts on “[SF] Two of Us – Chapter 31

  1. Wah ku baru nyadar ada update tambahan… Ku jadi makin penasaran siapa orang yang berbuat jahat ke kyuhyun. Ntar mengapa feeling ku antara saesangnya siwon atauga org suruhan mantan/pacar mantan istrinya kyuhyun.. hm. Takutnya kalo kyu diserang gini mulu malah bisa ngalangin kyu dpt hak asuh jun karena mungkin pengadilan nganggep kalo jun tinggal sama kyu ga bakal aman. Selain itu wonkyu kenapa makin cihuy makin hari hwhw q luv bgt💙💙💙💙

  2. Hm…panjang dan aq baca dua kali tpi tetep aja bnyk yg bisa ku baca jdi kulewatkan hhhhhh…
    Aq bener2 penasaran siapa yg tk menyukai kyu smpai segitunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.