[SF] Scarface Part 60 – Epilog Part 2

seoul

Epilog Part 2

Joonmyeon memegangi sebuah papan nama bertuliskan “Mr. Andrew Joseph Choi”. Ia sudah menunggu di luar pintu keluar sejak duapuluh menit lalu, namun sang pengusaha yang ditunggu belum kunjung keluar. Pengumuman pendaratan penerbangan dari Praha sudah diumukan sejak empatpuluh menit yang lalu, tapi ia menunggu karena tahu bahwa semua penumpang harus melakukan beberapa pemeriksaan di bagian bea cukai serta imigrasi.

Joonmyeon melirik pada seniornya yang sedang menghubungi tim yang berada di hotel untuk bersiap. Sepertinya ada sedikit masalah dan Joonmyeon berharap kalau dia tidak melakukan kesalahan apa pun terkait reservasi hotel tersebut. Kemudian Joonmyeon kembali memperhatikan pintu keluar. Beberapa penumpang sudah keluar termasuk seseorang yang dikenali oleh Joonmyeon.

Mata Joonmyeon tertuju pada seorang pria yang memperhatikan sekitar lalu perhatiannya tertuju padanya. Nafas Joonmyeon terhenti sejenak dan matanya melebar. Ia melirik nama papan yang di tangannya.

Shit!

Joonmyeon lalu menatap pria yang berjalan ke arahnya. Joonmyeon tidak akan mudah melupakan pria itu. Mereka mungkin hanya beberapa kali bertemu dan tidak pernah bicara. Tapi, pria itu bukan seseorang yang mudah kau lupakan begitu saja.

Pria itu berhenti tepat di hadapan Joonmyeon dan tersenyum tipis. “Representative from HJ Company?”

Joonmyeon tersontak. “Ah… Yes! Uhm… Mr. Andrew Joseph Choi. Welcome to South Korea.”

Pria itu tertawa kecil lalu melepaskan kacamata hitamnya. Kali ini Joonmyeon bisa melihat dengan jelas sosok Choi Siwon yang pergi dari Korea lima tahun lalu. Tidak ada yang tahu apa alasannya, bahkan Choi Group tidak mengatakan apa pun terkait hal tersebut. Siapa yang menyangka kalau dia akan berdiri di hadapan Choi Siwon saat ini?

Choi Siwon yang sama yang pernah Joonmyeon lihat mencium pria lain.

Ditambah, sepertinya Choi Siwon tidak mengalami banyak perubahan. Dia tetap saja terlihat tampan. Joonmyeon bisa melihat beberapa wanita melirik padanya.

“Senang bertemu denganmu lagi, Kim Joonmyeon.”

Joonmyeon berkedip beberapa-kali. “Eh? A-anda ingat siapa saya?”

“Tentu saja. Kau sudah dewasa sekarang dan bekerja di perusahaan keluargamu. Itu bahkan sudah diprediksi, bukan?” tutur Siwon.

Joonmyeon sedikit menunduk. “Masih sebagai intern saja,” gumamnya.

Siwon kembali tertawa kecil dan menepuk lembut kepala Joonmyeon. “Kau akan baik-baik saja. Lakukan saja sesuai kemampuanmu. Itu memang perusahaan keluargamu, tapi kau tidak membiarkan orang lain berpikir kau mendapatkan posisimu hanya karena sebuah pemberian keluarga dan bukan berdasar kemampuanmu, bukan?”

Joonmyeon kembali menatap Siwon dengan lekat. Wajahnya terasa begitu hangat. Semua pegawai yang bekerja dengannya, mungkin bisa mengerti dengan posisinya. Tapi Joonmyeon tidak akan membohongi dirinya sendiri. Semua orang sudah bisa menebak posisi apa yang diterima Joonmyeon setelah dia menyelesaikan masa intership. Namun, Choi Siwon –pria yang baru ditemuinya lagi setelah bertahun-tahun– mengatakan padanya untuk melakukan sesuai kemampuannya. Pria itu mengatakan kalau Joonmyeon harus membuktikan bahwa dia berhak mendapatkan posisi sesuai dengan kemampuannya.

“Terima kasih,” gumam Joonmyeon.

Siwon kembali tersenyum.

“Ah,  Mr. Andrew! Welcome….!!”

*****

Changmin melirik ponselnya. Ia melihat notifikasi chat masuk. Kemudian ia menaruh pena dan meraih ponselnya tersebut. Sebuah seringai mengembang di wajahnya saat Changmin melihat nama pengirim chat tersebut.

Sudah di Seoul dan dalam perjalanan menuju hotel.

Kau tidak akan percaya siapa yang kutemui di bandara.

Dua kalimat singkat dari Siwon. Kening Changmin berkerut lalu ia membalas pesan tersebut.

Memang siapa?

Changmin lalu mengirim balasan tersebut. Rasanya tidak perlu memberikan balasan panjang. Terlebih nanti mereka akan bertemu. Walaupun Changmin tidak tahu di mana dia akan menemui Siwon.

Putra Kim Junhyeok.

Aku tahu kalau perusahaan itu adalah HJ Company, tapi tetap saja sedikit mengejutkan bertemu dengan pemuda itu dengan posisinya saat ini.

Changmin tersenyum lalu mendengus. Memang apa yang dipikirkan Siwon saat ia bekerja sama dengan HJ Company? Walaupun dia tidak akan bertemu dengan putra Kim Junhyeok atau bahkan Kim Junhyeok sendiri sekarang, suatu hari nanti mereka pasti akan bertemu. Kemudian Changmin mengetik balasan lainnya.

Berapa lama pertemuanmu berlangsung? Kau bilang hanya dua atau tiga hari di Seoul, bukan?

Hanya berselang beberapa detik, balasan dari Siwon sudah masuk.

Entah. Mungkin hanya dua hari. Aku harus pulang pada hari Sabtu atau Minggu. Kenapa?

Changmin terdiam sejenak setelah membaca pesan tersebut. Sepertinya Siwon tidak ingin merayakan hari ulang tahunnya di Seoul dan mungkin Kyuhyun sudah membuat rencana untuk perayaan tersebut. Ia lalu mendesah pelan dan mengetik lagi.

Hadiah ulang tahun untukmu, bodoh! Aku tidak ingin mengirimnya jauh-jauh ke Praha ketika kau bisa mengambilnya sendiri!

*****

Jinri mengetuk pintu ruangan Yunho beberapa kali lalu menunggu hingga mendengar suara sang pemilik ruangan tersebut untuk menyuruhnya masuk. Jinri membuka pintu dan tersenyum tipis ketika ia melihat Yunho sedang berbaring di sofa dengan wajahnya ditutupi oleh dokumen. Gadis itu menutup pintu perlahan lalu menghampiri Yunho. Ia menaruh tiga dokumen di atas meja.

Yunho menyingkirkan dokumen dari wajahnya dan melirik Jinri. “Tidak bisakah kau menunda mengirim dokumen itu? Aku sudah banyak pekerjaan, Nona Choi.”

“Tidak bisa, Direktur Jung. Ini adalah dokumen yang sangat penting,” tukas Jinri yang berjalan menuju meja kerja Yunho. Ia melihat beberapa tumpukan dokumen. “Oh ya, di mana dokumen milik cabang dari Jepang? Kau sudah menyelesaikannya?”

Yunho mendesah jengkel. Ia merubah posisi tubuhnya menjadi duduk. Rasanya adalah keputusan yang salah merekrut Jinri ke perusahaannya setelah gadis itu menyelesaikan kuliahnya. Ini adalah tahun kedua Jinri bekerja dan Yunho berharap Paman Jaewon menarik putrinya ke perusahaan Choi Group dengan segera.

“Direktur Jung, di mana dokumennya!” seru Jinri.

Yunho melirik Jinri lalu mengangkat dokumen yang ada ditangannya. “Ada di sini.”

Jinri menatapnya dengan jengkel lalu menghampirinya kembali. “Apa kau belum menyelesaikannya?”

“Bagaimana mau kuselesaikan jika kau selalu datang membawa dokumen yang kau katakan sangat penting? Oh… Jujur saja, kau melakukan beberapa kesalahan. Periksa kembali, Nona Choi.” Yunho lalu menyodorkan dokumen itu.

Jinri mengambilnya dan memeriksa dokumen itu. Saat menemukan kesalahan yang telah ditunjukkan oleh Yunho, Jinri mendengus. “Aku sudah menyerahkan dokumen ini sejak empat hari lalu. Kenapa kau baru memeriksanya sekarang? Jika kau memeriksanya lebih cepat, aku bisa segera memperbaikinya. Dokumen ini harus segera dikirim ke Jepang minggu depan.”

“Well… kalau begitu kau tidak mempunyai banyak waktu untuk memperbaikinya. Mungkin kau harus lembur, Nona Choi!” sahut Yunho.

Jinri mendecih. “Aku selalu lembur, Direktur. Aku akan segera memperbaikinya. Oh… Selesaikan dokumen yang lain dengan cepat.”

Kemudian saat Jinri hendak meninggalkan ruangan tersebut. Yunho memanggilnya.

“Jinri… Siwon, saat ini sedang berada di Seoul,” ucap Yunho.

Jinri terdiam sejenak. Tangannya memegang erat dokumen yang diberikan Yunho. Rasanya sudah lama sekali sejak Jinri mendengar nama kakaknya disebut. Walaupun pada kenyataannya, Yunho dan Changmin terkadang selalu memberitahunya tentang bagaimana kondisi Siwon. Dari semua anggota keluarga Choi, hanya Yunho dan Changmin yang masih berkomunikasi dengan Siwon. Tapi mereka berdua jarang menceritakan tentang Siwon pada acara keluarga. Hanya pada saat-saat tertentu saja.

Kemudian Jinri tersenyum tipis. “Benarkah? Untuk urusan bisnis lagi?”

“Begitulah. Aku belum mendengar kabar lagi, tapi aku yakin Changmin sudah mendapat pesan dari Siwon,” ujar Yunho.

Jinri mengangguk kecil. “Oh. Uhm… Aku harus kembali bekerja.”

Well, Yunho sangat tahu bagaimana sikap Jinri terlebih sejak Siwon meninggalkan Korea. Gadis itu tidak marah pada kakaknya, hanya saja ia terjebak pada situasi yang sulit. Jika diceritakan secara gamblang, situasi di rumah keluarga Choi sangatlah buruk sejak Siwon pergi. Terlebih dengan Choi Yoojin.

Dan Jinri harus terjebak diantara ibu dan kakaknya.

Yunho dan Changmin sudah pernah mengajak Jinri untuk bertemu dengan Siwon tiap kali kakaknya itu datang ke Korea. Tapi Jinri selalu menolak –selalu beralasan kalau waktunya tidak memungkinkan karena pekerjaan dan sebagainya.  Dan walaupun dia bisa menebak apa jawaban yang akan diberikan Jinri, namun Yunho tidak akan pernah lelah untuk bertanya padanya.

“Jinri…! Apa kau tidak ingin bertemu dengan Siwon? Apa kau tidak ingin bertemu dengan kakakmu lagi?”

*****

 “Aku pikir kau sedang sibuk karena klien perusahaan datang?” ujar Kyungsoo yang begitu terkejut melihat Joonmyeon datang ke studionya dengan membawa dua kantung berisi sandwich dan juga dua gelas ice Americano.

Joonmyeon meletakkan dua kantung itu di atas meja sedangkan Kyungsoo menyimpan file-file music yang tengah dikerjakannya. Setelah lulus dari HanEum, Kyungsoo mendapat tawaran untuk bergabung pada sebuah studio rekaman. Well, bukan sebuah studio label besar, setidaknya itu dapat mencukupi kebutuhan Kyungsoo. Selain itu, nama Kyungsoo juga sudah cukup terkenal karena selama di HanEum, sahabatnya itu sering mengikuti beberapa festival music.

“Aku hanya menjemputnya di bandara lalu mengantarnya ke hotel. Setelah itu, senior yang lain mengurusnya. Aku masih intern, Do Kyungsoo,” ujar Joonmyeon.

Kyungsoo mengeser kursinya lalu mengambil sebuah sandwich. “Well, itu adalah perusahaan keluargamu. Suatu hari nanti kau akan menjadi Direktur atau mungkin Presdir. Kurasa kau akan banyak terlibat dalam project kerjasama yang cukup besar.”

Joonmyeon mendengus. Kemudian ia menggigit sandwichnya. “Oh, itu akan membutuhkan waktu cukup lama. Aku masih harus banyak belajar. Lagipula aku mendapatkan nasihat dari klienku. Dia bilang aku harus berusaha sesuai kemampuanku agar posisiku nanti akan dipandang bahwa aku layak mendapatkannya, bukan sekedar karena aku adalah putra Kim Junhyeok. Tapi dia sangat yakin kalau aku bisa melakukannya.”

“Eoh? Dia mengetahui siapa dirimu sebenarnya? Apa kau mengenalkan diri sebagai Kim Joonmyeon, putra Kim Junhyeok? Well, aku yakin nama ayahmu sudah cukup terkenal oleh banyak pengusaha.”

Joonmyeon menggeleng. “Aku bahkan tidak menyebutkan namaku, Soo. Dia bahkan masih mengingatku walaupun terakhir kali kami bertemu sudah cukup lama. Kurasa lima tahun.”

Kening Kyungsoo berkerut. “Kalian saling mengenal? Yak, Kim Joonmyeon, jangan katakan sejak dulu kau sudah…”

“Apa?! Jangan berpikiran aneh. Klien itu adalah Choi Siwon. Kau ingat? Choi Siwon dari Choi Group.”

Mata Kyungsoo membulat. Ia menjatuhkan sandwich dari tangannya ke meja. Ia menatap Joonmyeon tanpa berkedip setelah mendengarkan ucapan sahabatnya itu mengenai klien yang sedang ditanganinya.

“Choi Siwon?!!!!” serunya dengan keras.

Joonmyeon menggumam sembari terus menggigit sandwich. “Eoh. Andrew Joseph Choi. Aku juga tidak akan percaya jika tidak melihatnya sendiri. Yang lebih mengejutkan sepertinya semua seniorku sudah mengetahui kalau Mr. Andrew itu adalah Choi Siwon, karena mereka tidak terlihat terkejut.”

“Hooo!! Ba-bagaimana bisa? Setelah lima tahun menghilang, pria itu muncul lagi?”

“Aku rasa dia tidak benar-benar menghilang. Pasti ada alasan kenapa dia keluar dari Choi Group dan meninggalkan Korea. Bahkan menggunakan nama alias seperti itu. Lagipula perusahaannya saat ini cukup terkenal walaupun terbilang baru,” tutur Joonmyeon.

Kyungsoo mengambil sandwichnya yang jatuh lalu memakannya lagi. “Alasan? Alasan seperti apa hingga dia harus pergi seperti itu? Bahkan pihak Choi Group tidak mengeluarkan pernyataan apa pun terkait hal itu.”

Joonmyeon tidak mengomentari hal tersebut.

“Tapi…” lanjut Kyungsoo yang membuat Joonmyeon kembali memperhatikannya. “Aku rasa menghilangnya Pengacara Cho Kyuhyun jauh lebih misterius dibandingkan Choi Siwon.”

Kening Joonmyeon berkerut. Mereka sedang membicarakan Choi Siwon, tapi kenapa Kyungsoo malah menyebut nama pengacara itu.

“Banyak rumor yang menyebut kalau Pengacara itu terpaksa harus keluar dari Korea setelah kasus Seon Hwan. Ada banyak sekali pemberitaan kalau nyawa pengacara tersebut sering-kali terancam. Keluarganya juga tidak memberikan penjelasan apa pun,” tukas Kyungsoo.

Joonmyeon meraih gelas kopinya dan menyeruput sejenak. Oh, ia mengetahui betul tentang kasus Seon Hwan. Dalam salah satu mata kuliahnya, professornya pernah membahas tentang kasus tersebut. Bahkan sempat ia mengikuti kuliah umum bersama dengan fakultas hukum membahas tentang hal tersebut. Jujur saja, kasus Seon Hwan adalah skandal kasus hukum terbesar yang pernah diungkap dan nama Cho Kyuhyun sering-kali disebut menjadi salah satu orang yang berani mengungkapkan kasus tersebut.

Tapi sayang sekali, saat pengadilan masih berlangsung, sang pengacara malah menghilang entah ke mana.

“Apa bedanya dengan menghilangnya Choi Siwon?” tanya Joonmyeon penasaran.

Kyungsoo sangat jarang membicarakn hal-hal terkait masalah bisnis atau hukum seperti ini.

“Entahlah. Tapi kasus Cho Kyuhyun ini berbeda. Semua orang tahu kalau dia terlibat dalam kasus besar, namun tanpa alasan yang jelas dia malah menghilang. Pihak keluarga, kantor firma hukum, bahkan pihak kepolisian dan kejaksaan juga tidak mengatakan apa pun. Hahh… sudahlah, aku lelah membicarakan hal seperti ini. Katakan padaku, kau akan pulang akhir pekan ini?” ujar Kyungsoo yang mengubah pembicaraan mereka.

Joonmyeon menghela nafas dan mengangguk. “Aku harus pulang walaupun sebenarnya masih ada banyak pekerjaan. Selain itu, Choi Siwon berada di Seoul sampai hari Sabtu untuk pertemuan bisnis.”

“Oh. Dan… Yifan belum menemuimu? Bahkan datang ke flatmu?”

“Tidak. Dia tahu kalau aku sibuk. Kami beberapa-kali saling mengirim pesan. Yifan terus mengeluh karena Mom mengeluh padanya tentang aku yang jarang pulang ke rumah,” ujar Joonmyeon.

Kyungsoo menggumam. “Mungkin karena Bibi Sara merasa kesepian. Setelah Yifan pergi ke London, hanya ada kau di rumah. Tapi setelah kau pindah ke flat, tidak ada anak lain. Kenapa mereka tidak berencana untuk mempunyai anak saja?”

“Hey, usia Mom sudah terlalu rawan jika hamil lagi. Appa tidak ingin hanya demi seorang anak, maka harus mengabaikan resiko tersebut. Kurasa dulu mereka pernah berdiskusi untuk mengadopsi seorang anak, tapi batal. Mungkin dalam beberapa tahun Mom akan mengeluh dan meminta kami cepat-cepat untuk menikah agar dia bisa menimang cucu,” sahut Joonmyeon.

“Menikah? Siapa yang duluan? Apa dia sudah punya pacar? Er… pacar pria, maksudku.”

Joonmyeon mendelik jengkel pada Kyungsoo. “Kenapa kau bertanya hal itu padaku? Aku tidak tahu!”

*****

“Hey… Aku sudah di hotel. Jam berapa di sana?” tanya Siwon sembari duduk di tempat tidur.

Ia baru saja menyelesaikan mengeluarkan pakaian serta barang-barang lainnya dari koper. Tidak termasuk dokumen-dokumen penting yang masih tersimpan di tasnya. Siwon tidak ingin ceroboh hingga orang lain –bahkan termasuk staff hotel– melihatnya lalu mencurinya.

“Masih terlalu pagi.  Apa kau tidur dengan baik di pesawat?”

Siwon tertawa kecil. “Tidak. Aku hanya tidur beberapa jam. Mungkin sebaiknya aku  pulang dengan membeli tiket first class saja. Mungkin setelah ini aku akan tidur dan bangun ketika makan malam. Pertemuan dengan pihak HJ Company baru dilakukan esok. Bagaimana Jaehyun?”

“Baik-baik saja. Dia punya sesuatu untuk diadukan padamu.”

Alis Siwon terangkat. “Apa itu?”

“Biarkan dia yang mengadu langsung padamu. Aku senang kau sampai dengan selamat.”

Siwon tersenyum. “Aku merindukanmu, sayang.”

“Aku juga. Tidurlah, aku tahu kau lelah. Terima kasih telah menghubungiku.”

“Apa pun untuk rajaku,” goda Siwon.

“Jeez, sudah kubilang hentikan dengan itu.”

Kemudian hening. Siwon bisa mendengarkan deru nafas Kyuhyun di seberang telepon –bahkan seberang benua mengingat jarak lokasi mereka saat ini. Walaupun bukan pertama kalinya Siwon pergi untuk urusan bisnis, namun untuk perjalanan ini Siwon merasa begitu merindukan Kyuhyun. Bahkan sebelum menaiki pesawat, Siwon sempat berpikir untuk batal pergi.

Tapi ia tahu kalau Kyuhyun tidak akan menyukai jika Siwon mengabaikan tanggung-jawabnya.

“Sayang…”

Kyuhyun menggumam.

“Aku mencintaimu.” Siwon mengusap wajahnya frustasi. Rasa rindunya pada Kyuhyun bisa membunuhnya saat ini juga. “Oh, Tuhan… Aku benar-benar merindukanmu.  Aku ingin pulang padamu.”

“Jangan seperti itu, Siwon. Tidak apa-apa, ini hanya untuk beberapa hari. Lakukan pekerjaanmu  lalu kau bisa pulang. Kami akan menunggumu.”

“Aku akan mempercepat pertemuannya. Aku tidak akan peduli jika Changmin dan Yunho ingin bertemu dulu. Setelah dokumen ditanda-tangani, aku akan langsung ke bandara dan pulang.”

“Baiklah, kau bisa lakukan itu. Tapi.. sebenarnya ada hal yang ingin kuminta selagi kau berada di Seoul, Siwon.”

Siwon menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur dan menghembuskan nafas. “Apa?”

“Bisakah kau menemui kakakku?”

*****

Haneul menyampirkan tasnya pada bahu dan bersiap untuk pulang.

Ia telah menyelesaikan catatan terakhir untuk beberapa pasien dan sekarang Haneul hanya ingin pulang dan tidur. Sepanjang lorong menuju lift, Haneul tersenyum tipis ketika beberapa suster menyapanya. Bahkan sesekali, Haneul harus bertenti ketika ia bertemu dengan beberapa pasiennya.

Haneul hanya tersenyum dan menjawab semua pertanyaan pasiennya secara auto-pilot. Entah apa saja yang dikatakannya sebagai jawaban. Pikiran Haneul sedang begitu kalut. Lepas dari pasien-pasiennya, Haneul akhirnya sampai di depan lift.

Ketika pintu lift terbuka, Haneul sedikit membungkuk pada dokter Do –salah satu direktur rumah sakit– dan dokter Ahn.

“Ah… Dokter Kang. Apa waktu shiftmu sudah selesai?” tanya dokter Ahn.

Haneul berjalan masuk ke dalam lift tersebut dan mengangguk. “Ya, dokter Ahn,” ujarnya singkat sembari menekan tombol basement parkir. Well, Haneul merasa sedikit canggung.

Ketika lift kembali terbuka, Haneul kembali terkejut dengan sososk Changwook.

“Oh, dokter Ji!” seru dokter Ahn.

Changwook menunduk hormat lalu memasuki lift. Ia menekan tombol lantai lobby lalu sedikit melirik pada Haneul. “Kau ingin pulang dokter Kang?”

Haneul menatap Changwook lalu memberi respon hanya dengan anggukan kepala. Oh, Haneul tidak bisa bicara terlebih dengan keberadaan dokter Ahn dan dokter Do bersama mereka di lift yang sempit itu. Suasanya begitu sunyi dan sangat canggung. Walaupun begitu Haneul bisa mendengar dokter Do dan dokter Ahn sedang bicara dengan suara pelan.

Haneul menghembuskan nafas dan melirik Changwook. Ia jadi teringat dengan ucapan Haesa tentang Changwook yang sering datang ke rumah ketika ia libur dan ibunya bertanya mengenai pernikahan. Haneul ingin bertanya kenapa Changwook tidak pernah menceritakan itu padanya. Dan mungkin juga ingin kembali menanyakan apa yang sebenarnya ingin diberikan Changwook padanya.

Rasanya semua pembicaraan tentang hal pernikahan, membuat Haneul sesak. Dia tidak tahu bagaimana kejelasan hubungannya dengan Changwook di masa depan. Terlebih terkait pekerjaan mereka. Apakah mereka harus berkorban sangat besar demi hubungan tersebut? Kehilangan pekerjaan mereka? Kehilangan reputasi mereka?

Lift berhenti di lantai lobby, Haneul sedikit bergeser agar dokter Do dan dokter Ahn bisa keluar. Ia juga kembali sedikit membungkuk memberi salam.

“Kau tidak keluar, dokter Ji?” tanya dokter Ahn.

Hal tersebut membuat Haneul menegakkan tubuhnya dan menatap Changwook. Pria itu menggeleng. “Saya lupa sesuatu, dokter Ahn. Saya akan kembali ke atas untuk mengambilnya.”

Dokter Ahn hanya mengangguk. Lalu pintu lift kembali tertutup dan bergerak turun ke lantai basement parkir. Tapi Haneul masih menatap Changwook dengan lekat. Ia tahu kalau itu hanya sebuah alasan. Toh, Changwook tidak menekan tombol lantai apa pun.

Saat pintu lift kembali terbuka di lantai basement, Haneul lalu bergegas keluar dan berjalan menuju mobilnya. Ia bisa mendengar suara langkah kaki Changwook yang mengikutinya. Tapi pria itu tidak mengatakan apa pun padanya. Haneul tidak tahu apa yang diinginkan oleh Changwook sebenarnya.

Saat Changwook memintanya memberikan waktu untuk berpikir, Haneul memberikannya. Karena itu juga yang dilakukan Changwook ketika Haneul memintanya waktu sebelum ia memberitahu keluarganya tentang hubungan mereka. Haneul merasa itu cukup adil. Namun, kini ia tidak tahu apakah ini benar-benar adil untuk mereka.

Langkah Haneul terhenti. Begitu juga dengan Changwook.

“Changwook…” ucap Haneul pelan kemudian ia berbalik dan sebelum bisa mengatakan apa pun, Changwook meraih wajahnya lalu mencium bibirnya.

Sontak Haneul terbuai oleh ciuman lembut tersebut. Setelah bertahun-tahun, ciuman Changwook akan selalu memberi efek yang sama pada tubuhnya. Haneul mendesah lembut ketika menarik tubuhnya ke dalam dekapan tubuh Changwook.

“Aku mencintaimu, Han..” bisik Changwook.

Haneul melepaskan ciuman tersebut dan menatap kekasihnya dengan seksama. “Changwook…”

Tangan Changwook bergerak menyentuh pipi Haneul. Ujung jemarinya mengusap lembut dan secara perlahan. Haneul memejamkan matanya, sentuhan lembut jemari Changwook membuatnya terbuai. Semua kata yang hendak diucapkannya menghilang pada ujung lidahnya.

Kemudian Haneul memegangi pergelangan tangan Changwook dan membuka mata. “Aku…”

“Tunggu. Biarkan aku bicara untuk kali ini. Sesuatu yang ingin kuberikan padamu dan segala hal penjelasan yang ingin kau ketahui, semuanya akan kuberikan. Malam ini, datanglah ke apartment. Aku akan pulang sebelum pukul delapan. Aku akan mengatakan semuanya Han,” ucap Changwook.

Haneul terdiam untuk sejenak. Ia menarik tangan Changwook dari wajahnya lalu mengusap buku-buku jemari pria itu perlahan. “Setidaknya…” Haneul menghembuskan nafas. “Katakan padaku apa yang ingin kau bicarakan. Sesuatu yang kau tutupi selama ini dariku.”

“Han…”

“Tidak, Changwook. Aku tidak meminta penjelasan lengkap untuk saat ini. Tapi paling tidak kau bisa mengatakan hal yang ingin kau jelaskan padamu, itu baik ataukah buruk? Hanya untuk mengurangi rasa gugupku.”

Changwook tersenyum tipis. Kemudian ia mencium kepala Haneul. “Ini sesuatu yang baik. Percayalah…”

*****

Pertemuan Siwon dengan perwakilan HJ Company untuk kerjasama kedua perusahaan berjalan cukup lancar. Setelah mendengarkan presentasi serta melakukan kunjungan pada salah satu pabrik, akhirnya Siwon menyetujui kerjasama tersebut. Selain karena Siwon yang memutuskan untuk mempersingkat waktu tinggalnya di Seoul, ia sebenarnya sudah menetapkan hati untuk menerima tawaran kerja-sama tersebut jauh hari tanpa perlu Siwon harus datang ke Seoul. Mereka hanya perlu saling bertukar dokumen. Tapi jika melakukannya hanya dengan mengirim dokumen dengan jasa kurir atau bahkan lewat email, itu sangatlah tidak professional.

Selepas penanda-tangannya dokumen, Siwon berencana pergi menemui Cho Ahra –sesuai dengan keinginan Kyuhyun. Sebelumnya, Kyuhyun sudah mengirimkan alamat email agar Siwon bisa menghubungi Ahra terlebih dahulu. Dan tanpa menunggu waktu lama, Ahra membalas email darinya dan menyetujui untuk bertemu dengan Siwon.

“Hey… Kau yakin akan datang ke perusahaan itu?” tanya Changmin.

Sepupunya itu datang menemuinya di kantor HJ setelah mendengar kalau Siwon berencana akan langsung pulang ke Praha pada penerbangan malam ini. Lebih cepat dari rencana semula yang dikatakan oleh Siwon. Changmin merasa jengkel dengan keputusan Siwon tapi dia tidak bisa melarang sepupunya itu untuk pergi.

“Dia akan menungguku di lobby. Kyuhyun memintaku menemuinya,” ucap Siwon.

Changmin yang berada di balik kemudi sekilas melirik padanya. “Dia mengatakan alasannya? Kenapa kau harus menemui kakaknya.”

Siwon terdiam. “Tidak. Kyuhyun hanya bilang untuk menemuinya, mungkin memastikan bahwa kondisi kakaknya baik-baik saja jika aku yang melihatnya sendiri.”

“Kalau untuk melihat kondisi kakaknya, bukankah seharusnya dia datang sendiri untuk menemuinya,” tukas Changmin. Siwon menatapnya lekat. “Atau… sebaliknya. Ahra bisa datang ke Praha. Lagipula mereka beberapa-kali saling menghubungi, bukan?”

“Changmin…”

“Aku tahu! Tapi ini sudah lima tahun, Siwon. Kau cukup sering datang ke Seoul, walaupun hanya untuk pekerjaan, tapi kenapa Kyuhyun tidak boleh melakukannya juga? Selain itu, Yunho juga mengkhawatirkan Jinri. Dia selalu berusaha mengajak adikmu itu setiap kali kita bertemu, tapi Jinri selalu menolaknya. Kau tahu, masalahmu itu hanya dengan ibumu, bukan? Tapi rasanya kau malah menjauhi seluruh anggota keluarga.”

Siwon tidak mengatakan apa pun. Karena ia tahu kalau Changmin benar. Semua permasalahan ini hanyalah antara dirinya dengan ibunya. Siwon mungkin bisa memilih keluar rumah tanpa perlu pergi jauh ke Praha, tapi ibunya tidak akan berhenti. Bahkan hingga hari ini.

Changmin memutar kemudi. “Siwon, tidakkah kau ingin kembali ke Seoul? Bukan ke Choi Group, tapi paling tidak kau bisa kembali tinggal di sini atau di kota lainnya bersama dengan Kyuhyun dan Jaehyun.”

*****

Ahra tersenyum pada Siwon.

Pria yang berdiri dihadapannya itu hanya menatap lekat pada seorang anak perempuan dalam pangkuannya. Itu sudah dilakukannya sejak pria itu datang menemuinya di lobby. Tapi karena terlalu banyak orang yang memperhatikan, Ahra akhirnya membawa Siwon naik ke ruangannya.

“Namanya Ahn Hyeon. Usianya baru dua tahun. Ia lahir tepat di tanggal ulangtahun Kyuhyun,” ucap Ahra.

Siwon masih menatap gadis kecil itu. Wajahnya sedikit mirip dengan Ahra, tapi Siwon bisa melihat kalau Ahn Hyeon mempunyai mata seperti Kyuhyun. Bahkan jika Siwon tidak mengetahuinya, Ahn Hyeon bisa dikatakan adalah anak Kyuhyun.

“Benarkah? Ta-tapi Kyuhyun tidak memberitahuku kalau kau….”

“Aku memang sengaja tidak memberitahunya. Bukan untuk alasan yang buruk, tapi aku harus melakukannya sejak Kyuhyun… Well, kau mungkin tahu maksudku, Siwon.”

Siwon hanya mengangguk. Fokusnya masih tertuju pada Ahn Hyeon. Gadis itu begitu manis dan menggemaskan. Kyuhyun akan sangat senang mengetahui kalau dirinya sudah menjadi paman.

“Apa kau tidak ingin memberitahu Kyuhyun?”

“Tentu saja, aku ingin mengatakan tentang Hyeon pada Kyuhyun. Tapi aku masih ingin menunggu. Tolong jangan katakan apa pun mengenai Hyeon padanya.”

Siwon terdiam sejenak. Entah alasan apa yang membuat Ahra menunda memberitahu Kyuhyun mengenai keponakannya tersebut. Tapi ia cukup yakin bahwa Ahra mempunyai alasan yang logis terkait hal tersebut. Lagipula dia juga tidak bisa memaksa Ahra. “Aku tidak bisa berjanji. Kami sepakat untuk tidak saling berbohong mengenai apa pun. Jika dia bertanya, maka aku akan menjawabnya.”

Ahra menghela nafas. Ia menatap putrinya dan mengusap kepalanya lembut. “Aku tahu. Tapi biarkan aku yang memberitahunya sendiri. Bahkan jika dia bertanya, katakan saja kalau aku yang melarangmu bicara.”

Siwon tersenyum tipis dan mengangguk kecil. “Boleh aku menggendongnya?”

“Tentu saja.”

Siwon lalu menghampiri Ahra untuk menggendong Ahn Hyeon dengan hati-hati. Tubuh gadis itu begitu kecil. Bahkan ketika Jaehyun berusia dua tahun, tubuhnya tidak sekecil ini. Siwon tersenyum ketika tangan Ahn Hyeon menyentuh wajahnya.

“Hey, sayang. Senang bertemu denganmu. Apa kau tahu? Paman Kyuhyun-mu juga mempunyai seorang anak. Dia adalah sepupumu. Kau ingin tahu namanya? Choi Jaehyun. Sepupumu bernama Choi Jaehyun.”

*****

Yifan tersenyum ketika ia melihat Joonmyeon yang baru turun dari taksi. Ia berjalan menghampiri saudaranya tersebut. Joonmyeon membuka pintu gerbang dan ikut tersenyum.

“Hai…” sapa Yifan.

“Hai, kau terlihat baik. Sepertinya berada di London benar-benar cocok untukmu,” tukas Joonmyeon.

Yifan tersenyum. “Dan kau benar-benar terlihat formal.”

Joonmyeon menunduk untuk melihat penampilannya. Well, dia masih memakai pakaian formal selepas dari pertemuan dengan Choi Siwon –well, walaupun pria itu mengenalkan dirinya sebagai Andrew Choi, tapi Joonmyeon akan tetap memanggilnya dengan sebutan Choi Siwon atau mungkin hanya dengan Tuan Choi. “Ah… aku baru selesai dari pertemuan dengan klien dan langsung ke sini.”

“Joonmyeon!!!”

Yifan menoleh dan melihat Sara yang bergegas menghampiri Joonmyeon dan memeluknya dengan erat. Yifan hanya bisa menggelengkan kepala. Rasanya ibunya jauh lebih merindukan Joonmyeon dibandingkan dirinya. Padahal Joonmyeon masih berada satu kota dengannya, sedangkan Yifan berada di London.

“Mom, sepertinya kau jauh lebih senang melihat Joonmyeon dibandingkan ketika kau menjemputku di bandara,” sahut Yifan.

Sara sontak melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Joonmyeon. Ia mengusap lembut pipi Joonmyeon dengan ibu jarinya. “Hey, itu tidak benar. Mom sangat senang melihat kalian berdua pulang.”

Joonmyeon tertawa kecil sedangkan Yifan hanya memutar mata. “Aku pulang, Mom.”

“Selamat datang, sayang. Pekerjaanmu sudah selesai?”

“Belum. Tapi karena pertemuan dengan klien dari Praha selesai lebih cepat, atasanku mengijinkanku pulang. Itupun karena ancaman Mom sebelumnya,” ujar Joonmyeon.

Sara menyeringai. “Setidaknya itu berhasil, bukan? Ayo masuklah. Kau bisa mandi dan berganti pakaian. Mom sedang menyiapkan makan malam. Appa akan segera pulang.”

Joonmyeon mengangguk. Kemudian Sara masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Yifan kembali menatap Joonmyeon dengan lekat. Lalu ia meletakkan tangannya di atas kepala Joonmyeon dan menyeringai.

“Sepertinya selama lima tahun, kau tidak bertambah tinggi, saudaraku.”

Joonmyeon menepis tangan Yifan dari kepalanya. “Aku bertambah tinggi sekitar sepuluh senti, tapi sepertinya kau yang terlalu tinggi.”

“Itu tidak cukup, Joon.”

Joonmyeon hanya mendengus. Tapi kemudian ekspresinya berubah. Joonmyeon menatap Yifan dengan lekat. Sebuah senyuman terkembang di wajahnya.

“Apa kau benar-benar pulang? Atau kau akan kembali lagi ke London?” tanya Joonmyeon.

“Kenapa? Apa kau begitu merindukan diriku?”

Joonmyeon tidak mengantakan apa pun. Yifan menghela nafas pendek lalu berdiri di samping Joonmyeon. Ia merangkul bahu Joonmyeon. “Aku harus kembali lagi ke London untuk beberapa bulan. Setelah itu aku akan kembali pulang,” tuturnya.

Joonmyeon menggumam pelan.

Setelah semua hal yang terjadi, awal situasi mereka masih sangat canggung. Joonmyeon terkadang masih tidak tahu bagaimana harus bersikap pada Yifan sedangkan Yifan sendiri masih menata perasaannya pada Joonmyeon. Berbulan-bulan mereka berusaha untuk mengakrabkan diri, itu pun sedikit paksaan dari Sara agar mereka selalu bersama-sama di sekolah. Oh, tentu saja, karena hal tersebut berita bahwa Kim Joonmyeon dan Wu Yifan telah menjadi saudara adalah topik hangat yang selalu dibicarakan.

Ada banyak reaksi yang muncul akibat fakta tersebut. Lebih pada reaksi para siswa dari dua kelas dan anggota dewan siswa. Terlebih karena Joonmyeon dan Yifan juga, beberapa peraturan antara dua kelas diubah oleh pihak sekolah. Sebenarnya bukan sesuatu yang buruk, hanya saja reaksinya tidak terlalu baik. Tapi Yifan sepertinya tidak terlalu peduli. Mungkin karena itu adalah tahun terakhir mereka di KAMSH.

Selama perjalanan tahun terakhir itu, mereka mengikuti rencana yang sudah dipersiapkan. Yifan melakukan persiapan untuk pergi ke London sedangkan Joonmyeon sibuk dengan tutornya untuk menghadapi ujian masuk universitas. Dan jujur saja, semua itu berjalan sangat lancar. Tanpa ada masalah apa pun.

Bahkan Joonmyeon berhasil masukUniversitas Inha. Oh! Jujur saja, saat menjawab semua soal-soal ujian, Joonmyeon merasa sangat tidak yakin dengan kemampuannya. Jadi, Joonmyeon menganggap bahwa ia berhasil masuk Inha adalah sebuah keajaiban semata.

Berbeda dengan reaksi Kakeknya yang terlihat cukup senang.

Kemudian setelah kelulusan, Yifan langsung berangkat ke London ditemani oleh Sara sedangkan Joonmyeon pindah ke dormnya di Incheon. Mereka terpisah oleh jarak yang begitu panjang. Tapi tidak ada yang tidak bisa diatasi oleh kemajuan teknologi dan internet. Seminggu sekali, Joonmyeon dan Yifan saling berbalas email. Sekali lagi, itu adalah permintaan dari Sara. Sebagai syarat agar Yifan bisa pergi ke London dan Joonmyeon bisa pindah ke dorm di Incheon. Memang sedikit licik. Dan walaupun sebenarnya sangat sulit untuk dilakukan karena kesibukan Yifan dan Joonmyeon akan semua tugas-tugas mereka.

Namun, semua itu terbayarkan dengan sepadan.

“Kau sudah mendapatkan tawaran kerja di sini?” tanya Joonmyeon selagi mereka berjalan menuju pintu rumah.

Yifan menggumam. Tangannya masih merangkul bahu Joonmyeon. “Ada sebuah perusahaan iklan yang mengajakku untuk bergabung dengan team creative mereka. Walaupun agak sedikit melenceng karena aku tidak pernah membuat iklan, tapi mereka akan menempatkanku pada department art and visual.”

“Itu bagus sekali. Oh ya, saat aku menemui Kyungsoo, dia menanyakan satu hal tentang dirimu.”

Yifan menghela nafas. Ia menarik tangannya dari bahu Joonmyeon lalu membuka pintu. Joonmyeon menatap Yifan dengan lekat. “Apa?”

Joonmyeon menyeringai. “Apakah kau sudah punya pacar? Pacar pria.”

*****

Haneul memasukkan passcode pintu apartment Changwook. Namun, ia merasa tidak yakin untuk memasuki apartment tersebut. Sepanjang hari, Haneul memikirkan apa yang ingin dikatakan oleh Changwook. Dan walaupun kekasihnya itu sudah mengatakan bahwa itu adalah sesuatu yang baik, tapi Haneul tetap merasa begitu gugup.

Setelah satu tarikan nafas panjang, Haneul membuka pintu dan berjalan masuk. Ia melepaskan sepatu di foyer dan melangkah menuju ruang tengah. Tapi langkahnya terhenti saat ia melihat sosok Changwook yang sedang berdiri membelakanginya tengah memandang ke arah luar jendela.

Haneul menatap punggung besar dan tegap dari kekasihnya tersebut. “Changwook…”

Pria itu kemudian berbalik. Di tangannya ia tengah memegang segelas wine. Changwook tersenyum tipis. Ia berjalan menghampiri Haneul dan ketika melewati coffee  table, Changwook meletakkan gelas wine yang dibawanya.

“Hai…”

“Ha-hai…” ucap Haneul dengan gugup. “Ini… Ada apa? Aku pikir kau hanya ingin bicara.”

Changwook tidak berkata apa pun. Dia malah meraih tangan kanan Haneul lalu menariknya berjalan menuju jendela. Pria itu juga menautkan jemari mereka dengan erat.

“Changwook, apa yang…. Oh!”

Ucapan Haneul terhenti ketika ia melihat sesuatu di luar jendela. Changwook tersenyum dan membuka jendela balkon agar mereka bisa keluar dan melihatnya dengan jelas. Udara malam berhembus semilir dan terasa lembut menyentuh wajah Haneul.

Pandangan Haneul tidak lepas dari sesuatu yang diperlihatkan oleh Changwook.

“Kau tahu, ini terkesan begitu klise. Bahkan aku yakin kebanyakan gadis tidak akan menyukai cara seperti ini,” ucap Changwook.

Haneul beralih menatapnya dengan lekat. Changwook melanjutkan, “Jujur saja, Jiyeon selalu saja menolak rencanaku. Sampai akhirnya aku menyerah dan tidak bertanya mengenai pendapatnya. Sebenarnya aku ingin bertanya pada orang lain, tapi aku yakin mereka tidak mempunyai pengalaman seperti ini. Jadi, kulakukan sesuai keinginanku.”

“Changwook…”

Changwook menghela nafas ketika ia melihat gedung seberang apartmentnya. “Kau tahu, aku mengalami banyak kesulitan untuk melakukan hal itu. Karena itulah aku membutuhkan waktu. Jadi, aku harap kau menyukainya –yah walaupun ini sangat klise dan kekanakan.”

Haneul kembali menatap gedung seberang dengan lampu beberapa unit apartment yang menyala sedangkan yang lainnya padam. Lampu-lampu itu membentuk sebuah hati besar. Well, jujur saja Haneul merasa bahwa itu sangatlah kuno.

“Jadi, apa kau menyukainya?” tanya Changwook.

Haneul tertawa kecil. “Apa kau bertanya pada Ibuku?”

“Hanya meminta sedikit nasihat dan Ibumu menceritakan bagaimana Ayahmu melamarnya dahulu. Ini tidaklah sama,” ujar Changwook. “Lagipula Ibumu mengatakan jika ia menyukainya, anak-anaknya juga akan menyukainya.”

Haneul masih tertawa. Semua rasa gugup itu hilang dengan sekejap. “Mungkin akan berhasil pada Haesa.”

“Tapi aku hanya ingin cara ini berhasil pada putranya, Kang Haneul.”

Tawa Haneul berhenti. Ia memandang Changwook dengan lekat. Inilah yang disembunyikan dari Changwook darinya. Sejak Jiyeon datang padanya, Haneul sudah mempunyai asumsi bahwa ini yang ingin disampaikan oleh Changwook. Terlebih dengan ucapan Haesa mengenai Changwook yang sering datang ke rumah saat hari liburnya tanpa memberitahunya apa pun.

Pernikahan.

Tentu saja, Haneul sangat senang bahwa Changwook memikirkan akan membawa hubungan mereka lebih jauh hanya dari sekedar berkencan. Tapi ketakutannya pada reaksi yang muncul saat mereka coming out secara resmi –terlebih di rumah sakit– itu yang menutupi semua kegembiraan Haneul. Mereka tidak bisa kehilangan apa yang telah mereka kerjakan dan capai dengan susah payah.

“Changwook, apa kau sudah berpikir tentang…”

“Hey!” sela Changwook cepat. “Aku sudah memikirkan segalanya, Han. Aku sudah memberitahu dokter senior dan beberapa direktur department bedah.”

Mata Haneul membulat. “Apa?!!”

“Tunggu dulu! Dengarkan dulu. Hanya aku. Aku tidak menyebut namamu. Aku hanya mengatakan tentang seksualitasku dan tidak pernah menyebut nama dirimu. Selain itu, aku juga mengatakan bahwa aku siap bertanggung-jawab atas tindakan itu. Jika mereka ingin memecatku, aku akan menerimanya.”

“Lalu?”

Changwook menarik nafas. “Reaksinya tidak seperti dugaanku.”

“Maksudmu? Changwook, katakan dengan jelas.”

“Mereka akan melakukan sidang kode etik. Hasil sidang itu akan menentukan apakah aku masih layak bekerja di rumah sakit atau tidak.”

Mata Haneul terbuka lebar. “Apa?! Sidang kode etik? Changwook, kau tidak melakukan kesalahan apa pun. Seksualitasmu…”

Changwook memegangi kepala Haneul. “Han, dengarkan aku. Ini adalah hal yang wajar. Mereka tidak pernah mendapatkan kasus seperti ini sebelumnya. Aku bisa memahaminya. Lagipula… Apa pun keputusan sidang itu tidak akan merubah segala yang sudah terjadi. Termasuk keinginanku untuk menikahimu.”

“Menikah? Kau sungguh-sungguh…”

“Tentu!” Kemudian Changwook merogoh saku celananya untuk mengeluarkan sebuah kotak kecil lalu membukanya. Terdapat sebuah cincin di dalamnya. “Aku rasa ini bukanlah cara melamar yang berkesan untukmu. Tapi… Kang Haneul, maukah kau menikah denganku?”

Haneul memandang cincin tersebut dengan lekat. Ujung lidahnya ingin segera menjawab pertanyaan itu, namun hati serta pikirannya yang menahan dirinya. “Changwook, bagaimana jika hasil sidang kode etik itu adalah kau dipecat? Kau tidak akan bisa bekerja di rumah sakit lain jika hal ini sampai tersebar.”

“Jangan khawatikan diriku. Aku yang akan mengurusnya. Bahkan jika aku dipecat dan tidak bisa bekerja di rumah sakit lain, aku tidak akan menyesal karena aku bisa melindungimu. Ada banyak pekerjaan lain yang bisa kukerjakan, Han. Tapi sekarang, paling tidak, bisakah kau menjawab pertanyaanku?”

Seperti yang dikatakan oleh Changwook, ini bukanlah cara melamar yang berkesan bagi Haneul. Tapi mengingat mereka sama-sama pria, rasanya akan sulit membayangkan bagaimana cara untuk melamar pria lainnya tanpa harus terkesan klise, cheesy atau bahkan kuno.

Namun, apa yang dilakukan oleh Changwook untuknya, adalah sesuatu yang akan selalu diingat oleh Haneul sepanjang usianya.

Haneul tersenyum dan mengangguk. “Ya, aku akan menikah denganmu, Ji Changwook.”

*****

NOTE: Maaf telat sehari…

Masih ada part 3 -weleh sampe kapan coba bisa say goodbye sama fanfic ini- dan semoga bisa dipublish tanggal 21, tepat empat tahun blog ini. Dan semoga juga part 3 adalah epilog part terakhir.

Amin?

Advertisements

29 thoughts on “[SF] Scarface Part 60 – Epilog Part 2

  1. aku jadi rindu moment Wonkyu. apakah akhirnya mereka akan kembali k Seoul? masih penasaran sama keadaan keluarga Wonkyu setelah mereka pergi. d tggu kelanjutannya ne!! ☺

  2. makin penasaran ma gimna akhir dr kisah wonkyu ini apa nanti akhirnya merka menikah,blik ke seoul… dan g tau knapa kyk ada sesuatu ttg kyu ma won gtu… haneul ma changwook dah goal ya fix bkal married.. yifan/joon jg mereka fix jd saudara… wonkyu jgn2 mlh married di korea ntar ahh ya sdh ditunggu aja part 3nya…

  3. Meskipun wonkyu udah hidup bersama dan bahkan punya “anak”, tapi rasa rasanya ada yang kurang, masih ada yang menggajal gitu. Apa karena mereka belum menikah?
    Selain itu gimana keluarga mereka, terutama choi yoojin dan eomma cho?

    Joonmyeon dan yifan udah benar benar jadi saudar ya. Jadi yifan udah punya kekasih atau belum? pria atau wanita?
    Haneul akhirnya resmi di lamar changwook wah mereka lebih beruntung dari wonkyu. Penasaran ending wonkyu gimana. Menikah dan kembali ke seoul atau tetap di praha..

  4. Aduhhh aku kira udah tamat kak. Semangat banget waktu list update. Tapi ternyata Ada part 3. Semoga bisa di update sebelum tanggal 21. 😜
    Semangat kak nulisnya! Walaupun aku jarang comment karena nggak tau harus nulis apa tapi aku suka banget semua fanfict kakak.

  5. Masih ada ganjalan besar yg bikin siwon belum bsa ngasi ijin kyuhyun bwt ikut ke korea.. Dia takut kyuhyun bakal nginget masa2 kelam mereka saat dsana, yg ujung2ny malah bkin kyuhyun tmbah sedih..
    Uuhhh kapan mreka bakal bener2 bsa ngrasain kebahagiaan ya?
    Ditunggu bgt epilog ke 3 nya..

  6. Hhooeehh kapan wonkyu nikah..
    Masak keduluan changwook haneul..
    Dan yifan joonmyeon cuman bisa kakak adek ya.. pukpukpuk
    Ditunggu endingnya..

  7. aku berharap cerita ini akan happy ending, wonkyu menikah & semua permasalahan bisa diatasi terutama dgn keluarga mereka..
    ditunggu update selanjutnya yaaa..

  8. Cuma bisa menguping pembicaraan WonKyu lewat telfon tadi.Tak apa.
    Syukurlah…Changwook dan Haneul sdh memastikan jalan untuk hubungan mereka.Semoga berjalan lancar.Apa Yifan masih berharap terhadap Joon??kira-kira apa jawaban dia soal pertanyaan Joon tadi ya??
    Aq ..hnya bisa mncoba mengira-ngira.
    Untuk WonKyu…sepertinya mereka masih betah seperti itu.Apa hubungan mereka benar2 tidak bisa diterima oleh keluarga yg masih menentangnya???hmmm

    Jeongmal gumawo eonni…Fighting!!!

  9. Wow nunggunya lama juga ya tgl 21 hehehe..
    Tapi selingannya bisa termasuk cepet juga kan tayangnya two us.. Mungkin jalan ke tgl 21 udah masuk chap berapa gith hahaha brandai2..

    Hubungan wonkyu masih ganjal restu dari segala sisi..dan kenapa ahra g kasih tau soal anaknya ke kyu ya??
    Pasti kyu bakalan kecewa tapi ya gimana lagi…
    Kasian wonkyu harus tinggal di praha jauh dari keluarga bahkan ya berasa udah gada punya keluarga..
    Gak tau deh dan g bisa nerka bagaimana endingnya..
    Pengen happy end pastinya ..dan ngarep ortu kyu dan ibunya siwon ngalah soal ini..
    Gimanapun wonkyu udah g bisa dilepas

  10. haneulxchangwook (lupa nama ship nya haha)
    congratsss!!! akhirnya changwook ngelamar haneul juga~ semoga bisa segera menikah~ dan semoga changwook ga dikeluarin dari rumah sakit tempat mereka kerja huhu

    krisho
    still little bit bitter mrk ga bisa jadi pasangan disini tapi yaudah gapapa hehehe jalan cerita semuanya ada di penulis q sbg pembaca menerima saja :”””) anyway! its good to see that mrk baik-baik aja skrg ga awkward2 amat kayak duluuu banget ya biar kris masih ada rasa buat joon tp seenggaknya kris bisa memendam itu semua. smg mrk makin ga awkward hehe >< haha bentar lagi ketemu kok bosq tahan tahan dulu kangennya hihi

    1. (hm knp comment yang wonkyu ga masuk ku comment lagi aja)

      waaa siwon masih inget sama joon haha dan pas siwon ngepat kepalanya joon aku bahagia sepercik gt hahaha ><)

      1. aku mengerti kenapa jinri mungkin gamau ketemu dulu sama siwon…. semoga di part selanjutnya mrk bisa “baikan”. siwon dan jinri juga pasti dilubuk hati yg paling dalam saling kangen satu sama lain :”)
        siwon emang deh ya ga bisa jauh dari kyu&jaehyun bentar lagi ketemu kok bosq tahan tahan dulu kangennya hihi (harusnya kaliman bentar lagi lala ada di comment ttg wonkyu lol ><)

  11. Nggak ada moment wonkyu…padahal kangen banget sama mereka 😭
    Kenapa ahra menyembunyikan anaknya dari kyu??
    Part 3 banyakin wonkyu moment yang sweet2 ya, please 🙏
    Update nya tgl 21 ya??? Lama bingit sih….😁

  12. Satu pasangan kyaknya dh final, tinggal tunggu wonkyu.
    Knapa Ahra menyimpan berita bahagia itu, psti ada maksudnya
    Trus wonkyu kapan nikah??… biarpun mungkin gk da kluarga yg mendampingi.

  13. Wow diera eonni tepat waktu seneng dehhh makasi yahhh hehhe
    Kak diera segera di tunggu ya part selanjutnya…
    Q juga gak bisa move on sama ff ini huaaa…
    Jangan tamat deh… Hahha terusin ajah… Heheh

    Semangat kak diera…

  14. Tanggal 21..,
    20 hari lagi. Semoga.heeehee
    Menunggu penyelesaian untuk wonkyu secara sepertinya kalo satu part lagi masih kurang apalagi masih ada cast2 lainnya

  15. Msh ada kelanjutannya lagi ya…
    Bagaimana kelanjutan dr hubungan wonkyu, apa kyuhyun akhirnya akan diterima di keluarga choi dan bs kembali ke korea??

  16. aku kira aku bener2 bakal ktinggalan baca nih fanfic krna acara kamrin, tau nya ngga 😂
    iya ih tega bgt sbenernya siwon ga ngajak kyu sma jae ke korea, pdhal kyu udh pgn bgt pulang ke korea smbil bawa jae.
    Ahra trnyata jg udh punya anak,kirain anaknya seumuran sma jae trnyata bru 2 thn XD
    Jineul udh lamar2an nih,part depan mreka udh nikah dong? hoho
    part depan bnyakin moment wonkyu dong ra? kangen sma moment wonkyu soalnya huhu

  17. Makin penasaran dengan akhir ff ni, apa Wonkyu akan benar-benar bahagia? Hubungan mereka perlu restu semua keluarga, baru mereka benar-benar bahagia.
    Ditunggu lanjutannya

  18. Kangen moment wonkyu dan keromantisan siwon..
    Tapi hub mereka masi ada yang ganjel ya T.T
    ayo dong, sampe udah punya anak masa belom married juga ??
    Jikang udah mau married..
    Krisho jadi brothership..
    Wonkyu ?..
    Juga kasian sama kyu, pasti dia kangen pengen pulang ke korea. Ayo dong won, masa tega ?
    Sebenernya kirain ini last chap, ternyata masi lanjut :3
    tanggal 21 ? Lumayan lama si, tapi yang penting update ! Fighting ! Aku berharap banyak keromantisan wonkyu di ep 3 nya~
    two of us juga~
    *reader ga tau diri*
    ahaha.. Apakah wb nya udah ilang ? Cepet sembuh dan lanjutin ff nya *plak*
    oke, ini cuma ocehan gajelas ._.
    Dan maaf telat comment, hhm.. Kuota XD
    daripada makin gaje, udalah. Semangat ! Diera jjang ! ^^
    .
    Kimmy

  19. Yah kirain bakal selesai ceritanya
    Eh ternyata ada part 3 semoga aja di part selanjutnya wonkyu bisa married
    Semangat eonni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s