[SF] Scarface Part 60 – Epilog Part 1

prague

60

Epilog Part 1

“Marc, your Andrew calling again!!”

Di sebuah kantor berukuran standar, dengan tidak begitu banyak furniture hanya ada sebuah meja kayu sebagai pusat di mana ada komputer, tumpukan dokumen, beberapa pena, telepon dan sebuah pigura kecil, di hadapan meja tersebut ada tiga buah kursi yang diatur dengan apik,  lalu satu rak berukuran kecil diletakan di bawah jendela besar dan rak yang besar di salah satu dinding berisi ratusan dokumen lainnya yang sudah disusun dengan rapi.

Pemilik ruangan tersebut mengerang pelan sembari mengusap wajahnya yang terlihat lelah. Ia melepaskan kacamatanya dan menaruhnya di atas dokumen yang sedang ia tangani. “Just tell him, I’m busy!!” teriak sang pemilik ruangan tersebut.

“Okay!!”

Pria yang dipanggil Marc itu menghela nafas panjang. Ia memakai kacamatanya lagi dan berfokus pada dokumen di hadapannya. Pria itu mengambil pena dan mulai menandai kembali dokumen tersebut.

Ugh, I hate paperworks! Tell me again, why I took this job!

Dokumen demi dokumen dikerjakannya. Sembari menggerutu atau bahkan mengomeli sesuatu yang tidak berkaitan dengan dokumen tersebut. Setelah semuanya selesai, pria itu menekan intercome.

“Grace.. I’m done!”

Kemudian ia melepaskan kacamata tersebut dan membaringkan kepalanya di atas meja dengan perasaan lega. Setidaknya tumpukan dokumen itu akan segera pergi dari hadapannya. Dan pekerjaannya untuk satu minggu sudah selesai.

Tak lama, terdengar ketukan pintu. Pria itu mengangkat kepalanya dan memberi isyarat pada seorang wanita –Grace– untuk masuk. Well, itu pun karena pintunya sudah terbuka jadi pria itu tidak perlu mengatakan apa pun. Grace masuk diikuti dengan seorang pria yang langsung membawa tumpukan dokumen itu.

“Give it to James, Hans!” ujar Grace.

Lalu Grace memperhatikankan pria yang tidak bergerak dari mejanya tersebut. Ia tersenyum tipis. “Marc, are you alive?”

“Yes, I’m alive. Thank you for checking me, Grace.”

Pria itu –Marc mengangkat kepalanya dan melihat Grace yang tertawa. Ia mendesah pelan. “It’s done right? There is no paperwork again?” Grace hanya mengangguk. “Thank God! I maybe really need a vacation after this project over.”

“Well, maybe… you should call back your Andrew right now,” ujar Grace. “Marc, he already called at least twenty times. Just for today. And… every time he called, you just say ‘I’m busy’.”

“Becauce I AM busy! That paperworks will not get it done by itself. And, please stop with ‘your Andrew’!”

Grace mengangkat tangannya. “I don’t want to hear any complaint from you. Jeez, why you… Oh, wait! I can’t complaint either. If your… Oops! Okay, Andrew heard about this, maybe he’ll fired me.”

Marc tertawa kecil. “Maybe not firing you. Just… Give you another warning. Well, Andrew is… You know. We have another argument again two days ago. He being such an arsehole.”

“Am I going to have listening about your argument? Well, yes!!” Grace kemudian menarik sebuah kursi untuk duduk. “So, tell me! Gay couple argument always…”

“What?!”

“I don’t know… tense? Sexy? Hot? Especially, you two.  So, tell me. Is it about Dan again?”

*****

“Pap!!”

Seorang anak kecil berusia lima tahun berlari keluar dari gedung sekolah menuju seorang pria yang disebutnya ‘Pap’. Pria itu sedikit berlutut untuk menyambut anak kecil itu dan memeluknya erat. Ia tertawa kecil lalu mengendongnya dan mencium pipi sang anak kecil.

“Pap!! I’m already five,” eluh sang anak kecil.

Anak kecil itu memperhatikan ke sekeliling. Ada banyak orang tua yang menjemput anak-anak mereka. Well, mungkin ada beberapa yang menggendong anak mereka, tapi yang lain hanya menggandeng tangan dan membawa anak-anak mereka pergi. Sedangkan Pap selalu menggendongnya seperti ini setiap hari.

Anak kecil itu selalu protes, tapi tidak pernah didengar.

“So?” sahut Pap. Anak kecil itu memutar matanya lalu mencium pipi pria tersebut. Pap hanya tersenyum lalu berjalan menuju halte tram terdekat.  “Are you having fun, Dan?”

Dan mengangguk kecil. “Yes, but today its kinda boring. Mrs. Flo always told me to drawing or anything. I want learn math.”

“Wait till next year, son.”

“Yeah.. You and Dad always said that.” Dan kemudian langsung menutup mulutnya. Satu alis Pap terangkat melihat sikap Dan tersebut. “Sorry…”

“Sorry for what?”

“You and Dad still angry to each other? Because I asked Dad to bought me that VR toys, rite?” ujar Dan dengan suara pelan.

Pap menghela nafas panjang. Mereka sudah sampai di halte tram, tapi sepertinya tram belum datang. Jadi, Pap menurunkan Dan dan mengenggam tangannya erat. Dan mendongak untuk bisa melihat wajah Pap.

“Pap… Are you still angry with Dad?”

“Its complicated, Dan. I’m not angry about toys, Dan. But your Dad…” Pap menghembuskan nafas. “Can we talk about this at home? Tram is here.”

Dan hanya mengangguk kecil.

*****

“Kau, Choi Siwon, benar-benar sulit untuk dipercaya.”

Siwon mengernyit. “Aku?!!”

“Tentu saja! Lima tahun dan kau sama sekali tidak berubah. Aku senang melihat Kyuhyun yang berpikir rasional dibandingkan dirimu.”

Ia menatap wajah Changmin di layar komputernya dengan cemberut. Siwon tidak percaya kalau Changmin akan membela Kyuhyun. “Min, aku hanya melakukan apa yang menjadi keinginan anakku. Tidak lebih. Tapi Kyuhyun bersikap terlalu berlebihan.”

“Oh, jadi Jaehyun hanya anakmu sekarang? Well, itu memang benar.”

Siwon mengusap wajahnya. “Bukan itu maksudku, Min.”

“Tapi itulah kenyataannya, Siwon. Kita semua tahu kalau Jaehyun adalah putramu dan bukan putra biologis Kyuhyun. Choi Jaehyun dan bukan Cho Jaehyun. Adalah hakmu untuk memanjakannya dan memberikan semua yang diinginkan oleh Jaehyun. Well, Yunho dan Sooyoung juga terkadang bersikap sama pada anak-anak mereka. Aku pikir, Kyuhyun juga akan bersikap sama seperti dirimu –pada putranya sendiri.”

Siwon menyerah. Mungkin adalah kesalahannya untuk bicara dengan Changmin saat ini –terlebih di Seoul sudah hampir tengah malam. Keputusan yang buruk menghubungi Changmin pada tengah malam buta seperti itu. Siwon tidak akan melakukannya lagi.

“Dengar..” kata Siwon lagi. “Maaf karena menganggumu di tengah malam. Aku tahu kau besok pagi harus menghadiri meeting penting. Selain itu, mungkin istrimu juga tidak senang aku selalu menghubungimu di waktu seharusnya kau tidur.”

Well, setelah puluhan kali datang ke kencan buta yang diatur oleh Rae Won, akhirnya Changmin menemukan sosok gadis yang menurutnya tepat sebagai calon istri. Well, paling tidak Changmin tidak perlu emnjalani perjodohan yang diatur oleh Choi Daehan. Changmin dan istrinya mungkin tidak saling jatuh cinta, tapi mereka saling percaya terhadap hubungan yang mereka jalani. Itu sudah cukup bagi Changmin dan hasilnya pernikahan mereka berjalan baik selama empat tahun ini.

“Well, aku tidak mempermasalahkannya. Tapi permintaan maafmu, kuterima. Hanya saja, apa kau mengucapkan maaf pada Kyuhyun? Kau yang sudah bertindak berlebihan, Siwon. Tidak masalah jika kau ingin memanjakan Jaehyun, tapi pikirkan lagi sebenarnya apa yang membuat Kyuhyun marah padamu. Kau tahu, pria itu sudah berkorban banyak untukmu.”

Siwon terdiam. Itu memang benar. Kyuhyun sudah terlalu banyak berkorban untuk Siwon –demi hubungan mereka. Termasuk meninggalkan keluarganya di Seoul. Bahkan selama lima tahun mereka tinggal di Praha, Kyuhyun masih harus berkorban demi dirinya.

Siwon melirik Changmin yang masih tersambung pada layanan video call skype. Kemudian Changmin tersenyum lebar.

“Well, akhirnya kau berpikiran terbuka. Bicara lagi dengan Kyuhyun lalu selesaikan masalah kalian. Aku mungkin bisa membantu, tapi terbatas pada sambungan video call semata. Jika tidak, aku mungkin akan memukul kepalamu agar kau cepat sadar atas kesalahanmu.”

Siwon hanya menyeringai. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Seharusnya Kyuhyun dan Jaehyun sudah sampai di rumah dan Siwon mungkin bisa bicara lagi dengan Kyuhyun. “Baiklah, sebaiknya kau tidur. Nanti aku akan bicara lagi dengannya.”

“Itu bagus. Tapi… Kudengar kau akan kembali ke Seoul? Ada urusan?”

Siwon mengangguk. “Menemui salah satu klienku. Mungkin hanya dua atau tiga hari saja. Kenapa?”

“Ah… Jika hanya dua atau tiga hari, maka kau akan datang sendiri.”

“Ini adalah masalah bisnis. Tentu saja, aku akan pergi sendiri. Seperti biasanya,” tutur Siwon.

Changmin mendesah pelan. Well, Siwon akan selalu berusaha mengalihkan pembicaraan setiap kali mereka membicarakan mengenai ‘Seoul’. Dalam lima tahun terakhir, Siwon sebenarnya beberapa-kali pulang ke Korea –walaupun hanya untuk urusan bisnis. Siwon tidak pernah tinggal lama di Seoul, hanya dua atau tiga hari lalu dia akan kembali ke Praha. Dan setiap ia pulang, Changmin dan Yunho berusaha mencari sedikit waktu agar mereka bisa bertemu. Terkadang di hotel Siwon menginap, restaurant dekat lokasi pertemuan bisnis Siwon atau bahkan bandara.

Selain itu, Siwon juga selalu datang sendiri. Dia tidak pernah mengajak Kyuhyun atau Jaehyun. Changmin berpikir, Siwon mungkin tidak pernah bicara pada Kyuhyun mengenai perjalanan bisnis ke Seoul tersebut. Atau mungkin Siwon yang tidak memperbolehkan Kyuhyun untuk pulang.

Setelah mereka mengetahui tentang Uhm Ki Joon, Siwon benar-benar protektif pada Kyuhyun. Siwon bahkan rela merubah semua nomor kontak mereka –mulai dari nomor telepon, alamat e-mail dan yang paling ekstrem adalah merubah nama selama mereka tinggal di Praha. Seolah Siwon berusaha menghilangkan jejak Kyuhyun agar Uhm Ki Joon tidak bisa menemukannya.

Jujur saja, selama tiga tahun pertama, Siwon benar-benar menghindari segala sesuatu yang berkaitan dengan Uhm Ki Joon atau UK Corporate. Saat ia mulai mendirikan bisnisnya sendiri, Siwon melakukan sedikit penyelidikan pada setiap calon kliennya. Siwon tidak ingin kliennya mempunyai hubungan dengan UK atau Uhm Ki Joon. Siwon bahkan menghindari Inggris sebagai lokasi liburan mereka. Siwon tidak bisa lengah. Well, menurut Changmin sikap Siwon itu sangat berlebihan. Bahkan setelah Jaehyun lahir, sikap protektif Siwon semakin menggila.

“Kau tidak akan membawa Kyuhyun dan Jaehyun ke Korea? Bahkan walaupun hanya untuk liburan?”

“Aku bukan tidak ingin….” Ucapan Siwon terhenti ketika ia mendengar suara Jaehyun. Siwon tersenyum tipis. “Min, nanti kita bicara lagi, okay? Kyuhyun dan Jaehyun sudah pulang.”

“Baiklah, sampaikan salamku pada Kyuhyun. Dan Siwon, pikirkan tentang membawa Jaehyun. Kurasa dia juga ingin mengenal saudara-saudaranya di sini.”

Siwon mendesah pelan lalu mengangguk. Kemudian ia memutuskan sambungan skype dan berjalan keluar dari ruang kerjanya. Siwon menuruni anak tangga dan tersenyum lebar saat ia melihat Jaehyun sedang di ruang tengah.

“Jae…!!” serunya.

Jaehyun –well… Dan atau Daniel– mengangkat kepalanya lalu berlari menghampiri Siwon. Ia tertawa kecil ketika Siwon menggendongnya. “Are you not working? Why are you at home?”

“Hey… Ingat aturan kita? Saat di rumah, kita saling berkomunikasi dengan bahasa Korea?” tukas Siwon sembari membawanya duduk di sofa.

Jaehyun mendengus lalu melepaskan diri dari dekapan Siwon. Ia berdiri di atas sofa lalu melipat kedua tangannya. Siwon tersenyum tipis. Well, Jaehyun dan Kyuhyun mempunyai kebiasaan yang sama ketika mereka sedang jengkel –terutama pada Siwon.

Siwon menghela nafas pendek. “Duduk yang benar, Jae.”

Tapi Jaehyun hanya membuang muka.

“Jaehyun! Jangan berdiri di sofa. Duduklah yang benar,” ucap Kyuhyun yang datang dari arah dapur dengan membawa segelas air untuk Jaehyun.

Sontak Jaehyun menurut. Dia duduk dengan baik di samping Siwon dan menerima gelas berisi air tersebut. Dengan perlahan, Jaehyun meneguk air tersebut. Oh, jujur saja, Siwon tidak tahu bagaimana cara Kyuhyun agar Jaehyun dapat menuruti ucapannya seperti itu. Jika Siwon menyuruh sesuatu pada Jaehyun, putranya itu lebih banyak melontarkan argumen.

Jeez… Mungkinkah saat dia besar nanti, dia juga akan menjadi pengacara seperti Kyuhyun?

Siwon melirik pada Kyuhyun. Oh, Kyuhyun terlihat lebih lelah dan pucat dari tadi pagi. “Kyuhyun, kau terlihat pucat. Apa kau merasa tidak enak badan?”

Jaehyun sontak menatap wajah Kyuhyun. “Appa sedang sakit?”

Kyuhyun tersenyum tipis pada Jaehyun. Ia mengambil gelas itu dari Jaehyun dan mengusap kepala Jaehyun dengan tangannya yang lain. “Appa tidak sakit, Jaehyun. Pergi ke kamar dan simpan tasmu, okay? Lalu cuci tangan dan berganti pakaian. Appa akan menyiapkan makan siang.”

Jaehyun lalu turun dari sofa. Ia mengambil tasnya lalu bergegas menuju kamarnya. Sedangkan Kyuhyun kembali ke dapur –mengabaikan pertanyaan pria yang kini menjadi suaminya. Siwon mendesah pelan lalu mengikuti Kyuhyun ke dapur. Sepertinya mereka harus menyelesaikan perdebatan ini seperti kata Changmin.

“Kyuhyun…” ucap Siwon pelan.

Tapi Kyuhyun tidak memberikan respon apa pun. Dia hanya bersiap untuk membuat makan siang sebelum harus kembali ke kantor lagi. Siwon lalu menghampirinya dan menahan pergelangan tangannya.

“Kita makan siang di luar saja. Setelah itu, aku akan membawa Jaehyun pergi taman,” tutur Siwon.

Kyuhyun menatap Siwon sejenak lalu menarik pergelangan tangannya. “Terserah padamu,” gumamnya yang kemudian merapikan lagi semua bahan makanan yang sudah dikeluarkannya.

Oh, Kyuhyun sepertinya masih cukup marah padanya setelah perdebatan mereka dua hari lalu. Ini adalah pertengkaran mereka yang paling lama. Well, Siwon dan Kyuhyun mungkin cukup sering berdebat tentang sesuatu, tapi tidak pernah selama ini.

“Aku bicara dengan Changmin tadi. Katanya, aku tidak pernah berubah selama lima tahun ini,” ujar Siwon.

Kyuhyun menutup lemari pendingin lalu menatapnya. Sepertinya Siwon berhasil mendapatkan perhatian Kyuhyun, jadi dia kembali bicara. “Di antara kita, kau yang paling rasional dalam hubungan ini. Changmin juga mengatakan kalau bukan caraku memanjakan Jaehyun yang membuatmu marah.”

Alis Kyuhyun terangkat lalu ia melipat kedua tangannya di depan dada. “Benarkah? Lalu apa yang membuatku marah?”

Siwon menarik nafas perlahan. Ia kemudian meraih tangan Kyuhyun dan mengenggamnya erat. “Jujur, aku belum memikirkannya. Dari perdebatan kita, ada banyak hal yang kita bicarakan. Anehnya, aku tidak bisa mengingat semuanya dengan baik.”

Kyuhyun mendengus dan memutar matanya.

“Kyuhyun…” ucap Siwon cepat. “Mungkinkah ini ada kaitannya kalau… Well, kau tahu…”

Mata Kyuhyun melebar. Dari cara Siwon bicara, sepertinya dia akan mengulang hal yang sama ketika perdebatan mereka empat tahun lalu. “Jika kau akan mengatakan bahwa Jaehyun hanyalah putramu dan bukan putra biologisku, aku akan…”

Siwon menggeleng. “Bukan tentang itu, sayang. Maksudku, cara kita mendidik Jaehyun sangat berbeda. Kau bersikap tegas padanya mengenai apa yang boleh dan tidak boleh ia lakukan,  bagaimana cara dia bersikap dan berbicara pada orang lain, sedangkan aku lebih memanjakannya. Aku selalu memberikan apa pun yang diinginkannya, sedangkan kau lebih menekankan bagaimana Jaehyun harus mendapatkannya dengan usahanya sendiri –walaupun dia baru berusia lima tahun. Mungkin karena itu juga, dia lebih mudah menurut padamu dibandingkan denganku.”

“Siwon…”

“Dengar, aku tahu bahwa caraku memanjakannya terlalu berlebihan. Tapi jujur saja, ketika Jaehyun lahir, aku begitu takut. Aku tidak pernah tahu bagaimana mengasuh seorang anak. Aku mungkin melihat bagaimana Yunho dan Sooyoung mendidik anak-anak mereka dan pernah berpikir kalau aku juga bisa melakukannya –bahkan jauh lebih baik. Tapi ketika Jaehyun lahir dan dia semakin besar, aku semakin ketakutan bagaimana mendidiknya dengan baik. Kau tahu, apa yang kulakukan saat kita membesarkan Jaehyun adalah cara yang sama seperti orang tuaku mendidikku. Tapi aku juga sangat senang kau ada di sini dan membantuku,” tutur Siwon pelan.

Kyuhyun memperhatikan Siwon dengan lekat. Ketakutan Siwon memang cukup berdasar dan Kyuhyun juga pernah mengalaminya. Saat pertama-kali menggendong bayi Jaehyun, Kyuhyun berpikir bagaimana mereka berdua mendidiknya dengan baik.  Setahun pertama benar-benar sulit –walau mereka sudah dibantu oleh ibu pengganti tersebut selama beberapa bulan dalam mengurus Jaehyun. Mereka tidak tahu bagaimana cara mengganti popok, membuat susu, bahkan hanya memandikan Jaehyun adalah mimpi buruk.

Karena itulah, Kyuhyun datang ke beberapa pertemuan mengurus bayi –itu pun atas usulan Grace yang juga tetangga mereka. Setelah dua bulan, Kyuhyun yang mulai mengambil-alih untuk mengurus bayi Jaehyun. Sebenarnya mereka bisa memakai jasa pengasuh, tapi Siwon bersikeras agar mereka sendiri yang mengasuh Jaehyun. Kyuhyun tidak keberatan, tapi saat itu mereka baru pindah ke Praha dan masih beradaptasi dengan lingkungan baru. Bahkan untuk pernikahan pun, mereka belum melakukannya hingga hari ini.

Sudah lima tahun berlalu. Walaupun Siwon sudah sering-kali mengatakan bahwa mereka harus merencanakan pernikahan, tapi selalu ada alasan yang membuat mereka harus menyingkirkan pemikiran tentang pernikahan itu. Walaupun begitu saat Jaehyun lahir, Siwon dan Kyuhyun sudah sepakat bahwa mereka akan merawat Jaehyun sebagai putra mereka.

Kyuhyun menarik nafas perlahan, lalu dia menghampiri Siwon lebih dekat. “Aku tidak mempermasalahkan kalau kau ingin memanjakannya, Siwon. Kau boleh memanjakannya sesukamu, tapi ada hal-hal di mana kau juga perlu tegas pada Jaehyun. Kau hampir selalu mengatakan hal yang bertentangan denganku. Jika aku mengatakan tidak pada Jaehyun, tapi kau malah mengatakan iya, itu akan membuatnya bingung. Pada akhirnya, dia akan mencari pembenaran untuk setiap keinginan dan tindakannya. Terutama darimu.”

Oh, Siwon tidak tahu kalau itu adalah akar masalah mereka selama ini. Boleh dikatakan, Siwon memang selalu berbeda pendapat dengan Kyuhyun jika terkait permintaan Jaehyun. Dan memang akhirnya, putra mereka lebih sering datang pada Siwon jika dia sedang menginginkan sesuatu.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Setiap Jaehyun meminta sesuatu, kita harus berdiskusi terlebih dahulu. Entah kita bisa mengabulkan atau menolaknya. Dan jawaban yang kita berikan pada Jaehyun harus sama. Jika aku mengatakan tidak, maka kau juga harus mengatakan tidak. Aku tidak akan melarangmu jika kau ingin membelikannya mainan atau bahkan permen, tapi kau perlu tahu batasannya,” tutur Kyuhyun.

Siwon tersenyum tipis mendengarkan ucapan Kyuhyun. “Baiklah, kita lakukan itu bersama. Maafkan aku?” Kyuhyun mengangguk kecil lalu Siwon memeluknya erat. “Well, sepertinya bekerja di yayasan anak membuatmu paling mengerti masalah ini.”

“Memang salah siapa, aku harus bekerja di sana, eoh? Kau yang membuat yayasan itu. Apa kau pikir, aku tidak ingin ikut terlibat di dalamnya, terlebih ketika kau mulai sibuk dengan bisnismu itu?” sahut Kyuhyun.

Siwon tertawa kecil dan mengeratkan pelukannya. Ia mengecup sisi kepala Kyuhyun dengan penuh kasih. Kemudian ia melapaskan pelukan mereka. Siwon kembali tersenyum saat menatap Kyuhyun dengan seksama. Ia menangkup wajah Kyuhyun lalu mengecup bibirnya lembut. Kyuhyun membalas ciuman tersebut dan sedikit memiringkan wajahnya agar kacamatanya tidak menganggu.

“Appa…! Kyu Appa..!”

Sontak Kyuhyun mendorong tubuh Siwon saat mendengarkan teriakan Jaehyun. Siwon berkedip beberapa-kali karena Kyuhyun yang mendorong tubuhnya dengan tiba-tiba. Kyuhyun hanya melirik Siwon lalu bergegas menghampiri Jaehyun.

“Ya, Jaehyun?!! Appa datang!!” serunya.

Siwon hanya diam berdiri di dapur. Rasanya sangat sulit dipercaya. Mereka sudah lima tahun menjalin hubungan tapi Kyuhyun masih saja bersikap canggung bermesraan. Well, jika di hadapan tetangga atau di tempat publik lainnya, Siwon mungkin masih bisa mengerti. Tapi ini adalah rumah mereka dan hanya ada putra mereka.

Kemudian Siwon tertawa kecil. Oh, itu benar-benar menggemaskan.

“Jaehyun-ah! Ayo makan pizza!”

*****

Yunho menatap Changmin. “Mereka berdebat? Lagi?!!”

“Begitulah. Dan kali ini, alasannya benar-benar tidak masuk akal,” ujar Changmin yang kemudian menyesap kopinya. Ia lalu memperhatikan putrinya yang sedang bermain di kotak pasir pada sebuah taman dekat kantor Choi Group.

Changmin dan Yunho hanya memperhatikannya dari bangku taman yang tidak jauh dari kotak pasir tersebut. Selain itu, mana mungkin Changmin akan membiarkan putrinya yang baru berusia tiga tahun untuk main di kotak pasir tanpa pengawasan?

“Menurut cerita Siwon, dia membelikan Jaehyun mainan VR tapi sepertinya Kyuhyun tidak menyukai tindakannya itu. Siwon beralasan kalau dia hanya ingin memanjakan putranya sendiri dan Kyuhyun bereaksi berlebihan. Tapi aku yakin, ada hal lainnya,” tukasnya lagi.

Yunho tersenyum. “Tentu saja, ada alasan lainnya. Kyuhyun tidak mungkin bersikap seperti itu jika Siwon masih memanjakan Jaehyun dalam taraf yang wajar,” sahutnya yang juga memperhatikan keponakannya tersebut yang bermain dengan asyik seorang diri. Seolah dia tidak peduli dengan hal lainnya dan hanya sibuk dengan dunianya sendiri.

Well, sama seperti ayahnya, putri Changmin itu benar-benar mempunyai sifat yang aneh.

Changmin menghela nafas pendek. “Sepertinya Siwon sudah terlalu berlebihan dalam memanjakan Jaehyun. Dia bahkan menggunakan ‘putraku’ dalam argumennya. Aku harap saat dia bicara lagi dengan Kyuhyun, Siwon menggunakan akal rasionalnya. Jika tidak… Aku mungkin harus begadang lagi selama satu minggu.”

Yunho melirik Changmin dan tertawa kecil. Bahkan setelah Siwon berada jauh di Praha, tapi sepertinya itu tidak menghalanginya untuk merepotkan Changmin dengan masalah-masalah pribadinya. Rasanya Siwon dan Changmin tidak pernah mengalami perubahan apa pun selama lima tahun terakhir ini. Mereka tetap saling bergantung.

“Siwon tidak akan membuat kesalahan yang sama, Min. Terlebih ini berkaitan dengan Kyuhyun dan Jaehyun,” tukas Yunho. “Hey, kapan Bin akan masuk pre-school? Dia sudah tiga tahun, bukan?”

Changmin menggumam. “Tapi DaHye masih ingin memikirkan tentang pre-school itu. Bin masih terlalu kecil dan dia juga masih belum bisa bersosialisasi dengan baik. Seolah dia ada di dunianya sendiri. Entah dari mana ia mendapatkan perilaku seperti itu.”

“Tentu saja darimu, Shim Changmin. Aku ingat betul kalau kau juga sama seperti Bin sampai usiamu enam tahun. Ibumu bahkan harus memindahkanmu ke sekolah lain sebanyak tiga kali. Jujur saja, Bibi sebenarnya juga mempertimbangkan untuk membawamu menemui shaman,” sahut Yunho sembari tertawa kecil.

Changmin melirik Yunho lalu mendengus. “Tapi sepertinya aku tidak separah itu? Bin bahkan sulit untuk diajak berkomunikasi. Haruskah aku membawanya ke psikolog anak?”

“Diskusikan dulu dengan istrimu. Jika kau pikir perlu, setidaknya cari dokter yang tepat untuk menangani Bin,” ujar Yunho.

Changmin mengangguk kecil dan kembali menyesap kopinya. “Ah.. Siwon akan pulang dalam waktu dekat. Dia bilang ada urusan bisnis. Kau tahu dengan siapa?”

“Oh, dengan anak cabang HJ Company.”

“HJ Company? Kim Junhyeok?”

Yunho menggumam. “Begitulah. Dan yang kudengar, putranya sedang menjalani internship di perusahaan itu.”

*****

Haneul mengernyitkan keningnya saat ia melihat Jiyeon menghampiri dengan sebuah senyuman di wajahnya. Jujur saja, setelah dokter itu mengetahui hubungannya dengan Changwook lima tahun lalu, sikap Jiyeon padanya menjadi sedikit aneh. Bukan sesuatu yang buruk, tapi itu membuat Haneul merasa sedikit tidak nyaman. Terkadang, Haneul harus menghindari Jiyeon untuk beberapa hari atau mungkin hanya beberapa jam.

Tapi lebih dari itu, Haneul juga bersyukur karena Jiyeon menutup mulut tentang hubungannya dengan Changwook. Hal terburuk yang terlintas dalam benak Haneul setelah Changwook mengatakan pada Jiyeon kalau mereka berkencan adalah gadis itu akan melaporkannya pada direktur rumah sakit. Tapi setelah dua bulan, baik Haneul ataupun Changwook tidak pernah mendapatkan panggilan apa pun dari pihak direksi rumah sakit. Itu artinya, selain Jiyeon tidak ada lagi yang mengetahui hubungan mereka di rumah sakit tersebut.

Ketika Jiyeon semakin dekat, Haneul berencana untuk kabur tapi situasi lorong rumah sakit yang cukup ramai tidak akan membuatnya kabur dengan mudah. Dan ketika Jiyeon meraih lengannya dan mengapitnya, Haneul tahu kalau dia tidak bisa menghindar lagi.

Jiyeon lalu menarik Haneul menuju escalator terdekat. “Kita ke kafetaria.”

“Untuk apa? A-aku harus memeriksa catatan pasien,” ujar Haneul.

“Sudah ikut saja dulu,” sahut Jiyeon yang tidak membiarkan Haneul pergi dengan mudah.

Haneul mendesah pelan dan terpaksa menuruti Jiyeon. Sesekali ia memeriksa lorong sekitar dan berharap bisa bertemu dengan Changwook untuk meminta bantuan. Tapi sayang sekali, pria itu sama sekali tidak terlihat. Terlebih dengan Jiyeon yang sepertinya bersemangat sekali. Entah apa yang ingin dibicarakannya. Tapi melihat gadis itu membawanya ke kafetaria , mungkin bukan sesuatu yang pribadi.

Namun, entah mengapa Haneul merasa sesuatu yang janggal. Haneul memperhatikan situasi sekitar. Rumah sakit ramai seperti biasa, bukanlah sesuatu yang aneh. Tapi firasat Haneul mengatakan bahwa dia tidak harus pergi ke kafetaria rumah sakit. Dan tentu saja, Haneul lebih mempercayai firasatnya.

Haneul berusaha untuk melepaskan tangannya dari jeratan Jiyeon, tapi gadis itu keras kepala dan bahkan kini menariknya lebih paksa menuju kafetaria.

“Dokter Han, jika ada sesuatu yang ingin kau bicarakan…” ucap Haneul berusaha untuk mencari alasan. “Kita bisa bicara di tempat lain, bukan?”

Jiyeon menoleh dan tersenyum pada Haneul. “Kenapa? Kafetaria bukan tempat yang buruk. Ada banyak orang yang melihat jadi aku tidak mungkin melakukan sesuatu yang buruk padamu.”

Well, ucapan Jiyeon tersebut membuat Haneul semakin yakin atas firasatnya.

Lari Haneul!! Lari!!

Tapi terlambat. Jiyeon sudah menarik Haneul memasuki kafetaria. Namun, apa yang menjadi firasat buruk Haneul tidak terbukti. Situasi kafetaria terlihat biasa saja. Ramai dan terlihat normal. Tanpa sadar, Haneul menghembuskan nafas dan kembali berjalan saat Jiyeon menariknya ke salah satu meja kosong.

Haneul memperhatikan situasi kafetaria dengan seksama, lalu menatap Jiyeon yang duduk dihadapannya. “Apa yang ingin kau bicarakan?”

Jiyeon meraih tangan Haneul dan memperhatikannya dengan seksama. Haneul semakin tidak mengerti dengan tujuan Jiyeon membawanya bicara di kafetaria sedangkan saat ini dokter itu malah memperhatikan jemari tangannya.

Haneul menarik tangannya kembali. “Apa yang sebenarnya yang kau inginkan, dokter Han?”

“Jadi, dia belum memberikannya padamu?”

“Memberikan apa? Siapa?”

Jiyeon sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Haneul lalu berbisik, “Tentu saja kekasihmu, dokter Kang.” Kemudian Jiyeon kembali duduk dengan tegak.

Haneul berkedip tidak mengerti. Changwook ingin memberikan sesuatu padanya? Dan Jiyeon mengetahuinya? Changwook dan Jiyeon memang sedikit lebih dekat dari hubungan mereka sebelumnya –bukan dalam konteks romantisme atau semacamnya– dan mereka berdua sering-kali mengobrol tentang suatu hal.

“Di-dia? Me-memang dia ingin memberiku apa?”

Jiyeon menghela nafas pendek. “Aku tidak bisa memberitahumu. Tunggu sampai dia memberikannya padamu, okay? Kalau begitu, aku akan kembali bekerja.”

Lalu Jiyeon berdiri dan berjalan pergi. Haneul terperangah. Jiyeon membawanya paksa ke kafetaria hanya untuk itu? Haneul menoleh dan memanggil Jiyeon dengan jengkel. “Han Jiyeon!!”

Jiyeon hanya tersenyum dan melambaikan tangannya lalu melenggang keluar kafetaria. Haneul mendengus jengkel. Setelah membuatnya gugup dan kini menjadi penasaran, gadis itu pergi tanpa rasa bersalah.

Haneul lalu memperhatikan kedua tangannya dengan bingung. “Kenapa Jiyeon memperhatikan tanganku? Memang apa yang ingin diberikan Changwook padaku?” gumamnya pelan.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Haneul dengan cepat menerima panggilan itu dan bergegas.

*****

Joonmyeon mengernyit ketika ia mendapat panggilan telepon dari Sara. Ia melirik ke kabin lainnya di mana pegawai lain yang kosong karena ini sudah masuk jam makan siang. Kemudian ia menjawab panggilan tersebut sembari merapikan beberapa tumpukan dokumen.

“Ya, Mom?”

“Sedang makan siang?”

Joonmyeon tersenyum tipis. “Aku masih di kantor. Belum makan siang, kenapa?”

“Hey, ini sudah jam berapa, sayang? Kenapa kau belum makan siang?”

Joonmyeon kemudian memastikan kalau ia membawa dompet di saku celananya. Lalu ia beranjak meninggalkan kabin meja kerjanya. “Aku baru selesai meeting dan sekarang akan pergi makan siang,” tuturnya sembari berjalan menuju lift.

“Meeting? Oh, Mom pikir kau belum terlibat dalam project apa pun karena kau masih intern. Appa?”

Joonmyeon menekan tombol lift. “Bukan karena Appa. Atasanku mengatakan bahwa aku perlu banyak belajar dan beradaptasi dengan masalah bisnis perusahaan. Bukan sesuatu yang besar, aku hanya membantu menyiapkan dokumen-dokumen saja,” jelasnya sembari memasuki lift ketika pintu terbuka. “Kenapa Mom meneleponku? Selain mengingatkanku makan siang, tentu saja.”

“Ahh… Yifan akan pulang. Mungkin dalam beberapa hari lagi.”

Joonmyeon menggumam. “Oh. Mom, ingin memintaku yang menjemputnya di bandara?”

“Tidak sayang, kau pasti sibuk. Mom yang akan menjemputnya, lagipula Mom hanya ingin memberitahumu saja. Kau juga akan pulang ke rumah, bukan? Ini sudah hampir tiga minggu kau tidak pulang, Joon.”

Joonmyeon tersenyum tipis mendengar keluhan Sara. Sejak Joonmyeon menjalani internship di perusaahaan, ia lebih memilih tinggal di sebuah flat dekat perusahaan agar lebih memudahkannya dalam perjalanan. Walaupun sebenarnya sang ayah sudah memastikan posisinya di perusahaan pusat setelah ia lulus, tapi Joonmyeon bersikeras untuk memulainya dari perusahaan anak cabang.

Akhir-akhir ini, ada begitu banyak pekerjaan karena perusahaan mendapatkan sebuah bisnis dengan salah satu pengusaha dari Praha, karena itulah Joonmyeon belum pulang ke rumah selama tiga minggu. Selain itu, pengusaha dari Praha itu juga akan datang ke Seoul untuk membicarakan lebih lanjut tentang bisnis tersebut. Jadi, kondisi di perusahaan saat ini lebih sibuk dari biasanya untuk mempersiapkan pertemuan tersebut.

“Maaf, Mom. Tapi aku benar-benar sedang sibuk. Appa pasti sudah menjelaskan pada Mom, bukan?”

Tak lama pintu lift terbuka di lantai lobby. Joonmyeon berjalan keluar dan sedikit membungkuk ketika ia bertemu dengan beberapa pegawai yang dikenalnya. Oh, tentu saja, semua pegawai di perusahaan itu tahu jati diri Kim Joonmyeon. Namun, ia cukup bersyukur karena mereka tidak memberikan perlakuan yang istimewa padanya.

“Baiklah, Mom bisa mengerti. Tapi paling tidak, jika kau tidak bisa pulang, datanglah untuk makan malam. Kita juga sudah jarang untuk makan bersama, bukan? Paling tidak, kepulangan Yifan bisa menjadi alasanmu, okay?”

“Okay, Mom. Aku akan pulang untuk makan malam.”

“Tulis dalam buku plannermu dan masukkan catatan di ponselmu.”

Joonmyeon menghembuskan nafas perlahan. “Iya, aku akan menulisnya di buku planner dan catatan ponsel. Mom, aku akan makan siang sekarang.”

“Okay, Mom akan menghubungimu lagi untuk memberitahu tanggal pasti kapan Yifan sampai. Selamat makan siang, sayang.”

Joonmyeon menggumam pelan lalu tertawa kecil. Oh, sepertinya Sara tidak berhenti memperlakukannya seperti remaja berusia delapanbelas tahun, padahal usianya kini sudah duapuluhempat tahun. Bahkan lebih parah, Sara akan memperlakukannya seolah dia masih anak kecil.

“Bye, Mom.” Kemudian ia memutuskan sambungan telepon tersebut lalu menekan nomor lain pada layar ponselnya. Joonmyeon menunggu beberapa detik hingga terdengar nada sambung.

Dan ketika telepon itu tersambung, Joonmyeon tersenyum tipis. “Do Kyungsoo! Apa kau sibuk? Ayo makan siang bersama! Kita bertemu di studiomu saja, okay?”

*****

Kyuhyun sedang merapikan koper Siwon. Pria itu akan pergi melakukan perjalanan bisnis lagi ke Seoul untuk beberapa hari. Dan seperti perjalanan ke Seoul pada tahun-tahun sebelumnya, Siwon hanya akan pergi seorang diri. Sebenarnya Kyuhyun sudah pernah membicarakan hal ini pada Siwon –kalau ia ingin ikut dengannya. Setidaknya Kyuhyun bisa bertemu dengan kakaknya, tapi Siwon selalu beralasan bahwa Kyuhyun mempunyai tanggung-jawab di Yayasan.

Namun, siapa pun tahu alasan sebenarnya kenapa Siwon tidak pernah mengijinkan Kyuhyun untuk kembali ke Seoul. Setelah dua kali bertanya, Kyuhyun akhirnya menyerah sendiri. Siwon mungkin tidak akan masalah jika Kyuhyun ingin ikut dengannya ke negara lain –asalkan bukan Korea ataupun Inggris.

Kyuhyun memasukkan tas kecil berisi perlengkapan mandi Siwon, lalu ia menutup koper itu dan menyimpannya dekat lemari pakaian. Kemudian ia berjalan menuju kamar mandi. Di saat itu, Siwon yang baru saja menidurkan Jaehyun kembali ke kamar tidur mereka.

“Kyuhyun…” panggil Siwon.

“Di kamar mandi.”

Siwon lalu beranjak ke kamar mandi dan melihat Kyuhyun sedang merapikan botol-botol sabun dan shampoo. Kyuhyun menoleh sekilas pada Siwon yang berdiri di ambang pintu. “Jaehyun sudah tidur?”

Siwon menggumam pelan.

“Kopermu sudah kurapikan. Paspor dan tiket sudah ada di tasmu, bukan? Kau harus memeriksanya lagi agar tidak ada yang tertinggal. Ah, berikut dengan dokumen yang kau butuhkan. Aku tidak mau repot mengirim email dokumen seperti kejadian sebelumnya? Ada banyak pekerjaan di Yayasan,” tutur Kyuhyun.

Siwon kembali menggumam. Setelah rapi, Kyuhyun menatap  Siwon dengan lekat. Ia tersenyum tipis dan menyentuh wajah Siwon. “Kenapa kau hanya menggumam saja?”

Siwon meraih tangan Kyuhyun dan mencium telapak tangannya. “Baiklah, rajaku. Besok pagi, aku akan memeriksa semuanya lagi.”

Kyuhyun tersenyum. “Anak pintar,” pujinya.

Siwon hanya tertawa kecil. Lalu Kyuhyun mematikan lampu kamar mandi dan berjalan keluar. Tak lupa, ia juga menutup pintunya. Siwon yang mengenggam tangan Kyuhyun menariknya ke tempat tidur. Kyuhyun yang naik ke atas tempat tidur terlebih dahulu. Ia memasukkan kedua kakinya ke dalam selimut tebal. Diikuti oleh Siwon. Keduanya duduk bersandar pada headboard.

Ini adalah ritual malam mereka sebelum tidur. Mengobrol sebelum tidur adalah cara mereka untuk membuat waktu berkualitas bagi hubungan mereka.. Siwon dan Kyuhyun sudah sibuk seharian dengan pekerjaan mereka masing-masing, jika pada malam hari pun mereka tidak meluangkan waktu hanya sekadar untuk mengobrol seperti ini, rasanya hubungan mereka tidak akan bisa bertahan lama.

“Kau ingin sesuatu saat aku kembali nanti?” tanya Siwon pelan.

Kyuhyun menoleh pada Siwon dan kemudian mengernyit. “Sesuatu? Dari Seoul?”

“Begitulah. Sesuatu yang tidak bisa kita temukan di Praha.”

Kyuhyun terdiam sejenak. Sesuatu yang mereka tidak temukan di Praha? Keluarga kita.

Tapi Kyuhyun tidak akan berkata hal itu. Siwon selalu lebih sensitif pada malam sebelum keberangkatannya setiap-kali dia harus ke Seoul. Pertama-kali, Siwon kembali ke Seoul untuk bisnis, mereka sempat bertengkar karena Kyuhyun bersikeras untuk ikut. Untuk kedua-kalinya juga tidak jauh berbeda. Untuk ketiga-kalinya dan selanjutnya, Kyuhyun hanya memintanya untuk kembali dengan selamat.

“Aku hanya ingin kau pulang dengan selamat. Ini menjelang ulang tahunmu dan Jaehyun sudah membuat rencana perayaan ulang tahun untukmu,” ucap Kyuhyun.

Siwon tersenyum dan mengecup kening Kyuhyun. “Tentu saja, aku akan pulang dengan selamat. Aku tidak akan melewatkan perayaan ulang tahunku sendiri. Jika sesuai rencana, hari Senin aku sudah di Praha.”

“Tanggal enam?”

Siwon mengangguk kecil. “Tanggal enam, kurasa pukul sembilan pagi atau sepuluh. Kau akan menjemputku di bandara, bukan?”

“Tentu saja. Aku tidak akan membiarkanmu pulang naik taksi atau tram.”

“Rajaku yang mulia benar-benar murah hati. Terima kasih,” tutur Siwon sembari mengecup ujung hidung Kyuhyun.

Kyuhyun tertawa kecil. “Hentikan panggilan itu. Terdengar mengelikan, Siwon. Dan ucapan terima kasih-nya nanti saja, setelah aku menjemputmu pulang.”

Siwon menjulurkan tangannya untuk bisa menyentuh wajah Kyuhyun. Dengan lembut, ibu jarinya mengusap pipi Kyuhyun. “Aku akan selalu berterima-kasih padamu, Kyuhyun. Karena kau memilihku. Dibandingkan dengan keluargamu…”

“Siwon, sudah cukup.” Kyuhyun meraih tangan suaminya dan menggenggam erat. “Jangan dibicarakan lagi. Ini sudah lima tahun…”

“Karena sudah lima tahun, Kyuhyun. Kita berdua sudah lima tahun meninggalkan keluarga kita dan hidup saling bergantung di negara ini. Tapi, aku tidak bisa mengelak selama setiap hari, aku selalu berpikir bahwa kau mungkin akan merasa muak denganku dan memilih kembali ke keluargamu.”

Kyuhyun mengecup tangan Siwon. “Walaupun aku kembali, keluargaku tidak mungkin bisa menerimaku lagi, Siwon.”

“Dan itu karena diriku. Karena itulah, aku berusaha untuk membuatmu merasa tidak kecewa. Walaupun dengan beberapa-kali pertengkaran, tapi aku berusaha untuk tidak mengecewakanmu.”

Kyuhyun menatap Siwon cukup lama. Ini terasa begitu aneh. Semua pembicaraan mereka. Rasanya Siwon merasa jauh lebih gusar. Kyuhyun kemudian menarik nafas perlahan. “Kenapa kita membicarakan ini, Siwon? Aku tahu, kau selalu merasa lebih sensitif setiap kali kau akan pergi ke Seoul. Tapi pembicaraan ini begitu berbeda. Ada apa?”

Siwon terdiam sejenak. Ia melirik Kyuhyun lalu meraih tangannya dan menautkan jemari mereka. Dengan tarikan nafas panjang, Siwon mengatakan tentang pembicarannya dengan Changmin beberapa hari lalu. “Changmin bertanya kenapa aku tidak pernah mengajakmu pulang ke Seoul saat aku melakukan perjalanan bisnis ke sana. Dia juga mengatakan kalau Jaehyun perlu mengenal semua saudaranya…” tutur Siwon pelan. “Aku ingin melakukannya, membawamu serta Jaehyun ke Seoul. Walaupun hanya beberapa hari saja. Tapi…”

“Tapi kau takut dengan reaksi ibumu.”

“Bukan hanya ibuku. Tapi keseluruhan orang yang akan melihat bahwa aku pulang membawa kekasih dan anakku. Kau mungkin akan berkata bahwa tidak semua dari mereka akan bereaksi sama seperti ibuku, tapi aku tetap merasa bahwa Seoul –bahkan seluruh Korea– akan menghinaku dan juga dirimu. Dan aku tidak mau Jaehyun melihat itu. Jika kita akan membawa Jaehyun, aku ingin dia mempunyai kesan yang baik terhadap negaranya sendiri,” jelas Siwon.

Kyuhyun kemudian memeluk Siwon dengan erat. Ia mengecup bahu Siwon. Tentu saja, Kyuhyun bisa mengerti dengan ketakutan Siwon. Jika memang hanya ia dan Siwon yang harus mengalami semua penghinaan atas hubungan yang mereka jalani, Kyuhyun bisa menghadapinya. Tapi tidak dengan Jaehyun.

“Kekhawatiranmu tidak berdasar, Siwon. Kita tidak perlu membawa Jaehyun untuk saat ini. Kita tunggu sampai dia cukup besar dan bisa menerima penjelasan tentang hubungan kita, Siwon.  Jangan terlalu memikirkan hal itu terlalu keras. Jaehyun masih berusia lima tahun. Walaupun begitu, aku setuju dengan Changmin. Jaehyun perlu mengenal semua saudaranya. Di sini, Jaehyun mungkin mempunyai banyak teman, tapi tidak ada yang bisa mengalahkan ikatan keluarga. Walaupun kita memilih pergi, bukan berarti ikatan darah keluarga bisa hilang begitu saja,” kemudian Kyuhyun melepaskan pelukannya. Ia tersenyum tipis pada Siwon.

“Bagaimana caranya?”

“Kita bisa mengenalkan Jaehyun pada saudara-saudaranya melalui foto atau mungkin melakukan video call. Kita bisa meminta Changmin atau Yunho hyung mengatur waktunya. Bicarakan hal ini dengan mereka saat kalian bertemu nanti, okay?” ujar Kyuhyun.

Siwon mengangguk dan mengecup bibir Kyuhyun. “Okay.”

Kyuhyun tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Siwon. Ia menghembuskan nafas perlahan.

Sepertinya hari ini, tidak ada lagi pembicaraan tentang pernikahan.

*****

Jaehyun tidak ingin melepaskan pelukannya pada Siwon. Kyuhyun sudah berulang-kali mengatakan bahwa ayahnya bisa ketinggalan pesawat jika mereka tetap menahannya seperti ini. Namun, Jaehyun menolak. Siwon sendiri tidak keberatan jika ia bisa memeluk anaknya untuk waktu yang lebih lama. Siwon bisa menukar waktu penerbangannya. Tapi tentu saja, Kyuhyun akan berkata lain.

“Jaehyun, biarkan Appa pergi. Ini sudah waktunya Appa untuk naik ke pesawat,” bujuk Kyuhyun dengan lembut. Walaupun ia sudah merasa frustasi membujuk Jaehyun, tapi Kyuhyun tidak boleh hilang kesabaran atas perilaku Jaehyun.

Bersikap keras tidak akan membuat Jaehyun akan menurutinya.

“Tidak mau! Aku ingin Appa tetap di sini. Appa tidak boleh pergi!!” seru Jaehyun mengeratkan pelukannya pada leher Siwon.

Siwon hanya tertawa kecil sembari mengusap punggung putranya. Ia menatap Kyuhyun sekilas. Kekasihnya sudah terlihat putus asa membujuk Jaehyun. Ada ide gila muncul dalam pikirannya untuk membawa Jaehyun bersamanya ke Seoul, tapi langsung ditepisnya.

Jaehyun harus tetap di Praha bersama Kyuhyun.

“Hey, Jae! Dengarkan Appa,” ucap Siwon sembari melonggarkan pelukan Jaehyun dan agar dia bisa melihat wajah putranya. Siwon terdiam sejenak ketika ia melihat Jaehyun sudah hampir menangis. Oh Tuhan…

Siwon menarik nafas. “Appa hanya pergi sampai hari Minggu. Hari Senin, Appa sudah akan pulang. Lagipula selama Appa pergi, kau bisa mempersiapkan perayaan untuk ulang tahun Appa. Bukankah jika Appa tidak berada di rumah, itu akan lebih mengejutkan untuk Appa?”

“Bagaimana Appa bisa mengetahuinya? Kyu Appa yang mengatakannya padamu? Itu tidak akan menjadi kejutan lagi!!” protes Jaehyun.

Kyuhyun berjengit. Oh, dia tidak memikirkan hal itu sebelumnya. Siwon kembali melirik Kyuhyun. Mungkin tidak seharusnya dia mengatakan tentang perayaan itu pada Jaehyun. Kemudian Siwon kembali berfokus pada putra mereka.

“Tapi itu akan tetap menjadi kejutan. Appa tidak akan tahu bagaimana Jaehyun akan membuat perayaan itu, bukan? Itu akan menjadi hadiah paling istimewa yang Appa terima,” ujar Siwon.

Jaehyun masih memasang ekspresi masamnya tapi ia mengangguk. Kemudian Jaehyun beralih pada Kyuhyun dan merentangkan tangannya. Kyuhyun tersenyum dan meraih Jaehyun ke dalam gendongannya. Siwon menyentuh kepala Jaehyun dan menciumnya.

“Jangan nakal, okay?”

Jaehyun mengangguk. “Okay,” ucapnya pelan.

Siwon lalu beralih pada Kyuhyun. Ia menyentuh pipi Kyuhyun dengan ujung jemarinya. “Aku akan segera pulang.” Kemudian ia mengecup bibir Kyuhyun.

“Setelah sampai, kabari aku.”

Siwon mengangguk kecil. Ia mencium bibir Kyuhyun lagi dan beralih mencium kepala Jaehyun. Kemudian Siwon menarik kopernya dan berjalan menuju area check-in. Sesekali Siwon menoleh pada Kyuhyun dan Jaehyun. Siwon tersenyum ketika Jaehyun melambaikan tangannya.

Aku akan segera pulang, Kyuhyun.

*****

Jaewon menatap Kim Hyeon dengan lekat. Pria itu datang dengan membawa kabar yang mengejutkannya. Tentang putranya yang telah lama pergi meninggalkan rumah, serta negara kelahirannya. Lima tahun adalah waktu yang cukup lama. Jaewon bahkan tidak menyangka kalau putranya bisa bertahan dengan keputusannya.

Terlebih, selama lima tahun ini ada banyak hal yang terjadi.

“Benarkah? Kapan dia akan sampai?” tanya Jaewon.

Kim Hyeon mengeluarkan ponselnya dan mengecek catatan. “Saya tidak mendapat informasi tentang waktu kedatangannya, tapi sepertinya besok siang. Selain itu, menurut rencana Tuan Choi hanya akan berada di Seoul untuk beberapa hari sebelum hari Minggu nanti akan kembali ke Praha, Presdir.”

Banyak hal yang terjadi dalam lima tahun salah satunya adalah Choi Jaewon menjadi Presdir Choi Group menggantikan Choi Daehan, empat tahun lalu. Selain kursi Presdir Choi Group, Jaewon juga mendapatkan semua fasilitas yang diterima oleh Choi Daehan. Termasuk akses penuh atas team  security khusus yang dibentuk oleh sang ayah. Jadi, Kim Hyeon bekerja dibawah perintah Choi Jaewon.

Jaewon melirik layar komputernya dan melihat kalender digital yang berada di deskop. Minggu adalah tanggal lima April. Kemudian ia menghela nafas pendek. Satu tahun lagi mereka tidak merayakan ulang tahun Siwon.

“Kau tahu di mana Siwon akan menginap?” tanya Jaewon sembari menatap pada Kim Hyeon lagi.

Kim Hyeon menggeleng. “Semua akomodasi Tuan Choi diurus oleh pihak perusahaan yang bekerja-sama dengannya. Saya akan mencari informasi lebih lanjut. Apa Presdir berniat untuk menemui Tuan Choi?”

“Entahlah. Aku akan melihat situasinya terlebih dahulu. Aku rasa, Changmin dan Yunho juga sudah berencana bertemu dengan Siwon. Lakukan pekerjaanmu,” tutur Jaewon.

Kim Hyeon menunduk hormat lalu beranjak meninggalkan ruangan besar tersebut. Jaewon menghela nafas berat lalu melirik sebuah pigura foto keluarganya –masih ada Siwon karena foto diambil dua tahun sebelum Siwon pergi. Jaewon tidak memungkiri ada begitu banyak hal yang berbeda setelah kepergian Siwon baik di keluarga mereka maupun perusahaan.

“Apa kabar dirimu, nak?”

*****

Yifan tersenyum ketika ia melihat Sara yang sedang berdiri dekat pintu keluar. Ia menarik kopernya dan bergegas menghampiri sang ibu. Ini sudah empat tahun sejak Yifan pergi ke London untuk menempuh kuliahnya di UAL. Walaupun sebenarnya ia baru bisa lulus tahun depan, tapi untuk dua minggu ini dia bisa pulang sejenak ke Seoul.

Yifan memeluk Sara dengan erat. Sara hanya tertawa kecil dan membalas pelukan putranya. Beberapa saat kemudian, Yifan melepaskan pelukannya dan menatap Sara dengan lekat. Ibunya tidak berubah sedikit pun. Bahkan sepertinya tidak ada keriput yang bertambah.

“Mom terlihat tidak banyak berubah,” tukas Yifan.

Sara tersenyum dan memperhatikan Yifan dari atas hingga bawah. “Well, kau terlihat semakin tampan. Dan sepertinya semakin lebih tinggi. Berapa tinggimu sekarang?”

“Entahlah. Mungkin 188 atau lebih?” sahut Yifan.

Sara mendengus. “Jangan terlalu tinggi, sayang. Kau akan mengalami banyak kesulitan di masa depan karena tinggimu itu. Mom akan merasa kasihan pada siapa pun yang akan mendampingimu nanti.”

Yifan hanya tersenyum mendengar Sara menggunakan kata ‘siapa pun’. Ia meraih kopernya dan merangkul bahu Sara. “Jangan mengeluh, Mom. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Kita pulang sekarang? Aku lapar sekali.”

Sara mengangguk kecil dan mereka berdua berjalan menuju pintu keluar bandara. “Tenang saja, Mom sudah menyiapkan makan siang untukmu. Kurasa Appa juga akan pulang lebih cepat.”

Yifan menggumam pelan. “Lalu bagaimana dengan Joon? Dia akan pulang di akhir pekan?”

“Sepertinya begitu. Dalam seminggu ini, dia cukup sibuk mempersiapkan pertemuan dengan salah klien perusahaan,” tutur Sara sembari melingkarkan lengannya pada pinggang putranya. “Oh ya, kenapa Luhan tidak ikut pulang bersamamu? Apa dia pulang ke Beijing?”

*****

Haneul melirik Changwook yang sedang makanannya. Mereka bertemu di restaurant dekat rumah sakit di sela waktu istirahat Haneul dan Changwook sendiri sedang libur. Untuk beberapa bulan terakhir ini, mereka cukup sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Changwook sedang mengurus disertasi untuk gelar professor dan Haneul sibuk dengan pasien-pasiennya. Tapi mereka berdua masih berusaha untuk mencari waktu untuk bertemu walaupun hanya untuk satu atau dua jam. Itu pun tempat pertemuan mereka selalu di luar area rumah sakit.

Walaupun keluarga mereka sudah mengetahui hubungan keduanya, Haneul dan Changwook masih menyembunyikan hubungan mereka dari pihak rumah sakit untuk alasan profesi dan profesionalitas mereka. Changwook sudah beberapa kali membicarakan pada Haneul tentang coming out pada pihak rumah sakit, tapi Haneul masih memikirkan resikonya. Tapi hampir setahun ini, Changwook tidak mengatakan apa pun tentang membuka hubungan mereka pada pihak rumah sakit.

Namun, ucapan Jiyeon beberapa hari lalu membuat Haneul bertanya-tanya. Changwook ingin memberikan sesuatu padanya. Haneul mungkin bisa langsung bertanya pada Changwook mengenai hal itu. Lagipula Changwook tidak pernah membohonginya tentang hal apa pun. Tapi, rasanya Haneul tidak mempunyai keberanian untuk bertanya setiap kali mereka bertemu.

Haneul menghela nafas berat, membuat Changwook mengangkat kepalanya dan menatap Haneul dengan lekat. Haneul mengaduk supnya dengan tidak bersemangat.

“Han…” ucap Changwook. “Kau kenapa? Apa kau sedang ada masalah? Di rumah atau di rumah sakit?”

Haneul memandang Changwook lalu menggeleng. Ia menaruh sendok dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. “Tidak ada masalah apa pun. Rasanya setahun ini tidak ada masalah apa pun.”

“Lalu kenapa kau terlihat tidak bersemangat seperti itu? Kau juga tidak makan. Ada apa?”

“Ada sesuatu yang kupikirkan. Kau selalu bilang aku bisa bertanya apapun padamu, bukan?” tukas Haneul dan Changwook mengangguk. Kemudian Haneul menarik nafas panjang. “Aku sedang berpikir apakah aku harus bertanya padamu atau menunggu sampai kau yang bicara sendiri padaku.”

Kening Changwook mengernyit. “Menungguku bicara padamu? Han, sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan?Apa aku melakukan kesalahan yang tidak kusadari?”

“Tidak, kau tidak membuat kesalahan apa pun. Ini tentang ucapan Jiyeon beberapa hari lalu,” ucap Haneul pelan.

“Jiyeon? Apa yang ia katakan?”

Haneul menatap mangkuk nasi yang belum tersentuh olehnya. Oh, rasanya kekhawatirannya selama ini tidak berdasar. “Beberapa hari lalu Jiyeon menemuiku dan sikapnya sedikit aneh. Ia menarik tanganku dan memperhatikannya. Dia mengatakan kau belum memberikannya padaku,” tuturnya.

Kemudian Haneul menatap Changwook yang terlihat tegang. “Wook, apa yang kau ingin berikan padaku? Jelas sekali kalau Jiyeon sudah mengetahuinya.”

“Hahh… Han Jiyeon memang tidak bisa dipercaya,” gumam Changwook sembari meraih gelas dan meneguknya beberapa-kali. Changwook kembali menatap Haneul dengan lekat. “Aku memang ingin memberikan sesuatu padamu, tapi aku masih menunggu waktu yang tepat. Tapi sayang sekali, Jiyeon sama sekali tidak sabar hingga dia menemuimu.”

“Changwook…”

“Aku akan memberikannya padamu, Han. Tapi tidak sekarang. Berikan aku waktu, okay?”

Haneul terdiam sejenak. Changwook tidak memberikan penjelasan yang diinginkannya, tapi pria itu juga tidak berbohong padanya. Hanya meminta waktu. Tapi waktu untuk apa? Haneul mungkin bisa sedikit memaksa Changwook untuk mengatakannya saat ini, namun seperti kata Changwook, waktunya tidak tepat.

Mereka tidak akan membicarakan hal ini di sebuah restaurant yang penuh dengan pengunjung. Kemudian Haneul mengangguk kecil.

“Baiklah, aku akan memberi waktu.”

Changwook tersenyum tipis. “Terima kasih.”

*****

Joonmyeon sedang mengecek dokumen terakhir yang harus dia serahkan pada atasannya. Seharian ini divisi di mana Joonmyeon ditempatkan begitu sibuk mempersiapkan pertemuan besok dengan pengusaha dari Praha. Mereka bahkan tidak bisa keluar kantor untuk makan siang.

“Joon, bagaimana dengan dokumennya?”

Joonmyeon mengangkat kepalanya dan menatap pada seniornya. “Sedang kuperiksa. Akan kuserahkan tiga menit lagi.”

“Okay. Setelah itu, kau bisa hubungi pihak hotel mengenai reservasi kamar?”

Joonmyeon mengangguk lalu kembali pada pekerjaannya. Dia harus menyelesaikan dokumen itu agar pekerjaan lainnya bisa menyusul. Sudah dua hari, Joonmyeon bekerja lembur dan dia tidak ingin lembur lagi hari ini jika besok dia harus pergi ke bandara untuk menjemput pengusaha dari Praha itu. Well, paling tidak, Joonmyeon tidak pergi sendiri.

Setelah dokumen selesai, Joonmyeon langsung menyerahkannya pada atasannya. Kemudian ia menghubungi pihak hotel untuk konfirmasi reservasi kamar. Sebenarnya Joonmyeon masih tidak mengerti kenapa mereka yang harus mengurus segala akomodasi pengusaha itu selama ia berada di Seoul. Alasan yang dijelaskan oleh salah satu seniornya adalah karena mereka adalah ‘pihak tuan rumah’ di mana pertemuan bisnis akan dilaksanakan. Jika mereka yang harus pergi ke Praha, hal yang sama pun akan dilakukan oleh pihak sang pengusaha.

Well, walaupun itu adalah penjelasan yang sedikit aneh, Joonmyeon hanya bisa menuruti apa perintah dari atasannya.

“Baiklah, terima kasih.” Joonmyeon kemudian menutup telepon. “Reservasi hotel sudah dikonfirmasi!” serunya dengan keras. Itu pun agar semua pegawai lain bisa mendengarnya.

Joonmyeon lalu menarik nafas panjang. Ia duduk di kursi dan bisa sedikit bisa bersantai untuk beberapa menit. Setidaknya semua tugasnya sudah diselesaikan. Joonmyeon memijat bagian lehernya perlahan dengan tangan kanannya dan tangannya yang lain meraih ponselnya.

Joonmyeon melihat ada notifikasi pesan masuk dari Sara. Sepertinya dia terlalu sibuk hingga tidak menyadari ada pesan masuk. Joonmyeon lalu membaca pesan singkat tersebut.

Yifan sudah pulang. Kau juga harus pulang akhir pekan ini, mengerti?

Ingat, kau sudah berjanji pada Mom untuk pulang saat agar kita bisa makan malam bersama. Walaupun sebenarnya Mom akan jauh lebih senang jika kau bisa tinggal selama akhir pekan di rumah. Tapi itu tidak akan masalah.

Jika kau mengingkari janjimu, Appa yang akan datang menjemputmu, sayang. Baik itu di flat atau bahkan di kantor sekalipun.

Joonmyeon hanya tertawa kecil membaca ancaman dari Sara. Ibunya itu selalu saja menggunakan ayahnya untuk mengancamnya. Terkadang Sara juga mengancam Joonmyeon menggunakan nama kakeknya. Padahal Sara tidak perlu melakukan hal itu.

Dengan cepat, Joonmyeon segera membalas pesan tersebut.

“Pesan dari ibumu?” tukas senior Joonmyeon yang datang ke mejanya untuk memberikan beberapa dokumen.

Joonmyeon menoleh dan segera mengirim pesan tersebut. “Ah, iya. Hanya mengingatkan kalau aku harus pulang akhir pekan ini untuk makan bersama. Saudaraku baru pulang dari London.”

“Ah… Yifan.”

Joonmyeon mengangguk. Well, semua pegawai sudah tahu tentang Yifan yang menjadi putra tiri Kim Junhyeok. “Untuk penjemputan di bandara…”

“Ah, Jeon sunbae yang mengurusnya. Kau akan menemaninya. Untuk urusan di hotel, ada Shin yang akan mengurusnya. Setelah dari bandara dan mengantarkannya ke hotel, kembali saja ke kantor. Kurasa tidak ada lagi yang perlu disiapkan. Kau bisa melakukan pengecekan terakhir terhadap dokumennya.”

“Baiklah,” gumam Joonmyeon pelan. “Tapi… siapa pengusaha itu? Rasanya aku tidak pernah mendengar nama perusahaan itu sebelumnya.”

“Well, CJ Enterprise memang perusahaan baru. Profil pemiliknya juga tidak banyak diketahui walaupun aku mendengar rumor kalau pengusaha itu bukanlah orang baru di dunia bisnis. Banyak perusahaan yang sudah pernah bekerja sama dengan perusahaan itu dan bertemu langsung dengan pemiliknya, tapi mereka sama sekali tidak membocorkan siapa orangnya. Bahkan dia menggunakan nama alias.”

Kening Joonmyeon mengernyit. “Nama alias?”

“Andrew Joseph Choi. Jika kau mencari informasi mengenai orang itu di internet pun, hanya berakhir sia-sia.”

“Kalau di website profil perusahaannya. Biasanya informasi mengenai  dewan direksi akan muncul, bukan?” ujar Joonmyeon.

“Tapi tidak ada foto profilnya. Mungkin ada sedikit informasi tentangnya, tapi tidak akan banyak membantu. Tenang saja, CJ Enterprise adalah perusahaan yang terpercaya dan tidak ada rumor buruk tentang pemiliknya. Oh ya, dokumen itu harus kau selesaikan dalam sepuluh hari.”

Joonmyeon melirik tiga dokumen yang berada di meja kerjanya. Ia hanya mengangguk kecil dan menyimpan ponselnya.

“Andrew Joseph Choi? Hm…. Choi. Aku hanya mengenal satu Choi dalam dunia bisnis, tapi aku rasa bukan dia orangnya. Lagipula di Korea ini ada begitu banyak orang bernama marga Choi.”

*****

Haesa menerima obat yang dibawakan oleh Haneul dan langsung meminumnya. Hari ini, Haesa merasa kondisinya begitu buruk hingga dia harus pergi ke rumah sakit dan meminta Haneul membuatkan resep obat untuknya.  Haneul sendiri hanya bisa mendengus melihat sikap saudarinya yang begitu keras kepala.

“Kau sudah di rumah sakit, kenapa kau tidak masuk dan bertemu dengan dokter?” ujar Haneul.

Haesa meneguk beberapa kali air mineral dari botol yang dibawakan oleh Haneul. Kemudian ia melirik jengkel pada Haneul. Ia menutup botol air tersebut dan menyodorkannya lagi pada Haneul. “Ini hanya flu biasa. Aku tidak perlu menemui dokter jika saudaraku sendiri adalah dokter. Bahkan kekasihmu juga seorang dokter.”

Haneul memutar matanya. “Tapi aku dokter bedah anak, Haesa. Dan dia juga seorang dokter bedah.”

Alis Haesa terangkat. “Apa bedanya? Selain itu, kau pernah ditugaskan di bagian ER, bukan? Lagipula ini bukan penyakit berbahaya. Hanya sakit biasa saja.”

“Terserah. Tapi jika sampai besok kondisimu tidak membaik, maka kau harus menemui dokter. Aku bisa membuat Eomma yang menarikmu ke rumah sakit, Kang Haesa.”

Haesa mendesah jengkel karena Haneul sudah mengancamnya dengan menggunakan Eomma mereka. “Baiklah. Kita lihat kondisiku besok, okay? Oh ya, hari ini shiftmu sampai jam berapa?”

“Besok pagi aku baru pulang. Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Kalau kekasihmu?”

Kening Haneul mengernyit. “Kang Haesa, sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan, eoh?”

“Tentang rencana pernikahan kalian!!” seru Haesa dengan agak keras.

Haneul sontak menutup mulut Haesa dan melirik kondisi sekitar area parkir. Well, ada beberapa orang tapi tidak begitu ramai dan sepertinya tidak ada yang memperhatikan atau mendengarkan pembicaraan mereka. Haneul kembali menatap Haesa dengan kesal. Ia menarik tangannya dari mulut Haesa.

“Jaga bicaramu, Kang Haesa! Lagipula pernikahan apa? Kami bahkan belum membicarakannya,” ujar Haneul.

“Benarkah? Bukankah dia sudah beberapa-kali membicarakannya denganmu. Ketika Eomma bertanya, dia menjawab kalau kalian sudah membicarakannya tapi kalian masih terlalu sibuk. Dia dengan disertasinya dan kau dengan semua pasien anak-anakmu itu.”

Mata Haneul membulat. “Eomma bertanya padanya tentang pernikahan? Kapan?!!”

“Entahlah. Aku tidak ingat. Eomma pernah mengatakan kalau dia datang ke rumah ketika hari liburnya.”

Oh, Haneul benar-benar dibuat terkejut. Changwook sudah cukup sering datang ke rumah ketika ia libur dan membicarakan tentang pernikahan dengan ibunya, tapi tidak sekali pun Changwook mengatakan hal itu pada Haneul. Selain hal kemarin yang ia tutupi, entah apa lagi yang dirahasiakan Changwook darinya.

Haesa menatap Haneul dengan lekat lalu menepuk bahunya. “Hey, jangan terlalu kerasa padanya. Eomma yang bertanya, dia hanya menjawab. Lagipula dia juga meminta agar Eomma tidak bertanya padamu tentang hal itu. Walaupun pada akhirnya aku yang memberitahumu. Eomma mungkin tidak akan mengatakan apa pun lagi padaku.”

Haneul hanya memandang Haesa.

“Bicaralah dengannya. Tapi jangan terlalu beremosi. Kalian sudah lima tahun bersama. Hubungan kalian tidak mungkin selamanya akan seperti ini, bukan? Bicarakan saja baik-baik. Kalian ingin menikah atau tetap mempertahankan hubungan kalian seperti ini. Aku pergi dulu,” tutur Haesa yang kemudian beranjak menuju mobilnya.

Haneul hanya mendesah dan melihat Haesa berjalan menjauh. Setelah memastikan Haesa sudah berada di dalam mobil, Haneul lalu kembali berjalan menuju rumah sakit. Ia sedikit menoleh dan melambaikan tangannya ketika Haesa mulai melajutkan mobilnya.

Namun, langkahnya terhenti tepat di pintu masuk rumah sakit.

Menikah atau mempertahankan hubungan ini? Itukah alasan kenapa Changwook membutuhkan waktu?

*****

Grace menatap Marc yang hanya terdiam menatap layar komputernya. Itu sudah dilakukannya sejak pagi. Marc hanya beberapa kali bertemu dengan tamu dan menanda-tangani dokumen, tapi selebihnya dia hanya terdiam seperti itu. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Marc saat ini. Mereka sudah saling mengenal selama lima tahun, sejak Marc dan Andrew pindah ke rumah di sebelah rumah Grace. Tapi waktu itu pun tidak cukup mengenal sosok Marc sepenuhnya. Bahkan Andrew juga sesekali mengatakan kalau dia belum sepenuhnya mengetahui sifat dan sikap kekasihnya tersebut.

Grace mengetuk pintu kaca untuk menarik perhatian Marc.

Marc menoleh. “Yes, Grace?”

“It’s half twelve, Marc. You’re late.”

Marc sontak tersadar dan memeriksa jam tangannya. Ia sudah sangat terlambat menjemput Dan di sekolahnya. “Shit!!” umpatnya sembari berdiri dari kursi. Ia mengambil tas serta jaketnya.

Jika Marc harus menaik tram, dia baru sampai di sekolah dalam tigapuluh menit. Dan pasti sudah sangat kesal menunggunya. Jadi, Marc memutuskan untuk menggunakan mobil. Ia membuka laci meja dan mengambil kunci mobil.

Tanpa berpamitan, Marc bergegas meninggalkan ruangannya. Grace yang masih berdiri di luar kantor Marc hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Marc hari ini. Well, mungkin ada kaitannya dengan Andrew yang pergi melakukan perjalanan bisnis. Tapi Grace tidak pernah melihat Marc yang melupakan segalanya seperti ini.

Grace menghela nafas pendek lalu kembali ke meja kerjanya. Paling tidak, dia sudah menghubungi pihak sekolah dengan mengatakan kalau Marc sedang sibuk dan akan terlambat menjemput Dan. Itu akan mengurangi kemarahan Dan pada Marc karena terlambat.

Semoga.

*****

Kyuhyun melirik Jaehyun yang berjalan di sisinya. Ia berhasil sampai di sekolah hanya dalam limabelas menit. Cukup beruntung jalanan kota Praha tidak separah Seoul –kecuali bagian area wisata yang akan selalu ramai. Kyuhyun cukup beruntung, Jaehyun ditemani oleh Mrs. Flo. Tapi ia tahu persis kalau Jaehyun marah padanya karena terlambat.

Ini memang bukan pertama-kalinya, tapi Jaehyun tidak suka kalau harus menunggu. Terlebih jika hanya tinggal ia seorang di sekolah. Saat Kyuhyun datang, Jaehyun hanya menatapnya selama beberapa detik sebelum ia mengambil tasnya dan berjalan keluar kelas. Kyuhyun sempat mengucapkan maaf dan terima kasih pada Mrs. Flo sebelum ia mengejar Jaehyun.

Kyuhyun mengeluarkan kunci mobil dan membuka pintu. Ia membuka pintu belakang dan membantu Jaehyun untuk memanjat naik dan memasangkan sabuk pengaman. Kemudian, Kyuhyun bergegas menuju kursi pengemudi, menyalakan mesin mobil dan melajukan mobil tersebut.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, Kyuhyun sesekali melirik kaca spion untuk melihat Jaehyun. Anak itu hanya diam sembari menatap ke arah luar jendela. Kyuhyun menghela nafas berat.

“Jae… Appa minta maaf karena terlambat menjemputmu. Ada begitu banyak pekerjaan di Yayasan dan Appa tidak memeriksa waktu,” ucap Kyuhyun.

Namun, Jaehyun tidak mengatakan apa pun. Oh, Kyuhyun seperti sedang berhadapan pada Siwon jika pria itu sedang kesal padanya. Yang terburuk adalah Kyuhyun tidak bisa berargumen pada Jaehyun seperti yang biasa ia lakukan pada Siwon.

“Jaehyun…”

“It’s okay,” bisik Jaehyun.

Kyuhyun terdiam. Ini tidak baik-baik saja. Ia mengetahuinya dengan pasti. Kyuhyun menarik nafas perlahan dan kembali melirik melalui kaca spion. “Jae, Appa yang bersalah. Appa minta maaf dan Appa akan…”

Ucapanya terhenti. Kyuhyun tahu dia tidak bisa berjanji pada Jaehyun kalau dia tidak akan mengulangi kesalahannya. Karena ia sendiri mengajari Jaehyun untuk tidak berjanji jika ia tidak bisa menepatinya. Jaehyun adalah anak yang pintar. Dia selalu mengingat semua ucapan dan nasihat Kyuhyun dan Siwon. Sisi buruknya, putra mereka akan bisa membalikkan argument mereka dengan menggunakan kata-kata mereka sendiri.

“Appa akan berusaha lebih keras untuk mengingat waktu.”

Jaehyun hanya mengangguk kecil. Tapi tentu saja, itu tidak akan cukup. Kyuhyun memutar kemudi ke arah yang berlawanan dengan jalan menuju rumah. Well, hanya ada satu cara yang bisa membuat Jaehyun memaafkannya. Walaupun caranya sedikit licik. Siwon juga pernah mengatakan kalau Kyuhyun mempunyai sedikit sifat licik.

Cara bagaimana Kyuhyun membujuk seorang anak kecil. Cara sama yang pernah dilakukan Kyuhyun untuk membujuk Han Jinhae. Ia akan menggunakannya pada Jaehyun. Itu memang sedikit bertentangan dengan cara Kyuhyun mendidik Jaehyun.

Tapi, siapa yang tidak menyukai ice cream?

Kyuhyun menepikan mobilnya tepat di depan toko ice cream Mr. Bolton. Ia menoleh ke kursi belakang dan melihat ekspresi Jaehyun yang terlihat lebih ceria dibanding sebelumnya saat anak itu melihat toko ice cream.

Kyuhyun melepaskan seatbelt dan meraih tasnya. Ia mencabut kunci mobil lalu memanjang keluar. Lalu ia membuka pintu belakang dan melepaskan seatbelt Jaehyun. “Ayo turun…”

Jaehyun menatap Kyuhyun dengan sedikit jengkel. “Akan kuadukan pada  Siwon Appa.”

“Well, jika kau mengadu pada Siwon Appa,  lebih baik kita pulang ke rumah saja.”

Jaehyun mengecurutkan bibirnya. Kyuhyun tertawa kecil. Ia kemudian menurunkan Jaehyun. “Tenang saja. Kau boleh mengadu sepuasmu. Masuk dan pesan ice cream yang kau inginkan. Appa akan bayar parkir dulu.”

Jaehyun lalu bergegas memasuki toko ice cream tersebut sebelum ayahnya berubah pikiran.

*****

NOTE: SELAMAT TAHUN BARU 2017!!!

Hahahaha… Okay, sepertinya penyakit writer block ini benar-benar diluar prediksi saya. Jadi, sebagai permintaan maaf epilognya dibuat agak panjang. Ini baru part 1. Semoga part 2 cepat selesai ya. Saya juga akan mulai untuk fanfic baru. Satu dari tiga judul yang sudah dipublish sebelumnya..

Advertisements

31 thoughts on “[SF] Scarface Part 60 – Epilog Part 1

  1. Wahhh.. Akhir nya epilog nya di up juga..
    Mereka udah 5 tahun di praha. Kyu gak pernah balik ke seoul. Siwon ajaklah kyu dan jaehyun ke seoul.. Tapi sebelum itu, Siwon cari info dulu kondisi di seoul gimana. Apa mungkin untuk ajak Kyu dan Jaehyun atau gak. Kasian Kyu, kangen sama nuna nya, satu2 nya keluarga nya.
    Gimana kondisi ibu nya Siwon yaa? Masih nentang atau sdh luluh? Terakhir kan kayanya udh mulai agak luluh gitu. Tapi who knows?
    Siwon Kyuhyun belum nikah kenapa? Kyu nya yg masih belum mau ya? Kenapa Kyu? Resmiin lah kyu sama Siwon. Biar bisa lebih kuat ikatannya. *tali kali diiket. Kkkk
    Haneul Changwook masih galau mau maju ke tahap lanjut or stand still? Kalau maju, mereka harus coming out lah ya ke rumah sakit. Masa udah nikah masih sembunyi2 juga.
    Yifan joonmyeon bener2 end sbg saudara aja ya? 😢😢
    Well, thanks for the up. Ditunggu part 2 nya. Fighting 😊😊
    P.S : semoga WB nya cepet sembuh yaa… Semangat..

  2. Hampir tiap hari cek email dengan harapan ada updatean terbaru dari coffee shop dan akhirnya yang di tunggu update juga.

    Jadi siwon dan kyuhyun benar benar pergi dari seoul. Mereka juga punya anak, choi jaehyun.
    Meskipun dengan ibu pengganti mereka semoga bahagia dengan keluarga kecilnya. Tapi siwon dan kyuhyun belum menikah?menikah aku pikir…..
    Kayanya kyuhyun juga ingin siwon bahas soal pernikahan lagi. Di tunggu part selanjutnya

  3. siwon knpa dirimu blum menikahi kyuhyun.? sperti kyu jg ingin kamu membahs soal pernikan. apa nanti pas di seoul disiwon akan ketemu appa choi

  4. Uhh, agak gimana gitu pas tau siwon sama kyuhyun belum nikah. Terus dengan adanya jaehyun bikin mereka makin sweet dan kaya udah punya keluarga sendiri. Nunggu moment wonkyu nikah dan ngenalin jaehyun ke saudara2nya di korea 😀

  5. Meskipun mereka akhirnya bersama, tapi rasanya kebahagiaan mereka terasa kurang. Apalagi mereka masih belum menikah, ada apa sebenarnya? Apakah masih ada keraguan? Atau menunggu restu? Semoga ff ni berakhir dengan Wonkyu benar-benar bahagia!

    Siapa Jaehyun? Apa maksud dari kalimat “Jaehyun hanyalah putra Siwon dan bukan putra biologis Kyuhyun?” Jadi takut dengan kalimat tadi.

    Ditunggu lanjutannya…..
    Semoga Siwon balik lagi ke Praha dengan selamat sambil membawa restu. Atau Kyuhyun yang akan menyusul Siwon ke Korea???? Heee nebak.

  6. Akhirnyaa update jgaa
    Wahh mereka dah 5th
    Changmin jga udah nemuin pasanganyaa. Kyaknya semuaa dah bahagia ini..
    Tapi masih penasaran ama kluarga kyu ataupun siwon.. Gimnaa mereka setelah 5th kpergian kyu sama siwon..
    Ahhhhh lanjutt langii di tunggu next chap nyaa author -sshi #Hwaitiing.!!! 😊😊😊

  7. Yay the epilogue is here!
    Wah dalam 5 taun banyak juga yang berubah dari setiap pairing dific ini >< siwon jangan manjain jaehyun dg berlebihan bia gaswat pas gedenya loh…. aw too bad siwon gamau ngajak kyu sm jaehyun ke seoul tapi aku ngerti pst siwon trauma dg segala sesuatu yg terjadi di korea ;;; btw kiyu knp ke distract gt ya? Apa dia sedang mikirin keluarganya atau mikirin takut siwon kenapa2 atau mikirin percakapan mereka sebelum siwon ke korea? Hmm…
    Kya! Joon sekarang jadi intern :3 hwhw dan ketika tau kalo perusahaan tmpt joon magang mau kerja sama sama siwon aku kayak "yay ketemu lg!" Wkwkwk.
    Semoga changwook segera melamar haneul! Wihiuuu!!! :3

  8. Selamat tahun baru yahhh… Semoga di tahun 2017 bisa lebih baik untuk u dan untukku heheheh
    Terima kasih diera eonni…

    Jadi penasaran sama konflik kyu n siwon pas mau punya anak heheh… Pasti seru hehhe

    Semangat diera eonni.. Makasi bangetttt.

  9. well yg dtunggu akhirnya muncul jg… tp sayang dah 5 thn kyu ama won blm resmi jg pdahal dah punya anak jg.. well di tunggu the officially end of scarface dan pst karya baru dri diera ssi…. happy new year smoga trs bkin wonkyu fict new year with new story of fav otp WONKYU…

  10. Kaget pas tau wonkyu blum nikah, pdhal wktu itu siwon dh melamar.
    Siwon mau pulang ke korea, ajaklah kyu siwon…bagaimanapun dia psti kngen sama kluarganya, jngn terlalu kawatir ya…
    Semuanya sdh menemukan kebahagiaan mreka masing2..kecuali orang tua wonkyu.mungkin??
    Di tunggu klanjutan.

  11. Well akhirnta update juga….
    Koment yang mau ditanyakan sudah banyak ditanyain sama yang lain…
    Aku penasaran bagaimana akhirnya Siwon sama Kyuhyun memutuskan untuk memakai ibu pengganti… Awalnya itu gimana, apa itu keinginan keduanya atau salah satunya krn faktanya mrk berdua belum nikah… Mungkin kalo udah nikag okelah mereka diskusi supaya punya anak…
    Moga sih dibahas, moga juga nnti pas akhirnya Kyuhyun ikutbke Seoul mereka bisa nikah… And part ehem2 terakhir sepertinya juga jarus dilanjur… 😁😁😁😁😁
    Semangat diera and happy new year!!!

  12. Akhirnya update juga.. Hampir tiap hari bolak balik ngecek dan nebak bakal update hari ini.. Haha, ternyata firasat saya bisa diandalkan *bangga* :v
    wonkyu belum nikah ? Yaah.. Hubungan mereka kayak masih ada yg ganjel gituh. Gimana tentang keluarga mereka ? Apalagi emaknya siwon sama kyuhyun :3
    penasaran nih, update asap ya,
    keep fighting~

  13. Seneng banget awal tahun dapet epilog.
    Berharap part 2 WonKyu udah nikah, seneng jg liat Haneul sama Changwook udh dpt restu tpi masih penasaran sama akhir hubungan Joonmyeon dgn Yifan ..

    SELAMAT TAHUN BARU juga Kak Diera
    Semangat terus buat tulisannya dan selalu di tunggu fanfic lainnya… ^^

  14. Hohoho…WonKyu sdh merawat anak mereka sendiri???wouw…ga nyangka bnget.Tapi,syukurlah…walau tidak mudah.Sepertinya semua bisa dijalani dengan baik oleh mereka.
    Haneul semoga…dia bisa lbh bersabar untuk kejutan yg dipersiapan Changwook.
    And…Joonmyon semoga hubungan dia dengan Yifan makin kompak.
    Semoga…rencana kerja sama dia dengan Choi Siwon juga berjlan lancar.

    Jeongmal gumawo eonni…
    Happy New Year..!!!😉😉

  15. jadi penasaran dg bagaimana WonKyu untuk memutuskan menggunakan ibu pengganti, penasaran dg keluarga kyu sekarang. ayah siwon ajah kayaknya udah ngerasa kehilangan, apa eomma kyuhyun tdak seperti itu??
    Kenapa Wonkyu tidak segera menikah aja?? padahal kan udah ada Daniel. ff ini selalu bikin penasaran. d tggu epilog part 2 nya 🙂

  16. Baru bisa baca sekarang
    Dan aahhh ternyata wonkyu jadi juga ke praha..
    Tapi pengen tau waktu mereka awal datang ke praha sama proses akhirnya ada jaehyun gitu..
    Apa mereka g kepikiran mau punya anak lagi? Hehehe
    Anaknya kyu gitu, kan biar pas ada dua..
    Jaehyun keingetan sama nct hahaha

  17. jadi mereka sudah memiliki putra bernama jaehyun…
    ngebayangin nya aja pasti lucu.dan dia kelihatan pintar hehehe…
    ditunggu lanjutannya ya

  18. Waaahh baru kali ini jaehyun yg jadi anaknya wonkyu.. jaehyun hanya anak biologisnya siwon dan bukan dengan kyuhyun.. duuuhh semoga bukan karena ‘kecelakaan’.. tp kyuhyun sayang banget sama jaehyun..
    dan kenapa mereka belum menikah ? Secara udah lama bgt mereka berhubungan..
    entar joonmyeon ketemu siwon yak? Penasaran liat reaksinya..
    Eomma choi dan keluarganya kyuhyun masih belum nerima kaahh?? Lanjuuttt
    ditunggu juga ff barumu thor.. thx

  19. Jaehyun itu anak dri ibu pengganti?
    Trnyata siwon masi aja protektif ke kyuhyun ya, kasian.. pasti sbenernya dia ga mau jga kaya gini ya.. smoga kyuhyun dan jaehyun suatu saat bsa ikut ke seoul ya, gmanapun mreka kan psti kangen sama tanah klahiran

  20. Wonkyu ternyata tetap memutuskan pergi dan mrk sdh bersama di Praha selama 5 th, bahkan siwon sdh mempunyai anak. Tp knp status hubungan wonkyu msh blm brubah jg??
    Apa mrk akan menikah stlh mrk kembali ke Korea bersama” krna selama wonkyu prgi kyuhyun dan anaknya sama sekali blm prnah kembali ke negara mrk sendiri

  21. bru bisa komen, karna baru mood baca ff lg hehe
    whoaa ~ udh 5th aja nih di Praha, mana lg mreka udh punya anak yg tentu nya yaa bkn Kyu yg ngelahirin XD
    tpi mereka blm nikah dgn resmi ya? bru punya anak dlu.
    dan tanpa diduga jg Changmin jg udh nikah sma punya anak.
    waahh bnyak perubahan trnyata hoho
    well ~ ditunggu lanjuta nya Ra 😆

  22. udh 5 thn di praha,udh punya anak,tp kenapa status mereka blm da iktan pernikahan..
    Wlaupun ne udh epiloge tp hbungan wonkyu blm da kejelasan ny jg,eonni next chap ny di tnggu ya
    happy new year 2017 jg
    maaf bru comment…

  23. Sudah lima tahun bersama tapi kenapa wonkyu blm nikah? Bukannya siwon udh ngelamar kyu ya???
    Nggak nyangka juga mereka udh punya anak…
    Lanjuttt….

  24. Thanks updating the story after they when Praha…..wow they have kid
    So sad that kyuhyun never go back to Korea…..wonder his parents will not want him back?
    Why until now siwon and kyuhyu are not married…..Kyuhyun has been waiting for that
    Hopefully Siwon will bring his family back to Korea
    Waiting for next epilog ya……see you

  25. Wonkyu udh bahagia bersama tapi kok siwon gitu sih blg sama kyu klu jaehyun anak siwon bkn anak kyu padahal udh lima tahun bersama tp siwon masih aja buat kyu sedih
    Haneul sama wook masih dilema mau lanjut atau enggak
    Jd tambah sulitnya kirain udh selesai masalah mereka semua eh ternyata belum selesai juga masalah mereka
    Tp makasihnya eonno udh buat ff ini lagi dan buat ff wonkyu yg banyaknya eonni
    Semangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s