[SF] Scarface Part 57

ring

57

Haneul tidak bernafsu untuk makan apa pun saat ini. Setelah pertemuan tidak sengaja dengan Haesa di gedung bioskop tadi siang, Haneul ingin pulang saja. Tapi Changwook mengatakan bahwa hari ini adalah kencan mereka. Pertemuan dengan Haesa bukan menjadi alasan mereka harus membatalkan kencan hari ini. Jadi, mereka tetap melanjutkan rencana mereka. Menonton film, makan siang bersama dan pergi ke tempat lainnya seharian.

Namun, saat makan malam, Haesa memaksa agar mereka bicara. Karena Haesa datang bersama rekan kerjanya dan setelah itu harus kembali ke kantor, jadi ia memaksa agar mereka bertemu di suatu tempat.

Changwook menatap Haneul lalu menyodorkan buku menu. “Pesan sesuatu.”

Haneul hanya menghela nafas berat. “Kita pergi ke apartmentmu saja. Jika Haesa ingin bicara, bukankah apartmentmu jauh lebih baik.”

“Tapi kita bisa bicara sembari makan malam, Han.”

“Kita bisa membeli bahan makanan dan memasaknya,” sahut Haneul. Dia benar-benar tidak menyukai hal ini. Walaupun Haneul memang berencana mempertemukan Changwook dan Haesa tapi jika pertemuan yang mendadak seperti tadi siang bukanlah keinginannya. Itu malah akan membuat situasinya menjadi lebih canggung.

Tapi jika dipikirkan lagi, sepanjang hari ini, Haneul bersikap acuh pada kencan mereka. Selepas menonton, saat Changwook bertanya ia ingin makan siang apa, Haneul hanya menjawab seadanya. Dia tidak peduli. Sampai Changwook memilih kedai makguksu. Mereka juga tidak banyak mengobrol seperti biasanya.

Mood Haneul benar-benar buruk sepanjang hari. Bahkan sampai waktu makan malam seperti ini, Haneul tidak memikirkan perasaan Changwook. Pria itu sudah bersusah payah untuk bertukar shift agar mereka bisa pergi hari ini. Changwook juga berusaha untuk sedikit menaikkan mood Haneul. Tapi ia kadang bersikap acuh dan terkesan mengabaikannya.

Kini, Haneul merasa bersalah pada kekasihnya tersebut.

Haneul menaruh buku menu di atas meja dan menatap Changwook dengan lekat. “Wook-ah…”

“Uhm?”

“Maaf, hari ini aku benar-benar mengacaukan segalanya.”

Changwook tersenyum tipis dan menggeleng. “Kau tidak mengacaukan apa pun. Hari ini, walaupun tidak sesuai dengan rencana kita, tapi aku menikmatinya. Kau mungkin sedikit bersikap acuh, tapi mengingat sifatmu, ini jauh lebih baik dari dugaanku.”

“Maksudnya?”

“Setelah bertemu dengan Haesa, kau ingin pulang saja, bukan. Tapi aku sedikit memaksamu untuk agar melanjutkan kencan kita. Saat itu, aku tahu kalau moodmu sudah buruk sekali. Tapi sepanjang hari ini, kau tetap berusaha bertahan dan menikmati kencan hari ini. Itu sudah cukup bagiku. Mungkin lain kali, kita harus merencanakan kencan yang lebih baik.”

Haneul memandang Changwook dengan seksama. Entah bagaimana Changwook yang dulu sering bersikap menyebalkan kini berubah menjadi sosok yang begitu pengertian. Rasanya dia terlalu beruntung mendapatkan Changwook sebagai kekasihnya kini.

Senyuman Changwook terkembang lebar ketika Haneul hanya diam dan memandanginya. “Kenapa? Apa aku terlalu tampan hingga kau memandangiku seperti itu?” Changwook mengambil buku menu yang diabaikan oleh Haneul lalu ia melihat-lihat daftar menu restaurant tersebut.

Haneul hanya menggumam. “Benar. Kau memang tampan.”

Changwook tertawa kecil dan melirik ke pada Haneul. “Bukan hanya tampan, tapi kepribadianku juga sangat menyenangkan. Orang lain sangat mudah tertarik denganku.”

“Benarkah?” tukas Haesa yang muncul dengan tiba-tiba. Bahkan tanpa sapaan yang formal, gadis itu langsung duduk di kursi hadapan Haneul.

Haneul mendengus melihat tingkah saudarinya. Sepertinya mood buruknya kembali naik sesaat dia melihat wajah Haesa. “Hey, tidak sopan jika kau tidak memberi salam.”

Haesa menatap Changwook yang tersenyum padanya. “Berapa usiamu?”

“Kang Haesa!”

Changwook mengulurkan tangannya pada Haesa. “Ji Changwook. Usia tigapuluh empat tahun. Jelas aku lebih tua darimu, jadi tolong bicara dengan sopan, Nona Kang.”

Haesa mendecih. Apa lagi melihat ekspresi Haneul yang terlihat senang karena Changwook bisa mengimbangi tingkah Haesa. Ia menyambut uluran tangan Changwook tersebut. “Kang Haesa. Aku mungkin akan bersikap sopan, tapi aku tidak akan memanggilmu dengan sebutan yang bersahabat.”

“Well itu tidak masalah,” sahut Changwook sembari menarik tangannya lagi. Lalu ia menyodorkan buku menu pada Haesa. “Kau ingin pesan sesuatu?”

“Kalian yang traktir, bukan?”

*****

“Praha?!” seru Changmin.

Siwon mengangguk kecil. Dia menambahkan sup kimchi pedas ke mangkuk milik Kyuhyun. “Kenapa terkejut begitu?” sahutnya. “Rasanya tidak terlalu pedas, bukan?” ujar Siwon pada Kyuhyun.

Kyuhyun hanya menggeleng.

Changmin dan Yunho yang datang pada waktu makan malam untuk membicarakan tentang tujuan kepindahan Siwon dan Kyuhyun hanya bisa melihat tingkah saudara sepupunya yang sepertinya hanya terfokus pada Kyuhyun. Oh, mereka tidak pernah menyangka kalau suatu hari akan melihat Siwon yang bertekuk lutut pada satu orang.

Kyuhyun melirik Changmin dan Yunho dengan sedikit canggung. Setelah mereka dari kantor polisi, Siwon memperlakukannya berlebihan. Saat mereka pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan, Siwon tidak membiarkan Kyuhyun membawa barang berat. Termasuk ketika Siwon memasak makan malam. Siwon hanya menyuruh Kyuhyun beristirahat di kamar atau mungkin menonton televisi.

“Siwon…”

“Uhm? Kenapa?” tanya Siwon.

Kyuhyun memberi isyarat kalau mereka tidak hanya berdua di meja makan. Siwon menatap Changmin yang mendengus jengkel sedangkan Yunho yang terlihat terkesan dengan chemistry yang ditunjukkan Siwon dan Kyuhyun. Pria Jung itu seperti sedang melihat pasangan yang baru saja menikah.

“Itu hanya Changmin dan Yunho. Kenapa?” tukas Siwon.

Changmin menaruh sumpitnya dengan keras. “Yak!! Berhenti bersikap menjijikkan seperti itu Choi Siwon!”

Yunho menyenggol Changmin. “Hey, menjijikkan apanya. Jika kau sudah menikah, kau mungkin akan bertingkah seperti Siwon saat ini.”

Changmin menatap Yunho dengan tidak percaya. Yunho seakan tidak merasa terganggu. Siwon menyeringai lebar sedangkan Kyuhyun hanya menunduk menatap mangkuk nasinya. Wajahnya terasa panas saat ini.

“Oh, sangat sulit dipercaya!” desis Changmin kesal. Ia kemudian menarik nafas panjang. Tujuan ia dan Yunho adalah menanyakan tujuan kepindahan Siwon dan Kyuhyun. Setelah itu, dia hanya akan menghabiskan makan malamnya lalu pulang. Sampai saat itu, Changmin akan berusaha bertahan melihat tingkah menyebalkan Siwon.

Changmin menatap Siwon dengan lekat. “Kenapa Praha?” tanyanya.

Siwon mengangkat bahu. “Itu hanya terlintas begitu saja saat kami membicarakannya saat perjalanan menuju kantor polisi tadi siang. Kyuhyun juga tidak keberatan. Kau masih mengusulkan New York?”

“Tentu saja! Aku sudah bersusah payah menghubungi Eric Moon!”

Yunho memasukkan potongan daging panggang ke dalam mulutnya. “Kurasa Praha tidak buruk. Aku akan menghubungi orang yang mengurus dokumennya. Bagaimana dengan tempat tinggalnya?”

Siwon melirik Kyuhyun yang hanya melahap makanannya. “Kami akan mencarinya di internet. Itu mungkin sedikit lebih mudah. Ah, aku juga perlu melakukan mutasi rekening. Walaupun akun milikku sendiri, tapi Eomma bisa saja menghubungi pihak bank untuk memblokirnya.”

“Tapi itu akan butuh persetujuan Kakek,” tukas Changmin yang kembali melahap makanan.

Alis Siwon terangkat. “Untukku mutasi rekening atau Eomma memblokir rekeningku?”

Changmin mengangkat kepalanya dan menatap Siwon. “Keduanya. Jika kau ingin mutasi rekening tanpa persetujuan Kakek, mungkin kau harus pergi ke bank langsung.”

“Itu pasti akan membutuhkan waktu lama. Bahkan jika aku pergi besok, baru akan selesai minggu depannya,” ujar Siwon.

Itu memang benar. Perpindahan rekening memang menjadi kesulitan tersendiri untuk anggota keluarga Choi. Terlebih selama ini semua keuangan perusahaan bahkan keuangan rumah tangga Choi diserahkan pada sebuah firma akuntan dan auditor khusus. Bahkan untuk penarikan uang di bank saja, semua itu membutuhkan dokumen persetujuan dari Choi Daehan. Terlebih saat ini, Siwon ingin memindahkan semua uang di rekeningnya ke rekening lainnya yang bahkan berbeda bank. Itu pasti membutuhkan waktu yang cukup lama.

Yunho kemudian menatap Kyuhyun yang tidak terlibat dalam perbincangan mereka. Sang pengacara itu hanya berfokus pada makanannya. Akan lebih mudah jika Kyuhyun yang seorang pengacara bisa membantu mereka dalam hal ini. Tapi itu pun Kyuhyun harus mempunyai surat kuasa yang valid.

Kemudian, Yunho teringat sesuatu yang penting. “Kau bisa meminta bantuan Kyuhyun,” ucapnya tiba-tiba.

Hal itu membuat Kyuhyun sontak mengangkat kepalanya dan menatap ketiga pria yang kini menatapnya lekat. “Apa? Membantu dalam hal apa?”

“Yunho hyung, bantuan Kyuhyun seperti apa maksudmu?” tanya Siwon.

Yunho tersenyum tipis. “Kyuhyun adalah seorang pengacara, bukan? Yang dia butuhkan hanyalah surat kuasa dari Choi Daehan agar kau bisa melakukan mutasi rekening dengan mudah.”

“Surat kuasa?” Kening Changmin berkerut. “Maksudnya, Kyuhyun pergi menemui Kakek dan memintanya untuk menandatangani surat kuasa, begitu?”

Yunho menggeleng. Ia menatap kedua sepupunya dengan lekat. “Bukankah sebelumnya Kyuhyun diberikan surat kuasa sebagai pengacara Choi Group untuk kasus sengketa tanah di Incheon itu? Pengacara Cho, apa kau masih punya dokumen tersebut?”

*****

Siwon keluar dari kamar dengan handuk untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Setelah makan malam –berikut dengan perbincangannya– selesai, Siwon menyuruh Kyuhyun untuk mandi terlebih dahulu sementara dia menyuruh Changmin mencuci piring-piring kotor. Itu pun dengan sedikit paksaan karena Siwon sudah memasak dan Changmin makan dengan porsi yang lebih banyak dari mereka semua. Kemudian setelah Changmin dan Yunho pulang, barulah Siwon yang mandi.

Siwon menghampiri Kyuhyun yang sedang duduk di sofa –Kyuhyun sudah berganti dengan baju tidurnya, celana panjang dengan kaus polos– sembari memperhatikan layar ponselnya dengan begitu serius. Siwon duduk di sebelah kekasihnya dan bertanya.

“Ada apa? Kenapa ekspresimu terlihat serius?”

Kyuhyun menghela nafas pendek. “Jisung mengirim pesan dan meminta untuk bertemu. Jujur saja, aku merasakan sedikit tidak nyaman.” Kemudian Kyuhyun menatap Siwon dengan lekat. “Noona pernah mengatakan kalau dia akan memberitahu Jisung tentang diriku. Mungkinkah itu alasannya?”

“Kau sudah bertanya padanya kenapa ia ingin bertemu?”

Kyuhyun mengangguk. “Dia hanya mengatakan kalau ini cukup penting. Dia memberitahu tempat dan waktu di mana kami akan bertemu,” ujarnya sembari menyodorkan ponselnya pada Siwon.

Siwon membaca pesan terakhir yang dikirimkan oleh Jisung. Pria itu meminta agar mereka bisa bertemu secepat mungkin. “Ingin aku temani?”

Kyuhyun mendesah pelan. Lalu menggeleng. “Kurasa itu tidak perlu. Lagipula besok kau juga harus ke bank, bukan? Aku akan ikut denganmu sesuai dengan usulan Direktur Jung. Setelah itu, aku bisa pergi menemui Jisung.”

Siwon mengernyit lalu tertawa kecil. “Direktur Jung? Itu terdengar aneh. Panggil saja dengan sebutan Yunho hyung. Dia juga tidak akan keberatan, Kyuhyun. Tapi apa kau yakin? Maksudku, ini bisa disebut penipuan. Aku tidak ingin reputasimu sebagai pengacara…”

Kyuhyun mengambil ponselnya lagi dari tangan Siwon. “Memanggilnya dengan sebutan hyung, masih canggung bagiku. Dan mengenai usulan itu, aku rasa tidak ada masalah. Secara hukum, aku masih memegang kuasa yang diberikan oleh Presdir Choi sebagai pengacara Choi Group. Tapi aku sedikit khawatir. Pihak bank mungkin akan menghubungi Presdir Choi untuk menanyakan validitas surat kuasa tersebut.”

Siwon menghela nafas. Rencana Yunho mungkin bisa dilakukan, tapi tetap ada resiko. Dan Siwon tidak ingin Kyuhyun mendapatkan masalah atas kode etiknya sebagai pengacara karena hal ini. Kemudian Siwon menyandarkan punggungnya ke sofa dan meraih tangan Kyuhyun.

“Begini saja. Kau tetap ikut denganku ke bank. Tapi pertama aku akan bicara dengan pihak bank. Jika mereka meminta surat dari Kakekku, kau bisa memberikan surat kuasa itu. Setelah itu, kau bisa pergi menemui Jisung. Aku yang akan meyakinkan mereka agar tidak menghubungi Kakek. Walaupun nanti ada masalah, biar aku yang mengatasinya,” tutur Siwon.

Kyuhyun berkedip beberapa-kali. “Kau yakin?”

Dengan tangannya yang lain, Siwon menyentuh surat rambut Kyuhyun yang sudah agak kering. Siwon mengangguk. “Kau bisa membawa mobilku untuk menemui Jisung. Aku akan menghubungimu jika urusanku sudah selesai. Jadi, antara kau yang harus kembali ke bank untuk menjemputku atau aku yang pergi ke tempat di mana kau bertemu Jisung.”

Kondisi mobil Kyuhyun saat mereka melihatnya di kantor polisi terlihat tidak begitu baik. Ada beberapa bagian yang rusak. Mungkin bisa diperbaiki, tapi mengingat rencana mereka, Siwon mengusulkan untuk menjualnya saja. Awalnya Kyuhyun menolak. Mobil itu adalah hasil kerja kerasnya. Kyuhyun membelinya setelah tiga tahun bekerja di firma hukum. Tapi Siwon meyakinkan Kyuhyun kalau mobil itu diperbaiki akan membutuhkan setidaknya hampir sebulan. Sedangkan mereka berencana pergi dalam waktu satu atau dua minggu ini.

Akhirnya, Kyuhyun setuju. Mereka sudah membawa mobil itu ke tempat jual mobil bekas. Hanya tinggal mengirimkan surat-surat mobil itu saja dan mengurus pembayarannya.

“Okay.”

Siwon tersenyum dan mengecup punggung tangan Kyuhyun. Kemudian ia beralih mengecup ujung bibir Kyuhyun. “Kau lelah?”

Kyuhyun menghembuskan nafas perlahan. “Tidak. Ini bahkan belum terlalu malam, Siwon.”

“Aku tahu,” bisiknya yang kemudian mencium bibir lembut Kyuhyun.

Kyuhyun membalas kecupan tersebut. “Lalu? Apa hubungannya dengan ini?”

Siwon mengecup bibir Kyuhyun lagi. “Tidak ada.”

Kyuhyun mendengus lalu mendorong bahu Siwon agar memberikan ruang di antara mereka. Kemudian ia meraih remote televisi dan menyalakan televisi tersebut. Kyuhyun mencari channel dengan tayangan yang sedikit menarik –selain drama tentu saja. Siwon memperhatikan Kyuhyun dan lalu menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya.

Well, malam ini setidaknya mereka bisa bersantai.

*****

Kyuhyun merapikan jas hitamnya di hadapan sebuah cermin besar yang ada di kamar Siwon. Rasanya sedikit aneh jika dia berpakaian formal seperti ini. Kyuhyun akan kembali pada profesinya sebagai pengacara walaupun hanya untuk beberapa jam, jadi dia harus berpakaian yang sesuai. Cukup beruntung, Ahra juga memasukkan satu pasang pakaian formal di dalam kopernya. Lagipula Kyuhyun tidak mungkin meminjam pakaian Siwon.

Setelah memastikan pakaian serta tatanan rambutnya sudah rapi, Kyuhyun mengambil sebuah dokumen yang sudah disiapkannya tadi malam saat Yunho menanyakan surat kuasa dari Choi Group. Well, sekali lagi, Kyuhyun berterimakasih pada kakaknya karena memasukkan laptopnya. Jika tidak, mungkin Kyuhyun harus ke kantor firma hukum Kang untuk mengambil dokumen tersebut.

Setelah memastikan ia membawa ponsel serta dompet di saku dalam jasnya, Kyuhyun meraih mantelnya di tempat tidur dan melangkah keluar kamar. Ia melihat Siwon yang juga berpakaian formal seperti dirinya tengah berbicara dengan seseorang melalui ponsel. Siwon berdiri dekat jendela dan bicara pelan.

Kyuhyun menarik nafas pelan lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air. Ia menaruh dokumen surat kuasa itu di atas meja counter dan menyampirkan mantelnya di stool. Kemudian ia mengambil gelas dan mengisinya dengan air yang ada di sebuah botol air besar.

“Kau sudah siap?” tanya Siwon.

Kyuhyun menghabiskan air tersebut lalu mengangguk. Ia menaruh gelas itu di wastafel cuci piring. “Kau bicara dengan siapa?” tanyanya sembari mengambil mantel dan memakainya.

“Manager bank. Hanya memberitahu kalau aku akan datang,” tutur Siwon sembari membantu merapikan mantel tersebut. Lalu ia menarik pergelangan tangan Kyuhyun. Siwon tersenyum ketika ia melihat Kyuhyun masih memakai jam pemberiannya.

Siwon sebenarnya merasa terkejut melihat kondisi jam pemberiannya yang masih terlihat baik-baik saja. Namun, pada strap-nya sangat terlihat bekas darah. Itu karena luka di pergelangan tangan Kyuhyun yang diikat kuat saat penculikan itu. Siwon sudah mengatakan kalau dia akan menggantinya, tapi Kyuhyun menolak dengan keras. Ia mengatakan bahwa jam itu adalah hadiah ulangtahunnya. Walaupun itu adalah pemberian Siwon, Kyuhyun mengatakan jam tersebut adalah miliknya sekarang. Jadi, dia yang berhak menentukan apakah dia akan menggantinya atau tidak.

“Kenapa?”

Siwon menatap Kyuhyun sekilas lalu melepaskan jam itu dari pergelangannya. Kemudian Siwon juga melepaskan jam yang dipakaiannya dan memakaikannya di pergelangan tangan Kyuhyun. Sedangan Siwon memakai jam milik Kyuhyun.

“Kenapa kita bertukar jam?” tanya Kyuhyun.

“Tidak apa-apa. Hanya ingin saja,” sahut Siwon sembari menyentuh rambut Kyuhyun dengan hati-hati agar dia tidak merusak tatanan rambutnya. “Kau terlihat tampan hari ini, Kyuhyun.”

“Well… Kau juga terlihat tidak begitu buruk.”

Siwon tertawa kecil. Ia lalu menautkan jemari mereka dan dengan tangannya yang lain, Siwon mengambil dokumen yang berada di atas meja counter. “Ayo pergi.”

*****

Changmin mendesah ketika ia baru saja kembali dari meeting harian dengan beberapa pegawai, di ruangannya Choi Jaewon sudah menunggunya. Jika kemarin Choi Daehan yang menganggunya, kali ini giliran putranya. Ini adalah penyesalan terbesarnya bekerja di kantor Choi Group pusat.

Changmin menutup pintu perlahan lalu berjalan menuju meja kerjanya. “Ada apa Paman?” tanyanya sembari menaruh buku catatan yang dibawanya ke atas tumpukan dokumen.

Choi Jaewon yang duduk di sofa menatap Changmin dengan serius. “Kau sudah tahu rencana Siwon membawa Pengacara Cho pergi dari Korea.”

Itu bukanlah pertanyaan lagi. Changmin duduk di kursi besarnya dan membuka beberap dokumen yang sempat tertunda. “Apa Siwon memberitahu Paman saat kalian bertemu kemarin?”

“Begitulah. Dan sepertinya kau dan Yunho membantunya untuk mengurus surat-suratnya, bukan? Ke mana dia akan pergi?”

Changmin melirik Jaewon. “Entah. Dia belum mengatakan apa pun. Tapi aku tidak membantunya mengurus apa pun. Aku sudah cukup sibuk dengan semua tumpukan dokumen yang ditinggalkan Siwon.”

Itu bukan sepenuhnya kebohongan. Hanya Yunho yang mengurus surat-surat itu sedangkan Changmin hanya menghubungi Eric Moon. Itu pun akan menjadi tidak terlalu berguna karena Siwon sudah memutuskan tujuannya bukanlah New York. Oh, Changmin perlu mengirim email lainnya pada Eric nanti.

“Changmin…”

Changmin menghela nafas frustasi. Tidak bisakah hari ini dia bekerja dengan tenang tanpa ada gangguan dari Kakek atau Pamannya yang begitu penasaran dengan masalah Siwon dan Kyuhyun saat ini? Changmin menatap pamannya dengan ekspresi kesal. Namun, dia tahu kalau tidak bisa berteriak marah dihadapan Jaewon. Ini masih dalam ruang kantor.

“Direktur Choi Jaewon, bisakah kita bicarakan masalah keluarga ini nanti saja? Aku masih mempunyai tumpukan dokumen yang ditinggalkan oleh Direktur Choi Siwon yang tiba-tiba saja mengundurkan diri. Kumohon…” tutur Changmin.

Jaewon menatap Changmin dengan sedikit terkejut. Walaupun nada bicara Changmin masih terdengar sopan, tapi Jaewon bisa melihat kemarahan serta kejengkelan dari ekspresi wajah keponakannya tersebut. Terlebih Changmin menggunakan sebutan formal.

“Baiklah. Kita bicarakan ini nanti.” Kemudian Jaewon bergegas keluar dari ruangan tersebut sebelum Changmin kehilangan kesabarannya.

Changmin menghembuskan nafas perlahan saat mendengar suara pintu tertutup. Akhirnya, dia sendirian. Changmin kemudian memegang bagian leher belakang dan menekannya kuat. “Oh ya Tuhan. Kalau terus begini, aku bisa kena darah tinggi dan serangan jantung.”

*****

Changwook membuka pintu tangga darurat dan menemukan Haneul sudah menunggunya sembari duduk di salah satu anak tangga. Ia tersenyum tipis sembari menghampirinya. Haneul membalas senyuman tersebut saat Changwook duduk di sebelahnya lalu menyodorkan botol minum tumbler yang berisi jus.

“Aku membuatnya pagi ini,” tukas Changwook.

Alis Haneul terangkat. “Kau tidak membelinya?”

“Jus yang dijual kebanyakan memakai gula yang berlebihan. Itu tidak baik untuk kesehatan. Jadi, aku berpikir untuk membuat jus yang benar-benar terbuat dari buah seutuhnya. Aku menambahkan madu dan bukan gula.”

Haneul membuka botol tumbler itu dan menyesapnya sedikit. Rasanya memang tidak semanis jus yang pernah dibawakan oleh Changwook sebelumnya. Tapi Haneul bisa mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh Changwook. “Kau pasti bertanya dulu pada dokter nutrisi di lantai tiga.”

“Hanya sedikit konsultasi. Rasanya enak?”

Haneul mengangguk. “Ini sangat enak. Manisnya juga terasa cukup. Terima kasih.”

Changwook kembali tersenyum. Haneul menutup kembali botol tumbler tersebut.

Lalu situasinya berubah menjadi hening dan sedikit canggung. Changwook menarik nafas dan memperhatikan sekeliling tangga darurat tersebut. Rasanya pertemuan mereka selalu di tangga darurat atau tempat lainnya yang tersembunyi. Bahkan jika mereka bertemu di ruang publik, Changwook tidak bisa bersikap sebagaimana mestinya.

Haneul sendiri hanya menatap botol tumbler di tangannya dengan seksama. Pikirannya benar-benar tidak fokus. Bahkan saat melakukan kunjungan pagi di awal shiftnya hari ini, Haneul sudah membuat kesalahan mengenai catatan data pasien. Tapi beruntung dia berhasil memperbaikinya dengan cepat. Jika tidak, akan menjadi masalah yang besar.

Changwook menghembuskan nafas. “Han, kau sudah bicara lagi dengan Haesa?”

Haneul melirik Changwook lalu menggumam. “Kami bicara sebentar. Walaupun dia masih kesal padaku karena aku berbohong saat mengenalkan dirimu pertama-kali, aku pikir Haesa bisa menerimanya dengan baik.”

“Benarkah?” Changwook sekarang memandang Haneul.

“Tapi dia masih bersikeras agar aku mengenalkanmu pada orangtua kami.”

“Well, itu memang menjadi pertimbangan kita bukan? Aku bertemu orangtuamu secara resmi sebagai kekasihmu. Mengingat kejadian Haesa kemarin, aku pikir kita harus segera mempercepatnya. Aku tahu kau masih perlu berpikir tentang hal ini dan aku tidak mau terkesan memaksamu. Namun, Haesa bisa saja yang bicara terlebih dahulu mengenai diriku.”

Itu memang benar. Mungkin Haesa bisa menutup mulutnya untuk sementara waktu. Tapi jika Haneul tidak bergerak, saudarinya itu pasti akan merasa kesal dan akhirnya bicara tanpa persetujuan darinya.  Reaksinya mungkin tidak akan jauh berbeda seperti Haneul yang secara tidak sengaja coming out. Namun, coming out sebagai gay dan mengakui mempunyai kekasih pria adalah sesuatu yang sedikit berbeda.

Inilah yang dihindari oleh Haneul.

“Baiklah, akan kupikirkan dengan baik.”

Changwook tersenyum lalu mengecup bibir Haneul sekilas sebelum ia berdiri. “Baiklah, kita bertemu di kafetaria untuk makan siang?”

Haneul mengangguk. Kemudian Changwook yang meninggalkan ruang tangga darurat itu terlebih dahulu. Haneul menatap botol tumbler yang dipegangnya. Lalu ia tersenyum lebar.

“Baiklah, saatnya bekerja Kang Haneul!”

*****

Kyuhyun memperhatikan Siwon yang bicara dengan serius dengan seorang manager bank dari balik jendela besar. Ia sendiri menunggu di luar ruangan sang manager bank tersebut karena bagaimana pun juga ini adalah hal pribadi Siwon. Kyuhyun menimbang dokumen yang dipegangnya. Mungkin Siwon bisa meyakinkan sang manager untuk melakukan mutasi tanpa perlu meminta persetujuan dari Choi Daehan. Itu akan jauh lebih memudahkan.

Kemudian Kyuhyun melirik jam di pergelangan tangannya. Ia masih mempunyai waktu sebelum bertemu dengan Jisung. Namun, Kyuhyun terdiam sejenak memandang jam milik Siwon di pergelangan tangannya tersebut. Jujur saja, ini sedikit aneh.

Walaupun Siwon mengatakan dia hanya sekedar iseng bertukar jam dengannya, tapi Kyuhyun tidak pelak merasa sesuatu firasat yang sedikit menganggunya. Dadanya seperti ada sensasi yang begitu berat dan menekan hingga terkadang Kyuhyun harus mengambil nafas panjang. Kyuhyun hanya berharap kalau ini bukanlah sesuatu firasat yang buruk.

“Kyuhyun…!” Sontak Kyuhyun menoleh dan menatap Siwon yang tengah memandanginya. “Kau kenapa?”

“Tidak a-apa. Kenapa?”

Siwon memperhatikan kekasihnya dengan begitu serius. “Kau yakin?”

Kyuhyun mengangguk. “Apa kau membutuhkan surat ini sekarang?”

“Begitulah,” ujar Siwon sembari mengambil dokumen tersebut dari tangan Kyuhyun. Ia menatap kekasihnya, “Sepertinya aku terpaksa melakukannya. Walaupun begitu, aku yakin akan membutuhkan waktu lama. Kau pergi saja bertemu dengan Jisung. Aku bisa mengurus ini.”

Kemudian Siwon menyodorkan kunci mobilnya pada Kyuhyun. Walaupun dia merasa sedikit khawatir membiarkan Kyuhyun menyetir. Kondisinya semakin membaik tapi Siwon tetap tidak ingin membiarkan Kyuhyun berkendara seorang diri.

“Hati-hati menyetir, okay?” Namun, Siwon masih sangat ragu. “Ahh… aku merasa tidak nyaman. Telepon jasa supir pengganti saja, okay?”

Kyuhyun mengambil kunci itu dan tersenyum. “Jangan khawatir. Aku akan lebih berhati-hati. Tapi kau yakin aku tidak perlu bicara dengan manager bank itu agar lebih meyakinkan?”

“Pergilah Kyuhyun. Aku akan mengabarimu setiap jam untuk memberitahu perkembangannya. Jika kau selesai lebih cepat, kau bisa kembali ke sini dan mungkin membantuku bicara dengan managernya. Tapi untuk saat ini, aku bisa mengatasinya.”

Kyuhyun menghela nafas pendek. “Baiklah, aku pergi.”

*****

Choi Yoojin keluar dari mobil mewahnya. Ia memberikan mobilnya pada petugas valet dan langsung memasuki sebuah hotel mewah. Dengan penuh percaya diri, Yoojin berjalan menuju meja resepsionis. Ia memberikan senyuman elegan ketika pegawai resepsionis menyapanya.

“Selamat pagi, Nyonya. Ada yang bisa kami bantu?”

Yoojin menaruh tas tangannya di atas meja, “Aku ingin bertemu dengan Direktur Ahn Jisung.”

Sang pegawai pria terlihat sedikit terkejut dengan ucapan Yoojin. “Ah, maaf Nyonya. Tapi apakah Nyonya sudah mempunyai janji bertemu dengan Direktur?”

“Aku memang belum membuat janji bertemu dengannya. Tapi katakan saja Choi Yoojin dari Choi Group ingin bertemu. Ini mengenai hal penting,” tutur Yoojin dengan angkuh.

Pegawai itu melirik rekannya dengan sedikit canggung. Tentu saja, tidak setiap hari ada orang datang dan mengatakan bahwa dia dari Choi Group dan meminta bertemu dengan Direktur hotel tanpa membuat janji terlebih dahulu. Namun, bagaimana pun pegawai itu harus mengikuti aturan yang berlaku. Ia tidak bisa membiarkan sembarangan orang –bahkan dari Choi Group sekali pun– naik ke lantai direksi hotel tanpa ada janji pertemuan sebelumnya.

Pegawai itu sedikit menunduk. “Maaf Nyonya, tapi kami tidak bisa membiarkan anda bertemu dengan Direktur tanpa ada janji sebelumnya. Mungkin anda bisa menghubungi kantor secretariat.”

Yoojin mendengus mendengar alasan tersebut. Rasanya sulit dipercaya kalau dia ditolak hanya karena tidak mempunyai janji sebelumnya. Yoojin menatap pegawai itu dengan tajam. Ia melirik nametag yang terdapat di bagian dada kiri seragam pegawai tersebut. “Dengar Nam Daehyun-sshi, aku tidak perlu menghubungi bagian secretariat hanya untuk membuat janji dengan Direkturmu. Kau bisa menghubungi kantor Direktur dan mengatakan Choi Yoojin dari Choi Group ingin bertemu.”

Pegawai bernama Nam Daehyun itu menunduk sekilas dan menatap Yoojin. “Maafkan saya, Nyonya Choi. Tapi saya hanya menjalankan sesuai dengan peraturan. Kami tidak boleh membiarkan seseorang ke lantai direksi tanpa ada janji pertemuan sebelumnya. Saya yakin anda juga mengetahui tentang hal tersebut.”

“Tch.. ‘seseorang’ kau bilang?!”

Kemudian seorang pria menghampiri Choi Yoojin dan sedikit membungkuk. “Maafkan atas kelancangan pegawai kami, Nyonya.” Pria itu lalu menatap sang pegawai. “Nam-sshi, ada apa?”

“Maafkan saya, Manager Sung. Tapi Nyonya ini ingin bertemu dengan Direktur Ahn tetapi beliau tidak mempunyai janji pertemuan sebelumnya,” jelas Nam Daehyun.

Sang Manager tersebut lalu kembali menatap Yoojin. “Maafkan kami, Nyonya. Tapi jika anda tidak mempunyai janji sebelumnya, anda tidak bisa bertemu dengan Direktur Ahn.”

Yoojin benar-benar tidak percaya. Selain ditolak oleh pegawai rendahan, managernya bahkan juga mengatakan hal yang sama. Ia merupakan menantu di keluarga Choi yang terhormat. Choi Group adalah perusahaan yang begitu besar. Tidak ada satu pun orang di Korea yang tidak mengetahui Choi Group.

“Aku hanya ingin bertemu dengan Direkturmu selama sepuluh menit. Dan aku yakin, Direkturmu itu tidak sesibuk apa perkataanmu hingga aku harus membuat janji untuk bertemu dengannya. Katakan saja…”

“Manager Sung! Ada apa ini?”

Choi Yoojin menoleh dan melihat seorang pria berpakaian setelan formal yang terlihat mahal sedang memperhatikannya dengan lekat. Manager Sung bergegas menghampiri pria itu dan sedikit membungkuk.

“Maaf, Direktur Ahn.”

Choi Yoojin tersenyum ketika mengetahui bahwa pria itu adalah orang yang hendak ditemuinya. Yoojin mengambil tas tangannya lalu berjalan menghampiri Jisung. “Direktur Ahn Jisung.”

Jisung menatap Yoojin dengan seksama. “Iya, anda sendiri siapa? Kenapa anda membuat keributan di hotel saya?”

Manager Sung kembali membungkuk. “Maafkan saya, Direktur. Nyonya ini memaksa ingin bertemu dengan anda. Tapi sesuai dengan peraturan perusahaan, tidak ada yang bisa bertemu dengan anda tanpa janji sebelumnya.”

“Tapi aku yakin ini bisa menjadi pengecualian,” tukas Choi Yoojin dengan angkuh. “Direktur Ahn, ada hal yang aku ingin bicarakan. Ini mengenai hal penting.”

Jisung menghela nafas pendek. Dia sama sekali tidak menyukai orang yang selalu memaksa kehendaknya dengan menggunakan kekuasaan yang dimiliknya –bahkan jika itu hanya dengan menggunakan nama keluarga atau suatu perusahaan. Hanya dengan sekali lihat, Jisung bisa menebak bahwa wanita yang berada dihadapannya kini pastilah mengira hanya dengan mengatakan bahwa dia berasal dari keluarga terpandang, maka dia bisa mendapatkan keinginannya dengan mudah.

“Maafkan saya Nyonya. Tapi saat ini, saya sudah mempunyai janji lain. Jika anda ingin bicara, tolong hubungi kantor secretariat hotel ini dan membuat janji,” tutur Jisung. Kemudian ia menatap bawahannya. “Tolong jangan sampai ada keributan yang menganggu tamu hotel, Manager Sung.”

“Baik, Direktur Ahn.”

Jisung kemudian beranjak meninggalkan lobby.

Choi Yoojin benar-benar kehilangan kata-kata. Selain oleh pegawai rendahan, ia bahkan juga ditolak oleh Direktur yang tidaklah ubahnya hanya seorang anak ingusan. “Ahn Jisung!”

Langkah kaki Jisung terhenti dan kembali menoleh. Manager Sung terlihat panik karena Yoojin berteriak dengan keras. Bahkan beberapa tamu mulai memperhatikan mereka.

“Nyonya, saya mohon. Jangan membuat keributan di sini. Direktur Ahn sudah mengatakan sendiri…”

Yoojin tidak mendengarkan ucapan pegawai bawahan itu. Dia lalu berjalan menghampiri Jisung dan menatapnya dengan tajam. “Dengarkan aku baik-baik, Ahn Jisung. Apa yang kubicarakan ini sangat penting. Jika kau tidak mendengarkanku, maka kau akan menyesal seumur hidupmu. Tentu saja, nama keluargamu dan juga Hotel Cassie ini juga menjadi taruhan besar.”

Jisung memicingkan matanya. Dia benar-benar tidak menyukai sikap wanita dihadapannya ini. “Apa pun itu, saya pikir bisa menunggu hingga anda membuat janji pertemuan.”

“Ini berkaitan dengan keluarga Cho. Keluarga calon istrimu itu,” ucap Yoojin. Ia menyeringai sinis. “Apa kau masih akan menyuruhku menunggu dan membuat janji hanya untuk mengatakan hal ini?”

Jisung terdiam sejenak. Ia melihat ada rasa kepercayaan diri yang begitu besar dari kilat mata wanita dihadapannya. Seolah wania itu menyimpan sebuah rahasia besar mengenai keluarga Cho dan bisa menggunakan rahasia itu sebagai alat pemerasan dan ancaman.

Jisung menarik nafas. “Nyonya, anda itu siapa? Kenapa anda begitu bersikeras untuk bicara dengan saya?”

“Choi Yoojin dari Choi Group.”

*****

Ahra menghela nafas pendek.

Jisung belum memberi kabar apa pun sejak pembicaraan mereka kemarin. Walaupun Ahra bisa mengerti bahwa Jisung pasti tidak bisa mencerna dengan mudah pengakuannya kemarin. Tapi ini membuatnya begitu gugup. Keputusan Jisung akan merubah segalanya. Bahkan kehidupan Ahra juga. Termasuk kemarahan kedua orangtuanya jika Jisung pada akhirnya memutuskan mengakhiri hubungan mereka.

Namun, Ahra tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Asalkan Jisung tetap tutup mulut mengenai Kyuhyun, maka pernikahan batal pun tidak jadi masalah. Ahra melirik ponselnya sekilas. Ia ingin bicara dengan Kyuhyun. Paling tidak, dengan mendengarkan suara Kyuhyun akan membuat Ahra menjadi lebih tenang.

Kemudian ia mengambil ponsel tersebut dan menekan nomor Kyuhyun.

“Cho Kyuhyun di sini.”

Kyuhyun langsung menjawab panggilannya, bahkan sebelum Ahra mendengar nada sambung. “Halo, Kyuhyun..”

“Halo juga, noona. Dan aku juga merindukanmu.”

Ahra tertawa kecil mendengarnya. “Hey, aku tidak mengatakan apa pun.”

“Aku tahu. Tapi aku juga merindukanmu.”

“Dasar menyebalkan. Kau sedang apa?” tanya Ahra.

“Sedang menyetir.”

Kening Ahra berkerut. “Menyetir? Hey, bukankah kondisimu…. Kyuhyun? Apa Siwon berada di sampingmu? Siwon-sshi?!”

“Aku menyetir sendirian, noona. Siwon sedang mengurus sesuatu di bank. Aku akan pergi bertemu dengan seseorang.”

“Tapi tetap saja Kyuhyun. Kenapa kau harus menyetir sendiri?”

“Noona, jangan terlalu khawatir begitu. Kecepatannya tidak lebih dari limapuluh kilometer per jam. Lagipula aku tidak terbiasa dengan mobil Siwon. Ah… Bisa kirimkan surat-surat mobilku? Aku membutuhkannya.”

“Kau sudah mengambil mobilmu di kantor polisi? Tapi kenapa kau membutuhkannya?”

“Begitulah. Kondisinya cukup buruk. Aku sudah menjualnya jadi aku harus memberikan surat-surat mobil itu secepatnya.”

Ahra berkedip beberapa-kali mendengar ucapan Kyuhyun. “Ka-kau menjual mobilmu? Apa rusaknya parah sekali?”

“Tidak cukup parah. Jika diperbaiki mungkin membutuhkan waktu tiga minggu sampai satu bulan. Tapi aku tidak akan membutuhkannya lagi, bukan? Jadi, Siwon mengusulkan untuk menjualnya saja.”

Ah, Kyuhyun membicarakan rencana kepindahannya ke luar negeri. Rasanya Ahra masih belum percaya kalau adiknya akan pergi jauh darinya. “Begitu. Aku akan mengirimkan surat-suratnya besok atau lusa. Oh ya… kalian akan pindah ke mana? Apa kalian sudah membicarakannya?”

“Uhm. Tapi akan kuberitahu saat noona mengantarkan surat-surat mobil. Akan jauh lebih baik jika noona mendengarnya langsung, bukan melalui telepon seperti ini.”

“Baiklah. Hati-hati menyetirnya, okay? Jangan mengebut. Jika kau masuk rumah sakit lagi, aku akan…”

Ucapan Ahra terpotong suara tawa kecil Kyuhyun. Oh, sepertinya Ahra sudah lama tidak mendengar suara tawa adiknya tersebut. Ia benar-benar senang melihat Kyuhyun merasa bahagia. “Kau tahu, pria itu tidak akan selamat jika kau terluka lagi. Aku sudah menyuruhnya agar menjagamu dengan baik!”

“Noona….! Siwon menjagaku dengan baik. Aku tidak akan mengebut. Jadi, tenanglah. Kembalilah bekerja. Hubungi aku jika kau akan datang membawa surat-surat itu ke apartment Siwon, okay?”

Ahra mendesah pelan. “Okay.. Okay… Untuk saat ini aku akan percaya kalau dia menjagamu dengan baik. Sampai bertemu lagi, Kyuhyun.”

Kyuhyun menggumam pelan lalu sambungan terputus.

*****

Choi Daehan menatap Kim Hyeon dengan serius. “Siwon mengajukan mutasi rekening?”

“Manager bank baru saja memberikan konfirmasinya, Presdir. Direktur Choi Siwon mengajukan dua rekening baru tempat memutasi semua uangnya. Saat ini pihak bank masih melakukan konfirmasi dengan pihak bank yang baru,” tutur Kim Hyeon.

Choi Daehan menghembuskan nafas perlahan. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi besar. Ini adalah langkah lainnya yang tidak diantisipasi olehnya. Setelah mengajukan pengunduran diri dan membawa Kyuhyun bersamanya, Siwon sepertinya sedang membuat rencana lanjutan. Tentu saja, dia akan membutuhkan uang. Terlebih ia mengajukan mutasi pada semua uangnya.

“Bank apa yang dituju oleh Siwon?”

Kim Hyeon mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi catatan. “Satu rekening bank di Swiss dan satu rekening lagi  bank yang ada di Praha.”

“Swiss dan Praha? Apa dia bermaksud pergi dari Korea dan pergi ke salah satu negara itu?”

Kim Hyeon memasukkan ponselnya ke saku dalam jasnya. “Apa saya perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut? Manager bank mungkin akan menunda permintaan Direktur Choi dan menunggu persetujuan dari anda.”

Choi Daehan melirik Kim Hyeon dan mendesah. “Siwon tidak mengajukan surat persetujuan kepadaku untuk melakukan mutasi, itu artinya dia sudah mempunyai rencana agar pihak bank mengabulkan permintaan mutasinya. Bahkan jika aku tidak memberikan persetujuan secara langsung, aku yakin Siwon sudah mempunyai rencana lainnya.”

“Melakukan penarikan seluruh uangnya? Tapi bukankah itu juga membutuhkan persetujuan dari Presdir?”

Choi Daehan tersenyum tipis. “Dia tidak akan melakukannya sekaligus. Mungkin secara bertahap. Selama batas waktu tertentu. Katakan saja pada manager bank untuk melakukannya sesuai prosedur yang ada. Tidak perlu menunggu persetujuan dariku.”

“Baik, Presdir.”

Kim Hyeon lalu membungkuk dan berjalan meninggalkan ruangan besar tersebut.

“Choi Siwon, apa yang sedang kau rencanakan?”

*****

Siwon sedang menunggu manager bank yang sedang keluar ruangannya untuk melakukan beberapa konfirmasi pada pihak bank yang ditunjuk olehnya untuk memindahkan semua uangnya. Di tangannya, Siwon masih memegang dokumen surat kuasa yang dimiliki oleh Kyuhyun. Siwon hanya berharap kalau dia tidak perlu menggunakannya.

Saat ini, Siwon sangat yakin kalau kakeknya sudah mengetahui kalau dia mengajukan mutasi rekening. Jika ia menggunakan surat kuasa ini, maka Kyuhyun akan mendapatkan masalah besar jika pihak bank menolak permintaan mutasinya tersebut.

Siwon akan menggunakan caranya sendiri agar mutasi itu bisa dilakukan.

“Ah…”

Siwon kemudian mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan pada Kyuhyun. Ia ingat kalau akan memberi kabar pada kekasihnya setiap jam.

Masih di bank.

Manager sedang menghubungi pihak bank lain untuk melakukan konfirmasi.

Kau masih di jalan? Atau sudah bertemu dengan Jisung?

Kemudian Siwon menekan tombol send dan menunggu balasan dari Kyuhyun. Hanya berselang beberapa menit, terdengar suara notifikasi pesan masuk.

Baru sampai di parkiran.

Apa ada masalah? Kenapa pihak bank harus melakukan konfirmasi seperti itu?

Siwon menarik nafas perlahan lalu mulai mengetik balasan tersebut.

Aku rasa tidak ada masalah.

Ini adalah hal biasa. Kurasa pihak bank hanya ingin memastikan bahwa uangku tidak digunakan untuk sesuatu yang illegal.

Jisung belum sampai?

Kali ini, balasan dari Kyuhyun datang lebih cepat.

Entah. Aku masih masih di mobil.

Kau tahu, keluargamu itu sangat skeptis. Oh, apa aku juga perlu membuka rekening baru dan memutasi uangku juga?

Siwon tersenyum tipis.

Mungkin bukan skeptis, tapi….

Mungkin Kakekku memang orang yang skeptis. Kau ingin membuat rekening juga?

Aku pikir, kita bisa menggunakan rekening yang sama nanti. Kau tahu, uangku adalah uangmu juga.

Suara notikasi balasan dari Kyuhyun datang bersamaan ketika manager bank itu kembali. Dengan terpaksa Siwon harus memasukkan ponselnya ke saku jasnya. Siwon harus berfokus menyelesaikan masalah rekening ini. Jika urusan di bank bisa diselesaikan hanya dalam waktu satu hari, maka dia akan senang sekali.

“Baiklah, Tuan Choi…”

*****

Changmin meraih ponselnya ketika ia mendengar suara notifikasi pesan masuk. Ia mengalihkan pandangannya dari layar komputer pada layar ponselnya. Keningnya berkerut ketika ia melihat nama RaeWon. Terlebih ketika ia melihat isi pesan yang dikirimkan oleh sepupu iparnya tersebut.

Pesan itu berisi foto seorang gadis dengan informasi singkat.

Chae Heo Bin. 28 tahun. Seorang guru SD di Incheon. Keluarga Chae sangat terkenal di bidang akademik.

Bagaimana? Kau ingin bertemu dengannya? Ini kenalan dari salah satu temanku.

Changmin mendesah pelan. Sejak ia meminta bantuan RaeWon dalam urusan kencan buta itu, iparnya itu sering-kali mengiriminya beberapa foto gadis dengan informasi singkat tentang mereka. Jika Changmin tidak mengenal RaeWon, ia berpikir kalau RaeWon sangat cocok membuka usaha biro perjodohan atau semacamnya.

Wanita itu sangat bersemangat sekali mencarikan kencan buta untuknya.

Kau yakin?

Changmin menaruh kembali ponselnya dan berfokus pada komputer. Tapi tak lama balasan dari RaeWon datang.

Apa maksudmu dengan ‘kau yakin?’

Tentu saja, aku sangat yakin. Hey, kau yang meminta bantuanku. Aku sudah memberikan nama beberapa gadis, tapi tidak satu pun dari mereka yang kau temui. Paling tidak, temui dulu.

Changmin kembali mengetik balasan.

Baiklah… Baiklah…

Atur saja waktu pertemuannya. Mungkin di akhir minggu. Pekerjaanku sedang banyak saat ini.

Kemudian Changmin mendengus sembari melempar ponselnya ke atas tumpukan dokumen. Ia kembali berfokus pada pekerjaannya. Tidak peduli dengan notifikasi balasan dari RaeWon. Changmin bisa membalasnya nanti ketika waktu makan siang.

*****

Jisung memasuki ruangan private yang sudah dipesannya sebelumnya untuk pertemuannya dengan Kyuhyun. Bagaimana pun topik pembicaraan mereka cukup sensitif. Jisung tidak ingin ada orang lain yang tidak sengaja mendengarnya. Lagipula Ahra memintanya untuk merahasiakan mengenai Kyuhyun.

Di dalam ruangan yang tidak terlalu besar tersebut, Kyuhyun yang sudah menunggu sontak berdiri ketika melihatnya dan sedikit membungkuk memberi salam. Jisung menghela nafas pendek. Ia merasa sedikit canggung. Mereka mungkin tidak sering bertemu, tetapi Jisung masih belum mengeri bagaimana Kyuhyun bisa menyadari bahwa dirinya adalah biseksual. Bahkan menurut cerita yang pernah didengarnya, Kyuhyun pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis.

Jisung berjalan masuk ruangan dan menutup pintu. “Duduklah.”

Kyuhyun tetap berdiri hingga Jisung duduk terlebih dahulu. Di antara mereka hanya dipisakan oleh sebuah meja kayu yang berukuran sedang. Tapi Kyuhyun merasa ada jarak yang begitu jauh. Sekaligus suasana yang menjadi lebih tegang. Setelah Jisung duduk, Kyuhyun mengikutinya. Ia mengambil nafas panjang dan berusaha untuk tetap tenang. Mungkin pembicaraan mereka hanya sekedar obrolan ringan.

Jisung memperhatikan Kyuhyun dengan seksama. Kyuhyun terlihat cukup tampan, akan ada banyak gadis yang akan tergila-gila padanya. Jisung tahu pasti ada sesuatu yang terjadi. “Kau terlihat lebih baik, Kyuhyun.”

“Ah, semua orang juga mengatakannya. Mungkin karena aku tidak di rumah sakit lagi,” tutur Kyuhyun dengan kikuk. Dia masih belum terbiasa bersikap kasual pada Jisung. “Uhm… Aku ingin meminta maaf sebelumnya.”

Kening Jisung berkerut. “Meminta maaf?”

“Noona mengatakan kalau anda ingin datang menjengukku di rumah sakit. Tapi karena kondisiku pada saat itu… Maaf, karena aku bersikap tidak sopan. Aku harap anda bisa memahami kondisiku setelah apa terjadi.”

“Ah, tidak apa-apa. Aku bisa mengerti. Lagipula dokter juga mengatakan bahwa kondisimu tidak cukup stabil. Aku senang kau semakin baik,” tutur Jisung.

Kyuhyun mengangguk kecil. Oh, ketegangan ini benar-benar menyiksanya. “Dan… aku juga merasa sedikit terkejut saat menerima pesanmu kemarin. Anda bilang ada sesuatu yang ingin dibicarakan denganku.” Oh, Kyuhyun tidak ingin berbasa-basi. Rasanya dia bisa mati penasaran. Sekaligus situasi yang begitu tegang ini membuatnya kesulitan bernafas. Lebih cepat mereka bicara, itu akan lebih baik.

Jisung terdiam sejenak. Ia sendiri tidak tahu bagaimana harus bertanya dari mana. Mungkin bertemu dengan Kyuhyun hari ini adalah keputusan yang terlalu cepat. Jisung mungkin masih harus berpikir berulang-kali. Tapi dengan tanggal pernikahan yang sudah ditentukan sebelumnya, Jisung tahu bahwa dia tidak mempunyai waktu untuk berpikir.

“Ahra…” ucapnya pelan. “Kemarin dia mengatakan sesuatu yang begitu mengejutkan padaku.”

Tubuh Kyuhyun menegang. Oh, ia tahu ke mana arah tujuan pembicaraan ini. Tanpa sadar, di atas kedua pahanya, Kyuhyun menautkan jemarinya dan meremasnya dengan kuat. Ia menarik nafas panjang dan dalam. Pada akhirnya, Jisung pun harus mengetahuinya.

“Kyuhyun-sshi, aku meminta bertemu hari ini untuk….” Jisung mendesah berat. “Sejujurnya, ini benar-benar mengejutkanku dan kupikir aku harus menunggu sampai aku siap untuk bicara denganmu. Tapi…”

Kyuhyun menundukkan kepalanya. Ia menatap jemarinya yang saling terkait sudah terlihat memerah. “Apa anda… ingin memastikan bahwa aku benar-benar biseksual dan sedang menjalin hubungan dengan seorang pria atau Kakakku hanya mengarangnya saja.”

“Benar. Aku sangat ingin tidak mempercayainya. Aku… bukanlah seorang homophobia. Tetapi keluargaku….”

Kyuhyun menghembuskan nafas dan mengangkat kepalanya untuk memandang Jisung. “Mengenai seksualitasku, aku juga masih belum memahaminya. Ini bukanlah fase di mana aku merasa bingung dengan tubuhku sendiri. Ini juga sesuatu yang begitu baru bagiku. Tetapi…. Hubunganku dengan pria itu adalah sesuatu yang tidak bisa disangkal.”

Jisung memejamkan matanya. Ia telah mendengar pengakuan langsung dari Kyuhyun.

“Jisung-sshi, aku tidak memintamu untuk berusaha memahami apa yang terjadi padaku. Kau sendiri yang mengatakan bahwa kau bukanlah seorang homophobia. Tapi jika kau pikir bahwa hubunganku akan membawa dampak buruk pada keluargamu, aku…” Kyuhyun terdiam. Oh, dia masih sulit mengatakannya padahal itu adalah kenyataan yang dipilihanya.

“Aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan keluargaku. Noona pasti juga sudah mengatakan tentang situasiku di rumah, bukan? Orang-orang mungkin akan bertanya nanti, tapi kau hanya perlu tahu kebenarannya. Tolong pikirkan mengenai pernikahan itu berdasarkan hubunganmu dengan noona. Bukan karena hubunganku dengan pria. Aku tidak akan pernah bisa menjadi bagian keluarga lagi.”

Jisung menatap Kyuhyun kembali dengan lekat. Ia bisa melihat Kyuhyun berusaha untuk bersikap tenang. Walaupun Jisung dengan sangat jelas mendengar nada kekecewaan yang begitu besar dari suara Kyuhyun saat dia mengatakan bahwa ia tidak akan menjadi bagian dari keluarga. Ada rasa kesakitan yang begitu besar.

“Apa kau menyesal?” tanya Jisung pelan. “Apa kau pernah merasa menyesal karena telah memilih pria itu dibanding keluargamu sendiri?”

“Yang kurasakan saat ini bukanlah penyesalan. Mengenal pria itu dan kini menjadi bagian dari pria itu, saat ini adalah sesuatu yang sangat aku syukuri. Keluargaku… Aku tentu tidak bisa memilih di antara mereka. Aku hanya meminta sedikit pemahaman dari orangtuaku. Tapi bagi mereka, lebih baik putra mereka meninggal dibandingkan mempunyai hubungan dengan seorang pria.”

Ucapan Kyuhyun memukul telak Jisung. Ahra mungkin mengatakan bahwa reaksi orangtua mereka mengenai seksualitas Kyuhyun cukup buruk. Tapi menginginkan putra mereka meninggal, itu bahkan sangat keterlaluan.

“Kyuhyun-sshi…”

“Aku memohon padamu untuk tidak membatalkan pernikahan itu. Noona… Aku hanya ingin noonaku mempunyai seseorang yang selalu ada di sisinya karena aku tidak bisa melakukannya lagi. Noona mungkin mengatakan tidak apa jika anda membatalkan pernikahan karena diriku. Tapi aku tidak bisa membiarkannya berkorban sebanyak itu. Aku yang akan pergi. Aku akan melakukan apa pun keinginanmu. Tapi kumohon, tetap laksanakan pernikahan itu,” ucap Kyuhyun.

Jisung memandang Kyuhyun dengan lekat. Ia bisa melihat ketulusan dari mata Kyuhyun. Bahkan dari caranya bicaranya, Kyuhyun terlihat sangat menyayangi kakaknya. Dia rela melakukan apa saja asalkan kakaknya bisa bahagia. Ini adalah hal yang sama yang pernah dilihat oleh Jisung. Ketika Ahra mengungkapkan tentang seksualitas Kyuhyun. Bahkan Ahra juga akan melakukan apa saja, asalkan Jisung tetap menjaga rahasia Kyuhyun untuk dirinya sendiri.

Hubungan kakak adik seperti ini tidak pernah dirasakan atau dilihat langsung oleh Jisung seumur hidupnya.

*****

Siwon tersenyum tipis ketika seorang pegawai membawa jam milik Kyuhyun yang sudah diganti strapnya. Setelah dari bank, Siwon bergegas menuju ke toko perhiasan di mana ia memesan jam tangan tersebut dan meminta pihak toko untuk mengganti strap jam tersebut. Walaupun Kyuhyun menolak untuk menggantinya, tapi Siwon tidak ingin Kyuhyun teringat pada kejadian memilukan itu setiap kali ia melihat bercak darah pada strap jam tangannya.

Setelah memastikan semuanya terlihat bagus, Siwon mengeluarkan kartunya untuk membayar pada pegawai itu. Dan selagi pegawai itu melakukan proses pembayaran, Siwon memasang kembali jam tersebut di pergelangan tangannya. Ketika itu pula, perhatiannya tertarik melihat sepasang cincin yang berada di etalase toko tersebut.

Cincin pasangan? Kedengarannya tidak buruk tapi…

Tak lama pegawai tersebut kembali dengan membawa kartu serta bukti pembayaran. “Kartu anda, Tuan Choi.”

Siwon mengambil kartu serta kertas pembayaran itu. Namun, matanya tidak lepas dari sepasang cincin yang menarik perhatiannya. Tentu saja, pegawai itu juga bisa melihat kalau Siwon tertarik pada sepasang cincin tersebut.

“Apa anda tertarik pada sesuatu, Tuan Choi?”

“Y-ya?!” Siwon sedikit terkejut dengan pertanyaan tersebut. Ia tersenyum tipis pada pegawai tersebut. “Bisa lihat cincin yang di sana?”

Pegawai itu membuka etalase dan mengeluarkan sepasang cincin yang ditunjuk oleh Siwon. Kedua cincin pasangan tersebut kemudian diletakannya diatas counter etalase tepat dihadapan Siwon. “Ini adalah design terbaru dari toko kami, Tuan Choi.”

Siwon mengambil cincin untuk pria dan memperhatikannya dengan seksama. Designnya mungkin tidak terlalu mencolok. “Bisa aku mencobanya?”

Pegawai itu mengangguk. Siwon lalu memasangkan cincin itu di jari manis tangan kirinya. Sepertinya ukuran cincin itu cukup pas dengan jarinya, tapi Siwon tidak tahu bagaimana dengan jari Kyuhyun. Selain itu, Siwon juga perlu membeli dua cincin pria. Bukan sepasang cincin pria dan wanita.

“Ini ukuran empatbelas, bukan?”

“Benar, Tuan Choi.”

“Ada ukuran yang lebih kecil? Mungkin tigabelas.”

*****

Kyuhyun mematikan mesin mobil. Ia mencabut kunci mobil dan mengambil mantelnya yang ada di kursi penumpang sebelum memanjat keluar. Kyuhyun menyalakan alarm mobil sebelum bergegas masuk ke dalam sebuah restaurant. Siwon menghubunginya dan meminta untuk datang ke restaurant tersebut. Padahal Kyuhyun pikir dia harus menjemput Siwon lagi ke bank.

Kyuhyun memasuki restaurant dan langsung melihat Siwon sedang menunggunya. Ia mendengus jengkel lalu menghampiri kekasihnya. Siwon hanya tersenyum melihat Kyuhyun yang duduk di kursi hadapannya sembari menyampirkan mantelnya di kursi kosong sebelahnya.

“Kenapa tidak menunggu di bank? Aku bisa menjemputmu di sana,” ujar Kyuhyun sembari menaruh kunci mobil di hadapan Siwon. Kemudian ia meraih gelas air milik Siwon yang sudah disediakan dan meneguknya habis.

Siwon tertawa kecil melihatnya. “Kau terlihat habis berlari dan bukannya mengendarai mobil, Kyuhyun.”

Kyuhyun mendecih kesal lalu menaruh gelas kosong itu ke atas meja. Tak lama, seorang pelayan datang dengan membawa dua buku menu. Lalu ada pelayan lainnya yang mengisi gelas mereka dengan air mineral.

Kyuhyun memperhatikan daftar menu itu dengan seksama. “Ah, aku lapar sekali. Kau ingin pesan apa?”

Siwon melirik pelayan tersebut dan menyebutkan pesanannya. Kyuhyun menutup menu tersebut dan menyebutkan pesanannya. Setelah pelayan itu mencatat kedua pesanan mereka, ia mengambil dua buku menu tersebut dan meninggalkan keduanya.

Kyuhyun meraih gelasnya dan meneguknya. Ia menyadari kalau Siwon memperhatikannya dengan sedikit aneh. “Kenapa melihatku begitu?”

“Bagaimana pertemuan dengan Jisung?”

“Well, tidak begitu buruk.” Kyuhyun menaruh kembali gelas tersebut. “Tapi Siwon, kau terlihat aneh. Apa pihak bank menolak permintaan mutasinya?”

Siwon menggeleng. Ia menghela nafas pendek lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah kotak kecil. Ia menaruhnya di atas piring kosong yang ada dihadapan Kyuhyun. “Bukalah…”

Kyuhyun menatap Siwon dengan lekat. Entah hadiah apa lagi yang diberikah oleh Siwon. Terlebih dengan sikap anehnya sejak Kyuhyun datang. Kemudian Kyuhyun membuka kotak tersebut dan terkejut melihat isinya.

Sebuah cincin dengan design elegan dengan sebuah kartu bertuliskan “Marry me…”

*****

NOTE: Aku lagi marathon nyelesain Scarface. Semoga kelar akhir bulan. Tapi bisa jadi molor hingga awal bulan…

Advertisements

38 thoughts on “[SF] Scarface Part 57

  1. Huuuftt,,, ini bikin tegang. Apa yang di bicarakan choi yoojin sama jisung ya?yang pasti sesuatu yang buruk kayanya. Tapi melihat sikap jisung saat bertemu kyuhyun, aku rasa jisung punya pertimbangan sendiri tanpa harus terpengaruh dengan apapun yang di ucapakan yoojin…

    Kyuhyun di lamar juga akhirnya,wahh gak nyangka pasti….

    Cgangwook sama haneul tinggal ketemu orang tua haneul.

  2. Senangnya dah update lagi, kaget + senang bgt buka email ada notif scarface,
    Ibunya siwon mau ngapain lagi itu yaa,,
    Wahhhhhh kyu dilamar siwonnn,,marry me,,
    Ditunggu part selanjutnya kakak,,fighting

  3. Ommooo … aku deg2an baca part ini …. apa yg di omongin ibunya siwon n jisung? Apa keputusan yg jisung ambil setelah bicara sama kyuhyun…. *penasarannnn

    Seneng liat moment wonkyu di sini. Semoga gk ada cobaan lagi buat mereka. 😙😙😙😙😙😙😙

    Cepet lanjut yach de 😘😘😘😘

  4. penasaran dg apa yang dibicarakan ibunya siwon sama jisung. jadi ikut was was sama Wonkyu, tapi lamaran siwon pasti bakal diterima kan???!!!
    d tggu banget kelanjutannya kaakk!! 🙂

  5. ya ampun.. kirain bakal ada apa gitu pas kyu ngerasa firasat ga enak waktu siwon tuker jam nya.
    untung nya msh blm yaa.. mngkin nnti.
    soalnya yoo jin ngedatengi jisung kyk nya ada apa2 nya nih :3
    duuhh smoga emg ga ada apa2 deh, biar crita nya cepet kelar ya 😂
    ecieee.. kyuhyun dilamar siwon aseekk 😚😚

  6. Ck…gemes juga ini..kalau lihat apa yg dilakukan eommanya Siwon.Semoga…Jisung bisa mngambil keputusan yg bijaksana untuk keadaan yg begitu mngejutkan dia itu.
    Syukurlah…untuk hubungan Changwook dan Haneul terlihat berjalan lancar.Melihat reaksi Haesa kkkkk.
    Uri WonKyu…kalian bersabarlah dan teruslah berjuang.Saranghae…
    Uhm Ki Joong …semoga apa yg kamu lakukan terhadap Kyuhyun segera terungkap dan mndapatkan keadilan.

    Jeongmal gumawo eonni…fighting!!!

  7. KYYYYYAAAAAAKKKKKKK OMG OMG MARRY MEEEE?!?!?!?! PLEASEEEEEE JANGAN BUAT AKU JUNGKIRBALIK PERASAANNYA… alhirnya part ini wonkyunya banyakkk seenng banget pas baca, walaupun harap harap cemasss hehehe… Pleaseee jangan ngebuat mereka yg tdinya udh bahagia langsung dijatuhin lagihhh jdi ga bahagia pleaseee biarkan mereka punya anak,,, loh? Hahahahahah kaget sih pas ada email klo sc udh ada yg terbaru dan seneng banget sumpahhh dengggg …. Ga tau harus nulis apa lagi tapi bener bener seneng hehehehe hwaitinggggg

  8. Berharap klrga jisung mau menerina ahra dgn baik bkn krn ada mslh kyu jd mreka ga bkln nikah..kasian ahra sma kyu krn idh sma2 berkorban berharap kebahagian untuk mreka..

    Orng tua kyu juga smga bs terima keadaan kyu…
    Kira2 kyu mau ga ya nerina tuh cincin
    Jadi g sbr nunggu mreka keluar dri korea
    Pgn liat khdupan wonkyu di praha

    Trus kira2 eomma nya siwon kpn sadar nya ya kyknya sombong bgt euy…
    Drtgu klnjutanya chingu ^^

  9. Senangnya…..
    Ahirnya Siwon melamar Kyuhyun. Aku sampe nggak bisa berhenti tersenyum bacanya.
    Semoga kali ini semua berjalan baik.
    Ga tega liat mereka berpisah lagi.
    Ditunggu lanjutannya

  10. Penasaran sama apa yang di obrolkan sama yojin dan jisung
    Tapi saat tau jisung sikapnya yang empati sama kyu saat berbicara berdua..
    Rasanya yojin gagal lagi sama misinya..
    Apa siwon mau bawa kyu menikah diluar??
    Mungkin di praha taw swiss..
    Dan sungguh saya baru denger nama praha heehhe
    Marathon dan bikin tegang sama ending nya hahaha
    Ditunggu banget kelanjutannya

  11. mamahnya siwon apa2n si sampe segitunya ya,moga2 jisung ga terpengaruh lah sama omongannya,kasian Ahra nanti
    eeeeehhh penasaran ama reaksi kyuhyun pas di lamar siwon,sayangnya langsung tbc,kkk
    ah siwon mah curang,mainnya panjat pinang,harusnya kyuhyunnya di pinang dulu baru di panjat,ini terbalik,kyuhyun nya udh di panjat duluan kmrn di pinangnya baru belakangan,wkwkwk

  12. yakin kalo jisung bkalan ngambil keputusan terbaik tanpa harus menyakiti siapapun.. Cuma berharap aja dia ga sampe terpengaruh emak choi hehehe
    aku makin greget rasanya pengen wonkyu cepet” pergi aja deh dari korea biar ga ada yg ganggu lagi TT
    lanjuttttttttt

  13. nyonya choi ngmong apa tuh ama jisung.. Jngan2 jisung nnti di ancam. Ahhh gemes banget am tuh nenek lampir.. ><!!
    Siwon ke kyu perhatian bangett yaaa.. Gk peduli ad yunho atau changmin.. Serasa dunia milik berdua gitu hahahhaha.. Salpok am kata2 siwon uangku jga uangmu aahhh di situu aku dah feeling siwon mau lamar kyuu.. Daann kyaaa.!!!!
    Beneran di lamar kyu nyaaa.. Ahhhh terima kyuuu.. Gak sabar buat nunggu next chap nyaa.. Thanks updatanyaa.. Author-sshi.. 😊😊😊😊 #hwaiting!!!!

  14. Eonni parah! Sumpah hari inih aku udah baca 7 kali ff nya….. pdhl ada yang ff yang laen tpi ujung ujungnya balik ke ff inih … beteeee hwwwuuuaaaa …. hehehhehe . Maaf yah klo aku commentnya ga jelas hehehe

  15. Siwon klau dh bersama kyuhyun yg lain seakan cuma numpang lewat yg sabar ya Min..
    Pertemuan emaknya siwon ma jisung apa ya hasilnya, moga gk tambah bikin rumit.
    Siwon melamar kyuhyun, serius??… yeee…. dh terima aja gk usah pakai mikir hhh…

  16. Huwaa….siwon melamar kyuhyun 😘😘😘😘
    Semoga saja mereka bs menikah…
    Choi yoojin benar” bertindak sprt bukan orang terhormat, sdh ditolak msh tetap saja memaksa. Bukankah tanpa dia sadari dia sdh mempermalukan dirinya sendiri yg membuat keributan.
    Semoga saja jisung tdk terpengaruh dg hal” negatif dr hubungan wonkyu shg dia msh tetap bs bersama ahra

  17. Tidak bosan2 mengucapkan terima kasih kerana sudah meng’update’ ff ni.
    I wonder how keputusan jisung setelah pertemuannya dgn kyuhyun..
    And…………how sweet siwon melamar kyuhyun secara tiba2..siwon mmg seorg yg nekad melakukan sesuatu..dia tidak pernah teragak2 terhadap hubungannya bersama kyuhyun..hope they’ll last forever..

  18. Sebenarnya apa yg dibicarakan yoojin dan jisung…jadi penasaran..
    Semoga keputusan jisung tidak menyakiti ahra…
    Cieeee…yg dilamar…”marry me” , kira2 kyu jawab apa ya??? Ahhh…jadi ikutan baper…☺
    Sebenarnya yg paling kasihan disini changmin..dia harus membantu masalah pribadi wonkyu, mengambil alih pekerjaan yg ditinggalkan siwon, selalu jadi sasaran keluarga choi yg selalu menanyakan rencana siwon dengan kyuhyun selanjutnya, belum punya pasangan pula…oh sungguh berat beban hidupmu tuan shim…hehehe…😂

  19. binggung fengan sikap choi daehan dan ayahnya siwon.mereka tidak menolak to juga tidak mendukung.apakah akhirnya merka akan mendukung wonkyu ya..

    apa kyuhyun sedang dilamar hehehee.ditunggu lanjutannya ya

  20. Haesa agak menyebalkan ya sikapnya ke haneul sama changwook 😂 Gregetan sendiri deh liatnya.. kasian haneulnya tau badmood trs gara2 haesa zzz 😔😒
    Aku kepo sama apa yang dibicarakan jisung & ibunya siwon hm tp pst fix bgt sih ngomongin masalah kyu dan kayaknya sepercik ngehasut jisung 🤔
    Aku merasa miris liat changmin gara2 siwon kerjaannya dia makin super banyak gt huhu cepetan berpacar ya mz biar ada yg ngurus 😂
    Yay! Akhirnya wonkyu ada tujuan kabur dan praha menurut aku pilihan yg tepat krn kotanya bagus banget huhu
    OMG OMG akhirnya siwon ngajak kyu nikah!!!! 😆😁🎉🎎 Semoga diterima (((((harus)))))) sama kyu! ㅋㅋㅋㅋㅋㅋ

  21. Seneng tiap minggu menanti updatenya SF ini….
    Marry Me…. 😍😍😍
    Siwon is such a romantic guy…
    Semoga muncul update lagi weekend ini…
    Dear authornim, Diera, your writing skill is so good, loving every sentences, especially if you write WonKyu fic…. 👍🏼😊💙

  22. YEEESSSSSSS!!!! I DO I DO I DO I DO I DO!!!!!!!!!!!!!!!! astgaaa….tdnya brasa punya firasat buruk ttg pertukaran jam wonkyu.eehh..ternyta brta bahagia…ohh..tp enth stelah ini ya…semoga aja yoojin gk nekat menghancurkan kyukyu…hm…

  23. chukkahamnida… chukkahamnida wonkyu-e gyeoronhae chukkahamnida…yeeeeeeyyyyy kyu dilamar….. hah smoga ga da yg rusuh lg ya tu omma choi msh ja ya usaha . tp smga jisung ambil kep yg baik dan g nyakitin kyu jg ahra… ok!!! dierra ssi. smangattt dan di tunggu part selanjutnya….

  24. kirain bakal kejadian yang buruk sama kyuhyun karena mereka tukeran jam. alhamdulillah enggak. udah enggak tega liat wonkyu menderita mulu 😥
    tapi masih penasaran sma apa yg dibicarain yoojin ke jisung. penasaran juga sama obrolan jisung kyuhyun yang gue yakin masih ada lanjutannya.
    dan demi apa siwon ngelamar kyuhyun 😱😱 astagaaaaa seneng banget weh. semoga dapet reaksi yang baik dari kyuhyun 😚😚

  25. Wonder what has yoojin talk to jisung….hopefully he will still continue the marriage after hearing what Kyuhyun confess….Ahra noona should happy too
    So Kyuhyun will not attend his noona marriage???since he going within 1 or 2 weeks
    Wow! so fast Siwon propose Kyuhyun….will he agree
    Fighting for your writing : ) waiting for your next chapter….see you soon ya
    thanks for this wonderful story

  26. Suka sama karakternya jisung disini… Semoga jisung bisa menerima semua kelemahan kyu… Dan tetap menikah dengan ahra.
    Will you marry me… Q gak sabar baca lanjutannya…

    Changwook n haneul juga so sweet banget…

    Makasi diera eonni…
    Semangattt nulis lanjutannya…
    Makasi….

  27. Astaaaagaaaa..
    omooo..
    OMG…
    Bahagia itu ketika buka blog nya scarface update 😄😄😍😍😍😍😍
    Dua part juga dalam satu minggu.
    Bnr2 bahagianya berlipat ganda.
    Apalagi liat pictnya mr. Choi cakeeep bnr. Mungkin efek kangen juga.heeee
    Dipart ini bener2 greget ama yg namanya choi yoojin. Pengen gampar aja.
    Setuju ama ahn jisung dah dlm menyikapi orang yg suoombongnya minta ampun

  28. Wah akhirnya siwon melamar kyu aku senang bgt
    Semoga aj wonkyu gak ada penderitaan lagi
    Jisung sama ahra bisa juga menikah dgn sesuai rencana mereka
    Chanuel makin mesra aja nih mereka semoga aja keluarga hanuel gak menentang hubungan chanuel

  29. terharu banget sama kasih sayang dan pengorbanan cho bersaudara . hampir nangis baca part itu .. tapi bisa tersenyum lagi saat melihat cinta choi siwon ..
    romantis bgt ..
    keren diera

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s