[SF] Scarface Part 56

siwon-choi

56

Kyuhyun menarik nafas perlahan. Ia sudah menatap langit-langit kamar selama hampir duapuluh menit sejak ia terbangun dan menemukan kalau dia sendirian di tempat tidur. Polos tanpa pakaian dan hanya berbalut selimut tebal.

Kyuhyun menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya dan melirik ke arah jendela besar. Matahari sudah tinggi. Walaupun langitnya masih terlihat abu-abu, tapi sepertinya hari ini akan kembali cerah seperti kemarin.

Ia kembali mendesah dan meraih bantal lainnya lalu memeluknya erat. Kyuhyun menenggelamkan wajahnya di bantal itu dan menyadari bahwa itu adalah bantal yang digunakan oleh Siwon. Aroma pria itu melekat kuat.

Kyuhyun menghembuskan nafas.

“Kau sudah bangun?”

Kyuhyun sontak menoleh dan mendapati Siwon membuka pintu kamar dengan membawakan sebuah mug putih berisi teh hangat. Pria itu sudah berpakaian rapi. Siwon memakai kemeja putih dengan outer sweater berwarna abu-abu dan dipadu dengan celana jeans. Semua pakaian itu terlihat bagus di tubuh Siwon.

Oh, Tuhan!

Kyuhyun kembali menenggelamkan wajahnya di bantal karena ia mengingat persis bagaimana bentuk tubuh Siwon tanpa pakaian. Wajahnya perlahan mulai terasa panas. Kemudian Kyuhyun merasakan Siwon yang duduk di tepi tempat tidur.

“Kyuhyun…” ucap Siwon pelan.

Pria itu memperhatikan Kyuhyun yang masih menyembunyikan wajahnya di bantal. Siwon tersenyum tipis. Ia menaruh gelas mug itu di meja nakas lalu menyentuh bahu polos Kyuhyun. “Hey… Apa kau merasa sakit?”

“Tidak,” gumam Kyuhyun dengan masih memunggungi Siwon.

“Lalu kau kenapa? Apa…” Siwon terdiam sejenak. “Kau merasa menyesal dengan apa yang terjadi…”

Sontak, Kyuhyun bangun dan menatap Siwon dengan lekat. “Aku tidak merasa begitu!” serunya.

Siwon lalu tersenyum lebar dan tertawa kecil. Kyuhyun yang melihat reaksi Siwon hanya mengerucutkan bibirnya. Pria itu tengah menggodanya. Tapi kemudian Kyuhyun ingat kalau dia masih telanjang. Dengan cepat, Kyuhyun menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Siwon kembali tertawa melihat reaksi Kyuhyun.

Kemudian, Siwon mengambil mug berisi teh hangat dan menyodorkannya pada Kyuhyun. “Minumlah..”

Kyuhyun mengambil mug itu dan menyesapnya perlahan. Siwon kembali memperhatikan kekasihnya dengan lekat. Sepertinya Kyuhyun tidak merasakan rasa sakit apa pun setelah seks semalam. Tapi matanya mendapati bekas keunguan di leher Kyuhyun. Well, mungkin Siwon terlalu bersemangat.

“Kenapa kau sudah rapi begitu? Ingin pergi?” tanya Kyuhyun.

Siwon menggumam. “Begitulah. Appa menghubungiku dan meminta bertemu. Ah, sepertinya Hyukjae juga mengirim beberapa pesan. Aku hanya melihat notifikasinya.” Kemudian Siwon beranjak mengambil ponsel Kyuhyun yang disimpannya di meja.

Kyuhyun menaruh gelas mug itu di meja nakas dan menerima ponselnya saat Siwon kembali duduk di tempat tidur dan menyodorkannya. Kyuhyun melihat ada beberapa notifikasi. Lebih banyak dari Heechul dan Ahra. Lalu ada beberapa pesan dari Hyukjae. Ia membaca semua pesan yang masuk satu per satu.

Siwon memperhatikannya. “Kenapa?”

“Hyukjae meminta bertemu. Kurasa dia ingin mendengar penjelasanku. Ahra noona memberitahu mengenai mobilku. Noona bilang, polisi memintaku untuk mengambilnya di kantor polisi karena penyelidikan dihentikan. Lalu Heechul hyung…” Kyuhyun menurunkan ponselnya dan menatap Siwon. Ia mengangkat bahu. “bersikap seperti Heechul hyung.”

Kening Siwon mengernyit. “Apa maksudnya dengan itu?”

“Well, kau tahu. Dia agak sedikit aneh. Aku rasa ada yang salah dengan otaknya ketika dia masih kecil. Jangan terlalu dipikirkan.”

Siwon masih tidak mengerti maksud ucapan Kyuhyun, tapi dia hanya mengangguk saja. “Lalu, apa kau akan menemui Hyukjae dan pergi ke kantor polisi hari ini? Aku bisa mengantarkanmu.”

“Bagaimana dengan Appamu?”

Siwon menarik nafas perlahan. “Kurasa itu tidak akan lama. Aku bisa mengantarkanmu bertemu Hyukjae, lalu aku menjemputmu dan kita bisa pergi ke kantor polisi mengurus mobilmu itu.”

“Memang kau akan bertemu di mana? Oh?! Bukankah harusnya kau pergi bekerja?”

“Kyuhyun, apa kau lupa? Aku sudah menulis surat pengunduran diri. Changmin sudah mengantarkannya ke Kakekku. Jadi, aku tidak perlu datang ke kantor. Lagipula kami akan bertemu di salah satu café,” jelas Siwon.

Kyuhyun mendesah. “Aku masih tidak menyetujui keputusanmu untuk mengundurkan diri. Kau adalah pewaris Choi Group. Kenapa kau harus melepaskan itu hanya demi diriku?”

Siwon menyentuh pipi Kyuhyun dan mengusapnya lembut dengan ibu jarinya. Ia lalu tersenyum. “Bukan hanya demi dirimu. Tapi ini juga demi diriku. Demi kebahagiaanku. Apa salah jika aku melepaskan hal itu karena aku menginginkan kebahagiaan?”

“Tapi Siwon…”

“Jangan berdebat lagi. Lebih baik kau mandi. Aku sudah menyiapkan sarapan,” ujar Siwon.

Kyuhyun menghela nafas pendek. Siwon lalu mengecup pipi Kyuhyun sebelum dia beranjak keluar dari kamar. Tapi ketika di ambang pintu, Siwon kembali menoleh pada Kyuhyun. “Oh ya…”

Kyuhyun menatapnya lekat.

“Hari ini, aku rasa lebih baik kau memakai turtleneck atau semacamnya. Well, kau tahu… Maaf untuk hal itu,” Siwon menyentuh lehernya lalu menutup pintunya dengan rapat.

Kyuhyun masih terlihat bingung dengan maksud Siwon. Dia lalu menyentuh bagian lehernya dan merasakan ada sesuatu yang aneh. Hanya dalam beberapa detik, wajah Kyuhyun sudah semerah tomat.

*****

Hyukjae bersiap meninggalkan ruangannya untuk bertemu dengan Kyuhyun. Setengah jam lalu, Kyuhyun membalas pesannya dan mereka akan bertemu di coffee shop dekat kantor firma hukum. Walaupun Hyukjae mengatakan dia bisa datang menemui Kyuhyun, tapi sahabatnya itu mengatakan tidak ingin membuat Hyukjae meninggalkan pekerjaannya lebih lama.

Hyukjae memasukkan ponselnya ke saku dalam jasnya dan memastikan kalau dia juga membawa dompetnya. Lalu meraih mantel hitamnya dan berjalan keluar. Tapi ia dikejutkan dengan Haesa yang berdiri dengan tangan terangkat hendak mengetuk pintu.

Haesa menurunkan tangannya dan menatap Hyukjae lekat. “Kau ingin pergi?”

“Uhm. Hanya ke coffee shop dekat sini. Ada apa?” tanyanya sembari berjalan keluar ruangan dan menutup pintu rapat.

“Aku ingin bertanya mengenai kasus Boksan. Tapi kita bisa membicarakannya nanti jika kau ingin pergi. Bertemu dengan seseorang?”

“Bertemu Kyuhyun.”

Mata Haesa membulat. “Kyuhyun?!” serunya yang membuat beberapa pegawai menoleh dan menatap keduanya dengan lekat. “Dia sudah keluar dari rumah sakit?”

“Begitulah. Kudengar, kemarin. Kenapa? Kau ingin ikut bertemu dengannya?”

“Aku juga ikut!” seru Haejin yang tiba-tiba muncul. “Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Dengan semua yang terjadi akhir-akhir ini, aku hanya ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.”

Hyukjae mendesah menatap Haejin. Ia tahu tidak akan bisa melarang Haejin untuk ikut bersamanya. “Baiklah. Pengacara Kang, kau ingin ikut juga?”

Haesa terdiam sejenak. Ia menatap Hyukjae dan Haejin bergantian. Walaupun masih terasa canggung, ia juga ingin melihat Kyuhyun lagi. Terlebih karena dirinyalah, Kyuhyun mengalami semua kesialan tersebut.

“Aku akan mengambil mantelku dulu.”

*****

Changmin menatap Choi Daehan yang sedang memperhatikan meja kerja Siwon yang kosong. Dia tidak tahu kenapa kakeknya menyuruhnya datang ke ruangan Siwon. Tapi sudah lebih dari lima menit, Choi Daehan hanya menatap meja itu. Semuanya terlihat seperti bagaimana Siwon meninggalkannya lebih dari dua minggu lalu. Hyungsik mungkin sempat masuk beberapa kali untuk mengambil dokumen, tapi tidak ada yang berani merapikan meja kerja itu.

Changmin mendesah dan melirik jam di pergelangan tangannya. “Presdir, bisa kita langsung pada intinya saja? Masih ada banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan.”

Choi Daehan menghembuskan nafas lalu berbalik menatap Changmin. “Siwon benar-benar tidak datang.”

“Sudah kubilang, itu adalah keputusannya. Walaupun Presdir belum mengeluarkan keputusan menerima atau tidak pengunduran dirinya, Siwon tidak akan kembali ke kantor. Jadi, apa yang sebenarnya ingin anda bicarakan denganku?” tanya Changmin.

Choi Daehan lalu beranjak duduk di salah satu sofa. Changmin mendengus pelan. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menunggu. Choi Daehan menatap Changmin lekat. “Duduk!”

“Oh ya Tuhan!!” desis Changmin lalu menuruti ucapan kakeknya. Ia mengambil sofa yang berhadapan dengan Choi Daehan. Ia menyandarkan punggungnya dan memandang Choi Daehan dengan serius. “Ayolah kakek, jangan membuang waktuku seperti ini.”

“Jika Siwon tidak kembali ke kantor, kau ambil alih tugasnya.”

Changmin mengernyit. “Eh?! Semua tugas dan tanggung-jawabnya? Oh, tidak terima kasih. Aku tidak mau. Kakek bisa mengangkat siapa saja untuk posisi itu, tapi aku akan menolak.”

“Changmin…”

“Presdir Choi! Aku sungguh berterima-kasih, tapi untuk menduduki posisi Siwon….” Changmin melirik ke arah meja kerja Siwon sejenak. “Aku rasa, aku masih butuh waktu untuk sampai pada posisi itu.”

Choi Daehan tahu bagaimana sikap dan sifat Changmin. Sama seperti Siwon, jika Changmin sudah berkata tidak, maka artinya tidak. Bahkan jika ia ingin meyakinkan cucunya tersebut akan membutuhkan waktu lama. Changmin mungkin jauh lebih bisa diatur dibandingkan Siwon, tapi keduanya juga keras kepala.

“Kakek akan memberikan waktu dua tahun. Saat waktunya tiba, kau akan menduduki posisi itu.”

Changmin mendengus. “Ya, baiklah. Kita lihat saja nanti. Tapi kenapa kakek selalu memberiku tenggat waktu seperti itu? Aku bahkan tidak bisa menjamin bisa mendapatkan calon istri hanya dalam waktu setahun.”

“Bagaimana dengan Siwon? Di mana dia sekarang?”

Alis Changmin terangkat. “Kakek masih bertanya padaku di mana Siwon? Bukankah Kakek bisa dengan mudah untuk mencari keberadaannya sekarang.”

“Itu memang benar. Tapi untuk saat ini, aku berusaha menahan diri. Jadi, jalan satu-satunya adalah bertanya padamu. Atau Yunho dan Sooyoung.”

Changmin mendesah jengkel. Kenapa dia harus berhadapan dengan Kakeknya untuk masalah seperti ini? Apakah karena mereka berada di satu kantor yang sama, maka dirinya adalah target mudah? Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan menyilangkan kakinya. “Bukankah hari ini Paman Jaewon akan bertemu dengannya? Kenapa tidak menyuruh Paman untuk bertanya langsung pada Siwon di mana dia tinggal saat ini? Lagipula jika Kakek tahu di mana dia tinggal saat ini, apa Kakek akan mendatanginya?”

Choi Daehan tersenyum. Beliau juga menyilangkan kakinya dan menyandarkan punggungnya. “Bahkan jika Jaewon bertanya, Siwon tidak akan memberitahunya. Kakek hanya ingin tahu saja, bukan berarti ingin menemuinya secara langsung. Lagipula kau bilang, Pengacara Cho juga tinggal dengannya saat ini, bukan?”

“Lalu? Apa alasannya?” tanya Changmin.

Rasanya tidak mungkin seorang Choi Daehan hanya penasaran tanpa ada suatu maksud. Changmin mungkin belum lama terjun dalam dunia bisnis, tapi Kakek dan ayahnya serta paman-pamannya mengajarkannya dengan baik bahwa semua hal di dunia ini tidak ada yang gratis. Setiap hal pasti ada suatu konsekuensinya. Jadi, entah apa yang diinginkan oleh Choi Daehan dengan mengetahui di mana Siwon tinggal bersama Kyuhyun saat ini. Lagipula apa untungnya bagi Changmin memberitahu kakeknya?

“Changmin…”

Well, itu adalah tandanya. Choi Daehan tidak akan memberitahunya apa pun. Changmin mendengus. Lalu dia berdiri dan hendak beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Tapi sebelum dia benar-benar pergi, Changmin menatap pada kakeknya lagi.

“Kakek tahu, jika aku ingin, aku akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Siwon.  Keluar dari perusahaan bahkan pergi dari keluarga. Keluarga ini mungkin memberikan kebebasan, tapi tetap saja semua hal hanya diketahui oleh Kakek dan Kakek tidak akan pernah mengatakannya. Melihat apa yang terjadi pada Bibi Yoojin dan Siwon, aku rasa Kakek juga perlu memikirkan di mana kesalahan Kakek.”

Kemudian Changmin membuka pintu dan melangkah keluar.

*****

“Jadi, semua dokumennya akan siap dalam enam hari? Tidak bisa dipercepat lagi?” tanya Yunho dengan satu tangan memegang ponsel dan tangan lainnya sibuk dengan sebuah pena.

Ia sedang mengecek beberapa dokumen ketika salah satu pengacara kenalan Rae Won menghubunginya mengenai pengurusan dokumen Siwon dan Kyuhyun. Yunho tidak mengambil resiko menghubungi pengacara dari firma hukum Choi Group untuk hal ini. Siwon, dengan tegas, mengatakan agar rencananya untuk pergi dari Seoul dirahasiakan dari pihak keluarga. Terlebih dari Yoojin.

“Tuan Jung, enam hari adalah waktu yang paling cepat. Biasanya dokumen itu baru selesai dalam waktu satu atau dua bulan. Saya sudah melakukan sesuai dengan keinginan anda, tapi anda juga perlu bersabar dalam hal ini. Birokrasi bukanlah hal mudah.”

Yunho menghembuskan nafas perlahan. Dia menaruh penanya dan menekan pangkal hidungnya. “Aku mengerti. Terima kasih atas bantuanmu. Tolong kabari aku lagi mengenai perkembangannya.”

“Baik, Tuan Jung.”

Yunho lalu memutus sambungan telepon tersebut. Ia menaruh ponselnya dan menatap ayahnya yang duduk di sofa sembari menikmati secangkir teh hangat. Yunho menghela nafas pendek. Ia tidak tahu apa alasan sang ayah datang menemuinya. Mungkin ada kaitannya dengan masalah keluarga, namun Yunho tahu persis kalau sebagai menantu tertua di keluarga Choi, ayahnya tidak mungkin ikut campur.

Yunho kemudian beranjak dari kursinya dan berjalan menuju sofa. “Abeoji, ada sesuatu yang ingin dikatakan padaku?”

Jung Taeho menurunkan cangkir dan menatap putranya dengan lekat. “Apa maksudmu, Yunho?”

“Entahlah. Aku hanya bertanya saja,” ujarnya sembari duduk di sofa.

Jung Taeho tersenyum tipis dan menaruh cangkir itu di atas meja. “Dokumen yang kau urus itu untuk Siwon, bukan?”

Alis Yunho terangkat. Dia tidak pernah memberitahu siapapun di keluarganya mengenai hal itu. Bahkan Rae Won yang memberikan informasi tentang pengacara itu juga tidak mengetahui alasan sebenarnya. Yunho hanya mengatakan pada istrinya kalau ada sesuatu yang perlu diurusnya. Dia tidak mengatakan apapun mengenai Siwon.

Tapi ayahnya sepertinya sama pandai seperti Choi Daehan. Yunho mungkin bisa mengelak dan mengatakan bahwa itu adalah untuk hal lainnya. Namun, itu tidak akan membuat Jung Taeho percaya begitu saja.

“Yunho, Abeoji tidak bermaksud untuk ikut campur dalam masalah Siwon dengan keluarganya,” tutur Jung Taeho. “Tapi, kau tahu persis kalau masalah ini akan menimbulkan masalah lainnya baik di keluarga maupun Choi Group. Kau tidak perlu mengatakan apa pun. Sejak kecil kalian sudah saling menjaga dan melindungi, maka Abeoji tidak akan bertanya lebih dari ini. Kalian sudah besar untuk mengambil keputusan sendiri. Termasuk Siwon.”

“Apa Abeoji berpikiran sama seperti Bibi Yoojin? Maksudku, dengan hubungan Siwon dan seorang pria.”

Yunho tidak pernah tahu bagaimana pendapat orangtuanya dalam hal tersebut. Saat Siwon mengakui bahwa dia seorang homoseksual di hadapan seluruh keluarga, orangtuanya tidak mengatakan apa pun. Paman dan Bibinya yang lain mungkin hanya bicara sedikit dan tidak secara langsung mengutarakan pemikiran mereka. Tapi orangtuanya sama sekali tidak pernah membicarakannya sama sekali.

Jung taeho menghembuskan nafas. “Siwon adalah keponakan Abeoji, tapi Abeoji tidak mempunyai hak untuk memberi penilaian seperti Bibi Yoojin. Abeoji tahu persis apa yang yang dirasakan oleh orangtuanya. Kau tahu, semua orangtua menginginkan anaknya hidup bahagia dengan apa pun pilihan mereka.”

“Jadi, misalkan aku coming out seperti yang dilakukan Siwon, apakah Abeoji juga akan bereaksi keras seperti Bibi Yoojin?” tanya Yunho. “…Atau seperti Paman Jaewon?”

“Hoo.. Itu pertanyaan yang sulit. Mungkin Abeoji akan bersikap cenderung seperti Bibi Yoojin, tapi bukan berarti Abeoji tidak bisa berusaha memahami seperti yang dilakukan Paman Jaewon.  Bahkan jika berandai-andai pun, Abeoji tidak bisa memberikan jawaban dengan mudah, Yunho.” Kemudian Jung Taeho berdiri dari sofa dan beranjak pergi.

Yunho sontak ikut berdiri dan menatap ayahnya yang berjalan menuju pintu.

Jung Taeho kembali menoleh dan menatap putranya. “Katakan pada Siwon untuk memikirkan apa yang akan dilakukannya dengan matang. Jangan sampai dia merasa menyesal di masa depan.”

*****

Kyuhyun sedang menunggu Hyukjae di coffee shop dekat firma hukum. Coffee shop yang sama di mana ia bicara dengan Choi Yoojin mengenai perasaannya pada Siwon. Sebenarnya Siwon berniat menemaninya sampai Hyukjae sampai, tapi Kyuhyun memintanya untuk pergi menemui ayahnya. Rasanya tidak baik membuat orang lebih tua menunggu.

Sesuai dengan usulan Siwon, Kyuhyun memakai turtleneck berwarna putih dengan coat berwarna cream dipadu dengan jeans serta sepatu sneakersnya. Sesekali, Kyuhyun merapikan pakaiannya dan memastikan bagian lehernya tertutupi dengan sempurna. Oh, bekas itu tidak akan hilang dalam waktu dekat ini.

Kyuhyun memeriksa jam di pergelangan tangannya. Seharusnya Hyukjae sudah tiba. Kyuhyun menghela nafas pendek dan menyesap latte hangat pesananya. Oh, sudah lama sekali dia tidak minum latte dari coffee shop tersebut.

“Kyuhyun-sshi…!!”

Kyuhyun menoleh dan mendapati Haejin bergegas menghampirinya. Di belakangnya, Hyukjae berjalan bersama Haesa. Well, ini di luar dugaan Kyuhyun. Ia pikir, mereka hanya akan bicara berdua. Tapi bukan berarti ia tidak menyukai keberadaan Haejin dan Haesa.

Kyuhyun tersenyum dan berdiri ketika Haejin menghampirinya dan memeluknya. Ia tertawa kecil. “Oh.. Halo untukmu Haejin-sshi.”

Haejin melepaskan pelukannya dan memperhatikan Kyuhyun dengan seksama. “Hey, kau baik-baik saja? Kenapa sudah keluar rumah sakit secepat ini? Apa dokter tidak mengatakan apapun mengenao kondisimu?”

“Aku baik-baik saja, Haejin.” Kemudian ia menatap Hyukjae dan Haesa. “Apa kabar?”

Hyukjae mendengus dan memilih kursi dihadapan Kyuhyun. “Hey jangan bersikap canggung seperti itu. Sepertinya baru beberapa hari lalu, aku menemuimu di rumah sakit.”

Kyuhyun hanya tersenyum. Ia menatap Haesa yang menyapanya. “Halo Kyuhyun,” tuturnya sembari duduk di sebelah Hyukjae. Kyuhyun hanya mengangguk kecil dan duduk. Haejin duduk di samping Kyuhyun.

“Kau sudah lama menunggu?” tanya Hyukjae.

Kyuhyun menggeleng. “Kalian tidak ingin memesan dulu?”

“Ah, biar aku yang memesan,” tukas Haejin. Ia menatap Hyukjae dan Haesa. “Pesanan kalian seperti biasa? Kyuhyun-sshi, kau ingin pesan yang lainnya?”

“Tidak, Haejin-sshi. Terima kasih.”

Kemudian Haejin bergegas menuju counter untuk memesan minuman. Kyuhyun menghembuskan nafas panjang. Oh, ini bahkan lebih canggung dibandingkan pertemuan mereka di rumah sakit. Kyuhyun kembali menyesap lattenya.

Hyukjae memperhatikan Kyuhyun dengan lekat. Pria itu terlihat jauh lebih baik dibandingkan saat ia menemuinya di rumah sakit. “Sepertinya kau jauh lebih sehat,” ujarnya.

Kyuhyun hanya mengangguk. “Mungkin aku tidak cocok berlama-lama di rumah sakit. Dan kau terlihat seperti kurang tidur.”

“Begitulah. Ada banyak pekerjaan. Terutama dari beberapa klienmu itu. Entah bagaimana kau bisa bertahan menangani mereka, tapi aku seperti mau gila,” sahutnya.

“Well, untuk hal itu aku… hanya berusaha bertahan,” gumam Kyuhyun.

Perbincangan ini terasa begitu canggung. Mereka sulit sekali untuk bicara dengan santai. Kyuhyun melirik Haesa yang belum mengatakan apapun selain sapaan tadi padanya. Hubungan keduanya begitu canggung setelah apa yang terjadi di Pulau Jeju. Walaupun itu sudah berbulan lalu, tapi Kyuhyun masih belum bisa membiasakan diri bagaimana ia harus bersikap di hadapan Haesa.

Hyukjae melirik keduanya dan mendesah. “Pengacara Kang, apa kau ingin bertemu dengan Kyuhyun hanya untuk memandanginya dalam diam seperti ini, eoh?”

“Eh? A-aku tidak…” ucap Haesa terbata. “Aku hanya… kau hanya mengatakan apa aku ikut denganmu. Aku…” Haesa tidak bisa berkata-kata dengan baik.

Jujur saja, Haesa masih merasakan rasa bersalah yang begitu besar pada Kyuhyun. Pria itu sudah banyak menderita karena dirinya. Bahkan membuatnya hampir mati berulang-kali. Walaupun Haesa sudah mengatakan permintaan maaf dan rasa terima-kasihnya pada Kyuhyun, hal itu tidak membuat hubungan mereka akan jadi lebih baik. Seolah semua kejadian itu tidak pernah terjadi.

“Hyukjae, jangan begitu…” ucap Kyuhyun pelan.

Hyukjae mengernyit. “Apa salahku? Paling tidak kalian harus bicara menyelesaikan apa yang masih menjanggal di hati kalian sebelum kau pergi, Kyuhyun.”

Haesa menatap Kyuhyun dengan terkejut. “Ka-kau.. akan pergi? Pergi ke mana?”

“Siapa yang akan pergi?” tanya Haejin yang datang membawa sebuah tray berisi tiga gelas minuman mereka.

Hyukjae mengambil gelas berisi Americano dan menyesapnya perlahan. Haejin menaruh segelas kopi latte dihadapan Haesa. Haejin melirik Kyuhyun dengan bingung. “Siapa yang kalian bicarakan?”

“Kyuhyun akan pindah ke luar negeri,” ucap Hyukjae.

“Ye?!”

Kyuhyun menghela nafas dan sedikit menunduk menatap gelas lattenya. Haesa masih menatap pria itu dengan lekat. Begitu juga dengan Haejin yang mendengar kabar tersebut. Hanya Hyukjae yang terlihat begitu santai.

“Kenapa tiba-tiba?” tanya Haejin. “Aku pikir, kau akan kembali ke firma hukum Kang setelah kondisimu pulih sepenuhnya. Tapi mengingat situasimu… Er, Hyukjae-sshi mengatakan kemungkinan kau akan bekerja di firma hukum Choi Group. Tapi kenapa sekarang kau ingin pergi ke luar negeri? Kapan rencanya kau akan pergi? Ke mana?”

Kyuhyun menarik nafas dan mengangkat kepalanya. Dia menatap Haejin. “Itu hanya terjadi begitu saja. Mengenai bekerja di firma hukum Choi Group, aku bahkan tidak tahu. Kudengar itu sekedar alibi saja, bukan? Karena kasus Seon Hwan. Tapi soal kepindahan itu,  aku masih belum tahu kapan dan ke negara mana.”

“Tapi… kenapa kau harus pergi?” kali ini Haesa melontarkan pertanyaan.

“Sudah kukatakan itu terjadi begitu saja. Ada sesuatu yang terjadi, Aku tidak bisa menjelaskannya. Begitulah.”

Kyuhyun bahkan tidak tahu bagaimana dia harus menjelaskannya pada Haesa dan Haejin. Jika hanya pada Hyukjae, Kyuhyun mungkin bisa menjelaskan dengan baik. Karena Hyukjae sudah mengetahui alasannya. Berbeda dengan Haesa dan Haejin yang tidak mengetahui hubungannya dengan Siwon. Bahkan jika Kyuhyun harus memberitahu dan menjelaskannya, ia tidak tahu bagaimana harus memulai.

Hyukjae menatap Kyuhyun yang kesulitan mencari alasan yang tepat. Walaupun ia sangat ingin mengatakan bahwa kepindahan itu adalah rencana Choi Siwon, tapi mereka berdua pasti akan meminta penjelasan lebih lanjut. Dan untuk hal tersebut, hanya Kyuhyun yang berhak menjelaskannya. Bukan Hyukjae.

“Kyuhyun akan menjalani terapi psikiatri di luar negeri,” tutur Hyukjae memberi alasan.

“Terapi psikiatri? Apa karena kejadian kemarin itu? Kupikir hanya ada luka fisik saja. Memang apa diagnosa dokter dan kenapa harus di luar negeri?” tanya Haejin. “Lalu bagaimana kau bisa mengetahuinya, Hyukjae-sshi. Apa Kyuhyun sudah memberitahumu sebelumnya?”

Hyukjae menyesap kopinya sejenak. Lalu ia mengulas sebuah senyuman. “Oh, Kyuhyun belum mengatakan apa pun padaku. Sebenarnya inilah alasan kenapa kami bertemu hari ini. Kyuhyun sebenarnya akan menjelaskan kenapa dia tiba-tiba memutuskan untuk pergi ke luar negeri. Benar Kyuhyun?”

*****

Changwook menyimpan jas putihnya ke dalam loker dan mengeluarkan mantel hitamnya. Ia memakainya lalu bercermin untuk memastikan penampilannya hari ini terlihat tidak kusut. Hari ini adalah hari kencannya dengan Haneul.

Walaupun sebenarnya dia sudah bertukar shift dengan salah satu rekannya agar bisa menyamakan hari liburnya dengan Haneul, tapi dokter Ahn menghubunginya untuk keadaan darurat. Sebuah operasi yang cukup rumit dan Changwook tidak bisa menolak.

Dia baru saja keluar ruang operasi setengah jam lalu, padahal waktu kencannya dengan Haneul sudah dekat. Changwook memeriksa jam di pergelangan tangannya. “Oh, sial…”

Changwook lalu meraih tasnya dan bergegas keluar dari ruangan tersebut. Bahkan saat menuju lift, ia hampir menabrak beberapa pasien yang sedang berjalan di lorong dan suster. Dengan cepat, Changwook membungkuk dan meminta maaf.

Kemudian Changwook kembali bergegas menuju lift. Ia bahkan hampir berteriak untuk menahan lift yang hampir tertutup. Salah seorang menahan pintu lift hingga Changwook masuk ke dalam kotak baja tersebut. Changwook hendak mengucapkan terima kasih ketika ia menyadari bahwa orang yang menahan pintu lift itu adalah dokter Ahn.

Sang dokter senior itu tersenyum lebar pada Changwook. “Kau ingin pergi ke suatu tempat, dokter Ji? Kenapa terburu-buru seperti itu?”

“Ah, aku hanya sudah mempunyai janji dengan seseorang dokter,” tutur Changwook sembari menekan tombol basement parkir. Oh, Hell! Kenapa di saat seperti ini, ia malah harus berpapasan dengan dokter Ahn.

Sang dokter itu memperhatikan Changwook dengan seksama. Dari atas hingga bawah. “Kau ingin pergi kencan?”

“Eh? Y-ye?”

“Penampilanmu sedikit berbeda dari biasanya. Selain itu, kau menggunakan parfum. Jika hanya bertemu dengan seorang teman, kau tidak mungkin berdandan seperti ini,” sahut dokter Ahn sedikit menggoda.

Dokter Ahn menghela nafas. “Tapi syukurlah kalau kau mendengarkan nasihatku sebelumnya. Paling tidak, aku berharap dalam waktu setahun akan mendapatkan undangan pernikahan darimu.”

Changwook hanya bisa menyeringai mendengar hal itu. Dia tidak mungkin mengatakan kalau pun dia akan menikah tidak mungkin di Korea. Tak lama lift berhenti dan pintu terbuka. Dokter Ahn menepuk bahu Changwook sekilas sebelum berjalan keluar.

Changwook sedikit membungkuk hingga pintu lift kembali tertutup. Ia menegakkan tubuhnya dan menghembuskan nafas panjang. Paling tidak, dokter Ahn tidak banyak bertanya mengenai kencannya hari ini. Changwook merapikan sedikit rambutnya saat ia melihat refleksi dirinya, kemudian tersenyum tipis.

“Ah…” Changwook lalu mengeluarkan ponselnya dan menekan speed dial nomor 1.

Changwook menunggu beberapa detik sampai sambungan terhubung. “Halo..”

“Halo..”

“Kau sudah dalam perjalanan?” tanya Changwook.

“Begitulah. Kau masih di rumah sakit?”

Lift berhenti di lantai basement dan pintu pun terbuka. Changwook berjalan keluar lift tersebut. “Aku sedang di basement parkir. Jika kau sampai duluan, pilih saja film yang kau inginkan. Nanti aku yang membeli popcorn dan soda,” tuturnya sembari berjalan menuju mobilnya terparkir dan mengeluarkan kunci mobilnya dari saku celana.

“Apa kau yakin aku yang memilih filmnya?”

Changwook tertawa kecil. “Tentu saja. Kenapa? Apa kau akan memilih film horror?”

“Tentu saja tidak. Tapi bukankah lebih baik jika kita memilihnya bersama? Tapi… Hey!! Bisakah kau lebih cepat jalannya! Aku sudah kedinginan!”

Langkah Changwook terhenti. Ekspresinya jelas kalau dia begitu terkejut. Haneul sedang menunggu dekat mobilnya. Changwook tidak tahu kalau Haneul berniat datang ke rumah sakit. Awal rencana mereka adalah bertemu di gedung bioskop. Itu pun karena Changwook harus ke rumah sakit terlebih dahulu.

Changwook memutuskan sambungan teleponnya dan berjalan menghampiri Haneul. “Kenapa kau di sini? Bukankah kita…. Di mana mobilmu?”

“Aku datang dengan taksi dan menunggumu di sini,” tutur Haneul sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku mantelnya.

Changwook kemudian menyentuh tangan dan wajah Haneul. Kekasihnya terasa dingin. “Yak!! Kenapa malah menunggu di basement? Kenapa tidak masuk saja?!” serunya sembari mematikan alarm mobil.

Lalu Changwook menarik Haneul dan menyuruhnya segera memanjat masuk ke dalam mobil. Bergegas, Changwook menuju pintu driver dan memanjat masuk. Ia langsung menyalakan mesin mobil dan menaikkan suhu heater. Changwook mendengus jengkel.

“Kau marah padaku? Aku hanya ingin kita pergi bersama,” tukas Haneul sembari mendekatkan kedua tangannya di heater.

“Tentu saja, aku marah padamu. Kenapa kau malah menunggu di sini? Sudah berapa lama kau di sini, eoh? Kenapa tidak masuk ke dalam rumah sakit saja?” omel Changwook.

“Hanya duapuluh menit, Wook. Itu tidak buruk.”

“Tapi tangan dan wajahmu terasa dingin. Kau bilang itu tidak buruk?!”

Haneul mendengus kesal. Dia hanya berniat mengejutkan Changwook dan mereka bisa pergi bersama, tapi kenapa dia malah dimarahi seperti ini? Rasanya pertengkaran pertama mereka sebagai pasangan kekasih begitu tidak masuk akal.

“Apa kau akan terus marah padaku seperti ini?”

“Kau seharusnya tidak bersikap ceroboh, Han.”

“Jika kita akan bertengkar karena hal ini, sebaiknya batalkan saja. Aku menunggu selama duapuluh menit bukan untuk mendengarkanmu memarahiku seperti anak kecil. Apa kau pikir aku tidak ingin menunggu di dalam rumah sakit? Jika aku menunggu di dalam dan bertemu dengan salah satu dokter atau suster, lalu apa yang harus kukatakan pada mereka? Hari ini adalah hari liburku, tapi aku malah berada di rumah sakit. Kau ingin aku menjawab kalau aku sedang menunggumu karena kita akan pergi kencan, begitu?!”

Changwook terdiam sejenak. Ia menarik nafas panjang melihat Haneul yang balik melontarkan kekesalan padannya. “Bukan itu maksudku Han. Jika kau tidak ingin menunggu di rumah sakit, mungkin kau bisa menunggu di salah satu kedai di luar rumah sakit dibandingkan kau harus menunggu di basement dingin seperti ini. Aku hanya mengkhawatirkanmu.”

“Jangan bersikap seperti itu, Changwook. Aku bukan anak kecil. Lagipula apa salahnya hanya menunggu selama duapuluh menit.”

“Kalau memang hanya duapuluh menit. Bagaimana jika kau harus menunggu lebih lama karena aku masih sibuk?”

“Aku akan menghubungimu.”

“Bagaimana kalau ponsel kutinggal di loker dan aku sedang berada di ruang operasi?”

Kali ini, Haneul terdiam. Ia tidak tahu bagaimana harus menjawab. Haneul melirik Changwook dengan jengkel. “Kita jadi pergi atau tidak?”

Changwook tersenyum tipis. Sepertinya Haneul sudah kalah argument dengannya. “Han, dengarkan aku. Aku sangat senang melihatmu menungguku. Tapi paling tidak pikirkan waktu dan tempatnya. Dengan situasi sekarang ini, kau tahu persis harus menunggu di tempat yang hangat. Kenapa malah memaksakan diri untuk menunggu di basement?”

Haneul tidak mengatakan apa pun. Dia mendengus kesal lalu memasang seatbeltnya. Changwook tertawa kecil. Oh, dia tidak pernah tahu kalau Haneul mempunyai sisi kekanakan seperti ini. Ia meraih tangan Haneul yang masih terasa sedikit dingin dan mengusapnya di antara kedua tangannya –membuatnya menjadih lebih hangat.

Haneul menatapnya dengan lekat. Changwook kemudian mengecup punggung tangan Haneul dan tersenyum. “Terima kasih telah menungguku. Tapi lain kali, hubungi aku dulu jika kau akan menungguku seperti ini, okay?”

Haneul hanya mengangguk kecil.

*****

Siwon menatap ayahnya dengan lekat.

“Pikirkan hal itu baik-baik, Siwon.”

Heck, apa yang harus ia pikirkan lagi? Ayahnya mungkin terdengar berusaha untuk memahaminya dan menyarankan sebuah jalan yang terbaik untuk hubungannya dengan Kyuhyun dan hubungannya dengan ibunya. Tapi bagi Siwon, saran yang diberikan oleh ayahnya tidak jauh berbeda dengan sikap ibunya selama ini.

Sejak coming out, Siwon berpikir kalau ayahnya, jika tidak bisa mendukungnya, mungkin bersikap toleran pada Siwon. Paling tidak, salah satu dari orang tuanya bisa melihat perspektif Siwon mengenai perasaannya pada Kyuhyun. Tapi tidak. Choi Jaewon hanya berusaha mengulur waktu.

“Aku tidak akan merubah keputusanku,” ucap Siwon.

“Siwon…”

Siwon menggeleng. “Appa mungkin berpikir cara itu adalah yang terbaik dengan situasiku sekarang. Tapi tidak akan semudah itu, Appa. Dan lagi… Apa Eomma yang meminta Appa untuk menemuiku hari ini?”

“Tidak, Siwon. Eomma bahkan tidak tahu kalau Appa akan bertemu denganmu. Kakek sudah memintaku untuk memikirkan matang-matang sebelum bicara denganmu. Kau putra Appa, apa pun keputusanmu tentu saja akan Appa dukung. Tapi pengunduran diri bukanlah jawabannya,” jelas Jaewon dengan tenang.

“Aku tidak bisa meninggalkan Kyuhyun.”

“Appa tidak memintamu meninggalkannya. Pikirkan lagi soal pengunduran diri itu. Jika kau tidak bekerja di Choi Group, lalu di mana kau akan bekerja? Jika kau bekerja di perusahaan lain, itu akan menimbulkan pertanyaan baru. Appa tidak sedang bicara mengenai citra perusahaan atau keluarga, tapi hal ini bisa menunjukkan kalau ada masalah yang terjadi di dalam keluarga kita. Kau mungkin bisa keluar dari rumah, tapi tidak dengan perusahaan, Siwon.”

Siwon menarik nafas perlahan. Sebenarnya Siwon tidak ingin memberitahu rencananya untuk pergi dari Korea. Tapi jika Appanya terus menerus memaksanya untuk merubah keputusannya, maka tidak ada cara lain. Siwon memandang Jaewon dengan lekat. “Aku akan membawa Kyuhyun pergi dari Korea.”

Mata Jaewon membulat. Ini sama sekali di luar dugaannya. “A-apa? Pergi dari Korea? Ke-napa… Changmin tidak mengatakan hal itu pada Kakek. Siwon, apa yang sebenarnya ingin kau lakukan?”

“Situasi Kyuhyun dengan keluarganya tidak lebih buruk dengan situasiku sendiri. Dia juga sudah diusir oleh ibunya karena mempertahankan hubungan ini. Selain itu, karena kasus Seon Hwan, dia selalu terluka dan masuk rumah sakit. Mungkin masalahnya sudah reda, tapi bukan berarti Kyuhyun sudah terlepas dari bahaya Seon Hwan. Saat ini, hanya ada aku yang berdiri di sisinya,” tutur Siwon.

“Orang tuanya mengusirnya? Tapi bukankah…?” Oh, Jaewon benar-benar tidak tahu. Ia mungkin tidak terlalu mengenal persis bagaimana keluarga Cho sebenarnya. Reputasi keluarga Cho sendiri terlihat cukup baik di kalangan keluarga menengah atas.

Selama ini, Jaewon berpikir kalau keluarga Cho akan bisa memahami situasi yang dialami Kyuhyun. Namun, kenyataannya lebih buruk. Yoojin mungkin tidak menyetujui dengan situasi ini, namun Jaewon cukup yakin kalau istrinya tidak akan sampai berbuat hal yang cukup ekstrem dengan mengusir Siwon.

“Appa…”

Jaewon tersadar dari pikirannya sendiri dan menatap putranya dengan lekat.

“Aku tidak akan merubah keputusanku. Selain itu, aku juga akan tetap membawa Kyuhyun pergi dari Korea secepatnya. Aku tidak akan meminta Appa atau keluarga yang lainnya menerima hubungan kami. Aku juga tidak peduli jika Kakek akan mencoretku dari daftar keluarga. Tapi, paling tidak, biarkan kami hidup bahagia. Ini adalah permintaanku yang terakhir sebagai putra Appa.”

*****

Jinri memperhatikan ibunya yang sedang melihat katalog busana pengantin. Ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh ibunya tersebut. Sejak kemarin, Yoojin juga tidak pernah menyebut nama Siwon. Entah, Yoojin sudah menyerah atau dia sedang menyusun rencana lainnya untuk memisahkan Siwon dengan Kyuhyun.

Jinri mungkin bisa mengerti alasan kenapa ibunya bersikap keras seperti itu. Tapi ini sudah di luar batas kewajaran. Ia menarik nafas panjang dan duduk di sofa sembari memperhatikan ibunya. “Eomma…”

Yoojin menggumam pelan.

“Sedang apa?” tanya Jinri.

Yoojin membalik halaman majalah katalog tersebut. “Melihat gaun pengantin.”

“Untuk apa? Ma-maksudku, kenapa Eomma melihat gaun pengantin? Di keluarga kita belum ada yang merencanakan pernikahan. Bahkan Changmin mungkin baru menikah di tahun depan.”

Yoojin mengangkat kepalanya dan menatap putrinya dengan lekat. “Apa harus ada alasan seperti itu untuk Eomma melihat-lihat gaun pengantin?”

“Bukan itu, maksudku. Tapi… Eomma masih berharap Oppa bisa menikah dengan Hyojin eonni? Eomma, Siwon oppa tidak mungkin menikah dengan…” ucapan Jinri terhenti ketika ekspresi Yoojin terlihat marah.

Yoojin menghela nafas. Ia menutup katalog tersebut dengan jengkel. “Jinri, apa yang sebenarnya ingin kau katakan? Apa kau tidak ingin melihat kakakmu menikah dan mempunyai keluarga?”

“Te-tentu saja aku ingin, tapi… Eomma, hentikan semua ini. Jika Eomma terus berusaha memisahkan mereka berdua, Siwon oppa akan…”

Yoojin melempar katalog tersebut dengan keras. “Choi Jinri!! Jangan mengajari Eomma apa yang harus Eomma lakukan! Kau ini tahu apa, eoh? Kakakmu sedang kehilangan akal sehatnya, maka dari itu Eomma harus menyadarkannya sebelum terlambat. Dia hanya dibutakan oleh nafsu! Siwon harus menyadari hal itu sebelum reputasi keluarga kita hancur karena pria menjijikkan itu!”

“Eomma…”

“Jangan membantah Eomma, Jinri!! Kau juga sudah dibutakan oleh pria itu. Begitu juga dengan semua sepupumu! Entah bagaimana pria menjijikkan dan rendah itu bisa membutakan akal sehat kalian, tapi Eomma tidak akan tertipu olehnya. Tchh… Jika Eomma tahu akhirnya akan seperti ini, seharusnya Eomma menolak pertemuan Siwon dengan keluarga itu. Sepertinya semua anggota keluarga itu pandai menjilat. Bahkan putri tertuanya bisa menjerat putra dari keluarga Ahn. Eomma benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa keluarga Ahn bisa menerimanya sebagai calon menantu?”

Jinri hanya bisa terperangah dengan sikap Yoojin yang begitu repulsive ketika membicarakan hubungan Siwon dan Kyuhyun. Ada kebencian yang begitu besar di dalam diri Yoojin pada Kyuhyun. Semua hal buruk yang disangkakan Yoojin tidaklah benar. Itu hanya bagian dari penyangkalan Yoojin terhadap seksualitas Siwon. Tapi Yoojin malah menyalahkan orang lain karena hal tersebut.

“Eomma, seksualitas oppa tidak hubungannya dengan Pengacara Cho. Bahkan jika bukan dengan Pengacara Cho, mungkin saja oppa akan menyadarinya suatu hari nanti karena pria lain. Eomma tidak bisa menyalahkan orang lain. Itu bukanlah sebuah penyakit yang mudah menular dan berpikir akan ada obatnya. Eomma bisa menyangkal pengakuan oppa, tapi bukan berarti Eomma bisa menyalurkan semua penyangkalan itu dan menyalahkan orang lain. Dibandingkan Eomma terus menyalahkan Pengacara Cho dan berusaha memisahkan mereka, kenapa Eomma tidak bicara dengan Siwon oppa?! Tanyakan mengenai perasaan terdalamnya. Selama ini, Eomma mungkin berpikir telah mendidik oppa dengan baik, mengetahui baik semua sifat dan sikap oppa. Tapi semua itu hanya untuk satu tujuan, bukan? Menjadikan oppa sebagai pewaris Choi Group.”

“Tapi Siwon memang pewaris Choi Group! Selain Siwon tidak ada satu pun yang menyandang marga Choi. Bahkan jika merger antara perusahaan Shim dengan Choi Group dilakukan, bukan berarti Changmin bisa menjadi pewarisnya seperti Siwon!”

“Eomma, bukan hanya Siwon oppa yang menyandang marga Choi. Ada Sooyoung eonni. Masih ada aku!”

“Apa kau pikir, kakekmu akan menyerahkan perusahaan padamu? Sooyoung sudah menikah dengan keluarga Han. Dia tidak akan bisa. Pikirkan baik-baik Jinri? Bahkan sebelum menikah, Sooyoung bahkan tidak terlibat dalam Choi Group. Lalu apa kau berpikir kau bisa melakukannya?!”

Jinri tidak bisa berkata apa pun. Ibunya sudah dibutakan oleh kekuasaan Choi Group. Jinri mungkin tidak memiliki pemikiran untuk ikut terlibat dalam perusahaan, tapi dia tidak menyangka kalau ibunya malah merendahkan dirinya dan juga Sooyoung. Hanya karena mereka adalah wanita. Choi Yoojin seolah sedang terjebak dalam sebuah pemikiran konservatif yang seksis.

Jinri tidak ingin berdebat dan mendengarkan semua ucapan Yoojin yang begitu merendahkannya. Ia memilih untuk keluar dari rumah. Jinri tidak bisa berlama-lama berada dalam satu ruangan dengan ibunya sendiri.

*****

“Kyuhyun, aku sudah hampir sampai di café. Apa kau masih bicara dengan Hyukjae?” tanya Siwon sembari fokus menyetir. Telinga kanannya terpasang headset dengan ponsel yang terpasang di dock dashboard.

Setelah pembicaraan singkatnya dengan ayahnya, Siwon kembali menjemput Kyuhyun di mana coffee shop dekat kantor firma hukum Kang. Mereka masih harus ke kantor polisi untuk mengurus mobil Kyuhyun. Di ujung telepon, Siwon bisa mendengar suara helaan nafas Kyuhyun. Kening Siwon sedikit mengernyit saat mendengarnya.

“Kyuhyun….”

“Eoh. Aku sudah selesai bicara. Kau di mana?”

“Baru saja melewati gedung kantor firma hukum. Jadi, tiga menit lagi?” tutur Siwon.

“Aku akan menunggumu di luar café.”

“Udaranya masih dingin, Kyuhyun. Tunggu saja di dalam café.”

“Tidak apa-apa. Eoh? Aku melihat mobilmu.”

Siwon juga bisa melihat Kyuhyun yang baru saja keluar dari coffee shop tersebut. Ia tersenyum tipis dan menepikan mobilnya. Kyuhyun memutuskan sambungan teleponnya dan hendak menyebrang jalan. Di tangannya terdapat sebuah segelas berisi kopi hangat untuk Siwon.

Siwon membuka kunci mobil ketika Kyuhyun hendak membuka pintu penumpang. Senyumnya terkembang lebar ketika Kyuhyun menyodorkan gelas kopi tersebut. Kyuhyun memanjat masuk dan menutup pintu lalu memakai seatbelt.

Siwon menyesap perlahan kopi yang dibelikan Kyuhyun. “Oh? Dari mana kau tahu aku suka kopi ini?”

“Changmin. Bagaimana pembicaraanmu dengan Appamu?” tanya Kyuhyun yang sedikit menaikkan suhu heater mobil tersebut.

Siwon menyesap kembali kopi tersebut perlahan. “Cukup singkat. Bagaimana dengan Hyukjae?” lalu menyimpan gelas kopi itu di drink-dock yang tersedia.

“Well, tidak seburuk perkiraanku. Dia bisa menerima penjelasanku. Begitu juga dengan Haejin dan Haesa,” tutur Kyuhyun.

Siwon yang melajukan mobilnya mengerutkan kening saat Kyuhyun menyebut nama Haejin dan Haesa.  Bukankah Kyuhyun hanya bertemu dengan Hyukjae saja?

Kyuhyun menatap Siwon dengan lekat. “Saat Hyukjae ingin keluar kantor, ia berpapasan dengan mereka. Hyukjae memberitahu kalau dia akan bertemu denganku. Maka dari itu, Haejin dan Haesa juga ikut. Aku juga sudah lama tidak bertemu dengan Haejin.”

“Lalu Haesa?”

“Kenapa dengannya? Apa aku tidak boleh bertemu dengannya?”

Siwon melirik Kyuhyun. “Bukan tidak boleh. Aku hanya…”

“Cemburu?”

“Tidak, bukan cemburu. Maksudku, apa tidak canggung? Sebelumnya… Well, kau tahu maksudku.”

Kyuhyun menarik nafas perlahan. Ia menyandarkan punggungnya. “Memang canggung. Kami tidak banyak bicara. Tapi sepertinya dia cukup terkejut saat mendengar aku akan ke luar negeri. Tapi setelah aku menjelaskan, Haesa –mereka bertiga, bisa mengerti.”

“Penjelasan apa yang kau berikan? Kau tidak mungkin mengatakan kalau kekasihmu, Choi Siwon, yang memutuskan untuk membawamu pergi ke luar negeri, bukan?”

“Apa kau ingin aku bicara seperti itu?”

Siwon tertawa kecil. “Bukan, Kyuhyun. Jika hanya Hyukjae, kau mungkin akan menggunakan penjelasan seperti itu. Tapi karena ada Haesa dan Haejin, mereka yang belum tahu tentang hubungan kita, maka kau akan mencari penjelasan lain.”

“Hyukjae memberi alasan aku pergi untuk terapi psikiatri. Jadi, aku hanya menjelaskan lebih detail tentang diagnosa dokter. Tapi Haejin bilang aku mungkin akan bekerja di firma hukum Choi Group. Kenapa dia bisa bicara begitu?”

“Oh, entahlah itu ide Changmin. Saat kita dalam kondisi koma, mereka membuat alibi agar media tidak memberitakan hal aneh. Yang kutahu, alibi firma hukum Kang masih menon-aktifkan statusmu saat kau resmi ‘dipecat’. Tapi jika ada sesuatu terjadi, mereka akan mengatakan kalau firma hukum Choi Group berusaha untuk merekrutmu.”

Kyuhyun hanya mengangguk kecil. Well, dia masih belum percaya kalau dia sudah dikeluarkan dari firma hukum Kang ketika dia dalam kondisi tidak sadar. Walaupun alasannya adalah demi kebaikannya, tapi tetap saja terdengar menyakitkan. Kyuhyun sudah bekerja lebih dari enam tahun di firma hukum tersebut. Tapi karena satu kasus, dia malah kehilangan pekerjaannya.

“Lalu bagaimana sekarang? Maksudku, jika kita pergi, pernyataan apa yang akan dikeluarkan? Aku tidak mungkin membawa nama keluargaku. Mereka mungkin akan mengatakan hal yang berbeda nantinya,” tutur Kyuhyun.

Siwon menghembuskan nafas panjang. Ia melirik Kyuhyun dan tersenyum tipis. “Well, kita bisa pikirkan hal itu nanti. Mungkin Changmin bisa memberikan ide. Oh ya, kita makan siang dulu sebelum ke kantor polisi atau ke kantor polisi dulu baru kemudian makan siang?”

“Kantor polisi lalu makan siang.”

*****

Changmin menghampiri meja di mana Yunho sedang melihat-lihat menu. Sebelumnya, Yunho menghubunginya dan mengajaknya untuk pergi makan siang bersama. Well, dibandingkan Changmin harus makan siang sendirian di kantor, jadi ia mengiyakan ajakan tersebut. Changmin menyapa Yunho sekilas lalu duduk dihadapan sepupu tertuanya.

Yunho menurunkan buku menu dan memperhatikan ekspresi Changmin. “Kau dapat masalah lagi dengan kakek?”

Well, Changmin adalah yang paling mudah dibaca hanya dari ekspresi wajah dan moodnya. Selain itu, jika Changmin mengalami hari yang buruk, hanya ada dua kemungkinan penyebabnya. Choi Daehan atau Choi Siwon.

“Tch.. Kakek menyuruhku untuk mengambil-alih posisi Siwon,” tukas Changmin.

Ah, ternyata kali ini penyebabnya dua orang. Yunho lalu menyodorkan buku menu yang dipegangnya pada Changmin. Jika Changmin sudah mengalami mood buruk, hanya ada satu penyelesaiannya. Makanan.

Changmin membuka buku menu tersebut. “Hyung yang traktir, okay?”

Yunho hanya menggumam pelan. “Dokumen Siwon dan Kyuhyun baru selesai minggu depan,” ucapnya.

Changmin meliriknya. “Itu lebih cepat dari dugaanku.”

“Begitulah. Tapi Siwon belum mengatakan dia ingin pergi ke mana.”

Changmin mengangguk kecil. Matanya masih bergerak memperhatikan daftar menu. “Aku sudah menyarankan New York, tapi dia belum memutuskan. Mungkin Eropa. Belanda atau Prancis. Mungkin Jerman atau Inggris.”

“Kapan kau akan bertemu lagi dengannya?”

“Untuk bertanya ke mana tujuannya? Kenapa tidak kau saja yang pergi menemuinya atau paling tidak menghubunginya? Kenapa harus lewat perantara diriku?” sahut Changmin sembari menutup buku menu.

Tak lama, seorang pelayan datang ke meja mereka. Yunho menyebutkan pesanannya terlebih dahulu, lalu diikuti oleh pesanan Changmin. Alis Yunho terangkat ketika Changmin menyebutkan lima menu makanan besar. Ia tidak permasalahan harga makanannya, tapi itu adalah jumlah makanan yang banyak. Changmin mungkin sering disebut food monster, tapi Yunho tidak terlalu menyukai jika sepupunya itu makan terlalu berlebihan. Bahkan jika dia sedang dalam bad mood atau stress.

“Hey, apa kau begitu kesal hingga makan sebanyak itu?” tutur Yunho setelah pelayan itu pergi.

Changmin mendesah. “Jangan protes, hyung. Kakek masih mendesakku untuk mengatakan di mana Siwon tinggal saat ini. Itu sangat menyebalkan karena hanya aku yang menjadi target interogasi Kakek.”

“Untuk apa Kakek bertanya hal itu?”

“Itulah! Kakek tidak mengatakan apa pun. Dia bilang hanya ingin tahu saja, tapi aku tidak mudah percaya dengan Kakek.”

Yunho meneguk air yang sudah disediakan sebelumnya. “Kakek selalu seperti itu, bukan? Bahkan jika pun Kakek sudah mengetahuinya, ia akan selalu berpura tidak mengetahui apa pun dan bertanya. Sampai akhirnya kita sendiri yang menceritakannya. Kurasa kali ini tidak berbeda.”

“Kakek bilang kalau dia tidak menyuruh Kim Hyeon untuk mencari keberadaan Siwon. Entah itu kebenaran atau bukan,” sahut Changmin. “Kudengar hari ini, Siwon bertemu dengan Paman Jaewon. Paman mungkin akan bertanya padanya di mana ia tinggal.”

“Mengenai surat pengunduran diri itu?”

Changmin hanya mengangguk. Yunho menghela nafas pendek. “Kau tahu, Abeoji tadi menemuiku. Dia bilang agar memberitahu Siwon untuk memikirkan keputusannya dengan matang.”

“Benarkah? Waah… sepertinya masalah ini akan semakin rumit jika anggota keluarga yang lain juga berkata demikian. Orangtuaku mungkin belum mengatakan apa pun, tapi jika Kakek kembali memanggil semua anggota keluarga untuk membicarakan masalah ini, sepertinya Bibi Yoojin akan memanfaatkan situasi ini untuk memaksa Siwon,” tutur Changmin.

Yunho menatap Changmin lekat. “Ah, bicara mengenai Bibi Yoojin. Apa kau merasa ini sedikit aneh? Maksudku, Siwon memutuskan keluar dari rumah dan tinggal bersama Kyuhyun. Kemungkinan terbesar adalah Bibi Yoojin akan mencari di mana mereka tinggal. Tapi kali ini Bibi Yoojin terlihat begitu tenang. Apa kau pikir ia sedang merencanakan sesuatu?”

“Entahlah. Aku hanya berharap bukan sesuatu yang lebih buruk. Kau tahu, berkaitan dengan pertunangan Cho Ahra dengan putra dari keluarga Ahn. Jika keluarga Ahn belum mengetahui mengenai Kyuhyun, mungkin saja….” Changmin terdiam sejenak. Pikirannya sudah pergi jauh memikirkan hal yang paling buruk. Berkaitan dengan Cho Ahra dan pertunangannya itu.

Oh, terkadang dia paling membenci jika ia sudah berpikiran seperti itu.

“Hyung, itu tidak mungkin ‘kan?”

*****

Ahra menatap Jisung dengan gugup. Hari ini, ia meminta tunganannya untuk bertemu saat jam makan siang. Ahra sudah memikirkan apa yang akan dikatakannya dengan baik. Semakin cepat ia mengatakannya sebelum waktu pernikahan, maka akan semakin baik. Entah apa pun reaksi Jisung nantinya.

Jisung menatap Ahra dengan lekat. “Kenapa kau terlihat gugup begitu?”

“Ada sesuatu yang ingin kuberitahu padamu, Jisung-sshi. Dan aku bisa memahami bagaimana reaksimu nantinya. Tapi aku hanya ingin berkata jujur padamu, sebelum kita benar-benar menikah,” ucap Ahra.

Jisung mengernyit. “Ada apa? Katakan saja.”

Ahra menarik nafas perlahan. Ia cukup beruntung menemukan restaurant yang tidak terlalu ramai. Dia tidak ingin mengambil resiko ada orang lain yang akan mendengarkan pembicaraan mereka. Terlebih dengan reaksi Jisung nantinya. Ahra tidak ingin terlalu mencolok.

“Ini mengenai Kyuhyun. Kemarin, kau bertanya padaku mengenai kenapa Kyuhyun memutuskan untuk keluar dari rumah, bukan?”

Jisung mengangguk kecil. Waktu itu, Ahra hanya mengatakan bahwa situasi yang membuat Kyuhyun mengambil keputusan tersebut. Jisung tidak mendapatkan penjelasan lebih lanjut tentang situasi yang dialami oleh Kyuhyun.

Ahra menghembuskan nafas perlahan. Inilah waktunya. “Aku tahu kau mungkin akan bereaksi keras dengan apa yang kukatakan mengenai Kyuhyun. Tapi aku harap kau mendengarkan sampai selesai. Setelah itu, kau bisa memutuskan bagaimana kelanjutan hubungan kita.”

“Ahra-sshi, kau membuatku takut. Sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi pada Kyuhyun?”

“Kyuhyun keluar dari rumah karena ia diusir. Alasannya adalah karena ia seorang biseksual. Saat ini, Kyuhyun sedang menjalin hubungan dengan seorang pria,” ungkap Ahra dengan suara hampir berbisik. Ia memperhatikan reaksi Jisung dengan lekat. “Kau mungkin tidak ingin mempercayainya. Tapi ini adalah kebenaran dan aku tidak ingin membohongimu. Aku menyayangi adikku, Jisung-sshi.  Aku akan selalu mendukungnya apa pun keputusannya.Orangtua kami tidak bisa menerimanya, tapi aku tidak akan meninggalkannya sendirian.”

Ahra kemudian sedikit menundukkan kepala. “Jika kau ingin memutuskan hubungan ini dan membatalkan pernikahan, aku bisa mengerti. Tapi aku harap, jangan menyebarkan hal ini pada siapa pun. Jika kita membatalkan pernikahan, aku ingin kita mencari alasan lain. Aku bukan ingin melindungi reputasi keluargaku atau pun reputasi adikku sebagai pengacara. Aku hanya tidak ingin Kyuhyun lebih menderita lagi. Dia sudah terluka banyak selama ini. Aku tidak bisa menambah lukanya lagi.”

Jisung masih belum mengatakan apapun. Ia jelas merasa terkejut dengan pengakuan Ahra. Jisung mungkin baru beberapa kali bertemu dengan Kyuhyun dan pria muda itu tidak terlihat seperti apa yang dikatakan oleh Ahra. Calon adik iparnya adalah biseksual dan tengah menjalin hubungan dengan pria.

Jisung memandang Ahra yang tidak bisa mengangkat kepalanya. Ia juga bisa melihat tubuh Ahra yang gemetaran. Wanita dihadapannya –yang akan menjadi calon istrinya– terlihat begitu ketakutan. Bukan pada dirinya, tapi Ahra merasa ketakutan untuk adiknya. Jisung tahu kalau Ahra akan melakukan apa saja demi Kyuhyun. Bahkan untuk mengatakan hal ini dan membuat rencana pernikahan mereka di ambang kehancuran.

Jisung memejamkan matanya dan menarik nafas perlahan. Ia tidah tahu bagaimana harus bereaksi setelah mendengarkan pengakuan mengejutkan tersebut. Kemudian ia membuka matanya. “Ahra-sshi…” ucapnya.

Ahra sedikit melirik Jisung.

“Bisa… Bisakah kau berikan aku waktu untuk memikirkan hal ini? Jujur saja, aku bahkan…. Oh, ya Tuhan. Ini terlalu mengejutkan bagiku. Jadi, berikan aku waktu untuk berpikir.”

*****

“Pergi menonton?” tanya Haesa pada Han Tae Hee, salah satu pengcara di firma hukum Kang.

Tae Hee mengangguk kecil sembari fokus menyetir. Duapuluh menit lalu, Haesa diajak paksa oleh Tae Hee keluar dari ruangannya. “Kita juga butuh waktu untuk bersantai. Paling tidak, selama dua jam kita juga bisa tidur sejenak, bukan?”

Haesa hanya tertawa mendengarnya. “Hey, jika kau ingin tidur, kau bisa pulang ke rumah. Kenapa harus membayar tiket bioskop hanya untuk tidur, eoh?”

“Ide awalnya memang untuk menonton film. Tapi jika tidak ada film yang bagus, kita bisa menggunakan ruangan yang gelap dan sepi –walaupun ada penonton lainnya– untuk tidur,” sahut Tae Hee.

“Hanya kita berdua?”

“Tentu saja dengan yang lain. Pengacara Oh sudah pergi duluan. Dia yang akan membeli tiket. Nanti beberapa pengacara lain juga akan menyusul. Setelah menonton film, kita bisa makan siang bersama. Setidaknya untuk hari tidak banyak klien yang datang.”

Haesa mendesah pelan. “Terserah saja padamu, Pengacara Han.”

Tae Hee bersorak senang. “Hah, jika saja Pengacara Lee juga ikut.”

Haesa tidak mengatakan apa pun. Dia masih ingat dengan pembicaraan mereka –Hyukjae, dirinya dan Haejin– bersama Kyuhyun mengenai rencana kepindahan Kyuhyun ke luar negeri. Walaupun Kyuhyun sudah menjelaskan, tapi ia bisa melihat Hyukjae tidak menyukai rencana tersebut. Haesa tahu persis kalau Hyukjae dan Kyuhyun itu sangat dekat. Hyukjae mungkin tidak memperlihatkan apa yang dirasakannya sebenarnya, tapi Haesa bisa memahami kekecewaan Hyukjae atas rencana Kyuhyun yang tiba-tiba itu.

“Ah, kudengar tadi kau dan Pengacara Lee bertemu dengan Pengacara Cho. Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Tae Hee.

Haesa menatap rekan kerjanya yang masih menyetir. “Dia terlihat baik-baik saja.”

“Syukurlah. Aku benar-benar tidak percaya dengan semua hal yang menimpa padanya. Hanya karena sebuah kasus yang bahkan sudah ditolaknya, Pengacara Cho harus mengalami hal buruk seperti itu. Bahkan karena kasus itu juga, dia kehilangan pekerjaannya,” tukas Tae Hee.

Haesa hanya menggumam pelan. Apa yang terjadi pada Kyuhyun juga merupakan tanggung-jawabnya.

Tae Hee memutar kemudi ketika ia melihat gedung bioskop yang sudah semakin dekat. “Tapi aku juga sedikit iri. Dia akan bekerja di firma hukum milik Choi Group. Setelah menangani sebuah kasus sengketa, Pengacara Cho mendapatkan perhatian besar dari Choi Group. Apa kau sudah bertanya padanya, kapan dia bisa kembali bekerja?”

“Ah, mengenai hal itu… Pengacara Cho masih belum memutuskan,” tukas Haesa.

Kening Tae Hee berkerut. “Belum memutuskan?”

“Maksudku, Pengacara Cho masih belum menerima tawaran itu. Mungkin karena dia juga baru saja keluar dari rumah sakit dan masih membutuhkan waktu untuk pulih sepenuhnya sebelum kembali bekerja.”

“Ah, begitu rupanya.”

Tae Hee lalu memasuki basement parkir gedung bioskop tersebut. Setelah memarkirkan mobil, mereka berdua memanjat keluar dan menuju pintu masuk. Keduanya menuju escalator terdekat untuk menuju lantai dua.

“Aku akan menemui Pengacara Oh. Sepertinya dia sedang mengantri untuk membeli tiket. Bisa belikan popcorn dan minuman?” tanya Tae Hee pada Haesa.

“Untuk berapa orang?”

“Belikan untuk empat orang terlebih dahulu. Jika yang datang lebih dari itu, kita bisa membelinya lagi nanti.”

Haesa mengangguk dan berjalan menuju counter snack sementara Tae Hee menuju ticket box. Ia berusaha mengambil dompetnya ketika ada seseorang yang hampir menabrak bahunya. Haesa mengucapkan permintaan maaf. Bersamaan ketika orang itu juga mengucapkan kata maaf padanya. Namun, matanya membulat terkejut saat melihat siapa yang hampir menabraknya.

“Haneul?”

Haesa tahu kalau hari ini adalah hari libur Haneul, tapi ia tidak tahu kalau saudara kembarnya itu berniat pergi menonton. Haneul terlihat sama terkejutnya melihat Haesa datang ke gedung bioskop yang sama dengannya. Namun, yang membuat Haesa jauh terlebih terkejut lagi adalah orang yang bersama Haneul saat ini. “Do-dokter Ji? Kalian…”

Haneul menatap Changwook yang berdiri di sampingnya dengan gugup. Well, dia tidak tahu kalau pada akhirnya, Haesa akan mengetahui hubungan mereka dengan cara sepert ini.

“Tu-tunggu dulu?! Kang Haneul, jangan katakan kalau kekasihmu yang bekerja di rumah sakit itu adalah… Oh Tuhan!”

Changwook kemudian mengulurkan tangannya pada Haesa. “Well, akhirnya kita bisa bertemu secara resmi, Kang Haesa-sshi.”

*****

NOTE: Okay, maaf ya karena minggu kemarin gak update. Karena masih editing. Doakan semoga ini fanfic 4 part lagi selesai! Hahahaha..

Sumpah ini udah kebanyakan…

Music: Kyuhyun – And We

PS. Sumpah lagu ini enak pake banget! Recommended banget!

Advertisements

35 thoughts on “[SF] Scarface Part 56

  1. Suka sama hubungan changwook n haneul heheh… Aduhhh romantisnya mereka… Diera eonni bikin iri… Baperrr banget…
    Sempet agak males klu haesa ikut hyukjae nemui kyu. Q pikir td cuma hyukjae aja yang ketemu…
    Kyu manis sekali bangun pagi2 tadi…. Waaahhhh seru bangettt
    Jisung perlu perpikir lagi kayaknya yahhh…
    Semoga keputusannya menjadi yang terbaik.
    Diera eonni daebakkkk.
    Terima kasih… Semangatttt nulisnya agar cepat tamat… Makasi… Happy ending yahhh hahhah

  2. Wuah….akhirnya uri WonKyu melakukan itu kkkkk.Rasanya senang sekali melihat bagaimana mereka ttp tersenyum ditengah beberapa anggota keluarga dan keadaan yg menurutku itu mmbuat dada sesak.Semoga..mereka bisa bertahan.Saranghae….
    Ngakak sendiri dengan Haneul dan Changwook.Apa Haesa akan mndukung keputusan Haneul.Karna..sepertinya akan ada hal besar yg terjadi dibioskop.Semoga mereka jadi menonton film kkkkk.

    Jeongmal gumawo eonni…Fighting!!!

  3. Seperti biasa interaksi wonkyu itu selalu sweet. Apa lagi pas kyuhyun bangun pagi setelah “olahraga” Semalam dengan tanda di lehernya kkk
    Tapi, itu hubungan ahra sama jisung apa akan baik baik saja?
    Semoga jisung bisa nerima. Kalau pernikahan mereka batal pasti akan membebani kyuhyun lagi.

    Choi yoojin,penasaran reaksinya saat tau siwon akan bawa kyuhyun pergi.
    Haesa akhirnya tau juga haneul sama changwook akhirnya…

  4. kyu cute bgt bangun paginya… jisung butuh waktu buat mikir kasian juga ahra… duh sesek bgt masalah mereka… di tunggu next partnya, di tunggu wonkyu momentnya…

  5. aduuhh,, aku gemes bgt sama tingkah Kyuhyun waktu baru bgn tidur.. maniss bgtt… >.<
    aku jadi kasian sama Ahra klo sampai pernikahan nya batal. Dia sayang bgt sama Kyuhyun, dia juga juga udh melakukan bnyak hal demi Kyuhyun..😦
    gak kerasa FF ini udh mau tamat, aduh bingung antara senang atau sedih.. tapi yang pasti bakal penasaran bgt sma ending FF ini..🙂
    dan untuk lagu Kyuhyun yang " And We " emang enaaaak bgtt.. suara Kyuhyun ya ampuun … bikin adem serasa lagi dinyanyiin langsung😀
    bahkan sejak awal aku udh naksir ama tuh lagu dibanding 2 lagu utama di album Kyuhyun.. hehe
    ya udah deh,, ditunggu selalu kelanjutannya..🙂

  6. Ahhh si kyuu malu nie pas bagun pagi hahahaa.. Pdhal mlamnya kan dia yg agresif.. 😳😳
    Ikut deg degan pas bgian ahra ngungkapin mslah kyu ke jisung. di situ aku berharap kluarga mereka mau ngerti kasian kyu sama siwon klo semua ikut nolak mereka.. 😭😭
    Masih pnasaran am choi daehan di sini.. Sbenernya kakek choi dukung atau gimnaa knpaa menurutku gak jlas.😂😂
    Buat endingnya aku harap semua bahagia dan wonkyu jga ttp bersatu.. 😊😊😊
    Kitaa sama authorr aku jga suka lagu yang itu hahahaa ademm pokoknya pas dengerin itu.. #Hwaiting author-sshi..

  7. Changwook haneul gemay bgt iiih haha 😆 Suka liatnya 😍
    Woa yoojin annoying bgt ya orgnya buset haus akan harta dan tahta bgt dia 😒😒 dan anak sendiri di rendahin kayak gt tsk kabur aja udh dr rumah tuh si jinri 😒😒
    Semoga siwon kyuhyun segera caw lah dari korea biar mereka bisa bahagia terus tanpa mikirin mereka2 yang egois itu

  8. Ibu Siwon benar-benar membenci Kyuhyun. Dia bisa melakukan apapun untuk memisahkan Siwon dan Kyuhyun. Entahlah…. deg-degan apa yang akan terjadi dengan hubungan Wonkyu ke depannya. Semoga tunangannya ahra mau menerima hubungan Wonkyu.
    Ditunggu lanjutannya…..

  9. Akhirnya apdet lagi 😙
    Suka deh interaksi siwon dan kyu pas di apartemen, tinggal menyelesaikan permasalahan keluarganya aja kan..
    Masalah ahra sama jisung semoga mendapatkan penyelesaian yang terbaik..
    Dan kok saya ngeri soal ibu siwon ya??
    Takut2 dia akan merusak pernikahannya ahra sama jisung deh..
    Demi kyu yang menyerah biar siwon jadi normal dan ah bener 4 lagi end??
    Semoga happy end ya

  10. smoga choi yoojin ga ngerencanain yang aneh2.. kasian ah siwon ma kyuhyun klo sampe dipisah paksa..
    Nah loh.. tu akhirnya ktauan deh klo changwook pacarny haneul.. aduh gmn ya haesa? Smoga changwook sama haesa bsa temenan deh

  11. aku jadi ikutan menggalau dengan hubungan WonKyu. karena jadi semakin banyaknya pihak yg ikut memberi masukan dg hubungan mereka…dan aku harap Ahra masih akan menikah dg kekasihnya itu. d tggu kelanjutannya ne!! 🙂

  12. Kyuhyun waktu baru bangun tidur benar2 gemesin malu2 gimana…
    Gk tau mau komen apa lg semangat aja bwt wonkyu moga masalahnya cepat kelar end terbaik bwt semua biarpun pasti ada yg akan terluka.

  13. kata2 siwon ke appa nya bikin terharu,mudah2n appa nya setuju2 aja sama hubungan wonkyu,tp kok ya mamahnya siwon masih aja ga ngaku2 klo g ada yng bs nolak pesona cho kyuhyun,kkk
    mudah2n pas wonkyu hendak ke luar negeri,mamah2 mereka pada nyadar klo wonkyu hanya butuh restu dari mereka,
    #apaini

  14. Sebernya sedikit ga suka sama ceritanya karna wonkyunya scenenya dikit hihihihi karna aku cuman baca part wonkyunya ajaahhhh heheeheh tapi pleaseee jangan marah karna aku bilng gituh yahhhh …. semoga dipart selanjutnya banyak scene ntara wonkyuuuuunya

  15. wah siwon benar” sudah mantap ya dia ingin keluar dari rimah san juga perusahaan dan bahkan keluar negeri.
    dan changmin dia malahblebih kesal karena dia tidak maj menjadi pemerus keluarga choi hehehe…
    kasian juga ya ahra dia bahkan rela kalo jisung tunangan nya akan memutuskan hubungan.tp semoga aaja jisung tetap akan menikahi ahra.
    ditunggu lanjutannya ya

  16. asli ga rela sebenernya kalo tinggal 4chapter lagi xD
    soalnya ff ini bener kaporit, komplikatif banget~~~
    tapi juga penasaran bakal ending kek gmana :3 duh serba salah jadinya :v
    yah tapi kudu happy end lah, kisah wonkyu pan selalu berakhir bahagia kek real nya *plakkk 😂😂
    di chap ini wkm nya kurang weh *dorrr
    mau nya sih full wonkyu :v
    yah semoga pada akhirnya semua bisa berlapang dada dan wonkyu bahagia bersama 😍😍

  17. aaaww ~ akhirnyaaa wonkyu udh ke yg lbh intim ngalahin JiNeul 😂
    ecieee ~ pengacara yg ‘dingin’ skrg udh bisa malu2 cieee 😚😚
    aaahh seneng nyaaaa.. /eh
    keluarga Siwon ga trima klo Siwon coming out dri posisi nya bgitupun Kyuhyun.
    yaa mau digimanapun jg Siwon tetap keras kepala, tetap Teguh sma keputusan nya utk bawa Kyuhyun ke luar negeri :3
    well ~ smoga masalahnya cepat kelar deh, biar crita nya cepet selesai /plakk
    wkwk Haesa akhirnya tau siapa kekasih Haneul tanpa sengaja 😂
    slalu ditunggu lanjutan ra 😆😆

  18. Duhh makin rumit..
    Eommanya siwon lg ngrencanain apa ya?? Jangan2 mau ngancem pake hubungan ahra ama tunangannya.. tp ahra juga udah ngomong langsung ke tunangannya..
    yg paling bikin penasaran apa yg bakal dilakuin kakek choi?? Next..next..next

  19. Thanks for the update..
    Author mmg bijak dlm menarik org utk membaca setiap ff yg ditulis..
    Keputusan siwon utk mbawa kyu ke luar negeri mdpt reaksi pelbagai..entah apa kesudahan hubungan wonkyu..i wonder how it goes in future..hope they’ll be happy together

  20. makin gemes ama kemesraan changwook-haneul..
    wonkyu jg makin mantap sama hubungan mereka.. semoga ibunya siwon atau kyuhyun gak berbuat yg aneh2 lagi.. please bikin mereka bahagia ya, author-sshi

  21. Hahaha Kyu manis nya .. malu2 meong .. hehe .. siwon super duper Kyutttt …
    Semoga jisung bisa terima keadaan keluarga cho ya .. amiennn
    Diera daebakkk .. always waiting Your ff .. hehe

  22. Dari sekian byk part di ff kli ni ga tau knpa sangat terharu dengan perkataan n permintaan siwon tentang kebahagiaan ke appanya. Sampai netesin air mata. Begitupun dengan perkataan ahra yang begiru menyayangi kyu sampai rela korbanin rncana pernikahannya. Selama baca juga selalu deg2an karna mikir bakal ada penculikan ato insiden lagi terhadap jinri or lainnya.
    Moga mnggu dpn bisa update secara ga sbr nunggu kelanjutannya

  23. Wah kyu sama siwon saling melengkapi dan semoga gak terpisahkan
    Mama siwon cuma mau harta aja gak th kayak mana perasaan siwon
    Eonni jgn batalkan pernikahan ahra
    Saya senang haneul sama changwook sudah di ketahui sama haesa
    saya setuju sama eonni klu iya scarface mau tamat mudahan”aja wonkyu bahagia

  24. Semua sdh menganjurkan agar siwon memikirkan ulang keputusannya trmasuk dr keluarga besar choi yg lain tp siwon msh tetap dg keputusannya? Apakah akhirnya siwon akan benar” keluar dr perusahaan??
    Akhirnya haesa mengetahui siapa pasangan haneul tanpa disengaja

  25. Yang paling ditakutkan itu umma choi.. Dia kayaknya emang bener bener niat banget buat misahin wonkyu
    haduh semoga aja ga ada halangan apapun yang bisa buat siwon ninggalin kyu lah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s