[SF] Scarface Part 55

jinhae

55

Ahra sedang merapikan pakaian serta barang-barang Kyuhyun ke dalam dua koper besar. Ahra hanya memilih beberapa barang pribadi penting milik Kyuhyun dan sisanya koper dipenuhi oleh pakaian dan beberapa pasang sepatu. Ahra tidak begitu memperhatikan pakaian seperti apa yang dimasukkannya ke dalam koper karena dia tidak mempunyai banyak waktu. Sesekali, Ahra melirik jam di pergelangan tangannya memastikan kalau dia masih mempunyai waktu sebelum batas yang diberikan oleh Siwon.

Sebenarnya Ahra ingin protes mengenai keputusan yang diambil oleh Siwon secara sepihak, tapi melihat kondisi adiknya karena kejadian kemarin Ahra hanya bisa setuju saja. Dia tidak ingin kondisi Kyuhyun semakin memburuk dengan semua hal yang terjadi di Seoul. Jadi, keputusan Siwon untuk membawa Kyuhyun pergi jauh adalah tepat. Bahkan jika orang tua mereka mengetahuinya. Toh, Eomma mereka sendiri yang mengusir Kyuhyun dari rumah.

Ahra menutup koper besar yang sudah penuh. Lalu dia beralih pada satu tas besar milik Kyuhyun yang akan diisinya dengan charger, dompet, laptop, ponsel serta paspor. Tak lupa, Ahra juga memasukkan beberapa buku tabungan yang dimiliki oleh Kyuhyun dan sepasang pakaian ganti untuk adiknya.

“Apa yang kau lakukan Ahra?” tanya Kim Hannah yang berdiri diambang pintu kamar Kyuhyun.

Ahra melirik dan mengabaikan ibunya. Masih cukup banyak yang harus disiapkannya. Hannah mendengus jengkel karena putrinya malah mengabaiknya seperti itu.

“Ahra, Eomma bicara padamu! Apa yang kau lakukan dengan barang-barang itu?”

Ahra mendesis. “Memangnya apa lagi? Eomma sudah mengusir Kyuhyun dari rumah, bukan? Aku akan mengirim semua ini pada Kyuhyun.” Well, paling tidak untuk saat ini ibunya tidak perlu diberitahu tentang kepergian Kyuhyun.

Kim Hannah hendak bicara ketika seorang pengurus rumah menghampirinya. Pengurus rumah itu menatap Hannah dengan sedikit ragu lalu melirik pada Ahra. “Nona Ahra, Tuan Ahn datang dan menunggu di ruang tengah.”

“Benarkah? Tolong suruh dia naik ke atas, bibi. Terima kasih.”

Pengurus rumah itu mengangguk dan kembali turun ke lantai satu.

Hannah menatap putrinya dengan lekat. Keningnya mengernyit. “Untuk apa Jisung datang ke sini?”

Ahra mengambil satu tas dan satu koper. Ia berjalan mendekati ibunya dan menatapnya lekat. “Memang apa lagi? Aku meminta bantuannya untuk membawakan ini semua. Kenapa? Dia adalah tunanganku, apa aku tidak boleh melakukannya?”

“Halo, Bibi.”

Hannah berbalik dan tersenyum pada Jisung yang menyapanya. “Oh, kau datang, Jisung.”

Ahra menatap Jisung dengan lekat. “Jisung-sshi, tolong bawakan koper itu ya,” ucap Ahra sembari menunjuk koper lainnya di dalam kamar.

Jisung mengangguk dan memasuki kamar Kyuhyun lalu membawa koper yang cukup besar itu. Sebelumnya dia menatap Ahra serta calon ibu mertuanya yang terlihat begitu tegang. Jisung tidak tahu apa yang terjadi, bahkan ketika Ahra memintanya datang untuk membantunya memindahkan barang-barang Kyuhyun, ia merasa begitu bingung. Tapi Ahra tidak banyak memberikan penjelasan.

“Uhm… Kita akan membawa ini ke mana? Apa Kyuhyun sudah mempunyai apartmentnya sendir?” tanya Jisung dengan canggung.

Ahra yang menatap ibunya dengan lekat kemudian menghela nafas. Dia menoleh pada Jisung dan tersenyum tipis. “Begitulah. Maaf ya aku memintamu datang padahal kau pasti sibuk dengan pekerjaanmu.”

Jisung menggeleng. “Tidak apa-apa. Lagipula aku bisa menggunakan alasan ini untuk keluar kantor. Ayahku tidak akan keberatan jika aku pergi menemuimu. Aku akan memasukkannya ke bagasi mobilku. Atau mobilmu?”

“Mobilmu saja tidak apa-apa. Aku akan memasukkan koper ini ke bagasi mobilku,” tutur Ahra.

“Baiklah.” Kemudian Jisung membawa koper itu keluar dari kamar Kyuhyun lalu menuruni tangga dengan hati-hati karena ukuran kopernya cukup besar.

Hannah memperhatikan putrinya dengan serius. “Apa adikmu akan tinggal dengan kekasihnya itu?”

“Untuk apa Eomma bertanya? Bukankah Eomma mengatakan kalau Kyuhyun bukan putra Eomma lagi, jadi untuk apa mempedulikannya sekarang?” sahut Ahra sembari menarik koper itu menuju anak tangga.

“Eomma melakukannya agar adikmu bisa berpikir panjang, Ahra.”

Langkah Ahra terhenti. Dia menoleh dan memandang ibunya dengan lekat. Hannah melipat kedua tangannya di depan dada. Ekspresinya terlihat begitu serius. Ekspresi yang berbeda pada sosok keibuan yang sering diperlihatkan oleh Hannah. Hal yang sama pernah dilihat oleh Ahra ketika dia masih begitu kecil. Tapi Ahra tidak ingat karena kejadian apa sampai Eommanya memperlihatkan ekspresi seperti itu.

“Di dunia ini, tidak semua orang akan menerima perbedaan dengan mudah. Jangankan persoalan seksualitas seseorang. Bahkan hanya dengan agama, ras dan hal terkecil seperti berbeda pendapat akan menimbulkan masalah besar. Tentu saja, Kyuhyun tahu persis apa yang menjadi keputusannya. Dia belajar hukum dengan sangat baik. Dia tahu persis segala resiko jika melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukum. Tapi pikirkan lagi, saat ia mulai merasakan dampak dari resiko itu, Kyuhyun akan seorang diri. Eomma hanya meminta Kyuhyun berpikir lebih jauh dibandingkan untuk mempertahankan hubungannya dengan pria itu. Sampai kapan hubungan mereka bisa bertahan. Apakah keluarga pihak pria itu akan bisa menerimanya? Lalu apa yang akan terjadi jika hubungan mereka diketahui oleh publik. Eomma tidak tahu siapa pria itu, tapi nama Kyuhyun sudah sangat dikenal. Kau bisa bayangkan bagaimana perlakuan masyarakat pada Kyuhyun?”

Hannah menarik nafas perlahan lalu berjalan mendekati Ahra yang hanya diam mendengarkan ucapannya. “Bahkan bagi seorang anak, keluarga adalah dukungan moral yang begitu besar. Eomma mungkin tidak akan mempermasalahkan tentang dirinya yang biseksual, tapi Kyuhyun harus tahu batasan apa yang sudah dilewatinya. Menjalin hubungan dengan seorang pria? Memang hubungan mereka akan dibawa sampai mana? Pernikahan? Walaupun sudah ada beberapa negara yang menyetujui pernikahan semacam itu, tapi begitu Kyuhyun sudah memutuskan hal seperti itu maka dia tidak akan bisa bergantung pada siapa pun. Termasuk keluarganya sendiri. Kau bilang Eomma tidak memikirkan kebahagiaannya? Eomma melakukan ini karena memikirkan kebahagiaannya di masa depan.

Hidup tidak hanya hari ini, Ahra. Kau tahu bagaimana sifat adikmu itu. Kyuhyun tidak mudah melupakan seseorang yang sudah dicintainya. Butuh enam tahun dan bahkan keterlibatan seorang pria untuknya melupakan Haesa. Lalu jika hubungan mereka berakhir buruk, sampai kapan Kyuhyun harus menderita untuk bisa melupakan pria itu? Katakan hal itu pada Kyuhyun. Adikmu masih bisa pulang ke rumah ini, tapi tentu saja dia harus memilih.”

Kemudian Hannah berjalan menuruni tangga.

*****

Changmin hanya menatap Siwon yang sedang memperhatikan Kyuhyun yang tertidur. Sebelumnya, setelah mereka menemukan Kyuhyun, Siwon membuat keputusan yang sangat gila. Ia mungkin sudah memprediksi kalau Siwon akan mengambil keputusan itu, tapi dia tidak tahu waktunya akan secepat ini. Tapi mungkin dengan mempertimbangkan keseluruhan kejadian selama hampir dua bulan terakhir, Changmin berpikir keputusan gila Siwon adalah yang terbaik. Rasanya begitu kejam jika mereka hanya berdiam diri melihat Kyuhyun yang terus mengalami hal buruk karena Seon Hwan.

Changmin mendesah pelan lalu menyandarkan punggungnya di sofa. Yunho baru saja pergi untuk mengurus surat-surat yang diminta oleh Siwon. Sepertinya sepupunya itu tidak ingin membuang waktu lebih lama untuk tetap berada di Seoul. Ia menyilangkan kakinya dan mengeluarkan ponsel.

“Hey, Siwon!”

Siwon  menoleh pada Changmin. “Kau masih di sini?”

Changmin mendengus. “Tentu saja. Bagaimana kau menjelaskan keputusanmu itu pada Kakek dan ayahmu?” tanyanya sembari mengetik sebuah pesan.

“Entah. Mungkin hanya dengan memberikan surat pengunduran diri saja. Mereka pasti sudah bisa mengetahuinya. Kakek tidak akan sebodoh itu, bukan?”

Changmin meliriknya. “Tapi kau akan butuh uang yang banyak. Terlebih dengan rencanamu itu. Jasa psikiater di luar negeri itu bahkan jauh lebih mahal. Kyuhyun mungkin punya uang, tapi…”

“Aku tahu. Walaupun aku membawa semua uang tabunganku bahkan jika ditambah dengan uang milik Kyuhyun, semua itu tidak akan cukup. Pada akhirnya, kami akan kehabisan uang dan membutuhkan pekerjaan. Tapi kau tenang saja, aku akan bisa mengatasinya.”

Changmin menarik ujung bibirnya. “Kau begitu keras kepala ya. Memikirkan semuanya seorang diri. Hey, kau pikir aku ini siapa, eoh? Kenapa kau sulit sekali mengakui bahwa kau membutuhkan bantuan?”

Siwon menatap Changmin dengan bingung. Changmin kemudian menyeringai dan menunjukkan layar ponselnya ke arah Siwon. “E-mail dari Eric Moon.”

“Eric Moon? Maksudmu Eric yang CEO Shinhwa Company itu?”

Changmin mengangguk. “Aku baru saja mengirim e-mail dan dia sudah membalasnya. Walaupun kau belum memutuskan untuk pergi ke mana, tapi Eric bisa membantumu mencari tempat tinggal dan pekerjaan.”

“Bukankah Eric berada di New York saat ini?”

“Yang kudengar begitu. Jika kau pergi ke New York, dia bisa lebih mudah membantumu. Tapi jika memutuskan pergi ke kota lain, well.. Aku yakin dia akan membantu semampunya,” kata Changmin sembari menyimpan ponselnya di saku jasnya. “Walaupun aku berpikir New York adalah pilihan yang mudah untuk saat ini. Yunho hyung mungkin bisa membantumu menyiapkan surat-surat yang kau butuhkan dengan cepat, tapi tetap saja akan membutuhkan waktu.”

Siwon menarik nafas perlahan. Dia melirik Kyuhyun sejenak lalu berdiri dari kursi dan berjalan ke sofa. “New York terlalu mudah ditebak, Min. Bahkan jika aku pergi tanpa memberitahu tujuanku, Kakek pasti akan dengan mudah mencariku. Selain itu, Eomma… Hah, aku lebih memilih Eropa ketimbang Amerika,” ujarnya sembari duduk di sofa.

Changmin menatapnya dengan lekat. “Eropa? Kenapa tidak Amerika Selatan saja sekalian, jika kau ingin bersembunyi.”

“Itu juga sulit. Untuk saat ini pilihanku hanyalah Amerika atau Eropa.”

Kening Changmin berkerut. “Apa ini karena hukum pernikahan sesama jenis?”

Siwon tersenyum tipis. “Salah satunya. Atau paling tidak, aku membutuhkan negara yang cukup toleran pada hubungan kami.”

“Jika Eropa, maka kemungkinan terbesar adalah Prancis dan Belanda, bukan? Tapi itu juga terlalu mudah.”

“Well, untuk saat ini kami mempunyai waktu satu minggu untuk memikirkannya. Selain itu, aku juga tidak ingin memutuskannya sendiri.” Siwon lalu menatap pada Kyuhyun yang masih tidur dengan nyenyak. “Kyuhyun juga harus ikut terlibat.”

“Baiklah, itu terserah padamu. Lalu selama kau menunggu surat-surat itu selesai, kau akan tinggal di mana? Tidak mungkin di apartmentmu itu, bukan?”

*****

Yifan mengetuk pintu kamar Joonmyeon yang sedikit terbuka. Terdengar suara Joonmyeon dari dalam kamar, jadi Yifan membuka pintu lebih lebar. Joonmyeon menoleh dan tersenyum ketika ia melihat Yifan berjalan masuk kamarnya. Kemarin malam, Yifan baru saja kembali dari Kanada dan tidur di rumah. Walaupun sebenarnya Yifan ingin langsung ke dorm saja. Tapi karena Junhyeok dan Sara menjemputnya di bandara, jadi Yifan tidak bisa protes.

Yifan berjalan mendekati Joonmyeon dengan membawa sebuah kanvas berukuran A4 yang sudah dilapisi kertas coklat dan diikat dengan seutas tali. Joonmyeon memandanginya dengan lekat. Dengan sedikit canggung, Yifan menyodorkan kanvas itu pada Joonmyeon.

“Untukmu.”

Joonmyeon menerima kanvas tersebut. “Ini.. Lukisanmu lagi?”

Yifan sudah memberikan satu lukisan besar yang dibuatnya untuk Joonmyeon, jadi rasanya sedikit aneh jika Yifan memberikan lukisan lagi padanya. Tapi Yifan menggeleng.

“Itu bukan lukisan. Tapi sesuatu yang kubuat saat aku di Kanada.”

Joonmyeon menatap kanvas yang masih tertutup kertas coklat itu. “Boleh kubuka?”

“Tentu saja,” seru Yifan.

Joonmyeon tersenyum. Lalu dia melepaskan tali lalu merobekkertas coklat itu dengan hati-hati. Saat melihat apa yang diberikan Yifan padanya, Joonmyeon terhenyak. Itu adalah kolase dari daun-daun maple kering yang membentuk potret wajahnya. Joonmyeon lalu menatap Yifan dengan lekat.

Yifan memasukkan tangannya ke saku jeansnya. “Itu.. Hanya iseng saja. Karena di Kanada tidak banyak yang bisa kulakukan, jadi aku membuat itu. Bukan hanya dirimu. Tapi aku juga membuatnya untuk Appa dan Mom. A-apa kau menyukainya?”

Joonmyeon memperhatikan kanvas tersebut lagi dengan seksama. Perpaduan potongan-potongan daun maple kering itu begitu indah dan rapi. Ternyata Yifan memang sangat berbakat dalam bidang seni. Jadi, Joonmyeon tidak menyesal menyuruhnya mengambil undangan UAL itu. Perlahan Joonmyeon tersenyum lebar.

“Aku menyukainya. Terima kasih.”

Yifan mengangguk kecil. “Syukurlah. Oh.. Mom bilang hari ini kau harus ke rumah sakit. Aku akan ikut mengantarmu.”

“Tapi apa kau tidak lelah? Kau mungkin masih merasa jetlag. Aku bisa pergi dengan Mom.”

“Well, Mom bilang kita pergi bertiga. Lagipula karena hari ini kau tidak ada jadwal tutoring, kita bisa makan siang di luar bersama Appa.”

“Oh. Baiklah.”

Yifan tersenyum tipis. “Bersiaplah. Kita harus pergi sekarang,” ujarnya lalu hendak berjalan keluar dari kamar Joonmyeon.

“Yifan…”

Sontak Yifan menoleh dan menatap Joonmyeon. “Ya?”

“Aku senang kita menjadi saudara. Terima kasih.”

“Aku juga, Joonmyeon. Cepat ganti bajumu!”

Joonmyeon tertawa kecil dan mengangguk. Yifan lalu berjalan keluar dari kamar tersebut. Joonmyeon menghela nafas pendek dan kembali menatap kanvas yang baru saja diberikan oleh Yifan. Entah mengapa hatinya kini merasa jauh lebih lega dan tubuhnya juga menjadi lebih ringan. Seolah beban berat sudah hilang. Dia tersenyum lebar dan berencana untuk membeli pigura untuk kolase potret dirinya setelah dari rumah sakit.

Kemudian Joonmyeon menyimpan kanvas tersebut lalu membuang kertas coklat serta tali ke keranjang sampah. Setelah dia itu dia harus mengganti pakaian dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Ini adalah pemeriksaan terakhirnya, walaupun pamannya bersikeras agar Joonmyeon rutin menjadi pemeriksaan lanjutan setiap tiga bulan sekali.

*****

“Ye?!!” seru Hyukjae keras. “Hyu-hyung…! Kau tahu hal itu dari mana? Siapa yang memberitahumu?” tanyanya.

Heechul sedang menghubunginya dan mengatakan tentang rencana Kyuhyun yang akan pergi meninggalkan Seoul. Hyukjae mungkin pernah memprediksi hal tersebut, tapi dia tetap saja terkejut saat Kyuhyun benar-benar akan pergi.

“Ahra. Tadi pagi dia menghubungiku dan meminta bantuan untuk mengurus beberapa surat. Saat kutanya untuk apa, dia bilang kalau Kyuhyun akan pergi. Dia tidak bilang akan pergi ke mana, tapi sepertinya pria Choi itu sudah mengambil keputusan.”

Hyukjae memijat keningnya. “Kapan?”

“Ahra juga tidak mengatakan waktunya. Mungkin dalam waktu dekat ini. Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Hanya berpikir kapan Kyuhyun akan memberitahuku soal itu. Hyung akan ke rumah sakit?” tanya Hyukjae.

“Begitulah. Aku perlu melihat kondisinya secara langsung.”

Hyukjae menggumam pelan. “Baiklah kalau begitu. Terima kasih telah memberitahuku, hyung.” Lalu ia memutuskan sambungan teleponnya begitu saja.

Hyukjae menaruh ponselnya di meja dan mengusap wajahnya dengan kasar.

*****

Jisung memasukkan koper terakhir milik Kyuhyun ke kamar. Lalu dia memperhatikan seisi apartment tersebut. Gedung apartment yang ia datangi bersama Ahra ini terkenal cukup mewah dan harganya lebih mahal dari harga apartment dengan tipe sejenis. Ia ingat salah satu kerabatnya ingin membeli salah satu unit ketika pameran property, namun karena harga dan peminat yang sangat banyak, kerabatnya itu mengurungkan niatnya. Tapi Jisung tidak tahu kalau Kyuhyun berhasil membeli salah unitnya.

“Kapan Kyuhyun membeli apartment ini? Aku pikir semua unit gedung apartment ini sudah lama terjual habis,” tutur Jisung saat dia kembali ke ruang tengah.

Ahra hanya tersenyum. “Ah, ini bukan milik Kyuhyun. Tapi salah satu temannya. Saat mendengar Kyuhyun ingin keluar dari rumah, ia menawarkan apartment ini sebagai tempat tinggal sementara hingga Kyuhyun mendapatkan apartmentnya sendiri.”

Well, Ahra juga sedikit terkejut saat mendapatkan alamat apartment milik Siwon ini. Tapi dibandingkan hotel, apartment ini adalah pilihan yang masuk akal. Karena mereka juga tidak akan tinggal lama. Setelah semua surat-suratnya selesai, Siwon akan langsung membawa Kyuhyun pergi.

“Oh, begitu. Kita hanya perlu mengantarkan kopernya, bukan?”

Ahra mengangguk. “Tapi aku harus ke rumah sakit untuk mengantarkan tas ini. Bagaimana jika kita bertemu di restaurant saja. Aku tidak akan lama.”

“Kenapa harus bertemu di restaurant? Kita bisa pergi ke rumah sakit bersama,” ujar Jisung.

“Maaf, tapi kondisi Kyuhyun saat ini… Aku bahkan tidak bisa bertemu lama dengannya. Hanya mengantarkan tas ini, aku akan langsung pergi.”

Selain alasan itu, Ahra melarang Jisung untuk datang ke rumah sakit karena saat ini Kyuhyun bersama Siwon. Hal itu pasti membuat Jisung bertanya. Mereka berdua berada di lantai VIP, tapi kenapa mereka dirawat di kamar yang sama. Ahra masih belum bisa mencari waktu yang tepat untuk memberikan penjelasan tentang Kyuhyun. Sebenarnya Ahra tidak ingin menyembunyikan kenyataan itu, tapi waktunya sangat tidak tepat. Namun, Ahra tahu kalau dia tidak bisa mengulur waktu lagi. Pernikahan mereka sudah semakin dekat dan Ahra tidak ingin ada kebohongan di hubungan mereka.

Jisung menatap Ahra lekat. Ia hanya mendengar kabar mengenai kondisi Kyuhyun dari Ahra. Kondisinya memang tidak cukup baik hingga dokter harus melakukan perawatan khusus. Dan jika dilihat, Ahra pun terlihat  khawatir dengan kondisi Kyuhyun. Jisung tahu kalau calon istrinya sangat menyayangi adik lelakinya.

Jisung menarik nafas lalu mengangguk kecil. “Baiklah. Aku bisa mengerti dan aku harap Kyuhyun bisa segera pulih. Kita pergi sekarang?”

Ahra mengangguk. Kemudian mereka meninggalkan unit apartment itu.

*****

Changwook menatap dokumen dihadapannya dengan serius. Lalu ia menatap dokter Ahn yang sedang duduk di meja kerjanya. “Choi Siwon mengajukan surat rujukan untuk Pasien Cho? Untuk apa?”

“Sepertinya ia berniat untuk membawanya menemui dokter psikiater yang ada di luar negeri. Dia meminta salinan medical record milik Cho Kyuhyun termasuk dengan hasil catatan di department psikiatri,” tutur dokter Ahn.

Changwook hanya menggumam pelan lalu menaruh kembali dokumen itu di atas meja. “Apa dokter Seo akan memberikannya? Maksudku, jika untuk perawatan Cho Kyuhyun, bukankah dokter Seo adalah yang terbaik. Tapi kenapa dia harus dibawa ke luar negeri?”

Dokter Ahn menghela nafas. “Entahlah. Dia mungkin mempunyai alasan khusus untuk itu. Tapi… aku sedikit tidak mengerti dengan hubungan mereka sebenarnya. Jika hanya sekadar pertemanan karena sebelumnya Cho Kyuhyun pernah menjadi pengacara untuk Choi Group, rasanya hubungan mereka terlalu intim untuk disebut sebagai seorang teman.”

Oh, Changwook terdiam. Dia tidak tahu harus memberi komentar apa. Mengenai hubungan Siwon dan Kyuhyun, tentu mereka –sebagai dokter– tidak mempunyai kapasitas untuk bertanya lebih jauh. Tapi perlakuan Choi Siwon pada Cho Kyuhyun selama ini mungkin menjadi pertanyaan bagi dokter Ahn yang melihat interaksi keduanya.

“Dokter Ji…”

“Ya?” Changwook tidak sadar kalau dia melamun karena pikirannya sendiri.

Dokter Ahn memandangnya dengan lekat. “Kapan terakhir kali kau pergi berkencan?”

“Eh? Ke-kenapa anda bertanya hal itu, dokter?” tanya Changwook dengan kikuk.

“Hanya penasaran. Karena sepertinya kau hanya sibuk dengan urusan rumah sakit. Usiamu juga tidak muda lagi, dokter Ji.”

Changwook hanya tertawa canggung mendengarnya. Well, jika dia bisa mengaku, Changwook akan memberitahu kalau dia sedang mengencani seorang dokter di department pediatric anak –Kang Haneul lebih tepatnya. Tapi dia tidak ingin mendapat masalah dari Haneul karena bermulut besar.

“Usiaku masih cukup muda, dokter Ahn. Jika tidak ada hal lainnya yang ingin anda katakan, saya harus kembali melakukan kunjungan kamar sebelum shift saya berakhir,” ucap Changwook sedikit menghindar pernyataan dokter Ahn.

Dokter Ahn mengangguk. “Baiklah, kembalilah bekerja. Tapi jangan lupa pikirkan tentang kencan itu. Aku tidak ingin disebut sebagai atasan yang hanya mementingkan pekerjaan sehingga lupa bahwa dokter-dokterku juga mempunyai kehidupan pribadi di luar rumah sakit.”

“Saya mengerti, dokter Ahn. Kalau begitu, saya permisi.” Kemudian Changwook berjalan keluar ruangan tersebut.

Saat di luar, Changwook menghembuskan nafas lega. Rasanya aneh sekali melihat dokter Ahn bertanya mengenai kehidupan asmaranya.

*****

Haneul sedang membaca catatan beberapa pasiennya ketika seseorang datang menghampirinya dan merangkul bahunya. Haneul sontak terkejut dan menyikut perut orang itu dengan jengkel. Tapi orang itu hanya tertawa melihat reaksinya.

“Jangan lakukan itu, dokter Ji!” dengus Haneul.

Changwook hanya tersenyum lebar dan merangkul kembali bahu Haneul. “Baiklah, tapi tidak janji. Apa yang sedang kau lihat?”

“Catatan pasien. Bukankah kau harus melakukan kunjungan kamar? Kenapa di sini?” tanya Haneul sembari memeriksa catatan terakhir.

Changwook menggumam pelan. Lalu ia mendekatkan mulutnya pada telinga Haneul dan berbisik, “Aku merindukanmu, sayang.”

Ucapan Changwook itu membuat tubuh Haneul merinding dan wajahnya terasa memerah. Tapi Haneul berusaha untuk tetap tenang. Dihadapan mereka ada beberapa suster yang memperhatikan. Haneul kemudian melepaskan tangan Changwook dari bahunya lalu mengembalikan semua catatan itu pada suster.

Lalu tanpa melihat pada Changwook, Haneul bergegas pergi.

“Hey, dokter Kang!!” seru Changwook sembari mengejarnya. Wajahnya tersungging sebuah senyuman.

Ketika Changwook berhasil mengejarnya, dia kembali merangkul bahu Haneul hingga memaksa kekasihnya itu mensejajarkan langkah kaki mereka. Haneul mendengus lalu meninju perut Changwook.

“Kau cari mati, eoh?!”

Changwook menyeringai. “Tidak. Aku sedang mencari kekasihku.”

Haneul memutar matanya. Changwook lalu menarik Haneul menuju pintu tangga darurat. Well, dia tidak mempunyai waktu banyak untuk berdebat dengan Haneul. Jadi, Changwook harus memanfaatkan waktu yang ada dengan baik.

Setelah Changwook menutup pintu, dia mendorong tubuh Haneul lalu mengangkat wajahnya hingga ia bisa mencium bibir kekasihnya. Haneul mengerang protes ketika Changwook tiba-tiba menyerang bibirnya seperti itu. Tapi perlahan, Haneul mulai membalas ciuman Changwook. Dia menarik bahu Changwook hingga tubuh mereka bertemu. Changwook mendesah pelan sembari tangannya bergerak pada pinggang Haneul. Bibirnya terbuka dan mencumbu bibir kekasihnya dengan gairah.

Tangan Haneul yang berada di bahu Changwook bergerak ke belakang leher Changwook dan terselip diantara surai rambut hitam pendek. Tangannya yang lain mencengkram jas putih yang dipakai Changwook.

Seiring detik, ciuman mereka melambat hingga menjadi kecupan-kecupan kecil. Mata Haneul terbuka dan menatap wajah Changwook yang terlihat memerah. Changwook tersenyum tipis lalu memberikan kecupan terakhir.

“Ada apa?” bisik Haneul.

“Kapan kau bisa mengambil hari libur?” tanya Changwook.

Haneul hanya menatap Changwook dengan lekat. “Kenapa memangnya? Kau ingin mengajakku pergi?”

Changwook kembali mengecup bagian rahang Haneul. “Ayo kita pergi kencan.”

*****

Siwon memperhatikan Kyuhyun yang sudah terbangun dan kini hanya menatap ke arah luar jendela. Cuacanya mulai cerah dan udara menjadi sedikit lebih hangat. Pertanda musim semi akan segera datang.

Karena kejadian kemarin, Kyuhyun akhirnya dirawat satu kamar dengan Siwon. Walaupun sedikit merepotkan karena suster harus menambah satu tempat tidur. Tapi melihat Kyuhyun yang menolak dengan penuh rasa takut untuk kembali ke kamar rawatnya sendiri, Siwon meminta pihak rumah sakit untuk membiarkan mereka berada di satu kamar, dibandingkan memindahkan Kyuhyun ke kamar lainnya.

Siwon tidak tahu kenapa Kyuhyun bersikap seperti itu. Dokter Seo yang memeriksa kondisinya mengatakan itu adalah efek halusinasi yang dialami oleh Kyuhyun. Ia mengatakan kalau halusinasi itu bisa bertambah parah tapi kemungkinan besar akan mengalami penurunan dan akhirnya akan hilang. Tapi Siwon tidak pernah mendapat jawaban kenapa Kyuhyun bisa mengalami halusinasi seperti itu. Dia hanya berasumsi bahwa itu karena trauma Kyuhyun.

Siwon menarik nafas perlahan. Lalu dia berpindah dari tempat tidurnya ke sisi tempa tidur Kyuhyun. Ia menyentuh tangan Kyuhyun untuk menarik perhatian kekasihnya. Kyuhyun menoleh dan menatap Siwon.

“Kau ingin pergi ke luar? Cuacanya sedang cerah,” ucap Siwon sembari tersenyum.

Kyuhyun kemudian menoleh pada jendela. “Tidak. Kau ingin pergi ke luar?” Lalu ia malah berbalik tanya.

Siwon menghembuskan nafas lalu ia mengenggam tangan Kyuhyun erat. “Apa kau masih memikirkan kejadian kemarin? Mengenai paket yang berisi foto-foto itu?”

“Tidak, Siwon.”

“Lalu? Apa mengenai pertengkaranmu dengan ibumu? Karena hubungan kita.”

Kyuhyun sontak menatap Siwon lagi. “Dari mana kau mengetahui hal itu?”

“Aku tidak sengaja mendengarnya. Apa kau marah karena aku menguping?”

Kyuhyun menggeleng. “Apa karena itu juga kau memutuskan agar kita pergi dari Seoul?”

“Salah satunya. Tapi alasan terbesar aku ingin kau aman. Bahkan setelah kau melepaskan Seon Hwan, situasimu masih belum terlepas dari kasus itu. Mereka berhasil menemukanmu dan selalu membuatmu terluka. Jadi, salah satu yang bisa kulakukan adalah membawamu pergi jauh.”

Kyuhyun bisa mengerti kekhawatiran Siwon. Seon Hwan mungkin akan terus menganggunya seumur hidupnya bahkan setelah perusahaan itu hancur –masih ada orang dibalik Seon Hwan yang akan membalas dendam padanya. Tapi haruskah mereka meninggalkan Seoul? Meninggalkan Korea?

Siwon memandangi Kyuhyun dengan seksama. Dengan tangannya yang lain, Siwon menyentuh wajah Kyuhyun. “Maaf jika keputusanku terkesan begitu egois. Bahkan aku tidak mendengarkan pendapat darimu mengenai hal ini.”

“Walaupun begitu, jika aku tetap di Seoul, tidak ada yang bisa kulakukan, bukan? Aku tidak punya pekerjaan atau bahkan keluarga untuk pulang. Aku hanya punya dirimu saat ini.”

“Kyuhyun…”

Kemudian pintu kamar terbuka. Siwon menoleh dan melihat Ahra datang dengan membawa sebuah tas. Dia melepaskan genggaman tangannya dari Kyuhyun dan berdiri untuk menghampiri Ahra. Siwon meraih tas itu dari tangan Ahra.

“Isinya pakaian ganti dan beberapa barang milik Kyuhyun. Paspornya juga ada di tas itu. Kopernya sudah kubawa ke apartmentmu,” ucap Ahra.

Siwon mengangguk. Ahra kemudian menghampiri Kyuhyun. Ia berdiri dihadapan adiknya dan tersenyum tipis. Siwon menaruh ta situ di sofa lalu berjalan meninggalkan kamar –berniat memberikan ruang untuk adik kakak tersebut. Siwon menunggu di luar kamar.

Ahra mengusap pipi adiknya dengan lembut. “Hey, kau sudah makan siang?”

“Suster belum datang mengantar makanan.”

“Kau baik-baik saja, Kyuhyun?”

Kyuhyun mengangguk. “Tidak ada halusinasi untuk hari ini. Tapi dokter Seo masih khawatir.”

“Haruskah kau keluar rumah sakit hari ini juga? Paling tidak tunggu sampai beberapa hari lagi, sayang,” tutur Ahra.

Kyuhyun menghela nafas. Ia meraih tangan kakaknya yang masih menyentuh pipinya. “Aku sudah merasa tidak nyaman di sini. Untuk saat ini aku masih bisa bertahan karena Siwon, tapi aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan selama beberapa hari lagi.”

“Aku mengerti. Lalu apa Siwon sudah memberitahu ke mana kalian akan pergi?”

Kyuhyun mengangkat bahu. Dia memperhatikan jemari Ahra dan memainkan jari-jemari tersebut. “Entah. Dia belum mengatakan apa pun. Kurasa antara Amerika atau Eropa. Kenapa?”

“Mengenai pernikahanku. Apa kau tidak bisa menunggu sampai hari pernikahanku?”

Kyuhyun mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis. “Mereka pasti tidak menyukai kehadiranku. Mereka mungkin akan berusaha tetap tersenyum jika aku datang, tapi aku tidak bisa melihat kepura-puraan itu, noona. Akan kukirimkan hadiah pernikahan untuk kalian.”

“Eomma…” kata Ahra berbisik. “Dia melakukan ini agar kau bisa berpikir panjang tentang masa depanmu. Jika hubunganmu dan Siwon berakhir buruk, kau akan mengalami masa yang paling sulit dibandingkan ketika hubunganmu dan Haesa berakhir. Namun, jika pada akhirnya kalian memutuskan untuk menikah, itu akan…”

“Noona,” ucap Kyuhyun menyela. “Apa aku mendapatkan dukunganmu dalam hal ini? Aku akan baik-baik saja selama noona mendukung setiap keputusan yang kuambil. Tapi jika aku juga kehilangan noona maka aku akan sendirian. Aku tidak akan punya keluarga lagi. Jadi, apa noona masih mendukungku?”

Ahra memeluk Kyuhyun dengan erat. Air matanya turun dengan mudah. Bagaimana bisa adiknya meragukan dirinya seperti itu? “Tentu saja. Kau adalah adikku, mana mungkin aku meninggalkanmu seorang diri. Aku tetap berada di sisimu, Kyuhyun. Jangan pernah lupa akan hal itu.”

Kyuhyun tersenyum dan mengeratkan pelukannya. “Syukurlah. Kalau begitu semuanya akan baik-baik saja. Aku akan memberitahu noona ke mana Siwon membawaku pergi. Hanya pada noona.”

Ahra mengangguk kecil lalu melepaskan pelukannya. Ia menyeka air mata di pipinya dan berusaha tersenyum. “Kau harus menghubungiku setiap hari. Jika tidak bisa telepon atau kirim pesan, maka kau harus mengirim email. Mengerti?”

“Baiklah.”

Ahra kemudian mencium kening dan pipi Kyuhyun. “Ini bukan perpisahan. Kita masih akan tetap bisa bertemu, okay?”

Kyuhyun mengangguk. Ahra mengecup bibir Kyuhyun lalu beranjak meninggalkan kamar rawat tersebut. Ahra menutup pintu perlahan sembari menyeka air mata yang masih jatuh. Dia menatap Siwon dengan lekat.

“Kupercayakan adikku padamu, Choi Siwon. Jangan sampai dia terluka lagi. Aku mohon.”

Siwon mengangguk kecil. Kemudian Ahra melangkah pergi. Siwon memandang punggung wanita itu hingga menjauh dan berbelok di sebuah lorong. Siwon menarik nafas perlahan lalu memasuki kamar itu lagi.

*****

Joonmyeon memperhatikan seorang wanita yang baru saja keluar dari lift dengan mata memerah seperti habis menangis. Ia mengerutkan keningnya. Joonmyeon seperti pernah melihat wanita itu sebelumnya, di rumah sakit yang sama, di lift yang sama.

“Joon…”

Joonmyeon tersadar dari lamunannya dan bergegas memasuki lift. Ia berdiri di tengah antara Sara dan Yifan. Ia menghela nafas perlahan. Wanita itu masih sedikit mengganggu pikirannya.

“Kenapa?” tanya Yifan berbisik.

Joonmyeon sedikit mendongak untuk melihat Yifan yang berdiri di sisi kirinya. Ia menggeleng. “Tidak apa-apa. Hanya pernah melihat seseorang, tapi aku tidak yakin.”

Sara yang ikut mendengar ucapan Joonmyeon kini memperhatikan putranya tersebut. “Siapa, Joon?”

Joonmyeon menatap Sara lalu menggeleng lagi. “Bukan siapa-siapa, Mom.”

Tak lama pintu lift terbuka. Sara melangkah keluar terlebih dahulu diikuti Joonmyeon dan terakhir Yifan. Joonmyeon menarik nafas perlahan. Ini memang pemeriksaan terakhir, tapi Joonmyeon tetap merasa gugup. Walaupun pamannya mengatakan kalau prosedur pemeriksaannya tidak akan berbeda jauh dari yang pernah dijalani oleh Joonmyeon, tapi ia mengkhawatirkan hasilnya.

Joonmyeon menatap Sara yang berjalan di depannya. Ia kemudian sedikit menundukkan kepalanya sejenak. Hingga ia merasakan tangan seseorang di bahunya. Joonmyeon mengangkat kepalanya dan menatap Yifan yang merangkul bahunya.

“Kau terlihat cemas,” ucap Yifan.

Joonmyeon menggumam pelan. Ia kemudian meluruskan pandangannya. “Juga sedikit khawatir.”

Yifan tersenyum tipis dan menepuk kepala Joonmyeon lembut. “Kau baik-baik saja. Kondisi tubuhmu juga semakin membaik. Kurasa tidak akan ada masalah yang berarti. Jangan khawatir. Kata orang, pikiran yang buruk itu akan benar-benar terjadi jika kau selalu memikirkannya.”

Joonmyeon menghembuskan nafas. Yifan mungkin bermaksud untuk menenangkannya. Well, itu sedikit berhasil. Mungkin kecemasannya berkurang sedikit. “Akan kuusahakan untuk tidak berpikiran buruk. Tapi…”

Yifan mendesah sembari menarik kembali tangannya dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya. “Tidak ada tapi. Pikirkan saja hal-hal baik. Seperti kau bisa melakukan aktivitas seperti biasanya tanpa ada larangan dari pamanmu atau bahkan Appa dan Mom. Yah, walaupun kau masih harus kembali melakukan pemeriksaan setiap tiga bulan, tapi itu jauh lebih baik, bukan?”

Joonmyeon melirik Yifan dan tersenyum. “Baiklah, aku mengerti. Terima kasih.”

Yifan hanya mengangkat bahunya.

*****

Choi Daehan menatap surat yang baru saja diberikan oleh Changmin, lalu beralih menatap sang pengantar surat tersebut. Changmin hanya menyeringai. Choi Daehan menghela nafas pendek lalu membaca surat tersebut. Tapi ketika ia melihat judul surat itu, keningnya kembali berkerut. Namun, ia meneruskan membaca isi surat tersebut. Choi Daehan terlihat terkejut ketika ia melihat nama Siwon tercantum dalam surat pengunduran diri tersebut.

“Apa lagi rencana kalian, eoh?” tanya Choi Daehan sembari menurunkan surat tersebut. Ia menatap Changmin dengan lekat. “Pengunduran diri? Apa Siwon benar-benar serius dalam ini?”

“Sepertinya begitu. Kenapa? Kakek… Ah, maksudku Presdir tidak akan menerima pengunduran dirinya?”

Choi Daehan mendesah. “Apa lagi masalahnya sekarang? Aku yakin masalahnya antara Ibunya dan hubungannya dengan Pengacara Cho itu bukan?”

“Itu adalah alur besarnya. Tapi jika Presdir ingin mengetahui alasan sebenarnya, sebaiknya anda bertanya langsung pada Siwon. Dan aku pikir tidak ada gunanya untuk memintanya mengubah keputusannya itu,” tutur Changmin.

Choi Daehan menyipitkan matanya. Rasanya ada sesuatu yang sedang terjadi. Tapi anehnya ia belum mendapatkan laporan apa pun dari Kim Hyeon. Selain itu, keputusan pengunduran diri Siwon terbilang sangat mendadak. Ada suatu kejadian besar yang membuat Siwon mengambil keputusan seperti ini bahkan tanpa membicarakannya dulu pada dirinya atau Jaewon.

“Jaewon sudah mengetahuinya?”

Changmin terdiam sejenak. “Uhm… Karena anda adalah pimpinan Choi Group maka anda adalah orang pertama yang mengetahui tentang hal ini. Apa anda ingin berdiskusi dulu dengan Direktur Choi Jaewon?”

“Shim Changmin!” Choi Daehan sudah jengah dengan sikap cucunya yang berputar-putar memberikan penjelasan yang ia ingin dengar.

Changmin mendengus. “Ah… Apa?! Aku hanya disuruh Siwon membawa surat itu pada Kakek.”

“Apa sesuatu terjadi di rumah sakit? Selain pertengkaran Siwon dengan Yoojin beberapa hari lalu?”

Alis Changmin terangkat. Oh, dia baru mendengar tentang pertengkaran itu. “Siwon bertengkar lagi dengan bibi Yoojin? Oh… Itu bahkan bukan sebuah kejutan lagi. Tentang sesuatu yang terjadi itu, well… Kakek bisa katakan demikian. Tapi aku tidak bisa menjelaskannya. Kakek harus bertanya langsung pada Siwon.”

“Dia masih di rumah sakit?”

Changmin mengangguk. “Tapi kudengar dia ingin pulang sore ini.”

“Bukan pulang ke rumahnya?”

“Tentu saja, tidak. Karena Kyuhyun akan ikut bersamanya, jadi mana mungkin Bibi Yoojin menerima Kyuhyun di rumahnya jika Siwon membawanya pulang.”

*****

Heechul menatap pintu sebuah kamar yang ditunjukkan oleh suster. Dia melihat nama papan pasien yang tertera pada dinding. Choi Siwon. Entah apa yang dilakukan oleh kedua orang itu hingga dokter memberikan ijin mereka menempati satu kamar rawat yang sama.

Dia mendesah pelan, lalu mengeluarkan tangan kanannya dari saku mantel untuk membuka pintu. Alis Heechul terangkat ketika mendapati pemandangan Siwon sedang memakaian mantel pada Kyuhyun. Ia berdeham pelan hingga ke dua orang itu menoleh.

Kyuhyun tersenyum ketika ia melihat Heechul. “Hyung!!”

Heechul melangkah masuk dan menutup pintu sebelum berjalan mendekati mereka. Heechul memperhatikan Kyuhyun yang sudah berganti pakaian. Begitu pula dengan Siwon. “Kalian sudah akan keluar dari rumah sakit?”

“Begitulah. Kenapa?” tanya Kyuhyun.

Heechul mendengus lalu menjitak kepala Kyuhyun. “Yak! Setelah lebih dari dua minggu kau di rumah sakit dan tidak ingin bertemu siapa pun, sekarang kau sudah akan keluar rumah sakit bahkan tanpa memberitahuku?”

Kyuhyun mengusap kepalanya yang dipukul Heechul dengan mengerucutkan bibirnya. “Aku pikir hyung tahu dari noona.”

“Tch.. Ada banyak hal yang kudengar dari Ahra!” tukasnya. Lalu ia melirik pada Siwon.

Siwon mengalihkan pandangannya dari Heechul. Ia tahu persis kalau Heechul pasti sedang membahas mengenai hubungan mereka dan mengenai Kyuhyun yang diusir dari rumah. Jujur saja, Siwon mungkin bisa menghadapi Ahra atau bahkan orang tua Kyuhyun. Tapi jika harus berhadapan dengan Heechul, maka dia akan berpikir hingga puluhan kali terlebih dahulu.

“Kyuhyun-ah, aku akan mengurus pembayaran rumah sakit dulu, okay?” ujarnya sembari mengambil jaketnya dan tanpa menunggu jawaban Siwon langsung bergegas keluar dari kamar tersebut.

Heechul hanya bisa mendengus melihat sikap Siwon. Lalu ia menatap Kyuhyun yang masih tersenyum padanya. “Yak! Hilangkan senyumanmu itu! Ada banyak hal yang harus kau jelaskan padaku.”

Kyuhyun mengangkat bahunya lalu duduk di tepi tempat tidur. Heechul juga duduk di tempat tidur lainnya hingga mereka saling berhadapan. Kyuhyun menatap Heechul dengan lekat. “Apa saja yang dikatakan oleh noona?”

“Pertama mengenai ingatanmu yang hilang itu dan kasusmu yang dihentikan.”

“Oh, kata dokter penyebab utamanya adalah episode parah yang kualami setelah sadar. Dan karena aku tidak ingat apa pun, maka aku meminta polisi untuk menghentikan penyelidikan. Mereka juga tidak mempunyai bukti atau petunjuk. Itu hanya akan memakan waktu lama.”

Heechul bersungut melihat sikap Kyuhyun yang begitu berbeda. Rasanya Kyuhyun sangat mudah menyerah untuk kasusnya ini. “Walaupun aku tidak menyukai keputusanmu itu, baiklah aku bisa mengerti. Lalu mengenai halusinasi itu. Obat yang tidak tahu datang dari mana itu! Apa dokter sudah menemukan asalnya?”

“Mengenai hal itu… Mereka tidak menemukan siapa pun yang mencurigakan. Semua suster dan dokter yang masuk ke kamar isolasi sebelumnya adalah mereka yang bertugas khusus menanganiku. Semua daftar obat juga sudah diperiksa. Mereka tidak menemukan apa pun.”

Kening Heechul berkerut. “Jika bukan dari rumah sakit, obat itu bisa datang dari luar. Dan salah satu suster ataupun dokter itu yang memasukkannya ke dalam tubuhmu. Sangat tidak mungkin jika obat itu muncul dengan sendirinya. Mereka sudah melacak perusahaan obat? Siapa tahu ada orang yang membelinya secara khusus.”

“Tidak ada, hyung. Mereka sudah mencarinya, bahkan memeriksanya ke badan pengawasan distribusi obat. Tapi tidak ada yang menjual obat itu dalam jumlah besar.”

Heechul mengangkat kedua tangannya. “Baiklah… Baiklah! Lalu tentang pertengkaran dengan ibumu dan pengusiran itu?! Bagaimana kau menjelaskannya? Itu sama sekali bukan sifatmu, Kyuhyun. Bahkan jika kau ingin mempertahankan hubunganmu dengan pria itu, cara itu terlalu berlebihan. Kyuhyun, apa kau berpikir rasional saat memutuskannya? Jujur saja, ini seperti bukan dirimu. Sejak kejadian penculikan itu… Oh, aku bahkan tidak tahu bagaimana kondisimu sebenarnya. Jelaskan padaku.”

Kyuhyun terdiam sejenak. Ia menundukkan kepalanya dan memainkan pergelangan mantelnya. “Aku berpikir dengan rasional, hyung. Mungkin akhirnya cukup ekstrem. Tapi itu adalah benar. Eomma menunduhnya berusaha melukaiku padahal pelakunya adalah orang lain. Bahkan jika Eomma berusaha meyakiniku untuk melepaskannya, tapi cara itu adalah salah. Yang lebih buruk, Eomma bahkan tidak keberatan jika aku mati. Asalkan aku melepaskannya dan menikahi seorang wanita.”

“Bibi bicara seperti itu?”

Kyuhyun mengangkat kepalanya. “Eomma bilang mungkin tidak sampai mati. Tapi jika aku mengalami masa kritis, itu bisa membuatku kembali normal.” Ia kemudian teringat pada percakapannya sebelumnya dengan Heechul di bar. Ketika Kyuhyun akhirnya merasa yakin dan memutuskan menerima perasaan Siwon.  “Hyung… Apa ini tidak normal?”

“Kyuhyun-ah, kita sudah pernah membicarakan masalah ini sebelumnya.”

“Aku tahu dan aku tidak menyesal. Hanya saja, kenapa mereka ingin aku normal, padahal aku sudah merasa begitu normal. Semua yang kurasakan adalah normal. Ketika aku menyukai Haesa, rasanya bahkan sama persis. Tapi kenapa hanya karena Siwon adalah pria maka….”

Oh, Heechul merasa kalau sikap Kyuhyun saat ini seperti ketika dirinya mulai mengalami masa pubertas selama sekolah menengah. Heechul adalah satu-satunya saudara pria yang dimiliki Kyuhyun. Dalam keluarga besar mereka baik keluarga Cho maupun keluarga Kim, hanya ada Kyuhyun dan Heechul sebagai penerus keluarga. Mungkin karena itu juga mereka mempunyai ikatan yang berbeda dengan ikatan Kyuhyun dan Ahra. Jadi, untuk setiap masalah pria yang dialami oleh Kyuhyun, hanya Heechul-lah yang bisa memberikan solusi baginya.

Heechul melipat kedua tangannya di depan dada. “Hey… Kau normal, Kyuhyun. Tapi kita tidak bisa membuat orang lain melihat hal sama seperti kita.  Tidak ada yang salah. Jika kau pikir Siwon adalah orang yang tepat untuk saat ini, maka jalanilah. Apa yang akan terjadi di masa depan, siapa yang tahu.”

Kyuhyun tersenyum tipis. Heechul selalu mendukung apa pun keputusannya. Walaupun itu akan sedikit melelahkan karena sepupunya itu akan selalu bertanya padanya.

Tak lama Siwon kembali dengan membawa beberapa lembar kertas. Kyuhyun menatapnya dan tersenyum tipis. Siwon berjalan menuju sofa dan memasukkan kertas-kertas itu ke dalam tasnya yang dibawakan Changmin di hari sebelumnya.

“Kau membayar biaya rumah sakitku lagi,” tutur Kyuhyun.

Siwon berbalik dan mengangkat bahu. Kyuhyun mendesah lalu menatap Heechul yang melihat keduanya dengan sebuah seringai. “Jadi, di mana kau akan tinggal saat ini?” tanyanya.

Kyuhyun melirik Siwon. “Di apartment Siwon.”

“Hanya sampai surat-suratnya selesai diurus oleh saudaraku,” tambah Siwon.

Alis Heechul terangkat. Dia ingat kalau Ahra juga mengatakan tentang rencana Siwon yang akan membawa Kyuhyun pergi dari Seoul –pergi dari Korea. Tapi Ahra tidak memberitahu ke mana tujuan mereka.

“Ah, tentang hal itu. Ke mana kau akan membawa sepupuku pergi, Direktur Choi?”

*****

Sooyoung mengeluarkan semua bahan makanan yang dibelinya dari eco-bag. Setelah itu dia memisahkan mana bahan makanan yang akan diolahnya dan bahan makanan yang akan disimpan dalam lemari pendingin. Sejak kemarin, Sooyoung benar-benar dibuat pusing dengan permintaan Siwon yang memintanya pergi belanja dan mengisi lemari pendingin di apartmentnya.

Well, keputusan Siwon untuk membawa Kyuhyun pergi sudah diketahui oleh saudara-saudaranya. Mungkin hanya Yunho, Changmin, Jinri dan Sooyoung. Selain itu, orangtua mereka tidak mengetahui apapun mengenai hal itu.

Walaupun Sooyoung berpendapat kalau keputusan Siwon terlalu ceroboh. Mana bisa dalam waktu singkat mempersiapkan semua surat kepindahan. Bahkan mereka juga belum tahu ingin pergi ke mana.

“Eomma…!”

Sooyoung menoleh pada Jinhae. “Ya, sayang?”

“Kapan Paman Shi datang? Apa Paman Yeon juga akan datang?”

Sooyoung tersenyum. Lalu ia berlutut agar menyamakan tingginya dengan tinggi putri semata wayangnya. Sooyoung mengusap pipi merah Jinhae. “Mereka mungkin masih dalam perjalanan. Sekarang Jinhae main di ruang tengah dulu, okay? Eomma akan membuatkan makan siang. Jadi, ketika Paman Shi dan Paman Yeon datang, mereka bisa makan.”

Jinhae tersenyum lebar dan mengangguk. Lalu dengan kaki kecilnya, Jinhae berlari menuju ruang tengah. Sooyoung menghembuskan nafas panjang lalu bersiap untuk memasak. Sebenarnya ia tidak tahu apakah Siwon dan Kyuhyun sudah makan siang di rumah sakit atau belum. Tapi tidak ada salahnya menyiapkan makanan sekarang. Jika mereka sudah makan siang, makanan itu bisa disimpan dan dihangatkan sebagai makan malam.

*****

Jinri menatap tiga koper besar yang baru saja selesai dirapikan olehnya. Lalu ia menoleh pada Changmin yang hanya sibuk dengan ponselnya duduk di tepi tempat tidur Siwon. Jinri mendengus lalu menghampirinya dan duduk di sampingnya.

“Sudah selesai. Kau yakin, hanya itu yang dibutuhkan oleh Siwon oppa?” tanya Jinri.

Changmin mengalihkan perhatiannya dari ponsel ke tiga koper. Kemudian ia menatap Jinri lekat. “Kau sudah memasukkan semua yang sudah tertulis dalam list, bukan?” Jinri mengangguk. Changmin tersenyum. “Kalau begitu, itu sudah semuanya.”

“Tapi dari semua barang milik Siwon oppa, apa cukup tiga koper itu. Maksudku…”

Changmin menghela nafas. Dia memasukkan ponselnya ke saku. “Sebenarnya yang dibutuhkan Siwon hanya dompetnya, semua tabungan miliknya, ponsel dan paspor. Ah… Mungkin juga Pengacara Cho. Lebih dari itu, dia bisa bertahan hidup di mana pun.”

Jinri mendengus mendengarnya. “Tapi kenapa ini mendadak sekali? Apa masalahnya begitu besar hingga dia memutuskan untuk pergi?”

Changmin hanya mengangkat bahu. Lalu ia menyadari bahwa ada orang yang sedang memperhatikan mereka diambang pintu kamar. Choi Yoojin. Oh, Changmin sedang tidak ingin menanggapi semua pertanyaan bibinya itu. Mungkin seharusnya dia meminta Sooyoung atau Yunho yang datang ke rumah Siwon dan mengambil semua barang-barangnya.

Kemudian Changmin kembali menatap Jinri. “Untuk hal ini, kau harus bicara pada kakakmu. Tapi kalau aku boleh berkomentar, jika dia tetap di sini, semuanya akan bertambah rumit. Itu tidak hanya melukai Siwon, tapi juga semua orang.”

“Jadi…” ucap Yoojin, “dia memilih untuk meninggalkan keluarga dan bahkan tanggung-jawabnya di perusahaan. Dia memilih pria itu, yang orang asing, dibandingkan keluarga di mana ia dibesarkan.”

Changmin dan Jinri menatap Yoojin. Oh, seperti ini sudah waktunya Changmin pergi. Dia beranjak dan mengambil dua koper. Ia menoleh pada Jinri dan memberi isyarat agar dia membawakan satu koper lainnya. Jinri mendesah lalu mengambil koper yang tersisa. Changmin hendak berjalan melewati Yoojin tapi bibinya itu menghalanginya.

Changmin berusaha bersabar.

“Ke mana Siwon pergi dengan pria itu?”

“Aku yakin mereka masih di rumah sakit saat ini, Bibi.”

“Tapi aku yakin, mereka akan segera pergi. Jadi, ke mana kau akan membawa semua koper-koper itu?”

Changmin mendesah. “Bibi, aku tidak tahu. Siwon hanya memintaku membawakan barang-barangnya. Ke mana dan kapan dia akan pergi, aku tidak tahu. Ayolah Bibi Yoojin, jangan menginterogasiku seperti ini. Jika Bibi memang ingin tahu, kenapa tidak bertanya langsung pada Siwon. Tapi itu pun jika Bibi bisa menunggu hingga Siwon menjelaskannya.”

“Apa maksud ucapanmu itu?”

“Bukan apa-apa. Tapi pikirkan bagaimana Bibi memperlakukan Siwon sejak dia coming out. Yang Bibi lakukan hanya memaksanya untuk meninggalkan Pengacara Cho dan berusaha menjodohkannya dengan seorang gadis. Tapi pernahkah Bibi bertanya kenapa Siwon merasakan hal itu pada seorang pria? Bibi tidak pernah melihat sikap Siwon ketika ia dibuat bingung oleh perasaannya sendiri. Aku akan berkata jujur, sebenarnya Siwon lebih menderita dibandingkan apa yang Bibi lihat.”

Kemudian Changmin beranjak pergi dengan membawa dua koper besar. Diikuti oleh Jinri yang membawa koper lainnya. Yoojin sendiri hanya terdiam di ambang pintu kamar putranya yang kosong.

*****

Changwook tersenyum ketika ia melihat Joonmyeon yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan. Dia menghampiri pemuda yang pernah menjadi pasiennya tersebut. Well, dia masih merasakan rasa bersalah karena saat Changwook melakukan operasi, efeknya malah membuatnya sempat mengalami semi-coma. Tapi melihat sosok Joonmyeon yang sudah pulih bahkan dalam waktu singkat, itu membuatnya bersyukur.

“Kau baru selesai melakukan pemeriksaan?”

Joonmyeon tersenyum lebar dan sedikit menunduk. “Halo dokter Ji. Begitulah, ini pemeriksaan terakhirku.”

“Itu bagus. Aku sangat senang melihatmu pulih dengan cepat,” tutur Changwook.

“Ini juga berkat dokter Ji juga.”

Changwook hanya tersenyum miris. Bagaimana bisa Joonmyeon berkata demikian padahal setelah ia melakukan operasi, kondisinya malah menjadi buruk. Walaupun sebelumnya Joonmyeon mengatakan bahwa itu adalah resiko dan bukan kesalahannya, Changwook tetap merasa kalau dia lebih berhati-hati dalam melakukan operasi tersebut, kondisi semi-coma itu bisa dihindari.

“Ah, kau ke sini sendirian? Atau bersama orangtuamu juga?”

“Dengan Mom dan Yifan. Setelah ini, kami akan makan siang dengan Appa. Dokter, apa masih harus melakukan kunjungan pasien?”

Changwook menggeleng. “Istirahat makan siang. Tapi sebelumnya aku harus mengantarkan dokumen medical record pada salah satu pasienku. Memang kenapa?”

“Ah… Tidak. Aku pikir, kita bisa mengobrol sebentar. Tapi jika…”

“Dokter Ji!”

Perhatian Joonmyeon dan Changwook teralihkan dengan seseorang memanggil dokter tersebut. Keduanya menoleh dan melihat Siwon sedang berjalan menghampirinya. Mata Joonmyeon membulat. Ia pikir tidak akan bertemu dengan pria itu lagi. Di belakang Siwon, Joonmyeon melihat sosok pria lainnya denga wajah ditutupi oleh syal tebal berwarna navy. Dan sepertinya Joonmyeon mengenali pria itu.

Oh, jika Choi Siwon ada di sini. Mungkinkah dia itu…

Siwon tersenyum pada Changwook. “Maaf, tapi aku membutuhkan medical recordnya sekarang,” tuturnya pada dokter tersebut.

Changwook menyodorkan dokumen di dalam amplop yang dibawanya pada Siwon. “Kupikir, kalian akan keluar sore ini. Kenapa lebih cepat?”

“Bukan apa-apa. Oh…” Siwon menatap Joonmyeon dengan lekat. “Kau itu… Putra Kim Junhyeok, bukan? Kim Joonmyeon?”

Ah, dia mengenaliku rupanya.

Joonmyeon tersenyum kecil lalu membungkuk memberi salam. “Selamat siang.”

“Kalian saling mengenal?” tanya Changwook.

“Dia putra salah satu partner kerja-sama Choi Group. Tapi kami hanya bertemu satu kali. Benar?”

Joonmyeon kembali tersenyum. “Iya. Dokter Ji, kalau begitu aku permisi dulu. Mom sedang menungguku di lobby.” Rasanya akan lebih canggung jika dia berada diantara mereka. Terlebih Joonmyeon juga tidak tahu bagaimana ia harus bersikap dihadapan Choi Siwon.

Changwook mengangguk. “Ah, baiklah. Hati-hati, jaga kesehatanmu okay?”

Joonmyeon menyahut pelan. Lalu ia juga berpamitan pada Siwon. Joonmyeon lalu beranjak pergi menuju lift. Namun, ketika ia melewati sosok pria yang mengikuti Siwon, Joonmyeon juga sekadar membungkuk memberi salam saat mereka saling menatap mata.

Joonmyeon menghembuskan nafas perlahan dan mempercepat langkah kakinya menuju lift. Well, tidak disangka kalau dia akan bertemu Choi Siwon dan Cho Kyuhyun di waktu bersamaan.

*****

“Siwon mengajukan surat pengunduran diri?”

Choi Daehan menatap putranya. “Begitulah. Sepertinya masalahnya dengan istrimu semakin rumit. Ditambah dengan kondisi Pengacara Cho, mungkin dia berpikir ini adalah jalan yang terbaik.”

Jaewon menaruh kembali surat itu. “Presdir akan menyetujui pengunduran diri Siwon?”

“Entahlah. Aku tidak tahu apa yang direncanakan oleh anak itu sekarang. Mungkin tidak sampai pengunduran diri saja, Siwon akan membuat keputusan yang lebih besar mengenai hubungannya dengan Pengacara Cho,” tutur Choi Daehan.

“Maksud Presdir, Siwon berencana membawanya pergi dari Korea? Begitu?”

Choi Daehan mengangguk. “Itu mungkin rencana besarnya. Dengan semua hal yang terjadi di sini, Siwon mungkin berpikir kalau pergi adalah keputusan yang benar.”

“Apa Kim Hyeon yang memberitahu anda mengenai hal tersebut?”

Choi Daehan menghela nafas. “Bukan. Changmin datang dengan membawa surat itu tadi. Walaupun dia tidak berkata apapun saat kutanya, tapi sepertinya itu sudah terlihat jelas. Aku memanggilmu ke sini hanya untuk memberitahumu. Bagaimana kau menanggapinya, itu adalah hakmu. Dan mungkin akan menjadi pertimbanganku mengenai pengunduran diri Siwon.”

Jaewon terdiam sejenak. Dia memandang surat yang diletakkanya di atas meja kerja sang ayah. Ini adalah keputusan yang tidak terduga olehnya. Jika Siwon tetap bersikeras mempertahankan hubungannya, Jaewon berasumsi kalau putranya akan membangkang dan keluar dari rumah. Tapi keluar dari perusahaan dan pergi dari Korea? Lalu bagaimana mereka akan bertahan di negeri orang?

“Jaewon…”

Jaewon mengangkat kepalanya dan menatap ayahnya. “Aku harus bicara dengan Siwon terlebih dahulu.”

“Baiklah, lakukan sesuai dengan kemauanmu. Tapi aku harap kau bisa bicara dengan putramu dengan kepala dingin. Aku tidak ingin ada masalah lainnya di keluarga kita. Tapi… Apa kau tahu dia akan pulang ke mana?”

*****

Heechul melirik kaca spion sembari terus fokus menyetir. Dia menawarkan diri untuk mengantar Siwon dan Kyuhyun ke apartment. Well, paling tidak ia bisa melihat bagaimana Siwon memperlakukan Kyuhyun secara langsung. Walaupun Heechul akan mendukung Kyuhyun, tapi ia juga perlu memastikan sendiri karena dalam waktu lama Kyuhyun akan dalam pengawasan Siwon.

Jadi, jika terjadi sesuatu yang salah, Heechul tahu siapa yang harus disalahkan.

Heechul menghembuskan nafas dan mengikuti instruksi GPS. Situasi ini cukup canggung. Kyuhyun kembali tertidur sepuluh menit setelah mereka meninggalkan rumah sakit. Dan Siwon sepertinya tidak keberatan bahunya dipakai oleh Kyuhyun.

Hahh… Mungkin aku harus mencari kekasih juga, pikir Heechul.

Tak lama, Heechul melihat gedung apartment Siwon jadi dia memutar kemudinya dan memasuki area gedung apartment. Akhirnya, perjalanan sunyi selama hampir satu jam berakhir. Ini pengalaman Heechul menyetir dengan situasi canggung –bahkan dia tidak berani untuk menyalakan radio sekedar mendengarkan music. Mobil Heechul terus melaju menuju basement parkir.

Siwon membangunkan Kyuhyun perlahan. “Hey… Kita sudah sampai,” ucapnya berbisik.

Mata Kyuhyun terbuka dan menyadari bahwa mobil telah berhenti. Siwon melepaskan seatbelt mereka dan mengambil tas miliknya dan juga milik Kyuhyun. Heechul sudah mematikan mesin mobil dan memanjat keluar terlebih dahulu. Ia juga membukakan pintu untuk Kyuhyun.

Siwon memanjat keluar dan menutup pintu perlahan. Ia melihat Kyuhyun yang dibantu oleh Heechul. Setelah menyalakan alarm mobil, Siwon berjalan terlebih dahulu untuk memasuki gedung. Walaupun ia ingin berada di sisi Kyuhyun saat ini, tapi Siwon menahan diri. Bagaimana pun Heechul sebagai sepupu Kyuhyun juga mempunyai hak. Siwon memasukkan kode pintu lalu mempersilakan keduanya untuk masuk terlebih dahulu.

“Jadi…” kata Heechul menatap Siwon yang sedang menekan tombol lift. “Berapa lama sampai kalian pergi?” tanyanya.

Pintu lift terbuka. Heechul menyuruh Kyuhyun masuk terlebih dahulu, Heechul kemudian Siwon yang langsung menekan tombol lantai unitnya. Kyuhyun menatap Heechul dengan lekat.

“Hyung…” gumamnya.

Heechul menyeringai pada sepupunya. “Paling tidak, aku bisa membuat acara makan malam sebelum kau pergi. Selain itu, kau juga tidak akan berada di sini saat pernikahan Ahra, bukan?”

Kyuhyun tertunduk. Heechul kemudian melirik Siwon. Pria itu telah menjelaskan alasannya kenapa ia membawa Kyuhyun pergi. Tapi mengingat waktunya, Heechul tidak mengerti kenapa Siwon tidak bisa menunda sampai pernikahaan Ahra. Bibi Hannah sudah meminta keluarga Ahn memajukan tanggalnya dan mereka menyetujuinya. Walaupun Heechul berpikir, akan begitu canggung dengan orangtuanya, namun paling tidak Kyuhyun ikut terlibat dalam hari besar kakaknya.

“Jika Kyuhyun ingin menghadiri pernikahan Ahra, aku rasa bisa mengatur ulang waktu keberangkatannya,” ucap Siwon tiba-tiba yang membuat Kyuhyun menatapnya dengan mata membulat.

Siwon hanya tersenyum padanya, lalu melangkah keluar ketika pintu lift terbuka. Heechul memandang Kyuhyun sejenak lalu berjalan keluar diikuti oleh Kyuhyun. Mereka berdua mengikuti Siwon ke salah satu unit di lantai tersebut.

“Kau ingin menghadiri pernikahan Ahra?” tanya Heechul berbisik.

Kyuhyun menghela nafas pendek. “Entahlah. Jika menunggu sampai tanggal pernikahan, itu masih dua bulan lagi. Aku pikir Siwon tidak ingin menunggu lama.”

“Tapi dia bilang akan mengatur ulang waktu keberangkatan kalian. Pertanyaanku begitu mudah, apa kau ingin menunggu sampai pernikahan Ahra atau tidak?”

Kyuhyun tidak mengatakan apapun. Dia menatap Siwon yang sedang memasukkan kode pintu. Setelah pintu terbuka, Siwon kembali menatap pada mereka dan mempersilakan masuk. Heechul menarik nafas dan masuk terlebih dahulu.

Kyuhyun berjalan menghampiri Siwon.

“Kenapa?” tanya Siwon lembut.

Kyuhyun menggeleng lalu berjalan masuk, diikuti Siwon yang langsung menutup pintu. Ini adalah ke-tiga kalinya Kyuhyun berada di apartment Siwon. Tidak banyak yang berbeda, hanya dia melihat ada beberapa pasang sepatu di foyer.

Siwon melepaskan sepatunya. “Kurasa Sooyoung dan Changmin ada di sini.”

“Paman Shi!!!!”

Siwon menoleh ke sumber suara tersebut dan menyeringai. “Dan juga Jinhae.”

Kyuhyun ikut tersenyum dan melepaskan sepatunya. Siwon sendiri berlutut dan menyambut Jinhae yang berlari ke arahnya. Siwon memeluk keponakannya tersebut.

“Halo, sayang. Kau sudah lama menunggu paman?” tanya Siwon.

Jinhae mengangguk. “Uhm! Jinhae bahkan sudah membuat tiga gambar saat menunggu paman.” Lalu dia menatap Kyuhyun dan tersenyum lebar. Jinhae menghampiri Kyuhyun dan memeluk kakinya. Kyuhyun tertawa kecil dan menyentuh kepala Jinhae.

“Kita bertemu lagi, Jinhae.”

“Kata Eomma, Paman Yeon dirawat di rumah sakit. Paman sakit lagi?” tanya Jinhae.

Kyuhyun melirik Siwon yang kembali berdiri. Dia tidak tahu kenapa Jinhae memanggilnya dengan sebutan Paman Yeon padahal sebelumnya Kyuhyun sudah memberitahu namanya. Mungkinkah Jinhae masih belum fasih menyebut namanya? Itu bisa ditanyakan Kyuhyun nanti, lalu ia memandang Jinhae. “Begitulah. Tapi Paman sudah sehat sekarang.”

“Jinhae, biarkan Paman Yeon duduk dulu, okay?” tutur Changmin yang muncul.

Jinhae lalu meraih tangan Kyuhyun dan menariknya ke ruang tengah. Siwon hanya tertawa melihat kelakuan Jinhae. Dia lalu menatap Changmin dan menyodorkan tas milik Kyuhyun. Changmin mengambil tas itu dan Siwon menepuk bahu sepupunya itu sebelum dia menyusul ke ruang tengah.

Siwon tersenyum pada Sooyoung. “Terima kasih,” gumamnya.

Sooyoung mengangguk kecil. Siwon menatap Heechul lalu ia memperkenalkan pria itu pada kedua sepupunya. “Oh ya. Ini adalah Kim Heechul, sepupu Kyuhyun. Heechul-sshi, ini adalah Choi Sooyoung dan itu…” Siwon menunjuk pada Changmin yang berdiri tak jauh dibelakangnya, “adalah Shim Changmin. Mereka adalah sepupuku.”

Heechul hanya sedikit mengangguk pada kedua orang itu. Siwon kembali tersenyum ketika ia melihat interaksi Kyuhyun dengan Jinhae. Keponakannya itu sedang menunjukkan ketiga gambar yang dibuat olehnya. Siwon menghampiri mereka berdua. Ia duduk di sisi Kyuhyun dan menaruh tasnya di lantai. Jinhae sendiri duduk dipangkuan Kyuhyun sembari menjelaskan tiga gambarnya.

Bukan hanya Siwon yang memperhatikan interaksi tersebut, tapi juga Heechul, Sooyoung dan Changmin.

Heechul menghela nafas pendek. Lalu dia menatap Sooyoung. “Well, bisa aku minta segelas air? Dan mungkin kita bisa mengobrol sejenak?”

*****

Kyuhyun menatap pemandangan malam kota Seoul. Sebelumnya mereka sempat membicarakan tentang hal ini. Tidak sangka kalau Kyuhyun benar-benar akan melihat pemandangan kota pada malam hari dari apartment Siwon. Ia menghela nafas perlahan dan meninggalkan jejak pada jendela besar tersebut.

Ada banyak hal yang sedang dipikirkannya. Tapi Kyuhyun tidak tahu bagaimana dia harus menyelesaikan itu semua. Tentang keluarganya, tentang pekerjaannya lalu tentang rencana Siwon yang akan membawanya pergi dari Seoul.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Siwon yang baru saja mengganti pakaiannya.

Kyuhyun sedikit menoleh pada Siwon yang berjalan menghampirinya. “Tidak banyak. Hanya mengenai kehidupanku.” Siwon lalu bersandar pada jendela itu dengan masih memandangi Kyuhyun lekat. Kyuhyun melirik dan tersenyum tipis. Terlihat sekali guratan khawatir di wajah Siwon. Itu malah membuat Siwon terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya. “Tenang saja. Aku tidak berpikir untuk meninggalkanmu.”

“Bukan itu, Kyuhyun.”

Kyuhyun kembali menghembuskan nafas dan menatap ke arah jalanan yang dipenuhi oleh kendaraan. “Aku tidak menyesal dengan keputusanku, Siwon. Tapi bukan berarti aku akan berhenti memikirkannya. Terlebih ini mengenai keluargaku.”

“Apa ini berkaitan dengan pernikahan kakakmu? Sudah kubilang, aku akan mengatur waktu jika kau ingin menghadirinya.”

“Noona bisa mengerti jika aku tidak hadir, Siwon. Orangtuaku mungkin akan mencari alasan yang cukup masuk akal sebagai penjelasan bagi keluarga Ahn dan tamu-tamu lainnya. Hanya saja, aku akan menjalani hidup tanpa keluargaku. Itu sedikit menakutkanku.”

Siwon masih menatap Kyuhyun dengan serius. Ia bisa mengerti jika Kyuhyun merasakan hal itu. Jujur saja, Siwon juga merasa khawatir dengan kehidupan mereka nanti. Ketika mereka meninggalkan Seoul, sepenuhnya mereka hanya saling memiliki. Tidak akan ada yang bisa membantu mereka –seperti yang sering Siwon dapatkan. Selama ini, semua sepupunya selalu ada disisinya untuk membantu, tapi Siwon tidak yakin apakah dia bisa melakukannya sendiri nanti.

Kyuhyun lalu memandang pada Siwon. “Sekarang aku hanya punya dirimu.”

“Dan aku hanya punya dirimu,” bisik Siwon.

“Katakan padaku bahwa semuanya akan baik-baik saja, Siwon. Kumohon.”

Siwon tersenyum. Ia menegakkan tubuhnya, lalu menarik tubuh Kyuhyun dalam dekapannya. Siwon memeluknya dengan erat. Tubuh Kyuhyun yang awalnya terasa begitu tegang perlahan menjadi lebih tenang. Siwon merasakan tangan Kyuhyun membalas pelukannya. Ia juga bisa merasakan hela nafas Kyuhyun pada lehernya.

“Semuanya akan baik-baik saja, iya ‘kan?”

Siwon mengangguk. “Tentu saja. Semuanya akan baik-baik saja, sayang. Aku ada selalu ada di sisimu. Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Kyuhyun mengeratkan pelukannya. Keraguannya perlahan hilang. Siwon sudah mengatakan kalau dia akan terus berada di sisinya. Tidak akan meninggalkannya. Hanya itu yang diperlukan oleh Kyuhyun saat ini. Hanya Siwon.

Kemudian, Siwon melonggarkan pelukannya. Ia menatap wajah Kyuhyun dengan seksama. Kening lalu bertemu, diikuti dengan setiap helaan nafas. Siwon bahkan juga bisa mendengar setiap debaran jantung Kyuhyun dengan nyata.

Dari balik bulu matanya, Siwon memperhatikan dengan baik setiap garis wajah Kyuhyun. Ia sudah tidak melihat bekas memar keunguan di wajah kekasihnya. Tapi Siwon tidak akan membohongi dirinya, bekas luka itu akan selalu ada. Baik dalam tubuh Kyuhyun maupun pikirannya sendiri. Luka itu akan menjadi hantu mimpi buruk yang akan selalu mengikuti Kyuhyun seumur hidupnya. Dan Siwon berjanji bahwa dia akan menemani setiap langkah hidup Kyuhyun.

Hingga nafas terakhir miliknya.

“Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun berkedip beberapa-kali. Sebuah senyuman terkembang di wajahnya. “Aku mencintaimu, Choi Siwon.”

Siwon tersenyum lebar lalu ia menangkup wajah Kyuhyun dan mencium bibir kekasihnya. Dengan lembut, Siwon melumat bibir bawah Kyuhyun. Rasanya masih begitu menakjubkan bagi Siwon pada setiap ciuman mereka. Kyuhyun juga mulai membalas ciuman Siwon dan memejamkan matanya. Kemudian Kyuhyun membuka kedua belah bibirnya dan menikmati setiap sentuhan manis tersebut.

Perlahan ciuman manis itu menjadi lebih bergairah. Suara desah memenuhi ruangan tersebut. Kedua tangan Siwon masih memegangi tubuh Kyuhyun, mendekapnya dengan erat dan penuh kasih sayang. Salah satu tangan Kyuhyun yang berada di bahu Siwon bergerak ke antara surai hitam rambut Siwon.

“Siwon…”  desah Kyuhyun.

Tanpa terduga, Siwon melepaskan ciuman mereka. Kyuhyun membuka matanya dan menatap Siwon dengan wajah penuh peluh gairah. Dengan sigap, Siwon menghapus peluh itu dari wajah kekasihnya. Ia kemudian memberikan kecupan singkat sebelum mengangkat tubuh Kyuhyun dan membawanya ke tempat tidur.

*****

NOTE: Well… Hampir 9k words!! Jadi, tolong harap maklum kalau saya telat update. Hehehehe.. Niatnya mau update yang SF Oneshot dulu, tapi diurungkan karena ngejar target penghabisan Scarface biar fanfic lain cepet kelar sebelum akhir tahun. Jadi, didoakan saja 2017 sudah publish fanfic baru..

Advertisements

42 thoughts on “[SF] Scarface Part 55

  1. Seneng beneeer nemu update nya Scarface…
    It’s about time ya mrk berdua finally lbh rely on each other.. Semoga aja eomma-deul stop abusing their sons..
    Msh ttp gemes sm Ki Joon deeeh… uughh..

    *Eehhmm… Itu ending nya…..?? Selanjutnya ngapain ya mrk… 😊😊😊

  2. Pada akhirnya siwon akan bawa kyuhyun pergi dan itu bagus.

    semua ucapan eomma cho memang benar adanya gak ada yang salah, setiap ibu akan berpikir seperti itu, tapi biarkan mereka bersikap sedikit lebih egois lagi dengan memilih bersama dan meninggalkan keluarga..
    Tapi sedih pas moment ahra dan kyuhyun di rumah sakit. seenggaknya kyuhyun masih punya ahra dan heechul yang mendukung dia.

  3. kehidupan kyuhyun sungguh rumit sekali,, setiap baca ff ini aku selalu berusaha nebak gimana endingnya. tapi akhirnya gagal juga. ff ini terlalu misterius untukku. hehehe
    semoga endingnya baik untuk semuanya ajah deh!! 🙂
    d tggu kelanjutannya ne!! 🙂

  4. Finally Siwon will bring Kyuhyun go
    Feel so sad where Ahra and Kyuhyun moment….good that Ahra and Heechul is still together with Kyuhyun….really hope that Kyuhyun will attend Ahra wedding
    Maybe both if their parents might be ego….but this is how Kyuhyun and Siwon going to be happy is their relationship…
    Pity to Hyukjae too…
    Finally Siwon and Kyuhyun has reach another stage
    Update soon ya for this story…..thanks for this chapter

  5. Dukungan keluarga mmng segalanya.Semoga WonKyu bisa bertahan dengan keadaan yg begitu nyesek ini.
    Mereka juga masih memiliki keluarga yg mmdukung mereka.
    Kyaaa….aq bingung sendiri mau nulis apa.Hibungan Joon dan Yifan sdh sangat baik.Changwook dan Haneul..bikin iri juga kkkkk.
    WonKyu…fighting…saranghae.

    Gumawo eonni…
    Fighting!!!

  6. Ini ff wonkyu no 1 yg selalu aku tunggu2 de ….

    Keputusan siwon bawa kyu pergi keputusan yg sulit, tp semoga jadi yg terbaik. Di tengah2 komplik sama keluarga semoga mereka bisa terus bertahan.

    Selalu penasaran sama next part nya, cepet update yach de …

  7. Siwon mengangguk. “Tentu saja. Semuanya akan baik-baik saja, sayang. Aku ada selalu ada di sisimu. Aku tidak akan meninggalkanmu.”
    “Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun.”

    Kyuhyun berkedip beberapa-kali. Sebuah senyuman terkembang di wajahnya. “Aku mencintaimu, Choi Siwon.”

    Bagian2 itu favorit aku banget.. deg2 syeerr deh bacany..
    Ditunggu banget kelanjutannya..

  8. Akhirnya update juga. Saking cintanya mereka gak mikirin pekerjaan bahkan keluarga. Terharu bgt.
    Ngeliat foto anak kecil cewek kirain anaknya wonkyu yg bisa ngisi hari2 wonkyu ehh ternyata jinhae.. hehehe
    puas bgt kok thor ffnya..
    aku doain deh ni ff bakal selesai di th 2016.. krn masih penasaran ma endingnya nanti..

  9. minggu depan pengin updatenya dibanyakin 😀 daebak kak Die.

    alurnya dipikirin mateng banget, ga kaya aku yang tiap bikin ff alurnya berubah terus

  10. sbnrnya omongan mamahnya kyuhyun itu g ada yng salah,itu bnr bngt,ibu mana yng mau anaknya jd penyuka sesama,tp pesona choi siwon emang g bisa di tolak sama cho kyuhyun,jd gimana dooong?jiaaaah mulai alay
    dan mudah2n wonkyu bnrn jd keluar negri wlpn ga berharap banyak mereka bs menikah di sana,pengennya si wonkyu nikah di korea dngn doa restu semua keluarga,kyaaaa tuh kan makin alay ngomongnya kkk
    eh eh eh itu bagian paling bawah bikin reader nebak yang iya2 deh

  11. SENENG BANGET SUMPAH GA BOHONG DEMI KYUHYUN DAHHH SENENG BANGET PAS TAU UDH KELUARR PART SELANJUTNYA!!!! dan seneng banget karna wonkyu kayak udah sehati gituh aku ga tau harus bilang apah yg penting eonni harus sehat supaya bsa bikin part selanjutnya loh? Hahahahaa hwaiting

  12. Harus dong cepet selesai soalnya saya pun lelah dengan perjalanan cinta WonKyu..
    Kasian aja gitu rasanya..
    Pengen happy end..
    Ya gpp lah ortu kyu g kasih dukungan semoga ortunya siwon bisa lebih bijaksana aja dalam menghadapi permasalahannya WonKyu ini..
    Dan semoga kijoon dapat ganjarannya deh walo g masuk penjara asal g gangguin wonkyu lagi no problemo hahaha

  13. keputusan yg siwon ambil tk bw kyu pergi bner2 dia ambil,bhkan dlm waktu singkat,wonkyu mdah2 an kalian slalu bahagia trs,wlaupun nanti kalian jauh dr keluarga,it bagian akhir ny bkin penasaran,mereka mw tidur ataaaauuu??? Next chap…

  14. Akhirnya siwon mau bawa kyu pergi..walau hubungan mereka masih terhalangi restu orang tua tapi mereka masih punya saudara2 yang siap membantu setiap saat…
    Semoga kijoon nggak muncul lagi di part2 selanjutnya… mulai sekarang hanya fokus pada hubungan wonkyu…
    Andai hubungan wonkyu semulus hubungan changhan, pasti menyenangkan…
    Asalkan wonkyu tetap bersama apapun yang terjadi, pasti akan datang kebahagiaan suatu hari nanti…
    Wonkyu faithing!!!

  15. Wonkyu akan pergi jauh dari kluarganya aq jg ikutan sedih, yg terbaik bwt wonkyu lah.
    Haneul dn pacarnya bikin iri, terasa ringan serta manis kapan wonkyu seperti itu karna hubungan mreka benar2 rumit, untuk ki joon aq sngt berharap siwon bisa balas prbuatannya biarpun gk sampai masuk bui.

  16. Thanks author for the update..
    Panjang & memuaskan..hampir sejam utk habiskan membaca..
    Akhirnya siwon membuat plan utk membawa kyuhyun ke luar negeri..walau apapun org lain katakan, yg pasti siwon melakukannya demi keselamatan kyuhyun..diharap hubungan wonkyu semakin tough & family kedua2nya boleh menerima keadaan mereka..mereka tidak menyangka fall in love tp ianya berlaku begitu saja..this is what we call we not plan with who we will fall in love..it just come without planning..just like that..semoga wonkyu selalu berbahagia & tabah..
    Keep writing till the end of this ff..i will support u…& i love to read what you write

  17. iya bawa kyu pergi jauh supaya tidak akan ada yg menyakitinya lagi.kasian dia hehehehe..
    mereka akan saling melengkapi hehe
    ditunggu lanjutannya ya

  18. Semoga mereka bahagia! Ga tega mereka menderita terus.
    Meskipun dengan mereka bersama mereka pasti behagia, tapi rasanya ga lengkap kalo mereka nggak mendapatkan resto dari orangtua.
    Semoga orangtua, dan keluarga mereka berubah mendukung mereka.

  19. wonkyu loving each other , toghether forever . cukup itu aja jgn ada lg sedih dan luka buat wonkyu . wonkyu happy ever after wonkyu jjang dierra ssi jjang

  20. Makin ke sini makin penasaran am ni fanfic..
    Mereka dah mutusin buat ninggalin kluarga masing2
    Entah tpi gw berharap baik klurgga siwon apa kyu.. Mau nerima merka apa adanya..karna sedih banget klo mereka harus ninggalin kluarga yang udah ngebesarin mereka slma ini.
    Dan untuk ending nya aku harap wonkyu ttp bersatu.. Hehhee.
    Gomawo updtanya thorr.. #hwaiting.!!!!
    😝😝😄😄

  21. senangnya ff scarfacenya lebih panjang dari pada ff yg lain
    pokoknya senang bgt deh
    cepat pergi dong wonkyunya supaya kyu gak di teror lagi sama musuhnya itu
    semoga aja pas wonkyu pergi kedua ortu mereka bisa percaya dan merestui hubungan mereka
    semangat terus eonni buat ff scarfacenya

  22. selalu seneng kalo uda dapet updatean ff ini 😊
    pada akhirnya wonkyu bakal ninggalin korea? 😥
    heran juga sih sama ortu nya kyu, ga bisa toleran sedikitpun :3
    di tunggu slalu ff wonkyu nya. fighting

  23. ngeliat covernya anak kecil kirain akhirnya WonKyu nikah, terus adopsi anak… Belom toh hahahahaha
    Aku fokus ke akhir cerita ajah, uhh mereka naik ranjang kan? Gak cuma Siwon nyenangin Kyuhyun tapi mereka bener2 menikmatinya berdua kan? Iyakan? Spoiler dikit lah chap depan kalo mereka abis ngapa2in… ㅋㅋㅋㅋ

  24. Semoga dgn perginya siwon sama kyuhyun dari korea masalah yg mereka hadapi bisa berkurang sedikit demi sedikit dan membuat orang tua masing2 pihak buat mikir apakah keputusan mereka bener apa engga dengan tingkah mereka selama kni thdp anak-anaknya.. dan aku harap mereka akan selalu bahagia dikeputusan yang mereka ambil ^^

  25. iya sih lebih baik Siwon bawa Kyu jauh2 dri korea biar Kyu ga diteror mulu sma Seon Hwan.
    eh skalian nikah sono, biar kalian tak terpisahkan /eh
    duh Ahra bener2 Nuna yg sayang bgt sma adeknya ya.. coba aja klo ga ada Ahra yg ngedukung Kyu, psti Kyu pling menderita deh huhu
    asdfghjkl!! ih JiNeul bkin baper elaahh.. kapan Wonkyu kyk gitu? etapi kyk nya chap depan mereka mau lebih ‘intim’ nih XD /uhukk/
    err sbenernya udh baca, cuma lupa komen 😂😂
    duuh maafkeun 😢😢
    slalu ditunggu lanjutan nya Ra ❤

  26. Semoga keputusan kyu n siwon pergi dari korea adalah yang terbaik.
    Kyu tenang ada siwon yang selalu melindungimu jadi tidak usah khawatir yah…
    Kira2 apa yang yang akan appa choi katakan sama siwon.
    Untuk haneul n changwook.. Romantis sekali heheheh

    Kak diera makasi… Tak doakam lamcar segala urusan agar SF cepat selesai heheh aaminnn.

  27. yesss udah update, tapi maaf ya telat koment hehe
    wonkyu Udah tinggal bersama nih, wahhh bakalan banyak moment mereka berdua.. part terakhir nya ><
    wait for the next chap,. 😀

  28. Terharu sama percakapan antara ahra dengan kyu.huuft sempat berlinang air mata juga. Thank u tuk ff nya yang selalu mengesankan

  29. Yampun aja begitu menakjubkan .. bisa tetap mendukung adiknya dgn segenap jiwa raga .. hikssss
    Siwon jaga Baik-baik ya kyuhyun dia terlalu sering menderita ..
    Dan kenapa tbc disaat yg menggairahkan .. haha ditunggu kelanjutannya ya ..

  30. Nungguin banget ini ceritanya endingnya bakalan dibuat kek gmana, secara ini ff terpanjang kak diera 😀
    yang jelas semua keluarga harus udah akur ya? Terutama para ibu ibu itu lol

  31. Apakah siwon benar” akan keluar dr choi grup, sbnernya sich sangat disayangkan kalau dia keluar tp jika itu demi kebahagian wonkyu tak mslh asal mrk bs selalu berdua..
    Mskipun kedua orangtua wonkyu tdk mendukung hubungan mrk tp sedikit lega krna semua sepupu dan juga saudara kandung wonkyu telah mendukung mrk dan banyak membantu utk huhungan wonkyu, setidaknya jika wonkyu mempunyai mslh msh ada yg bs membantu mrk..

  32. Apakah siwon benar” keluar dr choi grup dan pergi membawa kyuhyun?? Sangat disayangkan kalau siwon haris meninggalkan choi grup tp asalkan wonkyu selalu bersama jika mrk harus meninggalkan apa yg mrk miliki itu tank mslh…
    Lebih baik siwon membawa kyuhyun pergi dan hidup berdua dg bahagia drpd kebahagian mrk selalu diusik orang yg menentang hubungan mrk..

  33. Hello unnie, aku reader baru dan baru nemui fanfict ini hehe
    Unnie ijin baca ya ceritanya menegangkan banget hehe
    Ada roman komedi keluarga n romntisnya jgg..
    Daebaj unnie deh :*
    Hm kasian banget kyu selalu menderita gegeara dendam dendam para ceo besar itu duh..
    Tp untung ada siwon yg selalu disamping kyuhyun apapun yg terjadi bahkan dia rela buat pergi ke luar negeri untuk membuat kekasihnya aman..
    Sweet banget deh hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s