[SF] Scarface Part 54

blood-and-roses

54

“Jadi, kau sungguh tidak ingat apapun?” tanya Hyukjae.

Kyuhyun mendesah. Hari ini polisi datang bersama Hyukjae dan Haesa menemuinya perihal kejadian penculikan itu. Kyuhyun sudah mengatakan semua hal yang ia ketahui, bahkan termasuk ingatannya yang hilang akibat trauma episode yang dialaminya. Kyuhyun sudah menjelaskan begitu detail hingga mulutnya terasa kering.

Namun, Hyukjae kembali menanyakan hal itu lagi.

“Hyuk, kau tentu tahu arti dari kata hilang ingatan, bukan? Tentu saja, aku tidak mengingat apapun!!” seru Kyuhyun yang sudah jengah.

Hyukjae mengangkat kedua tangannya. Well, dia hanya ingin memastikan. Tapi melihat Kyuhyun yang begitu kesal karena mendapatkan pertanyaan yang sama secara terus menerus, Hyukjae tahu kalau Kyuhyun tidak mungkin berbohong.

Salah seorang polisi menatap dokter Seo yang ikut mendampingi Kyuhyun dalam pemeriksaan. Hal ini hanya untuk langkah antisipasi jika Kyuhyun kembali mengalami episode ataupun dia mendapatkan flashback terkait ingatannya. Hal itu bisa saja terjadi.

“Apakah ingatannya bisa kembali?”

Dokter Seo menarik nafas. “Saya tidak bisa memastikan hal ini. Pasien Cho mengalami trauma yang cukup berat akibat kejadian tersebut. Dalam beberapa kasus, pasien dengan trauma seperti itu biasanya akan menutup ingatannya sebagai cara melindungi diri. Ingatan pasien bisa hilang sepenuhnya atau mungkin suatu saat nanti ingatan itu akan kembali jika dia mengalami kejadian lainnya yang menjadi pemicu. Tapi saya tidak bisa memastikan kapan hal itu bisa terjadi.”

“Kalau begitu, polisi tidak bisa meneruskan kasus ini?” tanya Haesa.

Sang polisi mengangguk. Ini adalah kejadian yang tidak bisa diperkirakan. “Tanpa adanya kesaksian dari korban, kita tidak akan bisa mendapatkan petunjuk yang krusial. Karena tidak ada saksi yang melihat langsung kejadian tersebut. Semua bukti CCTV pun tidak akan membantu. Kita tidak punya petunjuk apapun untuk mencari pelakunya.”

Hyukjae menatap Kyuhyun dengan lekat. Tentu saja, mereka tahu siapa pelaku dibalik semua kejadian yang menimpa Kyuhyun. Tapi seperti yang polisi itu katakan, mereka tidak mempunyai bukti atau petunjuk kuat untuk menunjuk seorang pelaku. Bahkan jika mereka melakukan sebuah tuduhan pun, polisi masih harus melakukan investigasi lebih lanjut. Yang terburuk, kasus ini akan membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya dan pada akhirnya akan ditutup begitu saja karena tidak ada bukti lainnya.

“Aku tidak terlalu peduli,” ucap Kyuhyun pelan. “Jika polisi sudah mengatakan kalau kasus ini tidak memiliki bukti kuat, aku rasa hanya akan membuang waktu untuk melakukan penyelidikan. Bahkan jika ingatanku akan kembali, kita semua tahu kalau para pelakunya pasti sudah melarikan diri. Dilihat dari sisi mana pun, kita tidak bisa menyelesaikannya.  Lagipula aku masih hidup, bukan?”

“Tapi kau kehilangan ingatanmu karena mereka, Kyuhyun!” seru Hyukjae.

“Ingatanku yang hilang hanya dua atau tiga hari, Hyuk. Tepat hari kejadian lalu beberapa hari setelah aku sadar. Selebihnya aku masih mempunyai ingatanku. Aku masih Cho Kyuhyun yang sama, Hyukjae.”

Polisi tersebut kemudian menatap Kyuhyun dengan serius. “Jadi, anda ingin menghentikan penyelidikan kasus ini?”

Kyuhyun mengangguk. “Hentikan saja.”

“Baiklah. Saya akan kembali untuk membawakan dokumen pernyataan yang harus anda tanda-tangani.” Kemudian polisi itu berjalan keluar dari kamar rawat Kyuhyun.

Kyuhyun menoleh pada Hyukjae yang terlihat kecewa karena keputusannya. Haesa sendiri tidak banyak bicara sejak mereka datang. Setelah beberapa menit, dokter Seo juga pamit untuk kembali mengecek pasien lainnya.

Kyuhyun menarik nafas panjang. Dia sedikit memainkan selang infus yang masih terpasang di pergelangan tangannya. Dokter Seo mengatakan paling tidak Kyuhyun harus infus selama dua atau tiga hari untuk memastikan obat dimenhydrinate benar-benar hilang dari tubuhnya. Selain itu, dokter Seo dan dokter Ahn melakukan pengawasan ketat pada setiap obat yang akan disuntikkan pada Kyuhyun termasuk suster yang melakukannya. Mereka tidak bisa kecolongan lagi seperti sebelumnya.

“Aku tahu, Hyuk.”

Kepala Hyukjae terangkat dan menatap sahabatnya. “Jika kau tahu, kenapa kau menghentikannya. Tidak peduli jika ingatanmu hilang, tapi kita bisa memasukkan laporan lainnya terkait Seon Hwan atas apa yang terjadi padamu dan Haesa sebelumnya. Dari itu polisi bisa mencari pertunjuk untuk kasus penculikanmu, Kyuhyun. Bahkan jika pelakunya sudah melarikan diri, tapi kita bisa mencari dalangnya.”

“Lalu apa? Seon Hwan sudah hancur. Itu bahkan motif awal mereka melakukan ini padaku. Jika kita membalasnya, kau bisa bayangkan bagaimana mereka membalasnya lagi. Aku bisa saja mati, Hyukjae.”

Hyukjae menyengit saat Kyuhyun mengatakannya. Itu bukan sebuah hal yang mustahil. Jika ini yang dialami Kyuhyun sebagai pembalasan Seon Hwan, entah apa yang mereka lakukan pada Kyuhyun lagi berikutnya jika mereka ikut membalas.

“Aku tidak ingin kau mati,” gumam Hyukjae.

“Aku juga tidak ingin, Hyuk. Ini sudah cukup. Aku juga tidak mau masuk rumah sakit lagi.”

*****

Siwon menatap Uhm Ki Joon dengan lekat. Pria itu datang menemuinya dengan maksud untuk menjenguk. Kemudian dia tersenyum. “Saya tidak menyangka kalau anda datang menjenguk di rumah sakit.”

“Tentu saja. Saat kembali dari London, saya begitu terkejut mendengar kabar kalau anda mengalami kecelakaan kerja. Bahkan anda sampai tidak sadarkan diri selama sepuluh hari,” ucap Uhm Ki Joon.

“Ah, bukan seperti itu.”

Kening Ki Joon mengernyit. “Bukan seperti itu? Maksud anda, Direktur Choi.”

“Itu bukanlah kecelakaan kerja. PR perusahaan sengaja mengatakan demikian agar tidak menimbulkan berita aneh di media,” tutur Siwon.

Ki Joon menggumam. “Tapi jika bukan kecelakaan kerja, lalu apa yang terjadi? Anda bahkan tidak sadar selama sepuluh hari. Apakah itu sesuatu yang begitu serius?”

Siwon menyandarkan punggungnya di kepala ranjangnya. Dia menatap Ki Joon yang memilih berdiri saja di ujung ranjangnya walaupun Siwon sudah mempersilakannya untuk duduk. “Aku hanya berusaha menyelamatkan seseorang. Tapi mungkin karena aku bertindak sendiri, jadi beginilah. Tapi ini lebih baik karena aku bisa memastikan orang itu baik-baik saja.”

“Seseorang? Sepertinya dari cara anda bicara, seseorang itu sangat berharga untuk anda. Bahkan anda sendiri yang pergi menyelamatkannya. Apakah ia adalah kekasih anda? Oh, maaf jika saya bersikap tidak sopan. Jika anda merasa keberatan, anda tidak perlu menjawabnya.”

Siwon hanya tertawa kecil. Alis Ki Joon terangkat. Siwon sepertinya benar-benar sudah dibutakan oleh cintanya sendiri. Ki Joon tersenyum tipis. Dia tidak pernah menyangka kalau direktur dihadapannya ini begitu naïf hingga tidak menyadari musuhnya sendiri.

“Kekasih? Mungkin dia bisa dikatakan seorang kekasih.”

“Benarkah? Saya ucapkan selamat, kalau begitu.”

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Sontak Siwon dan Ki Joon menoleh. Ki Joon tidak pernah menyangka keberuntungannya hari ini. Tanpa sedikit kesulitan, dia bahkan bisa bertemu Choi Siwon dan Cho Kyuhyun dalam satu waktu tanpa memikirkan alasan yang khusus. Siwon tersenyum lebar ketika melihat sosok Kyuhyun.

“Oh?! Maaf, aku tidak tahu kalau kau sedang ada tamu,” ucap Kyuhyun.

Siwon menggeleng. “Tidak apa-apa, Kyuhyun. Masuklah.”

Kyuhyun menatap Ki Joon sejenak, lalu dia berjalan masuk lalu menutup pintu secara perlahan. Sang Pengacara berjalan mendekat lalu sedikit membungkuk pada Ki Joon. “Apa aku menganggu perbincangan kalian?”

“Tentu saja, tidak. Pengacara Cho, bukan?” ucap Ki Joon sembari menatap Siwon sekilas lalu kembali pada Kyuhyun.

“Benar. Ini adalah Pengacara Cho Kyuhyun. Dan Kyuhyun, perkenalkan dia adalah Uhm Ki Joon. CEO dari UK Company,” tutur Siwon.

Kyuhyun terdiam sejenak. Ki Joon tersenyum pada Kyuhyun lalu mengulurkan tangannya. Sang pengacara menyambut uluran tangan tersebut. “Senang berkenalan denganmu, Pengacara Cho.”

Kyuhyun bergumam pelan. Dia lalu menarik tangannya dan beralih menatap Siwon. “Aku akan kembali nanti. Sepertinya perbincangan kalian…”

“Oh!” sela Ki Joon cepat. “Aku hanya mampir untuk menjenguk Direktur Choi. Bukan sebuah pertemuan yang begitu serius. Aku permisi pamit, Direktur Choi. Untuk lanjutan pembicaraan mengenai kerja-sama kita, Jeremy Evans yang akan menjadi perwakilan UK Company.”

Siwon mengangguk. “Baiklah. Semoga perjalanan anda menyenangkan.”

Ki Joon tersenyum lalu beranjak pergi. Sebelumnya, dia sedikit menundukkan kepalanya pada Kyuhyun sebagai tanda pamit. Kyuhyun membalas dengan anggukan kepala. Ki Joon berjalan menuju pintu, membukanya perlahan, melangkah keluar dan menutup pintunya.

Kyuhyun menghembuskan nafas setelah Uhm Ki Joon pergi. Dia merasa sedikit tidak nyaman. UK Company adalah perusahaan induk dari Seon Hwan. Siwon sepertinya tidak pernah mengatakan padanya kalau Choi Group melakukan kerja-sama dengan UK. Atau mungkinkah dia pernah mengatakannya dan Kyuhyun menjadi lupa?

“Kyuhyun?!”

Kyuhyun tersentak. “Ya?”

Siwon menepuk tempat tidurnya –sebagai isyarat agar Kyuhyun didekatnya. Kyuhyun tersenyum tipis lalu duduk di tepi tempat tidur. “Kau kenapa?”

“Dia… UK Company bukankah perusahaan induk dari Seon Hwan?”

Siwon mengangguk. “Tapi kita berdua tahu kalau Seon Hwan adalah perusahaan mandiri, jadi UK tidak bisa melakukan interversi pada perusahaan itu. Jadi, kemungkinan UK tidak hubungannya dengan kasus saat ini. Selain itu, dia juga memastikan kalau pihak UK tidak ikut terlibat.”

“Aku tahu. Tapi hanya saja…” Kyuhyun menghela nafas pendek. “Sudahlah. Lagipula jika kau yang paling mengerti masalah ini, bukan? Maksudku dengan bisnis dan lainnya.”

Siwon tersenyum tipis. “Tenang saja, sayang. Jika kakekku tidak akan bekerja-sama dengan perusahaan yang bermasalah. Segala keputusan mengenai kerja-sama dengan UK atas pertimbangan dari kakekku. Jadi… Bagaimana pertemuanmu dengan  pihak dari kepolisian?”

Kyuhyun sedikit menundukkan kepalanya dan mendesah. “Aku mengatakan hal yang terjadi. Mengenai ingatanku yang hilang. Selain itu, penyelidikan juga dihentikan secara resmi.” Kyuhyun mengangkat kepalanya dan memandang Siwon. “Ini sudah selesai, Siwon.”

“Tapi aku tidak menyukainya, Kyuhyun. Ini sangatlah tidak adil bagimu.”

Kyuhyun tersenyum miris. “Aku tahu, tapi tidak ada lagi yang bisa kita lakukan.”

“Aku yakin Hyukjae juga tidak menyukainya, bukan?”

“Begitulah. Tapi dia bisa mengerti keinginanku. Dan aku harap kau juga demikian.”

Siwon menatap Kyuhyun lama. Jauh dalam pemikirannya, pasti ada sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk. Siapa pun dalang semua ini sangat tidak mungkin merencanakannya dengan begitu sempurna tanpa cela. Pasti ada kesalahan kecil yang terlewat oleh mereka. Tapi Siwon tidak bisa bersikeras meminta Kyuhyun tetap melanjutkan penyelidikan kasusnya tersebut. Dan jika ini yang diinginkan oleh Kyuhyun, maka Siwon akan menghargainya.

Perlahan, senyuman Siwon terkembang. Dia sedikit bergeser untuk duduk lebih dekat menghadap Kyuhyun. Kemudian ia mengulurkan tangannya dan menyentuh wajah kekasihnya dengan lembut. “Aku bisa mengerti, sayang. Tapi aku selalu mempunyai sedikit harapan kalau kau akan berubah pikiran.”

Kyuhyun menyentuh tangan Siwon yang berada di pipinya dan mengusap punggungnya perlahan. “Terima kasih.”

Kemudian Siwon menarik wajah Kyuhyun hingga bibir mereka bertemu. Keduanya hanya saling bertukar ciuman manis dan singkat. Beberapa-kali. Setelah itu kening mereka bertemu dan mereka berdua dapat merasakan hembusan nafas masing-masing. Siwon menatap Kyuhyun dari balik bulu matanya. Ia tersenyum tipis.

“Aku begitu mencintaimu, kekasihku.”

Kyuhyun tidak mengatakan apapun. Dia hanya ikut tersenyum sebagai balasannya. Dan Siwon tidak perlu mendengarnya. Jika Kyuhyun tetap di sini bersamanya –hingga hari ini dan selanjutnya setelah semua hal yang mereka lewati bersama, Siwon cukup yakin atas perasaan Kyuhyun.

Kemudian Siwon menarik tubuh Kyuhyun dalam pelukannya.

*****

Haesa menatap Haneul dengan lekat.

Setelah pembicarannya dengan Kyuhyun dan pihak kepolisian, Haesa langsung menemui saudara kembarnya tersebut. Cukup beruntung, waktu shift Haneul belum selesai. Karena mereka jarang bertemu di rumah untuk membicarakan perihal kekasih Haneul, Haesa akhirnya mendapatkan waktu yang tepat untuk menginterogasinya di rumah sakit. Selain itu, dia yakin sekali kalau kekasih Haneul juga bekerja di rumah sakit yang sama.

“Bukan di department pediatric anak. Karena itu akan lebih mencurigakan bagi rekan kerjamu,” ucap Haesa.

Haneul mendesah. Dia memijat keningnya dengan keras. Saat ini, saudarinya tengah bersikap layaknya seorang pengacara yang sedang menganalisa seorang penjahat. “Haesa…”

Haesa mengangkat tangannya membuat Haneul terdiam. “Sebelumnya kau ditempatkan di ER. Tapi kurasa itu juga mustahil karena shift kerja ER jauh lebih sibuk dibandingkan department lain. Kau tidak akan punya kesempatan untuk bertemu.”

“Kenapa kau melakukan ini, eoh? Haesa, jika waktunya sudah tepat aku sendiri yang memperkenalkan kalian berdua,” tutur Haneul.

Haesa memutar matanya. “Itu sangat mustahil. Aku tahu dengan sifatmu, saudaraku. Kau bahkan bisa menyimpan perasaan yang begitu lama hanya untuk satu orang, terlebih kau sempat tinggal jauh darinya. Lalu ketika kau kembali, hanya dalam waktu singkat kau menyerah pada perasaan lamamu dan membukanya untuk orang lain. Paling tidak, aku berhak untuk mengetahui nama dan seperti apa orangnya.”

“Kang Haesa…!”

Kemudian pembicaraan kedua saudara kembar itu terhenti ketika Changwook yang hendak makan siang muncul dan menyapa Haneul. Changwook tersenyum tipis dan menyapa pria itu. Haneul mengernyit dengan sikap Changwook.

“Dokter Kang, aku pikir kau sudah pulang. Oh… Kalian berdua terlihat mirip. Saudaramu?”

Haneul menarik nafas. “Dia adalah saudari kembarku, dokter Ji.”

“Ah!!” Changwook lalu mengulurkan tangannya ke arah Haesa. “Ji Changwook, dokter residen  tahun ke-empat department bedah.”

Haesa menyambut uluran tangan Changwook dan menyebutkan namanya. Haneul sendiri ingin sekali menendang Changwook untuk pergi meninggalkan mereka berdua. Sebelumnya mereka sudah sepakat untuk menunggu waktu yang tepat untuk membawa hubungan mereka ke hadapan publik.

Haesa menatap Haneul. “Bagaimana kalian bisa bertemu? Department kalian berbeda.”

Changwook tersenyum lebar. “Oh. Aku beberapa-kali membantu department pediatric anak ketika ada kasus yang membutuhkan penanganan khusus. Selain itu, pertemuan pertama kami bisa dibilang cukup berkesan.”

Oh, Haneul benar-benar akan membunuh Changwook nanti. Mungkin tidak sampai membunuh, hanya membuatnya dirawat selama beberapa hari. “Dokter Ji, bukankah kau ingin makan siang?” ucapnya sembari menatap Changwook dengan seolah juga mengatakan ‘pergilah, sebelum kutendang bokongmu itu!’

“Well, kurasa aku harus pergi mengantri sekarang. Senang berkenalan denganmu, Nona Kang.” Kemudian Changwook pergi meninggalkan mereka berdua.

Haneul menyandarkan punggungnya dan mendengus. Changwook sepertinya tengah menguji kesabarannya. Selain itu, dia juga terlihat dengan sengaja mendatangi mereka lalu berkenalan dengan saudarinya. Itu mungkin adalah hal baik, karena pada saatnya mereka berdua akan berkenalan secara resmi. Tapi Haneul tidak ingin menguji keberuntungannya saat ini.

Haesa memperhatikan saudaranya dengan lekat. “Sepertinya kau kesal dengannya.”

“Dia terkadang bersikap menyebalkan.”

“Mengenai pertemuan pertama kalian yang berkesan itu, maksudnya?”

Haneul  memejamkan matanya sejenak. Dia melirik sekilas pada Changwook yang sedang mengantri di counter makanan lalu menatap Haesa lagi. “Aku tidak sengaja menumpahkan kopi ke jasnya. Aku mencucinya lalu mengembalikannya. Tapi sejak itu, dia suka sekali menemuiku dan mengangguku.”

“Tapi sikapnya tadi terlihat baik sekali.”

“Itu adalah pertama-kali kau bertemu dengannya. Sudahlah, aku tidak ingin membicarakannya. Selain itu, bisakah kita bicarakan masalah itu di rumah saja atau paling bukan di rumah sakit? Kau tahu, aku masih menyayangi lisensi kedokteranku.”

Haesa mendengus. “Baiklah, kita bicara lagi di rumah. Tapi aku masih akan mencari tahu siapa kekasihmu di rumah sakit ini.”

“Terserah,” gumam Haneul.

*****

Kyungsoo melempar beberapa lembar tugas yang diberikan oleh tutor Joonmyeon ke atas meja belajar. Joonmyeon yang memperhatikannya di tempat tidur hanya tertawa kecil. Sejak ia sampai, Kyungsoo sesumbar kalau dia juga bisa mengerjakan lembar tugas yang Joonmyeon kerjakan. Tapi ketika melihat soal-soalnya, Kyungsoo hanya bertahan selama duapuluhlima menit dan berhasil menyelesaikan setidaknya empat soal saja.

“Kakekmu benar-benar sadis. Itu sulit sekali,” tukas Kyungsoo sembari menatap Joonmyeon yang kemudian berbaring.

“Jika kau mengerti formulanya tidak begitu sulit. Selain itu, sebagaian besar kita juga mempelajarinya di sekolah,” ujarnya.

Kyungsoo memutar matanya. Sepertinya Joonmyeon benar-benar akan masuk jurusan bisnis dengan mudah. Padahal sebelumnya, Joonmyeon terlihat tidak menyukai ide itu. Tapi melihatnya sekarang, Joonmyeon seolah sudah menerima nasibnya. “Aku tidak peduli. HanEum tidak akan memberikan mata kuliah itu nanti. Oh ya, katanya kau akan ke museum. Kapan?”

“Akhir minggu ini. Kunjungan lainnya itu tergantung dengan kebutuhanku. Kenapa? Kau ingin ikut?”

“Setidaknya untuk menghabiskan minggu terakhir sebelum semester baru. Lalu saudaramu kapan pulang? Kau bilang sebelumnya dia kembali ke Kanada, bukan?”

Joonmyeon mengangguk. “Mungkin akhir minggu ini juga. Entahlah.”

“Sepertinya hubungan kalian semakin baik. Maksudku, setelah kalian membicarakan mengenai masalah perasaannya itu. Saat di taebaek, dia juga terlihat lebih rileks. Dia sudah menerima kalau pada akhirnya hubungan kalian hanya berakhir sebagai saudara tiri?”

Joonmyeon kemudian bangun dan duduk di tepi tempat tidur. “Masih sedikit canggung, tapi ini jauh lebih baik. Kurasa kami bisa lebih terbiasa seiring waktu. Kau sendiri bagaimana? Dengan Chanyeol.”

Kyungsoo mendengus. “Semakin parah. Aku tidak tahan dengan sikap protektifnya itu. Bahkan sebelum ke sini, dia bertanya hal yang macam-macam. Dengan apa aku pergi, apa Baekhyun juga akan datang, sampai berapa lama aku pergi, apa aku ingin dijemput atau semacamlah.”

“Kurasa itu karena kalian akan pisah. Jika dia diterima di Universitas Seoul dan kau di HanEum, kalian akan sulit bertemu.”

“Mungkin jika dia nekat, dia akan pergi ke HanEum hanya untuk bertemu selama sepuluh menit lalu kembali lagi ke Seoul. Yang terburuk adalah dia akan menghubungi setiap satu jam.”

Joonmyeon tersenyum tipis. Kyungsoo mungkin bersikap jengkel dengan semua sikap Chanyeol padanya, tapi ia mengenal Kyungsoo dengan baik.  Kyungsoo bukan tipe orang yang suka diabaikan. Ia agak mirip dengan Baekhyun, tapi jika Baekhyun tidak malu untuk mengatakan apa yang dirasanya, berbeda dengan Kyungsoo yang lebih sering menunjukkannya melalui gerak-geriknya. Sejak mengetahui hubungannya dengan Chanyeol, Joonmyeon bisa melihat Kyungsoo menyukai perlakuan Chanyeol padanya.

“Sudahlah, jangan membicarakan dia lagi. Liburan tinggal satu minggu lagi, selain sibuk dengan urusan tutoring-mu itu, apa kita bisa pergi lagi? Taman hiburan mungkin?” usul Kyungsoo.

Joonmyeon tertawa. “Do Kyungsoo, apa kau gila? Kau selalu bilang benci dengan udara dingin, tapi kenapa kau sering-kali mengajakku pergi jalan-jalan di tengah udara dingin!!”

Kyungsoo hanya mengangkat bahunya.

*****

Uhm Ki Joon sedang membaca laporan dokumen terakhir yang dikirimkan oleh sekretarisnya di London. Ada beberapa hal penting yang harus menjadi perhatiannya. Beberapa orang yang diberikan tanggung-jawab sama sekali tidak bisa mengatasinya dengan baik. Ki Joon harus turun tangan sendiri. Jadi, kepulangannya ke London tidak bisa dihindari lagi.

“Kau tidak bisa menukar hari penerbanganku ke London?” ucap Ki Joon tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet di tangannya.

Pegawainya yang sedang menyetir meliriknya dari kaca spion. “Maaf, Tuan. Tapi saya tidak bisa mendapatkan tiket hari ini. Apa anda ingin penerbangan pertama ke London untuk besok pagi?”

“Memang jam berapa penerbanganku seharusnya?”

“Sekitar pukul satu siang.”

Ki Joon mendengus. Jika dia harus menunggu penerbangan siang hari, kemungkinan besok tengah malam dia baru sampai di London. Ki Joon tidak ingin membuang waktu lebih lama. “Carikan tiket untuk penerbangan pagi. Dibandingkan lebih lama berada di sini, ada hal penting yang harus kulakukan di London.”

“Baik, Tuan.”

Kemudian Ki Joon menyimpan tabletnya dan melihat ke luar jendela mobilnya yang masih terus bergerak. Meninggalkan gedung rumah sakit besar dibelakangnya. Hari ini adalah pertama-kalinya dia bertemu dengan Cho Kyuhyun setelah penculikan itu. Ki Joon masih bisa melihat bekas memar yang mulai memudar di wajah tampan pria itu. Tapi luka dalam pikirannya tidak akan bisa sembuh dengan sempurna.

“Dan nanti malam…” ucapnya yang menarik perhatian pegawainya lagi. Ki Joon tersenyum. “Kirimkan hadiah terakhirku untuk Cho Kyuhyun.”

******

Donghae mengernyit ketika ia melihat Hyukjae datang ke flatnya. Dia teringat kalau Hyukjae pernah mengatakan kalau hari ini dia akan ke rumah sakit untuk menemui Kyuhyun dan membicarakan mengenai kasus penculikan itu bersama dengan polisi. Donghae pikir kalau pembicaraan itu akan membutuhkan waktu lama.

“Pembicaraannya bagaimana?” tanya Donghae yang membiarkan Hyukjae masuk ke dalam flatnya.

Hyukjae mendesah. Dia melepaskan sepatunya di foyer lalu berjalan menuju ruang tengah. Donghae menutup pintu dan menyusul Hyukjae yang membaringkan tubuhnya di sofa dengan mata terpejam. Donghae menarik nafas dan menghampirinya.

“Lee Hyukjae..”

“Ijinkan aku tidur di sini sampai kau harus pergi bekerja, Lee Donghae. Dan jangan bertanya mengenai Kyuhyun padaku untuk saat ini. Kau bisa mendengarnya saat aku bicara dengan Heechul hyung nanti. Kumohon.”

Sepertinya pembicaraan di rumah sakit itu tidak berjalan lancar. Mungkin karena kondisi Kyuhyun juga. Donghae hanya mendengar kalau Kyuhyun mengalami trauma berat akibat penculikan itu.  Tapi dia tidak pernah mendapatkan penjelasan detailnya. Heechul dan Hyukjae juga tidak pernah membicarakan masalah kondisi Kyuhyun secara serius.

Kemudian Donghae berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air. Lalu dia kembali ke ruang tengah dan menaruh gelas air itu di atas coffee table. Donghae duduk di sofa lainnya dan menatap Hyukjae lekat.

“Setidaknya katakan bagaimana kondisi Kyuhyun sekarang. Apa dia sudah pulih?” tanya Donghae.

Hyukjae membuka matanya lalu bangun. Dia memandang Donghae sekilas lalu melihat pada gelas berisi air yang dibawakan Donghae. “Kondisinya baik. Hanya dia kehilangan ingatannya.”

“Hi-hilang ingatan? Jadi dia tidak…”

“Bukan. Bukan hilang ingatan yang seperti itu. Dokter mengatakan dua hari sebelumnya, Kyuhyun mengalami dua kali episode yang cukup parah. Ada kemungkinan karena episode itu, ingatannya hilang sebagian. Dia tidak ingat tentang kejadian penculikan dan beberapa hari setelah dia tersadar. Selebihnya dia adalah Kyuhyun yang kita kenal,” jelas Hyukjae sembari menyandarkan punggungnya.

“Lalu pembicaraan dengan polisi hari ini?”

Hyukjae menghela nafas dan mengusap wajahnya. Pada akhirnya dia akan menceritakannya pada Donghae, lalu kemudian dia akan kembali menceritakannya pada Heechul saat pertemuan mereka nanti malam di bar. Oh, Hyukjae tidak ingin mengulang cerita yang sama untuk dua kali. Tapi Donghae tidak akan membiarkannya dan akan menanyakan hal lainnya terkait Kyuhyun.

“Kyuhyun tidak ingat apapun mengenai penculikan itu, jadi tidak ada lagi bukti mengenai kasus itu. Selain itu, Kyuhyun juga meminta polisi untuk menghentikan penyelidikan. Kasus itu secara resmi dihentikan.”

“Ta-tapi.. Itu tidak bisa dilakukan. Apa yang dialami oleh Kyuhyun… Para pelakunya harus ditangkap, Hyuk. Jika Kyuhyun tidak ingat, bukankah polisi bisa mencari petunjuk lainnya. Pelakunya harus ditangkap dan diadili!”

Hyukjae mengangkat kepalanya dan menatap Donghae lekat. “Aku tahu, tapi tidak ada yang bisa kita lakukan. Selain itu, Kyuhyun juga yang meminta penyelidikan dihentikan. Satu-satunya saksi mata atas kejadian itu meminta polisi untuk menghentikan penyelidikan, Donghae.”

“Heechul hyung tidak akan senang jika mendengar hal ini,” gumam Donghae.

Donghae juga tidak habis pikir kenapa Kyuhyun menyerah begitu saja. Setelah apa yang menimpa dirinya dan dampak akibat penculikan itu pada dirinya, Kyuhyun malah membiarkan para pelakunya lolos tanpa pengadilan.

Hyukjae kemudian kembali berbaring dan menggumam, “Ya, dan aku tidak suka harus mengulang cerita yang sama pada Heechul hyung nanti malam. Sekarang biarkan aku tidur.”

Donghae menatap Hyukjae yang kembali memejamkan matanya. “Kau tidak ingin makan dulu?”

*****

Ahra berusaha mengejar ibunya yang tengah menuju kamar rawat baru Kyuhyun. Orangtuanya terlihat tidak senang kalau Kyuhyun pindah kamar rawat tanpa memberitahu mereka. Bahkan saat menemui dokter Ahn, sang ibu protes karena dia tidak mendapat kabar dari rumah sakit mengenai perubahan kamar rawat Kyuhyun. Tapi Ahra merasa bahwa itu sangatlah ironis.

Selama Kyuhyun di rumah sakit, ibu mereka jarang sekali menemani Kyuhyun di rumah sakit. Terlebih ayah mereka. Bahkan selama Kyuhyun dalam kondisi tidak sadar, Jisung sempat beberapa-kali datang walaupun hanya sekedar melihat dari luar kamar rawat isolasi. Tapi orangtua mereka tidak pernah datang, sekali datang pun itu dengan membawa seorang gadis setelah Kyuhyun sadar.

Kini, mereka ingin protes kalau mereka tidak diberitahu mengenai kepindahan kamar perawatan Kyuhyun. Mereka seolah bersikap sangat peduli pada Kyuhyun.

Ahra memasuki kamar rawat Kyuhyun yang ternyata kosong.

“Ke mana Kyuhyun?!” tanya sang ibu padanya.

Ahra menggeleng. “Aku tidak tahu. Aku datang bersama Eomma, bukan? Jadi, aku tidak tahu dia pergi ke mana.” Walaupun Ahra mempunyai firasat kalau Kyuhyun sedang bersama Siwon saat ini.

Sang ibu mendengus lalu berjalan keluar kamar dan menuju stasiun suster. Ahra kembali mengikutinya. Dia harus menyiapkan diri. Tapi belum sempat mereka bertanya pada suster, mereka melihat Kyuhyun baru saja keluar dari kamar rawat dan hendak kembali ke kamar rawatnya. Ahra menghela nafas pendek.

Kyuhyun menatap Ahra dan ibu mereka dengan terkejut. Lalu dia bergegas menghampiri keduanya. “Eo-eomma datang? Apa sudah lama?”

“Kau dari mana?”

Kyuhyun terdiam sejenak. Dia tidak bisa mengatakan pada ibunya kalau dia tadi bersama Siwon. Ia melirik ke arah Ahra yang berdiri di belakang sang ibu. Kemudian fokus pandangannya kembali pada sang ibu. “Aku hanya bertemu dengan salah satu klien yang kasusnya pernah kutangani. Dia juga dirawat di rumah sakit. Tapi ada apa Eomma datang? Eomma tidak memberi kabar padaku.”

“Memberi kabar? Bukankah itu yang seharusnya Eomma tanyakan padamu. Bagaimana bisa kau pindah kamar perawatan tangan mengatakannya pada Eomma dan Appa, eoh?!” seru  ibu mereka dengan keras –hingga membuat Kyuhyun sedikit berjengit. Terlebih mereka berada di ruang publik.

Ahra menyentuh lengan sang ibu. “Eomma, jangan berteriak di sini. Kita bicara di kamar saja.”

Sang ibu menepis tangan Ahra lalu kembali berjalan menuju kamar perawatan Kyuhyun. Ahra lalu menatap adiknya. Ahra tersenyum tipis lalu memberi isyarat agar mereka bicara dengan sedikit lebih privat. Kyuhyun mendesah lalu mengikuti sang ibu.

Ahra yang hendak menyusul keduanya, menoleh ke arah kamar rawat Siwon di mana sang penghuninya sedang menatapnya dengan lekat. Siwon sepertinya mendengar suara ibunya dan langsung keluar dan melihat apa yang sedang terjadi. Ahra bisa melihat ekspresi khawatir Siwon. Tapi untuk masalah ini, orang luar tidak bisa ikut campur walaupun dia adalah kekasih Kyuhyun sendiri.

Ahra lalu bergegas ke kamar rawat Kyuhyun. Dia menutup rapat pintu kamar tepat ketika ibu mereka kembali berteriak pada Kyuhyun.

“Kenapa kau memindahkan kamar perawatanmu tanpa mengatakannya pada Eomma?!! Pihak rumah sakit juga tidak mengatakan apapun!!”

Kyuhyun tidak pernah melihat ibunya berteriak semarah ini. Dia melirik Ahra yang berdiri di dekat pintu. Jujur saja, Kyuhyun pikir Ahra yang memberitahu orangtua mereka mengenai kepindahan kamar perawatannya. Namun, ia salah.

“Aku baru akan memberitahu Eomma. Karena sebelumnya, Eomma hampir tidak pernah datang. Tapi kenapa Eomma bereaksi seperti ini? Aku hanya pindah kamar rawat, bukan sesuatu yang buruk,” ucapnya sembari duduk di tempat tidur.

Kyuhyun sudah lelah dan ingin istirahat. Sepanjang hari ini, dia terlalu banyak menghadapi orang-orang. Mulai dari kepolisian, Hyukjae dan Haesa, dokter Seo yang masih melakukan observasi mengenai kondisi psikisnya lalu pertemuannya dengan CEO UK Company yang benar-benar di luar perkiraannya. Walaupun Siwon sudah meyakinkannya kalau UK tidak ada kaitannya dengan Seon Hwan, tapi Kyuhyun mempunyai firasat aneh saat bertemu dengan CEO-nya tersebut, Uhm Ki Joon. Tapi dia tidak mengatakan hal itu pada Siwon. Kyuhyun tidak ingin membuat kekhawatiran baru.

Namun, sekarang dia harus menghadapi ibunya. Entah apa lagi yang akan diucapkan oleh ibunya mengenai hubungan barunya dan tentang usaha perjodohan itu.

“Hanya pindah kamar rawat? Apa kau tidak tahu, dokter memberitahu Eomma mengenai kondisimu. Halusinasi, Cho Kyuhyun! Selama ini ada obat yang mengakibatkan halusinasi dalam tubuhmu! Kau bahkan tidak menyadarinya!!”

Kyuhyun mendesah. “Tapi mereka sudah membersihkannya. Obat itu sudah hilang.”

“Tapi tidak dengan efeknya. Walaupun obatnya sudah tidak ada dalam tubuhmu, tapi efeknya masih bisa mempengaruhimu!” seru ibunya lagi.

Oh, Kyuhyun sangat ingin menutup kedua telinganya dan menyuruh ibunya berhenti berteriak. Tapi dia tidak bisa melakukannya. Itu hanya membuat emosi sang ibu semakin besar. Hal mudah yang bisa dilakukannya agar ini cepat berakhir adalah mendengarkannya.

“Apa pria itu yang memberikan obat itu padamu?” lanjut ibunya.

Kyuhyun mengangkat kepalanya dan menatap ibunya lekat. “Pria itu? Maksud Eomma apa?”

“Pria itu!”

Mata Kyuhyun membulat besar. Dia tidak percaya kalau ibunya malah menuduh Siwon –walaupun ia tidak tahu– yang memberikan obat itu pada Kyuhyun.

“Tentu saja, pria itu! Memang siapa lagi!? Sadarlah, Kyuhyun. Kau hanya mengalami halusinasi. Hubunganmu dengan pria menjijikkan itu adalah sebuah kesalahan, tapi dia memberikan obat itu agar kau percaya padanya dengan mudah.”

Sontak Kyuhyun berdiri. “Eomma! Bukan dia yang melakukannya! Eomma tahu persis masalah Seon Hwan yang membuatku selalu berakhir di rumah sakit. Ini adalah bagian dari balas dendam mereka! Ini adalah cara mereka menghancurkanku!! Apa aku perlu mengingatkan bagaimana kondisiku saat dibawa ke rumah sakit saat itu?! Aku hampir mati, Eomma!! Dan Eomma masih berpikir kalau dia yang memberikanku obat itu!!”

“Eomma tidak akan keberatan jika itu membuatmu kembali pada akal sehatmu.”

Kali ini ucapan sang ibu, bukan hanya membuat Kyuhyun tercengang. Begitu juga dengan Ahra yang sedari tadi hanya mendengarkan perdebatan keduanya.

“Eomma..” gumam Ahra.

Kyuhyun mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras menahan emosi yang meluap. Bagaimana bisa wanita yang melahirkan dan membesarkannya rela melihat anaknya sendiri hampir mati hanya karena ingin melihatnya berpikir rasional. Perasaannya pada Siwon adalah sesuatu yang rasional. Kyuhyun tidak pernah merasa begitu yakin sebelumnya dengan perasaannya. Tapi pada Siwon, semuanya terasa begitu benar.

“Eomma ingin aku mati?” ucap Kyuhyun pelan.

Sang ibu mendengus. “Mungkin tidak mati, tapi Eomma hanya ingin kau kembali pada akal sehatmu dan menyadari bahwa hubunganmu dengan pria adalah sebuah kesalahan dan ditentang oleh Tuhan.”

“Aku tahu persis bahwa hubungan ini adalah kesalahan di mata Tuhan. Tapi pernahkah Eomma memikirkan bagaimana perasaan yang kurasakan selama ini? Wanita yang selama ini aku cintai tidak pernah memandangku. Aku terus percaya bahwa suatu hari mungkin dia akan menyadarinya dan menerimaku. Tapi setelah enam tahun, dia baru menegaskan bagaimana perasaannya seolah aku akan menyadarinya sendiri. Setelah enam tahun, untuk pertama-kalinya aku merasa bahwa aku sudah mati hari itu. Mati membeku di bawah tumpukan salju. Pernahkah Eomma bertanya apakah dia mengkhawatirkanku saat itu? Pernahkah Eomma berpikir jika pria itu tidak menemukanku, hari ini aku tidak akan berdiri dihadapan Eomma? Pria itu menyelamatkanku. Berulang-kali!”

Kyuhyun menarik nafas. “Aku tidak pernah meminta untuk jatuh hati padanya. Dia bahkan bukan pria yang ramah. Tapi berulang-kali, setiap aku mendapatkan kesulitan, dia selalu ada untuk membantuku. Dia berulang-kali yang datang mencariku dan menyelamatkanku. Pria itu menyelamatkan putra Eomma, tapi Eomma malah menuduhnya bahwa dia ingin memanfaatkanku? Tapi sebenarnya siapa yang memanfaatkanku selama ini?”

“Setiap orang bisa menyelamatkanmu, Kyuhyun. Tapi bukan berarti kau bisa jatuh hati padanya. Kau harus tahu batasan pada siapa kau jatuh hati. Eomma hanya berusaha menyelamatkanmu dari kegilaanmu itu, nak. Jika bukan Eomma, maka akan ada orang lain yang melakukannya.”

Kyuhyun terdiam. Ucapan ibunya ada benarnya. Bukan hanya orangtuanya yang berusaha menghentikan hubungannya, tapi begitu pula dengan ibu Siwon. Kyuhyun bukan bersikap acuh dengan semua hal yang menentang hubungan mereka, tapi ia tidak ingin kehidupannya dicampuri oleh orang lain yang merasa tahu segala hal. Bahkan jika hubungannya dengan Siwon tidak berjalan lancar, maka itulah resiko yang harus diterima oleh Kyuhyun. Sama halnya dengan resiko yang ia tanggung sendiri selama enam tahun mencintai Kang Haesa.

“Orang lain itu akan selalu ada. Tapi bukan berarti mereka berhak mengatur bagaimana aku menjalani kehidupanku. Termasuk Eomma dan Appa.”

“Kau adalah putra kami, Kyuhyun. Tentu kami berhak mengatur kehidupanmu. Nama baik keluarga kita tergantung pada bagaimana kau bersikap dihadapan publik. Jika mereka tahu mengetahui hubungan amoralmu itu… Bahkan saat kau memutuskan untuk menjalani hubungan menjijikkan itu, kau telah mencoreng nama baik serta nilai-nilai keluarga kita.”

“Lalu apa yang akan Eomma lakukan? Menyangkalku sebagai anak? Mencoret namaku dari keluarga Cho? Begitu?”

“Bahkan jika itu jalan terakhir yang harus Eomma ambil agar kau sadar atas perbuatanmu sendiri, maka Eomma tidak punya pilihan lain.” Kemudian sang ibu melangkah keluar dari kamar rawat tersebut.

“Eomma!” Ahra menatap ibunya dengan lekat ketika beliau hendak membuka pintu. “Eomma tidak akan melakukannya, bukan? Eomma tidak akan mengusir Kyuhyun, bukan?”

“Eomma tidak melakukannya, tapi adikmu –ah… dia bahkan bukan adikmu lagi, yang mengambil keputusannya sendiri, Ahra.” Sang ibu sedikit mendorong Ahra agar dia bisa membuka pintu lalu berjalan pergi.

Ahra menatap adiknya dengan tidak percaya. Kyuhyun sendiri terlihat tidak begitu peduli kalau hari ini ibunya telah menyangkal dirinya sebagai anak. Ahra lalu bergegas untuk mengejar ibunya. Tapi di luar kamar rawat, dia melihat sosok Siwon. Ahra yakin kalau pria itu mendengar semua perdebatan Kyuhyun dengan ibu mereka.

Ahra kini tidak bisa berpikir apakah hubungan ini layak untuk dilanjutkan. Siwon telah membuat Kyuhyun tidak dianggap sebagai anak oleh ibunya karena adiknya bersikeras untuk mempertahankan hubungan tersebut. Walaupun Ahra ingin sekali ikut berteriak pada Kyuhyun untuk berpikir secara rasional, tapi dia tidak ingin membuat Kyuhyun merasa keluarganya benar-benar telah meninggalkannya.

“Jaga dia untuk saat ini. Nanti kita bicara lagi, Choi Siwon-sshi.”

*****

Haneul mendesah ketika ia melihat Haesa berada di kamarnya ketika ia pulang. Sepertinya Haesa tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang ia inginkan. Tapi Haneul tidak bisa memberikannya begitu saja –apalagi dengan sangat mudah.

Haneul menutup pintu rapat lalu berjalan menuju tempat tidurnya dan menaruh tas ranselnya. Haesa yang duduk di kursi meja belajarnya memperhatikan Haneul dengan begitu seksama. Di wajahnya terulas sebuah senyuman. Hell, Haneul benci sekali dengan senyuman itu.

“Apa?!” tanyanya jengkel sembari melepaskan mantel.

Haesa mengangkat bahu. “Kupikir kau sudah berjanji padaku. Di rumah sakit. Mengenai kekasihmu.”

“Kenapa kau begitu penasaran dengan kekasihku, Kang Haesa? Bahkan jika aku mempunyai kekasih, untuk apa kukenalkan padamu? Kau mungkin akan menemuinya dan menakutinya,” ujar Haneul sembari duduk di tepi tempat tidur. Pandangannya terfokus pada Haesa.

“Kenapa kau penuh curiga denganku? Menakutinya? Untuk apa aku menakutinya? Lagipula apakah salah jika aku hanya ingin bertemu dengan kekasih saudara kembarku? Selain itu, aku hanya penasaran dengan pria yang bisa menaklukan hati seorang Kang Haneul –tentu saja selain Cho Kyuhyun.”

Haneul memijat keningnya. Oh, Haesa benar-benar membuatnya sakit kepala. “Kang Haesa, berhenti bertanya mengenai kekasihku. Eomma dan Appa bahkan masih canggung setelah aku coming out. Jika kau… Setidaknya berikan aku waktu.”

“Waktu?” Haesa mengernyit. “Hey, memangnya apa yang sedang kulakukan saat ini. Aku memberikan waktu padamu untuk mengenalkan kekasihmu padaku. Paling tidak, aku hanya ingin tahu namanya saja. Kalau mengenai pertemuan secara resmi, itu bisa dipikirkan nanti.”

Haneul menyipitkan matanya. Dia mendecih. “Jika aku memberitahu namanya, kau mungkin akan mencari tahu tentangnya. Semua hal mendetail tentang dirinya. Aku tidak akan percaya pada seorang pengacara seperti dirimu, Kang Haesa.”

“Kau menyakiti harga diriku sebagai seorang pengacara, saudaraku. Aku tidak pernah menyalahgunakan profesiku untuk kepentingan pribadi. Aku hanya ingin mengetahui namanya saja.”

“Aku tidak akan mudah terpengaruh dengan ucapan manis seorang pengacara. Aku tinggal dengan dua orang pengacara di rumah ini. Kau pikir aku ini begitu bodoh hingga mudah tertipu? Sudahlah, menyerah saja. Aku akan mengenalkanmu jika waktunya tepat.”

Haesa mengerucutkan bibirnya. Semua tipu muslihat serta ucapan manisnya tidak membuat Haneul menyerah dan memberitahu nama kekasihnya. “Kalau begitu ceritakan tentang kekasihmu. Aku tidak meminta namanya. Hanya ceritakan saja bagaimana orangnya. Aku hanya ingin saudaraku mendapatkan orang yang baik –well, bahkan walaupun dia adalah seorang pria.”

Haneul mendesah. Kemudian dia menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. Matanya memandang lurus ke atas langit-langit kamar. Menceritakan mengenai sosok Changwook? Itu tidak buruk, asalkan Haneul selalu waspada dengan pertanyaan menjebak yang diberikan oleh Haesa.

“Dia baik.”

Haesa mendengus. “Itu tidak membantu, Kang Haneul. Ceritakan lebih spesifik mengenai dirinya.”

“Well, dia seorang pria jika kau ingin spesifik.”

“Kang Haneul!”

“Apa? Itu memang benar. Dia seorang pria. Pria yang tampan.”

“Tch… Sepertinya ini pertama-kali aku mendengar kau memuji seorang pria.”

“Aku memuji Kyuhyun, dulu.”

“Dengan mengatakan kalau dia akan menjadi seorang pengacara yang akan mendapatkan kasus besar dan mendapatkan masalah karenanya?”

“Well, itu pujian. Pujian yang jujur dan kenyataannya memang seperti itu. Ingat, Seon Hwan?”

“Jangan bicarakan mengenai Seon Hwan lagi.”

“Kau yang memulainya, Haesa.”

“Ah, sudahlah. Untuk kali ini aku menyerah!!”

*****

“Yifan akan pulang besok?”

Ucapan ayahnya membuat Joonmyeon mengangkat kepalanya  sedikit dan menatap kedua orangtuanya. Kabar mengenai Yifan akan pulang sedikit mengejutkannya. Pasalnya Sara mengatakan kalau Yifan setidaknya berada di Kanada selama sepuluh hari. Tapi ini baru satu minggu. Bahkan kurang dari seminggu.

Joonmyeon menghela nafas dan kembali melahap makan malamnya. Toh, apa pun alasan Yifan mempercepat kunjungannya ke Kanada, bukanlah urusan Joonmyeon. Mungkin dia mempunyai alasan yang masuk akal. Joonmyeon kemudian menyimak percakapan kedua orangtuanya.

“Begitulah. Aku juga sedikit terkejut ketika dia menghubungiku tadi dan mengatakan bahwa dia baru saja membeli tiket pesawat untuk pulang,” tutur Sara.

Junhyeok menatap istrinya dengan lekat. “Apa dia katakan alasannya?”

“Dia tidak mengatakan alasan pastinya. Dia hanya bilang kalau seminggu lagi semester baru akan dimulai. Jadi, dia ingin pulang lebih cepat saja.”

“Begitu,” gumam Junhyeok yang kemudian melirik Joonmyeon hanya diam menyantap makan malamnya. “Joon…”

Joonmyeon mengangkat kepalanya. “Ya?”

“Tidak ada masalah dengan tutoringnya?”

Joonmyeon mengangguk. “Semuanya lancar. Walaupun aku masih butuh sedikit penyesuaian. Maksudku dengan semua tes yang diberikan, itu sedikit berbeda dengan selama ini kupelajari di sekolah.”

Sara tersenyum pada Joonmyeon. “Tidak apa-apa, sayang. Lakukan dengan perlahan. Ujian masih cukup lama. Kami tidak ingin membebanimu. Appa hanya sekadar bertanya saja.”

“Benar, Joon. Lakukan saja yang terbaik yang bisa kau lakukan. Perihal hasilnya, itu bisa dipikirkan nanti,” tutur Junhyeok.

Huh. Joonmyeon rasanya ingin tertawa. Ayahnya mengatakan kalau hasilnya tidak penting, padahal itulah yang menjadi tujuan akhir Joonmyeon. Kakeknya menaruh harapan besar padanya. Jadi, Joonmyeon tidak bisa bersikap santai atau menjalani tutoring itu dengan perlahan seperti yang dikatakan Sara dan Junhyeok. Itu terlihat sebagai ironi.

Tapi Joonmyeon hanya bisa mengangguk. Lalu ia menjadi kehilangan nafsu makannya. Maksud kedua orangtuanya mungkin baik, mereka ingin menyemangati Joonmyeon. Tapi cara mereka pilih untuk menyampaikannya malah membuat Joonmyeon kehilangan semangatnya. Kenyataan kalau apa yang ingin dicapainya sekarang adalah sebuah keinginan yang dipilihkan orang lain untuk hidupnya.

Bukan keputusannya sendiri.

Joonmyeon menatap mangkuk nasinya yang tersisa setengah. Dia lalu menaruh sumpit dan menatap Sara. “Aku sudah selesai,” ucapnya sembari tersenyum. “Aku akan kembali ke kamarku.”

Sara mengernyit. Dia melirik mangkuk nasi Joonmyeon. “Tapi makananmu belum habis, sayang.”

“Tapi aku sudah kenyang, Mom. Boleh aku ke kamarku sekarang?”

Sara memandang pada Junhyeok dengan sedikit khawatir. Nafsu makan Joonmyeon mungkin masih normal, tapi dia makan lebih sedikit dari yang seharusnya. Walaupun Sara sudah membujuknya makan lebih banyak dengan membuat beberapa menu kesukaannya, tapi nihil. Junhyeok pernah berkata kalau Joonmyeon mungkin merasa stress.

Junhyeok menarik nafas perlahan. “Naiklah, Joon.”

“Nanti Mom bawakan buah, ya.”

Joonmyeon tersenyum dan mengangguk. Lalu dia bergegas beranjak meninggalkan meja makan.

*****

“Katakan padaku apa yang terjadi di rumah sakit?!”

Hyukjae menatap Heechul lekat. Pria itu terlihat begitu marah. Entah karena hal apa. Ia melirik Donghae yang sedang merapikan bar tanpa melihat ke arah mereka berdua. “Kyuhyun tidak ingat apapun mengenai kejadian itu dan meminta polisi menghentikan kasusnya. Secara singkat itu yang terjadi.”

Heechul mengernyit. “Dia menghentikan kasusnya?”

“Kau bisa bertanya langsung padanya, hyung. Kyuhyun sudah kembali seperti ia yang biasanya. Tapi dia kehilangan ingatan mengenai kejadian penculikan itu dan beberapa hari setelah ia sadar karena episode berat yang dialaminya. Atau itulah penjelasan dari dokternya,” ucap Hyukjae sembari menatap gelas minumannya.

“Ya, mungkin. Sekaligus mempertanyakan di mana rasionalitasnya kini berada.”

Hyukjae melirik Heechul tak mengerti dengan yang diucapkannya. “Rasionalitas? Apa terjadi sesuatu lagi?”

“Kau tidak tahu? Bukankah kau pergi ke rumah sakit?” tanya Heechul.

“Aku pergi ke rumah sakit. Tapi itu pun hanya sebentar. Kami bicara mungkin sekitar satu jam, setelah itu aku pergi menemui Donghae. Ada apa?”

Heechul meraih gelas minuman Hyukjae dan meneguk habis. “Kyuhyun bertengkar dengan ibunya. Kali ini berakhir sangat buruk. Kyuhyun diusir dari keluarga Cho.”

Mata Hyukjae membulat ketika mendengar hal tersebut. Bahkan Donghae yang sedang sibuk dengan gelas-gelas yang dipersiapkannya, mendengar ucapan Heechul tersebut, langsung mendekat dan menatap Heechul dengan tidak percaya.

“Diusir?!” ucap Donghae berbisik.

Well, dia tidak ingin ada orang lain yang mendengarkan pembicaraan mereka. Walaupun Heechul dan Hyukjae sangat salah memilih tempat untuk bicara mengenai masalah Kyuhyun.

“Ye?!! Tapi kenapa?! Apa karena masalah hubungannya dengan pria itu?”

Heechul mendesah. Dia memberi isyarat pada bartender lainnya untuk mengisi gelas kosong. “Memang apa lagi. Aku tidak tahu bagaimana detailnya. Tapi Ahra mengatakan kalau perdebatan kali sangat buruk. Kyuhyun yang biasanya tidak membantah ibunya, benar-benar bersikap agresif. Ahra sempat mengatakan sesuatu mengenai tuduhan ibu mereka kalau pria itu memasukkan obat ke dalam tubuh Kyuhyun.”

Hyukjae mengernyit. Obat? Dia sama sekali tidak tahu mengenai hal itu. Kyuhyun –atau bahkan dokternya– tidak menceritakan mengenai sesuatu terkait obat. Saat pertemuan tadi pagi, baik Kyuhyun mau pun dokternya hanya mengatakan mengenai ingatan Kyuhyun yang hilang akibat dua episode parah.

“O-obat apa? Kyuhyun tidak cerita apa pun terkait obat itu.”

Alis Heechul terangkat. “Benarkah? Tch… Itu tidak mengejutkanku jika dia tidak mengatakan apa pun. Ahra mengatakan kalau dokter menemukan suatu obat dengan dosis tinggi dalam tubuhnya. Aku tidak ingat namanya, tapi efek sampingnya cukup bahaya. Kyuhyun akan mengalami halusinasi. Tapi yang paling parah adalah obat itu bisa menyebabkan gangguan pada livernya. Dokter sudah melakukan pembersihan terhadap tubuhnya.”

“Ta-tapi.. Bagaimana obat itu bisa masuk ke dalam tubuhnya?” tanya Donghae penasaran. “Bukankah selama dia tidak sadar, Kyuhyun berada di kamar isolasi yang bahkan tidak sembarang suster atau pun dokter bisa masuk. Tapi bagaimana obat itu bisa…”

“Seon Hwan,” ucap Hyukjae dengan yakin.

Heechul melipat kedua tangannya. “Aku tidak tahu seberapa besar masalah yang ditimbulkan sepupuku itu pada Seon Hwan. Tapi jika mereka bahkan bisa menyelinap masuk ke rumah sakit, Kyuhyun mungkin tidak akan pernah merasa aman di sisa hidupnya.”

“Tapi lalu bagaimana dengan Kyuhyun yang diusir itu?”

Heechul menoleh pada Donghae lalu mendesah. “Ibunya kembali meminta Kyuhyun untuk menghentikan hubungannya dengan pria itu. Tapi Kyuhyun bersikap defensive. Mungkin karena Bibi menuduh kekasihnya itu yang sengaja memberikan obat itu pada Kyuhyun lalu memanfaatkannya.  Kyuhyun memilih untuk mempertahankan hubungannya lalu sampai berakhir Kyuhyun diusir dari keluarga Cho. Aku tidak tahu apakah keluarga yang lain sudah mendengar hal ini. Tapi Bibi dan Paman sepertinya memang akan mengambil tindakan tegas.”

Perhatian Heechul kembali pada Hyukjae yang duduk di seberang meja bar. Dia tahu persis apa yang ada dalam pikiran sahabat sepupunya tersebut. Tapi Hyukjae tidak akan bisa melakukan banyak terkait masalah pribadi Kyuhyun. Bahkan Ahra sendiri pun tidak bisa ikut campur.

“Jika kau ingin pergi menemui Kyuhyun, sebaiknya dinginkan dulu kepalamu. Kondisi Kyuhyun saat ini tidak cukup baik untuk mendapatkan tekanan darimu, Hyukjae. Aku bahkan tidak tahu apakah kekasihnya bisa menanganinya saat ini,” tutur Heechul.

Hyukjae menatap Heechul sekilas. Lalu dia berdiri. “Aku akan pulang.”

Mungkin memang ada baiknya dia pulang dulu dan berpikir sebelum pergi menemui Kyuhyun lagi. Untuk hari ini, sepertinya Kyuhyun sudah mengalami hari yang begitu berat. Dia tidak ingin menambah beban pikiran sahabatnya tersebut.

“Hey, jangan menyetir! Panggil supir pengganti!” seru Donghae.

Hyukjae tersenyum  tipis pada Donghae. “Aku tidak bodoh, Hae. Selamat malam.”

*****

Ki Joon menatap gelas wine di tangannya. Punggungnya tersandar nyaman pada kursi empuk di bagian VIP di sebuah pesawat yang akan membawanya kembali ke London. Setelah semua hal yang terjadi selama dia tinggal di Seoul, akhirnya Ki Joon bisa meninggalkan negara tersebut. Sebuah senyuman tersungging pada wajahnya yang tampan. Ia begitu senang rencananya berjalan dengan mudah. Walaupun dampaknya tidak sebesar yang diharapkannya, namun dia begitu puas.

Dengan perlahan, dia menyesap wine tersebut dan kemudian menaruhnya di atas tray table. Tak lama seorang pramugari menghampirinya dan mengucapkan salam.  Sang pramugari menyiapkan sarapan mewah untuk sang CEO. Ki Joon menatapnya dan tersenyun, “Terima kasih,” ucapnya.

“Apa anda ingin minuman yang lain, Tuan?” tanya pramugari tersebut.

Ki Joon menatap gelas winenya. “Kurasa segelas air mineral.”

Pramugari tersebut lalu menyiapkan segelas air dan menaruhnya berdekatan dengan gelas wine. Ki Joon kembali mengucapkan terima kasih dan pramugari tersebut melanjutkan pekerjaannya.

Ki Joon menatap menu sarapannya. Walaupun bukanlah menu yang biasa ia nikmati, tapi pelayanan fasilitas yang diberikan oleh maskapai penerbangan cukup memuaskan seleranya. Kemudian Ki Joon mulai menikmati sarapannya.

Tapi, tak lama, pegawai kepercayaannya datang menghampirinya dan memberikan selembar kertas yang terlipat. Ki Joon menerimanya dan menyuruh pegawainya itu kembali ke tempat duduk. Pegawai tersebut sekilas menunduk lalu meninggalkan Ki Joon. Setelah meletakkan alat makan, Ki Joon meraih gelas air mineralnya dan meneguknya sedikit sebelum ia mengambil kertas tersebut dan membaca apa yang tertulis di sana.

Isi tulisan di kertas itu sangat singkat. ‘Paket telah di kirim dan di terima.’

Ki Joon tersenyum puas dan menyimpan kertas tersebut ke dalam saku pakaiannya. Lalu dia kembali melanjutkan menyantap sarapannya dengan tenang. Semuanya telah selesai. Sesuai dengan apa yang diinginkannya.

Dan kini, mereka tahu kalau mereka tidak bisa meremehkan seorang Uhm Ki Joon.

*****

Kyuhyun menatap ke luar jendela. Pagi ini, salju kembali turun. Tidak banyak, tapi langit terlihat begitu suram. Sama seperti dengan perasaannya. Setelah pertengkarannya kemarin dengan sang ibu, Ahra menghubunginya dan mengatakan dia akan berusaha membantu meyakinkan orangtua mereka. Kyuhyun hampir tertawa saat mendengarnya.

Memang apa lagi yang perlu diyakinkan Ahra pada orangtua mereka?

Meyakinkan kalau Kyuhyun akan meninggalkan Siwon dan menuruti permintaan orangtua mereka mengenai perjodohan? Atau meyakinkan orangtuanya agar tidak mengusir Kyuhyun dari rumah.

Jujur saja, Kyuhyun benar-benar tertawa miris dengan nasib buruk yang menimpanya dalam waktu satu bulan terakhir. Dia dikeluarkan dari firma hukum tempat bekerjanya selama enam tahun, mengalami penculikan dan mungkin ada rangkaian kejadian balas dendam Seon Hwan lainnya, dan kini dia diusir dari rumah. Orangtuanya tidak lagi mengakuinya sebagai anak.

Satu hal baik yang pernah terjadi mungkin adalah Choi Siwon. Tapi Kyuhyun tidak berani mengatakan apakah itu benar-benar hal baik atau sebaliknya.

Membicarakan Choi Siwon, Kyuhyun belum lagi bertemu ataupun bicara dengan pria itu. Setelah pertengkaran itu, Kyuhyun tidak keluar kamar rawatnya. Bahkan dia tidak ingin suster ataupun dokter menemuinya. Walaupun dia tidak bisa melakukannya. Suster dan dokter tetap bisa menemuinya untuk melakukan pemeriksaan setiap tiga jam sekali.

“Cho Kyuhyun-sshi, waktunya sarapan.”

Kyuhyun berbalik dan melihat seorang suster membawakan tray berisi sarapannya serta sebuah kotak hitam dengan pita merah terang. Kyuhyun mengernyit. Dia berjalan mendekati tempat tidurnya di mana suster itu meletakkan kotak tersebut.

Kyuhyun meraih kota itu dan memperhatikannya dengan lekat.

“Ah, semalam ada paket datang untukmu. Tapi karena anda sudah tidur, jadi kami memutuskan untuk membawanya pagi ini. Namun, tidak ada nama pengirimnya. Bahkan kurirnya pun tidak mengatakan apa pun.”

Kyuhyun menatap suster itu. “Tidak apa-apa. Terima kasih.”

Suster itu mengangguk. “Dokter Ahn akan datang memeriksa anda dalam waktu satu jam.”

Kyuhyun mengangguk kecil lalu suster itu meninggalkan kamarnya. Kyuhyun menghela nafas lalu duduk di tepi tempat tidur sembari memperhatikan kotak tersebut. Ia tidak tahu siapa yang mengirimkannya. Kemudian ia melepas pita merah itu dan membiarkannya jatuh ke lantai. Dengan sedikit ragu, Kyuhyun membuka kotak itu. Ia hanya berharap kalau isinya bukanlah sesuatu yang aneh atau berbahaya.

Namun, ketika kotak terbuka, mata Kyuhyun melebar penuh ketakutan. Dia kemudian melempar kotak itu ke lantai dengan kasar sehingga membuat isi kotak itu tercecer. Kyuhyun menatap semua lembaran foto itu dengan mata nanar. Itu adalah foto-foto dirinya dalam keadaan terikat di kursi –tidak sadarkan diri– dan dengan wajah penuh darah.

Kyuhyun tidak ingat pernah mengalami hal itu. Namun, semua cerita mengenai kondisinya saat ditemukan, Kyuhyun yakin bahwa itu adalah foto-foto ketika ia diculik. Tapi siapa yang mengirimnya ke rumah sakit? Mungkinkah para pelaku itu masih ada di Seoul dan mengawasinya saat ini? Itu adalah kemungkinan terbesar. Selain itu, obat dimenhydrinate dalam tubuhnya pasti perbuatan Seon Hwan juga.

Tiba-tiba, Kyuhyun seolah mendengar sesuatu yang begitu asing. Dia memperhatikan kamar rawatnya. Tidak ada sesuatu yang berbeda. Namun, Kyuhyun tetap mendengar suara-suara.

Mungkinkah ini hanya halusinasi saja? Dokter bahkan…

Kyuhyun kehilangan fokusnya ketika ia mendengar suara gebrakan kencang. Sekali lagi, Kyuhyun melihat ke arah pintu yang tertutup. Tidak terbuka. Perlahan, wajah Kyuhyun mulai pucat. Halusinasi suara itu semakin menganggunya. Kali ini Kyuhyun bahkan mendengar suara tawa. Begitu banyak orang yang tertawa. Kyuhyun menutup kedua telinganya dan memejamkan mata.

Ini adalah sensasi yang sama ketika episode traumanya muncul. Bahkan jauh lebih parah. Karena bukan hanya bagian belakang kepalanya yang mulai terasa sakit, tapi seluruh tubuhnya. Seolah ada puluhan orang yang memukulinya. Kyuhyun merintih kesakitan. Ia merasa ada beberapa bagian tubuhnya yang patah dan yang mengerikan adalah dorongan keras pada bagian dadanya hingga Kyuhyun mulai kesulitan bernafas.

Kyuhyun membuka matanya perlahan. Nafasnya sudah tersengal-sengal. Namun, dia kembali dikejutkan dengan perubahan kamar rawatnya yang begitu drastis. Kyuhyun melihat lantai kamar yang kotor dan banyak sekali sampah. Bahkan tempat tidurnya juga berbeda. Kyuhyun sontak berdiri dan dikejutkan oleh penampakan seseorang yang terikat di sebuah kursi dengan wajah penuh darah.

Itu adalah dirinya sendiri.

Sesaat itu, Kyuhyun merasa perutnya bergejolak padahal dia belum makan apa pun. Keringat dingin mulai keluar dari pori kulitnya. Wajahnya memucat seketika. Tubuhnya bergetar hebat. Kyuhyun merasakan sensasi terror yang begitu besar hingga dia tidak kuat menahannya. Kemudian dia bergegas meninggalkan kamar rawatnya tersebut. Membiarkan semua foto itu berserakan di lantai.

*****

“Dan kau tidak menemuinya?” tanya Yunho.

Siwon menggeleng. Dia menceritakan mengenai kejadian pertengkaran Kyuhyun dengan ibunya yang ia dengar langsung ketika Yunho dan Changmin datang. Siwon tahu kalau itu adalah masalah pribadi Kyuhyun sendiri dan dia tidak berhak menceritakannya pada orang lain, namun pertengkaran itu juga terkait dengannya.

Tapi jujur saja, kali ini Siwon tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Karena mempertahankan hubungan mereka, Kyuhyun harus menerima konsekuensi diusir oleh keluarganya sendiri. Siwon mungkin sudah memperkirakan hal terburuk atas penolakan hubungan mereka, tapi dia tidak menyangka kalau orangtua Kyuhyun bisa mengambil keputusan ekstrem seperti itu. Dan walaupun Ahra mengatakan sendiri kalau dia harus menjaga Kyuhyun, namun Siwon tidak mempunyai keberanian muncul dihadapan Kyuhyun setelah pertengkaran itu.

Ada banyak hal dalam pikirannya. Salah satunya, Kyuhyun mungkin akan menyalahkan dirinya atas pertengkaran itu.

“Yak!! Apa kau bodoh?! Dia baru saja bertengkar hebat dengan ibunya dan kau meninggalkannya seorang diri?!” seru Changmin.

“Bukan begitu maksudku, Min. Kyuhyun mungkin membutuhkan waktu untuk sendiri, lagipula aku tidak ingin menambah beban pikirannya lagi. Kondisi tubuhnya masih belum pulih sepenuhnya.”

Changmin mendengus mendengar alasan Siwon. “Choi Siwon, Cho Kyuhyun bukanlah seorang wanita yang sensitive. Dia itu pria. Kau tidak bisa memperlakukannya seakan dia begitu lemah. Setelah apa yang dialaminya karena Seon Hwan, aku begitu terkejut kalau dia tidak gila. Lalu apa kau pikir, hanya karena pertengkaran itu, dia akan berubah lemah? Dia mempertahankanmu, mempertahankan hubungan kalian dihadapan ibunya sendiri. Tapi kau malah membiarkannya sendirian setelah mengetahui hal itu?”

“Min…”

“Aku setuju dengan Changmin, Siwon.” Yunho kemudian menyela. “Kyuhyun, setelah apa yang terjadi menimpa padanya, aku benar-benar tidak percaya ada seseorang yang bisa bertahan dengan semua itu. Dokter mengatakan bahwa dia kemungkinan akan mengalami PTSD yang cukup parah, tapi melihat kondisinya sekarang kita tidak tahu apa yang benar-benar dirasakan oleh Kyuhyun. Terlebih setelah dia kehilangan ingatannya.”

“Changmin mungkin mengatakan bahwa Kyuhyun adalah sosok pria yang begitu kuat. Tapi aku selalu berpikir bahwa setiap manusia mempunyai sisi kelemahannya sendiri. Begitu pula dengan Kyuhyun. Namun, dia tidak selalu menunjukkannya pada semua orang. Kyuhyun mungkin akan membutuhkan ruang dan waktunya sendiri untuk berpikir atau sekedar menenangkan diri. Tapi, bukan berarti kau tidak bisa berada di sisinya ketika dia membutuhkan ruang dan waktunya tersebut. Kau bisa selalu menemaninya. Diam dan tidak mendesaknya untuk bicara. Biarkan dia sendiri yang menceritakannya padamu tanpa paksaan. Bahkan jika dia menyimpannya seumur hidupnya, biarkan saja. Kau mungkin tidak bisa memperlakukan kekasih priamu sama layaknya kau memperlakukan kekasih wanitamu, tapi seorang kekasih tetaplah membutuhkan perhatian dan tempat sandarannya –tempat di mana ada seseorang yang selalu ada untuknya dengan tangan terbuka,” lanjut Yunho.

Siwon terdiam. Begitu pula dengan Changmin. Yunho bukan tipe saudara yang sering memberikan nasihat tentang hal pribadi seperti ini. Bahkan jika Siwon atau Changmin memintanya sendiri. Namun, Yunho selalu mengatakan ucapan sesuai dengan apa yang pernah dialaminya. Yunho selalu dapat diandalkan bagi semua saudara-saudaranya.

“Jadi…” ucap Siwon. “Aku harus menemuinya?”

Yunho mengangguk. “Temui dia dan bicarakan hal-hal ringan tanpa perlu menyinggung soal pertengkarannya kemarin. Itu akan jauh lebih baik.”

Kemudian Siwon menarik nafas panjang dan turun dari tempat tidur. Ia memakai sweater tebalnya lalu berjalan menuju pintu. Namun, ketika ia membuka pintu, bersamaan saat Ahra datang dengan wajah khawatir.

“Ahra-sshi, ada apa?” tanya Siwon.

“Apa Kyuhyun di sini?”

Siwon menggeleng. “Ti-tidak. Kenapa? Apa yang terjadi?”

Ahra kemudian menyodorkan tumpukan foto yang ditemukannya di lantai kamar rawat Kyuhyun. Siwon mengambilnya dan begitu terkejut melihat foto-foto tersebut. Yunho dan Changmin menghampiri keduanya.

“Ada apa?” tanya Changmin.

Siwon menyodorkan foto-foto itu pada Changmin dan Yunho. Lalu dia kembali menatap Ahra. “Kyuhyun tidak ada di kamarnya?”

Ahra menggeleng. Wajahnya sudah pucat dan begitu khawatir. “Saat aku datang, pintu kamarnya sudah terbuka dan Kyuhyun tidak ada. Aku hanya melihat foto itu di lantai. Aku sudah memberitahu suster dan mereka sedang mencarinya. A-aku pikir Kyuhyun menemuimu.”

“Ini ketika penculikan itu, bukan?” ujar Changmin.

Siwon mengusap wajahnya frustasi. Oh, hell! Seon Hwan masih saja menganggu Kyuhyun. Kemudian Siwon berlari begitu saja. Yunho langsung mengejarnya. Diikuti oleh Changmin dan Ahra. Siwon berlari menuju stasiun suster di mana para suster yang berjaga terlihat begitu panik. Mungkin karena ini adalah kejadian pertama di mana pasien VIP bisa kabur dari lantai VIP tanpa ketahuan oleh suster yang berjaga. Entah bagaimana Kyuhyun bisa melakukannya. Dia bahkan dua kali kabur dari kamar rawatnya dengan mudah.

“Kyuhyun? Kalian sudah menemukannya?” tanya Siwon.

Salah satu suster menatap pada Siwon, lalu menggeleng. “Kami belum mendapat kabar. Team keamanan sedang mengecek rekaman CCTV.”

“Siwon-ah…” ucap Yunho yang menyusulnya. “Tenangkan dirimu. Kyuhyun tidak akan bisa pergi keluar dari rumah sakit.”

“Ta-tapi dia melakukannya lagi. Sebelumnya dia berhasil keluar dari kamar rawat isolasi tanpa sepengetahuan suster. Kali ini bahkan jauh lebih buruk. Kita tidak tahu apakah dia mengalami episode lainnya atau…” oh, Siwon tidak bisa melanjutkan.

Semua orang terlihat begitu tegang dan khawatir. Bahkan Ahra terlihat hampir ingin menangis. Setelah pertengkaran kemarin, Ahra berusaha untuk bicara dengan ibu mereka. Tapi tidak ada hasilnya. Dan ketika ia bicara dengan sang ayah pun juga tidak berkata banyak. Sang ayah setuju saja dengan keputusan ibu mereka mengenai Kyuhyun.

Yunho menarik nafas panjang. Dia melirik Changmin. “Haruskah…?”

Changmin menggeleng. “Sudah ada team keamanan rumah sakit yang mencarinya. Dia tidak akan bisa pergi jauh.”

Di tengah situasi penuh kekhawatiran tersebut, tiba-tiba terdengar suara dering telepon. Sontak perhatian mereka tertuju pada telepon tersebut. Salah satu suster mengangkatnya.

“Lantai VIP.”

“Kami menemukan pasien yang anda cari. Pasien tersebut terekam kamera memasuki tangga darurat menuju lantai atas. Kami sudah mengirim orang untuk menjemputnya.”

Suster tersebut terlihat begitu lega. “Baiklah, terima kasih.” Sang suster menutup telepon tersebut dan menatap keempat orang yang terlihat khawatir dan penasaran. “Pasien Cho sudah ditemukan. Beliau menaiki tangga darurat dan team keamanan sudah mengirim orangnya untuk menjemputnya.”

Lalu tanpa berpikir panjang, Siwon langsung mencari pintu menuju tangga darurat –bahkan sebelum suster itu selesai bicara. Ahra yang juga hendak ikut menyusul, tapi dapat dicegah oleh Yunho.

“Biarkan Siwon saja yang menjemputnya. Kita tunggu di kamarnya.”

Ahra hanya bisa mengangguk. Kemudian mereka bertiga kembali ke kamar rawat Kyuhyun, menunggu pemilik kamar tersebut kembali.

*****

Siwon menaiki tangga dengan melewati beberapa anak tangga sekaligus. Dia memulainya dari lantai delapan di mana lantai VIP berada dan terus naik ke atas. Tapi hingga dia melewati lantai duabelas, Siwon belum menemukan Kyuhyun. Tersisa dua lantai lagi sebelum pintu menuju atap gedung rumah sakit.

Walaupun ia sudah mulai kelelahan, Siwon tetap berusaha menaiki anak tangga dengan cepat. Dan ketika ia sampai di lantai empatbelas, pintu menuju atap terbuka. Dua orang petugas keamanan muncul dengan membawa Kyuhyun yang terlihat kedinginan. Siwon menghela nafas lega. Dia lalu menghampiri Kyuhyun dan memberikan sweaternya pada kekasihnya.

Kyuhyun menatap Siwon. Tubuhnya gemetaran karena udara dingin pagi ini. Bahkan kulitnya semakin terlihat memutih dan bibirnya membiru. “Siwon..” gumamnya.

Siwon tersenyum tipis sembari mengosok bahu Kyuhyun. “Tidak apa-apa,” ucapnya. Lalu ia memandang pada dua petugas keamanan yang berhasil menemukan Kyuhyun. “Terima kasih telah menemukannya. Sampai di sini biarkan aku yang membawanya kembali ke kamar rawatnya.”

Dua petugas itu hanya mengangguk kecil lalu meninggalkan mereka berdua. Tugas mereka hanya menemukan Kyuhyun dan mengantarnya kembali ke lantai VIP. Tapi jika Siwon ingin melakukannya, mereka juga tidak bisa melarang. Toh, lagipula mereka saling mengenal.

Setelah dua petugas itu pergi, Siwon lalu memeluk Kyuhyun dengan erat. Ia menggosok punggung Kyuhyun, berusaha memberikan kehangatan. Tubuh Kyuhyun masih terasa  dingin dan gemetaran hebat. Kyuhyun menenggelamkan wajahnya di leher Siwon yang terasa hangat.

“Siwon…”

“Shh! Kau tidak perlu mengatakannya sekarang,” ucapnya lalu melepaskan pelukannya tersebut. Kemudian Siwon meraih tangan Kyuhyun dan mengenggamnya erat. “Lebih baik kita kembali ke kamar rawatmu. Di sana lebih hangat.”

Tapi Kyuhyun menahannya dan menggeleng. “Tidak. Ja-jangan kamar itu.. Kumohon.”

Siwon memperhatikan Kyuhyun dengan lekat. Jelas sekali, Kyuhyun terlihat ketakutan. Ini pertama-kalinya. Mungkin ada kaitannya dengan foto-foto tersebut, walaupun Siwon masih belum yakin. Bukankah Kyuhyun kehilangan ingatannya, tapi kenapa foto-foto itu bisa menakutinya? Well, hanya Kyuhyun yang bisa menjelaskan apa yang dirasakannya saat melihat foto-foto tersebut. Atau mungkin dokter Seo yang akan memberikan penjelasan secara klinis mengenai kondisi yang dialami Kyuhyun.

Siwon menarik nafas perlahan lalu mengangguk. “Baiklah, kita ke kamar rawatku saja. Okay?”

Kyuhyun mengangguk kecil. Lalu mereka mulai menuruni anak tangga menuju lantai delapan. Walaupun sebenarnya akan jauh lebih cepat jika mereka menggunakan lift, tapi dengan kondisi Kyuhyun saat ini itu adalah ide buruk. Jadi, mereka akan menggunakan tangga darurat.

Selama mereka menuruni anak tangga satu per satu, Kyuhyun menggenggam erat Siwon bahkan terlalu erat seolah ia tidak ingin Siwon meninggalkannya. Ini begitu berbeda dengan sisi Kyuhyun yang pernah dilihatnya. Bahkan dalam kondisi episode traumanya, Kyuhyun tidak terlihat setakut ini. Siwon hanya bisa tersenyum pada Kyuhyun –mengatakan bahwa dia tidak perlu takut lagi karena Siwon tidak akan meninggalkannya.

Dan dari kejadian ini, Siwon semakin mantap untuk membawa Kyuhyun pergi dari Seoul. Jelas, Kyuhyun sudah tidak aman lagi. Berulang-kali Seon Hwan berhasil melakukan terror pada kekasihnya. Bahkan di rumah sakit pun dengan penjagaan yang cukup ketat. Selain itu, masalah Kyuhyun dengan orangtuanya pun menjadi salah satu alasan.

Siwon memang tidak ingin memisahkan Kyuhyun dari keluarganya sendiri, tapi jika orangtuanya terus menyakiti Kyuhyun seperti ini maka dia juga tidak tahan lagi. Alasan terbesarnya adalah Choi Yoojin. Siwon yakin, selain orangtua Kyuhyun, ibunya sendiri akan paling agresif untuk memisahkan mereka. Tapi Siwon tidak akan membiarkan hal itu. Terlebih dengan kondisi psikis Kyuhyun saat ini. Toh, lagipula tidak ada lagi yang bisa menahan Kyuhyun di Seoul. Dia bahkan tidak mempunyai pekerjaan lagi.

Siwon kemudian merangkul bahu Kyuhyun dan mencium kepalanya lembut. ‘Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi, Kyuhyun. Bahkan jika orang itu adalah keluarga kita sendiri. Aku berjanji padamu.’

*****

NOTE: Karena minggu kemarin gak update, jadi scarface ini sengaja dipanjangin. Totalnya kurang lebih 9k words. Mungkin karena aku sengaja memperpanjang biar cepet selesai dan fanfic lain bisa dilanjut.. hehehehe…

Yang masih ngarepin kalau Uhm Ki Joon bakal dapat balasan nya karena udah bikin Kyuhyun menderita, kayaknya harus gigit jari. Jujur dari awal, aku buat karakter Uhm Ki Joon ini benar-benar perfect villain. Walaupun udah ada kecurigaan kalau dia dalangnya, tapi karena gak ada bukti makanya gak ada yang bisa ngejatuhin si Uhm Ki Joon ini

Kalau ada yang protes, ya saya terima dengan lapang dada. Tapi maaf, udagh gak bisa diubah lagi alurnya. Termasuk soal Joonmyeon dan Yifan. Masalah mereka udah kelar, jadi muncul cuma dikit-dikit di part selanjutnya. Memang gak fair banget sih, tapi mo gimana kadang hidup itu memang tidak adil /sigh dipojokan…

Music: Lee Hi – Rose

 

Advertisements

31 thoughts on “[SF] Scarface Part 54

  1. Jadi uhm ki joon benar-benar lolos? oh ok, mau gimana lagi.

    Tapi, kyuhyun kapan dia bahagianya? kayanya cuma dia yang paling tersikasa di sini secara pisik maupun psikis.belum lagi tekanan dari orang tuanya yg rela mencoret dia dari daftar keluarga nanti ketamabah sama ibunya siwon lagi. rasanya memang gak adil buat kyuhyun.
    Aku setuju sama rencana siwon yg mau bawa pergi kyuhyun dari seoul. dan cuma siwon yg dia punya sekarang ini..

  2. Mantapppp ayoo siwon segera bawa pergi kyuhyun dr seoul,, kapan siwon sadar jika Um Ki Joon dalang dari balik semuanyaa, ampe stres baca mikirin kasusnya, tega banget ibunya kyuhyun sama putranya sendiri, ntr kalo siwon uda bawa kabur kyuhyun awas nyesel loh:D ♥♥♥♥♥

  3. hampir setiap hari ngecek blog buat liat ada update an ff ato enggak *tau kan berapa lamanya *plakk
    cukup terpuaskan lah sama update an scarface yg emg slalu ditunggu 😀
    ga yangka orang tua kyuhyun bakal seegois itu :3 choi yoojin sama aja -_-
    cuma berharap siwon bisa slalu disamping kyuhyun

  4. Baca footnote nya soal UKJ malah bikin ngedrop.. Lol… But it’s okay, kita mah apa kan cm reader.. kekuasaan ada diatas tangan author.. Mwuahahaha…
    Ditunggu lanjutan nya ya.. WonKyu nya dibanyakin lagi ya next part.. *_*

  5. Heoolllll!!! Cape bacanya tapi masih di baca… Kapan semuanya selesai? Kenapa kijoon gak bisa di tangkep… Kenapa harus ngegantung dgn dia gak ketangkep, sumpah serapah gak bisa ngehukum dia juga… Terus ini beneran Siwon mau bawa kabut Kyuhyun kalo iya aku setuju krn yah itu kijoon gak ke tangkep, artinya kondisi Kyuhyun gak akan aman dan kasusnya gak akan selesai sama kaya kasus2 di negeri ini… Indonesia banget… #plakk
    Moga ff inu cepet end deh, udah capek bacanya tapi masih mau dibaca… Tapi kalo end kan nnti ada cerita baru, walaupun ntar cape juga… Krn biasanya masalahnya berat… ㅋㅋㅋ
    Semangat!!!

  6. Ga tau harus comment apah, bener bener gemes segemesgemesnya ma cerita idupnya wonkyu jdiiiii aku nurut ajah deng, nangis nangissss denggggggggggg tawa tawa ajahhh deng mati matiiii dengggggg.. asal eonni tega ajahhh sih nyiksa kyu muluuuuu aku jdi sedihhh.. tpi dengan semua inih aku percaya bahwa hubungan kyu ama won bakalan makin kuat…. pleaseeeeeeeeeeee kakek dan appa siwonnn bantuuuyu merekaaaaaaaaaaaaaa

  7. Wow,,,aku ckup kaget jg pda akhirnya kyu melawan ibunya scara tegas,,dn dy di usir dr kluarga cho!! Jika ibu kyu bs bgtu lalu bagaimana dgn ibunya siwon????pasti ga akan lbh mudah dr ibu kyu!! Knpa ya uhm ki joon sasaranya slalu kyu????? Dn dy bnr2 meneror psikis kyu!!! Aku pikir kli ini kondisi kyu akan lbh buruk!!
    Good job!!

  8. aku disini greget banget sama Emaknya Kyuuu ><
    Emaknya Siwon ajah masih punya peri keibuan…hadeehhhh TT
    Semoga siwon benar benar bisa melindungi kyuhyun lagi. d tggu kelanjutannya ne!!! 🙂

  9. siwon aq stuju bnget sma ide kmu bwat bwa kyu prgi dri seoul,ksian bnget kyu prjuangannya bwat mertahanin hbungannya sma siwon kyaknya brat bnget mna skarang d usir orang tuanya,,
    orang tua kyu jg kras bnget dsini apalagi ibunya yg rel kyu claka asal kyu bsa berfikir rasional huh ibu mcam apa tuh,,,
    tp bca dri note nya kyaknya ff ni bkln end ya oenn,,pliss bkin wonkyu brsatu coz cbaanmerka bwat brsmakn brt bnget kn nyesek aja klo endingnya mrka hrus psah.
    d tunggu next chapnya sma klnjutan ff yg lainnya ,,,fighting,,,,,

  10. Kalau kijoon tidak tertangkap pun it’s okay..sbb itu hak author..
    Tp sy kasihan sama kyu yg sgt2 terseksa..kalau siwon mau bawak kyu pergi sy pun sokong sbb buat apa hidup di tmpt yg org tidak bleh menerima kita..lebih2 org tua sendiri..life must go on with or without family..as family, we should support each other & try to solve problem..not blaming others..
    This is my favorite ff..I’ve read it for 3 times from the very first chapter..I don’t know why?
    If kijoon free & survive, but please make wonkyu together holding hand with their love one..don’t brake them off..okay author? Peace..

  11. Jeongmal gumawo eonni..buat ff’y yg ttp menarik dan bikin sllu menanti buat update’y.
    Manut aj..sama alur yg eonni tentukan buat ff ini.Walau kadang suka gemes sendiri hehehe..
    WonKyu..walau sepertinya mmng akan makin sulit untuk hubungan mereka.Semoga mereka ttp terus berusaha mmpertahankannya.
    Saranghae…

    Fighting eonni….gumawo.

  12. seperti biasa,aku cm selalu bisa coment soal wonkyu,hihi
    hampir pengn nangis waktu kyuhyun belain siwon di depan mamahnya,betapa siwon udah berapa kali nyelametin nyawa kyuhyun,dan cm siwon yng selalu ada saat kyuhyun sedih,
    yaaa mudah2n siwon beneran bawa kyuhyun keluar seol,karna kyuhyun bisa terus2an di teror

  13. Kasian Kyu, padahal udah bagus Kyu hilang ingatan, eh mereka blom puas juga.
    Kayanya Wonkyu susah untuk bahagia, Kyuhyun udah diusir dari keluarga, kalo ditambah lagi dengan serangan ibu Siwon, lengkaplah sudah penederitaan Kyuhyun.
    Tapi semoga ada jalan untuk kebahagiaan Wonkyu.

  14. uhm ki joon,duh thu orang jahat ny udh gk bisa di ampuni,kasian kyu ny menderita trs,kpan pnderitaan ny berakhir,oh siwon bw kyu pergi j,lbh cepat lebih baik,next chap

  15. hidup itu tak adil??
    tapi Tuhan bisa menjadi adil bagi semuanya kan??
    hehehe…
    duuuh bahasanya berat, tidak di dunia dia bisa selamanya bahagia dan perfect vilain tapi kalo udah mati apa mau dikata kan??
    eaaa semoga sih pada saatnya seorang yang sempuran bisa jatuh juga..
    duuh kasian ih sama kyu, bener2 di uji banget dia disini dan saya setuju sama siwon yang mau bawa kyu pergi dari seoul…
    ayo bawa kyu deh dan memulai kehidupan baru disana toh pasti kake dan appa choi serta sepupu2 siwon dan juga kaka, sepupu dan temen kyu pasti bakalan membantu..
    kataku terlalu sayang jika mereka menyerah padahal mereka sudah sangat jauh melangkah..
    soalnya ibu2 mereka emang terlalu apa ya???
    menakutkan, padahal mereka adalah orang terpandang dan pastinya berpendidikan tapi kelakuan mereka terlalu frontal ala2 preman

  16. Agak kecewa sih kijoon lolos gitu aja dari jeratan polisi 😦 tapi biarkah di akhirat di bales sama Tuhan kkkk ><
    Pas baca chptr ini rasanya pgn nabok ibunya kyuhyun parah. Jahat banget sama anak sendiri. Tsk. Hatinya terbuat dari batu kali ya ga luluh sama sekali dgn keadaan kyuhyun yang sekarang. Udah lah kalo siwon sama kyuhyun udah bener2 sembuh mending siwon beneran bawa kyuhyun kabur aja dari pada tersiksa terus. Dan mungkin dgn kabur mrk akan hidup lebih bahagia tanpa kekangan org2 di sekitarnya… 😭😭😭

  17. Pdhal berharap banget ki joon di jotosin abis2an tapi yahh gimna lagii.. Authornya yg bikin jadi trserah authornya kan yak.. 😂😂😂😂
    Mmm… Btw kpan kyuhyun bilng Cinta ama siwon.. 😄😀😀😀 jawabanya senyum mulu klo siwon bilng cinta ke kyu hihihii..
    Cukup bikin kyu menderita thorr kasian diaa kapan bahagianyaaa.. Huwaaa hix hix hix.. Gak ibu sndri gak ibu siwon sama aja keras kepalanya…
    Setuju klo siwon bneran mau bawa kabur kyu.. Iyaa siwon bawa yang jauh dan hiduplah bahagia berdua.. Jngan biarkan kyu sakit lagi nangis lagi nee… 😝😝😝
    Gomawo updtanya thor hwaiting..!!!!! 😙😙😝

  18. Kasihan bgt kyukyunya.. ini yg terakhir kan ki joon nyelakain kyuhyun? Huhuhu
    itu ibu2 rempong juga gak ngalah2 lagi.. huufftt
    untung siwon selalu disampingnya jadi pelindung tanpa sayap.. elaaahhh kkkkk
    Keluar dari seoul aja atau mungkin ke luar negeri sekalian biar lebih aman dan wonkyu bisa berduaan disana.. hehe

  19. uhn ki joon benar” jadi orang kok jahat banget sich…
    padahal kyu udah taruma dan belum pulih..
    malah ditambahin dengan hal yg membuat traumanya kambuh lagi…
    semoga kejahatannya akan segera terbongkar…

  20. emg sih yaa Ki Joon ga ada yg bisa ngalahin dia, kecuali emg ada bukti nya.
    duh greget bgt sma nih Ajussi :3
    kok aku suka bgt yaa sma interaksi Haesa – Haneul? Haesa kepo bgt sma siapa pacarnya Haneul, pdhal udh ktemu wkwk
    sedih sih Kyu smpe diusir sma keluarga nya, ga punya hati bgt ih /plakk
    makin kasian sma Kyu, dia slama ini udh menderita dan ga ada yg ngrti prasaan dia, kcuali Siwon.
    ya udh gih Siwon bawa aja Kyuhyun nya ke Negara lain dripada Kyu menderita trs u,u
    apa nnti Kyu bakal ingat lg ingatan nya saat Kyu liat foto2 yg dikirim Ki Joon itu? smoga aja sih.. kan biar masalahnya kelar /eh
    yaa trserah lah Ki Joon nya mau digimanain, tpi yg psti pliss jgn nyakitin Kyuhyun lg ><

  21. Really cannot catch kijoon? Maybe they can find sth from the photo….never though that kyuhyun mom will go this far…..how about siwon mom???siwon should bring kyuhyun away from Seoul let him have a peaceful life…..reading ur note seen to be almost end?? Pls let Kyuhyun and siwon together….they been through a lot….waiting for ur update….see you soon

  22. Selalu nunggu update an cerita ini, karena selalu seru. Mudah2an siwon dan kyuhyun berakhir happy ending. Mereka bisa kabur dari Seoul.
    Semoga ki joon nggak nyelakain kyuhyun lagi..

  23. Setuju sama siwon deh.. Mending bawa kyuhyun menjauh dulu dari semua orang
    Kasian dia kena terror mulu dari kemaren TT

    Itu buat uhm ki joon emang bener bener ga bisa dikalahkan ya? Sadis loh udah nyiksa orang sampe begitunya tapi masih bisa lolos dari semua bukti kejahatan duh duh duh………….

  24. Pengennya si UKJ dihukum mati tapi apa daya, saya cuma bisa baca, author yang menentukan 😢
    Kasihan banget kyu..hidupnya cuma mendapat penderitaan(kecuali mendapatkan siwon tentunya)…apa author nggak kasihan sama kyu???
    Semoga siwon benar2 bawa kyu pergi…biar nggak ada yang menyakitinya dan bisa merasakan bahagia bersama siwon…
    Kelihatannya ni ff masih panjang..sepanjang penderitaan kyu..😂

  25. Bener siwon harus bawa kyu keluar dari seoul dan menghilang agar tidak di ganggu sama uhm ki joom lagi.
    Kasian banget kyunya. Tp siwon bisa jadi sosok kekasih yang selalu melindungi kyu hehehe…
    Mantapppp makasi kak diera

  26. wah ceritanya panjang saya suka bgt deh
    saya juga setuju klu siwon mau bawa kyu ke luar negeri karna klu tetap di seoul kyu akan tambah drop karna di teror terus sama ki joon itu
    yah saya juga terima aja deh klu ki joon gak di masukkan penjara ya walaupun agak berat menerimanya sih
    saya cuma bisa blg semangat terus buat eonni dan terus kan buat ff wonkyu yg banyak ..:)

  27. Aq termasuk yg kecewa berat jg karna ki joon gk tersentuh hukum tpi mau gimana lg lawong ceritanya harus, tpi tetep aja berharap siwon tau musuh sbenarnya
    Kak… jngn lama2 bwt kyukyu menderita bet kyu bahagia jg,aq jga setuju klau siwon mau bawa kyu pergi jauh dari orang2 yg akan menyakitinya, semangat wonkyu end trimakasih..

  28. Belum baca aja aku udah ngerasa ini bakalan sweet bgt untuk wonkyu. N bnr juga. Walopun ga yg romantis2 gimanaaa gitu tapi ini malah berkesan buatku. Dimana ada perhatian2 kecil untuk kyu n siwon dri masing2 pihak saling menemani. Dan setuju dah ama yunho. Cukup siwonnya diam aja kayak patung yang penting selalu ada disamping kyu bakal buat sng bgt dah. Untuk kyu dgn klrganya bnr2 miris. Tapi ga bisa nyalahin sang oemma jg dah. Secara tiap ibu pengen anaknya bener

  29. gag nyangka ibu kyuhyun segitunya,,,padahal kyuhyun anak kesayangan mereka.
    dan siwon, kenapa kamu pasif banget sih,,lakuin sesuatu kek saat kyuhyun berantem sama ibunya,,,demi kamu lohhh.
    setuju klo kyu mau d bawa pergi keluar seoul…masi ada ancaman dari ibu siwon yang kejam

  30. Trnyata eomma kyuhyun jauh lbh parah dr eomma siwon, dia sampai mencoret kyuhyun dr keluarganya. Begitupun dg appanya, smga siwon bs selalu melindungi kyuhyun dg segala mslh yg diterimanya. Dan pa stlh kejadian tu kyuhyun akan mulai mengingat kembali??
    Apa bs siwon membawa pergi kyuhyun dr seoul sedangkan dia msh punya tanggung jwb utk choi grup. Kalau siwon mengabaikan choi grup pasti kakek choi tdk akan membiarkannya
    Huuhh….uhm ki joon pngen jitak ja tuh orang, suatu saat pasti dia akan mendapat ganjaran dr prbuatannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s