[MM] The Last King Part 17

gyeongbok palace

17

Upacara pemakaman Haena berjalan singkat. Protokol dilakukan seminimum mungkin karena permintaan kedua orangtuanya. Hanya sekitar duapuluhlima menit, pemakaman selesai. Ini adalah pemakaman tercepat yang pernah dihadiri oleh Siwon. Bahkan ketika di Amerika pun, ketika ada salah satu agen yang meninggal dalam misi, upacara pemakamannya tidak sesederhana ini.

Tidak ada kata perpisahan baik dari pihak keluarga atau bahkan pernyataan singkat dari Kepengawalan Negara. Bahkan peletakan batu nisan pun hanya dilakukan sebagai formalitas semata. Kedua orangtua Haena menginginkan jasad Haena dikremasi. Namun, karena tradisi dari Kepengawalan Negara, setiap anggota yang tewas akan dimakamankan pada area pemakaman khusus, jadi mereka harus melakukan beberapa perubahan. Batu nisan Haena hanya simbolis. Sedangkan abu Haena nantinya akan disebar di laut.

Siwon memandang lekat pada batu nisan tersebut. Rasanya dia tidak percaya kalau gadis yang ditemuinya beberapa bulan lalu kini sudah tiada. Gadis yang terlihat begitu ceria dan selalu mengedepankan professionalitas pekerjaannya telah mengorbankan nyawanya sendiri untuk melindungi orang terpenting di negara ini. Gadis itu terlalu muda. Dia seharusnya masih mempunyai waktu yang panjang untuk menikmati hidup.

Tapi kini, gadis itu telah tiada.

“Siwon..” Seunghoon menyentuh bahunya.

Siwon sedikit mendongak untuk menatap kakakanya yang berdiri di belakang kursi rodanya. Dokter memberikannya ijin untuk keluar menghadiri pemakaman, walaupun sedikit terpaksa karena Siwon yang keras kepala. Siwon tidak ingin melewatkan upacara pemakaman untuk Haena. Gadis itu telah menggantikan posisinya untuk melindungi Kyuhyun.

“Kita harus kembali ke rumah sakit,” ucap Seunghoon.

Siwon melirik ke arah kedua orangtua Haena yang sedang berbicara dengan Kepala Park. Ia juga melihat sosok Seungho dan beberapa Pengawal Negara lainnya yang ia kenal. Beberapa staff kepresidenan dan staff dari Dewan Kerajaan juga datang. Tapi Presiden Lee atau pun Jonghyun dan Donghae tidak datang ke upacara pemakaman. Hal itu pun terkait dengan situasi keamanan saat ini. Siwon mendengar kalau Kyuhyun juga masih di rumah sakit.

Entah bagaimana kondisi pemuda itu saat ini. Kakaknya tidak mengatakan banyak mengenai perkembangan kondisi Kyuhyun. Ia hanya mengatakan kalau dokter menyarankan Kyuhyun untuk banyak beristirahat. Tidak ada hal lainnya.

“Siwon…?”

Siwon tersadar. “Ketika kita kembali ke rumah sakit, aku ingin menemui Kyuhyun.”

“Aku tidak tahu. Kau perlu meminta ijin dokter terlebih dahulu. Aku sudah memberitahumu kalau Pangeran butuh istirahat,” ujar Seunghoon yang kemudian mendorong kursi roda Siwon meninggalkan area upacara pemakaman.

Siwon menarik nafas. Dia bahkan tidak sempat menyapa Seungho. “Aku tahu. Tapi aku perlu melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dia masih tanggung-jawabku, hyung. Terlebih setelah apa yang terjadi pada Haena.”

Seunghoon terdiam sejenak. Dia masih mendorong kursi roda Siwon menuju pintu keluar pemakaman ke arah parkiran. Seunghoon belum memberitahu tentang kondisi Kyuhyun setelah ia mendengar kabar kematian Haena. Dokter mengatakan agar Kyuhyun diawasi dengan ketat. Shock yang dialaminya bisa lebih parah dari apa yang terlihat.

Kondisi Siwon juga masih belum stabil. Tapi jika Seunghoon menahan Siwon untuk bertemu dengan Kyuhyun, adiknya pasti akan berbuat nekat nantinya. Kemudian ia menghela nafas panjang.

“Kita bicara dulu dengan dokternya, Siwon. Jika dokter memberikan ijin, maka kau mungkin bisa bertemu dengan Pangeran.”

*****

Jaeshin menemukan Jonghyun sedang duduk di sebuah ruangan yang ia ketahui sebagai Crown Chamber. Pihak Kepengawalan Negara belum bisa menemukan lokasi yang aman untuk tempat tinggal sementara bagi Jaeshin, jadi ia akan tinggal di paviliun Cheongwadae bersama dengan Jonghyun dan Donghae. Untuk saat ini, satu-satu tempat yang aman adalah Cheongwadae. Walaupun sebenarnya Jaeshin tidak boleh sembarangan berkeliaran sendiri di area Cheongwadae. Ada beberapa ruangan yang ia diberitahu untuk tidak dimasuki sesuka hati. Namun, Crown Chamber tidak termasuk dalam larangan tersebut.

“Jadi, ini adalah asal usulmu?” tanya Jaeshin sembari duduk di samping Jonghyun.

Pemuda itu melirik temannya. “Maksudmu?”

“Ruangan ini adalah asal usulmu, bukan? Dan juga asal usul Kyuhyun. Kalian adalah penerus kerajaan korea terdahulu. Kalian bagian dari sejarah yang hilang karena perubahan waktu,” tutur Jaeshin.

Jonghyun menatap lukisan Pangeran Gyungho. Sejarah yang hilang. Sepertinya itu adalah ungkapan yang paling tepat. Kehidupan mereka tidak pernah tercatat secara resmi dalam arsip negara. Bahkan identitas mereka saat ini pun hanyalah sebagai identitas buatan. Lee Jonghyun dan Cho Kyuhyun.

Sebenarnya mereka itu siapa? Siapa diantara mereka adalah Lee Hyun? Lalu yang lainnya diantara mereka itu siapa?

Ada begitu banyak pertanyaan misteri yag sulit terungkap. Mereka tidak mempunyai saksi hidup atas kehidupan mereka sebelumnya. Bahkan rasanya semua staff kepresidenan pun akan kesulitan menjawab pertanyaan itu.

“Jonghyun…?”

“Jae, sebenarnya siapa dirimu? Apa kau tahu siapa dirimu yang sebenarnya?”

Jaeshin terdiam. Dia menatap Jonghyun yang hanya memandangi sebuah lukisan potret seorang pangeran yang wajahnya terlihat mirip dengan Jonghyun dan Kyuhyun. Jaeshin berpendapat mungkin itu adalah akar asal usul Jonghyun dan Kyuhyun.

Kemudian Jonghyun menoleh pada Jaeshin. “Siapa dirimu, Jaeshin?” tanyanya lagi.

“Aku adalah diriku sendiri. Kang Jaeshin. Nama itu adalah pemberian kedua orangtua angkatku, tapi itu adalah identitasku selama duapuluhtahun. Walaupun dengan semua kenyataan yang kuterima mengenai orangtuaku, tapi itu tidak akan merubah diriku, Jonghyun. Aku tetaplah seorang Kang Jaeshin, mahasiswa duapuluhtiga tahun jurusan Seni dan Musik. Sahabat Lee Jonghyun dan Choi Minho. Anak angkat dari Kang Heejun dan Han Junghee. Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri? Siapa dirimu yang sebenarnya?”

Jonghyun memandang sahabatnya dengan lekat. Kemudian ia tersenyum tipis. “Namaku Lee Jonghyun, putra angkat Moon Jeonghyuk dan saudara Cho Kyuhyun.”

Jaeshin ikut tersenyum mendengarnya. Tapi ia mengernyitkan kening. “Hanya itu saja? Tidak ada bagian kerajaan yang ingin kau tambahkan?”

“Apa kau berpikir bahwa identitas kerajaan itu cocok untukku?” tukas Jonghyun.

Jaeshin tertawa kecil. “Tidak. Sama sekali tidak cocok. Kalau Kyuhyun, mungkin masih bisa kupertimbangkan. Tapi dirimu..? Itu jauh sekali.”

Jonghyun ikut tertawa. Dia kembali melirik lukisan potret Pangeran Gyungho.

Sepertinya memang bukan aku orangnya.

*****

Kyuhyun menatap ke arah luar jendela kamar rawatnya. Langit terlihat cerah walaupun suhu masih cukup dingin. Ia menghela nafas pendek sembari memeluk kedua kakinya yang ditutupi selimut tebal. Kyuhyun memperhatikan selang infus yang masih terpasang di tangan kirinya.

“Kau baik-baik saja, Kyuhyun?”

Kyuhyun melirik Jeongsuk yang pagi ini datang untuk menemaninya. Ia menggumam pelan lalu kembali menatap ke arah luar jendela. Jeongsuk masih memperhatikan Kyuhyun lalu ia menutup dokumen yang sedang diperiksanya, kemudian menghampiri tempat tidur Kyuhyun.

Jeongsuk duduk di sisi tempat tidur. “Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Tidak ada.”

“Kyuhyun…”

Kyuhyun menghela nafas berat. Ia tahu kalau akan sulit untuk berbohong pada Appanya. Ia menatap Jeongsuk dengan lekat. “Aku hanya berpikir apa semua ini sepadan.”

“Sepadan? Apa maksudmu, Kyuhyun?”

“Kematian Haena, semua masalah yang dihadapi Cheongwadae, Choi Siwon terluka. Apa semua ini sepadan dengan Pendirian Kerajaan? Kerajaan telah lama menghilang lebih dari enampuluh tahun. Semua orang bahkan sudah terbiasa dengan hidup dengan pemerintahan saat ini. Lalu kenapa harus diubah lagi? Pendirian Kerajaan bahkan terdengar sebagai ide egois tanpa memikirkan dampak negatifnya.”

Jeonghyuk terdiam mendengarkan perkataan Kyuhyun. Sepertinya ia begitu terpukul dengan semua rangkaian kejadian berkaitan rencana dari Hyde. Kemudian Jeonghyuk duduk di tepi tempat tidur, disamping Kyuhyun yang masih memperhatikan pemandangan di luar jendela. Perlahan ia menarik nafas.

“Pendirian Kerajaan mungkin memang terdengar ide yang egois, tapi kita tidak bisa melupakan bahwa itu adalah akar asal-usul kita, Kyuhyun. Kehidupan yang kita jalani saat ini adalah hasil perjalanan sejarah kerajaan. Cara hidup, moral bangsa, pengetahuan, budaya yang kita punya saat ini adalah hasil pemikiran para leluhur kita. Mungkin saat ini, tanpa kerajaan pun, kehidupan kita berjalan baik-baik saja. Kita mungkin melestarikan bangunan peninggalan kerajaan, membuka museum-museum, menjaga budaya, tapi apakah itu cukup sebagai rasa terima-kasih kita pada kerajaan? Paling tidak, dengan menyatukan anggota kerajaan yang terpecah adalah cara salah satu dari sekian banyak cara untuk berterima-kasih. Mempertemukanmu dengan keluargamu yang sesungguhnya adalah cara terima-kasih Appa,” tutur Jeonghyuk.

“Bagaimana dengan resikonya? Mendirikan kerajaan dan menggantikan sistem pemerintahaan yang sudah berjalan lebih dari enampuluh tahun? Di korea ada limapuluh juta orang lebih dan aku yakin tidak semua dari mereka akan menyukai ide itu. Negara akan mengalami konflik internal. Yang paling buruk adalah percobaan kudeta terhadap pemerintahan! Appa tidak pernah….” Ucapan Kyuhyun terhenti. Oh, dia tidak menyadari hal itu sebelumnya. Kenapa dia begitu bodoh?

Jeonghyuk menatap Kyuhyun dengan lekat. Keningnya sedikit berkerut. “Apa yang kau pikirkan, Kyuhyun?

Kemudian Kyuhyun mendengus pelan. “Kudeta terhadap pemerintah. Kurasa itu adalah motif utama Hyde. Kurasa selain Tuan Kang, masih ada orang-orang Hyde dalam pemerintahan. Ini hanya sebuah permulaan.”

Mata Jeonghyuk membulat.

*****

Byunghee sedang merapikan kopernya ketika Henry memasuki kamarnya. Dia melirik pada pamannya lalu memasukkan beberapa baju lainnya ke dalam koper hitamnya. Karena situasi yang sedikit di luar perkiraan, Henry menyuruhnya untuk kembali ke Swiss sebelum Kepengawalan Negara mulai melacak keterlibatan Byunghee.

“Kenapa?”

Henry menyodorkan tiket pesawat untuk Byunghee yang baru saja sampai. “Tiket pesawatmu. Penerbangan sore ini.”

Byunghee berbalik lalu menghampiri Henry yang bersandar di pintu. Ia mengambil tiket pesawat itu dan mengeceknya. Kelas bisnis. Well, tidak terlalu buruk. “Lalu bagaimana dengan kampus? Aku bahkan baru pindah beberapa minggu lalu.”

“Jangan khawatir. Paman yang akan mengurusnya. Paling tidak jika kau berada di Swiss, mereka tidak bisa menyentuhmu,” ucap Henry.

“Lalu apa yang akan Paman lakukan selanjutnya? Kyuhyun itu cukup pintar. Jika Jonghyun, mungkin dia hanya akan memberitahu orang-orang Cheongwadae tapi mereka masih memerlukan waktu untuk bisa menebaknya. Sangat berbeda dengan Kyuhyun yang terbiasa berpikir kritis. Aku tidak akan heran jika dia sudah mengetahui motif Paman sekarang.”

Henry tersenyum. “Itu memang alasannya. Karena Kyuhyun sangat pintar, dibandingkan harus bicara dengan Jonghyun, akan jauh lebih mudah jika kita bicara langsung dengan Kyuhyun. Sikap kritisnya akan membuatnya mencari jawaban. Dia mungkin akan meminta penjelasan dengan orang-orang di Cheongwadae. Tapi politik akan menjadi penghalang terbesarnya. Dan Paman yakin, Kyuhyun tidak akan berhenti untuk mencari jawaban. Itu akan memunculkan masalah tersendiri di Cheongwadae. Ini bahkan hampir mirip dengan kejadian lebih dari enampuluh tahun lalu. Itu akan lebih memudahkan rencana Paman.”

Byunghee menatap Henry dengan serius. Paman tirinya itu terlihat begitu optimis dengan segala rencananya. Bukan maksud Byunghee meremehkan, tapi terkadang ada banyak hal yang terjadi diluar perkiraan. Tapi Henry terlihat yakin pada setiap langkah rencana yang dijalaninya. Termasuk menculik Kyuhyun dan memberitahunya tentang sejarah mengenai pemberontakan di Kerajaan puluhan tahun lalu.

Byunghee tidak tahu apakah pemberontakan itu benar terjadi atau tidak, karena Henry tidak pernah menceritakan begitu detail. Bahkan untuk rencananya kali ini, Byunghee masih tidak yakin sebenarnya apa tujuan akhir yang diinginkan oleh Henry. Rencana Pendirian Kerajaan dihentikan mungkin adalah tujuan yang realitis, tapi jika dilihat dari semua rencana yang sudah dijalankan Byunghee yakin ada sebuah tujuan yang sangat besar yang ingin dicapai oleh Henry.

Tapi saat ini, bukan itu yang harus dipikirkan oleh Byunghee. Dia harus keluar dari Korea sebelum keterlibatannya terlacak oleh Cheongwadae dan dia akan mengalami kesulitan untuk pergi.

Byunghee kemudian mengangkat bahunya. Lalu dia kembali menyelesaikan mengepak. Tiket pesawatnya diletakkan begitu saja di atas meja. “Lalu bagaimana denganku selanjutnya? Jika rencana Paman berhasil atau jika rencana Paman gagal?”

“Kau harus tetap di Swiss. Baik berhasil atau gagal.”

Byunghee mendengus. Ia menutup kopernya lalu kembali menatap pamannya. “Kenapa?”

“Situasinya tidak akan baik bahkan jika rencanaku berhasil. Paman sudah berjanji pada orangtuamu untuk menjagamu. Jadi, sampai semua situasi ini cukup aman bagimu, maka kau boleh kembali ke Seoul.”

Byunghee memandang lama pada Henry. Ini memang yang biasa dilakukan oleh pamannya. Selalu menjauhkan dirinya dari masalah. Tapi terkadang Henry bersikap terlalu egois padanya. Kemudian ia menurunkan koper dari tempat tidurnya lalu meraih tiket pesawatnya dan menyimpannya di dalam buku paspornya agar tidak hilang.

“Terserahlah. Mungkin aku akan tetap di Swiss setelah semua ini selesai. Sudah?”

Henry mengangguk.

*****

Kim Dongwan memijat keningnya dengan keras. “Apa kau yakin?”

“Tidak seratus persen, tapi itu adalah kemungkinan terbesar. Kita perlu melakukan penyelidikan lebih lanjut. Kang Heejun mungkin tidak akan mengatakan apapun mengenai hal ini. Hyde bukanlah organisasi yang bisa kita remehkan.”

“Ada ratusan orang di pemerintahan, kita tidak mungkin melakukan penyelidikan latar belakang satu per satu pada merek,” ucap Dongwan sembari mengambil tas kerjanya. “Tapi kita akan pikirkan cara lain. Kita bertemu di Cheongwadae? Kurasa Presiden Lee juga harus mengetahui tentang hal ini.”

“Baiklah. Aku dalam perjalanan dari rumah sakit.”

Dongwan berjalan keluar dari ruang kerjanya dan menghampiri salah satu meja pegawainya. “Lakukan penjadwalan ulang untuk semua kegiatanku selama satu minggu. Okay?”

Pegawai tersebut mengangguk lalu Dongwan kembali fokus pada pembicaraannya dengan Jeonghyuk sembari dia menuju lift. “Bagaimana dengan keadaannya saat ini?”

“Tidak cukup buruk. Tapi sepertinya dia mulai berubah pikiran tentang rencana pendirian kerajaan tersebut. Dia bertanya padaku apakah semua ini sepadan.”

Dongwan mengernyit. Kyuhyun adalah pemuda yang optimis, dia bahkan bisa melihatnya dari cara pemuda itu bicara. Walaupun dia tidak sering bertemu dengan ketiga pangeran, tapi hanya mendengar cerita tentang mereka dari Jeonghyuk, Dongwan tahu kalau Kyuhyun bisa menjadi seorang negarawan yang hebat. Mungkin sedikit berbeda dengan Jonghyun yang lebih tertarik pada dunia music dibandingkan perpolitikan semacam ini.

“Apa kau pikir karena kejadian kemarin? Sebelumnya dia mengatakan bahwa seorang pria menjelaskan tentang sejarah negara yang berbeda dari apa yang tertulis di arsip nasional, bukan? Apa kau pikir, dia…”

“Entahlah. Kyuhyun selalu berpikir dengan logika dan rasional. Semua pemikirannya tentang pendirian kerajaan mungkin karena terkait dengan asal usulnya, namun kini setelah penculikan itu dia mulai menyadari resiko besar. Kyuhyun mungkin berpikir dibandingkan membahayakan pemerintah dan masyarakat luas, pendirian kerajaan sebaiknya dihentikan. Itu masih pemikiran rasionalnya yang bicara.”

Dongwan menghela nafas pendek. Lift terbuka di lantai basement parkir. Dia berjalan keluar dan menuju mobil hitamnya. “Kurasa itu memang masuk akal. Dia mungkin merasakan beban yang sangat besar. Baiklah, kita lanjutkan pembicaraan ini nanti saat kita bertemu di Cheongwadae.”

“Okay, baiklah.”

Dongwan memutuskan sambungan telepon dan memasukkan ponselnya ke dalam saku dalam jas hitamnya. Dia lalu membuka pintu mobil dan menaruh tas kerjanya di kursi penumpang. Setelah memakai sabuk pengaman dan menyalakan mesin, Dongwan melajukan mobilnya menuju Cheongwadae.

*****

Donghae menghela nafas panjang. Dia merasa bosan. Tidak ada yang bisa dilakukannya di Cheongwadae ini. Jika dia masih berada di paviliun, mungkin Donghae bisa berkeliling. Tapi Cheongwadae memiliki aturan yang lebih ketat dibandingkan paviliun. Tidak semua orang bisa datang ke Cheongwadae ini, bahkan sebenarnya ia dan Jonghyun juga tidak diperbolehkan berada di Cheongwadae.

Donghae melirik Seungho yang berjaga dekat pintu. “Seungho-ya…”

Seungho menoleh. “Ya, Pangeran?”

“Kau tidak merasa bosan?”

Seungho menggeleng. Donghae mendengus dan kembali menatap layar televisi –ia bahkan tidak berminat untuk menonton acara apapun. “Ayo pergi keluar! Paling tidak, kita bisa kembali ke paviliun. Ajah Jonghyun dan temannya itu.”

“Tapi Pangeran, Presiden Lee memberikan perintah agar anda berdua tetap di Cheongwadae sampai keadaan aman.”

“Tapi sampai kapan? Kyuhyun mungkin berada di rumah sakit, tapi itu masih lebih baik dibandingkan dia harus terperangkap di sini. Ayolah.. Kita hanya kembali ke paviliun. Lagipula tidak ada yang bisa kita lakukan di Cheongwadae ini, bukan?” sahut Donghae.

Seungho terdiam sejenak. Sepertinya Donghae sudah kembali ke sifat aslinya. Sebelumnya dia melihat sosok Donghae yang begitu dewasa kemarin. Tapi mungkin itu pun karena situasi yang memaksanya bersikap demikian. “Saya tidak bia melakukannya tanpa persetujuan dari Presiden Lee ataupun Kepala Pengawas Park, Pangeran.”

“Kalau begitu tanyakan dulu pada mereka! Aku tidak peduli jika mereka menambah jumlah Pengawal Kerajaan di paviliun, tapi setidaknya aku bisa keluar dari Cheongwadae. Kurasa Jonghyun juga akan berpikir sama.”

Seungho memejamkan matanya. Donghae bisa bersikap sangat keras kepala. Tapi dia bisa mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Donghae. Terkadang Seungho juga tidak terlalu menyukai berada di Cheongwadae. Dia kembali membuka matanya dan menatap Donghae lekat.

“Baiklah, saya akan menemui Kepala Pengawas Park. Tapi jika beliau tidak memberikan ijin, maka tidak ada yang bisa saya lakukan dan anda tidak bisa memaksa pergi.”

Donghae tersenyum lebar dan mengangguk.

“Saya harap anda tidak keluar dari kamar ini tanpa didampingi Pengawal Negara. Bahkan jika Kepala Pengawas Park memberikan ijin kita kembali ke paviliun, tapi kalau anda keluar dari kamar ini maka ijin itu batal. Mengerti?”

Donghae mengerucutkan bibirnya dan mendengus. “Baiklah, aku mengerti. Aku akan tetap di kamar ini. Sudah cepat tanyakan!!”

Seungho mendesah lalu berjalan keluar dari kamar tersebut dan menutup pintunya rapat. Ekspresi Donghae berubah seketika setelah pintu tertutup. Ia menarik nafas panjang dan memperhatikan seisi kamarnya tersebut. Dia kemudian mengeluarkan ponselnya.

*****

Siwon memandang Kyuhyun dengan lekat. Dengan sedikit memaksa dokter dan Pengawal Negara yang berjaga di luar pintu, Siwon akhirnya bisa menemui Kyuhyun. Tapi saat ia menemukan pemuda itu, Siwon melihat bahwa Kyuhyun terjebak dalam sebuah kesedihan. Tentu saja, dialah yang terakhir kali melihat Haena hidup.

“Pangeran Kyuhyun…”

Kyuhyun menoleh dan menatap Siwon yang masih duduk di kursi roda. “Hyung…”

Siwon menarik nafas lalu berusaha untuk berdiri dengan kakinya sendiri. Walaupun dokter sebenarnya memintanya untuk lebih banyak berbaring dan beristirahat sampai lukanya pulih, tapi Siwon menghiraukan begitu saja. Dengan sedikit tertatih, Siwon berhasil mencapai tempat tidur Kyuhyun.

“Kyuhyun-sshi…”

Kyuhyun memperhatikan Siwon yang berdiri hadapannya. Pria itu terlihat pucat dan lemah. Di wajahnya, Kyuhyun bisa melihat bekas memar. Bahkan itu pun belum seberapa. Ia yakin di tubuh Siwon ada luka lainnya akibat kecelakaan mobill yang mereka alami. Dan jika bukan karena melindunginya, Siwon tidak akan mengalami luka separah ini.

Kyuhyun meraih pergelangan tangan Siwon dan menyuruhnya duduk di tempat tidurnya. “Apa yang kau lakukan di sini? Seharusnya kau beristirahat, hyung.”

“Aku baik-baik saja. Jangan mengkhawatirkan keadaanku saat ini.”

Kyuhyun tidak percaya. Setelah apa yang terjadi, Siwon malah lebih mengkhawatirkan dirinya dibandingkan keselamatannya sendiri. Itu pun, Kyuhyun tahu, bahwa Siwon masih memegang tanggung-jawab sebagai Pengawal Kyuhyun. Hal yang sama yang dilakukan oleh Haena.

Suara desing peluru kembali terngiang dalam telinganya. Ia memejamkan matanya sejenak dan tubuhnya sedikit gemetar. Kyuhyun kemudian menarik nafas panjang dan membuka matanya lagi.

“Apa… A-apa kau pergi ke pemakaman Haena?”

Siwon mengangguk. “Walaupun hanya sebentar. Lagipula upacara pemakaman itu hanya sebuah formalitas. Jasad Haena dikremasi dan abunya akan disebar ke laut oleh keluarganya.”

“Bagaimana dengan keluarganya? Mereka… Haena adalah anak tunggal, bukan?”

Siwon memperhatikan Kyuhyun dengan lekat. Pemuda dihadapannya ini sedang memendam rasa bersalah yang sangat besar. Perlahan Siwon mengangkat tangannya dan menyentuh kepala Kyuhyun yang tertunduk.

“Jangan merasa bersalah. Ini bukanlah kesalahanmu.”

Kyuhyun melirik Siwon. “Bagaimana bisa ini bukan kesalahanku? Haena… dia meninggal karena menyelamatkanku. Dia bahkan memberikan rompi anti pelurunya padaku. Dia terlalu muda untuk mati demi orang lain.”

“Bukan orang lain. Tapi demi Pangeran kerajaan. Tanggung-jawab kami tidak berbeda jauh dengan anggota secret service yang melindungi anggota pemerintah.”

Kyuhyun sontak mengangkat kepalanya. Dia menatap Siwon dengan mata besarnya. “Tapi aku bukanlah bagian dari pemerintah. Aku bahkan…. Pangeran bukanlah diriku. Yang seharusnya dilindungi oleh Haena adalah Jonghyun, bukan diriku! Jika Haena tidak pergi, maka dia akan tetap hidup sampai hari ini!”

Siwon menarik kembali tangannya. “Itu benar. Tugas Haena adalah melindungi Jonghyun dan tugasku adalah melindungimu. Yang seharusnya datang menyelamatkanmu memang bukan Haena, tapi aku. Oleh karena itu, aku minta maaf karena tidak bisa melakukan tugasku dengan baik.”

“Bukan itu maksudku! Kau bahkan tidak perlu melakukannya untukku. Jonghyun adalah Pangeran Hyun, seharusnya dia yang kalian lindungi. Aku…”

“Juga seorang Pangeran. Itu tidak terbantahkan. Anda sendiri yang menjalani tes dna tersebut. Kau dan Jonghyun memiliki garis keturunan yang sama. Tanggung jawab kami sebagai Pengawal Negara melindungi keturunan tersebut.”

“Tapi aku tidak ingin menjadi bagian keturunan itu!!” seru Kyuhyun dengan keras. Mata Kyuhyun mulai berair, tapi dia menahan diri untuk tidak menangis. “Aku hanya ingin sebuah keluarga! Aku hanya ingin punya ayah dan ibu. Aku ingin mempunyai saudara. Aku ingin memiliki kakek, nenek, paman, bibi dan sepupu-sepupu. Keinginanku tidak besar. Ta-tapi kenapa…? Hanya demi keinginanku itu, harus ada nyawa yang dipertaruhkan?”

Siwon tidak mengatakan apapun. Dia memang bukanlah seorang yatim piatu yang ditinggalkan di sebuah panti asuhan. Dia bukanlah seseorang yang merindukan kasih sayang keluarga karena dia begitu beruntung memilikinya. Jadi, Siwon tidak tahu sebenarnya apa yang dirasakan oleh Kyuhyun saat ini.

“Kyuhyun…” gumamnya.

“Aku hanya ingin keluargaku, hyung. Aku hanya ingin Appa dan saudaraku.” Air mata Kyuhyun pecah. Dia tidak bisa menahan luapan emosi yang memenuhi dadanya. Kemudian dia tertawa kecil dengan air mata yang masih mengalir. “Bahkan… Jika bukan karena Jonghyun, aku tidak yakin akan ada orang tua yang ingin mengadopsiku. Apa kau tahu, hyung? Moon Jeonghyuk mengadopsiku karena permintaan Jonghyun? Mereka hanya menginginkan satu anak dan itu bukan diriku.”

Kyuhyun menghapus air mata dari wajahnya. Dia menarik nafas dan berusaha menenangkan dirinya. Kyuhyun hampir tidak pernah menangis sebelumnya, tapi kini dia merasa begitu kekanakan. “Bahkan, sebenarnya… walaupun aku sangat bersyukur mereka mengadopsiku juga, tapi aku juga sempat merasakan kesal pada Jonghyun. Karena Jonghyun yang meminta, mereka juga mengambilku. Keinginan itu bukan datang dari mereka sendiri. Bahkan sejak aku datang, keluarga lainnya selalu mengatakan bahwa aku harus selalu berterima-kasih pada Jonghyun. Aku harus selalu menjaganya. Karena jika bukan karena dia, mungkin aku akan tetap berada di panti asuhan hingga aku harus keluar dan belajar hidup sendiri.”

“Kami memang sama-sama anak adopsi di keluarga itu, tapi hanya Jonghyun yang diperlakukan layaknya seorang anak. Jujur, ketika Presiden Lee mengatakan bahwa Jonghyun adalah penerus kerajaan, aku sempat berpikir bahwa akhirnya aku bisa mempunyai keluargaku sendiri. Hanya aku dan Appa. Appa mungkin akan sedih, tapi masih ada aku sebagai anaknya. Tapi kemudian Presiden Lee mengatakan bahwa aku mempunyai ikatan kekerabatan dengan kerajaan. Sampai itu, aku bisa mengerti. Jonghyun tetaplah yang mereka inginkan, tapi setidaknya aku mempunyai Donghae hyung.”

“Tapi apa yang terjadi sekarang? Mereka bilang aku dan Jonghyun adalah bersaudara kandung. Salah satu dari kami adalah Lee Hyun. Itu benar-benar mengesalkan. Seumur hidup aku tidak bisa terlepas dari bayangan Jonghyun. Jika Kerajaan kembali diresmikan, mereka hanya akan menginginkan satu pangeran, bukan dua. Dan Presiden Lee sudah sangat jelas menjatuhkan pilihannya.”

Siwon menggeleng. Dia merasakan kesedihan yang sama saat mendengarkan ucapan Kyuhyun mengenai perasaannya selama ini. Siwon yang selalu melihat Kyuhyun mendahulukan Jonghyun dibandingkan dirinya sendiri, kini bisa melihat bahwa Kyuhyun juga ingin mendapatkan pengakuan yang sama. Namun, dia menahan diri. Dia selalu berdiri di belakang Jonghyun. Selalu berada dibalik bayangan Jonghyun.

Hal yang tidak berbeda jauh dengan situasinya. Siwon juga hidup dibalik bayangan Seunghoon. Semua orang akan membandingkan dirinya dengan kakaknya. Siwon selalu memperlihatkan rasa ketidak-sukaannya terhadap perbandingan itu, tapi semua orang tidak berhenti melakukannya. Jadi, dia tidak tahu bagaimana cara Kyuhyun menahan diri selama ini. Tidak menunjukkan perasaan yang dialaminya dihadapan orang lain.

“Jangan berpikir seperti itu. Orangtuamu pasti juga menyayangimu sama besarnya dengan mereka menyayangi Jonghyun. Kau jangan berpikir mereka hanya menuruti keinginan seorang anak kecil. Lihat dari sisi lainnya. Pernahkah mereka membedakan dirimu dan Jonghyun? Pernahkah mereka lebih mengistimewakan Jonghyun dibandingkan dirimu? Selama kau tinggal bersama mereka, apakah mereka tidak pernah mengkhawatirkanmu? Pikirkan jawabannya di kepalamu. Kyuhyun, aku mungkin baru mengenal kau dan Jonghyun. Tapi aku sudah mengenal Jeonghyuk hyung jauh lebih lama dibandingkan dirimu. Jangan dengarkan perkataan orang lain. Mereka tidak tinggal bersamamu di rumah itu. Mereka tidak tahu apa yang terjadi di rumah itu. Mereka hanya mengatakan apa yang mereka inginkan, bukan apa yang ingin kau dengarkan.”

Kemudian Siwon meraih tangan Kyuhyun dan menggenggamnya erat. “Saat ini, kau adalah seorang Pangeran. Tidak peduli apakah kau yang mereka cari. Tapi kini mendapatkan keluargamu yang sebenarnya. Kau mendapatkan saudara dan sepupu. Itu memang bukan sebuah keluarga yang kau impikan, tapi kau bisa menciptakan keluargamu sendiri. Dengan statusmu, kau bisa mencari tahu tentang keluargamu yang lain.”

“Jika selama ini kau selalu berdiri di belakang Jonghyun, maka sekarang berdirilah di sisinya. Dia adalah saudaramu. Saudaramu yang sesungguhnya. Kalian saling memiliki. Selama duapuluh tahun lebih, kau tidak tahu bahwa Jonghyun adalah saudaramu, tapi kini di sisa hidupmu, kalian adalah bersaudara. Dan Jeonghyuk hyung akan selalu menjadi Appa untuk kalian berdua.”

*****

“Kudeta terhadap pemerintah?”

Jeonghyuk mengangguk. “Benar, Presiden. Pangeran Kyuhyun hanya berasumsi, tapi kita bisa menjadikan itu salah satu motifnya. Apa yang terjadi kemarin, itu sepertinya sebuah awal dari rencana mereka. Melihat reaksi negatif di masyarakat mengenai pendirian kerajaan, jika kita tetap melanjutknya, Hyde mungkin akan menggunakan sebagai dasar melakukan kudeta.”

Presiden Lee kemudian menatap Kepala Pengawas Park. “Kita belum mendapatkan informasi apapun dari Kang Heejun?”

“Belum, Presiden. Kang Heejun sama sekali tidak bicara, selain itu kami juga belum menemukan istrinya. Laporan dari team yang melakukan investigasi di rumah Kang Heejun, mereka juga tidak menemukan dokumen-dokumen yang mencurigakan. Kang Heejun sangat pandai menutupi segala tindakannya,” ucap Kepala Pengawas Park.

Presiden Lee mendesah. Kang Heejun sudah berada di Cheongwadae dan masuk ke dalam Dewan Kerajaan selama hampir sepuluh tahun. Dia pasti mengetahui lebih banyak dan memberikan semua informasi pada Hyde. Pemerintah sedang terekspos. Hyde telah menunggu waktu yang lama dan kini mereka hanya tinggal melakukannya dengan baik.

Dongwan yang memperhatikan ketiga orang yang berada di ruangan tersebut dengan lekat. Sepertinya situasi menjadi lebih rumit dibandingkan apa yang mereka perkirakan sebelumnya. Bahkan termasuk dengan rencana Hyde. Penyusup di Cheongwadae itu benar-benar hal yang tidak terduga dan mereka tidak tahu siapa penyusup lainnya yang masih berada di Cheongwadae.

Dongwan lalu melirik Jeonghyuk. “Kita bentuk sebuah team investigasi rahasia,” ucapnya yang menarik perhatian ke-tiga pria lainnya.

“Team investigasi rahasia?” ucap Presiden Lee.

“Benar. Situasi saat ini masih begitu rawan. Untuk meminimalisir informasi tersebar dengan mudah, anda memilih beberapa orang yang anda percayai. Kita bisa mulai investigasi dari Cheongwadae untuk mencari anggota Hyde lainnya. Mungkin team ini bisa digunakan sebagai pusat krisis jika kejadian kemarin kembali terulang. Sampai rencana pendirian kerajaan terlaksana,” tutur Dongwan.

“Tapi Cheongwadae sudah mempunyai pusat krisis. Bahkan Kepengawalan Negara juga mempunyai divisinya sendiri,” sahut Jeonghyuk.

Dongwan mengangguk. “Aku tahu. Tapi kita tidak bisa lengah. Kita tidak tahu apakah Kang Heejun bekerja sendiri atau masih ada penyusup Hyde lainnya di Cheongwadae. Setiap informasi yang kita punya mungkin sudah dimiliki oleh Hyde. Terlebih dengan keselamatan tiga Pangeran. Kejadian kemarin, kita semua tentu tidak ingin terulang lagi bukan?”

Presiden Lee menatap Jeonghyuk dan Kepala Pengawas Park bergantian. Usul Dongwan tidaklah buruk. Namun, saat ini tidak banyak orang yang dapat dipercayainya. Kang Heejun adalah orang yang paling dipercayainya terlebih dengan semua urusan mengenai pendirian kerajaan, tapi nyatanya dia adalah seorang penyusup. Jadi, dia tidak ingin membuat kesalahan yang sama dengan menaruh kepercayaan yang begitu besar.

“Well, orang yang bisa kupercayai saat ini semuanya berada di ruangan ini. Aku tidak tahu apakah orang lainnya bisa kupercayai lagi,” ucap Presiden Lee dengan helaan nafas.

Dongwan tersenyum tipis. “Tapi kita butuh lebih dari tiga orang, Presiden Lee.”

“Jika ditambah dengan Choi Seunghoon, kita masih butuh tambahan lainnya,” tukas Jeonghyuk.

Kepala Pengawas Park mengernyit. “Choi Seunghoon? Kakak Choi Siwon?”

Jeonghyuk menatap kepala Kepengawalan Negara itu dengan lekat lalu mengangguk. “Dengan apa yang menimpa Siwon, kurasa Seunghoon bisa membantu. Lagipula walaupun dia sudah pensiun tapi kemampuannya masih dapat kita andalkan.”

“Itu benar. Choi Seunghoon adalah Pengawal Negara yang handal sebelum dia dipindahkan ke CIA lalu pensiun lima tahun lalu,” kata Presiden Lee. “Kita masih membutuhkan orang lagi, bukan? Sebenarnya aku ingin Naomi Gates –mengingat apa yang terjadi pada putrinya. Tapi aku tidak yakin apakah dia ingin melakukannya atau tidak.”

Kali ini, Dongwan yang mengernyit. “Naomi Gates? Kenapa Naomi Gates?”

“Karena putrinya, Kim Haena yang merupakan anggota Kepengawalan Negara tewas saat misi penyelamatan Pangeran Kyuhyun kemarin,” jawab Kepala Pengawas Park. Lalu ia memandang ke Presiden Lee. “Saya dengar, Naomi Gates dan suaminya akan pergi ke Amerika. Mungkin setelah dokumen Haena selesai, mereka akan langsung pergi. Jadi, saya tidak yakin apakah Naomi bisa membantu untuk masalah ini.”

Dongwan melirik Jeonghyuk yang duduk disampingnya. Sepertinya dia masih belum mengerti. Dongwan memang tahu siapa Naomi Gates, tapi dia tidak tahu kalau mantan anggota CIA itu mempunyai seorang putri yang seorang Pengawal Negara. Jeonghyuk menatap Dongwan lalu memberikan sinyal kalau dia akan menjelaskan perihal Naomi Gates itu nanti.

Presiden Lee mendesah. Jika Naomi Gates dan suaminya ingin pergi setelah putri mereka meninggal, ia tidak bisa berbuat apapun untuk menahan mereka. Padahal dengan kemampua Naomi Gates dan Choi Seunghoon, mereka akan mendapatkan bantuan yang begitu besar terkait Hyde.

“Kalau begitu, kita harus memulai mencari tambahan orang lainnya. Kita bisa memanggil Choi Seunghoon sekarang, bukan? Jika team investigasi bisa bekerja lebih cepat, itu lebih baik,” tutur Presiden Lee.

Jeonghyuk mengangguk.

*****

Jonghyun melirik Jaeshin sebelum kembali menatap Seungho. “Kembali ke Paviliun? Tapi bukankah… Situasi saat ini masih cukup buruk?”

“Saya tahu, Pangeran. Tapi Pangeran Donghae meminta ijin untuk kembali ke Paviliun dan Kepala Pengawas Park dan Presiden Lee memberikannya. Walaupun akan ada penambahan jumlah personel Pengawal Negara,” tutur Seungho.

“Lalu bagaimana dengan Kyuhyun?”

Seungho menatap Jonghyun sekilas lalu kembali menurunkan pandangannya. “Saya dengar, dokter masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap kondisi Pangeran Kyuhyun. Sampai kondisinya pulih, beliau akan tetap berada di rumah sakit.”

Jonghyun kini memandang pada Jaeshin. “Kalau Jaeshin? Apa yang akan dilakukan Kepengawalan Negara padanya? Apa dia bisa pulang ke rumahnya atau…”

“Mengenai Nona Kang, Kepala Pengawas Park masih melakukan beberapa pertimbangan. Kemungkinan setelah anda dan Pangeran Donghae kembali ke Paviliun, Nona Kang akan diantar pulang ke rumahnya. Tentu saja, akan ada Pengawal Negara yang bertugas menjaganya.”

Jaeshin menghela nafas pendek. Setidaknya dia merasa lega diperbolehkan kembali pulang ke rumahnya. Berada di Cheongwadae membuatnya sedikit tegang. Ini adalah Istana Kepresidenan, tidak sembarang orang bisa berada di sini bahkan tinggal lebih lama. Ia tersenyum pada Jonghyun.

“Jangan mengkhawatirkanku, Jonghyun. Aku juga merasa tidak nyaman terus tinggal di Cheongwadae seperti ini. Paling tidak, ada orang yang menjagaku di rumah. Selain itu, Minho pasti khawatir sekali. Aku bisa bertemu dengannya dan menjelaskan apa yang terjadi,” ucapnya. Namun Jaeshin melihat ekspresi Seungho saat dia mengatakan akan menjelaskan hal yang terjadi pada Minho. “Tapi tentu saja, hanya hal-hal tertentu. Mungkin mengenai kondisimu atau hal lainnya. Aku tidak akan bermulut besar dengan mengatakan tentang Hyde atau ayahku.”

Jaeshin tersenyum tipis melihat ekspresi lega Seungho.

“Kau yakin tidak apa-apa? Aku bisa meminta ijin agar kau bisa tinggal di Paviliun bersama kami,” ujar Jonghyun.

Jaeshin menggeleng. “Aku akan lebih nyaman berada di rumahku sendiri. Jika kau tetap khawatir, kau mungkin bisa datang berkunjung. Lagipula aku tidak akan bisa pergi kemana-mana saat ini.”

Jonghyun mendesah. Dia tahu kalau tidak akan bisa membujuk Jaeshin. Mungkin nanti dia akan menghubungi Minho dan memintanya untuk mengajak Jaeshin menginap di rumahnya atau paling tidak dia bisa menjaga gadis itu.

Kemudian Jonghyun kembali menatap Seungho. “Tapi sebelum kita ke Paviliun, aku ingin ke rumah sakit terlebih dahulu. Aku ingin melihat kondisi Kyuhyun dan mungkin menjenguk Choi Siwon.”

“Baik, Pangeran.”

“Ah… Satu lagi! Karena Haena sudah….” Well, Jonghyun masih merasa canggung membicarakan Haena saat ini. Dia bahkan tidak datang ke upacara pemakaman gadis itu karena situasi yang tidak memungkinkan. Jonghyun masih merasa bersalah karena dia tidak sempat mengucapkan terima-kasih pada gadis itu karena telah menyelamatkan Kyuhyun. “Siapa yang akan menggantikan posisinya? Maksudku.. Aku yakin kalau Kepala Pengawas Park… Kau tahu maksudku, bukan?”

Seungho tersenyum tipis dan mengangguk. “Untuk saat ini, Kepala Pengawas Park ataupun Presiden Lee belum menunjuk Pengawal Negara lainnya untuk menggantikan posisi Pengawal Kim. Sampai saat itu, saya yang akan bertugas sebagai Pengawal pribadi anda.”

“Termasuk dengan Donghae hyung juga?”

Seungho hanya mengangguk. Jonghyun mendesah pelan.

*****

Byunghee selesai melakukan proses check-in. Dia cukup bersyukur karena dia masih bisa keluar Korea tanpa masalah yang berarti. Setelah memasukkan kopernya, dengan diikuti oleh dua orang pria yang diperintahkan Henry menjaganya, Byunghee berjalan menuju ruang tunggu hingga waktu boarding tiba.

Dia mengambil duduk di sebuah deret kursi kosong. Dua pria lainnya berusaha mengambil jarak aman dengannya sembari memeriksa kondisi sekitar. Byunghee hanya bisa menggeleng karenanya. Sejak dulu, dia tidak terlalu menyukai penjagaan ketat seperti ini. Tapi Henry seakan tidak peduli dengan ketidak-sukaannya tersebut. Hal ini adalah demi keselamatannya, itu yang selalu diucapkan Henry sebagai alasannya. Dan Byunghee sudah terlalu lelah berdebat.

Byunghee mengeluarkan ponselnya dan mengecek beberapa portal berita. Hanya untuk melihat situasi terkini. Pihak Cheongwadae sudah memberikan pernyataan lanjutan terkait rumor Pendirian Kerajaan yang sangat menghebohkan. Mereka tidak memberikan jawaban pasti dan terkesan begitu berhati-hati. Itu mungkin pihak Cheongwadae tidak ingin membuat kehebohan lainnya.

Sejak rumor itu beredar, ada banyak diskusi politik terbuka mengenai rencana tersebut. Dan reaksinya cukup buruk. Ada begitu banyak yang menolak rencana tersebut –bahkan walaupun pada akhirnya sekedar rumor– tapi ada juga pendapat yang mengatakan bahwa mereka masih percaya pada pemerintah saat ini. Hal itu membuat Byunghee ingin tertawa.

Ia memeriksa beberapa berita lainnya. Tidak ada yang menyebutkan nama Hyde. Sepertinya Cheongwadae berhasil menekan pemberitaan itu. Atau mungkin media sangat bodoh hingga tidak melihatnya dengan baik. Tapi yang membuatnya sedikit terkejut adalah artikel yang menyebutkan Jonghyun dan Kyuhyun.

Well, saat rumor itu beredar, di sana juga memuat nama Jonghyun dan Kyuhyun yang dilansir sebagai keturunan dari Kerajaan terakhir. Dan sepertinya media mengambil umpan tersebut dan melakukan penyelidikan profil pada keduanya. Dalam beberapa artikel membuat penjelasan yang begitu detail mengenai kehidupan Jonghyun dan Kyuhyun termasuk saat mereka tinggal di panti asuhan dan diadopsi oleh Moon Jeonghyuk yang notabene adalah seorang staff di Cheongwadae. Hal itu memunculkan pertanyaan, kalau Pemerintah dengan sengaja menyembunyikan keberadaan keturunan terakhir Kerajaan.

Oh, Byunghee tidak ingin membaca hal omong kosong lainnya mengenai teori konspirasi pemerintah atau hal lainnya mengenai kerajaan. Dia memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya setelah dia menon-aktifkannya.

Byunghee menoleh ke arah jendela besar yang menghadap ke landasan pacu. Rasanya baru kemarin dia menginjakkan kakinya di negara ini, sekarang dia harus pergi lagi. Byunghee pikir dia bisa menikmati waktu bersenang-senangnya lebih lama. Tapi pamannya begitu keras kepala.

Tak lama terdengar suara panggilan untuk penerbangannya. Kedua pria yang sedari awal menjaga jarak dengannya, kemudian berjalan menghampirinya.

“Tuan Jung, sudah waktunya.”

Byunghee menarik nafas panjang. “Hahh… Ini sama sekali tidak menyenangkan.” Lalu dia berdiri dan berjalan menuju pintu gerbang penerbangannya.

Byunghee mengantri bersama penumpang lainnya. Lalu saat gilirannya, dia memberikan paspor serta tiketnya pada petugas yang melakukan pengecekan terakhir. Byunghee tersenyum tipis ketika paspornya dikembalikan.

Dia berjalan memasuki jembatan tangga yang akan mengantarkannya ke pesawat. Sampai saat terakhir, Byunghee sangat berharap kalau ada sesuatu yang menarik terjadi. Namun, sampai dia berada di depan pintu pesawat, semuanya terasa membosankan. Dia bahkan bisa pergi dengan bebas walaupun ia yakin Kyuhyun pasti memberikan namanya pertama-kali pada orang-orang Cheongwadae sebagai orang yang dicurigai sebagai anggota Hyde. Tapi sepertinya mereka terlalu sibuk dengan pencitraan di media dan masyarakat. Bahkan musuh dihadapan mereka sendiri tidak terlihat.

Byunghee kemudian melangkah kakinya memasuki pesawat yang disambut sapaan ramah salah satu pramugari.

Kini hilanglah sebuah petunjuk penting bagi Cheongwadae.

*****

NOTE: Udah lama banget yaa akhirnya diupdate lagi.. ^^;;

Sumpah, konflik di fanfic ini susah banget ampe ngomongin kudeta dan teori konspirasi segala. Pala puyeng euy…

Advertisements

10 thoughts on “[MM] The Last King Part 17

  1. makin berat aja konpliknya, apa lagi byunghee benar benar lepas tanpa mereka sadari.

    kyuhyun juga sangat tertekan. jadi dia merasa menjadi bayang bayang jonghyun? seperti kata siwon, dia bisa berdiri di sisi jonghyun tanpa harus jadi bayangang lagi.

  2. .iya konfliknya berat..hahaha tp bikin penasaran buat baca next part’a.. aigooo jd slama ini kyu punya unek” yg berkaitan dgn jonghyun.. kasian.. tp kapan niih jong ketemu kyu lg? jongkyu momentnya please…^^

  3. Lama banget nunggunya, tapi senang akhirnya lanjut.
    Awalnya Kyu damai-damai aja menerima masalah pendirian kerajaan. Sekarang Kyu mulai meragukan rencana tersebut. Sepertinya Kyu takut sekali akan ada yang terluka lagi.
    Tapi untung ada Siwon. Setidaknya Kyuhyun sudah berani mengungkapkan kegalauannya (?).
    Ditunggu lanjutannya…..

  4. sekian lama akhirnya update juga..
    kyuhyun akhirnya mengeluarkan semua isi hatinya tentang dia yg merasa di kesampingkan atau tidak pernah diinginkan.sedih pas baca part kyu dan siwon…
    o ya byunghee beneran bisa semudah itu keluar dr korea…
    aku harap sebelum pesawat take off akan ada kejutan untuk nya hehehehe..
    ditunggu lanjutannya ya

  5. Ternyata kyuhyun slama ni merasa tersisihkan y
    Aq curiga kalo donghae jg mungkin terlibat y ma hide to hyde tadi y, hihihihi
    Yach byunghenya dach pergi,, 1petunjuk tlah hilang dunx

  6. aku baca dua kali ya hehehe..
    walaupun dibaca berulang kali terep aja ga bosen.
    kyuhun disini merasa selalu di nomor dua kan.dia merasa hanua menjadi bayangan jinghyun.
    ditunggu ya lanjutannya

  7. Ah aku baru tau klu ini udah apdate makin rumit aja konpliknya …
    Oh ya hae oppa ko dikit bgt dialognya panjangin dong thor biar g kelihata numpang lewat dong hehe. Next ya thor… …..

  8. Byunghee..apa dia juga mmng mnjadi salah satu penunjuk penting???tapi,tntng apa??apa soal kebenaran sang pangeran??
    Sepertinya mmng akan masih panjang kkkk.
    Terus..reaksi apa yg diinginkan Hanry untuk keadaan ini.Semoga segera terselesaikan.Hingga tidak akn kmbali mmkn korban.
    Semoga..Kyuhyun juga segera sembuh.

    Fighting eonni..gumawo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s