[SF] Scarface Part 46

JiKang

46

Changmin tersenyum puas ketika ia mendapatkan pesan dari Siwon yang mengatakan pertemuan dengan UK Corporate berjalan dengan lancar. Berbeda dengan pertemuan pertama. Dokumen resmi mengenai kerja-sama akan dikirimkan secara langsung dari London, berhubung Uhm Ki Joon akan kembali ke London malam ini. Well, setidaknya pembicaraan mengenai kerja-sama ini berjalan cukup singkat dibandingkan dengan kerja-sama lainnya.

Walaupun sebenarnya Changmin dan Siwon mendapatkan peringatan dari Jaewon mengenai kerja-sama tersebut. Jaewon meminta mereka untuk lebih berhati-hati saat membaca isi dokumen dan membuat keputusan. Tapi mereka sudah membacanya berulang-kali dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mungkin itu hanya kekhawatiran saja, karena mereka akan berurusan dengan perusahaan sebesar UK Corporate.

Changmin membalas pesan Siwon secara singkat. Lalu menyimpan ponselnya ke saku dalam jasnya. Kemudian dia menarik nafas perlahan. Saat ini dia masih menunggu kencan butanya untuk datang. Rae Won sudah mengatur waktu dan tempatnya. Sebuah café di daerah Samchungdong pukul enam sore.

Dan Changmin datang empatpuluhlima menit lebih awal.

Sebenarnya Changmin bisa ikut pergi dengan Siwon ke pertemuan dengan UK Corporate, tapi dia memilih untuk pergi ke salon sekedar untuk merapikan rambutnya dan memilih pakaian yang cocok. Terkesan berlebihan memang. Tapi Changmin ingin memberikan kesan yang baik.

Changmin melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Hampir pukul enam. Tanpa sadar ia tersenyum sendiri. Walaupun dia sedikit khawatir dengan reaksi kencan butanya –Yang Jihyun. Oh, berkaitan dengan alasan yang akan diberikan Changmin, dia akan memilih mengatakan kalau dia tidak mengetahui apapun mengenai rencana kencan buta tersebut. Itu memang kebohongan, tapi Changmin sudah memikirkan segala scenario yang akan terjadi jika dia menceritakan secara jujur.

Ia hanya berharap kalau Jihyun akan mengerti. Dan jika kencan buta ini gagal, setidaknya Changmin tidak akan menyesal.

Beberapa menit kemudian, tangan Changmin sudah berkeringat karena gugup. Dan ketika sosok Yang Jihyun memasuki café, Changmin berpura untuk tetap tenang. Dia harus bersikap kalau dia tidak mengetahui kalau orang yang ia tunggu adalah gadis tersebut. Changmin kini mulai berdoa agar semuanya berjalan dengan lancar.

Berbeda dengan Changmin, Jihyun yang memeriksa sekeliling area café tersebut sedikit terkejut melihat sosok Changmin. Jihyun terdiam sejenak dan melihat ke beberapa meja lain. Dia berharap kalau orang yang harus ditemuinya hari ini bukanlah Shim Changmin.

Tak lama, seorang pegawai menghampirinya. “Anda sudah membuat reservasi, Nona?”

“Ah? Reservasi atas nama Yang Jihyun?” ucapnya. Managernya mengatakan orang yang mengatur kencan buta itu menggunakan namanya untuk reservasi.

Pegawai itu tersenyum lalu mengantarkan ke meja yang sudah disiapkan. Jihyun mengikuti pegawai tersebut. Namun, langkahnya terhenti saat pegawai itu menunjuk meja di mana Changmin duduk. Jihyun menatap Changmin dengan lekat.

Changmin juga menatap Jihyun –kembali berpura kalau dia baru menyadari keberadaan gadis tersebut. Sang pegawai yang mengantarkan Jihyun meninggalkan mereka berdua. Inilah saatnya.

Changmin menarik nafas panjang lalu berdiri. Dia menghampiri Jihyun. “Apa kau Nona Yang yang harus bertemu denganku hari ini?”

“Nona Yang?”

“Kakak iparku mengatur kencan buta untukku. Dia tidak mengatakan siapa orangnya. Hari ini dia mengirimkan pesan kalau aku harus menemui Nona Yang di café ini. Aku sama sekali tidak berpikir kalau Nona Yang yang dimaksud adalah dirimu,” tutur Changmin dengan tenang.

Jihyun menatap Changmin dengan penuh selidik. Rasanya begitu mencurigakan. “Managerku mengatakan kalau orang yang mengatur kencan ini untuk adik sepupu suaminya yang sedang mencari calon istri karena keluarganya menyuruhnya menikah dalam waktu satu tahun.”

Changmin tersenyum. Oh, dia akan memaki Yunho setelah pertemuan ini. Bagaimana bisa Rae Won mengatakan alasan seperti itu untuk mengatur kencan buta ini dan mengatakannya pada Jihyun. Itu membuatnya terlihat menyedihkan. “Well, itu memang diriku. Bisa kita bicara sembari duduk, Nona Yang? Atau kau memilih untuk pergi saja?”

Jihyun menarik nafas perlahan. Walaupun dia tidak tahu bagaimana situasi ini sampai terjadi, tapi Jihyun juga tidak bisa pergi begitu saja. Changmin bisa saja mengadu pada kakak iparnya dan kakak iparnya akan protes pada managernya. Itu hanya akan lebih menyulitkan Jihyun. Kemudian Jihyun memilih untuk duduk.

Changmin tersenyum tipis lalu ikut duduk dihadapan Jihyun. “Kau ingin memesan sesuatu?” tanyanya sembari memberi isyarat pada pelayan karena mereka akan memesan.

Jihyun menghela nafas pendek dan mengambil buku menu yang diberikan oleh sang pelayan. Jihyun mengucapkan apa yang dipesannya, lalu diikuti oleh pesanan Changmin. Setelah sang pelayan mencatat pesanan mereka, ia mengambil kedua buku menu dan meninggalkan mereka berdua lagi.

“Jadi, kau akan menikah,” ucap Jihyun pelan dengan nada bicara yang tenang.

Changmin menyandarkan punggungnya pada kursi. “Begitulah. Keluargaku sudah begitu putus asa. Siwon masih belum menikah, jadi mereka mengijinkanku untuk menikah lebih dulu. Tapi sayangnya, aku tidak mempunyai calon istri.”

“Jadi, kau memilih jalan kencan buta seperti ini?”

“Untuk saat ini, aku tidak akan pilih-pilih bagaimana aku mencari calon istri.”

“Tapi bukankah bagimu ini adalah hal mudah?” tanya Jihyun cepat.

Changmin terdiam sejenak. Keningnya mengernyit. “Apa maksudmu, Jihyun?”

“Kau adalah Shim Changmin. Pasti ada banyak gadis yang ingin menjadi istrimu. Kurasa kau tidak perlu melakukan kencan buta dengan gadis yang kau tidak kenal bagaimana sifat dan sikapnya. Bahkan jika mereka mendengar keluarga Choi sedang mencari menantu, pasti akan ada banyak keluarga terpandang yang mengenalkan anak gadis mereka,” tutur Jihyun.

Oh, Jihyun tidak tahu kenapa dia bicara seperti itu. Mungkin dia merasa kesal dengan sikap Changmin menyikapi masalah kencan buta ini dan pernikahan. Toh, jika dipikir lagi, Shim Changmin yang berada dihadapan Jihyun saat ini tidak berbeda jauh dengan Shim Changmin yang ia kenal saat sekolah menengah.

Changmin menarik nafas perlahan. Ucapan Jihyun terdengar masuk akal. Tapi dia tidak boleh kalah argument untuk saat ini. “Itu memang benar. Ada banyak gadis yang ingin menjadi istri seorang Shim Changmin. Tapi sayang sekali, Shim Changmin tidak akan mudah memilih istri hanya karena mereka mengajukan diri dengan sukarela. Tapi bagaimana dengan dirimu, Jihyun? Kenapa kau menjalani kencan buta?”

Jihyun terdiam. Pertanyaan Changmin sedikit diluar perkiraannya. Tapi rasanya dia tidak mempunyai alasan untuk memberitahu Changmin kenapa dia menjalani kencan buta seperti ini. Jihyun menghela nafas perlahan. Sebelum sempat dia bicara lagi, seorang pelayan datang dengan membawakan pesanan minuman mereka.

Jihyun menggumamkan terima-kasih pada sang pelayan sebelum kembali menatap Changmin dengan lekat. “Kenapa kau bertanya? Rasanya aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu itu.”

“Apa kau begitu membenciku? Rasanya cara bicaramu sejak kau datang, terasa begitu dingin dan sinis. Aku hanya bertanya karena penasaran, tapi jika kau tidak ingin menjawab maka itu bukan masalah,” tutur Changmin lagi.

Jihyun menggigit pipi bagian dalam. Dia mungkin terkesan begitu offensive atas semua yang diucapkan oleh Changmin. Itu hanya spontan begitu saja. Tapi selain itu, Jihyun juga tidak menyukai kalau kencan butanya hari ini ternyata adalah Shim Changmin.

“Bisa kita selesaikan pertemuan ini? Lagipula jika kau melakukan kencan buta untuk mencari calon istri, kurasa aku tidak begitu pantas. Cucu menantu untuk keluarga Choi haruslah berasal dari keluarga yang terpandang,” ujar Jihyun.

Ekspresi Changmin mengeras. Jihyun kembali menggunakan kartu ‘Keluarga Choi’ pada dirinya. Kartu yang sama ketika Changmin berusaha akrab dengan gadis itu ketika mereka masih di sekolah menengah. Hell, dia sudah tidak bisa menahan diri jika Jihyun selalu bersikap defensive seperti itu. Changmin hanya berusaha bersikap ramah pada Jihyun, tapi rasanya pembicaraan ini tidak bisa berjalan sesuai yang diinginkan oleh Changmin.

“Jika putri dari keluarga terpandang yang kucari sebagai calon istriku, bukankah aku tidak perlu menyusahkan diri untuk menghadiri kencan buta seperti ini? Nona Yang, kurasa kau terlalu memandang tinggi dirimu. Jika kau memang tidak pantas untuk calon cucu menantu keluarga Choi, bukankah seharusnya kau langsung pergi saja begitu mengetahui bahwa aku sebagai kencan butamu. Sikapmu seolah menunjukkan bahwa akulah yang tidak pantas sebagai kencan butamu, bukan sebaliknya.”

*****

Hyukjae melirik ke arah meja di mana Kyuhyun dan seorang gadis yang dijodohkan padanya sedang bicara dengan serius. Siang tadi, Hyukjae sedikit terkejut mendapatkan pesan dari Kyuhyun yang mengatakan bahwa ia ingin bertemu. Kyuhyun mengatakan kalau dia akan memberikan penjelasan yang diinginkan oleh Hyukjae. Tapi Hyukjae tidak tahu kalau Kyuhyun juga akan bertemu dengan seorang gadis. Kyuhyun bilang dia ingin mengatakan pada gadis itu kalau dia menolak perjodohan tersebut.

Hyukjae menyeruput kopinya dengan perlahan. Fokus perhatiannya tidak terlepas dari Kyuhyun dan gadis tersebut. Walaupun dia tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh keduanya, tapi hanya dengan melihat ekspresi Kyuhyun, Hyukjae bisa menebak kalau pembicaraannya begitu tegang.

Kyuhyun menatap Hyun Seol dengan lekat. “Maaf…”

“Tidak apa-apa,” ucap Hyun Seol dengan pelan. Dia berusaha untuk tetap tersenyum.

Hal itu malah membuat Kyuhyun semakin merasa bersalah. Tapi jika dia tidak mengatakannya sekarang, gadis itu akan jauh lebih terluka. Kyuhyun menarik nafas perlahan. “Kau adalah gadis yang cantik dan baik. Aku rasa, ada pria yang jauh lebih sepadan untukmu dibandingkan diriku.”

“Jangan terlalu merendah, Kyuhyun-sshi. Aku bisa mengerti jika kau tidak menginginkan perjodohan ini. Lalu bagaimana dengan Ibumu? Aku mungkin bisa memberikan penjelasan pada orangtuaku, tapi Ibumu?” tanya Hyun Seol.

“Kau tidak perlu khawatir. Aku yang akan menjelaskannya pada Ibuku. Lagipula ini adalah keputusan sepihakku,” tutur Kyuhyun.

Hyun Seol mengangguk kecil. Dia menghela nafas perlahan. “Baiklah, jika itu maumu. Tapi jika boleh aku bertanya, apa alasanmu sebenarnya untuk menolak perjodohan ini? Aku yakin, alasan mengenai status keluargaku bukanlah yang sebenarnya. Keluargamu juga cukup terpandang, terlebih dengan pekerjaanmu sebagai Pengacara di Firma Hukum Kang Jaeha. Dilihat dari sisi manapun, semua orang akan mengatakan kalau kita bisa cocok satu sama lain.”

Kyuhyun terdiam. Oh, hal inilah yang tidak siap untuk Kyuhyun jelaskan. Bagaimana bisa dia mengatakan pada Hyun Seol kalau dia sedang menjalin hubungan dengan seorang pria. Kyuhyun mungkin mulai bisa menerima dengan seksualitasnya, tapi bagaimana dengan orang lain? Bahkan kedua orangtuanya memberikan reaksi negatif atas pengakuannya. Kyuhyun sedikit menunduk dan menatap kedua tangannya yang berada di bawah meja. Dia tidak mempunyai penjelasan yang memuaskan.

“Apa ada orang lain?” tanya Hyun Seol.

Sontak Kyuhyun mengangkat kepalanya. Hyun Seol kembali tersenyum saat melihat reaksi Kyuhyun. “Ternyata benar. Kau pasti sudah menyukai orang lain. Perjodohan ini pasti Ibumu yang memaksanya, bukan? Apa orangtuamu tidak menyetujui hubungan kalian?”

“Begitulah,” ucap Kyuhyun pelan. Dan itu adalah jawaban yang jujur. “Aku hanya merasa ini tidak akan adil untukmu. Aku memang setuju untuk bertemu denganmu, tapi untuk perjodohan, aku harus menolaknya. Aku tidak ingin menyakitimu, terlebih aku juga tidak bisa menyakitinya dengan cara seperti ini.”

“Dia adalah gadis yang beruntung,” ucap Hyun Seol lagi.

Kyuhyun tidak pelak merasa lebih bersalah karena Hyun Seol mengira Siwon adalah seorang gadis. Tapi sekali lagi, dia bersikap sebagai seorang pengecut yang tidak bisa mengatakan bahwa orang lain itu adalah seorang pria. Bukan seorang gadis seperti yang dipikirkan Hyun Seol.

Hyun Seol menarik nafas, lalu meraih tas tangannya. “Aku akan menjelaskan secara baik-baik pada orangtuaku kenapa perjodohan ini tidak bisa dilanjutkan. Tenang saja, aku tidak akan mengatakan kalau kau sudah mempunyai hubungan dengan orang lain.”

Kyuhyun sontak ikut berdiri ketika Hyun Seol hendak pergi. Gadis itu menatap Kyuhyun dengan lekat lalu mengulurkan tangannya. Kyuhyun menyambutnya.

“Senang bisa berkenalan denganmu, Cho Kyuhyun. Di masa depan, jika kita mempunyai kesempatan bertemu, jangan berpura untuk tidak saling mengenal. Aku akan senang jika kita bisa berteman,” tutur Hyun Seol.

Kyuhyun tersenyum tipis dan mengangguk. Kemudian Hyun Seol menarik tangannya dan berjalan meninggalkan café tersebut. Kyuhyun memperhatikannya hingga gadis itu keluar dari pintu café. Lalu ia berjalan menuju meja yang ditempati oleh Hyukjae.

Hyukjae menatap Kyuhyun yang duduk dihadapannya. “Itu berjalan cukup lancar,” tukasnya.

Kyuhyun hanya menggumam pelan. Entah mengapa dia merasa begitu sangat lelah hari ini. Hyukjae menarik nafas perlahan lalu menyeruput kopinya. Kyuhyun lalu menatap Hyukjae dengan lekat. “Aku tahu, kalau aku yang harus memberikanmu penjelasan. Tapi katakan apa yang ingin kau ketahui. Rasanya itu jauh lebih mudah untukku menjelaskan,” ujarnya.

Hyukjae menaruh cangkir kopinya ke atas meja. “Kau yakin ingin membicarakannya di sini?”

Kyuhyun memperhatikan sekeliling. Café tersebut tidak cukup ramai. Ada beberapa meja yang terisi oleh pengunjung lain. Mungkin total ada sekitar duabelas sampai limabelas orang. Selain itu, di sekitar meja mereka tidak ada pengunjung lainnya.

“Bicara saja. Asal jangan menyebut namanya atau nama keluarganya. Aku hanya ingin menyelesaikannya dengan cepat, Hyuk.”

Hyukjae mendesah. Dia menyandarkan punggungnya. “Baiklah jika itu maumu. Kurasa pertanyaanku singkat saja. Apa kau menyukainya? Atau mungkin kau sudah mencintainya?”

Kyuhyun memejamkan matanya. Pertanyaan Hyukjae terlalu lantang. Itu adalah pertanyaan yang sama yang selalu ditanyakan oleh semua orang yang mengetahui mengenai hubungan mereka. Ahra, Ibu Siwon, bahkan Hyukjae sendiri sudah bertanya pertanyaan yang sama berulang-kali. Dan Kyuhyun harus kembali memberikan jawaban yang sama.

Kyuhyun kembali membuka matanya. “Hyuk, aku rasa aku mulai menyukainya. Kau tahu persis bagaimana hubungan kami sebelumnya. Ketika aku menjadi pengacaranya atau bahkan jauh sebelum itu. Saat pertama-kali aku bertemu dengannya untuk perjodohan kakakku. Pertemuan itu tidak memberikan kesan yang begitu baik untukku. Aku tidak akan mengatakan bahwa aku bisa menyukainya dengan mudah. Kau juga tahu persis alasannya.”

“Kang Haesa.”

“Hubunganku dengan Haesa, itu sekadar cinta pertama yang tidak terbalaskan. Aku menunggunya selama enam tahun, tapi kemudian penantian itu berakhir di rumah sakit. Aku akan jujur, kalau melupakan Haesa itu tidak mudah. Bahkan hingga hari ini, aku mungkin masih menyimpan sedikit dari perasaan itu. Tapi kemudian, dia masuk ke dalam kehidupanku. Dia sebagai anomali. Kami tidak pernah terlihat cukup akrab hingga dalam satu waktu aku mengatakan bahwa aku menyukainya,” tutur Kyuhyun.

Hyukjae yang awalnya hanya mendengarkan penjelasan Kyuhyun, kemudian berbicara. “Tapi kenyataan kau menjalin hubungan dengannya dalam waktu yang begitu singkat –hanya hitungan beberapa minggu, Kyuhyun. Aku tidak akan menghakimimu untuk urusan pribadimu. Namun, kau tahu persis apa yang sedang kau hadapi, Kyuhyun. Keluarga kalian, status sosial kalian. Aku tidak mengatakan bahwa kalian harus mengabaikan apa yang kalian rasakan pada satu sama lain. Aku hanya ingin kau tidak terluka lagi, Kyuhyun. Walaupun begitu, kau jelas sudah terluka.”

Kyuhyun tahu persis Hyukjae menyinggung ketika Choi Yoojin datang ke kantor dan memukulnya hingga membuat wajahnya berdarah. Dan mungkin beberapa kejadian lainnya yang membuat Kyuhyun harus berakhir di rumah sakit.

“Apa kau yakin dengan hubungan ini?” tanya Hyukjae lagi.

Kyuhyun menatap sahabatnya dengan ekspresi bingung. Hal itu membuat Hyukjae menarik nafas. “Maksudku, apa kau yakin bahwa hubungan ini tidak akan berakhir sama seperti kau masuk rumah sakit karena hypothermia?”

“Aku tidak bisa memberikan jawaban yang pasti, Hyuk. Tapi untuk saat ini, aku cukup merasa yakin bahwa hubungan inilah yang ingin kujalani.”

Hyukjae menatap Kyuhyun dengan lekat. Kemudian dia mengangguk kecil. “Okay, kalau begitu selamat untukmu. Sekarang aku ingin pergi ke Bar dan menemui Donghae. Rasanya aku selalu tertinggal jauh untuk urusan seperti ini denganmu.”

Kyuhyun tersenyum tipis. “Heechul hyung akan memberikanmu kesulitan.”

“Well, dia hanya atasan Donghae. Bukan keluarganya. Aku tidak akan mempermasalahkan hal itu. Lagipula apa yang menjadi keputusan Donghae tidak harus berdasar persetujuan sepupumu, Kyuhyun.”

*****

Joonmyeon mengetuk pintu kamar Yifan yang terbuka. Ia tersenyum tipis ketika Yifan yang sedang merapikan beberapa pakaian yang dibawanya ke tas ransel berwarna hitam menoleh dan memberikan isyarat padanya untuk masuk. Joonmyeon menghampiri Yifan lalu menyodorkan sebuah mug berisi coklat panas.

Yifan meraih mug tersebut. “Mom yang menyuruhmu?”

Joonmyeon hanya menggumam lalu duduk di tempat tidur Yifan. “Besok kau akan kembali ke dorm?”

“Begitulah. Tapi aku baru akan kembali setelah makan siang. Kenapa?” tanya Yifan dengan cara bicara yang sedikit kaku. Situasi di antara mereka belum terselesaikan dengan baik. Yifan tidak bisa memberikan penjelasan yang sesuai kenapa dia mencium Joonmyeon tempo hari.

Yifan menyeruput coklat panas buatan Sara lalu duduk disamping Joonmyeon. “Bisa kita bicara?”

Joonmyeon melirik Yifan sekilas. “Mengenai apa yang terjadi di dorm.”

Yifan menggumam. Ia kembali menyeruput minuman coklat tersebut sebelum dia menaruh mug di meja nakas. Yifan menarik nafas perlahan. “Itu adalah reaksi spontan. Aku rasa. Selama pergi liburan, aku hampir tidak pernah teringat dirimu. Mungkin karena Luhan yang selalu menarikku ke tempat-tempat yang telah ia rencanakan. Aku tidak tahu kalau aku begitu merindukanmu, sampai kau datang dengan membawa makan siang. Saat melihatmu, aku teringat betapa aku sangat merindukanmu hingga akhirnya aku malah menciummu. Maafkan aku. Itu seharusnya tidak terjadi.”

Joonmyeon terdiam untuk sejenak. Dia mendengarkan penjelasan Yifan dengan baik. Joonmyeon sebenarnya tidak bisa menyalakan Yifan atas apa yang terjadi. Walaupun sebenarnya dia berharap kalau hal itu tidak pernah terjadi. Tapi Joonmyeon tidak bisa mengontrol pada situasi mereka. Yifan sudah menjelaskan dan meminta maaf. Seharusnya tidak ada masalah lagi.

Joonmyeon menarik nafas perlahan. “Jangan dilakukan lagi. Kau sudah berjanji padaku, Yifan.”

“Aku tahu. Tidak akan kulakukan lagi. Jadi, kau memaafkanku?”

Joonmyeon menoleh dan tersenyum tipis. “Aku memaafkanmu.”

“Terima kasih,” tutur Yifan yang ikut tersenyum.

Namun, kemudian suasananya malah menjadi lebih canggung. Entah apa lagi yang harus mereka bicarakan. Semua situasi yang terjadi diantara mereka membuatnya menjadi lebih rumit. Mungkin jika Yifan tidak pernah mengatakan perasaannya pada Joonmyeon, keadaan setelah pernikahan orangtua mereka akan sedikit jauh lebih baik dibandingkan saat ini. Bukan berarti Joonmyeon menyalahkan Yifan, hanya saja dia tidak tahu bagaimana harus bersikap pada Yifan tanpa harus menyakitinya. Mereka adalah saudara.

Joonmyeon lalu berdiri dari tempat tidur. “Aku akan kembali ke kamar.”

Yifan hanya mengangguk kecil. Joonmyeon lalu berjalan keluar dari kamar Yifan. Namun, kemudian ia kembali menoleh. “Kau tahu, jika Paman memberikanku ijin pergi hiking ke gunung taebaek, apa kau ingin ikut? Maksudku, kau belum lama tinggal di Korea, kupikir kau ingin melihat tempat baru selain kota Seoul saja. Kurasa Park Chanyeol dari kelas Seni juga akan ikut, jadi kau tidak akan merasa canggung dengan teman-temanku. Aku tidak akan memaksa, hanya saja…”

“Akan kupikirkan, Joon. Tapi jika aku ikut, Luhan pasti akan minta diajak juga,” tukas Yifan.

Joonmyeon tersenyum. “Akan kubicarakan dengan teman-temanku. Selamat malam, Yifan.”

“Selamat malam, Joonmyeon.”

*****

Haneul menyodorkan sebuah kopi kaleng pada Changwook yang baru saja selesai operasi. Changwook tersenyum tipis dan menerima kopi kaleng tersebut. Haneul kemudian duduk disamping Changwook. Mereka berada di koridor kosong di lantai tujuh rumah sakit.

Changwook membuka kaleng tersebut dan menyesapnya. “Kupikir hari ini kau libur, Han.”

“Memang,” sahut Haneul. Pandangannya masih lurus ke depan menatap pemandangan di luar jendela besar. Langit Seoul sudah begitu gelap. “Tapi aku memilih untuk ke rumah sakit dibandingkan di rumah.”

Kening Changwook mengernyit. Rasanya baru kemarin Haneul mengatakan kalau jika mendapat hari libur, dia ingin tidur seharian. Tapi hari ini Haneul malah datang ke rumah sakit. Entah sejak kapan Haneul sudah di rumah sakit, atau bahkan dia sama sekali belum pulang setelah shift-nya selesai.

“Kenapa?” tanya Changwook pelan.

Haneul menarik nafas perlahan. Lalu dia menoleh pada Changwook. “Aku memberitahu orangtuaku. Waktunya sedikit tidak tepat. Awalnya Haesa membicarakan mengenai kepindahannya ke Seoul dan niatnya untuk bekerja di firma hukum Appa. Tapi kemudian Eomma-ku mulai membicarakan mengenai pernikahan. Aku tidak mengatakan apapun. Namun, Haesa mengatakan kalau aku yang harus menikah terlebih dahulu. Itu membuatku sedikit kesal.”

“Lalu kau memberitahu mereka mengenai seksualitasmu,” tutur Changwook.

Haneul menghembuskan nafas lalu menyandarkan punggungnya pada dinding. “Tidak secara langsung. Aku hanya mengatakan jika aku menikah, kemungkinan aku memilih menikah di Paris atau mungkin Belanda. Haesa sedikit bergurau kenapa aku harus melangsungkan pernikahan di sana, seakan aku menikahi seorang pria. Hal itu membuat kedua orangtuaku mulai menyadarinya.”

“Lalu? Bagaimana reaksi mereka?” tanya Changwook lagi dengan nada bicara yang tenang. Sebenarnya dia merasa penasaran, tapi melihat ekspresi Haneul, Changwook berusaha untuk tetap tenang. Dia akan membiarkan Haneul mengatakannya secara langsung, tanpa harus dirinya terus bertanya.

Haneul sedikit memiringkan kepalanya untuk melihat Changwook. Dia sedikit mengulas sebuah senyuman. “Tidak begitu buruk. Tapi masih harus butuh waktu. Aku cukup beruntung mereka tidak bertanya sejak kapan aku menyadarinya. Mereka hanya bertanya apakah aku merasa nyaman, bagaimana dengan situasi di rumah sakit. Lalu bertanya apakah aku mempunyai kekasih.”

Oh, Changwook menunggu pertanyaan itu muncul. Dia menatap Haneul dengan lekat. Setengah berharap jawaban yang diberikan Haneul sesuai dengan perkiraannya. Haneul mengalihkan pandangannya lalu mendesah pelan. Hal itu membuat Changwook semakin penasaran dengan jawaban Haneul.

“Lalu?” tanya Changwook penasaran.

Haneul melirik Changwook. “Bagaimana kalau kita makan malam dulu? Kau sudah di ruang operasi sejak pukul lima, bukan? Ini sudah hampir pukul delapan,” ujarnya seraya berdiri.

Sontak Changwook meraih pergelangan tangan Haneul. “Katakan dulu. Apa yang kau katakan pada orangtuamu?”

Haneul tersenyum lalu ia menggenggam tangan Changwook. “Memang kau pikir aku akan berbohong dengan mengatakan bahwa aku tidak punya kekasih? Aku mengatakan kalau ada seseorang, tapi aku belum mengatakan siapa orangnya. Ayolah, aku sudah lapar,” tukasnya sembari menarik Changwook agar dia ikut berdiri.

Changwook lalu berdiri tapi dia menahan Haneul saat pria itu hendak menariknya pergi. Haneul menatap Changwook dengan bingung. “Kita makan di apartmentku saja. Itu tadi operasi terakhirku untuk hari ini,” ucap Changwook.

“Okay. Ganti pakaianmu, aku akan menunggu di parkiran.”

*****

“Pastikan semuanya berjalan dengan lancar,” ucap Ki Joon pada pegawai kepercayaannya.

Sang pegawai mengangguk patuh. “Saya akan memberikan laporan perkembangannya, Tuan.”

Ki Joon mengangguk dengan senang. Dia memperhatikan sekeliling bandara Incheon yang masih begitu ramai. Dia akan kembali ke London untuk sementara, setelah itu dia akan kembali untuk menyelesaikan apa yang tertunda.

“Sidang hari Senin, pastikan kau hadir. Aku ingin laporan lengkap terutama terkait masalah itu. Mungkin setelah itu aku bisa memutuskan untuk mempailitkan Seon Hwan setelah memastikan bahwa namaku tidak terseret dalam masalah itu,” tutur Ki Joon lagi.

“Saya akan lakukan yang terbaik, Tuan. Anda tidak perlu khawatir.”

Tak lama terdengar suara pengumuman untuk seluruh penumpang Korean Air tujuan bandara Heathrow, London, untuk segera memasuki pesawat melalui pintu gerbang 4F. Itu adalah panggilan terakhir bagi Ki Joon.

Ki Joon menepuk bahu sang pegawai dan tersenyum. “Perhatikan dengan baik pasangan tersebut dan jangan terlalu keras pada mereka. Kita tidak ingin membuat masalah baru, bukan? Terlebih dengan Choi Group.”

Pegawai itu kembali mengangguk. “Saya mengerti, Tuan. Semoga perjalanan anda menyenangkan.”

Ki Joon menarik tangannya dari bahu sang pegawai, lalu berjalan menuju pintu gerbang 4F. Hari ini dia akan meninggalkan Seoul, namun dalam waktu lima hari, Ki Joon akan kembali untuk menyelesaikan semuanya.

Setelah melihat atasannya pergi, sang pegawai berjalan meninggalkan bandara. Ia mengeluarkan ponsel sembari terus berjalan menuju pintu keluar. Pegawai itu terlihat hendak menghubungi seseorang. Wajahnya terlihat tenang.

“Boss sudah mengeluarkan perintah. Lakukan sesuai dengan rencana dan kalian harus berhati-hati. Jangan membuat kesalahan seperti sebelumnya. Ingat, Boss tidak menginginkan masalah baru.”

*****

Kyuhyun mengernyit saat dia memanjat turun dari mobil. Siwon mengirimkan pesan di mana mereka harus bertemu. Tapi lokasi tersebut adalah sebuah taman yang berjarak kurang lebih tujuhratus meter dari rumah Kyuhyun. Awalnya Kyuhyun mengira kalau Siwon akan mengajaknya pergi ke suatu tempat seperti kedai makanan atau café. Tapi pada waktu menunjukkan pukul delapan lewat, pria itu malah membawanya ke taman.

Kyuhyun melihat mobil Siwon yang terparkir. Tapi dia tidak melihat pemiliknya. Kyuhyun memperhatikan sekeliling taman yang sepi. Dia tidak melihat sosok Siwon di mana pun. Entah pergi kemana pria itu dengan meninggalkan mobilnya di tempat yang sepi seperti ini. Kyuhyun sedikit beruntung karena lampu penerangan di taman tersebut masih berfungsi dengan baik.

Kyuhyun menghela nafas pendek lalu mengeluarkan ponselnya sembari berjalan menuju ayunan terdekat. Kyuhyun sedikit tersenyum melihat ayunan tersebut. Oh, rasanya dia tidak pernah datang lagi ke taman ini. Sampai dia kuliah di tahun pertama, Kyuhyun masih sering datang hanya ke taman ini sekedar untuk menyegarkan pikiran. Tapi setelah tahun kedua, dia malah menjadi lebih sibuk dengan tugas-tugas kuliah dan tidak pernah mengunjungi taman tersebut lagi.

Kyuhyun berusaha menghubungi Siwon, namun pria itu tidak menerima panggilannya. Akhirnya, Kyuhyun memutuskan mengirimkan pesan singkat. Kemudian dia memilih duduk di salah satu ayunan sembari menunggu. Kyuhyun tertawa kecil sembari mengayun pelan. Rasanya begitu kekanakan. Usianya sudah tigapuluhdua tahun, tapi dia masih merasakan kesenangan hanya dengan ayunan. Walaupun ia sedikit ragu apakah ayunannya cukup kuat menahan beban tubuhnya saat ini.

Kyuhyun terus mengayun pelan sampai sepuluh menit. Hingga Siwon muncul sembari berlari ke arahnya dengan membawa dua botol. Siwon menghampiri Kyuhyun yang sibuk mengayun. Dia tersenyum tipis pada Kyuhyun lalu menyodorkan sebuah botol air mineral.

Kyuhyun sedikit mengernyit, tapi dia menerimanya. Saat ia memegang botol tersebut, ternyata botol tersebut terasa hangat. “Terima kasih,” ucapnya.

Siwon mengangguk lalu ikut duduk pada ayunan lainnya. “Maaf membuatmu menunggu. Aku membelinya karena aku tahu kau pasti kedinginan.”

Kyuhyun memegangi botol tersebut dengan kedua tangannya. Sensasi hangat langsung menjalari di kedua telapak tangannya yang mulai memerah karena udara dingin. “Kau pergi kemana?”

“Aku makan ramyeon di mini market sana. Karena kau bilang masih harus bertemu dengan Hyukjae, jadi aku pergi makan dulu,” ujar Siwon sembari membuka botol air mineralnya lalu meneguknya beberapa-kali.

“Kau seharusnya makan malam dulu, Siwon. Kau bilang meetingmu selesai pukul lima. Kau bisa pulang dan makan malam sebelum kita bertemu,” tutur Kyuhyun.

Siwon menggeleng sembari menutup botol air mineralnya kembali. “Nah. Ibuku pasti akan melarangku untuk pergi lagi. Dia pasti tahu aku akan pergi menemuimu. Aku sedang tidak ingin berdebat dengan ibuku.”

Kyuhyun menatap Siwon dengan lekat. “Paling tidak kau bisa makan di restaurant atau kedai makanan. Dibandingkan kau harus makan ramyeon.”

Siwon tersenyum lebar. Dia menaruh botol air mineralnya di tanah lalu mulai mengayun. “Jadi begini rasanya diperhatikan oleh kekasih. Aku menyukainya.”

Kyuhyun mengernyit. “Apa maksudmu?”

“Perhatian seorang kekasih. Seperti yang baru saja kau lakukan. Itu terasa begitu menyenangkan. Aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Jadi, saat aku melihat Sooyoung atau bahwa istri Yunho begitu cerewet pada suami mereka mengenai apa yang mereka makan, bagaimana mereka istirahat atau hal lainnya, aku sama sekali tidak mengerti. Aku merasa itu terlalu berlebihan. Tapi aku kini mengalaminya sendiri. Rasanya tidak begitu buruk,” tukas Siwon.

Kyuhyun hanya mendengus pelan lalu ikut mengayun pelan. Mereka baru bertemu lagi setelah pertemuan mereka di hari ulang tahun Kyuhyun. Kyuhyun tidak tahu apakah dia merasakan rindu atau tidak, tapi saat melihat wajah Siwon hari ini, dia merasa senang.

“Kenapa kau ingin bertemu? Kupikir kau sibuk,” ujar Kyuhyun.

Siwon yang masih mengayun lalu melirik Kyuhyun. “Kau baik-baik saja? Sooyoung menghubungiku dan menceritakan apa yang terjadi di ice-rink. Kenapa kau tidak memanggil petugas keamanan untuk mengeluarkan Jinhae dari ice-rink?”

“Entahlah. Mungkin karena Jinhae cukup pintar. Jika aku menghubungi petugas keamanan, dia bisa saja menolak dan aku tidak bisa mengambil resiko yang akan membuatnya terluka. Selain itu, dia bilang kalau dia kabur dari children care. Kecuali pengawasan pusat children care yang terlalu lemah atau dia yang terlalu pintar. Kau harus memperhatikan hal itu, Siwon. Dan, Aku hanya berusaha membujuknya keluar dari ice-rink dengan cara yang mudah,” tutur Kyuhyun.

“Itu akan menjadi kritikan yang bagus. Aku akan mengatakannya pada direksi Legiun. Tapi bukankah itu sedikit licik. Membujuk Jinhae dengan ice-cream?”

Kyuhyun mengangkat bahu. “Anak kecil akan mudah dibujuk jika keinginannya dituruti.”

Siwon tersenyum tipis. Ia berhenti mengayun dan memandang Kyuhyun dengan lekat. “Tapi serius Kyuhyun. Apa kau baik-baik saja? Kau hampir mengalami episode lainnya. Terlebih ini dihadapan Jinhae. Sooyoung bilang kau terlihat pucat saat keluar dari ice-rink.”

“Jangan khawatir. Aku baik-baik saja. Mungkin karena ada Jinhae, aku berusaha mengontrol rasa takutku agar tidak menakutinya. Memang tidak begitu berhasil. Bahkan saran dari dokter Seo saja tidak bisa kulakukan dengan baik. Tapi saat Jinhae menyentuh kepalaku, rasanya sebuah beban terangkat dengan mudah. Itu adalah pengalaman pertamaku mengontrol traumaku dengan cepat,” jelas Kyuhyun.

Siwon masih memperhatikan Kyuhyun dengan serius. Itu membuat Kyuhyun mengerang. Dia tidak terbiasa dengan tatapan orang yang merasa kasihan padanya karena traumanya pada ice-rink. Apalagi jika mereka pernah melihatnya mengalami episode trauma tersebut. Semua pertanyaan mengenai apakah dia baik-baik saja atau apa dia harus pergi ke rumah sakit, membuat Kyuhyun kesal.

“Hentikan menatapku begitu, Choi Siwon. Aku berhasil melewati duapuluhlima tahunku bersama trauma ini. Hanya karena aku mengalami episode lagi, bukan berarti aku harus menjalani perawatan lagi seperti ketika aku berusia tujuh tahun. Itu sangat menjengkelkan, tahu.”

Siwon menghembuskan nafas panjang. “Aku hanya khawatir padamu, Kyuhyun.”

“Dan aku sudah mengatakan padamu berulang-kali bahwa aku baik-baik saja. Bisakah kau percaya pada ucapanku?” Oh, Kyuhyun benar-benar mulai kesal dengan perhatian Siwon yang terlalu berlebihan seperti ini.

Siwon menyadari kekesalan Kyuhyun karena pertanyaan berlebihannya mengenai kondisinya saat ini. “Baiklah, aku percaya. Maaf jika aku terlalu bersikap berlebihan.”

Kyuhyun mendesah perlahan. Dia hanya menggumam pelan sembari terus mengayun. Rasa hangat botol air mineral di tangannya mulai menghilang. Mungkin karena udara dingin. Kyuhyun melirik jam di pergelangan tangannya. Hampir pukul Sembilan. Oh, Kyuhyun kembali memakai jam pemberian Siwon. Entah kenapa sejak Siwon memberikannya, secara spontan Kyuhyun akan selalu memilihnya ketika ia hendak pergi keluar.

“Hari ini aku bertemu dengan Hyun Seol lagi,” ucap Kyuhyun dengan tiba-tiba.

Siwon tidak mengatakan apapun. Dia hanya menatap Kyuhyun dan menunggunya menjelaskan ucapannya.

Kyuhyun mengangkat kepalanya dan menghela nafas. “Aku telah mengakhirinya. Aku mengatakan padanya kalau aku menolak perjodohan tersebut. Walaupun aku tidak mengatakan alasannya, dia bisa menebak kalau aku tengah berhubungan dengan orang lain. Tapi aku tidak mengatakan bahwa aku berhubungan dengan seorang pria.”

“Kenapa?” tanya Siwon.

Kyuhyun kembali mengalihkan pandangannya. Dia menatap lurus. Tubuhnya masih mengayun mengikuti gerakan ayunan. “Mungkin karena aku adalah pecundang. Setelah aku memberitahu keluargaku, aku merasa takut dengan reaksi orang lain jika mengetahuinya. Coming out seperti ini adalah bukan keputusan yang mudah, Siwon. Aku berbeda dengan dirimu. Walaupun sebenarnya resiko yang kuhadapi tidak ada bandingannya dengan resiko yang harus kau tanggung jika semua orang mengetahui tentang seksualitasmu. Kau mempunyai nama baik keluarga besar Choi, citra perusahaan Choi Group, dan puluhan ribu pegawai dari seluruh anak-anak perusahaan Choi Group yang kau pertaruhkan. Itu akan jauh lebih buruk untukmu. Tapi aku takut apa yang terjadi padaku jika semua orang mengetahui tentang seksualitasku.”

“Kita mempunyai resiko yang sama, Kyuhyun. Nama keluargamu, perusahaan ayahmu, integritas pekerjaanmu. Kau mungkin juga takut hal ini juga akan berdampak pada pernikahan kakakmu. Itu adalah hal wajar. Aku juga mengkhawatirkan Jinri. Tapi aku selalu mengingatkan diri bahwa hidup ini adalah aku yang menjalaninya sendiri. Jinri akan mempunyai kehidupannya sendiri, dia pasti akan menemukan seseorang yang bisa mengerti dengan situasi keluarga kami termasuk mengenai seksualitasku. Kurasa kakakmu juga memikirkan hal yang sama. Dia akan memikirkan bagaimana dia harus menceritakan pada calon suaminya mengenai dirimu dan reaksi yang akan muncul. Itu adalah caranya sendiri, Kyuhyun. Kau tidak perlu khawatir dan itu tidak membuatmu menjadi seorang pecundang,” tutur Siwon.

Kyuhyun terdiam sejenak. Dia mendengarkan semua ucapan Siwon dengan baik. Rasanya sedikit aneh. Siwon bilang dia tidak pernah menjalin sebuah hubungan romantis sebelumnya, tapi kenapa semua ucapannya mengenai bagaimana suatu hubungan dijalani membuatnya begitu ahli dalam hal seperti ini. Atau mungkin itu hanya sekedar pemikiran logis. Siwon tentu bukanlah orang bodoh. Dia adalah salah satu direktur Choi group. Walaupun dia tidak mempunyai pengalaman dalam hal berkencan, tapi dia mempunyai banyak pengalaman dalam membuat keputusan sekaligus memikirkan dengan segala resikonya.

Keputusan Siwon untuk mengakui seksualitasnya pasti diikuti dengan resiko yang sudah dia perkirakan sebelumnya. Termasuk bagaimana dia harus bersikap untuk menghadapi masalah yang muncul. Seperti pembicaraan mereka saat ini. Setidaknya salah satu dari mereka bisa berpikir sesuai rasionalitas. Kyuhyun tersenyum tipis. Dia merasa begitu beruntung.

Siwonmelihat senyuman itu di wajah Kyuhyun. “Kau tersenyum. Apa yang kukatakan adalah cukup masuk akal bagimu?”

Kyuhyun melirik Siwon dan mengangguk. “Terima kasih. Aku menjadi jauh lebih baik.”

“Aku senang, kalau begitu. Kurasa kau harus pulang, ini sudah semakin malam,” tutur Siwon sembari bangun dari ayunan. Ia meraih botol air mineral dari tanah dan menatap Kyuhyun yang juga berdiri dari ayunan.

Kyuhyun menghampiri Siwon lebih dekat. “Kapan kau ingin bertemu lagi?”

“Oh? Apa kali ini kau ingin mengajakku berkencan?” tanya Siwon dengan wajah sumringah.

Kyuhyun memutar bola matanya. Tapi dia tidak bisa menutupi senyuman di wajahnya juga. “Bukan kencan. Aku hanya sekedar bertanya. Kau selalu meminta bertemu dengan mendadak. Setidaknya kita harus sepakat dulu untuk waktu dan tempatnya.”

Sontak ekspresi Siwon berubah menjadi serius. “Kenapa? Kau sedang tidak sibuk saat ini. Kenapa kita harus membuat kesepakatan kapan kita bisa bertemu? Kita bisa bertemu kapan saja atau setidaknya kau yang harus mengikuti jadwalku,” tukasnya.

Kyuhyun mendesah. “Sudahlah. Aku tidak ingin berdebat. Hati-hati menyetirnya. Selamat malam,” sahutnya yang kemudian hendak meninggalkan Siwon.

Tapi dengan cepat, Siwon menarik pergelangan tangan Kyuhyun dan mendekapnya dalam pelukan. Kyuhyun begitu terkejut karena Siwon menariknya dengan cepat. Dia berkedip beberapa-kali untuk memproses apa yang baru saja terjadi. Siwon sendiri semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Kyuhyun. Dia menenggelamkan wajahnya leher Kyuhyun sembari meresapi bau tubuh kekasihnya.

“Siwon..” ucap Kyuhyun pelan.

Perlahan Siwon melonggarkan pelukan mereka. Ia menatap wajah Kyuhyun dan menyatukan kedua kening mereka. Kyuhyun memejamkan matanya ketika ia merasakan hembusan nafas Siwon pada wajahnya. Siwon kembali mengulas sebuah senyuman. Tubuh Kyuhyun terasa lebih rileks dalam dekapannya.

“Aku ingin kita bisa bertemu kapan saja, Kyuhyun. Jika kau sedang membutuhkan seseorang, kau bisa mengandalkanku. Walaupun aku tidak bisa langsung pergi padamu, tapi aku akan tetap datang padamu. Begitu juga sebaliknya,” bisik Siwon. Perlahan tangan Siwon terangkat dan menyentuh wajah Kyuhyun. “Aku akan mengandalkanmu, Kyuhyun.”

Kemudian Kyuhyun membuka matanya dan menatap langsung pada Siwon. Perutnya terasa begitu aneh saat ini. Terlebih ketika Siwon mengatakan bahwa dia akan mengandalkannya. Ini adalah sesuatu yang begitu berbeda, walaupun Kyuhyun pernah mendengarkan hal yang sama dari orang lain. Namun, ucapan Siwon memberikan efek yang berbeda.

“Kau bisa percaya padaku Siwon,” gumam Kyuhyun.

“Aku tahu.”

Lalu Siwon mencium bibir Kyuhyun dengan lembut. Merasakan sensasi menggelitik di permukaan bibirnya, Kyuhyun membalas ciuman tersebut. Ia mengeratkan genggamannya pada botol air mineral yang diberikan oleh Siwon dan tangan lainnya bergerak mencengkram mantel yang dipakai pria tersebut. Siwon menggumam pelan sembari mengeratkan dekapannya pada tubuh Kyuhyun.

Siwon melumat lembut bibir bawah Kyuhyun. Ia memberikan sedikit jilatan pada bibir Kyuhyun. Sontak Kyuhyun membuka kedua belah bibirnya dan Siwon bisa menciumnya dengan lebih baik. Tangan Siwon yang berada di wajah Kyuhyun bergerak menuju bagian belakang leher Kyuhyun agar ia bisa memposisikan wajah mereka dengan benar.

Kyuhyun mendesah dalam ciuman mereka yang perlahan menjadi lebih bergairah. Kyuhyun bisa merasakan tangan Siwon yang berada di punggungnya menekan tubuhnya lebih dekat pada tubuh Siwon hingga tidak menyisakan ruang diantara mereka.

Kyuhyun berusaha untuk tetap bernafas, namun Siwon selalu bisa mencuri setiap tarikan nafas tersebut. Ketika ia mulai merasa kehabisan nafas, Kyuhyun mendorong tubuh Siwon untuk memberikan isyarat agar menghentikan ciuman mereka. Begitu kontak kedua bibir mereka terlepas, Kyuhyun mengambil nafas banyak-banyak dari mulutnya. Perlahan ia membuka matanya dan menatap Siwon.

“Aku mencintaimu, Kyuhyun.”

Saat Kyuhyun hendak membalas, ia seperti melihat bayangan seseorang yang seperti sedang mengawasi mereka berjalan pergi. Kyuhyun berusaha memfokuskan pandangannya, tapi cahaya penerangan taman tidak begitu terang. Selain itu sosok itu berada di tempat yang cukup gelap.

“Kenapa?” tanya Siwon dengan kening yang berkerut.

Kyuhyun kembali menatap pada Siwon lalu menggeleng. Dia tersenyum tipis. “Pulanglah, Siwon.”

*****

Ahra sedikit mengernyit ketika ekspresi ibunya terlihat tidak begitu senang setelah menerima panggilan telepon. Dia menghampiri sang ibu yang sedang duduk di ruang tengah. Tangan ibunya memegang erat ponsel. Ahra tahu kalau ada sesuatu yang membuat ibunya begitu marah saat ini. Dia hanya berharap kalau tidak ada hubungannya dengan Kyuhyun.

“Kenapa Eomma?” tanya Ahra.

Sang ibu menatap Ahra dengan lekat. “Kyuhyun pergi kemana, Ahra? Bukankah kalian tadi pergi bersama untuk membeli cincin.”

“Kyuhyun? Dia bilang ingin bertemu dengan Hyukjae. Ada apa Eomma?”

“Orangtua Hyun Seol baru saja menelepon. Mereka bilang kalau Hyun Seol dan Kyuhyun sepakat untuk membatalkan perjodohan. Kyuhyun pasti yang membujuk Hyun Seol untuk membatalkannya,” ucap sang ibu dengan nada bicara penuh kemarahan.

Oh, Ahra tidak pernah melihat ibunya marah seperti ini. “Eomma, mereka pasti sudah membicarakannya sebelum memutuskan untuk menghentikan perjodohan. Apa Hyun Seol memberitahu orangtuanya mengenai alasan mereka membatalkan perjodohan itu?”

“Hyun Seol bilang kalau mereka tidak saling cocok. Selain itu, mengharapkan hubungan dari perjodohan bukankah yang mereka inginkan. Hanya dengan mendengarkan alasan seperti itu saja, Eomma bisa menebak kalau Kyuhyun yang mengatakannya pertama-kali. Hyun Seol pasti hanya mengikuti keinginan Kyuhyun.”

Ahra menghela nafas pendek lalu duduk di sofa menghadap ibunya. “Kurasa Eomma tidak bisa memaksa Kyuhyun. Biarkan dia menjalani apa yang diinginkannya. Dia tahu apa yang terbaik untuknya sendiri, Eomma.”

Ucapan Ahra sontak membuat ibunya menatapnya dengan tatapan lebih marah. “Jadi, maksudmu membiarkan Kyuhyun menjalin hubungan menjijikkan adalah hal yang terbaik? Ahra, kenapa kau menjerumuskan adikmu sendiri? Seharusnya kau bisa menyadarkan Kyuhyun. Dibandingkan dia harus menjalin hubungan menjijikkan dengan seorang pria, Eomma lebih mengharapkan Kyuhyun berpegang pada cintanya pada Haesa.”

“Tapi itu hanya akan membuat Kyuhyun lebih menderita. Kyuhyun sudah memegang cintanya pada Haesa selama enam tahun, tapi gadis itu sama sekali tidak melihat pada Kyuhyun. Lalu apakah salah jika sekarang ada orang lain yang memberikan cinta yang sama pada Kyuhyun. Mereka hanya berusaha saling mengenal, bukan berarti mereka akan menikah. Eomma, selama ini Eomma yang paling memperhatikan kebahagiaan Kyuhyun, jadi kenapa kali ini Eomma malah berpaling dari kebahagiaan Kyuhyun?” tutur Ahra dengan tenang.

“Tentu saja itu adalah hal yang salah, Ahra. Kyuhyun harusnya menjalin hubungan dengan seorang wanita. Bukan PRIA. Bahkan jika dia telah melepaskan Haesa, bukankah dia harus mencari gadis lain? Tapi kenapa dia malah berpaling pada pria? Kyuhyun bukanlah homoseksual. Eomma tidak pernah melahirkan seorang homoseksual!!”

Ahra menarik nafas perlahan. “Eomma, cinta tidak pernah memberikan julukan apapun pada mereka yang merasakannya. Kyuhyun bukan seorang homoseksual, karena dia pernah jatuh cinta pada seorang gadis. Tapi bukan berarti hal itu menutupi kemungkinan bahwa Kyuhyun bisa jatuh cinta pada seorang pria juga. Aku juga demikian. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak jatuh cinta pada seorang gadis. Semua itu tergantung pada bagaimana kita menjalani hidup ini. Kyuhyun menjalani hidupnya sesuai dengan apa yang menurutnya adalah benar.”

“Menjalin hubungan dengan seorang pria itu adalah kebenaran?! Entah kau yang gila seperti adikmu atau Eomma yang gila jika mengikuti ucapanmu. Di dunia ini hanya ada satu hubungan yang sesuai dengan hukum dan moral. Hubungan antara pria dan wanita. Jika Kyuhyun tetap bersikeras mempertahankan hubungannya dengan pria itu, maka dia akan menerima hukumannya sendiri!”

Kemudian sang ibu berjalan meninggalkan ruang tengah. Ahra hanya bisa menghela nafas berat. Sepertinya ini tidak akan berjalan dengan baik. Orangtuanya begitu keras kepala. Jika perjodohan ini tidak berhasil, maka mereka akan mengusahakan perjodohan lainnya. Mereka pasti akan menekan Kyuhyun agar ia memutuskan hubungannya secara terus-menerus sampai Kyuhyun menyerah dengan sendirinya.

Namun, hal itu hanya akan membuat Kyuhyun lebih menderita.

Ahra lalu berdiri dan hendak kembali ke kamar ketika ia melihat Kyuhyun yang sudah berdiri di hallway. Matanya membulat. Kyuhyun pasti mendengarkan perdebatannya dengan sang ibu. Ahra kemudian menghampiri Kyuhyun. Dia memperhatikan wajah Kyuhyun dengan lekat.

“Kyuhyun, apa yang kau dengar?” tanya Ahra pelan.

Kyuhyun tersenyum tipis. “Tidak cukup banyak. Kenapa noona sudah pulang? Kupikir setelah aku pergi, kalian akan pergi kencan atau semacamnya. Apa Jisung hyung masih sibuk dengan pekerjaannya?”

“Kyuhyun-ah…”

Kyuhyun memeluk Ahra dengan erat. Dia menarik nafas perlahan. “Terima kasih. Aku akan beristirahat. Selamat malam, noona.” Kemudian ia melepaskan pelukannya. Kyuhyun sempat mencium kening Ahra sebelum ia lalu berjalan menuju anak tangga.

*****

Sara menaruh cangkir teh hangat di meja kerja Junhyeok.

“Terima kasih,” ucap Junhyeok yang masih sibuk memeriksa beberapa kelengkapan dokumen perusahaan.

Sara memperhatikan suaminya dengan lekat. Ia menarik nafas perlahan sebelum akhirnya bicara. “Junhyeok, bisa kita bicara sebentar? Ada sesuatu yang ingin kukatakan.”

Junhyeok mengangkat kepalanya. Ia memandang Sara yang berdiri dihadapannya. “Ada apa? Ini berkaitan dengan anak-anak atau…”

“Mengenai Yifan.”

Junhyeok memperhatikan Sara dengan seksama. Ini adalah pertama kali ia melihat Sara begitu gugup ketika bicara. Terlebih ini berkaitan dengan Yifan. Junhyeok menghela nafas pendek. Dia menutup dokumen lalu mengambil cangkir teh yang dibawakan oleh Sara lalu berdiri. Ia memberi isyarat agar mereka duduk di sofa sembari bicara.

Sara menghela nafas lalu duduk di sofa. Diikuti oleh Junhyeok yang duduk disampingnya sembari menyeruput teh hangat tersebut. Kemudian Junhyeok menaruh cangkir teh itu di atas coffee table lalu berfokus pada Sara yang terlihat gugup.

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan mengenai Yifan?” tanya Junhyeok dengan tenang. Jika dia terkesan begitu mendesak Sara untuk bicara, itu hanya akan membuat istrinya menjadi ragu.

Sara menarik nafas perlahan lalu menatap Junhyeok dengan lekat. “Aku tidak tahu apakah kau bisa menerimanya atau tidak, tapi Yifan adalah putraku. Aku tidak akan meninggalkan sendirian. Di dunia ini Yifan hanya memilikiku seorang. Aku bahkan tidak yakin bagaimana reaksi keluargaku di Guangzhou jika mendengar hal ini.”

Junhyeok sedikit mengernyit. Dia tidak mengerti kenapa Sara bicara seperti itu. Mereka sudah menikah dan Yifan sudah resmi menjadi putranya juga. Apapun yang akan dibicarakan Sara mengenai Yifan, Junhyeok yakin tidak akan mempengaruhi pandangannya pada Yifan.

“Sara, katakan saja. Tidak apa-apa. Apapun masalahnya, kita bisa mencari jalan keluarnya bersama,” tutur Junhyeok.

Sara memejamkan matanya. Dia menarik nafas dan menghembuskan secara teratur. Kemudian ia membuka matanya dan meraih tangan Junhyeok dan menggenggamnya dengan erat. “Yifan.. Dia seorang homoseksual.”

Akhirnya, Sara mengatakannya. Dia telah berulang-kali memikirkan kapan waktu yang tepat untuk mengatakannya apda Junhyeok. Awalnya Sara ingin mengatakannya ketika Yifan sudah berada di London, tapi yang ia takutkan adalah reaksi Junhyeok dan Joonmyeon. Entah bagaimana mereka melihat Yifan ketika putranya kembali. Jadi, Sara memutuskan untuk mengatakan pada Junhyeok terlebih dahulu. Jika reaksi Junhyeok tidak begitu baik, setidaknya Yifan sudah tinggal di dorm. Dan untuk pertama-kali, Sara bersyukur Yifan dan Joonmyeon berbeda kelas.

Junhyeok terdiam sejenak setelah mendengarkan pengakuan Sara mengenai seksualitas Yifan. Sara memperhatikan suaminya dengan khawatir. Ekspresi Junhyeok sama sekali tidak bisa dibaca. Entah apakah Junhyeok merasa marah, jijik atau mungkin memahaminya.

“Junhyeok-sshi..”

Junhyeok tersadar. Dia menghela nafas pendek dan merasakan kalau Sara semakin erat menggenggam tangannya. Junhyeok bisa merasakan ketakutan Sara akan reaksinya. “Kapan Yifan menyadarinya? Ma-maksudku… Oh. Kapan kau mengetahuinya juga?” tanyanya dengan berusaha tetap tenang.

Hal seperti ini sama sekali tidak pernah terbayang sebelumnya oleh Junhyeok. Walaupun dia tidak yakin bagaimana dirinya harus bereaksi, namun setidaknya Junhyeok bisa mendengarkan penjelasan dari Sara.

“Yifan mengatakannya padaku saat Joonmyeon masih di rumah sakit. Hari di mana Joonmyeon tersadar. Dia mengatakan sudah mulai menyadarinya sejak masih di Kanada. Tapi dia tidak bisa mengatakannya padaku saat itu. Mungkin karena dia merasa tidak yakin dengan dirinya. Junhyeok-sshi, apa kau tidak menyukainya? Apa kau tidak bisa menerima Yifan?”

Junhyeok menyandarkan punggungnya di sofa. “Apa karena itu dia memutuskan untuk kembali tinggal di dorm?”

“Mungkin saja. Kurasa Yifan sudah memikirkannya baik-baik sebelum mengatakannya padaku. Jika kau mengetahui tentang seksualitasnya dan tidak bisa menerimanya. Terlebih dengan kondisi Joonmyeon saat itu. Dia tidak ingin membuat situasi menjadi lebih buruk,” tutur Sara.

Junhyeok menarik nafas perlahan. Sara masih memperhatikan suaminya dengan serius. “Apa kau tidak menyukainya? Seksualitas Yifan, maksudku. Terlebih kau juga memiliki Joonmyeon. Aku pikir…”

“Bukan begitu, Sara. Yifan mempunyai hak pribadinya. Seksualitasnya tidak ada kaitannya dengan bagaimana orang lain memandangnya. Aku hanya sedikit terkejut. Hanya tidak pernah terbayang saja. Tapi bukan berarti aku bersikap defensif atas seksualitasnya. Yifan mungkin merasa takut karena dia tidak pernah mengatakannya. Lalu bagaimana dengan teman-temannya? Kau tahu yang pergi liburan ke Jeonju bersamanya,” ucap Junhyeok.

Sara sedikit menghela nafas lega. Reaksi Junhyeok tidak begitu buruk seperti dugaannya. “Luhan? Aku rasa Yifan pasti sudah memberitahunya. Sejak dia pindah ke Seoul, teman dekatnya hanya Luhan. Jadi, aku pikir Yifan pasti merasa nyaman dengannya untuk menceritakan segalanya.”

Junhyeok tersenyum tipis. “Itu bagus. Yifan tidak sendirian, Sara. Dia mempunyai temannya. Dia mempunyaimu. Dia juga mempunyai keluarga yang akan selalu menerimanya. Jangan khawatir tentangku. Tapi kupikir kita tidak perlu mengatakannya pada orang lain –keluargaku maksudku. Tapi untuk keluargamu, itu adalah keputusanmu sendiri.”

“Lalu Joonmyeon?”

“Yifan harus mengatakannya sendiri pada Joonmyeon. Mungkin itu sedikit tidak nyaman bagi Yifan, tapi jika Joonmyeon harus tahu maka Yifan sendiri yang harus mengatakannya. Mereka adalah saudara sekarang.”

Sara tersenyum tipis dan mengangguk. “Aku akan mengatakannya pada Yifan. Terima kasih.”

Junhyeok mencium kening sang istri lalu merangkul bahunya. “Yifan adalah putraku juga. Orangtua tidak akan pernah meninggalkan anak-anaknya.”

*****

Changwook melepaskan bibir Haneul. Dia menatap kekasihnya dan tersenyum. Tangannya bergerak dari leher menuju pipi Haneul lalu mengusap lembut. “Kupikir kau ingin makan malam,” bisiknya.

Saat mereka memasuki apartment Changwook, Haneul tiba-tiba mendorong tubuh Changwook ke dinding terdekat dan menciumnya dengan penuh gairah. Well, Changwook tidak keberatan. Tapi dia sedikit tidak terbiasa dengan Haneul yang begitu agresif sejak mereka mulai berhubungan. Rasanya Changwook mengenal kembali sosok Haneul yang sebenarnya.

Haneul menenggelamkan wajahnya di leher Changwook. Dia meresapi bau tubuh Changwook. “Kenapa? Kau tidak menyukainya,” sahutnya dengan pelan.

Changwook mendesah ketika nafas Haneul terasa begitu panas di lehernya. “Aku menyukainya. Tapi… Apa ini dirimu yang sebenarnya, Kang Haneul? Aku terkejut.”

“Kau akan jauh lebih terkejut lagi nantinya,” gumam Haneul yang diikuti oleh ciuman-ciuman kecil di leher Changwook.

Haneul menekan tubuh Changwook pada dinding. Padahal sudah tidak ada jarak yang tersisa. Ia bisa merasakan tubuh Changwook memberikan reaksi atas godaannya. Terlebih pada bagian tubuh bawah. Haneul menyeringai. Tangannya mulai bergerak dengan seduktif.

Changwook memejamkan matanya dan mengerang penuh gairah setiap ujung jemari Haneul menyentuh permukaan kulitnya. Tangan kekasihnya berada dibalik pakaiannya, menggodanya dengan sensual.

“God.. Haneul!”

Haneul tertawa kecil. Dia menikmati setiap reaksi Changwook atas sentuhannya. Kemudian Haneul kembali mencium bibir Changwook. Dia mulai menyukai bagaimana sensasi yang tercipta ketika kedua bibir mereka bertemu. Haneul juga menyukai bagaimana Changwook menciumnya. Dan ketika Changwook mulai mengambil-alih, Haneul dengan senang hati menyerahkan dirinya.

Haneul merasa tubuh Changwook mulai mendominasi ketika mereka mulai bergerak dari hallway. Tanpa melepaskan ciuman mereka, Changwook membawa Haneul menuju ruang tengah. Jarak ke kamar terlalu jauh. Ketika tubuh Haneul jatuh ke sofa, Changwook tidak membuang kesempatannya. Changwook memposisikan tubuh mereka di sofa yang cukup sempit bagi mereka berdua.

Haneul kembali tertawa ketika ciuman mereka terputus. “Aku yakin tempat tidur akan jauh lebih nyaman,” tukasnya.

Alis Changwook terangkat. “Tempat tidur? Apa kita akan melakukannya?”

“Apa kita tidak?” balas Haneul.

Oh, Haneul terlihat serius. Itu sedikit mengejutkan. Entah ini memang keinginan sadar Haneul atau dia sedang terbuai oleh hormone serta gairah sesaat. Changwook tidak ingin mereka menyesalinya nanti. “Kau serius?”

“Apa kau pikir ini hanya karena gairah saja? Aku sudah tigapuluhdua tahun, Changwook. Aku tahu apa yang aku inginkan,” tutur Haneul dengan nada serius.

“Bukan begitu, hanya saja…”

Haneul menyela ucapan Changwook dengan kembali menciumnya. Selain itu, dia juga kembali menggoda Changwook. Dengan berani, tangan Haneul bergerak ke bagian bawah tubuh Changwook. Dia menekan bagian depan celana Changwook dan membuat pria yang berada di atas tubuhnya mendesah keras.

Haneul kemudian melepaskan ciuman mereka. Ia tersenyum pada Changwook sembari tangannya terus bergerak untuk melepaskan kancing jeans Changwook. “Ada yang ingin kutanyakan padamu. Seberapa sering kau memfantasikan diriku, dokter Ji?” tanyanya dengan penuh seduktif.

Oh, Changwook benar-benar tidak mengenal sosok Haneul saat ini. Terlebih kini Haneul berhasil melepaskan kancing jeans dan menurunkan resleting celananya. Changwook menarik nafas perlahan ketika tangan Haneul menyentuh celana boxernya.

“Haneul…”

Haneul menggumam pelan. Changwook kemudian menjatuhkan kepalanya di bahu Haneul. Oh, Haneul benar-benar sedang menggodanya saat ini. Changwook mendesah ketika ia merasakan tangan kekasihnya menyentuhnya dengan begitu intim.

“Dokter Ji, kau belum menjawab pertanyaanku. Seberapa sering kau memfantasikan diriku? Sebagai pasienmu mungkin.”

Changwook menghela nafas berat. “Kinky pervert,” gumamnya.

Haneul kembali tertawa. “Well, itu pertanyaanmu dokter.”

Changwook sudah tidak bisa menahan diri lagi. Suara seduktif Haneul, aroma tubuh kekasihnya, serta sentuhan tangan Haneul. Itu semua membuat tubuh Changwook serasa akan meledak. Jika Haneul menginginkannya, maka Changwook akan dengan senang hati memberikannya. Dengan cepat, Changwook menarik tangan Haneul dari dalam celana jeansnya.

Changwook mengangkat kepalanya dan menatap Haneul dengan lekat. “Kau benar-benar pasien yang nakal, Kang Haneul.”

“Kalau begitu hukum aku, dokter Ji.”

*****

NOTE: Well… Dua minggu berkutat dengan fanfic ini, akhirnya part 46 jadinya seperti ini.. ^^; Ini seharusnya menjadi fanfic terakhir yang update di bulan ini. Tapi.. Mungkin ada fanfic lainnya. Mungkin Stranger..

Music: SPICA – Russian Roulette

Advertisements

30 thoughts on “[SF] Scarface Part 46

  1. andai saja orang tua siwon dan kyuhyun bisa seperti orang tua joon dan yifan, atau seperti orang tua haneul yang bisa menerima seksualitas mereka. atau paling nggak mereka gak harus memaksakan kehendak mereka sebagai orang tua, toh wonkyu sudah sangat cukup dewasa untuk menentukan pilihan sendiri. ya tapi mungkin reputasi keluarga dan perusahaan lebih penting..

    paling seneng di chapter ini itu pasangan changwook dan haneul,, diantara yang lain kayanya mereka yang lebih mudah menjalani hubungannya, dan malah udah ketahap yang…..
    aku masih berharap hubungan yifan dan joomyeon bisa lebih dari saudara !!!

  2. Wadaw wadaw changwook haneul one step ahead bgt nih dr mereka semua pair yang ada disini :”””))) di cut nya bisa banget lagk dibagian pas mau wkwkwk /pervy reader is pervy
    Pasti pas wonkyu di taman orang suruhannya kijoon yang ngawasin mrk dan foto2 dsb zzzz ganggu org pacaran aja sih….
    Masih berharap semoga ibunya siwon dan ortunya kyuhyun segera dibukakan pintu hatinya kalo yg mrk lakuin menyakiti anak mrk 😭
    Seneng deh ayah tirinya yifan ga ngucilin yifan karena dia berbeda tapi malah nyupport yifan… Smg hubungan krisho ada progress walaupun gayakin juga sih😞

  3. Hubngan wonkyu smakin kuat kurasa trutama dipihak kyu sendri,,,meski kyu msh mrasa ragu pi hatinya slalu yakin dgn hbngan mrka!! Wahhh ibunya kyu keras bgt kurang lbih kaya ibunya siwon….pasti akan smakin mnyulitkan hbngan wonkyu,,,blm lagi ki joon,,,apa yg dy rnvanakan buat wonkyu?????? Makin penasaran!!
    Good job!!

  4. Reaksi keras eomma Cho benar-benar bikin merinding disko!!! -_-
    Semoga WonKyu bisa bertahan sampai akhir!! Siapa lagi yg mengintai Wonkyu, bisa jadi ki joon atau ny.Choi??
    d tggu kelanjutannya aja ne!! 🙂

  5. kyak nya prjuangan cinta wonkyu tmbh brat aza,,,mg wonkyu bsa brthan bwatngejuangin cnta mereka,,,ngomong2 sapa tuch y nguntit wonkyu ???
    ok oenni d tunggu next part’y and crita2 yg lain nya coz aq g prnah bsen bwat bca ff mu ,,,thank’s

  6. deg2an baca yang terakhir,, kiraen bakalan di lanjutin,, hehhe tiba2 di cut,, penasaran,, ff ini panjang banget,, mpe sekrang aku gk ngerti motif uhm ki joon apa???

  7. Relationship between Haneul and Changwook went well…..
    I guess Haneul family will accept this relationship
    Siwon and Kyuhyun relationship is getting harder with both their family disagree but luckily that their cousin and sister accept this relationship
    Happy to see that Kyuhyun is getting firm in his relationship with Siwon 🙂
    What is Ki Joon is plannning towards Siwon and Kyuhyun????
    Waiting for next chapter….. Update soon pls!!!

  8. Akhir yang membuat penasaran banget heheheh. Tmbh penasaran sama motif uhm ki joon. Mau di bikin apa wonkyu sama org itu…

    Makasi eonni udah update. Seneng banget sama ff ini heheheh…

  9. Orang tua Kyu benar-benar menolah hubungan Wonkyu. Kasian Kyu!
    Apalagi dengan perlakuan ibunya Siwon. Lengkaplah sudah penderitaannya heeee. Tapi suka kalau Kyu menderita##plak#
    Pokoknya ditunggu aja lanjutannya…..
    The Last King juga ditunggu…..

  10. Heol ~ Haneul sma Changwook aja udh intim bgt,Wonkyu kapan? ._.
    bener..coba aja keluarga Wonkyu sma kyk JiNeul pasti ga akan serumit ini masalahnya huks
    kira2 siapa ya yg ngintip Wonkyu ciuman ditaman itu? suruhan Kijoon bkn? takut aja gitu klo dia foto Wonkyu trs nyebarin tuh foto,aku yakin Yoojin bakal beraksi lg.
    kan kasian Kyu nya /eh

    oia ra klo mau lanjutin kgiatan JiNeul mending jgn pas puasa,tau lah XD
    slalu ditunggu lanjutan nya ya ^^

  11. Woowww kang haneul..
    Trnyaa haneul bsa agresif gt yaaa.. wah wah
    Trs kyuhyun bkalan kya gtu jga ga nnti ya? Duh ga sabar ngliat prubahan sikap kyuhyun ke siwon
    Hahahaha
    Nah kyanya bakalan bnyak rintangan yg dtang nih dlm hubungan siwon kyuhyun, smoga aja mreka bsa saling menguatkan
    Dtunggu bgt klanjutannya yaaa

  12. Itu bayangan,, kira kira apa ya? Siqpakah itu? Mungkinkah orang” suruhanya ki joon? Kyuhyun mendengar percakapan Ummax dg ahra kira” seperti apa reaksi kyuhyun, Aduh Umma biarkan anak mu bahagia dg pilihanya sendiri,,, Siwon Bahkan tidak bertanya apakah Kyuhyun Sudah makan atau belum, mengingat kemarin saat kejadia d legiun kyuhyun tidak memakan makanya walaupun ahra telah membujuknya untuk makan hoho

  13. wooowww haneul dan changwook bahkan melangkah sangat maju ya hahaha
    dan keluarga haneul lebih terbuka sama orientasi nya..
    padahal bisa dbilang keluarga haneul pun, keluarga yang terpandang.. siapa tak kenal ayahnya?? seorang pengacara senior dan karir haneul yang cemerlang di bidang kedokterannya…

    haaahh sulit memang jika dibandingkan dengan wonkyu yang maish stuck di tidak bisanya keluarga mereka menerima dengan lapang dada…
    bahkan di keluarga kyuhyun, hanya ahra yang bisa menerima dengan lapang dada… kenapa ga dibuat appa cho dan choi bertemu..
    siapa tau dari bertemu, appa cho bisa merubah pandangannya…
    untuk eoma choi… yakin deh suatu saat nanti pun akan berubah..
    sama seperti umma cho yang saat ini masih kekeuh akan pendiriannya…
    ah g sabar nunggu kencannya wonkyu..

    bolehkah berharap bahwa chap depan akan banyak wkm nya dan juga apdet sebelum puasa??
    hehehehe…
    makasih sebelumnya ya…

  14. kasian kyuhyun.orang tuanya akan terus menjodohkan dia dengan seorang gadis.
    hubungan mereka akan selalu ada halangannya

  15. haduuuuh diera sayang,pertayaan onnie,wajib gt ya publish dini hari?smlm tuh udh snng bngt liat tweet km yng blng mw publish,eeehh sampe molor,sampe bangun,trus berangkat kerja,jd lupa mw bc part 46 nyaaaaa😭😭😭
    dn akhirnya br bs baca di sela2 kerja gini,hahaha
    btw makin panas gt ya perseteruannya,makin ngeri klo bakal ada part yng bnr2 misahin wonkyu,oh tidak!

  16. umma cho gak kalah menyeramkan dengan umma choi, sama2 berusaha untuk memisahkan wonkyu dengan cara apapun
    hubungan wonkyu tambah sulit aja, belum lagi rencana ki joon pasti juga akan mempengaruhi hubungan wonkyu nantinya
    siapa orang yg ngintip wonkyu di taman ? apa orang suruhan ki joon ?
    semoga wonkyu tetap berusaha mempertahankan hubungannya apapun yg terjadi nanti

  17. hubungan wonkyu masih terhalang restu tp untungnya mereka gak mudah berpisah.. huhu
    buat krisho lebih sulit lagi.. gimana reaksi ortu mereka kalo tahu mereka saling suka walaupun joonmyeon gak terang2an / bahkan menghindar dr perasaan itu..
    changwook ma haneul mah adem ayem ajaa dan makin sweet.. thx thor sorry baru komen sekarang

  18. halangan orang tua siwon dan kyuhyun aja udah sulit…masi ada ki joon yg ganggu…
    dan siwon..knp km cium kyuhyun d taman??itu temlat terbuka…siapa yg ngintip tuh??utusan ki joon kh??
    masi g tau maksd dan tujuan ki joon ganggu wonkyu.
    ortu yifan terbuka akan perbedaan..mrka memilih kebahagiaan anak…andai ortu wonkyu jg gitu
    masalah mereka pelik krn status sosial mreka.
    dan aq merasa kasian dgn han seol yg dijodohka dgn kyu…kurasa dia gadis baik…beda dgn haesa…klo pun wonkyu tdk bersatu…aq pgn ny kyu sama han seol ^^

  19. hubungan wonkyu tambah rumit aja.
    orang tua masing2 menolak dengan keras hubungan mereka berdua. semoga aja hubungan wonkyu bisa bertahan sampe akhir. ditunggu chapter selanjutnya ^^

  20. Kyuhyun brani memutuskan perjodohan tu cukup brarti biarpun blum berani mengakui alasan sbenarnya dan kyuhyun jg mulai tau klau di awasi?
    Berharap masalah wonkyu cepat selesai

  21. andai aja wonkyu kayak hubungan haneul dan changwook pasti sya senang bgt mudahan” aja masalah mereka semua cepat selesai dan biar happy ending kisah wonkyu jd semangtnya author utk buat kelanjutan ff scarface

  22. akhirnya bisa dibuka lagi.
    aku sampe binggung bahkan sempet panik gimana caranya masuk.soalnya aku gaptek.
    aku suka banget ff kamu terutama yg the last king….
    jangan di password lagi ya….
    ditunggu ff yang update

  23. Sejauh ini…aq rasa hubungan Haneul dan Changwook yang terlihat lancar dan sdkit berjalan lebih mudah.Aq harap…2 pasangan lainnya juga bisa segera mngikuti hehehe…Uri WonKyu dan Yifan with Joon.
    Dan semoga..suatu saat nanti mereka bisa mnjalin hubungan baik.

    Fighting eonni..gumawo.

  24. Hubungan wonkyu terasa sangat sulit, tp jika sikap wonkyu bs sprt biasanya aku yakin mrk akan yetap bs mengatasi segala mslh atau halangan yg dibuat oleh orang” yg menentang hubungan mrk…
    Aigooo…jikang apakah benar” akan melakukannya??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s