[SF] Stranger [2]

stranger

Stranger

– JaeYong-

[2]

Ketiga kali Jaehyun bertemu dengan Taeyong adalah ketika ia sedang berlatih basket. Jaehyun sedang berada di pinggir lapangan sekadar beristirahat sejenak sedangkan anggota tim lainnya sibuk berlatih. Secara tidak sengaja, dia melihat sosok Taeyong yang baru saja keluar dari ruang olahraga. Kening Jaehyun mengernyit.

Hari ini adalah hari Minggu, jadi tidak banyak siswa yang datang ke sekolah. Kecuali anggota klub olahraga, seperti klub basket, atletik dan bisbol. Dan melihat pakaian yang dikenakan Taeyong –pemuda itu memakai pakaian kasual seperti tshirt polos berwarna putih, ripped black-jeans serta jaket hitam– Jaehyun tahu kalau dia tidak mungkin anggota klub olahraga.

Kemudian Jaehyun meraih jaket lalu memakainya. Dia menoleh ke arah teman-temannya yang masih sibuk bermain. “Hey, aku pulang duluan ya!” serunya sembari meraih tas ranselnya.

Beberapa temannya hanya menyahut sekadarnya tanpa menatap Jaehyun. Mereka sibuk merebut bola satu sama lain. Jaehyun tersenyum tipis lalu ia bergegas untuk mengejar Taeyong. Walaupun Doyoung mengatakan kalau Jaehyun seharusnya tidak berurusan dengan Taeyong –bahkan sekalipun Jaehyun bilang dia hanya merasa penasaran– tapi ia tidak peduli.

Toh, rasanya tidak akan menyakiti siapapun jika Jaehyun hanya ingin mengenal Lee Taeyong.

Jaehyun memperhatikan sosok Taeyong yang berjalan didepannya. Kurang lebih ada jarak sekitar satu setengah meter diantara mereka. Jaehyun berusaha tetap menjaga jarak tersebut agar Taeyong tidak merasa kalau Jaehyun sedang mengikutinya. Tapi sepertinya Taeyong tidak begitu menyadarinya. Jaehyun melihat kedua telinga pemuda itu tersumpal oleh earphone.

Jaehyun menarik nafas perlahan.

Ketika mereka sampai di gerbang utama, Jaehyun sedikit mengernyit ketika Taeyong menghampiri sebuah mobil hitam yang terlihat mewah. Oh, Doyoung tidak mengatakan mengenai bagaimana situasi keluarga Taeyong. Tapi sekali lagi, tidak alasan bagi Doyoung untuk menceritakan segala sesuatu yang ia ketahui mengenai Taeyong pada Jaehyun.

Jaehyun berusaha untuk mengabaikan. Dia terus berjalan menuju arah halte bis terdekat. Namun, dia sedikit dikejutkan oleh suara Taeyong yang terdengar marah. Jaehyun berbalik dan melihat Taeyong sedang berbicara dengan seorang pria paruh baya. Jaehyun pikir itu anggota keluarganya –mungkin ayahnya. Tapi sikap Taeyong yang begitu agresif saat berbicara pada pria itu membuat Jaehyun kembali bertanya-tanya.

Jaehyun melihat Taeyong bicara dengan begitu kasar lalu pergi. Taeyong berjalan ke arahnya. Ia bisa melihat ekspresi kemarahan Taeyong di wajahnya. Jaehyun sempat berpikir kalau Taeyong mungkin akan menyadari keberadaannya.

Tapi pemuda itu hanya terus berjalan melewatinya begitu saja.

***

Taeyong tidak tahu kenapa pria itu malah muncul di sekolahnya. Dia sudah berusaha menghindarinya di rumah dan pergi ke sekolah sekedar untuk menghabiskan waktu. Kini, Taeyong tidak akan bisa pulang sampai malam menjelang. Entah dia harus pergi ke mana lagi. Tapi pria itu memaksanya untuk pulang.

“Pulang dan kita bicara,” ucap pria tersebut.

Taeyong mendengus. “Tidak mau. Lagipula tidak ada yang bisa dibicarakan.”

“Taeyong-ah, jangan bersikap seperti ini. Kau tahu persis bagaimana situasinya. Jangan membuatnya menjadi lebih rumit.”

Mata Taeyong menyipit. “Aku yang membuat lebih rumit?! Tch.. Memang apa yang kulakukan. Ini semua terjadi karena kalian. Tidak ada urusannya denganku. Oh, bahkan kalian tidak pernah membicarakannya denganku. Kalian bahkan sudah membuat keputusan secara sepihak. Sekarang, kalian ingin bicara? Tapi karena aku menolak, kalian mengatakan bahwa aku yang membuat situasi ini menjadi lebih rumit.”

“Lee Taeyong…”

“Aku tidak akan pulang! Aku akan pulang, jika aku ingin. Jangan memaksaku atau bahkan menyuruh orang untuk mengikutiku.” Kemudian Taeyong hendak berjalan meninggalkan pria tersebut. Tapi sang pria dengan cepat menahan pergelangan tangan Taeyong.

Hal itu membuat Taeyong langsung menepis tangan si pria dengan kasar. “Sudah kubilang jangan memaksaku!!” serunya dengan keras.

Pria itu terdiam dan hanya menatap Taeyong. Kemudian Taeyong berjalan dengan cepat meninggalkan pria tersebut. Emosinya naik begitu cepat hingga dia tidak bisa mengontrolnya dengan baik. Taeyong tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Tapi ketika pria itu datang, seolah semua batasan emosinya telah hancur dan gelombang emosi datang seperti tsunami tanpa peringatan.

Taeyong menyadari bahwa ada orang yang memperhatikannya. Tapi dia tidak pernah mempedulikannya. Apa yang terjadi adalah urusan pribadinya. Jadi, selagi dia tidak mencampuri urusan orang lain, maka orang lain itu pun tidak berhak mencampuri masalahnya. Taeyong terus berjalan melewati orang yang mungkin tanpa sengaja mendengar suaranya yang begitu besar.

Taeyong hanya ingin pergi. Dia hanya ingin seorang diri.

***

Jaehyun terdiam.

Dia sedang menunggu bis datang. Tapi pikirannya melayang jauh. Dia memikirkan apa yang baru saja disaksikannya. Dua kali mereka bertemu, Jaehyun tidak pernah melihat ekspresinya. Tapi kali ini, dia melihat bagaimana ekspresinya ketika marah. Tidak terlihat menyeramkan, tapi Jaehyun malah merasakan kesedihan yang begitu besar.

Jaehyun tidak tahu apa yang terjadi dan dia juga tidak ingin sok ikut campur karena mereka sama sekali tidak mengenal.

Jaehyun menghela nafas. Ini bukanlah dirinya. Seperti kata Doyoung, Jaehyun tidak pernah merasa penasaran dengan orang yang tidak dikenalnya. Tapi ini sesuatu yang berbeda. Sejak dia pertama-kali melihatnya tertidur di perpustakaan. Jaehyun tahu bahwa Taeyong berbeda. Dan dia tidak bisa menahan diri untuk merasa penasaran pada ‘orang asing’ tersebut.

Pada Lee Taeyong.

Jaehyun tersadar dari lamunannya ketika bus datang.

***

Taeyong memejamkan matanya. Dia hanya mendengarkan apa yang diucapkan oleh guru Sejarah di depan kelas. Tapi dia tidak menyimak. Semua ucapan mengenai sejarah mengenai pendudukan Jepang di Korea Selatan hanya mengalir begitu saja tanpa ada satu pun yang terekam dalam ingatannya.

Taeyong menarik nafas perlahan. Dia ingin kembali ke perpustakaan dan tidur.

“Lee Taeyong? Apa kau tidur?”

Taeyong membuka matanya dan mendapati semua teman sekelasnya melirik padanya. Begitu juga dengan sang guru sejarah yang terlihat tidak senang dengan sikapnya. Taeyong hanya memejamkan mata, tapi kenapa sang guru malah menuduhnya tertidur?

Taeyong menatap sang guru yang kembali mengulang pertanyaan yang sama. “Apa kau tertidur, Lee Taeyong?”

“Tidak. Aku hanya mendengarkan,” ucapnya singkat.

Taeyong tahu jawabannya tidak akan membuat gurunya merasa yakin. Kini dia yakin bahwa guru itu akan memberikan pertanyaan lain mengenai apa yang dibicarakannya selama duapuluhlima menit terakhir. Jujur saja, Taeyong tidak tahu.

“Kalau begitu, coba jelaskan apa yang baru saja kukatakan mengenai pelajaran kita hari ini.”

Taeyong mendesah. Jika dia salah menjawab, maka habislah.

“Maaf, Ssaem. Aku bilang kalau aku mendengarkan, tapi aku tidak mengatakan kalau aku menyimak. Jadi, aku hanya tahu kalau anda sedang menjelaskan mengenai pendudukan Jepang dan kita sangat menderita.”

Ucapannya disambut dengan suara tawa dari siswa lainnya. Well, itu adalah pertanda kalau jawabannya salah. Taeyong tidak mengatakan apapun lagi. Dia masih menatap guru sejarahnya yang terlihat tidak senang atas jawabannya serta reaksi dari jawaban tersebut.

“Lee Taeyong, aku menginginkan kronologis lengkap masa pendudukan Jepang selama di Korea. Waktumu dua hari. Yang lainnya tolong diam atau kalian akan mendapatkan tugas yang sama dengan Lee Taeyong,” ujar sang guru.

Well, hari ini Taeyong tidak cukup beruntung. Dan dia tidak bisa tidur.

***

NOTE: Part 2!!!

Entah ini saya tulis sampe berapa part. Tapi gak akan banyak koq ^^;

Advertisements

4 thoughts on “[SF] Stranger [2]

  1. yaaa pendek sangat 😁 tapi seru.. berasa kaya baca ff wonkyu. masih penasaran sama kehidupan taeyong seperti apa. apa pria yang nyamperin dia itu ayahnya kah? pasti ada msalah di keluarga taeyong ya???

  2. Kenapa kalau baca ni ff ngebayanginnya selalu wonkyu ya hehehe….
    Semakin penasaran, siapa sebenarnya lee taeyong….???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s