[SF] Scarface Part 40

Uhm Ki Joon

40

“Kau akan memasak?!” seru Kyuhyun saat Siwon malah membawanya ke apartment pria itu.

Siwon mengangguk sembari mengeluarkan semua bahan yang ia butuhkan dari lemari pendingin. Walaupun Siwon tidak pernah pergi membeli bahan makanan, tapi kemarin ia memohon pada Sooyoung untuk mengisi lemari pendingin di apartmentnya. Sooyoung tidak keberatan, tapi sayangnya Siwon harus membayar sepupunya dengan cukup mahal.

Untuk ulangtahun putri Sooyoung tahun ini, Jinhae, Siwon harus memberikan hadiah paling besar. Heck, untuk ulangtahun Jinhae atau anak-anak Yunho di tahun-tahun sebelumnya saja, Siwon harus meminta bantuan sekretarisnya untuk membelinya. Tapi kini Sooyoung memaksa Siwon untuk membelinya sendiri. Siwon tidak tahu harus memberi hadiah seperti apa pada anak usia enam tahun.

Tapi jika dipikirkan lagi, Siwon tidak kesulitan saat membelikan sesuatu pada Kyuhyun padahal dia belum pernah berkencan sebelumnya. Jadi, hadiah untuk anak usia enam tahun tidak akan sulit. Siwon hanya harus pergi ke Legiun dan menunjuk sebuah hadiah. Selesai.

Kyuhyun memperhatikan semua bahan makanan yang dikeluarkan oleh Siwon. Well, Kyuhyun tidak yakin dengan apa yang akan dibuat oleh Siwon atau bahkan kemampuan pria itu untuk memasak. “Memang kau bisa memasak?” tanya Kyuhyun dengan ragu.

Siwon terkejut mendengar pertanyaan Kyuhyun. Dia pernah memasak untuk Kyuhyun, walaupun akhirnya makanan itu dimakan oleh Changmin dan Haneul karena Kyuhyun harus memakan bubur seharian itu. “Tentu saja. Waktu kau datang ke sini untuk pertama-kali karena mabuk, pagi itu aku membuatkan sup pedas untukmu. Tapi karena kau sakit dan hanya bisa makan bubur, jadi kau tidak bisa merasakan masakanku.Tenang saja, Changmin tidak pernah dilarikan ke rumah sakit setelah memakan masakanku.”

“Aku tidak tahu kalau penerus Choi Group ternyata bisa mengurus dirinya sendiri. Dan bukan anak manja yang selalu ingin dilayani,” tukas Kyuhyun.

Siwon tersenyum. Itu sebuah pujian dari Kyuhyun. “Terima kasih atas pujiannya. Tapi kau akan jauh lebih terkejut jika sudah mengenalku. Kau tahu, tidak semua ucapan Changmin mengenai diriku adalah kebenaran.” Siwon mulai memisahkan bahan makanan yang akan dipakai olehnya. “Pergilah ke kamar dan istirahat. Aku akan membangunkanmu jika semuanya sudah siap,” tuturnya lagi.

Tapi Kyuhyun memilih untuk tetap duduk di stool dan memperhatikan Siwon bekerja. Sepertinya Siwon akan membuat pasta, karena ada sekotak pasta kering di antara bahan-bahan yang digunakan olehnya. Ditambah dengan ayam panggang. Oh… Dan juga salad. Kyuhyun tidak yakin kalau Siwon bisa menyelesaikannya dalam waktu singkat.

“Kau tidak ingin dibantu?” tanya Kyuhyun.

Siwon menggeleng. “Tapi aku bisa membuat saladnya,” tukas Kyuhyun lagi.

Kali ini Siwon tersenyum. “Tidak usah, sayang.”

“Ugh! Jangan memanggilku begitu!!” seru Kyuhyun dengan horor. Oh, Kyuhyun bahkan tidak pernah memanggil Haesa –mungkin Kyuhyun harus mengurangi memikirkan, menyebut dan membandingkan Haesa dengan Siwon– dengan sebutan seperti itu. Tapi Siwon dengan mudah memanggilnya dengan sebutan sayang. Jujur saja itu sedikit terdengar menyeramkan.

Siwon hanya tertawa melihat reaksi Kyuhyun. Ini adalah pengalaman pertama bagi Siwon menyebut orang lain dengan sebutan penuh kasih sayang seperti itu. Menurutnya tidak begitu buruk, walaupun yang orang yang menerimanya adalah pria.

Siwon sedikit mencondongkan tubuhnya agar tangannya bisa menyentuh kepala Kyuhyun. “Kalau begitu, pergi ke kamar. Karena aku akan terus memanggilmu dengan sebutan sayang jika kau tetap berada di dapur.”

“Kubilang jangan lakukan! Jangan memanggilku begitu,” tutur Kyuhyun sembari menepis tangan Siwon dari kepalanya. Kyuhyun tidak pernah terbiasa dengan cara Siwon memperlakukannya. Kemudian Kyuhyun berdiri dan meninggalkan dapur.

Siwon telah menang lagi darinya.

*****

Changmin pergi ke Legiun untuk makan siang. Karena Siwon bolos kerja dan Yunho tidak bisa keluar kantor karena meeting penting. Changmin, akhirnya, menghubungi Sooyoung untuk mengajaknya makan siang. Tapi sepupunya itu meminta bertemu di Legiun karena Jinhae juga akan ikut. Kata Sooyoung, Jinhae membutuhkan sepatu baru. Heck, Changmin tahu persis siapa yang membutuhkan sepatu baru.

Changmin berjalan melewati beberapa tenant café dan restaurant. Dia tidak sering makan di Legiun, jadi Changmin tidak tahu mana restaurant yang cukup enak. Ia menghela nafas pendek lalu mengeluarkan ponselnya. Changmin menghubungi Sooyoung untuk menanyakan di mana keberadaannya.

“Kau sudah di Legiun?”

“Aku tidak tahu harus makan di mana. Biasanya kau pergi ke restaurant mana?” tanya Changmin sembari berjalan lagi. Sesekali ia memperhatikan restaurant yang dilewatinya.

“Food court. Jinhae tidak menyukai tempat yang terlalu tertutup. Kita bertemu di food court lantai empat, okay?”

Changmin berada di lantai dua. Lalu ia mendongakkan kepala untuk melihat ke arah lantai empat dan kemudian mendesah. “Baiklah, kita bertemu di food court.” Ini pertama-kalinya Changmin makan siang di food court. Sooyoung benar-benar mempunyai selera yang tidak sesuai dengannya. “Kau di mana sekarang?”

“Aku baru saja parkir, sepupuku sayang. Kututup teleponnya, ya.”

Changmin memutuskan sambungan teleponnya. Ia memasukkan ponselnya ke saku celana lalu berjalan menuju escalator terdekat untuk menuju food court yang ada di lantai empat. Sesekali Changmin membalas sapaan dari pegawai toko yang mengenalinya. Well, Changmin dan Siwon memang tidak sering datang ke Legiun, tapi bukan berarti mereka tidak dikenal oleh seluruh pegawai.

Hebatnya keluarga Choi.

Changmin menghela nafas ketika ia melihat sekeliling food court. Suasananya tidak begitu ramai, mungkin karena pengunjung lebih sering makan di restaurant ataupun café. Food Court lebih banyak dikunjungi oleh para pegawai toko dan sekumpulan anak-anak remaja yang lebih menyukai menu makanan yang berbeda dari ditawarkan oleh restaurant.

“Mungkin harus dilakukan sedikit perubahan,” gumam Changmin sembari mencari meja kosong.

Setelah menemukan satu meja kosong dekat salah satu tenant yang menjual snack-snack dari Jepang, Changmin duduk di kursi dengan nyaman. Ia mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan pada Sooyoung untuk memberitahu di mana posisinya. Setelah pesan terkirim, Changmin kembali menghela nafas dan memperhatikan sekeliling food court. Banyak meja yang sudah terisi oleh para pegawai toko yang sedang makan siang. Well, sepertinya mereka tidak menyadari keberadaan Changmin sekarang.

Pesan balasan dari Sooyoung muncul di layar ponselnya. Changmin membacanya sekilas lalu memasukkan ponselnya kembali ke saku jas-nya. Kini ia harus menunggu lagi. Mungkin Changmin harus mengubah sedikit kebiasaannya datang lebih awal dari waktu janjian. Lebih sering, Changmin yang datang lebih awal dibandingkan sepupunya lain jika mereka janjian makan siang atau untuk hal lainnya.

Changmin menyandarkan punggungnya dan memperhatikan sekitar. Well, dia sudah merasa bosan. Walaupun Sooyoung mengatakan mereka akan sampai lima menit lagi, tapi tetap saja itu cukup lama bagi Changmin. Sampai perhatian Changmin terfokus pada satu orang. Yang Jihyun.

Wanita itu sedang makan siang dengan rekan kerjanya. Changmin memperhatikan Jihyun yang sedang mengobrol sembari melahap makan siangnya. Jihyun masih terlihat begitu memikat baginya. Changmin belum menemuinya lagi setelah mendapatkan nasihat dari Yunho. Well, Changmin belum menemukan alasan yang tepat untuk menemui Jihyun lagi. Selain itu, Siwon juga sama sekali tidak membantu. Sepupunya yang menyebalkan itu memberikan begitu banyak pekerjaan padanya. Walaupun, di lain sisi, Changmin berterima-kasih karena dia bisa melupakan Jihyun untuk sejenak.

“Paman Min…!!”

Suara Jinhae menyadarkan Changmin. Ia tersenyum ketika melihat keponakannya itu berlari ke arahnya. Changmin berdiri lalu berjongkok untuk menerima pelukan dari Jinhae. Changmin tertawa lebar dan membalas pelukan itu lebih erat. “Keponakan paman yang cantik,” ucapnya.

Kemudian Jinhae melepaskan pelukannya dan tersenyum lebar pada Changmin. “Paman Jinhae yang tampan.”

Changmin tertawa lagi. Dia tidak tahu kalau dia begitu merindukan Jinhae. Rasanya sudah lama sekali sejak ia bertemu dengan keponakannya. Begitu pula dengan anak-anak Yunho. Well, sepertinya mereka harus melakukan piknik keluarga lagi.

“Kau sudah memesan makanannya, Min?” tanya Sooyoung yang berdiri di belakang putrinya.

Changmin mendongak lalu menggeleng. “Aku menunggu kalian. Bisa pesankan untukku? Karena aku tidak tahu harus memesan apa,” tuturnya.

Sooyoung mengangguk lalu berjalan ke salah satu tenant. Sedangkan Changmin berdiri dan mengajak Jinhae duduk di sampingnya. Changmin memperhatikan Jinhae yang begitu menggemaskan. Dalam dua bulan usianya akan menjadi enam tahun dan Changmin belum menentukan hadiah apa yang diberikan untuk Jinhae.

“Jin-ah, bagaimana kabar Jung Ssaem yang tampan itu?” tanya Changmin. Ia ingat betul cerita Jinhae mengenai salah satu guru di sekolah taman kanak-kanaknya yang begitu tampan. Changmin tidak pernah melihat foto dari guru tersebut. Tapi hanya dengan mendengar Sooyoung yang juga mengiyakan pernyataan Jinhae walaupun selalu berdalih kalau suaminya jauh lebih tampan, Changmin bisa tahu kalau guru tersebut pasti cukup tampan.

“Jung Ssaem kemarin memuji Jinhae karena gambar Jinhae yang bagus. Tapi Daejin merobeknya, Jinhae kesal sekali. Akhirnya, Jinhae mendorong Daejin sampai menangis,” tutur Jinhae dengan ekspresi wajah yang berubah pada setiap kalimatnya. Jinhae terlihat puas untuk kalimat terakhir.

Well, sepertinya sifat turunan keluarga Choi juga menurun pada Jinhae. Changmin tertawa kecil dan mengusap lembut kepala Jinhae. “Lalu apa Jung Ssaem marah? Jinhae tidak pernah membuat teman sekelas Jinhae menangis sebelumnya?” Well, itu kebohongan. Jinhae cukup sering membuat teman-temannya menangis. Setidaknya mereka tidak pernah menangis dihadapan Jinhae secara langsung.

Jinhae menggeleng. “Tidak, Jung Ssaem tidak marah pada Jinhae. Tapi Jung Ssaem memberitahu Jinhae untuk tidak mendorong Daejin. Kalau Daejin nakal lagi pada Jinhae, Jinhae harus memberitahu Jung Ssaem.”

“Jin-ah, apa kau mau ikut latihan taekwondo? Seperti yang dilakukan Paman Tae?!” usul Changmin.

Changmin sudah banyak mendengar kalau anak yang bernama Daejin itu sering mengganggu Jinhae. Sooyoung mengatakan walaupun awalnya Jinhae menghiraukan Daejin, tapi terkadang Jinhae juga bisa bersikap kasar pada orang lain terutama pada yang sering mengganggunya. Sooyoung sering-kali datang ke sekolah untuk bertemu dengan orangtua dari anak yang dibuat menangis oleh Jinhae. Pihak sekolah bisa mengerti dengan reaksi Jinhae, tapi terkadang yang menjadi masalah adalah orangtua dari anak yang dibuat menangis oleh Jinhae. Changmin sering mengusulkan pada Sooyoung untuk memasukkan Jinhae ke kursus bela diri. Setidaknya Jinhae bisa belajar mengontrol diri.

Jinhae menatap Changmin dengan bingung. “Taewodo?”

Changmin tertawa kecil. “Taekwondo, sayang. Seperti yang dilakukan oleh Paman Tae saat Jinhae datang ke aula olahraga waktu itu.”

Jinhae mempunyai panggilan tersendiri bagi paman dan bibinya. Paman Min untuk Changmin, Paman Tae untuk Taemin. Paman Ho untuk Yunho, Paman Si untuk Siwon. Terakhir, Bibi Ri untuk Jinri. Well, sebenarnya itu panggilan itu terjadi begitu saja ketika Jinhae baru pertama-kali bisa bicara. Kemudian menjadi kebiasaan.

“Oh?! Yang dilempar-lempar itu?”

Changmin mengangguk lagi. “Jinhae mau?”

“Jangan mengatakan hal-hal aneh pada anakku, Changmin.” Sooyoung datang dengan membawa dua nomor antian. Sepertinya makanannya akan diantar begitu siap. Sooyoung duduk di hadapan Changmin dan menatap putrinya dengan lekat. “Jinhae sayang, jangan turuti ucapan Paman Min, okay?”

“Kenapa?” tanya Jinhae dengan ekspresi polosnya.

Sooyoung menghela nafas sedangkan Changmin tersenyum penuh kemenangan. Ini akan menjadi masalah bagi Sooyoung untuk menjelaskan apa alasan Jinhae tidak boleh ikut taekwondo. Sama seperti ketika Jinhae bertanya kenapa dia tidak boleh ikut meminum champagne ketika semua orang yang dilihatnya meminum minuman tersebut. Sooyoung butuh lama untuk memberi penjelasan sampai akhirnya Han Nam Jin ikut turut memberi penjelasan pada Jinhae.

Sooyoung mendengus pada Changmin. “Kau lihat masalah yang kau timbulkan, Shim Changmin.”

“Memang apa yang kulakukan?!” tukasnya sembari mengusap lembut kepala keponakannya. Dia tersenyum lebar pada Sooyoung.

Well, jika bukan Siwon, setidaknya hari ini Changmin berhasil membuat Sooyoung jengkel.

*****

Haneul memandangi Changwook yang melahap makan siang dihadapannya. Mereka berada di kafetaria rumah sakit yang cukup ramai. Beberapa suster dan dokter sesekali memperhatikan ke arah meja mereka. Haneul menghembuskan nafas lalu menunduk menatap mangkuk nasinya. Changwook mengatakaan ada hal yang ingin dibicarakannya, tapi sejak duapuluh menit lalu dia belum mengatakan apa pun pada Haneul.

“Dokter Ji…” gumam Haneul pelan tanpa melepaskan pandangannya pada mangkuk nasi.

Changwook sedikit melirik Haneul. Ia melihat kalau Haneul belum makan banyak. Nasi dan lauknya masih banyak. Haneul sepertinya menunggu apa yang ingin dibicarakannya. “Kita makan dulu, Han. Setelah itu kita bisa bicara. Aku tahu kau merasa tidak nyaman dengan tatapan semua orang pada kita.”

Haneul mengangkat kepalanya. Ia menatap Changwook yang kembali memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya. Dengan ucapan Changwook, Haneul kemudian mulai melahap makan siangnya. Walaupun rasanya masih tidak nyaman dengan tatapan yang diarahkan padanya. Tapi Haneul berhasil menghabiskan makan siangnya.

Setelah mengembalikan kedua nampan tersebut, Changwook menarik pergelangan Haneul berjalan keluar kafetaria. Haneul hanya mengikuti ke mana Changwook membawanya tanpa berniat menarik tangannya dari genggaman tangan Changwook.

Walaupun Haneul tahu, suster dan dokter yang mengenal mereka mendapati kalau itu sedikit aneh. Selama ini, Haneul dan Changwook lebih banyak sering beradu argument terlebih dengan kebiasaan Changwook yang sering mengganggu Haneul. Tapi hanya dalam hitungan minggu, melihat keduanya menjadi lebih akrab, tentu saja itu membuat semua orang menjadi keheranan.

Changwook membawanya ke tangga darurat yang sepi.

Haneul menatap Changwook dengan lekat. Dia tahu kalau Changwook mungkin akan bicara mengenai ciuman mereka kemarin. Bahkan hanya mengingatnya, wajah Haneul menjadi terasa hangat.

Changwook melepaskan tangan Haneul lalu memasukkan ke dalam saku jas putihnya. Ia memandang Haneul dengan tatapan lembut. Changwook menarik nafas perlahan. “Kemarin… Kau… Apa kau baik-baik saja?”

Haneul mengangguk kecil. Ia bisa melihat kalau Changwook terlihat jauh lebih lega. Haneul bahkan tidak menyadari kalau Changwook sebenarnya terlihat cukup tegang. “Kenapa kau bertanya?”

“Eoh… Itu karena… Kau tahu, aku tidak bermaksud menjadi seperti itu. Aku tahu kau belum menerima perasaanku sepenuhnya. Jadi, kupikir apa yang terjadi kemarin… Aku seharusnya bisa menahan diri. Kita sama-sama pria tapi… Aku hanya tidak ingin membuatmu… Uh? Aku hanya ingin kau baik-baik saja. Maaf…”

Ini pertama-kali Haneul melihat Changwook yang kesulitan mengatakan apa yang ingin dikatakannya sebenarnya. Bahkan Changwook meminta maaf padanya. Haneul merasa itu tidak perlu. Haneul yang pertama-kali mencium Changwook dan pria itu hanya memberikan reaksinya. Walaupun Haneul juga tidak menyangka kalau hanya dengan sebuah ciuman, mereka bisa…

“Aku yang menciummu. Jangan meminta maaf. Aku tidak menyesalinya sama sekali,” tutur Haneul.

Changwook menatap Haneul. Kemudian ia mengangguk kecil. Suasananya kini menjauh lebih canggung dari yang diharapkan. Terlebih dengan kesunyian di tangga darurat, sepertinya Changwook salah memilih tempat bicara. Haneul memejamkan matanya sejenak lalu kembali membukanya setelah ia menghembuskan nafas panjang.

“Hyung, kita ini apa?” tanyanya berbisik.

Changwook tidak mengatakan apapun. Haneul menginginkan suatu kepastian mengenai hubungan mereka. Changwook sudah mengatakan mengenai perasaannya dan Haneul memberikan kesempatan pada Changwook, tapi mereka tidak pernah mengatakan hubungan di antara keduanya.

Terlebih dengan keinginan Changwook yang ingin membawa Haneul berkencan. Walaupun sampai akhirnya, kencan itu tidak pernah terjadi. Tapi Haneul mengharapkan kepastian, setelah perasaannya pada Kyuhyun harus terhempas hancur begitu saja.

“Apa kita adalah sepasang kekasih?” tanya Haneul lagi.

Mata Changwook membulat. Kekasih. Apakah mereka bukan sepasang kekasih? Tapi jika Changwook mengingat ulang, mereka tidak pernah menyatakan kalau mereka berpacaran dan menjadi sepasang kekasih. Mungkinkah karena itu hubungan mereka seakan tidak bisa melangkah lebih jauh?

Changwook mengeluarkan tangan kanannya dari saku jas putihnya untuk menyentuh pipi Haneul. “Apa kita bukan kekasih?” gumamnya.

Kemudian Changwook menarik tangannya dari wajah Haneul. Ia tersenyum. “Apa kau ingin menjadi kekasihku?” tanya Changwook.

“Ya!”

Jawaban Haneul sedikit mengejutkan Changwook. Karena Haneul menjawab dengan begitu lantang. Sama sekali tidak ada jeda atau nada keraguan. “Kau yakin?”

Haneul meraih Changwook dan menciumnya dengan penuh gairah.

*****

Jinri mengambil sebuah buku dari deretan rak buku best seller. Ia membaca bagian synopsis kemudian mengembalikannya. Jinri mengambil buku lainnya, hanya saja ada orang lain yang hendak mengambil buku yang sama. Jinri menoleh dan tersenyum.

“Ah… Maaf,” ucap Jinri sopan sembari menarik tangannya.

Orang tersebut yang kebetulan adalah seorang pria ikut tersenyum. “Seharusnya aku yang meminta maaf. Silakan. Ladies first…”

Jinri masih tersenyum lalu mengambil buku tersebut sementara pria itu mengambil buku lainnya. Jinri kembali membaca bagian synopsis buku tersebut. Walaupun dari ujung matanya, Jinri melirik ke arah pria yang berdiri di sampingnya.

Seorang pria dengan berpakaian semi-formal. Terlihat cukup tampan, terlebih dengan kacamata yang dipakainya. Jinri mengira kalau pria itu seumuran dengan Siwon. Jinri tersenyum lebih lebar lalu kembali memperhatikan buku yang ada di tangannya.

Saat pria itu hendak mengambil sebuah buku yang berada dihadapan Jinri, secara samar Jinri bisa mencium aroma parfume yang digunakan oleh pria tersebut. Tercium aroma maskulin yang lembut. Sedikit berbeda dengan parfume yang sering digunakan oleh Siwon atau Changmin.

Di saat Jinri menikmati momen tersebut, sang pria lalu berjalan ke rak buku lainnya. Jinri mencuri pandang untuk bisa memperhatikan pria itu lebih lama. Ia berusaha menyembunyikan senyuman lebarnya dibalik buku yang dipegangnya.

Kemudian Jinri menyentuh bagian dadanya.

“Woah… Ini pertama-kalinya,” gumamnya.

*****

“Tuan…”

Pria yang dipanggil ‘Tuan’ tersebut menyodorkan dua buah buku yang dipilihnya. Setelah pegawai yang berdiri di belakangnya itu mengambil dua buku tersebut, pria itu kemudian memperhatikan seorang gadis yang masih tersenyum lebar atas pertemuan singkat mereka. Gadis itu masih berdiri di bagian deretan buku best seller.

Pria itu menyeringai. “Choi Jinri, katamu.”

“Benar, Tuan.”

“Baiklah. Bayar dua buku itu lalu kita pergi…”

Pegawai itu mengangguk lalu berjalan menuju kasir untuk membayar kedua buku tersebut. Sedangkan pria itu masih memperhatikan Choi Jinri dari kejauhan. Ia kembali tersenyum. Bukan sebuah senyuman yang ramah. “Choi Jinri. Sepertinya ini akan jauh lebih mudah dari yang kupikirkan…”

Kemudian pria itu berjalan meninggalkan toko buku tersebut.

*****

Joonmyeon menyantap makan siangnya dengan ditemani oleh Sara. Tidak begitu banyak yang berubah. Hanya saja rumah terasa jauh lebih sepi. Biasanya mereka akan makan siang bertiga, tapi karena Yifan sudah kembali tinggal di dorm, maka rumah jadi terasa berbeda. Walaupun begitu Joonmyeon masih bersyukur karena ada Sara yang menemaninya.

Setelah makan siang, Joonmyeon harus kembali minum obat. Dia tidak menyukainya, tapi dibandingkan dengan mendengar semua nasihat dari pamannya ketika ia datang berkunjung untuk memeriksa kondisinya, Joonmyeon lebih baik meminum obat tersebut.

Sara tersenyum setelah Joonmyeon meminum obat untuk dosis siang ini.

Tak lama, Kyungsoo dan Baekhyun datang untuk berkunjung. Joonmyeon sedikit senang karena Chanyeol –yang biasanya selalu ikut ke mana pun Kyungsoo pergi– tidak ikut bersama mereka. Joonmyeon menjadi sedikit terhibur dengan kedatangan teman-temannya.

“Kevin kembali tinggal di dorm? Kenapa?” tanya Baekhyun yang ketika mereka melewati kamar Yifan yang kosong. Sara menyuruh Joonmyeon membawa teman-temannya untuk mengobrol di kamar agar dia bisa istirahat.

Joonmyeon menghela nafas. “Dia hanya memberikan alasan untuk berfokus ujian akhir dan persiapan untuk UAL.”

Baekhyun mengernyit. “Kenapa harus tinggal di dorm yang ramai? Lebih baik di sini yang cukup tenang, bukan?”

“Sudahlah, Baek. Itu bukan urusan kita. Lagipula dia lebih lama tinggal di dorm dibandingkan di sini, bukan? Siapa tahu dia merasa jauh lebih nyaman di dorm,” tukas Kyungsoo sembari memperhatikan Joonmyeon.

Well, Kyungsoo tidak akan bodoh. Selain alasan yang dijelaskan oleh Joonmyeon, Kyungsoo menebak kalau Yifan mungkin lebih memilih tinggal di dorm untuk sedikit menjauh dari Joonmyeon.

Baekhyun mendengus lalu ia menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur, tepat di samping Joonmyeon yang duduk bersandar di tempat tidurnya. Sedangkan Kyungsoo mengambil kursi dan membawanya lebih dekat ke tempat tidur. Baekhyun merebahkan kepalanya di atas pangkuan Joonmyeon.

“Ah… aku merindukan Kim Joonmyeon,” ujarnya.

Joonmyeon tertawa kecil dan membiarkan Baekhyun merasa nyaman di tempat tidurnya.

“Hey, Baekhyun, Joonmyeon masih perlu banyak istirahat!” seru Kyungsoo.

Baekhyun menatap Kyungsoo dengan jengkel. Dia mengerucutkan bibirnya. Joonmyeon kembali tertawa dan mengusap rambut Baekhyun. “Sudah, tidak apa-apa, Soo.”

Mendapat pembelaan dari Joonmyeon, Baekhyun menyeringai penuh kemenangan pada Kyungsoo. Kyungsoo mendengus jengkel. Joonmyeon masih saja terlalu baik pada Baekhyun. Ia menatap Joonmyeon yang terlihat lelah. Mungkin efek dari operasi itu masih belum sepenuhnya hilang. Lagipula seingat Kyungsoo, Joonmyeon seharusnya masih harus tinggal lebih lama di rumah sakit untuk memastikan kondisinya menjadi lebih stabil. Tapi Kyungsoo bisa mengerti kalau Joonmyeon pasti merasa terperangkap di kamar VIP rumah sakit tersebut.

“Kondisimu sudah jauh lebih baik, Joon?” tanyanya.

Joonmyeon tersenyum pada Kyungsoo. “Kurasa sama saja. Tapi, setidaknya aku tidak terperangkap di kamar itu lagi. Pamanku akan lebih sering datang berkunjung untuk memeriksa kondisiku.”

“Lalu bagaimana dengan masa tutor yang sempat kau bilang di chat grup sebelumnya. Kapan dimulai?” tanya Baekhyun sedikit merubah posisi kepalanya agar dia bisa melihat Joonmyeon dengan lebih baik.

Joonmyeon agak menunduk. Tangannya masih bergerak mengusap lembut rambut Baekhyun. “Kakekku mengatakan kalau tutor itu akan datang dua minggu lagi. Tapi itu pun tergantung dari hasil laporan pemeriksaanku. Pamanku mungkin akan mengulur waktu lebih lama jika kondisiku tidak memungkinkan.”

“Itu bagus. Maksudku, mengulur waktu agar kau tidak perlu belajar. Kita baru memasuki tahun ajar baru di bulan Maret, tapi Kakekmu terlalu kejam untuk membuatmu belajar satu bulan lebih cepat. Terlebih kau baru saja menjalani operasi,” tukas Baekhyun.

Joonmyeon tersenyum atas ucapan Baekhyun. Dia juga berharap agar Pamannya bisa mengulur waktu lebih lama.

“Ahh… jangan bicara mengenai belajar. Kita masih punya waktu satu bulan untuk bersenang-senang. Karena liburan ke Bangkok dibatalkan, punya usul kita bisa pergi ke mana untuk liburan. Kalau Joonmyeon ikut, mungkin sekitar Seoul saja,” tutur Kyungsoo mengalihkan pembicaraan.

Baekhyun tampak berpikir. “Ah, benar liburan. Tapi bulan Februari masih cukup dingin. Salju mungkin masih akan turun. Kau dan Joonmyeon kan tidak suka dingin.”

Kyungsoo mendelik. “Kau mau mengusulkan agar kita pergi main snowboarding?”

Baekhyun menyeringai. “Itu yang cukup menyenangkan, menurutku.”

“Yak! Joonmyeon baru saja menjalani operasi. Kau pikir, pamannya akan memberikan ijin untuk dia bisa main snowboarding?!” seru Kyungsoo.

Baekhyun melirik Joonmyeon. “Ah, benar juga! Kalau pergi hiking?”

“Hiking?” Kyungsoo mengernyit.

Baekhyun mengangguk. Ia menatap Joonmyeon dan Kyungsoo bergiliran. “Saudaraku mempunyai sebuah kabin di dekat gunung Taebaek. Kita bisa pergi ke sana untuk hiking. Selain itu, kabin jauh lebih nyaman dibandingkan dengan tenda. Sekaligus lebih murah dibandingkan menyewa sebuah bungalow di sebuah resort.”

Kyungsoo menatap Joonmyeon. “Well, aku tidak akan keberatan. Tapi kita perlu berusaha meyakinkan ayah, paman dan kakek Joonmyeon untuk mengijinkannya pergi.”

“Kau tidak bisa meminta bantuan ibu barumu, Joon? Ah, kurasa jika saudaramu ikut juga tidak akan masalah. Walaupun dia dari kelas Seni, kurasa tidak apa-apa. Selain itu, Kyungsoo pasti mengajak Chanyeol juga,” tukas Baekhyun yang disambut tatapan jengkel dari Kyungsoo.

Joonmyeon menarik nafas perlahan. “Untuk ijin, aku akan bicarakan dulu dengan Mom. Tapi kalau Yifan ikut, aku tidak tahu. Setahuku, dia akan pergi liburan ke Jeonju dengan temannya.”

“Well… kalau begitu tanyakan mengenai ijin dengan Mom-mu, okay?”

*****

Siwon menemukan Kyuhyun tertidur di sofa. Dia terlalu sibuk di dapur hingga tidak memperhatikan apakah Kyuhyun pergi ke kamar atau tidak. Siwon menghela nafas lalu mendekati sofa. Ia berlutut di dekat sofa, tepat dihadapan Kyuhyun yang tertidur. Siwon memperhatikan wajah Kyuhyun. Ia kembali memperhatikan bekas memar yang terlihat pada wajah Kyuhyun. Dengan sedikit hati-hati, Siwon menyentuh bagian tersebut dengan ujung jemarinya.

Kemudian Siwon mencium kening Kyuhyun. Hal itu membuat Kyuhyun terbangun. Siwon tersenyum ketika mata Kyuhyun sudah terbuka. Pria itu menatapnya dengan lekat. “Makan siang?”

Kyuhyun mengangguk. Lalu ia bangun dan mengikuti Siwon ke meja makan. Kyuhyun melihat meja makan sudah ditata dengan baik, berikut dengan makanan yang dibuat oleh Siwon. Kyuhyun menarik nafas lalu duduk di samping Siwon.

Kyuhyun tersenyum melihat sepiring pasta dengan ayam panggang.

“Kurasa aku gugup,” tukas Siwon yang mengambilkan salad untuk Kyuhyun. Ia meletakkan piring berisi salad tersebut di dekat piring pasta milik Kyuhyun.

Kyuhyun menatap Siwon. “Kenapa?”

“Ini pertama-kalinya aku memasak untuk kekasihku. Walaupun aku cukup percaya diri, tapi aku ingin membuat kekasihku terkesan,” tutur Siwon.

Kyuhyun terdiam sejenak, sebelum dia mengambil sebuah garpu dan mulai melahap pasta tersebut. Siwon masih memperhatikan Kyuhyun yang menikmati makan siang yang dibuat olehnya. “Jadi…?”

Kyuhyun tersenyum. “Ini enak. Kau benar-benar bisa memasak rupanya.”

Siwon tersenyum lebih lebar. “Benarkah? Syukurlah. Kalau begitu, harus dihabiskan.”

Kyuhyun kembali memasukkan pasta ke dalam mulutnya. Rasanya benar-benar enak. Siwon mungkin bukan chef professional, tapi Kyuhyun tidak menyangka kalau pewaris Choi Group benar-benar bisa memasak. Sesekali, Kyuhyun juga memakan saladnya.

Siwon tersenyum senang melihat Kyuhyun makan begitu lahap. Bahkan terlalu sibuk memperhatikan Kyuhyun makan, Siwon mengabaikan piring pasta miliknya. Sampai Kyuhyun yang merasa terus diperhatikan oleh Siwon, menyuruhnya untuk ikut makan. Well, mungkin mulai hari ini, Siwon akan lebih sering mencoba resep-resep baru.

Oh ya Tuhan.. Kyuhyun, apa yang kau lakukan padaku?

Siwon sepertinya sudah tergila-gila pada Kyuhyun. Bahkan ia rela melakukan apa yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Memberikan hadiah dan memasak. Heck, jika Changmin ada di sini untuk melihatnya, dia akan mengejek Siwon habis-habisan dan mengatakan kalau Siwon telah dibutakan oleh cinta. Cintanya pada seorang pria. Cinta pada Cho Kyuhyun.

Ya Tuhan… aku benar-benar mencintai pria ini.

“Huh..?” tanya Siwon ketika Kyuhyun menatapnya dengan begitu serius. Siwon tidak sadar kalau Kyuhyun tengah bicara dengannya. Sepertinya Siwon terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.

Kyuhyun menghela nafas pendek. “Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Bukan apa-apa. Maaf, tapi tadi kau bicara apa?” tanya Siwon.

Kyuhyun meletakkan garpunya. Lalu meraih gelas minum. Setelah meneguk beberapa-kali, Kyuhyun kembali menatap Siwon. “Mengenai Seon Hwan. Apa kau pikir mereka akan kembali mengincarku? Maksudku, semua bukti sudah kuberikan pada kejaksaan. Aku mungkin saksi kunci kasus ini. Tapi aku hanya tahu mengenai data-data di flash-drive, tidak kasusnya secara keseluruhan. Aku bahkan tidak terlibat dalam kasusnya secara langsung. Seharusnya sudah tidak ada masalah, bukan?”

“Kenapa kau memikirkannya lagi?” tanya Siwon sembari menurunkan garpunya. “Kyuhyun, biarkan pihak kejaksaan dan polisi yang mengurusnya. Seperti yang kau bilang, kau tidak terlibat secara langsung dalam kasus itu dan bukti yang kau miliki sudah ada di kejaksaan. Kita hanya perlu melihat bagaimana perkembangan kasus itu selanjutnya. Seon Hwan mungkin terlalu sibuk mencari jalan keluar, tapi kau tidak boleh lengah. Kau sudah datang pada mereka untuk menyelamatkan…” Siwon menarik nafas. “Menyelamatkan Haesa. Kau sudah melihat wajah mereka apalagi ada tiga orang yang masih buron. Kau masih dalam bahaya karena tiga orang itu. Tapi aku sudah berjanji untuk melindungimu. Aku tidak akan membiarkanmu terluka lagi.”

“Lalu bagaimana jika kau yang terluka? Atau mungkin orang lain yang dekat denganku? Kau tidak bisa menjamin itu. Bahkan polisi juga tidak menjamin keselamatan orang-orang di sekitarku,” tutur Kyuhyun lagi.

Siwon sadar akan hal tersebut. Dirinya mungkin tidak akan masalah karena dia adalah Choi Siwon. Tapi bagaimana dengan keluarga Kyuhyun? Teman dan rekan kerja Kyuhyun di firma hukum? Polisi dan kejaksaan mungkin sudah memasukkan Kyuhyun ke dalam daftar perlindungan saksi, tapi tidak dengan keluarga dan teman-teman Kyuhyun. Mereka juga berada dalam posisi yang berbahaya seperti Kyuhyun.

“Jangan khawatir,” ucap Siwon sembari meraih tangan Kyuhyun. “Aku tidak akan membiarkan siapa pun terluka karena Seon Hwan. Polisi mungkin juga sadar akan ancaman tersebut. Lagipula mereka akan melakukan patroli di sekitar rumah dan kantor firma hukum sampai kasus itu selesai, bukan? Maka dari itu, kau jangan khawatir. Jangan menjalani hidup ini dengan ketakutan tidak berarti, Kyuhyun. Ada aku di sini.”

Kyuhyun menghela nafas. Entah, tapi dia merasa sedikit lebih lega setelah mendengar ucapan Siwon. Terkesan aneh, karena dia mendapatkan kenyamanan dari seorang pria. Seorang pria yang sering-kali bersikap begitu dingin padanya. Kyuhyun tidak tahu apa yang terjadi sampai mereka sampai pada posisi di mana mereka berdua saling membutuhkan.

“Kau belum menghabiskan pastanya,” tutur Siwon kemudian.

Siwon ingin mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin Kyuhyun memikirkan masalah Seon Hwan.

Kyuhyun melirik piring pastanya. Sudah hampir habis, tapi dia sudah tidak ingin makan lagi. Kyuhyun menatap Siwon lagi. “Maaf, tapi aku sudah kenyang. Terima kasih telah memasak untukku.”

Siwon tersenyum dan mengangguk. “Terima kasih telah memakan masakanku.”

*****

Haneul menatap refleksi dirinya di cermin. Well, tidak begitu buruk kecuali untuk bibirnya. Haneul tidak menyesalinya, tentu saja. Hanya saja, kini dia harus memutar otak untuk mencari alasan jika orang-orang mempertanyakan penampilannya sekarang. Akan sangat menyebalkan jika semua orang bertanya dengan pertanyaan yang sama pada Haneul. Haneul membenci jika dia harus memberikan penjelasan berulang.

“Kenapa?”

Haneul melirik Changwook yang sedang mencuci tangannya. Mereka berdiri berdampingan dihadapan cermin besar di sebuah kamar mandi lantai tujuh rumah sakit. Jujur saja, Haneul tidak tahu bagaimana mereka bisa berakhir di kamar mandi. Bahkan tanpa ada orang lain yang masuk ke kamar mandi tersebut dan memergoki mereka. Mereka tidak melakukan sesuatu yang eksplisit, terlebih mereka berada di rumah sakit. Hanya berciuman. Dengan sangat penuh gairah.

Itu tidak buruk.

“Punya ide untuk jawaban yang harus kuberikan jika orang-orang bertanya?” tukas Haneul.

Changwook menoleh dan memperhatikan Haneul. Dia tersenyum. “Kenapa? Kau tidak terlihat berbeda. Kenapa orang-orang harus bertanya?”

Haneul memutar bola matanya. Changwook sudah kembali pada sifat aslinya. Sedikit menyebalkan, tapi jauh lebih baik. “Dokter Ji…”

Sontak Changwook mengecup bibir Haneul. “Katakan saja kau bertemu dengan kekasihmu. Itu suatu kebenaran, bukan? Kau tidak perlu berbohong. Mereka pasti akan mengerti.”

“Lalu jika mereka kembali bertanya mengenai kekasihku? Apa jawaban yang harus kuberikan?” sahut Haneul.

Changwook sedikit mencondongkan wajahnya menjadi lebih dekat dengan wajah Haneul. Sontak Haneul harus menahan nafasnya. Changwook kemudian menyeringai. “Katakan pada mereka kalau kekasihmu adalah dokter Ji Changwook.”

Haneul berkedip beberapa-kali sampai dia mengambil satu langkah mundur. “Kau ingin mengatakan pada semua orang. Mengenai hubungan kita?”

“Kenapa? Kau ingin menyembunyikannya? Kupikir sewaktu di Berlin, kau merasa nyaman dengan orang-orang yang mengetahui seksualitasmu. Kenapa di sini harus berbeda?” tanya Changwook sembari melipat kedua tangan di depan dada. Ia menatap Haneul dengan lekat.

“Bukan ingin menyembunyikan, hanya berusaha mencari waktu yang tepat. Sewaktu di Berlin, butuh sekitar satu tahun sampai aku benar-benar nyaman untuk mengakui seksualitasku pada semua orang. Lagipula Seoul dan Berlin memang berbeda,” tutur Haneul.

Changwook mendesah. Ia kemudian mengalihkan pandangannya. Sepertinya ciuman Haneul masih begitu membekas di bibirnya. Dari cara Haneul menciumnya, Changwook bisa merasakan kalau Haneul ingin mengatakan pada semua orang kalau Changwook adalah miliknya. Tapi kini Haneul malah ingin menyembunyikannya. Sampai waktu yang tepat.

Entah kapan waktu yang tepat itu.

“Hyung…”

Changwook melirik Haneul yang menatapnya dengan penuh harap. Oh, Changwook benar-benar lemah pada seorang Kang Haneul. Itu benar-benar gila! Changwook mendesah lalu menarik tubuh Haneul dan mendekapnya erat. “Setidaknya katakan pada mereka kalau kau sudah mempunyai kekasih. Aku tidak tahan jika para suster itu menatap dan menggodamu. Jika mereka tahu kalau kau sudah mempunyai kekasih, aku akan jauh lebih tenang. Oh, terutama dengan pasien-pasien gadis muda di kamar 307 sampai 410. Mereka juga harus mengetahuinya.”

Haneul tertawa kecil dan membalas pelukan Changwook. “Baiklah, aku akan mengatakan pada mereka kalau aku sudah mempunyai kekasih. Puas, kekasihku?”

Changwook mencium kepala Haneul dan tersenyum. “Sangat puas, kekasihku.”

*****

Changmin baru saja kembali dari Legiun untuk makan siang dengan Sooyoung dan Jinhae ketika Jehoon memasuki ruangannya dengan membawa sebuah dokumen. Changmin menatap dokumen yang baru saja diletakkan Jehoon di atas meja kerjanya. Oh, Changmin bahkan belum sempat duduk. Kemudian Changmin menatap Jehoon.

“Mengenai UK?” tanya Changmin sembari duduk dan membuka dokumen tersebut.

Changmin memang meminta Jehoon untuk mencari-tahu tentang UK Corporate. Walaupun waktunya cukup singkat sepertinya Jehoon mendapatkan hasil yang cukup baik. Atau mungkin Jehoon meminta bantuan dari pegawai lainnya.

Jehoon mengangguk. “Presiden Direksi UK Corporate saat ini adalah Uhm Ki Joon. Putra ketiga dari Uhm Geon Hyun. Dia sudah menjabat posisi tersebut selama tiga tahun terakhir. Track-recordnya cukup baik. Oh, sejak Agustus tahun lalu, Uhm Ki Joon berdomisil di Seoul. Dari kabar yang kudapatkan, Uhm Ki Joon memang berniat membuka peluang bisnis UK di Korea. Choi Group adalah perusahaan pertama yang mendapatkan tawaran kerja-sama tersebut.”

Changmin melirik Jehoon lalu kembali membaca hasil laporan Jehoon mengenai UK. “Membuka peluang bisnis di Korea? Lalu bagaimana dengan ketiga perusahaan dibawah UK yang ada di sini? Bukankah itu bagian bisnis dari UK?”

“Itu benar. Tapi sejak tahun 2013, Seon Hwan selalu mengalami masalah. Profit kedua perusahaan lainnya tidak begitu bagus, walaupun mencatatkan laporan keuangan tahunannya cukup baik. Sepertinya UK akan melakukan restrukturasi atas dua perusahaan dalam waktu dekat ini. Masalah Seon Hwan, UK tidak akan ikut campur karena mereka memiliki struktur direksi yang berbeda,” jelas Jehoon lagi.

Changmin menghela nafas. “Itu artinya Uhm Ki Joon akan membiarkan Seon Hwan hancur karena kasus korupsi tersebut. Keputusan yang cukup sulit mengingat Seon Hwan jauh lebih besar dibandingkan dua perusahaan lainnya. Dengan situasi sekarang, jika aku menjadi Uhm Ki Joon, aku juga akan mengambil keputusan yang sama.”

Tapi pertanyaanku sekarang apakah Uhm Ki Joon tahu apa yang dilakukan oleh Seon Hwan. Mengenai penculikan Kang Haesa dan Cho Kyuhyun kemarin? Aku yakin, dia pasti mendapatkan laporan mengenai masalah tersebut.

“Ada hal lainnya?” tanya Changmin lagi.

“Mengenai UK secara bisnis atau Uhm Ki Joon secara personal?”

Changmin mengernyit. Sepertinya Jehoon melakukan penyelidikan cukup dalam. Tapi bukankah itu memang sudah menjadi bagian dari pekerjaannya. Changmin menutup dokumen tersebut dan menatap Jehoon. Ia tersenyum.

“Kurasa aku mulai tertarik dengan Uhm Ki Joon.”

Jehoon menghela nafas. Changmin selalu tertarik pada masalah personal seseorang. Dia masih ingat bagaimana Changmin memberikannya tugas untuk mencari-tahu tentang Cho Kyuhyun dan Kang bersaudara. Bukan Jehoon merasa keberatan, tapi terkadang Changmin melupakan bahwa ia juga mempunyai banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Jehoon kemudian mengeluarkan ponselnya di mana ia membuat catatan kecil mengenai Uhm Ki Joon. “Baiklah. Uhm Ki Joon, usianya tigapuluhempat tahun. Sejak kecil sudah tinggal di London bersama kedua kakaknya. Lulusan Universitas Oxford dan mendapatkan gelar doctor di Universitas Cambridge setahun sebelum dia menduduki jabatan Presiden Direktur UK Corporate. Hubungannya dengan kedua kakaknya cukup baik, bahkan kedua kakaknya yang merekomendasikan Uhm Ki Joon untuk menggantikan posisi ayah mereka. Tidak mempunyai kekasih. Tidak mempunyai skandal apa pun.”

“Kepribadiannya?” sela Changmin yang sedang berselancar di internet untuk mencari artikel mengenai Uhm Ki Joon di ponselnya. Saat melihat foto-foto Uhm Ki Joon yang muncul atas hasil pencariannya, Changmin bergumam pelan.

Well, dia cukup tampan.

Jehoon melirik Changmin. “Jika harus disimpulkan dalam satu citra secara keseluruhan, Uhm Ki Joon adalah seorang pangeran menawan dari sebuah kerajaan besar.”

Changmin tersenyum mendengarnya. Well, Choi Siwon dan Uhm Ki Joon memiliki perbedaan kepribadian yang begitu mencolok. Jika Uhm Ki Joon adalah pengeran menawan, maka Choi Siwon adalah pangeran menyebalkan. Jehoon memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dan menatap Changmin dengan lekat.

Asal tahu saja, Jehoon kini mulai mempunyai pemikiran kalau Changmin memiliki orientasi yang berbeda. Melihat bagaimana Changmin berekspresi saat ia membacakan hasil penyelidikannya mengenai Uhm Ki Joon. Terlebih dengan senyuman Changmin saat ini.

“Changmin-sshi, kau tidak gay ‘kan?” tanya Jehoon dengan lantang.

Changmin menyeringai pada Jehoon. “Tentu saja tidak, Jehoon. Aku ini sangat lurus seperti sebuah kayu.” Berbeda dengan Choi Siwon yang sedang tergila-gila pada seorang pengacara, ungkapnya dalam hati. “Baiklah, terima kasih. Kau bisa kembali meneruskan pekerjaanmu.”

Jehoon mengangguk lalu berjalan meninggalkan ruangan tersebut. Changmin lalu kembali menatap layar ponselnya. Ia tersenyum melihat foto Uhm Ki Joon.

“Uhm Ki Joon, senang berkenalan denganmu. Semoga kau tidak sedang bermain-main dengan Choi Group.”

*****

Siwon menyodorkan segelas mug berisi teh hangat pada Kyuhyun yang duduk di balkon. Karena udaranya cukup dingin, tentu saja Siwon memaksa Kyuhyun untuk memakai jaketnya dan mengeluarkan karpet agar Kyuhyun tidak kedinginan saat duduk di lantai balkon. Kemudian Siwon ikut duduk di samping Kyuhyun dengan segelas kopi. Well, dia membutuhkannya untuk saat ini.

Kyuhyun menggumamkan terima-kasih saat ia menerima mug tersebut. Lalu ia menyesap teh hangat itu perlahan. Kemudian Kyuhyun kembali memandangi pemandangan sekitar gedung apartment. Pikirannya sedang penuh oleh beberapa masalah. Mengenai Seon Hwan, mengenai keluarganya, mengenai pekerjaannya di firma hukum Kang. Ah, bahkan hubungannya dengan Siwon saat ini.

Kyuhyun tidak tahu mana yang terpenting di antara semua masalah tersebut.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Siwon dengan suara pelan.

Kyuhyun melirik ke arah pria Choi tersebut. “Segala hal. Seon Hwan, keluargaku, pekerjaanku, dan juga dirimu,” tuturnya sembari menaruh mug tersebut di lantai. “Walaupun kau menyuruhku untuk tidak memikirkannya, tapi aku tidak bisa menahan diri. Entah kenapa semuanya menjadi sangat rumit.”

“Termasuk hubungan kita?”

Kyuhyun mengulas sebuah senyuman. “Ya, termasuk hubungan kita. Hanya dalam waktu satu bulan, hubungan kita mengalami perubahan yang begitu drastis. Sebelumnya aku sangat menyukai Kang Haesa selama enam tahun, tapi kini aku mengencani seorang pewaris dari Choi Group. Itu sebuah perubahan besar.”

“Kau menyesalinya?” tanya Siwon lagi.

“Ada beberapa hal yang kusesali. Pertama, aku menyesal tidak pernah meminta kepastian mengenai hubunganku dengan Kang Haesa sejak dulu. Aku tidak perlu menunggu selama enam tahun dan hampir membeku di pulau Jeju. Kedua, mungkin tidak seharusnya aku bekerja di firma hukum Kang Jaeha. Aku bekerja di sana hanya karena firma hukum milik ayah Haesa. Aku hanya berpikir itu bisa mendekatkanku dengannya. Mungkin seharusnya aku mengambil tawaran bekerja di firma hukum Gong Jeon.”

Siwon menatap gelas kopinya. “Firma hukum Gong Jeon? Rival dari firma hukum Kang Jaeha.”

Kyuhyun mengangguk. “Terlepas dari masalah rival, Gong Jeon sama bagusnya dengan Kang Jaeha. Bahkan harus kuakui, pengacara di firma hukum Gong Jeon jauh lebih hebat dibandingkan pengacara di firma hukum lain.”

“Termasuk firma hukum Choi Group?”

Kyuhyun tertawa kecil. “Termasuk firma hukum Choi Group. Hal lain yang kusesali… Jika aku tidak bekerja di firma hukum Kang Jaeha, aku tidak akan bisa bertemu denganmu. Walaupun aku yakin kalau Tuhan mempunyai cara lain untuk mempertemukan kita.”

Siwon tersenyum mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Kyuhyun. Sama seperti ucapan Changmin sebelumnya. Tuhan sepertinya mempunyai rencana lain dengan mempertemukannya dengan Kyuhyun.

“Aku harap aku bisa bertemu denganmu dengan cara lain,” ucap Siwon. Kyuhyun menoleh dan menatapnya dengan lekat. Siwon menyesap kopinya dan menaruh gelasnya di lantai. Ia kemudian memandang pada Kyuhyun. “Jika kita memang ditakdirkan untuk bertemu oleh Tuhan, aku hanya berharap cara lain itu jauh lebih baik dibandingkan dengan cara yang kita telah lalui. Sedikit luka dan lebih sedikit kunjungan ke rumah sakit.”

Kyuhyun tertawa lagi. Itu benar sekali. Sejak pertemuan mereka, sepertinya Kyuhyun dan Siwon akan selalu berakhir di rumah sakit. Itu pun karena Kyuhyun yang terluka atau mereka berdua yang terluka. Takdir yang cukup menyebalkan, jika Kyuhyun boleh berkomentar.

Siwon tersenyum lebar mendengar suara tawa Kyuhyun. Tubuhnya terasa jauh lebih hangat. Begitu pula dengan hatinya. Ini adalah cinta pertama Siwon. Cinta yang dulu selalu diimpikan olehnya. Siwon selalu berpikir kalau Tuhan pasti akan mempertemukannya dengan seseorang yang akan membuatnya merasakan sensasi yang berbeda dari apa yang diceritakan oleh sepupu-sepupunya mengenai bagaimana rasanya jatuh cinta.

Tapi Siwon tidak tahu kalau Tuhan akan mempertemukannya dengan seorang pria. Dan Siwon tidak menyesalinya sedikit pun.

Tawa Kyuhyun menghilang ketika ia menyadari kalau Siwon hanya memandanginya dengan begitu serius. Suasananya kemudian agak menjadi canggung. Kyuhyun berdeham beberapa-kali lalu ia mengambil mug tehnya dan meneguknya. Karena udara dingin, teh hangatnya kini sudah menjadi dingin. Sepertinya hal yang sama terjadi pada kopi Siwon.

Mungkin ide yang buruk duduk di balkon sembari menikmati segelas teh hangat ketika udara masih cukup dingin.

Siwon menarik nafas lalu mengambil mug dari tangan Kyuhyun. Ia menaruh mug itu dekat gelas kopinya. Kyuhyun sesekali melirik pada Siwon. Hell, dia tidak mengerti kenapa suasannya berubah begitu cepat.

“Kyuhyun…”

Suara husky Siwon membuat Kyuhyun merasakan sensasi dingin pada punggungnya. Dengan ragu, Kyuhyun menoleh ke arah Siwon. Lalu ciuman itu terjadi begitu saja.

Siwon mencium bibir Kyuhyun dengan begitu lembut. Ciuman yang sama tapi dengan sensasi yang berbeda. Kyuhyun tidak tahu kenapa setiap ciuman yang diberikan Siwon selalu memberikan sesuatu hal yang berbeda. Ciuman Siwon kali ini terkesan begitu menenangkan. Dengan cara Siwon mengulum bibirnya dengan lembut, lalu sedikit jilatan lidah Siwon pada kedua belah bibir Kyuhyun. Secara spontan, Kyuhyun membuka kedua belah bibirnya dan membalas ciuman Siwon.

Kyuhyun bahkan memejamkan matanya dan tubuhnya bergerak lebih dekat pada Siwon. Berusaha mencari kehangatan tubuh Siwon di antara suhu dingin saat ini. Kyuhyun merasakan tangan Siwon menyentuh pinggang dan tangan lainnya berada di wajah Kyuhyun.

Oh…

Siwon menarik tubuh Kyuyun hingga dada mereka bertemu. Kyuhyun mendesah pelan dalam ciuman tersebut. Secara insting, tangan Kyuhyun memeluk tubuh Siwon. Satu tangannya perlahan bergerak di antara surai rambut hitam Siwon.

Siwon…

Tangan Siwon menekan tubuh Kyuhyun hingga tidak menyisakan jarak di antara tubuh mereka. Kyuhyun bisa merasakan tangan besar Siwon kini berada di punggungnya –berada dibalik jaket yang digunakan Kyhyun. Bergerak dengan begitu sensual. Kyuhyun mengerang pada setiap sentuhan tangan serta kecupan bibir Siwon yang membuatnya mabuk.

Oh God….

Kyuhyun merasakan sensasi lainnya pada tubuh bagian bawah. Hell, Kyuhyun tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Pada siapa pun. Tapi Siwon terlihat begitu berpengalaman dalam setiap sentuhannya. Kyuhyun kini mulai meragukan kalau Siwon tidak pernah memiliki hubungan apa pun sebelumnya. Heck, bagaimana bisa Siwon membuat Kyuhyun merasa kacau hanya dengan sentuhan dan ciuman.

“Siwon…” desah Kyuhyun. “Please…”

Siwon menyudahi ciuman mereka. Kyuhyun mendesis kecewa karena kehilangan ciuman. Ia membuka mata dan melihat Siwon tersenyum padanya. Jarak wajah mereka terlalu dekat. Nafas hangat Siwon terasa begitu familiar di wajah Kyuhyun.

“Kau harus lihat bagaimana dirimu saat ini Kyuhyun,” bisik Siwon.

Kyuhyun mengernyit. “Bagaimana bisa aku melihat diriku sendiri, Direktur Choi?”

Siwon menyeringai. Lalu dengan satu gerakan cepat, Siwon dan Kyuhyun sudah berdiri. Kemudian Siwon membawa Kyuhyun ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Siwon memposisikan dirinya berada di belakang Kyuhyun. Ia tersenyum melihat refleksi keduanya di cermin besar.

Mata Kyuhyun membulat ketika ia melihat dirinya. Dia bahkan tidak menyangka hanya dengan sebuah ciuman dari Siwon akan membuatnya terlihat begitu…. Kyuhyun bahkan tidak menemukan kata yang tepat. Wajahnya memerah, bibirnya sedikit bengkak –itu karena Siwon sesekali menggigitnya. Lebih parah ketika ia menyadari bahwa ia merasakan rasa tidak nyaman pada celananya.

Siwon memeluk perut Kyuhyun dan melihat refleksi diri Kyuhyun melalui cermin dari bahu Kyuhyun. “Kau terlihat sexy, Pengacara Cho.” Suara Siwon terdengar lebih sensual dari biasanya.

Kyuhyun bahkan sempat merinding saat Siwon membisikkan kata itu di telinganya. “Siwon, aku…”

Siwon mencium leher Kyuhyun. Ia bergumam pelan. Kyuhyun masih melihat refleksi mereka di cermin. “Apa kita akan melakukannya?”

“Lakukan apa?”

“Seks.”

Ciuman Siwon terhenti. Ia kembali menatap Kyuhyun di cermin. “Apa kau ingin melakukannya?”

“Entahlah. Kau?”

Siwon menghela nafas. Ia menarik kedua tangannya dari perut Kyuhyun agar Kyuhyun bisa berbalik dan menatapnya secara langsung. Siwon menyentuh pipi Kyuhyun dengan ujung jemarinya. “Kurasa kita sama-sama tahu dengan posisi kita sekarang. Kau dan aku, kita tidak pernah menjalin sebuah hubungan dengan pria lain. Di lain pihak, kau pernah memiliki sejarah hubungan dengan seorang wanita. Walaupun aku yakin, kau juga belum pernah melakukan seks dengan Kang Haesa.”

Wajah Kyuhyun memerah. Ucapan Siwon ada benarnya, yang artinya mereka sama-sama virgin. Tuhan memberkati. Usia Siwon dan Kyuhyun sudah mencapai kepala tiga dan mereka belum pernah melakukan seks. Itu adalah sebuah rekor besar.

“Jika kita ingin melakukannya…” Siwon melanjutkan ucapannya. “Kurasa ada beberapa hal yang harus kita bicarakan mengenai seks. Karena kita adalah pria, jadi mungkin…”

“Anal sex. I know.”

Siwon mengernyit. Well, Siwon yakin Kyuhyun –atau bahkan dirinya– tidaklah bodoh. Mereka tidak perlu lagi mendapatkan sex education di usia mereka saat ini. Itu agaknya sedikit menyeramkan. “Okay. So, you know about it. Did you…”

“Hyukjae. Maksudku, dia menyukai Donghae, salah satu pegawai di bar Heechul hyung. Jadi, dia melakukan beberapa ‘research’ dan aku secara tidak sengaja sedang bersamanya ketika ia melakukan ‘research’ itu,” jelas Kyuhyun.

Siwon menyeringai. Tentu saja, Kyuhyun tidak akan sepolos itu. Bahkan Siwon saja menonton porno, hanya sampai ketika ia kuliah. Sejak mulai bekerja untuk Choi Group, Siwon tidak mempunyai waktu untuk kesenangan pribadinya.

“Gay porn.”

Kyuhyun mendengus. Siwon tertawa melihat reaksi Kyuhyun. “Jadi, kau tahu bagaimana kita harus melakukannya, bukan?” tanya Siwon lagi.

Kyuhyun mengangguk. Ia mengusap wajahnya dengan frustasi. Oh, mungkin tidak seharusnya Kyuhyun mengatakan tentang seks itu. Pembicaraan ini sangat canggung. Kyuhyun tahu apa yang akan terjadi jika mereka berhubungan. Jujur saja, Kyuhyun masih belum bisa membayangkan jika mereka akan melakukan seks.

Tubuh Siwon. Tubuhku. Tanpa pakaian. Di atas ranjang.

Kyuhyun melirik tubuh Siwon. Ia beberapa-kali memeluk Siwon dan Kyuhyun tahu kalau Siwon mempunyai tubuh cukup atletis. Pria Choi itu terlihat begitu menggairahkan dengan berpakaian lengkap, lalu bagaimana dengan tanpa pakaian?

Cho Kyuhyun, hentikan itu!!

“Kyuhyun, kau memperhatikan tubuhku!” tukas Siwon yang membuat Kyuhyun mengangkat kepalanya untuk mengalihkan menatap tubuh Siwon lebih lama. Wajahnya memerah lagi. Kyuhyun sangat yakin, karena Siwon tertawa lagi.

“Kita mungkin akan melakukannya. Seks. Tapi tidak sekarang. Mungkin bisa lebih cepat. Kita bisa menunggu hingga waktu itu tiba. Okay?” Kyuhyun mengangguk. Siwon tersenyum dan mengecup bibir Kyuhyun.

Kyuhyun memejamkan matanya saat ia menikmati ciuman tersebut. Kemudian, Siwon menarik sedikit bibirnya.

“Sampai waktu itu tiba. Let me take care of you. Right now,” bisik Siwon.

Kyuhyun membuka matanya. “Huh?”

“Atau kau ingin masturbasi saja?”

Kyuhyun menyadari apa yang dimaksud oleh Siwon. Oh, Kyuhyun bahkan melupakan ke-tidak-nyamanan pada bagian itu. Dan kini rasanya bahkan jauh tidak nyaman. Kyuhyun harus segera melepaskan celananya. Ia menatap Siwon yang menyeringai padanya.

“Uh….”

Siwon menaikkan satu alisnya, menunggu jawaban dari Kyuhyun.

Kyuhyun menggigit ujung bibirnya. “Aku bisa melakukannya sendiri….”

Siwon tersenyum. “Okay, kalau begitu aku akan keluar.”

*****

Makan malam berjalan cukup singkat dan agak canggung. Walaupun Sara dan Junhyeok berusaha membuka pembicaraan, tapi Joonmyeon dan Yifan hanya sedikit memberikan respon. Situasi di rumah berubah menjadi begitu asing bagi Yifan. Terlebih dia tidak tahu apakah Joonmyeon memberitahu Sara atau Junhyeok mengenai Yifan yang mengajaknya keluar kamar tanpa ijin. Namun, sepertinya Joonmyeon tidak mengatakan apapun. Sara tidak menyinggung soal kedatangan Yifan ke rumah sakit beberapa hari lalu.

Untuk hal itu, Yifan merasa berterima-kasih pada Joonmyeon.

Selesai makan malam, Yifan membantu Sara untuk membersihkan meja makan serta dapur. Walaupun Joonmyeon ingin membantu, tapi Sara langsung mengusirnya ke kamar. Junhyeok berada di ruang kerjanya untuk mengurus beberapa email mengenai pekerjaan. Selagi bekerja, Sara dan Yifan sesekali mengobrol kecil. Sara lebih banyak bertanya mengenai liburannya ke Jeonju bersama Luhan. Junhyeok juga sempat bertanya mengenai hal itu ketika mereka di meja makan. Dan Yifan bisa merasakan kalau Joonmyeon memperhatikannya.

“Joonmyeon mengatakan teman-temannya mengajaknya pergi hiking ke gunung Taebaek. Untuk mengganti liburan mereka yang batal,” ucap Sara ketika ia selesai mencuci semua peralatan makan.

Yifan yang duduk di stool menatap Sara dengan lekat. “Hiking? Dengan kondisinya sekarang?”

“Mom tahu. Walaupun Joonmyeon bilang mereka mungkin baru akan pergi setelah Pamannya memberikan ijin dan mengatakan dirinya sudah cukup sehat untuk berpergian. Tapi Mom tetap merasa khawatir,” tutur Sara.

Yifan mengangguk kecil. “Appa… sudah tahu?”

“Belum. Joonmyeon meminta Mom yang bicara dengan Appa.”

“Bicara mengenai apa?” tanya Junhyeok yang tiba-tiba datang ke dapur.

Sara dan Yifan sedikit terkejut dengan kemunculan Junhyeok. Sara tersenyum pada Junhyeok yang berjalan menghampirinya. “Kau menginginkan sesuatu?”

“Kopi.”

Sara mengangguk lalu membuatkan segelas kopi. Junhyeok duduk di salah satu stool lainnya, menghadap pada Yifan. “Jadi, jam berapa kau pergi, Yifan?”

“Itu tergantung jam berapa Luhan bangun besok pagi,” jawab Yifan.

Junhyeok tersenyum. “Oh ya, tadi kalian bicara mengenai apa? Apa yang harus dibicarakan denganku?”

Yifan melirik Sara yang selesai membuatkan segelas kopi. Sara menaruh cangkir kopi itu dihadapan Junhyeok. Yifan akan membiarkan ibunya yang bicara.

“Mengenai liburan Joonmyeon. Kyungsoo dan Baekhyun ingin menggantinya dengan pergi hiking,” ungkap Sara.

Junhyeok mengernyit. “Hiking? Tapi kondisinya saat ini…”

“Aku tahu, Jun. Joonmyeon tentu saja akan meminta ijin Pamannya terlebih dahulu. Jika kondisinya memang memungkinkan, ia baru meminta ijin pada Kakeknya. Tentu saja, dia juga akan pergi jika kau memberikan ijin.”

Junhyeok menyesap kopinya. Ia menghela nafas pendek. Jika kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin dalam waktu dekat Joonmyeon akan bersenang-senang di Bangkok bersama teman-temannya sebelum dia disibukkan dengan tutor persiapan ujian. Namun, dengan kondisi putranya saat ini, Junhyeok tidak ingin mengambil resiko apapun. Kesehatan Joonmyeon adalah hal yang paling penting.

Yifan memperhatikan Junhyeok dan Sara bergantian. Di saat seperti ini, Yifan tidak akan menyela pembicaraan. Walaupun dia menginginkan Joonmyeon pergi liburan setelah terkurung di rumah sakit. Yifan bisa mengerti kekhawatiran Junhyeok pada kondisi Joonmyeon saat ini.

“Mereka tidak bilang kapan waktunya?” tanya Junhyeok lagi.

Sara menggeleng. “Joonmyeon mengatakan jika dia mendapatkan ijin, mungkin sebelum tutor itu dimulai. Tapi jika dia tidak mendapatkan ijin, teman-temannya mungkin akan pergi di awal bulan.”

“Kita tunggu perkembangan kondisi Joonmyeon dulu. Dia baru keluar dari rumah sakit, masih terlalu cepat untuk memperkirakan kondisinya. Saejoon mungkin tidak akan setuju dengan mudah, apalagi mereka akan pergi hiking,” jelas Junhyeok.

Sara tersenyum tipis dan mengangguk. Ia mengusap bahu suaminya. “Kalau begitu bicaralah dengan Joonmyeon. Lebih baik kau sendiri yang mengatakannya langsung.”

Junhyeok menghela nafas pendek. Ia tersenyum pada Sara dan mengangguk. Kemudian dengan membawa gelas kopinya, Junhyeok meninggalkan dapur dan menuju kamar Joonmyeon di lantai dua. Selepas Junhyeok pergi menemui Joonmyeon, Sara memandangi Yifan.

“Kau akan pulang ke dorm?” tanyanya.

Yifan mengangguk. “Masih harus mengepak beberapa pakaian.”

Well, itu kebohongan. Karena Luhan sudah membantunya tadi siang. Tas ranselnya sudah siap. Walaupun dia belum tahu jam berapa mereka akan pergi, tapi Yifan tidak ingin Sara membujuknya untuk menginap. Semakin lama dia menjauh dari Joonmyeon, rasanya akan jauh lebih mudah untuk melepaskan perasaannya tersebut.

“Oh ya, Mengenai seksualitasmu. Apa kau ingin mengatakannya pada Appa dan Joonmyeon? Mereka juga keluargamu, sayang.”

Yifan menarik nafas perlahan. “Kurasa aku akan menunggu sampai beberapa tahun. Mungkin setelah aku mulai kuliah di London. Jika Mom tidak keberatan. Lagipula kita belum lama menjadi keluarga. Tapi aku akan memberitahu mereka.”

Sara tersenyum. “Lalu bagaimana dengan Nana? Kau tahu, mengenai perjodohanmu dengan…”

“Mom bisa memberitahu Nana.” Yifan dengan cepat bicara. Lebih cepat Nananya tahu, itu bahkan lebih baik. “Kurasa, itu lebih baik untuk keluarga Zhang.”

Sara menatap Yifan lebih lama. Dihadapannya adalah putranya, Sara mengenal baik Yifan. Tapi kini, Sara seakan tidak mengenal sosok putranya sendiri. Entah apa yang berubah dari diri Yifan. Secara keseluruhan Yifan masih seorang Yifan, tapi ada beberapa hal yang berubah.

Sara kembali tersenyum. “Baiklah. Kau ingin pulang sekarang?” Yifan mengangguk.

“Mom akan minta Appa untuk mengantarmu, okay? Oh ya, kau tidak berpamitan dulu pada Joonmyeon?”

“Aku akan ke kamarnya untuk berpamitan,” gumam Yifan.

Sara kemudian berjalan menghampiri Yifan dan memeluk putranya dengan erat. Yifan memendamkan wajahnya di bahu Sara. Oh, rasanya Yifan begitu merindukan pelukan ibunya. Sara tersenyum dan mengusap punggung Yifan dengan lembut.

“Semuanya akan baik-baik saja sayang,” bisik Sara dengan lembut.

Yifan melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Sara. “Terima kasih, Mom.”

*****

Setelah bicara dengan Sara, Yifan menuju kamar Joonmyeon untuk berpamitan. Dia bertemu dengan Junhyeok yang baru saja selesai bicara dengan Joonmyeon. Junhyeok tersenyum pada Yifan. “Kau sudah mau pulang?”

Yifan mengangguk. “Bisa Appa mengantarkanku?”

“Tentu saja. Oh, kau ingin bertemu dengan Joonmyeon terlebih dahulu?” tanya Junhyeok lagi.

“Iya. Hanya untuk berpamitan,” tutur Yifan.

Junhyeok mengangguk dan menepuk lembut lengan Yifan. “Kalau begitu, Appa akan menunggu di luar, ya.”

Yifan tersenyum. Junhyeok kemudian menuruni anak tangga. Dia mendengar Junhyeok meminta Sara untuk mengambilkan jaket serta kunci mobilnya. Yifan menarik nafas perlahan lalu kembali berjalan menuju kamar Joonmyeon.

Yifan mengetuk pintu kamar tersebut.

“Ya..”

Yifan membuka pintu secara perlahan dan melihat Joonmyeon keluar dari kamar mandi dengan sikat gigi di tangannya. Sepertinya Joonmyeon sudah bersiap untuk tidur. Mungkin dia harus tidur lebih cepat karena membutuhkan waktu untuk pulih. Yifan tersenyum lalu berjalan menghampiri Joonmyeon.

“Aku akan kembali ke dorm,” ucap Yifan.

“Tidak menginap?”

Yifan menggeleng. “Akan jauh lebih mudah tidak mendapatkan telepon dari Luhan di pagi hari. Kondismu sudah jauh lebih baik?”

“Begitulah. Mungkin karena sudah tidak terperangkap di kamar rawat lagi,” tutur Joonmyeon. “Sebelumnya, kenapa kau berbohong?”

Well, akhirnya Joonmyeon bertanya pada Yifan mengenai kebohongan itu.

“Jika aku tidak berbohong, kau mungkin akan menjadi gila betulan. Walaupun memang beresiko. Terima kasih untuk tidak mengatakannya pada Mom atau Appa,” ujar Yifan.

Joonmyeon menghela nafas. “Aku tidak ingin kau mendapatkan masalah. Lagipula… nanti aku juga akan kena marah oleh Pamanku. Jadi, lebih baik aku diam saja. Tapi, terima kasih.”

Yifan tersenyum. “Bukan masalah. Aku pergi dulu. Appa akan mengantarkanku ke dorm.”

Joonmyeon mengangguk. Yifan, walaupun keinginan untuk memeluk Joonmyeon begitu besar, berhasil menahan diri. Secara mental, Yifan memuji dirinya sendiri karena berhasil bertahan.

“Aku akan membawakan oleh-oleh untukmu,” ucapnya sebelum beranjak meninggalkan Joonmyeon.

Namun, langkah Yifan terhenti di ambang pintu ketika Joonmyeon memanggil namanya. Yifan sedikit menoleh untuk menatap Joonmyeon.

Joonmyeon terlihat sedikit ragu. Tapi setelah beberapa tarikan nafas, akhirnya ia bertanya. “Kau baik-baik saja, bukan?”

Yifan terdiam untuk sejenak. Perlahan, dia tersenyum pada Joonmyeon. “Tentu saja, Joonmyeon. Semuanya akan baik-baik saja. Selamat malam.”

Yifan tidak mendengarkan respon dari Joonmyeon. Dengan cepat, dia melangkah keluar dan menutup pintu kamar tersebut. Yifan bahkan mempercepat langkahnya saat menuruni anak tangga. Yifan hanya ingin segera kembali ke dorm-nya.

Selepas Yifan pergi, Joonmyeon kembali ke kamar mandi. Ia menatap refleksi dirinya di cermin besar. Dengan helaan nafas berat, Joonmyeon menaruh kembali sikat giginya di tempat semula.

“Tapi kenapa aku merasa tidak baik-baik saja?”

*****

NOTE: So… Jika ada yang gak tahu siapa Uhm Ki Joon itu, silakan di cek sendiri. Aku ngambil preference karakter Uhm Ki Joon dari drama Golden Cross yaitu ‘Michael Jang’. Bisa digoogling sendiri.. ^^

Music: CNBLUE – Black Flower

Advertisements

37 thoughts on “[SF] Scarface Part 40

  1. Houhhhh jikang menyusul wonkyu niehhh krisho nya niehhhh kapaaaaan???
    Fighting ajjjj dac thooooor
    Update asaaaaap y

  2. Houhhhh jikang menyusul wonkyu niehhh krisho nya niehhhh kapaaaaan???
    Fighting ajjjj dac thooooor
    Update asaaaaap y…

  3. Apa uhm ki joon itu orang yang di toko buku yang bersama jinri?changwook sama haneul akhirnya jadi sepasang kekasih juga,tinggal nunggu yifan dan joonmyeon.tapi merwka rumit hubungannya..dan paling sweet itu wonkyu nya,aku pikir bakal terjadi adegan yang iya iya…

  4. Wow!! Couple dokter kita sudah meresmikan hubungan merekaaa~ Selamaaat!!! ^^
    Changwook posesif sepertinya. Kkk~

    Pembahasan ttg Seon Hwan selalu sukses bikin hati ketar-ketir. Serius, Kyu dan orang-orang sekitarnya masih belum aman. Di chapter ini gak ada kemunculan pihak Seon Hwan. Tapi ada Uhm Ki Joon. Aaaakkkkkk~
    Sepertinya WonKyu akan menghadapi rintangan yg baru :’)

    KrisHo berlagak seolah semua baik-baik saja. Duh Yifan, dia harus nahan perasaannya demi melupakan rasa cintanyan ke Joon. Sekarang Joon yg mulai galau. Gemes sama pasangan paling muda ini 😦
    Ditunggu chapter selanjutnya ya kak ^^

  5. OMG wonkyuuu….udah makin intens aja ni.. problem2 nya juga masih,,makin seru nihh.. Thanks udah buat cerita yg bgus bgt..bisa bikin aku smangat..haha..fighting chap slanjutnya kakak..:-D ❤

  6. OMG wonkyuuu….udah makin intens aja ni.. problem2 nya juga masih,,makin seru nihh.. Thanks udah buat cerita yg bgus bgt..bisa bikin aku smangat..haha..fighting chap slanjutnya kakak..:-D ❤ ❤

  7. uhm ki joon ada juga nih disini hehehe..
    btw yang mengenal choi jinri siapa ya? apa itu kijoon?
    wuih changwook sama haneul dah resmi jadian nih yeh akhirnya ya
    hubungan tanpa status nya berakhir bahagia
    lalu wonkyu..
    aku suka banget sama momen nya dan hahaha kalian berdua
    mungkin nanti akan lebih tenang dan aman melakukannya
    siapa tau setelah keluarga kyu mengetahui mengenai hubungan wonkyu
    kan akan lebih indah rasanya apalagi jika sudah bertunangan mungkin…

  8. omagiat Andieraaaaa….daebaaakk…g tau aku suka bngt part kali ini,you know what i mean lah bagian mana yng selalu aku suka soal wonkyu,always about seks of course,nyaris kecewa awalnya pas mereka hampir mau nglakuin itu,karna ko baru pacaran sbntr udh begituan kayanya g seru aja,eh tp ternyata ga jadi,yeeeeaaay,iman siwon kuat rupanya,tp roman2 nya part depan bakal ada kejadian kurang menyenangkan nih kayanya#hush!sok tau

  9. Nah loh kan itu uhm ki joon ngapain lagi coba? Dia kyknya punya rencana terselubung deh..
    Jadi curiga klo dia yg deketin jinri

    oemji wonkyu moment nya juga udah msuk tahap intim nih..
    Tinggal nngguin gmna reaksi smua org pas tau hbungan mreka trutama ortu nya kyuhyun

  10. huaaaaaa pasangan chang wook dan haneul akhirnya jadian hehehehehhehe seneng deh rasanya…. heheheh aduhhh senengnya haneul jawabnya lantang banget….
    diera eonni bikin aku adem panas baca bagian wonkyunya heheheh aduhhh mereka bicarain seks begitu terbukanya…. gak tau kenapa aku merasa setiap pasangan berhak membicarakan pelajaran tentang seks dulu sebelum melakukannya hehehhe apa lagi tentang anal seks…. aku setuju denganmu dieraa eonni… aku jadi ngerti… hehehe
    uhm ki joon itu kayaknya ada niat tersendiri deh… aku jadi takut ada apa2 sama klg Choi

    makasi yahh diera eoni…..

  11. Cieeee..ada yang udah jadi pasangan kekasih nih…senengnya lihat ChangHan jadian…
    Pasangan wonkyu juga nggak mau kalah..makin panas aja hehehe….
    Itu yang ketemu jinri, ki joon ya? Berarti target mereka bukan kyu atau siwon?

  12. Siwon n Kyuhyun is having interesting relationship and both are so romantic now…. But still curious how kyuhyun parents will react on his status
    But is sad that the case has involve too many people
    Wonder when will it end??? Will Jinri get harm???
    Maybe this time Siwon n Kyuhyun can face everything together
    Thanks for the update and fighting for ur next chapter/story

  13. Aku suka,,, hubungan wonkyu meningkat pesat,,, bahkan mereka sudah membicarakan masalah seks dan kyuhyun juga gak ragu kaya sebelum2nya,,,, benar2 gerak cepat niu siwon,,,, tapi kalo menurut aku Kyuhyun udah kaya nyadar diri bahwa dia kayanya pihak bawah hanya saja mereka lebih tepatnya kyu sih yg belom siap,,, buta siapa yag bakal nebal kalo dr sebuah ciuman akhirnya mereka bisa naik ranjang… kaya di atas kan,,, hihihi

  14. Sumpahhh ini seriuss… Serius ff nya makin keren bngt , makin suka , makin seru bngt , dan wonkyunya makin sweet. Dan yg bikin aku suka makin buat mesra , siwon bnr2 udah tergila gila ama pesona kyuhyun , kyuhyunpun mulai menikmati hubungan siwon , aku bnr2 suka ama wonkyu , seneng bngt pas baca moment wonkyunya lumyan bnyak , walupun aku pengennya satu chap bhas wonkyu aja , hehe
    Makasih diera karna udah buat ff sekerin ini , dan maksih bngt karna kamu buat ffnya castnya wonkyu
    Jeongmal gomayo , sll ditunggu chap selanjutnya
    ps : aku menunggu nc womkyunya , wkwk

  15. A yeyyyy!!!bunga-bunga cinta sedang bersemi dimana-mana.Tinggal nunggu confirm Joon sama Yifan.
    Huft..sempat dag-dig-dug dengan momment WonKyu tadi kkkkk.
    Kyaa!!Bingung mau comment apa.

    Semoga..orang yg mungkin tanpa sengaja bertemu Jinri tadi,,bukan orang jahat.

    Gumawo eonni..Fighting!!!

  16. kyaaa…..wonkyu..daebak..
    kyuhyun trnyata tdk sepolos yg d duga…mlh dia yg mncing dluan..hmpr aj trjadi yg iya iya..heheee

    psgn dokter jg mkin intens..mlh udh jdian…keten deh changwook..

    yifan dn junmyeon msh gd kmjuan..junmyeon udh mlai kcrian yifan..udh mlai ad rasa ya…^^

    jinri bkal jd incaran utk mghncurkn kyuhyun dn kel choi..

    mkin seruu…….

  17. ketika hubungan JiKang udh lancar sperti hubungan WonKyu,lha hubungan Krisho kapan lancar nya? wkwk
    ciee yg jdian ciee ~
    sempet aneh..yg prtama trtarik kan ChangWook ya,kok yg ngebet ciuman Haneul? haha
    tpi bguslah klo bgitu lol
    beuh ~ kenal bgt sma Uhm Ki Joon kok,ga ush nanya XD
    tpi dia ga bakal ganggu WonKyu kan? apa lg Kyuhyun,ckup Jinri aja *plakk
    tpi jgn ngapa2in Jinri lah,kasian Jinri ga tau apa2 mlh jdi sasaran Seon Hwan :3
    ehem!! tanda2 WonKyu bakal bgituan nih,sukses ya buat kedepan nya *eh
    😂
    ditunggu ra next nya,fighting!!

  18. Pertama– itu… itu…. pria yang mau modus sama jinri pasti si uhm ki joon iyakan… iyakan… iyadong… WKWKWKWK
    Bang Kuda plisss jangan hanya terfokus sama baby mu saja– itu adik muuuu dalam bahaya(?) :v :v kek nya ini yang bakal jadi konflik nya wonkyu ntar *sok tau* ah betapa choi family orang kece semua– iyakan Choi Siwon, Jung Yunho, Shim Changmin, Choi Sooyoung– Jinri sama Taemin itu imut #NGEKK
    HIDUP CHANGMIN x YANG JIHYUN *kibar banner* gue berharap jihyun gak salah fokus(?) Kalo gak sengaja liat mimin nan kece gue changmin alaihum gambreng satu meja sama soo dan anak nya dan ngira changmin udah married dan beranak WKWKWKWK *dijotos soo* untung changmin straight *rolling eyes*

    Untuk kapel dokter– entahlah. Gue blushing liat Ji gak teratur saat bicara, sama hal nya saat kyu bilang ” Anal sex. I know” itu gue belom siap beneran, langsung ngakak jirr WKWKWKWKWK

    Krisho– mmm—

    Di tunggu lagi lanjutan nya hahaha

  19. Eh iya lupa– Komen lagi ah wkwkwk
    Yang menurut gue kocak lebih ke absurd adalah ketika siwon sama kyuhyun nyiptain planning buat ngesex WKWKWKWK sebanyak yang gue baca fanfic setiap permulaan mau ngelakuin sex gak pernah pake planning gini dan dilakuin nya dilain waktu, awkward banget tau -_- Tapi lucu haha

  20. Sebenarnya hubungan krisho mau dibawa kemana? dari dulu gak ada perkembangan, semoga krisho bisa kayak wonkyu 🙂
    wonkyu juga gak jelas, lebih ke kyukyu yg gak jelas. Dia terlalu jaim buat ngatain perasaannya ke woonie, kasihan sama wonnie yg memperjuangkannya sendiri 😦
    next keluarga kyu tau tentang hubungan wonkyu dong, banyak pairing kadang2 buat bingung
    next min 🙂

  21. aigoooo hubungan wonkyu maju pesat nih ^^
    smga aja ga ada hmbtn lgi buat mreka …
    kira2 next chap apa y yg bkln trjdi dgn wonkyu ..
    dtgu klnjtnya chingu ^^

  22. pa kan da tmbahan psangan lg?,,
    aq hnya fokus k wonkyu aja bingung soalnya,,spertinya kasusnya gk ssederhana itu,lbih rumit end bnyak yg kan terlibat
    moment wonkyu bkin agak gimana,,trlebih soal itu,,,

  23. Tumben banget dah di ff ini bisa dapatin siwon yang jauh bisa nahan diri daripada kyu.
    Ditengah banyaknya kesempatan wonkyu masih bisa nahan diri. Hmmm mungkin lebih ke siwonnya kali ya. Karna kyu aja udah ga nyaman tuh. Cb minta dibantuin aja tu.
    Apa perlu kyu lebih agresif juga ya

  24. Annyeong ^^
    aku reader baru, salam kenal. Ah~ aku baru tau ff ini setelah salah satu temen fb nyinggung ff ini. Sebenernya agak repot juga baca ff ini, karena aku cuman baca partnya wonkyu. Jadi agak bingung 😀 . Bukannya apa gak baca semua part, tapi aku gak bisa bayangin wajahnya dan ngedalamin ceritanya *ceilah
    tapi aku bener2 suka sama ff ini, terkesan malu2 tapi mau gitu. Bahasanya juga. Dan hebatnya lagi, aku baca 40 chapter scarface ini dalam waktu 2 hari disela kesibukan sekolah, pr, ulangan, main, dan lainnya karena saking penasarannya. Good job for you! (y)

  25. aigoo.. wonkyu sama jikang lagi mesra-mesranya nih.. senengnya…..
    krisho makin ngambang aja..
    anyway, ditunggu next-nya..
    fighting~

  26. Hoohh wonkyu mah bikin panas,,
    Jujur banget Ya siwonya.. ☺
    Bagus Bagus udah mulai Ada perkembangan hubungan mereka..👍👍
    Changwook ayo semangat .. haneul udah mulai kasih kesempatan nih…

  27. wonkyu ama changneul/? Copel makin intens yah tpi lnjutannya di skip 😀 😀
    anyway, kyaknya laki” yg di toko buku ama jinri itu uhm ki joon… Wah wah bhaya ini kyaknya bkal ada rencna trselubung malah jinri nya udh kepicut lgi. Ckckck next part waitingforya thor .. Yg smangat yah 🙂 😉

  28. Padahal aku brpikir akan ada adegan yg iya2,,,trnyata wonkyu msh blm siap,,,hehehehheheheeeee
    trpaksa brmain solo donk kyu,,,,hehheeheheheee…
    Uhm ki joon yg dmaksud chang sma dgn yg bertemu jinri?????
    Good job

  29. ya ampun…ya ampun..
    suka bgt sama part wonkyu nya
    bner2 suka deh
    hehehehehe
    btw yg sama suli td siapa?

    oke lnjuut ya
    keep writing

  30. Kayaknya kijoon ada niat jahat sama choi group deh hm tp penasaran morifnya gegata apa? Apa krn masalah kasus korupsi itu? Hfff dan ngedeketin suli lg tsk, jahadh. Smg ga terjadi yg macem2 sm siwon kyuhyun dan beserta keluarga dan kerabat.
    Wonkyu sama jikang makin makin nih wuhuw. Makin mesra. Ea. Smg krisho segera nyusul ya kemesraa. Yg di bangun couple lain nyaha~

  31. Sepertinya keluarga choi dan kyuhyun sekarang terancam krna menjadi incaran, semga saja mrk bs menghadapi kemungkinan” buruk yg akan terjadi akibat dr seon hwan…
    Aigooo….pembicaraan wonkyu sdh pd tahap tu, dan diantara mrk jg tdk ada yg keberatan sbnernya utk melakukannya. Makin sweet aja nich wonkyu 😘😘😘
    Jikang sdh jd sepasang kekasih jd hubungan mrk sdh jelas sekrang tanpa da kecanggungan lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s