[SF] Scarface Part 38

choi siwon

38

Kyuhyun hanya diam memandang kearah luar jendela. Ia sudah melakukannya hampir dua jam penuh. Bahkan ketika suster atau dokter yang datang untuk kunjungan rutin, Kyuhyun hampir tidak mengeluarkan sepatah kata. Ini terjadi setelah kunjungan Haesa, pagi ini.

Haesa terlihat baik-baik saja. Dia tidak mempunyai luka apapun dan mungkin sedikit trauma. Namun, selebihnya Kang Haesa baik-baik saja. Kyuhyun bersyukur atas hal tersebut. Walaupun dia sedikit tidak menyangka kalau Haesa akan langsung menemuinya dan bukannya menunggu hingga beberapa hari sampai situasinya menjadi jauh lebih tenang.

Kyuhyun bukannya tidak senang, hanya saja dia tidak ingin dikunjungi oleh siapapun dengan wajah dengan memar yang mencolok. Bahkan Kyuhyun harus melarang Hyukjae untuk tidak datang ke rumah sakit.

Ahra yang menjaga Kyuhyun –setelah Kyuhyun berhasil meyakinkan Siwon untuk pulang pada dini hari karena pria itu harus pergi ke kantor dan menyelesaikan pekerjaannya– juga tidak terlihat senang dengan kedatangan gadis tersebut. Terlebih ketika Ahra berharap tidak bertemu dengan gadis itu lagi setelah kejadian di Pulau Jeju.

Sekali pun, Ahra tidak menyukai Haesa, dia juga tidak bisa mengusir gadis itu begitu saja. Jadi, Ahra membiarkan Haesa bicara dengan Kyuhyun selama beberapa menit. Well, Kyuhyun sangat berterima-kasih karena kakaknya tidak menunjukkan reaksi yang berlebihan. Hanya saja, dia tidak berharap Ahra keluar dan meninggalkannya berdua dengan Haesa.

Tidak banyak yang mereka bicarakan.

Haesa hanya mengucapkan terima kasih dan permintaan maaf. Kyuhyun menerimanya dan dia juga mengatakan permintaan maaf karena tidak menyelesaikan kasus itu lebih cepat. Salah satu yang disesali oleh Kyuhyun adalah Haesa ikut terlibat dalam masalah Seon Hwan. Walaupun sebenarnya gadis itu sudah terlibat ketika ia memberikan flash-drive itu pada Kyuhyun.

Haesa pergi setelah lima menit. Itu pun karena Kyuhyun yang memintanya untuk pergi. Kyuhyun masih tidak nyaman dengan orang-orang yang memandangi wajahnya dengan penuh rasa kasihan. Bahkan ketika orangtuanya melihat kondisinya, Kyuhyun ingin sekali meminta Appanya membawa Eommanya keluar dari kamar rawat. Termasuk Siwon.

Tapi Kyuhyun tidak ingin menyusahkan dirinya untuk menyuruh Siwon pergi. Buktinya, pria itu berniat untuk membawa beberapa dokumen kantor ke rumah sakit hingga Siwon tidak harus pergi bekerja. Tentu saja, Kyuhyun melarangnya. Selain itu, orangtuanya dan Ahra datang. Mana mungkin Kyuhyun membiarkan Siwon untuk bertemu dengan orangtuanya di saat seperti ini.

Kyuhyun menghela nafas berat. Setelah yang terjadi dengan Seon Hwan, Kyuhyun masih harus memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk memberitahu kedua orangtuanya mengenai seksulitasnya dan hubungannya dengan Choi Siwon. Walaupun cara yang paling mudah adalah bicara dengan jujur dan menghadapi resikonya, tapi tetap saja Kyuhyun merasa belum siap untuk membicarakannya dengan orangtuanya.

Hal itu membuat Kyuhyun merasa sangat egois.

Disaat Kyuhyun masih sibuk dengan pikirannya sendiri, ia mendengar pintu diketuk dan dibuka secara perlahan. Awalnya Kyuhyun mengira suster yang bertugas yang datang, tapi ia begitu terkejut melihat sosok ibu Siwon yang memasuki kamar rawatnya.

Choi Yoojin yang terlihat angkuh menutup pintu dengan rapat. Wanita itu kemudian berjalan mendekati tempat tidur Kyuhyun dan menatapnya dengan begitu penuh kebencian. Kyuhyun bukan tipe orang yang mudah merasa rendah diri, tapi ketika Yoojin memandanginya saat ini, entah kenapa Kyuhyun merasa begitu kecil dihadapan ibu Choi Siwon.

“Kau masih hidup. Bahkan perusahaan besar seperti Seon Hwan pun tidak bisa menghentikanmu,” ucapan Choi Yoojin terdengar begitu dingin.

Kyuhyun hanya menatap Choi Yoojin dengan lekat. Ia tidak tahu bagaimana Choi Yoojin bisa mengetahui kalau dia berada di rumah sakit. Pertanyaan yang lebih tepat, bagaimana Choi Yoojin bisa mengetahui mengenai Seon Hwan. Kyuhyun berpikir Yoojin mengetahuinya dari berita di televisi, namun itu tidak menjelaskan bagaimana Yoojin tahu kalau Kyuhyun masuk rumah sakit.

Lagi, Choi Yoojin bisa masuk tanpa kesulitan padahal didepan kamarnya terdapat dua orang polisi. Setahu Kyuhyun, tidak ada orang yang bisa masuk ke kamar rawatnya kecuali dokter dan suster, keluarganya, pihak kejaksaan dan polisi. Kemarin ketika Siwon menjaganya di rumah sakit, itu pun atas persetujuan dari kepolisian. Lalu bagaimana Choi Yoojin bisa menemuinya dengan mudah?

“Nyonya Choi, bagaimana anda bisa masuk?” tanya Kyuhyun.

Yoojin mendecih. “Kenapa? Apa kau adalah orang penting sehingga tidak semua orang bisa menemuimu? Bagaimana bisa dua polisi itu melarangku untuk menemuimu? Kau hanya seorang pengacara, Cho Kyuhyun.”

Sepertinya Kyuhyun tidak harus bertanya mengenai hal itu. Dua polisi yang menjaga kamarnya tidak mungkin membiarkan orang asing tanpa persetujuan masuk ke kamarnya begitu saja. Selain itu, Choi Yoojin terlihat jauh lebih marah karena pertanyaannya.

“Ta-tapi…”

“Aku datang ke sini bukan untuk mengobrol denganmu. Ini adalah peringatan terakhir untukmu, Cho Kyuhyun. Jauhi putraku. Tapi tentu saja, jika kau meninggalkannya, Siwon tidak akan berhenti menemuimu. Jadi, tinggalkan Korea, jika itu diperlukan. Aku bisa membantumu untuk pergi kemana pun. Aku bahkan akan membantumu mencari firma hukum di negara yang kau tuju. Asalkan kau meninggalkan putraku dan tidak pernah menghubunginya lagi,” tutur Choi Yoojin.

Kyuhyun masih memandangi Choi Yoojin. Inikah salah satu cara dari ratusan cara yang dipikirkan oleh Choi Yoojin untuk menyingkirkan Kyuhyun dari hidup Siwon? Tapi tentu saja, cara pertama adalah membujuk Kyuhyun pergi dengan sukarela. Jika Kyuhyun menolak, Choi Yoojin mungkin akan memakai cara paksaan.

“Nyonya Choi, anda tahu kalau saya tidak bisa meninggalkan Korea. Bukan karena putra anda, tapi karena…”

“Kasus Seon Hwan, bukankah kau adalah saksi kunci. Itu bahkan sudah cukup sebagai alasanmu meninggalkan Korea. Walaupun polisi bisa menjagamu, tapi Seon Hwan mempunyai ribuan cara untuk menyingkirkan orang-orang yang menghalangi mereka. Aku menawarkan cara yang aman untukmu. Tidak akan ada orang yang bisa mengetahui keberadaanmu jika kau pergi ke luar negeri. Aku sendiri yang akan memastikannya,” ucap Yoojin dengan tenang.

Kasus Seon Hwan adalah rahasia umum. Tapi mengenai Kyuhyun sebagai saksi kunci, hanya pihak-pihak tertentu yang mengetahuinya. Selain itu, pihak kepolisian juga memastikan kalau pers tidak mengetahuinya. Siwon pun tidak akan begitu bodoh mengatakan hal itu pada keluarganya. Jadi, bagaimana Choi Yoojin mengetahuinya?

Kyuhyun menarik nafas perlahan. Dia tidak ingin membuat spekulasi. “Nyonya Choi, bagaimana anda tahu kalau saya adalah saksi kasus Seon Hwan? Selain itu, darimana anda tahu kalau saya dirawat di rumah sakit ini? Apakah Siwon yang…”

“Pengacara Cho, jika aku saja bisa mengetahui dengan mudah mengenai keberadaanmu, pikirkan apa yang bisa dilakukan Seon Hwan untuk mencarimu. Aku harap kau bisa memutuskan tawaranku tadi. Sampai bertemu lagi, Cho Kyuhyun.” Choi Yoojin kemudian berjalan keluar kamar rawat tersebut.

Dengan menutup pintu sedikit kasar, Kyuhyun hanya terdiam memikirkan ucapan Choi Yoojin.

Itu mungkin benar. Choi Yoojin meminta orang untuk menyelidiki keberadaannya dan menemuinya tanpa kesulitan. Entah apa yang bisa dilakukan oleh Seon Hwan untuk mencaritahu keberadaannya. Bahkan keberadaan polisi yang menjaga didepan kamar rawatnya dan pihak kejaksaan yang menutupi identitasnya sebagai saksi kunci, itu tidak akan membuat Kyuhyun aman. Seon Hwan akan dengan mudah menemukannya dan entah apa yang akan mereka lakukan pada Kyuhyun. Mungkin Kyuhyun akan terbunuh pada akhirnya.

Mempertimbangkan hal tersebut, haruskah Kyuhyun menghilang saja?

*****

“Yak!!” seru Changmin ketika Siwon memberikannya sepuluh dokumen yang telah ditanda-tanganinya dan harus direvisi ulang sebelum pertemuan terakhir dengan klien-klien mereka.

Well, sebenarnya sepuluh dokumen masih bisa diselesaikan dalam waktu dua minggu. Namun, ketika Siwon datang pagi ini, ia memberikan perintah agar menyelesaikan semua dokumen-dokumen itu hari ini. Walaupun itu sebenarnya cukup baik, tapi tidak bagi Changmin yang harus melakukan revisi akhir. Untuk saat ini, Changmin sudah cukup banyak dokumen yang harus diselesaikannya, jika ditambah dengan sepuluh dokumen yang diberikan Siwon hari ini, kemungkinan besar Changmin harus kerja lembur hingga akhir minggu.

Changmin tidak mau lembur. Tidak akan pernah mau, kecuali jika benar-benar terpaksa.

Siwon membuka dokumen baru dan mengabaikan Changmin. “Pergi ke ruang kerjamu dan selesaikan dokumen-dokumen itu, Shim Changmin.”

Changmin mendengus. Ia tahu persis kenapa Siwon terburu-buru menyelesaikan semua dokumen itu. Walaupun Changmin mendukung Siwon untuk menjalani sebuah hubungan, tapi jika pada akhirnya itu malah akan membuat situasinya menjadi lebih sulit, maka Changmin harus protes. Well, Changmin juga mempunyai hubungan personal yang harus diperbaiki dan Siwon tidak bisa bersikap egois padanya.

“Choi Siwon!!” Changmin menaruh sepuluh dokumen itu diatas meja kerja Siwon.

Siwon menatap dokumen tersebut lalu mengangkat kepalanya. Akhirnya, Changmin mendapatkan perhatian Siwon. Changmin menarik nafas. “Semua dokumen ini masih bisa diselesaikan hingga dua minggu atau bahkan satu bulan mendatang. Kau tidak bisa menyelesaikannya dengan tergesa-gesa tanpa memikirkan resiko kesalahan isi dokumen.”

“Bukankah itu adalah tugasmu untuk melakukan revisi akhir?” tukas Siwon.

Changmin berusaha menahan emosinya. “Dengarkan aku, okay? Aku tahu, kau ingin sekali pergi ke rumah sakit saat ini. Tapi kau juga harus bersikap professional. Jangan memberikan perintah pada bawahanmu agar kau bisa meninggalkan kantor ini lebih cepat. Kakek tidak akan menyukai sikapmu ini, Choi Siwon.”

“Changmin…”

Changmin mengangkat tangannya, membuat Siwon terdiam. Lalu Changmin mengambil tiga dokumen dari sepuluh dokumen tersebut. “Aku akan menyelesaikan tiga dokumen. Besok mungkin aku akan mengambil satu atau dua dokumen berikutnya. Bersikaplah seperti Direktur Choi Siwon yang selalu mementingkan pekerjaan dibandingkan kehidupan pribadinya ketika dia berada di ruangan ini. Kau masih bisa pergi ke rumah sakit setelah pulang kantor, Siwon. Lagipula Kyuhyun tidak akan meninggalkan rumah sakit begitu saja. Periksa sisa tujuh dokumen lainnya. Walaupun kau sudah membacanya hingga puluhan-kali, lakukan lagi hingga kau benar-benar yakin dengan isinya.”

Kemudian Changmin berjalan menuju pintu. Siwon menghela nafas berat dan menyandarkan punggungnya di kursi. Ia menatap dokumen-dokumen diatas meja kerjanya. Well, dokumen yang masuk hari ini memang jauh banyak dari biasanya. Mungkin Siwon harus lebih sedikit bersantai. Toh, ucapan Changmin memang masuk akal.

“Oh ya…”

Siwon mengangkat kepalanya. Dia pikir sepupunya sudah pergi sejak tadi. “Apa?”

“Mengenai situasi Kyuhyun, siapa lagi tahu selain aku dan Yunho hyung?” tanya Changmin yang berdiri diambang pintu.

Siwon sedikit mengernyit. “Aku tidak memberitahu orang lain lagi. Kakek mungkin mengetahuinya dari Shin Hwan dan Ahn Soo, tapi aku yakin Kakek tidak akan memberitahu siapapun. Kalau Appa? Aku tidak yakin. Kenapa?”

“Kalau ibumu?”

Siwon terdiam. Benar, Choi Yoojin, sang ibu. Siwon tidak terpikir kalau ibunya mungkin akan mencaritahu apa yang terjadi. Selain itu, Siwon baru pulang saat dini hari tadi dan ibunya pasti mencurigainya kala Siwon bersama dengan Kyuhyun semalaman. Terkadang ibunya bisa melakukan apapun demi kepentingannya.

Changmin memperhatikan ekspresi Siwon. Ia menghembuskan nafas. “Kau tahu, Kyuhyun sudah mengalami banyak masalah dengan pekerjaannya. Kalau ibumu masih memberinya masalah, kurasa kau harus memikirkan ulang mengenai hubungan kalian. Itu sama sekali tidak adil bagi Kyuhyun, Siwon.” Kemudian Changmin membuka pintu dan berjalan keluar ruangan tersebut.

Siwon memejamkan matanya bersamaan dengan suara pintu tertutup. Ia mengambil nafas dalam dan menghembuskan perlahan. Sepertinya terlalu banyak masalah yang muncul setelah ia bertemu dengan Kyuhyun. Bukan sesuatu yang disesali oleh Siwon. Namun, Siwon tidak terbiasa mendapati masalah yang datang padanya secara terus-menerus.

“Hahhh… Aku butuh istirahat.”

*****

Haneul melepaskan seatbelt dan menoleh pada Changwook yang hanya duduk diam dibalik kemudi. Sepanjang perjalanan Changwook tidak pernah bicara atau bahkan menatap kearah Haneul. Pria itu hanya fokus menyetir menuju rumah Haneul. Itu pun dengan bantuan panduan GPS setelah Haneul yang memasukkan alamat rumahnya.

Haneul menghembuskan nafas dan beranjak keluar mobil. Hingga Changwook memanggil namanya. Setelah terdiam sejenak, Haneul kembali menoleh pada Changwook. Haneul masih memperhatikan ekspresi tenang Changwook.

Situasi yang begitu sunyi membuat terasa begitu canggung.

Changwook kemudian melepaskan seatbelt dan akhirnya memandang Haneul. “Aku mencintaimu.”

Ucapan Changwook membuat Haneul terkejut. Tidak begitu mengejutkan karena Changwook pernah mengatakannya beberapa-kali, tapi untuk kali ini Changwook terlihat sangat serius. Terlihat dari sorot mata hingga nada bicaranya.

“Aku tahu kalau kau tidak…” Changwook terdiam sejenak, kemudian ia mengubah ucapannya. “Kau belum mencintaiku. Kau sudah mencintai Kyuhyun begitu lama. Ketika kau memberiku kesempatan, aku pikir bisa melakukannya. Tidak kusangka, rasanya ternyata jauh lebih sulit dibandingkan aku masih menyukaimu seorang diri. Paling tidak, saat itu aku tidak begitu mengharapkanmu. Namun, setelah kau memberikan kesempatan itu, aku tidak ingin melepaskanmu. Aku tidak akan bisa melepaskanmu.”

Changwook tersenyum. Ia mengangkat tangan kirinya dan berusaha menyentuh wajah Haneul. Namun, Changwook menarik tangannya kembali. Haneul memperhatikan tangan Changwook, kemudian tanpa sadar Haneul menggenggam tangan besar pria itu. Changwook begitu terkejut dengan tindakan Haneul tersebut.

Haneul menautkan jemarinya pada jemari Changwook. Sensasi hangat itu kembali muncul.

“Apa menurutmu aku sangat egois?” tanya Haneul berbisik.

Changwook tidak mengatakan apapun. Haneul mengeratkan genggamannya.

“Aku memberikanmu kesempatan tapi di sisi lain aku masih belum bisa melupakan Kyuhyun. Aku sangat egois, bukan? Aku bahkan berpikir, apa yang membuatmu bisa menyukaiku. Sejak kita bertemu, aku sering-kali bersikap dingin padamu dan bahkan mengusirmu dengan kasar. Dengan sikap burukku, orang yang kusukai juga tidak menyukaiku. Dia selalu menyukai orang lain. Tapi kenapa kau menyukaiku? Apa alasanmu?”

Changwook melirik tangan mereka yang terpaut. Ia kemudian tersenyum tipis dan sedikit mencodongkan tubuhnya lebih dekat pada Haneul. Cukup dekat hingga Changwook bisa merasakan hembusan nafas Haneul tepat di wajahnya. Haneul berkedip beberapa-kali saat wajah mereka begitu dekat. Telapak tangan Changwook menghangatkan Haneul. Begitu pula dengan senyumannya.

“Kau tidak perlu alasan untuk bisa menyukai orang lain. Perasaan itu akan muncul dengan natural tanpa paksaan. Itulah yang terjadi padaku. Aku hanya sangat menyukaimu, hingga aku tidak pernah menyadari kapan aku mulai mencintaimu. Dan aku tidak akan berhenti mencintaimu Kang Haneul,” ucap Changwook lembut.

Haneul bisa merasakan wajahnya mulai terasa panas. Entah karena nafas Changwook, atau karena jarak mereka yang terlalu dekat, atau bahkan karena ucapan Changwook. Mungkin karena ini pertama-kalinya bagi Haneul mendengarkan kata-kata itu dari orang lain. Orang yang menyukainya bahkan mencintainya begitu tulus hingga tidak peduli kalau Haneul telah menyakiti perasaannya.

Haneul menundukkan kepalanya. Memandangi tangannya dan tangan Changwook yang terpaut dengan begitu erat. Haneul menarik nafasnya dan mengangkat kepalanya. Haneul tersenyum pada Changwook.

“Ayo, ikut masuk bersamaku.”

*****

Changwook memperhatikan kamar Haneul dengan seksama. Saat Haneul mengajaknya masuk ke dalam rumah, Changwook tidak menyangka kalau ia akan bisa memasuki kamar Haneul juga. Kamar Haneul tidak lebih besar dari kamarnya di apartment. Dengan dominasi hitam putih, kamar tersebut begitu minimalis dengan sedikit furniture. Sebuah tempat tidur besar yang diletakkan di tengah ruangan, meja kayu yang sengaja diposisikan menghadap kearah jendela besar di kamar tersebut, lemari pakaian dan sebuah rak buku. Dan sepertinya Haneul belum selesai berkemas. Terlihat masih ada beberapa kotak di sudut kamar.

Changwook berjalan ke sebuah rak buku yang cukup besar. Changwook bisa mengenali buku-buku tersebut, karena sebagian besar adalah buku kedokteran. Mungkin buku-buku ketika Haneul belajar di Jerman. Selain itu, ada juga buku-buku novel fiksi. Changwook mengambil salah satu buku dan membaca judulnya. Tapi Changwook tidak mengerti karena novel tersebut ditulis dengan bahasa Jerman. Jadi, ia mengembalikan ke tempat semula.

Changwook menoleh ketika Haneul membuka pintu kamar dengan membawa sebuah mug berisi teh hangat. Haneul memberikan mug itu pada Changwook setelahdia menutup pintu.

“Hanya satu?” tanya Changwook seraya menerima mug tersebut.

Haneul mengangguk dan berjalan mendekati tempat tidur. Ia melepaskan mantel dan menaruhnya diatas tempat tidur. Changwook menghampirinya. Ia bisa melihat kalau Haneul begitu tegang. “Kenapa?”

Haneul menoleh. “Tidak. Bukan apa-apa.”

Itu jelas sebuah kebohongan. Changwook menaruh mug tersebut di meja nakas disamping tempat tidur dan kembali menatap Haneul dengan lekat. “Kenapa? Apa karena aku?”

“Bukan. Lagipula aku sendiri yang mengajakmu masuk ke kamarku,” ujar Haneul.

“Han…”

Haneul menyuruh Changwook untuk duduk diatas tempat tidurnya. Lalu Haneul berdiri dihadapan Changwook dan menyentuh wajah pria itu dengan penuh kehati-hatian. Perlahan Haneul menunduk untuk bisa mencium bibir Changwook. Hanya untuk beberapa detik karena Changwook terlihat terkejut dengan ciuman Haneul yang tiba-tiba. Mata besarnya menatap Haneul dengan penuh rasa tanya. Changwook ingin bicara, tapi Haneul kembali mencium bibirnya.

Kali ini Changwook membalas respon atas ciuman Haneul. Changwook membuka kedua-belah bibirnya ketika ia merasakan lidah Haneul. Ia membalas setiap kecupan bibir Haneul dengan lembut. Sensasinya begitu berbeda. Changwook yang mengikuti instingnya sendiri kemudian memeluk tubuh Haneul. Aroma mint dan vanilla yang menguar dari Haneul membuat Changwook semakin mabuk kepayang. Selain itu, Changwook juga bisa merasakan jemari hangat Haneul diantara surai rambut hitamnya. Semuanya begitu terasa penuh gairah.

Ciuman Haneul. Tubuh Haneul. Jemari Haneul.

Changwook bisa gila hanya dengan mendengar suara Haneul.

Ciuman itu semakin begitu bergairah hingga keduanya jatuh di tempat tidur. Changwook merubah posisi mereka dengan mudah hingga Haneul kini berada dalam pelukannya. Haneul bahkan sepertinya juga mulai lupa diri. Berkali-kali Haneul mengingatkan dirinya untuk tetap bernafas walaupun ciuman Changwook seakan menarik seluruh nafasnya dengan mudah. Bahkan Haneul hampir berteriak dengan gelombang gairah yang semakin memuncak. Hanya dengan sebuah ciuman dan mereka tidak melepaskan satu helai pakaian pun.

Puncak gairah itu datang dengan begitu hebat. Haneul bahkan hampir dibutakan dengan gelombang gairah yang menghantam seluruh tubuhnya. Sensasi hangat dan menggelitik tidak begitu familiar, namun Haneul tahu kalau ia menyukai sensasi tersebut.

Changwook menarik bibirnya dan menyebut nama Haneul dengan sensual. Haneul berusaha untuk tetap membuka kedua kelopak matanya. Ia berusaha untuk terus menatap Changwook yang berada diatas tubuhnya. Namun, ketika ujung jemari Changwook menyentuh permukaan wajahnya, Haneul hampir kehilangan kendali dirinya lagi.

“Haneul…”

Haneul ingin sekali membalasnya. Tapi ia telah kehilangan kata-kata. Haneul tidak yakin kalau ia bisa menahan gairahnya lagi ketika mulutnya terbuka. Haneul hanya bisa memandangi wajah tampan Changwook dan merasakan deru nafas pria tersebut. Tangan Changwook masih menyentuh wajah Haneul dengan lembut. Untuk sesaat, kamarnya hanya terdengar suara tarikan dan hembusan nafas mereka saja.

Kemudian Changwook mengecup kening Haneul. Sebuah ciuman tulus.

“Bisa beritahu dimana kamar mandinya?” bisik Changwook setelah menit-menit kesunyian.

Haneul berkedip beberapa-kali. Ia tidak menduga pertanyaan tersebut. “Di ujung lorong sebelah kanan dari kamarku.”

Changwook tersenyum dan memberikan sebuah kecupan manis di bibir Haneul sebelum ia berdiri dan berjalan keluar kamar tersebut. Haneul masih berbaring diatas tempat tidur setelah ia mendengar suara pintu tertutup. Perlahan nafasnya kembali teratur dan Haneul teringat semuanya dengan begitu jelas.

Bibir Changwook. Sentuhan Changwook. Deru nafas Changwook. Detak jantung Changwook. Bahkan, senyuman Changwook.

Haneul memejamkan matanya untuk sejenak, walaupun ia tahu kalau harus dengan segera mengganti celananya.

*****

Yifan mendengus ketika ia melihat Luhan berada di kamar dormnya dengan memakan salah satu ramen cup miliknya. Yifan mungkin harus mengganti kode nomor pintu agar Luhan tidak seenaknya masuk tanpa ijin. Yifan melepaskan jaket serta syalnya. Ia juga mengeluarkan ponsel serta dompet dari saku celananya lalu meletakkan keduanya diatas selimut. Tanpa bicara, Yifan kemudian duduk disamping Luhan yang masih sibuk dengan ramen cup sembari menonton televisi.

Yifan ikut menonton acara komedi yang sedang tayang ulang. Well, mereka menonton acara komedi tapi tidak satu pun dari Luhan dan Yifan yang tertawa. Keduanya menonton dengan ekspresi wajah serius seakan sebenarnya mereka sedang menonton tayangan berita.

Yifan meraih cup ramen dari tangan Luhan dan menghabiskan ramen yang tersisa. “Lu, kau sudah memikirkan tawaranku?”

Luhan masih fokus pada layar televisi. “Tawaran apa?”

“Untuk tinggal di London bersamaku. Kurasa Mom tidak akan keberatan jika aku tinggal bersamamu. Bahkan Appa Joonmyeon mungkin akan mencarikan flat dengan dua kamar,” tutur Yifan yang kemudian mengabiskan kuah ramen yang terasa pedas.

Luhan menghela nafas. “Kau bilang aku masih mempunyai waktu hingga akhir tahun, bukan?”

“Tapi lebih cepat kau memutuskan, maka lebih baik. Aku bisa mengatakannya pada Mom,” kata Yifan.

Kini Luhan menatap Yifan yang kembali menonton televisi dengan serius. “Berikan aku waktu sampai awal semester baru. Bagaimana keadaan di rumah sakit?”

Well, Luhan memang tahu kalau Yifan pergi ke rumah sakit untuk menemui Joonmyeon. Itu pun sebenarnya Luhan yang menyuruh Yifan pergi menemui Joonmyeon. Walaupun Yifan sudah mengatakan ingin menganggap Joonmyeon sebagai saudara seutuhnya, tapi Luhan tahu itu akan sulit sekali. Terlebih selama berbulan-bulan, Yifan selalu memperhatikan Joonmyeon dari jauh. Sebuah perasaan tidak akan mudah berubah hanya dengan waktu satu malam. Jadi, kini ia meminta penjelasan dari Yifan apa yang dilakukannya di rumah sakit dan apa yang dibicarakannya dengan Joonmyeon.

“Aku berbohong padanya.”

Luhan mengernyit. “Maksudmu?”

Yifan berdiri dan berjalan untuk membuang cup ramen yang sudah kosong. Kemudian Yifan mengeluarkan satu botol air mineral dan kembali duduk di kursi. Luhan masih memperhatikannya dengan penasaran.

Yifan membuka botol tersebut dan meneguk air beberapa-kali. “Aku mengajaknya keluar kamar dengan mengatakan aku sudah mendapatkan ijin dari pamannya. Tapi aku tidak pernah menemui pamannya.”

“Reaksinya?”

“Aku tidak memberitahunya. Aku pergi setelah dia tertidur. Aku hanya berharap dia tidak mengatakan pada siapapun kalau dia pergi keluar kamar. Jika Mom tahu, entah apa yang akan terjadi padaku nanti,” tutur Yifan. Fokus pandangannya masih tertuju pada layar televisi.

Luhan mendengus mendengar cerita Yifan. Terkadang Yifan bisa melakukan hal gila. Terlebih ini berkaitan dengan Kim Joonmyeon. Luhan tidak tahu apa yang akan dilakukan Yifan untuk berusaha melepaskan perasaannya pada Joonmyeon. Ia hanya berharap kalau Yifan tidak memilih cara yang cukup ekstrem.

Luhan mengambil botol minuman dari tangan Yifan dan beranjak pergi. Yifan kini memperhatikan sahabatnya yang sedang berjalan menuju pintu.

“Yak…”

Luhan menoleh. “Zitao mengirimiku email lagi. Dia bertanya mengenaimu, tapi karena kau bilang aku tidak boleh mengatakan apapun, jadi aku hanya menyuruhnya untuk bicara langsung padamu. Ohya, Kita masih punya waktu satu bulan sebelum ajaran baru dimulai. Mau pergi jalan-jalan? Aku masih sedikit kecewa liburan ke Bangkok itu dibatalkan.”

“Kau mau kemana?” tanya Yifan.

Luhan mengangkat bahu. “Busan? Gwangju? Yeonsu? Jeonju? Jeju? Atau bahkan kita bisa berkeliling Seoul dan sekitarnya. Terserah.”

Yifan mendecih mendengar usulan Luhan. Jika mereka hanya pergi keliling Seoul, itu bisa mereka lakukan kapan saja. Yifan tidak suka jika harus pergi ke suatu tempat tanpa direncanakan sebelumnya. Itu hanya menghabiskan waktu karena pada akhirnya mereka akan berdebat tempat mana yang harus mereka kunjungi terlebih dahulu.

“Jika mau jalan-jalan, kau buat perencanaannya. Aku tidak mau pergi tanpa rencana yang pasti,” sahut Yifan sembari kembali menonton televisi.

Luhan menyeringai. “Oh?! Kalau aku buat perencanaannya, maka kau akan ikut kemana pun tujuanku, okay? Tanpa ada protes? Okay?”

“Okay! Sudah, sana kembali ke dorm-mu!!”

“Assa!!”

*****

Siwon sedikit terkejut ketika ia membuka pintu kamar rawat Kyuhyun. Pasalnya, Siwon melihat Kyuhyun sedang bertelanjang dada dengan seorang dokter dan suster. Sepertinya dokter sedang melakukan pemeriksaan rutin. Ini memang bukan pertama-kali, tapi rasanya tetap saja canggung. Kyuhyun yang menyadari Siwon masih berdiri diambang pintu dan belum menutup pintu. Posisi Kyuhyun sebenarnya sedang duduk di tepi tempat tidur dengan membelakangi Siwon, namun ia bisa mengetahui siapa yang datang pada pukul enam seperti ini.

“Tutup pintunya, Siwon.”

Sontak Siwon berjalan masuk dan menutup pintu. Ia bahkan tidak sadar kalau dia belum bergerak sedikit pun. Kemudian Siwon berjalan menuju tempat tidur Kyuhyun dan memperhatikan dokter yang memberikan penjelasan tentang kondisi Kyuhyun.

“Syukurlah tidak ada luka yang cukup serius. Walaupun begitu anda harus tetap berhati-hati karena anda mengalami beberapa pukulan benda keras. Saya akan menjadwalkan pemeriksaan CT-Scan lebih lanjut setelah itu dua atau tiga hari anda bisa pulang,” tutur sang dokter.

Kyuhyun mengangguk kecil. “Terima kasih dokter.”

Dokter itu tersenyum dan berjalan keluar bersama dengan suster. Siwon juga sempat mengucapkan terima kasih pada dokter tersebut. Kyuhyun menarik nafas dan mengambil pakaiannya. Ia tidak ingin berlama-lama orang lain melihat kondisi tubuhnya yang penuh memar kebiruan. Heck, Kyuhyun bahkan merasa tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya sendiri. Namun, Kyuhyun mengalami sedikit kesulitan untuk memakainya.

Siwon menghampiri Kyuhyun dan menaruh kantung berisi makanan yang dia beli diatas meja nakas. Lalu membantu Kyuhyun memakai pakaiannya tanpa mengatakan sepatah kata. Saat mengancingkan pakaian, Siwon sempat memperhatikan memar-memar di tubuh Kyuhyun. Bahkan memar di wajah Kyuhyun juga terlihat begitu buruk. Warna kebiruan itu kini bahkan sangat kontras dengan warna kulit Kyuhyun.

“Jangan dilihat,” gumam Kyuhyun.

Siwon menatap mata Kyuhyun. Mata coklat yang besar dengan sorot mata yang menenangkan. Siwon tersenyum kecil dan kembali mengancingkan pakaian Kyuhyun. “Kenapa? Apa kau merasa malu? Aku pernah menggantikan pakaianmu saat kau mabuk.”

Kyuhyun tidak mengatakan apapun. Ia hanya memperhatikan Siwon yang masih memperhatikan tubuhnya. Bahkan sepertinya Siwon dengan sengaja mengulur waktu untuk memasukkan semua kancing itu pada lubangnya. Kyuhyun tidak tahan dengan tatapan mata Siwon.

Ketika Siwon, dengan sengaja, menyentuh bagian dada Kyuhyun, dengan spontan Kyuhyun mendorong tubuh Siwon agar menjauhinya. Siwon mundur beberapa langkah. Ia menatap Kyuhyun dengan ekspresi tenang. Lalu Kyuhyun beranjak turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Hanya untuk menghindari tatapan mata Siwon.

Namun, Siwon menarik pergelangan tangan Kyuhyun dan memeluknya dari belakang. Nafas Kyuhyun tertahan. Kedua tangan Siwon memerangkapnya dengan begitu erat. Kyuhyun memejamkan matanya dan mulai mengatur nafasnya perlahan. Dia harus melepaskan diri.

“Siwon…”

“Tidak apa-apa.”

Kyuhyun membuka matanya. Ia bisa merasakan aura hangat tubuh Siwon yang menyelimuti tubuhnya. Selain itu, deru nafas Siwon juga terdengar begitu jelas di telinganya. Kedua tangan besar Siwon masih memeluk perutnya.

Sebagian kancing pakaiannya belum terpasang dengan sempurna.

“Siwon…” ucap Kyuhyun lagi.

Siwon bergumam pelan. Tangannya kini mulai bergerak untuk menyelesaikan memasang kancing pakaian Kyuhyun.

Kyuhyun melupakan apa yang ingin dikatakannya. Ia hanya diam dan membiarkan Siwon menyelesaikannya. Setelah semua kancingnya terpasang, Siwon melepaskan pelukannya dan berjalan ke hadapan Kyuhyun. Ia memandangi wajah Kyuhyun dengan seksama. Dengan ujung jemarinya, Siwon menyentuh semua memar di wajah Kyuhyun dengan lembut.

“Ini sangat aneh. Memar di wajahmu tidak menutupi kalau kau terlihat begitu tampan. Sejak kapan kau sudah tampan seperti ini, eh?” tutur Siwon dengan lembut.

Kyuhyun menyentuh pergelangan tangan Siwon. Pria dihadapannya membuatnya kembali jatuh lebih dalam. Entah, tapi Kyuhyun tidak pernah menyangka bahwa dia akan bisa merasakan hal seperti ini dari seorang pria. Bahkan setelah bertahun-tahun ia menyukai seorang Kang Haesa, Kyuhyun tidak pernah merasakan sensasi yang sama. Siwon terasa begitu istimewa baginya. Terlepas dari semua perlakuan dingin pria itu di awal pertemuan mereka.

Kyuhyun sadar kalau dia juga tidak bisa melepaskan Siwon. Sama seperti Kyuhyun memegang perasaannya pada Kang Haesa selama enam tahun –seorang diri– Kyuhyun mungkin akan menggenggam tangan Siwon dengan erat untuk waktu yang lama. Namun, pertemuannya dengan Choi Yoojin adalah sesuatu yang tidak bisa diabaikan oleh Kyuhyun. Juga, kasus Seon Hwan.

“Ibumu menemuiku siang ini,” ucap Kyuhyun pelan.

Kyuhyun kini bisa melihat perubahan ekspresi wajah Siwon. Kyuhyun menarik nafas perlahan. Entah apa reaksi Siwon berikutnya. “Ibumu memintaku untuk meninggalkanmu. Untuk pergi dari Korea.”

Kyuhyun bisa merasakan detak jantung Siwon yang begitu cepat dari pergelangan tangannya. Siwon masih belum memberikan reaksi verbal, namun reaksi Siwon dari ekspresi wajahnya menunjukkan kalau pria itu tidak menyukai tindakan sang ibu. Bahkan Kyuhyun bisa melihat kemarahan dari sorot mata Siwon.

“Siwon, katakan sesuatu?” tanya Kyuhyun.

Setidaknya Kyuhyun harus memastikan respon Siwon yang sebenarnya melalui ucapan.

Siwon menarik tangannya perlahan. Ia memasukkannya ke dalam saku celana. Matanya tidak pernah melepaskan fokusnya pada Kyuhyun. “Apa lagi? Eommaku mengatakan apa lagi?”

Suara Siwon terdengar begitu dingin. Pria itu sangat marah.

“Ibumu juga tahu mengenai kasus Seon Hwan dan keterlibatanku. Jika Ibumu bisa menemukanku di rumah sakit ini dengan mudah, maka Seon Hwan juga bisa melakukan hal yang sama. Oleh karena itu, Ibumu menawarkan bantuan padaku untuk keluar dari Korea. Dengan balasan, aku tidak boleh menemui atau menghubungimu. Ibumu akan merahasiakan keberadaanku dari semua orang. Dari Seon Hwan dan juga darimu.”

Kyuhyun tidak tahu apakah ini adalah keputusan yang tepat untuk menceritakan mengenai pertemuannya dengan Choi Yoojin pada Siwon. Tapi bahkan jika Kyuhyun berbohong pun, Siwon bisa mencari-tahu dengan mudah. Siwon bisa bertanya pada dua polisi yang berjaga di depan kamarnya untuk mengetahui apa yang ditutupi oleh Kyuhyun. Hasilnya pun tidak akan jauh lebih baik.

Oh, Kyuhyun juga berpikir apakah harus ia menceritakan tentang kedatangan Kang Haesa pagi ini pada Siwon.

Siwon sama sekali tidak berkedip menatap Kyuhyun. “Lalu apa jawabanmu?”

“Aku tidak mengatakan apapun. Ibumu langsung pergi. Siwon, aku…”

Ucapan Kyuhyun terhenti ketika Siwon mengambil satu langkah lebih dekat. Kemudian Siwon memeluknya. “Aku yang akan melindungimu. Dari Seon Hwan, ibuku atau siapapun yang berusaha untuk menyakitimu. Jadi, tetaplah disisiku.”

Kyuhyun berkedip beberapa-kali. “Siwon, aku…” Kyuhyun berusaha melepaskan pelukan tersebut tapi Siwon menahannya. Kedua tangannya masih mendekap tubuh Kyuhyun.

Kyuhyun menghembuskan nafas perlahan. Ia bisa merasakan wajah Siwon di bagian lehernya. Deru nafas yang terasa panas. Kemudian Kyuhyun berusaha mendorong tubuh Siwon dengan lebih lembut. “Jangan memelukku terlalu erat. Tubuhku masih terasa sakit,” gumam Kyuhyun hingga Siwon melepaskan pelukannya.

Akhirnya, Kyuhyun bisa menatap wajah Siwon dengan lebih jelas. Namun, ia terkejut dengan ekspresi Siwon. Pria itu kini terlihat begitu sedih dan seolah sedang menahan kesakitannya seorang diri. Bahkan dari sudut matanya, jatuh air mata. Kyuhyun membuka mulutnya dan hendak bertanya. Tapi Kyuhyun tidak mengatakan apapun. Tangan Kyuhyun terangkat. Menyentuh pipi Siwon dan menghapus air mata yang jatuh.

Siwon meraih tangan Kyuhyun dan mencium telapak tangannya.

“Kenapa kau menangis?” tanya Kyuhyun berbisik.

Siwon tersenyum dibalik tangan Kyuhyun. “Entahlah. Aku bahkan tidak sadar kalau aku menangis.”

Ini adalah pertama-kali Kyuhyun melihat semua emosi Siwon dengan begitu mudah. Siwon bukanlah tipe orang yang mudah memperlihatkan apa yang sedang dirasakannya dihadapan orang lain. Bahkan selama ini, Kyuhyun hanya melihat sosok Siwon yang dingin, begitu tegas dan terlihat sangat kuat. Namun sejak kemarin, Kyuhyun hanya melihat seorang Choi Siwon yang lembut, penuh perhatian dan sensitif. Mungkin karena kejadian Kyuhyun hampir mati –untuk kedua kalinya– yang membuat Siwon menjadi seperti itu.

Kyuhyun menghela nafas. “Aku tidak terbiasa melihat sikapmu ini.”

“Aku juga tidak terbiasa mendapatkan perhatianmu seperti ini.”

Wajah Kyuhyun sontak terasa jauh lebih hangat. Ketika ia hendak menarik tangannya dari wajah Siwon, pria itu malah menariknya menjadi lebih dekat hingga bisa merasakan nafas. Siwon mengangkat tangan kirinya dan menyentuh pipi Kyuhyun.

“Jangan pergi. Aku yang melindungimu. Okay?” gumam Siwon.

Kyuhyun memperhatikan wajah Siwon yang begitu dekat. Dan seolah terpengaruh oleh tatapan mata coklat Siwon yang memberikan sensasi menenangkan, Kyuhyun mengangguk. “Okay…”

Siwon tersenyum. Air mata itu hilang dalam waktu singkat. Digantikan oleh sebuah ciuman manis Siwon pada bibir lembut Kyuhyun.

Siwon menciumnya di sebuah kamar rawat dengan dua polisi berjaga di depan pintu dimana orang lain –dokter, suster atau bahkan keluarga Kyuhyun– bisa masuk dengan mudah tanpa harus mengetuk terlebih dahulu. Seharusnya Kyuhyun menghentikan ciuman itu. Namun, ia sangat tidak berdaya saat ini.

Sentuhan bibir Siwon begitu memabukkan hingga Kyuhyun mulai lupa diri. Dari wajah Siwon, kedua tangan Kyuhyun kini memeluk leher pria itu. Mata Kyuhyun mulai terpejam dan bibirnya mulai membalas setiap sentuhan lembut Siwon.

Siwon tersenyum ketika ia mendapatkan reaksi itu dari Kyuhyun. Dengan sedikit merubah posisi wajah mereka, Siwon kembali mencium bibir Kyuhyun dengan lebih sensual. Siwon tidak pernah mencium orang lain –selain Kyuhyun– sebelumnya, tapi ia mengikuti instingnya dengan mudah. Saat Kyuhyun mendesah pelan, Siwon tahu kalau dia melakukan hal yang benar.

Entah berapa lama mereka berciuman, hingga Kyuhyun yang mulai kehabisan nafas mengakhiri ciuman tersebut. Nafasnya memburu dengan wajah dan bibir yang terlihat memerah. Mata Kyuhyun masih terpejam. Siwon menyentuh kening Kyuhyun dengan keningnya dan merasakan setiap helaan nafas Kyuhyun di wajahnya.

Siwon tersenyum saat Kyuhyun membuka matanya kembali. Ia memberikan sebuah kecupan diujung bibir Kyuhyun sebelum mengatakan, “Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun.”

*****

Joonmyeon mengernyit saat Sara mengatakan kalau Yifan tidak mengatakan kalau dia akan datang ke rumah sakit. Selain itu, Junhyeok juga tidak pernah menghubungi Yifan karena disibukkan dengan beberapa dokumen penting. Joonmyeon tidak mengerti. Kenapa Yifan harus berbohong hanya karena dia datang menemuinya? Selain itu, mengenai ijin keluar kamar siang ini, ada kemungkinan Yifan juga berbohong.

Sara memperhatikan Joonmyeon. “Kenapa kau bertanya mengenai Yifan, Joon?”

“Ah?” Joonmyeon menggeleng cepat. “Bukan apa-apa. Aku mungkin hanya bermimpi dia datang menemuiku siang ini,” tukasnya sembari menyeringai. Well, jika Yifan berbohong, maka Joonmyeon tidak akan mengatakan apapun.

Sara tersenyum tipis. “Apa kau merasa kesepian? Maaf ya, Mom agak sedikit sibuk hari ini. Kyungsoo dan Baekhyun tidak menghubungimu?”

“Kurasa mereka juga sibuk. Lagipula mereka tidak bisa lebih sering datang ke rumah sakit,” tutur Joonmyeon.

Sara menyentuh kepala Joonmyeon dan mengusap rambutnya dengan lembut. “Bersabarlah. Appa sedang mencoba menyakinkan pamanmu agar kau bisa keluar rumah sakit lebih cepat. Lagipula setelah Yifan kembali ke dorm, rumah menjadi sangat sepi. Terkadang Appamu hanya lebih banyak diam jika di rumah.”

Joonmyeon mengangguk. “Aku minta maaf. Seharusnya aku mengatakan kalau aku merasa sakit dibandingkan menyembunyikannya. Pada akhirnya, aku malah menyusahkan Mom dan Appa.”

“Itu bukan salahmu, sayang. Tapi lain kali, kau harus bercerita pada Mom. Dulu, karena hanya dan kau dan Appa, mungkin kau merasa terbebani jika harus bercerita mengenai masalah yang kau alami. Tapi sekarang sudah ada Mom dan Yifan. Kau bisa bercerita pada kami mengenai apapun. Kami adalah keluargamu, Joon.” Sara kemudian menggenggam erat tangan Joonmyeon.

Genggaman tangan Sara memang berbeda dengan genggaman tangan mendiang ibunya. Namun, rasa hangat itu sama. Rasa hangat dan kasih sayang seorang ibu.

“Eomma…” gumam Joonmyeon.

Sara sedikit mengernyit mendengar ucapan Joonmyeon. Tapi kemudian Sara kembali tersenyum lebih lebar. “Apa kau merindukan Eomma-mu?”

“Aku memang merindukan Eomma. Tapi bukan itu maksudku. Eomma…”

Sara terdiam sejenak. Joonmyeon telah memanggil Sara dengan sebutan ‘Eomma’. Dibandingkan dengan sebutan ‘Mom’ yang terucap begitu saja karena Yifan memanggil Sara dengan sebutan tersebut, saat Joonmyeon memanggilnya dengan sebutan ‘Eomma’, Sara merasa bahwa dirinya telah diterima secara penuh oleh Joonmyeon, putranya. Kemudian Sara tersenyum.

“Putra Eomma…”

Joonmyeon ikut tersenyum dan memeluk Sara dengan erat. Joonmyeon menenggelamkan wajahnya di bahu Sara. Ini bukan pertama Joonmyeon memeluk Sara, namun pelukan ini terasa sangat berbeda. Joonmyeon menghembuskan nafas perlahan. Ia bisa merasakan tangan Sara yang mengusap kepalanya dengan hati-hati.

Junhyeok baru kembali setelah bicara dengan Saejoon mengenai kepulangan Joonmyeon. Walaupun sangat sulit meyakinkan Saejoon kalau Joonmyeon akan baik-baik saja di rumah, Junhyeok bisa mendapatkan persetujuannya. Hanya saja dengan satu syarat kalau Saejoon akan lebih sering datang untuk memeriksa kondisi keponakannya. Well, Junhyeok tidak akan keberatan. Toh, untuk saat ini Joonmyeon masih harus mendapatkan pengawasan yang ketat.

Saat Junhyeok membuka pintu, ia melihat Joonmyeon sedang memeluk Sara dengan erat. Tanpa sadar, Junhyeok tersenyum. Ia benar-benar bersyukur karena Joonmyeon bisa menerima pernikahannya dengan Sara dengan baik. Bahkan Yifan pun menunjukkan hal yang sama. Walaupun sebenarnya Junhyeok masih mempunyai kecemasan atas sikap Yifan selama ini. Putra Sara –salah, Yifan juga putranya sekarang– tidak banyak bicara hingga Junhyeok tidak bisa menebak bagaimana perasaan Yifan yang sebenarnya.

Tapi Junhyeok yakin bahwa Yifan akan lebih terbuka padanya. Cepat atau lambat.

Junhyeok berjalan masuk dan menutup pintu. Joonmyeon sontak melepaskan pelukannya dan tersenyum ketika Junhyeok berjalan mendekati tempat tidurnya. Junhyeok tersenyum pada Joonmyeon dan menyentuh puncak kepala Joonmyeon.

“Kenapa? Apa kata Saejoon-sshi?” tanya Sara.

Junhyeok sedikit tertawa melihat ekspresi putranya yang terlihat penuh harap atas jawaban yang akan diberikannya. Junhyeok menepuk lembut pipi Joonmyeon. “Apa kau benar-benar ingin pulang, Joon?”

Joonmyeon mengangguk antusias. “Tentu saja! Siapa yang tidak ingin pulang kalau setiap hari aku terjebak di kamar ini dan tidak boleh keluar bahkan hanya untuk pergi ke taman. Jadi, apa kata Paman?”

“Pamanmu tentu saja menolak. Dia bilang kondisimu masih belum stabil. Masih ada beberapa pemeriksaan yang harus kau jalani,” tutur Junhyeok.

Sontak bahu Joonmyeon menjadi turun dan wajahnya menjadi muram. Sara hanya bisa tersenyum prihatin. Ia meraih tangan Joonmyeon dan menepuknya lembut. Junhyeok memperhatikan ekspresi putranya lalu menghela nafas.

“Pemeriksaannya akan dijadwalkan dalam dua hari. Setelah hasilnya keluar dan cukup memuaskan, Pamanmu akan memperbolehkanmu pulang dengan sedikit catatan,” lanjutnya.

Joonmyeon mengangkat kepalanya dan mulai tersenyum. “Jadi, setelah pemeriksaan itu, aku boleh pulang?”

“Hanya jika hasilnya memuaskan pamanmu, Joon. Selain itu, setelah kau pulang, pamanmu akan lebih sering datang untuk memeriksa kondisimu,” ujar Junhyeok.

“Aku tidak peduli jika Paman mau datang setiap hari. Yang penting, aku bisa pulang!!” seru Joonmyeon.

Sara tertawa kecil melihat reaksi Joonmyeon. Well, Joonmyeon memang sudah sangat bosan di rumah sakit. Terlebih, Joonmyeon lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri di kamar rawat ini. Junhyeok juga tersenyum senang melihat putranya.

“Mom, aku mau makan! Aku harus makan yang banyak agar aku bisa keluar rumah sakit!!”

*****

NOTE: Saya cukup produktif di long weekend kali ini.. Hahahahaha

Well… saya akui cerita ini makin makjang alias mirip-mirip alur drama korea sana yang tentang gadis miskin sama pria kaya yang jatuh cinta tapi orangtua melarang dengan segala macam intrik masalah… /hahh

Advertisements

34 thoughts on “[SF] Scarface Part 38

  1. Haaa akhirnya update juga,romantisnya wonkyu,suka liat interaksi mereka,serasa nyata,semoga sja wonkyu memang memiliki hubungan nyata,sya pikir part ini khusus wonkyu,kalau bisa bikin adegan wonkyu yg lebih intim dong biar lebih semangat lagi..hehehe..ok thor,semangat,kalau bisa updatenya seminggu sekali donk

  2. part wonkyu selalu d tggu,chap ini ada wonkyu romatis,seneng banget….
    gpp makjang yg penting lanjut terus ya..

    fighting….

  3. sebenarnya saya nemu ff ini udah lama dan selalu ikutin ceritanya,tapi belum pernah komen sekali pun *jahat ya..maaf baru komen sekarang ! ffnya selalu bikin penasaran.yg buat penasaran banget itu apa suho dan kris akan tetep jadi sodara atau bisa kaya wonkyu?moment wonkyunya sweet..semoga ibu siwon bisa cepet nerima wonkyu meski agak susah.

  4. Ah~ sekalinya ada momen WonKyu, romantisnya luar biasa. Iri~ hehehe
    Choi Yoojin hebat sekali. Dia tau dari mana mengenai Kyuhyun hm? Seneng lihat Kyu sekarang mulai terbuka sama Siwon :’)
    Masih menunggu Kyu berterus terang ke orangtuanya mengenai seksualitasnya ^^

    Wow! Kalau WonKyu romantis, ini pasangan dokter malah hot! Hahaha
    Mereka nyaris hilang kendali. Tapi meskipun ada adegan hot di antara mereka, kenapa aku malah dapat feel sedih ya? :’)

    Beruntung Joon gak langsung bilang kalo Yifan berkunjung :’D
    Selamatlah hidup Yifan! ^^
    Dengan Joon benar-benar menerima Sara, itu berarti Yifan harus merelakan perasaannya dong? Yifan gege~ 😥
    Ditunggu kelanjutannya deh ya kak :’)

  5. Wahhhh…kenapa wonkyu makin so sweet sih….hati ini tak kuat…jahaaha..
    Tapi sebenarnya ini yg ditunggu, benar2 sweet overload..haha
    Gpp kak,,cerita nya panjang…kalo perlu nggk usah the end..cos ceritanya bgus banget..fighting kakak..B-) 😀

  6. omgg… omggggg siwonnnnn…. you make me crazy .. “aku akan melindungimu” yaaAmpunnn rasanya aku mau meleleh mendengar kata itu. . , siwonn yaampunn , sweet bangt sii , ampe meleleh aku , rasanya aku mau nangis bayangin wonkyu , kisah cinta siwon bener2 penuh rintangan , dan perjuangan siwon gak bisa dibilang remeh(?) , perjuangan bener2 hampir buat aku nangis
    aku baca pas pertama “please ada wonkyunya” ternyata syukur ada , doalnya chap kemarin sama sekali gak ada wonkyu , jadinya aku gak baca + gak koment
    dan syukur chap ini ada , dan chapter ini brner feelnya dapet ampe aku nangis
    semangat thor + wonkyu
    aku tunggu selanjutnya ,

  7. omgg… omggggg siwonnnnn…. you make me crazy .. “aku akan melindungimu” yaaAmpunnn rasanya aku mau meleleh mendengar kata itu. rasanya aku mau nangis bayangin wonkyu , kisah cinta siwon bener2 penuh rintangan , dan perjuangan siwon gak bisa dibilang remeh(?) , perjuangan bener2 hampir buat aku nangis
    aku baca pas pertama “please ada wonkyunya” ternyata syukur ada , doalnya chap kemarin sama sekali gak ada wonkyu , jadinya aku gak baca + gak koment
    dan syukur chap ini ada , dan chapter ini brner feelnya dapet ampe aku nangis
    semangat thor + wonkyu
    aku tunggu selanjutnya ,

  8. Bikin cenat cenut deh, baca interaksi Wonkyu.
    Romantis abizzzzzz…….
    Siwon takut banget kehilangan Kyu, Begitupun Kyu.
    Moga mereka bisa bahagia…..

  9. Semakin hari hubungan krisho gak ada perkembangan, suho terlalu menjaga jarak sama yifan huhuhu
    hubungan wonkyu kpn diketahui ortu kyu? makin seru ceritanya, next update min ^^

  10. Knp gak ada perkembangan di hubungannya krisho? suho terlalu membatasinya sih huhuhu
    wonkyu makin sweet, tapi ortu kyu blm tau hubungan mereka…
    next update min ^^

  11. Yeah..dan semua memang harus ada perkembangan yang akan mmbuat apa yang mereka jalani makin kuat dan penuh keyakinan.Semoga apapun yang harus ke tiga pasangan kita ini jalani.Moga aja akan semakin baik .Berjalan lancar.Dan dapat dihadapi dengan bijaksana.
    Fighting!!!

    Jeongmal gumawo eonni..
    Fighting!!!

  12. aku suka interaksi antara Siwon& Kyuhyun,, agak sakit sebenarnya pas baca part dimana ibu nya Siwon datang dan minta Kyu untuk pergi dan ga nghubungin Siwon lagi.
    Aku pikir reaksi Kyu bakalan sama seperti pas ketemu Ibu nya direstoran, thanks God walaupun bimbang tapi Kyu bisa dengan berani kasih tau Siwon perihal kedatangan ibu nya dirumah sakit.
    Terharu juga pas Siwon minta supaya Kyu gak pergi kemana-mana dan akan melindungi Kyu dari mereka.
    OKe aku tunggu next chapter nya chingu ^^

  13. haha gapapa Ra mirip sma crita2 drakor jg,yg pnting mah bkn sinet *eh
    tpi beda nya ‘drama’ punya kamu couple nya trlalu bnyak,jdi aku cma fokus ke WonKyu aja XD
    pas awal2 emg trtarik bgt pgn baca KrisHo sma JiNeul,tpi makin kesini kok jdi ga mood ya baca nya? huhu mianhae diera-ya T.T
    aww ~ Siwon always sweet aaahh..smoga aja Kyu ga trgiur sma tawaran Ny.Choi yaa buat ninggalin Siwon :3
    apa lg skrg Kyu udh mulai mencintai Siwon cieee
    okelah ~ smoga hubungan WonKyu tetap langgeng ya,skalipun itu cma ada 1 yg pengganggu WonKyu *plakk
    tetap semangat buat next ff nya ^^

  14. Huaaa karakter siwon semakin kemarin makin aku suka… gak nyangka siwon segitu cintanya sama Kyuhyun… manisnya pas mereka berdua… dan perkembangan hubungan keduanya juga biarpun agak lama tapi berasa banget tiap partnya…. aku jadi kangen mereka….n

  15. apakah ibu siwon kenal seo hwan???
    bukan dia kan yang mengatur segalanya hanya untuk melepaskan siwon dn kyu??
    wah kalo bener parah tuh…
    suka sama momen sweet nya wonkyu mana kangen pula sama mereka jadinya aaahhh suka pokoknya..
    apalagi pas kyu dalam hatinya mengatakan kalo dia gak bisa jauh dari siwon itu lah yang diharapkan, jangan lepaskan siwon seperti siwon yang gak akan pernah lepasin kyu walau banyak rintangannya

  16. uuuuh mamahnya siwon serem bngt di sini,bnrn deh,sekaligus nyebelin bngt sumpah,tp aku suka waktu wonkyu ciuman,hihi,sekedar menebak,pasti kedepannya bakalan makin rumit nih hubungan wonkyunya,bisa2 di beberapa part kedepan wonkyu di pisahin sama yoojin,aduuuh semoga cinta mereka ga mudah di pisahin gt aja ya

  17. Diera eonni update banyak sekali ff jadi bersemangat aku bacanya…
    Part wonkyu selalu di tunggu… manis banget kali ini. Q pikir kyu gak akan bilang soal ibunya siwon yang dtng berkunjung. Ternyata malah bilang…. aduhhh siwon yang mau nglindungi kyu… romantis bangetttt

    Untuk haneul changwook semakin hoot ajah pasangan satu ini…

    Untuk yifan dan joonmyeon…. semangat yahhh semoga kisah kalian akan.indah pada waktunya.

    Diera eonni makasi bangettt yahhh

  18. Cieeee….ada yang gak bisa lepas dari siwon nih sekarang 😳
    Jangan pernah ragu sama perasaanmu saat ini karna siwon gak pernah ragu sedikitpun, so semangat buat wonkyu…asal berdua pasti bisa melewati apapun rintangannya…
    ChangHan makin “ehem” aja nih hehe…
    YifanJoon gak ada kemajuan 😓
    Changmin malah gak ada kesempatan buat kehidupan pribadinya#kasihan

  19. Aku suka banget klo udah part wonkyu dan haneul..hehe..

    Mereka berdua lagi di mabuk asmara…
    Ternyata haneul juga bisa bertindak seperti itu juga kpda changwook…
    Dan wonkyu nya juga romantis sekali…

  20. waahhh…..da wonkyunya.. suka suka..
    aq sdikit curiga dari mna coba ibunya siwon tau apa yg di alami kyu,,,,jangan”??! ah….entahlah,, yg penting wonkyu ttap brsama mski sulit skali.
    wonpa aq suka gyamu…lindungi kyu ya…walau ppun yg trjadi.
    changhan panas panas,,,,bwt krisho???…entahlah.

  21. ibu siwon keliatannya tidak main” dengan ucapanya.
    semoga kyu dan siwon bisa saling melindungi apapun yg akan terjadi.

    oya makasih sudah update begitu banyak ff.ditunggu lanjutannya ya…

  22. kenapa siwon sama kyu harus byk bgt rintangannya utk bersama tp saya yakin klu wonkyu terus bersama pasti bisa menghadapi rintangan itu dan changhan udh lebih terbuka nih sama perasaan masing” semoga mereka terus bersama sama dgn wonkyu
    eonni makasihnya udh buat ff yg bagus bgt apalagi wonkyu semangat terus deh buat eonni

  23. Dari tiga kapel di atas, yang paling nunjukkin kemajuan paling drastis si pasangan dokter wkwkwk anjir jadi pada ngaceng(?), krisho jalan di tempat, kalo wonkyu? Gue berharap kyu nerima tawaran nya emak choi wkwkwkwk *dijotos wks* biarin berasa hurt gitu, biarin gue ngerasain keluar nya air mata– hiks hiks gue pan maso #PLAKK

  24. choi yoojin mnta bogem yah . Tuh org nyebelin bgt… Sumpah greget pas bca bgian changwook ama haneul tpi mlah d gntung ngga tau kelanjutannya… siwon so sweet sumvah. WONKYU MOMENT nya bkin melting.. KRISHO plis ksih titik terang hbungan mereka berdua

  25. Aku ska dgn kejujuran kyu ttg ldatangan ibunya siwon,,,shingga ga da kesalahfahaman…….ibu siwon mngerikan jg,,,,,dy mnta kyu mninggalkan kore,,knp dy ga mnta siwon saja yg mninggalkan korea!! Good job!

  26. Iiii sebel sama ibunya siwon 😒😒 untung kyu mau bilamg sama siwon apa yang dibilang sama ibunya. Semoga siwon bisa melindungi kyu~ amiin ;;;;
    Hubungannya krisho perlu dikasih lampu senter apa gimana nih biar terang sepercik? Hwhwhwh ga tega liat nya 😭😭

  27. Huwaa….untung saja jikang msh ingat batasannya 😀😀😀. Huhungan mrk sdh semakin dekat sprt tu lalu kapan mrk menjadikan hubungan mrk jd spsang kekasih??
    Sedikit lega krna kyuhyun tetap menepati janjinya dg mengatakan apa yg terjadi pdnya, dan dia mengatakan semua yg dibicarakan olehnya dan eomma siwon. Mrk semakin so sweet 😙😙😘😘
    Meskipun pasangan krisho mkin jauh utk bersama tp setidaknya hari ini mereka mempunyai kenangan bersama yg sedikit menyenangkan mskipun yifan telah membohongi suho…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s