[SF] Scarface Part 37 [3]

snow

[3]

Haneul memperhatikan Haesa yang memasuki salah satu kamar rawat VIP yang dijaga oleh dua pria yang mengenakan seragam polisi. Ia menghela nafas bersamaan pintu tertutup. Rasanya dia tidak ingin membiarkan saudarinya menemui Kyuhyun seorang diri setelah apa yang terjadi kemarin. Namun, karena Haneul tidak mengetahui dengan baik apa yang terjadi kemarin, mungkin lebih baik dia membiarkan Haesa sendiri yang menemui Kyuhyun.

Semalam, saat Haneul sampai di rumah, ia dikejutkan dengan keberadaan Haesa. Haneul pikir saudarinya pulang hanya sekedar untuk liburan beberapa-hari. Ia baru mengetahui kejadian mengenai penculikan itu serta keterlibatan Kyuhyun karena flash-drive yang diberikan oleh Haesa sebelumnya setelah mendengar cerita lengkap dari sang ayah.

Selain itu, saat di rumah sakit Haneul juga tidak mendengar berita apapun mengenai penculikan tersebut ataupun penyergapan oleh polisi. Ayahnya mengatakan kalau polisi sengaja menutupi kasus tersebut dari pers karena keterlibatan Kyuhyun dan kantor firma hukum Kang dalam kasus Seon Hwan sebelumnya. Posisi Kyuhyun yang sebelumnya menjadi pengacara Seon Hwan, itu hanya akan membuat keberadaan Kyuhyun dalam bahaya besar dan kantor firma hukum juga akan terkena imbasnya.

Haneul hanya berpikir mungkin itu memang yang terbaik.

Haneul hendak berjalan menuju lift, ketika Changwook memanggilnya. Kening Haneul mengernyit saat melihat Changwook menutup sebuah pintu kamar. Seingat Haneul, Changwook tidak mempunyai pasien dari lantai VIP. Tapi untuk apa dokter bedah itu berada di lantai VIP tersebut?

Changwook menghampiri Haneul dengan senyuman besar. “Kupikir kita akan bertemu di tempat yang sudah kutentukan kemarin? Kenapa kau di rumah sakit? Apa ada panggilan darurat?”

“Bukan. Aku datang untuk mengantarkan Haesa bertemu dengan Kyuhyun,” ucap Haneul. Namun, kemudian Haneul melirik kearah dua polisi yang masih berjaga didepan pintu kamar rawat Kyuhyun.

Changwook mengernyit. “Kyuhyun masuk rumah sakit? Sepertinya dia sering-kali sakit.”

“Oh. Uhm… Hyung, apa kau sudah selesai? Karena aku sudah disini maka…” Haneul berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia teringat dengan peringatan ayahnya untuk tidak mengatakan mengenai kejadian kemarin pada siapa pun. Situasinya masih cukup berbahaya bagi Kyuhyun. Terlebih tiga pelaku dari penculikan kemarin masih buron.

Changwook mengangguk kecil. “Aku baru saja bertemu dengan Joonmyeon. Kau ingat dengan Kim Joonmyeon, bukan? Sesekali aku menemuinya hanya untuk melihat perkembangan kondisinya. Walaupun aku bukan lagi dokternya.”

“Hyung, kita bicara di tempat lain saja, eoh. Kau harus mengganti pakaianmu, bukan? Aku akan menunggu di lobby, okay?”

“Oh, okay.”

Haneul tersenyum tipis lalu bergegas menuju lift. Sedangkan Changwook hanya terdiam melihat sikap aneh Haneul. Kemudian ia melirik kearah sebuah kamar rawat yang dijaga oleh dua orang polisi. Kemarin direktur rumah sakit memberikan pengumuman bahwa ada situasi darurat dan semua dokter dan suster diminta untuk tidak mengatakan apapun pada pihak luar, terutama pasien-pasien. Changwook berpikir situasi darurat itu ada kaitannya dengan kamar VIP tersebut. Terlebih dengan sikap Haneul, ia tidak bisa berhenti membuat asumsi kalau Haneul mengetahui mengenai situasi darurat tersebut.

Changwook menarik nafas panjang dan masih menatap kamar VIP yang mencurigakan tersebut. “Apa mungkin ada kaitannya dengan Cho Kyuhyun? Woah… pria itu benar-benar… Tsk, aku bahkan tidak tahu apa yang harus kukatakan mengenainya.”

Kemudian Changwook meninggalkan lantai VIP.

*****

Haneul tidak mengatakan sepatah kata apapun selama Changwook menyetir menuju apartment-nya. Sebelum mereka makan siang bersama, Changwook ingin pulang sebentar. Rasanya sangat tidak nyaman apalagi Changwook baru saja melakukan operasi besar lima jam sebelumnya. Selain itu, saat ini masih pukul sepuluh pagi, masih terlalu pagi untuk pergi makan siang.

Keduanya mengendarai mobil Changwook karena Haneul meninggalkan kunci mobil di meja informasi di lobby rumah sakit agar Haesa bisa pulang tanpa harus mencari taksi. Awalnya Changwook berpikir kalau mereka akan bisa bicara banyak sepanjang jalan, namun sepertinya pikiran Haneul sedang terfokus pada sesuatu. Pria itu hampir mengabaikan semua ucapan serta pertanyaan dari Changwook.

Changwook tidak merasa kesal, namun dia hanya berharap kalau Haneul bisa membicarakan masalahnya padanya dengan nyaman tanpa rasa terpaksa. Ia juga tidak ingin memaksa agar Haneul bicara padanya. Jadi, Changwook ikut terdiam sepanjang sisa perjalanan karena Haneul benar-benar mengabaikannya.

Changwook hendak memanjat keluar mobil setelah dia mematikan mesin mobil, tapi sepertinya Haneul tidak menyadari kalau mereka sudah sampai. Haneul terlalu sibuk memikirkan apapun yang sedang dipikirkannya saat ini. Changwook menghela nafas lalu melepaskan seat-belt Haneul hingga membuatnya terkejut.

“Kita sudah sampai, Han.”

Haneul memperhatikan sekelilingnya dengan terkejut. “Oh. Maaf, aku tidak menyadarinya.”

“Aku bisa melihatnya,” tukas Changwook dengan tersenyum tipis.

Kemudian keduanya memanjat keluar mobil. Changwook berjalan disisi Haneul. Sesekali Changwook memperhatikan Haneul yang sedang disibukkan oleh pikirannya sendiri. Haneul seperti berjalan dengan “auto-pilot”. Bahkan ketika Haneul hendak membentur pintu kaca basement, pria itu sama sekali tidak menyadarinya sampai Changwook harus menahan Haneul agar berhenti berjalan.

Haneul sedikit terkejut dan menoleh pada Changwook.

“Apapun yang sedang kau pikirkan saat ini, tolong dikesampingkan sejenak. Kau bisa mengalami kecelakaan jika kau tidak fokus,” ucap Changwook.

“Maaf…” gumam Haneul.

Changwook mendesah lalu menggenggam tangan Haneul. “Walaupun aku tidak ingin memaksamu bicara, tapi aku perlu mengetahui apa yang mengganggumu saat ini. Jangan berusaha untuk menutupinya dariku atau aku akan pergi ke rumahmu dan bertanya pada orangtuamu. Oh, mungkin aku juga akan memperkenalkan diri sebagai kekasihmu.”

Sontak mata Haneul membulat. Ia berusaha melepaskan tangan Changwook, namun pria itu menggenggamnya dengan erat. Haneul menatap Changwook dengan lekat.

“Hyung…”

Changwook menarik Haneul menuju lift. Ia menekan tombol lantai unit apartmentnya. “Keluargamu belum mengetahui tentang seksualitasmu? Itu mengejutkan.”

Haneul sedikit menundukkan kepalanya dan menghembuskan nafas. “Itu bukan sesuatu yang bisa kubicarakan dengan mudah dengan keluargaku. Tapi Haesa mungkin sudah bisa menebaknya, hanya saja dia memilih untuk diam sampai aku bicara dengannya.”

“Kenapa?”

Haneul kembali menatap Changwook dan berkedip beberapa-kali. “Eh?”

“Kenapa kau tidak bisa memberitahu keluargamu? Kau bahkan memberitahu semua teman-temanmu di Berlin, bukan? Rumah sakit, aku bisa mengerti. Tapi keluargamu sendiri? Sampai kapan kau akan menyembunyikannya? Aku tahu bagaimana rasanya menyembunyikan jati dirimu. Tapi begitu kau mengatakan kebenarannya, kau akan lebih mudah menjalani kehidupanmu,” tutur Changwook.

Haneul tidak mengatakan apapun. Dia hanya memperhatikan Changwook dengan lekat. Haneul bisa menebak kenapa Changwook bisa bicara seperti itu. Dulu mungkin Changwook menyembunyikan seksulitasnya dari semua orang, tapi pada satu kesempatan Changwook akhirnya membuka rahasianya termasuk pada keluarganya.

Haneul tidak pernah bertanya mengenai keluarga Changwook. Saat pertama-kali datang ke apartment pria itu, Haneul sama sekali tidak menemukan foto-foto keluarga Changwook. Bahkan, sepertinya Changwook sudah terbiasa tinggal seorang diri.

Pintu lift kemudian terbuka. Changwook kembali menarik Haneul keluar dari kotak lift dan berjalan menuju unit apartmentnya. Haneul memperhatikan Changwook yang memasukkan kode pintu dan mempersilakan Haneul masuk terlebih dahulu.

Haneul berjalan memasuki apartment ini untuk ke-tiga kalinya. Saat pertama-kali datang, Haneul tidak tahu kalau dia akan lebih sering datang ke apartment ini. Haneul berdiri di tengah ruangan. Ia memperhatikan sekeliling. Tidak ada perubahan yang mencolok. Tentu saja, dia baru datang tiga-kali dan Changwook juga tidak akan sering mengubah posisi furniture atau membeli yang baru.

Kau terlalu banyak berpikir, Kang Haneul.

Itu benar. Bahkan Haneul tidak menyadari kalau Changwook sudah merangkulnya dari belakang. Ia merasakan tangan Changwook berada dipinggangnya dan kepala Changwook bersandar pada bahunya.

“Aku terpikir untuk tetap berada di rumah saja dan tidak pergi kemana pun,” ucap Changwook dengan mata terpejam. Ia menarik nafas perlahan. Aroma tubuh Haneul memenuhi indera penciumannya.

Changwook menyukai perpaduan aroma mint dan vanilla dari tubuh Haneul.

“Makan siangnya?” tanya Haneul.

“Kita bisa memesan layanan antar. Atau aku bisa memasak, itu pun tergantung bahan makanan yang kupunya. Mungkin hanya ada ramyeon,” tutur Changwook.

Haneul menghela nafas. Kemudian ia melepaskan diri dari rangkulan Changwook dan berbalik untuk menatap pria itu dengan lebih jelas. Wajah Changwook terlihat jauh lebih lelah dibandingkan saat mereka bertemu di rumah sakit. Well, itu biasa terjadi. Setiap Haneul pulang, ia juga merasa jauh lebih lelah dan hanya ingin tidur.

Haneul menyentuh wajah Changwook. “Kau tidur berapa jam?”

“Entah. Pagi tadi aku ada operasi, semalam juga ada pasien darurat. Lima orang. Jadi, hanya dua jam secara akumulatif?” tukas Changwook sembari membuka matanya. Ia merasa nyaman dengan sentuhan tangan hangat Haneul di wajahnya.

Haneul menarik kembali tangannya. “Kau tidur saja. Biar aku yang mengurus makan siangnya.”

“Kau yang akan memasak?”

Haneul menggeleng. “Layanan pesan antar. Aku tidak bisa memasak, jadi aku tidak ingin mengambil resiko untuk membawa kita ke ER.”

Changwook tertawa kecil. Kemudian ia berjalan menuju kamarnya. Haneul hanya memperhatikan sampai Changwook berhenti diambang pintu. Haneul mengernyit saat Changwook menoleh.

“Kita masih harus bicara tentang apa yang sedang kaupikirkan sampai membuatmu hampir membentur pintu tadi. Jadi, bangunkan aku satu jam lagi,” tutur Changwook.

Haneul mengangguk kecil. Lalu Changwook kembali berjalan memasuki kamarnya.

*****

Haneul menerima dua kantung dari kurir pengantar makanan dan memberinya uang. Setelah mengucapkan terima-kasih, Haneul membawa makanan tersebut ke meja makan dan mulai mempersiapkan untuk makan siang. Saat ini sudah pukul duabelas lewat sepuluh menit dan Haneul membiarkan Changwook tertidur lebih dari satu jam. Well, dokter itu membutuhkan waktu yang lebih lama untuk istirahat.

Dua mangkuk jjampong dengan semangkuk pickled radish dan kimchi. Haneul tidak bisa memikirkan menu apa yang harus ia pesan. Jadi, dia memesan apa yang biasa dipesan oleh kebanyakan orang. Setelah menyiapkan dua pasang sumpit serta dua buah gelas yang berisi air, Haneul beranjak menuju kamar untuk membangunkan Changwook.

Haneul memperhatikan Changwook yang masih tertidur sembari memeluk bantalnya. Ia tersenyum tipis dan menyentu h kepala Changwook dengan lembut. “Hyung, sudah waktunya makan siang.”

Namun, Changwook masih tertidur. Haneul kembali berusaha untuk membangunkannya. Dengan perlahan, ia menyentuh bahu Changwook dan mengguncangkan tubuh pria itu. “Hyung…”

Changwook menggumam pelan. Dengan mata masih terpejam, tangan Changwook meraih tangan Haneul dan menggenggamnya erat. Haneul berkedip beberapa-kali dan berusaha menarik tangannya. Namun, Changwook tetap keras kepala.

“Hyung…”

Changwook membuka matanya dan tertawa kecil. Kemudian ia menarik tubuh Haneul hingga jatuh keatas tubuhnya sendiri. Mata Haneul membulat dan berusaha untuk bangun. Namun, Changwook memeluk tubuh Haneul.

“Kau membuatku tidur lebih dari satu jam,” ucap Changwook.

Haneul menghembuskan nafas. “Itu karena hyung terlihat lelah. Jadi, kubiarkan tidur lebih lama. Ayo bangun, nanti jjampong-nya dingin.”

Changwook mengernyit. “Kau memesan jjampong?”

“Kenapa? Kau tidak menyukainya? Kalau tidak suka, tidak usah makan.”

Changwook tersenyum tipis dan menyentil pelan kening Haneul. “Siapa yang bilang aku tidak menyukai jjampong. Aku hanya berpikir kalau kau akan memesan makanan lain.”

“Tidak terpikir menu lainnya. Sampai kapan kau memelukku begini?!”

Changwook yang masih memeluk Haneul sontak bangun. Ia memegangi tubuh Haneul agar pria itu tidak jatuh. Haneul memukul bahu Changwook dengan kesal. Changwook masih tersenyum dan mengecup ujung bibir Haneul dan membuat Haneul terdiam. Tangan Changwook menangkup wajah Haneul dan mencium bibir pria itu dengan sentuhan lembut.

Haneul membalas ciuman tersebut. Namun, hanya untuk beberapa detik.

“Jjampongnya akan dingin,” gumam Haneul lalu dengan cepat beranjak keluar kamar Changwook.

Changwook kembali tertawa kecil lalu mengikuti Haneul. Ia berjalan menuju meja makan dan duduk dihadapan Haneul yang sudah makan terlebih dahulu. Changwook memperhatikan mangkuk jjampong miliknya. Ia melirik Haneul yang hanya menunduk sembari terus melahap mie-nya.

Changwook mengambil sumpitnya dan mengaduk mie jjampong. “Kita akan bicara sekarang atau setelah makan siang?”

Sontak Haneul mengangkat kepalanya dan menatap Changwook. Sebenarnya Haneul tidak ingin membicarakannya saat ini, tapi Changwook akan terus bertanya padanya. Jadi, lebih cepat mereka membahasnya, maka lebih cepat Changwook tidak akan mengganggunya lagi. Haneul menaruh sumpitnya dan memandang Changwook dengan lekat.

“Apa yang ingin kau ketahui?”

Changwook membalas tatapan mata Haneul. “Kenapa Kyuhyun masuk rumah sakit lagi? Lalu apa kaitannya dengan Haesa? Apa mereka…”

“Haesa diculik dan Kyuhyun yang menyelamatkannya. Itu karena Kyuhyun mempunyai flash-drive bukti kasus Seon Hwan yang diberikan Haesa. Kyuhyun membuat kesepakatan agar mereka melepaskan Haesa sebelum ia datang membawa flash-drive itu pada mereka. Tapi akhirnya, Kyuhyun terluka. Itulah kenapa ada polisi di rumah sakit,” tutur Haneul.

Ia menarik nafas panjang dan menyandarkan punggung pada sandaran kursi. “Seharusnya aku tidak mengatakan ini pada siapapun. Pihak kejaksaan dan kepolisian sengaja merahasiakan masalah ini dari pers karena situasi kasus Seon Hwan yang semakin buruk. Appa juga memintaku untuk tetap diam. Jadi, jangan katakan masalah ini pada siapapun.”

“Jadi, ini yang kaupikirkan? Mengenai keselamatan Kyuhyun?”

“Bukan hanya Kyuhyun. Tapi mengenai adikku dan kantor firma hukum milik ayahku juga. Adikku terlibat dalam masalah ini karena dia menerima data-data yang dikumpulkan oleh rekan kerjanya yang terlibat masalah yang sama di Tokyo lalu memberikannya pada Kyuhyun karena saat itu Kyuhyun yang menangani kasus Seon Hwan dengan berharap kalau ia akan melepaskan kasus tersebut karena terlalu berbahaya. Mungkin jika Appaku tidak menerima kasus tersebut, semua ini tidak akan pernah terjadi.”

Changwook menghembuskan nafas perlahan. Penjelasan yang diberikan Haneul terdengar masuk akal baginya. Karena satu kasus, ada banyak orang yang terlibat dan terluka pada akhirnya. Changwook memang tidak mengetahui dengan pasti mengenai perkembangan kasus Seon Hwan, tapi melihat apa yang terjadi kemarin, Changwook bisa melihat bahwa kasus Seon Hwan adalah kasus yang cukup besar. Bahkan peristiwa mengenai penculikan itu sama sekali tidak ditayangkan di acara berita mana pun. Pihak Kejaksaan dan Kepolisian benar-benar menutup rapat kejadian kemarin.

Haneul menatap mangkuk jjampong-nya yang sudah dingin. “Ada lagi yang ingin kau tanyakan padaku, hyung?”

“Bukan ingin kutanyakan, melainkan apa yang ingin kukatakan padamu.”

Haneul kembali memandang pada Changwook. Sangat tidak sopan jika Haneul menghindari kontak mata dengan Changwook ketika ia sedang bicara. “Apa yang ingin kau katakan?” ucapnya pelan.

“Apapun masalah yang sedang kaualami, aku akan selalu ada untukmu, Han. Kau bisa datang padaku hanya untuk sekedar bicara. Aku tidak akan mengatakan apapun bahkan merahasiakannya untukmu. Bahkan jika kau ingin membicarakan mengenai Kyuhyun. Aku tidak akan keberatan,” tutur Changwook.

Haneul masih menatap Changwook yang menghela nafas berat dan mulai melahap mie jjampongnya. Changwook terlalu baik untuknya. Selama ini Haneul lebih sering memikirkan Kyuhyun walaupun dengan mulutnya sendiri Haneul mengatakan berusaha untuk menerima Changwook. Haneul bahkan tahu kalau itu sangat tidak adil bagi Changwook yang menawarkan untuk mendengarkan semua permasalahan Haneul, bahkan termasuk ketika Haneul ingin membicarakan tentang Kyuhyun.

Mungkin jika pada akhirnya seperti ini, Haneul tidak perlu memberikan kesempatan pada Changwook. Karena pada akhirnya, Haneul hanya akan melukai Changwook karena ia masih belum bisa melupakan Kyuhyun yang kini sudah bersama orang lain –bersama pria lain.

Sama seperti Haesa, Haneul juga sangat egois dan selalu memikirkan perasaannya sendiri dibandingkan memperhatikan perasaan orang lain yang berada disekitarnya.

Haneul menarik nafas perlahan dan berusaha untuk tersenyum. “Hyung, bukankah hari ini kau akan mengajakku pergi kencan? Setelah makan siang, bisa kita pergi ke tempat yang kau janjikan?”

Changwook mengangkat kepalanya dan menatap Haneul dengan ekspresi terkejut. “Y-ye?”

“Kurasa cuacanya tidak begitu buruk. Ayo, kita pergi.”

*****

Setelah makan siang, Changwook hanya membawa Haneul ke sebuah taman dekat gedung apartment-nya. Memang bukan tempat yang tepat untuk kencan karena hampir semua tertutupi oleh salju, bahkan mereka harus berjalan dengan sangat hati-hati agar tidak terjatuh. Selain itu, Changwook tidak ingin pergi jauh. Haneul sendiri tidak keberatan. Setelah pembicaraan mereka mengenai kejadian kemarin, Haneul bisa mengerti dengan perubahan sikap Changwook.

Haneul menatap punggung Changwook yang berjalan didepannya. Mereka tidak bicara sejak meninggalkan gedung apartment. Entah, apa yang sebenarnya dirasakan oleh Changwook setelah Haneul menceritakan kondisi Kyuhyun. Pria itu mungkin terlihat baik-baik saja bahkan masih bisa tersenyum pada Haneul, tapi siapa yang tahu apa yang dirasakan oleh hati Changwook.

Haneul masih memikirkan Kyuhyun. Itu adalah resiko yang harus ditanggung oleh Changwook. Haneul menyukai Kyuhyun selama bertahun-tahun, sedangkan mereka baru bertemu hitungan minggu. Bahkan perasaan Changwook pada Haneul pun masih sangat baru. Ketika Haneul memberinya kesempatan agar lebih dekat, Changwook tahu kalau Haneul masih sangat menyukai Kyuhyun.

Lagi, hubungan mereka belum dipastikan. Apakah mereka kekasih atau masih sekedar teman atau bahkan rekan kerja.

Tanpa sadar, Changwook berjalan lebih cepat dan meninggalkan Haneul beberapa langkah dibelakangnya. Oh, Changwook bahkan sepertinya lupa kalau dia sedang bersama Haneul saat ini.

Haneul yang melihat Changwook berjalan cepat, maka ia berusaha menyamai langkah kakinya. Namun karena jalan yang ditutupi salju, hal itu membuat Haneul terjatuh.

“Hyung…” seru Haneul sembari menahan rasa sakit pada bagian bokongnya. Well, cukup beruntung kepalanya tidak ikut terbentur.

Changwook sontak menoleh dan terkejut melihat Haneul dalam posisi duduk dan berusaha untuk berdiri sendiri. Dengan sigap, Changwook segera menghampiri Haneul dan mengulurkan tangan untuk membantu pria itu berdiri. Haneul menyambut uluran tangan Changwook dan berusaha untuk berdiri. Tapi karena permukaan jalan yang licin dan basah, keduanya hampir jatuh. Namun, Changwook segera memeluk Haneul untuk menjaga keseimbangan mereka.

Haneul menahan nafasnya ketika Changwook menarik tubuhnya kedalam dekapan pria tersebut. Kedua tangan besar Changwook menjaga tubuhnya dan secara insting Haneul memeluk pinggang Changwook. Kemudian, Haneul kembali bernafas dalam pelukan Changwook. Ia bisa merasakan sensasi hangat tubuh pria yang sedang memeluknya serta aroma maskulin dari parfume yang dipakai Changwook.

Changwook merasakan detak jantungnya yang begitu cepat. Ini bukan pertama-kali Changwook memeluk Haneul, tapi sensasi mendebarkan itu masih membuatnya terdiam. Changwook merasakan deru hembusan nafas Haneul di permukaan kulitnya. Perbedaan tinggi tubuh mereka tidak begitu jauh. Namun, setiap kali Changwook memeluk Haneul, ia merasa kalau tubuh Haneul begitu pas dalam dekapannya.

Changwook menarik nafas dan mengeratkan pelukannya pada Haneul.

“Hyung…”

“Tunggu sebentar. Biarkan aku memelukmu untuk satu menit. Hanya satu menit,” bisik Changwook.

Haneul terdiam. Changwook semakin mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya diantara surai rambut hitam Haneul. Changwook tersenyum dalam pelukan tersebut. Rasanya begitu hangat dan nyaman. Changwook tidak pernah menyangka kalau dia akhirnya menemukan seseorang yang begitu berharga dalam hidupnya. Sejak menyadari seksualitasnya, Changwook tidak pernah berharap kalau dia akan ada seseorang yang mau menghabiskan waktu bersamanya.

Bahkan setelah bertemu dengan Haneul, Changwook tidak berharap banyak. Kesempatan yang diberikan oleh Haneul pun, itu hanya untuk waktu singkat. Jika Changwook mengacaukan kesempatan itu, mungkin dia tidak akan pernah menemukan orang lain lagi. Changwook hanya menginginkan Haneul. Tapi jika Haneul tidak menginginkannya, maka ia hanya bisa melepaskan pria itu.

Entah tepat satu menit atau bahkan lebih, Changwook kemudian melepaskan pelukannya. Ia mengambil satu langkah mundur dan menarik kedua tangannya dari raihan Haneul. Changwook menatap Haneul dan tersenyum. “Terima kasih,” gumamnya.

Haneul masih tidak mengatakan apapun. Dia hanya memandang Changwook.

Entah apa yang dipikirkan oleh Haneul saat ini. Changwook pun tidak berani membuat asumsi sepihak. Itu hanya akan menyakiti dirinya sendiri. Changwook menarik nafas perlahan dan mengulurkan tangannya.

“Sebaiknya kita kembali. Aku akan mengantarkanmu pulang,” ucap Changwook.

Haneul melirik uluran tangan Changwook. Tangan besar yang memeluknya dengan hangat. Tapi kini dia merasa begitu kedinginan, padahal Changwook ada dihadapannya. Entah, tapi Haneul tidak menyukai sensasi dingin itu.

Haneul menghela nafas dan menyambut uluran tangan besar Changwook. Pria itu kemudian menautkan jemari mereka. Kini sensasi hangat itu hanya bertahan pada telapak tangannya, tubuhnya masih terasa begitu dingin.

Haneul tidak menyukainya.

Perlahan Changwook membawanya berjalan kearah gedung apartment. Changwook akan membawa Haneul pulang.

*****

Joonmyeon menghela nafas jengkel. Ia benar-benar sudah bosan berada di kamar rawatnya. Kondisinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, bahkan ia sudah bisa berjalan-jalan di kamar rawatnya. Tapi walaupun begitu pamannya masih belum memberikan ijin bagi Joonmyeon untuk bisa berjalan keluar kamar. Terlebih saat ini Joonmyeon sedang sendirian. Sara harus kembali ke rumah untuk mengurus sesuatu yang berkaitan dengan Yifan dan baru datang sebelum makan malam bersama ayahnya.

Joonmyeon ingin sekali Baekhyun atau Kyungsoo bisa datang ke rumah sakit untuk menemaninya selama beberapa jam, tapi kedua temannya itu masih harus mengurus pembatalan liburan mereka ke Bangkok. Karena hal itu juga, Joonmyeon tidak memaksa kedua untuk datang ke rumah sakit. Bagaimana pun juga liburan mereka batal karena Joonmyeon.

Memang bukan sepenuhnya kesalahan Joonmyeon. Tapi karena mereka mengatakan akan batal pergi jika Joonmyeon tidak ikut bersama mereka, itulah yang membuat Joonmyeon merasa bersalah. Selain itu, mereka berdua juga sudah cukup sering datang menemaninya di rumah sakit.

Joonmyeon menatap ke arah luar jendela besar kamar rawatnya. Cuacanya cerah dan Joonmyeon melihat ada banyak pasien yang berjalan-jalan di taman rumah sakit walaupun suhunya masih cukup rendah. Joonmyeon mengerucutkan bibirnya sembari menyandarkan kepalanya di jendela.

“Mungkin salahku juga karena tidak mengatakan mengenai rasa sakit itu lebih cepat. Jika aku mengatakannya lebih cepat, mungkin aku masih bisa pergi liburan ke Bangkok yang hangat dibandingkan terjebak di kamar yang menyebalkan ini,” gumam Joonmyeon.

Joonmyeon menarik nafas perlahan dan memejamkan matanya. “Masih ada dua minggu lagi sebelum aku bisa terlepas dari kamar ini. Tapi aku akan langsung terjebak dengan tutor yang disiapkan Kakek. Hahh… tidak bisakah mereka memberikanku waktu sejenak untuk bernafas. Aku ini baru menjalani operasi otak, bukan? Tapi kenapa mereka sepertinya menganggap bahwa aku hanya menjalani operasi usus buntu.”

“Sepertinya terlalu lama di rumah sakit membuatmu berubah menjadi penggerutu.”

Joonmyeon sontak membuka matanya dan menoleh kearah sumber suara. “Yi-yifan…”

Yifan masih berdiri diambang pintu kamar dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku jaket tebalnya. Yifan juga memakai syal merah yang sama dengan milik Joonmyeon. Kemudian ia berjalan masuk dan menutup pintu kamar.

“Tentu saja ini aku. Memangnya kau mengenal orang lain yang bernama Yifan selain diriku, eh?” tukas Yifan sembari berjalan mendekati Joonmyeon.

Dengan cepat, Joonmyeon menggeleng. “Ti-tidak. Tapi kenapa kau kesini? Apa kau mencari Mom? Mom pulang karena mengurus sesuatu untukmu. Kupikir kau tahu mengenai hal itu.”

“Aku tahu. Mom hanya sedang mengurus sesuatu dengan Nana –ah, maksudku nenekku. Appa menghubungiku dan mengatakan kau sendirian, makanya aku ke sini. Tapi saat aku datang, kau malah sibuk bicara sendiri,” tutur Yifan.

Joonmyeon memperhatikan Yifan dengan lekat. Ada yang berubah dengan Yifan. Cara Yifan bersikap dan bicara pada Joonmyeon sudah berubah. Yifan bicara dengan begitu tenang dan nyaman, seakan mereka sudah berteman sangat lama. Seakan Yifan tidak pernah mengatakan perasaannya pada Joonmyeon. Seakan mereka adalah saudara yang seharusnya.

Entah itu adalah perubahan yang baik atau tidak.

“Cepat pakai mantelmu,” ucap Yifan.

“Eh?”

Yifan mendesah lalu berjalan menuju lemari untuk mengambil mantel dan syal milik Joonmyeon. Kemudian ia menyodorkannya pada Joonmyeon dan memberi isyarat agar Joonmyeon memakainya. Joonmyeon menurut.

“Aku bertemu dengan pamanmu sebelum kesini. Aku meminta ijin agar bisa mengajakmu keluar selama satu jam.”

Joonmyeon mengernyit. “Paman memberikan ijin?” tanyanya sembari memakai syal untuk menutupi bagian lehernya.

“Dengan sedikit ancaman. Tapi itu berhasil. Terlebih kau sepertinya akan gila jika lebih lama dikurung di kamar ini,” tukas Yifan sembari merapatkan syal serta mantel Joonmyeon. Ia menghela nafas panjang dan tersenyum tipis. “Ayo, keluar. Kau butuh udara segar untuk membuat otakmu berfungsi dengan baik.”

*****

Yifan membawa Joonmyeon ke taman rumah sakit. Saat Joonmyeon melangkah keluar gedung rumah sakit dan merasakan hembusan angin yang terada dingin di wajahnya, Joonmyeon tersenyum lebar. Sepertinya dia sudah lama sekali tidak keluar dari ruangan kamar rawatnya. Joonmyeon berjalan lebih cepat menuju taman rumah sakit. Yifan berusaha menyamai langkah Joonmyeon yang kini hampir berlari.

“Joon, jangan berlari. Apa kau ingin kembali dikurung di dalam kamar?” seru Yifan.

Sontak Joonmyeon berhenti dan menoleh. Dia menatap Yifan yang berjalan menghampirinya dengan ekspresi cemberut. Yifan tertawa kecil melihat ekspresi tersebut. Kemudian ia menaikkan syal yang menutupi leher Joonmyeon hingga membuatnya menutupi sebagian wajah Joonmyeon yang mulai terlihat memerah karena udara dingin.

“Kau jadi jelek sekali jika cemberut seperti itu,” tukasnya.

Yifan lalu meraih tangan Joonmyeon dan mengajaknya kembali berjalan menuju salah satu bangku taman yang kosong. Saat ini taman rumah sakit lebih banyak dikunjungi oleh pasien anak-anak yang bermain salju. Tidak banyak pasien dewasa yang berjalan-jalan di cuaca dingin Seoul yang cukup cerah. Salju memang masih menutupi hampir keseluruhan taman, tapi sepertinya cuaca mulai menghangat.

Yifan berhenti di salah satu bangku taman yang kosong. Ia lalu membersihkan salju dari atas kursi. Setelah bersih dari salju, Yifan mempersilakan Joonmyeon untuk duduk. Awalnya memang terasa dingin karena bangku kayu yang membeku. Mungkin karena semalam turun salju dengan lebat. Namun, perlahan Joonmyeon mulai merasa nyaman.

“Terasa nyaman?” tanya Yifan.

Joonmyeon mengangguk sembari memasukkan kedua tangannya yang tidak memakai sarung tangan kedalam saku mantel tebalnya. Ia melirik tangan Yifan yang memerah setelah membersihkan salju. Joonmyeon kemudian menatap Yifan yang ikut duduk disampingnya.

“Tanganmu tidak apa-apa?” tanya Joonmyeon.

Yifan melirik kedua tangannya lalu memasukkan kedalam saku mantel. “Tidak apa-apa, jangan khawatir.”

“Tapi tanganmu itu…”

Yifan lalu menatap Joonmyeon dengan serius hingga membuatnya menjadi terdiam. Kemudian Yifan mengeluarkan tangan kanannya dan memperlihatkannya pada Joonmyeon. Kemudian Yifan tersenyum pada Joonmyeon. “Tanganku baik-baik saja. Lihat?”

Joonmyeon memperhatikan telapak tangan Yifan yang masih memerah. Dengan cepat, Yifan kembali memasukkan tangan kanannya kedalam saku mantel. Yifan lalu mengalihkan pandangannya kearah taman yang terlihat begitu putih karena salju.

Joonmyeon menghela nafas dan menundukkan kepalanya. Ia menendang salju dibawah kakinya. “Kau itu seorang pelukis. Kau harus menjaga tanganmu Yifan,” ucap Joonmyeon berbisik.

Yifan mendengar ucapan Joonmyeon dengan jelas. Ia kembali tersenyum menarik menarik nafas dalam untuk memenuhi paru-parunya dengan udara dingin. Kemudian menghembuskannya perlahan. “Jangan khawatir. Hanya karena salju, tidak akan melukai tanganku. Jangan terlalu memberikan perhatian yang berlebihan padaku, Joon. Kau tahu, itu hanya akan membuatku bertambah sulit untuk melupakan perasaan ini.”

Joonmyeon terdiam dan semakin menundukkan kepalanya. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya yang terasa hangat dibalik syal merahnya. Apa begitu besar perasaan Yifan, sampai perhatian kecil saja membuatnya berpikir seperti itu? pikir Joonmyeon.

Yifan menatap Joonmyeon lagi. Mungkin tidak seharusnya Yifan bicara seperti itu. Ia sudah mengatakan akan berusaha menghilangkan perasaan itu pada Joonmyeon, tapi Yifan juga tidak akan berdaya jika Joonmyeon terlalu perhatian padanya. Rasanya apapun yang dilakukannya membuat mereka berada di situasi yang canggung.

Seperti sekarang ini.

“Maaf, tidak seharusnya aku bicara begitu.”

Sontak Joonmyeon mengangkat kepalanya dan menatap Yifan dengan lekat. Yifan tersenyum tipis pada Joonmyeon.

“Jangan merasa bersalah. Ini adalah keputusanku, bukan? Kau tidak perlu melakukan apapun. Kau sudah menganggapku sebagai saudaramu sejak awal pernikahan orangtua kita, setidaknya kini aku yang harus berusaha lebih keras,” tutur Yifan.

Joonmyeon berkedip beberapa-kali. Ia membuka mulutnya dan hendak mengatakan sesuatu. Sampai akhirnya Joonmyeon sadar bahwa tidak ada yang bisa dikatakannya pada Yifan. Apapun yang akan dikatakannya, hanya akan membuat situasi Yifan menjadi lebih sulit dari sebelumnya. Setidaknya Joonmyeon harus berusaha membuat situasinya menjadi sedikit lebih mudah.

Joonmyeon kembali menutup mulutnya dan menatap salju dibawah kakinya. Yifan tertawa kecil. Kemudian ia sedikit bergeser kearah Joonmyeon, hingga posisi mereka sangat berdekatan agar jauh lebih hangat. Bahkan Yifan menumpukan kepalanya diatas kepala Joonmyeon karena tinggi mereka yang berbeda.

Joonmyeon merasa tidak begitu nyaman dengan posisi mereka saat ini, tapi hanya bisa tertawa. Yifan ikut tertawa.

“Kau perlu menemui dokter dan bertanya mengenai kondisi tubuhmu. Kau yakin tidak bisa tumbuh lebih tinggi dari ini?” tukas Yifan.

Joonmyeon mendengus jengkel tapi dia tidak bisa menghilangkan senyuman dari wajahnya.

*****

Setelah hampir satu jam, Yifan membawa Joonmyeon kembali ke kamar rawatnya. Paman Joonmyeon hanya memberikan waktu satu jam dan jika Yifan terlambat membawa Joonmyeon kembali, entah apa yang dilakukan oleh Paman Joonmyeon padanya. Bukan karena Yifan merasa takut pada dokter itu, tapi bagaimana Joonmyeon tidak diperbolehkan keluar kamar lagi hanya karena mereka terlambat beberapa menit.

Selain itu, Yifan juga melihat Joonmyeon mulai kedinginannya setelah hampir empatpuluh menit mereka hanya duduk di taman dan mengobrol tentang apa saja. Ini bisa menjadi salah satu cara agar mereka menjadi lebih dekat sebagai saudara. Well, itu adalah usaha keras bagi Yifan.

Yifan berusaha untuk tidak menyentuh Joonmyeon tanpa suatu alasan atau bahkan hanya sekedar menatap wajah Joonmyeon terlalu lama. Bahkan ketika mereka kembali ke kamar rawat Joonmyeon, Yifan berusaha untuk tetap menyimpan kedua tangannya di saku mantel. Walaupun dia sangat ingin menggenggam tangan Joonmyeon.

Joonmyeon seakan begitu suci bagi Yifan untuk disentuh atau bahkan sekedar ditatap.

Tapi setidaknya, dengan cara seperti itu Yifan berusaha menekan perasaannya. Walaupun sangat menyakitkan baginya, tapi Yifan tidak ingin membuat Joonmyeon merasa tersiksa dengan perasaannya. Terlebih, dengan Sara yang kini sudah mengetahui seksulitasnya, Yifan menjadi harus lebih ekstra berhati-hati bersikap pada Joonmyeon dihadapan ibunya sendiri.

Yifan tidak ingin mengundang kecurigaan bagi Sara.

Setelah Yifan menyimpan mantel serta syal milik Joonmyeon di dalam lemari, ia kembali menatap Joonmyeon yang sudah kembali ke ranjang. Yifan menarik nafas dan berjalan mendekat. “Kau ingin sesuatu yang hangat? Aku bisa memintanya ke suster atau membelikannya untukmu.”

Joonmeyon menarik selimut tebalnya. “Tidak perlu. Apa kau ingin kembali ke dorm?”

Yifan melirik jam dinding. Masih pukul setengah tiga. Mom dan Appa Joonmyeon baru datang sebelum jam makan malam, mungkin sekitar pukul lima atau enam. Kalau Yifan pergi sekarang, Joonmyeon akan sendirian lagi.

“Aku ingin tidur sebentar. Saat Mom dan Appa datang, aku baru pergi. Kau juga harus istirahat. Wajahmu masih terlihat pucat,” ucap Yifan yang kemudian berjalan menuju sofa yang berbentuk huruf L besar.

Joonmyeon memperhatikan Yifan yang melepaskan mantelnya dan hendak berbaring di sofa.

“Kau akan tidur di sofa?” tanya Joonmyeon.

Yifan menoleh. “Tentu saja. Suster tidak akan membawakan tempat tidur tambahan hanya karena aku ingin tidur selama satu jam. Istirahatlah Joonmyeon,” tuturnya sembari berbaring di sofa.

Joonmyeon memperhatikan Yifan yang menutupi wajahnya dengan syal yang masih melingkar dilehernya dan menggunakan lengan tangannya sebagai bantalan kepala. Joonmyeon menghela nafas kemudian ikut berbaring. Ia masih memperhatikan Yifan yang entah sudah tertidur atau belum.

Joonmyeon berusaha untuk tetap terjaga. Namun, suasana kamar yang begitu sunyi membuat Joonmyeon mulai mengantuk. Rasanya dia sama sekali tidak lelah. Di taman, Joonmyeon dan Yifan hanya mengobrol sembari memperhatikan pasien anak-anak bermain salju. Tapi kenapa sekarang dia malah merasa mengantuk.

Saat menguap, Joonmyeon menutup mulutnya dengan punggung tangan. Ia masih ingin memandang Yifan yang sepertinya sudah benar-benar tidur. Karena Yifan tidak banyak melakukan gerakan dan Joonmyeon yakin kalau Yifan tidak mungkin pingsan atau lebih parah, mati. Itu sangat tidak mungkin sekali.

Namun, akhirnya Joonmyeon tertidur.

*****

Yifan sama sekali tidak tidur. Bagaimana ia bisa tidur ketika berada satu ruangan dengan Joonmyeon? Itulah kenapa Yifan menutupi wajahnya menggunakan syal. Ia hanya berharap Joonmyeon menganggap kalau dirinya sedang tidur dan akhirnya ikut tertidur. Yifan menunggu sampai limabelas menit untuk sekedar memastikan.

Setelah merasa yakin, Yifan menyingkirkan syal dari wajahnya dan mendapati Joonmyeon sudah tertidur dengan lelap. Perlahan Yifan bangun dan melepaskan syal dari lehernya. Ia duduk bersandar dan menghembuskan nafas perlahan. Mungkin tidak seharusnya Yifan tetap di rumah sakit dan kembali ke dorm saja.

Lagipula ia juga telah berbohong pada Joonmyeon. Junhyeok sama sekali tidak menghubunginya. Yifan datang ke rumah sakit atas inisiatifnya sendiri. Selain itu, dia juga tidak mendapat ijin dari Paman Joonmyeon untuk membawa Joonmyeon keluar dari kamar rawatnya. Cukup beruntung Yifan sama sekali tidak ketahuan suster atau dokter lainnya.

Yifan tertawa kecil. Entah darimana datangnya keberanian itu membawa Joonmyeon keluar kamar rawat tanpa ijin dari dokter atau suster. Namun, ketika ia mendengar gerutuan Joonmyeon karena dia terlalu lama di kamar rawatnya, itu memunculkan ide gila tersebut.

Yifan menarik nafas dan mengambil mantel serta syal merah miliknya. Kemudian ia berjalan menuju ranjang dan memandangi wajah Joonmyeon yang tertidur lelap. Yifan duduk di tepi ranjang dan tangan kanannya menyentuh rambut coklat Joonmyeon yang terasa lembut.

“Maaf, tapi aku harap kau tidak mengatakan pada siapapun kalau aku mengajakmu keluar kamar. Aku mungkin benar-benar akan mati ditangan pamanmu,” tutur Yifan dengan suara pelan.

Joonmyeon sedikit menggeliat namun masih tertidur. Joonmyeon sepertinya terlihat begitu nyaman dengan sentuhan tangan Yifan. Walaupun Yifan menyukai untuk menyentuh Joonmyeon, tapi ia harus menarik tangannya kembali. Yifan harus segera kembali ke dorm sebelum Mom dan Appa Joonmyeon datang atau pamannya datang untuk memeriksa kondisi Joonmyeon.

Saat itu, Yifan berharap kalau Joonmyeon terlihat jauh lebih baik. Saat ini Joonmyeon masih terlihat pucat dan wajahnya juga terasa dingin. Yifan menarik selimut dan merapatkannya agar Joonmyeon merasa lebih hangat.

“Aku pergi, Joon.”

Yifan lalu berjalan keluar kamar rawat tersebut dan menutup pintu secara perlahan agar tidak mengganggu tidur Joonmyeon.

*****

NOTE: Walaupun sebenarnya part KrisHo dan JiKang pengen dipisah, tapi rasanya part 37 ini malah kebanyakan dan akan mengulur-ulur waktu. Jadi, saya gabung ajah. Gak papa kan?

Part berikutnya adalah 38. Hahh… Entah ini fanfic bakal sampe berapa part

Ohya, aku mulai nulis The Last King lagi. Hadeuh… itu fanfic udah berjalan sekitar empat atau lima tahun, tapi gak selesai-selesai. Gak tahu bakal dipublish apa engga. Selain itu, aku mulai ngebuat outline untuk fanfic berikutnya. Mudah-mudahan gak lama…

Sudah, cukup sekian. Terima kasih

Music: GFriend – Rough

Advertisements

19 thoughts on “[SF] Scarface Part 37 [3]

  1. Mekipun Part Kyu nya ga ada, tapi setidaknya nama Kyu disebut-sebut hehe….. (Denger nama Kyu disebut aja udah seneng, apalagi baca partnya)

    Manis banget perlakukan Yifan pada Joonmyeon, so sweet…..
    Karena mereka udah jadi saudara, mereka jadi sulit bersatu.
    Apa ga ada cara lain buat mereka bersatu??

    Ditunggu lanjutannya….

    Ditunggu banget lanjutan The Last King, hadeeuuuhhh kangen banget. Ditunggu bangeeeeettttttttt……

  2. Sepertinya Changwook mulai menyerah yah? 😥
    Lagian siapa yg tahan coba diabaikan terus? :’)
    Tapi juga gak mudah utk melupakan orang yg dicintai selama bertahun-tahun. Ah, mereka kurang beruntung. Siapa yg beruntung sih di ff ini? Kisah mereka rumit sendiri-sendiri -oo-

    Aku rindu Yifaaaaan. Ok, akhirnya Yifan gak bisa nahan hasrat utk bersama Joonmyeon. Wow! Skenario yg bagus, Yifan-ssi. Berdoalah Joon tidak kelepasan berbicara. Hahaha~

    Gak nyangka sudah sampai part 37 gini kak, wow! Ff yg panjang. Tapi aku tetap nunggu kelanjutannya kok ^^

  3. yeeayyyy couple yang dikangenin uodet juga hadeuhhhhh ,,,,,changwook jan menyerah dong tuk hatinya haneul aiiiihhhh
    suho spt bilng suatu huuuuaaaa krisho kapan bersatu kyk wonkyu huhuhuhuhu
    noona fighting 🙂

  4. seen like Changwook and Haneul having some problem…hope they will be OK later…. Yifan is so good to his brother…. And i hope part 38 will have wonkyu pair.Waiting for your next update and next update for The Last King

  5. Lumayan tuk obati rsa kngen yah wlaupun kyu gk da,,changwook spertinya hrus lbih sabar tuk mndapatkan hati haneul,,,
    Krisho sama” hrus menahan rsa sakit,,,

  6. Ni dua pasangan makin galau aja….
    Kenapa semua pasangan di ff ini bertepuk sebelah tangan?? Diera unnie sungguh tega…hahaha…

  7. Couple changwook dan haneul bikin, senyum² sendri.. Apa salah nya di coba di jalani dulu hubungan nya mereka berdua itu…
    Haneul gk perlu khawatir dgn keadaan kyu, karna kyu sdh ada yg mnjaga nya… 🙂

    Perlakuan yifan ke joong manis sekli

  8. Memang sulit yah move on sama orang yang udah kita cintai bertahun-tahun. Aku tau prasaan haneul. Tp kasian juga changwooknya… aduhhh pasangan ini kadang juga sweet banget heheh. Tp jangan menyerah yah chang…

    Joonmyeon n yifan akhir.e di pertemukan kembali. Kayaknya mreka memang sulit bersatu karena status saudara mereka.

    Wahhh eonni diera update lanjutan scarface seneng bangetttt… di tunggu yahhh the last kingnya… heheh dan outline ff barunya smeoga wonkyu tetap.jadi pemeran utama heheheh.. semangattt diera eonni…

  9. semakin seru nih ceritanya ..
    tapi kok g ada part wonkyu chingu hehehe
    pnsran bgt kira2 siwon gmn ya ngdapin kyu yang terluka gtu ..
    dtgu klnjtnya chingu ^^

  10. Semoga..Haneol bisa mmbuka hati’y penuh dengn Changwook yang terlihat begitu tulus dngn perasaannya itu.
    Suka momment’y Yifan sama Joon.Semoga Joon segera sembuh.
    Fighting!!!

    Jeongmal gumawo eonni..update ff’y ditungguin lho ya.Mohon ttp dilanjutkan.
    Fighting!!!

  11. Duh,changwook so sweet banget sama haneul yah, sayang haneulnya sndri msih bimbang ama prsaannya sndri. .
    Kalo diliat2 sih, haneul emang udh ada rasa sama changwook, tp msih blom bsa ngelupain kyu 100%
    semoga changwook msih bsa bertahan buat haneul. 😊😊
    Yg paling sulit bhngannya dsni keknya emang krisho, hbngan saudara bkin mreka susah buat bersatu. . 😢😢
    Pdhal kduanya udh ada rasa tp berusaha buat nekan perasaan masing2 krna ikatan persaudaraan. Haaah, smoga ada jalan kluar buat mreka berdua 😊😊😊

  12. kisah changwook sama dn wonkyu karna dulu siwon juga ngejar” kyu dan sekarang kyu mulai luluh mudah”ana aja changwook gak menyerah utk buat haneul suka bgt sama dia soalnya haneul udh suka tp karna suka kyu selama bertahun” jd susah utk di hilangkan
    krisho saya doakan semoga bahagia deh dgn kehidupan yg selanjutnya

  13. kris dgn sekolah lukis di luar negeri dan suho di korsel di bidang perusahaan pokoknya kris sama suho bahagia saya sudah senang bacanya

  14. Changwook semangat!!! Jangan nyerah dulu! Haneul pst bisa kok di luluhin :”) fightingg~~~
    Yifan ㅠㅠ makasih udah sayang banget sama joon huhu ampe rela mgeboong kayak gitu cuma buat ngabisin waktu sama joon :””””) jadi terharu :””””) smg krisho bisa bahagia juga nantinya walaupun perjalanan nya masih panjang

  15. Hubungan jikang semakin deket bahkan haneul pun sekarang kalau tak melihat changwook msh terasa ada yg kurang…
    Sbenernya kasian bgt lihat yifan, dia selalu berusaha yg terbaik utk joonmyeon mskipun dia hrus berusaha menekan perasaan cintanya thdp joonmyeon…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s