[MM] Super Human – 1st Story [15]

super human

Chapter Fifteen

Andrew menemukan Marc sedang terduduk diam di sofa saat dia kembali. Dia hanya pergi sekitar satu setengah jam setelah meyakinkan Steve kalau dia akan berusaha membujuk Anna untuk datang ke Lab. Tapi saat melihat ekspresi Marc, Andrew bisa mengetahui bahwa sesuatu telah terjadi selama ia pergi. Setelah menutup pintu dengan rapat, Andrew berjalan menghampiri Marc. Dia duduk disebelah sepupunya.

Andrew memperhatikan Marc dengan lekat. “Kenapa kau duduk di sofa? Ada apa dengan ekspresimu itu?” tanyanya.

Marc melirik Andrew dan kemudian menarik nafas. Marc agak menunduk lalu menggeleng. “Bagaimana kondisi Skyline? Aku tidak sempat bertanya mengenai hal itu tadi. Tidak ada hal buruk yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri, bukan?”

“Tenang saja. Aku sudah mengatur beberapa hal termasuk project nemesis-mu. Jangan khawatir. Akan kupastikan semua evaluasi berjalan lancar dan tepat waktu. Berikut juga dengan persiapan peluncuran project nemesis untuk bulan depan. Tapi kau yakin, tidak terjadi apa-apa selama aku pergi keluar?” kata Andrew yang masih memperhatikan setiap perubahan ekspresi saudaranya. Andrew bisa mengetahui kalau Marc kembali menyembunyikan sesuatu darinya. Andrew sudah cukup peka untuk melihat semua kebohongan Marc.

Kemudian Marc hanya mengangguk. Marc tahu kalau dia kembali berbohong pada Andrew dan saudaranya itu menyadarinya, tapi Marc, sekali lagi dengan sifat protektifnya pada Andrew ingin memastikan satu hal sebelum dia bicara pada sepupunya tersebut. Andrew mungkin akan mempermasalahkan sikapnya, tapi Marc tidak akan mengatakan apapun. Kamar rawat itu menjadi sunyi. Tidak ada satupun dari Andrew atau Marc yang bicara.

Marc menarik nafas perlahan lalu melirik Andrew. Walaupun ia ingin memastikannya terlebih dahulu, tapi Andrew pasti akan terus mendesaknya untuk bicara. Jadi, untuk kali ini Marc meyakinkan Andrew dulu. “Aku tahu kalau aku sedang berbohong padamu. Tapi untuk saat ini, jangan bertanya apapun padaku. Tidak seperti yang terjadi pada Anna atau Max, aku perlu memastikan ini sendiri sebelum mengatakannya padamu, Andrew. Kau akan menunggu sampai aku sendiri yang bicara padamu, tanpa kau harus mencari-tahu apa yang kusembunyikan darimu, bukan?”

Andrew belum mengatakan apapun. Dia masih menatap Marc dengan serius. Saudaranya telah mengakui kalau dia kembali berbohong dan menyuruhnya untuk menunggu. Walaupun dari sudut manapun, Andrew merasa kalau apa yang dilakukan Marc sama sekali tidak adil, tapi dia tidak bisa melakukan apapun. Terlebih Marc baru saja sadar, terlebih dia kembali mendapatkan kemampuan baru akibat tindakannya. Jadi, Andrew tidak akan memaksa sepupunya tersebut untuk bicara sekarang.

“Baik, aku akan menunggu. Tapi kau tahu, kita tidak mempunyai banyak waktu tersisa. Jadi, lakukan dalam waktu cepat,” kata Andrew.

Marc kembali mengangguk. Andrew kemudian bangun dan mengulurkan tangannya. Marc menatapmya dengan bingung. “Kita perlu bertemu dengan doktermu. Kita perlu memastikan doktermu tidak akan mengatakan “keajaiban” yang terjadi padamu kepada semua orang. Lepaskan IV-nya.”

Marc melepaskan jarum IV dari pergelangan tangannya dengan sedikit kasar hingga membuatnya berdarah. Namun, detik berikutnya, darah yang keluar perlahan masuk kembali kedalam kulitnya dan perlahan bekas dari jarum IV tersebut menghilang. Andrew tersenyum. “Kemampuan yang tidak buruk.”

“Sama sekali tidak buruk,” tukas Marc dengan sarkastik. Marc lalu berdiri dan berjalan keluar dari kamar rawatnya. Andrew masih tersenyum dan mengikuti saudaranya tersebut.

Diluar kamar, Marc melihat dua orang yang disebut Andrew akan menjaganya. Kedua orang pria yang berpakaian terlalu formal dengan wajah cukup seram dan bentuk tubuh atletis. Mereka adalah anggota team Security dari Choi Incoporate. Marc bisa melihatnya dari bagde yang dipakai dua pria tersebut. Team security Choi Incoporate terkenal dengan kemampuan bela diri yang luar biasa. Bahkan beberapa diantara anggota team pernah menjadi secret service kepresidenan atau bekerja di kedutaan besar.

Marc melirik Andrew yang menutup pintu. “Apa tidak berlebihan? Disini ada kamera pengawas, bukan?”

Andrew merangkul bahu Marc dan mulai berjalan. Dua pria itu juga mulai mengikuti Andrew dan Marc. “Kamera pengawas tidak cukup, Marc. Pria misterius itu berhasil memasuki Skyline tanpa ketahuan, bahkan dia juga berhasil masuk ke kamar rawatmu. Aku tidak bisa mengambil resiko besar lainnya sampai pria itu ditangkap.”

Marc mendesis lalu menepis tangan Andrew. Mereka berjalan menuju ruang dokter yang berada salah satu ujung koridor lantai tersebut. “Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, eoh? Pria itu… Apa yang akan kau lakukan jika berhasil menangkapnya? Melakukan eksperimen padanya? Atau menyerahkannya pada pihak kepolisian?”

“Aku tidak yakin, tapi Steve mengatakan sebuah rencana dan melibatkan Annabelle Kim. Aku hanya perlu membujuk gadis itu datang ke Lab dan melakukan beberapa hal,” kata Andrew.
Marc mengernyit. “Annabelle Kim? Kau masih berhubungan dengan gadis itu? Kupikir setelah pertemuan sebelumnya, saat kau pergi ke Incheon untuk Sully Choi, gadis itu tidak akan menemuimu lagi.”

Marc mengingat jelas saat pertemuan mereka di restaurant bersama David Kim. Anna dengan sangat jelas mengatakan kalau dia datang ke Seoul hanya untuk memberitahu mereka mengenai kilasan masa depannya mengenai kecelakaan dan pembunuh itu. Gadis itu juga menegaskan kalau dia tidak bisa membantu mereka lebih jauh. Tapi kini sepertinya gadis itu akan lebih banyak terlibat dalam masalah ini.

Andrew melirik Marc. Seperti ucapan Anna, Marc terlihat tidak menyukai gadis itu. Walaupun sebenarnya Andrew tidak tahu apa alasan dibalik Marc tidak menyukai Anna. “Hey, mau dengar sesuatu yang menarik?”

“Apa?”

“Sebelum atau mungkin bersamaan kau mengalami kecelakaan sinkhole itu, Anna datang padaku dan memberitahuku kalau ia mendapatkan kilasan mengenai kecelakaanmu. Selain itu juga, saat aku meminta Sully untuk menyentuhmu, itu sebenarnya saran dari Anna. Gadis itu hanya menyarankan setelah memikirkan beberapa kemungkinan yang terjadi sebagai efek samping yang akan terjadi padamu. Mengenai perubahan kondisi fisikmu dan juga mengenai kemampuanmu. Selain itu…” Andrew lalu mengeluarkan ponselnya. Kemudian dia menyodorkannya pada Marc.

Marc mengambil ponsel tersebut dan memeriksa ponsel Andrew. “Apa ini?”

Andrew tersenyum tipis. “Dia baru saja mengirimkannya saat aku hendak ke kamarmu. Aku membacanya saat di lift. Dia mencari tahu mengenai penyelidikan kecelakaan sinkhole tersebut. Walaupun tidak banyak yang berhasil ia dapatkan dari ayahnya, tapi dia mendapatkan informasi itu. Memang hanya salah satu kemungkinan penyebabnya, jadi belum bisa dipastikan lebih lanjut kecuali kita menangkap pria itu dan memastikan kemampuannya.”

Marc membaca dokumen yang dikirimkan oleh Anna. Isinya lebih banyak mengenai bagaimana dan apa yang menyebabkan sinkhole. Diakhir dokumen itu, Anna menuliskan asumsinya mengenai kecelakaan sinkhole yang terjadi di jalan tol kemarin. “Kemampuan terrakinesist?”

Andrew mengangguk lalu mengambil ponselnya. Ia menyimpannya kembali kedalam saku celana. “Hal itu masih perlu dipastikan lebih lanjut. Tapi kemungkinannya sebesar empatpuluhlima persen. Tapi intinya, gadis itu telah banyak membantu kita daripada yang dia pikirkan sebelum datang kesini. Oh, setidaknya kau perlu bersikap sedikit lebih baik pada Anna.”

Marc mendecih. “Annabelle Kim akan menjadi salah satu bahasan yang tidak akan kita bicarakan saat ini, Andrew Choi. Jadi, tutup mulutmu karena aku tidak mau mendengar apapun mengenai gadis itu.”

*****

Anna terbangun secara tiba-tiba dengan nafas memburu dan keringat yang mengalir di leher dan keningnya. Gadis itu seolah habis berlari marathon dan mengalami dehidrasi. Tenggorokannya terasa begitu sakit. Anna memperhatikan sekelilingnya. Dia masih berada di kamarnya yang gelap. Anna tertidur di depan meja komputer dan diantara beberapa kertas hasil pencariannya mengenai kecelakaan sinkhole. Anna memejamkan matanya dan mengatur nafas sejenak.

Dia mengalami mimpi buruk. Lagi.

Sudah tiga tahun, Anna tidak mengalami mimpi buruk apapun. Tapi mimpi buruknya kali ini jauh lebih buruk dari terakhir-kali dia mendapatkannya. Anna mengusap keringat dikeningnya dengan menggunakan punggung tangan. Ia menarik nafas lalu berusaha mengingat kembali mimpi tersebut. Terkadang, ketika Anna bermimpi buruk, itu termasuk bagian dari kilasan masa depan yang tidak bisa dilihatnya jika dia dalam keadaan sadar. Walaupun hanya sebagian kecil dari mimpi buruk itu adalah kilasan masa depan. Namun, Anna perlu mengingatnya kembali dengan jelas, hanya untuk memastikan bahwa mimpi buruk itu bukanlah kilasan masa depan.

Anna teringat bahwa dia berada di sebuah tempat dengan banyak sekali bangunan seperti pabrik besar. Pabrik tersebut terbakar cukup hebat hingga asap hitam membumbung tinggi menutupi langit. Anna menarik nafas kembali sebelum meneruskan kilas baliknya. Di pabrik tersebut, Anna melihat satu orang terluka cukup parah dan orang lainnya yang terbaring diatas tanah, tak berdaya. Anna ingat kalau dia berlari kearah orang yang terbaring tersebut dan mengenggam tangannya, tanpa menggunakan sarung tangannya. Kemudian Anna juga masih ingat orang itu berteriak seperti kesakitan tapi Anna tidak melepaskan genggaman tangannya.

Anna merinding karena ingatannya tersebut. Ia selalu bisa mengingat suara kesakitan setiap kali dia menyentuh orang lain untuk menyerap energi mereka. Dalam mimpi tersebut, Anna melakukannya lagi. Tapi dengan tujuan yang berbeda. Anna menarik nafas dan mengembangkan ingatannya. Dia perlu melihat keseluruhan mimpinya. Dia harus mencari petunjuk mengenai mimpi, kilasan masa depan tersebut. Anna tidak bisa mengingat dengan jelas wajah orang yang disentuhnya, tapi ia melihat hal lainnya.

Dalam mimpinya, Anna hanya bisa melihat pabrik tersebut dan sebuah mobil yang dikenalinya. Mobil tersebut adalah mobil Audi berwarna hitam yang mirip seperti mobil yang dimiliki oleh Andrew. Atau bahkan sebenarnya mobil itu adalah milik Andrew. Anna menarik nafas kembali dengan tenang. Dia memperkirakan bahwa itu adalah kilasan masa depan yang pernah dilihatnya sewaktu di Berlin. Kilasan masa depan mengenai kecelakaan suatu project milik Skyline. Jika Anna menggabungkan kedua kilasan masa depan itu, Anna akan mendapatkan sebuah suatu kronologis yang masih terpotong. Tapi itu pun sudah membuat Anna semakin ketakutan.

Terlebih dia juga melihat wajah satu orang yang terluka tersebut sekilas. Orang yang dulu pernah dikenalnya dengan baik selama dia di Berlin. Walaupun begitu sudah bertahun-tahun dia tidak pernah bertemu dengan orang itu. Memang tidak bisa dipastikan, tapi Anna mengenali orang yang terluka itu mirip sekali dengan Jake Mason.

*****

Andrew memasuki ruang pusat informasi dan melihat Dennis dengan sebuah peta besar kota Seoul yang diletakkan diatas meja besar yang berada di tengah ruangan tersebut, sedangkan Victoria sedang duduk dengan ekspresi serius didepan sebuah layar komputer. Andrew lalu menghampiri Dennis dan melihat beberapa kertas dan peta yang sudah ditandai dengan bermacam-macam warna spidol. Sepertinya sejak kemarin, Dennis dan Victoria terus melacak keberadaan si pembunuh. Bahkan Andrew menyadari kalau Dennis masih memakai pakaian yang sama seperti kemarin.

Victoria yang menyadari keberadaan Andrew. Ia memutar kursinya untuk bisa menatap Andrew dengan baik. “Kau tidak ke kantor?” tanyanya. Sekarang adalah hari Senin, tapi Andrew malah datang ke Lab.

Andrew menoleh. “Aku akan ke kantor. Tapi aku juga harus ke kawasan Shiwa untuk menggantikan Marc memeriksa project nemesis hari ini. Mungkin aku akan ke kantor sebelum makan siang setelah beberapa dokumen project nemesis yang harus kuurus. Sebenarnya dia yang memaksaku untuk pergi. Marc memintaku bertemu dengan Nathan Kim. Kurasa mengenai evaluasi akhir.”

Dennis menghela nafas dan memperhatikan Andrew. “Kau akan tetap bekerja? Disaat seperti ini?”

Kali ini Andrew menoleh pada Dennis. “Tentu saja. Walaupun saat ini situasinya cukup berbahaya, tapi aku harus tetap menjaga tanggung-jawabku. Skyline mungkin dalam kondisi stabil, tapi jika terjadi sesuatu yang buruk seperti kecelakaan Marc kemarin, setidaknya aku bisa melakukan sesuatu untuk menenangkan situasi. Kenapa? Apa kalian sudah mendapatkan informasi apapun mengenai si pembunuh?”

Dennis mengangguk dan memperlihatkan sebuah pena yang didapatkannya dari orang-orang yang mengawasi pembunuh itu kemarin. Dennis tersenyum dengan puas, seakan dia telah menyelesaikan sebuah puzzle besar yang rumit. Andrew mengernyit dan melirik Victoria yang ikut tersenyum. Andrew kembali menatap Dennis. “Milik pembunuh itu? Kau tahu dimana dia sekarang?” tanyanya.

“Dia masih berada di flat-nya. Tidak pernah keluar lagi sejak dia kembali dari membeli cup ramen dan kantor pos. Kami mendapatkan penanya di kantor pos Kurasa dia tidak sengaja meninggalkannya,” kata Dennis.

Andrew kembali mengernyit. “Dia tidak sengaja meninggalkannya pena itu? Kau yakin?” Andrew lalu menatap Victoria dengan sedikit cemas. “Kalian yakin, kalau dia tidak sengaja? Bagaimana kalau dia sengaja meninggalkan pena itu di kantor pos, lalu membiarkan Dennis melacaknya dengan menggunakan pena tersebut?”

“Apa maksudmu Andrew?” tanya Victoria yang berdiri dari kursi. Dia berdiri didekat Andrew.

Andrew menghela nafas panjang. “Dengar, pembunuh itu selama ini berhasil kabur selama beberapa bulan setelah melakukan beberapa-kali pembunuhan. Jika dia melakukan kesalahan kecil seperti meninggalkan pena itu, bukankah itu aneh sekali? Selama ini dia sudah sangat berhati-hati agar tidak dapat dilacak. Tapi kenapa sekarang dia malah bersikap ceroboh. Ini bukan tidak-kesengajaan. Dia memang sengaja menaruh pena itu, agar kita bisa mencarinya. Atau orang lain mencarinya.”

Dennis dan Victoria saling menatap. Mereka tidak mengerti bagaimana Andrew bisa mengatakan kemungkinan seperti itu. Awalnya Dennis pun berpikir demikian. Dia sedikit curiga, bagaimana bisa orang-orang suruhan Victoria mendapatkan pena pembunuh itu dengan mudah. Dan apa yang dikatakan oleh Andrew memang terdengar masuk akal. Dennis lalu melirik Victoria, dan kembali menatap Andrew dengan serius.

“Lalu apa yang akan kalian lakukan? Tugasku disini hanya untuk melacak pembunuh itu. Jika kalian ingin menangkap si pembunuh, buatlah rencana yang baik. Kita tidak ingin menimbulkan korban lainnya, bukan?” kata Dennis.

“Untuk satu itu, aku belum sama sekali memikirkannya. Kurasa, kau harus tetap melacak pembunuh tersebut. Memastikan kalau dia tidak hilang dari pengawasan kita. Setelahnya, akan kupikirkan cara terbaik untuk menangkap pembunuh tersebut,” kata Andrew pada Dennis. Kemudian ia menatap Victoria. “Pulanglah ke rumah, kau tidak perlu bekerja. Berikan alasan kalau kau sakit atau ada kerabatmu yang berkunjung. Dan pastikan Sully tetap aman. Kita tidak bisa lengah sekarang ini.”

Victoria mengangguk. Andrew tersenyum lalu ia kembali menatap Dennis. Andrew menepuk bahu pria yang lebih tua beberapa tahun darinya tersebut. Andrew menarik nafas panjang. “Tolong bantu kami sampai akhir, Dennis Park.”

*****

Anna menuruni tangga ketika Mary menghampirinya dengan membawa sebuah kartu ditangannya. Mary tersenyum pada Anna. Hal itu, membuat Anna membalas senyuman Mary. Walaupun mereka masih sangat canggung, tapi Anna tidak bisa mengabaikan Mary atau Nikky –atau bahkan David– selama dia tinggal bersama mereka.

“Selamat pagi,” sapa Anna.

Mary tersenyum semakin lebar. “Selamat pagi, Anna. Tidurmu nyenyak?” tanya Mary.

Anna hanya mengangguk dan memberikan sebuah senyuman kecil. Walaupun dia tidak sepenuhnya tidur dengan nyenyak. Setelah terbangun dari mimpi buruknya, Anna tidak bisa tidur lagi. Selain itu, dia kembali melihat Jake Mason. Jadi, sepanjang malam Anna berusaha mencari informasi mengenai pria tersebut. Anna hanya berharap bahwa apa yang dilihatnya bukanlah sesuatu yang buruk. Terutama mengenai Andrew. Tapi sayangnya, Anna tidak menemukan keberadaan pria itu dimana pun.

Teringat kembali mengenai mimpinya tersebut, Anna tahu kalau dia harus menghubungi Andrew. Setidaknya untuk memberikan peringatan pada pria itu sebelum terlambat, seperti apa yang terjadi pada Marc sebelumnya. Anna tidak ingin melihat ada orang lain yang terluka lagi. Anna kembali tersadar dari pikirannya sendiri ketika Mary menyodorkan sebuah kartu pos kearahnya. Anna menatap Mary lalu mengambilnya dengan sedikit hati-hati agar dia tidak menyentuh kulit Mary.

“Sepertinya kau mempunyai seorang teman di Seoul. Apa selama ini kalian saling berkirim kartu pos?” tanya Mary lagi. Anna mengernyit tidak mengerti namun tidak mengatakan apapun. “Segeralah sarapan. Kau bisa membalas kartu pos dari temanmu itu nanti.”

Kemudian Mary berjalan menaiki anak tangga. Sepertinya Mary akan pergi lagi untuk melakukan beberapa kegiatan sosial hari ini. Anna menghela nafas dan memperhatikan kartu pos ditangannya tersebut. Rasanya dia tidak mempunyai seorang kenalan di Seoul. Bahkan jika semua teman-temannya dulu masih mengingat Anna, mereka juga tidak akan mengirimkan kartu pos padanya.

Anna membalik kartu pos tersebut untuk membaca pesan yang tertulis sembari berjalan menuju meja makan. Namun, langkahnya terhenti ketika ia membaca nama pengirim kartu pos tersebut. Tangannya terlihat gemetaran dan tubuhnya terlihat berguncang. Wajah Anna memucat dan dia bahkan terlihat hampir tidak bernafas.

Lalu tiba-tiba saja Anna terjatuh. Tangannya menggenggam erat kartu pos tersebut. Wajahnya semakin pucat dan keringat mulai keluar dari pori-pori kulitnya. Anna berusaha untuk bernafas tapi rasanya ada sesuatu yang mencekik lehernya. Tubuhnya menjerit kesakitan tapi Anna tidak mengeluarkan suara teriakannya. Sensasi rasa sakit yang dirasakan oleh Anna saat ini adalah sensasi yang sama saat dia menyentuh Jake Mason untuk menyerap kemampuannya. Anna memejamkan matanya dan berusaha mengatur nafasnya. Anna harus mengontrol dirinya. Dia tidak bisa kalah lagi dengan ketakutannya setelah ia mengendalikannya.

“Dia tidak disini, Anna. Dia tidak mungkin ada disini. Tenanglah. Kau masih aman, Anna. Kau masih aman,” ucap Anna pada dirinya sendiri.

Anna mulai bernafas dengan normal. Tubuhnya sudah tidak berguncang dan wajahnya sudah terlihat normal kembali. Anna membuka matanya dan sedikit menundukkan kepalanya. Dia menopang tubuhnya dengan kedua lengannya. Anna menarik nafas melalui mulutnya. Kemudian dia melirik kartu pos yang dicengkram dengan kuat. “Dia disini? Dia di Seoul? Tapi bagaimana…” gumamnya pelan.

“Anna?! Anna! Ada apa? Kau kenapa, sayang?” suara khawatir Mary membuat Anna mengangkat kepalanya. Anna melihat Mary berlutut dihadapannya. Mary terlihat ingin menyentuh Anna, tapi dia ingat kalau Anna tidak nyaman dengan sentuhan orang lain. Mary menarik nafas. “Anna, kau kenapa? Apa kau merasa sakit?” tanya Mary lagi.

Anna menggeleng. “Tidak apa-apa, Bibi Mary. Aku hanya kurang tidur. Tidak perlu khawatir seperti itu.”

Tapi Mary masih terlihat begitu khawatir. “Wajahmu pucat, sayang. Lagipula apa yang kau lakukan selama ini, uhm? Apa kau ingin tidur sekarang?”

Anna tersenyum tipis. “Ya, kurasa aku akan tidur untuk beberapa jam. Bibi pergi saja, aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir.”

Mary terlihat tidak tergerak. Ekspresi wajahnya masih sangat cemas. Hal itu mengingatkan Anna pada ekspresi Sarah setiap kali Anna terlibat masalah di Berlin. Bukan sepenuhnya masalah. Tapi setiap kali Anna pulang setelah menyerap energi dari super human, tubuhnya akan merasa lemas sekali dan mungkin hampir pingsan. Itulah kenapa Sarah memutuskan untuk pindah sampai beberapa-kali agar Anna tidak mendapat gangguan dari orang-orang yang meminta bantuannya.

Anna merindukan Sarah. Dia ingin sekali pulang pada ibunya, tapi dia tidak ingin kembali ke Berlin. Sarah belum memberikan keputusan apapun, walaupun Anna sudah memberitahu mengenai sebuah flat yang akan disewanya selama dia tinggal di Seoul. Anna hanya menginginkan dia dan Sarah tinggal di rumah mereka yang sebenarnya, di Seoul.

“Bibi Mary, aku tidak apa-apa. Pergilah, aku tidak ingin menjadi alasan keterlambatan bagi Bibi. Lagipula apa kata orang jika Bibi datang terlambat? Saat Bibi pulang, aku akan merasa jauh lebih baik,” bujuk Anna.

“Kau yakin akan baik-baik saja sendirian?” tanya Mary.

Anna mengangguk. Kemudian dia perlahan berdiri. Mary ingin membantunya, tapi dia menahan diri. Anna menatap Mary dan tersenyum. “Aku akan sarapan lalu kembali tidur. Bibi akan pulang sebelum makan siang, bukan? Kita bisa makan siang bersama nanti.”

Mary mengangguk terpaksa. Ia tahu kalau Anna tidak akan membiarkan dirinya untuk merawat dan menjaganya. Mary menghela nafas. “Baiklah, Bibi akan pergi. Tapi jika kau merasakan sakit, hubungi Bibi. Bibi akan membawamu ke rumah sakit.”

“Baiklah, aku akan menelepon Bibi jika aku merasa sakit lagi,” kata Anna. Walaupun sebenarnya Anna tidak akan menghubungi Mary. Tapi sepertinya Mary sudah terbujuk dengan ucapannya.

Mary tersenyum dengan jauh lebih tenang. Ia kemudian mengambil tas tangannya yang masih di lantai. Mary kembali menatap Anna dengan lekat. Walaupun Mary tidak ingin pergi dan meninggalkan Anna sendirian, tapi sepertinya Anna tidak ingin merepotkan dirinya. Well, Mary mungkin bisa meminta bantuan pada beberapa orang untuk melihat kondisi Anna selama dirumah.

“Bibi pergi dulu, ya. Dan kau jangan pergi kemanapun, okay? Bibi akan meminta petugas keamanan untuk memeriksa kondisimu selama satu jam. Jika kondisimu memburuk maka…”

“Aku akan pergi ke rumah sakit. Tenang saja, Bibi Mary. Pergilah, Bibi sudah terlambat sekarang,” kata Anna dengan cepat.

Mary tersenyum lalu berjalan keluar kearah pintu utama. Anna menghela nafas begitu melihat Mary pergi. Kemudian ia berjalan menaiki anak tangga, walaupun kakinya masih lemas. Anna harus bergegas untuk berganti pakaian. Anna harus bertemu dengan Andrew. Atau mungkin dia akan mencari Jake Mason terlebih dahulu.

*****

Marc memperhatikan rumah besar yang berdiri kokoh dihadapannya dengan tidak nyaman. Walaupun Marc pernah tumbuh besar di rumah besar tersebut, tapi dia sama sekali tidak menyukai aura rumah tersebut. Rumah keluarga Choi terletak di distrik Yangpyeong dengan memiliki halaman dan taman yang luas serta bangunan rumah utama dengan cat putih bersih dengan atap berwarna biru gelap sebagai tempat tinggal dan tiga bangunan lainnya yang terdiri atas rumah bagi semua pengurus rumah, pusat keamanan dimana semua kamera yang terpasang di seluruh bagian rumah terpantau di bangunan tersebut dan bangunan terakhir yang terletak dibelakang rumah digunakan sebagai gudang tempat penyimpanan makanan, peralatan kebun dan basemen bangunan tersebut juga dijadikan penyimpanan wine.

Marc menarik nafas dan memperhatikan halaman rumah tersebut, tepatnya pada salah satu pohon besar yang terletak hampir diujung halaman. Marc ingat sewaktu kecil, dia, Summer, Samuel dan Andrew sering bermain di halaman tersebut. Dulu, di salah satu pohon besar di halaman itu terdapat sebuah ayunan kayu. Ayunan tersebut dibuat untuk Summer sebagai hadiah ulangtahun dari Chloe –nenek mereka. Selain itu, Summer adalah satu-satunya cucu perempuan waktu itu, karena cucu tertua dari Watson, Claire dan Emma sudah tinggal di Atlanta bersama orangtua mereka, Matthew dan Jesse Lee yang bertanggung-jawab atas OceanCruise. Jadi, hanya Summer yang lebih sering memakai ayunan tersebut. Namun, disaat Summer sudah semakin dewasa, Marc dan Samuel terkadang bertengkar memperebutkan ayunan tersebut. Hanya pertengkaran anak kecil yang terkadang bisa berakhir di rumah sakit.

Marc tersenyum mengingat masa kecilnya tersebut. Ah, aku ingat. Bekas luka di lenganku karena bertengkar dengan Sammy, batin Marc. Kemudian, ingatan Marc semakin jelas mengenai kejadian yang membuatnya mendapatkan bekas luka tersebut. Waktu itu Marc dan Samuel –Sammy, Marc sering memanggilnya hingga saat ini– bertengkar. Sebenarnya bukan pertengkaran kasar, mereka hanya saling mendorong tapi karena keegoisan anak kecil, adu dorong itu berakhir buruk. Andrew yang bertugas mengawasi keduanya berusaha untuk memisahkan keduanya. Walaupun Andrew sudah cukup besar, untuk memisahkan dua anak kecil adalah pekerjaan yang sulit. Sampai akhirnya, Andrew yang mendorong Samuel dan Marc menjauh. Naas, Marc malah terjatuh mengenai sebuah pot tembikar yang melukai lengannya.

Ia menyeringai. “Tch… Apa mungkin karena kejadian itu, Andrew menjadi protektif padaku?” gumamnya.

Sejak kejadian itu, ayunan tersebut diturunkan dan simpan di gudang dan tidak pernah digunakan lagi. Mungkin untuk menghindari pertengkaran lainnya yang berakhir dengan rumah sakit lagi. Kemudian ingatan lainnya muncul dalam benak Marc. Ingatan kenapa dia mulai tidak nyaman datang ke rumah tersebut dan berhadapan dengan seorang Walter Choi.

“Tuan Marcus?”

Marc sontak berbalik dan mendapati seorang wanita yang terlihat sudah cukup tua menatapnya. Marc tersenyum lalu menghampiri wanita tersebut. Marc sedikit membungkuk kepada wanita tersebut. “Halo Nenek. Kebiasaan Nenek memanggilku Tuan Marcus belum berubah, ya.”

Chloe Ji, wanita tersebut tersenyum dan mengusap pipi Marcus dengan lembut. Walaupun sedikit terkejut dengan sentuhan tersebut, Marc tidak menghindari sentuhan neneknya. Chloe tersenyum lembut. “Kebiasaan sulit berubah, Tuan Marcus. Ada apa kau datang kesini? Seharusnya kau masih di rumah sakit, bukan? Bagaimana keadaanmu setelah kecelakaan itu, uhm?”

Marcus menyeringai pada Chloe. Lalu ia mengapit lengan Chloe dan berjalan menuju rumah besar dihadapan mereka. “Aku baik-baik saja, Nenek. Hari ini aku sudah keluar dari Mediction. Dan alasanku datang kesini adalah untuk bertemu dengan Kakek Watson. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padanya. Beliau ada di rumah, bukan?”

Chloe menatap cucunya dengan lekat. Kemudian berjalan masuk ketika Marc membukakan pintu untuknya. Mereka berjalan di hallway menuju ruang tengah. Marc masih mengingat dimana letak semua furniture dan ruangan rumah tersebut walaupun dia sudah sangat jarang datang. Malah, sepertinya tidak pernah ada yang berubah kecuali warna gorden.

“Kenapa kau ingin bertemu dengan Kakek Watson, Marcus? Jika ini mengenai pekerjaan, bukankah kau bisa menemuinya setelah kau benar-benar merasa jauh lebih baik?” tanya Chloe dengan suara khawatir.

Marc melepaskan lengan Chloe lalu berubah menggenggam tangan neneknya dengan erat. Marc masih tersenyum pada Chloe. Walaupun dia merasa tidak nyaman dengan Walter, tapi berbeda dengan Chloe. Neneknya selalu memberikan aura yang nyaman, jadi Marc bisa bersikap santai jika didekat neneknya.

“Aku baik-baik saja, Nek. Dan ini bukan menyangkut pekerjaan. Jadi, Kakek Watson ada di rumah atau aku harus pergi ke kantor Choi Incoporate? Kuharap, Kakek Watson ada di rumah. Aku tidak ingin pergi ke kantor pusat dan bertemu dengan anggota direksi lainnya. Saat aku datang kemarin untuk rapat pertangung-jawabanku, mereka semakin terlihat menyeramkan,” kata Marc.

Chloe kembali tersenyum. “Kakek Watson-mu sudah dua bulan ini bekerja di rumah. Dia ada di perpustakaan lantai dua. Ohya, apa kau akan tinggal sampai makan siang? Aku dan Nenek Hannah akan senang sekali jika kau bisa makan siang bersama kami.”

“Apa Nenek dan Nenek Hannah akan membuat pie apel sebagai makanan penutupnya?” tanya Marc dengan mata berbinar.

“Pie apel? Kau masih menyukai makanan itu?”

Marc menyeringai lalu mengangkat bahunya. “Well, aku selalu mempunyai ruang kosong di perutku untuk pie apel buatan nenek berdua. Jadi…?”

Chloe tertawa kecil lalu menepuk pelan pipi Marc. “Asalkan kau mau membantu untuk membuatnya. Kau harus mengambil beberapa apel dari gudang penyimpanan. Bibi Ahn selalu menaruh apel-apel itu dibagian paling tinggi di lemari pendingin. Nenek tidak mau berusaha payah untuk mengambilnya.”

Marc ikut tertawa. “Baiklah, aku akan mengambilnya. Aku temui Kakek Watson dulu, nanti akan kutemui Nenek di dapur. Okay?”

“Naiklah dan selesaikan pembicaraanmu dengan cepat.”

Kemudian Marc melepaskan tangan Chloe dan bergegas menaiki anak tangga. Marc berbelok kearah koridor sebelah kiri dan berjalan menuju pintu kedua. Marc menarik nafas lalu mengetuk pintu. Marc tahu kalau dia tidak harus menemui Watson hari ini, tapi dia tidak bisa menunggu lebih lama. Terlebih dengan peringatan Andrew kemarin mengenai pembunuh yang berhasil masuk kedalam kamar rawatnya disaat Marc belum sadarkan diri.

Marc mendengar suara Watson yang menyuruhnya masuk. Marc kemudian membuka pintu secara perlahan dan berjalan masuk. Ruang perpustakaan di lantai dua ini adalah khusus milik Watson, sedangkan ruang perpustakaan milik Walter berada di lantai satu. Keduanya tidak pernah meninggalkan rumah dimana mereka dibesarkan. Praktisnya, rumah ini sebenarnya adalah rumah dulu keluarga Choi dimana Watson dan Walter tinggal dan dibesarkan. Disaat perusahaan yang ayah mereka bangun berdua semakin besar, keduanya sepakat untuk tidak meninggalkan rumah lama mereka dan merenovasinya dan memperluasnya. Hingga jadilah rumah kediaman Choi seperti sekarang.

Ruang perpustakaan itu sama seperti ruang perpustakaan lainnya, rak-rak besar penuh dengan buku-buku tua dan baru, dua buah sofa besar yang diletakkan dekat jendela besar, sebuah meja kayu oak yang dipoles mengkilap, dua buah kursi dengan ukiran rumit dan furniture lainnya. Marc melihat Watson yang meliriknya lalu mengetik sesuatu di laptopnya.

“Marcus, senang bisa melihatmu,” kata Watson setelah menutup laptopnya.

Marc tersenyum dan membungkuk hormat pada Kakeknya. Watson Choi adalah replika kakek ibunya, Alan Choi, hanya sedikit lebih stylish walaupun usianya hampir delapanpuluh tahun. Postur tubuh yang tidak terlalu tinggi, rambut putihnya yang ditata baik, pakaian kasual seperti kemeja dengan sweater dan bahkan terkadang Watson memakai jeans. Sedikit berbanding terbalik dengan adiknya, Walter.

Namun, kesamaan mereka –selain wajah mereka yang benar-benar hampir replika ayah mereka, Alan– Watson dan Walter, keduanya hampir berusia delapanpuluh tahun tapi masih terlihat sehat seperti pria tua berusia enampuluh tahunan –tidak mungkin lebih muda lagi dari usia itu. Marc terkadang tidak tahu kenapa keduanya masih terlihat begitu sehat setelah mengalami hampir enampuluh tahun bekerja dengan segala semua tekanan. Keduanya bahkan mempunyai catatan kesehatan yang mengagumkan untuk ukuran seorang pria berusia tujuhpuluh-tahunan. Mungkin ketika mereka meninggal, Mediction akan menyimpan tubuh mereka untuk dijadikan bahan penelitian untuk mencari obat panjang umur. Okay, itu berlebihan.

“Kakek Watson, kau terlihat semakin sehat,” kata Marc.

Watson hampir menyeringai mendengar ucapan cucunya –atau cucu dari adiknya, toh sama saja. “Dan kau terlihat seperti melihat hantu. Kapan kau keluar dari Mediction?” tanya Watson.

“Dua jam yang lalu. Dengan sedikit perdebatan dengan Ibu yang mengira aku membutuhkan satu atau dua minggu di rumah sakit. Ugh, aku selalu membenci rumah sakit,” komentar Marc.

“Yeah, Kakek bisa mengetahuinya dengan jelas jika mengingat sifat protektif Laura padamu. Tapi untuk seseorang yang tiga hari lalu mengalami kecelakaan dan di operasi, kau terlihat sangat sehat. Ada rahasia yang ingin kau bagikan, Tuan Marcus?”

Marc membenci bagian ini. Walter pasti sudah memberitahu kakaknya mengenai kemampuan itu. Dan Watson sudah mengira kalau Marc akan datang menemuinya, tapi berpura tidak mengetahui apapun. Well, satu lagi kesamaan kedua Kakeknya. Marc menarik nafas panjang dan berusaha untuk terlihat tidak gugup. Watson masih tersenyum padanya. “Kakek Walter pasti sudah bicara padamu, bukan? Mengenai kemampuanku,” kata Marc dengan berhati-hati. Dia tidak tahu bagaimana harus memulai dan tatapan serta senyuman Watson tidak membantu Marc untuk lebih tenang.

Watson mengernyit. “Kemampuanmu? Kemampuan seperti apa? Bisa berikan contohnya, Marcus?”

Marc menahan diri untuk tidak memutar matanya. Watson bahkan bisa lebih menyebalkan dari Walter. “Kakek, please. Aku sedang tidak ingin… Oh, okay. Aku mempunyai beberapa kemampuan super seperti telekinesist, yang bisa menggerakkan benda-benda tanpa menyentuhnya. Kakek Walter menemuiku dan mengatakan kalau Kakek juga mempunyai kemampuan sepertiku. Jadi, aku ingin tahu apa kemampuan Kakek dan sejak kapan Kakek menyadarinya?”

Watson tersenyum mendengar ucapan Marc. Kebiasaan Marc untuk bicara tanpa basa-basi sepertinya tidak pernah berubah, walaupun mereka berdua jarang sekali untuk bertemu dan berbincang seperti sekarang ini. Watson menarik nafas perlahan. “Kurasa Kakek tidak mempunyai pilihan lain, bukan? Tapi jika kau ingin mendengarkan, apa kau mempunyai banyak waktu hari ini? Kalau tidak, kita bisa membuat sedikit penyesuaian terhadap jadwalmu,” tukas Watson.

Marc mengangkat bahu dan kini bisa menyeringai pada Watson. “Well, Nenek Chloe menyuruhku tinggal sampai makan siang. So, aku mempunyai cukup waktu untuk mendengarkan cerita Kakek mengenai kemampuan itu.”

Tapi yang tidak pernah diketahui oleh Marc, bahwa dia tidak mempunyai waktu sebanyak itu.

*****

NOTE: Keluarga Choi-Cho ini perlu dibikinin pohon keluarga gak? Kayaknya terlalu banyak anggota keluarga Choi Heheheh….

Saat ini aku sedang mengerjakan Scarface 37 dan niatnya mau dibagi ke beberapa part. Saat ini masih fokus untuk WonKyu dulu, mungkin selanjutnya KrisHo. JiKang masih optional. Dan berhubung Choi Siwon udah kelar training, mungkin akan menyusul OS WonKyu.. Tapi gak janji ya.

Advertisements

3 thoughts on “[MM] Super Human – 1st Story [15]

  1. Sepertinya memang akan ada hal yang besar akan terjadi.Dan itu sesuatu yang biki takut.Sepertinya.
    Tapi,apapun itu..semoga bisa dihadapi dengan bijaksana.

    Fighting eonni..gumawo.
    Sehat sllu.

  2. penasaran sama kemampuan kakek watson.
    kayaknya perlu dibuatin pohon keluarga choi dech cz masih binggung dengan nama2 mereka.
    ditunggu lanjutannya dan jangan lama” ya….

  3. wah… semakin seru banget ni super human…. setiap part selalu seru…. wah… wah… gak sabar nunggu kelanjutan part selanjutnya…. diera eonni semangt yahhh…. heheheh kayknya perlu nich di kasih tau pohon keluarganya choi. karena agak bingung sama nama2nya heheh maklum sudah tua eon heheheh gampang lupa hheheeh makasi eonn… semangatttt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s