[MM] Super Human – 1st Story [14]

super human

Chapter Fourteen

Victoria memperhatikan cara Dennis untuk melacak pria yang diduga menjadi pelaku beberapa kasus pembunuhan berantai yang sudah sangat meresahkan masyarakat. Jujur saja, Victoria terlihat sangat terkesan dengan cara bekerja Dennis. Ia memang tidak pernah melihat orang yang mempunyai kemampuan clairvoyance sebelumnya. Jadi, melihat Dennis yang berkonsentrasi pada sebuah peta besar kota Seoul dengan memegang erat bunga krisan sebagai media adalah sesuatu yang mengagumkan bagi Victoria.

Victoria, Dennis dan Sully harus kembali ke Lab untuk melacak pembunuh itu. Selain itu, Sully juga membutuhkan pengawasan yang lebih ketat dari sebelumnya karena si pembunuh kini sudah mengetahui keberadaannya. Mereka tidak ingin mengambil resiko besar jika pria itu memutuskan untuk kembali mengincar Sully. Saat ini Sully berada di lantai sembilan dengan penjagaan ketat, sedangkan Victoria dan Dennis berada di lantai lima sebagai pusat informasi untuk melacak keberadaan pembunuh tersebut.

Ruangan pusat informasi di Lab memiliki fasilitas dengan teknologi terbaru. Tapi sayang sekali, Dennis harus kecewa karena Lab tidak mempunyai fasilitas hologram atau semacamnya. Namun, Lab memiliki sistem komputerisasi yang mempunyai akses hampir ke semua website pemerintah untuk mendapatkan data-data tertentu yang mereka butuhkan. Tentu saja, bukan secara ilegal. Andrew membuat alibi bahwa Lab adalah salah satu project Skyline yang melakukan analisis data yang menjadi dasar untuk semua project Skyline selanjutnya. Walaupun begitu Lab tentu saja memberikan hasil analisis data yang sesungguhnya kepada pemerintah sebagai laporan. Salah satu project-nya adalah project mars dan project nemesis. Pada akhirnya, Lab bukanlah sekedar sebuah laboratorium biasa untuk meneliti kemampuan super human saja, melainkan juga sebuah tempat pelatihan, tempat perlindungan, pusat informasi dan mungkin sebagai markas rahasia milik Andrew Choi.

Namun, mereka tetap bukanlah super hero.

Sudah selama limabelas menit, Dennis terus menggerakkan tangan kanannya yang memegang sebuah spidol untuk menandai lokasi mana saja yang dilalui oleh pembunuh itu, sampai tangannya membuat sebuah lingkaran besar pada sebuah tempat. Dennis menghela nafas dan melepaskan spidol serta bunga krisan dari tangannya. Wajah dan lehernya dipenuhi oleh peluh keringat. Melacak seseorang yang bergerak cukup cepat memang menghabiskan banyak energi Dennis.

Victoria memperhatikan sebuah lingkaran yang dibuat Dennis. “Dia berada disini?” tanya Victoria sembari menoleh pada Dennis yang sedang membuka satu botol minuman.

Dennis meneguk beberapa-kali sebelum mengangguk. “Untuk saat ini. Kita tidak pernah tahu kapan dia akan bergerak lagi. Jadi, kita harus cepat bertindak.”

Victoria lalu memberikan perintah untuk menuju lokasi yang ditandai oleh Dennis. Mereka harus segera menangkap pembunuh tersebut sebelum terlambat. Pembunuh itu mungkin sedang membuat rencana lain untuk melarikan diri atau memberikan serangan pada mereka. Karena Victoria yakin, kalau pembunuh itu sudah mengetahui kalau dirinya sedang menjadi incaran.

Dennis duduk pada salah satu kursi sembari memperhatikan Victoria yang sedang memberikan perintah melalui ponsel. Walaupun dia merasa tidak yakin kalau rencana Victoria untuk menangkap pembunuh itu akan berhasil. Dennis lalu meneguk air minumannya lagi. “Kau menyuruh siapa untuk menangkap pembunuh itu?” tanya Dennis.

Victoria menoleh pada Dennis. “Tentu saja orang-orang yang terbaik.”

“Maaf, aku salah memberikan pertanyaan. Maksudku, apa kau mengirim orang yang tidak mengetahui siapa pembunuh itu sebenarnya dan kemampuan apa yang sudah dimilikinya, untuk menangkapnya?” tanya Dennis lagi.

Victoria terdiam. Dia tidak memperkirakan hal tersebut. Yang menjadi pertimbangan Victoria adalah waktu. Mereka tidak mempunyai waktu banyak, sebelum pembunuh itu mengincar super human lain atau sebelum ledakan project nemesis terjadi. Ini adalah pertama-kalinya mereka mendapatkan informasi akurat mengenai keberadaan pembunuh itu. Jadi, Victoria pikir akan jauh lebih baik jika mereka berhasil menangkapnya sekarang. Jika berhasil.

Dennis menaruh botol minumnya diatas meja. “Tarik kembali perintahmu untuk menangkapnya dan berikan perintah lain,” katanya.

“Bisa berikan aku masukan?” kata Victoria.

Dennis tersenyum. “Bagaimana kalau bawakan aku foto pembunuh itu atau ambil salah benda yang merupakan milik si pembunuh? Bunga krisan itu tidak akan bertahan lama. Aku membutuhkan media yang akurat untuk melacak keberadaannya. Kau mungkin juga bisa memberikan perintah untuk mengawasinya dengan jarak yang aman.”

Ucapan Dennis cukup masuk akal. Victoria mengangguk dan kembali menghubungi team leader yang diperintahkannya untuk menangkap si pembunuh. Kemudian Victoria mengganti perintah tersebut dengan usulan yang diberikan oleh Dennis. Setelah semuanya dikonfirmasi, Victoria baru menghela nafas lega. Ia kembali menatap Dennis dengan serius.

“Lalu apa rencana kita untuk menghentikan pembunuh itu sebelum dia kembali membunuh lagi?”

“Entahlah. Kau yang memberitahuku. Aku terlibat dalam team kalian hanya untuk memberikan bantuan melacak keberadaan si pembunuh. Aku tidak pandai membuat rencana penyerangan seperti itu,” kata Dennis sembari tersenyum.

*****

Marc menatap Andrew dengan jengkel. Setelah mendengarkan semua penjelasan dari Andrew, Steve dan Max, Marc benar-benar dibuat kesal oleh sepupunya tersebut. Marc mungkin sangat berterima-kasih pada Andrew karena berusaha menolongnya. Tapi dengan memberikan kemampuan baru sedangkan kemampuan lainnya yang dimiliki oleh Marc masih belum dapat dikendalikan dengan baik, itu sama saja seperti membuat bom waktu.

Saat ini, Marc sudah cukup banyak mempunyai kemampuan yang dikopinya dari beberapa super human. Marc sudah mempunyai empat kemampuan sebelumnya, yakni technokinesist dari Andrew, telekinesist dari Chase Lee, future sight dari Victoria dan dream manipulation dari seseorang yang tidak dikenalnya sewaktu Marc berusia tujuhbelas tahun. Dan hanya kemampuan dream manipulation yang hampir tidak pernah digunakan oleh Marc.

Siapa yang mau memanipulasi mimpi seseorang? Marc selalu beralasan seperti itu.

Sekarang, Marc mendapatkan kemampuan rapid cellular regeneration dari Sully, yang bahkan Marc belum pernah bertemu dengan gadis itu. Cukup beruntung, Marc belum menyentuh Max, atau malah dia tidak akan bisa menyentuh Max. Entah kemampuan dari Sully itu sangat berguna bagi Marc atau tidak, menambah kemampuan bagi Marc semakin membuatnya tertekan. Bagaimana bisa dalam satu orang mempunyai begitu banyak kemampuan super? Kecuali untuk satu orang, Annabelle Kim. Tapi gadis itu lebih baik darinya dalam hal mengendalikan kemampuan yang dimilikinya.

Marc menghela nafas frustasi. Marc kembali berbaring dan memejamkan matanya. Ia merasa semakin lelah setelah mendengarkan semua penjelasan tersebut. Marc hanya ingin tidur untuk saat ini, walaupun selama dua hari dia sudah tidur cukup lama. “Steve, kita bicara lagi mengenai kemampuan baruku ini nanti,” kata Marc.

Steve melirik Andrew lalu mengangguk. “Baiklah. Aku harus ke Lab untuk melihat apakah Dennis sudah berhasil mendapatkan lokasi pembunuh itu. Ayo pergi, Max. Kau perlu melakukan beberapa tes lainnya,” kata Steve sembari berjalan keluar.

Max mengikuti Steve setelah berpamitan pada Andrew. “Sebelum kembali ke Lab, bagaimana kalau kita makan siang dulu?” ujar Max sembari menutup pintu. Andrew masih terdiam mendengarkan langkah kaki Steve dan Max yang mulai menjauh.

Kini suasananya kembali sunyi. Andrew melirik Marc yang menutup matanya menggunakan lengan kanannya. Andrew menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Marc mungkin sangat marah padanya. “Kau marah padaku?”

“Aku sedang tidak ingin membahasnya, Andrew,” kata Marc.

Andrew sedikit menunduk dan mengulas sebuah senyuman. “Kau benar-benar marah. Maaf, karena aku telah melakukannya. Walaupun alasanku adalah untuk menyelamatkanmu, kurasa kau berhak untuk marah padaku.”

Marc mendesah kesal. Ia kembali bangun dan menatap Andrew dengan jengkel. “Demi Tuhan, Andrew Choi. Bisakah kita tidak membahasnya sekarang? Ya, aku memang marah padamu tapi bukan karena kau melakukannya demi menyelamatkanku. Untuk satu itu, aku sangat berterima-kasih. Tapi…. Oh, please Andrew. Biarkan aku tidur untuk beberapa jam, okay? Kau bisa pergi untuk makan siang atau apapun.”

Andrew mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Marc. Andrew bisa melihat kalau Marc saat ini sangat kesal, jengkel dan juga bersyukur. Selain itu, Marc juga masih terlihat pucat. Andrew tidak yakin apakah kemampuan Sully beradaptasi dengan baik dalam tubuh Marc. Mungkin Steve harus memeriksa kondisi Marc setelah sepupunya keluar dari Mediction.

“Andrew, apa kau mendengarkanku?!” seru Marc.

“Aku mendengarmu, Marcus Cho. Tidak perlu berteriak, okay. Baik, kita bicarakan masalah ini nanti. Aku akan keluar makan siang selama satu atau dua jam. Diluar kamarmu ada dua orang yang berjaga dan melarang siapapun untuk masuk kecuali dokter atau beberapa orang yang kusetujui. Tetap di kamarmu walaupun kau merasa bosan. Selain itu, mungkin ketika dokter melakukan pemerikasaan, dia akan terkejut melihat semua lukamu sudah sembuh. Aku perlu melakukan sesuatu untuk itu, bukan?” kata Andrew.

Marc mendengus. “Lakukan sesukamu, Andrew Choi.” Kemudian Marc kembali berbaring dan menarik selimut hingga menutupi semua bagian tubuhnya.

Andrew tersenyum tipis. Marc tetaplah Marc. Walaupun sepupunya sedang marah padanya, tapi Marc tidak akan pernah mengecewakan Andrew dengan sikapnya itu. Well, mungkin karena Andrew selalu memandang Marc sebagai Marc yang berusia enambelas tahun, tidak peduli berapa pun usia Marc yang sebenarnya.

Kurasa aku memang harus cepat-cepat menikah atau aku akan benar-benar menganggap Marc sebagai anakku sendiri. Itu terdengar menyeramkan, pikir Andrew.

Andrew berdiri dan menepuk kepala Marc beberapa-kali sebelum keluar dari kamar tersebut. Marc sedikit menyingkap selimutnya setelah mendengar suara pintu tertutup, sekedar memastikan kalau dia sudah sendirian. Kemudian Marc menghela nafas. Ia mengangkat tangan kirinya dan memperhatikan dengan lekat. Dulu, Marc mempunyai bekas luka yang terdapat di lengan bagian dalam. Entah bagaimana Marc mendapatkan luka itu karena dia sama sekali tidak ingat. Tapi bekas lukanya selalu mengingatkan Marc kalau dia sepertinya pernah terluka cukup parah. Kini, bekas luka itu hilang secara keseluruhan.

“Kurasa kemampuannya tidak buruk.”

*****

Andrew menarik sebuah kursi lalu duduk. Ia menghela nafas dan menatap Steve dengan lekat. Setelah Andrew keluar dari kamar rawat Marc, Steve mengirim sebuah pesan agar mereka bertemu di salah satu café dekat Mediction. Sepertinya Steve masih ingin membicarakan tentang tindakan gila yang dilakukan oleh Andrew pada Marc. Walaupun menurut Andrew, reaksi Steve terlalu berlebihan.

Andrew tidak melepaskan fokus pandangannya pada Steve, ia bahkan hampir tidak berkedip sama sekali. Max yang duduk di meja lainnya, memilih untuk menghabiskan makan siangnya. Walaupun sesekali Max melirik kearah meja Steve dan Andrew untuk berjaga-jaga agar kejadiannya seperti di kamar rawat Marc. Jika Andrew kembali lepas kontrol, entah apa yang akan terjadi di café tersebut.

Tak lama, seorang pelayan mengantarkan pesanan Andrew, satu porsi sandwich bacon dan satu gelas jeju-orange ice tea. Pilihan menu yang terlalu simple sebagai menu makan siang. Tapi Andrew tidak ingin berlama-lama meninggalkan Marc sendirian. Andrew melirik Steve yang masih diam memandanginya, lalu ia mulai melahap sandwich-nya. Andrew tidak ingin menunggu atau bertanya terlebih dahulu apa yang ingin yang dibicarakan oleh Steve.

Max melirik kembali kearah meja Andrew dan Steve. Suasananya masih terlihat tegang dan Max hanya berharap kalau mereka bisa menyelesaikan masalah tersebut dengan cepat. Steve menarik nafas dan membuka mulutnya. “Kau ingin melakukan pemeriksaan untuk Marc?”

Andrew melirik Steve dan mengangguk. “Setelah dia keluar dari Mediction.”

“Lalu apa yang kau lakukan dengan pemeriksaan yang akan dilakukan dokter? Jika mereka menemukan kejanggalan, maka itu akan menjadi masalah,” kata Steve.

Andrew menelan makanannya dan menatap Steve dengan mengernyit. “Kupikir kau akan memarahiku seperti tadi karena tindakan gilaku? Kau mengajakku bicara disini hanya untuk itu?” tanya Andrew.

Steve berusaha untuk tidak mendengus. Terkadang Andrew kelewat polos untuk usianya yang sudah hampir kepala tiga hingga Steve sama sekali tidak bisa menebak cara berpikir pewaris Choi Incoporate tersebut. Salah satunya adalah tindakan gila Andrew pada Marc. Steve tahu kalau Andrew tidak mungkin akan membahayakan sepupunya sendiri, tapi tidak bisakah Andrew berpikir lebih matang sebelum bertindak. Ini bukan sekali atau dua-kali, Andrew melakukan tindakan gila untuk menyelamatkan Marc atau orang lain. Steve hanya takut jika pada akhirnya Andrew akan membahayakan dirinya sendiri. Terlebih dengan kilasan masa depan yang dikatakan oleh Victoria dan gadis Berlin tersebut.

“Apa yang kita bicarakan sekarang bukan sekedar “hanya itu”, Andrew. Apa yang kau lakukan bisa membahayakan Marc. Bahkan jika berhasil pun, lalu apa alasan yang kau gunakan pada dokternya? Apa kau tidak pernah berpikir sampai sejauh itu? Kau sendiri yang mengatakan padaku kalau kemampuan itu harus disembunyikan. Orang lain tidak boleh mengetahuinya,” jelas Steve.

Andrew memutar bola matanya. “Aku tahu apa yang kukatakan, Steve.” Well, ini adalah pertama-kalinya Andrew memanggil Steve dengan Steve. Andrew biasanya memanggilnya dengan sebutan formal seperti Professor Jung atau Stephen, tidak pernah sekalipun Steve. Jadi, itu sedikit mengejutkan Steve.

“Jangan terkejut begitu. Kau sendiri yang pernah menyuruhku memanggilmu sama seperti Marc atau yang lainnya. Aku tentu memikirkan apa yang akan terjadi berikutnya setelah aku menyuruh Sully menyentuh Marc. Aku akan bertanggung-jawab, termasuk memberikan sedikit penjelasan pada dokter Marc nanti,” ujar Andrew yang menghabiskan sandwichnya. Kemudian ia menyeruput minumannya sebelum melanjutkan penjelasannya.

“Yang menjadi pertimbanganku saat ini adalah Marc harus pulih dalam waktu singkat. Kita tidak tahu berapa lama waktu yang tersisa sampai kecelakaan itu akan terjadi. Selain itu, kita juga sudah menemukan cara untuk melacak si pembunuh itu. Aku hanya merasa waktunya tidak cukup jika kita harus menunggu Marc sadar dengan sendirinya.”

Steve menghela nafas. Ia bisa mengerti kalau waktu mereka terbatas, tapi bukan berarti Andrew bisa melakukan tindakan ceroboh dan gila. “Okay, aku terima penjelasanmu itu. Tapi sebagai gantinya, kau harus menyuruh Annabelle Kim untuk datang ke Lab. Aku membutuhkan contoh darahnya.”

Alis Andrew terangkat. “Untuk apa? Lagipula aku tidak yakin dia mau melakukan tes. Kemarin saja, aku tidak berhasil membujuknya. Dengan alasan apa aku menyuruhnya untuk datang dan memberikan darahnya. Disentuh pun dia tidak mau,” kata Andrew.

“Aku hanya terpikir satu hal mengenai kemampuannya. Dia menjelaskan kalau kemampuannya adalah menyerap energi, bukan? Jika kita mendapatkan contoh darahnya, mungkin kita bisa mencari tahu bagaimana mengontrol atau menghilangkan secara permanen kemampuan itu,” komentar Steve.

Hanya saja ucapan Steve membuat Andrew serta Max yang sedari tadi mendengarkan perbincangan keduanya menatap Steve dengan lekat. Sontak Max langsung berpindah kursi. Dia duduk disamping Andrew untuk melihat Steve lebih dekat. “Jadi, benar-benar bisa dihilangkan? Kembali menjadi manusia normal?” seru Max.

Andrew melirik Max dengan bingung. Kenapa Max malah terdengar seperti Marc yang meminta Steve mencari cara untuk menghilangkan kemampuannya, agar dia bisa kembali menjadi manusia normal. Andrew sebenarnya tidak terlalu keberatan jika Steve mendapatkan cara. Tapi selama tujuh tahun, tidak banyak perkembangan yang mereka dapatkan mengenai penelitian darimana sumber kemampuan itu. Selama ini, dari semua super human yang mereka temui, Steve dan anggota team lainnya tidak menemukan kecocokan signifikan yang bisa dijadikan hipotesa sementara mengenai kemunculan kemampuan itu dalam diri mereka.

Lalu kenapa sekarang Steve ingin meminta contoh darah Anna untuk diteliti? Andrew mengetahui mengenai kemampuan Anna, tapi bisakah darah gadis itu dijadikan semacam obat penyembuh bagi mereka? Sekarang, Andrew yang berpikiran kalau tindakan Steve adalah sebuah kegilaan.

“Aku tidak yakin, Max. Aku sudah menjelaskannya padamu mengenai kemungkinannya, bukan? Tapi setidaknya ini bisa dijadikan terobosan baru bagi penelitian kita. Selama hampir empat tahun, kita tidak mendapatkan perkembangan apapun. Kebetulan gadis itu muncul dengan kemampuan yang sedikit berbahaya, namun siapa tahu cukup berguna. Lagipula Anna mungkin bisa menghilangkan semua kemampuan yang dimiliki pembunuh itu. Jika si pembunuh itu berhasil ditangkap,” kata Steve lagi.

Andrew menghela nafas berat. Dia tidak bisa menjamin kalau Anna akan mau datang kembali ke Lab, melakukan beberapa tes dan Steve mengambil sampel darahnya. Gadis itu bahkan sudah tidak menghubunginya sejak kemarin. Terakhir kali, Andrew mendapatkan informasi mengenai kecelakaan sinkhole dari Anna setelah gadis itu bertanya macam-macam pada ayahnya. Selain itu, David mungkin akan lebih merahasiakan hasil penyelidikan yang dilakukan pemerintah mengenai kecelakaan itu. Andrew bisa saja menghubungi gadis itu, tapi dia masih tidak yakin.

Max menatap Andrew dengan lekat. “Direktur, kau tidak bisa menjemput gadis itu dan membawanya ke Lab?” tanyanya.

“Aku bisa saja membawanya ke Lab, tapi dia tidak mau disentuh oleh orang lain. Itu masalahnya. Lagipula dia mungkin sedang sibuk untuk persiapan kembali ke Berlin,” ujar Andrew.

“Dia akan segera kembali ke Berlin?” tanya Steve.

Andrew hanya mengangguk. “Sepertinya. Mungkin. Oh, aku tidak tahu.”

Suasananya sudah kembali lebih tenang dan Steve juga tidak terlihat marah lagi. Well, Steve memang tidak akan pernah lama marah pada seseorang. Jika dia sudah mendapatkan alasan logis, maka dia emosinya akan kembali seperti semula. Itu adalah salah satu alasan kenapa Andrew menyukai Steve. Apapun tindakan gila yang dilakukan Andrew, Steve mungkin akan marah padanya selama beberapa menit. Dan setelah mendengarkan alasan logis dari Andrew, dia akan kembali bersikap normal. Seakan pertengkaran diantara mereka tidak pernah terjadi.

“Kita bisa menggunakan kemampuanku. Jika aku berada didekat Anna, aku bisa menahan kemampuannya. Jadi, Professor bisa mengambil darah gadis itu,” usul Max.

Steve menatap Max dengan sedikit kagum. “Itu mungkin bisa dilakukan.” Kemudian Steve beralih pada Andrew. “Pegawaimu sudah mengusulkan. Jadi, bagaimana?”

Andrew memperhatikan Max dan Steve bergantian. Usulan Max mungkin bisa dilakukan, tapi Andrew hanya bisa melakukannya jika Anna setuju. Andrew mungkin bisa memaksakan kehendaknya pada orang-orang yang dikenalnya, tapi Anna adalah pengecualian. Andrew menghela nafas. Jika dia menolak hari ini, Steve mungkin akan kembali bertanya besok dan besoknya dan besoknya lagi.

“Akan kutanyakan dulu. Tapi jangan terlalu banyak berharap, okay?”

*****

Pria itu menyeringai saat melihat beberapa orang yang memperhatikan gedung flat dari jendela besar unit flat yang disewanya. Flat tersebut tidak begitu besar hanya ada satu ruangan besar dengan satu kamar mandi kecil dan dapur. Ruangan flat tersebut begitu suram, hampir tidak ada pencahayaan. Pria itu hanya menggunakan beberapa lampu redup sebagai sumber cahaya. Selain itu jendela besar tersebut ditutupi oleh sebuah tirai hingga cahaya dari sulit masuk. Walaupun begitu pria itu dapat dengan mudah mengetahui berapa orang dan dimana saja posisi mereka saat ini untuk mengawasinya dari balik tirai tersebut.

Pria itu kemudian berjalan menjauhi jendela besar tersebut dan beralih pada sebuah bagian dinding flat-nya yang dipenuhi oleh foto-foto dan informasi lainnya yang pernah menjadi korban pria tersebut. Diantara foto-foto tersebut sudah diberi-tanda X besar dan lainnya diberi-tanda sebagai target utama, seperti Marcus Cho, Sully Choi dan David Kim. Dan ia juga telah menambahkan satu nama lainnya. Annabelle Kim. Pria itu menyunggingkan sebuah senyuman licik saat menatap foto Annabelle Kim. Pria itu jelas sangat mengenal putri Perdana Menteri David Kim. Hanya saja, pria itu cukup terkejut melihat keberadaan Anna di Seoul. Terakhir kali pria itu melacak keberadaannya, gadis itu masih berada di Berlin.

“Sepertinya kau menggunakan kemampuanmu dengan baik, Anna. Aku terkejut kau bahkan pergi sampai ke Seoul. Apa yang kau lihat dan katakan pada mereka, Anna? Apa mengenai diriku?” ucap pria tersebut dengan suara dalam yang menyeramkan.

Pria itu lalu mengambil sebuah pena yang terdapat diatas meja. Ia kembali memandang foto Annabelle. “Kurasa ini sudah waktunya kita bertemu, bukan? Aku merindukanmu, Anna.”

Pria itu lalu meraih topi hitam dan memakainya. Kemudian ia berjalan keluar dari flat. Tidak lupa dia mengunci rapat pintu flat-nya, dia tidak ingin ada orang lain yang iseng masuk kedalam unit flat-nya, terutama dengan semua orang yang sedang mengawasinya di luar gedung flat tersebut.

Di luar gedung, ia terdiam sejenak untuk memperhatikan situasi sekitar. Lalu ia mulai berjalan menuju jalan besar. Pria itu terus berjalan dengan tenang. Dia mengetahui kalau orang-orang itu mulai mengikutinya. Saat berada di depan mini market, pria itu memasukinya. Dia mengambil beberapa cup ramen dan beberapa botol minuman. Setelah membayarnya, pria itu keluar dan kembali berjalan. Kini dia berjalan arah memutar yang akan membawanya kembali ke gedung flatnya.

Namun, ketika melewati sebuah kantor pos, pria itu kembali masuk. Diikuti oleh salah seorang yang mengikutinya. Pria tersebut mengambil sebuah kartu pos dan mengeluarkan pena miliknya. Ia menuliskan sesuatu dalam kartu pos tersebut. Setelah menuliskan alamatnya, pria itu membawanya ke counter –setelah dengan sengaja meninggalkan pena miliknya diatas meja. Pria itu tersenyum pada pegawai pos yang menyambutnya. Dia menyerahkan kartu pos tersebut dan membayar sejumlah uang untuk mengirimkan kartu pos tersebut. Setelah selesai, pria itu berjalan keluar. Sedangkan orang yang mengawasinya mengambil pena yang ditinggalkannya.

Sepanjang jalan menuju flatnya, pria itu tersenyum dan menyapa beberapa orang yang mengenalinya. Dia bahkan dengan sengaja melepaskan topinya ketika menyapa seorang kakek pemilik kedai ddeokboki. Pria itu mengobrol sejenak sebelum kembali ke flatnya. Sesampai di flat, pria itu menaruh kantung yang berisi cup ramen dan botol minuman diatas meja dapur. Ia melemparkan topi hitamnya keatas meja dan kembali tersenyum puas.

“Aku menantikan pertemuan kita, Anna.”

*****

Marc sedang memandangi luar pemandangan Mediction dari jendela kamar rawatnya. Andrew masih belum kembali dari makan siangnya. Well, sepupunya baru keluar selama satu jam, jadi mungkin Andrew baru kembali satu jam kemudian atau lebih cepat. Marc menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Pikirannya kembali melayang ke waktu kecelakaan tersebut.

Saat Marc merasakan tanah yang mulai bergetar, dia merasakan ketakutan yang luar biasa. Bukan karena dia akan segera mati, tapi dia merasakan sesuatu yang jauh lebih jahat dari sebuah kematian. Bahkan dia sudah merasakan hal tersebut sejak dia keluar dari kawasan Shiwa. Marc memejamkan matanya sejenak. Memutar memori yang diingatnya sesaat kecelakaan itu terjadi. Marc perlu mencari sesuatu dalam pikirannya.

Marc ingat kalau dia sangat kesal pada Andrew karena menyuruhnya kembali ke Seoul dalam waktu satu setengah jam, yang sebenarnya tidak mungkin. Perjalanan dari kawasan Shiwa sampai menuju Seoul memakan waktu sekitar dua atau tiga jam. Itu pun kalau tidak macet dan jika Marc memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Kemudian selama perjalanan, Marc merasa kalau ada mobil yang mengikutinya sejak dari kawasan Shiwa. Tapi dia tidak melihat ada mobil yang mencurigakan. Kondisi jalanan yang cukup padat membuat Marc tidak bisa membedakan siapa yang harus dicurigainya.

Namun, lima menit sebelum tanah mulai bergetar, Marc merasakan sakit yang luar biasa. Kepalanya berdenyut hingga rasanya Marc ingin pingsan. Kemudian kilasan itu muncul. Marc melihat bagaimana kecelakaan itu terjadi. Bagaimana mobilnya terperosok kedalam sebuah lubang besar dan seorang pria dengan sebuah senyuman jahatnya.

Marc membuka matanya perlahan. Wajahnya sontak memucat dan nafasnya terasa berat. Marc menopangkan tubuhnya dengan menumpukan satu tangannya di jendela. Marc sedikit menundukkan kepalanya dan mengatur nafasnya. Ia melihat wajah pria itu. Wajah pria yang membuat lubang besar tersebut. Pria yang merupakan pembunuh berantai.

Kemudian Marc menoleh saat terdengar suara pintu. Dia berpikir Andrew telah kembali. Tapi orang yang memasuki kamar rawatnya adalah orang yang sedang tidak ingin ditemuinya hari ini. Terlebih mereka sudah bertemu di Choi Incoporate kemarin.

“Kakek..” gumam Marc.

Walter Choi menatap Marc yang membungkuk padanya. Kemudian ia berjalan menuju sofa dan memberi isyarat agar Marc mendekatinya. Marc menarik nafas dan mendekati Walter. Dia duduk agak jauh dari posisi duduk Walter. Marc sedikit menunduk. Ia sama sekali tidak menyukai kondisi dimana hanya dia dan Walter dalam ruangan yang sama, terlebih jika kondisinya sedang lemah seperti saat ini. Itu sudah dirasakannya sejak masih kecil. Walter mempunyai aura intimidasi yang begitu kuat. Marc tidak bisa memandang Walter hanya sebagai Kakeknya.

Walter Choi, dalam penilaian Marc hanya seorang Presiden Direksi Choi Incoporate, bukanlah seorang kakek.

Walter memperhatikan Marc dengan lekat. “Kau terlihat jauh lebih baik dari terakhir kali aku menemuimu disini.”

Marc sontak mengangkat kepalanya. Terkejut mendengar pengakuan Walter. “Maaf?” Marc pikir dia salah dengar. Walter Choi pernah datang menemuinya di rumah sakit saat dia masih tidak sadar? Itu terdengar mustahil.

“Kau mendengarku, Marcus. Dan aku bersyukur melihatmu sudah sadar dan jauh lebih sehat. Dua hari dan kau terlihat seperti tidak pernah mengalami kecelakaan apapun. Kau sembuh dengan begitu cepat,” kata Walter.

Marc mengernyit tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh kakeknya. Marc hanya merasa kalau Walter mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak diketahuinya. Melihat Marc hanya memandanginya, Walter kembali bicara. “Dimana Andrew? Apa dia keluar untuk makan siang?” tanyanya.

Marc mengangguk. “Apa Kakek kesini untuk menemuinya? Aku bisa menghubunginya. Walaupun aku tidak yakin, dimana Ibu menyimpan ponselku,” gumamnya pelan.

“Itu tidak perlu. Aku kesini untuk menemuimu. Aku bisa bicara dengan Andrew nanti. Melihatmu cukup sehat, aku akan langsung bertanya. Mengenai project nemesis,” tutur Walter.

Tentu saja! Mana mungkin Walter Choi menemuinya di rumah sakit hanya sebagai seorang Kakek. Walter mungkin lebih mengkhawatirkan perkembangan evaluasi project nemesis dibandingkan kondisi Marc sendiri.

Marc menarik nafas panjang. “Ah, aku akan menyelesaikan evaluasinya dengan cepat. Team Leader Ji akan bertanggung-jawab sementara, tapi aku akan mengawasinya secara langsung, Presdir,” kata Marc dengan cepat.

Walter menghela nafas. “Ini hari Minggu, Marcus. Posisiku saat ini bukanlah sebagai Presdir. Apa selama ini kau hanya memandangku sebagai Presdir dan bukan seorang kakek? Dan sepertinya kau salah mengartikan pertanyaanku mengenai project nemesis itu.”

Marc terdiam.

“Seperti yang kukatakan mengenai project nemesis, apa yang akan terjadi pada project tersebut hingga kau harus melakukan evaluasi ulang? Andrew juga terlihat sedang mencemaskan sesuatu. Terlebih dengan gadis bernama Annabelle Kim itu. Gadis itu adalah putri David Kim, bukan? Bisakah kau menjelaskannya padaku?”

Mata Marc melebar ketika Walter menyebut nama Annabelle Kim. Bagaimana Kakek mengetahui gadis itu? pikir Marc. Tapi Walter tidak hanya mengetahui mengenai Annabelle Kim saja. Walter sepertinya mengetahui sesuatu yang jauh lebih besar, bahkan termasuk masa depan dari project nemesis. Marc meyakini hal tersebut. Hanya saja, Walter tidak akan mengungkapkannya secara langsung, kecuali Marc yang mengatakannya.

Marc menelan salivanya. Bibir dan tenggorokannya terasa kering. Marc kemudian menarik nafas dan mengatakan sesuatu yang sudah berada diujung lidahnya. “Gadis itu, Annabelle Kim datang menemui kami dan mengatakan kalau akan terjadi sebuah kecelakaan besar di project nemesis. Gadis itu…” Marc terdiam sejenak. Ia berusaha membaca ekspresi Walter, tapi sangat sulit. “Gadis itu melihat kecelakaan project nemesis dalam kilasan masa depan. Karena itu aku melakukan evaluasi ulang terhadap project nemesis dan menunda waktu peluncurannya,” lanjutnya.

Walter menghela nafas dan mengangguk. “Begitu rupanya. Apa ini ada kaitannya dengan pembunuh berantai itu?” tanyanya lagi.

Sekali lagi, Marc dibuat terkejut. Tapi berita mengenai pembunuh berantai itu sudah tersebar dimana-mana, Walter mungkin sudah mengetahuinya. Namun, entah bagaimana Walter Choi mengetahui bahwa pembunuh itu akan berkiatan langsung dengan kecelakaan project nemesis. Marc hanya mengangguk.

“Ini memang seburuk dugaanku,” gumam Walter.

Marc masih memandangi Walter dengan lekat. Ada sesuatu yang ingin ditanyakannya. Marc sudah mengatakan apa yang seharusnya menjadi rahasia. Namun, reaksi Walter terlihat begitu tenang, seakan dia sudah memperkirakan hal ini sebelumnya. Seakan Walter memiliki kesamaan dengan mereka.

“Kakek…”

Walter menatap Marc dengan serius. Marc menahan nafas untuk beberapa detik. “Apa kemampuan yang Kakek miliki?” tanyanya dengan ragu.

Marc mungkin telah bertanya hal bodoh, tapi dia perlu memastikan sesuatu. Marc perlu memastikan apakah Walter Choi adalah super human sama sepertinya dan Andrew. Karena semua ucapan Walter padanya, membuat Marc berasumsi demikian.

“Kemampuan? Apa maksudmu, Marcus?” tanya Walter. Ia masih terlihat sangat tenang.

“Kemampuan super. Seperti kataku, Annabelle, gadis itu bisa melihat masa depan. A-andrew bisa mengendalikan peralatan eletronik dan semacamnya. Dan aku mempunyai….”

Ucapan Marc terhenti. Rasanya bodoh sekali mengatakan itu pada kakeknya yang terlihat tidak mengerti walaupun jauh dalam firasat Marc, Walter pasti mengetahui apa yang dikatakannya. Walter tersenyum tipis. Ini adalah pertama-kalinya Marc melihat Walter tersenyum seperti itu padanya. Walter selalu menatapnya dengan serius, seakan dia mengharapkan yang terbaik yang Marc harus berikan. Seperti yang Walter inginkan dari Andrew.

“Aku tidak mempunyai kemampuan seperti itu, Marcus. Tapi aku mengetahui kalau kalian memilikinya. Karena Watson pun sama seperti kalian dan kakakku tidak akan menutupi apapun dariku,” ucap Walter pada akhirnya.

*****

Advertisements

4 thoughts on “[MM] Super Human – 1st Story [14]

  1. wah makin seru ini.
    ternyata keluarga besar choi adalah keluarga super human.jadi penasaran kemampuan apa yang dimiliki watson choi.
    ditunggu lanjutannya dan jangan lama2 ya thor

  2. Woowwww makin penasaran dengan ff ni
    Luka Marc di lengan tangannya, kenapa Marc tidak ingat???
    Haduuuuhhhh penasaran

    Kalo Marc memiliki kemampuan apid cellular regeneration dari Sully, berarti Mark gak akan pernah terluka lagi dong…. Padahal suka banget kalo Marc terluka hehehe

    Bener-bener senang ketika ff ni lanjut, pokokny ff ni selalu ditunggu kelanjutannya…..

  3. sungguh selalu di buat penasaran sama ff super human ini diera eonni…
    di setiap partnya selalu ada kejutan… kejutan…
    keren..

    keluarga choi kayaknya mempunyai super human semua yah… turun menurun kekuatannya…

    makasi eonni… dan fighting…

  4. Senang..rasanya sudah jauh lebih baik untuk keadaan Mark .
    Dan sepertinya pembunuh itu mmng sangat luar biasa.
    Dan lebih mengejutkan lagi adalah..mengenai pembicaraan Mark dan sang kakek.Sepertinya ini akan menjadi luar biasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s