[MM] Super Human – 1st Story [13]

super human

Chapter Thirteen

Semua perhatian di ruangan tersebut kini tertuju pada sosok Marc yang masih memejamkan mata. Andrew berharap dengan sangat besar kalau sentuhan tangan Sully akan berhasil membuat Marc sadar. Dia tidak akan peduli dengan tanggapan Steve. Yang terpenting baginya, Marc kembali sadar. Andrew memperhatikan Marc dengan lekat. Berharap menemukan tanda-tanda kalau Marc akan segera sadar.

Steve berjalan mendekati ranjang Marc. Ia menarik Sully untuk segera menjauh dari tempat tidur Marc. Sully kemudian berdiri di dekat Victoria yang merangkulnya. Dennis dan Max masih berdiri dekat pintu. Max menutup pintu dan mencoba untuk mengontrol kekuatannya agar pintu tersebut tidak mudah dibuka. Jika hal buruk terjadi, setidaknya kemampuan Max dapat dijadikan sebagai pelindung. Steve dan Andrew masih memperhatikan Marc dengan serius. Steve sendiri tidak tahu berapa lama sampai tubuh Marc memberikan reaksi. Ia hanya berharap kalau reaksinya tidak seburuk yang sudah pernah terjadi.

Namun, hingga lima menit yang penuh kesunyian dan ketegangan, Marc tidak memperlihatkan reaksi apapun. Steve menghela nafas. Mungkin cara itu tidak berhasil atau reaksinya lebih lambat karena kondisi tubuh Marc sendiri. Andrew menatap pada Steve dengan lekat.

“Kau mau bicara apa lagi sekarang?” tanya Andrew dengan dingin.

Ini pertama-kalinya Andrew bicara seperti itu. Bahkan Victoria pun terkejut mendengar cara Andrew bicara pada Steve. Andrew adalah tipikal orang yang sangat sabar bahkan jika dihadapkan pada masalah pelik sekalipun. Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku pada Andrew jika berkaitan dengan Marc.

Steve membalas tatapan Andrew. “Apa yang ingin aku bicarakan? Ini adalah tindakan paling gila yang pernah kaulakukan, Andrew. Tidak peduli sebesar apa rasa putus-asa-mu itu, kau tidak bisa membahayakan nyawa Marc dengan cara seperti ini. Marc akan sadar dengan sendirinya tanpa kau harus melakukan hal gila ini.”

“Tapi sampai kapan?!” Andrew sekarang berteriak. “Ini sudah dua hari. Dokter hanya mengatakan bahwa operasinya berhasil dan kami harus menunggu. Tapi kami harus menunggu sampai berapa lama? Kau tidak tahu bagaimana kondisi Marc saat dibawa ke rumah sakit! Kau tidak melihat bagaimana ibunya terus menjaganya di rumah sakit, bahkan hampir pingsan. Aku perlu berusaha keras agar ibunya mau pergi keluar untuk makan siang. Kau tidak pernah melihat bagaimana kondisi Marc setiap kali dia masuk rumah sakit. Tapi aku pernah, Stephen Jung. Aku yang selalu berada disisinya setiap kali dia merasakan kesakitan. Aku yang selalu melihatnya menahan kesakitan itu sendirian. Dan kau bilang, apa yang kulakukan ini membahayakan nyawanya?”

Emosi Andrew meledak begitu besar. Bahkan karena emosinya yang tidak terkontrol beberapa peralatan di ruangan tersebut mulai terkena dampaknya. Televisi, AC, lampu-lampu dan juga peralatan medis yang memantau kondisi Marc mulai tidak terkendali. Bahkan efeknya tidak hanya di ruangan itu, semua peralatan elektronik di lantai tersebut juga mengalami hal yang sama. Bahkan sepertinya kekuatan Andrew terlalu besar hingga Max tidak bisa menahan kekuatannya tersebut. Hal itu menimbulkan ketakutan. Mereka bisa mendengar suara gaduh para suster di luar kamar tersebut.

“Andrew Choi, kendalikan emosimu dan juga kemampuanmu itu. Ini tidak akan membantu Marc sama sekali. Jika kalian ingin berdebat, lakukan diluar,” seru Victoria. Namun, Andrew masih belum bisa mengontrol kemampuannya. Ia masih menatap Steve dengan penuh amarah. “Andrew Choi, kubilang kendalikan kemampuanmu! Kau bisa membunuh Marc!”

Perlahan emosi Andrew mulai mereda. Begitu juga dengan kemampuannya. Semua peralatan elektronik mulai bekerja normal kembali. Max dan Dennis yang sedari tadi menahan nafas melihat emosi Andrew, kini mulai bernafas lega. Dennis benar-benar dikejutkan.

Dalam satu hari, dia melihat begitu banyak perubahan emosi, terutama dari Andrew.

Dennis berusaha menyembunyikan senyumannya. Kini dia semakin menyukai orang-orang yang baru ditemuinya. Perlahan situasinya kembali sunyi. Victoria dan Sully memilih untuk duduk di sofa sedangkan Steve menjauh dari Andrew. Dia berdiri dekat jendela. Dennis dan Max sendiri masih berdiri dengan pintu untuk berjaga-jaga. Perhatian Andrew kembali tertuju pada Marc.

Dennis memperhatikan sekeliling kamar rawat tersebut. Kamar tersebut bukanlah kamar VIP, tapi fasilitasnya layaknya kamar rawat VIP. Sekali lagi, Choi Incoporate tahu bagaimana memanfaatkan uang mereka. Perhatian Dennis teralihkan pada sebuah tangkai bunga krisan. Ia berjalan menghampiri bunga tersebut dan menyentuhnya.

Tiba-tiba Dennis memejamkan matanya. Tubuhnya sedikit menegang dan nafasnya terasa berat. Selama beberapa detik Dennis dalam kondisi seperti sebagian nyawanya tertarik keluar. Max yang memperhatikannya tidak mengatakan apapun. Tak lama, Dennis menghela nafas. Ia membuka matanya perlahan dan menatap bunga krisan ditangannya.

“Pembunuh itu pernah disini,” ucapnya.

Andrew sontak menatapnya. Dennis berbalik dan menatap Andrew. “Pembunuh itu tadi disini. Bunga ini adalah miliknya,” kata Dennis lagi.

Semua orang kini memperhatikan Dennis. Sully bahkan kembali teringat pada pria yang dicurigainya setelah Dennis mengatakan pembunuh itu pernah datang ke ruangan tersebut. “Pria tadi. Pria yang melewati kita di koridor menuju kamar ini. Dia adalah pembunuhnya,” ucap Sully.

Andrew sontak melepaskan genggaman tangannya dari Marc dan berdiri. Ia menatap Dennis dengan serius. “Kau yakin?” tanya Andrew.

“Tidak juga. Aku tidak melihatnya dengan jelas. Itu mungkin karena kemampuan Max yang menekan kemampuanku. Tapi aku bisa mencoba untuk lebih berkonsentrasi lagi, jika Max tidak terlalu dekat denganku,” kata Dennis. Kemudian ia menatap Max. “Jangan terlalu diambil hati. Tapi itu memang benar.”

Max hanya mengangkat bahunya. Walaupun Steve mengatakan bahwa Max sudah bisa mengontrol kemampuannya dengan baik, tapi Max masih harus banyak berlatih. Ucapan Dennis, mengingatkan Andrew mengenai kemampuan Max sebagai penekan kemampuan super human lainnya. Mungkin karena Max berada di ruangan yang sama, Marc sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun.

Jika Max keluar dari ruangan ini, mungkinkah…

Steve menatap Andrew. “Aku tahu apa yang kau pikirkan, Andrew. Jangan mencobanya. Kita masih belum yakin.”

Victoria menatap Steve dan Andrew bergantian. Awalnya ia tidak memahami ucapan Steve, tapi Victoria sepertinya mulai mengerti saat ia melirik pada Max. Victoria sedikit lupa kalau Max bisa menahan semua kemampuan super human lainnya hingga mereka hanya manusia biasa. Victoria menghela nafas berat. Andrew dan Steve mungkin akan kembali bertengkar lagi. Dan ia tidak ingin terlibat lagi.

Victoria lalu menoleh pada Dennis. “Kau bisa melacak pria itu?”

“Bawakan aku peta kota Seoul. Peta lengkap kota Seoul termasuk jalur trasnportasinya. Aku bisa menunjukkan kemana pria itu pergi. Dan Andrew mungkin bisa melihat rekaman CCTV untuk lebih memastikan,” kata Dennis dengan tersenyum.

*****

Andrew dengan cepat memberikan perintah agar segera meningkatkan keamanan Mediction, terutama di lantai tujuh dan beberapa orang menjaga di depan pintu kamar rawat Marc. Andrew juga meminta rekaman CCTV pada bagian keamanan selama dua jam terakhir. Andrew perlu melihat sendiri orang yang merupakan ancaman terbesar bagi mereka.

Victoria, Dennis dan Sully kembali ke Lab untuk melacak pembunuh itu. Fasilitas di Lab lebih memungkinkan untuk melacak keberadaan pria tersebut, selain itu Sully juga membutuhkan pengamanan lebih ketat lagi karena pria itu sudah mengetahui keberadaannya. Dapat dipastikan pria itu akan kembali lagi. Steve dan Max tetap berada di Mediction untuk berjaga-jaga. Sejauh ini, Marc belum memberikan reaksi apapun tapi mereka tidak bisa lengah begitu saja. Kemampuan Max bisa digunakan untuk meredam kemampuan Marc jika diluar kendali.

Selama setengah jam, sama sekali tidak ada tanda apapun. Marc masih tertidur. Pergerakan alat vitalnya pun normal. Seolah kemampuan Sully tidak memberikan pengaruh apapun pada Marc. Tapi Andrew mempunyai hipotesa lain kenapa Marc sama sekali tidak memberikan reaksi. Hipotesa yang sama yang dipikirkan oleh Steve –karena itu dia tidak meninggalkan ruangan tersebut dan menyuruh Max tetap di ruangan yang sama.

Max sendiri tidak keberatan jika dia harus di ruangan itu, tapi Andrew adalah atasannya. Jika Andrew menyuruhnya untuk keluar, Max akan keluar tanpa peduli dengan larangan Steve. Heck, Max tidak ingin dipecat hanya karena tidak menuruti perintah atasannya, walaupun dia tidak yakin kalau Andrew mempunyai pemikiran seperti itu.

Andrew masih duduk tepat disamping ranjang Marc. Ia memperhatikan wajah Marc dan setiap tarikan nafasnya. Marc benar-benar terlihat seperti sedang tertidur pulas dan Andrew tidak berani untuk membangunkannya. Tapi Andrew harus melakukannya. Saat ini bukan hanya pembunuh itu yang sedang dikhawatirkan Andrew, tetapi juga project nemesis. Kakek mereka hanya memberikan waktu selama satu bulan untuk Marc menyelesaikan evaluasi ulang dan mengatur peluncuran ulang. Selain itu, mereka masih belum mengetahui kapan kecelakaan itu akan terjadi. Waktu satu bulan tidak akan cukup.

Andrew harus melakukan sesuatu.

Kemudian Andrew menghela nafas. Ia lalu melepaskan genggaman tangannya dan berdiri. Steve masih memperhatikan Andrew ketika pria Choi itu berjalan menuju pintu. “Kau mau kemana, Andrew?” tanya Steve.

“Aku ingin melihat rekaman CCTV-nya. Apa aku juga harus melaporkan kemana pun aku akan pergi padamu, Professor Jung?” jawab Andrew dengan dingin. Kemudian Andrew membuka pintu dan berjalan keluar.

Setelah menghitung selama lima detik, Max akhirnya bisa bernafas. Suasananya begitu tegang hingga Max kesulitan untuk bernafas dengan nyaman. Terlebih ini adalah pertama-kalinya dia melihat Andrew marah besar dan itu sangat menyeramkan. Selain itu, dampak dari kemarahan Andrew juga berpengaruh pada semua peralatan elektronik. Max tidak bisa membayangkan bagaimana efeknya jika semua emosi Andrew meledak.

Max melirik Steve yang menarik nafas dan mengusap wajahnya. Hari ini berjalan begitu lambat dan sekarang masih setengah hari. Entah apa yang akan terjadi dalam duabelas jam berikutnya. Max menyandarkan kepalanya di sofa dan memejamkan matanya sejenak. Dia belum makan siang tapi sudah terlalu lelah dengan semua yang terjadi dalam waktu singkat.

Max tidak mempunyai selera untuk makan.

Tiba-tiba ponsel milik Steve berdering. Max membuka mata dan melihat Steve menerima panggilan tersebut. Namun, sepertinya sinyalnya begitu buruk. Steve berulang-kali mengatakan halo dan mengatakan dia tidak bisa mendengar dengan jelas. Max menghela nafas. “Terima di luar, professor. Mungkin sinyal disini buruk,” ujarnya.

Steve melirik Max. “Kau tunggu disini, okay. Jangan keluar dari ruangan ini bahkan jika Andrew mengancam akan membunuhmu.” Kemudian Steve berjalan keluar kamar tersebut untuk mencari sinyal yang lebih baik.

Max hanya mendesis lalu kembali memejamkan matanya lagi. Ia tidak tahu kalau Steve bisa bersikap berlebihan seperti itu. Andrew mungkin akan mengancam memecatnya, tapi mengancam untuk membunuhnya? Itu terdengar tidak masuk akal. Walaupun Max merinding hanya dengan memikirkan ekspresi Andrew yang mengancamnya. Max membuka matanya.

Kemudian ia merogoh saku celananya. Ia sedikit mengernyit ketika tidak mengenal nomor yang meneleponnya tersebut. Max melirik kearah Marc yang masih terbaring. Jika dia mengangkat telepon tersebut, setidaknya Max harus keluar kamar. Tapi Steve melarangnya untuk keluar kamar tersebut, sedangkan ponselnya terus saja berdering.

Tak lama, suara deringnya berhenti. Max menghela nafas dan menganggap kalau telepon itu tidak begitu penting. Namun, ketika ia hendak memasukkan kembali kedalam saku celana, ponselnya kembali berdering. Max hampir mengumpat. Jika orang itu menghubunginya lagi, maka itu mungkin telepon penting. Tapi siapa yang mau meneleponnya di hari Minggu seperti ini?

Andrew kembali dan menatap Max dengan lekat. “Kenapa tidak diangkat?” tanya Andrew yang terus mendengar ponsel Max berdering tapi Max tidak langsung menjawabnya.

Max memandangi Andrew dengan canggung. “Disini sepertinya tidak mendapat sinyal yang bagus. Professor Jung tadi bahkan keluar saat menerima panggilan telepon. Jadi, aku…”

Andrew masih berdiri di dekat pintu. “Kalau begitu terima saja diluar.”

“Eh?”

“Coba berdiri di depan pintu. Siapa tahu, kau bisa mendapat sinyal yang bagus. Jika Steve melarangmu keluar dari kamar ini, well.. kau hanya berdiri tiga langkah dari pintu. Kau bisa masuk dengan cepat jika terjadi sesuatu. Lagipula aku bukan ingin melakukan percobaan bunuh diri hingga harus selalu dijaga seperti ini. Aku juga bukan seorang tahanan. Selain itu, bagaimana kalau telepon itu berkaitan dengan pekerjaan? Kau tidak mungkin akan mengabaikan pekerjaanmu, bukan?” kata Andrew tenang.

Max semakin bingung. Disatu sisi, Steve menyuruhnya untuk tetap di ruangan itu tapi disisi lainnya ponselnya terus saja berdering hingga beberapa kali. Selain itu, Max juga merasa sedikit terintimidasi oleh tatapan Andrew. Sepertinya emosi atasannya itu belum sepenuhnya mereda, Max tidak ingin melakukan kesalahan hingga membuat Andrew kembali marah besar seperti tadi.

Max menarik nafas lalu berdiri dari sofa dan berjalan menuju pintu. Ia menatap Andrew sekali lagi. Walaupun dalam hatinya merasa tidak yakin, Max akhirnya melangkah keluar kamar. Ia menjawab telepon tersebut tapi tidak mendengar suara apapun. Kemudian Max mendengar suara pintu tertutup dan dikunci dari dalam.

Max mengumpat kasar dan berusaha membuka pintu tersebut. Tapi percuma Andrew benar-benar menguncinya. Max melirik ponselnya. “Shit! Pasti Andrew yang melakukannya?” gumam Max yang kemudian memasukkan ponselnya kedalam saku celana.

Hell, memang siapa yang mau menghubunginya soal pekerjaan di hari Minggu? Selain itu, Andrew mempunyai kemampuan untuk mengontrol semua peralatan elektronik. Salah satunya, tentu saja ponsel. Max begitu bodoh karena mudah terjebak.

“Andrew!! Buka pintunya!! Hey, Andrew Choi! Apa yang kau lakukan?!!” teriak Max dengan keras. Ia tidak peduli jika mengganggu ketenangan rumah sakit. Bahkan Max tidak peduli kalau saat ini dia sedang memanggil nama atasannya tanpa gelas jabatannya. Yang terpenting saat ini adalah mencegah Andrew melakukan hal gila yang disebutkan oleh Steve.

“Andrew Choi!!”

Di dalam kamar tersebut, Andrew segera menghampiri ranjang Marc. Tubuh Marc sudah menunjukkan reaksi. Jadi, keberadaan Max benar-benar menahan dengan kuat setelah Sully menyentuh Marc. Semua peralatan medis menunjukkan perubahan yang drastic, bahkan tubuh Marc mulai berguncang keras. Andrew segera menggenggam tangan Marc dan menahan tubuh Marc.

Andrew memperhatikan mesin deteksi detak jantung dan beberapa peralatan medis lainnya. Semuanya menunjukkan perubahan signifikan. Sepertinya tubuh Marc sedang melakukan penyesuaian terhadap kemampuan rapid cellular regeneration milik Sully. Karena setiap Marc mendapatkan kemampuan baru, inilah reaksi yang biasa diperlihatkan oleh tubuh Marc. Jika dalam keadaan sadar, Marc mungkin akan berteriak kesakitan –seperti yang selalu disaksikan oleh Andrew. Mungkin saat ini pun tubuh Marc sedang berteriak kesakitan. Namun, Andrew tidak bisa melakukan apapun untuk mengurangi rasa sakitnya. Ia merasa sangat tidak berguna setiap Marc dalam kondisi seperti ini.

Andrew kemudian menahan kedua bahu Marc agar menjaga tubuh Marc tidak terlalu berguncang keras. Andrew memejamkan matanya dan berharap segera berakhir. Andrew hanya menginginkan Marc agar segera sadar, tapi dia tidak pernah berharap untuk melihat Marc kesakitan dalam tidurnya. Dua menit berlalu dan tubuh Marc mulai tenang. Andrew bisa merasakan Marc kembali bernafas dengan normal, begitu juga detak jantungnya. Bahkan Andrew juga tidak mendengarkan lagi suara teriakan Max diluar kamar.

Dua menit itu bagaikan sebuah penyiksaan bagi Andrew.

Perlahan Andrew membuka matanya dan menegakkan tubuhnya. Ia memperhatikan Marc dengan lekat. Andrew tidak melihat perubahan apapun. Kondisi Marc masih sama seperti sebelumnya. Mata Marc masih tertutup seperti sebelumnya.

“Tidak berhasil? Ba-bagaimana mungkin?” gumam Andrew tidak percaya. Andrew kemudian menguncangkan bahu Marc. “Marc? Marc?! Kau bisa mendengarkanku? Marc?!!”

Tapi tidak ada respon apapun. Andrew kembali memperhatikan semua alat medis tersebut. Walaupun ia tidak begitu mengerti, tapi Andrew tahu bahwa semuanya normal. Andrew kembali menguncangkan tubuh Marc. Mata Andrew terlihat berkaca-kaca. “Hey, Marcus Cho! Jika kau sudah bangun, ayo buka matamu! Jika ini adalah salah satu leluconmu, maka aku akan menghukummu lagi. Yak, Marcus Cho!!” teriaknya dengan tertahan.

Andrew berusaha untuk tidak menangis.

Namun, Andrew kemudian memeluk tubuh Marc dengan erat. Tangisnya pecah. Kini ia menangis di bahu Marc. Andrew merasa harapannya mulai hancur setelah kemampuan Sully tidak berhasil menyadarkan Marc. Andrew hanya menginginkan Marc segera sadar. Ia tidak ingin tidur seorang diri di apartment besarnya. Bahkan selama Marc di rumah sakit, Andrew hanya bisa tidur di kamar Marc.

Andrew merindukan Marc.

“Kumohon, Marc. Kumohon, buka matamu.”

Suara Andrew terdengar serak karena menangis. Namun, tangisan Andrew belum berhenti dan dia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Marc.

Ruangan tersebut kini hanya dipenuhi oleh suara tangisan Andrew dan suara mesin detak jantung. Semuanya terasa begitu asing. Waktu seakan berjalan begitu lambat. Dan tidak ada yang terlihat begitu jelas. Semuanya mengabur dalam bias cahaya terang.

Terlalu sunyi.

Terlalu menakutkan.

Terlalu menyesakkan.

“Andrew? Tolong lepaskan pelukanmu. Aku tidak bisa bernafas.”

Andrew mengenali suara itu dimana pun. Sontak ia mengangkat kepalanya dan melonggarkan pelukannya. Andrew bisa melihat mata berwarna coklat tersebut dengan jelas. Andrew tersenyum. Kemudian ia tertawa kecil. Airmatanya masih jatuh.

“Kau jelek sekali kalau menangis.”

Tawa Andrew semakin keras saat mendengar ejekan tersebut. Ia menyentuh wajah tersebut dengan berhati-hati. Andrew tidak ingin membuatnya merasa kesakitan lagi. Andrew hanya perlu merasakan bahwa dia sudah kembali hidup. Ketika jemari Andrew merasa sensasi hangat, ia tersenyum. Kemudian Andrew kembali memeluk dengan erat. “Terima kasih Tuhan.”

“Hey, Andrew Choi! Kubilang lepaskan pelukanmu!! Aku tidak bisa bernafas! Yak, Andrew!”

Kini ruangan tersebut dipenuhi oleh ucapan terima kasih Andrew dan teriakan Marcus Cho yang meminta Andrew melepaskan pelukannya.

*****

Laura masih memeluk putranya dengan erat. Walaupun Marc merasa risih dengan sikap ibunya, tapi dia mencoba untuk bertahan. Marc bukan tipikal anak yang merasa nyaman dengan afeksi dari orang lain, atau bahkan orangtuanya sendiri. Saat Laura dan Marco kembali dari makan siang, mereka menemukan Marc sudah tersadar dan sedang menyantap bubur sebagai makanan pertamanya setelah dua hari. Walaupun tidak menyukai bubur dengan rasa hambar, Andrew tetap memaksanya untuk memakan bubur tersebut.

Kini Marco dan Andrew bisa tersenyum lega.

“Sayang, kurasa sudah cukup memeluk Marcus untuk hari ini. Kau lihat wajah putra kita. Merah sekali,” gurau Marco.

Laura kemudian melepaskan pelukannya. Ia memperhatikan wajah putranya. “Apa kau merasa sakit, sayang? Apa kau demam?” tanya Laura.

Marc berusaha untuk tidak mendengus. Ia tersenyum tipis dan menggeleng. “Bu, itu salah satu lelucon Ayah yang tidak lucu. Aku baik-baik saja. Sedikit merasa sakit di beberapa tempat, tapi selebihnya aku baik-baik saja. Mungkin hanya perlu ruang yang lebih luas.”

“Hey, apa kau baru saja mengatakan kalau semua lelucon Ayah tidak lucu? Tidak sopan,” ujar Marco sembari memukul kepala Marc dengan lembut. Marc hanya menyeringai.

Marc tidak pernah menyadari kalau dia sangat merindukan orangtuanya. Walaupun Marc bisa pulang kapan saja, namun ia memilih untuk sedikit menjaga jarak agar tidak membahayakan keluarganya jika Marc sedang tidak bisa mengontrol kemampuannya. Andrew saja masih kesulitan untuk mengontrol Marc, bahkan ia sendiri tidak tahu bagaimana Andrew bisa bertahan selama ini untuk menjaganya.

Marc menatap Andrew yang berdiri tidak jauh dari ranjang rawatnya. Marc tahu kalau Andrew telah melakukan sesuatu, karena ia merasakan perubahan pada tubuhnya. Tapi Marc hanya berharap kalau kecurigaannya adalah salah. Marc kemudian menatap Laura dan Marco.

“Bu, kata Andrew, Ibu belum pulang ke rumah sejak kecelakaan itu. Bagaimana kalau hari ini Ibu dan Ayah pulang? Lagipula aku sudah sadar bukan? Andrew bisa menjagaku untuk hari ini,” kata Marc.

Ekspresi Laura berubah sedih. “Kau tidak mau Ibu disini bersamamu?”

“Bukan begitu, Bu. Apa hari ini Ibu bercermin? Ibu terlihat pucat sekali. Aku tidak mau akhirnya Ibu harus ikut dirawat. Pulanglah untuk hari ini saja. Lagipula Clara tidak mungkin tinggal bersama Bibi Louise terus. Dia dan Noah bisa bertengkar seharian dan Bibi Louise pasti kewalahan,” Marc berusaha memberi penjelasan. Tapi sepertinya Laura sama sekali tidak tergerak. Kemudian Marc menatap Marco untuk meminta bantuan.

Marco tertawa kecil dan mengusap kepala Marc. Ia lalu menatap Laura. “Turuti saja keinginan Marcus, sayang. Lagipula apa yang dikatakan Marcus ada benarnya. Mungkin dalam dua atau tiga jam lagi, kau akan pingsan. Kita juga perlu memperhatikan putri kita. Setidaknya untuk memastikan dia tidak mempunyai bekas luka selama tinggal bersama Louise,” Marco lalu melirik kearah Andrew. “Noah terkadang bisa sangat kasar jika mereka sudah berdebat.”

Andrew hanya tertawa mendengarnya. Noah dan Clara memang sering-kali tidak akur. Mereka sering terlibat perdebatan yang sedikit kasar. Noah dan Clara sama-sama sudah memiliki ban hitam untuk taekwondo. Jadi, jika perdebatan mereka sudah semakin memanas, akan berakhir dengan perkelahian –tidak peduli jika Clara adalah seorang gadis, Noah tidak akan mengalah.

“Aku lebih mengkhawatirkan Clara sekarang,” ujar Andrew.

Laura menghela nafas. Dia sudah kalah jumlah. Marc mungkin akan terus-terusan membujuknya pulang tanpa henti. Laura menyentuh wajah Marc dan mengusapnya lembut. “Baiklah, Ibu pulang. Tapi besok Ibu akan datang lagi. Selain itu, Ibu akan meminta perkembangan pada dokter mengenai kondisimu dan kau harus membalas semua pesan Ibu, mengerti?”

Marc mengangguk. “Aku mengerti, Bu. Ibu bisa melakukan apapun jika itu membuat Ibu lebih tenang. Ibu juga bisa meneror Andrew jika Ibu mau. Sekarang pulanglah. Aku akan baik-baik saja.”

Laura tersenyum dan mengecup kening Marc. Kemudian ia berdiri dan mengambil tas tangannya. Sekali lagi, Laura mengusap pipi Marc dengan penuh kasih sayang. Marco merangkul Laura dan menatap putranya dengan serius. “Jangan membuat Ibumu seperti ini lagi, Marcus Cho. Ayah tidak rela melihat Ibumu lebih memilih pingsan karena menjagamu ketimbang kesehatannya sendiri.”

Laura lalu memukul Marco dengan jengkel. “Jangan bicara seperti itu pada putramu sendiri, Marco Cho.”

Marc tertawa kecil. “Ayah kalah lagi. Ibu akan selalu lebih memilihku.”

“Kau sama saja, Marcus Cho. Jaga bicaramu,” omel Laura. “Kau harus banyak istirahat. Andrew, tolong jaga Marcus hari ini, ya?”

Andrew tersenyum dan mengangguk. Kemudian Marco dan Laura berjalan keluar dari kamar tersebut. Marc akhirnya bisa menghela nafas lega setelah pintu tertutup. Andrew kemudian duduk di kursi dengan sebuah senyuman masih di wajahnya. Tapi Marc mendengus jengkel.

“Suruh Steve dan Max masuk. Aku ingin mendengarkan penjelasan kalian semua. Terlebih aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku saat ini. Dan aku tidak akan percaya pada penjelasanmu saja, Andrew Choi,” kata Marc.

“Aku tahu, Marcus Cho.” Andrew lalu menelepon Max dan memberitahu kalau mereka sudah bisa masuk ke kamar rawat.

Saat Steve dan Max memasuki kamar, Marc bisa langsung merasakan aura yang berbeda. Steve terlihat sangat marah dan Max yang terlihat sangat canggung. Selain itu, Andrew bahkan tidak tersenyum lagi saat mendengar pintu terbuka. Steve dan Andrew tidak saling menatap.

Ketika melihat kedua pria tersebut berdiri dekat ranjang rawatnya, Marc menegakkan tubuhnya dan menyilangkan kedua tangan didepan dada. Ia memperhatikan Andrew, Steve dan Max secara bergantian.

Marc menghela nafas. “Baiklah, aku ingin dengar penjelasan dari masing-masing sudut pandang kalian. Tapi jelaskan dulu secara umum apa yang sebenarnya terjadi sebelum aku sadar. Jangan ada yang terlewatkan sedikit pun.”

*****

Anna membuka pintu kamarnya begitu mendengar suara ketukan. Ia melihat Aiden yang membawa sebuah nampan berisi satu gelas jus dan sepiring berisi beberapa cookies. Sepertinya Mary meminta Aiden untuk membawakan makanan tersebut, karena biasanya Nikky yang datang. Itu dilakukan Mary, agar Nikky dan Anna setidaknya bisa mengobrol sedikit. Tapi Anna cukup terkejut melihat Aiden yang datang.

Aiden tersenyum. “Boleh aku masuk? Untuk menaruh ini.”

Anna lalu sedikit menyingkir dari pintu dan mempersilakan Aiden masuk. Dengan senyuman yang semakin lebar, Aiden berjalan masuk dan menaruh nampan tersebut di meja. Ia sempat melirik komputer Anna dan melihat kalau gadis itu sepertinya sedang mencari informasi mengenai sinkhole.

“Kau sedang melakukan penelitian mengenai sinkhole? Karena kecelakaan kemarin?” tanya Aiden penasaran. Rasanya saat di meja makan, Anna sama sekali tidak memperlihatkan kalau dia tertarik dengan kejadian sinkhole kemarin. Anna lebih sering diam dan hanya menjawab pertanyaan untuk dirinya.

Anna melirik komputer dan beberapa kertas catatannya. Ia tidak menyangka kalau Aiden akan memperhatikan apa yang sedang dikerjakannya. Biasanya, Nikky atau Mary tidak begitu sensitif untuk bertanya mengenai apa yang dilakukannya. Nikky dan Mary hanya bertanya mengenai hal-hal umum seperti bagaimana kehidupannya di Berlin, teman-temannya, apa yang dikerjakan selama di Berlin.

Tapi Aiden lebih peka dari yang terlihat.

“Itu untuk salah satu buku yang sedang kusunting. Penulisnya menjelaskan mengenai sinkhole pada salah satu bab-nya. Kurasa hanya kebetulan dengan apa yang terjadi kemarin,” kata Anna.

Well, Anna tidak sepenuhnya berbohong. Ia memang sedang menyunting sebuah buku. Hanya saja, tidak ada dalam buku tersebut yang menyebutkan mengenai sinkhole. Tapi Aiden cukup percaya dengan alasan tersebut. Aiden memperhatikan kamar tersebut. Tidak seperti kamar Nikky –walaupun sepertinya ukuran kamar mereka sama– kamar Anna jauh lebih simple. Tidak terlalu banyak barang-barang pribadi yang diletakkan di kamar tersebut. Selain itu, Aiden juga melihat dua buah koper di sudut ruangan dekat lemari pakaian.

Apa dia tidak lama tinggal disini? Dia akan segera pulang ke Berlin?

Anna menatap Aiden yang sedang melihat-lihat kamarnya. Ia menghela nafas, kemudian kembali duduk di mejanya. Anna lalu melirik Aiden yang terlihat ingin lebih lama berada di kamarnya. Entah untuk alasan apa. “Ada lagi?” tanyanya.

Aiden menatap Anna dan kembali tersenyum. “Terakhir kali kita bertemu di coffee shop, kau bilang kita bisa lebih lama mengobrol.”

“Benarkah?”

Aiden mengangguk lalu duduk di sofa yang diletakkan diujung tempat tidur. Aiden memperhatikan Anna dengan lekat. “Well, aku ingin lebih mengenal sepupuku sendiri. Apakah itu salah?”

Anna terdiam sejenak. Lalu menggeleng. “Itu tidak salah. Hanya saja, aku sedang sibuk saat ini. Kita mungkin bisa bicara lain kali,” katanya.

“Oh, lain kali? Apa kau berencana untuk tinggal lebih lama di Seoul?”

Anna menghela nafas. Ia sedikit menunduk. Rasanya Aiden terlalu keras kepala. Jika Anna bisa satu kali lepas dari sepupu tirinya dengan alasan kalau dia mempunyai keperluan lain, saat ini Anna sama sekali tidak bisa menghindar. Aiden mungkin akan terus bertanya, sampai dia merasa puas dengan jawaban yang diberikan oleh Anna.

Anna mengangkat kepalanya dan menatap Aiden. “Aku memang mempunyai rencana untuk tinggal lebih lama. Tapi kurasa itu bukanlah urusanmu, Aiden.”

Aiden kembali tersenyum. “Itu benar. Bagaimana rencanamu di Seoul, bukanlah urusanku. Jadi, kau akan tinggal bersama Paman David?”

“Tidak. Aku tidak akan tinggal dengan Dad, Aiden.” Kali ini Anna terpaksa berbohong. Aiden sangat keras kepala dan Anna harus kembali meneruskan apa yang sudah tertunda. “Aiden, bisa tinggalkan aku sendiri? Ada banyak hal yang sedang kukerjakan untuk saat ini. Kita bisa bicara lain waktu, jika ada kesempatan lagi.”

Aiden memperhatikan Anna selama beberapa detik. Kemudian ia berdiri dan menarik nafas. “Maaf, jika telah menganggumu, Anna. Ya, jika ada kesempatan lagi, aku sangat ingin mengobrol banyak denganmu.”

Aiden lalu berjalan keluar kamar dan menutup pintunya. Anna menghela nafas dan menyandarkan punggung di kursi. Anna memejamkan matanya dan mengatur nafasnya sejenak. Menghadapi Aiden jauh lebih melelahkan dibandingkan Anna harus berdebat dengan Andrew.

Anna membuka matanya dan kembali bekerja. Dia harus mengirimkan apa yang sudah ditemukannya kepada Andrew dengan sesegera mungkin. Entah, tapi Anna merasa kalau waktu mereka kini tidak banyak lagi.

*****

NOTE: Maaf banget kalau aku baru bisa update fanfic. Selama empat hari, aku bolak-balik rumah sakit karena ibu di rawat, trus kemarin giliran aku yang sakit. Jadi, baru sempet nulis. Ini agak mengecewakan sih menurutku…

Scarface masih tahap penulisan, masih belum selesai

Maaf ya…

Music: Super Junior – Don’t Leave Me (on repeat)

/i miss choi siwon

Advertisements

5 thoughts on “[MM] Super Human – 1st Story [13]

  1. WOWWWWWW
    akhirnya…….
    Dua minggu lebih aku nunggu
    Senangnya
    Ditambah lagi Kyu sudah sadar, jadi tambah happy.
    Aku sudah was-was ketika kemampuan Suli tidak berpengaruh, eh ternyata ada Max. Ikut lega ketika Kyu udah sadar. Kangen banget dengan Kyu.

    Tapi, aku masih pingin bacaaaaa lanjutannya lagiiii
    Benar-benar penasaran lanjutan ceritanya.

    Aku sudah baca dua kali part ini. Pagi tadi karena terlalu semangatnya baca, eh sampe kesiangan kerja. Maka nya dibaca lagi plus baru komen.
    Pokoknya bahagia banget ff ni lanjut.
    Ditunggu lanjutannya…..
    Ditunggu banget…..

  2. wah akhirnya update juga.
    setelah setiap hari aku buka ga ada upfate tan.
    wah segitu sayangnya andrew ma marc sampe dia harus berseturu sama stave.
    dan ternyata kemampuan max cukup berkembang pesat walaupun kayaknya untuk kontrol kemampuan andrew dia belum bisa.
    ditunggu lanjutannya ya

  3. hehehhe sudah kangen sama ff ini… seneng banget waktu diera eonni update ff ini…

    wah kyu sudah sadar. sempet deg-deg.an klu kyu gak sadar gimana. tp akhirnya sudah sadar…
    kyu penasaran sama tubuhnya heheh…
    yang penting di sudah sadar sekarang.

  4. Daebak!!!ini memang sangat menegangkan.Tapi,apapun itu..aku rasa banyak manfaat’ya mereka bisa berkumpul dirumah sakit itu.Walau dalam keadaan yang menegangkan.

    Fighting!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s