[SF] Scarface Part 34

Kang Ha Neul

34

Kyuhyun melipat lengan kemeja hitam yang dibawakan oleh Changmin hingga siku. Walaupun Kyuhyun ingin memakai pakaiannya sendiri, tapi Siwon bilang dia baru akan mengirimkan pakaiannya besok. Jadi, Kyuhyun harus memakai pakaian yang dibawakan oleh Changmin. Kyuhyun menarik nafas dan memperhatikan pakaiannya sebelum keluar dari kamar mandi. Setelah makan siang, Kyuhyun akan pulang. Kondisinya masih demam, tapi Kyuhyun harus pulang. Kalau tidak, Ahra pasti akan datang untuk mencarinya. Well, Kyuhyun tidak ingin kakaknya tahu kalau dia tidak menginap di rumah Heechul. Selain itu, Kyuhyun harus pulang lebih dulu sebelum Ahra pulang dari kantor. Siwon memaksa untuk mengantarnya pulang, jadi Kyuhyun tidak ingin kakaknya bertemu Siwon di depan rumah. Hubungan barunya dengan Siwon, Kyuhyun masih ingin menunggu waktu yang tepat untuknya menjelaskan dihadapan keluarga.

Keluarga. Kyuhyun bahkan tidak bisa membayangkan reaksi orangtuanya begitu mengetahui kalau Kyuhyun kini menjalin hubungan dengan seorang pria. Untuk Ahra, kakaknya mungkin akan marah selama beberapa hari lalu akan membaik dengan sendirinya. Selain itu, Ahra sendiri mengatakan kalau dia akan mendukung apapun keputusan Kyuhyun mengenai perasaannya. Dan untuk kedua orangtuanya, Kyuhyun harus melihat sendiri begitu dia memberitahu tentang hubungannya dengan Siwon. Disamping itu, Kyuhyun juga sedikit mencemaskan keluarga calon kakak iparnya. Entah apa reaksi Ahn Jisung kalau adik iparnya menyukai seorang pria.

Kyuhyun menghela nafas panjang lalu berjalan keluar kamar mandi. Ia memperhatikan tempat tidur yang berantakan. Siwon mengatakan kalau tidak perlu dibereskan, tapi Kyuhyun merasa tidak enak hati. Dia tidak melakukan apapun, hanya makan dan tidur, selebihnya Siwon yang mengurus dirinya. Heck, Kyuhyun seperti kembali usia sepuluh tahun dimana orangtuanya dan Ahra yang mengurus segala kebutuhannya. Tentu saja, Kyuhyun tidak ingin Siwon memperlakukannya sama seperti perlakuan orangtuanya. Siwon bukan orangtua atau kakak Kyuhyun.

Siwon adalah…

Setelah satu tarikan nafas panjang, Kyuhyun mulai merapikan tempat tidur tersebut.

“Kyuhyun, apa kau…. Sudah kubilang untuk tidak melakukannya, bukan?”

Kyuhyun menoleh. Siwon berada diambang pintu dengan ekspresi tidak senang.

“Hanya merapikannya, aku bukan ingin mengganti sprey dan selimutnya,” tukas Kyuhyun sembari menata bantal-bantal tersebut.

Siwon mendesah dan berjalan mendekati Kyuhyun. Ia langsung menarik bantal dari tangan Kyuhyun. “Kau masih sakit. Kau masih butuh banyak istirahat.”

Kyuhyun mengerutkan kening. Dia menganggap kalau reaksi Siwon terlalu berlebihan. Apa aku harus menghadapi sikapnya seperti ini mulai sekarang? Hanya Tuhan yang tahu apa aku bisa bertahan atau tidak. Kyuhyun menarik nafas panjang dan menatap Siwon dengan lekat. “Aku hanya demam. Bukan berarti aku akan mati karena kelelahan.”

“Kau memang tidak akan mati, tapi jika kau terlalu lelah itu akan memperlambat pemulihanmu. Kau sedang demam, itu artinya imunitasmu sedang bermasalah dan kau akan lebih mudah terserang penyakit yang lebih serius,” tutur Siwon.

Kyuhyun menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. Ia mungkin tahu bagaimana sifat Siwon sebelum hubungan intim ini. Tapi rasanya Siwon kini semakin bersikap berlebihan, terutama sikap over-protective nya pada Kyuhyun.

Melihat Kyuhyun tidak memberikan respon apapun, Siwon menghela nafas dan melempar bantal itu keatas tempat tidur lalu menarik pergelangan tangan Kyuhyun dengan lembut untuk keluar dari kamar tersebut. Siwon membawa Kyuhyun ke meja counter dapur. Siwon telah menyiapkan makan siang dan ia tidak akan mengantar Kyuhyun pulang sebelum sang pengacara itu menghabiskan makan siangnya.

Kyuhyun duduk di salah satu stool dan memperhatikan makanan yang sudah disiapkan oleh Siwon. Ia menghela nafas saat melihat semangkuk bubur dihadapannya. Kyuhyun lalu memperhatikan Siwon yang sedang mengambilkan segelas air.

“Boleh aku makan nasi?”

Siwon menarus segelas air didekat mangkuk bubur Kyuhyun. Ia mengerutkan kening. “Kau tahu sendiri kalau Haneul memberitahumu untuk makan bubur selama beberapa hari. Dia bilang lambungmu bermasalah karena semalam kau minum banyak sekali. Terlebih kemarin kau juga tidak makan apapun, bukan? Aku bisa saja membiarkanmu makan nasi tapi….”

Kyuhyun mendengus jengkel. “Kenapa rasanya aku sedang dimarahi oleh kakak lelakiku?”

Siwon tertawa kecil mendengar rajukan Kyuhyun. Ia lalu duduk dihadapan Kyuhyun. “Kau yakin ingin punya kakak laki-laki sepertiku? Dibandingkan aku sebagai seorang kekasih?”

Kyuhyun melirik Siwon jengkel. Walaupun begitu Kyuhyun merasa wajahnya terasa mulai hangat. “Selera humormu buruk sekali, Choi Siwon.”

Siwon hanya tersenyum. Kyuhyun mengangkat sendoknya dan mulai melahap bubur hangat dihadapannya. Siwon memperhatikan pria itu dengan seksama hingga membuat Kyuhyun kembali melirik kepadanya. Kening Kyuhyun kembali mengerut.

“Kau tidak makan?”

“Tentu saja, aku akan makan.”

*****

Haneul memperhatikan Changwook yang sedang memasak bahan makanan yang dibawakannya. Haneul tidak mengatakan jawaban apapun atas pertanyaan Changwook, tapi pria itu sepertinya bisa mengetahui jawabannya sendiri. Changwook membawanya ke apartment dan mulai memasak untuk makan siang mereka.

Haneul menghela nafas panjang. Changwook tidak mengijinkannya untuk membantu apapun, jadi Haneul hanya bisa menunggu sampai Changwook selesai. Haneul kemudian meninggalkan area dapur dan berjalan menuju ke ruang tengah dimana ia menemukan sebuah gitar diatas sofa. Rasanya Haneul tidak melihat gitar itu saat ia datang untuk pertama-kali ke apartment ini.

Haneul meraih gitar itu dan duduk diatas sofa. Kemudian ia mulai memetik gitar tersebut dengan nada-nada sederhana. Entah kapan terakhir kali Haneul memetik sebuah gitar, rasanya sudah lama sekali. Mungkin sebelum dia masuk universitas. Haneul tersenyum tipis saat dia masih ingat bagaimana memainkan tiap-tiap senar gitar itu dengan baik.

Di dapur, Changwook yang sudah hampir selesai memasak mendengar suara petikan gitar. Dia menoleh dan tidak melihat Haneul yang sebelumnya duduk di meja counter. Changwook tersenyum dan kembali fokus pada masakanannya yang sudah matang. Changwook mematikan kompor dan mulai menyajikan masakannya diatas meja counter.

Setelah menyiapkan makanan dan peralatan makanan, Changwook lalu menuju ruang tengah. Ia melihat Haneul sedang memetik gitar miliknya. “Aku tidak pernah tahu kalau kau bisa bermain gitar,” ucapnya sembari duduk diatas coffee table, tepat dihadapan Haneul.

“Aku sudah lama tidak bermain gitar,” tutur Haneul sembari meletakkan gitar itu di sisi lain sofa panjang tersebut. Haneul menatap Changwook yang tersenyum padanya. Tapi senyuman itu membuat Haneul merasa canggung. Ia berdeham pelan. “Kau sudah selesai? Kita bisa makan sekarang?”

Changwook mengangguk lalu berjalan menuju dapur. Haneul mengikutinya. Mereka duduk saling berhadapan.

“Aku seharusnya membantu,” gumam Haneul.

“Tapi aku sudah melarangmu, bukan? Makanlah. Hari ini shift-mu dimulai jam berapa?” tanya Changwook sembari meraih sendok.

Haneul memperhatikan mangkuk nasi dihadapannya. Ia menghela nafas panjang. “Jam delapan malam.”

“Itu masih beberapa jam lagi. Apa kau akan pulang dulu sebelum ke rumah sakit? Atau mungkin kembali menemui Kyuhyun dan memastikan kondisinya?”

Haneul terdiam. Changwook sekali lagi menyebut nama Kyuhyun. Bahkan tadi Changwook juga menyangka Haneul datang ke gedung apartment ini karena Kyuhyun juga tinggal di gedung apartment ini. Memang terdengar seperti pertanyaan basa-basi. Tapi Haneul tidak menyukainya.

Haneul tidak menyukai jika Changwook bertanya berkaitan Kyuhyun padanya.

Haneul memasukkan nasi kedalam mulutnya. Ia mengunyah secara perlahan. Changwook memperhatikannya dengan lekat. Ia menunggu sampai Haneul menjawab pertanyaannya. Namun, setelah hampir dua menit, Changwook tidak mendapat jawaban apapun. Sebaliknya, dia hanya mendapati Haneul terus memasukkan nasi kedalam mulutnya, tanpa lauk pendamping.

Changwook menghela nafas.

“Kau tidak makan apapun, Han.”

Tangan Haneul berhenti bergerak. Perlahan dokter anak itu mengangkat kepalanya, menatap Changwook.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Changwook lagi.

Haneul meletakkan sumpitnya. “Kyuhyun. Maksudku, kenapa kau selalu bertanya tentang Kyuhyun padaku? Kenapa kau selalu menyebut namanya dihadapanku?”

“Itu hanya pertanyaan,” jawab Changwook singkat. Ia memperhatikan ekspresi Haneul lalu menghela nafas lagi. “Kau tidak perlu menjawabnya. Aku memang tidak mengenal Kyuhyun. Tapi…”

“Kau bilang kalau kau cemburu pada Kyuhyun, bukan?” sahut Haneul.

Changwook mengangguk. Lalu tertawa kecil. Dia memang pernah mengatakan hal itu, tapi anehnya selalu dirinya yang bertanya mengenai Kyuhyun pada Haneul. Changwook menyadari kebodohannya. Perlahan tawa Changwook mereda. Changwook menatap Haneul yang masih memperhatikannya. Ekspresi wajahnya belum menunjukkan perubahan apapun.

“Jangan bertanya mengenainya lagi. Kyuhyun… Dia sudah mempunyai seseorang yang akan menjaganya. Perasaanku padanya seharusnya sudah lama kubuang jauh, tapi aku baru akan melakukannya sekarang. Setelah aku tidak mempunyai kesempatan apapun. Jadi, bisakah kau tidak bertanya atau menyebut namanya lagi?” tutur Haneul.

Changwook mengangguk lagi.

Haneul menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Ia meraih gelas minumannya dan meneguk sedikit. Rasanya dia tidak begitu lapar lagi. Haneul menaruh kembali gelas tersebut. “Kesempatan itu… akan kuberikan padamu.”

“Ye?”

“Kesempatan itu. Kau pernah meminta kesempatan itu, bukan? Saat pertama-kali aku datang ke apartment ini. Aku akan memberikannya padamu. Kenapa? Kau tidak mau lagi?” tukas Haneul dengan keningnya sedikit berkerut.

“Ani!! Te-tentu saja… Aku mau!” seru Changwook dengan sebuah senyuman lebar. Lebih lebar daripada ia melihat Haneul di basement parkir tadi.

*****

Luhan memperhatikan Yifan yang sedang berkemas. Secara tiba-tiba Yifan menghubunginya dan mengatakan kalau dia akan tinggal di dorm sampai upacara kelulusan. Tentu saja itu membuat Luhan terkejut dan langsung datang menemuinya. Sedikit terkejut karena Zitao sudah kembali ke Guangzhou, padahal Luhan sudah berjanji akan mengajak sepupu Yifan itu berkeliling Seoul. Tapi setelah mendengar alasannya dari Yifan, Luhan bisa sedikit mengerti.

Situasi dan kondisinya memang tidak memungkinkan Zitao tinggal lebih lama untuk liburan.

Tapi dia masih belum mengerti dengan alasan yang diberikan oleh Yifan tentang kepindahannya kembali ke dorm. Walaupun kamar dorm-nya masih kosong dan pengurus dorm sempat mengatakan bahwa Yifan bisa kembali mengisi kamar tersebut, namun Luhan tetap saja merasa alasan Yifan tidak masuk akal.

Kini, Luhan tengah memperhatikan Yifan yang sedang merapikan peralatan lukisnya yang akan dikirim terlebih dahulu ke dorm sebelum buku-buku sekolah dan pakaiannya. Di dorm lamanya, Yifan masih menyimpan beberapa barang, jadi dia tidak perlu membawa semua barang yang ada di kamarnya.

“Fan-ah, jelaskan lagi alasan kepindahanmu padaku? Karena bagaimana pun aku memikirkannya itu terdengar tidak masuk akal. Kau ingin lebih fokus melukis dan persiapan ujian akhir? Hey, sejak kapan ujian akhir kelas Seni begitu sulit, eh? Terlebih kau sudah diterima di UAL. Selain itu, disini ada Joonmyeon. Kau bilang dia sudah sadar, bukan?”

Yifan menghentikan apa yang tengah dilakukannya, lalu menatap Luhan yang duduk di kursi dekat meja belajarnya. “Universitas itu berbeda dengan sekolah menengah. Kurasa ini sudah waktunya kau lebih serius, Han. Kau mungkin tidak ingin kembali ke Beijing, tapi setidaknya kau sudah memikirkan apa yang ingin kau kerjakan setelah lulus.”

“Eoh? Ini pertama-kalinya kau bicara begitu padaku. Hey, Wu Yifan, apa yang sebenarnya kau pikirkan, eh?”

“Tidak ada. Kupikir kau kesini untuk bertanya alasanku kembali ke dorm.” Yifan lalu kembali mengemasi botol-botol cat lukisnya kedalam kotak kayu. “Dan alasanku kembali ke dorm adalah untuk lebih fokus pada persiapan ujian akhir dan persiapan untuk masuk UAL.”

Luhan mendesah berat. “Baiklah, aku terima alasan itu. Tapi bagaimana dengan Joonmyeon?”

Yifan melirik Luhan dan menghela nafas. “Kenapa dengan Joonmyeon?”

Luhan mengernyit mendengar respon Yifan tentang Joonmyeon. Entah, tapi Luhan merasa kalau Yifan pindah ke dorm untuk menghindari Joonmyeon. Untuk berusaha melupakan perasaannya pada Joonmyeon. Itu memang hanya sebuah asumsi. Tapi melihat sikap Yifan selama beberapa hari terakhir –terutama ketika Joonmyeon masuk rumah sakit– itu membuat Luhan percaya kalau asumsinya benar.

“Fan…”

“Lu, jika kau kembali ke dorm, tolong bawakan kotak ini dan simpan di unit dorm-ku. Aku akan mulai mengirim beberapa barangku ke dorm. Terima kasih.”

*****

Changmin menarik nafas panjang. Hari ini memang bukan waktunya untuk datang ke Legiun dan melakukan beberapa pemeriksaan toko tapi Changmin datang dengan spontan. Ia berjalan melewati beberapa toko dengan sesekali memperhatikan kondisi toko yang yang cukup ramai. Changmin tersenyum tipis ketika ada pegawai toko yang menyapanya.

Selama melewati beberapa toko, Changmin masih terlihat tenang namun ketika melewati toko nomor empatpuluh, langkah kakinya terasa begitu berat. Changmin berhenti tepat di depan toko nomor empatpuluh satu. Ia memperhatikan toko nomor empatpuluhdua yang terlihat cukup sibuk.

Changmin teringat dengan ucapan Siwon di pembicaraan mereka sebelumnya. Walaupun Changmin tidak ingin mengakuinya tapi ucapan Siwon benar. Ia sudah terlalu lama menyimpannyadi dalam hati dan pikirannya sendiri –lebih tepatnya di laci lemari pakaiannya– selama bertahun-tahun. Ini memang bukan waktu yang tepat, namun Changmin harus memulainya.

Changmin menarik nafas panjang dan berjalan menuju toko nomor empatpuluhdua.

*****

Kyuhyun memanjat keluar mobilnya diikuti oleh Siwon. Siwon menyerahkan kunci mobil itu pada Kyuhyun. Well, Siwon tidak akan membiarkan Kyuhyun menyetir sendiri atau menyuruh salah satu dari Ahn atau Shin yang mengantarkan Kyuhyun pulang selagi dirinya mempunyai kemampuan untuk menyetir. Siwon bisa pulang dengan diantar oleh Ahn dan Shin atau dengan taksi. Siwon tersenyum tipis kemudian sedikit merapatkan mantel yang dipakai oleh Kyuhyun.

“Jangan lupa katakan pada ibumu kalau kau harus makan bubur selama beberapa hari, mengerti?” ucap Siwon. Itu sudah yang ke-duapuluhtiga kalinya sejak Haneul selesai memeriksa kondisi Kyuhyun. Dan ucapan itu membuat Kyuhyun menjadi muak.

Kyuhyun mendesah jengkel. “Aku sudah bosan mendengarnya, Siwon. Aku ingat apa yang harus aku makan, kau tidak perlu mengatakan hal yang sama puluhan kali. Itu menjengkelkan.”

Siwon tersenyum lebar dan mengacak sedikit rambut Kyuhyun. “Baiklah. Aku minta maaf. Hanya sekedar memastikan, Kyuhyun. Aku tidak memintamu untuk menghubungiku setiap jam mengenai kondisimu, tapi setidaknya kirim satu pesan padaku sebelum kau tidur. Bukan hanya sekedar kau baik-baik saja, tapi apa yang kau rasakan. Apa kau merasa pusing, apa kau masih demam atau hal-hal lainnya.”

“Geez, aku tidak akan mengatakan “iya” padamu, jika ini resikonya. Baiklah, aku mengerti. Kau bahkan lebih parah dari noona. Pergilah, kau punya banyak dokumen yang harus kau kerjakan. Ah, jangan lupa pakaianku.”

Siwon tertawa kecil mendengar ucapan Kyuhyun. Rasanya Kyuhyun jauh lebih terbuka dari sebelumnya. Ini jauh lebih baik dari yang dipikirkan oleh Siwon.

Siwon menepuk lembut pipi Kyuhyun. “Aku mengerti.”

Kyuhyun sontak terdiam dan ekspresinya jengkelnya menghilang. Ia menyentuh pipi yang baru saja disentuh oleh Siwon dengan punggung tangannya. Well, Kyuhyun masih canggung dengan afeksi Siwon.

“Masuklah, udaranya dingin.”

Kyuhyun mengangguk. “Pulang sana.”

“Tapi sayangnya, dia tidak bisa pulang sebelum memberikan penjelasan, Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun dan Siwon sontak menoleh ke sumber suara. Ahra, ternyata sudah berdiri di pintu masuk dengan ekspresi yang sulit dijelaskan oleh Kyuhyun. Kyuhyun menghela nafas pendek. Dia tidak memikirkan kalau kakaknya kemungkinan tidak bekerja dan menunggunya pulang. Kyuhyun melirik kearah Siwon yang terlihat tenang-tenang saja.

“Eomma ada di rumah?” tanya Kyuhyun pada Ahra.

Ahra menggeleng. “Pagi ini Appa dan Eomma pergi ke Jeju. Mungkin selama tiga hari. Itu sebuah kebetulan yang menyenangkan, bukan? Masuklah, ada banyak hal yang kalian jelaskan padaku. Terutama kebohonganmu, Cho Kyuhyun.”

*****

Joonmyeon tersenyum mendengar omelan Baekhyun. Setelah jam makan siang, Kyungsoo, Baekhyun dan Chanyeol datang menjenguknya. Well, mereka mungkin menghubungi Appanya terlebih dahulu untuk bisa masuk ke lantai VIP. Ini sudah hampir limabelas menit sejak mereka bertiga masuk ke kamar rawat Joonmyeon dan Baekhyun sama sekali tidak membuang waktu untuk memarahinya.

“Baek-ah, jangan memarahi Joonmyeon terus. Kau itu bukan orangtuanya,” tukas Kyungsoo yang sudah mulai bosan.

Baekhyun sontak berhenti dan menoleh pada Kyungsoo. Kyungsoo sedang duduk di sofa sembari mengupas buah apel dan Chanyeol duduk disampingnya hanya tersenyum-senyum seperti orang gila –atau itu pemikiran Baekhyun sendiri. Baekhyun lalu menatap pada Joonmyeon lagi.

“Apa aku berlebihan?” tanyanya pada Joonmyeon.

Joonmyeon hanya tersenyum tipis, tapi Kyungsoo yang menjawab pertanyaannya. “Tentu saja berlebihan. Joonmyeon baru saja sadar sepenuhnya, tapi kau datang dan langsung mengomelinya. Lagipula omelanmu itu tidak berdasar. Joonmyeon berhak tidak memberitahu apapun pada kita mengenai kondisinya.”

Baekhyun kemudian mengerucutkan bibirnya dan duduk di kursi. Ia menatap Joonmyeon dengan lirih. “Maaf, karena bersikap berlebihan.”

“Tidak apa-apa. Kurasa itu hal wajar,” tutur Joonmyeon.

Kyungsoo menghela nafas dan menatap Joonmyeon. “Itu tidak wajar, Joon. Baekhyun bukan orangtuamu. Aku rasa, orangtuamu juga tidak pernah mengomelimu seperti Baekhyun bukan?”

Joonmyeon tertawa kecil. “Itu memang benar. Tapi sudahlah. Jadi, kalian benar-benar membatalkan liburan itu? Lalu bagaimana dengan agen travelnya?”

“Geez, tentu saja kami batalkan semua. Yang lain juga setuju. Walaupun sedikit sulit untuk membatalkan di agen travel, tapi itu sudah diselesaikan. Jadi, jangan khawatir. Lagipula kita masih bisa pergi lain waktu,” ucap Baekhyun.

Joonmyeon sedikit menunduk. “Maaf..”

“Ini bukan kesalahanmu, Joon.” Kyungsoo berdiri dari sofa dengan membawa sepiring apel yang sudah dipotong-potong dan berjalan menuju tempat tidur Joonmyeon. Ia menyodorkan piring itu pada Joonmyeon. “Lagipula, kecelakaan itu bukan keinginanmu bukan? Untuk saat ini, kau harus fokus untuk pemulihanmu. Aku yakin, setelah keluar dari rumah sakit kau pasti langsung dihadapkan dengan jadwal belajarmu yang padat.”

Joonmyeon mengambil piring itu dan tersenyum miris. Benar, setelah keluar dari rumah sakit, Joonmyeon harus bersiap untuk persiapan ujian masuk universitas Seoul. Itu masih sekitar dua minggu lagi, tapi Joonmyeon sangat tidak siap.

“Memang Joonmyeon akan ikut masuk ujian universitas mana?” tanya Chanyeol yang masih duduk di sofa.

Kyungsoo menoleh pada Chanyeol. “Universitas Seoul. Jurusan Bisnis, benar Joon?”

Joonmyeon mengangguk kecil lalu memasukkan potongan apel kedalam mulutnya.

“Eoh? Universitas Seoul? Aku juga disana, walaupun jurusan yang aku ambil berbeda denganmu,” tutur Chanyeol lagi.

Baekhyun memperhatikan ekspresi muram Joonmyeon. Ia bisa mengerti dengan perasaan Joonmyeon yang sebenarnya ingin masuk HanEum dengan Kyungsoo dan beberapa teman mereka yang lainnya. Tapi ayahnya menolak aplikasi itu dan memilih Universitas Seoul.

“Ahh… Sudah, jangan bahas ujian masuk universitas. Itu masih beberapa bulan lagi. Kita bicara hal lainnya. Seperti…” Baekhyun memperhatikan ruangan kamar besar tersebut lalu matanya terfokus pada bunga Hyacithus. “Joon-ah, ini bunga dari siapa? Hyacithus, bukan?”

Joonmyeon melirik bunga berwarna ungu tersebut. “Iya, itu Hyacithus. Tapi aku tidak tahu siapa yang membawanya. Saat aku sadar, bunga itu sudah ada disana.” Tentu saja, Joonmyeon tidak bicara jujur pada Baekhyun. Mana mungkin Joonmyeon mengatakan bunga itu diberikan oleh Yifan.

Kyungsoo tahu kalau Joonmyeon berbohong. Tapi dia bisa mengerti alasannya. Jika Joonmyeon memberitahu nama pengirim bunga itu, Baekhyun dan –mungkin– Chanyeol akan penasaran kenapa orang itu memberikan bunga itu pada Joonmyeon. Selain itu, sepertinya Joonmyeon dan Yifan sudah bicara. Karena sejak Kyungsoo masuk, Joonmyeon menatapnya dengan lekat, seolah mengatakan mereka berdua harus bicara lagi.

Tentang Yifan.

Jadi, Kyungsoo harus mencari cara agar dia bisa berdua saja di kamar tersebut dengan Joonmyeon.

*****

“Kau tidak perlu mencuci piringnya, Han.”

Tapi Haneul tidak mendengarkan larangan Changwook. Tangannya masih bergerak untuk membersihkan semua piring, peralatan makan lainnya. Walaupun Changwook berulang-kali menahan Haneul, tapi pria itu tetap saja keras kepala. Changwook tidak bisa menarik piring dari tangan Haneul karena bisa saja saat mereka berdebat piring itu pecah dan melukai Haneul. Well, Changwook menghindari kemungkinan terburuk.

“Haneul-ah…”

“Tinggal sedikit lagi, hyung. Sudah sana, jangan mengangguku.”

Changwook mendesah. Ia mengusap wajahnya dengan frustasi. Changwook tidak bisa menghentikan Haneul. Ini adalah rumahnya dan Haneul adalah tamunya. Changwook tidak bisa membiarkan Haneul mengerjakan sesuatu yang harus dikerjakan oleh Changwook sendiri. Walaupun dia sudah mengatakan beberapa alasan agar Haneul berhenti, tapi dokter itu malah menghiraukannya. Changwook terlintas satu alasan agar Haneul berhenti, tapi dia tidak akan melakukannya. Hanya menggunakan sebagai ancaman. Itu mungkin akan berhasil.

“Han, jika kau tidak berhenti sekarang juga… Aku akan menciummu.”

Haneul melirik Changwook dengan kerutan di keningnya. “Aku hanya mencuci piring, hyung. Kenapa kau malah bicara seperti itu?”

Sepertinya ancaman itu sama sekali tidak berpengaruh pada Haneul. Changwook menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia memperhatikan Haneul yang masih sibuk. Kemudian tanpa berpikir lagi, Changwook menangkup wajah Haneul lalu mencium bibirnya.

Haneul yang begitu terkejut dengan ciuman Changwook tanpa sadar melepaskan mangkuk yang dipegangnya. Cukup beruntung karena mangkuk itu tidak pecah.

Berselang beberapa detik, Changwook menarik bibirnya dan menatap Haneul yang terlihat masih terkejut. Changwook sebenarnya juga merasa terkejut dengan tindakannya, tapi dia berusaha mengontrol ekspresinya. Changwook kemudian melepaskan sarung tangan karet dari kedua tangan Haneul.

“Sudah kubilang akan menciummu, bukan?” gumam Changwook.

Haneul bernafas perlahan. Ia berusaha untuk tenang tapi tetap saja detak jantungnya terasa begitu keras. Changwook menatap Haneul dengan lekat. Ia menyentuh wajah Haneul dan mengusapnya lembut. “Haneul…”

Haneul menggumam pelan.

“Aku akan menciummu lagi,” bisik Changwook.

Haneul berkedip beberapa-kali, tapi dia tidak mengatakan apapun. Kemudian Changwook mencium bibir Haneul lagi.

*****

Changmin sedang melakukan pemeriksaan di ice-rink, karena akibat kejadian Siwon dan Kyuhyun sebelumnya pihak Legiun harus memeriksa kesiapan arena ice-rink itu sebelum dibuka untuk umum di awal bulan Maret nanti. Changmin sudah mendapat laporan kalau penyelesain ice-rink sudah mencapai 80%. Ia tinggal melaporkan ulang pada Siwon dan Choi Daehan mengenai ice-rink.

Changmin menghela nafas dan berbalik. Ia sedikit tersenyum ketika melihat seseorang berjalan menghampirinya. “Kau sedang istirahat?”

“Supervisorku hanya memberi waktu sepuluh menit. Jadi, apa yang ingin anda bicarakan? Ini pertama-kali sejak lima tahun, bukan?”

Changmin mengangguk. Ini memang pertama-kali Changmin memanggil pegawai toko nomor empatpuluhdua itu untuk menemuinya sejak dia bekerja lima tahun lalu. Lebih jauh, Changmin tidak pernah menemuinya atau menghubungi orang itu sejak mereka lulus sekolah menengah. Saat mereka bertemu lagi lima tahun lalu, Changmin cukup terkejut melihatnya bekerja di Legiun. Tapi Changmin tidak pernah menyapanya, hanya bisa melihatnya dari jauh. Atau bahkan berusaha untuk menghindari toko nomor empatpuluhdua itu setiap-kali dia dan Siwon datang ke Legiun.

“Benar, lima tahun. Kurasa lebih tepatnya hampir duabelastahun sejak lulus sekolah menengah, Yang Ji Hyun.”

Yang Ji Hyun, seorang wanita berusia tigapuluhdua tahun, teman sekolah Changmin. Yang Ji Hyun juga cinta pertama Changmin. Walaupun begitu, Changmin tidak pernah berkencan dengannya. Ia malah mengencani gadis lain dan tidak pernah mengatakan apapun mengenai perasaannya pada Ji Hyun.

Foto-foto Ji Hyun-lah yang merupakan rahasia yang disimpan oleh Changmin di laci lemari pakaiannya. Rahasia yang diketahui oleh Siwon seorang.

“Duabelas tahun? Sudah selama itu, ternyata. Jadi, apa yang ingin anda bicarakan, Tuan Shim?”

Changmin sedikit berjengit saat mendengar Ji Hyun memanggilnya dengan terlalu formal. Well, kedudukan Changmin mungkin memang lebih tinggi dari Ji Hyun tapi bisakah wanita itu melupakan siapa Changmin sebenarnya dan hanya melihat Changmin sebagai Shim Changmin teman sekolahnya?

Changmin mengeluarkan ponselnya dan menyodorkan pada Ji Hyun. “Berikan nomor ponselmu. Dan bisakah kau tidak bersikap terlalu formal padaku? Kita teman sekolah bukan?”

Ji Hyun menatap Changmin dengan lekat lalu mendengus. “Shim Changmin, duabelas tahun dan sekarang langsung meminta nomor ponselku? Kau bahkan tidak menemuiku atau berkata apapun selama lima tahun aku bekerja disini. Apa alasan kau meminta nomorku sekarang?”

“Ji Hyun-ah…”

“Aku harus kembali bekerja. Berikan aku alasan yang tepat kenapa aku harus memberikan nomor ponselku padamu. Permisi, Tuan Shim.” Ji Hyun membungkuk lalu berjalan meninggalkan Changmin.

Changmin menghela nafas panjang menatap punggung Ji Hyun yang mulai menjauh. “Alasan yang tepat? Mungkin karena keberanian itu baru muncul. Keberanian untuk mengakui bahwa aku tidak pernah berhenti menyukaimu, Yang Ji Hyun.”

*****

Kyuhyun melirik Ahra yang duduk disampingnya, sedangkan Siwon duduk di sofa dihadapan mereka. Kyuhyun tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh kakaknya mengenai Siwon. Rasanya baru kemarin, Kyuhyun mengatakan pada Ahra kalau dia tidak merasakan apapun pada Siwon –setidaknya dia menjawab “belum”– tapi hari ini Ahra malah memergokinya diantar pulang oleh Siwon.

Selain itu, saat di rumah sakit, Ahra juga mengatakan pada Siwon untuk menjauhi Kyuhyun. Yang terjadi tentu saja adalah kebalikannya.

“Noona…” gumam Kyuhyun.

Ahra menarik nafas perlahan. “Choi Siwon-sshi, anda tentu masih ingat dengan laranganku agar tidak menemui Kyuhyun lagi, bukan?”

Siwon melirik pada Kyuhyun lalu mengangguk atas ucapan Ahra. Heck, Siwon tentu masih ingat. Tapi dia tidak bisa menahan diri. Lagipula Kyuhyun juga sudah datang padanya, Siwon mana mungkin mendorong pria itu untuk menjauh darinya.

“Tapi sepertinya anda sama sekali tidak mendengarkan ucapanku.”

“Aku mendengarkan ucapanmu, Ahra-sshi. Bahkan jauh sebelum kau menyuruhku untuk menjauhinya, aku berusaha untuk tidak menemui Kyuhyun. Tapi apa daya jika takdir yang membuat kami selalu bertemu? Kau tentu masih ingat dengan pertemuan pertama kami. Saat itu, Kyuhyun datang untuk menggantikanmu bertemu denganku untuk perjodohan. Walaupun cukup singkat, tapi setelah hari itu kami terus bertemu. Bahkan aku selalu bertanya kenapa Kyuhyun selalu muncul dihadapanku dengan cara yang tidak terduga. Berulang-kali aku berusaha untuk menghindarinya, tapi…”

Siwon kembali menatap Kyuhyun dan tersenyum tipis. Kyuhyun berkedip beberapa-kali dan sedikit menundukkan kepalanya. Ahra melirik Kyuhyun dan menghela nafas.

“Tapi sayang sekali, Tuhan selalu mempunyai rencana lain untuk mempertemukan kami. Sampai akhirnya, aku menyadari bahwa aku mulai tertarik dengannya,” lanjut Siwon.

“Takdir, kau bilang? Kyuhyun selalu terluka dan harus masuk rumah sakit setiap bertemu denganmu. Apa itu yang kau sebut dengan rencana Tuhan?”

Kyuhyun menatap Ahra yang terlihat marah sekali. Sama seperti saat di rumah sakit. Ahra juga terlihat sangat marah setelah dia menemui Siwon di kamar rawatnya. Kyuhyun mungkin bisa memahami bagaimana perasaan Ahra, tapi ia juga merasa kalau reaksi Ahra terlalu berlebihan. Setiap Kyuhyun masuk rumah sakit bukan karena Siwon. Seperti sebuah kebetulan, Siwon selalu bersama setiap-kali Kyuhyun mengalami kesialan yang membuatnya harus masuk rumah sakit. Well, itu bisa disebut dengan takdir Tuhan.

Kau terdengar sangat membelanya Cho Kyuhyun.

“Jika akhir-akhir ini Kyuhyun selalu terluka dan masuk rumah sakit, harus aku akui kalau itu adalah kesalahanku. Tapi tidak sepenuhnya kesalahanku. Apa selama hidup Kyuhyun, jika dia masuk rumah sakit maka itu adalah kesalahanku? Kami bahkan baru berkenalan dua bulan terakhir ini. Selain itu, saat kami bicara di rumah sakit, Kyuhyun mengatakan bahwa dia tidak akan menuruti ucapan kakaknya. Kyuhyun sendiri yang mengatakan kalau dia bukanlah anak kecil yang hidupnya selalu diatur-atur oleh keluarganya. Jadi, bertemu denganku adalah keputusannya sendiri.”

Ahra menatap Kyuhyun dengan lekat. Kyuhyun menghela nafas panjang. Rasanya Siwon tidak sedang membantunya agar Ahra lebih mengerti tentang hubungan mereka.

“Kau mengatakan hal itu?” tanya Ahra pada Kyuhyun.

Kyuhyun menatap Siwon dengan jengkel. Lalu ia memandang Ahra dengan lekat. Kyuhyun meraih tangan Ahra dan mengusapnya perlahan. “Noona ingat dengan pembicaraan kita di ruang kerja Appa? Noona mengatakan kalau akan mendukungku apapun keputusanku. Bagaimana aku menjalani hidupku sendiri, bukan?”

“Jadi, apa kau memilihnya?”

“Noona sendiri yang mengatakan padaku bahwa ini bukan sekedar pilihan. Jika aku bisa memilih, untuk apa aku memilihnya?”

Siwon sedikit mengernyit mendengar pembicaraan Ahra dan Kyuhyun. Walaupun ia tidak tahu bagaimana pembicaraan Kyuhyun dengan kakaknya sebelumnya, tapi Siwon sedikit berasumsi bahwa mereka mendiskusikan masalah perasaan Siwon pada Kyuhyun, begitu juga sebaliknya.

“Kau menyukainya? Benar-benar sudah menyukainya?” tanya Ahra lagi.

Kyuhyun menatap pada Siwon lagi. Ia menarik nafas panjang. “Aku belum benar-benar menyukainya, tapi aku ingin menyukainya. Semuanya perlu waktu sebelum aku mengatakan bahwa aku menyukainya. Kami belum lama berkenalan tapi dengan semua kejadian selama dua bulan ini, aku tidak bisa mengabaikannya, Noona. Selama enam tahun aku menyukai Haesa, tapi dia tidak pernah memandang padaku. Jika aku harus mengulangi siklus yang sama pada orang yang berbeda, kurasa aku harus bertemu dengan dokter Noh. Jadi, untuk saat ini aku ingin mencoba memandang seseorang yang tengah menatapku. Tidak peduli jika dia seorang pria,” tutur Kyuhyun tanpa melepaskan pandangannya pada Siwon.

Siwon tersenyum mendengar ucapan Kyuhyun. Rasanya dia tidak pernah mendengar orang lain bicara dengan begitu romantis pada pasangannya seperti yang baru saja diucapkan oleh Kyuhyun. Siwon mungkin sangat tidak berpengalaman dalam hal hubungan romantis, tapi dia tahu persis kalau orang lain mendengar ucapan Kyuhyun saat ini, mereka akan jatuh hati pada Kyuhyun. Karena Siwon telah jatuh semakin dalam hingga dia tidak yakin bisa melepaskan Kyuhyun.

Kang Haesa, kau benar-benar bodoh melepaskan pria seperti Kyuhyun.

Ahra memperhatikan Kyuhyun dan Siwon secara bergantian. Mata dan hatinya tidak bisa dibohongi. Kyuhyun mulai membuka hatinya untuk Siwon. Adiknya mungkin mengalami patah hati yang begitu menyakitkan dari seorang wanita, tapi Ahra yakin bukan karena itu Kyuhyun mulai menyukai seorang pria –Choi Siwon mungkin lebih tepatnya. Mungkin karena Siwon-lah yang membuat Kyuhyun menyadari bahwa dia menyukai pria itu. Dan Ahra tidak mungkin merebut apa yang membuat adiknya merasa bahagia.

Ahra menarik nafas panjang dan menyentuh wajah Kyuhyun hingga adiknya kembali berfokus padanya. “Kita bicarakan masalah kebohonganmu menginap di rumah Heechul nanti. Istirahatlah,” ucap Ahra lembut.

Kemudian Ahra melepaskan tangannya dari genggaman tangan Kyuhyun dan meninggalkan Kyuhyun berdua dengan Siwon. Kyuhyun sedikit terkejut dengan reaksi terakhir Ahra. Mungkinkah kakaknya sama sekali tidak keberatan dengan keputusannya?

Kyuhyun kembali menatap Siwon yang masih tersenyum padanya. “Kenapa tersenyum seperti itu padaku?”

Siwon berdiri lalu berjalan menghampirinya. Pria itu mengulurkan tangannya pada Kyuhyun. Dengan sedikit ragu Kyuhyun menyambut uluran tangan Siwon dan berdiri. Siwon masih menatapnya dengan lekat dan tersenyum. Kyuhyun sedikit kikuk dengan sikap Siwon.

“Kenapa?” gumamnya pelan.

Siwon menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. “Terima kasih.”

“Un-untuk apa berterima-kasih?”

Siwon tidak mengatakan apapun. Dia hanya mendekatkannya wajahnya pada Kyuhyun hingga kening mereka bertemu. Kyuhyun bisa merasakan hembusan nafas hangat Siwon di wajahnya. Selain itu aroma parfume yang dipakai oleh Siwon membuat Kyuhyun merasa begitu tenang. Perlahan Kyuhyun memejamkan matanya dan menikmati sensasi hangat tubuh Siwon.

Siwon kembali tersenyum. Kemudian ia menarik tubuh Kyuhyun kedalam dekapannya. Kedua tangannya memeluk tubuh Kyuhyun dengan protektif. Kyuhyun membuka matanya dan menyembunyikan sebagian wajahnya dibahu Siwon. Selain itu, kedua tangan Kyuhyun juga berada dipinggang Siwon.

Siwon menarik nafas panjang. “Jatuh cinta pada Cho Kyuhyun adalah pengalaman paling membahagiakan selain ketika nilai saham Choi Group menembus harga limapuluhtiga ribu won.”

Kyuhyun sedikit mengernyit. Tapi akhirnya dia sedikit tertawa mendengar ucapan aneh Siwon tersebut.

*****

NOTE: Well… Aku tahu ini masih kurang memuaskan, tapi waktu nulisku bulan ini cukup terbatas. Semoga ini gak terlalu mengecewakan. Dan bagi yang di part sebelumnya nebak kalau Changmin juga gay, tebakan kalian salah ya. Sudah terungkap rahasia laci lemari pakaian Changmin. Kekekeke….

Music: Siwon (Super Junior) –  너뿐이야

Advertisements

28 thoughts on “[SF] Scarface Part 34

  1. Aaa akkhirx updet jg setelah sekian lamax menunggu,,,, tapi kurang panjang dan bakalan ada couple baru nieh kyakx…cwang 😉 ,,,,,,,,,, fighting noona 🙂

  2. yeeeesssss udah update lagi…
    pas ada notif kalau ni fanfic udah update langsung smangat deh,,smangat mau baca…krn pnsaran ma kisah wonkyu nya..
    wahhh ternyata ahra skrg udah tau hubungan wonkyu ni..ditunggu klanjutannya yaaa…:-D 😀 😀

  3. oh chang suka sama temen masa lalunya toh..
    sepertinya chang juga butuh perjuangan berat nih
    secara 5 tahun weh mendiamkannya…
    dan waaahhh hubungan wonkyu berjalan perlahan tapi pasti
    keluarga choi sudah tau..
    sekarang giliran ahra yang tahu dan nanti barulah ortunya kyu
    bagaimana akan pendapat mereka?

  4. huaaaaa bacanya sambil tarik napas panjang terus eonn… makasi buat q deg-degan pas baca ff ini… bagi ku semua ff eonni memuaskan…. daebak… adegan wonkyu bikin q senyum2 sendiri. gak tau kenapa…

    untuk hubungan changmin kayaknya banyak tentangan dari klgnya. cinta pertama… so sweet…

    makasi dan fighting…

  5. Aduh hati masih suka sakit kalau baca bagian KrisHo kaaak 😥
    Kenapa makin runyam aja kisahnya KrisHo. Ya sepertinya KrisHo akan menjalani hidup yg keras. Duh ini gak ada adegan Yifan sama Sara ya? Yifan sekarang milih tinggal di dorm lagi 😦
    Untuk WonKyu, akhirnya Ahra tau dan ya sepertinya masalah WonKyu lebih bisa diatasi karna WonKyu sendiri sudah sama-sama dewasa dan punya pekerjaan sendiri. Jelas lebih berani dalam segala hal dibanding pasangan KrisHo, termasuk keputusan utk bersama-bersama menghadapi keluarga besar mereka :’)
    Aaaakkk~ ini sudah sangat mengobati rindu utk ff ini kok kak. Terima kasih sudah menyediakan waktu utk updatee ^^
    Ditunggu kelanjutannya deh. Btw akhirnya pasangan dokter kita sudah bersatu. Selamat yaaaa 😀

  6. Wah setelah menunggu sekian lama akhirnya update juga ^^
    Hubungan wonkyu walau pelan tapi pasti udah ada perkembangan, semakin sweet aja..
    Kasihan yifan harus pindah ke dorm buat ngelupain joon ~T_T~
    Ciyeee..pasangan dokter kita udah mulai berani ciuman nih 😚
    Selamat datang new couple MinHyun
    Makin lengkap aja…

  7. Akhir’y..kyu duh..love u…udh jujur ja kmu udh cinta sm siwon..
    dn siwon emang sedikit protect bgt sm babykyu…gombaln siwon tetep gk ilang,,ahra noona gk adil klo blng siwon penyebab kesialn bg kyu…itu udh takdir…

  8. Akhirnya..update.
    Jeongmal gumawo eonni..udah terus nyempetin buat update ff’y ditengah kesibukan eonni yang lainnya.
    Sepertinya semua sedang berusaha keras untuk cinta mereka.Semua mereka terus bersabar untuk hasil yang di harapkan.Dan mereka juga terus bersabar.
    Ada yang bikin galau dan senyam-senyum ga jelas saat baca tadi.
    Berharap yang terbaik saja.

    Fighting eonni..gumawo.

  9. Aaaaa….
    Akhirny lanjut juga \(^_^)/ ..

    Sepertiny Ahra g nolak ya? Tp aku lebih penasaran sma reaksi orang tua Kyuhyun. Kayakny sih mereka g bakalan nerima.

  10. haha Kyu hrs bener2 ekstra sabar kyk nya menghadapi sikap Siwon yg bener2 possesif bgt ini kkk ~
    iih Ra knapa sma Ji Hyun? aku kira nnti ada Song Qian or Vict,soalnya aku ngarep bgt nnti Chwang sma Vict ngahaha
    haha aku ga nebak Chwang gay kan di part sblm nya? lupa soalnya wkwk
    ya sudah fighting buat Chwang buat dapetin cinta nya yg terpendam slama 5 tahun itu kkk ~
    memuaskan ga memuaskan,yg penting kmu apdet aja udh seneng bgt 😀
    semangat buat next nya ^^

  11. Akhirnya updte juga.. aku menantimu eonni. sesibuk itukah dirimu Hwaiting ya!!
    Ahh moment Wonkyu tambah sweet tapi kurang panjang partnya hehe semoga ahra eonni menerima hubungan mereka..Ga sabar nunggu kelajutanya.

  12. Mian..komennya telat..baru tau soalnya…sekarang ada 4 couple dicerita ini…tapi cuma Changwook sama Haneul yg mulai ada sweet moment….ah sdh mulai kissue 2…hehe…Wonkyunya…sdh mulai direstui Ahra noona… msh perlu byk perjuangan….ditunggu update selanjutnya..gomawo Diera

  13. Trimakasih tlah meluangkan waktu tuk update,,wonkyu bner” bkin gemes momentnya manis bgt.changwook main sosor aja,,untuk changmin slamat brjuang,,jga yg lain.semangat…

  14. Kurang panjang bagian wonkyu nya, tapi tetep bagus jln cerita nya, apalagi ahra, yang udah bisa menerima hubungan adik nya…:)

    Haneul juga udah bisa membuka hati nya untuk changwook, keputusan yang tepat untuk haneul..

  15. Kurang puas sama bagaian wonkyu
    Terlalu disingkat 😁😁
    Jd changmin masih mencintai cinta pertamanya tp nggak pernah berani mengungkapkanny

  16. Part wonkyunya dkit sih,, tp kerenlah.
    Akhirnya ahra udh tau hbngan wonkyu plus udh dksi lampu ijo jg. . kkk~
    Tinggal reaksi ortunya kyu ama eomma choi. Kalo jinri aq rasa dy mah terserah siwon mo ama spa. . yg jdi msalah adalah eomma choi. . haaaah -____-”

  17. yeeeeee wonkyu udh bisa bersama walaupun rintangannya pasti berat buat mereka berdua tp aku doakan semoga wonkyu selalu bahagia dan gak terpisahkan
    pokoknya suka semua pasangan di ff eonni kecuali sama joon dan yifan
    tetap semangatnya eonni

  18. Yey satu lgi pndukung hbngan wonkyu….ahra bnr2 noona trbaik utk kyu…….like it…….tnggal nunggu reaksi ortu kyu…smga mrka sperti ahra!! Good job!!

  19. Ternyata selama ini changmin sdh ada orang yg ia sukai, tp dia sama sekali mengabaikan perasaannya tu. Dan krna sekarang dia diminta utk segera menikah akhirnya dia memberanikan diei mendekati orang yg dia suka..
    Wonkyu ketahuan ahra, semga saja ahra mau menerima hubungan wonkyu demi kebahagiaan dongsaengnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s