[MM] Super Human – 1st Story [12]

super human

Chapter Twelve

Dennis memperhatikan sebuah bangunan yang hampir terlihat seperti rumah sakit yang mahal. Ia merasa tidak yakin kalau dia datang ke alamat yang benar. Hanya saja, GPS mengantarkannya ke alamat tersebut. Jadi, tidak mungkin ada kesalahan kecuali Andrew Choi memberikan alamat yang salah padanya. Tapi hal itu juga tidak mungkin, bukan?

Semalam, saat Dennis tengah menikmati makan malam, Andrew Choi menghubunginya. Andrew mengatakan kalau dia mendapatkan nomor Dennis dari Anna. Well, Dennis tentu saja mengetahui kalau Anna atau Andrew akan menghubunginya. Tapi dia tidak menyangka kalau akan secepat itu. Dennis baru bertemu Anna sekitar delapan jam sebelumnya, Andrew langsung menghubunginya dan memintanya untuk bertemu. Mereka menyepakati dimana dan kapan mereka akan bertemu, tepatnya dua hari setelah Andrew menghubungi Dennis dan memberikan alamat kemana Dennis harus menemuinya.

Anehnya, hari ini adalah hari Minggu. Apakah gedung itu buka selama duapuluhempat jam selama satu minggu?

Dennis menarik nafas lalu memutuskan untuk melaju masuk memasuki area gedung tersebut. Setelah memarkirkan mobilnya, Dennis keluar dari mobil dan menguncinya. Sekali lagi, Dennis memperhatikan sekeliling gedung tersebut. “Choi Incoporate memang luar biasa,” gumamnya.

Dennis berjalan masuk gedung tersebut. Well, Dennis membuat kesalahan besar. Dari luar, gedung tersebut mungkin terlihat seperti rumah sakit mahal. Tapi saat melangkah masuk, Dennis seperti berada dalam sebuah film sci-fiction. Gedung itu seperti sebuah laboratorium rahasia dengan semua fasilitas canggih. Mungkin tidak se-canggih yang dilihat dalam film, tapi itu hanya sebuah film. Apa yang dilihat Dennis adalah hal nyata. Dennis bahkan berfikir apakah Andrew menyediakan fasilitas layar hologram atau semacamnya.

Kemudian Dennis menuju meja resepsionis. Ia tersenyum pada pegawai yang bertugas dan menyapanya dengan sopan. “Selamat pagi. Aku ingin bertemu dengan Andrew Choi. Kami sudah buat janji.”

Pegawai itu menatapnya. “Selamat pagi. Apakah anda Dennis Park?” Dennis mengangguk. Kemudian pegawai itu menyodorkan sebuah form dan pena pada Dennis. Ia mengernyit tidak mengerti. Pegawai itu tersenyum. “Prosedur tamu yang berkunjung, Tuan. Tolong isi identitas anda dan berikan kartu identitas anda.”

Dennis mengangguk mengerti dan mulai mengisi form tersebut. Well, sedikit berbeda dengan film, tapi rasanya cukup masuk akal. Setelah selesai mengisi form tersebut, Dennis mengeluarkan kartu lisensi mengemudinya dari dompet. Pegawai itu mengambil form serta kartu identitas milik Dennis. Pegawai tersebut terlihat sibuk mengetik sesuatu pada komputer dan limabelas detik kemudian dia memberikan gelang id visitor pada Dennis.

“Setiap anda ingin membuka pintu, tempelkan gelang itu pada platform yang tersedia. Dalam gelang tersebut sudah berisi data mengenai diri anda. Jadi, aktivitas anda selama berada di Lab akan terpantau,” jelas pegawai tersebut.

Dennis mengambil gelang tersebut dan memakainya pada pergelangan kiri. Ia melirik pegawai itu lagi. “Lab? Ini Lab? Tidak mempunyai nama lainnya?” tanya Dennis.

Pegawai tersebut hanya tersenyum. “Tuan Choi sudah menunggu anda di lantai sepuluh. Dan selamat datang di Lab, tuan Dennis Park.”

Dennis menarik nafas lalu berjalan menuju lift. Walaupun dia masih merasa tidak yakin kalau Andrew menamainya hanya dengan Lab. Well, semua nama yang diberikan oleh Choi Incoporate selalu terdengar keren. Skyline, TransWorld, WorldMedia, Mediction. Oh, tidak lupa dengan AirOne Corp dan OceanCruise. Tapi gedung ini hanya diberi nama singkat, Lab.

“Mungkin dia belum menemukan nama yang cocok untuk tempat ini,” gumam Dennis sembari menempelkan gelang id visitor-nya untuk membuka pintu lift. Saat pintu terbuka, Dennis bersiul kagum. Ia kemudian berjalan masuk dan menekan tombol angka sepuluh. Pintu lift tersebut tertutup dan lift berjalan naik ke lantai yang dituju oleh Dennis.

Lima detik berikutnya, pintu lift terbuka. Dennis kembali berdecak kagum karena perjalanan lift-nya begitu cepat. Dennis melangkah keluar lift dan berjalan menuju meja resepsionis lainnya. Pegawai yang menyambutnya memberikan isyarat agar Dennis kembali menempelkan gelang id visitornya. Dennis melakukan apa yang diminta oleh sang pegawai tersebut.

Pegawai itu tersenyum. “Selamat datang, tuan Dennis Park. Tuan Choi menunggu anda di ruangan Prof. Stephen Jung. Koridor kanan dan lima pintu berikutnya.”

Dennis mengangguk mengerti dan berjalan sesuai arahan pegawai tersebut. Ia bahkan menghitung pintu yang dilewatinya. Setelah melewati pintu ke-empat, Dennis berdiri pada pintu ke-lima. Dia membaca plat nama Prof. S. Jung yang terpajang di pintu berwarna hitam tersebut. Dennis melirik plat lainnya dimana ia harus menempelkan gelang id visitornya.

Dennis menghela nafas lalu menempelkan gelang tersebut. Pintu kemudian terbuka dan dia melihat sosok Andrew yang sudah menunggunya. Dennis berjalan masuk dan memperhatikan sekeliling ruangan tersebut. Well, dia benar-benar terkesan dengan hasil pekerjaan Andrew. Pria kaya itu sangat mengetahui cara bagaimana menghabiskan uangnya.

Dennis tersenyum tipis saat Andrew berdiri dihadapannya. Dennis menatap Andrew dan mengulurkan tangan. “Dennis Park. Senang akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Andrew Choi.”

Andrew berdiri dan menyambut uluran tangan Dennis. Ia tersenyum. “Senang Anna bisa menemukanmu tepat waktu, Dennis Park.”

Dennis kembali menarik tangannya. Ia mengingat Anna. Gadis itu benar-benar mengejutkannya dan mungkin Andrew berpikiran hal yang sama dengannya. Andrew kemudian mempersilakan Dennis untuk duduk. Dennis memilih duduk di sofa yang berhadapan dengan Andrew. Ia melepaskan tas ranselnya dan menatap Andrew yang kembali duduk.

Dennis menarik nafas. “Jadi, ada yang bisa kubantu?”

Andrew tersenyum. Dennis sepertinya orang yang langsung bicara pada intinya. Sepertinya Andrew mulai menyukai pria yang duduk dihadapannya. Sama seperti Andrew menyukai Anna. Walaupun gadis itu terlihat aneh dan misterius, tapi Anna selalu bicara pada intinya.

“Kurasa kita tahu masalah yang sedang kita hadapi saat ini. Pembunuh berantai. Yang kami ketahui bahwa semua korbannya adalah super human, karena kami mempunyai data mengenai tiga korban tersebut dan pembunuh itu tidak mungkin hanya membunuh secara acak. Pembunuh itu memakai cara yang sama untuk membunuh, dengan membelah tengkorak kepalanya dan mengambil otaknya. Sedikit menjijikkan, memang. Selain itu, karena polisi tidak berhasil menangkap atau mencari jejaknya, maka kami membutuhkan bantuanmu,” kata Andrew.

Dennis menyilangkan kakinya dan bersandar pada sofa empuk tersebut. “Aku mengerti mengenai pembunuh itu. Tapi jelaskan padaku kenapa aku harus membantu kalian? Untuk menangkapnya?”

“Karena kita tidak tahu siapa yang akan menjadi korban berikutnya. Itu bisa salah dari kita atau orang lain yang kita kenal atau seseorang yang juga seorang super human. Korban terakhirnya, Chase Lee, aku mengenalnya cukup baik. Dan yang seharusnya menjadi korban selanjutnya, Sully Choi. Kami berhasil menyelamatkannya dan memberikan tempat perlindungan yang aman. Berkat bantuan Anna. Bahkan kita bisa bertemu dan bicara disini, juga karena gadis itu. Jadi, jelaskan padaku kenapa kau tidak bisa membantuku,” kata Andrew.

Well, apa yang kau katakan memang benar. Kita tidak pernah tahu siapa yang akan menjadi korban berikutnya. Tapi bagaimana aku bisa membantumu? Aku yakin Anna memberitahumu mengenai kemampuanku. Tapi kemampuanku itu tidak akan berguna jika aku tidak mempunyai benda atau foto dari pembunuh itu. Lalu bagaimana aku bisa membantumu?” tanya Dennis.

Andrew terdiam sejenak. Dia memperhatikan Dennis dengan lekat lalu menarik nafas. Andrew tidak berpikir sampai sejauh itu mengenai kemampuan Dennis. Tapi setidaknya mereka sudah bertemu dan Dennis bisa membantu. Andrew menghela nafas perlahan. “Akan kupikirkan. Tapi apa kau bersedia untuk membantu kami? Karena bukan hanya pembunuh itu yang harus kita cemaskan.”

Dennis mengernyit. “Oh, ada hal lainnya?”

“Anna memberitahu kami mengenai pembunuh itu dan sebuah kecelakaan pada salah satu project kami. Anna mempunyai kemampuan untuk melihat masa depan. Walaupun dia sedikit merasa tidak yakin, tapi pembunuh itu ada kaitannya dengan kecelakaan tersebut. Dan kami tidak mempunyai banyak waktu lagi. Jika kecelakaan itu terjadi, dampaknya akan sangat besar dan berbahaya,” jelas Andrew.

“Kecelakaan besar? Oh, aku baru mendengarnya.”

Andrew mengernyit. “Anna tidak mengatakan apapun padamu?”

Dennis menggeleng. “Kami tidak banyak bicara. Selain itu, kami hanya bicara mengenai kemampuan kami. Dia mengatakan kalau kami akan bertemu lagi, denganmu juga. Tapi aku tidak menyangka kalau kita hanya bertemu berdua saja.”

Andrew merasa kalau itu sedikit aneh. Saat mereka datang untuk menyelamatkan Sully, Anna menjelaskan mengenai kilasan masa depan yang dilihatnya mengenai pembunuh itu serta kecelakaan nemesis. Tapi kenapa dia tidak menceritakannya juga pada Dennis? Namun, Andrew hanya berpikir kalau Anna mungkin tidak sempat membicarakannya. Selain itu, Anna menunggunya didepan H&G untuk memberitahu kecelakaan Marc. Jadi, seperti yang Dennis katakan, mereka tidak bicara banyak.

“Kurasa kita akan mempunyai banyak waktu untuk menjelaskan apa yang ingin kau ketahui,” kata Andrew. Kemudian Steve dan Victoria memasuki ruangan kerja Steve. Mereka juga menyadari kalau Andrew sudah tidak sendirian.

Andrew tersenyum dan berdiri. Begitu pula dengan Dennis. “Dennis, aku perkenalkan. Mereka adalah Profesor Stephen Jung dan Victoria Song. Professor Jung, Victoria, kukenalkan Dennis Park.”

Dennis kemudian berjabat tangan dengan kedua orang tersebut. Dan ketika ia berjabat tangan dengan Victoria, Dennis langsung mengetahui kalau wanita itu adalah super human –apapun istilah yang dibuat oleh Andrew. Mungkin Dennis harus bertanya mengenai istilah itu pada Andrew atau dua orang yang baru dikenalkan padanya.

Andrew tersenyum. “Mungkin kau bisa banyak bertanya pada mereka berdua karena aku harus ke Mediction sekarang. Ah, kau mungkin sudah mengetahui kalau Victoria adalah super human. Dia memiliki kemampuan untuk melihat masa depan. Sedangkan Professor Jung hanyalah professor muda yang sangat berbakat dan pintar. Kami sangat terbantu karenanya dan juga ayahnya.”

Steve hanya tertawa kecil. “Well, terima kasih atas pujiannya, Andrew.”

“Tidak masalah. Dan kumohon, tolong jelaskan pada Dennis mengenai apapun yang ingin ditanyakannya. Aku pergi dulu,” kata Andrew seraya berjalan menuju pintu.

“Andrew? Kabari kami mengenai kondisi Marc,” kata Victoria. Andrew menatapnya dan mengangguk. Kemudian setelah berpamitan pada Dennis, Andrew berjalan keluar dan menutup pintu dengan rapat.

Setelah Andrew menutup pintu, Steve dan Victoria menatap Dennis dengan lekat. Steve tersenyum dan duduk di sofa. Diikuti oleh Victoria. Dennis memperhatikan keduanya sejenak lalu kembali duduk. Steve menarik nafas. “Ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan pada anda, Dennis. Tapi kurasa akan lebih adil, jika anda yang bertanya terlebih dahulu.”

Pria yang sangat sopan, pikir Dennis.

Okay, ada satu hal yang sebenarnya ingin kutanyakan pada Andrew. Tapi kurasa kalian pun bisa menjawabnnya,” kata Dennis yang menarik nafas. Ia tersenyum pada Steve dan Victoria. “Jadi, kenapa tempat ini hanya diberi nama Lab? Apa tidak ada nama yang cukup keren?”

*****

Andrew berjalan pelan di koridor lantai tujuh kamar rawat Mediction dengan membawa satu ikat bunga lili putih. Mediction adalah sebuah rumah sakit yang memiliki fasilitas terbaik dibawah naungan Universitas Seoul dan dibawah pengawasan Choi Incoporate sebagai pendonor dana utama di rumah sakit tersebut. Kemarin Marc sudah dipindahkan dari Rumah Sakit Anyang ke Mediction setelah dokter menyatakan kalau kondisi Marc cukup stabil untuk melakukan perjalanan. Walaupun dokter menyatakan kalau operasinya berhasil, namun hingga hari ini Marc masih belum sadarkan diri.

Andrew sama sekali tidak menyukai Mediction. Ia pernah beberapa-kali dirawat di Mediction, salah satunya ketika ia hampir meninggal karena ledakan sewaktu dia mengerjakan project sekolah yang kemudian memunculkan kemampuannya. Selain itu, Marc juga pernah masuk Mediction juga karena kemampuannya itu. Saat itu, Andrew tidak berani mengatakan apapun pada keluarga Marc. Bahkan dia sempat mengancam dokter untuk tidak memberitahu keluarganya.

Dalam tujuh tahun, mereka berdua harus berkali-kali masuk Mediction –tanpa sepengetahuian keluarga mereka– karena mereka terluka akibat kemampuan mereka sendiri. Andrew dan Marc mungkin jarang menggunakan kemampuan mereka, tapi jika mereka tidak berhati-hati maka kemampuan mereka akan menjadi sangat berbahaya bagi tubuh mereka sendiri. Steve juga sudah mengingatkan kalau kemampuan itu membuat tubuh mereka melakukan perubahan sebagai penyesuaian.

Setelah dua tahun berusaha untuk mengontrol kemampuan mereka, akhirnya Marc yang kembali masuk ke Mediction. Mungkin bukan karena kemampuan yang dimiliknya, tapi tetap saja Andrew sama sekali tidak menyukainya.

Langkah Andrew terhenti di depan sebuah kamar rawat. Ia menarik nafas sebelum membuka pintu. Di dalam ruangan besar tersebut, Andrew melihat Laura yang duduk disamping ranjang rawat sembari menggenggam tangan Marc. Marco sedang mengerjakan beberapa dokumen di sofa yang terletak dekat jendela besar. Andrew berjalan masuk dan menutup pintunya. Hal itu membuat Marco mengangkat kepalanya.

Pria berusia 51 tahun tersebut menutup dokumen dan menaruhnya diatas meja kemudian menghampiri Andrew. Andrew sedikit membungkuk. Marco menepuk bahunya.

“Masih belum ada perkembangan apapun?” tanya Andrew.

Marco menggeleng. “Dokter hanya mengatakan Marc mungkin memilih untuk tidur lebih lama. Kondisi tubuh dan lukanya perlahan membaik. Tubuhnya juga tidak menunjukkan reaksi apapun. Kita hanya perlu menunggu.”

Andrew lalu menghampiri ranjang rawat Marc. Ia mengambil bunga yang sudah layu yang terletak diatas meja dekat ranjang. Kemudian ia menggantinya dengan bunga lili putih yang dibawanya. Laura memandang Andrew dan tersenyum.

“Kau sudah datang, Andrew,” kata Laura dengan suara lemah.

Andrew tahu kalau Laura belum pulang sejak hari kecelakaan itu. Bibinya itu bersikeras untuk tetap berada disamping Marc. Laura menginginkan ketika putranya terbangun, ia adalah orang pertama yang dilihat oleh Marc. Andrew memperhatikan wajah lelah bibinya.

“Bibi, pulanglah. Istirahat selama beberapa jam di rumah. Aku yang akan menjaga Marc sampai Bibi datang. Bibi terlihat seperti akan pingsan jika lebih lama berada disini,” bujuk Andrew.

“Bibi baik-baik saja, Andrew. Bibi hanya perlu berada disisi Marcus,” kata Laura. Kemudian Laura menatap Marc yang terlihat sedang tidur tapi dengan wajah yang lebih pucat. Ia mengeratkan genggamannya pada tangan Marc yang dingin. “Marcus sedang tidur dengan lelap. Dia bahkan tidak mau bangun.”

Marco menghampiri istrinya dan menyentuh bahunya. Seolah dia juga sedang memberikan kekuatan untuk Laura bertahan. Andrew menatap pasangan suami-istri tersebut dengan prihatin. Mungkin inilah pertama-kalinya bagi mereka melihat kondisi Marc yang seperti ini. Tapi Andrew sudah cukup sering melihat kondisi saudaranya yang pucat tak berdaya. Dan dia tidak pernah terbiasa atas kondisi tersebut.

Andrew kemudian teringat dengan saran dari Anna ketika mereka saling berkirim e-mail mengenai perkembangan penyelidikan sinkhole yang didapatkan Anna dari David. Anna menyarankan agar Andrew membawa Sully pada Marc. Setidaknya Sully bisa membantu kondisi Marc menjadi lebih baik dengan hanya satu sentuhan.

Tapi hal itu sedikit ditentang oleh Steve.

Steve tidak mempunyai data apapun mengenai kemampuan Sully yang digunakan oleh orang lain –bahkan oleh orang yang memiliki kemampuan mengkopi kemampuan seperti Marc. Tidak ada jaminan setelah Sully menyentuh Marc, saudara sepupu Andrew itu akan terbangun. Namun, saat ini Andrew kembali memikirkan saran tersebut setelah melihat kondisi Laura. Jika Sully bisa membantu Marc untuk sadar kembali dengan kemampuannya, maka Andrew tidak akan keberatan untuk mengancam dokter lagi jika mereka menemukan kejanggalan. Namun, jika kemampuan Sully tidak memberikan reaksi apapun. Well, setidaknya Andrew harus berani mengambil resiko yang sangat besar. Steve akan membunuhnya atau Laura yang melakukannya terlebih dahulu.

Andrew menarik nafas kembali. Ia telah memutuskan. “Bibi Laura, setidaknya Bibi harus keluar dari kamar ini. Paman, ajaklah Bibi makan siang di restaurant. Aku akan tetap disini dan jika ada perkembangan apapun akan segera kukabari.”

Marco tersenyum. “Bagaimana? Kita makan siang dulu? Setidaknya kau perlu lebih sehat untuk menjaga Marcus disini. Kau bahkan tidak keluar dari kamar ini sejak Marcus dipindahkan.”

Laura menghela nafas. Ia menatap Andrew dan Marco secara bergantian. Kedua pria itu berusaha meyakinkan Laura untuk keluar makan siang. “Baiklah. Tapi kita hanya pergi selama dua jam. Tidak lebih, okay?” kata Laura.

Marco mengecup kepala Laura. “Well, jika kita pergi selama dua atau tiga jam tidak akan membuat Marcus kabur dari tempat tidurnya yang empuk, sayang.”

Laura tersenyum. Marco tidak pandai membuat lelucon tapi suaminya hanya berusaha untuk mencairkan suasana yang tegang setelah dokter datang untuk memeriksa keadaan Marc sekitar satu jam lalu. Laura kemudian mencium kening Marc. Ia mengusap wajah Marc dengan penuh kasih sayang.

“Ibu dan ayah pergi makan siang dulu, ya,” bisik Laura.

Marco lalu menggenggam tangan istrinya. Laura berdiri dari kursi dan mengambil tas tangannya. Kemudian ia menatap Andrew. “Tolong jaga Marcus, Andrew.”

Andrew mengangguk. Marco dan Laura kemudiaan berjalan keluar dari ruangan tersebut. Setelah menunggu hingga dua menit hanya untuk memastikan, Andrew mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor Victoria. Saat ini, Sully mungkin masih berada di Lab bersama Max untuk menjalani beberapa latihan. Walaupun Steve mungkin akan menolak, tapi ia harus memastikan kalau Victoria bisa membawa Sully ke Mediction.

“Victoria, apa kau masih berada di Lab? Bawa Sully ke Mediction sekarang juga. Ini adalah perintah, Nona Song. Kau mempunyai waktu dua jam untuk datang ke Mediction.”

*****

Aiden melirik Anna yang sedang menyantap makan siangnya dengan tenang. Hari ini, Mary memberikan undangan makan siang bersama. Walaupun Angela sempat menolak untuk datang, tapi James bersikeras kalau mereka bertiga harus datang. Well, untuk pertama-kalinya Aiden merasa kalau sifat keras Ayahnya cukup berguna. Dia sangat ingin bertemu dengan Anna lagi. Hanya sekedar untuk memastikan sesuatu.

Saat mereka datang, Anna tidak keluar kamar. Sedikit tidak sopan tapi Mary mengatakan kalau Anna sedang mengerjakan sesuatu dan tidak ingin diganggu. Dan dia baru keluar kamar ketika Mary meminta Nikky untuk memanggil Anna. Saat itu, Aiden baru bisa melihat gadis itu lagi. Sejauh ini, Aiden belum bisa mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Kecuali Aiden bisa memastikan kalau sepupu tirinya itu sedikit aneh. Anna memakai pakaian yang hampir menutupi seluruh bagian kulitnya, termasuk ia juga memakai sarung tangan.

Kini, suasana makan siangnya terasa begitu canggung. Anna sama sekali tidak terlibat dalam percakapan apapun. Dia hanya menjawab ketika ditanya, setelahnya Anna hanya fokus dengan makanannya.

“Hanya aku atau kau juga merasa kalau dia sedikit aneh,” bisik Angela.

Aiden melirik adiknya. Ia mengangkat bahu dan memasukkan kimchi kedalam mulutnya. “Jaga sikapmu, adik. Walaupun dia sedikit aneh, tapi dia adalah sepupu tirimu,” gumamnya.

Angela mendecih lalu kembali melahap makanannya. Aiden kembali melirik Anna yang sepertinya terlalu sibuk dengan makananya hingga dia tidak menyadari kalau sedang dibicarakan. Aiden dan Angela duduk tepat berhadapan dengan Anna yang duduk bersampingan dengan Nikky. Kemudian James mengganti topik pembicaraan mereka.

“David masih mengurus kecelakaan sinkhole beberapa hari lalu?” tanya James.

Mary mengangguk. “Dia bahkan belum pulang sejak kemarin. Kecelakaan itu terjadi tanpa sebab apapun. Bahkan pakar geologi sama sekali tidak mendapatkan penjelasan yang logis mengenai kecelakaan tersebut.”

Aiden juga mendengar penjelasan itu di berita televisi yang melakukan dialog dengan pakar geologi. “Sinkhole yang muncul bahkan tanpa ada catatan mengenai pergerakan tanah atau kejadian alam seperti gempa bumi memang sangat tidak masuk akal. Lagipula sinkhole kebanyakan muncul di daerah dengan tanah dengan batuan gamping atau batuan lainnya yang mudah terkikis air. Selain itu, konstruksi jalan bebas hambatan mengunakan bahan beton, jadi sangat kecil kemungkinan tanah dibawah bisa bergerak dan membuat lubang sebesar itu,” katanya.

Sontak James, Mary dan Angela menatapnya dengan serius. Nikky sendiri malah menatap Aiden dengan rasa kagum. Mungkin karena Nikky tidak pernah menyangka kalau sepupunya itu cukup pintar. Aiden membalas tatapan mereka dengan bingung. Ketiga orang tersebut melihatnya dengan sangat terkejut. “Kenapa? Aku mendengarnya saat menonton dialog di televisi. Tidak perlu terkejut seperti itu,” tukasnya.

Mary tertawa kecil dan James hanya menggeleng setelah mendengarkan penjelasan Aiden tersebut. Angela mendengus. “Jangan mengatakan sesuatu yang serius seperti itu lagi, Aiden Lee. Aku bahkan sangat terkejut kau menonton berita,” kata Angela. Saat di sekolah menengah, Aiden cukup lemah dalam pelajaran geografi. Jadi, ketika mendengarnya bicara mengenai kecelakaan sinkhole tersebut membuat ketiganya terkejut.

Disaat semua orang kembali membicarakan mengenai topik lainnya, seperti kapan Aiden bisa bergabung di Lee Corp yang membuat Aiden mendengus jengkel, Anna memikirkan ucapan Aiden mengenai sinkhole itu terbentuk. Ia juga sedikit mencari informasi mengenai sinkhole dan apa yang terjadi dua hari lalu benar-benar tidak masuk akal. Jadi, Anna berpikir kalau ada sesuatu yang lain yang menyebabkan sinkhole itu muncul.

Mungkinkah pembunuh itu? Tapi bagaimana dia melakukannya? pikir Anna. Sepengetahuan Anna, dia belum pernah bertemu dengan super human dengan kemampuan seperti itu. Tapi mungkin Andrew bisa mencari tahu mengenai super human dengan kemampuan yang mirip. Anna lalu menaruh serbet diatas meja.

“Maaf, aku sudah selesai. Aku akan ke kamarku. Ada sesuatu yang harus kukerjakan,” kata Anna. Kemudian ia langsung bergegas menaiki anak tangga.

Mary dan James memperhatikan Anna dengan lekat. James lalu menatap adiknya. “Apa dia selalu seperti itu? Hanya berdiam diri di kamarnya?” tanya James.

“Tidak juga. Dia beberapa-kali pergi keluar rumah. Tapi jika sedang tidak pergi, Anna memang lebih banyak berada di kamarnya. Dia hanya keluar untuk makan atau jika David memanggilnya untuk bicara,” jelas Mary.

Well, itu tidak terdengar sepenuhnya aneh bagi Aiden. Tapi dia tetap merasa penasaran dengan gadis itu.

*****

Steve menghalangi Victoria yang membawa Sully tepat didepan lift. Victoria menatap sang professor muda tersebut dengan jengkel. Walaupun Steve tidak setuju dengan saran Andrew –yang didapatinya dari Anna– untuk menggunakan kemampuan Sully, setidaknya mereka bisa berusaha. Tidak ada salahnya untuk mencoba. Victoria menatap Steve dengan serius.

“Minggir Steve,” kata Victoria dengan tegas.

Steve menggeleng. Dennis, Max dan Sully tidak berani ikut campur dalam masalah ini. Max dan Sully mengetahui mengenai kondisi Marc saat ini dari penjelasan Andrew. Tentu saja Sully ingin membantu ketika Andrew mengatakan mengenai saran dari gadis yang bernama Anna itu untuk menggunakan kemampuan Sully. Tapi Steve melakukan penolakan keras. Saat ini Marc dalam kondisi tidak sadarkan diri jika Sully menyentuhnya, mereka tidak tahu efek apakah yang akan muncul. Lagipula walaupun kemampuan Marc mengkopi kemampuan super human dengan sentuhan, tidak ada jaminan kalau tubuh Marc bisa menerima perubahan itu dengan baik. Selama ini, Marc selalu kesulitan mengontrol kemampuannya terlebih dengan kemampuan baru yang didapatkannya Karena itulah Steve menolak saran tersebut.

“Aku tidak akan bergerak dari ini. Apakah kalian sudah gila? Marc tidak dalam keadaan kritis. Dokter mengatakan operasinya berhasil dan kita hanya harus menunggu hingga dia tersadar. Melakukan hal ini, tidak akan membuat Marc terbangun lebih cepat. Kita tidak pernah tahu bagaimana efeknya, Victoria. Aku bahkan belum selesai meneliti darah Sully. Katakan pada Andrew untuk menunggu. Marc mungkin akan sadar dengan sendirinya, “ kata Steve.

Victoria menarik nafas. “Ini adalah perintah dari Direktur Andrew Choi, Professor Jung. Jika kau keberatan, katakan itu langsung padanya. Aku hanya menjalankan perintah.”

Ucapan Victoria membuat Steve semakin kesal. “Perintah dari Direktur Andrew Choi? Pada akhirnya, dia menggunakan kekuasaannya, bukan? Akhirnya, kita hanyalah bawahan yang harus menuruti keinginan atasan. Victoria, dengarkan aku. Saran itu mungkin adalah pilihan yang terbaik agar Marc cepat pulih, tapi kita juga harus memperhatikan efek sampingnya. Kau pernah melihat sendiri bagaimana reaksi Marc setiap kali dia tidak sengaja mendapatkan kemampuan baru? Bahkan dalam keadaan sadarpun, itu buruk sekali. Bayangkan jika dia mendapatkannya dalam kondisi tidak sadarkan diri? Pikirkan hal itu baik-baik, Victoria. Kumohon.”

Victoria kini terdiam. Dennis, Max dan Sully tidak memberikan komentar apapun. Mereka baru pertama-kali melihat pertengkaran seperti ini. Disatu sisi, mereka semua ingin menyelamatkan Marc, tapi disisi lainnya mereka juga mengkhawatirkan efek sampingnya. Steve yang lebih banyak mengetahui dalam penelitian super human itu jelas menolaknya. Dia tidak bisa membahayakan nyawa seseorang hanya untuk sekedar percobaan tanpa ada penelitian sebelumnya.

Victoria menoleh pada Max, Dennis dan Sully. Dia menatap mereka berrtiga selama beberapa detik, sebelum kembali menatap Steve. Victoria menarik nafas dan mengambil satu langkah mendekat pada Steve. “Maafkan aku, Steve.”

Yang berikutnya, terjadi begitu cepat. Victoria mencengkram jas putih Steve dan detik berikutnya, Victoria membanting tubuh Steve ke lantai. Well, Victoria adalah pemegang sabuk hitam taekwondo, jadi hal itu tidak cukup sulit untuk dilakukan oleh Victoria. Victoria menatap Steve yang merintih kesakitan di lantai kemudian dengan cepat ia menarik tangan Sully dan membawanya masuk kedalam lift.

Dennis dan Max tidak bergerak dari posisinya. Mereka berdua terlalu terkejut melihat aksi Victoria. Dennis perlahan tersenyum dan membantu Steve untuk berdiri. “Ini benar-benar menarik. Kurasa aku akan terlibat dalam team kalian. Gadis tadi benar-benar luar biasa,” seru Dennis dengan kagum.

Max sendiri menatap Steve dengan prihatin. Bantingan Victoria terlihat menyakitkan. Max akan berusaha untuk tidak membuat Victoria marah atau kesal padanya. Dia tidak ingin dibanting seperti itu. “Kau tidak apa-apa, Professor?” tanya Max.

Steve menatap Dennis yang terlihat senang dengan jengkel. Kemudian ia menggeleng untuk menjawab pertanyaan Max. Dennis membuka pintu lift untuk mengejar Victoria. Walaupun ini bukan yang pertama, tapi bantingan Victoria cukup kuat. Dennis dan Max lalu mengikuti Steve untuk mengejar Victoria yang pergi ke Mediction.

*****

Seorang pria keluar dari lift yang membawanya ke lantai tujuh. Kemudian ia berjalan melewati lorong dengan membawa satu tangkai bunga krisan putih. Pria itu melangkah dengan tenang bahkan tersenyum pada beberapa suster yang melewatinya. Pria itu lalu berbelok kearah kanan dan berjalan menuju kamar yang berada diujung lorong tersebut.

Kakinya berhenti tepat didepan pintu sebuah kamar. Pria itu membuka pintu perlahan dan berjalan masuk. Ia tersenyum begitu mendapati kamar itu kosong. Kemudian pria itu mendekati ranjang. Ia memperhatikan sosok yang terbaring disana. Senyuman perlahan berubah menjadi sebuah senyuman jahat.

Pria itu menaruh bunga krisan putih tersebut diatas tubuh sosok tersebut. “Senang melihatmu tetap hidup. Kau harus tetap bertahan hingga waktunya tiba, Marcus Cho. Sampai aku kembali datang padamu. Untuk saat itu tiba, aku mengharapkan kau cepat sembuh. Agar kita bisa bertemu lagi.”

Pria itu dengan mudah menemukan dimana Marcus Cho dipindahkan dari rumah sakit Anyang. Selain itu, dia juga mengawasi orang-orang yang datang untuk menemui Marc. Dia juga bisa memperkirakan waktu dengan sangat baik. Pria itu melirik sebuah vas berisi lili putih. Ia menyeringai.

“Bunga lili putih. Melambangkan kematian, tetapi juga kebangkitan hidup. Pintar sekali,” gumamnya lagi. Pria itu menatap Marc untuk terakhir kali. Kemudian pria itu berjalan keluar. Ia menutup pintu secara perlahan dan berjalan menuju lift. Pria itu tidak ingin menghabiskan waktu lama untuk mengatakan hal omong kosong.

Ketika akan berbelok, pria itu berpapasan dengan Andrew yang terus berjalan menuju kamar Marc. Diikuti oleh dua orang wanita dimana salah satunya adalah Sully Choi. Pria itu mengulas senyuman ketika ia melihat gadis yang hilang dari pengawasannya. Ia berjalan menuju lift. Kini dia bisa meninggalkan Mediction dengan sebuah senyuman.

*****

Langkah Sully terhenti dan menoleh untuk melihat lagi pria yang berpapasan dengannya. Namun, pria itu sudah berbelok. Sully merasa pernah melihat pria itu di suatu tempat. Tapi dia tidak begitu yakin dan berusaha untuk mengingat lebih jelas lagi. Wajah pria itu tidak asing dalam ingatan Sully. Victoria yang menyadari Sully tidak berjalan disampingnya, menghampiri gadis itu.

Victoria menatap Sully. “Ada apa?” tanyanya.

Sully menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku hanya merasa pernah melihat seseorang yang kukenal.”

“Siapa?” tanya Victoria lagi.

“Mungkin hanya perasaanku saja,” kata Sully.

Kemudian Victoria dan Sully berjalan menuju kamar rawat Marc. Ketika mereka masuk, Andrew terlihat kebingungan pada sebuah bunga krisan ditangannya. Victoria menutup pintu dan menghampiri Andrew. “Bunga krisan? Itu dari siapa?”

Andrew menoleh pada Victoria dan menggeleng. Kemudian ia menaruh bunga tersebut diatas meja. “Mungkin seorang suster yang menaruhnya.” Andrew lalu menatap Sully dan tersenyum. “Terima kasih karena sudah datang. Dan maaf, jika merepotkanmu.”

“Tidak apa-apa. Aku senang bisa membantu. Kalian telah menyelamatkanku dan mungkin dengan cara ini aku bisa membalasnya,” kata Sully.

Andrew masih tersenyum mendengar ucapan Sully. Lalu ia memandang Marc yang masih tertidur dengan lelap. Andrew menyentuh tangan Marc dan menggenggamnya erat. Victoria dan Sully hanya memperhatikan kedua calon pewaris Choi Incoporate tersebut. Victoria yang jauh lebih lama mengenal Andrew dan Marc tentu mengetahui bagaimana rasa sayang Andrew pada sepupunya. Mereka berdua mungkin saudara sepupu, tapi semua orang yang melihat kedekatan mereka akan beranggapan kalau mereka bersaudara kandung. Terlebih dengan sikap protektif Andrew pada Marc.

Orang lain bahkan mungkin akan mempunyai pemikiran lain terhadap hubungan mereka.

Andrew menarik nafas panjang dan mulai berbisik dekat telinga Marc. “Kau mungkin akan memakiku setelah kau sadar nanti karena membuatmu memiliki kemampuan lainnya. Tapi apa yang kulakukan ini adalah untukmu, Marc. Apapun yang akan terjadi, aku akan bertanggung-jawab. Kau boleh memakiku dan memukuliku. Tapi ini adalah bukti bahwa aku menyayangimu. Kau percaya padaku, bukan?”

Andrew mengharapkan kalau Marc akan terbangun dan membalas ucapannya. Tapi tentu saja, itu tidak terjadi. Siapa yang sedang dibohongi Andrew saat ini? Hanya dirinya sendiri. Untuk menghibur dirinya sendiri. Andrew kemudian menatap Sully dan mengangguk.

Sully menarik nafas lalu berjalan kesisi kiri ranjang tersebut. Ini adalah pertama-kalinya Sully bertemu dengan Marc. Andrew pernah bercerita mengenai sepupunya. Akhirnya kini Sully bertemu dengan orang yang disayangi oleh Andrew. Hanya saja dalam situasi yang memprihatinkan. Sully menatap Andrew yang kini duduk ditepi ranjang dengan masih menggenggam erat tangan Marc.

“Aku akan tetap disisinya. Kau mungkin bisa menyentuhnya selama beberapa detik lalu menjauhlah. Kita tidak pernah tahu bagaimana reaksi tubuhnya nanti. Jadi, hanya untuk berjaga-jaga. Mengerti?” tanya Andrew.

Sully mengangguk. “Aku mengerti.”

Sully menarik nafas kembali. Ia memperhatikan Marc dengan lekat. Lalu perlahan tangan kanannya bergerak menuju tangan kiri Marc. Sebenarnya Sully merasa ragu dengan cara seperti ini. Apa yang diucapkan Steve cukup masuk akal. Jika terjadi sesuatu yang buruk, Sully akan menyalahkan dirinya sendiri. Karena dia merasa tidak yakin, tapi tetap melakukannya. Suasananya begitu sunyi, bahkan Victoria hampir menahan nafas. Sully melirik Andrew yang terlihat begitu penuh pengharapan. Kini Sully meyakinkan dirinya untuk terakhir kali sebelum ia menyentuh tangan Marc. Namun, tiba-tiba pintu terbuka.

“Andrew Choi, hentikan itu!!”

Itu adalah Steve yang berteriak keras. Dennis dan Max mengikuti dibelakang sang professor muda tersebut. Tapi sudah terlambat. Karena terlalu terkejut, tanpa sadar Sully menyentuh tangan Marc. Semua orang di ruangan tersebut terkesiap dan Sully menarik tangannya dengan cepat. Ia bahkan tidak tahu berapa lama ia menyentuh tangan Marc.

Kini mereka menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

*****

NOTE: Aku masih dalam pengerjaan penulisan Scarface, mudah-mudahan akhir minggu ini bisa dipublish..

Harap maklum ya..

Advertisements

7 thoughts on “[MM] Super Human – 1st Story [12]

  1. Itu bersambung di tempat krusial sekali ;A;

    sulli pls kenali orang itu yayayaya dia orangnya/nunjuknunjuk/
    btw, makin penasaran sama si dia. Bagian dia pas jengukin marc disini itu makin nambah teka teki nya huhu
    ditunggu next chapter dan scarface nya 🙂

  2. Aku baca ngebuuuuuuuutttttttt……..
    Karena terlalu sering baca ff yaoi, aku jadi kurang tertarik dengan ff yg biasa. tapi penasaran juga dengan ff ini.
    Setelah dibaca, ternyata ff ni keren banget.Suka banget ceritanya. Hehe meskipun telat, tapi akhirnya aku jadi penggemar ff ni.

    yg jadi penasaran dari ff ni, seandainya Kyuhyun dan Anna bersentuhan, kekuatan siapa yg duluan bekerja? Kyu yg mengcopy kekuatan Anna? atau Anna yg menyerap kekuatan Kyu??? Hahaha jadi kepikiran…..

    FFnya, keren. ditunggu lanjutannya…..

  3. kenapa ada tbc disaat aku lagi tegang bacanyaa..
    apa yanv akan terjadi pada marc ya.kenapa disini pembunuhnya terlihat ingin sekali menyiksa marc lebih lagi sebenarnya seistimewa apa marc itu
    makin penasaran ditunggu lanjutannya ya

  4. Kapan ya…!pembunuh itu akan diketahui identitasnya.Rasanya ssudah sangat penasaran.

    Semoga ada reaksi positif dari Markus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s