[SF] Scarface Part 33

underground-parking

33

Yifan memejamkan matanya dan menghembuskan nafas perlahan. Setelah Joonmyeon menghabiskan sarapannya, Sara dan Junhyeok datang dengan membawakan sarapan untuknya dan beberapa pakaian untuk Joonmyeon. Kemudian dilanjutkan dengan kunjungan dokter Park –Paman Joonmyeon– yang akan membawa Joonmyeon untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Saat ini mereka masih berada di kamar rawat Joonmyeon, sedangkan Yifan lebih memilih untuk menunggu diluar.

Terlebih Kakek Joonmyeon juga sudah datang. Yifan sempat mengucapkan halo walaupun hanya diberi tatapan datar dan hanya anggukan saja, sebelum dia keluar.

Yifan membuka matanya dan menatap kearah kamar rawat Joonmyeon. Walaupun Yifan sudah memutuskan untuk menghapuskan perasaannya pada Joonmyeon, tapi itu tidak mudah. Walaupun mereka baru saling mengenal dalam dua bulan terakhir, tapi Yifan sudah memperhatikan Joonmyeon sejak pertemuan pertama mereka.

Yifan harus mencari cara lebih cepat untuk melupakan perasaannya tersebut. Salah satunya, Yifan mungkin harus mengakui kalau dia gay pada Sara –tanpa harus mengakui kalau dia mempunyai perasaan pada saudara tirinya. Sedikit beresiko karena Yifan sama sekali tidak tahu bagaimana reaksi ibunya, tapi cepat atau lambat Yifan harus mengakui seksualitasnya. Setelah dia mengakui….

Yifan mendesah. Setelah itu, apa yang harus dilakukannya? Yifan sama sekali tidak mempunyai bayangan apapun dengan apa tindakannya selanjutnya. Mungkin kembali tinggal di dorm dengan alasan dia tidak ingin membuat suasana di rumah lebih canggung setelah dia coming out? Entah apakah Sara dan Junhyeok akan setuju.

Mereka mungkin akan setuju tanpa banyak argument.

Yifan mengusap wajah lelahnya. Mungkin dia harus pulang dan tidur beberapa jam. Lagipula Sara akan menjaga Joonmyeon selagi Junhyeok pergi ke kantor. Yifan tidak perlu menunggu di rumah sakit.

Kemudian Yifan mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Sara kalau dia akan pulang. Setelah terkirim, Yifan berjalan menuju lift. Well, dia tidak perlu berpamitan pada orang-orang yang tidak menganggapnya. Sedikit tidak sopan, tapi Yifan tidak peduli. Dia hanya ingin tidur untuk saat ini.

Yifan menekan tombol dan menunggu pintu lift terbuka. Saat itu, Yifan mendapat balasan pesan dari Sara.

Pulanglah dan istirahat. Mom akan kembali setelah jam makan siang. Ohya, Zitao akan pulang siang ini. Jika kau tidak lelah, tolong antar dia ke bandara, ya. Atau kau bisa panggilkan taksi untuknya.

Yifan menghela nafas bersamaan pintu lift terbuka. Yifan berjalan masuk, menekan tombol lobby dan membalas pesan itu lagi.

Aku mungkin akan memanggil taksi untuknya saja.

Mom… ada yang ingin kubicarakan. Jadi, aku akan menunggu Mom di rumah.

Well, sepertinya acara liburan Zitao di Seoul benar-benar kacau. Ada banyak hal yang tidak terduga terjadi begitu saja. Walaupun begitu, Yifan juga tidak bisa melakukan apapun. Kecuali apa yang akan dilakukannya demi Joonmyeon.

*****

Joonmyeon hanya mendengarkan pembicaraan antara ayahnya, pamannya serta kakeknya. Mereka sedikit membicarakan mengenai pemulihannya, rencana sekolah Joonmyeon dan masalah perusahaan. Entah, Joonmyeon mungkin sama sekali tidak mendengarkan. Ketiga orang dewasa itu terlalu banyak ikut campur dalam kehidupan Joonmyeon dan ia tidak bisa protes. Well, Joonmyeon masih ingat dengan ucapan mendiang ibunya yang mengatakan bahwa hidup Joonmyeon adalah harapan bagi hidup ratusan pegawai HJ Company. Bahkan saat mendiang ibunya mengatakan itu, usia Joonmyeon baru lima tahun.

Terlalu muda untuk dibebankan dengan masalah sebesar itu, Tapi sepertinya tidak ada yang begitu peduli. Hidupnya seperti sudah diatur oleh keluarganya –bukan oleh Tuhan. Kecuali untuk penyakitnya. Keluarganya tidak menuliskan itu dalam jalan hidupnya, jadi Tuhan yang ikut campur.

Joonmyeon menarik nafas panjang dan memperhatikan ketiga orang dewasa itu masih membicarakannya. Pandangannya teralih pada Sara yang sedang duduk dengan tenang di sofa –sembari berfokus pada ponselnya. Mungkin Sara sedang berkirim pesan dengan seseorang. Dengan Yifan, mungkin.

Ah…

Joonmyeon ingat kalau Yifan menunggu diluar. Atau Yifan sudah pulang ke rumah karena terlalu lama menunggu. Selain itu, Yifan juga butuh istirahat bukan?

“Kurasa ini sudah waktunya Joonmyeon menjalani pemeriksaan. Aku akan keluar untuk memanggil suster,” suara Pamannya yang mengakhiri pembicaraan panjang itu menyadarkan Joonmyeon. “Abeoji, pulang saja. Aku akan memberitahu bagaimana hasil pemeriksaannya nanti.”

Park Haejoon lalu memandang kearah Joonmyeon yang hanya diam selama pembicaraan mereka. Beliau menarik nafas panjang dan mengangguk. “Aku akan datang lagi besok. Joon, kau harus banyak istirahat agar cepat pulih. Ikuti ucapan pamanmu, mengerti?”

Joonmyeon hanya mengangguk kecil. Kemudian Kakek dan Pamannya berjalan keluar kamar rawatnya sedangkan ayahnya berjalan mendekati tempat tidur dan tersenyum tipis pada Joonmyeon. Junhyeok menyentuh kepala Joonmyeon.

“Kau sama sekali tidak mendengarkan pembicaraan kami, ya?” tanya Junhyeok sembari menarik kembali tangannya dari kepala putranya.

Joonmyeon berkedip beberapa-kali. Entah kapan ayahnya menyadari hal itu. Joonmyeon kembali mengangguk kecil. Junhyeok tertawa kecil melihat jawaban putranya tersebut. “Well, pembicaraannya memang membosankan. Pamanmu mengatakan kalau kau harus berada di rumah sakit setidaknya satu sampai dua minggu untuk pemulihan. Tapi Appa akan bicara lagi dengan Pamanmu dan memintanya untuk mempersingkat masa rawatmu di rumah sakit. Selain itu, Kakek juga sudah mempersiapkan tutor untukmu. Sedikit….”

Junhyeok menghentikan ucapannya ketika melihat ekspresi Joonmyeon saat ia menyebut tutor. Junhyeok menghela nafas. “Baiklah, itu sangat berlebihan. Kau bahkan belum pulih sepenuhnya. Tapi kita tidak bisa membantah ucapan Kakekmu, bukan? Tapi tenang saja, kau tidak akan belajar sampai Pamanmu mengatakan kau sudah pulih sepenuhnya.”

“Mungkin masa rawat selama dua minggu tidak akan terlalu buruk. Untuk mengulur waktu. Benar, Joonmyeon?” tukas Sara yang entah kapan sudah berdiri disamping Junhyeok.

Joonmyeon tersenyum tipis dengan sahutan Sara. Ya, mungkin dua minggu di rumah sakit tidak akan buruk jika dia tidak harus belajar.

“Yifan sudah pulang untuk istirahat. Setelah jam makan siang, aku juga akan pulang ke rumah. Yifan bilang dia ingin bicara denganku, sepertinya sesuatu yang cukup serius. Aku harap bukan masalah perjodohan yang dilakukan oleh ibuku. Kau bisa pergi bekerja sekarang. Selain itu Joonmyeon akan melakukan pemeriksaan,” ucap Sara.

Joonmyeon sontak menatap Sara ketika dia menyebut perjodohan. Ia masih ingat pembicaraan Yifan dengan Zitao tentang seorang gadis bernama Shi Liu. Mungkinkah Yifan akan menerima perjodohan itu? Toh, Yifan sudah memutuskan untuk menganggap Joonmyeon hanya sebagai saudara tirinya. Itu terdengar masuk akal.

Dan seharusnya Joonmyeon tidak bersikap terlalu peduli apakah Yifan menerima perjodohan itu atau tidak.

Bukankah ini yang kau inginkan, Kim Joonmyeon?

*****

Kyuhyun merasa sangat bosan. Setelah Siwon memperhatikannya menghabiskan sarapannya, pria itu lalu keluar kamar dengan membawa mangkuk kosong dan tidak kembali lagi. Kyuhyun memperhatikan ponselnya dan menyadari bahwa ini baru pukul setengah sepuluh –lebih dari satu jam Kyuhyun berada sendirian di kamar tersebut. Kyuhyun mendesah jengkel lalu melemparkan ponselnya ke sisi lain. Dia tidak pergi dari tempat tidur itu –tidak dengan membawa kantung infus itu. Kyuhyun memperhatikan kantung infus tersebut. Isi cairannya masih cukup banyak dan Haneul sudah memberi peringatan untuk tidak melepaskan selangnya sampai semua cairannya habis.

Tapi Kyuhyun sudah sangat bosan.

Kyuhyun sangat tidak biasa untuk diam saja di tempat tidur ketika sakit, kecuali kalau dia dirawat di rumah sakit. Bahkan walaupun sedang sakit, terkadang Kyuhyun tetap nekat pergi bekerja. Tapi kini dia bahkan tidak bisa turun dari tempat tidur, hanya karena dia demam. Itu menjengkelkan.

Kyuhyun menghembuskan nafas panjang lalu menyingkap selimutnya dan turun dari tempat tidur. Lalu Kyuhyun pergi ke kamar mandi dengan membawa kantung infus tersebut. Dengan sedikit berhati-hati, Kyuhyun melepaskan jarum infus dari pergelangan tangannya. Dia tidak peduli dengan peringatan Haneul atau bahkan protes dari Siwon.

Akhirnya, Kyuhyun tersenyum puas setelah jarum infus sudah terlepas. Ia meninggalkan kantung infus itu di wastafel dan berjalan keluar kamar. Kyuhyun membuka pintu perlahan dan berjalan dengan hati-hati. Siwon mungkin sedang berada di ruang tengah, tapi pada akhirnya dia tidak menemukan siapapun. Bahkan saat Kyuhyun berjalan ke dapur, Siwon juga tidak ada disana.

Kyuhyun kembali ke ruang tengah dan duduk di sofa. “Dia pergi kemana?” gumamnya pelan.

Siwon sepertinya tidak meninggalkan pesan apapun. Well, jika Siwon mengira kalau Kyuhyun sedang tidur, itu masuk akal. Tapi setidaknya, Siwon bisa datang padanya dan bilang kalau dia akan pergi. Tapi setelah sarapan, Siwon tidak mengatakan apapun padanya. Bahkan di wastafel dapur, Kyuhyun tadi melihat beberapa piring kotor yang belum dicuci.

“Apa dia pergi bekerja?” ucap Kyuhyun pelan. “Dia pergi bekerja tapi dia melarangku pergi ke kantor? Dan sekarang, aku sendirian di apartment-nya. Apa itu masuk akal?”

Kyuhyun melihat tas kerjanya serta kunci mobilnya diatas coffee table. Ia bisa meninggalkan pesan dan pulang ke rumah. Kyuhyun menyentuh keningnya, masih sedikit terasa panas, lalu mendengus kesal. Ia tidak mungkin menyetir sendiri dalam kondisi seperti ini. Selain itu, pakaiannya. Kyuhyun harus memberi alasa apa pada Eommanya jika dia pulang dengan memakai pakaian Siwon. Ahra mungkin tidak mengatakan apapun pada orangtua mereka kalau Kyuhyun mabuk dan menginap di rumah Heechul. Selain itu, saat Kyuhyun menghubungi Ahra, kakaknya terdengar sangat kesal padanya. Dia bahkan tidak mengatakan apapun kalau dia sedang sakit.

Kyuhyun mendesah panjang.

Kemudian Kyuhyun memilih untuk membaringkan tubuhnya diatas sofa. Ia meraih remote televisi dan menyalakannya. Setidaknya Kyuhyun tidak berada di kamar lagi. Dia mungkin akan menunggu Siwon sembari menonton televisi.

Entah apa ada acara program tayangan yang bagus.

*****

Changmin menatap Choi Daehan dengan tatapan jengkel. Dia masih banyak pekerjaan tapi kakeknya itu malah datang dan mengatakan ingin bicara. Changmin tahu kalau pembicaraan ini berkaitan dengan pernikahan, tapi bisakah kakeknya menunggu sampai nanti malam dibandingkan harus menganggu waktu bekerjanya seperti ini. Terlebih Siwon memberikan sebagian pekerjaannya pada Changmin.

Sepupu menyebalkan.

“Kau sepertinya tidak senang melihat kakek datang. Apa sepupumu membuat ulah lagi?” ucap Choi Daehan.

Changmin mendesis. Tentu saja, Choi Daehan sudah tahu apa yang terjadi pagi ini. Changmin tidak ingin mengatakannya, tapi Choi Daehan seperti Tuhan yang mengetahui segalanya –hanya pada bagian itu saja. Bahkan sepertinya tidak ada celah yang bisa dilewatkan oleh Choi Daehan.

“Aku tidak perlu menjelaskan apapun karena kakek pasti sudah tahu. Jadi, kita langsung ke inti pembicaraan saja. Ini mengenai pernikahanku, bukan?” sahut Changmin. Dia tidak ingin berbasa-basi dengan kakeknya. Pekerjaannya masih menumpuk.

“Baiklah jika itu maumu. Jadi, calon istri untukmu, kau yang pilih sendiri atau keluarga yang mencarikannya untukmu?”

Changmin memejamkan matanya. Ini memang sudah diperkirakannya, tapi tetap saja mendengarnya langsung dari Choi Daehan membuatnya sedikit frustasi. Changmin membuka matanya dan menatap kakeknya dengan lekat. “Haruskah aku menikah tahun ini, juga? Maksudku, kakek baru saja memutuskan untuk membiarkanku menikah mendahului Siwon, jadi berikan aku waktu untuk mencari calon istri, okay?”

“Berapa lama? Satu tahun? Atau dua tahun?”

Changmin berkedip beberapa-kali. Lalu ia mendengus kesal. “Aku tahu kakek tidak ingin kejadian Siwon terulang. Maksudku, Siwon sudah menunda menikah selama lima tahun, ratusan rencana perjodohan gagal dan akhirnya Siwon mengakui kalau dia gay. Tapi memberiku batas waktu seperti itu juga membuatku kesal.”

“Kakeknya hanya bersikap realistis, Changmin. Dengan apa yang terjadi pada Siwon, pewaris Choi mungkin akan terhenti. Pada akhirnya, kakek harus membuat surat warisan baru mengenai Choi Group. Dan itu tergantung pada pernikahanmu.”

“Karena merger antara Shim dan Choi? Kakek yakin atas merger itu? Maksudku, merger itu baik, tapi surat warisan atas Choi Group sudah kakek putuskan sejak… entah, limabelas tahun lalu? Lalu kakek akan merubahnya lagi? Siwon mungkin bisa mendapatkan keturunan Choi.”

“Dengan ibu pengganti. Itu memang mungkin, tapi itu hanya rencana jangka pendek Shim Changmin,” ucap Choi Daehan.

Changmin berjengit setiap kali kakeknya menyebut namanya seperti itu. Rasanya terdengar begitu asing setiap kali Choi Daehan memanggilnya dengan nama lengkap seperti itu.

Choi Daehan menghela nafas. “Untuk rencana jangka panjang, jalan satu-satunya adalah pernikahan. Entah itu pernikahan Siwon atau pernikahanmu.”

“Lalu bagaimana dengan pernikahan Jinri?”

“Jinri tidak akan menikah dalam waktu dekat ini. Gadis itu mungkin akan menolak masuk Choi Group setelah dia lulus kuliah nanti.”

“Pernikahan Taemin?”

“Itu tergantung dengan keluarga Lee. Tapi untuk saat ini fokus kakek adalah pernikahanmu dan juga hubungan Siwon dengan Pengacara Cho Kyuhyun.”

*****

Kyuhyun terbangun ketika ia mendengar suara air mengalir. Sepertinya dia tertidur saat menonton tayangan drama pagi. Televisi masih menyala, namun Kyuhyun mendapati coffee table dipenuhi dengan beberapa dokumen dan sebuah laptop yang menyala. Kyuhyun perlahan bangun dan menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Rasanya Kyuhyun tidak pernah membawa selimut dari kamar.

Hanya ada satu penjelasan. Setelah menarik nafas panjang, kemudian Kyuhyun berjalan menuju dapur dan mendapati Siwon yang mencuci piring sembari bicara dengan seseorang melalui headset yang terpasang di telinganya. Kyuhyun bisa mendengar kalau Siwon bicara mengenai pekerjaan. Tumpukan dokumen diatas coffee table itu sedikit menjelaskan.

Kyuhyun membasahi bibirnya lalu menghela nafas panjang. Ia kemudian berjalan menghampiri Siwon. Namun, langkahnya terhenti ketika Kyuhyun mendengar Siwon menyebut kata pernikahan.

“Satu tahun? Kau harus bekerja keras, Shim Changmin. Kakek tidak akan melepaskanmu jika tahun depan kau tidak menikah,” sahut Siwon sembari membilas sebuah mangkuk. Kemudian Siwon tertawa kecil. “Temui saja beberapa pacarmu saat sekolah menengah. Itu pun jika mereka belum menikah saat ini. Setidaknya, kau jauh lebih baik dariku.”

Kyuhyun terdiam. Jauh lebih baik?

“Kyuhyun? Sepertinya masih tidur. Eoh, aku akan menyelesaikan dokumen itu hari ini juga. Jangan khawatir, Shim Changmin! Aku tidak akan mengabaikan pekerjaanku. Kututup teleponnya,” sahut Siwon sembari menutup keran wastafel.

Kyuhyun bisa melihat kalau Siwon telah menyelesaikan semua piring kotor itu. Siwon menarik beberapa lembar tisu untuk mengeringkan tangannya lalu berbalik dan sedikit terkejut saat melihat Kyuhyun yang berdiri tidak jauh.

Kyuhyun juga sedikit kaget melihat ekspresi Siwon. “Ha-hai…”

Siwon membuang tisu itu ke keranjang sampah dan tersenyum. Pria itu berjalan menghampiri Kyuhyun. “Hai. Kau sudah lapar?”

Kyuhyun menggeleng. “Aku hanya ingin minum,” ucapnya sembari berjalan menuju counter untuk mengambil gelas dan mengisinya dengan air. Kyuhyun meminum sampai habis dan menatap Siwon yang masih memperhatikannya. “Kenapa?”

Siwon menghela nafas lalu duduk di sebuah stool. “Apa yang kau dengar?”

Kyuhyun menggigit pipi bagian dalam mulutnya lalu menaruh kembali gelas yang ada ditangannya. “Saat kau menyebut pernikahan.”

“Oh. Kakekku memberikan ijin untuk Changmin menikah mendahuluiku. Dia diberi waktu satu tahun untuk memilih calon istrinya sendiri, sebelum kakek yang mencarikan. Kau ingin makan sesuatu? Tadi aku pergi ke kantor untuk mengambil beberapa dokumen dan mampir ke supermarket. Aku membeli buah. Kau mau?”

Kyuhyun kembali menggeleng. “Tidak. Lagipula hampir jam makan siang. Aku harus makan bubur lagi, bukan?”

Siwon tersenyum tipis. “Begitulah yang dikatakan oleh Haneul.”

Siwon menghela nafas panjang lalu memberi isyarat agar Kyuhyun duduk diatas meja counter. Awalnya Kyuhyun sedikit ragu, tapi Siwon meyakinkannya untuk di meja counter. Setelah Kyuhyun duduk, Siwon meraih tangan Kyuhyun. Siwon juga bisa melihat jelas bekas jarum infus di pergelangan tangan Kyuhyun.

Hah… kurasa ini masih bisa hilang dengan sendirinya. Kecuali untuk…

Siwon lalu memperhatikan bekas luka lainnya di tangan Kyuhyun tersebut. Lalu Siwon mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Kyuhyun.

“Hubungan ini, kita memang masih canggung untuk menjalaninya. Tapi aku rasa tidak jauh berbeda dengan apa yang dijalani pasangan lain. Kepercayaan, itu yang sering diucapkan oleh Yunho dan Sooyoung. Mereka bilang itu sebuah pondasi untuk menjalani sebuah hubungan. Jadi, kita jadikan itu sebagai pondasi hubungan ini,” ujar Siwon.

Kyuhyun hanya mengangguk, walaupun dia tidak mengerti kenapa Siwon bicara mengenai soal kepercayaan itu. Siwon menarik nafas panjang lalu berdiri dihadapan Kyuhyun yang masih duduk diatas meja counter.

“Aku ingin kau percaya padaku dan aku akan percaya padamu. Tapi untuk kepercayaan itu juga harus ada kejujuran. Kau harus jujur padaku, Kyuhyun. Jangan berbohong padaku walaupun kau pikir itu demi kebaikan. Aku ingin kau jujur padaku dan aku selalu jujur padamu.”

“Siwon, apa kau ingin bertanya mengenai sesuatu?” tanya Kyuhyun.

Siwon menghela nafas panjang. Ia masih berusaha untuk tersenyum walaupun Siwon tidak benar-benar tersenyum. Siwon melepaskan tangan Kyuhyun dan menatap pria dihadapannya dengan serius.

“Ada banyak hal yang ingin kutanyakan. Tapi untuk saat ini, apa kemarin kau makan sesuatu? Sebelum kau pergi ke bar saudaramu itu,” tanya Siwon.

Kyuhyun sedikit menunduk. Ia menarik nafas panjang lalu kembali menatap mata Siwon. Pria itu sedang memperhatikannya dengan lekat. Kyuhyun lalu menggeleng. Siwon memejamkan matanya sembari menghembuskan nafas berat.

Siwon kembali memandang Kyuhyun. “Kau juga tidak makan apapun saat kau bertemu dengan ibuku?”

“Kami hanya minum kopi.”

“Sandwich yang kukirimkan untukmu saat makan malam. Kau juga tidak memakannya?”

Kyuhyun menggeleng. “Aku hanya makan salad-nya. Sandwichnya kuberikan pada Donghae. Maaf…”

Siwon menyentuh lengan Kyuhyun. “Itu bukan sesuatu dimana kau harus minta maaf, Kyuhyun. Tapi kau harus menjaga kesehatanmu. Haneul bilang saat kau mengalami hari yang buruk, kau mempunyai kebiasaan tidak makan apapun. Jangan lakukan lagi, mengerti?”

“Aku mengerti.”

Siwon akhirnya bisa tersenyum. Ia kemudian mengenggam tangan kanan Kyuhyun dengan erat. “Dan jangan membuatku khawatir seperti itu lagi. Mengerti?” tukasnya sembari memukul kening Kyuhyun dengan keningnya sendiri. Tentu saja, dengan lembut.

Kyuhyun mengusap keningnya dengan tangan kirinya lalu mengangguk.

*****

Yifan membantu Zitao memasukkan kopernya ke bagasi taksi. Setelah ia menutup pintu bagasi, Yifan menghampiri Zitao dan menepuk lengan sepupunya. Yifan menghela nafas panjang.

“Maaf, liburanmu menjadi tidak menyenangkan.”

Zitao menggeleng. “Lain kali, kau harus membawaku jalan-jalan.”

Yifan mengangguk. Zitao lalu membuka pintu belakang taksi dan menatap sepupunya lagi. “Selesaikan masalahmu dengan Joonmyeon. Jangan lupa kabari aku lagi. Luhan masih lebih sering membalas emailku dibandingkan sepupuku sendiri.”

Yifan tertawa kecil lalu mengangguk lagi. Zitao lalu memanjat masuk kedalam taksi. Tak lama taksi tersebut melaju pergi. Yifan masih berdiri depan rumah sampai taksi tersebut tidak terlihat dalam pandangannya. Yifan menghela nafas panjang lalu berjalan memasuki rumah besar tersebut.

Rumah yang –mungkin– akan dirindukannya.

Sembari menunggu Sara pulang, Yifan berada di dapur untuk membuat makan siang untuknya sendiri. Dia tidak melihat banyak bahan makanan di lemari pendingin, jadi Yifan memilih untuk memasak ramyeon.

Sembari menunggu ramyeon matang, Yifan memperhatikan setiap sudut dari dapur tersebut. Dia memang baru tinggal kurang lebih satu bulan, tapi rasanya Yifan sudah lama sekali mengenal dapur tersebut. Tidak hanya dapur, tapi setiap ruangan di rumah besar tersebut. Seakan rumah itu sudah menjadi rumahnya sendiri.

Yifan mendesah lalu mematikan kompor setelah memastikan ramyeonnya matang. Setelah menuangkannya kedalam mangkuk, Yifan membawanya ke meja counter. Dia duduk diatas stool setelah mengambil sepasang sumpit dan bersiap untuk melahap ramyeon tersebut ketika Sara tiba-tiba pulang.

Yifan mengerutkan dahi melihat ibunya sudah pulang. Rasanya, ini baru jam makan siang dan Sara bilang akan pulang setelah memastikan Joonmyeon sudah makan.

“Eoh? Kenapa makan ramyeon?” tanya Sara.

Well, Sara sudah seperti Sara yang biasanya. Yifan tidak pernah terbiasa melihat ibunya bersedih. Joonmyeon yang sudah sadar, membawa perubahan pada mood Sara.

“Aku malas masak. Zitao baru saja pergi,” jawab Yifan lalu melahap ramyeonnya. Dia tidak peduli dengan Sara yang memeriksa lemari pendingin dan baru menyadari dia belum pergi belanja bahan makanan.

Itu jelas terlihat. Beberapa hari ini, perhatian mereka hanya terfokus pada kondisi Joonmyeon. Yifan bahkan tidak yakin kalau Sara pernah masak setelah Joonmyeon masuk rumah sakit.

“Mom tahu. Dia mengirim pesan. Ah, sepertinya Mom harus pergi ke supermarket hari ini,” tukas Sara yang kemudian duduk di salah stool dihadapan Yifan.

Yifan melirik Sara. “Tidak menjaga Joonmyeon di rumah sakit?”

“Dia masih menjalani pemeriksaan. Lagipula Mom hanya mengurus beberapa pembiayaan rumah sakit dan menunggu di kamar rawat yang sepi. Jadi, Mom memilih pulang dan akan kembali saat makan malam. Appa akan tinggal di rumah sakit untuk malam ini,” tutur Sara.

“Oh.”

Yifan kembali melahap ramyeonnya, sedangkan Sara memperhatikan putranya dengan lekat. Entah, tapi Sara merasa bahwa Yifan seakan sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Kemudian Sara ingat kalau Yifan ingin membicarakan sesuatu dengannya. Mungkin sesuatu yang disembunyikan olehnya.

“Oh ya, kau bilang ingin bicara dengan Mom. Bicara mengenai apa? UAL? Kau tidak ingin masuk UAL?” tanya Sara, dengan sedikit menerka.

Yifan menggeleng. “Bukan tentang UAL. Lagipula Mom dengar dari siapa kalau aku tidak ingin masuk UAL?”

“Zitao. Dia bilang kalau kau tidak ingin pergi ke London. Jadi, Mom hanya berpikir kalau kau ingin bicara mengenai itu. Tapi Yifan… Apa kau benar-benar tidak ingin masuk UAL?”

Yifan menaruh sumpitnya. Ramyeonnya sudah setengah habis. Lalu Yifan beranjak untuk mengambil air minum. “Ani. Aku akan tetap masuk UAL. Aku sudah mengirimkan surat aplikasinya, bukan? Rasanya sayang saja jika tiba-tiba membatalkannya. Sudah kubilang yang ingin kubicarakan dengan Mom bukan tentang UAL. Ini lebih tentang diriku sendiri.”

Kali ini, giliran Sara yang mengerutkan dahi. Yifan lalu membawa mangkuk ramnyeon itu dan menaruhnya di dalam wastafel. Yifan pikir lebih baik dia menyingkirkan semua benda yang bisa dilemparkan Sara kearahnya –hanya untuk berjaga-jaga. Setelah meja counter itu bersih, Yifan kembali duduk. Dia menarik nafas panjang dan menatap Sara dengan lekat.

“Kenapa?” tanya Sara dengan tenang –untuk saat ini.

“Perjodohan dengan Shi Liu. Mom menyetujui rencana Nana?”

Sara berkedip beberapa-kali. “Shi Liu adalah gadis yang baik. Kita juga sudah lama mengenalnya. Selain itu, kalian juga dekat sekali, bukan? Jadi, Mom pikir kenapa harus menolaknya. Kenapa? Kau tidak suka lagi dengan Shi Liu? Kau sudah punya gadis yang kau sukai?”

“Itulah masalahnya,” gumam Yifan sembari menundukkan kepalanya.

“Masalahnya apa?”

Yifan memberanikan diri untuk kembali memandang Sara. “Aku tidak mempunyai gadis yang kusukai.”

“Lalu masalahnya apa? Toh, kalian bisa mencoba untuk mengobrol lebih banyak sampai kalian akrab seperti dulu.”

Yifan mendesah. “Mom, aku belum selesai bicara. Aku tidak mempunyai gadis yang kusuka, bahkan aku tidak menyukai gadis mana pun. Sama sekali tidak suka gadis.”

Sara terdiam sejenak. Yifan menjadi sedikit khawatir. Dia banyak berpikir bagaimana cara yang baik memberitahu Sara tentang seksualitasnya. Tapi apakah ucapannya tadi terlalu frontal? Yifan menunggu sampai beberapa menit sampai Sara memperlihatkan reaksinya atas pengakuan Yifan. Namun, sepertinya Sara terlihat berusaha untuk mengerti ucapan Yifan barusan.

“Mom? Kau mengerti dengan maksud ucapanku, bukan?”

Sara tersadar. “Eh? Ucapanmu? Maksudnya ‘dengan tidak suka gadis itu’? Kau tidak suka dengan gadis? Ma-maksudmu kalau kau itu sebenarnya…” Sara tidak melanjutkan ucapannya. Yifan menahan nafasnya. Sepertinya reaksi Sara jauh lebih buruk dari dugaannya –atau mungkin jauh lebih baik karena dari ekspresi Sara, Yifan sama sekali tidak melihat keterkejutan. Yifan hanya berpikir reaksinya akan jauh lebih buruk karena Sara hanya menganggapnya sebagai suatu fase sementara.

Sara menarik nafas panjang dan meraih tangan Yifan. Dia menatap putranya dengan lekat. “Sejak kapan?”

“Eh?”

“Sejak kapan kau mulai menyadarinya? Kalau kau tidak menyukai gadis?” ucap Sara dengan sedikit berhati-hati.

Yifan berkedip beberapa-kali. “Uhm… Saat masih di Kanada? Beberapa bulan sebelum pindah ke Seoul?” Untuk jawaban itu Yifan harus sedikit berbohong. Yifan tidak mungkin menjawab kalau dia mulai mempertanyakan seksualitasnya setelah bertemu dengan Joonmyeon dan terus memperhatikan pemuda itu dengan sembunyi-sembunyi.

“Lalu apa kau mempunyai orang yang kausukai?” Sara sekali berhati-hati dalam menyebut orang.

Yifan membisu. Haruskah dia menjawabnya? Sara mungkin akan kembali bertanya siapa namanya. Itu hanya membuat posisi Joonmyeon semakin sulit. Yifan memutuskan untuk mengakui seksualitasnya, agar dia tidak menyulitkan Joonmyeon lagi. Yifan berharap setelah dia mengakui seksualitasnya, dia bisa kembali tinggal di dorm dengan menggunakan alasan hanya akan membuat situasi di rumah menjadi canggung.

“Ada atau tidak?” tanya Sara lagi dengan suara lembut.

“Tidak ada.”

Sara mendesah. Rasanya sedikit aneh jika Yifan mengakui dia seorang gay tapi tidak mempunyai seseorang yang disukai. Tapi itu bisa ditanyakan Sara lain kali. Untuk saat ini, Yifan mungkin ingin mengatakan tentang seksualitasnya dan bukan orang yang ia sukai. Sara lalu mengusap lembut punggung tangan putranya. Yifan sedikit menunduk dan memperhatikan tanggannya yang digenggam erat oleh Sara. Jauh dalam lubuk hatinya, Yifan tersenyum dengan perhatian Sara. Sepertinya ibunya bisa menerima dengan baik.

“Fan, kenapa kau baru mengatakannya sekarang?”

Yifan menarik nafas. “Aku memikirkan Joonmyeon. Maksudku, tentang kecelakaan itu dan juga mengenai penyakit Joonmyeon. Jika penyakit Joonmyeon lebih cepat diketahui, mungkin kecelakaan itu tidak akan terjadi. Jadi, kupikir aku harus mengatakannya pada Mom sebelum terlambat.”

Maksudku, sebelum Mom tahu kalau aku menyukai Joonmyeon. Itu tidak akan baik bagi siapapun.

“Selain itu, aku juga ingin kembali ke dorm.”

*****

Joonmyeon mengucapkan terima-kasih pada suster yang mengantarkannya kembali ke kamar yang sepi. Sara meninggalkan pesan dekat pot bunga yang dibawakan Yifan, mengatakan bahwa ia akan kembali sebelum jam makan malam. Joonmyeon bersandar pada tempat tidurnya sembari menghela nafas panjang. Seharian ini, Joonmyeon melakukan beberapa tes pemeriksaan. Tidak terlalu berat, namun karena dia baru sadar sepenuhnya, Joonmyeon masih cepat merasa lelah. Selain itu, suster juga belum mengantarkan makan siang untuknya.

Suasana di kamar luas itu terlalu sepi dan Joonmyeon tidak menyukai kesunyian –terlebih di rumah sakit. Dia hanya berharap kalau Kyungsoo dan yang lainnya akan datang untuk menjenguknya. Namun, mengingat dia berada di lantai VIP maka akan sedikit sulit. Petugas VIP hanya mengijinkan keluarga pasien yang keluar masuk dengan bebas, namun bagi pengunjung lainnya harus mendapat persetujuan dari wali pasien untuk bisa datang menjenguk.

Kemarin Kyungsoo memang sempat datang menjenguknya, tapi itu pun setelah Appanya menghubungi pihak rumah sakit untuk memberikan ijin –Joonmyeon mendengarnya dari mulut Kyungsoo langsung. Jika beberapa teman sekolahnya yang datang sekaligus, rasanya mereka tidak bisa menjenguk Joonmyeon kecuali ia dipindah ke kamar regular atau setelah Joonmyeon keluar dari rumah sakit.

Joonmyeon kembali menghela nafas berat. Ia lalu meraih pot bunga yang dibawakan oleh Yifan. “Apa dia benar-benar memberikan ini untukku?” gumamnya.

Hyacithus.

“Aku hanya berharap kalau Kyungsoo bisa datang lagi dan memberitahu apa yang harus aku lakukan dengan bunga ini.”

Joonmyeon menaruh pot itu lagi diatas meja nakas. Lalu ia meraih ponselnya. Setidaknya Sara sedikit pengertian untuk membawakan ponsel miliknya. Saat membuka kotak pesan, Joonmyeon melihat ada puluhan pesan yang belum terbaca –semua dari teman-teman sekolahnya yang mendoakan agar ia cepat sembuh. Joonmyeon membaca semua pesan itu satu per satu tanpa ada kata yang terlewat. Dia harus membalas semua pesan itu dalam waktu dekat ini.

“Halo…”

Joonmyeon mengangkat kepalanya dan tersenyum ketika ia melihat dokter Ji yang datang mengunjunginya. “Oh, halo dokter Ji.”

Changwook yang sebenarnya sudah habis jam shift-nya, menyempatkan diri untuk menemui Joonmyeon sebelum dia pulang. Changwook mungkin bukan dokter yang menangani Joonmyeon lagi, tapi sebagai dokter pertama yang memeriksa kondisi pemuda itu, Changwook tidak bisa melepaskan tanggung-jawab begitu saja.

Changwook berjalan mendekati tempat tidur Joonmyeon lalu menaruh tas ranselnya di kursi. Ia tersenyum lega melihat kondisi Joonmyeon yang semakin terlihat sehat. “Aku datang untuk melihat kondisimu. Sudah merasa jauh lebih baik?”

Joonmyeon mengangguk. “Hanya lebih cepat lelah, tapi kata Paman itu adalah hal biasa.”

“Turuti ucapan Pamanmu, ya? Dokter Park Saejoon adalah salah satu dokter terbaik di rumah sakit ini, bahkan di Seoul,” tukas Changwook.

Joonmyeon tertawa kecil. Ia tahu kalau pamannya memang seorang dokter yang handal, tapi mendengar orang lain memuji kemampuan pamannya, itu masih sedikit asing di telinga Joonmyeon. Mungkin karena Joonmyeon tidak banyak memberitahu orang lain mengenai keluarga dari pihak ibunya.

“Oh ya, aku mungkin harus minta maaf padamu. Hari dimana kau datang dan bertanya mengenai hasil pemeriksaan, seharusnya aku memberitahumu. Dan kecelakaan yang menimpamu, itu seharusnya bisa dihindarkan,” ucap Changwook.

“Tidak apa-apa. Lagipula itu memang sudah prosedurnya, bukan? Dokter Ji sudah melakukan sesuatu yang benar. Kecelakaan itu karena aku tidak hati-hati,” ujar Joonmyeon.

Well, itu memang bukan kecelakaan itu memang bukan kesalahan dokter Ji. Joonmyeon seharusnya yang lebih berhati-hati karena dia yang tahu persis bagaimana kondisinya saat itu. Namun, dia masih merasa sedikit kecewa mengenai hasil pemeriksaannya. Dokter Ji mengatakan bahwa penyakitnya bukan penyakit yang parah. Tapi tumor otak? Jika terlambat diketahui, bukankah itu sama saja membahayakan kondisi Joonmyeon?

Joonmyeon menghela nafas. “Dokter, saat itu anda mengatakan bahwa penyakitku tidak parah, bukan? Tapi bukankah tumor otak adalah penyakit yang cukup berbahaya? Itu artinya dokter sudah berbohong.”

Changwook menatap Joonmyeon dengan lekat. Lalu dia duduk di tepi tempat tidur dan tersenyum tipis. “Boleh aku memanggilmu Joon?”

Joonmyeon mengangguk.

“Joon, aku rasa pamanmu sudah memberitahu kalau tumor yang berada di kepalamu ukurannya tidak lebih besar dari sebuah kelereng. Saat itu, kondisimu masih cukup stabil walaupun dengan intensitas rasa sakit yang kau alami. Aku akan merekomendasikan pengobatan radio-therapi untukmu sembari menunggu hasil pemeriksaan lanjutan. Kau masih mempunyai harapan sembuh sebesar delapanpuluh persen, Joon. Secara teori, aku tidak berbohong karena aku optimis kalau kau pasti akan sembuh.”

Ucapan Changwook terdengar masuk akal bagi Joonmyeon. Mungkin jika dia tidak mengalami kecelakaan itu, Joonmyeon juga masih harus menjalani operasi pengangkatan tumor dan pengobatan lainnya. Setidaknya, Joonmyeon masih bersyukur kalau tumor yang ditemukan tidak begitu parah.

Namun, tetap saja itu adalah tumor otak.

Changwook menghela nafas dan tersenyum tipis. “Aku sudah memberikan hasil pemeriksaannya pada dokter Park. Jika kau ingin penjelasan lebih lanjut, kau bisa bertanya padanya. Atau bicara padaku. Tapi tidak sekarang, karena aku harus pulang. Kita bicara lain kali, okay?”

Joonmyeon mengangguk. Changwook lalu berdiri dan meraih tas ranselnya lalu berjalan keluar kamar tersebut. Setelah mendengar pintu tertutup, Joonmyeon kembali menghela nafas panjang. Rasanya tidak sampai sepuluh menit, ruangan besar itu kembali sunyi.

“Aku benci kesunyian.”

*****

Haneul menatap pintu dihadapannya lalu mendesah. Ia merasa kesal pada dirinya sendiri. Entah apa yang membuatnya datang ke unit apartment tersebut? Terlebih dengan membawa sekantung bahan makanan. Haneul mendesis kesal lalu mulai berjalan menuju lift.

Setelah pintu lift terbuka, Haneul berjalan masuk dan menekan tombol basement. Ia kembali melirik kantung bahan makanan yang baru saja dibeli olehnya. “Apa yang kupikirkan sampai aku membeli ini dan datang kesini? Hahh… Kang Haneul, sebenarnya apa yang kau lakukan?”

Haneul cukup beruntung karena tidak ada orang lain lagi yang memasuki lift tersebut sampai pintu lift terbuka di lantai basement parkir. Haneul berjalan keluar lift dan menuju area dimana mobilnya terparkir.

“Akan kuberikan pada suster saja,” gumamnya sembari mengangkat kantung ditangannya tersebut.

Haneul hendak berbelok menuju mobilnya ketika dia mendengar suara yang memanggilnya. Haneul terdiam ketika orang itu berjalan –hampir berlari lebih tepatnya– kearahnya. Haneul ingin menyembunyikan kantung bahan makanan ditangannya, tapi sepertinya Changwook sudah melihat apa yang dibawa oleh Haneul.

Changwook kini berdiri dihadapan Haneul dengan senyuman lebar. Hal itu membuat Haneul semakin sulit untuk mencari-cari alasan yang masuk akal kenapa dia berada di gedung apartment itu.

Changwook memperhatikan Haneul dengan lekat. “Kau seperti melihat hantu saja. Apa kondisi Kyuhyun sudah jauh lebih baik?”

“Eh? Kyuhyun? Ah… Dia sudah lebih baik. Tapi masih perlu istirahat. Hyung, baru pulang?” tanya Haneul berusaha untuk bersikap tenang.

Changwook mengangguk. “Kau membeli makanan untuk Kyuhyun? Apa dia tinggal di gedung ini juga? Lantai berapa?”

Haneul sedikit terkejut dengan pertanyaan Changwook. Ia berkedip beberapa-kali. “Lantai? Kyuhyun tidak tinggal di apartment.” Secara tidak sadar, Haneul ingin memukul mulutnya. Itu bisa dijadikan alasan yang masuk akal. Toh, Changwook memang tidak tahu dimana Kyuhyun tinggal, bukan?”

Changwook mengernyit. “Eh… Kalau Kyuhyun tidak tinggal disini, lalu kenapa kau ada disini? Apa ada saudara Kyuhyun yang tinggal di apartment ini dan Kyuhyun menginap?”

“Tidak. Setahuku, tidak ada.”

Changwook menghela nafas panjang. Dia menunggu sampai Haneul yang menjelaskan alasan ia berada disini. Rasanya tidak mungkin jika Haneul tiba-tiba datang ke apartmentnya, terlebih dengan membawa kantung berisi bahan makanan. Dengan hubungan mereka saat ini, seperti itu tidak….

Changwook kembali memperhatikan ekspresi Haneul dan kantung yang dibawanya. Mungkinkah?

“Itu…. untukku? Apa kau datang untukku?”

*****

NOTE: Maaf ya, telat seminggu lebih.

Music: XIA – 가끔 (She Was Pretty OST.)

Advertisements

33 thoughts on “[SF] Scarface Part 33

  1. Kyuhyun seperti kucing penurut yang manis hahahha
    Tapi suka juga dengan Kyuhyun yang ini….
    Mereka makin romantis
    Ditunggu lanjutannya

  2. Kyu masih blom terbiasa dgn hubungan baru nya dan siwon..
    Tapi suka.. Karna kyu cuma bisa menuruti perkataan siwon..uuhh manis sekali wonkyu ini 🙂

    Haneul knp gk jujur aja klo dia datang mau bertemu dgn changwook..hehe …kyak nya haneul sdh mulai bisa menerima changwook.. 😀

  3. Wuahhh wonkyu udh mulai romantis
    Kyuhyun nurut bgt sama siwon

    Salut sama yifan yg berani mengakui kalo dia gay, dabln salut sama eomma nya yg begitu pengertian
    Apa eomma nya bakal ngizinin yifan buat tinggal di dorm

    Ciee haneul udh mulai suka nih sama changwook

    Makin seru
    Ditunggu lanjutannya

  4. Wonkyu sweettttt bgt .. kyu yg mendadak jadi penurut gitu . Dan siwon yg perhatian abis .. ih gemes bgt deh liat mereka ..
    Lanjut ya diera ..

  5. aaahhhh……wonkyu manis bgt,,mana nurut bgt sma siwon aq ska karakter kyu yg sperti ini,,,untuk yg lain semangat smoga sgera mndapatkan kpastian hubungan kalian..Trimakasih

  6. Kyu masih akward sama siwon. Yah kasian banget nasib yifan sedih bacanya….

    Seru…ditunggu kelanjutannya
    Keep writing….

  7. kyuhyun sgt manis wkt dy nurut yg dktkn siwon..intrksi mrk jg sgt mnis…^^
    haneul mlai nrima changwook wlw msh malu2..mgkn bntr lg mrk jg bkl jadian sptny…
    yifan gmn..mom ny nrima pgkuan yifan dgn baik tp gmn dgn appany joon ap dy jg bk nrima pgkuan yifan…???
    makin seru crtny…

  8. Arrggh sweet banget makin meleleh liat interaksi couple ini
    dibanyakin donk sweet moment nya thor *plakk malak* 😀

    Kepp semangat thor!!

  9. wonkyu makin romantis..
    siwon selalu perhatian..kyuhyun yg penurut…
    dr changwook dan dr haneul sepertinya mulai ada perkembangan nih……:)

  10. huaaaa romantis banget adegan siwon n kyuhyun. bener..bener… q sampek ketawa2 sendiri… diera eonni berhasil mmbuat q ketawa sore2 heheheh… hubungan mreka tambah romantis… sukaaaa…

    untuk yifan dan joonmyeon… semoga yang terbaik ajah buat hubungan mreka.. yifan udah mengakui klu dia gay.. salut bangettt…

    untuk haneul dan changwook… heheheh pasangan ini juga lucu… haneul udah merasakan mungkin yah… kan dia udah ikhlas melepas kyu… heheheh

    untuk diera eonni makasi bangetttt….. gpp walaupun telat… blog u selalu q kunjungi setiap hari… fighting eonni….

  11. Kyuhyun jadi penurut gitu. Padahal dia orangnya keras kepala. tapi, suka lihat kyuhyun yang penurut jadi terkesan manis gitu..
    Aish, jadi senyum-senyum sendiri bayangin interaksi WonKyu.
    Tiba-tiba kena diabetes saking manisnya moment mereka. Hkhkhk

  12. disangka siwon kemana taunya dy prgi k kantor hnya untuk ambil dokumen dan belanja toh…
    kake siwon pengertian nih.. lalu kapan eomma choi menerima dengan ikhlas? serta bagaimana tanggapan kluarga cho soal hubungan wonkyu?
    duh walo cuman sedikit part nya wonkyu tapi ttp manis..
    apalagi kyu gak dingin lagi sama siwon jadi terkesannya penurut bgd hahaha

  13. Wahhhh udah update lagi ni…seneng deh..haha…kyu jadi malu2 kucing gitu..Wonkyu jadi so sweet ..
    Ditunggu chap selanjutnya yaaa…

  14. kyu imut bgt klu nurut sama siwon mudah” aja hubungan mereka tetap kayak gini terus
    haneul dan changwook hubungannya manis juga smoga mereka terus bersikap kayak gitu deh
    makasih nya eonni mau uptade cpt

  15. Kyu imut,,,nurut lebih manis…yah siwon emank yg paling bisa naklukin,sifat keras kepala kyuhyun,,,agh siwon jg sweat bgt sm babykyu..lembut…perhatian..dewasa jg tentunya.

  16. Eww seneng liat perhatian Siwon ke kyu…sentuhan dan perhatiannya bikin Kyu jd kekasih yg penurut…utk couple dokter jg hubnya mulai berkembang..thanks buat updetnya

  17. Ouw..ouw…sepertinya Joon merasa kehiilangan sang saudara yang tak kunjung menampakkan diri di hadapannya.
    Gemes banget sama Changwook dan Haneul yang..sepertinya mulai ada sesuatu kkkkk.
    Semoga uri Changmin segera menukan kekasih hatinya.
    Dan..uri WonKyu juga makin bikin salting aj buat momment mereka.

    Jeongmal gumawo eonni buat ff’y.Sehat sllu.

    Fighting!!!

  18. Klimaks dari part ini ada di bagian Yifan mengakui masalah orientasinya. Reaksi Sara bener-bener di luar dugaan. Ok, belum bisa yakin Sara benar-benar menerima, tapi Sara juga belum menunjukkan penolakan yg berarti. Ada harapan utk Yifan diterima apa adanya oleh Sara. Mungkin masalah selanjutnya ada di Junhyeok. Ah, gak sabar menunggu kelanjutan kisah KrisHo :’)
    Untuk WonKyu, aku kelewat gemas sudah. Masalah mereka bikin aku sakit kepala. Hahaha
    Tapi aku selalu menunggu kelanjutan hubungan mereka ^^
    Wah, Haneul sepertinya sudah mulai membuka hati untuk Changwook 😉

  19. ya ya ya,semua yng siwon bilang harus kyuhyun mengerti,harus di jawab mengerti,jadi agak kurang setuju klo usia kyuhyun di 30 an,karna di sini kyuhyun bak anak SD gitu ya,ngangguk2 aja apa kata siwon,haha

  20. Kyuhyun yg dlu telah hilang.
    yg biasa nya dia suka protes tiap Siwon blg ini itu,tpi skrg bagaikan anak kecil yg menuruti kata orang tua nya wkwk
    tpi bgini lbh bagus sih..biar nnti kedepan nya makin romantis,jgn brantem mulu apa lg Kyuyun natap tdk suka sma Siwon :3
    kakek choi udh menerima hubungan Wonkyu ya? tpi tinggal Ny. Choi sma Jinri yg blm tau apa2 soal masalah Wonkyu,gmana tanggapan Jinri klo dia tau klo Oppa nya ehem menyukai sesama pria? apa lg klo tau dia itu Kyuhyun?
    aah ~ sama tanggapan Keluarga Cho jg nih blm ada tanda2 nya,klo Ahra kan udh tau sprti nya.
    hngg ~ jdi penasaran lanjutan cerita hubungan WonKyu nya >_<

  21. changmin lbh baik dari siwon?? ttg hubungannya dgn sesama jenis or tentang ngak pernah pacaran nih??
    kyu kykxnya juga ngena.
    btw stlh 2chap lbh byk wonkyu bhkn ada yg full wonkyu skrg kupikir wajar yg lain dpt bagian.heee

  22. Wlaupun hbungan wonkyu masih rada kaku tp okelah…
    Bersyukur jg kakek choi ga ngelarang siwon brhubungan sama kyu.. Skrng tinggal nnggu tanggapan umma choi dan kluarga kyu sndri

  23. makin seru, seperti nya hubungan krisho gk akan lebih dari sodara?? Wonkyu juga makin manis,
    tapi aku malah lebih suka hubungan jikang, tapi sayang cuma dikit,
    mereka itu diam2 menghanyutkan, manis banget,

  24. Uhhh sweeettt bgt,,,,kyu bs jdi sbgtu penurutnya,,,wahhhh kekuatan cnta…hehehehehheheheee
    changmin yg kasian jd incaran kake choi!!

  25. wah akhirnya yifan ngaku ke ibu nya :”)) smg jalan yg dipilih yifan emg yg terbaik buat dia amin
    kyu gemay bgt c wkwk berubah jd penurut kalo sama siwon :)) hahaha
    jikang!!! kyaaaa haneul progressnya gercep uga~

  26. Hubungan wonkyu skrng lbh baik, smga saja mrk bs sprt tu sterusnya mskipun sdh dipastikan akan banyak kendala yg memberatkan prjalanan mrk..
    Reaksi sara trnyata berbanding terbalik dg apa yg dipkirkan oleh yifan, tp apakah reaksinya akan sama ya jika tau kalau orng yg disukai yifan trnyata joonmyeon adik tirinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s