[SF] Scarface Part 32

bed

32

Siwon terbangun dan merasakan ada sesuatu yang hilang. Ia mengernyit tak mengerti. Rasanya dia tidak pernah tidur se-nyenyak ini, namun ketika dia membuka mata ada sesuatu yang kurang dalam genggaman tangannya. Siwon memperhatikan tangannya yang terulur. Ia masih merasakan sensasi yang lebih berat diatas lengannya.

Siwon berusaha untuk mengingat sensasi itu.

“Kau sudah bangun?”

Siwon mendengar sebuah suara dan perlahan bangun. Dia memperhatikan sekeliling kamar tersebut dan mulai teringat bahwa dia tidak berada di rumah. Namun, di apartmentnya. Siwon mengusap wajahnya lalu menoleh kearah sumber suara. Siwon tersenyum tipis ketika melihat Kyuhyun yang sedang duduk bersandar di jendela besar kamar tersebut.

Entah, tapi Siwon masih belum percaya dengan apa yang terjadi beberapa jam lalu. Setelah berminggu-minggu dengan semua bentuk penyangkalan atas perasaan yang dirasakannya pada Kyuhyun, akhirnya Siwon merasa bahwa saat ini adalah yang paling membahagiakan dalam hidupnya.

Siwon memperhatikan Kyuhyun yang sedang menikmati pemandangan pagi dari kota yang sudah bangun dan jalanan yang sudah ramai. Siwon beranjak meninggalkan tempat tidurnya yang empuk dan hangat. Ia juga membawa selimut karena Kyuhyun duduk di lantai yang dingin. Siwon menghampiri pria itu lalu menyampirkan selimut itu di bahu Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum tipis atas afeksi Siwon yang kini duduk dihadapannya, ikut bersandar pada jendela besar. Sedikit aneh karena Kyuhyun tidak pernah mendapatkan afeksi itu dari siapapun selain dari keluarganya, tapi dia menyukai afeksi yang diberikan oleh Siwon.

Siwon memandangi Kyuhyun dengan lekat. “Jam berapa kau bangun?”

“Entah, aku tidak melihat jam.”

“Ini masih terlalu pagi, kau bisa tidur tigapuluh menit atau satu jam lagi sebelum kau bersiap untuk berangkat kerja. Itu pun jika kau pergi bekerja. Bagaimana dengan kondisimu? Masih merasa pusing atau merasa sakit di bagian lain?”

Kyuhyun merapatkan selimut dan menyandarkan kepalanya di jendela. “Aku baik-baik saja,” tuturnya dengan sedikit ragu.

Siwon bisa mendengar keraguan tersebut. Kemudian ia mengulurkan tangan kirinya untuk menyentuh kening Kyuhyun. Diujung jemarinya, Siwon merasakan sensasi hangat dari kulit Kyuhyun. Siwon lalu bergeser untuk lebih dekat dengan Kyuhyun. “Kau demam. Kau merasa pusing?”

Kyuhyun menghela nafas dan menarik tangan Siwon dari keningnya. “Aku baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir, aku tidak akan mati hanya karena demam. Kau punya obat, bukan?”

“Tapi Kyuhyun…”

“Kau tahu, sikapmu begitu berbeda.”

Siwon mengernyit. “Berbeda?”

“Sebelumnya kau bersikap dingin dan acuh padaku. Walaupun ada beberapa kesempatan kau terlihat begitu baik. Contohnya saat kau menyelamatkanku di pulau Jeju, waktu tanganku terluka, saat aku hampir terjatuh di gedung pengadilan, sewaktu di Ansan…” Kyuhyun terdiam sejenak. Jika dipikir lagi, Siwon selalu menyelamatkannya padahal pria dihadapannya bisa saja mengacuhkannya. Tapi Siwon selalu mengulurkan tangannya pada Kyuhyun. “Dan ketika pertunangan kakakku dan saat di ice-rink,” lanjutnya.

Siwon mendesah lalu meraih tangan Kyuhyun. Ia memperhatikan kelima jemari tersebut. Siwon tersenyum tipis, rasanya dia tidak pernah menyentuh tangan orang lain kecuali keluarganya. Namun, tangan Kyuhyun begitu familiar dalam genggaman tangannya. Siwon lalu mencium ujung jemari tersebut. Kyuhyun sedikit terkejut. Wajahnya terasa lebih panas.

Siwon menautkan jemari mereka. “Apa kau pikir aku akan mengabaikan sisi kemanusiaanku? Semua sepupuku memang mengatakan bahwa aku pria brengsek, tapi aku tidak mungkin mengabaikan seseorang yang membutuhkan pertolongan.”

Kyuhyun tersadar. Dia berkedip beberapa kali, sebelum membalas ucapan Siwon barusan. “Jadi, aku adalah seseorang yang membutuhkan pertolongan?”

Siwon tertawa kecil. “Saat itu situasimu memang perlu ditolong, Kyuhyun. Mungkin karena itu juga salah satu alasan aku menyukaimu. Karena aku tidak ingin kau terluka, maka aku ingin selalu berada disisimu untuk menjagamu.”

“Tapi aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku bukan seorang disablititas,” tukas Kyuhyun seraya menarik tangannya dalam genggaman Siwon. Walaupun akhirnya Kyuhyun sedikit menyesali tindakannya tersebut.

“Aku tahu. Buktinya, kau tetap hidup selama tigapuluh tahun sebelum kau bertemu denganku. Kau juga tahu maksud ucapanku, Kyuhyun.” Siwon menghela nafas. Dia tidak mengharapkan untuk berdebat dengan kekasihnya di pagi hari seperti ini. Kemudian dia berdiri dan mengulurkan tangannya lagi pada Kyuhyun.

“Jangan duduk di lantai.”

Kyuhyun mendesah tapi dia menyambut uluran tangan Siwon yang membantunya untuk berdiri. Selimut dibahunya terjatuh dan Kyuhyun harus berpegangan pada Siwon ketika dia kehilangan keseimbangannya. Siwon menahan punggung Kyuhyun untuk menjaganya tetap berdiri.

“Kenapa?”

Kyuhyun memejamkan matanya dan menggeleng. Siwon memperhatikan wajah Kyuhyun dengan lekat. Kyuhyun terlihat jauh lebih pucat. Sepertinya Kyuhyun sudah terlalu lama duduk di lantai yang dingin. Siwon menarik nafas berat lalu mendekap tubuh Kyuhyun. Kedua lengannya memeluk Kyuhyun dengan begitu protektif. Kyuhyun membuka matanya dan terdiam. Ia kembali mencium bau cologne yang dipakai oleh Siwon –atau mungkin aroma natural tubuh Siwon itu sendiri.

Siwon menepuk lembut punggung Kyuhyun. Dia berusaha untuk tidak menyentuh kepala Kyuhyun karena terakhir-kali Siwon melakukannya, reaksi Kyuhyun terlihat cukup tegang. Mungkin ada kaitannya dengan trauma yang ia derita. Siwon bisa bertanya hal itu di lain hari. Toh, mereka bisa bertemu kapan pun.

“Sebaiknya kau tidur lagi. Aku akan membangunkanmu jika sarapan sudah siap. Okay?”

“Okay.”

*****

Joonmyeon terbangun lebih cepat dari yang ia duga. Sepertinya beberapa hari terus tidur membuat Joonmyeon jadi muak berada di tempat tidur. Namun, dia tidak bisa turun tanpa ijin dari pamannya. Joonmyeon menghela nafas panjang dan memperhatikan Yifan yang masih tertidur di sofa panjang. Ukuran sofanya cukup besar, tapi sepertinya Yifan jauh lebih tinggi. Jadi, dia harus menekuk sedikit kakinya untuk bisa muat di sofa tersebut.

“Oh? Kau sudah bangun?”

Joonmyeon menoleh kearah pintu. Seorang suster berjalan masuk dan menuju tempat tidurnya. Suster itu tersenyum tipis saat melihat Joonmyeon sudah bangun.

“Selamat pagi,” sapa suster itu.

Joonmyeon hanya bergumam membalas sapaannya. Suster itu kemudian melakukan pekerjaannya. Ia mengecuk suhu tubuh Joonmyeon serta mengganti kantung infus yang sudah habis. Saat melihat kantung infus yang besar, Joonmyeon hanya bisa menghela nafas pendek.

Suster itu meliriknya dan tersenyum. “Sudah bosan di tempat tidur?”

“Begitulah. Walaupun baru sadar kemarin, tapi rasanya sudah lama sekali,” ucap Joonmyeon.

Suster itu masih tersenyum dan melirik kearah Yifan yang masih tidur di sofa. “Saudaramu sangat mengkhawatirkanmu. Sejak kau dipindahkan ke lantai VIP, walaupun dia tidak masuk ke kamar rawat, dia selalu duduk di ruang tunggu.”

Joonmyeon ikut menatap Yifan. Dia telah banyak mendengar semua orang mengatakan kalau Yifan mengkhawatirkanya sejak dia bangun, tapi Yifan sama sekali tidak mengatakan apapun padanya selain bertanya mengenai kondisinya.

“Benarkah?”

“Tentu saja itu benar. Oh ya, dokter Park akan datang untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Aku akan membawakan sarapan pukul delapan atau kau sudah lapar?”

Joonmyeon menggeleng. “Jam delapan saja.”

Suster itu tersenyum lalu keluar dengan membawa kantung infus yang sudah kosong. Setelah pintu kamar tertutup, Joonmyeon kembali membaringkan tubuhnya. Pandangannya tertuju pada kantung infus yang baru. Kemudian tangan kanannya terangkat dan menyentuh perban di kepalanya. Joonmyeon jadi ingat kalau dia belum mendapatkan hasil pemeriksaan sebelumnya. Mereka hanya mengatakan Joonmyeon mengidap sebuah tumor di kepalanya dan sudah diangkat. Tapi Joonmyeon tidak mendapatkan penjelasan dari dokter Ji.

“Mungkin aku harus bertemu dengan dokter Ji,” gumam Joonmyeon.

“Kenapa kau harus bertemu dengan dokter Ji?”

Joonmyeon bangkit dan melihat Yifan sudah terbangun. Pemuda itu sedang melakukan sedikit pereganggan, mungkin tubuhnya terasa pegal karena harus tidur di sofa, lalu berjalan mendekati tempat tidur Joonmyeon. Yifan tersenyum tipis seraya duduk di tepi tempat tidur.

“Selamat pagi,” sapanya.

Joonmyeon masih menatap lekat Yifan sebelum dia membalas sapaan saudaranya. “Pagi. Tidurmu… Sofa itu pasti tidak nyaman. Kenapa tidak pulang saja?”

“Karena aku sudah mengatakan akan menjagamu. Jika aku pulang, Mom atau Appa yang akan kesini untuk menggantikanku. Aku yakin kau tidak mau melihat salah satu dari mereka tidur di sofa, bukan?” tutur Yifan.

Joonmyeon sedikit menunduk menatap tangan kanannya memainkan selang infus di pergelangan tangan kirinya. Apa yang diucapkan Yifan memang benar. Jika Yifan tidak disini, mungkin Mom atau Appa-nya yang akan disini untuk menjaganya dan Joonmyeon tidak ingin melihat mereka tidur tidak nyaman di sofa. Joonmyeon menarik nafas lalu mengangkat kepalanya dan menemukan Yifan tengah memandanginya dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti oleh Joonmyeon.

Yifan tersenyum tipis lalu mengangkat tangan kirinya dan menyentuh bagian leher Joonmyeon dengan hati-hati. Seolah dengan satu sentuhan kecil, Joonmyeon bisa terluka lagi. Begitu jemari Yifan menyentuh permukaan kulitnya, Joonmyeon sontak menahan nafasnya untuk beberapa detik. Namun, dia kembali bernafas teratur saat jemari Yifan bergerak lembut.

“Selamat pagi,” gumam Yifan.

Joonmyeon sedikit mengernyit. “Kau sudah mengucapkannya tadi.”

“Aku tahu. Ucapan selamat pagi dariku itu adalah tanda syukur-ku karena aku masih bisa melihatmu pagi ini dalam kondisi sehat. Jadi, selamat pagi.”

*****

Changmin mendesah jengkel setelah dia membuka pintu Legiun. Ini baru pukul setengah delapan pagi sedangkan pintu Legiun baru akan dibuka pukul sembilan. Cukup beruntung Changmin memegang kunci pintu utama sebelah Barat, jadi dia bisa memasuki mall besar tersebut dengan mudah. Setelah menyalakan listrik utama untuk penerangan, Changmin berjalan dengan santai ke salah satu toko pakaian pria.

“Jika harus membawakan pakaian, kenapa aku harus pergi ke Legiun? Apa pakaian di lemarinya masih kurang banyak?” dengusnya sembari memasuki salah satu toko dimana Siwon sering membeli pakaian.

Changmin mendesah. Rasanya semua protesnya tidak akan di dengar oleh siapapun. Kemudian ia mengeluarkan sebuah kertas kecil berisi catatan dari Siwon. Changmin membaca kertas itu dengan kerutan di keningnya. “Sejak kapan ukuran pakaiannya berubah? Dia bahkan tidak terlihat lebih gemuk dari sebelumnya.”

Tapi Changmin bisa bertanya ketika ia mengantarkan pakaian itu ke apartment Siwon. Changmin sibuk memilih beberapa kemeja dengan ukuran yang sesuai dan akhrinya pilihan Changmin jatuh pada kemeja berwarna hitam. Selanjutnya Changmin tidak memilh celana, jas serta dasi yang sesuai dengan kemeja pilihannya.

Changmin menghabiskan waktu hampir empatpuluhlima menit untuk memilih satu stel pakaian yang diminta oleh Siwon. Jauh lebih lama dibandingkan jika dia harus membeli pakaian untuk dirinya sendiri. Heck, bahkan terakhir kali Changmin membelikan pakaian untuk Siwon hanya memerlukan waktu kurang dari duapuluh menit. Mungkin jauh lebih lama karena Changmin harus mencari ukuran yang tepat.

Changmin memasukkan pakaian yang telah dipilihnya ke dalam kantung lalu menuliskan catatan untuk pegawai yang menjaga toko tersebut. Tak lupa Changmin juga menaruh beberapa lembar yang untuk membayar pakaian yang diambilnya. Well, walaupun Choi Group yang mempunyai mall tersebut tapi mereka harus membeli semua barang yang dijual.

Setelah memastikan jumlahnya cukup, Changmin lalu berjalan menuju pintu dimana dia masuk sebelumnya. Setelah mematikan sumber listrik utama dan mengunci pintu, Changmin memeriksa jam di pergelangan tangannya. Pukul setengah sembilan, lebih tepatnya pukul delapan empatpuluh menit. Siwon menyuruhnya sampai di apartment pukul sembilan, sedangkan jarak dari Legiun cukup jauh. Sekitar empatpuluh menit sampai limapuluh menit jika jalanan tidak macet.

Setelah memastikan pintu sudah terkunci, Changmin berjalan menuju mobilnya dengan santai. Well, dia tidak akan peduli jika Siwon akan marah-marah padanya karena terlambat.

*****

Jinri mengernyit saat dia tidak melihat Siwon di meja makan. Bahkan sepertinya suasana pagi ini begitu suram saat dia melihat ekspresi Eomma dan Appanya. Jinri duduk di kursinya dan menatap Appanya dengan lekat. “Appa…”

Jaewon menoleh kearah putrinya. “Ya?”

Jinri membuka mulutnya tapi ketika dia melirik kearah Eommanya yang terlihat begitu menyeramkan, Jinri menutup mulutnya lagi. Dia menatap Jaewon dan menggeleng sembari tersenyum tipis.

Jaewon lalu menoleh pada istrinya. Sejak bangun tidur, Yoojin sudah terlihat tidak senang karena Siwon sama sekali tidak pulang –entah dia sedang ada dimana saat ini. Namun, sepertinya Yoojin dan juga Jaewon bisa tahu dimana Siwon sekarang ini.

Jaewon menghela nafas dan kembali menatap Jinri. “Tanyakan saja, Jinri. Tidak apa-apa.”

“Oppa tidak pulang?” tanya Jinri dengan pelan.

Namun, bukan jawaban yang didapat oleh Jinri tapi reaksi Yoojin yang kesal. Yoojin meninggalkan meja makan dan kembali menaiki anak tangga lalu berjalan menuju kamar. Jinri memperhatikan Eommanya dengan tatapan sedikit bersalah. Jaewon menghela nafas dan tersenyum tipis pada Jinri.

“Jangan terlalu memikirkan reaksi Eomma. Tapi sepertinya Siwon memang tidak pulang. Dia mungkin sedang mengurus masalahnya sendiri,” tutur Jaewon.

Jinri terdiam. Dia ingat ketika Siwon kemarin pulang dan mencari Eomma mereka. Siwon bilang ada sesuatu yang harus diselesaikannya sebelum dia menjelaskannya pada Jinri. Selain itu, semalam Siwon juga bertengkar dengan Eomma mereka. Jinri tidak mendengar apa isi pertengkaran mereka karena Jaewon menyuruhnya ke kamar. Tapi Jinri masih bisa mendengar suara teriakan marah Siwon.

Setelah hampir limabelas menit, Jinri tidak mendengar apapun lagi. Dan pagi ini, Jinri tahu kalau Siwon pergi dari rumah setelah pertengkaran tersebut dan tidak pulang. Mungkin Siwon tidur di rumah Changmin atau apartmentnya sendiri.

Jinri menghela nafas berat. Entah sejak kapan –Jinri sama sekali tidak tahu– hidup keluarganya menjadi lebih rumit seperti sekarang ini. Jaewon sebenarnya merasa sedikit prihatin, Jinri sama sekali tidak tahu inti permasalahan Siwon tapi putranya meyakinkan dirinya kalau Siwon yang akan bicara langsung pada Jinri. Jadi, sampai Siwon yang bicara, Jaewon hanya bisa menunggu.

“Jangan khawatirkan kakakmu. Dia sudah besar, Jinri. Siwon bisa mengatasi masalahnya sendiri.”

*****

Siwon menaruh dua mangkuk berisi sup kimchi yang sudah dihangatkannya diatas meja counter. Satu untuknya dan mangkuk lainnya untuk Kyuhyun. Siwon telah menghangatkan beberapa makanan yang sudah disiapkannya dini hari tadi dan membuat menu lain yang tidak bisa dimakan. Sembari menyiapkan sarapan, Siwon menghubungi Changmin untuk pergi ke Legiun dan membawa pakaian untuk Kyuhyun. Well, untuk ukurannya, Siwon bisa menebak dari pakaian Kyuhyun yang dibawanya ke laundry. Walaupun Siwon tidak yakin, tapi saat Kyuhyun memakainya dia bisa melihat apakah prediksinya benar atau tidak.

Kecuali jika Changmin berusaha untuk memukulnya karena tidak mengatakan apapun.

Siwon lalu berjalan ke kamar untuk membangunkan Kyuhyun. Namun, ketika dia memasuki kamar, Siwon tidak melihat Kyuhyun di tempat tidur dan mendengar suara dari kamar mandi. Dengan segera, Siwon menuju kamar mandi dan melihat Kyuhyun kembali muntah, mengeluarkan apapun yang ada di dalam perutnya.

Siwon menghampiri Kyuhyun dan menepuk-nepuk punggungnya. Kyuhyun menepis tangan Siwon dan menyalakan keran wastafel. Air itu membuang semua yang telah dikeluarkan oleh Kyuhyun.

Siwon memperhatikan Kyuhyun dengan khawatir. “Kau baik-baik saja? Apa yang kau keluarkan? Alkohol?”

“Hanya air. Aku rasa. Tenang saja, aku baik-baik saja.” Kemudian Kyuhyun mematikan keran air dan berjalan menuju tempat tidur.

Siwon mengikutinya sembari mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dia berniat menghubungi dokter keluarga Choi –dokter Ji– namun itu bukan pilihan yang tepat untuk saat ini. Kakeknya mungkin akan bertanya alasannya dan Siwon sedang tidak ingin menjelaskan apapun terlebih setelah pertengkarannya dengan Yoojin semalam. Siwon memperhatikan Kyuhyun yang bergulung dalam selimut. Siwon hendak berpikir untuk menghubungi Haneul namun ia membatalkannya.

Siwon lalu duduk di tepi tempat tidur. Tangannya terangkat menyentuh kening Kyuhyun dan ia bisa merasakan sensasi panas. Sontak Siwon menaruh ponselnya diatas meja nakas dan bergegas untuk mengambil handuk kecil di kamar mandi dan membasahinya. Lalu Siwon kembali ke tempat tidur dan meletakkan handuk itu diatas kening Kyuhyun.

Sepertinya Siwon harus menghubungi Kang Haneul. Dengan terpaksa.

Kyuhyun membuka matanya dan menatap Siwon. “Sudah kubilang, aku…”

“Kau demam, Kyuhyun. Aku akan memanggil dokter. Kau punya nomor Haneul, bukan? Aku akan memanggilnya, okay?” ucap Siwon.

Kyuhyun menarik nafas panjang dan mengangguk. Siwon lalu pergi ke ruang tengah untuk mengambil ponsel milik Kyuhyun dan mencari nomor kontak Haneul. Setelah menemukannya, Siwon langsung menghubungi Haneul. Siwon kembali duduk di tepi tempat tidur dan memperhatikan Kyuhyun.

“Kyuhyun? Ada apa menghubungiku?”

Siwon sedikit canggung saat mendengar suara Haneul. Dia juga tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Siwon menarik nafas. “Dokter Kang, ini Choi Siwon. Maaf menghubungimu dengan mendadak.”

“Choi Siwon? Kau menggunakan ponsel milik Kyuhyun? Ada apa?”

“Aku tidak bisa menjelaskannya melalui telepon. Tapi bisakah kau datang dengan membawa peralatanmu? Ah, kau mungkin juga harus membawa kantung infus. Aku akan memberikan alamatnya melalui pesan. Tolong datang secepatnya. Kyuhyun sedang sakit.”

“Sakit? Oh.. Baiklah. Aku akan datang.”

Siwon mengucapkan terima kasih sebelum dia mematikan sambungan telepon. Kemudian Siwon kembali berfokus pada Kyuhyun yang ternyata memperhatikannya. Siwon tersenyum tipis sembari mengusap pipi Kyuhyun dengan punggung tangannya. “Dia akan segera datang. Sebenarnya semalam kau minum seberapa banyak?” tanya Siwon sembari menulis alamat apartment-nya lalu mengirim pesan tersebut ke nomor Haneul.

“Entah. Tanyakan pada sepupuku,” sahut Kyuhyun dengan suara pelan.

Siwon mendesah lalu meraih handuk dari kening Kyuhyun. Sepertinya dengan mengompres saja tidak akan cukup. Siwon menaruh ponsel milik Kyuhyun di tangan kekasihnya lalu ia mengambil ponsel miliknya. Siwon mungkin harus meminta Changmin membelikan bubur untuk Kyuhyun.

“Pejamkan matamu, tapi jangan sampai tertidur. Aku akan menghubungi Changmin. Oh, kau mungkin harus menghubungi keluargamu atau rekan kerjamu. Sepertinya, aku tidak akan mengijinkanmu bekerja dengan kondisimu saat ini,” ucap Siwon.

Kyuhyun ingin sekali tertawa tapi tidak bisa, jadi dia hanya tersenyum. Kyuhyun menatap ponselnya lalu mengangguk pada usulan Siwon. “Kurasa aku tidak bisa protes, bukan?”

Siwon tertawa kecil. Dia mengecup kening Kyuhyun. “Kau bisa protes, tapi apakah kau akan menang? Itu yang harusnya jadi pertanyaan. Aku akan keluar sebentar.”

Siwon mengecup bibir Kyuhyun lalu berjalan keluar dari kamar untuk menghubungi Changmin. Sedangkan Kyuhyun menghubungi Heechul untuk tahu apa yang dikatakannya pada Ahra jadi dia bisa mencocokkan ceritanya. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Heechul menerima panggilan tersebut.

“Kau masih hidup, Kyuhyun.”

Kyuhyun mendesis jengkel. “Ya, aku masih hidup dan mungkin akan membuat tuntutan padamu, hyung.”

“Kenapa? Aku membantu menyelesaikan masalahmu, bukan?”

“Tch, yang benar saja. Kau menyelesaikan satu masalah tapi membuat masalah baru, hyung. Sebenarnya berapa banyak aku minum semalam?” tanya Kyuhyun sembari memejamkan matanya.

“Kenapa? Apa Direktur itu melakukan sesuatu padamu? Dia… Er, kau tahu maksudku. Aku sudah memberi peringatan padanya jika dia…”

“Hyung!! Jawab pertanyaanku. Bukan memberikan pertanyaan lain!” seru Kyuhyun.

“Maaf. Berapa banyak? Entah, mungkin beberapa belas tequila dan beberapa gelas vodka karena kau sempat menyuruhku memberikanmu yang lebih keras. Kenapa? Apa sekarang kau sakit? Karena suaramu aneh sekali.”

Kyuhyun memijat keningnya yang berdenyut. “Itu sudah sangat jelas, bukan? Lalu apa yang kau katakan pada noona?”

“Kau datang ke bar karena sedang stress dengan pekerjaan, minum beberapa gelas lalu mabuk jadi aku membawamu ke rumahku karena terakhir-kali Ahra marah sekali karena kau pulang dengan mabuk. Mungkin aku harus menambahkan kau sakit. Kau mau aku menghubungi kakakmu?”

“Tidak usah. Aku menelepon hanya bertanya cerita yang kau katakan. Sisanya biar aku yang jelaskan. Terima kasih, hyung.”

Kyuhyun memutuskan sambungan setelah mendengar sahutan terakhir dari Heechul. Ia menarik nafas panjang dan memikirkan cerita yang sedikit masuk akal untuk diceritakan pada Ahra. Masalahnya, Kyuhyun adalah pembohong yang buruk. Setelah beberapa menit, Kyuhyun lalu memutuskan untuk menghubungi Hyukjae terlebih dahulu sebelum dia menghubungi Ahra.

Itu jauh lebih baik.

*****

Changwook berlari menuju parkiran dengan membawa sebuah kantung berisi kantung infus serta selang, beberapa jarum suntik dan obat setelah mendapat telepon dari Haneul. Tigapuluh menit sebelumnya, Haneul menghubungi Changwook untuk menyiapkan itu semua dan memintanya untuk bertemu di parkiran. Walaupun Changwook sedikit tidak mengerti kenapa Haneul memintanya membawakan itu semua, tapi dia yakin ada alasan yang masuk akal.

Changwook berlari menuju sebuah mobil hitam dimana Haneul sudah menunggunya. Changwook langsung menyerahkan kantung itu pada Haneul sembari mengatur nafasnya yang terengah. Haneul memeriksa isi kantung tersebut dan tersenyum tipis.

“Terima kasih. Maaf, merepotkanmu sepagi ini.”

Changwook mengibaskan tangannya. “Siapa yang sakit? Kyuhyun atau orang lain?”

“Kyuhyun. Aku tidak tahu kenapa, tapi sepertinya cukup darurat,” ujar Haneul. Well, sepertinya Changwook mudah membaca pikiran Haneul. Bahkan tanpa disebut pertama-kali, Changwook sudah bisa menebak dengan benar.

Changwook mengernyit. “Kalau darurat kenapa tidak dibawa ke rumah sakit? Lagipula kau itu dokter bedah anak.”

“Kurasa tidak begitu serius. Lagipula sepertinya dia tidak punya banyak pilihan hingga harus menghubungiku.”

“Well… Pilihan lainnya adalah 119. Kau akan pergi sekarang?”

Haneul mengangguk kecil. “Sekali lagi terima-kasih, hyung.”

Changwook menyentuh kepala Haneul dan mengusak rambut pria itu dengan lembut. “Jangan sungkan. Pergilah dan hati-hati menyetir.”

Haneul merasa sedikit canggung dengan afeksi Changwook, walaupun pria itu sudah pernah melakukannya beberapa-kali. Haneul mungkin memang seorang gay, tapi jika mendapatkan afeksi seperti itu dari seorang pria, Haneul pun akan merasa tersipu. Haneul berdeham beberapa kali sembari merapikan rambutnya. Changwook sedikt menyeringai. Dia menyukai setiap reaksi yang diberikan Haneul atas sentuhannya.

“Kau tidak pergi? Bukankah Kyuhyun menunggumu?” tutur Changwook lagi.

“Oh, benar. Sekali lagi, terima kasih.”

Kemudian Haneul bergegas memanjat kedalam mobil. Changwook mengambil beberapa langkah mundur agar mobil Haneul bisa melaju. Changwook melambaikan tangannya pada Haneul dan menghela nafas panjang setelah mobil hitam itu sudah menghilang dari pandangannya. Senyuman Changwook menghilang lalu ia berjalan kembali ke rumah sakit dengan tergesa.

*****

Changmin mengernyit saat dia melihat Yunho berada di basement parkir gedung apartment Siwon. Tapi jika diingat lagi, Changmin menolak permintaan Siwon untuk membeli bubur –entah kenapa sepupunya ingin sekali sarapan bubur pagi ini. Jadi, Siwon mungkin menghubungi Yunho dan meminta sepupu tertua mereka untuk membelikan bubur sebelum pergi kerja. Changmin menghela nafas sembari berjalan menghampiri Yunho dengan tangan menjinjing kantung berisi pakaian yang diminta Siwon.

Changmin melihat kantung makanan ditangan Yunho dan mendecih. “Sepertinya pagi ini, Choi Siwon menyusahkan banyak orang. Kau benar-benar membelikan bubur untuknya?”

Yunho mengangguk dan menyodorkan kantung itu pada Changmin. “Aku hanya mengantarkannya padamu karena aku harus ke kantor sekarang.”

Changmin mengambil kantung itu dengan sedikit jengkel. Sepupunya itu benar-benar menyusahkan. Jika dia ingin sarapan bubur, kenapa tidak beli sendiri? Kenapa harus menyuruhnya –atau Yunho– yang membelikannya? Apa mungkin Siwon sedang sakit makanya dia tidak bisa keluar dari apartmentnya?

“Dia tidak sakit, bukan?” tanya Changmin.

“Dari suaranya tidak terdengar kalau dia sedang sakit, Min. Mungkin…”

Changmin mengernyit. “Mungkin apa?”

Yunho tersenyum dan menepuk lengan Changmin. “Masuklah, aku juga harus pergi sekarang.”

Changmin mengangguk lalu berjalan menuju pintu masuk sedangkan Yunho memasuki mobilnya dan pergi. Changmin sedikit menoleh ketika mobil Yunho keluar dari basement. Ia menghela nafas lalu kembali berjalan. Tak lama mobil Yunho keluar, Changmin mendengar suara mesin mobil yang baru saja datang dan parkir. Tanpa berpikir banyak, Changmin menekan kode pintu dan berjalan masuk. Ia lalu menekan tombol lift dan menunggu. Changmin menatap kantung berisi pakaian di tangan kiri dan kantung berisi kotak bubur di tangan kanannya. Lalu mendecih.

Siwon mungkin sudah membuat pagi Changmin menjadi sangat menyebalkan, tapi pintu lift yang belum terbuka semakin membuatnya lebih kesal. Selain itu, perhatian Changmin teralihkan ketika dia mendengar suara ketukan pintu kaca. Changmin menoleh dan sedikit mengernyit ketika ia melihat Kang Haneul yang melambaikan tangan kearahnya. Entah apa yang dilakukan oleh dokter itu di gedung apartment ini. Haneul memberikan isyarat kearah panel kode pintu –dengan maksud meminta Changmin membukakan pintu untuknya. Changmin berjalan mendekat dan menekan kode pintu untuk membukakan pintu untuk Haneul.

“Terima kasih,” ucap Haneul setelah dia berjalan masuk. Changmin mengangguk kecil dan kini keduanya menunggu lift. Suasananya sedikit canggung. Haneul melirik ke kantung berisi bubur yang dibawa oleh Changmin.

“Sepertinya sakitnya cukup parah, sampai dia harus menyuruhmu membelikan bubur,” tukas Haneul.

Changmin menoleh. “Sakit? Siwon sakit? Dia menyuruhmu datang?”

Well, Changmin memang tidak mengenal Kang Haneul, tapi dia juga tidak bisa berpura menjadi orang asing. Terlebih dengan ucapan Haneul baru saja.

Haneul menggeleng. “Choi Siwon tidak memberitahumu? Kyuhyun berada di apartment-nya dan sekarang dia sedang sakit. Itu alasan aku datang.”

*****

Changmin memperhatikan Siwon yang sedang menyendok bubur yang dibawanya untuk diberikan pada Kyuhyun ke sebuah mangkuk. Saat ini Haneul sedang memeriksa kondisi Kyuhyun di kamar. Siwon mengatakan bahwa semalam Kyuhyun mabuk dan sepupunya menyuruh Siwon membawanya pergi. Tapi yang tidak dipikirkan Changmin, kenapa Siwon malah membawa Kyuhyun ke apartment. Bukan Changmin tidak suka, tapi dia masih kesal dengan Siwon yang menyuruhnya ini-itu tanpa memberikan alasan bahwa semua itu untuk Kyuhyun.

Heck, Changmin bahkan tidak tahu kalau Siwon pergi ke bar itu lagi.

Changmin juga memperhatikan makanan yang sudah disiapkan diatas meja counter. Ia bisa menebak kalau sebenarnya sarapan itu untuk Siwon dan Kyuhyun, tapi berhubung Kyuhyun sakit maka Siwon meminta untuk dibelikan bubur selain membawakan pakaian untuk Kyuhyun.

Changmin menghela nafas.

Siwon benar-benar berubah. Dulu, sepertinya Siwon tidak pernah memberikan perhatian sebesar ini pada salah satu dari mereka –para sepupunya– atau bahkan pada Jinri sekali pun. Tapi melihat perhatian Siwon pada Kyuhyun yang sedang sakit, Changmin tahu kalau Siwon sudah sangat jatuh hati pada pria itu.

Setelah menyiapkan bubur untuk Kyuhyun, Siwon menutup container tersebut dan menyimpannya di lemari pendingin. Jadi, saat Kyuhyun ingin makan lagi, Siwon tinggal menghangatkannya di microwave. Siwon menaruh mangkuk bubur diatas baki, diikuti dengan sendok dan segelas air. Dia tinggal menunggu Haneul selesai melakukan pemeriksaan.

“Kau sudah selesai?” tanya Changmin.

Siwon melirik sepupunya. “Selesai apa maksudmu?”

Changmin menunjuk baki dihadapan Siwon. “Menyiapkan sarapan untuk…. Kekasih-mu? Atau hubungan kalian masih tanpa status yang jelas?”

Siwon menarik ujung bibirnya. Well, Changmin mungkin sering-kali bersikap jengkel karena perbuatannya sendiri, tapi kali ini Siwon mendapati bahwa reaksi Changmin begitu menarik. Mungkin salahnya juga karena tidak memberitahu sepupunya tersebut.

“Kau cemburu, Shim Changmin?” goda Siwon.

Changmin mendengus. “Kau tahu, gara-gara dirimu sekarang Kakek menyuruhku untuk menikah mendahuluimu. Itu memang bagus, tapi apa kau pikir aku senang tiba-tiba disuruh menikah tanpa ada calon istri.”

“Mungkin kau akan berakhir dengan dijodohkan.”

“Tidak, terima kasih. Aku sudah banyak belajar dari ratusan perjodohanmu.”

Siwon mengernyit. “Lalu jika kau akan menikah, siapa yang menjadi pendampingmu? Apa dengan “toko nomor empatpuluhdua”? Kau berniat mengenalkannya pada keluarga?”

“Apa kau sudah gila?! Sejak kau coming out, kau pikir reaksi anggota keluarga lain akan jauh lebih baik jika aku mengenalnya? Kau pikir untuk apa selama ini aku menghindarinya, Choi Siwon?!”

Siwon mengangkat bahunya. “Well, aku hanya berpikir kau mungkin akan mendapatkan keberanian seperti diriku yang mengakui seksualitasku dihadapan semua anggota keluarga. Jadi…”

“Bukan dia. Aku tidak ingin hidupnya menderita. Sudahlah, aku tidak berharap kau ikut campur ke dalam masalahku,” tukas Changmin.

Siwon menghela nafas berat. Ia memperhatikan sepupunya dengan seksama. Selain kehidupan romantismenya, kisah Changmin sebenarnya tidak kalah menyedihkan. Terlebih hanya Siwon yang mengetahuinya. Changmin tidak mempunyai keberanian untuk menceritakannya pada Yunho dan Sooyoung. Bahkan Siwon pun mengetahuinya tanpa sengaja. Selain itu, Changmin juga membuatnya bersumpah untuk menceritakannya pada siapapun. Rahasia itu hanya untuk Siwon seorang.

Siwon lalu mendorong sumpit yang ada dihadapan Changmin kearah sepupunya. Changmin mengangkat kepalanya.

“Makanlah. Maaf, telah menyusahkanmu pagi ini.”

Changmin mendengus lalu mengangkat sendok. “Akan kubiarkan untuk kali ini, Choi Siwon. Tapi tidak ada lain waktu.”

Siwon tersenyum tipis melihat Changmin yang mulai makan. Dia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Lalu Siwon melihat Haneul berjalan menuju dapur, pemeriksaannya sudah selesai. Haneul menaruh kantung yang dibawanya di lantai dan menatap Siwon dengan serius.

“Bagaimana kondisinya?” tanya Siwon.

Haneul menghela nafas berat. “Tidak begitu baik. Kemarin dia tidak makan apapun dan minum alcohol banyak sekali. Jadi, lambungnya sedikit bermasalah. Aku sudah beri obat dan memasang infus. Untuk beberapa hari, dia mungkin harus makan bubur dan menghindari minum kopi dan alcohol. Selain itu… Aku bisa melihat kalau Kyuhyun mengalami hari yang buruk kemarin mengingat dia tidak makan apapun. Itu kebiasaannya sejak kuliah.”

Siwon tidak mengerti. Kemarin siang, bukankah Kyuhyun pergi makan siang dengan ibunya. Apa mereka tidak makan apapun? Dan bukankah, Siwon juga sudah mengirim makanan. Apa Kyuhyun tidak memakannya juga? Bodohnya, Siwon tidak bertanya apakah Kyuhyun memakan sandwich yang dibawakannya atau tidak.

“Cho Kyuhyun adalah salah satu orang yang paling keras kepala yang pernah kutemui. Kau harus banyak bersabar menghadapinya,” ucap Haneul pelan.

Siwon memperhatikan dokter itu dengan lekat. Haneul menghela nafas. Rasanya ini adalah hari di mana Haneul harus melepaskan Kyuhyun seutuhnya. Haneul bisa melihat perhatian Siwon yang begitu besar pada Kyuhyun. Bahkan saat melakukan pemeriksaan, Kyuhyun selalu mengeluh tentang Siwon yang terlalu khawatir pada kondisinya.

Kyuhyun mungkin mulai menyadari bahwa dia juga menyukai seorang pria, namun sayang pria yang dimaksud Kyuhyun bukanlah dirinya.

Haneul menarik nafas panjang. “Jika dia muntah lagi, sebaiknya kau bawa ke rumah sakit. Jika dia menolak, paksa saja. Terkadang, dia memang harus dipaksa untuk menurut. Itu untuk Kyuhyun, bukan? Masuklah dan paksa dia untuk makan,” ujarnya lagi.

Siwon mengangguk kecil. “Terima kasih. Oh ya, kau bisa sarapan bersama Changmin. Aku sudah merepotkanmu pagi ini, terlebih di saat kau belum sarapan. Jadi, makanlah.” Kemudian Siwon membawa baki yang berisi sarapan Kyuhyun menuju kamar.

Changmin melirik Haneul yang memperhatikan Siwon berjalan menuju kamar. Sikap Kang Haneul benar-benar membuat Changmin berdecak kagum. Rasanya belum lama, Changmin melihat tekad kuat Haneul untuk bisa memenangkan Kyuhyun, tapi dalam waktu singkat pria itu akhirnya menyerah tanpa pergi berperang. Terlebih dia menyerah pada seorang Choi Siwon.

Woah, Cho Kyuhyun benar-benar hebat.

“Dokter Kang, duduklah dan makan bersamaku. Rasanya aku juga tidak enak, jika makan sendirian saja. Oh, kurasa kita harus berteman baik.”

*****

NOTE: Halo….

.

Dadah~

/ditabokin readers hahahaha….

Music: Super Junior – Magic

Advertisements

37 thoughts on “[SF] Scarface Part 32

  1. wow…baru jadian sehari udh kliatan posesif Siwon…betapa kelimpungan dia pas tau Kyu sakit sampai Changmin, Haneul dan Yunho dibuat kerepotan…tp jg kliatan bgd perhatian dan sayangnya Siwon ..ah so sweet…utk Joonmyeon..apa dia mulai menyukai Yifan .. utk dr.Ji ..sepertinya Haneul sdh mulai suka tuh…gomawo Diera updetnya….keep writing and stay healthy…

  2. wahhh wonkyu makin so sweet ni setelah jadi sepasang kekasih…:-D
    bener2 bikin seneng deh kalo ff ni update…thanks ya udah buat crita seperti ini…semangat ya buat nulis lanjutannya..hehe..:-D 😀 ❤ ❤

  3. Wow…. Siwon really care a lot towards Kyuhyun….. It does’t look like a cool CEO anyone when he is facing Kyuhyun
    But I really waiting for their next interaction…. Waiting for ur next update!!!

  4. Huwaa… Siwon makin perhatian aja sama kyu setelah resmi jadian 🙂

    Apalagi di setiap kejadian, siwon selalu menolong kyu.. 🙂 penasaran sama hubungan wonkyu kedepan nya gimna ya.. ??
    Ditunggu kelanjutan nya 😀

  5. pagi yg manis bwt wonkyu….kyaaaa..akhirny mrk bs saling mnunjukkn sayang ny msg2..
    mdh2n mrk bs dtrima kel msg2 dn gk mghdpi byk mslh…
    tp kasus kyu yg d ambl alih tu msh lnjt ya pst ad mslh bsr ntr….bkln pjg bgt ne ff ny…^^
    ttg changmin mgknkh dia jg suka sm pria…sapa…????? jd kepo ne

  6. entah ~ aku malah deg-deg serr pas baca kata ‘kekasih’ buat Kyuhyun or Siwon hahaha
    aiih ~ Kyu udh sakit aja protektif nya gede bgt,apa lg nnti di hari lain ya? tpi sweet bgt ugh Siwon nya,aku jdi tersipu baca nya *eh
    pukpuk buat Haneul kkk ~ ya udh gih lngsung jdian aja sma Changwook,toh Kyu udh ada yg punya hahaha
    naah tinggal masalah KrisHo nih yg blm hngg
    smoga masalah nya cepet selesai ya,masalah Siwon sma Eomma nya jg :3
    slalu semangat buat lanjutin ff nya ya Ra ^^

  7. Yeeyyyyy…WonKyu sdh lebih hangat hubungannya.Sudah ada kepastian.Aq rasa makin menarik.pingin tau banget bagaimana nanti tanggapan dari kedua keluarga besar mereka.
    Joonmyon ..apa di itu,sebenarnya juga memiliki perasaan yang sama kepada Yifan??Karna status ortu mereka,,ini akn lbh sulit.
    Semoga semua akan berjalan lancar.

    Jeongmal gumawo eonni…Fighting!!!

  8. ewwwww romantis bngt choi siwon ini,sampe segitunya ngurusin kyuhyun demam,dan kyuhyun,semoga keras kepalanya bisa ilang klo sama siwon

  9. saat baca ini rasanya ngak mau berakhir.
    ngarep terus ini panjaaaaaang.heeeee
    hmm sepertinya ada beberapa typo atau kelebihan untuk kata ‘tidak’ seperti saat siwon menyiapkan makanan yang ‘tidak’ bisa dimakan (?).
    btw TERIMA KASIH untuk part wonkyu n klrga yang memuaskan bgt.heee

  10. Ciee yang udah jadian 😘😘maunya nempel terus kayak perangko ^^
    Siwon makin cerewet aja kalau udah ada hubungannya sama babykyu…
    Nggak sabar nunggu chap selanjutnya!!!

  11. Wlopun udh resmi jadi sepasang kekasih tetap aja ya kyu nya jutek jutek manja gitu .. hehe .. suka liat siwon yg over protectiv ke kyu .. apalagi klo kyu lagi sakit ..
    Semangattt ya lanjutin ff nya .. selalu ditunggu ..

  12. Waooo siwon langsung keluar sikap posesifnya
    Bener2 deh siwon udh jatuh hati sama kyuhyun
    Kyuhyun juga udh mulai merasa nyaman sama siwon

    Nggak nyangka ternyata changmin juga sama kyk siwon
    Dia mencintai laki2 tp sayang dia nggak seberani siwon

  13. Aah Siwon sweet bgt ♥.♥ ..

    Segalany ku lakukan untukmu nih ceritany 😀 .

    Eh tp kurang greget ya krn si Haneul udah nyerah buat dapetin Kyu. Jd Siwon g bisa cemburuan2 dong 😀

  14. hahahahh siwon over protective banget pas kyu sakit smpek changmin sama yunho di buat repot sama siwon hanya untuk kyu… seneng bangetttt hahhaha… semoga hubungan mereka tambah dekat… hahahah akhirnya mereka bisa saling menunjukan bahwa memang mreka sama2 saling mencintai…

    semangat eonni…

  15. Woaaah, baru dapat kesempatan baca :’)
    Omg! Belum genap sehari jadian, Siwon posesif-nya sudah seperti itu. Ah tapi bahkan sebelum resmi pun Siwon sudah menunjukkan keposesifannya -oo-
    Ini nanti kalau Mrs. Choi tau Siwon dan Kyu resmi berpacaran gimana ya? Apa beliau akan melakukan segala cara utk memisahkan mereka? Ugh..drama sekali huhuhu
    KrisHo-nya masih sesuatu. Yifan kapan perginya? Joon baru sembuh. Sepertinya sekarang Joon mulai merasa kehilangan Yifan 😦
    Ini young couple kita semacam berhenti di jalan buntu. Menunggu kelanjutannya saja deh kalau gitu :’)

  16. baru sehari pacaran dan siwon udh over protect nya berasa..
    cuman memang karena baru pacaran jdinya kyu jg masih canggung y dksh perhatian lebih sama siwon…
    tapi seneng loh saat siwon ngecup kening dan bibirnya dimana siwon waktu khwatir dan ng sms haneul buat datang..
    dan tumben kyu nurut sama siwon hahaha…
    duh makin banyakin lovey dovey nya wonkyu boleh kali hehehe

  17. Woooo,, pagi2 dh mesra2an ajje . . kkk~
    Mentang2 dh jdi pcar kyu, won posesif bnget yah. . ahahaha
    Tp sy suka siwon yg posesif. . muehehehe
    Wonkyu udh jdian, lah krisho malah muter2 😒😒
    Joon keknya udh mlai suka ma yifan, eh malah yifan udh mw ngelupain rasanya buat joon. Aaahhh,, kasian mereka. . 😞😞
    Moga ada jalan keluar buat mreka 😊😊

  18. Aigoooo…siwon perhatian bgt,,,rasanya puas bgt klo wonkyu sdh resmi sperti ini…dn salut buat haneul yg bs mlepas kyu dn mlae mrsakn sesuatu pda ji!!

  19. Sepertinya baca part ini kelewat jd baca diakhir dech…😆😆😆
    Siwon begitu perhatian sama kyuhyun sampai” menghubungi semua orng utk membantunya menyiapkan yg terbaik buat kyuhyun..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s