[MM] Super Human – 1st Story [11]

super human

Chapter Eleven

Andrew memasuki ruangan Marc tapi dia tidak melihat saudaranya. Ia ingin mengajak Marc untuk makan siang bersama tapi sepertinya team innovator sedang melakukan meeting karena hampir seluruh meja kerja di lantai tersebut kosong. Andrew menutup pintu kembali dan menghampiri salah satu pegawai yang masih bekerja. Andrew memperhatikan nametag pegawai tersebut sebelum menyapanya.

“Nona Jung?” sapa Andrew.

Sontak sang pengawai mengangkat kepalanya dan menundukkan kepalanya. “Ya, Direktur Choi?”

“Apa Marc sedang meeting? Ruangannya kosong, selain itu Emily tidak ada di meja kerjanya juga,” kata Andrew.

Pegawai bernama Naomi Jung melirik kearah meja Emily lalu kembali menatap Andrew. “Hari ini Emily memang sedang mengambil cuti sejak kemarin. Dan hari ini tidak ada meeting apapun.”

Andrew terdiam sejenak lalu memperhatikan meja lainnya yang kosong. “Yang lainnya sedang keluar makan siang?” tanya Andrew yang mulai merasa khawatir dengan Marc.

“Beberapa memang sedang keluar makan siang dan yang lainnya sedang keluar kantor untuk memantau project lainnya. Selain itu, saya belum melihat Marc hari ini. Saya dengar, hari ini Marc pergi ke kantor Choi Incoporate. Jadi, saya pikir dia belum kembali. Apa dia sudah kembali?” tanya Naomi.

Andrew semakin merasa tidak tenang. Ia mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Marc. Andrew kemudian tersenyum pada Naomi. “Pergilah makan siang, Nona Jung. Jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja,” kata Andrew.

Naomi hanya mengangguk dan melihat Andrew berjalan menuju lift dengan tergesa. Well, semua pegawai Skyline mengetahui kalau Andrew sedikit protektif pada Marc. Jadi, Naomi tidak heran lagi melihat ekspresi cemas Andrew mengetahui Marc tidak ada di ruangannya.

Andrew menekan tombol lift dan masih mencoba menghubungi Marc. Perasaannya sudah tidak nyaman sejak mendengar laporan dari team security mengenai permintaan Marc mencari sosok misterius di lantai basemen parkir. Pintu lift terbuka dan Andrew berjalan masuk. Ia menekan tombol B2 dengan cepat. Andrew semakin cemas karena Marc tidak mengangkat teleponnya.

Come on, Marc. Angkat teleponnya,” gumam Andrew.

Andrew kembali mencoba menghubungi ponsel Marc berkali-kali. Andrew menghela nafas frustasi. Marc kembali bersikap ketika ia berusia delapanbelas tahun. Saat itu, Marc merasa sangat frustasi dengan kemampuannya. Ia belum bisa mengontrol dengan baik dan terkadang menggunakan kemampuannya tanpa terduga. Hari itu, Marc belum kembali dari sekolah. Andrew sudah mencarinya ke sekolah dan beberapa tempat sekaligus bertanya pada teman-teman Marc. Tapi tidak ada yang mengetahui dimana keberadaan Marc. Andrew sendiri tidak bisa meminta bantuan orangtuanya atau orangtua Marc, karena mereka mungkin akan bersikap berlebihan dan melaporkan hilangnya Marc ke polisi. Satu hal yang dihindari Andrew adalah keterlibatan orangtua mereka. Terkadang karena terlalu sayang, mereka selalu bertindak berlebihan.

Akhirnya, Andrew berkeliling sebagian Seoul untuk mencari Marc. Tapi hingga pukul tiga pagi, Andrew memutuskan untuk pulang ke flatnya. Ketika dia sudah mulai merasa putus asa, akhirnya Andrew bisa bernafas lega melihat Marc yang duduk didepan pintu flatnya. Karena kejadian itu, Andrew terpaksa harus menghukum saudaranya tersebut. Marc harus diantar-jemput oleh Andrew dan jika Marc ingin pergi dengan temannya, setiap satu jam Marc harus memberi kabar pada Andrew. Hukuman itu berlangsung selama enam bulan dan membuat Marc hampir gila karena sifat protektif Andrew.

Saat ini situasinya berbeda dengan waktu itu dan Andrew tidak mungkin menghukum Marc dengan cara yang sama. Tapi Andrew mungkin akan memikirkan hukuman lainnya. Lift tiba di lantai basement dan Andrew bergegas keluar begitu pintu terbuka. Dan saat itu pula, Marc mengangkat teleponnya. Andrew menghela nafas lega begitu mendengar suara Marc.

“Kau di mana sekarang? Aku ke ruanganmu tapi pegawaimu yang bernama Naomi Jung mengatakan tidak melihatmu datang. Setelah kita bicara, kau pergi kemana? Katanya kau akan kembali bekerja,” tanya Andrew sembari berjalan menuju mobilnya dengan cepat.

“Aku memang sedang bekerja, Andrew. Sat ini aku sedang berada di lokasi project nemesis. Apa kau mengalami panic attack lagi? Seperti kejadian saat aku berusia delapanbelas tahun?” tukas Marc dengan nada mengejek.

Andrew mendengus jengkel. Ia kemudian membuka pintu driver mobilnya. “Hey, apa kau tidak tahu kalau aku sangat cemas. Jangan membuatku harus menghukum seperti saat itu, Marcus Cho. Selain itu, bagaimana dengan orang misterius itu? Bagaimana jika…”

“Ah, Andrew! Tolong jangan terlalu khawatir. Aku bisa menjaga diriku. Lagipula team security mengatakan kalau mereka tidak menemukan orang itu, bukan? Jadi, tenang saja okay?” ujar Marc cepat.

Andrew menghela nafas. “Baiklah, aku tidak akan melakukannya. Tapi…” ia kembali menarik nafas dan menghembuskan perlahan. “Ayo pergi makan siang. Kita bertemu di H&G, okay?” kata Andrew sembari memanjat masuk lalu menutup pintu.

“H&G, Andrew Choi? Kau tahu sekarang aku berada di mana, bukan?” seru Marc.

Andrew tersenyum dan memasang seatbelt-nya. “Oh, aku tahu persis di mana posisimu saat ini, Marcus Cho. Kita bertemu di H&G dalam setengah jam. Well, paling lama satu jam. Kau harus bergegas, Marcus Cho. Atau lihat sendiri akibatnya.”

Marc mendesis jengkel dan Andrew mendengar kalau sepertinya saudaranya itu sedang berlari. Secara samar Andrew juga mendengar Marc berteriak mungkin pada pegawai disana untuk melakukan apa yang dimintanya dengan segera. “Aku akan membunuhmu, Andrew Choi. Tutup teleponnya!!” seru Marc.

Andrew hanya tertawa kecil lalu memutuskan sambungan teleponnya. Well, sejak kejadian itu juga, Marc selalu menuruti perintah Andrew jika saudaranya itu sudah mengancam akan memberi hukuman pada Marc. Enam tahun berlalu, ancaman itu selalu ampuh. Andrew lalu menaruh ponselnya pada phone-dock pada dashboard mobilnya. Kemudian Andrew menyalakan mesin dan melajukan mobilnya. Andrew mungkin akan berputar-putar sejenak sebelum ke H&G. Marc akan membutuhkan waktu satu setengah jam atau bahkan dua jam lebih jika jalan sedang macet dari Ansan. Lokasi project nemesis berada di distrik industri Shiwa yang berada di daerah Ansan. Lokasi tersebut dipilih karena merupakan kawasan industri dan Skyline tidak ingin mengambil resiko mengambil lokasi dekat pemukiman. Selain itu, kawasan industri Shiwa terkenal dengan prosedur keamanan yang sangat ketat. Jadi, banyak project Skyline lainnya yang dilaksanakan di kawasan tersebut.

“Ini hukuman pertama karena kau membuatku cemas, Marcus Cho,” tukas Andrew dengan menyeringai puas.

*****

Marc bergegas memanjat masuk kedalam mobil. Ia bahkan melemparkan tas ransel dan ponselnya ke kursi penumpang tanpa peduli kalau didalam tasnya terdapat sebuah laptop yang menyimpan file dokumen penting. Marc bergegas menyalakan mesin dan memakai seatbelt. Marc mengumpat pada Andrew lalu menarik nafas panjang. Setidaknya Marc harus tenang sebelum menyetir. Dia tidak ingin mengalami kecelakaan hanya karena menahan amarah pada Andrew. Setelah tenang, Marc melajukan mobilnya menuju Seoul.

Namun, tanpa disadari Marc, ada seseorang yang sudah mengawasinya sejak dia keluar dari Skyline. Seorang pria yang memakai topi hitam dan hampir menutupi sebagian wajahnya. Begitu melihat mobil Marc melaju pergi, pria tersebut juga mulai melajukan mobilnya dan menjaga jarak dengan mobil Marc.

Pria itu tidak melepaskan fokus pandangannya pada mobil Marc. Ia bahkan beberapa-kali menyalip mobil lainnya agar tidak kehilangan mobil Marc. Pria itu adalah pria yang mengawasi Sully ke tempatnya bekerja di Incheon. Pria yang diduga sebagai pembunuh berantai. Sejak kehilangan Sully dalam pengawasannya, pria itu bergerak cepat untuk mengawasi orang berikutnya.

Kali ini, sasarannya adalah Marcus Cho. Pria itu tahu persis siapa sebenarnya Marcus Cho. Tapi dia berani mengambil resiko besar karena Marcus Cho akan membawanya mendapatkan target lainnya yang sedang diincarnya. “Marcus Cho. Dia adalah target yang sangat menguntungkan. Kita lihat, bagaimana mereka menyelamatkanmu,” gumam pria itu.

Pria itu memperhatikan kondisi jalanan saat ini. Mereka sudah berada di jalan bebas hambatan menuju Seoul. Kondisi jalanan yang cukup ramai membuat keuntungan besar bagi pria tersebut. Kemudian pria itu mengulurkan tangan kirinya kearah mobil Marc seolah berusaha mengapainya. Pria itu menyeringai licik dan detik berikutnya ia mengepalkan tangan kirinya.

Jalanan bergetar hebat seperti sedang terjadi gempa bumi. Hal itu membuat mobil-mobil lainnya menghentikan lajunya. Begitu pula dengan mobil Marc. Pria itu menghentikan mobilnya tidak jauh dari mobil Marc. Ia kembali tersenyum licik lalu dalam satu gerakan, ia membuka telapak tangannya dan menghentakannya kebawah. Gerakan itu memicu tanah bergeser dan membuat sinkhole yang cukup besar.

Sinkhole itu menyebabkan mobil Marc dan beberapa mobil lainnya terperosok masuk kedalam lubang sedalam hampir sepuluh meter dengan diameter sekitar tiga meter. Sontak saja kepanikan mulai terjadi. Beberapa orang yang melihat kejadian tersebut langsung menghubungi polisi, pemadam kebakaran serta ambulans. Pria itu keluar dari mobilnya dan mengulas senyuman.

“Semoga kau bisa bertahan, Marcus Cho.”

*****

Anna menghela nafas lalu menghentikan tayangan berita yang sedang ditontonnya melalui ponsel. Ia kemudian memperhatikan kearah jalanan. Dia sedang menunggu Andrew untuk muncul. Apa yang dikhawatirkannya kini terjadi. Seandainya dia tidak mengikuti pria bernama Dennis Park itu, Anna mungkin bisa memberikan peringatan pada Marc atau Andrew sebelumnya. Anna menggenggam ponselnya dengan erat. Ia hanya berharap kalau dia belum terlalu terlambat. Tak lama Andrew muncul dan Anna bergegas menghampiri pria tersebut. Anna sudah menunggu Andrew didepan H&G selama empatpuluhlima menit.

“Andrew!”

Andrew terlihat terkejut dengan kemunculan Anna. Terlebih gadis itu terlihat sangat pucat. “Anna? Kebetulan sekali kita bertemu disini.”

Anna menggeleng. “Ini bukan kebetulan. Aku sengaja menunggumu disini. Ada sesuatu yang terjadi.”

Andrew mengernyit mendengar ucapan Anna. Gadis itu terlihat pucat dan ketakutan. Ia ingin sekali menyentuh Anna dan mengatakan untuk menjelaskan dengan jelas, tapi dia tidak bisa. Andrew kemudian menarik nafas. “Tenangkan dirimu dulu. Jelaskan kenapa kau menungguku dan apa yang terjadi?”

“Ini mengenai Marcus. Terjadi kecelakaan di jalan bebas hambatan menuju Seoul. Muncul sebuah sinkhole dengan tiba-tiba dan mobil Marcus terperosok kedalamnya,” Anna mengatakan apa yang dilihatnya sekitar tiga jam lalu. Saat mendapati kilasan masa depan itu, Anna tidak mengetahui kalau kejadian itu akan terjadi dalam jeda waktu secepat itu. Biasanya Anna hanya akan mendapatkan penglihatan masa depan yang mungkin terjadi antara rentang waktu dua minggu sampai satu bulan.

Andrew menahan nafas ketika Anna menyebutkan nama Marc dan sinkhole. Sontak wajah Andrew terlihat memutih. Anna menunggu hingga Andrew mulai bereaksi. Tapi sepertinya Andrew terlalu shock dengan apa yang dikatakan Anna. Andrew bahkan terlihat seolah tidak bernafas dan segera akan pingsan.

Anna memberanikan diri untuk menyentuh lengan Andrew. Ia menguncangkan tubuh Andrew. “Andrew, sadarlah! Kita harus bergerak cepat!” seru Anna.

Andrew menatap Anna dan mulai bernafas kembali. Sekarang pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan bagaimana hal itu bisa terjadi. Rasanya dia baru mendengar suara sepupunya itu kurang dari satu jam lalu, tapi sekarang Andrew malah mendapatkan kabar kalau Marc mengalami kecelakaan. Andrew sama sekali tidak bisa berpikir dengan jernih.

“Andrew Choi! Kita harus menyelamatkan Marcus,” seru Anna lagi.

Andrew menarik nafas. “Marcus? Marc! Oh, ya Tuhan!”

Kemudian Andrew tersadar dan mulai berlari menuju dimana ia memarkirkan mobilnya. Anna mengejarnya. Walaupun tidak ingin terlibat, tapi dia tidak bisa membiarkan Andrew sendirian saat ini. Dan ketika Andrew hendak membuka pintu mobil, Anna menahan lengannya.

Andrew menatap gadis itu.

“Biar aku yang menyetir. Kau tidak dalam kondisi yang baik untuk mengemudi,” kata Anna yang kemudian mengambil kunci mobil dari tangan Andrew.

Andrew tidak mengatakan apapun. Dia kemudian bergegas membuka pintu penumpang. Anna menyalakan mesin mobil dan memakai seatbelt. Ia memperhatikan Andrew yang terlihat kesulitan memakai seatbelt-nya. Tangannya gemetaran. Anna kembali menyentuh tangan Andrew dan memasangkan seatbelt. Entah darimana muncul keberanian itu, tapi Anna cukup bersyukur kalau dia memakai sarung tangan. Anna kemudian melajukan mobil Andrew.

Anna mungkin belum memiliki lisensi mengemudi yang sah sesuai hukum di Korea Selatan, tapi dia sudah mengantongi lisensi mengemudi saat di Berlin. Anna melirik Andrew yang masih terlihat pucat. “Tenangkan dirimu. Hubungi pihak kepolisian. Tanyakan mengenai korban sinkhole tersebut, mereka dibawa ke rumah sakit mana.”

Andrew menuruti ucapan Anna. Andrew langsung menghubungi pihak kepolisian untuk bertanya mengenai Marc. Walaupun apa yang dilihat Anna kemungkinan terjadi, tapi Andrew masih berharap kalau Marc tidak terluka sedikit pun. Andrew mengatur nafasnya ketika sambungan teleponnya tersambung. Ia kemudian langsung bertanya mengenai kecelakaan sinkhole tersebut dan mengenai para korban.

Begitu mendengar petugas kepolisian tersebut membenarkan mengenai kecelakan sinkhole tersebut, Andrew memejamkan matanya untuk beberapa detik. Kemudian ia bertanya mengenai para korban. Dia masih mempunyai satu harapan kalau Marc akan baik-baik saja. Andrew tidak ingin terlalu percaya dengan apa yang dikatakan Anna. Andrew menolak percaya sebelum dia mendengar faktanya.

“Apa ada korban kecelakaan sinkhole tersebut yang bernama Marcus Cho?” tanya Andrew pelan. Anna kembali melirik kearahnya dan kembali berfokus pada jalanan.

“Ya, ada satu korban yang diketahui bernama Marcus Cho berdasarkan kartu identitas yang kami temukan. Saat ini semua korban dibawa ke Rumah Sakit Anyang. Anda bisa langsung datang ke rumah sakit tersebut.”

Andrew mengusap wajahnya. “Terima kasih.”

Kemudian Andrew memutuskan sambungan teleponnya. Dia tidak percaya kalau Marc menjadi korban dalam kecelakaan tersebut. Kini dia mulai menyalahkan dirinya. Seandainya Andrew tidak menyuruh Marc untuk segera kembali ke Seoul, mungkin kecelakaan itu bisa terhindari. Tapi apakah bisa seperti itu? Anna melihat masa depan. Walaupun Andrew tidak menyuruh Marc untuk segera kembali, sepupunya itu mungkin akan tetap mengalami kecelakaan.

Hanya saja, Andrew mulai bertanya bagaimana sinkhole itu bisa muncul di tengah jalan raya? Bahkan jika terjadi gempa bumi sekalipun, apakah dampaknya bisa memunculkan sinkhole? Andrew menutup mulutnya dan kembali memejamkan mata. Ia harus menghubungi orangtua Marc mengenai kecelakaan tersebut.

“Kita harus ke rumah sakit mana?” tanya Anna.

Andrew membuka matanya dan tersadar kalau dia bersama Anna. Gadis itu datang menemuinya dan memberitahu mengenai kecelakaan Marc. Gadis itu juga yang kini berusaha menenangkannya. Andrew membasahi bibirnya lalu menyalakan GPS. Ia memasukkan alamat Rumah Sakit Anyang. “Ikuti saja petunjuknya. Ohya, apa kau sudah mempunyai lisensi mengemudi?”

Anna melirik Andrew. “Disaat seperti ini kau masih bertanya mengenai hal itu? Tenang saja, aku sudah mempunyai lisensi mengemudi di Berlin. Tidak tahu apakah lisensi itu akan berlaku disini atau tidak. Hubungi saja keluargamu yang lain. Mereka akan jauh lebih terkejut jika melihat nama Marcus muncul di berita sebagai salah satu korban.”

Andrew tersenyum tipis mendengarkan ucapan Anna. Gadis itu terdengar lebih nyaman saat bicara dengannya dibandingkan pertama-kali mereka bertemu. Mungkin dia hanya terbawa situasi. Jika Anna hanya diam, Andrew mungkin akan jauh lebih panik dari sekarang.

“Terima kasih, Anna.”

Anna melirik Andrew dan mengangguk kecil. “Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Hubungi keluargamu,” katanya dengan pelan.

Andrew kemudian menekan nomor ibu Marc. Dia hanya berharap kalau Laura tidak akan langsung pingsan saat mendengar kecelakaan putra tertuanya. Terlebih setelah tujuh bulan tanpa bertemu. Namun, sekarang Laura malah akan bertemu dengan Marc di rumah sakit.

*****

Laura dan Marco bergegas memasuki rumah sakit. Keduanya mengikuti arahan seorang suster yang mengantarkan mereka ke lantai enam rumah sakit besar tersebut dimana Andrew sudah menunggu. Laura dan Marco menghampiri Andrew yang sedang menunggu di area tunggu pasien. Andrew langsung berdiri menyambut kedatangan orangtua Marc. Keduanya terlihat pucat, terlebih Laura.

“Bagaimana keadaan Marcus? Apa yang sebenarnya terjadi, Andrew?” tanya Laura dengan panik. Marco, sang suami merangkulnya agar Laura tidak jatuh. Sepanjang perjalanan menuju Anyang, Laura terlihat sangat terpukul mendengar kecelakaan yang menimpa putra mereka. Terlebih pagi ini mereka baru bertemu di Choi Incoporate.

“Dokter masih mengoperasinya. Saat aku tiba, Marcus sudah masuk ruang operasi. Jadi, aku belum mengetahui apapun,” kata Andrew.

Laura memejamkan matanya dan bersadar pada Marco. Andrew menarik nafas lalu melanjutkan, “Marc sedang dalam perjalanan kembali setelah dari kawasan industri Shiwa untuk mengecek evaluasi project nemesis. Kami sempat bertemu di Skyline setelah dia kembali dari Choi Incoporate, tapi sepertinya dia langsung pergi kesana setelah kami bicara. Marc bahkan tidak memberitahuku.”

“Lalu bagaimana dengan sinkhole itu? Apa penjelasan dari pihak kepolisian? Sebuah sinkhole tidak mungkin muncul begitu saja tanpa penyebab yang jelas. Terlebih sinkhole itu muncul di jalan bebas hambatan,” tanya Marco sembari memeluk Laura dengan erat.

Andrew menggeleng. “Pihak kepolisian belum bisa memastikan apapun. Kejadiannya terjadi begitu cepat. Tapi mereka sedang melakukan penyelidikan bersama dengan pihak kementerian infrastuktur dan transportasi. Selain itu pakar geologi juga dilibatkan. Kemungkinan kita baru bisa mendapatkan kejelasan mengenai kecelakaan ini dalam dua minggu atau satu bulan.”

Marco menghela nafas. “Dua minggu itu terlalu lama. Tapi kita tidak bisa berbuat apapun selain menunggu, bukan?” Andrew hanya mengangguk. Marco kemudian memapah istrinya untuk duduk di kursi tunggu. “Tenanglah. Marcus pasti baik-baik saja. Dokter sedang berusaha untuk menyelamatkannya. Jangan bersikap seperti ini,” ucapnya pada Laura.

Kemudian Marco kembali menatap Andrew. “Andrew, bisakah kau mengurus kepindahan rumah sakit untuk Marcus. Kita bisa membawanya ke Mediction setelah kondisinya cukup stabil untuk perjalanan ke Seoul.”

“Akan aku urus, Paman. Lalu apa Paman dan Bibi akan menunggu disini?”

Marco menarik nafas. “Kami akan menjaganya. Lagipula kau pasti sedang sibuk saat ini. Kau kembali saja ke Seoul. Kami akan membawa Marcus ke Seoul dalam satu atau dua hari jika memungkinkan. Selain itu, tolong jaga Clara. Dia mungkin akan tinggal bersama ibumu selama kami disini. Terima kasih karena telah memberitahu kami, Andrew.”

Andrew mengangguk dan berjalan meninggalkan Laura dan Marco. Laura masih sangat terpukul dan Marco sangat bersabar menjaganya. Andrew tersenyum miris melihat pemandangaan itu. Entah kapan terakhir kali Andrew bertemu dengan ayahnya. Louise Choi –ibu Andrew– sudah bercerai dengan Andrean Choi saat Andrew berusia tujuh tahun. Hubungan keduanya sudah mulai renggang saat Andrew masih berusia lima tahun. Tapi keduanya bertahan hingga adik Andrew, Noah lahir.

Ketika itu, Andrew mengira kalau hubungan orangtuanya akan membaik setelah kelahiran adiknya. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Saat Andrew berusia tujuh tahun dan Noah baru setahun, Louise dan Andrean memilih untuk bercerai. Hak asuh Andrew dan Noah jatuh pada Louise dan Andrean pergi ke Canada. Berita terakhir yang Andrew dengar, mungkin sekitar tujuhbelas tahun lalu, Andrean menikah lagi dan mempunyai anak kembar. Setelah itu, Andrew tidak mendapatkan kabar apapun dari ayahnya. Ibunya juga tidak pernah membicarakan mengenai Andrean dihadapan mereka. Maka tidak heran, Noah menganggap kalau ayah mereka sudah meninggal.

Andrew dan Marc mungkin memiliki hampir segalanya. Tapi menurut Andrew, Marc jauh lebih beruntung darinya karena dia masih mempunyai keluarga yang utuh. Terkadang Andrew juga merasa iri jika Marc sedang berkumpul dengan keluarganya. Namun, Andrew masih merasa sangat bahagia dengan keluarganya kini. Lagipula mereka ada keluarga besar. Norman dan Marco adalah ayah pengganti bagi Andrew.

Andrew berjalan menjauhi Laura dan Marco, menuju lift. Dia melihat Anna sedang berdiri dengan bersandar pada dinding. Andrew hampir lupa kalau dia pergi bersama dengan Anna. Kemudian Andrew menghampiri gadis itu. Saat melihat Andrew datang, Anna menegakkan tubuhnya. Andrew tersenyum tipis padanya.

“Ayo pulang. Orangtua Marc sudah datang, jadi kita tidak perlu menunggu disini. Lagipula aku harus mengurus kepindahan rumah sakit untuk Marc,” kata Andrew.

Anna mengangguk dan mengikuti Andrew berjalan menuju lift. Keduanya tidak membicarakan apapun. Sampai mereka memasuki lift, suasananya begitu sunyi. Andrew kembali heran dengan perubahan sikap Anna. Dia menyukai ketika Anna banyak bicara dan bertanya selama perjalanan menuju Anyang, tapi kini Anna kembali menjadi pendiam. Andrew melirik Anna yang hanya menunduk memperhatikan sepatunya. Bahkan saat lift berhenti di lantai empat dan ada beberapa orang yang memasuki lift tersebut, Andrew harus menarik lengan Anna untuk mundur beberapa langkah. Anna terlihat terkejut dan segera menarik lengannya dengan canggung. Andrew hanya bisa menggumamkan kata maaf.

Sampai mereka berjalan menuju lapangan parkir, Anna dan Andrew hanya berjalan tanpa berbicara sepatah kata. Namun, ketika Andrew hendak membuka pintu penumpang untuk Anna, gadis itu menatapnya. “Aku akan pulang dengan taksi. Kau masih banyak hal yang harus diurus,” kata Anna.

Andrew menatapnya dengan ekspresi tidak setuju. “Kita sedang di Anyang, Anna. Supir taksi tidak akan mau mengantarmu sampai ke Seoul. Lagipula kita pergi kesini bersama, aku akan mengantarkanmu pulang. Sebagai rasa terima kasih. Masuk saja,” ujar Andrew.

“Kalau tidak bisa dengan taksi, aku bisa naik bis. Kau tidak perlu repot untuk mengantarkanku pulang. Aku baik….”

“Annabelle Kim. Mana mungkin aku membiarkanmu pulang naik bis. Masuk ke dalam mobil, atau aku akan menyentuhmu? Kau pilih mana, eoh?” ancam Andrew. Well, untuk urusan ancam-mengancam, Andrew memang cukup ahli. Itu terbukti dengan Anna yang langsung menurut. Gadis itu duduk dengan manis dan memakai seatbeltnya.

Andrew tersenyum tipis dan menutup pintunya. Kemudian ia bergegas membuka pintu sebelah kiri dan memanjat masuk. Andrew tersenyum pada Anna sembari menutup pintu dan memasang seatbelt. Andrew lalu menyalakan mesin mobilnya. Anna melirik Andrew dan bergumam, “Antarkan aku sampai halte bis saja. Aku bisa pulang ke rumah sendiri.”

“Bagaimana kalau aku mengantarkanmu sampai rumah dan jika ayahmu berada di rumah, aku ingin bertanya mengenai kecelakaan sinkhole tersebut,” tukas Andrew.

Anna hanya memasang ekspresi masam. Hal itu membuat Andrew tertawa kecil. Sepertinya ini pertama-kalinya, Andrew melihat Anna berekspresi cemberut seperti itu. Andrew kemudian melajukan mobilnya dan tidak mengenali sebuah mobil lainnya yang berada di lapangan parkir yang sama. Pengemudi mobil itu memperhatikan semuanya. Si pria menyeramkan.

Pria itu sudah berada di rumah sakit sejak Marc dibawa ke rumah sakit tersebut. Jadi, pria itu juga melihat kedatangan Andrew dan Anna. Tentu saja, pria itu mengetahui betul siapa Andrew. Terutama Anna.

“Senang melihatmu lagi, Annabelle Kim.”

*****

Aiden melewati ruang tengah ketika Angela sedang menonton tayangan berita mengenai kecelakaan yang terjadi siang ini. Aiden mengernyit lalu duduk disamping Angela ketika kamera menyorot kearah lubang besar yang muncul ditengah jalan bebas hambatan. Selain itu, dalam lubang tersebut masih ada dua mobil yang belum dievakuasi. Aiden juga bisa melihat bercak darah di tanah. Aiden berjengit.

“Bukannya itu harus disensor atau semacamnya,” tukas Aiden.

Angela mengabaikan komentar Aiden dan memasukkan popcorn kedalam mulutnya. Aiden melirik adiknya dan mengernyit. “Kau menonton berita layaknya kau sedang menonton sebuah film saja,” kata Aiden yang kemudian merebut mangkuk popcorn dari tangan Angela.

Angela mendengus karena Aiden merusak kesenangannya lalu mengambil satu tangkup popcorn ditangannya. “Well, sinkhole yang tiba-tiba muncul. Ditengah jalan raya. Oh, juga korbannya. Itu mirip sebuah film.”

Sinkhole muncul di jalan raya. Okay, itu cukup menarik dan masuk akal. Tapi korbannya? Kenapa dengan korbannya?” tanya Aiden dengan mulut penuh dengan popcorn.

Angela memasukkan beberapa popcorn kedalam mulutnya. Perhatiannya masih tertuju pada layar televisi. “Tidak ada yang spesial. Hanya beberapa orang dan salah satunya adalah Marcus Cho.”

Mata Aiden membulat. “Benarkah?”

Angela mengangguk. Ia mengambil setangkup popcorn lagi dan memasukkannya kedalam mulut. “Well, saat ini sepertinya Choi Incoporate sedang kacau. Terlebih dengan Skyline. Aku bahkan tidak tahu kalau hanya dengan sebuah kecelakaan bisa menimbulkan kekacauan sebesar itu,” tukasnya dengan mulut penuh.

“Maksudku, Marcus hanya mengalami kecelakaan. Oke, mungkin tidak hanya Marcus, ada juga korban lainnya. Tapi sepertinya semua orang terlihat begitu panik. Bahkan sebelumnya ada tayangan mengenai harga saham yang mulai jatuh. Apa itu tidak terlalu berlebihan? Aku mungkin mengerti jika kondisi politik dan beberapa hal lainnya bisa mempengaruhi pergerakaan saham, tapi kecelakaan? Terlebih harga saham Skyline, terutama Choi Incoporate. Apa memang seperti itu?” tanya Angela pada Aiden.

Aiden mengangkat bahunya. “Itulah bisnis, adikku sayang. Secara umum untuk pergerakan KOSPI mungkin lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi-kondisi secara general. Tapi untuk perusahaan, sekecil apapun perubahannya, seperti terjadi kecelakaan yang menimpa salah satu direktur, itu bisa membuat perusahaan dalam kondisi kritis. Ah… Kurasa kau tidak akan pernah mengerti,” komentar Aiden.

Angela tersenyum. “Yeah, aku sangat berterima-kasih karena aku tidak akan mengerti,” sahutnya. Aiden melirik Angela dengan sedikit jengkel lalu melemparinya dengan popcorn. Angela berteriak histeris dan membalas melempari Aiden dengan popcorn.

Satu menit berikutnya, Aiden menyerahkan mangkuk kosong pada Angela. Aiden berdiri dan semua popcorn jatuh keatas karpet. Aiden mendesis dan menatap Angela. “Kau yang bersihkan. Dan jangan menonton terlalu banyak berita. Kau membuatku takut,” kata Aiden.

As you wish, Young Master Lee.

Aiden kembali mendengus sembari menaiki anak tangga. Ia menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Ia menaiki anak tangga perlahan. Hari ini sangat aneh. Pertama ia bertemu dengan Annabelle –oh, oke Anna – di coffee shop dekat gedung Skyline, kemudian Marcus Cho mengalami kecelakaan. Tidak ada kaitannya, menurut Aiden. Tapi tetap saja hari ini berjalan begitu aneh.

*****

Anna melepaskan seatbelt dan memperhatikan penjaga didepan pintu masuk. Sepertinya David belum pulang atau mungkin tidak pulang. Kecelakaan hari ini cukup menghebohkan dan David harus menyelesaikan masalah tersebut. Anna menghela nafas dan menatap Andrew.

“Sepertinya Dad belum pulang. Jadi, kau tidak bisa bertanya padanya. Tapi aku bisa bertanya pada Dad dan akan kuberitahu padamu,” kata Anna.

Andrew tersenyum. “Terima kasih. Untuk segala yang kau lakukan untuk kami. Datang dari Berlin, memberitahu mengenai kilasan masa depan yang kau lihat dan hal-hal lainnya. Termasuk untuk hari ini. Kupastikan Marc juga berterima-kasih padamu.”

“Itu tidak perlu. Kurasa Marcus tidak menyukaiku, terlebih karena project-nya itu. So, itu bukanlah hal besar. Ah, ada satu hal lagi dan mungkin kau akan berterima-kasih lagi,” kata Anna. Kemudian ia membuka tasnya dan mengeluarkan dompetnya.

Anna menyodorkan satu kartu nama pada Andrew dengan berhati-hati. Andrew mengambil kartu nama tersebut dan terkejut. Ia menatap Anna dengan lekat. “Dennis Park? Kau menemukan Dennis Park?” tanya Andrew.

Andrew tidak tahu bagaimana Anna menemukan Dennis Park yang mereka cari dalam waktu singkat, sedangkan Victoria dan Steve harus mengalami kesulitan dalam memilih siapa Dennis Park yang mereka cari dari tujuh orang yang mereka temukan. Andrew benar-benar terkesan dengan gadis Berlin itu.

Anna mengangguk. “Lebih tepatnya dia yang menemukanku. Kurasa. Kemampuannya adalah melacak dan mendeteksi super human. Dia bisa membantu mencari pembunuh itu. Berikan alamat e-mailmu dan aku akan memberikan perkembangan mengenai kecelakaan hari ini setelah aku bicara dengan Dad.”

Andrew menarik nafas dan kembali tersenyum. Anna, gadis Berlin misterius dan aneh kini menjadi gadis Berlin yang masih misterius tapi cukup banyak membantu. Dan masih aneh. Gadis itu datang dan banyak membantu mereka. Rasa terima-kasih saja tidak akan cukup.

“Berikan ponselmu.”

Anna kemudian mengeluarkan ponselnya dengan ragu tapi Andrew segera mengambilnya. Ia memasukkan nomor ponselnya serta alamat e-mail pribadi miliknya. Andrew juga memasukkan nomor ponsel Anna kedalam kontak teleponnya. Andrew mengembalikan ponsel tersebut. “Nomor ponsel dan e-mail. Jika kau membutuhkan sesuatu, hubungi aku. Oh, termasuk mengenai kecelakaan itu. Sepertinya, ucapan terima-kasih tidak akan cukup membalas apa yang kau lakukan pada kami.”

Anna menyimpan ponselnya. Ia menatap Andrew dan tersenyum tipis. “Terima kasih telah mengantarku pulang. Hati-hati di jalan, Direktur Choi.” Dan sebelum Andrew bisa protes, Anna bergegas turun dan berlari memasuki rumah.

Andrew menghela nafas jengkel. Ia selalu merasa sangat tua jika dipanggil Direktur. Begitu pula di kantor. Andrew merasa tidak nyaman, tapi semua pegawai akan memanggilnya begitu. Jadi, Andrew hanya perlu membiasakan diri. Well, setelah lima tahun, Andrew belum bisa membiasakan diri dengan panggilan Direktur tersebut.

Andrew memperhatikan rumah besar tersebut. “Kami lebih berterima-kasih padamu, Annabelle Kim. Karena kau telah datang pada kami,” gumamnya.

*****

Advertisements

6 thoughts on “[MM] Super Human – 1st Story [11]

  1. Kayanya penglihatan anna tentang siwon kebalik dah. Bukan siwon yang ntaran jadi korban tpi abang kyu yang kena…..
    Ditunggu kelanjutannya oenni…..

  2. marc kecelakaan dan itu karena pria pembunuh berantai itu.ditunggu lanjutannya ya thor.oya aku masih binggung kenapa marga marc dan andrew beda itu blm dibhas ya thor

  3. Yeah..kira-kira apa yang akan terjadi selanjtnya!!!?
    Sepertinya seseorang yangtelah andil dalam kecelakaan Markus mmng sudah kenal lebih dulu dengan Anna .Mungkin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s