[SF] Scarface part 31

bedroom

31

Kyuhyun menoleh ketika dia mendengar suara ketukan pintu. Setelah memberikan isyarat untuk masuk, Kyuhyun membereskan beberapa dokumen diatas mejanya. Kemudian dia mengangkat kepalanya dan melihat Haejin yang sudah berdiri di hadapannya. Wajah Haejin terlihat begitu khawatir, mirip seperti ekspresi Hyukjae ketika menemuinya tadi siang.

Kyuhyun menarik nafas. “Ada apa, Haejin-sshi?”

“Apa kau masih sibuk dengan dokumenmu?” tanya Haejin.

Kyuhyun menggeleng. Haejin menghela nafas lega. Kemudian dia menaruh satu kantung kertas yang dibawanya keatas meja kerja. Kyuhyun sedikit mengerutkan keningnya ketika melihat kantung yang berisi kotak makanan.

“Ini apa?” tanyanya.

“Ada yang mengantarkan makan malam untukmu.”

“Makan malam?” Kemudian Kyuhyun memeriksa jam di pergelangan tangan kirinya. Sudah pukul delapan lewat duapuluh. Sedangkan jam operasional kantor berakhir pukul tujuh. Kyuhyun mendesah berat.

Haejin kembali merasa khawatir. “Kau baik-baik saja, Kyuhyun? Tidak biasanya kau seperti ini. Bahkan sepertinya kau lupa waktu.”

Kyuhyun mengusap wajahnya lalu kembali menatap Haejin. Kyuhyun merasa tidak enak hati pada Haejin yang harus menunggunya, padahal ia yakin semua pegawai lain sudah pulang. “Aku tidak apa-apa. Seharusnya kau pulang saja, tidak perlu menungguku.”

“Tidak apa-apa. Aku juga mempunyai pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini. Selain itu, Hyukjae memintaku untuk tidak menganggumu. Dia juga masih berada di ruangannya,” ujar Haejin.

Kyuhyun terdiam sejenak. Dia teringat dengan ucapan Hyukjae kalau malam ini mereka harus menemui Heechul –itu hanya paksaan Hyukjae semata. Tapi Kyuhyun tidak bisa menghindar, sepertinya. Kyuhyun menarik nafas panjang dan tersenyum tipis pada Haejin.

“Pulanglah. Aku juga akan bersiap pulang. Terima kasih atas makan malamnya. Tapi… siapa yang mengantarkannya?”

Haejin mengangkat bahunya. “Tadi sekitar pukul setengah delapan ada seorang pria yang datang mengantarkan itu untukmu. Awalnya kupikir mungkin dari keluargamu yang membelikan makanan, tapi jika dilihat dari pakaiannya… aku jadi sedikit ragu.”

“Pakaian? Apa pria itu memakai setelan jas?”

Haejin mengangguk. “Dia terlihat begitu rapi untuk ukuran seorang pengantar makanan. Lebih terlihat seperti pekerja kantoran atau mungkin bodyguard? Entahlah.”

Bodyguard? Kyuhyun kembali menatap kantung dihadapannya tersebut. Mungkinkah.. Siwon yang menyuruh mereka?

“Sebaiknya kau pulang, Kyuhyun-sshi. Kau baru keluar dari rumah sakit, sebaiknya kau jaga kesehatanmu,” ucap Haejin lagi.

Kyuhyun mengangguk kecil, lalu memperhatikan Haejin yang berjalan keluar ruangannya. Setelah pintu kembali tertutup, Kyuhyun kembali memandangi kantung yang berisi kotak makanan. Dia mengeluarkan kotak tersebut dan berusaha untuk mencari pesan kecil atau semacamnya. Namun, dia tidak menemukan apapun selain 3 kotak yang masing-masing berisi salad, potongan buah, beberapa sandwich dan satu botol minuman.

Kyuhyun menghela nafas. “Apa dia masih mengawasiku?”

Jika itu berkaitan denganmu, maka jawabannya adalah YA. Inilah diriku yang sebenarnya. Aku egois, keras kepala dan suka bertindak sendiri. Aku akan jauh lebih egois, lebih keras kepala dan bahkan mengatur kehidupanmu sesuai keinginanku. Karena aku menyukaimu.

Kyuhyun kembali teringat dengan ucapan Siwon tadi siang. Dia mungkin sudah tidak heran lagi dengan sifat keras kepala dan egois Siwon yang begitu besar. Tapi hal itu membuat Kyuhyun berpikir sejenak.

Jika Siwon tidak begitu keras kepala dan egois, apakah hubungan diantara kami tidak akan berakhir seperti ini?

Kyuhyun memejamkan matanya sejenak. Setelah Haesa, hanya ada Siwon. Pria itu datang ke kehidupannya sebagai calon tunangan kakaknya, lalu menjadi klien-nya kemudian kini menjadi temannya. Teman yang mengatakan bahwa dia menyukai Kyuhyun. Tapi bukankah orang harus menyukai orang lain untuk bisa memiliki suatu hubungan, walaupun sebatas pertemanan. Itu sudah cukup untuk Kyuhyun dan Siwon.

Namun, Choi Siwon pasti memiliki keinginan yang lebih besar. Melebihi hubungan pertemanan. Apakah bisa? Terus terang, Kyuhyun masih tidak bisa percaya dengan dirinya yang bisa membangun hubungan yang lebih intim. Haesa mungkin salah satu alasannya, tapi hal lain yang membuatnya sedikit ragu adalah Choi Siwon.

Entah apa yang dilihat seorang Choi Siwon pada seorang pria seperti dirinya, hingga penerus Choi Group itu bisa menyukai Kyuhyun? Bahkan Ibu Siwon saja sudah menolak Kyuhyun.

Heck, tentu saja. Mana ada seorang ibu yang mengijinkan putranya menyukai seorang pria.

Kyuhyun lalu membuka matanya. Kembali dia menatap kotak-kotak dihadapannya. Kyuhyun memasukkan kembali kotak-kotak serta botol minuman itu kedalam kantung. Kyuhyun tidak bisa menghabiskan makanan tersebut di kantor. Tidak, setelah dia membuat Haejin menunggu lama karenanya. Kemudian Kyuhyun meraih tas kerjanya dan bersiap pulang. Walaupun dia sendiri tidak yakin kalau dia bisa pulang ke rumah.

Kyuhyun menutup pintu dan mendapati Hyukjae sudah menunggunya. Sedangkan Haejin sudah bersiap untuk pulang. Haejin tersenyum tipis pada Kyuhyun lalu berpamitan pulang padanya dan Hyukjae.

Kyuhyun menghela nafas dan menatap Hyukjae dengan serius. “Aku bisa pergi sendiri.”

“Aku tidak bermaksud untuk mengantarmu. Tapi aku sudah menghubungi Heechul dan memberitahunya kalau kau akan datang. Jika kau tidak pergi menemuinya, maka aku akan mengetahuinya. Jadi, pergilah dan bicara dengan sepupumu.”

Hyukjae lalu berjalan meninggalkan Kyuhyun. Sebenarnya Hyukjae tidak ingin bersikap seperti itu pada Kyuhyun, namun karena sikap Kyuhyun-lah yang membuat Hyukjae sedikit merasa jengkel. Kyuhyun terkesan lambat untuk membuat keputusan. Salah satunya adalah putusnya hubungan Kyuhyun dan Haesa. Sejak dulu, Hyukjae sudah mengatakan agar Kyuhyun segera melamar Haesa kalau hubungan mereka benar-benar serius, tapi Kyuhyun malah mengatakan bahwa dia menunggu Haesa kembali dari Jepang. Sampai akhirnya, hubungan diantara keduanya berakhir dengan begitu menyedihkan.

Untuk hubungan Kyuhyun dengan Siwon, Hyukjae tidak ingin ikut campur karena permasalahannya cukup rumit. Tapi Kyuhyun seperti orang yang kehilangan arah. Kyuhyun mungkin terlihat juga menyukai Siwon, tapi semua ucapan serta sikapnya sangat bertolak belakang. Terlebih kini, ibu Siwon sudah menemui Kyuhyun dan membicarakan hubungan keduanya. Hyukjae tidak bisa berkata apapun lagi, jadi dia akan mendesak Kyuhyun untuk bicara pada sepupunya. Itu jauh lebih baik.

*****

Kyuhyun membuka pintu mobil dan menaruh tas kerja serta kantung berisi makanan itu di kursi co-driver. Kyuhyun adalah orang terakhir yang keluar dari gedung. Ia menarik nafas dan menutup pintu lalu berjalan menuju pintu sebelah kiri. Sampai Kyuhyun melihat mobil yang dikendarai oleh Ahn Soo dan Shin Hwan. Kyuhyun lalu berjalan mendekati mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari mobilnya. Saat dia sudah semakin dekat, Kyuhyun melihat Ahn Soo dan Shin Hwan keluar dari mobil untuk menyapanya. Kedua orang itu sedikit membungkuk padanya. Kyuhyun membalasnya dengan canggung.

“Aku tahu kalau kalian diberi perintah untuk mengawasiku kemana pun aku pergi, tapi sebaiknya kalian pulang sekarang,” ucap Kyuhyun.

Ahn Soo dan Shin Hwan saling melirik sebelum keduanya kembali menatap Kyuhyun. “Kami harus mengawasi sampai anda pulang ke rumah, Pengacara Cho. Kami tidak bisa pulang sebelum memastikan anda pulang dengan selamat,” ucap Shin.

“Aku tahu. Tapi… Kalian bekerja untuk keluarga Choi, sedangkan aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan keluarga itu. Entah apapun yang diperintahkan oleh Choi Siwon… Tadi siang kalian melihatnya, bukan? Nyonya Choi Yoojin tidak menyukai keberadaan kalian untuk mengawasiku. Itu adalah alasan yang cukup untuk kalian berhenti mengawasiku,” tutur Kyuhyun.

“Kami memang bekerja untuk keluarga Choi, Pengacara Cho. Tapi kami telah diberikan perintah khusus untuk mengawasi anda. Sampai perintah itu ditarik, kami tidak bisa melepaskan tanggung-jawab kami. Tidak peduli jika ada anggota keluarga Choi yang tidak menyukai perintah yang diberikan pada kami,” ujar Ahn.

Kyuhyun menghela nafas berat. Sepertinya semua orang yang berkaitan dengan keluarga Choi itu sangat keras kepala, termasuk bodyguard-nya. Rasanya sampai Kyuhyun lelah menyuruh keduanya untuk pulang dan berhenti mengawasinya, Ahn Soo dan Shin Hwan tidak akan bergeming.

“Kalian tidak akan berhenti sampai Siwon yang menarik perintah itu, bukan?” tukas Kyuhyun.

Kedua bodyguard itu mengangguk tegas. Kyuhyun mendesis jengkel lalu kembali ke mobilnya. Dia tidak bisa menghubungi Siwon hanya untuk menyuruhnya menarik perintah. Tadi siang, Kyuhyun sudah mengatakan pada Siwon kalau dia hanya akan menghubungi pria itu kalau dirinya sudah siap membicarakan mengenai pertemuannya dengan ibu Siwon. Jika Kyuhyun menghubunginya sekarang untuk mencabut perintah, Siwon pasti meminta penjelasan Kyuhyun sebagai pergantian permintaan Kyuhyun tersebut.

Kyuhyun memasuki mobilnya dan menyalakan mesin mobil. Dia melirik kearah mobil bodyguard keluarga Choi. Walaupun tidak ingin, sepertinya Kyuhyun terpaksa mengajak mereka berdua ke bar Heechul. Entah apa yang akan mereka laporan pada Siwon jika melihat Kyuhyun masuk ke dalam bar.

Heck, seperti aku peduli saja?

*****

Joonmyeon begitu terhenyak dengan reaksi Sara dan ayahnya begitu mengetahui kalau dirinya sudah sadar. Sara yang tersenyum lega walaupun air matanya tidak berhenti mengalir dan Junhyeok yang sempat memeluknya dengan erat. Joonmyeon mendapat penjelasan kalau dia mengalami kondisi semi-coma selama beberapa hari, tapi dia tidak menyangka dengan hasil pemeriksaan sebelumnya kalau dia menderita tumor otak. Pamannya, yang juga seorang dokter di rumah sakit, menjelaskan kalau tumornya tidak berbahaya dan sudah diangkat bersamaan ketika Joonmyeon menjalani operasi ketika dia terjatuh dari tangga.

Pamannya, Park Saejoon, juga mengatakan kalau Joonmyeon akan menjalani beberapa pemeriksaan agar memastikan kalau dia tidak mendapat efek samping apapun dari operasi tersebut. Itu yang dikatakan pamannya sekitar duapuluh menit lalu. Kini, Joonmyeon bersama dengan Sara dan ayahnya. Mereka terlihat begitu bahagia mengetahui kalau Joonmyeon sudah sadar dan baik-baik saja.

Tapi sejak orangtuanya datang, Yifan memilih untuk menunggu di luar kamar rawatnya dengan alasan terlalu banyak orang di ruangan tersebut. Padahal ukuran kamar VIP cukup luas, bahkan dengan dokter dan suster yang datang untuk memeriksa kondisinya, Joonmyeon merasa masih ada banyak ruang. Joonmyeon memperhatikan kearah pot kecil bunga hyacinthus yang dibawakan oleh Yifan.

Sara yang duduk di dekat ranjang Joonmyeon menyadari hal tersebut. “Bunganya indah,” tuturnya.

Joonmyeon menoleh dan mengangguk. “Iya. Itu bunga hyacinthus.”

Walaupun bunganya indah, tapi tidak dengan maknanya.

“Bunga yang muncul dari darah Hyacinth setelah kematiannya. Siapa yang membawakannya untukmu, Joon?” tanya Sara.

Joonmyeon terdiam sejenak. Dia pikir tidak perlu mengatakan bahwa Yifan yang membawakannya. Sara mungkin akan salah paham nantinya. Joonmyeon mengangkat bahunya. “Sudah ada disana saat aku sadar.”

Sara memandangi Joonmyeon dengan lekat. Sebelum dia tersenyum tipis. Sara kemudian menyentuh bagian belakang kepalanya yang tidak tertutupi oleh perban dan mengusapnya lembut. “Mungkin pemuda yang menyukaimu datang menemuimu dan membawakannya untukmu.”

Tubuh Joonmyeon menjadi sedikit tegang. Sara dengan jelas mengucapkan “pemuda”, diikuti dengan kata “menyukai”. Joonmyeon sama sekali tidak berpikir kalau Sara bisa menebak seperti itu.

“Pe-pemuda yang menyukaiku?”

“Hyacinth, dia adalah pria yang dicintai oleh Apollo. Setelah kematiannya, Apollo menumbuhkan bunga dari darahnya sebagai tanda duka citanya. Kau bisa mencari kisah itu lewat internet. Tapi jika pemuda itu menyukaimu, kenapa dia membawakan bunga itu?” ujar Sara lagi.

Joonmyeon tidak mengatakan apapun. Sara begitu pintar, bahkan hanya dengan bunga dia bisa mengetahui bahwa ada pemuda yang menyukai Joonmyeon. Tapi Joonmyeon tidak bisa menebak bagaimana reaksinya jika Sara mengetahui kalau putranya-lah yang menyukai Joonmyeon. Selain itu, Joonmyeon cukup beruntung ayahnya sedang bicara dengan pamannya dan tidak mendengar ucapan Sara barusan.

“Apa kau tidak tahu siapa yang menyukaimu? Mom pikir, dia mungkin juga bersekolah di KAMSH. Jika kalian berada di kelas yang sama, mungkin itu akan jauh lebih mudah untuk menyadarinya. Kecuali, pemuda itu berada di kelas Seni.”

Heck, Joonmyeon baru saja sadar tapi semua ucapan Sara ingin membuatnya kembali dalam kondisi semi-coma. Bagaimana bisa Sara bisa menebak semua itu hanya dalam hitungan menit?

“Mom…”

“Ya, Joon?”

“Aku lelah,” ucapnya.

Sara mengangguk lalu membantu Joonmyeon untuk kembali berbaring. “Tidurlah. Kami sangat bersyukur karena kau sudah sadar. Mulai hari ini, kami akan menjagamu dengan baik,” tuturnya sembari merapikan selimut Joonmyeon.

“Kami?”

“Mom, Appa dan juga saudaramu, Yifan.”

*****

Yifan baru saja mengirim pesan pada Luhan untuk memberitahu kalau Joonmyeon sudah sadar dan Luhan mungkin akan segera memberitahu Yixing yang akan memberitahu teman-temannya. Yifan menghela nafas sembari mengeluarkan headset dari saku jaketnya dan memasangnya di ponsel. Setelah dia memasang kedua ujung headset itu di kedua telinganya, Yifan lalu memutar playlist lagu di ponselnya tersebut. Perlahan Yian memejamkan matanya dan menikmati alunan jazz yang lembut.

Dia perlu menetapkan hatinya. Walaupun Yifan sudah mengambil keputusan, tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau dia harus membunuh perasaannya lebih cepat dari dugaannya. Saat dia mengatakan tentang keputusannya dihadapan Joonmyeon yang belum sadar, Yifan berpikir dia masih mempunyai waktu. Namun, Tuhan terlalu baik pada Joonmyeon.

Setelah apa yang dialaminya selama beberapa bulan terakhir, pada akhirnya Yifan sama sekali tidak bisa mendapatkan Joonmyeon sebagai kekasihnya. Walaupun begitu, Yifan cukup beruntung mendapatkan Joonmyeon sebagai saudaranya. Setidaknya Yifan masih bersyukur pada Tuhan karena tidak mengambil Joonmyeon dari hidupnya.

Harusnya aku menerima kenyataan itu jauh lebih cepat. Setidaknya Joonmyeon tidak perlu menderita karena perasaanku.

“Kenapa kau sendirian disini?”

Yifan sontak membuka matanya dan mendapati seorang dokter yang awalnya menangani Joonmyeon, sebelum diambil alih oleh paman Joonmyeon, berdiri dihadapannya. Yifan melepaskan satu headset.

“Maaf?”

Changwook menarik nafas lalu duduk disebelah Yifan. “Kenapa kau malah duduk disini dan bukannya berada di kamar rawat saudaramu?”

“Oh. Joonmyeon masih butuh istirahat, jadi kupikir hanya sedikit orang yang menemaninya akan jauh lebih baik. Dokter akan menemui Joonmyeon?” tanya Yifan.

Yifan tidak terlalu mengenal dokter Ji, tapi bukankah dia akan dianggap tidak sopan jika tidak menjawab pertanyaan dokter tersebut. Sara susah payah mendidiknya bukan untuk menjadi orang yang tidak sopan dan kasar.

Changwook mengangguk. “Aku baru mendapat kabar dari dokter Ahn kalau Joonmyeon sudah sadar. Walaupun aku tidak lagi menjadi dokternya, aku masih bisa menemuinya hanya untuk melihat keadaannya. Kau.. Yifan? Benar?”

Yifan tersenyum tipis dan mengangguk. Changwook ikut tersenyum lalu berdiri. Dia menepuk bahu Yifan. “Selamat Yifan, karena saudaramu sudah sadar.”

Kemudian Changwook berjalan menuju kamar rawat Joonmyeon. Yifan sendiri hanya bisa menghela nafas panjang. Sepertinya semua orang akan menganggap dia dan Joonmyeon hanya sebagai saudara.

Yifan hanya perlu membiasakan diri untuk mendengarnya lebih sering.

*****

Haneul mengernyit saat ayahnya menerima beberapa tamu dan membawa mereka ke ruang kerja. Seingat Haneul, ayahnya tidak akan pernah menerima tamu untuk urusan pekerjaan di rumah. Tapi mungkin tamu tersebut adalah teman ayahnya. Teman yang belum pernah ditemuinya.

Haneul kemudian berjalan menuju area dapur. Dia melihat ibunya sedang menyiapkan minuman, mungkin untuk tamu ayahnya. Haneul membuka lemari pendingin dan mengeluarkan satu botol jus berukuran kecil.

“Untuk tamu Appa?” tanyanya.

Ibunya mengangguk. “Sedikit aneh bukan? Appamu tidak pernah mau menerima kliennya untuk datang ke rumah.”

“Mereka itu klien Appa?”

Ibunya kembali mengangguk sembari menaruh beberapa cangkir yang berisi kopi itu diatas baki. Haneul masih memperhatikan ibunya dengan lekat. Haneul mempunyai asumsi yang sama sekali tidak ingin dipikirkannya.

“Kasus Seon Hwan?” tanya Haneul pelan.

“Eomma tidak tahu persis. Tapi sepertinya memang kasus itu, Appamu mengambil-alih kasus itu dari Pengacara Cho. Bahkan Appamu membawa dokumen-dokumen kasus itu ke rumah. Sebaiknya kau naik keatas, sayang.” Kemudian ibunya membawa baki tersebut menuju ruang kerja ayahnya.

Haneul mengusap wajahnya. Sepertinya rencana adiknya sama sekali tidak berhasil atau kurang meyakinkan. Kyuhyun memang sudah melepaskan kasus itu, tapi kini ayah mereka yang mengambil-alih kasus tersebut. Haneul lalu bergegas menuju kamarnya untuk menghubungi Haesa.

Paling tidak, adiknya perlu tahu kalau rencananya sama sekali tidak berhasil.

“Sebaiknya kau mempunyai alasan bagus untuk meneleponku karena aku sedang meeting dengan klien-ku.”

Haneul memutar bola matanya saat mendengar ucapan Haesa begitu dia menerima panggilan tersebut. “Appa mengambil-alih kasus Seon Hwan,” tutur Haneul singkat.

“Kau bilang apa?!!”

“Kupikir kau tidak tuli, Haesa. Aku tidak ingin mengulanginya lagi. Tapi ada hal lainnya. Saat ini, Appa sedang menerima orang-orang Seon Hwan di rumah,” ucap Haneul sembari membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Dia melempar botol jus yang belum dibuka ke sisi lain tempat tidur.

“Apa kau sudah memberikan data-data yang kuberikan pada Appa?”

“Sudah kuberikan pada Kyuhyun. Aku yakin Kyuhyun sudah membacanya.”

“Tapi Kyuhyun tidak memberikannya pada Appa. Jika Appa membaca data-data itu, Appa tidak akan menerima kasus itu, Han.”

Haneul menekan pangkal hidungnya. Haesa benar-benar tidak bersikap kooperatif. Haneul sudah berusaha meyakinkan ayah mereka dan Kyuhyun untuk menolak kasus tersebut, tapi Haesa yang terlalu keras kepala bahwa Haneul yang harus menjelaskannya seorang diri sedangkan Haesa-lah yang paling mengetahui tentang kasus tersebut.

“Haesa, jika menurutmu hanya dengan membaca data-data yang kau berikan maka Appa bisa menolak kasus itu, maka seharusnya sejak Kyuhyun membacanya dia sudah bertemu dengan Appa untuk menghentikan kasus itu. Tapi sayang sekali, perkiraanmu itu salah. Jadi, apa yang harus kau lakukan? Dan kumohon, jangan libatkan aku.”

“Aku akan bicara lagi dengan Appa.”

Haneul mendengus. “Kau sudah bicara dengan Appa lima kali melalui telepon. Tapi tidak ada dari pembicaraa kalian yang berhasil. Sebaiknya kau kembali ke Seoul dan bicara secara empat mata dengan Appa.”

“Han, semua pekerjaanku ada di Tokyo. Aku tidak bisa meninggalkannya.”

“Kenapa kau harus pergi jauh-jauh ke Tokyo untuk menjadi seorang pengacara, sedangkan Appa kita mempunyai kantor firma hukum dimana kau bisa bekerja? Apa ini karena Kyuhyun?”

“Bukan karena itu, Han.”

“Jika bukan karena Kyuhyun, lalu apa alasannya? Saat aku pindah ke Jerman untuk melanjutkan sekolah medisku, kau bilang di Seoul ada banyak universitas dengan fakultas kedokteran yang sangat bagus.”

“Itu hal yang berbeda.”

“Apanya yang berbeda, Kang Haesa?!!” Haneul berteriak frustasi. Adiknya sama sekali tidak membuat pembicaraan ini berjalan dengan baik. Haneul menarik nafas panjang. “Apa kau pergi ke Tokyo untuk menghindari Kyuhyun?”

Sama sepertiku pergi ke Jerman, untuk menghindarinya.

“Kita bicara lagi nanti, Haneul.”

Haneul mendengus jengkel. Haesa kembali menghentikan pembicaraan ketika dia tidak bisa melawan argument Haneul. Tapi hal itu membuat Haneul sedikit curiga. Kenapa Haesa selalu mengalihkan pembicaraan setiap kali Haneul membicarakan soal Kyuhyun? Jika Haesa tidak menyukai pria itu, seharusnya dia tidak perlu bersikap menghindar.

“Apa yang kau sembunyikan, saudaraku?”

*****

Alis Heechul terangkat ketika melihat saudaranya duduk dihadapannya, dengan membawa sebuah kantung berisi kotak makanan. Selain itu, ada dua orang lainnya yang duduk tidak jauh dari counter bar, mengawasi Kyuhyun.

“Kau tahu, aku melarang semua pengunjung membawa makanan dari luar,” tukas Heechul.

Kyuhyun mendesis. “Memangnya aku ini pengunjung?” sahutnya sembari mengeluarkan kotak berisi salad. Lalu Kyuhyun memberikan kantung itu pada Heechul. “Untuk Donghae.”

“Kau membeli makanan untuk Donghae? Bukan titipan dari teman yang wajahnya mirip monyet itu?”

Kyuhyun memutar bola matanya. “Bukan. Berikan saja pada Donghae. Atau kau bisa memakannya, hyung.” Kyuhyun membuka kotak salad dan mulai melahapnya setelah dia mengaduknya dengan saus salad yang disediakan.

Heechul menyimpan kantung itu dan mengibaskan tangannya. “Apa kau mau minum? Karena dari suara Hyukjae, sepertinya masalahmu sangat berat.”

“Aku masih harus menyetir, hyung. Selain itu, terakhir kali aku minum sepertinya aku membuat masalah besar,” sahut Kyuhyun dengan mulut penuh sayuran.

Heechul mengangkat bahunya. Dia kembali melirik kearah meja yang diisi oleh dua orang yang mengawasi Kyuhyun. Well, mungkin salah satu masalah yang disebutkan oleh Hyukjae di telepon mengenai dua orang itu. Heechul lalu membiarkan sepupunya itu menghabiskan salad-nya sebelum bertanya lebih jauh.

Sementara Kyuhyun makan, Heechul melayani tamu-tamu yang lain. Kyuhyun sebenarnya tidak suka dengan tempat yang bising, tapi entah kenapa sepupunya itu malah memutuskan untuk membuka bar malam. Terlebih bar yang khusus untuk pria.

Kyuhyun sedikit melirik kearah lantai dansa. Mungkin ada sekitar hampir enampuluh orang berada disana, menari dengan teman-teman mereka atau bahkan orang asing. Sepertinya malam ini lebih ramai dari biasanya.

“Halo, Kyuhyun. Kau datang sendirian?” sapa Donghae yang baru saja memulai shift-nya.

Kyuhyun hanya tersenyum. “Jika kau melihat kantung berisi kotak berisi sandwich, maka itu buatmu.”

“Oh, benarkah? Terima kasih.” Donghae terlihat cukup terkejut. “Jadi, kau datang sendirian?”

Kyuhyun mengangguk. “Jika kau mencari Hyukjae, seharusnya kau menghubunginya dan bertanya kenapa dia tidak ikut.”

“Sebaiknya kau bekerja, Lee Donghae. Dia datang untuk bicara denganku,” sahut Heechul yang tiba-tiba muncul. Donghae mengangguk lalu meninggalkan Kyuhyun bersama Heechul.

Heechul menghela nafas dan melirik kotak salad. “Kau sudah selesai makan? Sebenarnya aku menunggumu untuk bicara. Terlebih dengan dua orang yang terus menerus mengawasimu itu.”

Kyuhyun menutup kotak salad dan menatap Heechul dengan lekat. “Mereka adalah bodyguard keluarga Choi.”

“O..okay. Keluarga Choi, yang salah satunya adalah Choi Siwon atau ada keluarga Choi lainnya yang kau atau aku kenal?”

“Tentu saja Choi Siwon. Dia menyukaiku.”

Kening Heechul mengernyit. “Menyukai? Jelaskan dengan lebih rinci.”

“Uhm… Seperti beberapa pengunjung lainnya. Pria dengan pria? Kurang lebih?”

Ekspresi wajah Heechul berubah. Kyuhyun memilih untuk mengalihkan pandangannya kearah lantai dansa, tapi sepertinya ide yang buruk karena dia melihat ada beberapa pasang yang menari terlalu dekat. Kyuhyun menghembuskan nafas dan menundukkan kepalanya. Dia memang pernah datang beberapa-kali, tapi Kyuhyun selalu mencari pemandangan yang lebih nyaman untuk dilihat dibandingkan dengan beberapa pasangan yang berusaha melepaskan pakaian selagi mereka menari.

Heechul memperhatikan sikap Kyuhyun lalu dia mengambil sebuah gelas dan menuangkan tequila. Heechul menaruh gelas kecil itu dihadapan sepupunya. Kyuhyun mengangkat kepalanya.

“Sudah kubilang kalau…”

“Minum saja, Kyu.” Ketika Heechul memanggilnya “Kyu” maka ucapannya sangat serius, dibandingkan saat Ahra memanggilnya dengan “Kyuhyun”. “Aku akan mencarikan supir untukmu mengantarmu pulang. Atau kau bisa menyuruh salah satu dari orang yang mengawasimu itu untuk menyetir.”

Kyuhyun tahu kalau dia tidak bisa melawan Heechul dengan terpaksa meneguk habis tequila tersebut. Kemudian Heechul menuangkannya lagi. Kyuhyun menatap sepupunya itu dengan jengkel.

“Kita akan bicara lebih serius setelah kau sedikit mabuk.”

Kyuhyun mengernyit. “Kenapa harus membuatku mabuk?”

“Perlukah aku menjawab pertanyaan itu, karena aku yakin kau pasti sudah tahu jawabannya. Ayo diminum!” tukas Heechul dengan menyeringai lebar.

Kyuhyun mendesis tapi dia menghabiskan lagi tequila tersebut. Dan terus menghabiskannya setiap kali Heechul mengisi kembali gelas dihadapannya tersebut.

*****

Yifan berbaring di sofa panjang yang terletak dekat jendela besar kamar rawat VIP tersebut. Dia mengajukan diri untuk menjaga Joonmyeon di rumah sakit, sedangkan Sara dan Junhyeok pulang ke rumah untuk istirahat. Joonmyeon sudah sadar, jadi mereka tidak perlu merasa terlalu khawatir. Selain itu, Junhyeok juga harus kembali ke kantor.

Yifan menarik nafas panjang. Kemudian dia menoleh kearah tempat tidur dimana Joonmyeon tengah tertidur dengan pulas. Joonmyeon sedang tidur dan bukan dalam kondisi semi-coma. Tanpa sadar Yifan tersenyum tipis.

Joonmyeon sudah sadar. Itu yang terpenting baginya.

“Kau menatapku, Yifan.”

Yifan tersadar dan sontak berdiri. Dia tidak menyadari kalau Joonmyeon terbangun. Kemudian dia berjalan kearah tempat tidur Joonmyeon. Yifan menghela nafas sebelum dia tersenyum pada Joonmyeon.

“Kenapa kau terbangun? Apa kau butuh sesuatu?” tanya Yifan.

Joonmyeon mengulurkan tangannya. “Bantu aku?”

Yifan meraih tangan Joonmyeon lalu membantunya untuk bangun. Yifan lalu menata bantal sebagai sandaran punggung Joonmyeon. Yifan menghela nafas dan memandang Joonmyeon. “Kau butuh hal lainnya?”

“Bunga itu dan ucapanmu sebelumnya.”

Yifan melirik kearah bunga yang dibawanya. Dia lalu duduk di tepi tempat tidur dan menatap Joonmyeon. “Kapan aku tidak serius dengan ucapanku? Bukankah itu yang kau inginkan? Hubungan diantara kita hanya sebatas saudara.”

“Yifan…”

“Tolong jangan dibicarakan lagi. Aku sudah membuat keputusan, Joon. Ini masih sulit bagiku dan tolong jangan membuatnya menjadi lebih sulit. Lebih dari keputusanku, katakan padaku kapan tepatnya kau sadar Joon?”

Joonmyeon menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Sebenarnya Joonmyeon sudah sadar beberapa jam sebelum Yifan datang. Ketika Kyungsoo menemuinya tadi siang. Walaupun sedikit mengecewakan karena bukan orangtuanya yang pertama-kali dia lihat, tapi itu lebih baik ketimbang Joonmyeon harus tersadar ketika dia sendirian.

“Siang ini, ketika Kyungsoo datang.”

“Dan kau tidak memberitahu siapapun? Termasuk dokter?”

“Tapi aku memberitahumu. Aku bisa saja menunggu hingga Appa dan Mom datang.”

Yifan menyerah. Dia tidak akan membalas argument Joonmyeon, terlebih ketika Joonmyeon masih membutuhkan waktu untuk pulih. Yifan melirik kearah tangan Joonmyeon. Dia ingin sekali menggenggam tangan itu lagi, namun Yifan harus menahan diri. Dia sudah membuat keputusan.

“Kenapa kau baru membuat keputusan itu sekarang, Yifan?” tanya Joonmyeon berbisik.

Yifan menghela nafas berat. Sepertinya dia harus belajar pelan-pelan. Yifan menyentuh punggung tangan Joonmyeon, kemudian mengenggamnya. Joonmyeon hanya memandangi tangan besar Yifan tanpa berniat menarik tangannya. Joonmyeon tidak pernah lupa bagaimana sensasi hangat dari tangan besar Yifan menyentuh permukaan kulitnya.

“Karena awalnya kupikir masih mempunyai kesempatan untuk memilikimu tanpa status saudara diantara kita. Bahkan saat aku melihat kakekmu yang sedikit menyeramkan itu. Namun, saat dokter mengatakan bahwa kau dalam kondisi semi-coma, itu membuatku menjadi berpikir mengenai situasi yang kau alami. Jadi, kuputuskan untuk melepaskanmu. Tidak secara utuh, tapi hanya itu yang bisa kulakukan saat ini. Kuharap kau bisa mengerti, walaupun aku berusaha membunuh perasaanku padamu, percayalah itu tidak akan mudah,” tutur Yifan.

Joonmyeon hanya diam. Dia memperhatikan Yifan yang kini tersenyum padanya. Rasanya Yifan tidak pernah tersenyum setulus ini padanya –terlebih sejak pernikahan orangtua mereka.

Yifan sontak berdiri dan membantu Joonmyeon untuk kembali berbaring. “Sebaiknya kau tidur, Joon. Selamat malam.”

Yifan lalu mencium kening Joonmyeon.

Jika kau melepaskanku sekarang, dimana aku bisa menemukan orang yang bisa mencintaiku sama besarnya seperti kau mencintaiku? Apa Kyungsoo salah dalam menilaimu? Apa aku salah?

*****

Siwon memejamkan matanya dan bernafas dengan teratur. Emosinya masih cukup tinggi setelah dia keluar rumah. Siwon masih sangat kesal setelah pembicaraannya dengan ibunya satu setengah jam yang lalu. Siwon bahkan keluar rumah tanpa makan malam. Dia tahu kalau ibunya keras kepala, mungkin sifat keras kepalanya menurun dari ibunya bukan sang kakek, tapi Siwon tidak tahu kalau ibunya bisa bicara kasar mengenai seseorang.

Terlebih tentang Cho Kyuhyun.

“Sadarlah, Siwon. Apa kau ingin tahu apa yang dikatakannya pada Eomma mengenai dirimu? Baginya, kau hanya seorang klien yang sangat penting untuk karirnya. Kau tidak pernah lebih dari seorang klien. Dia bahkan tidak pernah menyukaimu karena semua sifat burukmu. Dia menjelek-jelekanmu didepan Eomma. Jika kau tidak percaya, tanyakan pada Ahn Soo dan Shin Hwan. Kau sudah terjerat dalam perangkapnya. Cho Kyuhyun tidak lebih dari seekor rubah yang licik. Bahkan jika dia benar-benar gay pun, Eomma tidak peduli. Tapi karena dia sudah menjeratmu, maka Eomma tidak bisa tinggal diam. Luangkan waktumu hari Sabtu nanti. Kita ada pertemuan dengan Hyojin untuk membicarakan pertunangan kalian.”

Siwon membuka matanya dan menghembuskan nafas. Sebenarnya Siwon tidak ingin mempercayai ucapan ibunya tentang apa yang dikatakan Kyuhyun mengenai dirinya. Itu pun karena Kyuhyun belum mengatakan apapun padanya. Siwon juga tidak berani bertanya pada Ahn Soo dan Shin Hwan. Itulah kenapa dia menyusul ke kantor Kyuhyun dan bersembunyi di mobil.

Siwon melirik kearah luar dan menatap papan nama bar yang pernah didatanginya bersama Changmin. Siwon tidak tahu kenapa Kyuhyun datang ke bar ini seorang diri. Mungkin hanya bertemu dengan sepupunya yang merupakan pemilik bar tersebut.

Siwon melirik kearah jam di pergelangan tangannya. Hampir pukul sepuluh dan dia juga tidak mendapatkan kabar apapun dari Ahn Soo dan Shin Hwan yang ikut masuk ke dalam bar tersebut. Tidak ada kabar, berarti hal baik bukan? Walaupun Siwon juga ingin masuk, tapi dia ingat kalau Kyuhyun memintanya untuk tidak menghubungi atau menemuinya sampai dia sendiri yang menghubungi Siwon terlebih dahulu. Selain itu, Siwon sendiri juga sudah mengatakan kalau dia hanya akan menunggu dua hari.

Siwon kembali memejamkan matanya. Semua yang dialaminya dalam dua bulan terakhir membuat Siwon menyadari segala hal yang ada dihadapannya. Tidak peduli dengan kenyataan bahwa pada akhirnya Siwon menyukai seorang Cho Kyuhyun, Ssemua itu berkat Shim Changmin. Dan hal itu membuat Siwon berpikir.

“Entah aku harus berterima-kasih pada Changmin atau aku harus memukulinya karena telah membuatku tersadar atas perasaan ini.”

*****

Donghae menghampiri Heechul dengan wajah khawatir. Terlebih dengan kondisi Kyuhyun yang terlihat sudah sangat mabuk. Namun, sepertinya Heechul masih terlihat tenang. Donghae menarik lengan kemeja hitam Heechul untuk menarik perhatian bos-nya tersebut.

Heechul menoleh pada Donghae. “Kenapa?”

“Kyuhyun baik-baik saja?” tanya Donghae cemas.

“Jangan khawatirkan dia. Dia akan baik-baik saja. Ohya, makan saja sandwich yang dibawakan Kyuhyun,” sahut Heechul yang kembali memperhatikan sepupunya yang sepertinya tertidur diatas meja counter.

Heechul sudah menuangkan lebih dari limabelas tequila dan Kyuhyun meminum habis semuanya. Sedikit lebih banyak dari dugaannya sebelum Kyuhyun memberitahu semua apa yang menjadi beban pikirannya. Heechul tidak pernah tahu kalau sepupunya yang sangat cerdas itu, ternyata juga sangat bodoh jika berkaitan dengan perasaannya sendiri.

Heechul kembali menatap Donghae yang masih mengkhawatirkan kondisi Kyuhyun. “Kembalilah bekerja, Hae. Aku bisa mengatasi Kyuhyun.”

“Baiklah.” Kemudian Donghae kembali bekerja membuatkan minuman bagi para pengunjung lainnya.

Heechul kembali berfokus pada sepupunya. “Well, mungkin tidak seharusnya aku membuatnya sangat mabuk,” gumamnya.

Lalu Heechul menoleh kearah meja yang ditempati oleh dua orang bodyguard suruhan keluarga Choi. Dengan isyarat tangan, Heechul menyuruh kedua orang itu menghampirinya. Ahn Soo dan Shin Hwan berjalan kearah meja counter dan menatap Heechul.

“Panggil bos kalian,” ucap Heechul dengan tenang.

Kedua bodyguard tersebut saling menatap, sebelum Shin mengeluarkan ponselnya untuk memberi kabar pada Siwon yang menunggu di mobil. Heechul menghela nafas panjang sembari melipat kedua tangannya didada.

Tepat dugaanku, dia tidak akan mungkin membiarkan Kyuhyun datang seorang diri. Terlebih ke bar seperti ini.

Heechul kembali memperhatikan Kyuhyun yang kini mulai menggumam hal yang tidak jelas. Well, Heechul harus mempersiapkan diri dari omelan Ahra. Sebelumnya, Ahra memarahinya habis-habisan karena Kyuhyun pulang dalam keadaan mabuk. Sekarang pun kondisinya jauh lebih parah.

Tak lama, Siwon muncul dengan wajah khawatir. Pria itu langsung menghampiri Kyuhyun. Satu alis Heechul terangkat melihat perhatian Siwon yang begitu besar pada sepupunya. Sepertinya ucapan Kyuhyun kalau Siwon akan melakukan apapun untuknya ternyata suatu kebenaran.

“Senang bertemu denganmu lagi, Direktur Choi.”

Siwon menatap Heechul dengan sedikit terkejut. Dia tidak menyangka kalau pemilik bar ini masih mengingatnya. Well, Siwon pernah datang dua kali dan keduanya dia membuat sedikit masalah di toilet, jadi mungkin karena itu sang pemilik masih ingat padanya.

“Ah, ya. Anda masih mengingat saya,” ucap Siwon.

Heechul tersenyum. “Tentu saja. Dua kunjungan sebelumnya, anda membuat sedikit keributan. Selain itu, Kyuhyun baru saja bercerita banyak tentang anda.”

“Ah… Maaf untuk hal tersebut. Tapi apa yang terjadi pada Pengacara Cho?”

Heechul mengernyit. “Anda memanggilnya dengan sebutan Pengacara Cho? Kupikir kalian adalah teman atau itulah pengakuan Kyuhyun. Jadi, kalian masih belum melepaskan panggilan jabatan itu rupanya.”

Siwon menjadi canggung. Siwon tidak tahu bagaimana harus membalas ucapan Heechul barusan. Terlebih entah apa yang dikatakan Kyuhyun pada saudaranya tersebut, sebelum dia jatuh pingsan karena mabuk. Perhatian Siwon teralih pada Kyuhyun ketika pria itu sontak terbangun. Siwon menahan bahu Kyuhyun agar dia tidak terjatuh.

Heechul kembali tersenyum. “Bawa sepupuku pergi dari tempat ini.”

“Ne?”

“Bawa Kyuhyun pergi dari tempat ini. Ke hotel atau rumahmu atau kemana pun. Terserah. Aku akan mengatakan pada keluarganya kalau dia menginap di rumahku. Kau tahu, aku mengambil resiko dengan mengatakan Kyuhyun mabuk karena diriku. Jadi, kau harus menjaga sepupuku dengan sangat baik. Anda mengerti, Direktur Choi?”

Siwon mengangguk lalu dia membantu Kyuhyun yang sepertinya setengah tersadar untuk berdiri. Ketika Kyuhyun hampir kehilangan kesimbangan, Siwon dengan cepat menopang tubuh Kyuhyun. Siwon lalu mengambil tas kerja Kyuhyun dan sedikit membungkuk pada Heechul.

Namun, sebelum Siwon membawa Kyuhyun keluar dari bar tersebut, Heechul mengatakan sesuatu padanya.

“Ketika aku mengatakan kalau kau harus menjaga sepupuku dengan sangat baik, artinya kau bersikap baik padanya, jangan melakukan sesuatu yang menyakitinya, terlebih jika dia sedang mabuk seperti sekarang. Ingat baik-baik Choi Siwon, walaupun kau itu pewaris perusahaan besar, tapi aku tidak akan segan-segan memberimu pelajaran jika kau menyakiti Kyuhyun.”

Siwon tersenyum tipis dan mengangguk. Kemudian dia menapah Kyuhyun keluar dari bar tersebut. Diikuti oleh Ahn Soo dan Shin Hwan.

*****

Siwon dengan sedikit terpaksa harus membaringkan tubuh Kyuhyun di lantai apartment agar dia bisa menutup pintu dan melepaskan sepatu Kyuhyun. Awalnya Siwon mengira kalau Kyuhyun tidak seberat dugaannya, tapi ternyata itu salah. Siwon menghela nafas saat melihat kondisi Kyuhyun yang sepertinya sudah kembali tidur. Sepanjang perjalanan dari bar, Kyuhyun terus saja meracau sesuatu yang tidak jelas. Cukup beruntung, Siwon menyuruh Ahn Soo yang mengemudikan mobil Kyuhyun. Siwon membawa Kyuhyun ke apartmentnya –jauh lebih baik daripada pergi ke hotel.

Kini, Siwon harus mengurus Kyuhyun yang tengah mabuk.

Oh, dia pernah mengurus Changmin yang mabuk sewaktu mereka melakukan perjalanan bisnis ke Macau. Dan itu bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Jadi, Siwon tidak berharap kalau Kyuhyun akan jauh lebih mudah diurus dibandingkan Changmin.

Siwon melepaskan sepatunya lalu mengangkat tubuh Kyuhyun untuk kembali berdiri. Siwon melupakan tas kerja Kyuhyun, tapi itu bisa diurusnya nanti. Siwon memapah Kyuhyun menuju kamar tidurnya. Namun, ketika Siwon hendak membuka pintu, Kyuhyun terlihat pucat dan seperti ingin muntah. Sontak Siwon menutup mulut Kyuhyun.

“Jangan muntah disini. Tahan sebentar!” seru Siwon sembari membuka pintu kamar dan membawa Kyuhyun menuju kamar mandinya.

Tepat waktu, Kyuhyun memuntahkan semua cairan dari dalam perutnya. Bahkan Siwon bisa melihat potongan-potongan sayuran dari salad yang dimakan oleh Kyuhyun. Dia sedikit menjauhkan wajahnya dari wastafel dimana Kyuhyun mengeluarkan semua yang ada di perutnya. Siwon menepuk-nepuk punggung Kyuhyun dan menyalakan keran untuk membawa semua itu menuju pipa pembuangan.

“Semuanya sudah keluar?” tanya Siwon.

Kyuhyun hanya membalasnya dengan anggukan kepala. Siwon menghela nafas berat. Well, memang jauh lebih sulit dibandingkan mengurus Changmin.

“Tunggu disini. Aku akan mengambil segelas air.”

Siwon berjalan keluar kamar mandi dan membiarkan Kyuhyun sendiri. Kyuhyun yang mulai sadar dari efek mabuknya mengangkat kepalanya. Dia melihat refleksi wajahnya yang begitu buruk. Kyuhyun mematikan keran dan menjatuhkan tubuhnya di lantai kamar mandi yang dingin. Kakinya tidak kuat untuk berdiri lama.

Satu menit kemudian Siwon kembali dengan membawa segelas air. Siwon menghela nafas saat melihat tubuh Kyuhyun yang terbaring di lantai. Siwon lalu menaruh gelas itu di lantai –agak jauh dari Kyuhyun– lalu dia menarik tubuh Kyuhyun agar posisinya menjadi duduk. Siwon membantu Kyuhyun untuk menghabiskan air tersebut, walaupun pada akhirnya lebih banyak air yang tumpah dan membasahi pakaian Kyuhyun.

Siwon menaruh gelas itu meja counter wastafel dan meraih satu handuk kecil untuk basahi dengan air hangat dari keran wastafel. Dia menggunakan handuk basah itu untuk membersihkan wajah Kyuhyun dari sisa muntahan.

“Hah.. Entah apa reaksimu keesokan pagi begitu kau sadar sepenuhnya,” gumam Siwon.

Setelah dirasa sudah bersih, Siwon lalu keluar untuk mengambil pakaian bersih. Dia harus mengganti pakaian Kyuhyun yang basah serta bau alcohol dan muntahan. Entah bagaimana Siwon menggantinya. Siwon mengambil sweatpants berwarna abu-abu serta t-shirt putih miliknya dan kembali lagi ke kamar mandi.

Siwon berjongkok dihadapan Kyuhyun. Dia memperhatikan pria yang sepertinya sudah tidur cukup pulas dengan sedikit cemas. Mereka tentu sama-sama pria, tapi pria yang dihadapan Siwon adalah orang yang disukainya. Seharusnya tidak akan jadi masalah, toh hanya menggantikan pakaiannya.

Pertama, Siwon melepaskan dasi dari kerah kemeja Kyuhyun. Lalu diikuti dengan jas-nya. Siwon menarik nafas panjang seraya memperhatikan tubuh Kyuhyun. Entah darimana lagi dia harus melanjutkannya? Siwon lalu melepaskan belt dari celana Kyuhyun. Sampai disitu, berjalan cukup lancar.

“Kemeja atau celana terlebih dahulu? Mungkin kemejanya dulu karena sudah basah. Nanti dia bisa sakit tapi….” Siwon melirik kearah bagian bawah tubuh Kyuhyun. Kemudian Siwon menepuk pipinya. “Choi Siwon! Kau itu pria baik-baik. Walaupun sepupumu mengatakan kalau kau pria brengsek, tapi kau tidak se-brengsek itu, bukan?”

Siwon akhirnya memutuskan untuk mengganti kemeja Kyuhyun terlebih dahulu. Satu per satu Siwon melepaskan kancing kemeja tersebut. Tapi Siwon terlalu gugup. Dia bahkan sampai harus menutup matanya untuk membuka tiga kancing terakhir. Setelah semua kancing terlepas, Siwon membuka matanya dan menghembuskan nafas lega. Rasanya Siwon belum pernah merasa se-gugup ini.

Kemudian Siwon melepaskan kemeja tersebut. Namun, saat Siwon melihat bahu polos Kyuhyun, tangannya sontak menjadi kaku. Siwon menahan nafasnya. Dia memperhatikan wajah Kyuhyun. Sang pengacara itu masih terlelap dan terlihat sama sekali tidak terganggu.

“Oh Tuhan…” gumamnya.

Kemudian Siwon dengan cepat melepaskan kemeja Kyuhyun dan memakai t-shirt putih sebagai gantinya. Siwon bahkan melakukannya dengan mata tertutup. Saat dia membuka matanya, Siwon sedikit terkejut karena dia tidak salah memakaikan t-shirt tersebut.

Lalu Siwon beralih pada celana panjang Kyuhyun.

Siwon membutuhkan waktu hampir limabelas menit untuk mengganti pakaian Kyuhyun, sampai dia bisa membaringkan tubuh Kyuhyun diatas tempat tidur. Siwon menyelimuti tubuh Kyuhyun dan kembali ke kamar mandi untuk membereskan kekacauan disana. Siwon memasukkan pakaian kotor Kyuhyun ke dalam keranjang laundry –dia membuat catatan untuk mencarikan pakaian bersih untuk Kyuhyun gunakan besok pagi.

Kemudian Siwon menuju pintu depan untuk mengambil tas kerja Kyuhyun. Ia menaruh tas tersebut diatas coffee table bersama dengan kunci mobil Kyuhyun dan ponselnya. Setelah mematikan lampu tengah, Siwon kembali ke kamarnya untuk mengecek kondisi Kyuhyun.

Siwon berjalan menuju sisi kanan tempat tidur. Kyuhyun kini sedang tidur dengan posisi miring. Wajahnya terlihat begitu tenang. Siwon tersenyum tipis lalu memutuskan untuk duduk di lantai. Siwon memperhatikan wajah Kyuhyun yang sedang pulas tertidur. Perlahan tangan Siwon terangkat untuk mengusap lembut surat rambut coklat Kyuhyun. Kemudian tangan Siwon beralih ke lengan Kyuhyun.

“Seandainya aku bisa menjagamu hingga besok pagi, tapi aku tahu kau tidak akan menyukai melihatku disaat kau ingin menjauh dariku untuk sementara. Tolong jangan terlalu lama berpikir, Cho Kyuhyun. Sebesar apapun aku menyukaimu, tapi aku tidak bisa menahan diri jika perasanku digantungkan seperti ini,” bisik Siwon sembari menepuk-nepuk lembut lengan pria yang sedang tidur tersebut.

“Aku menyukaimu, sangat menyukaimu Cho Kyuhyun.”

Siwon lalu mendekatkan wajahnya kearah Kyuhyun. Kemudian Siwon memberikan sebuah kecupan manis di bibir Kyuhyun. “Selamat malam, Kyuhyun.”

*****

NOTE: Jarang-jarang bisa update cepet. hahahaha… walaupun sepertinya makin makjang ajah ini fanfic. Entah sampe berapa part untuk fanfic ini mencapai kata “THE END” Ini masih setengah editing, jadi kalo nemu typo mohon maaf ya..

Music: Toy – Reset (With. Lee Juck)

Advertisements

29 thoughts on “[SF] Scarface part 31

  1. Selalu bikin penasaran ya kelanjutan kisah wonkyu ini .. sampe skrg blm juga bersatu .. kasian siwon Kyu klo harus digantung gitu ..
    Sadarlah kau pun sangat menyukai atau mungkin sudah mencintai siwon ..

  2. KYAAAAaaaa untung Siwon rajin ke gereja, jadi dia kuat iman.
    jadi senyum-senyum sendiri bacanya.
    ditunggu banget lanjutannya

  3. Jadi, Joon sedikit keberatan sama keputusan Yifan utk melepasnya ya? Ah~ mungkin Joon belum menyadari perasaannya, tapi selalu ada sisi egois dalam diri kita, termasuk Joon yg gak rela Yifan melepas perasaannya karena takut tidak akan ada yg mencintainya sedalam Yifan :’)
    Aku penasaran apa aja rahasia yg sudah Kyu beberkan ke Heechul .-.
    Dengan Heechul yg pada akhirnya membiarkan Siwon merawat Kyu yg sedang mabuk, kurasa ada sedikit kabar baik mengenai perasaan Kyu ke Siwon. Heechul seperti memberi kesempatan ke WonKyu utk segera menyelesaikan masalah mereka..Ah penasaran sekali sama isi pembicaraan HeeKyu. Ditunggu part selanjutnya kak ^^

  4. wuahhh wonkyu selalu berhasil bikin penasaran
    ayoo kyu cpt sadar kalo sebenernya kamu juga mencintai siwon
    untung siwon kuat iman jd nggak melakukan hal yg iya2 sama kyu tp kyk nya kyu bakal ttp shock begitu bangun

  5. aduuh ~ greget sma Kyuhyun,smpai kapan dia mau menyadari perasaan nya klo dia suka sma Siwon? ksian lah Siwon yg prasaan nya digantung sma Kyuhyun :3
    emg Heenim ga nanya apa2 soal masalah yg dihadapi Kyuhyun? mksd nya prasaan Kyu ke Siwon? toh Heechul yg nyuruh Kyuhyun mabuk nd tau klo Kyuhyun mabuk buat apa? tpi sperti nya Heechul udh tau smua nya ya? hngg
    eh bru nyadar yaa yg soal bunga ungu itu,klo itu sbenernya cerita Namja sma Namja lol
    saat Yifan udh mau move on walaupun dia msh blm rela lepasin prasaan nya,disaat itu jg sperti nya Junmyeon jg ga mau lepasin Yifan? inti nya Junmyeon sma Kyu itu sama ya ._.
    haha iyaa tumben apdet cpet Ra? tpi gapapa deh biar ada bacaan hihi
    ditunggu lanjutan nya ya Ra ^^

  6. Udah update lagi,,, yg kmrin belom koment,,, XDDD
    Siwon udah bener-bener jatuh terpesona dgn Kyuhyun,,, bukain baju ajah sgiti repot nya… pengacarq dingin ini emang sexy… wkwkwkwkwkwk…
    Kasian Siwon di gantung Kyuhyun, tapi emang Kyuhyun doang yg bisa ngelakuin hal ini… hihihihi
    Penasaran apa yg diucapin kyuhyun ke heechul… ><
    Penasaran apa yg dirasain Kyuhyun….

  7. kyaknya keinginan chullie buat mmbawa kyu brsama siwon itu buat mmbntu hubungan mereka berdua kan??
    karena chullie tau spupunya itu bodoh bgd sama prasaannya sndiri..
    mmberikan quality time lah..
    tp napa kudu smp mabuk berat??
    eum bsok pagi apa yg akan dlakukan kyu??
    cpt lah kau sadar kyu… jgn smp siwonnya d ambil org

  8. yeey update cepat…
    thank u.
    hmmm jadi kyu juga bisa dibilang ngak jujur ma sang eomma choi.
    trus heenim juga dukun bgt dah pantasja hyuk nyuruh kyu konsultasi k heenim.heee

  9. Beneran nih hub krisho cuma smpai disini..!! Sayang banget..
    Wonkyu makin ruwet aja.. lucu bgt moment nya pas siwon gantiin baju kyukyu..
    Berharap kyukyu gag ngomong sperti apa yg di katakan mamanya siwon.. tapi.. sudahla..
    Yang penting apa aja yg di katakn kyukyu sama heechul..!!
    Seneng bangeeeet… kak Die bisa update cepet..😀😀😀

  10. halooo.. salam kenal author ^^
    maaf aku komennya di penghujung bacaan. karyamu recommended banget. terus semangat berkarya ya..

  11. Ternyata cepat jg nih updet sering2 ya…aku penasaran sama pembicaraan kyu ke heechul saat mabuk soalnya kan orang mabuk itu selalu berkata jujur…senyum2 sendiri dgn adegan siwon gantiin bajunya kyu…utk Joon syukurlah sdh sadar…bagaimana dgn ibu Yifan klw tau anaknya sendiri yg menyukai anak tirinya…sering2 update ya…gomawo Diera…

  12. Jadi…. Heechul sama kyuhyun tadi ngomongin apaan tntng siwon dan prasaan kyu sndri? brharap bgt klo kyuhyun bisa cpet ngasih kepastian tntng prasaan nya ke siwon ahhh~

  13. 좋다!!!
    saya reader baru dan lgsung suka ma cerita ini,…

    oh, kapan wonkyu bersatu tanpa da penghalang yg mengganggu??!

    ditunggu untuk chapter selanjutnya..
    author, jjang!!

  14. Ugh..bagaimana ini??Rasanya bgtu tak karuan saat mengikuti perjalanan WonKyu dalam menemukan kepastian perasaan mereka.Semoga akn segera mendapat kabar baik dari mereka.
    Untuk Joonmyon..apa dia juga sebenarnya mencintai Yifan?
    Krna saat ini,sepertinya Joonmyon sdkit bimbang kkkkk.

    Jeongmal gumawo eonni…fighting!!!
    Selalu ditunggu next chap’y.

  15. wahhh…. q ketinggalan banyak ternyata….
    diera eoni sangat daebak… dalam waktu 3 minggu langsung 5 ff daebak…

    kisah wonkyu semoga segera pada titik terang…
    q bener2 penasaran sama kisah ini… ketagihan baca ff ini…

    daebak… semangat diera eonni…

  16. Ugh yeah,,
    Semoga ajja kyu ngakuin perasaannya sama siwon.
    Eomma choi bner2 gk suka kyu yah. . ckckck
    Yah,, hbungan mreka emang blom ada titik temunya tp kyu keknya emang udh punya rasa ama won. .
    Srmoga ajja kyu cpet sadar ama prasaannya sndri. . ksian won di PHP-in 😂😂😂

  17. Kyu nyadari perasaanya pi dy slalu ingin mnyangkalnya,,itu yg slit,,,mngkin kyu trlalu byk brpkir dn pertimbangan….kasian jg sm siwon….pi pa yg dkatakn ibu iwon itu bnr???bahwa kyu bcara agak kasar ttg siwon???????

  18. itu beneran kyu ngomong gt ke ibunya siwon? apa cuma akal2an ibunya siiwon? /drama nya keluar wkwk/
    jadi yifan beneran done nih ama jun? jangan dong :((( di irl udh potek otpnya masa di ff jg hrs potek? haha 😦

  19. Penasaran apa saja yg diucapkan kyuhyun thdp heechul, apa dia mengakui persaannya kalau dia jg menyukai siwon??
    Aigooo….untung saja siwon bs mengendalikan diri, kalau tdk dia pasti akan berbuat lbh dan tu bs membuat kyuhyun smakin marah padanya…😆😆😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s