[SF] Scarface Part 30

Hyacinthus

30

Jinri sedang berada di ruang tengah menonton televisi ketika Siwon memasuki rumah dengan tergesa. Jinri mengerutkan keningnya melihat saudaranya sudah pulang dari kantor. Jinri mematikan televisi lalu menghampiri Siwon yang langsung berjalan menuju ruang dapur. Seolah Siwon tengah mencari seseorang. Jinri berhasil menahan lengan kakaknya sebelum Siwon melewatinya begitu saja.

Jinri menatap Siwon dengan lekat. Dari ekspresi Siwon, Jinri bisa melihat bahwa kakaknya sedang marah besar. Entah karena alasan apa. Jinri menarik nafas perlahan. “Oppa mencari siapa?”

“Eomma. Di mana Eomma?”

Jinri melepaskan lengan Siwon sembari menghembuskan nafas. Lalu dia menggeleng. “Eomma belum pulang. Saat aku pulang kuliah, Eomma sudah pergi. Sudah telepon?”

“Eomma tidak mengangkat telepon dariku. Coba yang kau hubungi.”

Jinri semakin tidak mengerti dengan sikap Siwon saat ini. Ekspresi kakak lelakinya terlihat begitu tegang. Jinri sebenarnya merasa penasaran dan ingin bertanya lebih banyak, tapi Jinri tidak ingin membuat Siwon marah besar padanya. Kemudian Jinri kembali ke ruang tengah untuk mengambil ponselnya. Siwon mengikutinya dari belakang. Jinri menarik nafas saat dia mencari nomor kontak ibu mereka dan menghubunginya. Sesekali Jinri melirik kearah Siwon yang menungggu. Tak lama sambungan teleponnya terhubung.

“Eomma? Saat ini Eomma berada di mana?” tanya Jinri berusaha dengan tenang.

“Kenapa? Tidak biasanya kau menghubungi Eomma.”

Jinri melirik Siwon lagi. “Aku hanya bertanya. Tidak biasanya Eomma pergi. Selain itu, aku ingin titip belikan pudding blueberry.”

“Eomma sedang bertemu dengan Bibi Jinhee.”

Sontak Jinri menatap Siwon dengan mata membulat. “Bibi Jinhee? Ibu Hyojin eonni?”

Siwon mengusap wajahnya. Jung Hyojin adalah gadis yang hampir menjadi tunangannya sebelum Siwon memutuskannya perjodohan itu. Dia adalah gadis terakhir yang ditemui Siwon sebelum dia benar-benar yakin atas perasaannya pada Kyuhyun. Siwon sama sekali tidak terpikir kalau ibunya masih berhubungan dengan keluarga gadis itu karena hampir delapanpuluh persen keluarga dari pihak perempuan yang mengikuti perjodohan dengannya tidak akan berhubungan dengan keluarga Choi lagi kecuali untuk urusan bisnis.

“Tentu saja, ibu Hyojin. Memangnya berapa banyak kenalan kita yang bernama Jo Jinhee, eoh? Kenapa?”

Siwon menghela nafas. “Tanyakan di mana mereka bertemu?” ucapnya berbisik.

Jinri mengangguk kecil. “Oh. Hanya memastikan. Eomma bertemu dengan bibi Jinhee dimana?”

“Choi Jinri, apa kau sedang bersama kakakmu? Dia yang menyuruhmu bertanya di mana Eomma saat ini? Berikan ponselnya pada kakakmu.”

“Ye? Ti-tidak… A-aku hanya….”

Siwon tahu kalau ibunya bukan wanita bodoh yang mudah untuk dikelabui. Menyuruh Jinri untuk berbohong pada ibu mereka sama saja dengan menambah masalah yang tidak perlu. Siwon mengulurkan tangannya, meminta Jinri memberikan ponsel itu padanya. Sepertinya memang lebih baik Siwon yang menghadapi ibunya secara langsung. Jinri menyodorkan ponsel itu.

Siwon mengambilnya lalu berjalan agak jauh dari Jinri. “Eomma, kita perlu bicara.”

“Kita memang harus bicara, Siwon. Kita bicara nanti malam, eoh. Pastikan kau pulang tepat waktu. Sekarang kembalilah bekerja. Bukan tindakan yang bijaksana jika kau keluar kantor dan mengabaikan pekerjaanmu.”

Belum sempat Siwon bicara lagi, ibunya sudah memutuskan sambungan tersebut. Siwon mendesis jengkel lalu mengembalikan ponsel itu pada adiknya. Siwon melonggarkan dasinya dan membuka kancing atas kemeja putihnya. Jinri baru kali ini melihat Siwon yang sangat frustasi terlebih jika berkaitan dengan ibu mereka.

“Ada apa?” tanya Jinri setelah dia melempar ponselnya ke atas sofa.

Siwon menatap adiknya lalu menggeleng. “Bukan apa-apa,” ucapnya. Siwon kemudian menyentuh kedua lengan Jinri dan memandanginya dengan penuh kasih sayang. “Aku akan menjelaskannya padamu. Tapi tidak sekarang, sayang. Setelah aku bicara pada Eomma, Appa dan Kakek. Jadi, maukah kau bersabar menunggu penjelasanku?”

“Ini sangat aneh. Oppa biasanya tidak pernah bicara seperti itu padaku. Apa yang kau lakukan pada Oppa-ku?” tukas Jinri.

Siwon tertawa kecil. “Dia hanya mengalami beberapa kejadian yang mengejutkan. Tapi perubahan itu baik, bukan?”

“Ya, berubah menjadi lebih baik itu… adalah perubahan yang baik. Baiklah, karena Oppa memintanya dengan cara yang baik, aku akan menunggu penjelasan darimu.”

Siwon tersenyum lalu mengecup kening Jinri. “Terima kasih. Kau memang adik yang pengertian.”

*****

Hyukjae mengetuk pintu ruangan Kyuhyun dan membukanya perlahan. Hyukjae berjalan masuk dan menutup kembali pintunya. Hyukjae berbalik dan menatap Kyuhyun yang sepertinya tengah tidur di meja kerjanya. Kyuhyun sepertinya tidak diberi banyak pekerjaan hari ini, terlebih dia juga baru keluar dari rumah sakit. Namun, melihat mood Kyuhyun setelah pembicaraannya dengan ibu Siwon, Hyukjae menduga kalau pembicaraan mereka tidak berjalan dengan baik. Kemudian Hyukjae menarik nafas panjang.

“Apa kau tidur, Kyuhyun?” tanya Hyukjae yang masih berdiri di dekat pintu.

“Tidak. Kenapa, Hyukjae?”

Hyukjae menghela nafas. Lalu dia berjalan mendekati meja kerja Kyuhyun. Sahabat sekaligus rekan kerjanya itu sedang duduk bersandar di kursi besarnya dengan mata terpejam. Sekilas Hyukjae mengira kalau Kyuhyun memang sedang tidur. Tapi Kyuhyun menjawab pertanyaannya.

Kyuhyun kemudian membuka matanya dan menatap Hyukjae. “Ada apa?” tanyanya.

“Kudengar dari Haejin, ibu Siwon datang menemuimu. Untuk masalah apa?”

Kyuhyun sedikit menarik ujung bibirnya. “Seperti kau tidak bisa menebak alasannya, Hyukjae. Kau bukan orang bodoh.”

Hyukjae terdiam. Dia hanya memandangi Kyuhyun untuk beberapa saat sebelum dia berjalan ke balik meja kerja Kyuhyun. Kyuhyun memutar kursinya sehingga mereka saling berhadapan. Hyukjae menatap Kyuhyun yang masih tersenyum padanya. Ia merasa kalau Kyuhyun sudah sangat tertekan karena masalah Choi Siwon, terlebih kini ibu Siwon bertemu dengan Kyuhyun.

“Kau baik-baik saja?”

Kyuhyun hanya mengedikkan bahunya. Hyukjae menekan kedua bibirnya. Kyuhyun selalu mempunyai kebiasaan menutupi perasaan yang dirasakannya. Kang Haesa mungkin kasus yang berbeda, tapi untuk masalah lainnya seperti stress yang dihadapinya saat Kyuhyun menangani kasus-kasus besar, dia tidak pernah mengatakannya pada siapapun. Namun, Hyukjae bisa melihatnya dari ekspresi wajah Kyuhyun. Dan saat ini, Hyukjae melihat ekspresi yang sama pada wajah Kyuhyun.

“Kyu…”

“Jangan memanggilku begitu, Hyukjae.”

Hyukjae memejamkan matanya sejenak. Kyuhyun tidak pernah menyukai orang lain memanggilnya dengan nama pendeknya. Baginya panggilan “Kyu” itu hanya berlaku bagi keluarganya saja. Hyukjae menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.

“Kau tidak bisa memendamnya sendirian, Kyuhyun. Aku bisa mengerti jika berkaitan dengan kasus yang kau tangani. Kau melakukannya karena kode etikmu sebagai pengacara tidak bisa memberitahu orang lain mengenai klien-mu. Tapi ini adalah masalah yang berbeda. Choi Siwon bukan lagi klien-mu. Tidak bisakah kau memberitahuku atau setidaknya orang yang kau percayai atas masalah ini? Kau tidak bisa menyelesaikannya sendiri,” kata Hyukjae.

“Kenapa?”

Hyukjae mendesah. Kyuhyun selalu saja bersikap seperti ini. “Kyuhyun, kau tidak pernah mengalami situasi seperti ini sebelumnya? Choi Siwon mengatakan dia menyukaimu dan dia menunggu jawabanmu atas pertanyaannya, bukan? Terlebih ibunya baru saja menemuimu. Selain itu, mengenai hubunganmu sebelumnya dengan Kang Haesa…”

“Lee Hyukjae, ini adalah batasan dimana kau bisa ikut campur kedalam masaahku.”

“Tapi, Kyuhyun…”

“Tolong keluar dari ruanganku. Masih ada dokumen yang harus kukerjakan,” ucap Kyuhyun sembari dia memutar kembali kursinya. Lalu ia mengambil sebuah dokumen yang harus dipelajarinya.

Hyukjae masih berdiri memandangi Kyuhyun. Sebenarnya dia tidak berniat untuk mengakhiri pembicaraan ini begitu saja karena Kyuhyun tidak akan mau membicarakannya lagi. Namun, Hyukjae tidak bisa ikut campur kedalam masalah pribadi Kyuhyun. Kecuali Kyuhyun sendiri yang mengatakan langsung bahwa dia membutuhkan pertolongan dari Hyukjae.

Hanya saja, Hyukjae cukup yakin kalau Kyuhyun tidak akan meminta bantuan dari siapapun.

Kyuhyun melirik kearah Hyukjae berdiri. “Sudah tidak ada yang bisa kukatakan lagi padamu, Hyukjae. Tolong keluar dari ruanganku.”

Hyukjae mendengus pelan. Kyuhyun terlalu keras kepala. Dia sudah tahu akan hal itu, tapi entah kenapa Hyukjae selalu saja berusaha bicara pada sahabatnya tersebut. Hyukjae mengangkat tangan kirinya lalu menyentuh kepala Kyuhyun. Tapi dengan cepat Kyuhyun segera menghindarinya. Hyukjae sedikit terkejut dengan reaksi Kyuhyun, tapi ia berusaha bersikap biasa saja. Kyuhyun menatap Hyukjae dengan sedikit canggung lalu kembali berfokus pada dokumennya.

Hyukjae menurunkan tangannya. “Malam ini, kita pergi temui sepupumu. Jika kau tidak ingin bicara denganku, setidaknya kau harus bicara dengan sepupumu.”

Kemudian Hyukjae berjalan keluar dari ruangan kerja Kyuhyun.

*****

Kyungsoo memasuki kamar rawat Joonmyeon yang sepi. Dia diberitahu oleh suster yang membawanya ke kamar tersebut kalau orangtua Joonmyeon pulang sebentar dan baru kembali setelah jam makan malam. Kyungsoo berjalan mendekati ranjang dimana Joonmyeon terbaring.

Joonmyeon terlihat sedikit jauh lebih baik ketimbang kemarin saat Kyungsoo datang bersama Chanyeol dan Baekhyun. Kyungsoo lalu duduk di sebuah kursi tepat di samping ranjang tersebut. Ia memandangi wajah Joonmyeon dengan lekat.

“Kami membatalkan liburannya. Aku dan Baekhyun berpikir kalau itu adalah pilihan yang baik. Tapi karena itulah, kami harus memberitahu yang lain mengenai alasan pembatalan liburan kali ini. Kuharap kau tidak keberatan. Mereka mungkin akan menjengukmu dalam waktu dekat. Tapi karena kau berada di lantai VIP, mungkin akan sedikit sulit,” kata Kyungsoo.

Kyungsoo menarik nafas dan sedikit menundukkan kepalanya. Dia memandangi tangan Joonmyeon yang dipasangi selang infus. Kemudian Kyungsoo menggenggam tangan tersebut. Dia merasakan sedikit sensasi hangat dari ujung jemari Joonmyeon. Kyungsoo sedikit mengulas senyuman.

“Hey, Joon-ah. Kau tahu, diluar dingin sekali. Kau tahu kalau aku tidak menyukai udara dingin, tapi aku masih datang kesini untuk menemuimu. Jadi…” Kyungsoo terdiam sejenak. Dia mengangkat kepalanya. “Kau harus sadar dan mengatakan terima-kasih padaku.”

Ucapan Kyungsoo dibalas dengan kesunyian. Tentu saja. Memang apa yang Kyungsoo harapkan? Joonmyeon tersadar dan langsung mengatakan terima-kasih padanya? Hah… itu terdengar konyol sekali. Memang kondisi Joonmyeon saat ini adalah semi-coma, tapi bukan berarti kondisi Joonmyeon benar-benar tidak sadar. Bahkan Kyungsoo pernah dengar, disaat kondisi coma pun seorang pasien bisa mendengar apa yang terjadi disekitarnya. Jadi, Kyungsoo pun berharap Joonmyeon mendengar apa yang dikatakannya.

Hanya berharap.

“Joonmyeon-ah…”

Ucapan Kyungsoo terhenti. Dia kemudian menarik tangannya dan menghembuskan nafas perlahan. Kyungsoo tidak tahu apa yang harus dikatakannya lagi. Untuk pertama-kali dalam hidupnya, Kyungsoo tidak tahu harus mengatakan apa pada Joonmyeon. Dia merasa begitu canggung bicara dihadapan Joonmyeon yang sama sekali tidak merespon setiap ucapannya. Jika Kyungsoo saja merasa seperti itu, bagaimana keluarganya sendiri? Terlebih Yifan.

Setelah mengetahui kondisi Joonmyeon dari Yifan, Kyungsoo merasa yang paling terpukul atas kondisi Joonmyeon adalah Yifan. Ayah Joonmyeon dan Ibu Yifan juga terlihat begitu sedih atas kondisi Joonmyeon, bahkan Kyungsoo tidak tega saat mendengar tangisan ibu Yifan setelah mengetahui kondisi semi-coma Joonmyeon. Namun, Yifan-lah yang jatuh begitu dalam. Yifan mungkin tidak terlihat bahwa dia sedang bersedih, bahkan Yifan terlihat sangat tenang menyikapi kondisi Joonmyeon. Tapi menurut Kyungsoo, tenangnya Yifan adalah bentuk kesedihan yang paling besar.

Yifan sama sekali tidak bisa berbuat banyak atas perasaannya karena pernikahan ibunya dengan ayah Joonmyeon, sekarang Yifan harus dihadapankan dengan situasi yang lebih berat lagi. Mungkin sebenarnya Yifan ingin sekali mengekspresikan bagaimana apa yang dirasakannya, tapi dia tidak bisa melakukannya dihadapan orangtua mereka serta keluarga Joonmyeon.

Untuk pertama-kalinya, Kyungsoo merasa kasihan pada Yifan.

“Joon-ah, karena kau sudah tidur selama beberapa hari, jadi kau tidak melihat bagaimana wajah Yifan saat memandangimu selama kau tidur. Aku, mungkin selalu mengatakan kalau kau harus berpikir panjang menyikapi perasaan Yifan padamu, tapi untuk saat ini aku berharap kau bisa menyadari bahwa kau tidak akan bisa menemukan orang yang mencintaimu sama seperti Yifan mencintaimu.”

*****

Yunho memperhatikan Siwon yang sedang berdiri dekat jendela besar dari ambang pintu bersama dengan Changmin. Setelah dari rumah Siwon, Changmin menghubungi Yunho dan memberitahu situasi yang terjadi pada Siwon. Walaupun Changmin tidak ingin ikut campur kedalam masalah percintaan Siwon yang rumit, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan kenyataan kalau sepupunya itu begitu frustasi atas masalah yang dialaminya.

Jika Siwon sudah dipusingkan dengan Kyuhyun yang sama sekali belum memberikan jawaban pasti atas perasaannya, kemudian Siwon juga harus menghadapi ibunya. Tipikal keluarga kaya. Orangtua pasti akan ikut campur kedalam masalah anaknya, terutama masalah percintaan. Terlebih jika anak mereka jatuh cinta pada seorang pria. Jadi, Changmin terpaksa ikut campur dan menarik Yunho masuk kedalam masalah Siwon. Sebenarnya Changmin ingin memanggil Sooyoung, tapi tidak jadi. Untuk saat ini, Changmin berharap Yunho bisa membantu untuk menyelesaikannya.

Yunho menghela nafas panjang. “Sudah berapa lama dia berdiri disana?”

“Sejak kami kembali? Kurang lebih dua jam,” jawab Changmin sembari memeriksa jam di pergelangan tangannya.

Yunho menatap Changmin lalu berjalan masuk ke ruangan besar tersebut. Diikuti oleh Changmin yang kemudian menutup pintu. Yunho berjalan menghampiri Siwon yang sepertinya tidak menyadari kedatangannya. Ketika Yunho berjalan lebih dekat, Siwon melirik kearahnya lalu kembali memandangi kearah luar.

Changmin memilih untuk duduk di sofa dengan memperhatikan kedua sepupunya. Yunho menoleh kearah Changmin. Tapi Changmin hanya mengedikkan bahu. Yunho mendesis lalu kembali fokus pada Siwon.

“Aku tidak mendapat cerita lengkapnya dari Changmin, jadi bisa jelaskan apa yang terjadi?” tanya Yunho dengan tenang.

Siwon menghela nafas panjang. “Apapun yang diceritakan oleh Changmin, itulah yang terjadi. Aku tidak berniat untuk memberikan penjelasan ulangnya.”

Yunho paling kesal jika Siwon sudah bersikap keras kepala seperti ini. Jelas sekali kalau sepupunya tidak bisa sendirian menyelesaikan masalah ini, tapi Siwon bersikap seolah dia masih bisa berdiri tegak dan melawan ibunya sendiri. Tidak ada satu orang pun di keluarga besar mereka yang bisa memahami Siwon dengan baik.

“Baiklah, tapi biar aku luruskan. Kau menyuruh Shin Hwan dan Ahn Soo untuk mengawasi Kyuhyun, hari ini kau mendapat kabar kalau ibumu pergi menemui Kyuhyun dari mereka, lalu kau pergi menemui Kyuhyun untuk bertanya apa yang ibumu bicarakan tapi Kyuhyun memintamu untuk menjauhinya selama beberapa hari dan kau memutuskan untuk mengkonfrontasi ibumu. Apa seperti itu?”

Siwon melirik Yunho. “Kurang lebih.”

Yunho memejamkan matanya sejenak. Dia menarik nafas panjang sebelum kembali menatap Siwon. Disisi lain, Changmin yang memperhatikan pembicaraan Yunho dan Siwon merasa keputusannya untuk memanggil Yunho adalah tepat. Keduanya mungkin belum bicara banyak, tapi melihat sifat dan sikap Siwon sepertinya hanya Yunho yang bisa menghadapi Siwon. Untuk saat ini.

“Siwon, kau mungkin sudah mengatakan pada kami mengenai perasaanmu. Tapi bisa kau yakinkan aku, sebenarnya apa yang kau rasakan pada Pengacara Cho?” tanya Yunho.

Changmin mengernyit mendengar pertanyaan itu. Begitu pula dengan Siwon yang memandang sepupu tertuanya dengan tatapan bingung. Siwon sudah memberikan penjelan yang tepat mengenai perasaannya terhadap Kyuhyun dihadapan anggota keluarga yang lain. Bahkan sebelumnya, Yunho dan Sooyoung sudah bisa menebak tanpa Siwon memberitahu mereka secara lantang. Tapi kini, sepupu tertuanya kembali bertanya mengenai perasaannya pada Kyuhyun.

“Kenapa kau bertanya seperti itu, Yunho?”

“Aku hanya ingin memastikan. Aku merasa senang jika akhirnya kau bisa merasakan apa yang orang-orang sebut dengan cinta. Tapi mengingat dirimu, aku perlu memastikan lagi. Kau tidak pernah menjalin hubungan baik dengan seorang gadis ataupun pria sejak sekolah menengah. Bahkan selama delapan tahun kau menjalani perjodohan, tidak ada satu gadis yang bisa menarik perhatianmu. Namun, setelah kau bertemu dengan Cho Kyuhyun, dalam waktu singkat kau mengatakan bahwa kau menyukainya. Menyukai seseorang bukan hal aneh, tapi jika itu terjadi padamu… aku hanya bingung. Terlebih kau menyukai seorang pria. Siwon, apa kau yakin dengan perasaanmu sendiri? Apa kau yakin benar-benar menyukai Cho Kyuhyun?”

Well, Changmin tidak akan menyangka kalau Yunho berani bertanya seperti itu pada Siwon. Mungkin kalau Changmin yang bertanya, Siwon sudah menendangnya keluar gedung ini karena Changmin-lah yang meyakinkan Siwon kalau sebenarnya dia menyukai Kyuhyun. Tapi jika Yunho yang bertanya, itu terdengar masuk akal. Sebenarnya Changmin mempunyai pertanyaan yang sama karena rentang waktu pertemuan pertama Siwon dengan Kyuhyun sampai akhirnya Siwon menyadari perasaannya hanya terjadi dalam waktu satu bulan.

Untuk orang lain, itu adalah waktu yang cukup namun bagi seorang Choi Siwon, itu waktu yang sangat singkat.

Siwon memandangi Yunho dengan lekat dan kemudian beralih menatap Changmin. Tapi sepupunya itu malah menghindari kontak mata dengannya. Siwon mendengus lalu kembali menatap Yunho.

“Aku mungkin tidak pernah menunjukkan bagaimana perasaanku sebenarnya selama ini. Saat aku sekolah atau bahkan selama aku menjalani ratusan perjodohan selama bertahun-tahun, aku memang tidak pernah menunjukkan rasa tertarikku pada seorang gadis –ataupun pria– itu karena aku tidak merasakan apapun. Kalian mungkin menganggapku sebagai pria dingin yang brengsek, tapi hal itu tidak membuatku melupakan bahwa aku ini juga manusia yang memiliki perasaan. Apa kau pikir aku tidak bisa mengetahui apa perasaan yang kurasakan pada Kyuhyun?” tutur Siwon.

“Tapi pada awalnya kau menyangkal perasaan itu, Siwon.” Changmin menyahuti ucapan Siwon. Namun ketika Siwon memberikan tatapan tajam, Changmin segera menundukkan kepalanya. Apa yang diucapkannya adalah kebenaran, tapi Changmin tidak cukup berani untuk menghadapi Siwon seorang diri.

Yunho menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Mereka jarang-sekali bertemu, jadi Yunho tidak mengetahui bagaimana Siwon menyadari kalau dia menyukai Kyuhyun. Dia dan Sooyoung hanya mengetahui akhirnya saja. Changmin-lah yang mengetahui dengan jelas masalah percintaan Siwon saat ini. Tapi Changmin tidak akan ikut campur lebih dalam pada masalah Siwon kecuali Siwon yang datang sendiri padanya. Dan kini, Changmin menarik Yunho masuk.

“Kau menyangkal perasaanmu pada Cho Kyuhyun?”

Siwon mendesah lalu mengusap wajahnya. Dibandingkan menghadapi Kakeknya atau bahkan ibunya sendiri, Siwon paling tidak ingin berhadapan dengan Yunho dan Sooyoung. Kedua sepupunya itu tidak akan melepaskannya sebelum Siwon benar-benar memberikan penjelasan lengkap pada mereka. Ini baru sepuluh menit sejak Yunho memasuki ruangannya, tapi Siwon merasa mereka sudah bicara selama dua jam.

Semuanya terlalu melelahkan.

“Itu awalnya. Seperti katamu, aku tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Bahkan selama aku menjalani perjodohan dengan gadis-gadis, aku tidak menunjukkan rasa ketertarikan pada salah satu dari mereka. Tapi suatu hari, aku tertarik pada seseorang, terlebih dia adalah seorang pria. Apa kau pikir, aku tidak bingung dengan perasaanku sendiri? Selain itu, Changmin pernah membuat lelucon kalau aku ini adalah gay.”

Changmin ingin sekali protes ketika Siwon menyebut namanya, tapi sepertinya itu adalah ide buruk. Siwon bisa saja benar-benar menendangnya keluar dari gedung Choi Group dan mengembalikannya pada ayahnya. Itu adalah resiko yang sangat dihindari oleh Changmin. Kemudian Changmin kembali mendengarkan penjelasan Siwon.

“Kau mau tahu reaksiku saat aku benar-benar seorang gay karena menyukai Cho Kyuhyun? Penyangkalan. Itu adalah hal yang wajar. Bahkan aku menjalani perjodohan terakhir dan bahkan hampir menyetujui pertunangan. Itu adalah bentuk penyangkalanku, Yunho. Aku masih menganggap bahwa aku mungkin saja menyukai gadis dan bukannya pria. Tapi Changmin, dia selalu mengatakan bahwa aku ini sebenarnya menyukai Kyuhyun dari caraku bersikap padanya. Aku sudah tigapuluhtiga tahun, Yunho. Tapi layaknya anak kecil, aku masih sangat naïf untuk mengakui perasaanku pada Kyuhyun. Dan ketika aku mulai menerima perasaan ini, semua orang sepertinya mendorongku kembali ke titik dimana aku adalah pria brengsek yang sama sekali tidak bisa merasakan cinta. Terutama ibuku. Ibuku sendiri mengatakan bahwa aku ini tidak normal, hanya karena aku menyukai Cho Kyuhyun. Lalu kau pikir, apa yang harus aku lakukan, huh? Terus maju walaupun aku akan dipukuli dan mungkin saja akan ditendang keluar atau aku harus kembali ke titik nol dan melepaskan perasaan yang baru pertama-kali aku rasakan?”

Yunho terdiam. Begitu pula dengan Changmin. Ini adalah sisi lain Choi Siwon yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Seorang Choi Siwon yang tengah berjuang atas cintanya. Mereka berdua sudah mengetahui betapa keras kepalanya Siwon. Jika Siwon menginginkan sesuatu, maka dia akan berusaha untuk mendapatkannya. Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku hanya pada pekerjaan, tapi pada seseorang yang benar-benar disukainya. Namun, tentu saja rintangannya tidak akan mudah. Bahkan kalaupun Siwon menyukai seorang gadis, tapi jika gadis itu tidak memenuhi standar keluarga Choi, gadis itu tidak akan diterima oleh keluarga besar. Apalagi jika Siwon menyukai seorang pria.

Yunho masih memandangi Siwon dengan lekat. “Aku akan bertanya pertanyaan terakhir padamu. Dan kau harus memikirkan jawabannya dengan matang sebelum kau mengatakannya. Jika Kyuhyun datang padamu dan mengatakan dia tidak bisa menerima perasaanmu, lalu bagaimana dengan perasaanmu sendiri? Apa kau bisa mencintai orang lain –entah itu seorang pria atau mungkin gadis– dengan cara yang sama dengan kau mencintai Kyuhyun?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Jawab saja, Siwon. Apapun jawabanmu, tentu saja akan mempengaruhi bagaimana caramu memandang cinta di masa depan. Jika Kyuhyun menolakmu, apa kau masih akan percaya dengan perasaanmu sendiri? Apa kau masih percaya bahwa kau bisa mencintai orang lain?” tutur Yunho.

*****

Haneul menemukan Changwook di kafetaria. Awalnya Haneul tidak mempunyai niat untuk mencari dokter muda tersebut tetapi ada satu alasan yang membuat Haneul untuk menemui Changwook sebelum dia pulang. Kaki Haneul terus berjalan menuju salah satu meja dimana Changwook sedang melahap makan siangnya seorang diri. Ini sudah sore, hampir pukul tiga, jadi tidak bisa disebut jam makan siang tapi karena Changwook baru saja menyelesaikan operasi yang berjalan selama hampir empat jam, dia baru bisa makan siang sekarang.

Haneul berdiri dihadapan Changwook dan membuat pria itu mengangkat kepalanya untuk menatap Haneul. Changwook menaruh sendoknya dan tersenyum. Ini kedua kalinya Haneul datang padanya, tanpa paksaan. Changwook memberi isyarat agar Haneul duduk dibandingkan terus berdiri.

Haneul sedikit ragu, terlebih semua suster dan dokter di kafetaria melirik kearah mereka. Tapi Haneul tidak bisa mundur lagi. Dia sudah datang pada Changwook. Jadi, Haneul menaruh tas ranselnya di kursi lain dan dia duduk dihadapan Changwook.

Changwook memperhatikan Haneul. “Shiftmu sudah selesai?”

Haneul mengangguk kecil. Changwook ikut mengangguk. “Lalu ada apa kau mencariku?” tanyanya lagi.

“Uhm… Hari ini,” ucapan Haneul terhenti.

Changwook menunggu dengan sedikit kerutan di keningnya. “Hari ini?”

Haneul menarik nafas beberapa kali. “Aku belum tersenyum dihadapanmu,” gumamnya.

Kening Changwook semakin berkerut. Haneul bicara terlalu pelan hingga dia tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Haneul. Changwook menyingkirkan tray makanan dari hadapannya dan menatap Haneul dengan lekat. “Haneul, bicara lebih keras. Aku tidak mendengar ucapanmu.”

Haneul mendesis pelan. Jika Haneul hanya berdua saja dengan Changwook, dia tidak akan bicara sepelan itu. Namun, mereka berada di kafetaria dimana semua orang tengah memperhatikan mereka berdua. Haneul tidak akan bicara dengan lantang apa yang baru saja dikatakannya.

Changwook memperhatikan Haneul lalu menghela nafas. Dia berdiri dan mengambil tray makanannya. “Tunggu disini, okay?”

Kemudian Changwook berjalan menuju counter untuk mengembalikan tray tersebut. Walaupun sebenarnya dia belum selesai makan, tapi melihat Haneul yang tidak bisa bicara dengan semua perhatian yang diberikan oleh suster dan dokter lainnya maka Changwook akan membawa Haneul ke tempat dimana mereka bisa bicara dengan nyaman.

Haneul meraih tas ranselnya lalu berjalan kearah pintu keluar kafetaria. Diikuti oleh Changwook setelah dia menaruh tray di counter. Haneul menatap Changwook yang berjalan menghampirinya dengan kedua tangan berada di kantung jas putihnya. Changwook berhenti dihadapan Haneul.

“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Changwook lagi.

Haneul membuka mulutnya tapi ketika ada lima orang suster yang berjalan menuju kafetaria, Haneul kembali menutup mulutnya. Hal itu sedikit membuat Changwook kesal. Sampai kapan Haneul akan bersikap seperti itu, bahkan jika dia hanya akan bicara hal sepele?

“Kita bicara di taman saja,” ucap Changwook lagi.

*****

Changwook memperhatikan Haneul dengan serius. Setelah Haneul gagal bicara di kafetaria, Changwook kini menunggu pria dihadapannya itu untuk bicara. Walaupun udara dingin dan Changwook hanya memakai kaus turtleneck berwarna broken white dipadu dengan celana jeans hitam serta jas putih-nya, tapi dia tetap menunggu.

Changwook menarik nafas sembari merapatkan jas putihnya. “Apa yang kau ucapkan saat di kafetaria?” tanyanya dengan tenang.

Haneul melirik Changwook yang hanya berpakaian tipis sedangkan dirinya memakai kaus putih dengan sweather abu-abu dibalut dengan mantel hitam yang tebal serta celana jeans. Ah, Haneul juga memakai syal rajut hitam yang melingkari lehernya. Haneul sedikit merasa bersalah pada Changwook lalu melepaskan syal rajutnya dan memakaikannya dileher Changwook.

Changwook sedikit terkejut, terlebih Haneul berdiri sangat dekat dengannya untuk bisa memakaikan syal tersebut. Changwook memperhatikan Haneul yang menghindari kontak mata dengannya.

“Aku hanya ingin bertemu denganmu sebelum pulang,” ucap Haneul pelan.

“Kenapa?”bisik Changwook.

Haneul hendak mengambil jarak tapi Changwook segera menahan lengannya. Changwook tidak akan membiarkan Haneul mengambil tiga langkah mundur setelah dia berjalan dua langkah mendekatinya.

Haneul menatap mata Changwook yang memberikan sensasi menenangkan. Tapi jujur saja, sensasi itu tidak berlaku bagi tubuh Haneul. Dia merasa begitu gugup berdiri sangat dengan Changwook. Padahal sebelumnya mereka pernah lebih dekat dari jarak ini.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Haneul.”

Haneul menghela nafas. Dia sedikit merapikan syal yang kini melindungi leher Changwook. “Aku belum tersenyum padamu hari ini,” gumamnya.

Changwook terdiam sejenak. Alasan itu sama sekali tidak terlintas dalam benaknya ketika Haneul menghampirinya di kafetaria. Walaupun sebenarnya dia sendiri yang mengatakan ingin melihat Haneul tersenyum setiap hari. Kemarin, Changwook yang membuat alasan bagi Haneul untuk tersenyum. Tapi hari ini, Haneul yang datang padanya. Untuk alasannya tersenyum.

Changwook menahan diri untuk tersenyum. Dia berdeham pelan. “Kalau begitu tersenyumlah,” tuturnya.

Haneul sontak mengangkat kepalanya. Ekspresi Changwook begitu tenang. Dia tidak memberikan ekspresi konyol seperti kemarin dan itu membuat Haneul kesulitan untuk tersenyum. Haneul memejamkan matanya dan menarik nafas dalam.

Setelah dia membuka matanya, perlahan kedua ujung bibir Haneul tertarik atas sedikit. Haneul berusaha untuk tersenyum tapi sepertinya Changwook tidak puas dengan usaha yang dilakukan oleh Haneul.

“Itu tidak bisa disebut dengan tersenyum, Kang Haneul.” Nada bicara Changwook terdengar serius. Sepertinya Changwook merasa tidak puas.

Haneul kembali untuk tersenyum, walaupun begitu tidak menunjukkan banyak perubahan dengan usaha sebelumnya. Changwook mendesah.

Kemudian kedua jari telunjuknya menempel pada ujung bibir Haneul, lalu perlahan kedua jari itu menarik ujung bibir –seolah memaksa Haneul untuk tersenyum lebih lebar. Itu sedirik berhasil. Changwook tersenyum puas.

“Ini baru yang dinamakan tersenyum,” tuturnya sembari menarik kembali jarinya dari ujung bibir Haneul.

Haneul masih tersenyum, bahkan sedikit tertawa. Rasanya sedikit aneh ketika dia mencari alasan untuk bisa tersenyum tapi tidak bisa, sedangkan ketika Changwook memberikan sedikit usaha, Haneul bisa tersenyum bahkan tertawa dengan mudah. Bahkan sepertinya Haneul tidak pernah tersenyum dengan bebas sebelumnya. Terkadang dia hanya tersenyum hanya untuk menyenangkan orang lain, bukan demi dirinya sendiri.

Oh, sebelumnya Changwook bahkan mengatakan padanya untuk memikirkan Kyuhyun sebagai alasannya untuk tersenyum. Haneul menyadari bahwa dia tidak pernah melakukan apapun untuk dirinya. Selalu orang lain sebagai alasan atas tindakannya. Bahkan menolong Haesa memberikan flashdrive pada Kyuhyun pun itu dilakukannya demi Kyuhyun dan ayahnya.

Apa seumur hidup alasanku untuk melakukan sesuatu harus berdasar pada kepentingan orang lain? Bahkan hanya untuk tersenyum?

Ketika Changwook melihat Haneul berhenti tersenyum, sontak kedua tangannya menangkup wajah Haneul. Hal itu membuat Haneul terkejut karena telapak tangan Changwook terasa dingin. Namun, sensasi dingin itu perlahan berubah menjadi lebih hangat dalam waktu singkat. Haneul menatap mata Changwook.

“Hyung..” bisiknya.

Rasa bahagia Changwook kembali berlipat-lipat saat mendengar Haneul memanggilnya ‘hyung’ tanpa harus disuruh olehnya. Sama seperti ketika Haneul datang padanya untuk pertama-kali. Changwook mendekatkan wajahnya kearah Haneul hingga kedua kening mereka bertemu.

Haneul memejamkan matanya saat merasakan hembusan nafas Changwook di wajahnya. Sensasi itu kembali muncul. Ada sensasi menggelitik di perut Haneul. Bukan sesuatu yang buruk, menurutnya. Karena Haneul menyukai sensasi itu. Terlebih dengan sentuhan lembut jemari hangat Changwook di wajahnya yang dingin.

Sensasi yang berbeda ketika dia bersama Kyuhyun. Sensasi yang begitu menenangkan.

Changwook masih memperhatikan Haneul dengan sangat dekat. Dia begitu senang karena Haneul terlihat begitu nyaman dalam rangkulannya. Sepertinya hati Haneul mulai terbuka untuknya. Changwook hanya berharap.

“Kau tahu sesuatu? Sebenarnya kau tidak perlu bertemu denganku untuk tersenyum. Asalkan kau tersenyum setiap hari, itu sudah membuatku senang. Jadi, untuk seterusnya tersenyumlah untuk dirimu sendiri Haneul,” ucap Changwook.

Walaupun dia senang kalau Haneul menemuinya bahkan hanya untuk alasan tersenyum itu, Changwook tidak ingin Haneul merasa terbebani. Bahkan jika Haneul mulai membuka diri padanya.

“Aku tahu. Tapi aku hanya ingin melakukannya saja,” gumam Haneul.

Changwook sedikit mengernyit. Harapannya menjadi lebih besar. “Kenapa?”

“Entah. Rasanya sedikit aneh jika tidak melihatmu, walaupun hanya untuk beberapa menit,” tukas Haneul. Wajahnya terasa lebih panas dari sebelumnya.

Changwook mengulas sebuah senyuman. “Kau mulai menyukaiku?”

Haneul melirik Changwook lalu membuat isyarat dengan dua jarinya. “Sedikit.”

Senyuman Changwook menjadi lebih lebar dari sebelumnya. Harapannya mulai menjadi sebuah kuntum bunga.

*****

Yifan memasuki kamar rawat Joonmyeon. Dia memilih datang lebih cepat ke rumah sakit. Yifan hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama berdua saja dengan Joonmyeon sebelum orangtua mereka datang. Yifan sedikit tersenyum ketika dia melihat Joonmyeon masih di tempat tidurnya. Well, Joonmyeon masih belum sadar, tentu saja dia tidak akan bisa kemana-mana.

Yifan menaruh sebuah pot kecil bunga hyacinthus diatas meja kecil dekat tempat tidur Joonmyeon. “Halo, Joonmyeon. Apa kau kesepian?”

Tidak ada tanggapan. Yifan menarik nafas panjang. Dia melepaskan syal rajut berwarna merah dari lehernya dan menaruhnya diatas tempat tidur Joonmyeon. Syal itu adalah milik Joonmyeon. Yifan meminta Zitao mengambilnya agar dia bisa memakainya.

“Aku memakai syal milikmu. Apa kau marah?”

Sunyi. Yifan lalu menggenggam tangan Joonmyeon. Dia sedikit tersenyum karena tangan Joonmyeon terasa hangat dibandingkan tangannya yang dingin. “Aku membawakanmu bunga hyacinthus. Memang agak sulit mencarinya saat ini. Apa kau marah?”

Tidak ada jawaban.

“Kenapa kau tidak mengatakan apapun? Seharusnya kau marah. Bunga itu… Kau pasti tahu arti dari bunga itu, bukan? Tapi mungkin kau akan senang jika mendengar alasan kenapa aku membawakan bunga itu untukmu,” ucap Yifan berbisik. Jemarinya mengusap lembut punggung tangan Joonmyeon.

Yifan menarik nafas panjang sebelum dia kembali menatap wajah tenang Joonmyeon. Yifan sedikit tersenyum. “Aku membawakan bunga itu karena aku akan melepaskan perasaanku padamu, Joon. Maaf, karena telah menyusahkanmu selama ini karena perasaanku. Setelah kau sadar, aku akan menganggapmu sebagai saudaraku. Aku akan membunuh perasaanku ini sendiri. Asalkan kau sadar, Joon. Jadi….”

Yifan seakan kehabisan nafas. Dia merasa tercekik dengan suaranya sendiri. Perlahan Yifan berusaha untuk menenangkan diri. Beberapa kali Yifan menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Setelah jauh lebih tenang, Yifan yang masih tersenyum pada Joonmyeon kembali bicara.

“Ketika kau membuka matamu, saat itu juga aku akan melepaskan perasaan ini. Kita akan hidup sebagai saudara. Jadi, buka matamu, Joonmyeon. Hanya itu keinginanku saat ini.”

Yifan lalu melepaskan tangan Joonmyeon dan beranjak dari kursi tersebut. Dia membalikkan tubuhnya. Akhirnya, Yifan mengambil keputusan ini. Setelah kecelakaan Joonmyeon, Yifan terus memikirkan tentang keluarga barunya. Terlebih saat melihat ibunya menangis histeris. Yifan bisa melihat dengan jelas kalau ibunya sudah sangat menerima Joonmyeon sebagai putranya. Sangat egois jika Yifan malah menginginkan Joonmyeon sebagai kekasihnya.

Ibunya lebih banyak menderita sendiri ketimbang dirinya. Dan Yifan tidak akan tega merampas kebahagiaan ibunya setelah menikah dengan Junhyeok hanya karena perasaannya pada Joonmyeon. Yifan pikir dia bisa memikirkan bagaimana keputusan yang baik mengenai hubungannya dengan Joonmyeon. Dia selalu yakin bahwa ada cara untuk menjadikan Joonmyeon sebagai kekasihnya, bukan sebatas saudara. Tapi setelah melihat ibunya menangis, Yifan harus menghadapi kenyataan bahwa semua jalan yang dipikirkannya menemui kebuntuan. Dan ia harus melepaskan Joonmyeon.

Yifan menghembuskan nafas panjang. Inilah akhirnya. Dia lalu berjalan menuju pintu tanpa menoleh ke belakang. Yifan membuka pintu secara perlahan dan hendak melangkah keluar saat dia mendengar sebuah suara lirih dari arah belakang punggungnya. Memanggil namanya.

*****

NOTE: Kalian bisa cari arti bunga hyacinthus di google, karena pas aku searching gak terlalu lengkap. Ada kaitannya sama mitologi Yunani, terkait Apollo, Hyacinth dan Zephyr. Aku tertarik sama bunga ini setelah nonton I Remember You hehehe.. Kalau ada yang nonton pasti tahu.. Singkatnya, hyacinthus warna ungu memiliki arti kesedihan.

Uhm… ya, kalian bisa baca sendiri gimana perkembangan hubungan masing-masing couple… /kaburrr

Music: K.Will – Please Don’t

Advertisements

27 thoughts on “[SF] Scarface Part 30

  1. Duh. Kasian bgt jd Siwon.
    Awalny g pernah tertarik sma seseorang.
    Sekaliny tertarik eh malah sma cowo. Nah cowo yg disuka malah gantungin dia.
    Puk…puk Siwon :*

  2. Siwon lg frustasi..well kuharap ibu choi.gk terlalu jauh ikut campur dlm percintaan anaknya,,kasian…siwon ditekan.. Semua keluarga selalu menuntut penjelasan..ogh bahkan kyu jg menghindar,yh siwon pria yg dewasa dn kuat..jd,,hadapi saja…semoga jlan terbaik dr masalah ini..ada titik terang.

  3. Yunho tetep aja bijak ya? :’)
    Kita sudah lihat gimana frustasinya Siwon. Tinggal lihat gimana Kyu hadapin masalah ini aja. Apa dia akan diam terus sendirian? Atau akhirnya mencari teman yg bisa dia jadikan tempat utk bercerita?
    Akhirnya Haneul sudah mulai membuka hatinya utk Changwook. Kemajuan yg baik. Hanya menunggu waktu saja sampai Haneul bisa yakin dg perasaannya ^^
    Oh? Yifan memutuskan utk menyerah? Alasan Yifan kuat sekali 😦
    Lagipula setelah ini Yifan pergi. Kok KrisHo moment-nya sedih sekali kak? Joon sadar setelah Yifan berjanji, ok semuanya jadi semakin rumit kalau begini. Ditunggu saja lah kelanjutannya. Semangat menulis ya kak ^^

  4. Penasaran bagaimana dengan WonKyu untuk menentukan kepastian perasaan apa yang sedang ia rasakan.Mg aj..segera ada kabar dari mereka berdua.Terutama Kyuhyun.
    Changwook dan Haneul …aq suka perkembangan dari hubungan mereka.Aq bisa sampai senyum gaje pas baca tentang mereka tadi kkkkk.
    Yifan..apa benar dirimu akan menekan perasaan yang kamu miliki untuk Joonmyun??Semoga akn segera ada kabar baik dari keadaan Joonmyun.
    Jeongmal gumawo eonni…Fighting!!!

  5. haddeuh ~ ini Wonkyu kapan bersatu nya? rumit amat dah ini hubungan Wonkyu :3
    tpi yg bkin jdi penghalang itu Eomma Choi,pdhal yg lain udh stuju sma perasaan Siwon ke Kyuhyun.
    yaa walaupun cma mreka ber-6 kcuali Jinri yg blm tau,toh akhirya Jinri jg nnti tau.
    asik dah Haneul udh mulai suka sma Changwook,jdi ga ada penghalang lg dong dipihak Kyu? kkk ~
    oia aku nton I Remember You kkk ~
    well ~ lumayan lah drama nya,tpi pling suka sma adegan bromance nya Hyeon sma Min hahaha
    dan buat Krisho smoga hubungan mereka jdi baik ya,kasian lha Yifan yg trtekan sma prasaan nya sndiri :3

  6. Huwaaaa kapan hbungan wonkyu berkembangnya?? Gregetan msih bgitu” ajah mreka :3
    ntah knpa kok aku mlah jd khawatir sama umma choi… Hhh

    plisssss banget kak next chap wonkyu nya dibanyakin dong #ngarep loh ini#

  7. perkembangan hubungan mereka?
    cuman baca y part wonkyu nya aja hahaha..
    soalnya lebih tertariknya k wonkyu nya aja…
    dan emang ini lama bgd deh bersatunya bukan rumit sih tp karena mungkin banyak cast yg jd couple hehehe *peace
    ya.. intinya sih kalo mw dpetin cinta y siwon kudu berjuang walo dy pasti sendirian berjuangnya
    karena kyu jg skrg di fase saat siwon melakukan penyangkalan mengenai perasaannya sndiri..
    indahnya itu klo wonkyu nya yg brdua yg brjuang bukan seorang diri mana dua2nya jg keras kepala..
    tp dari wonkyu malah lbh keras kepalaan kyu sih..
    hyuk udh mw bntuin tp kyu nya gmw.. buat apa menganggap hyuk brshabat klo dy sndiri bingung dgn mslhnya dan g ada tmpt pngaduan..
    klo siwon sndiri sih dy untungnya mw brbicara sama chang apalagi sama yunho..

  8. Bisa dibilang dua part untuk siwon.mtanpa moment wonkyu…
    Hahaa siwon blm nemukan titik terang tuk hubungannya.yah mending cri jln terbaik dah

  9. yah tambah berat aja nih siwon jd pacar kyu
    manis bgt yah changwook dan haneul
    kyu jgn nyesalnya klu siwon nyerah utk mendapatkan mu karna masih ragu gitu sama siwon padahal jelas klu kamu suka juga sama siwon

  10. Serasa nonton drama korea membaca ff kamu….hanya berharap ny.Choi memberikan restu pd anaknya dan Kyuhyun cepat menyadari perasaannya pada Siwon…aku paling suka moment Changwook membuat Haneul tersenyum..ah so sweet…mulai ada yang rindu dgn sosok Changwook…..sepertinya Joonmyeon mulai sadar dan berati Yifan hrs melepas perasaannya cintanya….aku puas dgn chapter ini ditunggu update selanjutnya

  11. Selalu penasaran dengan kelanjutan hubungan wonkyu .. maaf ga terlalu suka couple yg lain .. ga bisa bayangin mereka soalnya ..
    Wonkyu buat bersatu nya lama ya . Jgn kan bersatu bahkan perasaannya gmn aja Kyu nya blm yakin .. moga Kyu nti bisa cepat menyadari perasaan nya sendiri dan ga menghindari won lagi .. dan nantinya mereka akan berjuang buat cinta mereka ..
    Semangat lanjutnya diera ..

  12. Joon sadarkah?
    Hubungan wonkyu makin nggak jelas 😞
    Kapan donk bersatunya?? Lama amat…
    Disini paling suka hubungan haneul-changwook…bentar lagi jadian nih 😍

  13. yah, masih penasaran sama hasil pertemuan kyu sama ibunya Siwon,, trus kek mana sama yifan? Bener di mw ngelepas joomyeon? suka deh sama changwook dan haneul,,

  14. aq fokus ke wonkyunya aja ,kkkk …,kapan kalian jdian sdah gk sbar,,,untuk yg lain semangat mngejar cinta kalian,,,Trimakasih.

  15. hubungan wonkyu akan makin sulit bersatu nih kyk nya
    siwon sampe stress gitu. yunho selalu bijak. suka sama sikap yunho waktu menghadapi siwon

    joon belom sadar juga
    kasian bgt dan yifan mangambil keputusan buat membuang perasaannya kepada joon

    dokter couple itu makin sweet
    akhirnya haneul mulai menyadari perasaannya

  16. hubungan wonkyu akan makin sulit bersatu nih kyk nya
    siwon sampe stress gitu. yunho selalu bijak. suka sama sikap yunho waktu menghadapi siwon

    joon belom sadar juga
    kasian bgt dan yifan mangambil keputusan buat membuang perasaannya kepada joon

    dokter couple itu makin sweet
    akhirnya haneul mulai menyadari perasaannya.

  17. aaacckk .. senyum2 sendiri sama changwook-haneul, couple ini lumayan jd penghibur krn 2 pair utama lg galau2an …
    support changwook-haneul deh pokoknya … bikin mereka lebih sweet ya author-ssi …

  18. Aku slalu fokus sma wonkyu,,maaf untk yg couple laen aku ga fokus…hehehehehheheeee…
    Pertanyaan trakhir yunho sungguh ckup slit buat siwon,,,,pi smga saja siwon mampu memperjuangkan cntanya….
    Kyu sungguh keras kpala,,,untung hyuk sbar!!

  19. kyaa haneul unyu bet :3 hihi. miris banget liat yifan serius deh gaboong sedih banget sih idupnya T_T sini di peluk huu. semoga siwon dan kyuhyun bisa bertahan disegala badai yang menghadang. amin :’)

  20. Kasihan bgt siwon, dia yg awalnya menolak persaannya sendiri dan berusaha utk menerimanya. Disaat dia sdh menerima dia mendapat penolakan dr kyuhyun dan tentangan dr kluarganya…
    Smga saja yunho bs memberi kekuatan agar siwon bs bertahan bila yakin dg perasaannya
    Kris memutuskan mundur??
    Apa benar hubungan krisho akan berakhir sbg saudara, dan apa suho akhirnya sadar stlh mndengar keputusan kris??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s