[MM] Super Human – 1st Story [10]

super human

Chapter Ten

Marc menghela nafas berat ketika melihat Andrew sudah menunggunya di salah satu bangku taman. Ia berjalan mendekat dan duduk disebelah Andrew. Marc menaruh tas ranselnya dekat kakinya lalu melirik kearah Andrew. Andrew sendiri menyodorkan segelas kopi pada saudaranya. Marc mengerutkan kening namun, ia tetap mengambil gelas cup tersebut. Marc memperhatikan isi cairan dalam gelas tersebut. Warnanya hitam. Jadi, Marc bisa menebak apa isi gelas yang ada di tangannya tersebut.

Marc menarik nafas panjang lalu dia mulai menjelaskan mengenai pertemuan dengan dewan direksi Choi Incoporate, walaupun sebenarnya Marc bisa menyerahkan dokumen tertulis pada Andrew nantinya. “Presiden Direksi Walter Choi memberikan satu bulan untuk menyelesaikan semua evaluasi dan melakukan persiapan ulang untuk peluncuran project nemesis. Selain itu, semuanya berjalan lancar. Tidak ada teriakan protes dari para pria tua itu. Mereka hanya diam mendengarkan penjelasanku kenapa project nemesis harus ditunda. Selebihnya tidak ada pertanyaan yang menyebalkan. Bahkan Presiden Watson Choi tidak terlihat sama sekali. Ah, aku memutuskan untuk tinggal di rumah selama satu atau dua bulan setelah project nemesis diluncurkan. Aku memberitahumu sekarang, agar kau tidak menaruh curiga lagi dan mengatakan kalau aku berbohong,” kata Marc.

Kemudian Marc menatap Andrew yang hanya diam memandangi pemandangan kota Seoul yang terbentang dihadapan mereka. Marc menatap gelas kopi lalu mendesis pelan. Kemudian ia menyeruput kopinya dengan hati-hati. Marc sedikit berjengit setelah meminumnya. Andrew memberikan Americano padanya. Marc sama sekali tidak menyukai kopi pahit, ia lebih menyukai Latte atau Caramel Machiato. Dan Andrew mengetahui itu, jadi sepertinya sepupunya memang sengaja memberikannya Americano.

Marc mendengus dan menaruh gelas kopi itu. “Ada lagi yang ingin kau tanyakan, Direktur Choi? Atau aku harus minta maaf padamu lagi karena pergi begitu saja pagi ini?” tanya Marc.

Andrew menghela nafas lalu menoleh pada Marc. Ia memperhatikan wajah Marc lalu mencubit pipi Marc. Sontak Marc meringis kesakitan dan berusaha melepaskan tangan Andrew dari pipinya. Namun, Andrew tidak mudah melepaskan cubitannya pada pipi Marc.

“Jangan lakukan itu lagi, mengerti?” kata Andrew sembari melepaskan cubitannya.

“Melakukan apa? Pergi tanpa sepengetahuanmu? Aku hanya pergi ke Choi Incoporate sendirian, bukannya pergi ke medan perang. Jangan terlalu berlebihan, Andrew Choi. Lagipula untuk apa kau mencubitku juga? Kenapa kau selalu memperlakukanku layaknya aku ini masih tujuhbelas tahun? Itu sudah tujuh tahun yang lalu,” protes Marc sembari mengusap pipinya.

Andrew tersenyum tipis dan mengusap kepala sepupunya. Marc terdiam dan memperhatikan Andrew selama beberapa detik. Marc tidak menyukai afeksi seperti itu, tapi Andrew selalu saja melakukannya. Bagi Andrew, Marc adalah adiknya selain Noah –yang merupakan adik kandung Andrew. Dalam keseluruhan keluarga Choi, hanya ada empat anak laki-laki, yakni Samuel anak kedua Norman Choi, Andrew dan Noah dan juga Marc. Dan hanya Marc yang mempunyai marga yang berbeda dari mereka berempat. Jadi terkadang Marc sering merasa asing di keluarganya sendiri. Sebagai yang tertua, Andrew selalu menjaga sepupunya tersebut walaupun Marc terlihat tidak menyukainya.

“Kau perlu cepat-cepat menikah, Andrew Choi. Sekarang ini kau memperlakukanku layaknya seorang anak. Dan itu menyebalkan,” tukas Marc yang masih membiarkan Andrew mengusap lembut kepalanya.

Andrew tertawa. “Aku akan menikah saat aku dipindahkan ke SkyWorld. Ibuku mungkin sudah mencari calon istri untukku. Jadi, kau tidak perlu khawatir, Marcus Cho.”

Marc menepis tangan Andrew dari kepalanya dan menyodorkan kembali gelas kopi pada Andrew. “Jangan pernah menghukumku dengan Americano lagi. Rasanya benar-benar aneh. Kau yang habiskan,” kata Marc.

Andrew kembali tertawa seraya mengambil gelas kopi tersebut dan menyeruputnya dengan hati-hati. “Hey, ini enak tahu. Seharusnya kau belajar menyukai Americano. Dibandingkan Latte dan Caramel Machiato, memangnya kau masih berusia tujuhbelas tahun, Marcus Cho?”

“Tidak peduli. Lalu bagaimana dengan Dennis Park itu? Kalian sudah menemukannya?” tanya Marc lagi.

Andrew menggeleng. “Victoria dan Prof. Jung menemukan sedikitnya tujuh orang yang bernama Dennis Park di negara ini. Dan saat ini Victoria sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mencari Dennis Park yang kita cari,” jelas Andrew yang kemudian menyeruput kopinya lagi.

Tak lama, dua orang pria dari team Security menghampiri Marc dan Andrew. Andrew mengerutkan dahi ketika melihat dua orang tersebut, karena dia tidak memanggil siapapun dari team Security untuk menemuinya. Jadi, kemungkinan mereka datang adalah untuk bicara dengan Marc. Terkait sesuatu yang diperintahkan oleh Marc.

Marc menatap kedua pria dari team Security tersebut dengan tegas. “Bagaimana?” tanyanya.

“Kami sudah menyusuri semua bagian lantai B2 dan memeriksa catatan kamera CCTV, tapi kami tidak menemukan orang yang mencurigakan. Dalam dua jam terakhir sebelum kedatangan anda, tidak ada mobil atau orang lain yang melewati lantai tersebut. Saat ini kami sedang memeriksa CCTV pintu masuk dan lantai B1 serta B3 untuk penyelidikan lebih lanjut,” jelas salah seorang diantara dua pria tersebut.

Andrew menatap Marc dengan khawatir begitu mendengar penjelasan tersebut. Marc bukanlah orang yang mudah memberikan perintah untuk memeriksa CCTV jika dia tidak merasa dalam bahaya. Marc menghela nafas pendek. Mungkinkah firasat aneh yang dirasakannya itu adalah sebuah kesalahan? Marc hanya merasa paranoid terlebih dia sedikit mengetahui mengenai pembunuh yang mengincar manusia yang memiliki kemampuan spesial.

“Lanjutkan penyelidikan. Apapun hasilnya, laporkan padaku,” kata Marc.

Andrew kemudian menambahkan. “Perketat keamanan sekitar Skyline dan kirimkan team keamanan ke apartment kami. Periksa seluruh gedung dan sekitarnya, setidaknya sampai lima ratus meter. Berikan laporan setiap satu jam padaku.”

Kedua pria itu mengangguk dan berjalan meninggalkan Marc dan Andrew yang masih memperhatikan sepupunya dengan serius. Marc menarik nafas dan melirik Andrew. Mungkin tidak seharusnya Marc memberi perintah kepada mereka untuk segera menemuinya ketika dia sedang bersama Andrew. Kini Andrew akan kembali bersikap layaknya “orangtua” pada Marc.

“Jangan khawatir. Mereka bilang tidak menemukan orang yang mencurigakan. Itu mungkin hanya perasaanku saja. Terlebih pembunuh itu masih berkeliaran,” kata Marc berharap meredakan kekhawatiran Andrew.

Sama seperti Marc, Andrew mungkin sedikit merasa paranoid setelah mendengar mengenai pembunuh itu. Terlebih mereka mengetahui bahwa tiga korban dari pembunuh itu adalah super human, tidak menutup kemungkinan kalau pembunuh itu memang mengincar kemampuan super human dengan cara mengambil otak mereka. Pembunuh itu mungkin sedang mengincar mereka saat ini.

Andrew menghembuskan nafas. Ucapan Marc sangat tidak masuk akal baginya. “Bagaimana bisa kau menyuruhku untuk tidak khawatir? Pembunuh itu masih berada diluar sana dan kita tidak tahu apa tindakan pembunuh itu selanjutnya setelah mengetahui Sully Choi –yang kebetulan adalah korban selanjutnya setelah Chase– berhasil kita selamatkan. Dia sudah mempunyai banyak kemampuan super human dari korban-korbannya dan dengan kemampuan itu dia bisa melakukan apapun, Marc. Dia jauh lebih berbahaya dengan semua kemampuan yang dimilikinya.”

Marc menghela nafas. Kemudian ia berdiri dan meraih tas ranselnya. Ia melirik Andrew. “Aku akan kembali bekerja. Jangan mengkhawatirkanku secara berlebihan. Walaupun aku belum bisa mengendalikan semua kemampuanku, setidaknya aku cukup pintar untuk menjaga diri. Kau sebaiknya mengkhawatirkan dirimu sendiri, Andrew.”

Belum sempat Andrew mengatakan apapun, Marc sudah bergegas pergi. Andrew hanya bisa memperhatikan sepupunya pergi dan menghela nafas. Andrew mungkin memang sedikit berlebihan tapi dia tidak bisa membiarkan Marc atau siapapun terluka. Kini Andrew yang berharap Victoria bisa menemukan Dennis Park lebih cepat.

*****

Anna memperhatikan Dennis yang tengah menyeruput minumannya. Mereka berada di salah satu coffee shop yang terletak tidak jauh dari Skyline. Anna sudah menunggu selama duapuluh menit untuk mendengarkan Dennis Park bicara. Tapi pria itu lebih sibuk memilih minumannya dan dessert untuk makanan pendampingnya. Anna menolak ketika Dennis menawarkan untuk membelikannya. Anna tidak mempunyai keinginan untuk bersantai untuk saat ini.

Dennis menaruh mug kopinya dan tersenyum pada Anna. “Sepertinya kau terlihat tidak sabar, Nona Annabelle.”

“Anna, please. Dan sebaiknya anda mengatakan apa yang ingin anda sampaikan. Mereka tidak mempunyai banyak waktu,” kata Anna.

Dennis memperhatikan Anna dengan lekat. Dia merasa begitu tertarik dengan gadis yang dihadapannya saat ini. Setelah Dennis mengetahui bahwa Anna juga memiliki kemampuan spesial seperti dirinya, Dennis sedikit melakukan penyelidikan latar belakang gadis tersebut. “Baiklah, Anna. Bagaimana kita mulai dengan apa kemampuanmu? Aku hanya mengetahui kalau kau dan ayahmu, juga beberapa orang yang kau kenal di Skyline mempunyai kemampuan spesial. Jadi, apa kemampuanmu?”

Absorption power mimicry. Kemampuan anda?”

“Jangan memanggilku terlalu formal, Anna. Usiaku mungkin.. Well, usiaku sudah tigapuluhtiga tahun, tapi aku belum cukup tua hingga kau harus bersikap terlalu formal padaku,” Dennis kembali menyeruput kopinya, “kau bisa memanggilku Dennis atau Park Sonsengnim. Oh, kebetulan kemampuanku adalah clairvoyance. Aku bisa melacak seseorang dari benda miliknya dan bisa mengetahui apakah orang itu mempunyai kemampuan special atau tidak. Jelaskan tentang kemampuanmu.” Kemudian ia menaruh kembali mug kopinya dan mulai menyantap cheese cake yang dipesannya.

Clairvoyance? Melacak dan mendeteksi super human. Tidak heran, mereka membutuhkanmu. Aku bisa menyerap energi orang lain melalui sentuhan fisik. Jika dia adalah seorang super human, maka semua kemampuannya akan terserap padaku. Namun, jika aku tidak berhati-hati, mereka bisa mati,” kata Anna dengan tenang.

Alis Dennis terangkat ketika mendengar Anna menyebut “super human”. Apakah mereka disebut demikian? “Super human? Kita dipanggil dengan sebutan itu?”

Anna mengangkat bahu. “Entahlah. Andrew Choi sering mengatakan super human. Mungkin itu hanya istilah yang mereka ciptakan sendiri. Kita tidak pernah tahu kita ini adalah apa, bukan? Kita adalah manusia tapi mempunyai kemampuan spesial yang tidak dimiliki manusia normal lainnya. Kurasa super human adalah istilah yang cukup keren. Ada hal lainnya yang ingin anda ketahui, Park Sonsaengnim?”

Dennis kembali tersenyum. Anna terlihat sangat sulit untuk didekati, meskipun mereka mempunyai kesamaan. Kemampuan mereka berbeda tapi perbedaan itulah yang membuat mereka sama dihadapan manusia normal. Atau itulah yang Dennis pikirkan. Namun, gadis dihadapan Dennis ini terlihat berharap kalau dia tidak pernah memiliki kemampuan tersebut. Kemampuan Anna memang sedikit menyeramkan. Dia bisa membunuh orang lain jika tidak berhati-hati, tidak heran jika gadis itu menginginkan kehidupan normalnya sebelum kemampuan itu muncul.

“Ya, ada hal lainnya yang ingin tahu mengenai dirimu. Berapa kemampuan yang kau miliki saat ini? Apa hanya kemampuan menyerap energi itu saja? Tapi aku merasa kau mempunyai kemampuan lainnya, melihat kau begitu berhati-hati untuk tidak menyentuh orang lain terlebih orang yang mempunyai kemampuan spesial seperti kita,” Dennis melirik kedua tangan Anna. Sontak gadis itu menurunkan kedua tangannya dan menyembunyikan dibawah meja. “Jadi, apa kau sudah menyerap energi dari super human lainnya?”

Anna menarik nafas dan memperhatikan kedua tangannya. Rasanya belum ada orang yang bisa membaca pikirannya seperti apa yang dilakukan oleh Dennis. Bahkan orangtuanya sendiri hampir tidak bisa memahaminya. Walaupun dulu ada satu orang yang bisa, namun orang itu pergi meninggalkannya. Kemudian Anna kembali menatap Dennis. “Saat ini aku mempunyai tiga. Flight, future sight dan multiple acquired abilities. Tapi karena multiple acquired abilities, aku bisa memiliki lebih dari satu kemampuan.”

Dennis menahan diri agar untuk tersenyum. Anna menjawab pertanyaannya dengan mudah, bahkan hampir tanpa Dennis harus memaksa Anna memberikan jawaban. “Oh, jadi itu benar. Awalnya aku berpikir kalau kemampuanmu hanya untuk menyerap energi, tapi aku kembali memikirkan ulang asumsiku. Ternyata kau memang bisa memiliki lebih dari satu kemampuan. Okay, itu sangat menarik,” komentar Dennis.

“Tidak semua orang berpikiran seperti apa yang kau pikirkan. Absorption power hanya kemampuan menyerap energi, bukan untuk memiliki kemampuan yang kuserap. Aku mungkin sedikit memberikan penjelasan yang salah mengenai kemampuanku yang sebenarnya pada orang lain,” jelas Anna dengan pelan.

Oh, ini semakin menarik, pikir Dennis.

Anna mengakui kalau dia sedikit berbohong mengenai kemampuannya pada orang-orang yang bertanya mengenai kemampuannya, salah satunya pada Andrew dan Marc. Namun, gadis malah itu mengakui semua yang ditutupinya selama ini pada Dennis –pria yang baru ditemuinya hari ini. Sepertinya, penilaian Dennis pada Anna juga sedikit salah. Anna bukanlah seorang gadis yang sulit didekati. Sifatnya yang tertutup mungkin dikarenakan oleh kemampuannya. Anna tidak ingin orang lain yang berada di dekatnya menjadi terluka karena kemampuannya. Namun, Anna menginginkan seseorang yang bisa mengerti dirinya seutuhnya, bukan sekedar merasa simpati padanya.

“Kau merasa takut pada dirimu sendiri,” kata Dennis.

Anna melirik Dennis dan kembali menatap kedua tangannya yang terbalut sarung tangan. Tentu saja, Anna merasakan ketakutan pada dirinya sendiri. Saat Anna menyadari kemampuannya untuk pertama-kali, dia hanya berusaha sangat berhati-hati untuk tidak menyentuh dan disentuh orang lain. Bahkan selama hampir delapan bulan pertama setelah kemampuannya itu muncul, Anna memilih untuk tetap tinggal di rumah. Anna bahkan keluar dari sekolah dan menjalani homeschooling. Anna mulai mengganti semua isi lemari pakaiannya. Tidak peduli dengan cuacanya, Anna akan berusaha untuk menutupi semua bagian kulitnya. Kemudian Sarah memberikan sarung tangan padanya dan untuk pertama kali setelah satu setengah tahun. Saat itulah, Anna bisa menggengam tangan ibunya lagi.

Ketika Anna tinggal di Berlin, seseorang mengetahui mengenai kemampuannya. Anna tidak berniat untuk berteman dengan orang itu, tapi dia yang pertama-kali memberitahu Anna mengenai bagaimana memanfaatkan kemampuan yang dimilikinya. Jake Mason, seorang pria dua tahun lebih tua dari Anna. Jake mengatakan bahwa dia akan menjaga Anna. Dan Anna percaya pada ucapan Jake.

Namun, tiga bulan berikutnya, orang-orang yang memiliki kemampuan datang pada Anna. Mereka meminta bantuan Anna untuk menghilangkan kemampuan mereka. Mereka ingin hidup seperti orang normal. Jake mengatakan Anna bisa membantu mereka. Tapi Anna tidak percaya dengan kemampuannya sendiri. Perlu satu minggu untuk Jake meyakinkan Anna jika dia ingin membantu mereka.

Pada akhirnya, Anna menggunakan kemampuannya. Walaupun tidak menyukai prosesnya karena terasa sangat menyakitkan, tapi Anna terus membantu mereka yang datang. Anna berhasil menyerap kemampuan hampir limabelas orang, sampai akhirnya orang ke-enambelas harus dibawa ke rumah sakit karena Anna terlalu lama menggenggam tangan orang tersebut. Sarah yang mengetahui hal tersebut, akhirnya memutuskan mereka untuk pindah dan Anna kehilangan kontak dengan Jake.

Walaupun begitu, Jake bisa menemukan rumah baru Anna dan orang-orang itu terus datang meminta bantuan Anna. Karena sudah sangat menganggu, Sarah memutuskan untuk kembali pindah tiap-kali alamat baru mereka diketahui oleh orang-orang. Satu bulan setelah kepindahannya yang ke-lima, Jake datang menemui Anna. Pria itu meminta bantuan Anna untuk menyerap kemampuannya. Anna tentu saja menolak. Dia tidak ingin kembali merasakan kesakitan lagi. Tapi Jake mengatakan kalau ini adalah untuk yang terakhir kalinya. Jake ingin menjadi normal. Begitu pula dengan Anna. Jika Anna bisa membantu Jake atau yang lainnya untuk menjadi normal, lalu siapa yang bisa membantunya?

Akhirnya, Anna membantu Jake. Untuk yang terakhir-kalinya. Namun, Jake membohongi Anna mengenai kemampuannya. Awal pertemuan mereka, Jake mengatakan bahwa kemampuannya adalah telekinesist. Tapi setelah proses itu, Anna merasakan hal lainnya –selain rasa sakit. Dia merasakan sensasi aneh yang terjadi pada tubuhnya. Anna seperti mengalami perubahan pada genetiknya.

Jake kemudian mengatakan kalau dia adalah seorang multiple acquired abilities dan dia sudah memiliki sekitar tiga kemampuan yang berbeda yakni flight, future sight dan telekinesist. Jake mengatakan kalau ada dua kemungkinan. Pertama Anna akan mempunyai kemampuan itu secara permanen atau kemungkinan lainnya kemampuan itu juga akan menghilang. Tapi kemungkinan pertama yang terjadi. Anna kini memiliki kemampuan Jake dan dua kemampuan lainnya. Tapi kemampuan telekinesistnya menghilang. Dan sejak hari itu, Jake tidak pernah menemui Anna lagi.

Anna kembali sendirian. Selalu sendirian.

Anna menarik nafas lalu mengangkat kepalanya. Anna mungkin memang lebih baik sendiri. Jadi, dia tidak perlu menyakiti orang lain. Tidak perlu kembali dibohongi oleh orang lain dengan mengatakan kalau mereka peduli padanya. Anna hanya membutuhkan dirinya sendiri.

“Tidak ada hal lain yang Sonsaengnim ingin katakan atau tanyakan lagi? Sekarang kita bisa menemui Andrew Choi, bukan?” kata Anna.

Dennis memperhatikan gadis itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya menggeleng. Ia menghela nafas dan tersenyum tipis. “Aku harus kembali ke kampus. Kau bisa mengatur jadwal pertemuan dengan Andrew Choi.” Dennis lalu mengeluarkan kartu namanya dan menaruhnya diatas meja. “Hubungi aku lagi untuk memberitahu kapan dan dimana kita bisa bertemu lagi. Sampai hari itu tiba, kuharap kau selalu berhati-hati, Anna. Senang berkenalan denganmu.”

Dennis berdiri dari kursinya dan berjalan keluar coffee shop tersebut. Anna memperhatikan kartu nama milik Dennis diatas meja. Ia mengambilnya dan menghela nafas pendek. “Kenapa selalu aku yang harus menghubungi mereka? Menyebalkan.”

*****

Max terlihat begitu kelelahan. Hari ini dia dan Sully menjalani beberapa tes lainnya di Lab bersama Steve. Max harus berlatih untuk mengontrol kemampuan, jadi dia harus menjalani beberapa tes ketahanan. Didalam ruangan besar yang dikeliling oleh kaca tebal, Max harus memusatkan konsentrasi kemampuannya untuk menahan sebuah benda yang memiliki beban besar. Steve mengatakan bahwa Max harus menjalani latihan yang cukup ekstrem untuk mengukur sejauh mana kemampuannya bisa dimanfaatkan. Walaupun Steve mengatakan itu adalah sebuah latihan, tapi menurut Max itu adalah penyiksaan. Sully sendiri menjalani tes yang cukup ekstrem. Gadis itu akan dilukai secara sengaja untuk mengukur seberapa cepat pemulihannya terhadap luka dan dia bisa bertahan dari luka apa saja.

Setidaknya Max cukup beruntung karena dia hanya berhadapan dengan sebuah beban besar dan bukannya bermacam-macam benda tajam yang digunakan untuk melakukan tes pada Sully. Max menarik nafas lalu berbalik. Ia melambaikan tangan pada Steve yang memperhatikan dari luar ruangan kaca tersebut. “Bisa kita istirahat sejenak?” kemudian Max berbaring di lantai. Tubuhnya sudah basah dengan keringat dan nafas Max sjuga sudah terengah-engah.

Steve memberi isyarat pada anggota team-nya untuk beristirahat sejenak. Steve mengambil handuk dan satu botol air mineral dan berjalan masuk ke dalam ruangan kaca tersebut. Ia melemparkan handuk itu ke wajah Max yang sedang mengatur nafasnya. Steve lalu duduk di lantai, diikuti oleh Max yang bangun. Max mengelap keringatnya. Dia seperti habis berlari marathon padahal dia hanya berada di ruangan dengan pendingin ruangan. Steve lalu menyodorkan botol air mineral itu pada Max.

“Hasil sementaranya tidak begitu buruk. Kurasa kau bukanlah seorang amatir,” kata Steve.

Max hanya menatap Steve dengan jengkel lalu menghabiskan air dalam botol tersebut. Selain kelelahan, Max juga merasa dehidrasi. Sekali lagi, Max mengingatkan dirinya kalau ia berada di sebuah ruangan dengan pendingin udara, bukan sebuah ruangan dengan pemanas. “Aku mengetahui kemampuan ini baru satu minggu dan kau bilang aku bukan amatir? Yang benar saja,” dengus Max.

Steve tersenyum tipis. Jika dibandingkan dengan Andrew atau Marc atau bahkan Victoria yang sudah mengetahui kemampuan mereka lama sekali, Max masih kalah jauh untuk mengontrol kemampuannya. Jadi, dia tidak mudah percaya dengan ucapan Steve yang mengatakan bahwa dia bukanlah seorang amatir.

“Itu memang benar. Bagi seorang yang baru menyadari kemampuannya, tingkat konsentrasimu cukup baik. Jika boleh menghitung secara kasar, kurasa 45% kau sudah berhasil mengontrol kemampuanmu sendiri. Itu bahkan jauh lebih baik dari Marc,” komentar Steve.

Max mengernyit. “Tapi bukankah Marc…? Apa Marc seburuk itu?” tanyanya. Steve mengangguk.

Max terdiam sejenak. Ia memperhatikan Steve dengan serius. Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin ditanya oleh Max mengenai super human itu –atau apapun istilah yang mereka sebutkan. Tapi Marc hanya menjelaskan beberapa hal dasar padanya. Jadi, Max berpikir untuk bertanya pada Steve. “Ada satu hal yang ingin kutanyakan. Sejak kapan Marc menyadari kemampuannya?” tanya Max –akhirnya. Itu bukanlah pertanyaan yang ingin ditanyakannya, tapi mendengar Steve mengatakan bahwa dirinya masih jauh lebih baik dari Marc, itu sedikit membuat Max penasaran.

Steve menatap Max untuk sejenak. Well, Marc tidak pernah menyukai pembicaraan mengenai kemampuannya. Itu terlihat dari bagaimana sikap Marc jika selalu disuruh untuk berlatih oleh Steve dan Andrew. Tapi Max kini berada di pihak mereka. Setidaknya pria itu harus mengetahui sedikit.

“Kurasa bukanlah posisiku untuk menjelaskan ini padamu. Kau bisa bertanya lebih lanjut pada Marc jika kau merasa penasaran. Tapi aku bisa memberitahumu mengenai hal ini. Marc mengetahui tentang kemampuannya sejak usia enambelas tahun dan Andrew yang membantunya untuk beradaptasi karena Andrew yang terlebih dahulu menyadari kemampuannya,” jelas Steve.

Enambelas tahun? pikir Max.

Tapi Max baru menyadari kemampuannya baru-baru ini. Bagaimana mungkin kalau Max tidak menyadari kemampuannya itu sejak dulu. Atau mungkin ada factor lainnya yang membuat kemampuan Max baru muncul saat ini. “Jika Marc menyadari kemampuannya pada usia enambelas tahun, lalu kenapa aku baru menyadarinya sekarang?”

“Untuk hal itu aku tidak bisa menjawabnya. Munculnya kemampuan pada seseorang itu tergantung beberapa faktor. Sully bahkan baru menyadarinya ketika dia pertama-kali datang ke Seoul. Itupun karena kami yang menemukannya. Kami belum bisa memastikan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kemampuan kalian,” kata Steve.

“Lalu kenapa Marc bisa jauh lebih buruk dariku?”

Steve tersenyum. “Itu karena dia selalu menolak untuk menjalani latihan konsentrasi untuk melatih kemampuannya. Marc lebih menyukai kemampuannya mengalir begitu saja. Ia hanya memakai beberapa kemampuan yang dimilikinya sesuai kebutuhan, tapi selebihnya dia hampir tidak pernah memanfaatkan kemampuan yang dimilikinya itu.”

“Kenapa?” tanya Max singkat.

Kali ini Steve menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Steve pun tidak mengetahui alasan pastinya kenapa Marc bersikap seperti itu. “Aku tidak bisa memberikan jawaban pasti mengenai alasannya. Tapi Marc sepertinya masih menyangkal bahwa dirinya berbeda dengan manusia normal. Selama ini, Marc sangat jarang untuk memakai kemampuannya. Well, Marc mungkin berharap dia bisa kembali menjadi manusia normal.”

Max menarik nafas dan kembali berbaring. Ia menutup wajahnya menggunakan handuk tersebut. Max mencerna setiap ucapan Steve mengenai sikap Marc yang masih berharap bisa kembali menjadi manusia normal.

Menjadi manusia normal lagi? Apa itu mungkin dilakukan? pikir Max.

Kemudian pria Shim itu kembali bangun dan menatap Steve. “Menjadi manusia normal. Apa kita bisa kembali menjadi manusia normal?” tanya Max.

Steve terdiam untuk sejenak. Selama ini, penelitian yang mereka kerjakan masih terbatas pada pencarian kemampuan super human. Untuk mencari tahu asal darimana kemampuan itu muncul, Steve dan semua anggota team peneliti masih mengalami kesulitan. Sejauh ini, hipotesa mereka masih berkaitan pada mutasi genetika yang menyebabkan kemampuan itu muncul. Tapi bagaimana kemampuan yang dimiliki setiap orang lain bisa berbeda atau ada yang memiliki kemampuan serupa, mereka belum mendapatkan jawaban apapun. Termasuk apakah kemampuan itu bisa dihilangkan atau tidak.

Steve berpikir bahwa kemampuan itu tidak bisa dihilangkan dengan cara kimiawi, dengan menggunakan serum atau semacam obat-obatan. Tapi resikonya yang sangat besar. Bahkan jika Steve dan team peneliti lainnya berhasil membuat serum yang bisa digunakan untuk menghilangkan kemampuan super human tersebut, tidak ada jaminan kalau cara itu akan berhasil tanpa menghindari jatuhnya korban. Kecuali…

Steve kemudian teringat pada gadis yang dibawa Andrew kemarin, Annabelle Kim. Gadis itu memiliki kemampuan yang bisa menyerap energi orang lain. Dengan kata lain, gadis itu bisa menghilangkan kemampuan super human hanya dengan menyerap kemampuan mereka dalam batasan waktu yang aman. Mungkinkah gadis itu?

Max memperhatikan Steve dengan bingung. Ia melambaikan tangannya dihadapan wajah Steve yang seperti sedang berpikir akan sesuatu. Professor muda itu tersadar dan tersenyum. Max sudah bekerja keras hari ini. Jika Max tidak bertanya mengenai Marc, Steve mungkin tidak akan teringat pada kemampuan yang dimiliki oleh Anna. Tapi selain Max, Sully juga sudah bekerja keras.

Steve kemudian berdiri. “Ayo, kita makan siang. Aku yang traktir. Tapi kau mandi dulu sana.”

Steve dengan sengaja tidak menjawab pertanyaan Max dan mengalihkan perhatiannya. Cukup beruntung karena begitu mendengar kata makanan, sontak Max langsung bangkit. “Benarkah?” tanyanya dengan mata berbinar. Steve tertawa kecil dan mengangguk. Setidaknya ini yang bisa dilakukan Steve untuk membalas bantuannya. Max kemudian bergegas keluar dari ruangan kaca tersebut.

“Sully-ah, ayo kita makan siang! Professor Jung yang traktir!!”

*****

Aiden memperhatikan seorang gadis yang sepertinya pernah dilihatnya. Ia baru saja memasuki sebuah coffee shop setelah menemui ayahnya di kantor Lee Corp. yang terletak tidak begitu jauh dari gedung Skyline. Aiden memperhatikan wajah gadis itu dengan lekat.

Sepertinya aku mengenalnya tapi dimana?, pikir Aiden.

Kemudian Aiden menghampiri gadis itu sembari mengingat dimana dia pernah melihat wajah itu. Namun, sikap Aiden itu diketahui oleh si gadis yang kini memandanginya dengan tidak nyaman. “Ah, maafkan aku. Sepertinya aku mengenalmu, tapi aku tidak yakin…” gumamnya.

“Halo, Aiden-sshi. Senang akhirnya bisa bertemu denganmu,” kata gadis itu.

Aiden terkesiap. Gadis itu ternyata mengenalnya. Tapi Aiden masih tidak begitu yakin. Pria Lee itu kemudian duduk dihadapan si gadis dengan masih memperhatikannya. “Eoh? Kau mengenalku, tapi…. Ah! Kau putri Paman David, bukan? Annabelle Kim!” seru Aiden.

Anna hanya tersenyum tipis. Ini adalah pertemuan pertamanya secara langsung dengan Aiden Lee, keponakan dari Mary Lee. Bertahun lalu ketika acara pernikahan David, Anna hanya melihat Aiden dan Angela sekilas. Mereka bahkan tidak berkenalan secara langsung. Tapi Anna masih mengingat wajah sepupu tirinya tersebut. Aiden tidak banyak berubah sejak pertama-kali mereka bertemu.

Aiden tersenyum dan mengulurkan tangannya. “Ini pertama-kalinya, bukan? Senang bertemu denganmu, Annabelle,” katanya. Tapi Anna tidak menyambut uluran tangan Aiden hingga membuat pria Lee itu menjadi canggung dan menarik kembali tangannya. Sebaliknya, Anna hanya mengangguk kecil.

Anna merasa tidak enak hati karena tidak menyambut uluran tangan itu. Bagaimana pun Aiden adalah keponakan ayahnya juga, saudara sepupu tirinya. Tapi Anna tidak ingin mengambil resiko apapun. “Senang bertemu denganmu juga, Aiden-sshi. Dan kumohon panggil Anna saja.”

“Anna? Okay, tidak masalah. Tapi kau juga jangan memanggilku dengan Aiden-sshi. Kita adalah sepupu, bukan? Euhm.. semacam itulah. Jadi, panggil Aiden saja. Dan kenapa kau berada disini? Apa kau mempunyai janji bertemu dengan temanmu?” tanya Aiden dengan ramah.

Anna menggeleng. “Hanya berkeliling Seoul saja.”

“Ah benar! Kau baru datang dari Berlin, bukan? Apa kau sedang liburan?” tanya Aiden lagi, hanya sekedar bersikap sopan. Walaupun mereka bertemu secara tidak sengaja, Aiden tidak bisa bersikap mereka tidak saling mengenal. Heck, sebenarnya dia bisa melakukannya asalkan dia berpura tidak mengenali wajah itu. Tapi sudahlah.

Anna memperhatikan Aiden lalu tersenyum. Ia bisa melihat ekspresi canggung pada wajah Aiden. Pria itu tidak tahu harus bicara apa lagi, jadi dia hanya bersikap sopan pada Anna. “Aiden, apakah kau tidak ingin memesan minuman? Kebetulan aku harus pergi sekarang.”

“Oh, kau mau pergi? Baiklah, hati-hati dijalan. Mungkin kita bisa bertemu dan mengobrol lebih banyak lain kali,” kata Aiden.

Anna kembali tersenyum dan berdiri. “Lain kali, kalau begitu.”

Aiden membalas senyuman tersebut dan memandangi Anna yang berjalan keluar coffee shop tersebut. Aiden bisa melihat gadis itu melalui kaca jendela coffee shop. Anna berjalan menuju halte bis terdekat. Aiden menghela nafas lega. Pertemuan dengan Anna benar-benar sangat tidak terduga. Bahkan jika Anna mengatakan kalau dia hanya sedang berkeliling Seoul, tapi kenapa dia harus datang sampai ke Samsung-dong?

Aiden lalu melirik gedung Skyline yang menjulang tinggi. Ia teringat perkataan Angela mengenai Marcus Cho yang bertanya mengenai Anna saat mereka bertemu di perjamuan makan malam. Apakah Marcus Cho dan Anna sudah saling mengenal sejauh itu? “Dia tidak mungkin secara kebetulan datang ke sini. Jika ingin berkeliling Seoul, kenapa harus datang ke daerah perkantoran seperti ini? Apa mereka benar-benar sudah sangat akrab?” gumam Aiden penasaran.

Aiden kemudian mendesis. “Untuk apa aku memikirkan hal itu? Ah, benar-benar canggung sekali. Aku bahkan tidak tahu harus bicara apa lagi dengannya. Aura gadis itu benar-benar membuatku serba salah,” tukasnya sembari berjalan menuju meja counter untuk memesan minuman.

*****

Advertisements

3 thoughts on “[MM] Super Human – 1st Story [10]

  1. Sungguh berharap para super human itu segera menemukan sang pembunuh yang sangat pandai menyembunyikan dirinya.

    Fighting!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s