[SF] Scarface Part 28

join hands

28

 

“Park Chanyeol..”

“Jadi, siswa kelas Seni yang menjadi saudara tiri dari Kim Joonmyeon adalah dirimu, Kevin Wu.”

*****

Yifan menarik nafas berat. Kedatangan teman-teman Joonmyeon bersama Chanyeol sama sekali tidak diduga. Selain itu, dia juga belum membersihkan sisa darah Joonmyeon di lantai. Yifan memberi isyarat agar Baekhyun, Kyungsoo dan Chanyeol masuk lalu dia berjalan menuju dapur dimana Zitao dengan menyiapkan makan siang.

Yifan menatap Zitao. “Teman-teman Joonmyeon datang, aku akan menjelaskan situasinya diatas. Tolong kau bersihkan darah yang di lantai, ya?” Yifan mengembalikan ponsel Zitao.

Zitao menerima ponsel itu dan mengangguk. “Apa kau ingin mengajak mereka makan siang disini juga? Kurasa makanannya cukup banyak.”

“Entahlah. Mereka mungkin akan langsung pergi ke rumah sakit begitu tahu kondisi Joonmyeon. Kau dan Mom makan duluan, eoh.”

Zitao kembali mengangguk dan melihat Yifan yang berjalan kembali menuju ruang tengah. Zitao menarik nafas panjang. Rasanya ini belum lima jam sejak dia menginjakkan kaki di Seoul.

“Kita bicara di lantai atas. Tapi hati-hati langkah kaki kalian,” ucap Yifan.

Baekhyun dan Kyungsoo saling menatap lalu mengikuti Yifan. Saat kedua berjalan menuju anak tangga, mereka terkejut melihat darah di lantai. Karena itulah Yifan mengatakan pada mereka untuk memperhatikan langkah kaki. Dengan melompati darah tersebut, keduanya menaiki anak tangga.

Chanyeol yang masih berada di ruang tengah memperhatikan sebuah pigura besar. Foto pernikahan Junhyeok dan Sara beserta Joonmyeon dan Yifan. Chanyeol menarik nafas. “Ternyata rumor saat festival itu benar,” gumamnya.

Kemudian Chanyeol menyusul Yifan serta Baekhyun dan Kyungsoo. Chanyeol juga sedikit terkejut melihat darah dekat anak tangga. Sepertinya terjadi kecelakaan. Chanyeol lalu berjalan menaiki anak tangga.

Mengenai rumor itu, saat Festival Tahunan beredar rumor mengenai Yifan dan Joonmyeon. Banyak yang menduga bahwa mereka bersaudara, karena ayah Joonmyeon datang bersama ibu Yifan. Yang lainnya mengatakan bahwa kedua orangtua mereka saat itu baru merencanakan pernikahan. Saat Festival Tahunan adalah puncak rumor tersebut, namun rumor mengenai hubungan Yifan dan Joonmyeon sudah beredar sejak hari pertama Yifan masuk KAMSH.

Tidak banyak siswa pindahan yang diterima oleh KAMSH walaupun mereka pindah diawal tahun ajaran baru. Aturan KAMSH sangat ketat dalam penerimaan siswa baru atau siswa pindahan. Namun, kepindahan Yifan berjalan dengan mudah. Chanyeol bahkan mendapat data mengenai Yifan hanya satu minggu sebelum tahun ajar baru dimulai. Disaat itulah rumor mulai beredar.

Ada yang mengatakan bahwa Yifan adalah anak dari salah donatur baru KAMSH karena itu dia bisa masuk dengan mudah. Yang lainnya mengatakan bahwa KAMSH yang merekrut dari sekolah lamanya di Kanada, terlebih Yifan memang cukup berbakat. KAMSH pernah beberapa-kali melakukan perekrutan siswa dari sekolah lain yang mereka anggap berbakat. Namun, yang paling menguatkan rumor hubungan Yifan dan Joonmyeon adalah Yifan sering-kali terlihat memperhatikan kelas Musik –lebih seringnya kelas Joonmyeon.

Kini rumor itu sudah terungkap. Yifan dan Joonmyeon adalah saudara tiri. Walaupun bukan sesuatu yang patut dibesar-besarkan.

Chanyeol berjalan kearah koridor dimana dia mendengar suara Yifan.

“Joonmyeon sedang menjalani operasi,” ucap Yifan yang sedang merapikan kanvas-kanvas serta beberapa kaleng cat.

Yifan mengajak Kyungsoo dan Baekhyun untuk bicara di kamarnya dibandingkan di kamar Joonmyeon. Setidaknya, jika bicara di kamarnya sendiri, Yifan merasa lebih nyaman menjelaskan kondisi Joonmyeon.

“Operasi? Da-darah tadi…? Apa itu darah Joonmyeon?” tanya Baekhyun.

Yifan mengangguk dan menoleh kearah Chanyeol untuk beberapa detik lalu kembali menatap Baekhyun. Kyungsoo melirik Chanyeol yang berdiri diambang pintu. Well, Kyungsoo sepertinya bisa membaca apa yang sedang dipikirkan oleh Yifan. Chanyeol adalah anggota dewan siswa kelas Seni. Mereka mungkin tidak terlalu akrab, tapi berhubungan dengan situasi antara kelas Seni dan kelas Musik, mungkin saat tahun ajar baru dimulai akan menimbulkan kecanggungan. Terlebih Joonmyeon memberitahu Kyungsoo kalau mereka akan merahasiakan status mereka sampai mereka lulus.

Namun, semuanya tidak berjalan dengan baik. Buktinya, Joonmyeon kini mengalami kecelakaan dan harus di operasi.

“Apa yang terjadi pada Joonmyeon?” tanya Kyungsoo.

“Sejak akhir minggu lalu, Joonmyeon mengeluh sakit kepala. Dia sudah dibawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan, tapi sepertinya hasilnya belum keluar. Dan saat menuruni tangga, mungkin karena rasa sakit kepalanya, Joonmyeon tidak memperhatikan langkahnya dan terjatuh,” ucap Yifan.

Baekhyun melirik Kyungsoo. “Soo, kau bilang Joonmyeon sudah mendapatkan hasilnya dan tidak ada masalah apapun.”

Yifan sontak menatap pada Kyungsoo.

“Ah, itu hanya ucapan Joonmyeon. Kita tidak tahu apakah Joonmyeon benar-benar sudah mendapatkan hasil pemeriksaannya atau belum,” ujar Kyungsoo.

Baekhyun menghela nafas frustasi. Well, Joonmyeon memang sering-kali berbohong. Tapi dia tidak berharap kalau Joonmyeon akan berbohong mengenai kondisi kesehatannya sendiri. “Soo, kurasa liburan ke Bangkok harus dibatalkan. Jika Joonmyeon harus di operasi, maka dia harus menjalani pemulihan. Joonmyeon mungkin akan mengatakan kalau kita harus pergi tanpanya, tapi kita sudah membuat kesepakatan, bukan?”

Kyungsoo mengangguk. “Baiklah, sesuai kesepakatan,” ucapnya. Kemudian Kyungsoo menatap pada Chanyeol. “Chan, tidak apa-apa jika harus dibatalkan?”

“Jika itu adalah kesepakatannya, aku tidak bisa protes, bukan? Lagipula aku juga akan sibuk sebelum tahun ajar baru dimulai,” sahut Chanyeol.

Kyungsoo tersenyum tipis pada Chanyeol. Yifan menyadari hal tersebut. Dia melirik pada Chanyeol yang membalas senyuman Kyungsoo. Yifan memang tidak terlalu mengenal Chanyeol, tapi Yifan tahu kalau Chanyeol selalu bersikap dingin pada siswa kelas Musik. Tapi sikapnya pada Kyungsoo, terlebih dari ucapan Kyungsoo tadi sepertinya Chanyeol akan ikut bersama mereka untuk liburan. Itu sedikit aneh bagi Yifan.

Mungkin mereka teman, pikir Yifan.

Baekhyun kembali memperhatikan Yifan. “Uhm.. Kevin, Joonmyeon dibawa ke rumah sakit mana? Apa kondisinya serius?”

“Aku tidak tahu bagaimana kondisi saat ini, selain Joonmyeon harus di operasi. Kalian bisa pergi ke rumah sakit Seoul, kurasa kalian bisa bertanya pada dokter,” jawab Yifan.

Baekhyun menghela nafas. “Kurasa kita tidak bisa pergi ke rumah sakit sekarang. Soo, kita pergi besok okay? Dan kurasa yang lain jangan diberitahu dulu. Untuk saat ini, hanya kita yang mengetahuinya.”

Kyungsoo mengangguk. Dia menatap Yifan yang terlihat sedikit pucat. Well, Kyungsoo tahu persis bagaimana perasaan Yifan pada Joonmyeon dan kecelakaan yang menimpa Joonmyeon tentu membuatnya shock. “Kevin…”

“Yifan. Namaku Wu Yifan, kalian bisa memanggilku dengan nama itu. Hanya untuk di luar sekolah saja,” tukas Yifan.

“Okay, Yifan. Kami akan ke rumah sakit besok. Dan…” Kyungsoo kembali melirik Chanyeol yang hanya memperhatikan mereka lalu menatap Yifan lagi. “Kami turut menyesal dengan apa yang menimpa Joonmyeon.”

“Kau tidak perlu mengatakannya. Joonmyeon akan baik-baik saja.”

Kyungsoo memandang Yifan dengan lekat. Dia tersenyum tipis dan mengangguk kecil.

Ya, Joonmyeon akan baik-baik saja.

*****

Yifan dan Sara kembali ke rumah sakit setelah makan malam. Zitao memilih untuk tetap tinggal di rumah karena masalah ini bukan tempatnya untuk ikut campur. Junhyeok menghubunginya saat mereka sedang makan malam dan mengatakan Joonmyeon baru selesai di operasi. Junhyeok juga mengatakan bahwa dokter belum bisa memastikan kondisi Joonmyeon, jadi mereka harus menunggu.

Saat Yifan dan Sara tiba di ruang intesif, Junhyeok tengah berdiri di sebuah kamar rawat dengan jendela besar –disanalah Joonmyeon terbaring tidak sadarkan diri. Sara hendak menangis lagi ketika melihat kondisi Joonmyeon, tetapi Junhyeok yang merangkulnya membuat Sara menahan air matanya.

“Jangan menangis. Joonmyeon tidak akan menyukainya,” gumam Junhyeok.

Yifan juga berpikir seperti itu.

“Dan aku tidak akan menyukai jika kau baru menghubungiku besok pagi mengenai kondisi cucuku.”

Sontak Yifan menoleh dan melihat seorang pria tua dengan ekspresi tegasnya. Melihat reaksi Junhyeok dan ucapan pria tua tadi, Yifan mengasumsikan bahwa dia adalah Kakek Joonmyeon dari pihak mendiang ibunya.

“Abeonim…”

Junhyeok melepaskan rangkulannya dan menghampiri pria tua tersebut. Yifan kemudian berdiri disisi ibunya. Yifan sama sekali tidak pernah melihat pria itu, bahkan saat pernikahan. Selain itu, tatapan pria itu saat melihatnya dan juga ibunya sangat terlihat kalau beliau sebenarnya tidak menyetejui pernikahan tersebut. Tapi dia melakukannya demi cucunya.

Demi Joonmyeon.

“Kupikir akan jauh lebih baik jika memberitahu Abeonim besok pagi. Selain itu, aku sudah memberitahu mengenai kondisi Joonmyeon,” ucap Junhyeok.

Park Haejoon, pemilik dari HJ Company sekaligus kakek Kim Joonmyeon, menatap Junhyeok dengan tatapan tidak senang. Haejoon melirik kearah Yifan dan Sara lagi. “Dan aku sudah memberitahumu untuk segera menghubungiku terkait kondisi Joonmyeon. Dia bukan hanya putramu, tapi Joonmyeon adalah penerus HJ Company. Kondisinya sangat penting bagi perusahaan.”

“Aku tahu, Abeonim. Maaf..”

Haejoon menarik nafas. “Aku akan menemui dokternya. Setelah kondisinya stabil, dokter Park akan menanganinya. Dan pindahkan Joonmyeon ke kamar rawat yang lebih layak.”

Junhyeok mengangguk. Lalu Park Haejoon meninggalkan ruang intensif tersebut untuk menemui dokter yang menangani Joonmyeon. Junhyeok menarik nafas dan berbalik. Dia tersenyum tipis pada Sara dan Yifan.

“Jun, kau baik-baik saja?” tanya Sara.

Junhyeok mengangguk kecil. “Lebih baik kita ke kafetaria. Suster mengatakan waktunya hanya tigapuluh menit.”

Sara mengangguk lalu menghampiri Junhyeok. Sara merangul lengan Junhyeok dan berjalan keluar. Yifan menoleh kearah tempat tidur Joonmyeon di mana pria muda yang menjadi pewaris perusahaan besar tersebut tengah terbaring dengan kepala terbalut perban sekaligus alat bantu pernafasan.

“Kakekmu sedikit menyeramkan, Joonmyeon.”

*****

Haneul baru saja mengambil beberapa data chart pasien ketika dia melihat Changwook berjalan melewatinya begitu saja. Haneul terdiam sejenak dan mengernyit. Haneul memperhatikan sekelilingnya. Rasanya dia bukanlah hantu, hingga tidak ada yang menyadari keberadaannya. Selain itu, dengan pengakuan Changwook siang ini mengenai perasaannya pada Haneul…

Okay, sebenarnya itu tidak harus seperti itu.

Haneul menarik nafas lalu beranjak pergi tapi dia kembali menoleh ke arah Changwook pergi. Ruang intensif pasca operasi. Haneul teringat dengan ucapan Jiyeon tentang pasien Changwook yang harus menjalani operasi sore tadi.

Mungkin dia harus melihat kondisi pasiennya.

Haneul lalu berjalan kearah lain sembari membawa data chart pasiennya. Well, Haneul mempunyai pasien yang perlu ditangani olehnya.

*****

Chanyeol membuka pintu kamar Kyungsoo. Sejak mereka pulang dari rumah Joonmyeon, Kyungsoo tidak mengatakan sepatah kata pun padanya atau pun Baekhyun yang mengantarkan mereka pulang. Chanyeol menarik nafas lalu menghampiri Kyungsoo yang duduk menghadap meja belajarnya. Chanyeol memperhatikan Kyungsoo yang bahkan tidak menyadari kedatangannya.

Chanyeol berdiri di belakang Kyungsoo dan merangkul bahu Kyungsoo. Dia menopangkan dagunya diatas kepala Kyungsoo. “Apa yang kau sedang pikirkan? Mengenai Joonmyeon?”

“Kau percaya kalau kondisinya akan baik-baik saja?” tanya Kyungsoo pelan.

Chanyeol menarik nafas. “Kenapa kau berpikir pesimis seperti itu? Bahkan Kevin saja percaya kalau saudara tirinya akan baik-baik saja.”

Kyungsoo terdiam. Chanyeol memang tidak mengatakan apapun tapi dia pasti sudah tahu kalau sebenarnya Kyungsoo mengetahui Yifan adalah saudara tiri Joonmyeon. Chanyeol tidak sebodoh itu untuk tertipu. Berbeda dengan Baekhyun.

“Kau bohong padaku,” gumam Chanyeol.

Kyungsoo memejamkan matanya. Dia menarik nafas dan menghembuskan perlahan. “Joonmyeon dan Yifan membuat kesepatakan kalau mereka tidak akan mengatakan pada siapapun mengenai status keluarga mereka.”

“Tapi kau mengetahuinya.”

“Itu tidak sengaja. Sewaktu aku datang ke rumahnya untuk mengambil buku, aku bertemu dengan Yifan. Joonmyeon terpaksa memperkenalkan kami.”

Chanyeol menghela nafas. “Baekhyun sepertinya sangat terkejut ketika dia melihat Kevin. Jika Baekhyun pernah datang ke rumah Joonmyeon, seharusnya dia menyadarinya. Ada pigura besar di ruang tengah.”

Kyungsoo juga melihat pigura tersebut. Tapi Baekhyun adalah Baekhyun. Dia tidak akan terlalu memikirkan perubahan di sekitarnya kalau tidak terlalu penting. Bahkan saat dia datang bersama Baekhyun, Kyungsoo bersikap sangat waspada jika Baekhyun menyadari pigura tersebut. Tapi ternyata Baekhyun tidak melihat apapun.

Kyungsoo membuka matanya perlahan. “Baekhyun tidak menyadarinya.”

“Benarkah?”

Kini aku bertanya apakah Luhan juga mengetahuinya atau dia sama seperti Baekhyun.

Kyungsoo lalu bergerak hingga Chanyeol harus melepaskan rangkulannya. Kyungsoo berdiri dan menghadap Chanyeol. Dia menatap Chanyeol dengan lekat.

“Apa yang akan kau lakukan, Chan?” tanya Kyungsoo.

Inilah pertanyaan terbesarnya setelah Chanyeol mengetahui bahwa Yifan adalah saudara tiri Joonmyeon. Bahkan saat Kyungsoo pertama-kali mengetahuinya, dia berpikir untuk merahasiakannya dari Chanyeol.

Chanyeol mengernyit. “Melakukan apa, maksudmu Soo?”

“Yifan.”

“Aku tidak akan melakukan apapun. Hubungan keluarga diantara Kevin dan Joonmyeon tidak ada hubungannya dengan sekolah, Soo. Aku mungkin anggota dewan siswa, tapi bukan berarti aku bisa melakukan apapun diluar kewenanganku. Sekolah tidak bisa menganggu urusan keluarga siswa. Bahkan jika Joonmyeon dan Kevin mengatakan pada semua orang di sekolah, kurasa tidak akan ada masalah apapun. Kelas kita mungkin sering bersaing, tapi itu hanya berkaitan dengan prestasi akademik Soo,” tutur Chanyeol.

Kyungsoo masih menatap Chanyeol dengan mata besarnya. Chanyeol menarik nafas. “Jangan menatapku begitu, Soo. Wajahmu mungkin terlihat sangat manis, tapi sejujurnya terkadang aku sedikit takut padamu,” tukas Chanyeol.

Perlahan ekspresi wajah Kyungsoo berubah. “Maaf…”

Chanyeol memeluk Kyungsoo. “Jangan terlalu khawatir. Seperti kata Kevin –ah, maksudku Yifan, Joonmyeon akan baik-baik saja. Besok pagi kita akan pergi ke rumah sakit, okay. Besok kita akan mendapatkan kabar mengenai kondisinya dari dokter.”

Kyungsoo menghela nafas dan membalas pelukan Chanyeol. “Terima kasih,” gumamnya.

Chanyeol tersenyum tipis dan mengecup kepala Kyungsoo.

*****

Pagi ini, Changwook kembali datang ke kamar intensif Joonmyeon untuk melakukan pemeriksaan. Kondisi Joonmyeon sudah lebih stabil dan seharusnya Joonmyeon sudah sadar karena obat biusnya yang diberikan saat operasi sudah hilang. Namun, Joonmyeon sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda kesadaran penuh.

Joonmyeon terlihat seperti dia sedang tidur pulas.

“Apa kau ingin tidur lebih lama, Joonmyeon? Kenapa?” gumam Changwook.

Tiba-tiba dokter Ahn memasuki kamar intensif tersebut. Changwook sedikit membungkuk dan menyodorkan data chart Joonmyeon pada dokter tersebut. Dokter Ahn membaca data tersebut dan menghela nafas.

“Diagnosismu, dokter Ji.”

Changwook menatap Joonmyeon dengan lekat. “Semi-coma.”

“Operasinya berjalan dengan lancar. Hasil CT Scan dan MRI terakhir juga tidak menunjukkan adanya masalah. Konsultasikan dengan dokter Gu sebelum kau memberitahu keluarganya mengenai kondisi pasien. Dan kurasa kau bisa melepaskan pasien ini. Pihak keluarga menginginkan dokter Park yang menanganinya,” tutur dokter Ahn.

Changwook sontak menoleh. “Dokter Park? Maksud anda?”

“Kim Joonmyeon adalah keponakan dokter Park Saejoon. Semalam, Kakeknya menemuiku dan menginginkan dokter Park yang menangani Kim Joonmyeon. Kau tidak sepenuhnya melepaskan kasus ini, dokter Park mungkin akan bertanya padamu mengenai hasil pemeriksaan sebelumnya. Kau sudah melakukan yang terbaik, dokter Ji.”

Dokter Ahn menepuk bahunya lalu menyodorkan data chart itu pada Changwook. Setelah Changwook mengambilnya, dokter Ahn lalu berjalan keluar dari kamar tersebut. Changwook menarik nafas panjang dan kembali memandang Joonmyeon.

“Jangan tidur terlalu lama, Joonmyeon.”

*****

Yifan masih bersandar pada dinding. Lima menit lalu, dokter yang menangani Joonmyeon baru saja memberitahu kondisi terakhir Joonmyeon. Semi-coma, mereka menyebutnya. Yifan tidak terlalu mengerti dengan istilah kedokteran, tapi Yifan tahu kondisi semi-coma itu hampir sama dengan kondisi coma. Pasien mungkin mempunyai peluang untuk sadar lebih besar namun tidak ada yang bisa menghitung berapa-lama kondisi itu berlangsung.

Jadi, kondisi semi-coma tidak ada bedanya dengan kondisi coma.

Yifan masih mendengar suara tangisan Sara yang berada dalam pelukan Junhyeok setelah dokter memberitahu kondisi terakhir Joonmyeon. Tangisan yang terdengar begitu memilukan dari tangisan kemarin. Yifan tidak pernah melihat ibunya menangis seperti itu, bahkan saat Sara berpisah dengan ayahnya.

Tangisan itu terdengar berbeda.

Yifan masih tersadar, bahkan dia sama sekali belum memejamkan mata. Semalaman, dia, Junhyeok dan Sara berada di rumah sakit. Walaupun Junhyeok berusaha membujuk Sara untuk pulang, tapi ibunya menolak. Otomatis, Yifan juga tidak ingin pulang sendirian.

Yifan menarik nafas dan menoleh ke arah Kyungsoo, Chanyeol dan Baekhyun. Mereka sampai di rumah sakit sepuluh menit sebelum dokter memberitahu kondisi terakhir Joonmyeon. Reaksi Kyungsoo dan Baekhyun masih jauh lebih baik dibandingkan reaksi Sara. Tapi Yifan menyadari kalau Baekhyun menahan tangisannya.

Ponsel dalam saku celana Yifan bergetar. Perlahan dia mengeluarkannya dan melihat nama Zitao di layarnya. Yifan menghela nafas lalu menerima panggilan tersebut.

“Aku di lobby rumah sakit. Aku membawa apa kau yang minta. Aku harus ke lantai berapa?”

Yifan menghembuskan nafas dari mulutnya. “Tunggu di sana. Aku akan turun.”

Kemudian Yifan berjalan meninggalkan koridor tersebut. Yifan bahkan tidak mengatakan pada Junhyeok dan Sara kalau dia akan keluar. Yifan juga tidak melihat pada Kyungsoo yang hanya diam, Baekhyun yang sedang menahan tangisannya atau Chanyeol yang memperhatikannya dari ujung matanya.

Chanyeol satu-satunya yang menyadari kepergian Yifan. Kemudian dia menyentuh kepala Kyungsoo dan mengusapnya lembut. Kyungsoo mengangkat kepalanya dan menatap Chanyeol yang berdiri dihadapannya. Kyungsoo lalu melirik Baekhyun.

“Kita harus memberitahu yang lain kalau liburannya dibatalkan,” bisiknya.

Baekhyun mengangguk kecil lalu mengeluarkan ponselnya dengan tangan yang gemetaran. Kyungsoo dan Chanyeol melihatnya dengan jelas bagaimana Baekhyun kesulitan untuk mengetik pesan di chat group. Kyungsoo meraih ponsel Baekhyun.

“Biar aku yang melakukannya.”

Baekhyun memberikan ponselnya agar Kyungsoo yang mengetik berita mengenai kondisi Joonmyeon. Kemudian dia berdiri dan menarik nafas panjang. “Aku akan ke toilet.”

Kyungsoo hanya mengangguk sembari mengetik pesan. Chanyeol memperhatikan Baekhyun yang berjalan menjauh. Lalu dia duduk disamping Kyungsoo, menggantikan Baekhyun. Setelah Kyungsoo mengirim pesan tersebut, Chanyeol meraih tangan Kyungsoo dan mengenggamnya dengan erat.

Chanyeol menautkan jemari mereka.

Kyungsoo memejamkan matanya lalu menyandarkan kepalanya di bahu Chanyeol. “Kau bilang tidak boleh pesimis, bukan?”

“Eoh. Joonmyeon pasti akan sadar,” ucap Chanyeol.

Kyungsoo menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. “Kalau begitu aku akan percaya dengan ucapanmu. Joonmyeon akan segera sadar.”

*****

Yifan menemukan Zitao di lobby rumah sakit yang cukup besar dan ramai tersebut. Dia berjalan menghampiri sepupunya yang membawa tas hitam. Zitao sontak berdiri ketika dia melihat Yifan menghampirinya. Wajah Yifan terlihat begitu pucat dan lesu dan Zitao juga bisa membayangkan bagaimana wajah Sara dan ayah Joonmyeon saat ini.

Yifan mengambil tas tersebut. “Terima kasih,” ucapnya singkat.

“Kau sudah makan?” tanya Zitao.

Yifan menatap sepupunya. “Kopi.”

“Itu bukan makanan, Fan. Bagaimana Paman Kim dan Bibi? Apa mereka juga sudah makan?” sahut Zitao.

“Kami akan makan, Zitao.”

“Pergilah makan, Fan. Ajak Paman Kim dan Bibi juga. Jika kalian bersikap seperti ini, bukan hanya Joonmyeon yang harus di rawat. Bagaimana kondisi Joonmyeon? Apa kata dokter?” tanya Zitao lagi.

Yifan menaruh ta situ di lantai lalu duduk di kursi kosong. Zitao juga ikut duduk sembari memperhatikan Yifan dengan lekat. Saat dia bertanya mengenai kondisi Joonmyeon, Zitao melihat ekspresi Yifan. Dan itu terlihat tidak baik.

“Semi-coma,” bisik Yifan.

Zitao terdiam untuk sejenak. Semi-coma, sama seperti kondisi sepupu mereka yang mengalami kecelakaan mobil delapan tahun lalu walaupun setelah lima bulan sepupu mereka akhirnya meninggal karena kondisinya memburuk. Waktu itu Yifan dan Zitao memang masih muda untuk mengerti, tapi kejadian itu meninggalkan luka yang sulit disembuhkan.

“Kondisinya stabil?”

Yifan mengangguk.

“Joonmyeon pasti akan sadar, Fan. Kemampuan dokter di rumah sakit ini pasti bagus. Joonmyeon pasti sembuh, Fan.”

Yifan menghela nafas. “Semoga saja.”

“Dengar, aku tahu kau mungkin tidak ingin mendengar apa yang akan kukatakan. Tapi Nana semalam menghubungiku lagi. Dia ingin bicara denganmu, tapi aku sudah menjelaskan kondisinya. Mengenai Joonmyeon, maksudku. Kurasa Nana tidak akan menganggumu sampai… well, kurasa beberapa minggu. Tapi aku harus mempercepat liburanku. Ini tidak bisa disebut liburan. Namun, aku akan tinggal sampai akhir pekan ini, setidaknya harus ada orang yang mengingatkan kalian untuk tetap makan, bukan?” tutur Zitao.

Yifan melirik Zitao. Dia ingin sekali tersenyum mendengar sahutan Zitao tapi Yifan merasa bahwa dia tidak bisa tersenyum lagi. Setidaknya sampai Joonmyeon tersadar. Yifan menarik nafas dan menatap Zitao dengan lekat.

“Terima kasih,” ucapnya.

Zitao mengangguk kecil. “Ayo, kau harus makan terlebih dahulu. Kita mungkin bisa membeli makanan untuk Paman Kim dan Bibi setelah aku memastikan kau makan dengan baik.”

*****

Jiyeon menghampiri Haneul yang berada di meja kerjanya. Dengan menyembunyikan senyumannya, Jiyeon menarik sebuah kursi untuk duduk di samping Haneul. Jiyeon memperhatikan Haneul yang tengah memeriksa beberapa data pasiennya.

Haneul tentu menyadari sikap Jiyeon. Dia melirik Jiyeon. “Kenapa?”

Jiyeon akhirnya tidak bisa menyembunyikan senyumannya lagi. “Aku melihatnya. Saat kau berusaha menghibur dokter Ji. Berkaitan dengan pasiennya yang kini dalam kondisi semi-coma. Tampaknya kalian lebih akrab.”

“Itu… Terjadi begitu saja,” sahut Haneul yang berusaha fokus dengan pekerjaannya.

Senyuman Jiyeon perlahan menghilang. “Benarkah?”

“Kembalilah bekerja dokter Han,” tutur Haneul.

Jiyeon mendesis jengkel. “Kupikir hubungan kalian jauh lebih baik. Terlebih dengan caramu menggenggam tangan dokter Ji.”

Haneul menoleh pada Jiyeon. Dia memperhatikan dokter muda itu dengan lekat. Jiyeon membalas tatapan Haneul dan mengernyit.

“Kenapa?”

“Ada apa dengan caraku menggenggam tangan dokter Ji?” tanya Haneul.

Jiyeon menarik nafas. “Well, aku hanya melihat kalian bicara di area vending machine, tapi suster-suster yang melihat mengatakan kalau kau begitu protektif pada dokter Ji. Terlebih dengan situasi dokter Ji saat ini. Aku hanya bertanya padamu.”

Haneul tidak mengatakan apapun sebagai balasan argument. Dia hanya memandangi Jiyeon dengan begitu serius hingga membuat rekan kerjanya itu menjadi kurang nyaman.

“Apa aku salah?” tanya Jiyeon pelan. Dia tidak ingin membuat masalah dengan Haneul.

Haneul menggeleng lalu kembali pada pekerjaannya yang tertunda. Namun, Haneul tidak bisa fokus. Rasanya ada yang menganggunya. Mungkin karena ucapan Jiyeon mengenai ucapan para suster yang mengatakan bahwa dia bersikap protektif pada dokter Ji.

“Dokter Kang?”

Haneul menarik nafas panjang. Kemudian dia menaruh tangan kanannya tepat di tengah dadanya –bagian jantungnya. Jiyeon yang masih berada di ruangan tersebut memperhatikan Haneul dengan lekat.

“Kenapa? Apa kau merasakan sesuatu? Bagian dadamu terasa sakit?” tanya Jiyeon khawatir.

Haneul menarik tangannya dan melirik Jiyeon. “Aku baik-baik saja. Kembalilah bekerja, dokter Han.”

Jiyeon sekali-lagi memperhatikan Haneul sebelum dia keluar dari ruangan tersebut. Setelah pintu ditutup oleh Jiyeon, Haneul menghembuskan nafas sembari menyandarkan punggung di kursinya. Lalu dia kembali meletakkan tangannya di bagian dadanya –tepat di bagian jantungnya.

“Aku terlihat protektif? Padanya?”

*****

Yifan memasuki kamar rawat Joonmyeon. Setelah dia selesai sarapan dengan Zitao, Yifan mendapat kabar kalau Joonmyeon sudah dipindahkan ke kamar rawat regular. Well, VIP tepatnya. Itu pun atas perintah kakek Joonmyeon.

Yifan menghela nafas dan menaruh tas yang diberikan Zitao di sofa. Setelah sepuluh menit membujuk Sara dan Junhyeok untuk pergi sarapan, akhirnya Yifan kini sendirian di kamar rawat Joonmyeon. Kyungsoo, Baekhyun dan Chanyeol juga sudah pergi. Mereka akan mengurus pembatalan liburan mereka di travel agent.

Kemudian Yifan berjalan mendekat ranjang rawat dimana Joonmyeon tengah terbaring. Alat bantu pernafasannya sudah di lepas, artinya kondisi Joonmyeon sudah jauh lebih baik. Hanya saja, Joonmyeon memutuskan untuk tidur lebih lama. Yifan lalu duduk di sebuah kursi. Dia memandangi Joonmyeon dengan lekat. Ponselnya tiba-tiba bergetar. Luhan mengiriminya sebuah pesan.

Joonmyeon di rumah sakit? Kau tidak memberitahuku. Ada apa?

Yifan menarik nafas dan menatap Joonmyeon lagi. “Luhan bertanya mengenaimu, Joon. Boleh kuceritakan tentang kecelakaan kemarin?”

Yifan menunggu. Tapi tentu saja, Joonmyeon tidak bisa menjawab pertanyaan Yifan. Kemudian Yifan membalas pesan Luhan.

Siapa yang memberitahumu? Aku tidak bisa menjelaskannya. Kau tanya dari sumber-mu saja, okay?

Yifan kembali menatap Joonmyeon. “Kusuruh dia bertanya pada orang yang memberitahunya. Atau dia bisa saja datang menemuiku. Tapi aku bisa menjelaskannya nanti.”

Yifan menyimpan kembali ponselnya di atas meja. Lalu dia membaringkan kepalanya di tepi ranjang. Yifan menatap jemari Joonmyeon. Yifan menarik nafas dan menghembuskan perlahan.

“Aku begitu lelah, Joon. Boleh aku tidur sejenak? Untuk menemanimu tidur disini,” gumam Yifan.

Sekali lagi Yifan menunggu sebuah respon. Namun, dia tidak mendapatkan apapun. Yifan melirik Joonmyeon yang masih memejamkan mata dengan deru nafas yang teratur. Yifan tersenyum tipis. Setidaknya Joonmyeon masih hidup.

Yifan menyentuh ujung jemari Joonmyeon. Terasa sedikit dingin.

“Tanganmu dingin,” bisiknya.

Kemudian Yifan menggenggam tangan Joonmyeon dengan erat. Berharap tangan itu menjadi sedikit lebih hangat.

“Aku hanya akan tidur sebentar. Jadi, kau pun jangan tidur terlalu lama, Joon.”

Yifan mengecup ujung jemari Joonmyeon dan memejamkan matanya.

Kumohon. Saat aku bangun, kau juga harus bangun, Joonmyeon.

*****

NOTE: Halo…. Fresh from Ms. Word kekekeke…

Aku gak bisa nyelipin WonKyu sama sekali. Bingung mau diselipin di bagian mana. Disini lebih banyak ChanSoo moment-nya, karena KrisHo cuma bagian penjelasan kondisi Joonmyeon. Dan… JiKang couple (akhirnya aku milih nama itu, karena beberapa nama terdengar aneh hehehehe, akhirnya nyambung pake nama marga mereka ajah. Ayo siapa yang kemarin milih nama JiKang??) sedikit ada perkembangan.

Part depan diawali dengan pertemuan Kyuhyun dengan Ibu Siwon..

Music: SHINee – Sleepless Night

Advertisements

13 thoughts on “[SF] Scarface Part 28

  1. Begitu muncul tokoh kakek Joonmyeon, gak tau kenapa aku ngerasa makin sulit nantinya 😥
    Baca chapter ini gak ada leganya sama sekali kak. Tambah sesak malahan. Kondisi Joon yg malah jatuh ke semi-coma, kedatangan kakeknya Joon dari pihak ibu, dan Nana yg sepertinya akan tetap menjodohkan Yifan. Chapter ini tegang sekali 😦
    Oke, chapter depan sepertinya juga akan seperti itu. Pertemuan Ibu Siwon dan Kyu yg misterius(?). Hehe
    Ditunggu kelanjutannya kak ^^

  2. Aku nanyaaaaaa donggg .. cerita joonmyeon ama kriss itu nyambung ngga sii sama ceritanya wonkyuu atau couple selain wonkyu itu ceritanya endingnya nyambung ngga si ama wonkyuuuu … aku penasaran dri kemaren kemareeennn … maaf yahh … daaaannn makasiiihhhh

  3. kenapa nama couplenya gk Changhan aja??
    makin seru, tp gk nyangka joomyeon akan coma, gk da bayangan gimana akhirnya kisah krisho,,
    jikang couple makin ngegemesin, mulai berpaling kah?

  4. Aq suka dgn jikang couple dan…haneul udh mulai jatuh hati sm dr. Ji..aah tambah greget dan mudah2an joonmyeon cepat sadar dr komanya …ok dilanjut ya diera chapter dpn wonkyu lg….

  5. akhirnya dapat nama yang bagus juga jikang couple heheh…
    diera eonni uploadnya cepet banget gak nyangka.. hahha. tp seneng banget eonni…

    beneran ini tegang… semoga joonmyeonnya cepet sembuh dan sadar…
    jikang mulai berkembang hubungannya hahah,,

    di tunggu next chap buat kyu yang ketemu sama nyonya choi heheh gak sabar eonn

    semangattt

  6. senangnya chansoo lebih banyak di part ini
    chap depn wonkyu yg aku tunggu” soalnya kyu mkan siang sama ibu nya siwon mudah” gak suruh kyu menjauh dr siwon
    jikang juga mulai saling bersatu
    aku senang deh

  7. *deep bow* maap banget baru sempet nulis review kak diera, kemaren baru baca sekilas karena susah banget nyempetin waktu buat santai T.T
    Big thanks buat chapter ini karena udah bikin full krisho chansoo kak 😀 Joonmyeon kasian, udah kena tumor, sekarang semi coma juga. Yifan pasti drop banget liat joonmyeon sperti itu. Selain itu, kayaknya hubungan mereka bakal nemuin banyak halangan deh. Kakeknya joon keliatannya kejem juga, msa si joon lagi sakit gitu masih mikirin masalah pewaris perusahaan. Semoga chap depan tetep ada krishonya ya kak. Jebaal 😉
    Keep writing kak diera cantik, sesibuk apapun aku sekarang, aku tetep nungguin ff ini update terus kak. Fighting^•^

  8. Punya firasat kurang baik dengan kedatangan kakek Joonmyeon
    Kyk nya kisah cinta yifan dan Joonmyeon bakal sulit bgt
    Kasian bgt liat kondisi Joonmyeon

    Wuahh udh nggak sabar nih menanti pertemuan Ny Choi sama kyuhyun

  9. suka banget liat chansoo disini ;___;
    kakeknya jun kayaknya ga se easy going kakeknya siwon gt ya….. kayaknya dia bener2 gasuka kalo ayahnya jun nikah lg ~_~
    uwo ga sabar baca next chapter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s