[MM] Super Human – 1st Story [9]

super human

Chapter Nine

 

Andrew tersenyum ramah pada setiap pegawai yang menyapanya. Ia berjalan di lobby seorang diri. Marc sudah pergi lebih dulu bahkan sebelum Andrew bisa menawarkan tumpangan untuk mengantarnya ke kantor pusat Choi Incoporate. Dari hanya melihat sikap Marc yang sedikit menjauh darinya, Andrew mengetahui kalau Marc ingin mengatasinya seorang diri. Walaupun tidak menyukainya, Andrew harus menghargai keputusan saudaranya. Mereka hanya saudara sepupu dan Andrew bukanlah orangtua Marc.

Andrew menekan tombol lift dan menunggu. Ia sedikit merapikan jas hitam yang melekat sempurna pada tubuhnya. Andrew menghela nafas dan mulai merasa bosan. Ia bahkan belum menunggu selama satu menit. Jika Marc berdiri disampingnya, saudaranya itu mungkin akan terus dan terus bicara hal yang tidak berkaitan sama sekali. Andrew tertawa kecil.

“Ada sesuatu yang lucu, Direktur Choi?”

Itu Victoria yang bicara. Andrew tersenyum pada Victoria. Wanita itu memakai memakai blouse berwarna putih dengan blazer berwarna hijau muda dipadu dengan rok ketat sepanjang lutut berwarna hitam. Oh, tak lupa dengan sepatu heels-nya dan tas bermerek mahal. Andrew memperhatikan penampilan Victoria dengan serius. “Ini memang cara kau berpakaian? Atau kau sedang mencoba style baru?” tanya Andrew.

Victoria tertawa mendengarnya. “Kurasa anda harus segera menikah, Direktur Choi.”

Kemudian pintu lift terbuka dan Victoria berjalan masuk. Diikuti oleh Andrew. Pria Choi itu masih memperhatikan Victoria dengan serius membuat wanita itu merasa sedikit terganggu. “Direktur Choi, bukankah ada sesuatu hal yang lebih penting anda kerjakan daripada memperhatikan cara berpakaianku, sekarang ini?” kata Victoria lagi.

Andrew tersenyum. “Oh, benar. Maafkan aku. Aku tidak akan bertanya mengenai masalah pekerjaan. Bagaimana Max dan Sully?”

“Prof. Jung sudah mengurusnya. Sully terlihat bisa menerimanya, tapi Max? Aku sedikit mengkhawatirkannya. Tapi kurasa semuanya akan berjalan dengan lancar. Jika tidak ada masalah. Dan mengenai Dennis Park, kami menemukan beberapa orang dengan nama Dennis Park yang kemungkinan adalah orang yang kita cari. Kuberikan data-datanya nanti. Ada lagi?” kata Victoria.

Kemudian pintu lift terbuka. Lantai dimana ruangan Victoria berada. Andrew menggeleng. Ia lalu menahan tombol penahan pintu lift agar tidak tertutup. “Temui aku pukul sepuluh dengan membawa data mengenai orang-orang bernama Dennis Park itu. Well, dan sepertinya Marc benar-benar pergi sendirian menemui Kakek. Jika Max berada di Lab saat ini,” ujar Andrew.

Victoria menatap Andrew selama beberapa detik sebelum berjalan keluar lift. Wanita itu kemudian berdiri menghadap atasannya. Andrew masih menahan tombol penahan lift. Victoria menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Wanita itu bisa melihat kalau Andrew sedang mengkhawatirkan Marc saat ini. Terlebih dengan apa yang terjadi belakangan ini.

“Dia sudah besar, Andrew. Kau tidak bisa memperlakukannya sebagai remaja berusia tujuhbelas tahun selamanya. Kalian perlu bicara dan mungkin Marc perlu pulang ke rumahnya. Bersama orangtuanya,” kata Victoria.

Andrew menatap Victoria cukup lama sebelum kembali bicara. “Kurasa kita bicarakan lagi nanti pukul sepuluh. Jangan lupakan data-datanya, Nona Song.” Andrew lalu melepaskan tombol lift. Perlahan pintu lift mulai tertutup.

Victoria menghela nafas ketika pintu lift tertutup rapat. “Akan kulakukan, Direktur Choi.”

*****

Marc membenci rapat pertanggung-jawaban di Choi Incoporate. Limabelas pria paruh baya akan memperhatikannya layaknya Marc adalah seorang mangsa yang menggiurkan dan mereka adalah kawanan serigala lapar. Satu diantara kawanan tersebut terlihat lebih bernafsu untuk menerkamnya, yang tidak lain adalah pemimpin kawanan serigala tersebut. Walter Choi, Presiden Direksi Choi Incoporate –kakeknya sendiri.

Marc menarik nafas menunggu sang pimpinan kawanan serigala itu memberikan reaksinya atas penjelasan Marc mengenai penundaan peluncuran project nemesis. Ini sudah lewat limabelas menit dari penjelasan Marc dan belum ada seorang pun dari anggota dewan direksi yang memberikan tanggapan. Mungkin jika Marc tidak nekat pergi sendirian –setidaknya Andrew menemaninya– prosesnya tidak akan membosankan. Tapi Marc terlalu keras kepala untuk menanggungnya sendiri hanya karena dia sudah berusia duapuluhempat tahun. Bagaimana pun Marc tidak bisa terus menghindari Walter Choi.

Marc menghela nafas dan memeriksa jam di pergelangan tangan. Hampir pukul sepuluh dan Marc harus berada di Skyline sebelum pukul sebelas untuk meeting lanjutan project nemesis. Well, sebenarnya Marc bisa saja langsung pergi tanpa harus mendengarkan tanggapan dari dewan direksi. Mereka hanya ingin mendengar penjelasan Marc atas penundaan project nemesis dan dalam suratnya tidak disebutkan kalau mereka akan memberikan tanggapan terkait masalah tersebut.

Marc tentu bisa melakukannya, hanya saja dia memilih tidak melakukannya. Walter Choi menatapnya dengan tidak biasa saat mereka bertemu di depan ruang pertemuan. Marc tahu bahwa ada hal lainnya yang terjadi. Marc menarik nafas dan sedikit melonggarkan kerah kemejanya. Hell, dia benci sekali jika harus memakai setelan jas seperti sekarang. Jas bukanlah gayanya. Tapi Marc tidak ingin menambah kekesalan Walter Choi jika dia datang dengan memakai pakaian kasualnya.

Walter Choi menaruh dokumen yang dibacanya selama limabelas menit lalu menatap Marc yang berdiri sejauh hampir empat meter dari posisi duduknya yang berada di tengah pada meja besar tersebut. Anggota dewan direksi lainnya kini juga mulai terlihat lebih serius. Marc menarik nafas.

Sepertinya ini tidak lebih buruk dari dugaanku, pikirnya.

“Jadi, berapa lama waktu yang kau butuhkan sampai project nemesis siap?” tanya Walter dengan suara beratnya. Pertanyaan yang mudah tapi Marc tidak boleh membuat kesalahan.

“Kami memperkirakan akan membutuhkan waktu satu sampai dua bulan sampai semua evaluasi selesai. Kesiapan tenaga ahli, sumber daya, dan fasilitas lainnya untuk menunjang project ini juga perlu dievaluasi ulang. Hasil laporan akhir menyatakan bahwa ada beberapa masalah yang cukup serius. Tapi kami berusaha secepat mungkin melakukan pencegahan sebelum masalah besar terjadi. Jika semuanya lancar, kemungkinan akan lebih cepat dari prediksi kami,” kata Marc dengan penuh percaya diri. Dia tidak bisa bersikap goyah dihadapan Walter Choi atau sang Presiden Direksi akan menyingkirkannya dari project nemesis.

Marc mungkin adalah seorang inovator di Skyline dan bertanggung-jawab atas semua project-nya. Tapi jika dia melakukan sedikit kesalahan, maka Presiden Direksi Choi Incoporate –kakeknya sendiri– akan menyingkirkannya dari project tersebut dan menggantinya dengan orang lain. Karena bagaimana pun juga semua project yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan Choi Incoporate berada dibawah pengawasan ketat Presiden Direksi. Walaupun mereka adalah keluarga, tetapi bisnis tetaplah bisnis. Walter Choi akan menyingkirkan semua orang yang membawa kerugian bagi Choi Incoporate, tidak peduli kalau mereka adalah keluarga.

Walter Choi menarik nafas dan mengetukkan penanya diatas dokumen beberapa-kali sebelum dia kembali menatap Marc. Kemudian ia mengangguk. “Lanjutkan, Marcus. Berikan laporan setiap hasil evaluasinya. Tapi aku mengharapkan bahwa project nemesis akan siap dalam waktu satu bulan. Kau mengerti?”

Marc mengangguk. “Saya mengerti, Presdir Choi.”

“Bagus. Kalau begitu kembalilah bekerja, Marcus,” kata Walter.

Marc merapikan semua dokumen yang dibawanya lalu membungkuk. Kemudian ia menegakkan tubuhnya, menatap Walter Choi selama beberapa detik, lalu berjalan keluar ruangan tersebut. Untuk saat ini, Marc menguatkan posisinya. Tapi dia tidak bisa lengah karena Walter Choi akan jauh lebih ketat mengawasinya. Walter Choi mendengarkan setiap langkah Marc berjalan keluar. Sampai suara pintu terbuka dan tertutup. Walter kemudian menghela nafas. Ia memperhatikan anggota dewan direksi lainnya.

“Sepertinya kita akan mengalami masalah yang lebih rumit.”

*****

Marc berjalan menuju lift. Ia terlihat lebih pucat dari pertama-kali datang. Mungkin adalah kesalahan untuk pergi sendirian tanpa Andrew atau orang lain. Tapi Marc cukup bisa mengendalikan dirinya. Marc menarik nafas dan menekan tombol lift. Ia ingin cepat-cepat pergi dari gedung Choi Incoporate. Bukan hanya karena Walter Choi, tapi ada orang lainnya yang dihindari olehnya.

Pintu lift kemudian terbuka tapi Marc tidak bisa masuk. Seorang wanita cantik berdiri dihadapannya dan memandanginya dengan serius. Wanita itu berjalan keluar dan sontak Marc mengambil beberapa langkah mundur. Wanita itu mendengus. “Kau seolah sedang melihat hantu, Marcus,” kata wanita itu dengan cara bicara tenang dan elegan.

Marc menarik nafas perlahan. “I-ibu. Kenapa ada disini?”

Wanita cantik tersebut, Laura Choi adalah ibu Marc. Laura Choi adalah putri terakhir Walter Choi. Putra pertama Walter adalah Norman Choi, direktur AirOne Corp, salah satu asset Choi Incoporate bergerak dalam maskapai penerbangan dibantu oleh anak keduanya Samuel Choi, sedangkan putrinya Summer Choi adalah salah satu direktur di WorldMedia –anak perusahaan SkyWorld yang berada dibawah pimpinan Louise Choi, putri kedua Walter Choi dan tak lain adalah ibu Andrew. Dan Ibu Marc, Laura bertanggung-jawab atas TransWorld. Selain AirOne Corp dan SkyWorld, Choi Incoporate masih mempunyai OceanCruise dan beberapa anak perusahaan yang berfokus pada bisnis pelayaran yang dikelola oleh Matthew Choi dengan anak-anaknya. Matthew Choi adalah putra tunggal dari kakak Walter Choi, Watson Choi.

Laura menghela nafas dan merapikan jas putra tertuanya. Marc hanya bisa membiarkan ibunya melakukan hal itu. Biasanya Marc akan menolak perhatian kecil dari ibunya dihadapan banyak orang. Tapi Marc sudah tidak bertemu Laura hampir tujuh bulan lebih. Pertemuan terakhir mereka adalah ketika upacara kelulusan adiknya, Clara. Selain itu, Marc sudah keluar rumah sejak usianya tujuhbelas tahun dan tinggal bersama Andrew. Jadi, kesempatan untuk bertemu dengan keluarganya menjadi sangat terbatas.

“Tentu saja untuk bertemu denganmu, Marcus. Bagaimana dengan meetingnya? Berjalan buruk?” tanya Laura.

Marc hanya mengangkat bahu. “Tidak bisa dibilang buruk dan baik. Presdir memberiku waktu satu bulan untuk persiapan ulang project nemesis. Ibu, bisa kita mengobrol lain kali? Aku harus kembali ke Skyline sekarang.”

Laura menarik nafas berat. “Selalu seperti itu. Hey, Marcus Cho, kau sudah tidak menemui keluargamu selama tujuh bulan. Adikmu bahkan sepertinya sudah sangat terbiasa dengan ketidak-hadiranmu di rumah.”

“Itu adalah resikonya, bukan? Aku sudah tinggal bersama Andrew sejak usiaku tujuhbelas tahun. Begini saja, aku akan pulang dan tinggal di rumah selama satu atau dua bulan setelah project nemesis selesai? Selain itu, sepertinya Andrew terlalu menurut pada Ibu. Selama setahun ini, dia selalu saja menyuruhku mencari kekasih. Itu menyebalkan sekali, Bu. Kumohon, jangan menyuruhnya lagi. Dia semakin mirip denganmu. Atau lebih parah, dia mirip sekali dengan Bibi Louise,” kata Marc.

Laura menepuk dada putranya. “Jangan mengolok kakak ibumu, Marcus Cho. Ibu bisa mengadukanmu pada Louise dan bisa saja bibimu itu akan memindahkanmu dari Skyline ke tempat lain. Blue Sakura Cruise, misalnya?”

“Oh, jangan mengancamku dengan menggunakan Blue Sakura Cruise, Bu. Aku tidak pernah tahan dengan ocehan Claire. Itu jauh lebih buruk ketimbang berhadapan dengan Kakek. Atau Kakek Watson. Baiklah, aku minta maaf. Tidak akan kuulangi lagi. Tapi Andrew memang sangat mirip dengan bibi Louise. Mereka kan ibu dan anak,” kata Marc sembari menyeringai.

Laura tersenyum. Ia mengusap wajah Marc dengan lembut. “Aku pegang janjimu. Jika kau tidak pulang, maka aku akan menyuruh orang untuk menyeretmu pulang, mengerti? Atau ayahmu.”

Marc mengangguk dan mencium kening Laura. “Aku tidak akan berani berbohong. Aku pergi dulu. Aku akan lebih sering menelepon Ibu dan Ayah. Jangan terlalu stress bekerja. Ibu terlihat lebih lelah dari tujuh bulan lalu, seperti tidak pernah tidur,” kata Marc sembari menekan tombol lift lagi.

Laura mendecih. “Lihat siapa yang bicara. Kau seharusnya melihat kantung matamu itu, sayang.”

Marc tertawa kecil dan berjalan memasuki lift ketika pintunya terbuka. “Mungkin kita bisa pergi untuk perawatan bersama. Aku bisa mendapatkan diskon jika datang bersama Ibu,” tukasnya.

Laura kembali tersenyum. “Itu bisa diatur. Hati-hati menyetirnya, eoh?”

Marc mengangguk dan melambaikan tangan sebelum pintu lift tertutup rapat. Laura masih berdiri disana sembari memperhatikan angka lantai lift yang terus berjalan menuju lobby gedung tersebut. Laura menghela nafas. Pembicaraan mereka bahkan kurang dari limabelas menit. Laura masih berdiri disana ketika Walter menghampiri putri bungsunya.

Walter berdiri disamping Laura, sedangkan seorang staff kepercayaannya menekan tombol lift dan berdiri dibelakang mereka. “Berapa lama kalian bicara?” tanya Walter.

“Mungkin kurang dari limabelas menit. Tapi dia berjanji akan pulang untuk beberapa bulan setelah project ini selesai. Abeoji tidak mempersulitnya, kan? Dia sudah bekerja keras untuk project nemesis itu,” kata Laura.

Walter menarik nafas dan menghembuskan perlahan. “Dia sudah besar, Laura. Jangan terlalu memanjakannya seperti itu. Lagipula dia sudah terbiasa, bahkan Andrew pernah mengalami yang lebih parah.”

Saat pintu lift kembali terbuka, Walter berjalan masuk dan diikuti oleh Laura. Terakhir oleh staff Walter yang kemudian menutup pintu dan menekan tombol lantai ruangan Walter. Laura menghela nafas.

“Semua ibu akan selalu memanjakan anak-anaknya, Abeoji. Bahkan Louise juga melakukannya pada Andrew. Jadi, kenapa Marcus harus dibedakan? Apa karena dia bukan Choi?” ucap Laura dingin.

Walter melirik putrinya dan berdeham. “Jangan mengungkit hal itu, Laura. Kau tahu, aku tidak pernah membedakan Marcus dengan Andrew. Atau bahkan dengan semua cucuku yang lain. Kita sudah lama sepakat tentang ini, bukan? Jadi, berhenti bicara mengenai perbedaan itu.”

*****

Anna memperhatikan ruangan pada sebuah apartment kosong yang sedang dikunjunginya di distrik Seocho. Penyewanya mengatakan kalau biaya sewa per bulan-nya tidak terlalu mahal, tetapi seperti kebijakan apartment lainnya, untuk depositnya Anna harus mengeluarkan sejumlah uang yang besar.

Bagi Anna, harganya masih terbilang murah dibandingkan sebuah flat di Berlin atau di kota Jerman lainnya. Selain itu, Anna mempunyai cukup uang untuk biaya penghidupannya. Selain itu, fasilitasnya cukup memadainya. Kamar mandi yang bersih, dapur yang cukup luas dan dua kamar tidur. Anna bisa merubah satu kamar lainnya menjadi ruang kerja. Selain itu, pemandangan apartmentnya langsung menghadap pada jembatan pelangi Banpo.

Anna menghela nafas dan menghampiri sang penyewa. Ia tersenyum. “Kapan dokumennya siap?” tanyanya.

“Saya bisa mempersiapkannya dalam satu minggu. Dalam waktu itu, anda juga bisa mentransfer uang depositnya. Setelah itu, anda bisa pindah secepatnya. Lalu bagaimana dengan furniture dan lainnya? Saya bisa membantu anda,” kata penyewa tersebut.

Anna menggeleng. “Saya tidak akan pindah sampai satu atau dua bulan. Jadi, saya akan menyicil untuk mengisi furniture dan lainnya. Anda tidak keberatan, bukan?”

Penyewa itu tersenyum. “Tentu saja tidak. Ohya, anda bilang kalau anda baru pindah dari Berlin. Apakah anda sudah mengurus cap stempel? Dokumennya memerlukan cap stempel milik anda sendiri.”

“Tenang saja, saya sudah mengurusnya. Anda tidak perlu khawatir.”

Penyewa itu kembali tersenyum dan berjalan keluar. Anna kembali memperhatikan apartment tersebut sebelum mengikuti sang penyewa. Setidaknya Anna sudah menemukan apartment yang cocok. Kini dia hanya perlu mencari furniture dan barang-barang lainnya. Walaupun Sarah masih belum memberikan ijin padanya, tapi Anna setidaknya bisa meyakinkan ibunya kalau dia benar-benar serius. Paling tidak jika Anna sudah menanda-tangani dokumen sewa, Sarah tidak mungkin menolak. Selain itu, Anna juga bisa meminta bantuan Sarah untuk mengirimkan beberapa barangnya di Berlin ke Seoul.

Untuk furniture, Anna mungkin bisa meminta bantuan David untuk memberikan saran dimana dia bisa membeli dengan harga murah. Anna berjalan keluar gedung apartment tersebut dan menuju halte terdekat. Anna menghela nafas. Dia menyadari sesuatu. Hari ini, untuk pertama-kalinya sejak dia datang ke Seoul, Anna benar-benar tersenyum. Sebuah senyuman bahagia.

Anna sedikit merasa aneh. Dia akan tinggal jauh dari ibunya dan sendirian. Tapi Anna merasa lebih bahagia, lebih bebas. Seakan dia tidak peduli dengan kemampuannya yang bisa saja menyakiti orang lain jika Anna tidak berhati-hati. Anna seakan menemukan rumah bagi dirinya sendiri saat melihat apartment tersebut. Sarah benar. Anna jauh lebih baik sejak datang ke Seoul.

Anna mempercepat langkahnya menuju halte. Selain itu, dia juga berhati-hati agar sarung-tangannya tidak terlepas. Hari ini suhu Seoul masih cukup hangat, sekitar duapuluhtujuh derajat dan saat ini masih bulan Agustus. Cukup beruntung Anna datang ketika masih musim panas –atau lebih tepatnya menjelang musim gugur. Walaupun dia harus menahan diri karena semua orang pasti memperhatikannya dengan aneh. Tapi Anna sudah terbiasa, lagipula dia sedang merasa senang.

Namun, sepertinya harinya tidak akan menyenangkan lagi. Ekspresi Anna berubah drastis. Langkahnya pun terhenti dan Anna seperti kehilangkan kesadaran selama beberapa detik. Dan pada detik berikutnya, Anna mendapatkan kembali kesadarannya dan terlihat terhuyung. Anna menarik nafas banyak-banyak dan berusaha menenangkan diri sejenak. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan bergegas mencari taksi.

Anna harus menemui Marcus atau Andrew secepatnya.

*****

Andrew membaca semua data mengenai beberapa orang bernama Dennis Park yang berhasil ditemukan Stephen dan Victoria. Tidak cukup banyak, namun cukup membuat Andrew kewalahan. Dia tidak bisa menyelidiki satu per satu dari tujuh pria untuk mencari Dennis Park yang mereka butuhkan. Victoria pun tidak mempunyai ide lain untuk menyelidiki lebih jauh semua tujuh pria tersebut.

Andrew menghela nafas dan menutup dokumen terakhir. “Ini jauh lebih sulit dari dugaanku sebelumnya. Belum ada kabar dari Prof. Jung mengenai Dennis Park yang kita cari? Dari ke-tujuh pria ini?”

“Sayangnya belum. Sepertinya Prof. Jung sedang sibuk dengan Max dan Sully. Tapi aku akan mendapatkan perkembangannya dari team penyelidik dan akan segera kuberitahu jika ada kabar signifikan. Untuk saat ini, kita harus bersabar sejenak. Atau…” Victoria menggantungkan kalimatnya. Andrew menatapnya dengan serius. Sepertinya, akhir-akhir ini Victoria sering-kali bicara dengan ragu seperti itu.

Victoria menghela nafas. “Atau kau bisa meminta bantuan Anna untuk melihat lebih spesifik mengenai Dennis Park. Kemampuan future sight bisa dikendalikan dan sepertinya gadis itu cukup handal mengontrol kemampuannya. Jika bisa, Anna bisa melihat Dennis Park secara jelas.”

Andrew masih memperhatikan Victoria untuk sejenak. Dia mungkin tidak mengerti bagaimana cara kemampuan future sight sebenarnya. Karena Victoria hanya bisa melihat kilasan masa depan secara acak, terkadang seperti puzzle tidak beraturan. Sedangkan Marc, entah yang dimilikinya benar kemampuan melihat masa depan atau bukan. Walaupun Marc mendapatkannya dari Victoria, tapi Marc tidak bisa mengendalikan kemampuan future sight itu dengan baik. Jadi, tidak ada jaminan kalau Anna bisa mengontrolnya juga.

“Aku tidak bisa meminta bantuan padanya. Selain tidak ada jaminan apakah Anna bisa mengontrol kemampuannya dengan baik, gadis itu mungkin tidak ingin terlibat lebih jauh dalam masalah ini,” kata Andrew.

Victoria mengerutkan kening, bingung. “Apa maksudmu? Bukankah dia yang menemuimu untuk mengatakan apa yang dilihatnya? Jika dia tidak ingin terlibat, lalu untuk apa dia jauh-jauh datang ke Seoul? Jika hanya untuk memberitahu mengenai apa yang dilihatnya, dia bisa mengirim e-mail atau menghubungimu dari Berlin tanpa harus datang kesini.”

Andrew memijat pelipis atas mata kirinya dengan keras. Rasanya kepalanya akan pecah karena terlalu banyak yang harus dikerjakannya. Mengenai beberapa project, kontrak kerja-sama dan juga mengenai pembunuh itu. Semua masalah secara tiba-tiba datang dan tanpa solusi yang jelas. Andrew cepat atau lambat mungkin akan dibawa ke rumah sakit karena terlalu stress atau terkena stroke. Heck, usianya bahkan baru duapuluhdelapan tahun.

“Aku tidak tahu. Dia datang ke Seoul mungkin karena ada alasan lain, selain untuk memberitahu kita mengenai masalah ledakan itu dan si pembunuh. Kita cukup beruntung, dia memberitahu sedikit solusi untuk mencari jalan keluar dari masalah itu. Sully Choi, yang kemungkinan menjadi korban selanjutnya berhasil kita selamatkan dan kemampuannya ternyata cukup berguna. Kita hanya perlu mencari Dennis Park. Pria itu mungkin mempunyai kemampuan untuk melacak si pembunuh atau semacamnya. Kita tidak pernah tahu, bukan?” jelas Andrew.

Andrew menarik nafas dan mengusap wajahnya frustasi. Ia kembali menatap Victoria dengan lekat. “Tolong cari Dennis Park dengan segera. Kita tidak pernah tahu berapa banyak waktu yang kita butuhkan. Selain itu, entah berapa lama Prof. Jung berhasil melakukannya. Well, kita tidak tahu apakah rencana kita akan berhasil atau tidak. Jadi, tolong Victoria.”

Victoria mengangguk mengerti. Kemudian ia berjalan keluar ruangan Andrew dan menutup pintu secara perlahan. Andrew menyandarkan punggungnya pada kursi dan berusaha untuk menenangkan diri. Semua tekanan ini membuatnya semakin sulit untuk bernafas. Andrew kemudian mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan pada Marc.

Kau dalam perjalanan menuju Skyline? Temui aku di taman atap gedung dan ceritakan mengenai pertemuan dengan dewan direksi. Dan, kumohon jangan membohongiku lagi. Okay.

Andrew.

*****

Marc baru saja memarkirkan mobilnya ketika pesan Andrew masuk. Ia menghela nafas setelah membacanya. Sepertinya keinginan Marc untuk tidak menemui Andrew di kantor harus dipatahkan. Saudaranya itu mungkin akan datang ke ruangannya jika Marc tidak menemuinya di taman atap gedung. Marc mematikan mesin mobil dan melepaskan seatbelt. Kemudian ia meraih tas ranselnya dan memanjat keluar mobil.

Setelah memastikan alarm mobilnya sudah menyala, Marc berjalan menuju lift basemen. Namun, sepertinya Marc merasakan ada seseorang yang tengah memperhatikannya. Langkah Marc terhenti dan memperhatikan lantai basemen parkir tersebut. Tidak ada pergerakan orang. Marc menarik nafas lalu kembali berjalan. Tapi dia kembali merasakan sensasi tersebut. Ada orang yang tengah memperhatikannya.

Secara insting, Marc mempercepat langkahnya menuju lift. Ia mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor bagian keamanan Skyline. Marc menekan tombol dan mendekatkan ujung ponselnya di telinga.

“Security Team. Ada yang bisa kami bantu, Tuan Cho?”

Pintu lift terbuka dan Marc segera masuk. “Periksa lantai B2 dengan segera. Aku merasa ada orang yang sedang mengawasiku. Periksa CCTV dan segera laporkan padaku,” kata Marc. Pintu lift kemudian tertutup dan Marc bisa bernafas lega.

“Segera dilaksanakan, Tuan.”

Marc menghela nafas lalu menekan lantai duapuluhtujuh. Gedung Skyline mempunyai tigapuluhdua lantai dan taman atap gedung berada di lantai duapuluhtujuh. Selain itu di lantai tigapuluhsatu dan tigapuluhdua juga dijadikan ruang terbuka hijau dimana semua pegawai bisa beristirahat sejenak dari rutinitas kerja yang menyesakkan. Tapi Andrew dan Marc lebih sering datang ke taman di lantai duapuluhtujuh karena lebih dekat dengan lantai kerja mereka.

Marc kemudian bersandar pada sisi kotak lift tersebut. Ia memejamkan matanya sejenak dan mengatur nafasnya. Marc mungkin sering-kali merasakan sensasi aneh ketika ada orang asing yang sedang mengawasinya. Tapi sensasi aneh kali ini membuat Marc sedikit ketakutan. Ia merasa orang yang sedang mengawasinya adalah orang yang sangat berbahaya. Marc membuka matanya perlahan.

Mungkinkah pembunuh berantai itu?

*****

Dennis memperhatikan gedung Skyline. Ia berdecak kagum dengan design arsitektur gedung tersebut. Skyline adalah gedung dengan tigapuluhdua lantai yang dirancang agar ramah lingkungan. Semua jendela gedung tersebut diatur dengan menggunakan sistem komputerisasi agar bisa menyesuaikan kebutuhan cahaya, untuk mengurangi pemakaian lampu. Selain itu, jendela tersebut juga bisa mengatur suhu yang sesuai dengan mengikuti suhu diluar gedung. Jika terlalu panas, maka jendela akan terbuka untuk melancarkan sirkulasi udara dan jika terlalu dingin, jendela akan tertutup. Selain itu penggunaan pendingin udara juga sangat diperhatikan.

Skyline juga mempunyai fasilitas tiga buah taman dilantai duapuluhtujuh, tigapuluhsatu dan tigapuluhdua sebagai ruang terbuka hijau dan semua pegawai bisa mengunjunginya. Fasilitas lainnya, di lantai tujuhbelas adalah ruangan rekreasi. Perusahaan menyediakan tiga kamar dengan tempat tidur tingkat dimana pegawai bisa istirahat sejenak, beberapa mesin permainan untuk melepas stress dan ruang bermain untuk anak jika ada pegawai yang membawa anak-anak mereka. Untuk di lantai duapuluhtiga, seluruh ruangan tersebut didesign sesuai keinginan Marc. Di lantai tersebut diperuntukkan bagi team innovator. Jadi, mereka membutuhkan ruang berkreasi untuk mendukung pekerjaan mereka. Mereka bisa bersepeda, bermain golf mini atau bahkan bermain futsal sekalipun. Dengan melakukan beberapa penyesuaian tentunya.

Perusahaan juga menyediakan kafetaria dengan menu-menu yang disesuaikan dengan keinginan pegawai, tapi juga memperhatikan setiap kandungan gizi yang dibutuhkan. Dalam gedung tersebut juga terdapat klinik, bagi pegawai yang tiba-tiba sakit. Selain itu, sistem keamanan Skyline juga adalah yang terbaik. Skyline mempunyai team keamanan yang berpengalaman dan memiliki sistem ketat. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga kerahasian setiap project yang tengah dikerjakan perusahaan. Perusahaan tidak menolerir pencurian proposal ide project baik dari orang dalam maupun luar perusahaan. Dengan semua fasilitas tersebut, Skyline adalah salah satu perusahaan dengan penilaian terbaik untuk mencakup semua aspek di seluruh dunia. Tentu saja, semua perusahaan dibawah Choi Incoporate merupakan perusahaan terbaik.

Dennis menghela nafas. “Sepertinya akan sulit sekali orang luar bisa masuk kesini,” gumamnya.

Saat ini Dennis tengah memperhatikan gedung Skyline dari seberang jalan. Seharusnya Dennis berada di kampus untuk mempersiapkan ujian akhir, tapi dia malah mengawasi Skyline tanpa tujuan.

Dennis kemudian memperhatikan sekitar lingkungan gedung tersebut. Tanpa diduga, dia melihat seorang gadis yang sangat dikenalinya tengah berjalan menuju gedung Skyline. Dennis mengulas senyum lalu berjalan menuju zebra cross. Ia berusaha mengejarnya sebelum gadis itu masuk ke Skyline.

Dennis berlari kecil menghampiri gadis tersebut. “Nona Annabelle Kim.”

Langkah gadis itu terhenti. Dennis berjalan semakin dekat dan tersenyum ketika Anna berbalik menatapnya. Dennis memperhatikan Anna dengan seksama dan tertarik melihat gadis itu memakai sarung tangan putih. Dennis masih tersenyum dengan lembut. Tapi ekspresi Anna terlihat begitu tegang.

“Nona Annabelle Kim, benar?” tanya Dennis. Sekedar untuk memastikan. Anna hanya mengangguk. Dennis mengulurkan tangannya. “Halo, namaku adalah Dennis Park.”

Anna memperhatikan tangan Dennis yang terulur tapi tidak menyambutnya. Dennis tertawa kecil dengan canggung. Sepertinya adalah kesalahan untuk mengulurkan tangan pada Anna. “Ah, maafkan saya jika anda tidak merasa nyaman.”

Anna menggeleng. “Maaf, tapi saya tidak bisa membiarkan orang lain menyentuh saya. Tapi anda mengatakan kalau anda adalah Dennis Park?”

Dennis mengangguk. “Benar. Bisakah kita bicara sebentar? Saya tahu, kau ingin menuju Skyline, tapi ini tidak akan lama. Lagipula kau mungkin membutuhkan bantuanku. Selain itu, anda pasti juga sedang mencariku, bukan? Dennis Park, orang yang memiliki kemampuan melacak manusia.”

Anna terdiam untuk beberapa saat. Ia memperhatikan gedung Skyline yang menjulang tinggi. Anna harus bertemu dengan Andrew. Tapi Dennis Park, orang yang dilihatnya dalam kilasan masa depan kini berada dihadapannya. Menawarkan diri untuk bicara dan juga bantuan. Anna kembali menatap Dennis yang masih tersenyum.

Anna menarik nafas perlahan. “Jika ingin bicara, maka kita perlu bicara dengan Andrew Choi. Kita mempunyai masalah yang sama, bukan? Mengenai pembunuh berantai tersebut.”

Dennis melirik gedung Skyline. Sepertinya asumsinya benar. “Well, kita bisa bicara dengan Andrew Choi nanti. Selain itu, kita tidak mungkin bisa menemui Andrew Choi tanpa membuat janji terlebih dahulu. Jadi, bagaimana kalau kita bicara terlebih dahulu? Lagipula kita masih mempunyai waktu yang cukup.”

*****

Advertisements

3 thoughts on “[MM] Super Human – 1st Story [9]

  1. apa insting marc yg kuat terhadap sesuaty juga salah satu kemampuan yg dia miliki.
    o ya apa marc bukan anak kandung keluarga choi.kenapa namanya cho sendiri?
    lanjut ya

  2. Sdkit Penasaran banget sama apa yang dibicarakan eomma’y Mark sama sang kakek Choi.Semoga akan ttp baik-baik saja.
    Dan Mark akn segera bisa berkumpul dengan kelurganya.Terutama sang eomma.Dan projeck namesis itu segera mndapatkan solusi’y.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s