[MM] Super Human – 1st Story [8]

super human

Chapter Eight

Max menekan bel pintu dan kembali memeriksa secarik kertas yang berisi alamat yang diberikan oleh Andrew ketika mereka bertemu di lobby dua setengah jam lalu. Atasannya itu hanya mengatakan Max harus datang ke alamat tersebut setelah membeli bahan makanan. Walaupun ini bukan termasuk tugas kantor, tapi Andrew mengatakan bahwa ini ada kaitannya dengan super human. Jadi, Max harus mengikuti perintahnya.

Max menghela nafas pendek dan memeriksa lingkungan rumah tersebut. Terletak agak jauh dari Seoul dan memiliki sistem keamanan yang ketat. Sesaat sebelum memasuki area tersebut, ada petugas keamanan yang memeriksa identitasnya. Well, Max tentu mengetahui jelas bahwa lingkungan perumahan tersebut dikelola oleh TransWorld. Selain karena pernah bekerja di TransWorld, Max juga sangat mengenali design setiap rumah di lingkungan tersebut.

TransWorld selalu membuat design rumah yang berbeda dalam satu lingkungan. Selain itu, fasilitas sarana dan pra-sarana serta sistem keamanan yang ketat menjadi nilai tambah pada semua properti yang dibangun oleh TransWorld. Tidak heran, harganya juga cukup mahal walaupun tidak semua. Hanya properti yang dibangun di pusat-pusat kota yang memiliki nilai jual tinggi, tapi untuk di daerah luar, harganya masih bisa dijangkau oleh kalangan menengah.

TransWorld bukan perusahaan properti yang selalu mengandalkan harga tinggi untuk memberi kenyamanan. Perusahaan itu juga menginginkan semua orang bisa tinggal di lingkungan yang nyaman dan baik. Bahkan sejak tiga tahun lalu, TransWorld sudah membangun apartment murah di pinggir kota tapi dengan fasilitas layaknya apartment yang berada di daerah Gangnam bagi masyarakat menengah ke bawah. Project terakhir yang dikerjakan oleh Max sebelum dia pindah ke Skyline.

Max kembali menekan bel pintu. Kemudian tak lama, pintu tersebut terbuka. Max sedikit terkejut, ternyata seorang gadis yang membukakan pintu untuknya. Max sedikit membungkuk canggung lalu membaca secarik keras ditangannya. “Nona Sully Choi?”

“Ne, saya sendiri. Anda…?”

“Ah, namaku Max Shim. Andrew Choi yang mengirimku kesini untuk membawakan bahan makanan,” kata Max sembari memperlihatkan dua buah kantung yang berisi bahan makanan.

Sully mengangguk dan mempersilahkan Max untuk masuk kedalam rumah tersebut. Max melepaskan sepatunya di foyer dan berjalan masuk. Sully mengikuti Max dengan canggung. Gadis itu lalu memperlihatkan dimana dapurnya agar Max bisa menaruh kantung tersebut.

Max memperhatikan seisi ruangan rumah tersebut. Dimana-mana ada kamera CCTV. Sepertinya Andrew perlu menjelaskan sesuatu padanya. Max lalu menaruh kantung tersebut di meja counter dan Sully yang mengaturnya di lemari pendingin. Max memperhatikan gadis itu dengan lekat.

“Maaf, jika aku tidak sopan. Tapi apa kau super human?” tanya Max.

Sully menghentikan kegiatannya sejenak dan menatap Max. Lalu ia mengangguk. “Kemampuanku adalah rapid cellular regeneration. Aku bisa menyembuhkan diri dengan cepat,” katanya yang kemudian meneruskan mengatur bahan makanan yang dibawakan Max. Andrew mengatakan pada Sully kalau dia harus berada di rumah tersebut sampai keadaannya cukup aman. Jadi, untuk segala kebutuhan akan dibawakan oleh seseorang yang dipercaya oleh Andrew atau bahkan Andrew sendiri yang akan datang.

Max mengangguk mengerti. “Ah, begitu. Kemampuanku Presurre Power. Prof. Jung bilang kemampuanku semacam penekan kemampuan super human lain. Jadi, mereka tidak bisa menggunakan kemampuannya jika aku berada di dekat mereka. Tapi itu hanya sampai aku berhasil mengendalikan kemampuanku. Setelah menjalani latihan, aku bisa mengontrol dan menahan kemampuan super human sesuai keinginanku.”

“Jadi, untuk saat ini… Aku tidak bisa menggunakan kemampuanku jika aku terluka?” tanya Sully.

Max hanya tersenyum. “Sepertinya begitu. Jadi, tolong jangan terluka dulu.” Sully pun ikut tersenyum mendengarnya. Well, paling tidak, Sully kini mengetahui bahwa dia tidak sendirian. Ada orang lain yang mempunyai kemampuan spesial seperti dirinya.

Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Max sontak berjalan kearah pintu untuk melihat siapa yang datang. Andrew tidak mengatakan apapun padanya mengenai orang lain yang akan datang. Sully mengikuti di belakang Max dengan sedikit takut. Walaupun Andrew memastikan bahwa orang asing tanpa persetujuan darinya tidak bisa masuk ke rumah tersebut, tapi Sully merasa paranoid setelah mendengarkan penjelasan mengenai pembunuh yang mengincar kemampuannya.

Max menghela nafas lega ketika melihat Victoria yang datang. Wanita itu tersenyum pada Max dan Sully. “Baguslah, kau sudah datang, Max,” katanya pada Max.

“Jangan mengagetkan seperti itu. Andrew tidak bilang kalau kau juga akan datang ke sini,” ujar Max.

Victoria masih tersenyum dan melirik Sully yang berdiri dibelakang Max. “Maafkan kalau kedatanganku mengejutkanmu, Sully-sshi. Namaku Victoria Song. Sebaiknya kita duduk dulu, karena ada beberapa hal yang ingin kujelaskan pada kalian berdua. Andrew harus memastikan bahwa kalian mengerti penuh dengan apa yang akan kujelaskan.”

*****

Anna membalas e-mail dari salah satu penerbit di Berlin tempat dia bekerja sebagai editor. Dua hari lalu, Anna sudah mengirimkan e-mail yang berisi mengenai pengunduran dirinya dari penerbit tersebut. Selama ini Anna bekerja untuk beberapa penerbit di kota Berlin, tapi sejak memutuskan untuk menetap di Seoul, Anna memutuskan untuk berhenti di dua kantor penerbit. Sedangkan Anna masih mempunyai kontrak kerja dengan satu penerbit dimana dia masih harus menyelesaikan dua buku. Walaupun atasannya dari dua penerbit tempat dia bekerja sangat kecewa dengan keputusan Anna untuk berhenti, tapi mereka menyetujui keputusan Anna. Cukup beruntung Anna sudah menyelesaikan pekerjaan terakhirnya di dua penerbit tersebut. Setidaknya, Anna masih bisa bertanggung-jawab atas kepercayaan yang diberikan padanya.

Anna menghela nafas lalu menutup akun layanan e-mail miliknya. Kemudian ia melirik pada satu pigura yang terletak di mejanya. Anna tersenyum tipis saat memperhatikan pigura tersebut. Foto dalam pigura tersebut adalah foto dirinya bersama Sarah saat mereka pergi ke Paris bersama. Itu adalah liburan pertama dan terakhir Anna bersama Sarah setelah mereka pindah ke Berlin. Setelah itu, Sarah terlalu sibuk dengan pekerjaannya di sebuah perusahaan periklanan dan Anna sibuk dengan dunianya sendiri. Mereka hanya sesekali mengobrol saat makan malam, karena Sarah lebih sering menghabiskan waktu diluar rumah.

Anna sendiri sibuk dengan kuliahnya. Walaupun sebenarnya Anna lebih sering menghabiskan waktu di rumah atau perpustakaan kampus. Anna tidak pernah pergi keluar rumah untuk bergaul dengan teman-teman seusianya. Anna lebih nyaman pergi bersama Sarah jika ibunya sedang tidak sibuk. Jadi, Anna tidak mempunyai banyak teman selama di Berlin. Selain beberapa orang yang ditemuinya secara tidak sengaja dan ternyata memiliki kemampuan special seperti dirinya. Bahkan Anna mendapatkan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya sekarang ini dari orang-orang tersebut yang meminta Anna mengambilnya karena mereka ingin hidup normal.

Sebenarnya Anna keberatan karena dalam prosesnya, mereka mengalami kesakitan yang luar biasa bahkan ada dari mereka yang harus dilarikan ke rumah sakit. Sejak kejadian itu, Anna tidak ingin mengambil kemampuan orang lagi. Tapi orang-orang yang mengetahui kemampuannya terus menghubungi Anna dan meminta Anna mengambil kemampuan mereka. Sampai akhirnya, Sarah mengambil keputusan untuk pindah rumah. Selama lima tahun tinggal di Berlin, Anna dan Sarah sudah pindah sebanyak tujuh kali karena orang-orang itu terus menganggu Anna. Namun, karena mereka pindah tidak jauh dari rumah sebelumnya, orang-orang itu masih bisa mencari Anna.

Jika mengingat hal tersebut, Anna sering-kali merasa bersalah pada Sarah. Karena kemampuannya, Sarah harus menjaganya lebih ketat lagi. Sarah sudah sangat sibuk dengan pekerjaannya untuk menghidupi mereka berdua dan Anna malah membuat masalah dengan orang-orang yang mencarinya.

Kembali, Anna menghela nafas lalu memasuki aplikasi skype. Karena David sudah bertanya lagi apakah dia sudah memberitahu Sarah mengenai keputusannya untuk menetap di Seoul, Anna harus menghubungi Sarah lebih cepat dari dugaannya. Anna tidak ingin mengambil resiko David yang memberitahu Sarah secara langsung. Sarah mungkin akan datang ke Seoul dan menarik Anna pulang ke Berlin jika mengetahui keinginannya untuk menetap di Seoul.

Anna tersenyum ketika melihat wajah ibunya melalui layar komputer. Sepertinya Sarah masih pada kebiasaanya membawa pekerjaan ke rumah. Walaupun sepertinya saat ini sudah dini hari di Berlin. “Hi, Mom.”

“Akhirnya, kau menghubungiku. Kau tahu, David masih lebih baik setelah lima tahun tidak berhubungan sama sekali dibandingkan denganmu,” omel Sarah.

Anna masih tersenyum, Sarah selalu bersikap seperti itu padanya. “Sorry, Mom. Aku harus menemui Andrew Choi dulu sebelum bisa menghubungimu.”

“Setidaknya kau bisa mengirim pesan atau e-mail, sayang. Tapi sudahlah, aku masih mempunyai banyak kesempatan untuk memarahimu. Jadi, urusanmu di Seoul sudah selesai?”

Anna sedikit menunduk. “Belum, Mom. Sepertinya lebih lama dari perkiraanku.” Di layar komputer, Anna bisa melihat ekspresi Sarah yang terlihat tidak senang dengan jawabannya. Anna memang sudah berjanji akan segera pulang setelah menemui Andrew, tapi kini Anna mengingkari janjinya sendiri.

“Terjadi sesuatu di Seoul? David tidak mengatakan apapun padaku. Dia hanya memberitahuku mengenai hal-hal biasa, seperti mengenai sikapmu yang masih tertutup pada orang lain dan kebiasaanmu yang menurutnya berubah. Anna, kau mungkin bisa menutupi dari ayahmu, tapi tidak dengan ibumu sendiri,” kata Sarah.

Anna mengangkat kepalanya dan menarik nafas. “Tidak terjadi sesuatu yang buruk. Hanya saja, janjiku pada Mom tidak bisa kutepati. Aku ingin tinggal di Seoul, Mom.”

Sarah tidak mengatakan apapun. Dia hanya menatap Anna dengan tatapan yang sulit diartikan oleh putrinya. Terkadang Anna tidak mengerti kenapa Sarah menatapnya seperti itu. Anna mungkin telah melakukan kesalahan tapi Sarah seolah menghakiminya untuk masalah yang lebih besar.

“Mom..”

Sarah menghela nafas dan memijat keningnya. “Kau ingin tinggal bersama David?”

Anna menggeleng. “Tidak dengan Dad. Aku akan tinggal sendiri, kecuali jika Mom juga memutuskan kembali ke Seoul –yang kupikir sangat tidak mungkin. Aku sedang mencari flat dan juga pekerjaan di Seoul. Dad akan melepas jabatannya dalam beberapa bulan dan segera pindah dari rumah ini, tapi aku akan segera pindah setelah aku menemukan flat yang cocok. Aku sudah bicara pada Dad.”

“Dan David menyuruhmu bertanya mengenai keputusanku?”

Kali ini Anna mengangguk. “Karena Mom yang mempunyai hak asuh atas diriku. Jadi, aku harus bertanya dulu pada Mom. Walaupun sebenarnya aku sudah bisa memutuskan sendiri. Usiaku sudah duapuluhsatu tahun.”

Sarah menarik nafas lagi. Ia membenci kenyataan itu. Putrinya sudah besar dan sudah berhak bertanggung-jawab atas dirinya sendiri. Tapi orangtua mana yang bisa melepaskan anaknya begitu saja. Bahkan jika Anna sudah berusia empatpuluhtahun atau limapuluhtahun sekalipun, Sarah akan menganggap Anna sebagai putri kecilnya. Putri kecilnya yang selalu berusia lima tahun, yang selalu membutuhkan bantuan dan pelukan dari ibunya. Dan keputusan melepaskan Anna untuk menetap di Seoul sedangkan Sarah masih tinggal di Berlin adalah keputusan sulit.

“Mom, aku tahu kalau ini sangat sulit. Tapi Berlin bukanlah rumahku. Perlu lima tahun untukku mengatakan ini padamu. Aku tidak ingin menyakitimu dengan mengatakan kenapa kita tidak tinggal di Seoul. Terlebih setelah Dad terpilih sebagai kandidat Perdana Menteri. Aku tahu, kau masih menyayangi Dad. Tapi ini sudah lima tahun, Mom,” kata Anna pelan. Dia tidak pernah ingin menyakiti Sarah dengan ucapannya ataupun tindakannya. Jadi, selama mereka tinggal di Berlin, Anna berusaha untuk tidak mengeluh mengenai kehidupan mereka. Sarah yang lebih banyak harus beradaptasi dengan kehidupan baru mereka. Bahkan setelah bertahun-tahun Sarah dan David bercerai, Sarah masih belum terbiasa untuk tinggal berdua saja dengan Anna.

Sarah memperhatikan wajah putrinya dengan lekat. “Bisa kita bicarakan ini nanti, sayang? Aku perlu berpikir dulu. Hubungiku setidaknya dua atau tiga hari lagi, okay?”

Anna mengangguk. “Okay. Mom juga harus istirahat. Jangan membawa pekerjaan ke rumah, Mom. Aku tidak suka melihatmu kurang tidur hanya karena pekerjaan. Kontrak kerjamu menuliskan waktu jam kerja hanya empatpuluhlima jam seminggu.”

Sarah tersenyum. “Ini pertama-kalinya, aku mendengarmu protes seperti ini. Sepertinya kembali ke Seoul memang membuatmu menjadi Anna yang dulu. Baiklah, kita mengobrol lagi nanti. Selamat malam, sayang.”

“Selamat malam, Mom.”

*****

Marc baru pulang ketika waktu makan malam dan walaupun dia ingin sekali langsung ke kamar untuk beristirahat, tapi Andrew mempunyai pemikiran lain. Andrew sudah menunggu Marc di ruang tengah sembari membaca beberapa dokumen. Marc menghela nafas dan menghampiri Andrew. Tidak ada pilihan lain kecuali Marc ingin mendengarkan ocehan Andrew di depan pintu kamarnya. Marc menaruh tasnya di lantai dan duduk bersandar di sofa. Ia mengambil remote televisi dan menyalakannya –walaupun sebenarnya Marc bisa saja menyalakan televisi dengan kemampuan technokinesist, tapi Marc lebih menyukai cara tradisional. Sembari mencari acara yang menyenangkan, Marc menunggu Andrew untuk bicara.

Andrew menatap Marc lalu menutup dokumen terakhir yang diperiksanya. Sebelum pulang, Andrew menyempatkan diri untuk ke ruangannya mengambil dokumen yang harus diperiksanya. Dan tidak sengaja bertemu Max di lobby. Akhirnya Andrew meminta tolong pada pemuda itu untuk membelikan bahan makanan untuk Sully. Well, walaupun tidak sepenuhnya terdengar seperti permintaan tolong. Andrew menaruh dokumen itu diatas tumpukan dokumen lain diatas coffee table. Kemudian Andrew berfokus pada Marc yang sedang menonton televisi.

“Kau sudah makan malam?” tanya Andrew. Marc hanya mengangguk. Hal itu membuat Andrew menghela nafas. Apa Marc masih marah padanya? “Jam berapa kau pergi ke kantor pusat?”

Marc menarik nafas lalu menghembuskan perlahan. “Aku akan langsung ke kantor pusat. Mungkin setelah makan siang, aku baru bisa ke Skyline.” Perhatiannya masih tertuju pada layar televisi tapi Marc tidak memperhatikan sepenuhnya apa yang sedang ditontonnya. Dia bahkan tidak tahu acara talk-show itu sedang membicarakan hal apa.

“Baiklah, aku bisa pergi…”

“Aku akan pergi sendiri. Atau meminta Max menemaniku. Kau fokus saja dengan pekerjaanmu. Hari ini kau tidak masuk kerja, bukan? Pekerjaanmu pasti menumpuk,” kata Marc yang memotong ucapan Andrew.

Andrew mengerutkan keningnya. Biasanya Marc selalu memintanya menemani pergi ke kantor pusat. Hal itu dikarenakan Marc tidak menyukai untuk berinteraksi dengan Kakek mereka. Bahkan pada acara keluarga sekalipun, Marc akan berusaha sebisa mungkin tidak bertemu atau mengobrol langsung dengan Kakek mereka. Tapi kali ini Marc akan pergi sendiri –atau mengajak Max. sepertinya Marc memang masih marah padanya.

“Marc, kau masih marah padaku?” tanya Andrew.

Marc menghela nafas. “Tidak. Aku tidak mempunyai hak untuk marah padamu, bukan? Kau menyuruhku untuk memikirkan perasaanmu. Kita melakukan kebohongan untuk hal yang sama, jadi kurasa kita impas. Tapi mungkin aku harus meminta maaf padamu karena telah menutupinya darimu. Jadi, maafkan aku, Andrew. Hanya saja, aku juga perlu mengetahuinya, Andrew. Apa yang kututupi darimu, kau sudah mengetahuinya sedangkan kau tidak mengatakan apapun padaku. Kau dan Victoria tidak menjelaskan apapun padaku. Kau mungkin ingin menunggu sampai semuanya terlihat jelas, jadi aku akan menunggu penjelasan darimu.”

Marc mematikan televisi. Ia lalu mengambil tasnya dan berdiri. Marc melirik Andrew yang tidak mengatakan apapun setelah mendengarkan penjelasannya. Tapi Marc akan menunggu. Itulah hasil pemikirannya.

“Aku mau istirahat dulu. Tolong jangan menganggu…”

“Annabelle Kim, aku tidak pernah bertemu dengan gadis seperti dia. Selama ini aku selalu berpikir kalau mempunyai kemampuan ini bukanlah sebuah masalah asalkan kita bisa mengendalikannya. Tapi hanya dengan melihat gadis itu, aku merasa kemampuan ini adalah kutukan,” kata Andrew berbisik.

Marc memperhatikan saudaranya dengan lekat. Ini adalah salah satu yang ingin diketahui Marc. Apa yang terjadi pada Andrew dan Anna hari ini hingga Andrew terlihat aneh saat di ruangannya. Bahkan sekarang Andrew menganggap kemampuan yang mereka miliki adalah sebuah kutukan dan bukan anugerah seperti yang dulu sering dikatakannya –entah darimana datangnya pemikiran tersebut.

Andrew mengangkat kepalanya dan menatap Marc. Ia tersenyum tipis. “Kurasa kita lebih beruntung dari mereka yang mempunyai kemampuan ini. Kita masih bisa hidup dengan sedikit normal. Tapi berbeda dengan Anna. Gadis itu, karena kemampuannya, menghindari orang lain dan menjalani kehidupannya dengan sulit. Tidak bisa berinteraksi dengan orang lain tanpa merasakan ketakutan kalau mereka akan kesakitan jika menyentuhnya. Atau lebih parah, mereka mungkin bisa mati hanya karena menyentuhnya.”

Marc kembali duduk dan memperhatikan Andrew. “Sebenarnya apa yang kalian bicarakan hari ini?”

“Tidakkah kau melihatnya, Marc? Kau memiliki kemampuan yang hampir sama dengan Anna. Hanya kau lebih beruntung karena kau masih bisa menyentuh orang lain. Tapi gadis itu, setiap menyentuh orang lain, dia hanya akan membuat mereka kesakitan. Dia bahkan tidak bisa memeluk orangtuanya sendiri. Dia tidak bisa membiarkan orang lain yang mengetahui penderitaannya untuk menyentuhnya untuk sekedar memberi semangat,” kata Andrew lagi.

“Kau menyentuh gadis itu?” tanya Marc terkejut.

Andrew mengangguk. Ia menarik nafas dan menghembuskan perlahan. “Aku menyentuh tangannya. Dia memakai sarung tangan seperti saat kita bertemu dengannya kemarin. Setidaknya kami tidak bersentuhan secara langsung, tapi gadis itu tetap saja merasa tidak nyaman.”

Andrew tidak tahu, tapi dia merasa kasihan dengan Anna. Bertahun-tahun, Andrew memiliki kemampuannya, tapi dia belum pernah merasakan penderitaan yang dialami oleh Anna. Mungkin karena perbedaan kemampuan mereka, tapi pada intinya mereka adalah sama. Mereka bukanlah manusia normal, yang akan dipandang aneh oleh mayoritas masyarakat. Mereka adalah bagian minoritas, tidak peduli dengan status sosial mereka dihadapan masyarakat. Bahkan David Kim, yang merupakan Perdana Menteri. Jika kemampuannya diketahui oleh seluruh masyarakat, dia bisa saja dikucilkan. Mereka mungkin tidak jauh berbeda dengan minoritas seksual yang dipandang rendah oleh mayoritas.”

Dari tujuh miliar manusia di bumi saat ini, jumlah mereka mungkin sangat sedikit. Dan kebanyakan dari mereka memilih untuk menutupi kemampuannya dan berusaha hidup dengan normal. Tapi bagaimana dengan mereka yang mempunyai masalah sama seperti Anna? Mereka yang tidak bisa berinteraksi sosial karena kemampuannya? Andrew ingin membantu mereka. Andrew ingin membantu Anna untuk mendapatkan kehidupan yang normal tanpa harus memiliki rasa takut untuk menyakiti orang lain.

Marc masih memperhatikan Andrew yang bergulat dengan pikirannya sendiri. Ia merasa kalau Andrew sedang menyusun rencana lainnya mengenai super human ini. Tapi apakah mereka bisa melakukannya? Apa yang mereka alami bukanlah layaknya sebuah komik super hero. Mereka tidak bisa muncul dengan kostum aneh yang ketat dan membantu orang-orang atau layaknya dilakukan oleh Charles Xavier yang memberikan tempat perlindungan bagi para mutan. Heck, apakah hal itu bisa benar-benar terjadi?

Andrew mungkin mempunyai uang yang cukup untuk melakukan apa yang dilakukan Charles Xavier, tapi itu adalah ide gila. Bahkan untuk team peneliti Steve saja, Andrew harus menyiapkan dalih agar tidak ada yang mencurigai aktifivitas mereka. Well, entah sudah berapa banyak uang yang dikeluarkan oleh Andrew untuk mendukung penelitian tersebut, tapi tidak pernah membuahkan hasil yang signifikan. Mereka hanya berhasil membuat database dari super human yang mereka temukan dan sejauh ini jumlahnya masih terbatas.

“Sekarang apa yang sedang kau pikirkan? Berkaitan dengan Annabelle Kim? Kau ingin membantu gadis itu?” tanya Marc lagi. Andrew kembali menatapnya. “Andrew, aku tahu kau mempunyai rasa kemanusiaan yang tinggi, tapi kau tidak bisa membantu semua orang. Terutama orang-orang yang memiliki kemampuan seperti kita. Tidak semua orang ingin dibantu, Andrew. Terlebih dengan orang asing. Seberapa besar bantuan yang mereka butuhkan, mereka akan mencarinya dari orang yang percaya dan bukan dari orang asing yang baru datang ke kehidupan mereka.” Marc menghela nafas kemudian ia meneruskan ucapannya.

“Apa yang kau lakukan dengan Steve –dan ayahnya dulu, tujuan pertamamu adalah untuk membantuku, bukan? Itu karena kemampuanku. Aku tidak tahu bagaimana mengendalikan setiap kemampuan yang kumiliki, maka dari itu kau membuat team peneliti untuk mencari tahu mengenai semua kemampuan itu. Hanya demi menolongku. Kemudian tujuan itu berubah menjadi lebih besar. Kau ingin menolong semua orang. Kau mungkin mempunyai banyak uang. Kau bisa mencari sumber daya yang kau butuhkan dengan uang tersebut. Tapi apa pernah kau memikirkan bagaimana orang lain melihat tindakan yang kau lakukan untuk mereka? Sekarang, cobalah kau pikirkan itu, Andrew. Termasuk mengenai si pembunuh itu. Kita tidak tahu apa tujuannya membunuh dan mengambil kemampuan super human lainnya dengan memakan otak mereka. Setidaknya, dia bukanlah prioritas kita untuk saat ini.”

Marc kembali berdiri dan mengambil tasnya. Lalu ia berjalan meninggalkan Andrew yang membisu setelah mendengarkan ucapan Marc. Ini adalah pertama-kali bagi Andrew mendengarkan apa yang Marc pikirkan sebenarnya. Selama lebih dari delapan tahun mereka tinggal bersama, Marc jarang sekali mengeluarkan argumennya pada Andrew kecuali jika Andrew sudah melewati batas. Marc cenderung menuruti hampir semua ucapan Andrew. Terkadang membuat Andrew lupa kalau Marc sudah dewasa. Tapi hari ini, Marc memperlihatkan sisi dirinya yang tidak pernah dilihat Andrew sebelumnya.

Andrew kemudian tersenyum. “Well, dia sudah semakin dewasa. Aku bahkan tidak menyadarinya.”

*****

Pria itu kembali ke coffee shop tersebut. Tapi dia tidak melihat gadis yang dicarinya. Pria itu sudah memastikan sebelumnya bagaimana jadwal pekerjaan Sully Choi di coffee shop. Selain itu, pria itu juga mengawasi dorm sang gadis. Nyatanya, Sully Choi tidak kembali ke dorm setelah dari kampusnya. Pria itu menarik nafas dan merapatkan topi hitam miliknya. Setidaknya ia harus memastikan sendiri. Pria itu berjalan memasuki coffee shop.

Seorang pramusaji menyambutnya. Pria itu mengatakan minuman yang biasa ia pesan selama beberapa hari terakhir. Setelah membayar pesanannya, pria itu memperhatikan sekeliling coffee shop. Situasinya berjalan normal seperti sebelumnya. Dan seharusnya Sully Choi berada dibalik meja kasir dan menerima pesanannya. Kemudian sang pramusaji mengatakan bahwa pesananya sudah siap. Pria itu berbalik dan mengambil minumannya. Pria itu menatap sang pramusaji. “Boleh aku bertanya? Pegawai lainnya yang bernama Sully Choi, apakah dia tidak masuk kerja hari ini?”

“Ah, Sully? Hari ini dia sudah berhenti. Sepertinya dia sudah mendapatkan pekerjaan baru. Anda mengenal Sully? Ada hubungan apa anda dengannya?” tanya sang pramusaji dengan penuh selidik.

Pria itu berusaha tersenyum. “Aku hanya mengenalnya. Terima kasih atas minumannya.”

Sang pramusaji mengangguk. Kemudian pria itu berjalan keluar dari coffee shop dengan ekspresi marah. Rencana yang sudah dipersiapkannya selama satu minggu terakhir menjadi berantakan. Gadis itu pergi dan sang pria harus menjalankan rencananya dari awal.

Pria itu berjalan menuju jalanan yang gelap jauh dari keramaian. Ia membuang gelas minumannya begitu saja tanpa diminum sebelumnya. Ia berpikir bagaimana bisa Sully Choi keluar dari pekerjaannya di coffee shop tersebut dan menemukan pekerjaan baru. Gadis itu terlalu sibuk dengan kuliahnya. Pria itu selalu mengawasinya. Namun, hanya dalam satu hari gadis itu menghilang dari pengawasannya.

Langkah kaki pria itu terhenti di tengah gang yang gelap. “Ada orang lain yang menyelamatkan gadis itu. Orang yang mengetahui bahwa gadis itu dalam bahaya. Orang dengan kemampuan melihat masa depan. Dan orang itu yang menyembunyikan Sully Choi. Cerdik sekali.”

*****

Dennis Park memperhatikan sebuah papan tulis besar yang berada di sebuah ruangan dipenuhi oleh buku-buku yang disimpan dalam rak besar. Selain itu ada seperangkat komputer yang diletakkan disisi lain ruangan dan beberapa funitur lainnya. Ruangan itu terlihat seperti ruangan kerja hanya saja dengan design yang lebih minimalis. Dennis memperhatikan setiap potongan berita mengenai pembunuhan beberapa bulan terakhir. Pembunuhan berantai yang mengincar otak para korbannya. Disisi lain papan tersebut terdapat peta Korea Selatan yang besar dengan titik dan garis merah yang menandakan tempat dimana pembunuhan itu berlangsung. Dan pada sisi lainnya, Dennis menempelkan beberapa foto diantaranya foto Andrew Choi, Marcus Cho, dan David Kim serta beberapa orang lainnya dengan label khusus.

Dennis beralih pada sisi yang terdapat foto-foto tersebut. Dia memperhatikan foto Andrew dan Marc selama beberapa detik, lalu beralih pada foto David Kim. Dennis Park memiliki kemampuan clairvoyance yaitu kemampuan untuk mengetahui dimana keberadaan seseorang hanya dengan melalui foto atau apapun benda lainnya yang dimiliki oleh yang dicari, bahkan dia juga bisa mendeteksi apakah orang itu adalah super human atau bukan dengan media yang sama. Dennis menghela nafas.

“Situasinya pasti akan jauh lebih buruk,” gumamnya.

Kemudian Dennis beralih pada meja dengan seperangkat komputer miliknya dan memulai pekerjaannya. Sejak pembunuhan pertama terjadi, Dennis sudah berusaha melacak keberadaan sang pembunuh. Tapi pembunuh itu cukup cerdik untuk menutupi jejaknya. Selain itu, pembunuh itu juga memilih lokasi yang berjauhan dan tidak memiliki kaitan apapun hingga polisi kesulitan mencari jejaknya.

Dennis memperhatikan layar komputernya yang menampilkan berita dari pembunuhan terakhir. Dan waktu sudah berlalu selama empat hari sejak pembunuhan tersebut. Dennis kemudian membuka catatannya mengenai jarak setiap antar-pembunuhan. Lagi-lagi sang pembunuh cukup cerdik dengan dengan mengacaukan jarak waktu setiap pembunuhan yang dilakukan, bahkan untuk memeriksa waktu kematian korban, sulit untuk dilakukan tim forensik. Pembunuh itu sepertinya memang berencana untuk mengacaukan penyelidikan polisi.

“Pembunuh itu mungkin sedang mengincar korban lainnya. Dan dia memerlukan waktu untuk menyusun rencananya. Waktu pembunuhan Chase Lee dengan pembunuhan sebelumnya hanya berjarak dua minggu. Itu artinya si pembunuh dapat menyusun rencana dalam waktu singkat. Selain itu, tempat pembunuhannya juga cukup jauh. Mungkinkah..”

Dennis kemudian menoleh pada papan besarnya. Ia berjalan mendekat sembari memperhatikan peta besar tersebut. Dennis mengetuk-ketukan kota Busan dengan jemarinya. Kemudian ia beralih pada beberapa kota yang mempunyai pelabuhan dan satu jalur lurus dengan Busan. Ada beberapa kota yang berada dekat dengan pelabuhan, tapi Dennis merasa kalau pembunuh itu tidak pergi ke kota-kota tersebut karena terlalu dekat dengan lokasi pembunuhan sebelumnya.

“Mungkinkah dia pergi ke Seoul?” gumamnya lagi. Dennis memperhatikan beberapa kota yang berdekatan dengan Seoul. Kemungkinan besar pembunuh itu akan pergi ke kota yang jauh lebih dekat dengan Seoul karena selama ini, si pembunuh sudah hampir berkeliling Korea Selatan. Dennis mengusap dagunya lalu melirik kearah foto-foto yang ditempelnya.

“Mungkinkah mereka akan menjadi salah satu korban dari pembunuh itu? Andrew Choi, Marcus Cho dan sang Perdana Menteri. Tapi rasanya tidak mungkin. Ketiga orang tersebut mempunyai tingkat keamanan yang ketat. Hahh.. Andai saja aku mengenal orang dengan kemampuan melihat masa depan. Itu akan membantuku jauh lebih banyak,” gumam Dennis.

Ia lalu memperhatikan foto David Kim dan teringat kalau putri dari sang Perdana Menteri sedang berada di Seoul. Jika ayahnya adalah seorang yang memiliki kemampuan, ada sedikit kemungkinan keturunannya juga akan memiliki kemampuan. Kasus-kasus yang ditemui Dennis semakin menguatkan hipotesisnya walaupun ia masih sedikit meragukannya. Karena hanya sedikit dari orang-orang yang diketahui Dennis memiliki kemampuan super, begitu juga dengan saudaranya atau relasi yang mempunyai hubungan darah.

Dennis lalu kembali ke meja kerjanya dan mulai mencari informasi mengenai putri David Kim. Setelah menemukan foto yang terkini, Dennis menarik nafas lalu menyentuh layar komputernya. Walaupun bukan foto fisik secara langsung, tapi Dennis masih bisa berkonsentrasi dengan wajah gadis tersebut. Dennis menutup matanya dan berkonsentrasi. Tiga detik berikutnya, Dennis membuka mata dan menarik jemarinya. Ia kembali memperhatikan foto putri David Kim dan tersenyum lebar.

“Halo, Nona Annabelle Kim. Senang berkenalan denganmu.”

*****

Advertisements

6 thoughts on “[MM] Super Human – 1st Story [8]

  1. wow dennis muncul . . Bisa berkomunikasi lewat pikiran juga yah . . Aku malah penasaran kalau kyuhyun sama anna bersentuhan, yg kalah menang siapa? Atau gak bereaksi, walaupun kemampuan anna bisa buat tersakiti, tapi kan mereka sama2 bisa menyerap kemampuan . .

  2. akhirnya keluar juga super human part 8… gomawo diera eonni heheheh…..
    semakin seru nich… kadang super human bikin deg2an bingits… dennis park itu siapa eonni?
    semangattt eonni…

  3. Semoga Denis itu..segera mungkin bertemu dengan Anna.Atau siapapun super human yang sedang mencarinya.Tentu saja yang pnya maksud baik.

    Deg-degan terus.Gmna kelanjutannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s