[SF] Scarface Part 24

Scarface

24

Zitao bergantian memperhatikan Yifan dan Joonmyeon. Walaupun keduanya hanya diam, tapi Zitao bisa merasakan ada sesuatu ketegangan diantara keduanya. Zitao menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Rasanya dia datang disaat yang tidak tepat.

“Zitao…”

Sontak Zitao mengangkat kepalanya dan menatap Sara yang memanggilnya. “Ya, Bibi?”

“Ada apa denganmu? Apa kau tidak menyukai makanannya?” tanya Sara dengan ekspresi khawatir.

Yifan dan Joonmyeon memperhatikan Zitao dengan lekat. Hal itu membuat Zitao menjadi salah tingkah. Zitao tersenyum dan menggeleng. “Tidak, Bibi. Aku menyukai makanannya. Mungkin hanya terlalu lelah,” ucapnya.

Yifan mengernyit. “Selama di pesawat, kau hanya tidur. Apanya yang lelah?”

“Yifan!” tegur Sara.

Yifan mendengus lalu kembali melanjutkan makan. Joonmyeon sendiri masih memperhatikan Zitao yang hanya terkekeh. Kemudian Joonmyeon menoleh pada Sara. Sara menyadari kalau Joonmyeon sedang menatapnya. “Ada apa Joon?”

“Uhm… Mengenai hasil pemeriksaan. Akhir minggu ini, bukan?” tanya Joonmyeon.

Sara mengangguk. “Mom ingat, Joon. Kita akan pergi bersama untuk bertemu dengan dokter lagi. Appa juga akan ikut.”

“Appa juga ikut?”

Sara kembali mengangguk. Kali ini Yifan yang memperhatikan Joonmyeon dengan lekat. Tapi dia tidak mengatakan apapun. Yifan ingat kalau Joonmyeon pergi ke rumah sakit saat dia pergi ke Guangzhou.

Apa mungkin…?

“Jangan terlalu khawatir Joon,” ucap Sara lagi.

Joonmyeon hanya tersenyum tipis dan melanjutkan makan siangnya. Namun, dia melirik Yifan yang memperhatikannya terus. Joonmyeon lalu menunduk berusaha untuk menghindari tatapan Yifan tersebut.

*****

Kyuhyun mendengus jengkel mendengarkan ucapan Eommanya. Dia baru saja sampai di rumah dan Eommanya langsung mengomelinya. Hell, Hyukjae bahkan masih belum pergi. Kyuhyun malu bukan main. Dia sudah tigapuluhdua tahun tapi semua keluarganya masih memperlakukannya seperti dia masih tujuhbelas tahun. Itu menyebalkan. Sangat menyebalkan.

“Eomma… Aku baik-baik saja. Tidak ada luka apapun. Bisakah Eomma tidak mengomeliku seperti aku ini masih tujuhbelas tahun? Oh, ayolah… Hyukjae memperhatikan!” protes Kyuhyun.

Kim Hannah menghela nafas jengkel dan melirik kearah Hyukjae yang terlihat canggung. Kemudian Hannah kembali menatap Kyuhyun. “Arraseo. Untuk kali ini, kau terbebas. Tapi nanti malam, Appa-mu masih ingin bicara. Naiklah ke kamar. Eomma akan menyiapkan makan siang. Hyukjae-sshi, kau akan makan siang bersama kami.”

“Eh, tapi aku harus…”

Kyuhyun menoleh padanya. “Kau tidak akan bisa menolak, Hyukjae. Eomma bilang “akan” itu artinya kau harus makan siang juga. Ayo naik ke kamarku. Ada yang ingin kuberikan padamu.”

Kemudian Kyuhyun langsung menuju tangga. Hyukjae menghela nafas dan mengikuti Kyuhyun menuju kamarnya di lantai dua. Well, ini pertama-kali bagi Hyukjae melihat Kyuhyun diperlakukan seperti itu oleh keluarganya. Hyukjae memang pernah melihat cara Ahra memperlakukan Kyuhyun, tapi dia tidak menyangka kalau semua anggota keluarga yang lain juga melakukan hal yang sama pada Kyuhyun.

“Jangan mengatakan apapun di kantor mengenai hal yang baru saja kau lihat. Semua keluargaku sepertinya menghentikan usiaku di angka tujuhbelas. Jadi, walaupun sudah limabelas tahun berlalu, bagi mereka, aku ini masih tujuhbelas tahun,” tukas Kyuhyun yang berjalan menuju kamarnya.

Hyukjae menggumam pelan. “Kurasa tidak berbeda jauh dengan Eomma-ku. Dia masih memperlakukan seperti aku berusia duapuluh-an. Ah, walaupun akhir-akhir ini dia sering-kali mengeluh karena aku belum menikah.”

Kyuhyun melirik Hyukjae dan mendengus. “Kau masih beruntung karena Eomma-ku bahkan tidak bertanya kapan aku menikah. Rasanya aku tidak akan pernah bisa menikah. Eomma pasti beralasan aku masih dibawah umur,” tukasnya lalu membuka pintu kamarnya.

“Termasuk saat kau masih bersama Haesa? Eomma-mu tidak bertanya satu-kali pun kapan kau berencana untuk menikahinya?” tanya Hyukjae.

Tapi Kyuhyun mengabaikan pertanyaan tersebut. Kyuhyun berjalan masuk terlebih dahulu. Dia melemparkan tas yang dibawanya ke atas tempat tidur. Kyuhyun lalu menuju meja kerjanya dan mencari usb yang diberikan oleh Haneul. Hyukjae berjalan menghampirinya.

“Apa yang kau cari?” tanya Hyukjae.

Kyuhyun menemukan usb tersebut. Lalu dia memperlihatkannya pada Hyukjae. “USB yang diberikan oleh Haesa melalui Haneul. Aku hanya memberikan ini padamu. Jadi, jangan mengatakan apapun pada yang lainnya.”

Kyuhyun menyodorkan usb tersebut pada Hyukjae.

“Apa kau ingin aku membaca dan mempelajari data yang diberikan oleh Haesa?” tanya Hyukjae.

Kyuhyun menghela nafas dan menaruh usb itu ditangan Hyukjae. “Ani. Aku memberikan ini padamu agar kau menyimpannya dengan aman. Aku sudah mempunyai back-up datanya. Tapi aku ingin kau menyimpan yang asli. Kau tidak boleh membacanya, mengerti? Apapun yang terjadi, kau tidak boleh membacanya. Aku akan membicarakan masalah kasus Seon Hwan dengan Pengacara Kang. Jadi, aku ingin kau tidak ikut campur.”

Hyukjae memperhatikan usb yang kini berada ditangannya. Kemudian dia menatap Kyuhyun. “Kyuhyun, jika Haesa dan Haneul sudah memberimu peringatan bukankah kasus ini sangat berbahaya. Apa kau masih ingin meneruskannya?”

“Itu tergantung pada keputusan Pengacara Kang. Tapi aku sudah mempelajari kasus Seon Hwan selama beberapa minggu. Selain masalah yakuza itu, rasanya tidak akan ada masalah apapun jika Pengacara Kang ingin meneruskannya,” tutur Kyuhyun.

“Kyuhyun…”

“Percaya saja pada Pengacara Kang. Lagipula kau sendiri mengatakan kalau Pengacara Kang tidak akan mengambil resiko besar yang membahayakan pegawainya, bukan? Selain itu belum ada keputusan akhir,” ucap Kyuhyun lagi.

Hyukjae menghela nafas panjang. “Aku akan menyimpannya untuk saat ini. Tapi jika ada masalah, aku akan membacanya tidak peduli kalau kau akan membunuhku nantinya.”

“Lakukan sesukamu. Tapi untuk saat ini, jangan membacanya atau aku akan benar-benar membunuhmu,” sahut Kyuhyun.

Hyukjae mendesis jengkel dan menyimpan usb itu pada saku dalam jas hitamnya. “Tetap saja aku mempunyai firasat buruk tentang ini. Ah, apa Choi Siwon tahu kalau kau sedang menangani kasus Seon Hwan?”

Kyuhyun menatap Hyukjae dengan lekat. “Uhm.. Tadi dia sempat melihat pesan dari Haneul dan sepertinya dia ingin bertanya mengenai kasus itu. Kenapa?”

“Ani. Jika dia tahu, mungkin dia akan mengirimkan orang untuk mengawasimu. Terlebih kau ini adalah orang disukainya. Choi Siwon tidak akan membiarkanmu terluka, Cho Kyuhyun.”

*****

Siwon memeluk Jinri dengan erat. Eommanya tidak mengatakan apapun saat dia datang dan hanya menyuruhnya berganti pakaian dan istirahat. Sepertinya Jinri mengatakan hal-hal baik agar Eommanya tidak mengomeli Siwon. Jinri berusaha melepaskan diri dari pelukan Siwon, tapi kakak lelakinya mengabaikannya. Changmin sendiri hanya terkekeh melihat tingkah kedua saudara sepupunya.

“Oppa!! Aku tidak bisa bernafas!!” seru Jinri sembari memukul punggung Siwon.

Siwon sedikit melonggarkan pelukannya dan mencium pipi Jinri. “Gomawo, Choi Jinri. Kau benar-benar menyelamatkan nyawa kakakmu ini.”

“Terserah! Tapi lepaskan pelukanmu!! Tidak biasanya kau memeluk begini walaupun kau sangat berterima-kasih padaku. Apa yang terjadi padamu, eh? Sepertinya kepalamu itu terbentur keras sekali hingga sikapmu jadi aneh seperti ini. Yak, Choi Siwon! Lepaskan!!”

Changmin tertawa. “Biarkan dia begitu, Jinri. Kurasa dua hari di rumah sakit benar-benar membuatnya menjadi sedikit gila. Dia tidak terbiasa berada di rumah sakit untuk waktu yang lama.”

“Changmin Oppa!! Kau sama sekali tidak membantu! Ayolah… bantu aku melepaskan pelukannya! Aku benar-benar kesulitan bernafas!!” omel Jinri.

Changmin menarik nafas lalu menghampiri Siwon dan Jinri. Kemudian dia menarik tubuh Jinri dari pelukan Siwon. Hanya butuh lima detik hingga Jinri bisa bernafas dengan baik. Jinri menatap Siwon dengan kesal lalu berjalan keluar kamar kakaknya tersebut. Siwon sendiri hanya tertawa kecil melihat ekspresi kesal adiknya.

Changmin memperhatikannya. “Kau sengaja melakukannya.”

Dan itu bukanlah pertanyaannya. Siwon menatap Changmin dan kembali tertawa. Changmin mendesis lalu berjalan menuju tempat tidur Siwon dan berbaring diatasnya. “Kau memang benar-benar gila, Choi Siwon.”

Siwon ikut berbaring diatas tempat tidurnya. “Sejak kau bilang kalau aku ini gay, aku memang sudah gila karena mengakuinya, Shim Changmin.”

Changmin meliriknya. “Sebenarnya aku menganggapmu gila sudah lama sekali. Sejak kau menjual Danwon Inc. lebih tepatnya. Kakek dan Ayahmu bahkan tidak bisa mengatakan apapun karena mereka terlalu terkejut dengan kelakuanmu itu.”

“Danwon sudah tidak bisa memberikan profit apapun pada Choi Group. Jadi, lebih baik dijual, bukan? Walaupun saat ini Danwon sudah lebih baik dari tujuh tahun lalu, tapi saat itu menjualnya adalah keputusan yang terbaik,” tukas Siwon.

Changmin memejamkan matanya. “Terserah.”

Kemudian suasananya begitu sunyi. Siwon sendiri hanya menatap langit-langit kamarnya. Changmin bernafas dengan teratur. Rasanya begitu aneh karena mereka tidak terbiasa dengan kesunyian seperti itu.

“Apa kabarnya?” tanya Siwon pelan.

Changmin membuka matanya. “Baik. Kurasa.”

“Kenapa kau tidak melihatnya lagi? Dia hanya berjarak empatpuluhdua toko dari pintu utama. Tapi kau selalu mengambil rute yang berbeda.”

Changmin menarik nafas. “Itu hanya akan menyulitkannya jika aku pergi melihatnya. Dan kenapa kau tiba-tiba bertanya mengenainya?”

“Tidak tahu. Mungkin karena kini aku bisa merasakan apa yang kau rasakan sebelumnya? Dulu, aku pernah mengatakan padamu untuk membawanya pergi jauh jika kau benar-benar serius, bukan?”

“Dan aku mengatakan kalau kau gila.”

Siwon tertawa kecil. “Sekarang aku yang ingin membawa Kyuhyun pergi, karena aku benar-benar serius.”

Changmin menoleh dan memperhatikan Siwon. “Kau benar-benar menyukai Kyuhyun?”

“Sepertinya begitu.”

“Kau ingin mengatakannya pada anggota keluarga yang lain? Yunho dan Sooyoung tidak keberatan,” tutur Changmin.

Siwon terdiam sejenak. “Eomma… Walaupun dia pernah mengatakan tidak apa jika aku gay, asalkan aku menikah tapi aku tahu itu hanya sebuah ke-putus-asaan. Mereka ingin aku menikah agar keturunan Choi bisa terus berlanjut. Apa kau pikir mereka bisa menerima kalau aku benar-benar gay?”

“Kurasa akan ada sedikit masalah. Hahh…. Aku benar-benar membuat masalah dengan lelucon gay itu, ya?” tukas Changmin.

Siwon mendengus. “Kau baru menyadarinya sekarang?”

*****

Joonmyeon membuka jendela balkon kamarnya. Dia membiarkan udara dingin masuk kedalam kamarnya. Walaupun bukan keputusan yang tepat, tapi Joonmyeon tidak peduli. Joonmyeon menarik nafas panjang dan mengingat apa yang dikatakan oleh dokter Ji Changwook. Joonmyeon tidak menderita penyakit yang parah.

Joonmyeon mempercayai ucapan dokter tersebut. Seperti yang dikatakan oleh dokter itu, seorang dokter tidak akan membohongi pasiennya tentang penyakit yang dideritanya. Namun, Joonmyeon masih belum tenang sebelum dia mendapatkan hasil tes pemeriksaanya.

Akhir minggu itu masih tiga hari lagi.

“Sepertinya kau dan Yifan mempunyai kebiasaan yang sama.”

Suara itu mengagetkan Joonmyeon. Dia berbalik dan menatap Zitao berdiri diambang pintu kamarnya. Zitao tersenyum tipis lalu berjalan masuk. Tidak lupa, Zitao juga menutup pintu tersebut.

“Ini masih musim dingin, tapi sepertinya kalian berdua sama-sama menyukai jendela yang terbuka untuk membiarkan udara dingin masuk kedalam kamar,” tukas Zitao yang berjalan menghampiri Joonmyeon.

Joonmyeon menarik nafas lalu menutup jendela balkon kamarnya. Dia lalu menatap Zitao yang kini berdiri dihadapannya. “Ada yang bisa kubantu, Zitao-sshi?”

“Ah, jangan memanggilku begitu. Aku lebih muda dua tahun darimu, Joon. Jika boleh kupanggil begitu. Atau kupanggil Joon gege?” tukas Zitao.

Joonmyeon terdiam sejenak. “Joonmyeon hyung. Panggilan “gege” masih terdengar asing bagiku.”

Zitao mengangguk. “Baiklah, hyung. Dan kau bisa membantuku, hyung.”

“Apa yang perlu kubantu?” tanya Joonmyeon lagi.

Zitao tersenyum tipis. “Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku. Mengenai perasaan Yifan padamu. Kau benar-benar mengabaikannya?”

Joonmyeon tidak menjawab apapun. Zitao menarik nafas dan memperhatikan sekeliling kamar Joonmyeon. Lebih rapi dari kamarnya di Guangzhou. Bahkan dibandingkan dengan Yifan, Joonmyeon jauh lebih rapi. Kemudian Zitao mendapati sebuah lukisan yang diyakininya adalah lukisan Yifan.

Well, Yifan hampir tidak pernah melukis untuk siapapun, termasuk anggota keluarganya. Dia lebih banyak melukis untuk menyalurkan apa yang sedang dirasakannya. Tapi melihat Yifan –secara pribadi– melukis untuk Joonmyeon, Zitao bisa menebak kalau sepupunya itu sudah sangat tergila-gila pada Joonmyeon.

Zitao kembali tersenyum. “Itu lukisan buatan Yifan, bukan?”

Joonmyeon melirik kearah lukisan yang dimaksud Zitao. Joonmyeon kembali menatap Zitao dan mengangguk.

“Yifan benar-benar menyukaimu ternyata. Kupikir dia hanya bergurau mengenai seorang pemuda dari kelas Musik yang disukainya. Tapi melihatnya memberikan lukisan untukmu, dia benar-benar serius dengan perasaannya,” ucap Zitao lagi.

Joonmyeon menarik nafas panjang. “Zitao, sebenarnya apa yang….”

“Tolong jangan menyakitinya. Yifan mungkin memang bersikap bodoh karena dia merelakan hatinya terluka demi menyukaimu, tapi bisakah kau berhenti membuatnya berdarah? Aku bicara sebagai sepupunya, dan juga sepupumu. Yifan akan terus menyukaimu walaupun kau selalu mendorongnya pergi jauh. Jangan lakukan itu. Perlakukan saja dia seperti saudara tirimu, tidak peduli dengan perasaannya saat ini. Perhatikan dia seperti saudaramu sendiri. Kurasa itu yang terbaik saat ini,” tutur Zitao.

Joonmyeon akhirnya menghembuskan nafas. Entah berapa lama dia menahan nafas seperti itu. “Aku berusaha sejak hari pernikahan orangtua kami, Zitao. Aku selalu berusaha untuk memperlakukannya layaknya seorang saudara, tapi dia yang membuatku sulit. Bahkan hingga hari ini pun aku masih berusaha melakukannya.”

“Kau hanya perlu berusaha lebih keras, hyung. Kalian sama-sama anak tunggal, jadi kurasa kau tahu bagaimana kesepiannya seorang anak tunggal terlebih dengan satu orangtua. Selain itu, Yifan juga tinggal jauh lama sekali dari ibunya. Sepupuku itu hanya terlihat seram diluar, tapi dia rapuh. Jika kau tidak mempunyai perasaan seperti yang dirasakan oleh Yifan, yakinkan dia mengenai perasaanmu itu. Awalnya mungkin akan sulit, tapi Yifan pasti bisa mengerti. Dia akan menyimpan perasaan itu sendiri sampai dia menemukan orang lain untuk menggantikanmu. Hingga waktu itu tiba, maka tegaskan perasaanmu sendiri.”

Zitao menghela nafas berat lalu berjalan keluar kamar Joonmyeon. Joonmyeon sendiri masih terdiam. Dia berusaha mencerna setiap kalimat yang diucapkan oleh Zitao. Joonmyeon menghela nafas sembari mengusap wajahnya. Rasanya bertambah lagi masalah dibahunya. Sepertinya kedatangan Zitao malah memperburuk situasi diantara Joonyeon dan Yifan.

Joonmyeon menutup matanya dengan telapak tangannya dan menarik nafas panjang. Namun, dia merasa ada sesuatu di hidungnya. Joonmyeon mengusapnya dan melihat bercak darah di jemarinya.

Sontak Joonmyeon langsung berlari menuju kamar mandi. Dia memperhatikan refleksi dirinya di cermin. Wajahnya yang pucat serta hidungnya yang berdarah. Joonmyeon lalu menyalakan keran wastafel dan membersihkan darah itu dari jemari tangan serta hidungnya.

Setelah memastikan darahnya sudah tidak ada, Joonmyeon mematikan keran tersebut. Dia kembali menatap refleksi dirinya.

“Sebenarnya aku ini sakit apa?”

*****

Luhan menghela nafas panjang. Dia memperhatikan Yifan yang hanya memandangi mug berisi coklat panas ditangannya. Sebenarnya Luhan datang karena ingin bertanya pada Joonmyeon mengenai liburan ke Bangkok yang disebutkan oleh Yixing, tapi saat melihat ekspresi Yifan yang membukakan pintu untuknya, Luhan akhirnya menahan diri.

Luhan memperhatikan halaman belakang rumah tersebut. Semuanya ditutupi oleh salju. Bahkan kursi taman yang sedang dia duduki saat ini terasa dingin sekali walaupun Sara sudah menyiapkan bantal serta selimut. Heck, kenapa Yifan malah mengajaknya duduk ditempat seperti ini.

“Zitao juga disini?” tanya Luhan.

Yifan mengangkat kepalanya. Dia menatap Luhan dan mengangguk. Lagi, Luhan menghela nafas panjang.

“Sebenarnya ada apa denganmu? Pulang dari Guangzhou, kau malah terlihat habis menghadiri pemakaman. Ekspresi wajahmu suram sekali,” tukas Luhan.

Yifan mearik nafas. “Ingat Zhang Shi Liu?”

“Zhang Shi Liu? Kau memang pernah bercerita tentangnya? Aku tidak ingat kau pernah menyebut namanya,” sahut Luhan.

Yifan lalu tertawa kecil karena menyadari kebodohannya. “Ah, benar juga. Maaf, aku tidak pernah menceritakan tentangnya padamu. Lupakan saja.”

“Mwoya?! Yak, kenapa dengan gadis itu? Mantan kekasihmu?” tanya Luhan.

Yifan meneguk coklat panasnya beberapa-kali. “Bukan mantan kekasih. Hanya sekedar crush? Atau cinta pertama? Entahlah..”

“Cinta pertama? Woah, aku tidak menyangka kalau cinta pertama-mu adalah seorang gadis. Melihat kau begitu menyukai Joonmyeon, kupikir cinta pertama-mu juga seorang pria. Lalu?”

Yifan menghela nafas. “Aku tidak ingin menceritakannya, Lu. Tapi kupikir kau yang harus bercerita banyak padaku. Kenapa kau datang, Lu?”

“Jangan mengalihkan pertanyaan, Yifan. Tapi baiklah, jika kau tidak ingin menceritakannya. Sebenarnya aku datang ingin bertemu dengan Joonmyeon. Mengenai liburannya ke Bangkok. Yixing bercerita kalau dia dan teman-temannya akan pergi liburan. Jadi, aku berencana untuk ikut bersama mereka,” tutur Luhan.

Yifan mengernyit. “Yixing mengajakmu pergi liburan dengan kelas Musik?”

Luhan menyeringai. “Dia tidak mengajakku. Aku sendiri yang ingin ikut. Lagipula pergi ke negara tropis disaat musim dingin seperti ini rasanya sangat menyenangkan. Lagipula aku lebih banyak tinggal di dorm.”

“Tidak pergi ke Beijing?”

“Dan mendengarkan ocehan ayahku mengenai universitas dan perusahaan? Kurasa tidak, terima kasih. Tapi jika aku tidak bisa ikut ke Bangkok, mungkin aku akan pergi ke negara lain. Singapura? Atau bahkan pergi ke Bali. Kau mau ikut?” ajak Luhan.

Yifan mendengus lalu menggeleng. “Dan menjadi translator untukmu? Kurasa tidak, terima kasih.”

Luhan mendesis. “Wae?!! Lebih baik pergi liburan sebelum masuk sekolah daripada tetap di rumah dan merasa depresi. Setidaknya, Joonmyeon mempunyai waktu seminggu untuk bersenang-senang sebelum dia mempersiapkan ujian masuk universitas. Ayolah, pergi liburan bersamaku.”

“Pergi sendiri saja, Xi Luhan.”

*****

Siwon memperhatikan ekspresi wajah kakeknya. Choi Daehan tiba-tiba datang ke rumahnya dan mengajaknya untuk bicara secara pribadi di ruang perpustakaan. Asumsi pertama Siwon, kakeknya itu ingin bicara mengenai masalah kemarin di Legiun. Yang lainnya? Siwon tidak bisa memikirkan apapun selain masalah kemarin.

Siwon menarik nafas panjang. “Kakek datang sebagai Presdir Choi Group atau sebagai Kakekku?”

Choi Daehan menarik nafas dan memperhatikan cucu laki-lakinya dengan lekat. “Pertama, sebagai kakekmu. Apa kau baik-baik saja? Dokter tidak mengatakan hal lainnya mengenai benturan di kepalamu?”

“Hasil pemeriksaannya baik-baik saja dan aku merasa baik-baik saja,” jawab Siwon.

Choi Daehan masih tidak puas dengan jawaban Siwon. “Pergi temui dokter Ji dan lakukan pemeriksaan sekali lagi.”

“Kakek, aku ditangani oleh dokter Ji. Walaupun bukan ‘dokter Ji’ kita, tapi dokter Ji di rumah sakit itu cukup mumpuni. Aku baik-baik saja, Kakek. Jadi tenang saja,” tutur Siwon lagi. Terkadang Siwon sangat berterima-kasih karena kakeknya sangat perhatian, tapi tetap saja jika Choi Daehan selalu bertindak sesuka hatinya itu sangat menyebalkan.

Siwon pikir, sifat bertindak sesuka dirinya didapatkan dari Choi Daehan.

“Lalu Pengacara Cho? Kudengar dia mempunyai sebuah trauma psikis,” tanya Choi Daehan lagi.

Siwon mengernyit. Cara bicara kakeknya berbeda. “Kali ini sebagai Presdir Choi Group?”

“Jawab saja, Choi Siwon.”

Siwon menarik nafas panjang. Dia menyandarkan punggung di sofa dan menatap Choi Daehan yang duduk dihadapannya dengan serius. Sedetik lalu, Choi Daehan terlihat seperti kakeknya dan detik berikutnya dia sudah menjadi Presdir Choi Group.

“Yang kudengar, dia mempunyai trauma dengan ice-rink. Kejadian di Legiun adalah sesuatu yang tidak pernah kuharapkan akan terjadi. Aku tidak tahu kalau Pengacara Cho mempunyai trauma tersebut. Jadi, tanpa pikir panjang, sebelum kami bicara mengenai kontrak Kim Jinhyeok, aku mengajaknya untuk memeriksa ice-rink,” tutur Siwon dengan tenang.

“Seharusnya kau memeriksanya sendiri, kenapa kau mengajak Pengacara Cho juga? Itu adalah tanggungjawab-mu. Kau tidak bisa melibatkan orang lain dalam pekerjaanmu, Choi Siwon.”

Siwon berusaha untuk tidak mendengus. Walaupun Choi Daehan adalah kakeknya, tapi Siwon tidak ingin dipecat karena bersikap tidak sopan dihadapan Presdir Choi Group. Siwon menghela nafas. “Itu hanya terlintas begitu saja. Aku hanya akan memeriksa selama beberapa menit dan daripada membuat Pengacara Cho menunggu, aku mengajaknya untuk mencoba arena skating. Lagipula saat itu aku sudah bertanya apakah Pengacara Cho ingin menunggu diluar arena atau ikut meluncur bersamaku. Dia sendiri yang melangkah masuk kedalam arena skating. Pengacara Cho tidak mengatakan apapun mengenai traumanya padaku.”

Choi Daehan mengernyit. “Untuk apa dia mengatakannya padamu? Hubungan kalian hanya sebatas pekerjaan. Kondisi traumanya adalah kondisi pribadinya. Dia berhak untuk tidak mengatakan apapun padamu.”

“Jadi, kejadian yang menimpa Pengacara Cho adalah kesalahanku?” sahut Siwon.

“Tentu saja. Memonitoring Legiun adalah tanggungjawab-mu, Choi Siwon. Terlepas yang terjadi kemarin, tidak seharusnya kau mengajak Pengacara Cho untuk memeriksa ice-rink. Kau bisa memintanya menunggu diluar arena atau di tempat lainnya. Kau yang mengatakan sendiri kalau kalian akan membicarakan mengenai kontrak Kim Jinhyeok, bukan? Pengacara Cho datang untuk bekerja, bukan untuk melihatmu bekerja,” tutur Choi Daehan.

Siwon mendengus. Dia tidak peduli apakah Choi Daehan akan memecatnya atau hal lainnya. “Apa aku harus membuat surat permintaan maaf untuk Pengacara Cho dan juga firma hukum Kang?”

“Sudah seharusnya, bukan? Itu adalah kesalahanmu, jadi kau yang harus bertanggung-jawab.”

Siwon benar-benar dibuat tidak bisa berkata apapun. Choi Daehan mungkin sangat mementingkan keluarga diatas segalanya. Tapi jika sudah berurusan dengan pekerjaan, Choi Daehan tidak akan main-main. Choi Daehan hanya bertanya dua kali mengenai kondisi Siwon, tapi memberikan begitu banyak argumen mengenai kejadian yang menimpa Cho Kyuhyun.

“Sepertinya Kakek lebih khawatir pada Cho Kyuhyun dibandingkan cucu Kakek sendiri. Well, aku tidak akan terkejut. Cho Kyuhyun adalah calon suami bagi Jinri, tentu saja Kakek tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya. Bahkan apa yang terjadi padanya, bukan sepenuhnya adalah kesalahanku. Tapi Kakek membutuhkan seseorang untuk disalahkan. Baik, aku akan membuat surat permintaan maaf secara resmi untuk Cho Kyuhyun. Puas?” sahut Siwon dengan marah.

Selain atas sikap Choi Daehan yang selalu menyalahkannya, reaksi marah Siwon juga disebabkan oleh pembicaraan mengenai Cho Kyuhyun itu sendiri. Mengenai perasaan Siwon pada Kyuhyun dan bahkan pada rencana Choi Daehan yang berniat menjodohkan Cho Kyuhyun dengan adiknya.

Choi Daehan menghela nafas panjang. “Kapan Kakek pernah mengatakan kalau Cho Kyuhyun adalah calon suami bagi Jinri?”

Kali ini Choi Daehan berperan sebagai seorang Kakek.

“Sejak kejadian ‘penculikan’ waktu itu hingga hari ini. Semua tindakan Kakek padanya adalah indikasi atas asumsiku. Selain itu, Kakek juga sudah mempertemukan Jinri dengan Cho Kyuhyun di restaurant jjampong favorit Kakek. Kakek tidak pernah membawa orang asing ke restaurant itu kecuali Kakek benar-benar menyukainya. Sama seperti Kakek membawa istri Yunho dan suami Sooyoung kesana,” tukas Siwon.

Choi Daehan memicingkan matanya. Dia menyadari perubahan sikap Siwon saat mereka membicarakan Cho Kyuhyun. Choi Daehan menarik nafas panjang dan kembali bicara. “Kakek memang pernah mengatakan pada Changmin, kalau Kakek ingin mencari calon suami yang baik bagi Jinri. Karena dia cucu perempuan terakhir Kakek. Tapi bukan berarti pilihan Kakek adalah Cho Kyuhyun. Kenapa kau bersikap sangat defensif saat kita membicarakan masalah Cho Kyuhyun? Kejadian di ice-rink memang kesalahanmu, Siwon. Kau tidak perlu mengajak Cho Kyuhyun untuk memeriksa ice-rink. Dia bisa menunggu diluar tanpa harus ikut meluncur bersamamu. Dan masalah calon suami Jinri, itu masih belum ditentukan. Jinri masih kuliah dan kau masih harus menikah terlebih dahulu sebelum Jinri menikah.”

Siwon tidak mengatakan apapun lagi. Sejak dulu, Siwon memang tidak akan bisa menang argumen dengan Choi Daehan.

“Ada apa denganmu, Siwon? Apa alasan dibalik sikap marahmu tadi?” tanya Choi Daehan dengan ekspresi tenang.

Siwon kembali mendengus dan memilih untuk berdiri. Siwon menatap Choi Daehan sebelum dia berjalan menuju pintu. Choi Daehan memperhatikan cucu laki-lakinya dengan lekat. Rasanya dia belum pernah melihat Siwon bersikap seperti ini sebelumnya dan asumsinya berkaitan dengan Cho Kyuhyun.

Siwon menghentikan langkahnya ketika dia hendak membuka pintu. Siwon menarik nafas panjang dan berbalik menatap kakeknya. “Jika aku mengatakan kalau alasan atas sikapku menolak rencana kakek menjodohkan Jinri dengan Kyuhyun karena aku menyukainya, apa kakek akan percaya?”

Lalu Siwon membuka pintu dan berjalan keluar.

Choi Daehan menghela nafas panjang. Dia mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor Changmin.

“Kakek harus bicara denganmu, Changmin.”

*****

Haneul menghela nafas panjang. Dia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Ucapan Changwook tadi siang membuatnya frustasi. Haneul tidak akan mengira bahwa semua tindakan Changwook selama ini padanya karena dia menyukai Haneul. Heck, bahkan jika dipikir lagi Haneul pun melakukan yang sama pada Kyuhyun.

Bisakah aku mengambil posisi itu dari Kyuhyun? Maukah kau memberiku kesempatan untuk berada di posisi itu?

Haneul mengerang frustasi. Mengambil posisi Kyuhyun? Haneul bahkan tidak bisa melupakan Kyuhyun selama dia tinggal di Jerman, tapi Changwook dengan mudah mengatakan hal itu padanya.

Tapi bisakah?

Mungkin Haneul tidak bisa melupakan Kyuhyun karena dia tidak berusaha untuk benar-benar melupakan pria itu. Haneul hanya menggantikan waktunya dengan sekolah dan hal lainnya selama dia di Jerman agar dia tidak terlalu sering memikirkan pria itu. Tapi Haneul tidak benar-benar berusaha untuk melupakannya.

Kini, apakah Haneul bisa melakukannya?

“Melupakan Kyuhyun. Apa bisa?” gumamnya.

Haneul lalu menatap gelas kopi ditangannya dan menghabiskan semua kopi tersebut. Kemudian Haneul beranjak meninggalkan atap ketika ponselnya berbunyi. Haneul mengeluarkan ponsel dari saku jas putihnya dan mengernyit ketika nama Haesa terpasang di layar.

“Eoh.. Kenapa meneleponku?”

“Kau harus menghentikan Appa mengambil kasus Seon Hwan saat ini juga.”

Haneul mengernyit. “Kenapa? Apa terjadi sesuatu di Jepang?”

“Aish.. Aku bisa gila. Kau tidak lihat berita? Haneul-ah, pikirkan Appa. Pikirkan Kyuhyun! Mereka tidak bisa mengambil kasus itu. Kau harus menghentikannya!”

Haneul mendengus. “Haesa, aku sudah bicara dengan Appa dan Kyuhyun. Biarkan mereka yang putuskan sendiri. Aku yakin Appa tidak akan mengambil tindakan ceroboh hanya karena sebuah kasus. Kasus Seon Hwan… Well, aku mengikuti perkembangan beritanya, tapi untuk saat ini tidak seburuk dugaanmu.”

“Yak! Kang Haneul! Ini kasus korupsi kementerian energi. Seon Hwan bukan kasus korupsi biasa, Kang Haneul. Kau tidak tahu berapa banyak orang yang sudah terbunuh untuk menutupi kasus itu disini, eoh? Apa yang diliput media dengan apa yang terjadi sebenarnya tidaklah sama. Pemerintah berusaha untuk menutupinya. Bicara pada Appa lagi. Kumohon, hentikan Appa mengambil kasus itu.”

Haneul mendesah. Belum selesai masalahnya dengan Changwook, kini Haesa semakin mendesaknya. Dia bukan pemecah masalah semua orang. “Arraseo! Malam ini, aku akan bicara lagi dengan Appa. Tapi apapun keputusan Appa itu adalah haknya. Aku harus kembali bekerja. Tutup teleponnya!”

Haneul memutus sambungan telepon secara sepihak dan mengerang kesal. Kemudian ia menatap ponselnya dengan sebal. “Jika kau begitu khawatir kenapa bukan kau yang bicara pada Appa dan Kyuhyun, eoh?! Kau pikir, waktuku hanya untuk membantumu! Yak? Berani sekali kau membentak kakakmu. Walaupun kita hanya berbeda lima menit, bukan berarti kau bisa bersikap seenaknya padaku! Dasar gadis menyebalkan!”

Setelah puas mengeluarkan emosinya pada ponselnya, Haneul bergegas pergi dari atap dan kembali bekerja.

*****

Kyuhyun mematikan televisi. Dia tidak ingin mendengarkan berita apapun mengenai Seon Hwan. Setidaknya untuk hari ini, Kyuhyun ingin beristirahat sejenak sebelum dia kembali bekerja besok. Kyuhyun menghela nafas lalu beranjak dari sofa.

Dia berjalan menuju area dapur dan melihat apakah ada yang bisa dijadikan camilan. Rasanya sangat aneh, berada di rumah pada jam seperti sekarang. Biasanya, Kyuhyun sedang sibuk di ruangannya dengan beberapa dokumen kasus. Kyuhyun membuka lemari pendingin dan mendapati ada beberapa buah apel. Kyuhyun mengambil satu lalu mencucinya di wastafel.

Kyuhyun mengambil gigitan besar ketika Eommanya muncul. Hannah mendesis dan mengambil apel itu dari tangan Kyuhyun.

“Makan dengan benar. Kau bisa memotong-motongnya terlebih dahulu,” ujar Hannah.

Kyuhyun menyeringai dan mengambil apel itu dari tangan ibunya lagi. “Terlalu merepotkan. Aku akan kembali ke kamarku.”

“Tunggu dulu, Kyuhyun. Apa kau tidak ingin bertemu dengan dokter Noh? Temui sekali saja, eoh. Ini pertama-kali sejak terakhir-kali kau menjalani konseling, bukan?” tutur Hannah.

Kyuhyun menatap ibunya dan menghela nafas. “Eomma, aku baik-baik saja. Kemarin itu benar-benar tidak sengaja. Tidak perlu menemui dokter Noh lagi. Aku bisa mengontrolnya sekarang.”

“Tapi sayang…”

“Ah, Eomma. Aku sudah tigapuluhdua tahun. Aku tidak perlu diberitahu apa yang harus kulakukan dengan kesehatanku sendiri. Jika aku merasa tidak mengontrolnya, aku akan pergi menemui dokter Noh. Okay? Tapi untuk saat ini, aku baik-baik saja,” ucap Kyuhyun dengan yakin.

Hannah masih terlihat ragu dengan ucapan putranya. Tapi dia mengangguk kecil. Hannah tersenyum tipis dan mengusap pipi Kyuhyun dengan lembut. “Jika terlalu berat untukmu, datang pada Eomma. Walaupun Eomma akan sibuk dengan pernikahan kakakmu, tapi bukan berarti Eomma akan mengabaikan putra Eomma sendiri.”

Kyuhyun tersenyum dan mengangguk. Kemudian Kyuhyun memeluk ibunya dengan erat. “Menu makan malam ini tolong buatkan tonkastsu, ya?”

Hannah membalas pelukan Kyuhyun dan menepuk punggung putranya dengan lembut. “Eoh. Eomma akan membuatnya untukmu.”

Kyuhyun tertawa kecil dan mencium kepala ibunya. Tiba-tiba Bibi Han datang dengan tergesa. Kyuhyun melepaskan pelukannya dan menatap Bibi Han dengan lekat.

“Tuan, ada tamu untuk anda. Dia menunggu di luar pagar,” ucap Bibi Han.

Hannah dan Kyuhyun mengernyit mendengar tamu itu malah menunggu di luar pagar. Salju memang sudah berhenti turun, tapi suhunya masih sangat dingin.

“Kenapa dia menunggu diluar? Tolong beritahu untuk masuk, Bibi,” tutur Kyuhyun.

“Dia bersikeras untuk menunggu diluar. Selain itu, tamu itu adalah Choi Siwon. Sebaiknya anda segera keluar menemuinya, Tuan.”

*****

Kyuhyun merapatkan jaketnya sembari menatap Siwon dengan lekat. Setelah mendengar dari Bibi Han kalau orang yang ingin bertemu dengannya adalah Choi Siwon, Kyuhyun bergegas mengambil jaket tebalnya dan keluar rumah. Walaupun Kyuhyun berharap kalau Bibi Han hanya bercanda dengan mengatakan Choi Siwon menunggunya diluar pagar, tapi itu adalah kenyataannya.

Kyuhyun menarik nafas. Rasanya pagi ini mereka sudah bertemu di rumah sakit, apa perlu Siwon datang menemuinya lagi?

“Ada apa datang menemuiku? Dan kenapa kau tidak ingin masuk?” tanya Kyuhyun.

Siwon menghampiri Kyuhyun dan memakaikan sarung tangan miliknya pada Kyuhyun karena Siwon melihat tangan Kyuhyun yang memerah karena udara dingin. Siwon juga tidak mengatakan apapun dan hanya memakaikan sarung tangan kulit tersebut. Kyuhyun memperhatikan pria itu dengan seksama.

“Ada apa?” tanyanya lagi.

Siwon menatap mata Kyuhyun. “Kita bicara di tempat lain,” ucapnya.

Kyuhyun menahan lengan Siwon. “Katakan dulu ada apa? Kenapa kau ingin bicara dan kenapa harus bicara di tempat lain?”

“Karena jika kita tetap disini, aku bisa saja menciummu lagi. Kau tidak ingin ada orang lain yang melihatnya, bukan? Kita pergi ke tempat lain, baru bicara. Tenang saja, aku tidak akan membawamu ke tempat yang aneh. Naiklah,” ucap Siwon sembari menuju pintu sebelah kiri.

Kyuhyun masih menatap Siwon dengan bingung. Dia mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan untuk ibunya, mengatakan kalau dia akan pergi dengan Siwon untuk membicarakan pekerjaan. Setidaknya, itu adalah alasan yang masuk akal untuk saat ini.

Kyuhyun lalu berjalan menuju pintu sebelah kanan. Dia membuka pintu tersebut dan menatap Siwon yang terlihat lebih tegang. Kyuhyun menarik nafas dan memanjat masuk.

“Pasang seatbelt-nya,” ucap Siwon lagi.

Kyuhyun menuruti ucapan Siwon. Tapi dia mengalami sedikit kesulitan saat memasangkannya. Mungkin karena sarung tangan itu. Siwon mendesah lalu membantu Kyuhyun untuk memasangkan seatbelt.

Kyuhyun terdiam dan membiarkan Siwon yang melakukannya. Kyuhyun merasa ada yang aneh dengan sikap Siwon. Rasanya tadi pagi saat di rumah sakit, Siwon tidak bersikap seperti ini. Tapi selang beberapa jam, Kyuhyun bisa dengan mudah menyadari adanya perubahan.

Siwon menatap Kyuhyun dengan lekat. Tanpa peringatan, Siwon mencium bibir Kyuhyun. Walaupun hanya untuk tiga detik, Kyuhyun merasa kalau selama itu juga jantungnya berhenti berdetak. Siwon kembali duduk dengan tegak lalu mulai menyetir.

*****

Yifan berdiri di depan pintu kamar Joonmyeon. Dia baru ingat kalau syal merahnya masih ada pada Joonmyeon. Yifan tidak ingin menganggu Joonmyeon, tapi dia membutuhkan syal itu sekarang. Yifan menarik nafas lalu mengetuk pintu.

“Joon…”

Tidak terdengar sahutan Joonmyeon.Yifan mengerutkan kening dan mengetuk pintu lagi. Tapi lagi-lagi,dia tidak mendengar sahutan apapun. Selain itu, Yifan yakin sekali kalau Joonmyeon tidak sedang keluar rumah.

Yifan kembali mengetuk pintu. “Joon, apa kau sedang tidur?”

Masih tidak ada sahutan apapun. Yifan menghela nafas dan berniat kembali ke kamarnya. Namun, langkah Yifan terhenti. Dia merasa ada yang aneh. Yifan lalu membuka pintu kamar Joonmyeon.

“Joon, aku masuk ya?” Yifan lalu berjalan masuk dan kembali menutup pintunya.

Namun, dia tidak melihat Joonmyeon. Bahkan jendela balkonnya tertutup. Yifan melihat syal merahnya diatas tempat tidur Joonmyeon. Saat dia hendak mengambilnya, Yifan melihat pintu kamar mandi yang terbuka. Dengan sedikit penasaran, Yifan berjalan menuju kamar mandi. Saat dia membuka pintu lebih lebar, Yifan terkejut melihat Joonmyeon yang duduk lemas dilantai. Sontak Yifan menghampiri Joonmyeon.

“Joon… Kau tidak apa-apa? Joonmyeon?” Yifan sedikit mengguncang tubuh Joonmyeon karena sepertinya Joonmyeon setengah tidak sadarkan diri.

Yifan memperhatikan kamar mandi tersebut. Dia tidak melihat ada yang aneh, jadi Joonmyeon mungkin tidak terluka. Yifan menarik nafas dan berusaha mengangkat tubuh Joonmyeon. Saat hendak merangkulkan tangan Joonmyeon pada bahunya, Yifan melihat sebuah tisu. Yifan melirik Joonmyeon lalu mengambil tisu tersebut. Yifan sangat terkejut melihat tisu tersebut terdapat bercak darah.

“Joon, apa kau terluka? Kau terluka dimana, eoh? Katakan padaku,” ucap Yifan dengan panik. Dia ingin sekali berteriak memanggil Sara dan Zitao, tapi melihat kondisi Joonmyeon saat ini, Yifan ingin bertanya langsung terlebih dahulu.

Yifan membuang tisu itu dilantai lalu mengangkat tubuh Joonmyeon. Yifan membawa Joonmyeon untuk duduk ditempat tidur. Joonmyeon masih cukup sadar, tapi dia tidak mengatakan apapun. Yifan lalu memeriksa tubuh Joonmyeon dengan seksama untuk mencari luka. Tapi dia menemukan luka tersebut.

Yifan kembali menatap Joonmyeon. “Joonmyeon-ah, apa kau sadar? Kenapa kau berdarah? Apa kau terluka? Kau ingin aku memanggil Mom? Akan kupanggilkan Mom, okay?”

Belum sempat, Yifan beranjak pergi, Joonmyeon menahan lengan Yifan. “Jangan! Jangan memanggil Mom.”

Yifan menghela nafas lega. Joonmyeon akhirnya bicara. “Okay, aku tidak akan memanggil Mom. Tapi katakan kau terluka di bagian mana? Kenapa ada tisu dengan bercak darah?” tanya Yifan lagi.

“A-aku.. hanya mi-mimisan. Ti-tidak ada luka,” gumam Joonmyeon.

Yifan mengernyit. “Mimisan? Di saat musim dingin seperti saat ini?”

Joonmyeon mengangguk kecil. “Mungkin hanya kelelahan. Jangan beritahu siapapun. Kumohon.”

Yifan menatap Joonmyeon dengan lekat. Lalu dia mengangguk. “Arraseo. Aku tidak akan memberitahu siapapun. Sekarang istirahatlah. Masih ada waktu sebelum makan malam.”

Yifan lalu membantu Joonmyeon untuk berbaring. Yifan merapatkan selimut dan meraih syal merah miliknya. Joonmyeon sudah menutup matanya, walaupun Yifan yakin kalau Joonmyeon tidak akan mudah untuk tidur. Yifan lalu kembali ke kamar mandi untuk membuang tisu dengan bercak darah tersebut. Jika Sara menemukannya, Joonmyeon akan kesulitan untuk berbohong. Apapun yang dialami oleh Joonmyeon, Yifan yakin suatu hari Joonmyeon akan mengatakannya dengan jujur.

Yifan menutup pintu kamar mandi lalu menghampiri tempat tidur Joonmyeon. Kemudian Yifan sedikit membungkuk untuk mencium kening Joonmyeon, namun disaat itu juga Joonmyeon membuka matanya. Yifan terdiam dalam posisi canggungnya. Joonmyeon menghela nafas dan beranjak bangun. Yifan sontak menegakkan tubuhnya dan mengambil jarak. Joonmyeon menyandarkan punggungnya dan menatap Yifan. Joonmyeon lalu menepuk tempat tidurnya, isyarat agar Yifan duduk.

Yifan duduk di tepi tempat tidur dan memandang Joonmyeon. “Kenapa?” tanyanya.

“Jangan melakukannya.”

“Lakukan apa?” tanya Yifan lagi.

“Bersikap terlalu baik padaku. Kau membuatku menjadi semakin sulit, Yifan. Aku adalah saudaramu, maka perlakukan aku sebagai saudara. Walaupun kau tidak ingin mengakuiku sebagai saudaramu. Itu adalah permintaanku yang lain, selain mengenai mimisanku barusan,” tutur Joonmyeon.

Yifan masih memperhatikan Joonmyeon. Tangannya mengenggam syal merah dengan begitu kuat. Yifan menarik nafas perlahan. “Kalau aku tidak mau?”

“Kau tidak mempunyai pilihan. Jika kau tidak melakukan permintaanku itu, maka aku yang akan pergi. Situasi diantara kita sudah rumit, Yifan. Jika kedua orangtua kita tidak menikah…. Bahkan jika mereka tidak menikah pun, aku tidak bisa menerima perasaanmu itu. Jadi tolong, jika kau tidak bisa melupakan perasaanmu, setidaknya kau harus bersikap untuk membuat situasi diantara kita sedikit jauh lebih baik,” ucap Joonmyeon.

“Tapi Joon….”

Belum sempat Yifan mengatakan apapun, Joonmyeon mencium bibir Yifan. Hanya untuk beberapa detik. Mata Yifan membelalak. Ini pertama-kalinya Joonmyeon menciumnya.

“Itu adalah yang terakhir.”

*****

NOTE: Kalo nemu typo, maaf yaa… >//<

Choi Siwon, butuh 25 part untuk mengakui kalau dirimu adalah gay -___- sekarang tinggal Kyuhyun yang masih bimbang sama seksualitasnya… /ditabok

Tanya dong, yang biasa download drama korea, kalian biasanya download dimana? Aku lagi cari drama Make A Woman Cry, tapi belum nemu sites download. Di site biasa aku download, mereka gak nge-sub drama itu. Bagi-bagi link ya.. tapi hati-hati, nanti dianggap spam. hehehehe…

Music: This is The Moment (지금이순간) (Jekyll and Hyde Musical OST.)

Advertisements

34 thoughts on “[SF] Scarface Part 24

  1. WOW ini panjang eonniii… gomawo eonni… jeongmal gomawo…
    heheheheh di situs biasanya q download ya gak ada kayaknya diera eonni..

    siwon gila apa ya langsung ngomng gitu sama kakeknya… kakeknya kelihatanya tau itu klu siwon suka sama kyu dari awal. kyu kok gak sadar2 sama perasaannya yahhh. semoga cepat menyadari kalau dia juga mencintai siwon seperti dia mencintai kang haesa.. kasus yang di tangani kyu itu sangat berbahaya ya eon… semoga kyu selalu baik2 saja….
    joonmyeon sakit parah yah? kasihan mereka… semoga yang terbaik untuk hubungan mreka…
    untuk haneul n changwook juga semoga tambah deket.

    sekali lagi gomawo….
    fighting eonni

  2. Horeee…
    Lanjut lagi.. lanjut lagi \(^_^)/ …

    Sepertiny kakek Siwon santai saja mendengar ucapan Siwon tntng menyukai Kyuhyun. Sepertiny bakalan mudah dapat restu nih ♥_♥..

    Uwoo..
    Hoby baru Siwon itu cium bibir Kiyu ya :*.
    Saya suka, saya suka 😀

  3. Hai kak. Kk update asap ya 😉

    Choi Daehan bener-bener bikin bingung ya~
    Tapi bisa bersikap sebagai seorang kakek dan presdir di saat yg bersamaan itu keren! Dan sepertinya Choi Daehan tidak terlalu terkejut mendengar pengakuan Siwon. Ada apa? Ada rahasia apa? Rahasia yg belum terkuak dari sisi Choi Daehan..
    Akan butuh berapa chapter lagi utk hubungan KrisHo yg masih aja jalan di tempat kak??
    Ah gak sepenuhnya jalan di tempat sih. Mereka sampai di titik puncak kebimbangan malah kayaknya :’)
    Joon sakit apaa?? Gak sabar tau sakitnya Joon. Kayaknya parah. Apa Joon sakit persis seperti mama-nya? 😦

    Oh ya, aku biasa download di smallencode.com kak. Aku lupa link-nya, smallencode.com kah atau smallencoded.com ^^v
    Kk coba aja lah, yg mana yg bener dan siapa tau di sana ada drama yg kk cari 😉

  4. Apapun yang akn terjadi nanti,,aq hnya mnginkan yg terbaik untuk semuanya.
    Joonmyon..sebenarnya dia itu pnya perasaan yg sama untuk Yifan ga yaaaa…?posisi mereka mmng lbh rumit dari yg terbayang.Dan mg aj,tdk ada yg mngkhawatirkan dari hasil tes Joonmyon.
    WonKyu…sepertinya kalian mmng yg paling berhasil mmbuatku trs melihat blog eonni ini.Jeongmal gumawo Diera eonni..buat ff’y.
    Fighting!!!!

  5. kayaknya Kyu harus terbiasa dengan kebiasaan Siwon yg suka nyosor itu!!! kkkkkk
    apa yg akan siwon bicarakan?? apa mengena mengena khasus yg akan ditangani Kyu?? atau, bicara mengenai kakek Choi???
    d tggu kelanjutanny yaa!!!

  6. huaaa bnr2 suka dengan moment wonkyu yg dimobil
    siwon klo galau bikin reader juga keblinger dah.
    sering2 ja galaunya bang.

    aku biasa klo download drakor di shinokun.org tpi ngak tau ya drakor yg dcari tu ada or ngak dsna

  7. Aku selalu suka dengan hal2 kecil yg siwon lakuin buat nunjukin sayangnya ke kyuhyun…. manis banget…
    gpp agak panjang buat kyu sadar sama perasaannya yang penting updatenya cepet ka…
    sama jgn banyak2 bikin kesel ggra sikap kyu… hehehehe

  8. suka moment moment siwon kyuhyun yang sweet
    siwon tunjukkan kasih sayangmu ke kyhyun, buat kyu jatuh ke sisimu….:)
    jangan lama2 ya updatenya :):)

  9. yah, gk da changwook,, padahal lagi super penasaran sama dokter ganteng itu,
    apa itu pengakuan secara tidak langsung Siwon kepada kakeknya? jadi penasaran sama hubungan. mereka,,
    krisho, mereka berakhir? bahkan layu sebelum berkembang?

  10. makin seru aja nih hubungan wonkyunya …
    suho apa sakit parah kok sampai mengeluarkan darah ..?
    mudah”an aja wonkyu part selanjutnya mesra dan kyu bisa nyadar klu kyu juga suka sama siwon

  11. akhirnyaaaaaaaah….. hampir tiap jam aku mampir ke blog buat liat progress ff ini, dan pas bangun tidur tadi pagi liat ada chap 24 tuh aku langsung guling2 ngga jelas loh kak haha. Big thanks buat moment krishonya kak, aku suka banget sama joonmyeon d ff ini^^ Dan aku sangat2 berharap next chap bisa cepet update, soalnya aku masih penasaran sama penyakit joonmyeon. Buat wonkyu, moga kakek choi memberikan restunya buat kalian. Di tunggu chap 25 kak diera, asap. Fighting^^

  12. wuaahhh….akhirny update….
    siwon nekat ngomong lgsung ke kakek klo dy suka sm kyu..tp kakek kok trlhat tenang ya..trs mw ngomong ap sm cwang…atw ntr kakek mh ngamuk ke siwon…wuahhh kira2 ap ya yg dlkukn kakek…
    siwon mkin brni aj cium2 kyu…
    kyu msh bingung dgn prsaanny..

    krisho kok agk lmbt crtny thor…
    itu joon skit prah pst…

    ok…semangat ne nulisny…aku suka sm semua tlsn kamu..tp aku jarang komen…^^ mian…

  13. Oennie,,sebelumnya makasih atas pdf only One,,nya…hem..choi daehan emank..kakek yg ok lh,,,suka sm keluarga kyu yg manjain kyu terus,,,ea nh hub wonkyu…alon alon asal kelakon..haha tp tetep ditunggu….kelanjutanya….

  14. wawww wonkyu mkin lengket, tp didunia nyata udah mkin jrang klhatan, agak sedih tp bsa terobati dng ff diera, update cpet y diera

  15. Aq biasa donlot di dramafire.com
    Eng sub tp nya

    Oke ud lanjuuut
    Iya lama binggo siwon nyatakn cinta
    Ngaku sama si kakek jg
    Kekeeke
    Kyu km jg cpt sdar ya

    Keep writing..

  16. uwow?! Siwon udh blg sma Kakek nya biasa aja ekspressi nya.
    apa mungkin??
    aah ~ jdi gitu ya? baguslah klo Kyu ga dijodohin sma Jinri,jdi Siwon bisa tenang lol
    eii ~ Siwon knapa? bru datang langsung nyosor Kyu hahaha
    ga tau Ra,kyk nya aku blm donlot itu drama deh XD
    always waiting your update ^^
    fighting pkoknya :*

  17. wah siwon brani juga bilang sama kake nya soal perasaannya sama kyu
    trus kakenya minta ketemuan sama chang..
    apa ya yang akan dibicaraknnya???
    duh bkin penasaran
    dan makin penasaran dengan sikapnya kyu?
    dy peduli siwon bahkan dy juga tw akan sikap siwon
    tapi untuk perasannya sndiri aja dy ragu kan gemes bgd hahaha
    lanjutannya cepet dunk hehehehe

  18. Siwon mau bicara apa ya sama kyu, kayaknya serius banget??
    Apa penyakit joon parah???
    Apa kasus seon hwan sangat berbahaya???
    Semua bikin penasaran!!!
    Sangat ditunggu update selanjutnya…eonni faithing!!!

  19. Entahlah, meskipun udah subscribe tapi tetep aja bolak balik buat ngecek ff ini -_-. Kak diera, I hope you can update as soon as posible. Idk, but I really need this ff for healing my pain which is caused of some unexpected problems in my life recently. Kak diera, update asap juseyoooo 😥

  20. apa yang akan dilakukan kakek siwon setelah siwon mengakuibklo dia menyukai kyuhyun?
    dan sebenatnya joonmyoung sakit apa sich
    lanjut ya

  21. Apa kasus yg dtangani kyu bnr2 membahayakan,,,aku rasa kyu ttp akn mempertahankan kasus itu…dn apa yg ingin dbcarakan kake choi dgn chang?????

  22. aduh jadi panik liat jun mimisan gt…. dokternya blg ga kenapa2 tp ini kayak kenapa2. apa dokternya boong? bunnyjun jangan sakit ;;; hu ku miris sendiri baca part krisho hix
    alhamdulillah siwon ngaku di depan kakeknya tapi semoga kakeknya atau keluarga choi yg lain ga nentang siwon ampe yang berlebihan banget gt ;;; yeayooyy seenggaknya ada progress sepercik dihubungan siwon dan kyu

  23. Sbnernya kris sakit apa?apa benar penyakitnya tak berbahaya melihat kondisinya sprt tu??
    Siwon mengajak kyuhyun pergi lagi utk apa? Apa utk membahas mslh kasus yg kyuhyun tangani sekarang atau utk hubungan mrk yg diketahui choi daehan??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s