[SF] Scarface Part 23

Scarface

23

 

Hyukjae menatap Kyuhyun, Changmin dan Siwon secara bergantian. Dia sudah merasakan aura yang aneh sejak dia masuk ke kamar rawat Kyuhyun. Terlebih dengan keberadaan Siwon dan Changmin. Hyukjae kemudian menatap Kyuhyun lagi. Namun, sahabatnya itu tidak terlihat terganggu dengan keberadaan dua orang dari Choi Group tersebut. Dan itu sangat aneh, menurut Hyukjae.

“Kyuhyun-ah, bisa kita bicara?”

Kyuhyun menatap Hyukjae dan mengangguk. Lalu Kyuhyun berjalan keluar kamar rawat. Hyukjae melirik Siwon dan Changmin lalu menyusul Kyuhyun keluar. Hyukjae menutup pintu kamar dan menatap Kyuhyun yang bahkan terlihat lebih lelah ketimbang dia masuk rumah sakit kemarin.

“Kau baik-baik saja? Ada apa dengan Choi Siwon dan Shim Changmin? Kenapa mereka ada di kamar rawatmu?” tanya Hyukjae.

Kyuhyun menarik nafas dan melirik Hyukjae. “Aku baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir. Perihal dua orang tersebut, kau tidak akan percaya dengan apa yang akan aku katakan.”

Hyukjae mengernyit. “Katakan saja. Memangnya apa yang lebih buruk lagi selain mendengarmu masuk rumah sakit karena Choi Siwon?”

“Choi Siwon menyukaiku,” ucap Kyuhyun singkat.

Hyukjae kembali mengernyit. “Mwo? Dia apa?”

Kyuhyun menghela nafas dan menatap Hyukjae dengan lekat. “Dia bilang menyukaiku. Sama seperti aku menyukai Kang Haesa.”

Mata Hyukjae membulat. “Me-menyukaimu? Sama seperti menyukai Kang Haesa? Woah… Apa dia sudah gila? Selama ini sikapnya sangat buruk padamu, tapi sekarang dia bilang menyukaimu? Terlebih dia seorang Choi! Keluarganya… Tunggu, apa keluarganya tahu?”

“Sepertinya hanya Shim Changmin. Atau mungkin beberapa orang sudah mengetahuinya. Aku tidak tahu dengan orangtua-nya,” tutur Kyuhyun dengan tenang.

Rasanya aneh sekali bagi Kyuhyun menjawab semua pertanyaan Hyukjae dengan perasaan tenang. Padahal baginya, menerima perasaan Siwon dan mulai menyadari perubahan perasaannya pada Siwon sudah membuatnya kebingungan. Kyuhyun mungkin harus menemui dokter Noh lagi jika dia tidak mengatasinya.

Hyukjae mendecak kagum. Selama ini, Hyukjae mendengarkan cerita Kyuhyun mengenai sikap Choi Siwon, Hyukjae selalu mengira kalau Choi Siwon memang seperti yang dikatakan oleh kebanyakan orang. Terlebih Hyukjae juga melihat sendiri cara Siwon memperlakukan Kyuhyun. Salah satunya di toilet bar Heechul.

Tapi jika diingat lagi, Hyukjae mungkin tidak akan terkejut jika akhirnya akan seperti ini. Hanya saja, terlalu jelas. Seperti drama di televisi. Dimana kedua pemeran utama awalnya akan saling membenci tapi kemudian malah jatuh cinta dengan diikuti beberapa masalah. Kyuhyun dan Siwon mungkin akan mengalami seperti kejadian di drama, tapi kisah mereka jauh berbeda dengan cerita drama.

“Lalu? Bagaimana denganmu?” tanya Hyukjae lagi.

Kali ini, Kyuhyun mengernyit. “Apanya denganku?”

Hyukjae menghela nafas dan melipat kedua tangan didepan dada. “Apa kau juga menyukainya? Dengan cara yang sama seperti kau menyukai Kang Haesa.”

Kyuhyun terdiam untuk sejenak. Dia menatap Hyukjae lama sebelum kembali bicara. “Apa kau pikir aku bisa dengan mudah menyukainya?”

“Tapi tidak ada alasan untuk tidak menyukainya. Kau tahu, sebagai pengacara, jawabanmu atas pertanyaan Choi Siwon sangat mudah ditebak. Jika kau seperti ini dalam persidangan, kau akan kalah Cho Kyuhyun. Kau, sama sekali, tidak memberikan jawaban yang tegas. Karena itu, aku bisa memutar balik semua jawabanmu. Bagaimana dengan perasaanmu, Cho Kyuhyun-sshi?” sahut Hyukjae.

Kyuhyun mendesis jengkel. “Tidak tahu! Noona bilang kalau sikapku akhir-akhir ini seperti orang jatuh cinta. Sama ketika aku menyukai Kang Haesa. Tapi sebenarnya, aku sama sekali tidak merasakan hal itu. Hanya saja, aku merasa sedikit lebih nyaman dengan Choi Siwon. Menurutmu?”

“Kau harus menemui Kim Heechul. Hanya dia yang bisa menjawab pertanyaanmu itu. Ah, jika kau ingin menemuinya, kau harus mengajakku. Aku juga ingin mendengar penjelasan mengenai perasaan anehmu itu.”

Kyuhyun mendecih. “Yak! Jika kau ingin menemui Lee Donghae, kau bisa pergi sendiri!!”

*****

Kerutan di kening Haneul semakin banyak ketika dia mengikuti Changwook berjalan keluar lift. Changwook mengatakan kalau mereka akan makan siang di salah satu restaurant. Tapi anehnya Changwook malah membawa Haneul ke salah satu gedung apartment. Setahu Haneul, tidak ada gedung apartment yang membuka restaurant.

Jadi, Haneul mengira kalau ini adalah gedung apartment Changwook dan Changwook akan ganti baju sebelum mereka pergi ke restaurant yang sesungguhnya.

“Changwook hyung…”

Changwook yang hendak memasukkan nomor kode menoleh pada Haneul.

“Ini… Uhm, aku akan menunggu diluar. Kau hanya sebentar, bukan?” ucap Haneul.

Changwook tersenyum tipis. Lalu dia memasukkan nomor kode dan membuka pintu. “Kenapa harus menunggu diluar? Ayo masuk..”

“Eh? Tapi…”

Changwook menarik pergelangan tangan Haneul dan membawanya masuk kedalam apartment-nya. “Selamat datang di restaurant pribadi Ji Changwook.”

Haneul mengernyit mendengar ucapan selamat datang Changwook. Tapi belum sempat Haneul mengatakan apapun, Changwook langsung menariknya hingga area dapur. Changwook menarik sebuah stool dan tersenyum pada Haneul.

“Duduklah. Restaurant-ku hanya dibuka pada jam-jam tertentu. Jadi, jika kau ingin datang, kau harus membuat reservasi terlebih dahulu,” tukas Changwook lagi.

Haneul menghela nafas frustasi. Sikap Changwook membuatnya sedikit tidak nyaman. “Dokter Ji…”

“Oh? Sudah kubilang, jika diluar rumah sakit kau harus memanggilku dengan sebutan hyung dan bukan dokter Ji,” sahut Changwook.

“Changwook sunbaenim, sebenarnya apa yang sedang kau lakukan? Ini membuatku tidak nyaman. Aku akan pergi,” tutur Haneul.

Tapi Changwook dengan cepat menahan pergelangan tangan Haneul. Changwook dengan paksa membuat Haneul duduk. Dia menatap Haneul dengan lekat. “Kau bisa pergi setelah kau makan. Aku minta maaf jika membuatmu tidak nyaman. Tapi tetap disini, okay? Aku tidak akan melakukan apapun.”

Haneul menghela nafas. Kemudian Changwook mempersiapkan bahan makanan yang akan dimasaknya. Haneul hanya memperhatikan Changwook mulai bekerja. Walaupun terasa canggung, tapi Haneul mulai berpikir kalau Changwook seperti dirinya.

“Sunbaenim…” gumam Haneul.

Changwook melirik Haneul. “Kenapa memanggilku ‘sunbaenim’? Sudah kubilang kalau…”

Haneul menatap Changwook dengan lekat. “Kau menyukaiku? Benarkan?”

*****

Yifan menutup pintu lalu berjalan menuju keluar. Walaupun Sara mengatakan kalau mereka akan segera makan siang begitu Joonmyeon pulang, Yifan tetap memaksa keluar untuk membeli cat baru. Dia tidak ingin bertemu Joonmyeon saat ini. Setidaknya, Yifan bisa bertemu Joonmyeon saat makan malam. Namun, ketika dia keluar pagar rumah, Yifan melihat Joonmyeon pulang. Mereka berdua terdiam. Hanya saling menatap.

Rasanya sangat canggung padahal hanya dua hari mereka tidak bertemu. Yifan pikir dua hari sudah cukup, tapi sepertinya dia memang tidak bisa.

Yifan tersenyum tipis dan berjalan menghampiri Joonmyeon. “Kau baru pulang? Kudengar kau pergi dengan teman-temanmu.”

Joonmyeon mengangguk. “Kau ingin pergi?”

“Membeli cat baru. Masuklah, udaranya dingin. Nanti kau sakit lagi,” ucap Yifan.

Joonmyeon mengangguk lagi. Yifan menghela nafas lalu berjalan pergi. Dia merapatkan syal merah. Syal yang sama dengan yang dipakai oleh Joonmyeon saat ini. Yifan kembali tersenyum. Dia terpikirkan oleh salah satu legenda cina mengenai jodoh benang merah. Walaupun tidak sama, Yifan hanya berharap.

Joonmyeon masih berdiri sembari memperhatikan punggung Yifan yang semakin menjauh.

“Senang bertemu denganmu lagi, Yifan.” Kemudian Joonmyeon bergegas masuk. Salju yang turun semakin banyak dan udaranya semakin dingin.

Saat Joonmyeon melepaskan sepatunya, dia disambut oleh seorang pemuda tinggi dengan sebuah senyuman lebar. Joonmyeon menatap pemuda itu dengan bingung. “Maaf, tapi kau…”

Pemuda itu mengulurkan tangannya pada Joonmyeon. “Namaku Huang Zitao. Sepupu Yifan. Oh, aku juga sepupu-mu sekarang.”

Joonmyeon menyambut uluran tangan itu dan sedikit mengangguk. “Ah, Mom pernah bilang kalau kau akan datang. Namaku…”

“Kim Joonmyeon. Bibi Sara dan Yifan banyak bercerita mengenaimu. Well, lebih banyak Yifan sebenarnya. Senang akhirnya bisa bertemu denganmu sepupu,” ucap Zitao lagi.

Joonmyeon menarik tangannya dan tersenyum tipis. Tak lama Sara muncul dari arah dapur. Joonmyeon sedikit menunduk. “Aku pulang, Mom.”

“Urusannya lancar? Tidak ada masalah apa pun dengan travel agent?” tanya Sara.

Joonmyeon mengangguk dan dia menyadari ekspresi bingung Zitao. Joonmyeon kembali menatap Sara sembari melepaskan syal merahnya. “Tidak ada masalah. Baekhyun dan Kyungsoo sudah memeriksanya hingga tiga kali agar mereka kejadian tahun lalu tidak terulang lagi.”

“Baguslah. Ganti pakaianmu dan cuci tangan, uhm. Makan siang akan segera siap. Oh, kau sudah berkenalan dengan Zitao, bukan? Dia akan tinggal disini selama beberapa hari,” tutur Sara.

Joonmyeon melirik kearah Zitao dan tersenyum tipis. “Ah, Mom.. tadi aku bertemu dengan Yifan di depan. Katanya dia mau pergi membeli cat baru, apa kita tidak menunggunya?” tanya Joonmyeon.

Sara menghela nafas. “Yifan tidak akan lama. Mungkin hanya sepuluh menit. Ganti baju-mu, ya.”

Joonmyeon kembali mengangguk lalu bergegas menaiki anak tangga. Sedangkan Sara dan Zitao kembali ke dapur untuk menyelesaikan beberapa masakan. Zitao melirik kearah tangga sembari duduk di salah satu kursi. Dia menghela nafas panjang dan menatap Sara yang masih sibuk dengan masakannya.

“Bibi, Joonmyeon akan pergi?” tanya Zitao.

Sara melirik Zitao dan mengangguk. “Teman-temannya mengajaknya pergi liburan ke Bangkok awal bulan depan. Tadi dia pergi untuk mengurus masalah di travel agent. Kenapa?”

“Yifan tidak ikut?”

Sara menggeleng. “Joonmyeon pergi dengan teman sekelasnya. Kalau Yifan akan sedikit canggung, terlebih mereka berbeda kelas. Lagipula Yifan tidak mengatakan apapun mengenai liburan ke Bangkok itu.”

“Oh. Mengenai masalah antara kelas Seni dan kelas Musik?” tukas Zitao. Sara kembali mengangguk.

“Bibi sebenarnya tidak menyukai sekolah itu. Tapi ayah Joonmyeon mengatakan kalau sekolah itu adalah salah satu sekolah seni terbaik di Seoul, jadi Bibi menyarankan Yifan untuk pindah ke sekolah itu juga. Cukup beruntung, mereka tinggal menyelesaikan satu tahun lagi di sekolah itu,” tutur Sara.

Zitao tersenyum tipis. Sara sedikit banyak bercerita mengenai sekolah baru Yifan pada ibunya dan Sara benar-benar tidak menyukai sekolah itu karena persaingan dua kelas utamanya. Terlebih Yifan dan Joonmyeon ternyata di kelas yang berbeda.

“Lalu mengenai kuliah Yifan di London?”

“Masalah itu akan diurus pada pertengahan tahun. Bibi dan ayah Joonmyeon akan mengurus keperluannya selama di London. Mulai dari dorm dan hal-hal lainnya. Kenapa?” tanya Sara.

Zitao menggeleng. “Tidak apa-apa. Dari email terakhirnya, Yifan sepertinya tidak ingin kuliah di London.”

Sara mengernyit. “Benarkah? Yifan tidak mengatakan apapun pada Bibi.”

“Itu karena Bibi sudah sangat senang Yifan mendapatkan undangan khusus dari UAL. Jika Yifan menolak, dia mungkin berpikir akan mengecewakan Bibi. Aku akan cuci tangan dulu,” ucap Zitao lalu meninggalkan dapur.

Sara terdiam sejenak setelah mendengar ucapan Zitao. “Yifan tidak ingin kuliah di UAL? Lalu kenapa dia tidak mengatakan apapun? Aku tidak akan kecewa jika dia menolak undangan itu. Tapi kenapa Zitao mengetahui hal itu?”

*****

Changmin melirik pada Siwon yang hanya memandang kearah luar jendela. Sejak mereka meninggalkan rumah sakit, ekspresi Siwon terlihat begitu sedih, seperti dia meninggalkan kekasihnya untuk pergi jauh. Changmin menghela nafas panjang. Rasanya dia tidak akan mudah beradaptasi dengan sikap Siwon sekarang ini.

Nyatanya, menghadapi Siwon yang menyebalkan jauh lebih mudah ketimbang Siwon yang sedang jatuh cinta.

“Berhenti bersikap menyedihkan begitu, Choi Siwon. Rumahmu dengan rumah Kyuhyun hanya berjarak sekitar hampir tujuh kilometer. Kurang lebih duapuluh menit dengan mengendarai mobil. Jangan bersikap kau sedang menjalani hubungan jarak jauh disaat kalian masih dalam satu kota yang sama,” ucap Changmin.

Siwon melirik Changmin lalu kembali menatap kearah luar jendela. “Jangan berisik Shim Changmin. Aku bukan sedang bersikap menyedihkan, ada hal yang sedang kupikirkan.”

Changmin mengernyit. “Memikirkan masalah apa? Rasanya Choi Group sedang tidak mendapatkan masalah apapun lagi. Atau kau sedang memikirkan masalah Kyuhyun?”

Siwon menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Lalu dia menatap Changmin yang sedang fokus menyetir. “Kau tahu kasus baru Kyuhyun? Yang kau bilang berkaitan dengan mafia atau semacamnya.”

“Oh. Kasus Seon Hwan. Beritanya sudah ada dimana-mana. Kenapa?” tanya Changmin lagi.

“Aku merasa kalau kasus itu bukan kasus sengketa perusahaan biasa. Terlebih dengan keterlibatan mafia. Selain itu, Kang Haneul…”

Changmin melirik Siwon. “Kenapa dengan Kang Haneul? Dia juga terlibat?”

“Ani, bukan itu. Tadi aku tidak sengaja membaca pesan dari Kang Haneul. Dia meminta Kyuhyun agar melepaskan kasus Seon Hwan itu. Kang Haesa juga menyuruh Kyuhyun untuk memikirkan ulang tentang kasus itu,” ucap Siwon.

Changmin mendesah. “Sepertinya kedua saudara kembar itu sangat perhatian pada Kyuhyun. Tidak peduli kalau Kang Haesa sudah melukai perasaannya. Lalu apa yang kau cemaskan? Mengenai keselamatan Kyuhyun?”

Siwon mengangguk. “Kasus ini… Kyuhyun sepertinya tidak akan mundur dari kasus ini walaupun Haneul dan Haesa sudah memberi peringatan padanya. Aku hanya memikirkan bagaimana Kyuhyun melepaskan kasus tersebut.”

“Bagaimana dengan tawaran Kakek padanya untuk masuk ke firma khusus Choi Group? Aku dengar, dia akan mempertimbangkannya. Apa dia menolaknya?” tanya Changmin.

Siwon kemudian menjentikkan jarinya. “Ah, benar! Tawaran Kakek. Tapi dia mungkin akan menolaknya. Kyuhyun sudah cukup lama berada di firma hukum Kang. Selain itu, jika dia keluar dari firma hukum Kang disaat mengurusi sebuah kasus, itu akan berdampak pada reputasinya sekaligus reputasi firma hukum. Kakek juga tidak akan senang.”

“Kau bisa menyuruh orang untuk mengawasinya dari jauh. Untuk apa menjadi pewaris Choi Group jika kau tidak bisa menggunakan semua sumber daya yang dimiliki oleh Choi Group? Terlebih dengan perasaanmu padanya, kurasa itu masuk akal,” sahut Changmin.

“Itu hanya membuatnya tidak nyaman. Bahkan untuk saat ini, aku masih kesulitan dengan perubahan ini, Min. Kyuhyun bahkan tidak mengatakan apapun mengenai perasaannya. Dia bilang membutuhkan waktu. Aku tidak ingin membuatnya merasa kesulitan. Kau tidak ada ide lain?”

Changmin mendesis jengkel. Walaupun sudah diberitahu untuk menata perasaannya sendiri, akhirnya Siwon akan bertanya pada Changmin. Itu menjengkelkan karena Siwon juga mengatakan hal yang sama pada Changmin tiap kali dia sedang menyukai seseorang. Sepupu egois dan menyebalkan.

Tapi itu karena Siwon sama sekali tidak berpengalaman dalam kehidupan romantisme. Siwon tidak pernah menjalin hubungan romantisme dengan wanita –atau bahkan pria– manapun. Tidak peduli ada banyak wanita yang tertarik padanya.

“Suruh orang untuk mengawasinya dari jauh. Jika kau memang khawatir, kurasa itu tidak akan masalah. Jika Kyuhyun menyadarinya, kau tinggal memberi alasan. Biasanya kau bertindak sesuai keinginanmu, tidak peduli apakah orang lain merasa nyaman atau tidak dengan tindakanmu itu. Sudah selesai masalah.”

*****

Hyukjae menghela nafas panjang. Kyuhyun meliriknya sekilas. Sejak mereka meninggalkan rumah sakit, entah tapi Kyuhyun merasa kalau Hyukjae sedang memikirkan sesuatu. Jika Hyukjae sampai menghela nafas seperti itu artinya yang sedang dipikirkannya adalah masalah pekerjaan.

“Kau kenapa? Ada masalah dengan kasus yang kau tangani?” tanya Kyuhyun.

Hyukjae melirik Kyuhyun. “Ani, bukan kasus yang kutangani. Tapi kasusmu.”

Kyuhyun mengernyit. “Kasusku? Maksudmu kasus Seon Hwan? Atau kasus lainnya?”

“Kasus Seon Hwan. Setelah selesai dari kasus Choi Group, kau hanya punya kasus Seon Hwan, Kyuhyun. Kemarin Pengacara Kang mengumpulkan semua orang dan membicarakan masalah kasus itu. Sepertinya Haneul mengatakan sesuatu,” tutur Hyukjae.

Kyuhyun terdiam sejenak. Dia bisa mengira apa yang dikatakan Haneul pada ayahnya, terlebih itu adalah permintaan Haesa. Namun, Kyuhyun akan berpura tidak mengetahui apapun untuk saat ini. “Haneul? Memang dia mengatakan apa?”

Hyukjae melirik Kyuhyun. “Jangan berpura tidak mengetahuinya, Kyuhyun. Haesa memberikan data mengenai salah satu kasus di Jepang yang hampir sama dengan kasus Seon Hwan. Dia bahkan memintamu untuk melepaskan kasus itu. Kau tahu, Pengacara Kang tidak akan pernah menutupi apapun dari semua pegawainya.”

Kyuhyun menarik nafas panjang. Well, keputusannya untuk berbohong langsung terbongkar dalam hitungan detik. Rasanya Hyukjae terlalu mengenal semua sifatnya.

“Lalu?” tanya Kyuhyun singkat.

Hyukjae memutar kemudinya. Mereka sebenarnya sudah hampir sampai, tapi Hyukjae memilih jalan yang lebih jauh agar mereka bisa bicara lebih banyak. “Pengacara Kang masih memikirkannya. Terlebih ini berkaitan dengan keselamatanmu. Pengacara Kang tidak akan gegabah mengambil keputusan yang akan membawa resiko besar bagi pegawainya. Jadwal sidang pra-peradilannya memang sudah ditentukan, tapi masih bisa diundur atau bahkan dibatalkan. Kurasa Pengacara Kang akan bicara dulu padamu. Besok kau akan masuk kerja?”

Kyuhyun mengangguk. “Tentu saja. Aku bahkan tidak terluka sedikit pun.”

Hyukjae menarik nafas kembali. Untuk masalah kasus Seon Hwan mungkin Kyuhyun dan Pengacara Kang Jaeha yang akan menyelesaikannya. Entah mereka akan menarik diri dari kasus tersebut atau tetap melanjutkannya. Masalah yang dipikirkan Hyukjae lainnya adalah Kyuhyun itu sendiri.

“Kapan kau mau menemui Kim Heechul?” tanya Hyukjae setelah sunyi yang panjang.

“Yak, jika kau ingin bertemu dengan…”

“Bukan itu, Kyuhyun. Aku akan menemuinya jika memang sudah waktunya. Aku tidak akan memakaimu sebagai alasan, jadi tenang saja. Tapi yang kutanyakan sekarang adalah masalahmu dengan Choi Siwon. Apa kau akan membiarkannya begitu saja?” ucap Hyukjae lagi.

Kyuhyun terdiam. Dia mengalihkan pandangannya. “Akan kuatasi sendiri. Sepupuku itu tidak perlu mengetahui apapun. Begitu pula dengan Noonaku. Jadi, jangan mengatakan apapun. Ini hanya untukmu sendiri, mengerti?”

Hyukjae menghela nafas panjang dan mengangguk.

“Ya, terserah kalau begitu. Tapi jangan menarik ucapanmu itu, Cho Kyuhyun. Dan selesaikan dengan cepat. Semakin cepat kau menyelesaikan masalahmu dengan Choi Siwon, semakin cepat kau bisa hidup dengan tenang lagi.”

*****

Joonmyeon membantu Sara menyiapkan makan siang. Zitao sedang merapikan kopernya dan Yifan masih belum kembali. Ini bahkan sudah lewat sepuluh menit. Sara menghela nafas dan menatap Joonmyeon yang sedang menata sumpit serta sendok untuk mereka berempat.

“Joon, bisa hubungi Yifan? Tanyakan dia sudah dimana dan suruh untuk cepat pulang. Katakan juga Mom tidak akan makan siang sebelum dia pulang,” tutur Sara.

Joonmyeon mengangguk dan mengeluarkan ponselnya. Cukup beruntung mereka sudah saling bertukar nomor ponsel, jika Sara menyuruhnya menghubungi Yifan tapi dia tidak tahu nomor ponselnya, itu memalukan.

Joonmyeon mencari nomor kontak Yifan dan segera menghubunginya.

“Yoboseyo?”

“Kau dimana? Mom menyuruhmu untuk pulang,” ucap Joonmyeon.

“Oh, mungkin limabelas menit lagi. Kalian makan siang duluan saja.”

Joonmyeon menghela nafas. “Mom bilang tidak akan makan siang sebelum kau pulang. Kau dimana sekarang? Kenapa lama sekali?”

“Uhm.. Baiklah, aku akan pulang sekarang.”

Yifan langsung memutus sambungan teleponnya secara sepihak. Joonmyeon mengernyit tidak mengerti dengan sikap Yifan. Joonmyeon kembali menghela nafas lalu bergegas ke kamarnya untuk mengambil mantelnya.

Saat dia kembali ke lantai satu, Sara memperhatikannya. “Kau mau kemana, Joon?”

“Eh? Keluar sebentar, Mom. Hanya lima menit.”

Sara mengangguk kecil. “Jangan lama-lama.”

Joonmyeon mengangguk lalu bergegas keluar rumah sembari memakai mantelnya. Saat diluar rumah, Joonmyeon kembali menghubungi Yifan. Namun, Yifan kali ini tidak mengangkat teleponnya.

“Ada apa dengannya? Kenapa mengabaikan teleponku?” gumam Joonmyeon sembari berjalan kearah toko peralatan sekolah yang juga menjual peralatan melukis.

Sebelum tinggal di rumah Joonmyeon, Yifan biasanya membeli peralatan melukisnya di dekat sekolah. Setelah pindah, Yifan bertanya pada Joonmyeon dimana toko terdekat untuk membeli peralatan melukis. Jadi, Joonmyeon kini berasumsi kalau Yifan mungkin masih di toko tersebut.

Namun, belum lama berjalan, Joonmyeon bertemu dengan Yifan yang membawa kantung plastik –berisi beberapa kaleng cat minyak. Joonmyeon menghela nafas panjang sembari merapatkan mantelnya. Yifan menatap Joonmyeon sembari terus berjalan menghampirinya.

Yifan lalu berhenti tepat dihadapan Joonmyeon.

“Kau mau pergi? Bukankah kita akan makan siang? Kau sudah minta ijin pada Mom?” tanya Yifan.

Joonmyeon kembali menghela nafas. “Kenapa mengabaikan teleponku?”

“Telepon? Kau meneleponku lagi?” Yifan merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan ponselnya. Yifan menunjukkannya pada Joonmyeon. “Ponselku mati. Tepat setelah kau meneleponku pertama-kali,” tukasnya sembari memasukkan ponselnya kedalam saku mantel.

Joonmyeon mendesis jengkel. Dia khawatir dengan sia-sia. Lalu kenapa dia harus mengkhawatirkan Yifan yang tidak mengangkat teleponnya? Joonmyeon menarik nafas lalu berbalik dan hendak kembali menuju rumah. Namun, Yifan menahan lengannya. Joonmyeon kembali menatap Yifan yang menyodorkan kantung plastik padanya.

Joonmyeon mengambil kantung plastik itu. Yifan lalu melepaskan syalnya dan memakaikannya pada Joonmyeon. “Kenapa keluar hanya memakai mantel? Kalau kau sakit lagi, bagaimana eh? Apa kau tidak mau ikut liburan bersama teman-temanmu?” ujar Yifan.

Yifan lalu mengambil kantung plastik dari tangan Joonmyeon dan berjalan menuju rumah. Joonmyeon menatap Yifan untuk beberapa detik lalu mengikutinya dari belakang. Yifan melirik Joonmyeon sekilas.

“Kau keluar untuk mencariku?” tanya Yifan pelan.

Joonmyeon bergumam pelan. Rasanya kalau dia berbohong pun percuma. Selain itu, Yifan berjalan pelan sekali hingga Joonmyeon harus mengikuti ritme langkahnya. Sepertinya Yifan ingin mengobrol lebih lama dengan Joonmyeon.

“Bagaimana dengan Guangzhou?” kali ini Joonmyeon yang bertanya.

Yifan menghela nafas. “Masih tetap sama seperti terakhir-kali aku kesana. Walaupun sepertinya banyak sekali perubahannya. Nana ingin sekali bertemu denganmu, tapi dia bilang kesehatan adalah hal penting.”

“Kenapa kau pulang lebih cepat? Mom bilang kau baru pulang hari Kamis atau Jumat,” tutur Joonmyeon.

Yifan mengulum senyum. “Kalau aku bilang merindukanmu, apa kau percaya?”

Langkah Joonmyeon sontak terhenti. Joonmyeon menatap punggung Yifan yang berjarak lima langkah darinya. Kemudian Yifan menoleh dan tersenyum pada Joonmyeon.

“Aku merindukanmu,” ucap Yifan lagi.

Joonmyeon tidak memberikan respon apapun. Dia hanya menatap Yifan dengan lekat. Yifan kembali berbalik dan berjalan. “Sebaiknya kita berjalan lebih cepat atau Mom akan benar-benar marah karena aku terlambat.”

Joonmyeon belum bergerak dari posisinya. Dia hanya memandangi Yifan yang sudah berjalan cukup jauh darinya. Joonmyeon menarik nafas dan menenggelamkan sebagian wajahnya di syal merah milik Yifan. Joonmyeon bisa mencium bau cologne yang biasa dipakai oleh Yifan.

Dia hanya pergi dua hari.

Joonmyeon kemudian mulai berlari ketika dia mendengar Yifan memanggil namanya.

Joonmyeon berlari menuju Yifan.

*****

Haneul tidak menghabiskan makan siangnya. Dia hanya menatap piring dihadapannya. Begitu pula dengan Changwook. Setelah pertanyaan Haneul, Changwook tidak mengatakan apapun dan mulai memasak pasta untuk makan siang mereka. Tidak ada satu kata yang terucap dari Haneul ataupun Changwook selama hampir empatpuluhlima menit dan rasanya terlalu sunyi juga canggung.

Haneul mengangkat kepalanya dan menatap Changwook yang duduk dihadapannya. Respon diam Changwook adalah jawaban bagi pertanyaan Haneul.

Haneul mungkin tidak pernah menyangka, tapi jika melihat sikap Changwook beberapa hari terakhir padanya membuat semuanya masuk akal. Kini, Haneul mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Kyuhyun ketika dia mengatakan menyukai Kyuhyun. Namun, situasi mereka berdua berbeda.

Haneul menarik nafas. “Sunbaenim..”

Changwook sontak mengangkat kepalanya. Haneul kemudian menghembuskan nafas. Dia menegakkan tubuhnya dan menatap Changwook dengan serius.

“Sejak kapan?” tanya Haneul.

Changwook sedikit menunduk dan tersenyum tipis. “Entah. Sejak kau tidak sengaja menumpahkan kopi ke jaket-ku? Tapi saat itu kau baru tiga hari bekerja. Aku tidak tahu.”

“Tapi sejak kejadian itu kau selalu bersikap dingin padaku. Aku pikir kau membenciku,” tutur Haneul.

“Membencimu?” Changwook menggeleng. “Saat kejadian itu, aku memang sedang kesal. Tapi bukan sepenuhnya kesalahanmu. Hari itu, pasien yang menjadi tanggung-jawabku meninggal. Aku selalu merasa buruk setiap kali itu terjadi. Kau hanya sedang sial saja mendapatkan perlakuan itu dariku. Aku minta maaf.”

Haneul tidak mengatakan apapun. Changwook lalu kembali bicara.

“Saat itu, kau terlihat begitu panik. Sebenarnya aku merasa lucu melihat ekspresimu, tapi aku tidak bisa tertawa. Jadi, aku berteriak marah padamu. Kau bahkan membawa jaketku untuk di laundry padahal kau tidak perlu melakukannya karena divisi kita berbeda, bukan? Aku merasa kalau kita mungkin tidak akan bertemu lagi karena rumah sakit cukup luas. Tapi keesokan harinya, kau datang menemuiku dengan membawa jaketku yang sudah bersih. Itu meninggalkan kesan yang tidak terlupakan. Mulai hari itu, tiap kali tidak sengaja bertemu –terkadang aku sengaja mencarimu– aku bersikap menyebalkan padamu. Kupikir kau akan merasa kesal dan menyuruhku pergi menjauh, tapi kau tidak melakukan apapun. Seakan yang kulakukan sama sekali tidak menganggumu. Kau tahu, karena sikapmu itu suster dan dokter lain menganggapmu angkuh. Kau hampir tidak pernah tersenyum, selalu bersikap serius, dan kaku. Namun, aku tahu kalau itu hanya sebuah topeng untukmu,” ujar Changwook.

Haneul berkedip beberapa-kali. Changwook kembali tersenyum pada Haneul.

“Karena kau menyukai pria. Jadi, kau bersikap seperti itu pada semua orang. Namun, saat pegawai ayahmu datang untuk pertama-kali karena luka ditangannya, aku melihat ekspresi lain di wajahmu. Ekspresi khawatir, cemas dan rasa takut. Dan ketika dia datang lagi, kau mulai sedikit tersenyum setelah dia pergi. Kau terlihat puas dan senang karena telah mengobatinya. Saat melihat ekspresimu itu padanya, aku merasa kesal. Karena hanya dia yang bisa membuatmu memperlihatkan ekspresi. Hanya dia yang bisa membuatmu melepaskan topengmu. Aku cemburu, kau tahu.”

“Ce-cemburu?” gumam Haneul.

Changwook mengangguk. “Sangat cemburu. Seberapa sering aku berusaha membuatmu kesal atau setidaknya memperlihatkan ekspresimu, kau tidak pernah mengubrisnya. Tapi hanya dengan kedatangannya di rumah sakit, sudah membuatmu memperlihatkan ekspresi dirimu yang sebenarnya. Mungkin sejak itu, aku mulai menyadari kalau aku ingin mendapatkan posisi itu darinya. Aku ingin membuatmu merasa cemas, khawatir, kesal, jengkel termasuk bahagia.”

Changwook memperhatikan ekspresi Haneul yang sepertinya mulai merasa tidak nyaman dengan pembicaraan. Itu adalah tanda baginya untuk berhenti. Changwook menghela nafas panjang.

“Kau sudah selesai makan? Kau harus kembali ke rumah sakit, bukan? Aku tidak mau membuatmu kena masalah karena terlambat,” ucap Changwook mengakhiri pembicaraan canggung mereka.

Haneul meraih gelasnya dan menghabiskan minumannya. Sedangkan Changwook berdiri dan berjalan menuju ruang tengah untuk mengambil meraih jaket milik Haneul. Haneul menarik nafas panjang sebelum berdiri dan berjalan menuju ruang tengah. Dia mengambil jaket dari tangan Changwook dan memakainya. Changwook tersenyum kaku padanya.

Haneul menatap Changwook lagi. “Terima kasih atas makan siangnya, Sunbaenim.”

“Jangan sungkan. Apa perlu kuantar sampai basement?” tanya Changwook.

Haneul hanya menggeleng. Changwook hanya tersenyum dan membiarkan Haneul berjalan menuju foyer untuk memakai sepatunya. Changwook menghela nafas dan berjalan menuju foyer. Dia memperhatikan Haneul yang sepertinya kesulitan memakai sepatunya.

Changwook lalu berjongkok dan membantu Haneul memakai sepatunya. Haneul sendiri terkejut dengan sikap Changwook tersebut. Setelah selesai, Changwook kembali berdiri dan menatap Haneul.

Haneul membungkuk dengan canggung. Lalu dia berbalik dan meraih gagang pintu ketika Changwook tiba-tiba meraih lengannya. Haneul kembali menoleh. Changwook tidak tersenyum lagi. Haneul menatapnya dengan lekat.

“Sunbaenim…”

“Bisakah? Bisakah aku mengambil posisi itu dari Kyuhyun? Maukah kau memberiku kesempatan untuk berada di posisi itu?”

*****

NOTE: Maaf… Maaf.. Kalau nemu typo. Rasanya walaupun udah di editing beberapa-kali tetep ajah ada typo yang ketinggalan. Hahh.. Rasanya aku masukin kebanyakan pairing di fanfic ini -___-

Please, jangan protes dulu kalau misalnya bagian wonkyu cuma dikit, karena emang udah begitu ada alurnya. Walaupun berusaha nyelipin, tapi rasanya pun gak akan cukup. Fanfic ini  sepertinya akan sama dengan drama-korea keluarga yang panjangnya bisa ampe limapuluh episode -____-

Err… betewe ada yang nonton drama Doctor Frost? Hihihi… aku lagi keranjingan drama itu karena temanya beda. Yang kuliah psikologi, coba di tonton Hahahaha.. cuma sepuluh episode koq. Jadi, berasa kurang

Music: DBSK – Mirotic

Advertisements

35 thoughts on “[SF] Scarface Part 23

  1. apa kasus kyuhyun itu benar-benar bahaya???!!! #Semoga kyu selalu dalam lindungan Siwon:D
    Changwook itu udah ngomong perasaannya, terus gmna hasilnya???!!! d tggu kelanjutannya ya!!!

  2. satu yang mau ku komenin.
    tentang siwon yang kata changmin begitu sedih kayak mau ninggalin kekasih tercintanya pergi jauh. ngak tau napa tpi hal tu buat ngakak ngebayangin muka siwon

  3. keren..tmbh satu pasgn lg..apkh ad yg nyusul…..???eunhyuk dn donghae mgkn..?? ^^
    changwook keren jg…ap jwbn haneul ya kira2…..

  4. well ~ gapapa kok mau panjang kyk drama korea yg eps nya melebihi 50 eps,yg penting kan ceritanya ga membosankan kkk ~
    aah Kyu msh bingung sma perasaan nya sndri,coba aja Siwon bkin Kyuhyun cemburu.
    misal jalan sma cwek gitu? kan bakal tau gmana perasaan Kyuhyun sbenarnya? hihi
    soal masalah kasus Seon Hwan,maunya sih Kyu melepaskan kasus itu klo bahaya :3
    khawatir jg sma Siwon klo Kyu knapa2 muahaha
    aku suka bingung klo mau komen soal KrisHo,maaf ya diera sayang T.T
    eh mksd nya apa? Haneul mau jadian sma Changwook gitu? hngg ~
    pkoknya tetap semangat lanjutin FF nya ya,fighting!! 😀

  5. gpp eon.. heheheh walau dikit tp tetep ada itu udah suatu kebahagiaan buat ku hahahah…
    ffnya eonni seperti oase pada padang pasir yang tandus… hehhehe karena q sedang UAS mangkane q seneng ffnya eonni memberikan kebahagian di tengah2 proses UAS heheheh gomawo..

    kasusya kyu bahaya banget kah?
    ketiga couple.ane sedang galau… masih bimbanh dengan prasaannya sendiri…..

    gomawo eonni diera…
    2 ff sekaligus.. daebak…daebak…

  6. entah kenapa aku senyum2 gaje pas part changwook haneul … changwook keren banget lo selalu langsung bertindak dengan tenang tapi bikin haneul g berkutik …. wonkyu nya blm ada perkembangan ya dan masih penasaran sama kasus baru kyu.

  7. Update…
    Gpp deh mski wonkyu dkit..kekeke
    Sii kyu nsib nya gmna? Kasusnya bahaya bgt ta???
    Omo…siwon jgain kyu ya

    Keep writing

  8. waahhhhh seneng banget udah update..sampe nggk nyangka kalau bneran udah update…
    udah deh siwon, suruh orang ikutin kyu aja biar nggk cemas..wonkyu fighting…heheh…kakak juga fighting…:-D

  9. kyu jgn abaikan perasaan wonnie nti kamu nyesal
    jgn ambil kasus itu karna akan berbahaya buat kamu kyu
    cptnya eonni dan fighting

  10. Jd pnasaran sama kasusnya kyuhyun.. Brharap sih klo emg berbahaya bisa cpet” menjauhlah jngan smpe pula ntar kyu yg knpa”

  11. Akhirnya update jg….agak sedih sih, knpa wk nya cuma dikit:'(
    Tapi selalu ditunggu kelanjutannya!!
    Gomawo buat dokumen pdf two faces nya:-D

  12. ada part haneul sama changwook, nyempitin WONKYU sama KRISHO..padahal ga diceritain juga bisa..bukan tokoh utama juga kan..

  13. Kenapa wk nya cuma dikit??:'(
    Tapi selalu ditunggu kelanjutannya!!!
    Eonni, gomawo buat dokumen pdf two faces nya:-D

  14. duh disangka di chap ini kyu bakalan dtg k chullie..
    pensaran sama apa yg trjdi di kamar mandi yg walau sbnrnya udh diketahui tapi kan g jelas gamblang gtu lah pngungkapannya hehehe
    lalu itu soal kasus seo hwan,, lyt kyu yang sprtinya agak kras kepala koq mikirnya kyu bakalan tetap ambil ksusnya y??
    apa siwon bakalan ambil pndapat chang untuk mngawasi kyu??
    klo mw sih gpp, walo kyu pngacara kan dy jg butuh guardiannya dan siwon kan g mgkn 24 jam brsama kyu, trlbih noona nya yg lum mncabut ucapan k siwon untuk g dket2 sama kyu..
    kalo kyu ragu terus sama prasaannya mungkin dengan mmunculkan pihak ktiga dri pihak siwon bisa kali y??
    stidaknya pihak itu bisa mnyadarkan prasaan kyu, byr kyu jg g gantungin hubungannya sama siwon jg..

    cuh changwook udh nembak haneul nih..
    lalu sypa yg akan jdian dluan nih??
    changwook-haneul or wonkyu?? hahahahha

  15. 50 episode????
    Aku tunggu…..
    yang penting ada wonkyunya hehehe

    Kyuhyun masih bimbang dengan perasaannya, padahal Siwon sudah benar-benar yakin dengan perasaannya. Yang masih menjadi pertanyaan, bagaimana dengan keluarga Siwon??? Apa keluarga Siwon akan menerimanya atau menentangnya??
    Berharap sih mereka akan menentang, jadi makin panjang deh ceritanya hehe #plak#
    Ditunggu lanjutannya…..

  16. Joonmyon..Jifan..hmmm..mg aj,kalian segera menemukan jln untuk perasaan kalian.
    Ji Changwook..smga cintamu akn terbalas.Walau sepertinya tdk mudah.
    Uri WonKyu..segera perjelasan hbngan kalian.Sepertinya akn lbh baik untuk hbgan kalian kKkkkk.Fighting!!!

    Jeongmal gumawo eonni!!!

  17. Sebahaya apa kasus yg akan ditanganin kyuhyun? Kenapa semua jd khawatir

    Ketiga couple ini lagi galau sama masalah mereka masing2

  18. Jadi ceritanya aku lupa kalo habis log out email yahoo dan belum log in lagi. Alhasil aku telat dapat notif update-an ff ini deh :’)

    Wohoooo~ Changwook sudah mulai bergerak. Ini jadi kayak ada 3 cerita kak 😀
    Makin seruuuuuuuu~ ♥
    Sekarang Kyu mulai fokus ke masalah Seon Hwan yg makin bikin penasaran. Siwon sedikit muncul, tp memang kalau sesuai alur ini udah cukup.
    Ah Yifaaaan, gak bisa akting dikit ya? Pura-pura gak kangen kek huhuhu
    Apa kabar hasil pemeriksaannya Joon. Udah penasaran juga kak :’)

    Ditunggu chapter selanjutnya deh ya ^^

  19. aku abis flashback dari chap 1 sampe chap 23, dan itu berhasil bikin aku makin penasaran sama lanjutan ff ini. Semangat buat chap selanjutnya kak. Aku penasaran banget sama kasus barunya kyu dan juga hasil pemeriksaan si joonmyeon. Semoga chap depan ada perembangan dari wonkyu dan juga krisho^^ fighting kak diera 😉

  20. Wonkyu maju satu langkah yaa???
    ji Changwook, straight to the point,…
    gara2 baca ini, aku jadi penasaran sama changwook, langsung searching deh, ternyata orang nya ganteng, sekarang malah tertarik ke changwook-haneul, mereka bikin penasaran,

  21. setiap moment wonkyu ataupun joon-yifan semuanya pas kan pairingnya emang beda” jadi harus sama rata
    kayaknya kasusnya kyuhyun membahayakan jadi ya gk usah diteruskan lah kyu apalagi menyangkut keselamatanmu

    udah nebak dari awal kalo changwook menyukai haneul dan sekarang terbuktikan

  22. Kata2nya changmin ke siwon itu, bner2 sesuatu. . wkwkwkwkwkw
    Won ampe sgitunya ama kyu^^ bner2 dh jatuh untuk kyu ampe pisah bntar ajja brasa kek ninggalin slamanya. . muehehehe

  23. Siwon sngat hawatir sma kyu,,,pi kyu msh sngt bingung dgn perasaanya….
    Cwangkook bnr2 serius rupanya,,,smakin mnarikkkk,,,apa dy mampu mngambil posisi kyu dhati hanuel????
    Smga kasus kyu ga trlalu berbahaya…

  24. kyu cukup keras kepala juga ya buat nanganin kasusnya;; semonga pengacara kang mau narik kasus itu aja…….. tapi kalo narik juga bisa bahaya :/ hm serbassalah ;;
    jarang2 baca fic krisho yg yifannya rada pasif pas ngedeketin jun biasanya gatau malu -_- tapi gapapa suasana baru wkwk

  25. Tindakan sprt apa yg akan diambil siwon nantinya utk menjaga keselamatan kyuhyun dr bahaya yg kemungkinan akan mengancam krna besar kemungkinan kyuhyun akan melanjutkan kasus seon hwan…
    Utk hubungan wonkyu skrg tinggal menunggu kyuhyun yakin dg perasaannya pd siwon…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s