[MM] Super Human – 1st Story [7]

super human

Chapter Seven

 

Aiden tersenyum setelah memasukkan tugas akhirnya. Setidaknya setengah dari syarat kelulusannya sudah terselesaikan degan baik. Aiden tinggal mengikuti beberapa ujian dan bersiap untuk upacara kelulusan yang akan diadakan tiga minggu lagi. Setelah bertahun-tahun menjalani kuliah, akhirnya Aiden merasakan kebebasan. Setidaknya merasa bebas selama dua minggu sebelum dia akan masuk ke perusahaan. James Lee mengatakan kalau beliau sudah menyiapkan posisi bagi Aiden di Lee Corp. Aiden hanya berharap posisi yang akan diberikan padanya tidak begitu mudah. Itu akan terlihat tidak adil bagi pegawai baru yang menjalani tes untuk masuk ke perusahan mereka.

Aiden menghela nafas lalu berjalan keluar dari ruang dosen. Tapi di depan pintu, Aiden tidak sengaja hampir menabrak seseorang. Aiden sontak membungkuk meminta maaf. Terlebih orang yang hampir ditabrak olehnya adalah seorang dosen.

“Oh, maafkan saya,” kata Aiden.

Dosen tersebut tersenyum memaklumi. “Tidak apa-apa. Kau bahkan tidak menabrakku. Kau baru saja memasukkan tugas akhirmu?”

Aiden mengangguk. “Baru saja.”

“Belajarlah untuk ujian akhir mata kuliah lainnya. Tenang saja, ujian mata kuliahku tidak akan sulit,” tutur dosen tersebut.

Aiden kembali tersenyum. “Terima kasih, Professor Park. Kalau begitu, aku permisi dulu.” Aiden kembali membungkuk dan berjalan meninggalkan ruangan dosen.

Professor Park itu memperhatikan Aiden yang berjalan menjauh. Pria itu tersenyum tipis dan berjalan memasuki ruangan dosen. Aiden Lee, salah satu mahasiswa-nya yang cukup pintar, hanya saja fokus perhatiannya sering-kali mudah teralihkan. Aiden seharusnya sudah bisa lulus sejak dua semester lalu. Tapi beberapa nilai Aiden kurang memenuhi syarat kelulusan dan harus mengulang beberapa mata kuliah. Cukup beruntung tahun ini, Aiden bisa menyelesaikan kuliahnya tanpa masalah.

Professor Park menaruh tasnya diatas meja kerjanya. Kemudian dia duduk dan membuka salah satu folder yang disimpannya pada salah satu laci. Folder tersebut diletakkan paling bawah laci tersebut, jadi agak sulit untuk mengambilnya. Sang professor tersenyum ketika folder tersebut sudah diletakannya diatas meja. Kemudian ia membuka folder tersebut dan memperhatikan setiap halaman dari folder tersebut.

Professor Park kembali tersenyum ketika ia berhenti pada salah satu halaman. “Andrew Choi, pewaris Choi Incoporate. Kurasa hanya menunggu waktu sampai kita bisa bertemu.”

*****

Steve memperhatikan gadis yang lebih banyak duduk di sofa. Gadis yang ingin dipertemukan oleh Marc padanya. Gadis dari Berlin yang mempunyai kemampuan yang sedikit menyeramkan, Annabelle Kim. Andrew membawa gadis itu ke Lab bersama dengan Sully Choi.

Tapi sejak sampai di Lab, gadis itu tidak mengatakan apapun. Hanya mengenalkan namanya dan kemampuan yang dimilikinya. Setelah itu Anna tidak bicara lagi. Dia hanya duduk di sofa menggenggam erat ponselnya seakan dia sedang menunggu seseorang untuk menghubunginya. Selain itu, Steve juga memperhatikan gadis itu memakai sarung tangan. Andrew bilang gadis itu memakainya untuk menghindari menyentuh orang lain tanpa sengaja.

Steve menarik nafas dan kembali fokus pada pekerjaannya. Saat ini Andrew sedang mengurus tempat tinggal baru untuk Sully, sedangkan Sully sendiri sedang melakukan beberapa pemeriksaan. Gadis itu sudah tidak datang ke Lab selama delapan bulan lebih, jadi mereka perlu memperbaharui database mereka. Jadi, tinggalkan Steve dan Anna di ruangan tersebut.

Suasana sunyi itu bertahan hampir satu jam, sampai Andrew datang. Pria itu menghela nafas dan memperhatikan Anna. Kemudian ia menghampiri meja Steve. “Tes untuk Sully belum selesai?”

“Mungkin lebih lama dari perkiraan. Bagaimana dengan tempat tinggalnya?” tanya Steve.

“Tenang saja, aku menemukan tempat yang aman. Selain itu, aku meminta beberapa bantuan untuk menjaga lingkungan tersebut. Untuk tempat kerjanya, aku sudah menyuruh orang bertemu dengan managernya. Mungkin Sully harus menemukan pekerjaan baru, tapi akan kuurus setelah masalah ini selesai,” jelas Andrew. Kembali, ia menoleh memperhatikan Anna yang sepertinya tidak bergerak sedikitpun dari sofa.

Andrew menatap Steve lagi. “Kau tidak ingin melakukan beberapa tes padanya? Untuk database kita?”

“Aku ingin melakukannya, tapi gadis itu menolaknya. Dia tidak ingin siapapun menyentuhnya. Dia tidak ingin menyakiti siapapun. Jadi, aku tidak bisa melakukannya. Bagaimana kalau kau yang membujuknya? Sepertinya dia sedikit menaruh kepercayaan padamu. Aku bisa melihat dari tatapan matanya setiap kali memandangmu,” kata Steve.

Andrew menghela nafas. Ucapan Steve mengenai Anna yang sedikit percaya padanya, itu terdengar tidak masuk akal. Anna masih menutup diri pada siapapun, bahkan dirinya. Sejak pertemuan pertama mereka kemarin hingga hari ini, Anna tidak terlihat seperti percaya padanya. Bahkan pada ayahnya sekalipun. Gadis itu hanya mempercayai dirinya sendiri.

“Biarkan aku bicara padanya dulu. Kau bisa melihat keadaan Sully,” ucap Andrew. Steve menggangguk dan berjalan keluar dari ruangan tersebut. Andrew kembali memperhatikan Anna dan menarik nafas panjang. Setidaknya dia bisa bicara pada gadis tersebut.

Andrew berdiri dan mendekati gadis tersebut. Ia duduk disamping Anna dan membuat gadis itu mengangkat kepalanya. Andrew tersenyum dan melirik ponsel yang ada ditangan Anna. “Kau sedang menunggu seseorang? Sejak tadi kau hanya memandangi ponselmu. Ayahmu? Atau ibumu?” tanya Andrew.

Anna menggeleng dan memasukkan ponselnya kedalam saku jeans. “Kau sudah selesai dengan urusan Sully, bukan? Kalau begitu aku akan pulang.”

Andrew terkejut mendengar ucapan Anna. “Eh? Pulang? Sendirian? Akan kuantar setelah urusan Sully disini selesai. Lagipula aku yang menjemputmu, maka aku juga harus mengantarkanmu pulang,” ujarnya.

“Tidak apa-apa. Aku bisa pulang dengan taksi. Kau harus mencari Dennis Park, bukan? Jadi, masih banyak yang harus kau kerjakan. Kau bisa menemuiku lagi jika membutuhkan bantuanku. Walaupun begitu, aku tidak yakin bisa membantu banyak.” Anna kemudian berdiri sontak Andrew pun ikut berdiri.

Anna memandang Andrew untuk beberapa saat sebelum membungkuk, “Aku pergi.”

Dengan cepat Andrew menahan lengan gadis itu. Tapi Anna menariknya dan mengambil beberapa langkah menjauhi pria tersebut. Andrew sendiri juga terlihat terkejut dengan apa yang dilakukannya. Andrew menarik tangannya dan menyimpannya pada saku jaketnya.

“Ma-maaf, itu hanya gerak reflek. Tapi bisakah kau menjalani tes dulu? Kami tidak mempunyai data apapun mengenai kemampuanmu. Jadi, maukah kau menjalani tes? Tidak akan lama. Mungkin hanya satu atau dua jam,” bujuk Andrew dengan cepat.

Anna memperhatikan ekspresi Andrew dengan lekat. Kemudian ia menarik nafas dan menghembuskan perlahan. “Aku tidak bisa. Orang lain tidak boleh menyentuhku.”

“Aku akan menemanimu. Selama kau menjalani tes, aku akan menemanimu. Aku adalah penanggung-jawab atas Lab ini. Aku bisa memastikan semua orang berhati-hati. Mereka tidak akan menyentuhmu secara langsung,” Andrew semakin keras membujuk Anna. Setidaknya jika mereka berhasil mendapatkan database mengenai kemampuan Anna, penelitian mereka mengenai super human akan mengalami kemajuan.

Selama ini, penelitian tidak berjalan lancar. Tujuan utama penelitian ini adalah mencari tahu asal kemampuan ini. Bagaimana manusia bisa mendapatkannya dan mungkin mereka bisa mencari tahu untuk menghilangkannya. Dari semua kemampuan yang mereka ketahui, sebagiannya mungkin bisa sangat berguna. Tapi sebagian lagi dari kemampuan super human itu membuat manusia yang memiliki kemampuan itu kehidupannya menjadi buruk. Seperti yang dialami oleh Anna saat ini. Karena kemampuannya, Anna menutup dirinya dari kehidupan sosial. Andrew setidaknya bisa mencari jalan untuk membuat kehidupan super human seperti Anna bisa menjadi lebih baik.

“Terima kasih, tapi kita mungkin tidak perlu bertemu lagi. Setelah memastikan kecelakaan itu tidak menimbulkan dampak yang besar dan pembunuh itu bisa ditangkap, aku akan pergi. Andrew Choi, terima kasih.”

Anna lalu meninggalkan ruangan tersebut. Andrew sendiri tidak bisa menahannya. Ia tidak bisa memikirkan alasan lainnya untuk menahan Anna. Selain itu, Anna sudah memutuskan kalau dia akan pergi. Mungkin kembali ke Berlin, kembali bersama ibunya. Tujuan Anna datang ke Seoul hanya bertemu dengan Andrew untuk memberitahu mengenai kecelakaan tersebut. Jadi, saat ini Anna tidak mempunyai tujuan lagi untuk tinggal lebih lama walaupun sebenarnya dia ingin.

*****

Aiden melihat Angela sedang duduk sendirian di meja counter dapur sembari memakan ice cream blueberry. Kemudian ia berjalan menghampiri adiknya tersebut. Aiden menaruh tas ranselnya diatas meja counter lalu duduk disamping Angela dan mengambil mangkuk ice cream serta sendok dari tangan Angela dan mulai menghabiskan sisa ice cream tersebut. Angela hanya mendengus jengkel. Aiden memang sering-kali mencuri makanan darinya.

“Urusan tugas akhirmu sudah selesai?” tanya Angela.

Aiden mengangguk. “Hanya tinggal mengikuti beberapa ujian akhir minggu depan. Akhirnya, aku akan segera terbebas dari universitas.”

“Dan selamat datang di Lee Corp, Manager Aiden Lee,” sahut Angela yang kembali mengambil mangkuk serta sendok ice cream miliknya.

Sontak ekspresi Aiden berubah menjadi cemberut. Dia melupakan tentang posisinya di Lee Corp. Ayahnya benar-benar memberikan posisi yang belum pantas diterima Aiden sebagai lulusan baru universitas. Mana ada seorang lulusan yang langsung menempati posisi manager seperti itu. Tapi James seakan tidak peduli.

Angela melirik Aiden. “Jangan cemberut begitu, kakakku sayang. Setidaknya kau cukup beruntung tidak perlu sulit mencari pekerjaan. Kau tahu, Ayah sangat memanjakanmu dibandingkan denganku,” tukasnya.

“Aku tetap tidak menyukainya. Kalau aku masuk ke perusahaan, bagaimana tanggapan pegawai lain, eoh? Hanya karena aku adalah anak pemilik perusahaan, bukan berarti aku bisa mendapatkan posisi apapun dengan mudah. Jika dibandingkan dengan Andrew Choi dan Marcus Cho, mereka masuk ke perusahaan dengan cara yang benar,” kata Aiden.

Angela menatapnya dengan kening berkerut, “Cara yang benar? Maksudnya mereka mengikuti tes masuk perusahaan, begitu?”

Aiden hanya mengangguk. “Memang kau tidak tahu? Ah, tunggu! Angela Lee tidak pernah tertarik mendengarkan perbincangan mengenai bisnis. Tapi untuk apa aku membicarakan mengenai mereka. Kau bahkan menolak mendengarkan nama Marcus Cho disebut, bukan?”

Angela mendecih. “Itu karena dia, pria yang menyebalkan. Beruntung, Ayah tidak menyebut masalah perjodohan itu lagi. Aku benar-benar gila tiap kali mendengar Ayah menyebut nama pria itu. Tapi aku mendengar sesuatu mengenai pria menyebalkan itu.”

Aiden memperhatikan Angela yang sudah menghabiskan ice creamnya. “Sesuatu mengenai apa? Kau dapat gosip dari temanmu itu lagi, ya? Siapa namanya? Yang bermarga Han itu.”

“Cathrine Han, Aiden sayang. Kau sudah bertemu dengannya sebanyak empat kali tapi masih belum mengingat namanya?!” Aiden hanya mengangkat bahu, tanda tidak peduli. Tapi Aiden ingin mendengarkan apa yang ingin dikatakan Angela mengenai Marcus Cho.

Angela menghela nafas. “Well, Kate mengatakan kalau Marcus Cho dan Josephine Seo pernah berhubungan sewaktu mereka di sekolah menengah. Tapi kemudian keduanya putus sebelum upacara kelulusan dan Josephine Seo akan menikah dengan pewaris Jung Motors.”

Aiden masih memperhatikan adiknya dengan lekat tanpa mengatakan apapun. Angela melirik kakaknya dengan bingung. Ekspresi Aiden terlihat datar dan terkesan tidak begitu peduli dengan apa yang baru saja didengarnya. Angela menarik nafas panjang. “Hey, Aiden Lee. Kau tidak mau memberikan reaksi apapun? Jangan melihatku seperti itu. Aku mendengarnya dari Kate!”

Aiden sontak mendekatkan wajahnya pada Angela, hingga adiknya itu sedikit menghindar. Angela berkedip beberapa-kali, tapi ekspresi Aiden masih datar. Kemudian Aiden mengangkat tangannya dan menyentil kening Angela. Adiknya itu meringis kesakitan. Angela memandang Aiden dengan kesal.

“Untuk apa menyentilku, eoh!” omel Angela.

“Karena kau sudah tertular virus gosip dari temanmu itu. Jika kau tidak menyukai pria Cho itu, untuk apa kau mendengarkan gosip tentangnya, eh? Bahkan jika temanmu itu mengatakan kalau itu bukan gosip, lalu apa urusannya denganmu, Angela Lee? Jika kau tidak tertarik, maka berhentilah mendengarkan apapun mengenai dirinya. Kau sendiri yang mengatakan itu pada Ayah, bukan?” ujar Aiden.

Tanpa mendengarkan pembelaan dari Angela, Aiden lalu mengambil tas ranselnya dan berjalan menuju tangga. Angela sendiri hanya mendengus sembari mengusap keningnya. Sentilan Aiden itu sangat sakit –bahkan mungkin bisa meninggalkan rona merah di dahinya. Tapi mendengar ucapan Aiden, Angela menjadi berpikir. Benar juga? Kenapa aku malah membicarakan tentang pria menyebalkan itu? Dia tidak mempunyai urusan apapun denganku, pikir Angela.

Angela lalu menyusul Aiden. “Hey, Aiden Lee! Apa Ibu sudah menghubungimu? Kapan Ibu pulang dari Afrika? Aiden Lee!!”

*****

Victoria mengetuk pintu ruangan Marc dan membukanya sedikit. Ia melihat Marc yang tengah mengerjakan sesuatu, mengangkat kepalanya dan menatapnya. Victoria kemudian berjalan masuk dan menutup pintu. Marc menghela nafas dan menutup sebuah map dokumen saat Victoria mendekat. Victoria memperhatikan ruangan Marc yang sangat berantakan dan dipenuhi oleh tumpukan dokumen. Ia mendengar kalau Marc menunda peluncuran project nemesis dan melakukan evaluasi ulang.

Mungkinkah Andrew sudah mengatakan mengenai ledakan itu pada Marc? Pikir Victoria.

Marc menatap Victoria dengan lekat. “Ada apa Victoria?”

Victoria terdiam sejenak. Rasanya ini seperti ketika Victoria datang ke Skyline. Marc memanggilnya dengan cara dan nada yang sama seperti sekarang –seperti mereka masih orang asing. Marc masih memandanginya dan Victoria menghela nafas. Kemudian ia menaruh sebuah dokumen dihadapan Marc.

“Dari kantor pusat. Kau tahu, dari dewan direksi Choi Incoporate,” kata Victoria.

Marc menatap map itu lalu membukanya. Marc membaca dengan penuh perhatian agar dia tidak melewatkan satu kalimat pun. Setelah lima menit, Marc menutup kembali map tersebut. Ia memijat keningnya dengan keras. “Mereka memintaku datang besok. Oh, hebat sekali,” gumam Marc.

Victoria hanya bisa menatap Marc dengan prihatin. Well, Marc memang sering-kali terlibat masalah dengan pihak dewan direksi dengan semua proposal project-nya –mungkin hanya sebagian dari semua proposalnya. Tapi jika terjadi sesuatu yang buruk dalam proses pengerjaan project atau bahkan setelah project itu diluncurkan, mereka tidak akan segan memanggil Marc untuk meminta penjelasan lebih lanjut. Rasanya Victoria masih ingat saat Marc hampir saja lepas kendali atas emosinya ketika salah satu dewan direksi memberikan argumen secara terus-menerus mengenai project mars. Cukup beruntung Andrew yang ikut bersamanya berhasil menenangkan Marc sebelum anggota dewan direksi itu diterbangkan oleh kemampuan telekinesist yang dimiliki Marc. Untuk masalah yang terjadi pada project nemesis, Victoria tidak yakin hal terburuk apa yang bisa terjadi.

“Pergilah bersama Andrew. Jangan pergi sendiri. Hanya untuk pencegahan,” kata Victoria.

Marc melirik padanya dan mendesah. “Okay, aku akan mengajak Max. Setidaknya kemampuannya cukup berguna jika aku benar-benar lepas kendali lagi,” tukasnya.

Victoria baru berkenalan dengan Max tadi pagi ketika Marc mengajak pria itu menemuinya untuk mengambil dokumen. Marc memberitahu mengenai kemampuan Max dan memang sangat berguna. Tapi mengajak pegawai baru ke rapat dewan direksi sepertinya bukan keputusan yang tepat. Anggota dewan direksi mungkin akan semakin murka pada Marc karena membawa pegawai dengan status rendah seperti Max. Tapi itu adalah masalah Marc. Victoria tidak ingin terlihat mengatur apa yang harus dilakukan Marc.

“Baiklah, jangan terlambat. Ohya, Andrew sudah menghubungimu? Aku sama sekali tidak terhubung dengannya. Sebenarnya apa yang dilakukannya hingga tidak bisa masuk kerja?” tanya Victoria.

Marc menaruh dokumen itu diatas tumpukan dokumen lainnya. “Tidak tahu, mungkin mencari super human yang belum tentu ada di Korea. Kenapa memangnya?”

Victoria menggeleng. “Tidak ada apapun. Tapi apa maksudmu dengan mencari super human? Terjadi sesuatu?”

Marc mendelik. “Well, mungkin kau harus menjelaskan sesuatu padaku terlebih dahulu. Mengenai kecelakaan project nemesis. Andrew bilang kau mendapatkan kilasan masa depannya. Tapi kenapa kau tidak memberitahuku?”

Victoria sudah menduga kalau akhirnya Marc akan bertanya padanya –dengan sangat marah. Itu tidak terlalu mengejutkan lagi. “Karena pasti reaksimu akan buruk. Lihat apa yang terjadi sekarang? Kau mungkin akan menyangkalnya tapi pada akhirnya kau akan bersikap seperti saat ini. Atau lebih buruk.”

“Akan jauh lebih buruk lagi jika project nemesis-ku hancur dan perusahaan menderita kerugian miliaran dolar. Kapan kau berencana memberitahuku mengenai kecelakaan itu? Atau mungkin kau tidak berniat memberitahuku sama sekali,” kata Marc terdengar lebih kesal dari reaksinya mendapatkan surat dari dewan direksi.

“Aku akan memberitahumu setelah aku benar-benar yakin dengan apa yang kulihat. Aku tidak bisa membahayakan siapapun dengan kilasan masa depan yang kudapatkan. Kau tahu kalau semua kilasan yang kudapat selalu terlihat seperti puzzle,” jelas Victoria.

Marc terdiam. Alasan Victoria sama seperti alasannya untuk tidak memberitahu Andrew jika Anna ingin bertemu dengan saudaranya. Marc hanya ingin memastikan sebelum membahayakan Andrew. Marc tidak bisa menyalahkan Victoria karena tidak memberitahunya. Marc menghela nafas dan mengusap wajahnya.

“Aku minta maaf karena tidak memberitahumu secara langsung. Tapi kecelakaan project nemesis itu tidak berkaitan langsung denganmu, melainkan Andrew,” kata Victoria lagi.

Marc kembali menatap gadis itu dengan serius. “Andrew? Kenapa dengan Andrew? Itu adalah project-ku.. kenapa Andrew? Apa yang kau lihat lagi?!”

“Aku belum yakin, Marc. Maafkan aku. Tolong hubungi Andrew dan tanyakan mengenai kondisinya. Karena sejak aku mendapatkan kilasan masa depan itu, aku selalu merasa khawatir dengannya. Dan tolong jangan terlalu bersikap histeris, okay? Karena aku merasa jika kau mulai bersikap protektif pada saudaramu. Andrew adalah pria dewasa, dia bisa menjaga dirinya, Marc. Okay?” tutur Victoria dengan tegas.

Marc sangat jengkel jika Victoria sudah bersikap layaknya ibu mereka. Oh, bahkan ibu Marc sendiri tidak bersikap seperti ini padanya. “Baik, aku akan menghubunginya. Sekarang bisa tinggalkan aku sendiri? Aku harus menyiapkan diri untuk membalas semua argumen dari para pria tua itu besok.”

Victoria tidak mengatakan apapun. Marc selalu bersikap sarkastik pada semua anggota dewan direksi termasuk pada Kakek-nya sendiri.Victoria lalu meninggalkan ruangan tersebut dan membiarkan Marc menghubungi Andrew. Setidaknya Victoria tidak perlu ikut campur pada pertengkaran kedua pewaris Choi Incoporate tersebut.

Marc menghela nafas dan mendengar nada sambung dari ujung ponselnya. Dan saat Andrew menjawab panggilan telepon tersebut, Marc benar-benar murka. “Yak! Andrew Choi!! Kau dimana sekarang, hah? Jika urusanmu sudah selesai, cepat datang ke kantor. Ada yang perlu kita bicarakan! Jika kau mengabaikanku, aku akan menghancurkan ruangan kerjamu. Aku benar-benar serius!!” Tanpa mendengar balasan apapun dari Andrew, Marc langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.

*****

David mengernyit ketika melihat Anna keluar dari taksi. Gadis itu berjalan melewati pintu gerbang utama. David memang mengetahui kalau Anna pergi dengan Andrew, tapi ia pikir Andrew akan mengantar putrinya pulang. Tapi kenyataannya, sepertinya Andrew terlalu sibuk. Anna terdiam sejenak ketika melihat David yang berdiri di pintu, sepertinya ayahnya itu juga baru pulang. Anna membungkuk.

“Kau pulang sendirian?” tanya David.

Anna mengangguk. “Andrew sedang sibuk dengan urusannya sendiri. Kenapa Daddy sudah pulang? Ini bahkan belum waktunya jam pulang, itu pun kalau pekerjaan sebagai Perdana Menteri memiliki jam kerja,” tukasnya.

David menghela nafas lalu berjalan masuk, diikuti oleh Anna. David berjalan menuju ruang bacanya sedangkan Anna hendak menaiki anak tangga. David kemudian menoleh dan memanggil Anna. Putrinya itu menatap David dengan tatapan tenang. David bahkan tidak bisa membaca apa yang sedang dipikirkan oleh Anna saat ini.

“Dad ingin bicara denganmu, sayang,” kata David.

Anna lalu berjalan menghampiri David. Walaupun ia ingin sekali kembali ke kamarnya, tapi ucapan David tidak bisa dibantahnya. David membuka pintu dan memberi isyarat pada Anna untuk masuk terlebih dahulu.

Setelah melihat Anna duduk di salah satu kursi, David berjalan masuk dan menutup pintunya. David lalu mengambil duduk diseberang kursi Anna dan memperhatikan putrinya dengan lekat. Ada begitu banyak hal yang ingin David tanyakan, tapi ia tahu bahwa Anna tidak mungkin menjawab semuanya.

“Jadi, Andrew Choi mengajakmu pergi ke suatu tempat?” tanya David memulai percakapan ringan. Ia tidak ingin membuat Anna merasa tertekan dengan pertanyaannya. Hal itu mungkin membuat Anna semakin menutup diri padanya. Sarah memberikan saran agar David jangan mendesak Anna menjelaskan semuanya. Setelah lima tahun tidak bertemu, ini mungkin salah satu usaha David untuk mendekatkan diri pada Anna.

Anna mengangguk. “Kami pergi menyelamatkan Sully Choi. Andrew sudah menyiapkan tempat untuk gadis tersebut. Mereka hanya perlu menemukan Dennis Park,” katanya.

“Dan kau akan membantu mereka?”

Anna menatap David selama beberapa detik. Kemudian dia menggeleng. “Tujuanku menemui Andrew Choi hanya untuk memberitahu mereka mengenai apa yang kulihat. Aku juga sudah memberitahu apa yang bisa membantu mereka. Selain itu, aku tidak bisa terlibat lagi. Kenapa Dad bertanya?” tanya Anna terakhir.

David menarik nafas perlahan. “Lalu kau akan tetap disini? Sudah mengatakan hal ini pada Mom? Selama Dad berkirim e-mail dengan Mom-mu, Dad sama sekali tidak mengatakan mengenai keinginanmu untuk menetap karena kau bilang akan mengatakannya sendiri. Jika kau ingin menetap disini, kita bisa tinggal bersama. Itupun jika Mom-mu tidak berniat kembali ke Seoul dan memberikan ijin padamu untuk tinggal bersama Dad. Kau tahu, mengenai hak asuh atasmu.”

Walaupun Anna mengatakan kalau dia menetap di Seoul, dia akan tinggal sendiri tapi David berharap kalau Anna bisa ikut tinggal bersamanya. Namun, mengingat hak asuh atas Anna berada pada Sarah, David tidak bisa memutuskan secara sepihak. Semuanya harus berdasarkan keputusan Sarah, walaupun sebenarnya Anna berhak memutuskan sendiri karena dia telah berusia duapuluhsatu tahun. Anna secara hukum bisa membuat keputusan bagi kehidupannya sendiri.

Anna mengangguk. “Aku akan menghubungi Mom. Nanti akan kuberitahu Dad mengenai keputusan Mom. Ada lagi yang Dad ingin bicarakan denganku?”

David masih memperhatikan Anna dengan lekat kemudian mengangguk. Anna langsung beranjak meninggalkan ruangan baca David untuk kembali ke kamar.

*****

Andrew berjalan keluar lift dan menuju ruangan Marc. Setelah mengantarkan Sully ke tempat yang disediakannya untuk pengamanan sementara, Andrew memutuskan untuk pergi ke kantor menemui Marc. Walaupun sedikit risih karena semua pegawai memperhatikannya karena Andrew berpakaian kasual, tapi pria Choi itu berusaha untuk mengabaikan semua pandangan pegawai-pegawainya. Selain itu, Marc terdengar sangat serius saat meneleponnya tadi.

Andrew membuka pintu tanpa mengetuknya dan ia melihat ruangan Marc yang dipenuhi dengan dokumen-dokumen. Andrew menghela nafas ketika melihat Marc tengah tertidur di sofa dengan sebuah dokumen diatas perutnya. Sepertinya sepupunya itu cukup kelelahan dengan evaluasi ulang project nemesis. Andrew bejalan masuk dan menutup pintu. Lalu ia menghampiri Marc dan mengambil dokumen itu untuk diletakkan diatas meja. Andrew menghela nafas sembari memperhatikan ruangan tersebut. Tumpukan dokumen dimana-mana, beberapa gelas kopi dan kotak pizza yang ditaruh di lantai.

Andrew lalu berjalan menuju meja kerja Marc. Ia memperhatikan beberapa dokumen yang terbuka diantaranya laporan akhir dari team accounting dan marketing. Sepertinya Marc mengkalkulasi jumlah kerugian Skyline dari penundaan project nemesis. Kemudian Andrew sekilas melihat sebuah dokumen dengan logo Choi Incoporate diatasnya. Andrew kembali melirik Marc yang masih tertidur lalu membuka dokumen tersebut. Setelah membacanya, Andrew duduk di kursi milik Marc. Ia menghela nafas dan menutup dokumen tersebut. Inilah yang ditakutkan oleh Andrew. Dewan direksi Choi Incoporate akan memanggil Marc untuk meminta penjelasan dan pertanggung-jawaban sepupunya itu atas penundaan project nemesis.

“Sepertinya Kakek kembali bersikap berlebihan,” gumam Andrew.

Andrew kembali menatap Marc. “Aku akan menjagamu, Marc. Aku tidak peduli dengan apa yang dilakukan Kakek, aku akan menjagamu. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Tidak seperti yang dialami Anna.”

Perlahan Marc mulai terbangun. Ia merubah posisi tubuhnya dan menguap. Setelah melakukan peregangan, Marc merasakan ada kehadiran orang lain di ruangan kerjanya. Marc menoleh dan melihat Andrew tengah memperhatikannya dari balik meja kerjanya. Marc mendesis jengkel karena Andrew kembali bersikap menyeramkan. “Apa yang kau lakukan disana? Urusanmu sudah selesai?” tanya Marc.

Andrew hanya menggumam. Kemudian dia berdiri dan menghampiri Marc. Andrew duduk disamping sepupunya. “Kau akan ke kantor pusat?”

Marc duduk bersandar dan menghela nafas, “Itu tidak penting. Katakan padaku, apa saja yang diceritakan Victoria mengenai kilasan masa depan yang dilihatnya mengenaimu? Dan jangan mencoba untuk mengatakan bahwa hal itu bukan apa-apa, Andrew Choi. Karena apapun yang dilihat Victoria pasti sebuah apa-apa.”

Andrew memperhatikan Marc sejenak lalu menyandarkan kepalanya dibahu Marc. Ia menarik nafas perlahan. “Kau tahu sendiri bagaimana kilasan masa depan yang dilihat Victoria. Hanya sebuah potongan puzzle. Dia bahkan tidak mengerti apa hubunganku dengan project nemesis. Bahkan dengan pembunuh itu. Jadi, jangan bersikap berlebihan padaku, Marc.”

Marc mendesis kesal setiap kali Andrew mengatakan bahwa dia tidak perlu mengkhawatirkan sepupunya tersebut. Heck, bagaimana bisa Marc mengabaikan Andrew ketika dia mengetahui dengan jelas bahwa kemungkinan besar Andrew berada dalam bahaya besar? Selain itu, Andrew yang mengatakan sendiri kalau mereka harus saling menjaga. Tapi saat ini Andrew malah bersikap kalau dia tidak perlu dijaga seperti bayi.

Akhirnya, Marc membenturkan kepalanya sendiri dengan kepala Andrew hingga membuat saudaranya itu meringis kesakitan. Andrew mengusap kepalanya dan menatap Marc jengkel. “Untuk apa memukulku begitu? Ahh… rasanya sakit sekali. Yak! Itu kepala atau batu sih? Keras sekali,” omel Andrew.

Marc mengetukkan kepalanya sendiri sebanyak dua kali. “Tengkorak manusia itu jauh lebih keras dari batu. Tidak heran kalau manusia mempunyai sifat keras kepala.”

Andrew mendesis jengkel. “Hey, sebenarnya kau itu kesal karena aku tidak memberitahumu mengenai kilasan masa depan Victoria atau karena kau dipanggil ke kantor pusat, eoh? Jika masalahnya karena aku tidak memberitahu tentang kilasan masa depan itu, aku meminta maaf padamu. Aku memang mengatakan kalau kita harus saling menjaga, karena itulah aku bisa mengerti alasanmu untuk tidak mempertemukanku dengan Anna setelah dia meminta tolong padamu. Aku menggunakan alasan yang sama untuk tidak memberitahumu mengenai kilasan masa depan itu. Aku ingin Victoria merasa yakin sebelum kita membicarakannya lebih lanjut. Dan untuk perihal kantor pusat, aku….”

“Andrew!” kata Marc dengan agak keras, membuat Andrew menghentikan penjelasannya. Andrew memperhatikan Marc dengan lekat. Marc menarik nafas, “Kau pulang saja. Kita bicara lagi di rumah. Saat ini aku sedang banyak pekerjaan,” ucap Marc memotong penjelasan Andrew.

Andrew masih memperhatikan Marc. Detik berikutnya, Andrew menghela nafas berat dan berdiri. “Tenangkan dirimu sebelum kita bicara lagi. Pikirkan dari sudut pandangku kenapa aku tidak memberitahumu, Marc. Dan pikirkan juga bagaimana perasaanku ketika kau berusaha membohongiku dengan alasan untuk menjagaku. Kita mungkin mempunyai keluarga yang sangat besar, tapi saat ini kita hanya berdua, Marc. Aku tahu, kau pasti merasa kesepian. Tapi pikirkan lagi apa yang dialami Anna atau bahkan orang lain yang mempunyai kemampuan spesial seperti kita. Bagaimana mereka harus menjalani kehidupan.” Kemudian Andrew berjalan keluar mneinggalkan ruangan kerja Marc.

Marc menghela nafas dan mengusap wajahnya yang terlihat lelah. Marc mungkin merasa kesal karena Andrew sama-sekali tidak bicara jujur padanya, tapi dia juga tidak jujur pada saudaranya. Jadi, Marc tidak akan membuat alasan lain sebagai pembenaran atas sikapnya pada Andrew. Tapi mendengar Andrew menyuruhnya untuk memikirkan bagaimana kehidupan orang lain yang mempunyai kemampuan spesial, terutama menyebut nama Anna, Marc merasa kalau Andrew kembali bertemu dengan gadis itu hari ini. Dan mereka bicara cukup banyak.

Marc hanya perlu mengetahui apa saja yang mereka bicarakan.

*****

NOTE: Lumayanlah bisa update sekaligus dua fanfic, walaupun waktunya lama sekali. Hehehehehe… Makasih ya buat doa-nya. Sekarang udah jauh lebih baik.. ^^

 Sekali lagi, kalau masih nemu typo maaf ya. rasanya mataku perlu di periksa -___-

Music: MBLAQ – Hey U

Advertisements

5 thoughts on “[MM] Super Human – 1st Story [7]

  1. Berharap nanti waktu rapat dewan direksi terutama Kakek marah besar sama Marc ngajuin syarat kalo Marc harus lanjutin perjodohan dengan Angela sebagai konsekuensi kerugian project nemesis

  2. seneng bisa baca 2 ff sekaligus dari diera eonni
    fighting eonni… alhamdulillah kalau sudah sehat… semangattt

    super human tambah seru deh… heheheh gak sabar baca part selanjutnya… sippp

    semangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s