[MM] Super Human – 1st Story [6]

super human

Chapter Six

 

Steve menatap Andrew setelah mengecek database untuk mencari kedua nama yang disebutkan oleh atasannya. Steve menarik nafas panjang dan melirik Marc yang sepertinya tidak peduli dengan apa yang dilakukan Andrew. Bahkan Marc terlihat sedang kesal sekali, tapi Steve tidak ingin bertanya apapun padanya.

“Kita mempunyai data mengenai Sully Choi tapi tidak ada mengenai Dennis Park,” ucap Steve pada Andrew yang terlihat lebih tenang dari sebelumnya. “Sebenarnya, apa yang terjadi? Kenapa kalian berdua terlihat tegang sekali?”

Andrew menarik nafas dan melirik Marc yang sibuk dengan ponselnya, “Akan kujelaskan nanti. Tapi bisa kau jelaskan mengenai Sully Choi? Dia mempunyai kemampuan seperti apa?”

Steve menatap layar komputernya dan membaca data mengenai Sully. Steve menjelaskan kemampuan yang dimiliki oleh Sully adalah rapid cellular regeneration. Sebuah kemampuan yang mampu menyembuhkan dirinya sendiri jika terluka. Kemudian Steve juga menjelaskan dimana Sully tinggal dan bagaimana keseharian gadis berusia duapuluh tahun tersebut. Sully adalah seorang mahasiswa yang juga seorang pekerja part-time di sebuah coffee shop. Terlebih Sully juga seorang yatim piatu yang tinggal sendirian di dorm kampusnya.

Andrew menggumam pelan, “Rapid cellular regeneration. Ya, kemampuan itu memang sangat berguna,” kemudian ia menatap Marc, “kau bisa mengkopi kemampuan gadis itu. Hanya sebagai berjaga-jaga.”

Marc mendengus dan mengabaikan Andrew. Walaupun sebenarnya ia tidak tuli, Marc bisa mendengar jelas semua pembicaraan Andrew dan Steve tapi Marc lebih memilih untuk berpura tuli dan memikirkan mengenai evaluasi ulang project nemesis. Heck, jika Victoria mendengar rencana evaluasi ulang ini, mungkin Marc akan dimarahi habis-habisan. Andrew kembali memandang Steve dan bertanya, “Kapan terakhir kali kau bertemu dengannya? Apa dia sering datang kesini?”

“Terakhir dia datang beberapa bulan lalu, mungkin sekitar delapan bulan lalu. Sepertinya dia sedang sibuk dengan kuliah dan pekerjaannya. Jika kau ingin menemuinya, aku bisa memberikan alamatnya. Tapi sebenarnya kenapa kau mencari mereka? Untuk Dennis Park…”

Andrew memotong ucapan Steve, “Berikan alamat Sully Choi dan tolong cari tahu mengenai Dennis Park. Cari dia bahkan jika dia tidak tinggal di Korea. Minta bantuan Victoria, kalau memerlukan bantuan tambahan. Lakukan dengan cepat, okay? Aku mengandalkanmu, Prof. Jung.”

Steve menghela nafas. “Aku mungkin bisa meminta bantuan beberapa temanku untuk mencari keberadaan Dennis Park. Tapi jelaskan padaku ada apa sebenarnya. Dan kenapa ekspresi Marc terlihat dia seperti ingin membunuh orang? Aku belum pernah melihatnya dalam kondisi emosi yang buruk seperti sekarang.”

Marc sontak menatap Steve dan mendesis jengkel. “Jangan melibatkanku. Bicarakan saja dengan Andrew. Dia yang terlibat dalam masalah ini, aku tidak mau ikut campur,” kemudian Marc melemparkan kunci mobil pada Andrew, “aku akan kembali ke kantor dengan taksi.”

Steve memperhatikan Marc yang berjalan keluar dari ruangannya. Andrew hanya menghela nafas dan menyimpan kunci mobilnya pada saku jasnya. Steve lalu menatap Andrew, “Ada apa dengannya? Sepertinya masalahnya benar-benar rumit.”

“Begitulah. Dia mungkin akan bersikap seperti ini sampai masalahnya selesai.”

*****

David memperhatikan putrinya yang tidak mengatakan apapun lagi setelah pertemuan mereka dengan Andrew dan Marcus. Anna telah menjelaskan apa yang dilihatnya kepada Andrew dan Marcus mengenai kecelakaan project nemesis yang akan terjadi dalam waktu dekat, begitu juga mengenai pembunuh berantai yang sedang dicari oleh seluruh kepolisian Korea Selatan. David bahkan mungkin dalam waktu dekat akan menyiapkan team penyelidikan khusus untuk mengusut kasus pembunuhan tersebut. Dia tidak bisa turun dari jabatannya dengan meninggalkan permasalahan yang tidak terselesaikan.

Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah untuk mengantar Anna. Sedangkan David akan kembali ke kantor setelahnya. Suasana di dalam mobil begitu sunyi. Anna hanya memandangi ponselnya, seperti sedang menunggu telepon atau pesan dari seseorang. David menarik nafas dan mengeluarkan ponselnya. Kemudian David mengirimkan pesan pada staff-nya untuk mengumpulkan pegawai dari kementerian energi yang mengurus perijinan akhir operasional project nemesis. Well, jika apa yang diucapkan oleh Anna adalah benar, maka pemerintah juga harus melakukan pencegahan.

David memasukkan ponselnya kedalam saku jas. “Apa urusanmu sudah selesai disini? Kau akan segera kembali ke Berlin? Sarah bilang kau datang ke Seoul hanya untuk menemui Andrew untuk mengatakan hal ini. Bahkan kau juga menjelaskan pada mereka kalau…”

“Dad, apa kau sangat ingin aku pergi? Apa kau tidak pernah merindukanku selama lima tahun ini?” tanya Anna pelan. Gadis itu tidak mengangkat kepalanya. Fokus pandangannya masih pada ponselnya. Tapi Anna bisa mengetahui perubahan ekspresi David.

David terdiam sejenak. “Tentu saja, aku merindukanmu, sayang. Tapi ibumu sangat mengkhawatirkanmu. Selama kau disini, kau tidak pernah sekalipun menghubunginya. Ibumu…”

“Dad, aku tidak ingin kembali ke Berlin.”

Sontak David kembali menatap putrinya dengan lekat. Hampir seminggu Anna tinggal bersamanya, tapi belum pernah sekalipun keinginan Anna untuk tidak kembali ke Berlin. Anna bahkan tidak pernah mengatakan apapun pada David. Putrinya lebih banyak mengurung diri di kamar dan tidak pernah mau keluar rumah –kecuali jika terpaksa. David jadi berpikir apakah seperti ini Anna menjalani kehidupannya di Berlin. Hanya pergi ke sekolah, pergi keluar jika hanya bersama Sarah dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Bahkan David bertanya apakah Anna mempunyai banyak teman di Berlin. Mungkinkah Anna menjadi tertutup karena kemampuannya?

Tentu saja! pikir David. Kau mungkin akan menjauhi orang-orang ketika mengetahui bahwa setiap kau menyentuhnya, mereka akan merasa kesakitan. Mungkin inilah yang terjadi pada Anna. Bahkan saat Anna masih tinggal di Seoul, putrinya pun mulai bersikap seperti ini. Tapi David tidak pernah menyadari hal itu sebelumnya. Setelah bercerai, David menjadi lebih sibuk untuk pencalonan dirinya sebagai Perdana Menteri waktu itu. Oh, rencana pernikahannya dengan Mary Lee.

Pernikahannya dengan Mary terjadi sekitar enam bulan setelah perceraiannya dengan Sarah. Mary, dulu adalah sahabatnya sewaktu kuliah. Mereka bertemu lagi saat keduanya bertemu pada acara reuni fakultas mereka tiga tahun sebelum perceraiannya tersebut. Tapi bukan karena Mary, David dan Sarah bercerai. Permasalahan yang terjadi diantara mereka begitu rumit, hingga Anna pun berhenti bertanya alasan kenapa orangtuanya berpisah. Dan sejak ayahnya menikah lagi dan lebih sibuk dengan pencalonan sebagai Perdana Menteri, Anna memilih untuk tidak mengganggu kehidupan David lagi. Bahkan tidak meminta hadiah ulangtahun ataupun datang menemuinya pada malam natal. David kini menyadari bahwa putrinya benar-benar berubah sejak mereka mengetahui kemampuan mereka dan perpisahannya dengan Sarah.

“Kau bilang apa?” tanya David.

Anna mengangkat kepalanya dan menatap David. “Aku tidak ingin kembali ke Berlin. Aku ingin tinggal di Seoul. Tapi Daddy tidak perlu khawatir. Aku akan bisa tinggal sendiri dengan menyewa sebuah flat, selain itu aku juga sudah mempunyai pekerjaan. Setelah lulus, aku bekerja sebagai editor freelance. Semua pekerjaan kulakukan di rumah dan mereka mentransfer uangnya. Aku juga tidak akan menyusahkan Daddy selama aku tinggal di Seoul.”

David tidak berkomentar apapun setelah mendengarkan penjelasan Anna. Lima tahun memang waktu yang cukup lama, tapi David tidak menyangka bahwa perubahannya akan sebesar ini. David seakan tidak mengenal putrinya saat ini.

“Aku sendiri yang akan mengatakan ini pada Mom. Mungkin Mom akan marah, tapi dia akan mengerti. Aku sudah mencari beberapa flat dengan deposit yang murah dan setelah masalah dengan Skyline selesai, aku akan segera pindah. Lagipula Daddy juga harus meninggalkan rumah tersebut setelah masa jabatannya berakhir, bukan?” Anna tersenyum, “Aku tidak akan menyusahkan keluarga Daddy. Jadi, jangan khawatir.”

“Anna…”

David berusaha untuk bicara tapi Anna kembali menunduk dan menatap ponselnya. Gadis itu seakan tidak ingin mendengarkan apapun ucapan David. Anna sudah menentukan pilihannya, jadi akan sangat sulit untuk merubah keputusannya. Paling tidak, David masih mengenal satu sifat putrinya yang tidak pernah berubah.

*****

Seorang pria memasuki sebuah coffee shop. Pria itu memperhatikan coffee shop dengan design interior bergaya coffee shop ala amerika yang lebih banyak menonjolkan sisi minimalis dan mengutamakan kenyamanan. Ada beberapa sofa dan kursi dengan bantalan empuk untuk tempat duduk para pengunjung. Selain itu, pemilik coffee shop tersebut juga menyediakan banyak buku yang tertata rapi pada rak besar dan semua pengunjung bisa membacanya dengan leluasa. Ditambah ada beberapa menu desert serta snack sebagai teman minum kopi. Tidak heran coffee shop yang berada tidak jauh dari salah satu universitas terkenal di Incheon tersebut cukup ramai oleh pengunjung. Kemudian pria itu berjalan menuju meja counter. Seorang pramusaji menyambut kedatangannya dengan senyuman ramah. Pria itu pun tersenyum.

“Selamat datang, apa yang ingin anda pesan?” tanya pramusaji tersebut dengan ramah.

Pria itu memperhatikan nametag pramusaji tersebut dan menatap mata sang gadis pramusaji. “Tolong ice americano, Sully-sshi.”

Gadis bernama Sully itu tersenyum dan mencatat pesannya. “Semuanya lima ribu won, tuan.”

Pria tersebut memberikan uang tersebut dan menunggu pramusaji tersebut membuatkan pesanannya tersebut. Sembari menunggu minumannya, pria tersebut kembali memperhatikan kesekeliling coffee shop tersebut. Well, sebenarnya pria itu sudah lama memperhatikan coffee shop tersebut untuk mengenali kondisi dan situasi coffee shop tersebut agar rencananya berjalan lancar tanpa gangguan apapun. Pria itu tersenyum lalu berbalik ketika minumannya sudah siap.

Pria itu mengambil minumannya. “Terima kasih, Sully-sshi,” kata pria itu.

Gadis itu membungkuk. “Selamat menikmati minuman anda dan terima kasih atas kunjungannya.”

Pria itu menyeruput minumannya lalu berjalan keluar. Setelah menutup pintu, pria itu berbalik dan kembali memperhatikan pramusaji bernama Sully yang kini sedang melayani pengunjung lainnya. Sully, gadis yang dicari oleh Andrew dan Marc karena kemampuan penyembuhan diri yang hebat. Perlahan senyuman pria itu berubah menjadi sebuah seringai menyeramkan.

“Terima kasih atas pelayananmu, Sully-sshi. Kita akan segera bertemu lagi,” tutur pria itu yang kembali menyeruput minumannya. Kemudian ia berjalan meninggalkan coffee shop tersebut dengan langkah ringan.

*****

Pagi ini, Marc terbangun diatas tumpukan dokumen project nemesis. Ia terlihat belum sadar sepenuhnya dan mengeliat untuk meregangkan tubuhnya. Marc menoleh kearah jendela besar kamarnya dimana cahaya matahari masuk dan menyinari semua kamarnya. Marc menguap dan tersadar dengan sepenuhnya. Marc mematikan lampu baca dan merapikan tumpukan dokumen tersebut. Setelah dari Lab, Marc memutuskan untuk pulang dan melakukan beberapa evaluasi ulang dengan dokumen yang ada di kamarnya. Ia terlalu fokus hingga menolak makan malam.

Marc meraih ponselnya dan mengirim pesan pada Jason sebagai salah satu penanggung-jawab project nemesis untuk memberitahu kepada seluruh team untuk meeting evaluasi ulang. Well, Marc mungkin akan disodorkan puluhan pertanyaan oleh anggota team-nya karena penundaan launching project nemesis, tapi mengingat apa yang diucapkan Anna kemarin, Marc tidak akan mengambil resiko besar sebelum semuanya benar-benar siap. Marc menghela nafas lalu berjalan menuju kamar mandi.

Hari ini akan menjadi hari yang sangat panjang.

Di lantai bawah, Andrew sedang menikmati sarapan pagi. Well, hanya sandwich dan segelas teh. Untuk hari-hari tertentu, Andrew menyukai minum teh saat sarapan pagi. Hanya saja satu kebiasaannya yang tidak pernah berubah adalah berkutat dengan tablet pc-nya untuk mengecek beberapa e-mail dokumen dari SkyWorld. Andrew mungkin bertanggung-jawab atas Skyline tapi dia juga mulai diberikan tanggung-jawab atas SkyWorld. Mungkin dalan waktu antara satu atau dua tahun, Andrew akan dipindahkan ke SkyWorld sebelum dia benar-benar siap untuk menduduki posisi di Choi Incoporate.

Andrew menghela nafas setelah ia mengecek e-mail terakhir dan akhirnya bisa menikmati sarapan paginya dengan tenang. Menit berikutnya, terdengar suara derap langkah Marc yang menuruni tangga dengan cepat. “Tidak bisakah pagiku berjalan dengan tenang,” gumam Andrew yang kemudian meminum teh-nya.

Marc menaruh tumpukan dokumen diatas meja dan mengambil satu roti dna langsung memakannya. Andrew memperhatikan Marc. “Duduklah dan makan dengan tenang,” ujar Andrew.

“Tidak bisa! Aku harus ke kantor,” tukas Marc dengan masih mengunyah roti dalam mulutnya. Tapi ketika ia memperhatikan pakaian Andrew, saudaranya itu tidak terlihat akan pergi ke kantor hari ini. “Kau tidak ke kantor? Mau kemana dengan pakaian kasual seperti itu?”

Andrew menggeleng. Hari ini Andrew yang biasanya memakai setelan jas formal, tampil dengan hanya memakai t-shit polo berwarna hitam dengan dibalut jaket bisbol, jeans dan bahkan memakai sepatu kets. Well, usia Andrew mungkin masih dipertengahan duapuluh-an, tapi bagi Marc penampilan Andrew hari ini terlihat begitu asing.

“Menemui Sully Choi. Mungkin ke kampusnya atau dormnya. Prof. Jung memberikan alamatnya. Kau akan meeting untuk evaluasi ulang project nemesis?” tanya Andrew sembari memperhatikan tumpukan dokumen yang dibawa Marc.

Marc menghabiskan jus jeruknya dan mengangguk. “Setidaknya ini adalah hal rasional yang bisa kulakukan untuk mencegah kecelakaan itu,” tutur Marc sembari memasukkan sebagian dokumen tersebut dalam tas ransel yang dibawanya. “Kau pergi sendirian atau mengajak Steve? Atau orang lain?”

“Kurasa sendiri. Prof. Jung sibuk mencari mengenai Dennis Park. Lagipula apa sulitnya mencari seorang gadis di sebuah universitas? Aku bisa meminta bantuan kantor sekretariat universitas untuk mencarinya,” tutur Andrew sembari menyeringai.

Marc memutar bola matanya, “Andrew Choi dan kekuasaan yang dimilikinya. Terserah. Good luck for you. Kita bertemu saat makan siang?”

“Akan kuhubungi lagi. Okay?”

“Terserah,” Marc menyampirkan tas ranselnya dan mengambil sisa dokumen yang tidak dimasukkan kedalam tas-nya. “Aku pergi dulu, ya. Kabari aku secepatnya!” teriak Marc sembari bergegas meninggalkan apartment tersebut.

Good luck for you too, Marc. Well, mungkin aku bisa meminta Annabelle Kim untuk menemaniku pergi ke Incheon.”

*****

Andrew mengangkat tangan kanannya dan tersenyum –seolah ia sedang menyapa Anna yang berdiri di depan pintu. Namun, Andrew tidak mendapat balasan dari Anna, ia menurunkan tangannya dan berjalan lebih dekat pada Anna. Well, ini adalah ke-tiga kalinya Andrew mengunjungi rumah kediaman Perdana Menteri, tapi ia masih saja terpukau dengan design rumah tersebut. Hanya saja, Perdana Menteri Kim akan meninggalkan rumah ini dan pindah ke rumah pribadinya yang baru dalam waktu dua bulan.

Anna menatap Andrew dengan lekat. Ia sama sekali tidak menyukai kedatangan Andrew. Kondisi rumah sudah sepi, hanya ada beberapa petugas keamanan yang bergantian menjaga keamanan rumah tersebut. Hingga kemarin Anna memang sangat ingin menemui Andrew, tapi setelah rencananya berhasil dan telah memberitahu apa yang harus dikatakannya, Anna tidak mempunyai keinginan untuk menemui pria tersebut. Hanya saja, Andrew sepertinya mempunyai rencana lain.

Anna mungkin tidak akan menyukainya.

“Selamat pagi, Anna. Kau terlihat tidak senang melihat kedatanganku,” kata Andrew.

Anna menarik nafas. “Ada yang ingin anda bicarakan, Direktur Choi?”

Andrew berjengit saat mendengar nada bicara gadis berusia duapuluhsatu tahun tersebut. Anna sepertinya tidak menyukai kedatangannya yang begitu tiba-tiba. Tapi Andrew seakan tidak peduli dengan reaksi yang diberikan oleh gadis tersebut. Paling tidak, Andrew sudah mendapatkan ijin dari ayah gadis tersebut untuk membawa putrinya pergi untuk beberapa-jam. Itu pun jika Anna setuju untuk pergi bersamanya.

“Maaf, jika aku tidak menghubungimu terlebih dahulu. Tapi aku sudah meminta ijin pada ayahmu. Aku ingin mengajakmu pergi bersamaku menemui Sully Choi. Well, ayahmu mengatakan bahwa aku bisa membawamu pergi atas keinginanmu sendiri. Jadi, jika kau menolak maka…”

“Masuklah. Aku akan ganti pakaian,” ucap Anna yang kemudian berjalan masuk.

Andrew sedikit terkejut karena Anna sama sekali tidak menolak. Bertolak-belakang dengan ekspresi wajahnya ketika melihat Andrew datang dan cara bicaranya pada Andrew. Kemudian Andrew berjalan memasuki rumah tersebut. Anna sudah menaiki anak tangga, jadi Andrew akan menunggunya di ruang tengah.

Andrew memperhatikan beberapa frame yang dipajang pada sebuah lemari kaca. Pria Choi itu tersenyum tipis melihat foto-foto seorang anak laki-laki dan beberapa foto Perdana Menteri Kim bersama keluarganya. Andrew sedikit merindukan keluarganya. Walaupun dalam sebulan, Andrew dan Marc akan pulang ke rumah mereka setidaknya empat-kali, tapi tetap saja rasanya akan berbeda. Tapi Andrew merasa aneh karena dia tidak melihat foto Anna yang dipajang.

David Kim mungkin sudah bercerai dengan ibu Anna, tapi kenapa tidak memajang foto putri tunggalnya. Keluarga barunya mungkin tidak akan keberatan, karena bagaimana pun juga Anna adalah bagian dari kehidupan David Kim. Namun, Andrew tidak ingin ikut campur dalam permasalahan keluarga orang lain.

Andrew lalu duduk di sofa dan mengeluarkan ponselnya untuk mengecek e-mail. Walaupun dia tidak masuk kantor, Andrew tetap meminta Renee untuk mengirimkan beberapa e-mail yang penting. Well, Andrew mempunyai tanggung-jawab besar atas posisinya di Skyline dan ia tidak ingin mengecewakan keluarga yang telah memberikan kepercayaan padanya atas Skyline. Untuk saat ini, Renee tidak mengirimkan e-mail apapun, artinya kegiatan di kantor berjalan lancar. Hanya saja, Andrew tidak begitu yakin dengan team project nemesis yang kemungkinan sedang sibuk.

Andrew merasa sedikit kasihan pada Marc. Project nemesis sudah dikerjakannya selama dua tahun terakhir, tapi kini terancam gagal bahkan hancur. Tapi peringatan yang diberikan Anna dan Victoria mengenai kecelakaan project nemesis tidak bisa diabaikan begitu saja. Selain itu, kini mereka juga mempunyai satu masalah tambahan dengan pembunuh berantai tersebut. Andrew hanya berharap bahwa mereka masih mempunyai waktu yang cukup untuk mencegah hal yang terburuk terjadi.

“Jangan terlalu banyak berpikir, Direktur Choi. Kerutan di dahimu semakin banyak,” tukas Anna yang menuruni anak tangga terakhir sembari memakai sarung tangan berwarna putih.

Andrew sontak berdiri dan menghampiri gadis tersebut. Ia memperhatikan cara berpakaian Anna yang menurutnya sangat berlebihan. Gadis itu hanya memakai long-sleeve t-shirt berwarna putih dengan jeans hitam, serta sepatu sneakers. Terkesan sangat simple, tapi begitu mencolok dengan sarung tangan yang dipakainya. Andrew menggaruk belakang telinganya.

“Tidakkah kau terlalu berlebihan? Maksudku, sarung tangan itu.”

“Jika anda ingin terjadi sesuatu yang buruk, terlebih jika tanpa sengaja aku menyentuh orang lain, apakah anda ingin bertanggung-jawab, Direktur Choi?” sahut Anna.

Andrew menarik nafas, “Baiklah. Kurasa mencegah lebih baik daripada menimbulkan keributan di universitas. Oh, satu lagi. Tolong jangan memanggilku dengan Direktur Choi. Itu terdengar sangat… tua. Kau bisa memanggilku Andrew. Setidaknya untuk saat ini, aku datang menemuimu bukan dengan status sebagai seorang Direktur.”

Anna menatap pria Choi itu seolah mengatakan “apa kau serius?”. Andrew memutar bola matanya, “Aku serius, Annabelle. Oh, kau tidak menyukainya, bukan? Aku juga tidak menyukai panggilan Direktur itu. Jadi, bagaimana Anna?”

“Terserah, Andrew.”

Andrew nyengir.

*****

Max memberikan dokumen terakhir yang diperlukan untuk evaluasi project nemesis. Walaupun Max tidak tahu kenapa Marc tiba-tiba menunda waktu peluncuran project nemesis, tapi sepertinya ada masalah serius yang sedang terjadi. Selain itu, sejak kemarin Marc memberikan perintah pada seluruh anggota team untuk mengumpulkan semua dokumen yang terkait project tersebut sejak awal perencanaan. Posisi Max masih dalam team perencanaan utama project nemesis, tapi Marc sudah memindahkannya ke lantai dimana Marc bekerja. Prosedur pemindahan posisi-nya berlangsung selama satu atau dua minggu. Tapi Marc tidak mau menunggu selama itu, jadi Max sudah mulai bekerja dengan Marc sejak pria Cho itu menyuruhnya memindahkan semua barang-barangnya.

Marc menerima dokumen dari tangan Max tanpa mengalihkan fokusnya dari dokumen yang sedang dibacanya. Seluruh ruangan kerja Marc sudah berantakan dengan beberapa tumpukan dokumen. Selain itu, mereka juga baru saja melakukan meeting di ruangan Marc. Jadi, layar proyektor masih terpasang pada salah satu sisi dinding. Max menarik nafas panjang.

“Jadi, apa penundaan ini ada kaitannya dengan super human yang pernah kau jelaskan padaku?” tanya Max penasaran. Well, jangan menyalahkannya. Sikap Marc berubah dengan cepat. Sebelumnya Marc meminta laporan evaluasi project dipercepat, tapi sekarang dia malah menunda peluncurannya.

Marc melirik Max sekilas. “Akan kujelaskan. Tapi tidak di kantor, Max. Kembali bekerja. Oh, minta dokumen mengenai budget yang dikeluarkan untuk project ini. Tanyakan juga pada team accounting mengenai kerugian perusahaan karena penundaan peluncuran. Anggota direksi Choi Incoporate mungkin akan murka mendengar berita penundaan ini. Lebih parah, Kakek akan benar-benar menceramahiku ketika pertemuan keluarga nanti. Setidaknya aku perlu bersiap, bukan?”

Max menghela nafas. “Akan segera kukerjakan. Tapi ada hal lainnya yang ingin kutanyakan. Kenapa Andrew tiba-tiba mengambil ijin keluar kantor?”

Marc menaruh pena ditangannya dan mengangkat kepalanya. Ia menatap Max dengan serius. “Akan kujelaskan nanti, Max Shim. Sekarang kerjakan tugasmu! Aku mengharapkan dokumennya sudah ada di mejaku sebelum makan siang. Paling lambat pukul dua siang. Mengerti?”

Max terkejut dengan perubahan mood Marc. Ia langsung mengangguk dan bergegas keluar dari ruangan Marc. Walaupun Marc sudah menyuruhnya untuk bersikap kasual padanya, tapi terkadang Max masih merasa takut jika mood Marc sudah berubah menjadi kesal ataupun frustasi seperti sekarang.

Setelah Max keluar, Marc menarik nafas panjang dan mengusap wajahnya. Ia merasa sangat stress dengan perubahan jadwal project nemesis. Tapi setidaknya ini lebih baik daripada Marc membiarkan project hasil kerja kerasnya bersama anggota team lainnya berakhir sia-sia hanya karena sebuah kecelakaan. Namun, selain mengenai keselamatan project nemesis, Marc juga mengkhawatirkan bagaimana reaksi anggota direksi Choi Incoporate jika mendengar penundaan ini –terlebih Presiden Direksi Choi Incoporate.

*****

Steve mengusap wajahnya yang terlihat lelah. Sejak Andrew dan Marc datang dan memberitahu mengenai kecelakaan project nemesis dan mereka harus menemukan dua super human, Steve sama sekali belum pulang ke rumah-nya. Steve masih harus mencari satu dari dua super human yang mereka cari. Cukup beruntung, Lab mempunyai database dari satu super human, tapi untuk mencari Dennis Park adalah kesulitan tersendiri.

Walaupun Steve sudah menyuruh beberapa orang untuk mencari Dennis Park. Setidaknya Andrew memberikan akses khusus untuk semua fasilitas yang dimiliki oleh Choi Incoporate untuk mencari Dennis Park. Itu sedikit banyak membantu pekerjaan Steve. Tapi rasanya, pekerjaan Steve di Lab tersebut bukan lagi sebagai seorang ilmuwan.

Steve melepaskan kacamata dan memijat bagian bawah matanya. Ia harus tidur setidaknya satu atau dua jam atau Steve akan dilarikan ke rumah sakit karena kelelahan. Masuk rumah sakit di saat genting seperti sekarang, hanya akan merugikan mereka. Andrew menekankan bahwa mereka tidak mempunyai cukup waktu. Kecelakaan pada project nemesis bisa terjadi kapan saja.

Steve menarik nafas panjang. “Seandainya mereka bisa mengetahui berapa banyak waktu yang tersisa sampai kecelakaan itu terjadi.” Kemudian Steve berdiri dan melepaskan jas putihnya. Setelah menyampirkan jas tersebut dikursinya, Steve lalu berjalan menuju sofa dan merebahkan tubuhnya.

“Tidur satu atau dua jam tidak akan menghabiskan waktu duapuluhempat jam. Setelah semua ini berakhir, Andrew Choi dan Marcus Cho harus memberiku bonus dan liburan yang panjang. Ah, rasanya melelahkan sekali,” gumamnya.

Perlahan Steve menutup matanya dan terlelap dalam bunga tidurnya.

*****

Andrew memarkirkan mobilnya di area parkir universitas. Ia menarik nafas dan memperhatikan situasi universitas yang ramai. Rasanya sudah lama sekali sejak Andrew lulus dari universitasnya. Andrew ingin sekali melanjutkan pendidikannya, hanya saja setelah lulus Andrew langsung bekerja untuk Skyline hingga hari ini. Jadi, dia tidak mempunyai kesempatan untuk kembali ke kampus. Mungkin jika waktunya telah memungkinkan, Andrew akan kembali ke kampus.

Andrew mematikan mesin mobil dan melepaskan seatbelt. Saat ia hendak membuka pintu mobil, Andrew menoleh pada Anna yang sama sekali tidak bergerak dari kursinya. Andrew menarik nafas dan melambaikan tangannya didepan wajah gadis tersebut. Anna terkejut dan menoleh pada Andrew. “Kita harus turun. Kenapa kau diam saja? Ada yang sedang kau pikirkan?”

Anna menatap Andrew untuk beberapa detik sebelum kembali menatap kearah luar. “Pembunuh itu sudah bertemu dengan Sully Choi,” ucapnya.

Andrew mengernyit mendengar ucapannya. “Apa yang kau katakan? Ka-kapan mereka bertemu? Apa kita terlambat untuk menyelamatkannya?”

“Tidak, Sully Choi masih hidup. Aku hanya melihat pembunuh itu menemuinya untuk beberapa menit. Tapi jika kita tidak bergerak cepat, pembunuh itu mungkin akan mendapatkan gadis itu. Setidaknya, gadis itu tidak akan mati disini,” tutur Anna.

Andrew hampir menahan nafasnya. Ia tidak mengerti Anna bisa mengetahui hal tersebut, tapi jika Andrew mengingat lagi, Anna pernah mengatakan bahwa ia memiliki kemampuan future sight. Tapi kemarin, Anna tidak mengatakan apapun mengenai pembunuh itu yang bertemu dengan Sully Choi. Andrew menarik nafas. “Kau melihat? Kau mendapatkan kilasan masa depan lagi? Kapan dan mengenai apa?”

“Akan kujelaskan nanti. Kita cari dulu Sully Choi,” tukas Anna yang kemudian melepaskan seatbelt dan memanjat keluar mobil.

Andrew menghela nafas dan keluar mobil. Ia menyalakan alarm mobil dan menghampiri Anna yang memperhatikan situasi kampus. Pria Choi itu melirik tangan Anna yang terbalut sarung tangan. Andrew tahu kalau gadis itu hanya meminimalisir resiko menyentuh orang lain tanpa sengaja, tapi jika dipikir lagi sejak kapan Anna bersikap seperti ini? Perdana Menteri Kim mengatakan bahwa ia dan putrinya sudah menyadari kemampuan mereka sejak tujuh tahun lalu. Apa sejak hari itu Anna bersikap seperti ini, menjaga jarak dengan orang lain agar tidak menyentuh mereka?

Bahkan jika Andrew berpikir lebih jauh lagi, pasti sangat menyulitkan bagi Anna untuk menjalani kehidupannya selama ini. Andrew tidak akan heran lagi jika Anna sangat introvert seperti sekarang. Kemampuan yang dimiliki Marc mungkin hampir sama seperti kemampuan Anna, tapi Marc cukup beruntung masih bisa menyentuh orang lain tanpa membuatnya kesakitan –bahkan jika Marc menyentuh super human, Marc hanya akan mengkopi kemampuan dari super human itu tanpa harus menyerap seluruh energinya. Hidup sebagai Annabelle Kim dengan kemampuannya absorption power mimicry-nya itu pasti sangat kesepian.

Anna menatap Andrew. “Apa rencanamu untuk menemukan Sully Choi? Di kampus ini pasti ada ribuan mahasiswa. Bagaimana kita menemukannya?”

*****

Andrew mengucapkan terima kasih pada staff administrasi universitas yang mengantarkan mereka ke ruang tunggu. Selain itu, Sully Choi akan dipanggil dengan segera. Staff universitas itu kemudian meninggalkan Andrew dan Anna di ruangan tersebut. Andrew menghela nafas dan duduk pada salah satu sofa tunggal. Ia memperhatikan Anna yang sedang memandangi kearah luar jendela. Rasa penasaran Andrew kembali muncul. Ada banyak hal yang ingin ditanyakannya pada gadis itu, tapi kemungkinan besar Andrew tidak akan mendapatkan jawaban apapun dari Anna.

Gadis itu adalah sebuah misteri bagi Andrew.

Suasana di ruangan itu begitu sunyi. Hanya terdengar suara dari luar ruangan. Saat ini hampir mendekati akhir semester sebelum liburan musim panas. Mungkin jika Andrew baru mengetahui hal ini saat liburan musim panas, mungkin akan sulit mencari keberadaan Sully Choi walaupun mereka mendapatkan alamat dorm serta tempat-nya bekerja. Steve menambahkan setiap liburan musim panas, Sully lebih memilih untuk pulang ke Busan dan bekerja paruh-waktu. Andrew tidak bisa membayangkan jika dia harus berkeliling Busan hanya untuk mencari gadis tersebut.

“Saudaramu itu…”

Andrew terkejut mendengar Anna bicara. Tapi dia membiarkan Anna menyelesaikan ucapannya. Anna kemudian berbalik dan menatap mata Andrew. “Mengenai perjodohan dengan putri James Lee. Dia menolaknya?”

Andrew menghela nafas jika mengingat perjodohan itu –walaupun lebih tepatnya hanya sebuah acara perkenalakan– yang ditolak habis-habisan oleh Marc. Saudara sepupunya itu tidak pernah menjalin hubungan dengan gadis manapun setelah perpisahannya dengan Jo. Marc mungkin masih mencintai gadis itu, tapi jika dilihat dari sikap Marc beberapa tahun terakhir, Andrew agak menyangsikan penilaiannya tersebut. Mungkin Marc hanya ingin fokus pada pekerjaannya tersebut. Lagipula usia Marc baru duapuluhempat tahun dan seperti ucapan Marc, Andrew-lah yang harusnya lebih memikirkan tentang pernikahan.

“Ya, sepertinya begitu. Marc akan memilih siapa gadis yang akan dinikahinya. Tapi jika mengingat Kakek kami, rasanya sulit. Tapi bagaimana kau bisa tahu mengenai perjodohan itu? Apa kau…?”

“Saudaramu yang mengatakannya saat dia hendak pergi di acara makan malam itu. Dia bahkan berterima-kasih padaku,” tukas Anna yang berjalan menghampiri Andrew dan duduk pada salah satu kursi tepat dihadapan Andrew.

Andrew memperhatikan gadis itu dengan serius. Rasanya ada begitu banyak hal yang terjadi diantara Anna dan Marc. Tapi sepertinya saudaranya itu memilih untuk merahasiakannya. Andrew tidak tahu apa alasan dibalik Marc menutupi banyak hal darinya. Walaupun Marc mengatakan bahwa dia ingin melindungi Andrew sama yang selalu dilakukan Andrew padanya, tapi Andrew selalu merasa ada alasan yang lebih besar daripada itu.

“Marc menutupi sesuatu dariku. Aku tidak tahu sejak kapan dia melakukannya dan apa saja yang ditutupinya dariku. Dia hanya mengatakan kalau itu adalah untuk melindungiku,” tutur Andrew dan menundukkan kepalanya. Masalah inilah yang ingin ditanyakan Andrew pada Anna. Mereka berdua sudah bertemu dan Anna dengan jelas mengatakan ingin bertemu dengan dirinya. Tapi Marc malah menutupi hal itu. Andrew mengira kalau Anna bisa menjelaskannya sedikit padanya.

Anna memandang Andrew. “Dia tidak menutupi apapun darimu. Kurasa dia hanya menunda memberi penjelasan padamu. Aku tidak tahu bagaimana hubungan kalian selama ini, tapi saudaramu tidak akan melakukan apapun yang membahayakan dirimu.”

Andrew melirik gadis itu dan mengerutkan dahi. “Apa yang kau maksud dengan membahayakanku? Lagipula kau hanya ingin bertemu denganku untuk memberitahu kami mengenai kecelakaan itu. Jika kami terlambat mengetahuinya, itu baru membahayakan.”

“Marcus tidak tahu tujuanku ingin bertemu denganmu, Andrew. Tapi dia mengkhawatirkan kemampuanku. Dia hanya takut kalau aku akan menyakitimu dengan kemampuanku ini,” ungkap Anna tenang.

Andrew terdiam. Anna memberikan penjelasan yang logis mengenai sikap Marc beberapa hari terakhir yang terlalu protektif padanya. Tapi jika hanya karena Marc takut Anna mempunyai tujuan yang menyakiti Andrew, setidaknya…

Setidaknya apa? Apa yang seharusnya Marc lakukan? Mencegahku bertemu dengan Anna sebelum Marc benar-benar yakin bahwa Anna tidak akan menyakitiku adalah hal logis yang bisa dilakukan oleh Marc, pikir Andrew.

“Melihat reaksimu sepertinya kau setuju dengan apa yang kukatakan. Jangan terlalu mencurigai saudaramu sendiri. Seharusnya kau senang masih ada orang mau melindungimu seperti yang dilakukan Marc. Masih ada orang yang peduli padamu,” ucap Anna dengan suara pelan.

Andrew masih tidak mengatakan apapun dan memperhatikan perubahan ekspresi Anna yang menjadi muram. Gadis itu menunduk dan memandangi kedua tangannya. Andrew menghela nafas panjang. Andrew bisa melihat jelas betapa kesepiannya gadis itu selama ini. Bahkan sepertinya keluarganya pun tidak bisa membantunya. Andrew kemudian berdiri dan menghampiri Anna. Andrew duduk diatas meja kayu menghadap Anna. Andrew melirik kedua tangan Anna, lalu menggenggamnya. Anna terkejut dan hendak menarik kedua tangannya. Tapi Andrew menahannya.

“Kau memakai sarung tangan. Jadi, tidak apa-apa. Kau bilang hanya bisa menyerap energi orang lain jika kau menyentuh kulitnya secara langsung. Lihat, aku baik-baik saja,” ucap Andrew.

Anna menatap Andrew dengan lekat. Tangannya masih terasa kaku dalam genggaman tangan Andrew. Anna bisa merasakan sensasi hangat dari tangan pria tersebut. Entah sudah berapa lama, Anna tidak merasakan sensasi hangat sentuhan dari orang lain. Bahkan Sarah pun jarang menyentuhnya seperti ini.

Andrew tersenyum tipis. “Kau pasti merasa sangat kesepian sejak kemampuanmu muncul. Tidak bisa menyentuh orang lain tanpa membuatnya kesakitan, kemampuan itu bahkan lebih buruk dari sebuah kutukan. Iya, bukan? Kau mungkin merasa takut untuk menyakiti orang lain, tapi kau bisa berhati-hati. Memakai sarung tangan, memakai pakaian yang menutupi sebagian kulitmu, itu adalah tindakan paling efektif yang sudah kau lakukan bertahun-tahun. Kau hanya perlu keberanian untuk menyentuh orang lain. Lihat, aku baik-baik saja dengan menyentuhmu seperti ini. Jadi, jangan takut lagi.”

Anna menghela nafas dan memperhatikan tangan Andrew. Perlahan dia menarik kedua tangannya dan membuat senyuman Andrew menghilang. Anna kembali menatap Andrew dengan lekat. “Terima kasih. Aku akan mengingatnya, tapi bahkan untuk mempunyai keberanian untuk menyentuh orang lain, kau harus berani berpikir untuk memiliki keberanian seperti itu.”

Andrew menatap Anna dengan tidak mengerti. Ucapan gadis itu terdengar sederhana, tapi Andrew tidak bisa menangkap dengan jelas maksud dari ucapannya. Sebelum Andrew bertanya lagi pada Anna, pintu terbuka. Sontak keduanya menoleh dan melihat seorang gadis muda berjalan memasuki ruangan tersebut.

Andrew berdiri dan berjalan mendekati gadis itu, “Sully Choi?”

“Iya, aku Sully Choi. Tapi.. kalian siapa?” tanya gadis itu bingung.

Andrew tersenyum tipis dan berjalan lebih dekat pada Sully. “Kau mengenal Professor Stephen Jung? Aku adalah temannya. Namaku Andrew Choi dan kami datang untuk menyelamatkanmu,” ucap Andrew.

Sully terlihat masih tidak mengerti dengan ucapan Andrew. Ia memang mengenal Professor Jung beberapa tahun lalu. Karena pria itu, Sully mengetahui bahwa dirinya mempunyai kemampuan special yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya. Tapi mendengar alasan pria tinggi yang mengaku sebagai teman Professor Jung untuk menyelamatkannya, Sully merasa ada hal buruk sedang terjadi.

“Menyelamatkanku? Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Sully sedikit gemetar. Professor Jung pernah mengatakan bahwa dia harus menyembunyikan kemampuannya. Tidak ada yang boleh mengetahui kemampuannya.

Anna yang berdiri dan berjalan mendekati keduanya. Anna memperhatikan Sully dengan lekat sebelum akhirnya bicara. “Apa semalam kau bertemu dengan seorang pria yang terlihat mencurigakan? Di coffee shop tempat kau bekerja.”

Sully memandang Anna dan mengangguk. “Semalam memang ada seorang pengunjung yang terlihat aneh. Dia memperhatikan nametag-ku dan menyebut namaku sebelum memberikan pesanan. Sebagian besar pengunjung tidak pernah menyebut namaku. Jadi, aku bepikir kalau dia hanya bersikap sopan.”

“Kalau begitu mulai sekarang kau harus berhati-hati. Pria itu adalah seorang pembunuh dan kau adalah target selanjutnya. Untuk itu kami datang untuk menyelamatkanmu.”

*****

 NOTE: Untuk Scarface kayaknya mesti ditunda sampe minggu depan, karena aku belum selesai nulis part 22. Sejak hari minggu, aku sakit dan baru sembuh kemarin. Hari ini aku usahain untuk update Super Human dulu.

Maaf atas ketidak-nyamannya.

Advertisements

6 thoughts on “[MM] Super Human – 1st Story [6]

  1. tambah seru eon…. korban selanjutnya adalah sulli….??? menakutkan eon…
    suka sama ff ini bikin orang berimajinasi tinggi…
    makasi eonn.

    eh ya gpp walaupun minggu dpan gpp eon. q tetep nunggu scarface kok…
    cepat sembuh yahhh… semoga jangan sampek sakit lagi aaminnn….
    fighting diera eonn.

  2. Cepet sembuh ya eon 🙂
    Mudah²n scarface nya cepet selesai ditulis biar langsung diupdate 😀
    Fighting eon!!!!^_^

  3. Setidaknya Marcus dengerin perkataan Anna soal kecelakaan yg ngelibatin project nemesis. Poor Max kena sewotan Marcus yg lagi bete hehehehehe
    Nyantai aja Diera, yg pentingkan kesehatan kamu. Pulihkan dulu staminanya, kalo udah fit baru nulis lagi. Jaga kesehatan yaaa

  4. Makin kesini makin deg-degan untuk apa yang akan terjadi selanjutnya.
    Semoga akan berjalan lancar.

    Fighting eonni…!
    Gumawo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s