[SF] Scarface Part 21

Scarface

21

Changwook mengernyit ketika ia melihat sosok Haneul berdiri di depan sebuah kamar rawat. Kemudian ia melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul delapan, sedangkan shift Haneul sudah selesai pukul enam tadi. Dan bukankah Haneul mengatakan bahwa malam ini dia harus makan malam di rumah bersama orangtua-nya? Tapi kenapa dia masih berada di rumah sakit?

Changwook menghela nafas lalu menghampiri Haneul. “Dokter Kang, kau sedang apa?”

Haneul terkejut dan menoleh. “Dokter Ji.”

Changwook melirik kearah papan nama pasien yang berada disisi sebelah kanan pintu tersebut. Changwook kembali menghela nafas setelah mengetahui kalau Haneul sedang memperhatikan Cho Kyuhyun.

“Kau tidak pulang, dokter Kang? Bukankah kau bilang malam ini kau harus makan malam di rumah?” tanya Changwook sembari tersenyum.

Haneul melirik kearah pintu kemudian dia kembali menatap Changwook. “Aku membatalkannya.”

“Ah.. Kau menolak ajakan makan malam dariku dan dokter lainnya karena kau bilang harus makan malam di rumah. Tapi sekarang kau membatalkan makan malam-mu di rumah. Dan malah berdiri diluar pintu kamar pasien,” tukas Changwook.

Haneul mendesah pelan. Ia menekan pelipis kanannya dengan sedikit canggung. Dia merasa malu pada Changwook. “Maaf, tapi apa yang terjadi hari ini…”

“Apa kau sudah makan malam, dokter Kang?” tanya Changwook.

“Eh? Ma-makan malam? A-aku.. belum…”

Kemudian Changwook merangkul bahu Haneul dan mengajaknya berjalan menjauhi kamar rawat Kyuhyun. “Kalau begitu kau bisa menemaniku makan malam di kafetaria rumah sakit.”

Haneul tergagap. “A-aku tidak…”

“Aku tidak ingin mendengarkan penolakan lagi, dokter Kang. Ayo makan dulu, aku sudah lapar.”

*****

Changwook kembali memperhatikan Haneul yang tidak selera untuk menghabiskan makanannya. Haneul hanya diam sembari menatap mangkuk yang berisi sup kimchi dihadapannya. Entah apa yang dipikirkannya, tapi Changwook bisa menebak satu nama. Changwook kemudian mengetukkan sumpitnya ditepi mangkuk sup Haneul dan membuat pria itu mengangkat kepalanya.

Haneul berkedip beberapa-kali menatap Changwook.

“Kau tahu, dalam satu shift kita perlu terjaga hingga duabelas-jam. Sejak kemarin, kau sudah sibuk dengan beberapa pasien. Bahkan kudengar kau hanya tidur selama tigapuluh menit. Lalu pagi ini, kau harus mendampingi dokter Song untuk operasi dan kau hanya makan kimbab untuk makan siang. Setelah apa yang terjadi pada Cho Kyuhyun, kau terlihat begitu tegang. Setidaknya, kau bisa menikmati makan malammu setelah memastikan kondisinya baik-baik saja,” kata Changwook dengan nada serius.

Haneul terdiam sejenak. Dia merasa terkejut Changwook mengetahui semua kegiatannya seharian ini. Oh, Changwook bahkan tahu apa yang dimakannya ketika makan siang padahal Haneul tidak melihat Changwook di kafetaria saat dia membeli kimbab. Haneul masih memperhatikan dokter muda itu ketika Changwook melambaikan tangannya didepan wajah Haneul.

Haneul tersadar dan menarik nafas panjang. “Aku…”

Changwook dengan cepat mengangkat tangannya sebagai isyarat agar Haneul tidak bicara. “Aku tidak ingin penjelasan. Aku ingin kau makan, Haneul-sshi.”

“Dokter Ji..”

Changwook menggeleng. Kemudian ia menunjuk mangkuk sup kimchi dihadapan Haneul. “Makan, Haneul-sshi. Ah, berhubung shift-mu sudah selesai, bukankah kau harus memanggilku dengan Changwook hyung? Aku lebih tua setahun darimu.”

“Hy-hyung?!”

Changwook kembali melahap samgyetang miliknya dan mengangguk. “Iya, hyung. Kau bukan seorang wanita jadi tidak mungkin memanggilku dengan sebutan oppa. Iya, kan? Selain itu, aku adalah senior-mu. Jadi, kau harus menuruti semua ucapanku, mengerti. Mulai makan, Haneul-sshi.”

Haneul kembali terdiam. Well, Changwook memang lebih tua setahun dan senior bagi Haneul. Tapi haruskah Changwook bersikap seperti ini padanya? Entah, tapi Haneul merasa kalau Changwook selalu memperhatikannya bahkan sejak dia pertama-kali bekerja di rumah sakit. Haneul memperhatikan lagi Changwook yang melahap sup miliknya, kemudian ia menarik nafas panjang. Haneul meraih sendok dan mulai melahap sup kimchi-nya.

Changwook tersenyum tipis.

*****

Changwook mendorong Haneul untuk keluar dari lift dan terus mendorongnya hingga menuju parkiran. Setelah makan malam, Changwook menarik Haneul untuk memasuki lift dan menekan tombol basement parkir. Walaupun Haneul mengatakan kalau Changwook tidak perlu mengantarnya hingga basement parkir, tapi dokter itu tidak percaya kalau Haneul akan langsung pulang. Changwook mempunyai perkiraan sebesar enampuluh persen kalau Haneul akan kembali ke kamar rawat Kyuhyun.

Changwook memberi dorongan terakhir pada Haneul. “Pulang sana.”

Haneul berbalik dan menatap Changwook dengan lekat. Changwook tersenyum dan memberi isyarat agar Haneul cepat pergi.

“Dokter Ji.. Ah, maksudku Changwook hyung, aku…”

Changwook menghela nafas frustasi yang membuat Haneul terdiam. Kemudian Changwook berjalan mendekat pada Haneul. Dia berdiri tepat dihadapan Haneul yang memandangnya dengan kikuk.

Changwook kemudian merapatkan mantel yang dipakai oleh Haneul. “Ini rumah sakit, Haneul-sshi. Temanmu ah… Cho Kyuhyun bukan temanmu, ya. Euhm… Pegawai ayahmu akan baik-baik saja. Disini ada banyak suster dan dokter yang bersiap. Waktu shift-mu di rumah sakit sudah selesai. Jadi, pulanglah dan istirahat. Okay?”

Haneul tidak mengatakan apapun. Changwook kembali tersenyum dan menepuk pipi Haneul dengan lembut. “Pulanglah..”

Haneul sedikit terkejut dengan afeksi yang diberikan oleh Changwook. Rasanya ini adalah pertama-kalinya Changwook bersikap begitu lembut padanya. Sebelumnya Changwook bahkan terkesan sedikit mengabaikannya. Haneul berkedip beberapa-kali. Memastikan bahwa yang dilakukan oleh Changwook benar terjadi.

Changwook masih tersenyum dan menatap Haneul dengan lekat. “Haneul, kau mengerti ucapanku?”

“N-ne.. Changwook hyung,” kata Haneul dengan patuh.

Senyuman Changwook semakin lebar. Kemudian dia menarik tangannya dan mengambil beberapa langkah mundur. Haneul tersadar dan menarik nafas panjang. Ia lalu membungkuk dan berjalan menuju mobilnya.

Changwook sendiri masih tersenyum dan memperhatikan Haneul. Setelah mobil Haneul melaju meninggalkan basement parkir, Changwook kembali berjalan memasuki gedung rumah sakit. Dia melangkah menuju lift dengan senyuman masih menghiasi wajahnya.

Changwook menekan tombol lift dan tertawa kecil. “Ahh.. Kurasa itu terlalu frontal,” gumamnya.

*****

Joonmyeon menghela nafas panjang sembari merapatkan sweater abu-abunya. Dia sudah bangun sejak pukul enam tadi dan saat ini Joonmyeon berada di balkon kamarnya menunggu udara menjadi lebih hangat seiring dengan matahari terbit. Walaupun itu tidak benar.

Suhu pagi ini masih cukup rendah seperti kemarin atau seminggu kemarin. Joonmyeon sudah duduk di balkon selama hampir setengah jam dan wajahnya mulai lebih pucat dari sebelumnya. Joonmyeon menyentuh pipinya.

“Mom pasti akan marah,” gumamnya.

Kemudian Joonmyeon berdiri dan berjalan masuk kedalam kamar. Ia menutup jendela balkon dan melepaskan sweaternya. Joonmyeon melemparkan sweater itu keatas tempat tidur saat dia beranjak menuju kamar mandi.

Joonmyeon kembali menghela nafas ketika melihat refleksi dirinya di cermin. Dia menarik rambutnya kebelakang dan melihat lebih jelas kalau wajahnya terlihat pucat. Joonmyeon mendesis. “Aku hanya duduk diluar selama setengah jam dan sudah sepucat ini.”

Kemudian Joonmyeon meraih sikat gigi serta pasta giginya ketika pintu kamarnya terbuka. Joonmyeon sedikit menoleh dan melihat Sara berjalan menuju kamar mandi. Sara berdiri diambang pintu dengan tersenyum.

“Selamat pagi,” sapa Sara.

Joonmyeon tersenyum tipis. “Selamat pagi, Mom.” Kemudian Joonmyeon mulai menyikat giginya.

“Tumben sekali kau sudah bangun, sayang? Ini bahkan belum pukul tujuh. Kau mau pergi hari ini?” tanya Sara.

Joonmyeon melirik Sara dan mengangguk. Setelah Joonmyeon selesai menyikat gigi, dia berbalik menatap Sara. “Kyungsoo dan Baekhyun mengajakku pergi ke travel agent.”

“Untuk liburan kalian ke Bangkok?”

Joonmyeon mengangguk lagi. Dia memperhatikan ekspresi Sara dengan seksama. “Aku boleh ikut ‘kan, Mom?”

Sara tersenyum tipis. “Tentu saja. Kalian pergi jam berapa?”

“Kurasa Kyungsoo dan Baekhyun akan datang sekitar pukul sepuluh atau sebelas nanti. Mungkin kami akan makan siang bersama setelahnya,” kata Joonmyeon.

Sara mengangguk kecil. “Baiklah. Cepat bersiap dan turun untuk sarapan.”

Joonmyeon tersenyum. Sara kemudian berjalan keluar kamar. Joonmyeon menghela nafas lega karena sepertinya Sara tidak terlalu bertanya mengenai kondisinya pagi ini. Walaupun Joonmyeon sangat yakin kalau Sara melihat wajah pucatnya. Joonmyeon menyentuh pipinya yang terasa dingin.

“Kurasa aku harus pergi ke rumah sakit lagi. Hanya untuk memastikan,” gumamnya.

*****

Siwon menoleh ketika mendengar suara pintu kamar yang tergeser. Dia melihat seorang dokter muda bernama Ji Changwook dengan ditemani seorang suster memasuki kamar rawatnya. Dokter itu tersenyum padanya dan berjalan mendekat ranjangnya.

“Selamat pagi, Choi Siwon-sshi. Apa anda sudah merasa lebih baik?” tanya dokter Ji.

Siwon menggumam sembari memperhatikan suster yang mengecek kondisi tubuhnya. IV, tekanan darah, temperature dan beberapa pengecekan lainnya. Setelah selesai, suster itu memberikan laporan pada dokter Ji. Siwon memperhatikan dokter itu dengan lekat. Entah, tapi sepertinya Siwon pernah melihat wajah dokter itu sebelumnya. Dan ketika dokter Ji mengecek bagian kepala Siwon, dia bisa memperhatikan wajah dokter itu lebih dekat.

“Tidak mengalami rasa sakit, pusing atau keluhan mulut terasa asam, mual dan lainnya? ” tanya dokter Ji.

Siwon mengangguk. “Rasa sakitnya hanya berlangsung beberapa jam setelah aku sadar. Setelah itu, baik-baik saja.”

Dokter Ji tersenyum. “Itu bagus. Hasil MRI juga tidak menunjukkan masalah apapun. Kurasa, anda bisa pulang siang ini, Choi Siwon-sshi.”

Siwon kembali mengangguk dan itu sedikit aneh menurut Changwook. Changwook menyuruh suster itu untuk keluar agar dia bisa bertanya pada Siwon dengan lebih leluasa. Setelah suster tersebut keluar dan menutup pintu, Changwook menarik sebuah kursi dan duduk.

Siwon mengernyit melihat tindakan dokter itu. “Ada yang bisa kubantu, dokter?” tanyanya.

“Kurasa itu adalah pertanyaanku, Choi Siwon-sshi.”

“Ma-maksud anda?”

Changwook menarik nafas dan melipat kedua tangannya di depan dada. “Ada yang sedang anda pikirkan, Choi Siwon-sshi? Maaf sebelumnya jika pertanyaanku terlalu sensitif dan bersifat sangat personal. Tapi sampai anda keluar dari rumah sakit, anda masih pasien saya.”

Siwon memperhatikan Changwook lalu menarik nafas panjang. “Hanya merasa terperangkap. Aku belum pernah tinggal selama ini di rumah sakit. Boleh aku berjalan-jalan di taman rumah sakit? Untuk satu jam?”

Changwook masih menatap Siwon dengan lekat untuk beberapa detik sampai dia tersenyum. “Tentu saja. Kurasa satu jam cukup untuk membuatmu tetap waras. Oh, kupikir kau tidak akan membutuhkan IV lagi.”

“Ya, tolong dilepaskan. Tangankku juga terasa tidak nyaman sejak semalam,” gumam Siwon.

Changwook kemudian melepaskan jarum IV dari pergelangan tangan Siwon. Setelah melepaskannya dengan aman, Changwook menghela nafas lega dan kembali tersenyum. “Suster akan mengantarkan sarapan pagi untuk anda. Pastikan untuk menghabiskannya. Tunggu hingga setengah jam, lalu anda bisa pergi ke taman rumah sakit. Oh, kami akan menghubungi keluarga anda. Kami harus menghubungi nomor orangtua anda atau saudara sepupu anda?”

“Hubungi Changmin saja. Aku akan mengatasi orangtuaku nanti di rumah. Terima kasih dokter Ji,” kata Siwon.

Changwook mengangguk. Lalu dia membawa botol IV keluar dari kamar Siwon bersamanya. Siwon menghela nafas lega setelah dokter itu keluar dan melihat pergelangan tangannya yang terdapat bekas jarum IV. Kemudian Siwon menurunkan tangannya dan menatap langit-langit kamar rawatnya.

“Apa dia sudah bangun?”

*****

Kyuhyun mendesah jengkel ketika Ahra kembali menyodorkan satu sendok bubur kearahnya. Tapi walaupun Kyuhyun menolak, Ahra tidak akan berhenti. Kyuhyun membuka mulutnya dan menerima suapan itu. Ahra tersenyum. Kyuhyun berusaha untuk tidak mendesis jengkel.

“Noona, aku sudah tigapuluhdua tahun. Aku bisa makan sendiri. Aku bukan adik kecilmu lagi,” kata Kyuhyun.

Ahra menghela nafas. “Walaupun kau sudah berusia tigapuluhtahun, empatpuluh atau bahkan tujuhpuluh tahun, kau akan selalu menjadi adik kecilku yang manis.”

“Noona, ucapanmu itu terdengar menjijikkan.”

Ahra tertawa kecil dan kembali menyodorkan sendok berisi bubur itu kearah Kyuhyun. Walaupun dia bilang tidak menyukainya, Kyuhyun kembali menerima suapan itu. Kyuhyun menarik nafas panjang dan menerima suapan terakhir.

Syukurlah.

Setelah sarapan paginya habis, Ahra lalu merapikan tray tersebut dan menyodorkan segelas air pada adiknya tersebut. Kyuhyun meneguk beberapa-kali lalu menaruh gelas tersebut di meja dekat ranjangnya. Kyuhyun menghela nafas lalu melirik kearah jendela.

Cuacanya terlihat cerah.

“Noona, kau akan langsung pergi ke kantor?” tanya Kyuhyun yang kemudian memperhatikan Ahra yang sedang sibuk dengan ponselnya.

Ahra bergumam pelan. “Hyukjae akan datang saat makan siang. Dia akan mengantarkanmu pulang hari ini. Ohya, Eomma sedikit… kau tahu, bereaksi agak berlebihan saat aku mengatakan kalau kau mengalami episode lagi.” Ahra lalu kembali duduk di ranjang Kyuhyun dan meraih tangan adiknya.

“Kau yakin tidak ingin bertemu dengan dokter Noh lagi? Episode-mu kemarin itu adalah yang pertama setelah empat tahun, Kyuhyun. Appa dan Eomma merasa kalau kau perlu menjalani terapi bersama dokter Noh lagi. Aku bisa menghubungi dokter Noh, walaupun dia mungkin akan sibuk di universitas tapi aku yakin kalau…”

Ucapan Ahra terhenti ketika Kyuhyun meremas lembut tangannya. Kyuhyun tersenyum tipis. “Noona, aku baik-baik saja. Yang kemarin itu, sesuatu yang tidak terduga. Itu seperti kecelakaan, noona. Tapi selebihnya, kondisiku masih jauh lebih baik dari empat tahun lalu atau ketika waktu aku kecil.”

“Bagaimana bisa itu disebut kecelakaan, Kyuhyun? Dia yang membawamu kesana dan dia bahkan tidak berbuat apapun ketika kau mengalami episode itu,” kata Ahra dengan kesal.

Kyuhyun menghela nafas. “Dia tidak tahu kalau aku tidak bisa berada di ice-rink. Aku juga tidak memberitahunya. Dia juga sempat menyuruhku untuk menunggu diluar arena. Tapi aku sendiri yang berjalan memasuki ice-rink tersebut. Selain itu, dia juga mengalami kecelakaan karena ingin membantuku. Jadi, ini bukan kesalahannya.”

Ahra mengernyit. Terdengar aneh saat adiknya membela orang asing yang membuatnya masuk rumah sakit dan terluka beberapa-kali. Kyuhyun biasanya tidak seperti itu. Ahra lalu menyentuh wajah Kyuhyun dengan tangannya yang lain.

“Kau sedikit berubah, sayang.”

“Uhm? Berubah? Maksud noona?”

Ahra menghela nafas dan mengangkat bahu. “Entahlah. Dulu, ketika Hyukjae masih belum mengetahui tentang trauma-mu, saat dia memaksmu untuk ikut bermain ice-skating, kau selalu saja menolak dengan keras. Tapi berbeda dengan Choi Siwon. Selain itu, kau…”

Kyuhyun menatap Ahra dengan mengerutkan kening. “Apa?”

Ahra menggeleng. Dia menarik nafas lalu berdiri. “Aku harus ke kantor sekarang. Aku sudah membayar biaya rumah sakitnya. Karena kemarin pria yang bernama Changmin itu bersikeras untuk membayarkan biaya perawatanmu tapi aku sudah mendahuluinya. Saat kau pulang, hubungi aku. Okay?”

Kyuhyun mengangguk. Ahra tersenyum tipis lalu mengecup kening Kyuhyun. Sekali lagi, Ahra memperhatikan wajah Kyuhyun sembari mengusap lembut pipinya. Entah, tapi Kyuhyun merasa kalau Ahra sudah menyadari tentang sesuatu.

“Oh, satu hal lainnya,” kata Ahra ketika dia berada diambang pintu. “Aku tidak mau kau berhubungan lagi dengan pria bernama Choi Siwon itu. Selain itu, kau sudah menyelesaikan kasus Choi Group, bukan? Maka tidak ada alasan lagi untuk bertemu dengannya.”

Ahra lalu berjalan keluar dan menutup pintu. Kyuhyun masih memperhatikan pintu yang baru saja ditutup oleh Ahra. Dia menarik nafas lalu kembali berbaring.

“Tidak ada alasan untuk bertemu dengan Choi Siwon. Itu memang benar. Hanya saja…”

*****

Zitao mendesis jengkel ketika dia menemukan Yifan di taman bersama dengan Shi Liu. Dia ingin sekali menghampiri sepupunya itu dan menariknya masuk kedalam tapi niatnya terhenti ketika Shi Liu mulai bicara. Zitao memilih untuk bersembunyi diantara pepohonan dan mendengarkan pembicaraan Yifan dan Shi Liu walaupun itu sangat tidak sopan.

“Jadi, belum ada gadis Seoul yang menarik perhatianmu?” tanya Shi Liu.

Yifan melirik Shi Liu dan menggeleng. “Aku belum lama pindah jadi belum bertemu dengan banyak orang. Aku hanya mengenal beberapa orang di sekolah dan dorm. Jadi, aku tidak tertarik dengan gadis manapun.”

Shi Liu mengernyit. “Tidak tertarik atau belum tertarik?”

“Tidak tertarik,” ucap Yifan dengan serius.

Shi Liu terdiam untuk sejenak. Lalu gadis itu tersenyum. “Sepertinya kau cukup banyak berubah setelah pindah ke Kanada.”

Yifan menatap Shi Liu dengan lekat. Walaupun secara tidak langsung, Yifan telah menegaskan mengenai seksualitasnya, Shi Liu sepertinya masih menganggapnya sebagai jawaban ambigu.

“Kenapa kau menemuiku, Shi Liu? Kau masih tinggal di Beijing, bukan? Lalu bagaimana kabarnya dengan kekasihmu?” tukas Yifan.

Shi Liu tertawa kecil. “Kau terlalu lama pergi, Fanfan. Kudengar kau sering bertukar kabar dengan Zitao. Apakah Zitao tidak menceritakannya padamu?”

“Mengenai apa?”

“Mengenai keluarga. Bukankah Mom-mu juga sudah mengetahuinya? Apa kau juga tidak diberitahu oleh Mom-mu?” tukas Shi Liu.

Yifan mengernyit. Setelah kepindahannya ke Seoul, Sara tidak mengatakan sesuatu hal penting mengenai keluarganya di semua e-mailnya. Bahkan Zitao juga tidak mengatakan apapun ketika mereka mengobrol melalui skype.

“Apa yang diketahui Mom-ku, tapi aku tidak mengetahuinya?” tanya Yifan dengan nada serius.

Shi Liu kembali tersenyum. “Kurasa kau perlu bertanya pada Mom-mu. Atau mungkin pada Nana. Sampai bertemu saat makan siang, Fanfan.”

Kemudian Shi Liu berjalan meninggalkan Yifan yang masih memperhatikan gadis itu. Zitao baru muncul setelah memastikan Shi Liu sudah masuk kedalam rumah. Dia lalu bergegas menghampiri Yifan yang terlihat begitu kebingungan.

Yifan menatap Zitao dengan lekat. “Kau mendengarnya?”

Zitao mengangguk.

“Katakan padaku bahwa ini bukanlah seperti apa yang kupikirkan,” kata Yifan.

Zitao menghela nafas. “Seperti apa maksudmu, Yifan?”

“Huang Zitao!”

Zitao mendesis jengkel. Dia sudah tahu kalau gadis itu pasti mempunyai tujuan tertentu datang ke Guangzhou setelah mengetahui kalau Yifan akan pulang. Zitao menarik nafas lalu menghembuskannya. Dia menatap Yifan dengan lekat.

“Nana belum mengambil keputusan apapun,” kata Zitao.

Yifan menggumamkan kata makian. “Semua orang sudah tahu? Termasuk Mom-ku?”

Zitao mengangguk. “Sebenarnya karena alasan itu, Nana meminta ibumu untuk datang ke Guangzhou dengan mengajakmu dan saudara tirimu. Selain untuk memperkenalkan saudara tirimu pada keluarga yang lainnya, Nana ingin membicarakan mengenai masalah itu. Dan saat kudengar, Mom-mu membatalkan kedatangannya, kupikir kau tidak akan datang juga. Tapi kau malah datang sendirian.”

Yifan mengusap wajahnya. “Damn it! Seharusnya aku tidak perlu datang.”

“Nana tidak akan meminta pendapatmu mengenai masalah ini. Nana mungkin akan menunggu sampai Nana bicara langsung pada Mom-mu. Semuanya masih belum dipastikan Yifan,” kata Zitao lagi.

Yifan mendengus. “Apanya yang belum dipastikan? Semuanya sudah dapat dipastikan. Kecuali aku mengatakan pada mereka kalau…”

“Tidak! Kau tidak boleh mengatakannya sekarang!!” seru Zitao cepat.

Yifan memicingkan matanya. Dia menatap Zitao dengan penuh curiga. “Kenapa? Kenapa kau melarangku untuk mengatakan kalau aku sebenarnya…”

“Aku bukannya melarang, Yifan. Tapi pikirkan bagaimana dampaknya bagi saudara tirimu, eh? Apa yang dipikirkan oleh keluarga lainnya? Bagaimana dengan reaksi ayah tirimu? Kau pikir setelah kau mengatakan semuanya, maka akan baik-baik saja? Pikirkan saudara tirimu. Walaupun kau mengatakan kalau perasaan itu hanya ada pada dirimu, tapi dia juga akan dilihat berbeda,” jelas Zitao.

Yifan mengeluarkan kata sumpah serapah yang belum pernah didengar oleh Zitao. Walaupun sedikit berlebihan, tapi itu lebih baik ketimbang Yifan menahan emosinya sendiri. Terkadang Yifan selalu menyembunyikan emosinya yang sebenarnya bahkan dihadapan ibunya sendiri. Tapi dihadapan Zitao, Yifan adalah Yifan yang sebenarnya.

Setelah Yifan mengeluarkan semua emosinya, dia bergegas kembali kedalam rumah. Zitao mengikutinya karena dia merasa bahwa ini tidak akan berakhir baik. Yifan terus berjalan menuju anak tangga dan tidak memperdulikan ucapan Nana atau bibinya –Ibu Zitao. Yifan bergegas menaiki anak tangga dan langsung menuju kamarnya.

Zitao menghela nafas panjang dan masih mengikuti Yifan.

Namun, ketika Zitao sampai di kamar Yifan, dia melihat saudaranya itu kembali berkemas. Sepertinya Yifan ingin kembali ke Seoul hari ini juga. Tidak peduli kalau kemarin dia baru sampai. Zitao menghela nafas dan berjalan masuk. Dia lalu menutup pintu kamar.

“Yifan, kau tidak bisa menyelesaikan masalah dengan melarikan diri,” kata Zitao.

Yifan mengabaikan ucapan Zitao dan terus memasukkan kembali semua pakaian yang dibawanya kedalam tas ranselnya.

“Yifan…”

Yifan berhenti dan menatap Zitao dengan kesal. “Caraku untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengatakan semuanya, tapi kau melarangku. Jadi, yang terpikirkan olehku adalah kembali ke Seoul. Tidak peduli dengan keputusan Nana, aku tidak akan pernah melakukannya. Lagipula Nana masih mempunyai dirimu. Kau tinggal disini, jadi itu tidak akan masalah.”

Zitao mendesis. Yifan sekarang malah melibatkan dirinya kedalam masalah ini.

“Well, sayangnya keluarga Zhang hanya tertarik padamu. Oh, kau tenang saja. Nana sudah merencanakan sesuatu untukku,” sahut Zitao dengan sarkastik. Zitao menarik nafas. “Dengar, untuk mengenai perusahaan Nana mungkin tidak akan terlalu mempermasalahkannya. Namun, berbeda dengan keluarga Zhang. Nana masih memikirkannya tapi cepat atau lambat keputusan harus dibuat. Dan keputusan itu hanya bisa dibuat setelah Nana bicara dengan Mom-mu.”

Yifan mendengus.

“Oh, hanya dengan Mom? Ini hidupku! Kenapa Nana harus bicara dengan Mom dan bukan diriku? Tunggu, mungkin Nana tahu kalau aku pasti akan menolaknya. Jadi, Nana akan meminta Mom untuk membujukku karena aku tidak pernah membantah ucapan Mom. Oh, hebat sekali!”

Zitao menghela nafas frustasi. Sepertinya dia tidak bisa membujuk Yifan. Zitao kembali memperhatikan Yifan yang kembali memasukkan pakaiannya kedalam tas ransel. Sepertinya keputusan Yifan untuk pulang ke Seoul sudah bulat.

“Kau akan kembali ke Seoul?” tanya Zitao.

Yifan menyampirkan tas ranselnya dan menatap Zitao dengan jengkel. “Perlukah kau bertanya, Huang Zitao?!”

“Kalau begitu aku ikut. Lagipula aku sudah bilang pada Mom-mu kalau aku akan ikut bersamamu ketika kau kembali ke Seoul. Tunggu selama duapuluh menit, okay?”

*****

Siwon menghela nafas dan merapatkan jaketnya. Setelah menghabiskan sarapan paginya –oh, Siwon tidak tahu kalau rumah sakit sekarang sudah memperhatikan rasa makanan mereka– Siwon langsung keluar dari kamar rawat tanpa menunggu setengah jam sesuai instruksi dokter Ji. Siwon tidak ingin menunggu lebih lama lagi hanya untuk keluar dari kamar rawatnya.

Sudah hampir duapuluh menit, Siwon duduk di salah satu kursi taman rumah sakit. Tidak banyak pasien yang berada di taman, mungkin karena suhunya masih cukup dingin tapi bagi Siwon inilah yang dibutuhkannya. Terperangkap dalam kamar rawat selama duapuluhempat jam adalah sesuatu yang menakutkan.

Siwon mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya dan menekan nomor Jinri. Walaupun sebenarnya menghubungi Jinri disaat seperti ini bukanlah keputusan yang bijak. Tapi Siwon ingin memastikan situasi di rumah sebelum dia pulang nanti.

Siwon menunggu beberapa detik sampai telepon itu tersambung.

“Senang, akhirnya kakakku masih ingat kalau dia mempunyai keluarga untuk dihubungi.”

Siwon memutar bola matanya. Jinri selalu begitu jika terjadi sesuatu tapi Siwon tidak pernah bercerita padanya terlebih dahulu. “Aku juga senang mendengar sindiranmu, Jinri. Bagaimana situasi di rumah?”

“Oh? Semuanya baik-baik saja. Hanya Eomma berteriak seperti orang gila karena putra tertuanya dilarikan ke rumah sakit tapi melarangnya untuk datang. Dan Appa tidak melepaskan ponselnya selama kurang lebih enam jam untuk mengatur beberapa masalah yang ditimbulkan oleh putranya. Yep, semuanya baik-baik saja.”

Siwon mendesah. Sepertinya situasinya lebih buruk dari yang diperkirakan oleh Siwon sebelumnya. Setidaknya, Jinri tidak menyebut kakek mereka. Itu adalah hal bagus.

“Oke, kurasa tidak terlalu buruk. Dengar, aku akan pulang siang ini. Mungkin saat jam makan siang atau setelahnya. Bisa beritahu Eomma? Aku hanya tidak ingin.. Kau tahu, dipukuli Eomma karena kejadian kemarin,” ucap Siwon sedikit berharap.

Jinri menghela nafas pendek. “Baiklah, akan kuberitahu. Changmin oppa akan menjemputmu di rumah sakit?”

Siwon hanya menggumam pelan.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Oppa? Apa yang terjadi antara dirimu dan Pengacara Cho? Changmin oppa hanya mengatakan kalau itu adalah kecelakaan kecil, tapi sepertinya Appa mendengar hal lainnya.”

Siwon terdiam sejenak. Ia berdeham beberapa-kali, tidak siap untuk pertanyaan itu. Walaupun Siwon berusaha untuk mempersiapkan diri jika Jinri bertanya mengenai kejadian kemarin. “Appa mendengar apa?”

“Aku tidak mendengar jelas. Hanya sesuatu berkaitan trauma dan rekaman CCTV. Kurasa mereka mengecek rekaman CCTV untuk mengetahui kejadian sebenarnya. Aku belum melihatnya, tapi Appa sepertinya sudah. Oh, begitu pula dengan kakek.”

Siwon memejamkan matanya dan menghembuskan perlahan. Well, rekaman CCTV. Changmin memang sempat mengatakan kalau mereka akan melihat rekaman CCTV. Tapi perlukah ayah dan kakeknya melihatnya juga? Bukankah hanya dengan laporan sudah cukup?

“Oppa…”

Siwon membuka matanya dan menggaruk keningnya dengan canggung. “Uhm… Kau tahu, saat aku mengecek ice-rink, aku mengajak Pengacara Cho. Rencananya hanya untuk beberapa menit setelah itu kami bisa makan siang sembari membicarakan kontrak baru dengan Kim Jinhyeok. Tapi aku tidak tahu kalau Pengacara Cho mempunyai sedikit trauma dengan ice-rink. Well, sisa ceritanya kau pasti sudah dengar,” kata Siwon.

Siwon mendengar suara desahan frustasi Jinri diujung telepon. “Baiklah, kita bicara lagi nanti, okay? Ohya, nyawaku kini berada ditanganmu Jinri.”

“Oh, aku sangat terhormat mendapatkan kesempatan untuk menyelamatkan seorang Choi Siwon. Kau harus bersikap baik padaku setelah aku menyelamatkan nyawamu, Oppa. Seumur hidupmu.”

Siwon tertawa kecil. “Ya, baiklah. Akan kuusahakan untuk bersikap baik padamu. Tapi tidak janji. Sampai nanti, Jinri.”

Siwon menunggu hingga Jinri memberikan respon dan memutuskan sambungan teleponnya terlebih dahulu. Siwon menghela nafas lega. Setidaknya untuk satu masalah sudah bisa diatasi. Kemudian masih ada masalah lainnya. Siwon lalu kembali menyimpan ponselnya di saku jaket.

Sudah tigapuluhlima menit. Siwon masih mempunyai sisa duapuluhlima menit di taman sebelum dia harus kembali ke kamar rawatnya. Walaupun sebenarnya Siwon berniat untuk tinggal lebih lama. Tapi dia tidak ingin mengambil resiko, dokter Ji akan menyusulnya ke taman dan memberikan perintah untuk kembali ke dalam rumah sakit.

Siwon menarik nafas panjang dan memenuhi paru-parunya dengan udara dingin. Kemudian menghembuskan perlahan. Berikutnya salju mulai turun.

Siwon mengadahkan kepalanya untuk melihat butiran salju yang turun dari langit yang terlihat cerah. Siwon tersenyum tipis. Salju selalu mengingatkannya pada Kyuhyun. Hari dimana dia menyelamatkan pria itu untuk yang pertama-kali di pulau Jeju. Atau hari dimana dia menyelamatkan Kyuhyun di Ansan. Atau bahkan hari-hari dimana mereka bertemu. Hampir semuanya selalu turun salju. Tapi sayang sekali, Kyuhyun sama sekali tidak pernah beruntung dengan salju atau pun es.

Senyuman Siwon menghilang. Setelah hari ini, dia tidak bisa bertemu dengan Kyuhyun. Heck, atas alasan apa mereka harus bertemu? Ahra bahkan sudah mengatakannya kalau dia tidak ingin adiknya berhubungan atau bertemu lagi dengan Siwon.

“Hah, ini sebuah ironi. Ketika akhirnya kau menemukan seseorang, tapi kau malah tidak bisa memilikinya,” gumamnya.

Siwon kemudian tertawa kecil. Dia lalu membersihkan salju yang jatuh diatas kepalanya. Mungkin ini isyarat kalau Siwon harus kembali ke kamar rawatnya, sebelum suster atau dokter menemukannya pingsan karena kedinginan. Siwon menarik nafas panjang lagi lalu berdiri.

Namun, saat Siwon hendak kembali kedalam gedung rumah sakit, dia malah melihat Kyuhyun yang sedang memperhatikannya. Siwon terdiam untuk beberapa detik. Dia tidak mengalihkan pandangannya dari sosok Kyuhyun yang berdiri kurang lebih dua ratus meter darinya.

Salju sedang turun dan Siwon kembali bertemu dengan Kyuhyun. Walaupun mereka berada di rumah sakit yang sama, tapi masih ada kemungkinan untuk tidak bertemu, bukan? Entah ini adalah sebuah takdir atau memang hanya kebetulan semata.

Siwon menghela nafas dan memutuskan kontak mata dengan Kyuhyun. Dia berjalan kearah Kyuhyun. Siwon berniat untuk tetap terus berjalan dan memberikan sapaan singkat pada Kyuhyun.

Ucapkan selamat pagi dan terus jalan. Jangan menoleh ke belakang. Ucapkan selamat pagi dan terus jalan. Jangan menoleh ke belakang. Ucapkan selamat pagi dan terus jalan. Jangan menoleh ke belakang..

Siwon mengucapkan kalimat itu dalam kepalanya sembari terus berjalan mendekati Kyuhyun.

Ucapkan selamat pagi dan terus jalan. Jangan menoleh ke belakang. Ucapkan selamat pagi dan…

Tapi yang terjadi adalah langkah Siwon terhenti tepat dihadapan Kyuhyun. Siwon sendiri terkejut dengan tindakannya. Rasanya otaknya sudah memberikan perintah untuk tetap berjalan tanpa menoleh ke belakang. Tapi bagaimana bisa tubuhnya mengkhianati perintah otaknya tersebut? Mungkinkah karena benturan kemarin, sambungan antara otak dengan syaraf ditubuhnya terputus? Sepertinya Siwon harus menuruti ucapan Kyuhyun untuk memeriksakan kepalanya itu.

Siwon menatap Kyuhyun yang berdiri dihadapannya dengan ekspresi tenangnya.

“Pagi..” sapa Siwon singkat.

Namun, Kyuhyun tidak memberikan respon apapun. Dia masih menatap Siwon dengan sorot mata yang begitu tenang. Siwon sendiri pun tidak berdaya. Dia seperti terhipnotis oleh sorot mata itu hingga tetap berdiri dihadapan Kyuhyun. Walaupun salju turun semakin banyak.

Siwon memperhatikan salju yang jatuh tepat diatas kepala Kyuhyun. Seperti digerakkan otomatis, tangan Siwon terangkat kearah kepala Kyuhyun. Dengan berhati-hati, Siwon membersihkan rambut Kyuhyun dari salju yang dingin. Siwon terus membersihkan salju itu walaupun salju tidak pernah berhenti jatuh tepat di atas kepala Kyuhyun.

Sedikit jengkel, Siwon lalu memakaikan tudung jaket yang dipakai Kyuhyun untuk menghalau salju tersebut. Kemudian Siwon menarik tangannya dan memasukkan kedalam saku jaketnya.

Mereka masih belum bicara. Hanya saling menatap. Ditemani dengan deru nafas dan salju yang dingin.

Setelah empat menit yang panjang, Kyuhyun akhirnya bergerak. Dia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Siwon. Kyuhyun mengambil satu langkah lebih dekat untuk membersihkan salju dari rambut hitam Siwon. Setelah tidak ada salju lagi, Kyuhyun memakaikan tudung jaket untuk Siwon.

Kyuhyun menarik tangannya dan memasukkannya kedalam saku jaket. Persis yang dilakukan oleh Siwon. Jarak diantara mereka masih sama. Hingga Siwon bisa merasakan setiap hembusan nafas Kyuhyun di wajahnya. Mereka masih saling menatap tanpa ada niat siapa yang terlebih dahulu memutuskan kontak mata dan pergi dari tempat tersebut.

Sampai…

“Noonaku…” adalah kata pertama yang diucapkan oleh Kyuhyun. “Memintaku untuk tidak bertemu lagi denganmu. Noona mengatakan bahwa aku tidak mempunyai alasan untuk terus bertemu denganmu.”

Well, Siwon tahu kalau Ahra pasti meminta Kyuhyun untuk tidak bertemu lagi dengannya. Dan itu bukanlah sebuah kesalahan.

“Aku memang tidak mempunyai alasan. Tapi…” ucapan Kyuhyun terhenti.

Dan Siwon berharap.

Kyuhyun menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. “Apakah kau mempunyainya?”

Siwon membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Kyuhyun. Namun, dia menahan diri. Siwon menghormati keinginan Ahra, walaupun itu bertolak-belakang dengan keinginannya sendiri. Siwon-lah yang pertama-kali memutuskan kontak mata itu.

Siwon merapatkan jaketnya dan melihat kearah lain. Dia menarik nafas panjang sebelum kembali menatap Kyuhyun. “Tidak.”

Siwon tidak melihat reaksi terkejut dari Kyuhyun atas jawabannya. Mungkin itulah jawaban yang diharapkan oleh Kyuhyun.

“Baiklah, aku mengerti.” Kyuhyun kemudian berbalik. Namun, dia tidak berjalan pergi.

Siwon memperhatikan punggung Kyuhyun. Rasanya dia ingin sekali merangkul bahu itu dengan erat. Tapi Siwon harus sadar diri dimana posisinya saat ini. Kyuhyun kembali menarik nafas panjang sebelum dia mengambil langkah menjauh. Namun, tiba-tiba Siwon menahan lengan tangan Kyuhyun.

Kyuhyun menoleh dan menatap Siwon.

Siwon memaki dirinya sendiri karena kembali bertindak diluar perintah otaknya. Kemudian Siwon melepaskan lengan Kyuhyun dan menggumamkan kata makian yang lebih ditujukan untuk dirinya sendiri.

Siwon kembali memandang kearah Kyuhyun. “Persetan dengan semuanya,” gumamnya lagi.

Dalam waktu yang begitu cepat, Siwon menarik tubuh Kyuhyun kedalam dekapannya, menangkup wajah Kyuhyun dan mencium bibir sang pengacara.

Siwon hanya menyentuh bibirnya dengan bibir Kyuhyun. Bukan sebuah ciuman yang penuh gairah atau semacamnya. Hanya sebuah kecupan singkat. Siwon menghela nafas panjang. Jemari tangannya mengusap pipi Kyuhyun yang terasa dingin dengan lembut.

Sang pengacara tidak menunjukkan reaksi apapun. Kyuhyun masih terlihat begitu tenang. Bahkan Siwon tidak yakin apakah Kyuhyun masih bernafas atau tidak.

Siwon tersenyum tipis lalu menarik tangannya dari wajah Kyuhyun. Siwon juga mengambil beberapa langkah menjauhi Kyuhyun. Tapi dengan gerakan spontan, Kyuhyun menarik jaket milik Siwon. Siwon menatap tangan Kyuhyun yang menggenggam jaketnya dengan erat. Ia mengangkat kepalanya lagi dan menatap langsung pada sorot mata Kyuhyun.

“Katakan padaku,” gumam Kyuhyun.

Siwon masih diam. Ia menarik nafas dan melepaskan tangan Kyuhyun dari jaketnya. Tapi dia tidak melepaskan tangan Kyuhyun. “Katakan apa?”

“Katakan kenapa…” Kyuhyun memejamkan matanya dan menghela nafas dengan perlahan. Kyuhyun menggigit ujung pipi bagian dalam mulutnya. Kyuhyun menarik nafas lalu membuka matanya.

Kyuhyun kembali menatap Siwon lagi. “Kenapa kau membuatku seperti ini? Uhm.”

Siwon terhenyak.

“Kau adalah pria paling menyebalkan yang selalu membuatku bingung dengan semua tindakanmu. Bahkan dari semua klien chaebol yang pernah kutangani, kau satu-satunya yang membuatku ingin mengakhiri semua sidang itu dengan cepat. Kau adalah seorang pria. Kau hanya seorang pria. Tapi kau, pria yang membuatku…” ucapan Kyuhyun kembali terhenti.

“Ya Tuhan, aku benci ini,” gumam Kyuhyun –lebih untuk dirinya sendiri– sembari menarik tangannya dari genggaman tangan Siwon.

Siwon masih tidak mengatakan apapun. Dia hanya memperhatikan Kyuhyun yang kini mengusap wajahnya yang terlihat lelah. Siwon kembali menarik nafas dan menarik Kyuhyun dalam pelukannya. Siwon memeluk Kyuhyun dengan erat. Tangan kananya mengusap rambut Kyuhyun dengan lembut.

“Maaf, ini adalah salahku. Mungkin tidak seharusnya aku bersikap seperti itu dari awal pertemuan kita,” ucap Siwon.

Kyuhyun menggeleng. Ia membalas pelukan Siwon dan menenggelamkan wajahnya dibahu pria tersebut. Siwon semakin mengeratkan pelukannya. Tangannya sendiri masih mengusap rambut coklat Kyuhyun. Namun, ketika tangan Siwon berada diantara surai rambut Kyuhyun, Siwon merasakan sesuatu.

Sontak gerakan tangan Siwon terhenti. Tubuh Kyuhyun juga menjadi tegang ketika jemari Siwon tanpa sengaja menyentuh bekas luka di kepalanya tersebut. Kyuhyun berusaha melepaskan pelukan tersebut, tapi Siwon tetap memeluknya. Siwon sedikit takut kalau Kyuhyun akan mengalami episode lainnya seperti kemarin. Jadi, dia memilih untuk memeluk Kyuhyun lebih erat.

“Le-lepaskan. To-tolong lepaskan aku, Siwon-sshi.”

Siwon memejamkan matanya. “Tidak apa-apa. Kau baik-baik saja. Kita tidak berada di ice-rink.”

Kyuhyun tetap berusaha melepaskan diri dari pelukan Siwon. Tapi tentu saja, Kyuhyun tidak bisa mengimbangi kekuatan Siwon yang mendekapnya. Kyuhyun hanya bisa pasrah dan memejamkan matanya. Kyuhyun mulai berhitung di dalam kepalanya. Itulah trik yang diajarkan oleh dokter Seo.

Setiap kali Kyuhyun akan mengalami episode dari traumanya, dokter Seo memintanya untuk tetap tenang dan mulai menghitung sembari mengatur setiap tarikan nafasnya. Sedikit berbeda dengan cara dokter Noh, tapi menurut Kyuhyun keduanya adalah dokter yang mumpuni.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Kyuhyun mulai tenang dalam hitungannya. Bahkan tanpa disadarinya, Siwon juga mulai ikut menghitung.

Lima.

Enam.

Tujuh.

Kini Kyuhyun bisa menguasai pikirannya sendiri. Dokternya mengatakan kalau episode dari sebuah trauma datang dari pemikiran rasa takutnya. Jika Kyuhyun tidak bisa menguasai pikirannya sendiri, maka dia tidak akan sembuh.

Siwon yang merasa Kyuhyun kini jauh lebih tenang, mulai melonggarkan pelukannya. Ia menatap Kyuhyun yang masih memejamkan matanya. Siwon tersenyum tipis ketika Kyuhyun sepertinya berhasil tetap sadar. Kemudian…

Delapan.

Sembilan.

Kyuhyun membuka matanya ketika ia merasakan sebuah sentuhan lembut pada bibirnya. Siwon kembali menciumnya. Kali ini ciuman Siwon lebih menuntut dari sebelumnya. Siwon melumat lembut bibir bawah Kyuhyun.

Kyuhyun masih belum membalas ciuman itu. Dia hanya menatap mata Siwon yang begitu dekat dengannya. Mata yang terkadang menatapnya dengan begitu dingin, begitu serius tapi juga memberikan sensasi meneduhkan. Kyuhyun harus mengakui kalau dia menyukai sorot mata Siwon. Dan ketika Siwon menutup matanya dan mencium Kyuhyun dengan penuh perasaan, disaat itu pula Kyuhyun menyadari bahwa dirinya telah jatuh.

Sepuluh.

Tangan Kyuhyun perlahan menyentuh leher Siwon dan menarik tubuh pria itu kedalam rengkuhannya. Dan itu hanya membutuhkan waktu sepuluh detik bagi Kyuhyun.

Kyuhyun memberikan ciumannya, hatinya bahkan tubuhnya. Pada Siwon.

Dan Kyuhyun tidak berniat untuk melakukan kesalahan seperti pada Kang Haesa. Kyuhyun tidak akan menunggu lagi. Tidak peduli dengan larangan Ahra.

*****

NOTE: Kalau ada typo, aku minta maaf yaa. Gak sempet ngedit lagi, tapi semoga typonya gak parah ya. Nanti saya usahakan untuk lebih teliti lagi.

Kyuhyun, akhirnya pun telah jatuh. Akhirnya. Dan nasib Yifan ama Joonmyeon sepertinya. Well, Joon sayang, sini dek, sama noona… /plak!

Dan sepertinya dunia per-shipper-an lagi rame gara-gara wgm cina itu (dari awal tayang kayaknya). Jujur ya (sekalian curhat dikit) saya juga gak terlalu suka sama shipper wgm, tapi sayangnya itu cuma kerjaan. Selagi Siwon dapet duit dan bisa tetep eksis, ya biarlah dia kerja sebelum wamil. Toh, siapalah diriku ini yang cuma bisa memandangi wajah otp dari layar laptop. hahahaha…

Walaupun begitu, masih ada beberapa fans yang sedikit berlebihan. Well, saya gak menghakimi, siapalah saya yang bahkan pusing tujuh setiap baca buku hukum internasional berani untuk menghakimi orang-orang yang berhak mengeluarkan pendapatnya. Tapi tetap dijaga setiap tulisan yang akan di publish di media sosial mana pun. Budayakan sopan santun dalam pergaulan dunia maya. Namun, siapa saya untuk meminta kalian bersikap seperti itu.

Udah ah, bye.. bye..

Music: Huh Gak – 사월의 눈 (Snow of April)

Advertisements

52 thoughts on “[SF] Scarface Part 21

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s