[SF] Scarface Part 20

Scarface

20

 

Yifan tersenyum saat memasuki kamarnya. Sebuah kamar yang sudah hampir sepuluh tahun dibiarkan kosong namun tetap dijaga kebersihannya. Yifan sama sekali tidak mendapati debu sedikit pun. Selain itu, tempat tidur dan wallpapernya juga sudah diganti. Dulu, kamar itu mempunyai wallpaper berwarna hijau muda dan sebuah tempat tidur kayu. Tapi kini, wallpapernya berwarna putih gading dengan terdapat stiker menara Taiwan 101 di salah satu sudut –sedikit aneh menurut Yifan tapi sepertinya stiker itu adalah pilihan Zitao, sepupunya. Tempat tidurnya juga sudah diganti dengan yang lebih besar.

Yifan menaruh tas ranselnya diatas tempat tidur dan menyimpan kopernya di dekat meja kayu yang diletakkan dekat jendela besar. Yifan membuka jendela tersebut dan membiarkan udara dingin memenuhi seluruh kamarnya.

“Ge, suhu diluar itu sepuluh derajat. Kau mau masuk rumah sakit?”

Yifan menoleh dan melihat Zitao berdiri diambang pintu sembari melipat kedua tangannya. Ekspresi wajahnya terlihat sedang jengkel. Yifan tersenyum tipis lalu menarik kursi dan duduk. “Kenapa wajahmu begitu, eh?”

“Masih bertanya? Bibi bilang kalau kalian akan datang bertiga. Dengan saudara tirimu. Tapi ternyata kau malah datang sendiri,” kata Zitao.

“Joon sedang sakit, jadi tidak bisa berpergian. Mom juga tidak bisa meninggalkannya, Appanya sibuk dengan pekerjaan. Kalau aku dan Mom pergi, Joon akan sendirian di rumah,” jawab Yifan.

Zitao mendengus. “Lalu kenapa kau tetap datang? Kau bisa membatalkannya.”

“Karena aku sedang ingin sendiri. Di rumah itu, rasanya terlalu menyesakkan,” gumam Yifan.

Zitao menaikkan satu alis. Kemudian ia menghela nafas dan berjalan masuk. Zitao juga menutup pintu sebelum dia menghampiri Yifan. “Mengenai perasaanmu itu?”

Yifan menatapnya dengan penuh selidik. “Apa saja yang sudah dikatakan Luhan padamu, eh?”

Yifan mengenalkan Zitao pada Luhan satu bulan setelah dia pindah ke Seoul dan sepertinya mereka berdua sering-kali mengobrol tentang banyak hal melalui skype atau bahkan mengirim e-mail. Oh, Luhan bahkan menceritakan tentang perasaan Yifan pada seorang siswa dari kelas Musik pada Zitao. Dan tidak lama juga, Zitao akhirnya mengetahui kalau siswa dari kelas Musik itu akan menjadi saudara tiri Yifan.

Zitao mengangkat bahu. “Entahlah. Aku juga tidak ingat. Dia lebih banyak menceritakan tentang dirimu, tentang siswa kelas musik itu yang sekarang menjadi saudara tirimu dan oh… tentang lukisanmu yang dirusak oleh orang. Sudah ketemu pelakunya?”

Yifan menggeleng. “Jangan mengatakan hal itu dihadapan keluarga yang lain. Mereka mungkin akan mengirim orang ke sekolah.”

“Atau lebih buruk. Jika aku tidak sengaja mengatakan kalau kau menyukai saudara tirimu. Uhm… Han ge mungkin akan datang ke rumah barumu dan menemui saudaramu itu,” goda Zitao.

Ekspresi Yifan berubah kesal. “Jika kau mengatakannya, maka kau yang akan pergi ke rumah sakit, Huang Zitao.”

Zitao tertawa. “Aku tidak takut, Wu Yifan. Karena Han ge juga akan mengirimmu ke rumah sakit.”

Yifan mendecih jengkel. Huang Zitao akan selalu bersembunyi dibalik punggung Han ge mereka walaupun tubuhnya jelas-jelas lebih besar dari Han ge. “Sudah, keluar sana. Aku mau istirahat. Bangunkan jika sudah waktu makan malam.”

“Eh? Kau tidak mau makan siang dulu?” tanya Zitao.

Yifan menggeleng. Kemudian dia berdiri dan mendorong Zitao untuk keluar dari kamarnya. Yifan membuka pintu dan mendorong tubuh Zitao keluar. Zitao berbalik dan menatap Yifan dengan jengkel.

“Nana bisa mengomel jika kau tidak ikut makan siang?” gusar Zitao.

Yifan mendesah. “Kau bisa membuat alasan, Zitao. Lagipula aku mau tidur.”

“Baiklah. Tapi tutup jendelanya. Kau benar-benar akan dikirim ke rumah sakit,” sahut Zitao.

Yifan mengangguk dan menutup pintu kamar. Ia menarik nafas lalu menutup jendela besar. Kemudian ia mengeluarkan ponsel dari saku jeans-nya. Yifan menyalakan kembali ponselnya. Tidak ada panggilan telepon ataupun pesan dari siapapun. Termasuk dari Joonmyeon.

Yifan menghela nafas lagi.

Yifan menaruh ponselnya diatas meja lalu berjalan menuju tempat tidur. Ia menurunkan tas ranselnya dan menaruhnya di lantai kemudian berbaring setelah melepaskan sandal rumah. Yifan menarik nafas panjang.

“Empat jam dan tigapuluhenam menit. Dan aku masih merindukannya.”

*****

Kyungsoo memperhatikan ponsel baru ditangannya. Kemudian ia melirik pemuda dengan tubuh tinggi yang memasang ekspresi menyeringai dan semakin membuat Kyungsoo merasa jengkel. Kemudian Kyungsoo menaruh ponsel itu diatas meja dan menatap pemuda yang berdiri dihadapannya.

“Kau menjengkelkan. Kau tahu, kan?” tukas Kyungsoo.

Pemuda itu masih menyeringai. Ia lalu duduk disebelah Kyungsoo dan meraih ponsel itu lagi. “Aku tahu. Dalam sehari setidaknya kau mengatakan itu sebanyak lima kali padaku. Oh ya, ini ponsel keluaran terbaru. Dan…”

Pemudi itu merogoh celananya dan mengeluarkan sebuah ponsel yang sama persis dengan milik Kyungsoo. Pemuda itu memperlihatkan kedua ponsel itu pada Kyungsoo. “Lihat, dua ponsel yang sama. Punyamu warna merah dan punyaku warna hitam.”

Kyungsoo mendesis. “Berapa yang kau keluarkan untuk dua ponsel itu?”

“Uhm.. Entahlah. Kurang dari dua juta won? Atau lebih,” sahut pemuda itu.

Kyungsoo menghela nafas. “Dan kau membelinya dengan uangmu sendiri atau…”

Pemuda itu kembali menyeringai. “Tentu saja dengan….” Pemuda itu terdiam dan melirik Kyungsoo dengan gugup. Pemuda itu meletakkan kedua ponsel itu diatas meja. Pemuda itu sedikit menunduk dihadapan Kyungsoo dan menyatukan kedua telapak tangannya. “Maaf, tapi ponselmu sudah benar-benar rusak. Mereka tidak bisa memperbaikinya, jadi aku membeli yang baru.”

“Dan kau membeli yang baru tanpa memberitahuku. Oh, kau bahkan juga mengganti ponselmu. Park Chanyeol, kau itu…”

“Aku benar-benar minta maaf, Kyungsoo-ya.”

Kyungsoo menghela nafas. Ia melirik kedua ponsel yang baru saja dibeli oleh Chanyeol. Jika ponselnya yang tidak sengaja masuk kedalam kolam renang –itupun kata Chanyeol– benar-benar rusak, Kyungsoo masih bisa meminta orangtuanya membelikan yang baru. Chanyeol tidak perlu membelikannya ponsel baru.

“Jika kau membelinya karena rasa bersalah, maka kau tidak perlu melakukannya,” kata Kyungsoo.

Chanyeol menurunkan tangannya dan menatap Kyungsoo. “Aku tahu, tapi semua tugas musikmu ada di ponsel itu. Dan semua file lainnya.”

Kyungsoo berusaha untuk memutar bola matanya. Terkadang Park Chanyeol bisa bertindak sedikit bodoh. “Aku tidak sebodoh itu membiarkan semua file pentingku disimpan dalam ponsel. Aku mempunyai back-up data filenya. Makanya, sudah kubilang tidak apa-apa, bukan?”

“Aku tahu. Tapi tetap saja itu adalah tanggung-jawabku. Jadi…” Chanyeol mengambil ponsel berwarna merah itu. “Terima ini sebagai pertanggung-jawabanku, okay? Oh, atau sebagai hadiah ulangtahun-mu.”

Kyungsoo mendesis jengkel. Chanyeol sudah memberikan hadiah ulangtahun untuknya bahkan sejak akhir tahun kemarin. Chanyeol sudah memberikan beberapa cd music yang bahkan sulit untuk dicari sebagai hadiahnya. Tapi kini pemuda itu membelikan ponsel? Bukankah itu terlalu berlebihan. Selain itu, semua hadiah yang diberikan oleh Chanyeol cukup banyak mengeluarkan uang.

Namun, Chanyeol tetaplah Chanyeol.

Kyungsoo melirik ponsel yang disodorkan padanya dan kemudian ia menghela nafas. Kyungsoo mengambil ponsel itu. “Nomor yang lama, bukan?”

Chanyeol menyeringai. “Tentu saja. Bahkan aku meminta back-up nomor kontak di ponsel lama-mu dimasukkan juga. Kecuali untuk data file-mu itu. Tapi syukurlah jika kau mempunyai data back-up-nya.”

Kyungsoo menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Kemudian Kyungsoo tersenyum. “Terima kasih.”

“Terima-kasih kembali.”

*****

Joonmyeon terbangun dengan sentuhan lembut di kepalanya. Ia mengeliat dan membuka matanya secara perlahan. Joonmyeon tersenyum pada Sara yang mengusap lembut rambutnya.

“Sudah waktunya makan malam?” tanya Joonmyeon pelan.

Sara menggeleng. “Mom pikir, kau jangan terlalu lama tidur siang. Ini sudah hampir tiga jam. Nanti malam, kau malah tidak bisa tidur.”

Joonmyeon hanya tersenyum dan bangun. Dia duduk bersandar pada kepala tempat tidurnya. Sara lalu mengambil sebuah thermometer dan memasukkan ujung thermometer tersebut kedalam mulut Joonmyeon. Dalam sentuhannya, Joonmyeon terasa sedikit hangat. Mungkin Joonmyeon akan demam lagi. Jadi, Sara hanya memastikan.

Setelah satu menit, Joonmyeon mengeluarkan thermometer itu dan mengecek berapa angka yang muncul. “37.6 derajat,” gumamnya sembari menyodorkan thermometer itu pada Sara.

Sara menghela nafas setelah melihat angka tersebut. Ia mengusap wajah Joonmyeon perlahan. “Besok kita pergi ke rumah sakit, okay? Apa kau masih merasa sakit kepala, sayang?”

Joonmyeon menggeleng. “Obatnya bekerja dengan baik. Tapi agar Mom merasa lebih baik, besok kita pergi ke rumah sakit.”

Sara tersenyum. “Good. Oh, Yifan sudah sampai dengan selamat di Guangzhou. Bukan dia yang menelepon tapi Zitao, sepupunya. Kau masih ingat dengan cerita Mom mengenai Zitao?”

Joonmyeon mengangguk. “Ya, sepupu Yifan yang ahli bela diri wushu itu.”

“Dia titip salam untukmu. Semoga kau cepat sembuh, katanya. Sepertinya Yifan memberitahu mereka kalau kau sedang sakit. Oh, mungkin Zitao akan ikut bersama Yifan ketika dia pulang nanti. Untuk liburan beberapa-hari. Dia ingin sekali bertemu denganmu. Kau akan menyukai Zitao. Sedikit lebih menyebalkan daripada Yifan, tapi dia masih kekanakan. Tapi dia sepupu yang menyenangkan,” kata Sara.

Joonmyeon tersenyum tipis. “Ya, kurasa itu akan menyenangkan.”

Sara kemudian mengecup kening Joonmyeon. “Bersiaplah untuk makan malam. Oh, malam ini Mom membuat spaghetti kimchi resep dari Kyungsoo,” tukas Sara sembaru berjalan keluar kamar tersebut.

Joonmyeon menghela nafas begitu pintu kembali tertutup. Ia menyentuh keningnya sendiri. Memang terasa hangat. Joonmyeon lalu kembali berbaring dan mencari-cari ponselnya yang terselip diantara bantal.

Tidak ada pesan atau panggilan yang masuk.

“Huang Zitao. Bertambah lagi orang china dalam kehidupanku.”

*****

Luhan mengetuk pintu kamar Yixing berulang-kali hingga sang pemilik kamar dorm tersebut membuka pintu. Luhan menyeringai ketika melihat ekspresi Yixing yang sangat jengkel. Luhan menyeringai dan menerobos masuk kedalam kamar tanpa ijin dari sang pemilik.

Yixing mendesah lalu menutup pintu. Ketika ia berbalik, Luhan sudah melahap ramnyeon yang baru saja dibuatnya. Yixing berjalan meja yang berukuran sedang dengan memiliki hanya dua kursi kayu. Yixing duduk dihadapan Luhan yang masih asyik melahap ramnyeonya. Yixing harus membuat yang baru karena Luhan pasti akan menghabiskannya.

“Ada apa?” tanya Yixing sedikit dengan nada jengkel.

Luhan mengangkat kepalanya dan menyeringai. “Kapan kau pulang ke Changsa? Bisa kita pergi bersama? Aku ingin ikut denganmu.”

“Aku baru pulang bulan kemarin karena nenekku meninggal. Tidak mungkin aku pulang lagi bulan ini. Tidak ada uang. Lagipula aku akan pergi liburan dengan teman-teman sekelasku,” tutur Yixing.

Mata Luhan membesar ketika ia mendengar kata liburan. “Pergi kemana? Kapan perginya? Masih ada tempat? Boleh aku ikut?”

Yixing mendesah. “Bangkok. Mungkin awal bulan Februari. Dan tidak ada tempat lagi. Kurasa. Kau tahu, ini kelas Musik dan kau adalah kelas Seni. Sebelum kau protes…” Yixing dengan cepat berucap karena Luhan sudah mulai terlihat akan protes. “Ini bukan persoalan kelas, Lu. Tapi semuanya sudah direncanakan. Temanku sudah mengurus visa, tiket pesawat dan lainnya. Jika harus menambah orang lagi maka… Maaf, ya.”

Luhan menaruh sumpit diatas mangkuk. “Katakan saja kemana kalian pergi. Aku bisa menyusul dan menyesuaikannya. Lagipula aku sudah mempunyai visa ke Thailand. Oh, kau bilang akan pergi dengan teman-teman dari kelas Musik, bukan? Apa temanmu salah satunya ada yang bernama Kim Joonmyeon? Pemenang Festival kemarin.”

Yixing memperhatikan Luhan dengan penuh selidik. Ini memang bukan pertama-kalinya Luhan bertanya mengenai teman-temannya, tapi jika Luhan sudah bertanya mengenai satu orang dengan spesifik maka Yixing harus sedikit curiga. “Dia memang satu kelas denganku. Kenapa kau bertanya mengenai Joonmyeon? Dimana kau mengenalnya, Lu?”

“Aku tahu namanya karena dia pemenang Festival kemarin. Lagipula hanya sedikit penasaran. Baru-baru ini ibu dari temanku menikah dengan ayah dari siswa kelas Musik bermarga Kim. Jadi, hanya penasaran,” tukas Luhan.

Yixing mengerutkan keningnya. “Kau tidak berpikir kalau ayah Kim Joonmyeon itu menikah dengan ibu temanmu khan? Karena kalau iya, seharusnya beritanya sudah beredar, bukan? Tapi selama ini masih cukup tenang. Oh? Temanmu yang mana?”

Luhan menatap Yixing untuk beberapa saat. Dia tampak berpikir apakah cukup pantas menyebutkan nama Yifan dalam pembicaraannya dengan Yixing. Well, karena mereka berasal dari negara yang sama dan tinggal di gedung dorm yang sama, tentu saja Yixing mengenal Yifan walaupun tidak terlalu akrab. Jadi, jika Luhan membicarakan sesuatu yang sedikit sensitif berkaitan dengan Yifan, maka itu tidak etis.

“Kau tidak mengenalnya Yi. Tapi kurasa memang bukan dia orangnya,” sahut Luhan sembari menghabiskan ramnyeon dihadapannya. Oh, Luhan tersadar kalau ramnyeon itu adalah milik Yixing. Luhan kembali menatap Yixing dan menyeringai.

“Ramnyeonmu tidak apa jika kuhabiskan?” tukas Luhan.

Yixing memutar bola matanya. “Memang sudah kau habiskan, Xi Luhan.”

*****

Joonmyeon mengetukkan sepatunya beberapa-kali di lantai rumah sakit. Setelah sarapan, Sara langsung mengajaknya pergi ke rumah sakit untuk check-up setelah dua hari kemarin Joonmyeon selalu saja mengeluh sakit kepala. Hari ini Joonmyeon merasa baik-baik saja, tapi Sara pasti tidak ingin mendengar kata penolakan dari Joonmyeon. Terlebih kemarin Joonmyeon juga sudah mengatakan bahwa dia akan pergi ke rumah sakit hari ini.

Joonmyeon melirik kearah meja resepsionis dimana Sara sedang melakukan registrasi untuk check-upnya. Ini baru hari Selasa, tapi rasanya Joonmyeon ingin cepat-cepat hari Rabu. Kyungsoo dan Baekhyun mengajaknya pergi ke travel agent berkaitan dengan liburan mereka ke Bangkok. Mereka harus memastikan akomodasi liburan mereka benar-benar sudah siap. Agar kejadiannya tidak seperti tahun lalu.

Joonmyeon masih ingat cerita Baekhyun dan Kyungsoo berkaitan liburan mereka ke Hongkong. Karena kesalahan waktu reservasi hotel, Kyungsoo, Baekhyun dan beberapa teman yang lain harus tinggal sementara di motel yang disediakan oleh konsulat kedutaan sampai mereka bisa mendapatkan reservasi hotal mereka. Well, karena masalah itu juga Kyungsoo marah besar pada Baekhyun selama satu bulan. Itu karena Baekhyun yang mengurus semua akomodasi mereka selama di Hongkong.

Entah sebuah keberuntungan atau tidak, Joonmyeon tidak diberi ijin pergi oleh ayahnya. Jadi, dia tidak tertimpa kesialan itu. Hanya saja, ketika mereka kembali masuk di semester baru, Kyungsoo dan Baekhyun terus saja menceritakan masalah itu padanya selama dua minggu secara berulang-ulang. Heck, Joonmyeon bahkan masih ingat hampir semua detailnya.

Joonmyeon tersenyum tipis jika mengingat hal tersebut. Joonmyeon terus berpikir kapan dia bisa ikut pergi liburan bersama teman-temannya karena Junhyeok hampir tidak pernah memberikan ijin padanya. Junhyeok selalu bilang kalau Joonmyeon bisa pergi liburan bersama saudara sepupunya, mungkin karena lebih mudah Junhyeok memonitor dirinya melalui saudara sepupunya ketimbang jika Joonmyeon pergi bersama teman-temannya. Okay, itu memang terkesan sangat kuno.

Tapi kini, Junhyeok memberikan ijin pada Joonmyeon untuk pergi liburan bersama teman-teman sekolahnya. Itu patut disyukuri. Hanya satu hal yang diinginkan oleh Joonmyeon adalah mereka tidak akan mendapatkan kesialan apapun selama liburan. Walaupun kali ini Joonmyeon akan ikut, tapi dapat dipastikan jika terjadi sesuatu diluar rencana Baekhyun, maka Kyungsoo akan marah besar. Itu akan selalu berakhir sangat buruk.

Setidaknya selama satu atau dua bulan.

“Joon…”

Joonmyeon mengangkat kepalanya lalu berdiri. Sara tersenyum tipis lalu mengulurkan tangannya. Joonmyeon menghela nafas dan menyambut uluran tangan Sara. Kemudian keduanya berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai lima dimana Joonmyeon akan melakukan pemeriksaan.

Saat keluar dari lift, Joonmyeon merasakan genggaman tangan Sara semakin erat. Dia menatap ibu tirinya dengan serius. Keduanya terus berjalan menuju sebuah koridor yang mempunyai empat pintu pada masing-masing sisinya. Disalah satu pintu tersebut, Joonmyeon akan melakukan pemeriksaan.

Namun, langkah Sara terhenti. Hal itu membuat Joonmyeon juga berhenti. Joonmyeron masih memperhatikan Sara dengan begitu serius. Satu hal yang baru disadari oleh Joonmyeon adalah wajah Sara yang sedikit pucat.

“Mom, kau baik-baik saja?” tanya Joonmyeon.

Ketika Sara hanya memandangnya, Joonmyeon membawa Sara untuk duduk pada salah satu kursi panjang yang di koridor tersebut. Sekali lagi, Joonmyeon merasakan genggaman tangan Sara semakin kuat.

“Mom…”

Sara memejamkan matanya dan mengatur nafasnya secara perlahan. Dalam dua detik, Sara membuka kembali matanya dan memandang Joonmyeon. “Joon, kau ingat mengenai Eomma-mu?”

Joonmyeon mengernyit. “Eomma?”

“Ya, Eomma kandungmu. Apa kau ingat kenapa dia meninggal?” tanya Sara dengan suara pelan.

Joonmyeon terdiam. Apa dia ingat tentang kematian ibunya? Entahlah, Joonmyeon hanya tahu kalau ibunya meninggal di rumah sakit. Selain itu, tidak ada hal lainnya yang diingat oleh Joonmyeon.

“Eomma meninggal di rumah sakit. Appa mengatakan kalau Eomma menjalankan sebuah operasi namun gagal. Hanya itu yang aku ingat. Mom, apakah Appa mengatakan sesuatu padamu? Mengenai kematian Eomma?”

Sara menyentuh pipi Joonmyeon dan mengusapnya perlahan. “Tidak ada yang bisa dipastikan, sayang. Untuk saat ini sampai hasil pemeriksaannya keluar.”

Sara menarik nafas panjang dan tersenyum tipis. “Ayo temui dokter.”

Kemudian Sara berdiri dan menarik Joonmyeon juga ikut berdiri. Keduanya menuju pintu dipaling ujung sisi sebelah kanan koridor tersebut. Saat mereka tiba, seorang suster membuka pintu tersebut dan tersenyum pada mereka.

“Tuan Kim Joonmyeon?” tanya suster tersebut.

Sara mengangguk dan merangkul lengan Joonmyeon. “Ya, putraku.”

Suster itu mengangguk dan mempersilahkan Joonmyeon dan Sara untuk memasuki ruangan pemeriksaan. Joonmyeon menarik nafas dan berjalan perlahan. Setelah mereka berada didalam, suster itu menutup pintu dengan rapat. Sara masih berada disisinya, itu membuatnya lebih tenang. Kemudian Joonmyeon melihat seorang dokter muda yang tersenyum padanya.

“Pasien bernama Kim Joonmyeon. Usia delapanbelas tahun. Keluhan demam dan sakit kepala sejak dua hari yang lalu. Ibu pasien mengatakan mereka membawanya ke klinik dan diberikan obat penghilang rasa sakit. Obatnya hanya bekerja selama beberapa jam dan sakit kepalnya kembali muncul,” kata suster itu.

Suster itu lalu menatap Joonmyeon. “Silahkan duduk di meja pemeriksaan, Tuan Kim.” Kemudian suster itu menatap kepada Sara. “Maaf, Nyonya Kim. Tapi anda harus menunggu diluar.”

Sara melepaskan lengan Joonmyeon dan menatapnya dengan lekat. “Mom akan menunggu diluar, okay?”

Joonmyeon mengangguk kecil. Lalu Sara berjalan keluar ruangan tersebut. Setelah Sara keluar, Joonmyeon sendiri sudah duduk diatas meja pemeriksaan. Ia menarik nafas panjang dan memperhatikan dokter muda itu menghampirinya.

“Halo, Joonmyeon. Namaku dokter Ji Changwook, kau bisa memanggilku dokter Ji. Jadi, sudah berapa lama kau mengalami keluhan sakit kepala?” tanya dokter Ji dengan tenang.

“Uhm, hari Minggu kemarin,” jawab Joonmyeon cepat.

“Pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya?”

Joonmyeon menggeleng. “Oh, kurasa rasa sakit kepalanya mulai muncul sejak tahun lalu. Sekitar bulan Agustus. Tapi hanya sesekali dan rasanya sakitnya akan muncul jika aku sedang stress. Minum obat penghilang rasa sakit, semuanya baik-baik saja.”

“Apa obat yang sama dengan yang kau minum kemarin?”

Joonmyeon mengangguk. Changwook menghela nafas dan masih tersenyum pada Joonmyeon. “Bisa tunjukkan di mana letak rasa sakitnya muncul?”

Joonmyeon kemudian menunjuk sisi sebelah kiri kepalanya, hampir di bagian tengah tengkorak kepalanya. Changwook menyentuh tempat tersebut dan menekan perlahan. “Disini?”

Joonmyeon kembali mengangguk. Ia melirik Sara yang hanya diam memperhatikan dokter itu melakukan beberapa pemeriksaan kecil. Changwook menarik nafas perlahan. Ia menarik kembali tangannya dari kepala Joonmyeon dan menghembuskan nafas.

Changwook menatap Joonmyeon dan tersenyum. “Okay, sekarang berbaringlah. Setelah aku melakukan beberapa pemeriksaan, suster akan mengambil sampel darahmu, okay? Ini tidak akan lama. Tapi nanti kau juga harus menjalani beberapa pemeriksaan seperti MRI. Hanya untuk memastikan.”

Joonmyeon mengangguk dan kemudian berbaring.

*****

Yifan terbangun dengan kesal. Ia menatap Zitao yang menyeringai padanya sembari melemparkan bantal terakhir tepat di wajah Yifan. Dengan cepat, Yifan mengambil bantal itu dan melemparkan balik pada Zitao. Hanya saja, Zitao mempunyai gerak reflek yang cepat hingga dia bisa menghindar. Yifan mengerang dan menarik selimut.

Zitao tertawa kecil dan menarik selimut itu. “Hey, bangun tukang tidur. Ini sore.”

Yifan menahan selimut itu. “Pergi sana! Aku akan turun untuk makan malam. Tapi nanti!!”

Zitao menghela nafas. “Tapi Nana menyuruhmu untuk menemuinya sekarang. Ayolah, aku tidak bisa membuat alasan lagi untukmu. Nana mungkin akan bertanya mengenai keluarga barumu. Terutama saudara tirimu itu.”

Sontak Yifan menyibak selimutnya dan bangun. Ia menatap Zitao dengan tajam. “Apa saja yang kau katakan pada Nana?”

“Tidak ada! Aku bersumpah!” seru Zitao cepat. Zitao tidak ingin menghadapi Yifan yang marah. Terlebih jika dia baru bangun tidur. “Cepat turun ke bawah. Nana menunggumu di ruang tengah.”

Yifan mendesis. “Baiklah, sudah sana keluar.”

Zitao mendesah lalu berjalan keluar kamar tersebut. Tapi dia kembali berbalik dan mendapati Yifan malah kembali berbaring dan menarik selimutnya. Ia mendengus dan mengambil bantal yang tadi dilemparkan oleh Yifan. Zitao melempar bantal itu kearah Yifan.

“Jangan tidur lagi, Wu Yifan!!”

*****

Akhirnya, setelah bergulat dengan selimut dan tempat tidurnya, Yifan keluar dari kamarnya tanpa merapikan penampilannya. Rambut yang berantakan serta wajah yang masih terlihat mengantuk. Yifan menuruni tangga dan menoleh kearah dapur yang sepertinya sedang sibuk sekali. Kemudian Yifan berjalan menuju ruang tengah.

Rumah keluarga Sara di Guangzhou memang tidak terlalu besar, tapi cukup besar untuk menampung sekitar total enam orang secara keseluruhan. Zitao dengan ayah dan ibunya, Nana –Nenek mereka dan dua orang pengurus rumah. Namun, terkadang anggota keluarga lainnya meningap di rumah tersebut. Rumah tersebut bergaya tradisional dengan taman belakang yang ditata sendiri oleh Nana. Rumah itu sudah berusia hampir tujuhpuluh tahun lebih yang merupakan peninggalan dari orangtua Nana. Bahkan hampir semua design interiornya juga masih mempertahankan nilai-nilai tradisional walaupun ada beberapa furniture dan perabot lainnya yang diganti lebih modern.

Yifan sendiri menghabiskan waktu enam tahun sebelum dia pindah ke Kanada bersama orangtuanya. Walaupun sudah cukup lama dan cukup banyak furniture yang diganti, tapi Yifan masih merasa familiar dengan rumah masa kecilnya. Yifan tersenyum tipis dan memasuki ruang tengah dimana ia melihat Nana-nya sedang meminum teh ditemani dengan seorang gadis muda. Yifan mengernyit. Rasanya dia mengenali gadis itu, tapi Yifan tidak bisa mengingatnya.

“Nana memanggilku?”

Seorang wanita berusia hampir tujuhpuluh tahun menoleh dan tersenyum pada Yifan. Wanita itu menaruh cangkir teh-nya dan memberi isyarat agar Yifan berjalan lebih dekat. Yifan menarik nafas dan berjalan lebih dekat. Dia juga masih memperhatikan gadis muda yang menatapnya. Wanita yang dipanggil Yifan dengan sebutan Nana itu menyuruh Yifan untuk duduk disebelah kirinya. Yifan tentu saja menurut, walaupun rasanya agak aneh Nana hampir tidak pernah mengajak siapapun ikut kedalam acara minum teh sore hari. Tapi sekarang Nana malah meminta Yifan untuk menemuinya, selain itu ada seorang gadis muda yang ikut minum teh bersama Nana-nya.

Rasanya dua tahun tidak bertemu dengan Nana-nya, tidak akan membuat banyak perubahan. Tapi Yifan salah.

“Kau mau minum teh juga, Yifan?”

Yifan menggeleng. “Nana tahu kalau teh bukan minumanku. Jadi, ada apa Nana memanggilku? Dan…” Yifan melirik kearah gadis yang diduduk di seberangnya. “Dia siapa?”

“Kau tidak mengenalinya? Dulu kalian sering-kali bermain bersama. Itu pun kalau Zitao tidak tiba-tiba datang dan merecoki,” kata Nana.

Yifan mengerutkan kening. Ia masih memperhatikan gadis yang kini tersenyum dan menaruh cangkir teh-nya diatas meja. Gadis itu kemudian menatapnya.

“Lama tidak bertemu Yifan,” ucap gadis itu.

Yifan terdiam untuk sejenak. Ia menatap kearah Nana-nya lalu kembali ke gadis itu. “Maaf, tapi aku benar-benar tidak ingat siapa dirimu.”

Gadis itu tertawa kecil. “Nana, sepertinya Fanfan sudah terlalu sibuk dengan kehidupan barunya. Bahkan denganku saja, dia tidak ingat.”

Fanfan?

Mata Yifan membulat. “Shi Liu? Kau Shi Liu? Karena satu-satunya yang memanggilku Fanfan hanya Zhang Shi Liu?”

“Akhirnya, kau mengenaliku lagi, Fanfan? Apa karena kau sudah mempunyai kekasih baru di Seoul hingga kau melupakan cinta pertama-mu?”

*****

Joonmyeon menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. Setelah beberapa jam di rumah sakit untuk menjalani beberapa pemeriksaan, akhirnya Joonmyeon bisa bertemu lagi dengan tempat tidurnya. Oh, setelah dari rumah sakit ia dan Sara bertemu dengan Junhyeok di restaurant dekat kantor ayahnya tersebut untuk makan siang bersama.

Kini, Joonmyeon hanya ingin tidur. Tapi Sara ingin dia tetap terjaga hingga waktu makan malam. Akhir-akhir ini Joonmyeon sering-kali menghabiskan waktunya untuk tidur siang. Bukan hal buruk, tapi tidur terlalu lama hanya akan memperparah sakit kepalanya.

Joonmyeon menghela nafas lalu mengeluarkan ponselnya. Dia mengernyit ketika melihat nama Kyungsoo muncul di layar ponselnya. Joonmyeon menggeser tombol hijau dan menekan speaker.

“Ya, Soo?” ucap Joonmyeon pelan.

“Suaramu terdengar aneh. Kau sakit, Joon?”

Joonmnyeon memejamkan matanya dan menarik nafas. “Hanya sakit kepala. Selebihnya aku baik-baik saja. Ada apa meneleponku?”

“Ah, kata Baekhyun besok kita harus pergi ke travel agent. Karena hari Rabu, dia ada urusan dengan siapalah. Kau bisa?”

Joonmyeon menggumam. “Jam berapa? Lalu kita bertemu dimana?”

“Oh? Kurasa jam sepuluh. Baekhyun akan membawa supir, jadi dia akan menjemputku lalu kami akan ke rumahmu. Sekalian meminta ijin orangtuamu.”

Joonmyeon tersenyum tipis. “Baiklah. Oh, aku senang ponselmu sudah berfungsi lagi.”

“Yeah, aku juga.”

Joonmyeon membuka matanya. “Ponsel baru?”

“Begitulah. Ponsel lama-ku benar-benar rusak. Baiklah, sampai jumpa besok Joon. Dan semoga cepat sembuh, rasanya tidak akan menyenangkan jika kau batal pergi karena sakit.”

Joonmyeon kembali tersenyum. “Aku tahu. Sampai besok, Soo.” Joonmyeon kemudian mematikan sambungan telepon dan menjatuhkan ponselnya di tempat tidur. Joonmyeon menarik nafas dan mengusap wajahnya.

“Joon, kau tidak tidur, bukan?!”

Terdengar seruan Sara dari arah luar. Joonmyeon sontak bangun dari tempat tidur. Tapi karena terburu-buru dia merasakan ruangannya seperti berputar. Joonmyeon dengan cepat kembali duduk diatas tempat tidur. Ia memegangi kepalanya.

“Joon…”

“Tidak Mom! Aku tidak tidur. Aku akan ganti baju lalu aku akan turun untuk membantu Mom membuat makan malam,” ucap Joonmyeon cepat sebelum Sara memasuki kamarnya.

“Baiklah. Jangan lupa gosok gigi, okay?”

Joonmyeon hanya menggumam. Ia menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Setelah semuanya kembali normal, Joonmyeon kembali berdiri dan menunggu beberapa detik. Setelah memastikan semua baik-baik saja, Joonmyeon lalu berjalan menuju kamar mandi.

Joonmyeon menatap refleksi dirinya di cermin. Wajahnya terlihat pucat. “Kau terlihat lebih buruk Kim Joonmyeon,” gumamnya.

Kemudian Joonmyeon teringat dengan pertanyaan Sara mengenai kematian Eommanya. Sara mungkin mendengarnya dari Junhyeok. Tapi kenapa Sara juga menanyakan hal itu pada Joonmyeon? Joonmyeon bukannya tidak ingat, tapi saat Eomma-nya meninggal Joonmyeon sedang berada di sekolah. Lalu ketika jam makan siang, Junhyeok datang menjemputnya dan mereka langsung ke rumah sakit.

Junhyeok sendiri hanya mengatakan kalau hari itu Eomma-nya akan menjalani operasi. Perihal operasi apa, Joonmyeon tidak pernah diberitahu dan dia juga tidak mempunyai keberanian untuk bertanya lebih lanjut. Junhyeok terlihat begitu terpukul. Begitu pula dengan Kakek dan Neneknya. Jadi, hingga hari ini Joonmyeon tidak pernah bertanya mengenai kematian Eomma-nya.

Namun karena Sara bertanya, rasa penasaran Joonmyeon kembali muncul. Kenapa Eomma-nya harus menjalani operasi pada hari itu? Karena sepengetahuan Joonmyeon, Eomma-nya tidak mempunyai penyakit yang begitu serius. Eomma-nya selalu terlihat sehat dan tersenyum dihadapannya. Tidak pernah sekalipun Eomma-nya menunjukkan ekspresi sakit. Kecuali…

Joonmyeon kini ingat, dua minggu sebelum kematian Eomma-nya, Joonmyeon melihat Eomma-nya mengeluarkan darah dari hidung. Tapi saat itu, Eomma-nya hanya beralasan kalau dia terlalu lelah.

Mungkinkah..?

*****

NOTE: I’m sorry, but this chapter for krisho part. Next chapter maybe…. ^^

Ah, terima kasih untuk views Lost Star. Padahal cerita pendek, gak karuan tapi banyak yang baca.. ^^

Advertisements

22 thoughts on “[SF] Scarface Part 20

  1. Akhirnya cerita ttg KrisHo :’)
    Suho sakit kayak alm eommanya ya? 😦
    Kok jadi takut ya kak T^T
    Wowowow~ Nana gak berencana jodohin Yifan sama nona Zhang itu kan?? 😮
    Gapapa yg kali ini full KrisHo. Kangen juga sama pasangan ini. Setelah chapter kemarin banyak WonKyu-nya. Hihihi~
    Ditunggu chapter selanjutnya deh kak 😉

  2. hallo kakak, maaf baru nyempetin review 😀 aku suka banget sama alur scarface. Ceritanya ringan tapi bikin penasaran tiap chapternya. Seneng banget sama chapter ini, terutama sama karakter joonmyeon disini 🙂 ditunggu chapter selanjutnya ya ka, both wonkyu and krisho 😉

  3. Ini full krisho dan saya suka. 😄
    Please jangan bilang junmyeon disini sakit kanker otak atau meningitis. Please, don’t.

    Bisakah krisho happy end disini? Oh my… dalam khidupan nyata mereka berpisah dan sekarang di ff juga mereka (akan) berpisah. Oh… no…😭

    Please don’t…

  4. jan buat suho meninggaal spt ibuny pliiiiiiiiiiiiiiiiis,,, ^^ n
    cukup di dunia nyata kris ninggalin suho n aku mohon bnget jan pisahin krisho lgi di dunia fiksi ,,,,,,,,,,,,,,,, krn aku dah terlanjur suka ma krisho couple setelah wonkyu ,,,,,,,,,,,,,;;;;;;;;;;;;;;;;;;;
    happy end lah pokoknya
    fighting ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
    jangan bosan buat part krisho

  5. Eonni byk kan juga chansoonya aku suka dgn couple ini soalnya mereka lucu
    Wonkyu juga harus di banyakan partnya eonni
    Dan semangat terus eonni

  6. Saya Krisho shipper setelah Wonkyu and Gtae so ga masalah mau krisho doang or ada wonkyunya juga hehehehe.. Kayanya seru juga ya nge-ship Chansoo, unyu2 gitu kali ya mereka 🙂

    Apa Yifan bakal dijodohin oleh Nana-nya? Apa Yifan bakal mencoba nerima kembali cinta pertamanya demi melupakan Joonie? Ahhh galau nih

    Jangan2 penyakit sakit kepala Joonie bukan sakit kepala biasa ya, terus ada hubungannya dengan penyakit ibunya. Apa tumor ya? Kasian Joonie

    Btw, makasih ya udah update

  7. aku bolak balik kesini dan ternyata belum ada lanjutan scarface. Tetep semangat kaka, I anticipate your story very much^^ Jangan lupa krishonya di next chap ka, aku penasaran banget sama nasib joonmyeon sungguh 😀 fighting!

  8. wah, krisho semua, tapi kok aku ngerasa makin lama chemistry antara mereka makin ilang? apa karena mereka makin jauh,? jadi jujur aja aku ngerasa feel sama pair ini di FF ini gk kayak awal, maaf,,,

  9. udah lama gk lanjut baca mereka aku lebih seneng panggil yifan kevin disini seperti awal part
    jangan jangan joon juga mengidap penyakit yang sama seperti eommanya hahhh kok mulai mikir yang enggak” sich akunya

  10. Keknya suho dpet penyakit turunan eommanya yah~
    Kasian suho 😞 mana yifan ketemu ama cinta pertamanya pula. .
    Aish, moga2 ajja penyakitnya suho bsa di smbuhin. . gak enak kalo dy jg sma kek eomma. . 😢😢

  11. Semoga jun gapapa semoga jun ga sakit yang aneh2 huhu 😭😭😭 yifan sama jun sama2 kangen tapi ga melakukan sesuatu buat ngilangin kangen nya huff dan jun selalu nanya ke diri sendiri kenapa yifan ga pernah ngeyakinin dia… Mungkin yifan takut akan kenyataan kalo emg dia ga bs ngedapetin jun? Jd ya…. Tapi happy end buat krisho plz:( krisho otp kesayangan setelah wonkyu ;;;

  12. Ada hubungan apa kematian eomma joonmyeon dg sara, knp sara sperti begitu tegang saat akan ke ruang pemeriksaan??
    Dan apa eomma joonmyeon meninggal krna penyakit, bila iya apa joonmyeon sakit krna punya penyakit sprt eommanya??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s