[MM] Super Human – 1st Story [4]

super human

Chapter Four

 

Andrew baru saja membaca laporan akhir mengenai perkembangan project nemesis yang dikerjakan oleh Marc. Sepertinya adik sepupunya itu berhasil menyelesaikannya tepat waktu. Mereka kini tinggal mempersiapkan untuk peluncurannya. Project nemesis sendiri adalah salah satu inovasi Marc untuk pengunaan energi nuklir.

Biasanya, penggunaan energi nuklir sangat dihindari terutama dalam pengunaan di kehidupan sehari-hari dan lebih sering digunakan pada industri yang lebih besar. Dalam proposalnya, Marc menekankan bahwa project nemesis adalah sebuah mesin khusus untuk meminimalkan resiko dari penggunaan nuklir seperti radiasi. Walaupun masih harus diuji terlebih dahulu, tapi Marc bisa memastikan bahwa radiasinya akan berhasil ditekan sebesar duapuluh persen.

“Sudah dapatkan hasil uji dari kementerian energi?” tanya Andrew sembari menaruh dokumen tersebut. Marc hanya mengangguk dengan masih sibuk dengan ponselnya sejak ia menaruh dokumen itu diatas meja Andrew.

Andrew menatapnya dengan serius. “Lalu bagaimana dengan dokumen dari bagian accounting? Mengenai budget akhir?”

“Akan dikirimkan besok atau lusa. Vicky akan mengurus dokumen itu sebelum diberikan padamu,” jawab Marc tanpa melepaskan fokusnya dari ponsel ditangannya.

Andrew menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Kemudian ia bangkit dan sedikit mencondongkan tubuhnya untuk meraih ponsel Marc. Sepupunya itu terkejut dan protes. Marc berusaha merebut kembali ponselnya, tapi Andrew menjauhkannya dari raihan tangan Marc.

“Fokus pada pekerjaanmu, Marcus Cho,” ucap Andrew tegas.

Marc memutar bola matanya. “Aku sedang fokus dengan pekerjaanku, Andrew Choi. Aku sedang menunggu balasan e-mail dari Emily. Kembalikan ponselku,” tukasnya.

Well, Andrew tentu saja tidak mudah percaya begitu saja dengan ucapan sepupunya. Jadi, ia memeriksa ponsel Marc dan malah menemukan percakapan Marc dengan Stephen, walaupun ia juga menemukan beberapa e-mail dari Emily. Andrew menatap jengkel pada Marc dan sepupunya itu hanya menyeringai. Andrew lalu melemparkan ponsel tersebut dan cukup beruntung Marc cepat tanggap untuk menangkapnya.

“Apa yang kau bicarakan dengan Prof. Jung? Mengenai gadis Berlin?” tanya Andrew.

Marc membalas pesan untuk Steve. “Bukan. Gadis itu belum menghubungiku lagi untuk bertemu dengan Steve. Tapi aku akan membawa orang lain untuk bertemu dengan Steve. Kurasa dia juga seorang super human?”

“Kau menemukan super human lainnya? Di mana?”

Marc menyeringai lagi. “Tidak akan kuberitahu sebelum aku benar-benar yakin. Sama halnya dengan gadis Berlin itu.”

Andrew mengernyit. Rasanya sangat aneh, Marc bertindak sangat protektif padanya. Karena biasanya yang terjadi adalah sebaliknya. Selama lebih dari lima tahun, Andrew yang selalu menjaga Marc dari segala masalah. Well, dan juga mencegah Marc membuat masalah besar karena kemampuannya itu. Tapi yang terjadi saat ini adalah Marc yang berusaha menjaga Andrew dari sebuah masalah.

“Kenapa kau bersikap protektif padaku, Marc? Kau tidak biasanya bersikap seperti ini padaku. Dan jujur saja, kau mulai berubah sejak semalam saat kau bertemu dengan Annabelle Kim. Sebenarnya apa yang terjadi semalam, eh?” tanya Andrew dengan curiga.

Marc menatap Andrew untuk beberapa detik sebelum akhirnya menghela nafas. Sepertinya Marc memang tidak bisa menutupi sesuatu dari Andrew, tapi tetap saja Marc tidak akan mudah bicara jujur pada sepupunya. Belum waktunya.

Marc lalu berdiri. “Seperti kataku, aku tidak akan memberitahu sebelum aku benar-benar yakin. Ayolah, kau lebih sering menjagaku selama ini. Jadi, biarkan aku melakukan yang sama untukmu. Lagipula aku hanya memiliki dirimu dan begitu pula sebaliknya –itu yang selalu kau katakan–, bukan? Kita harus saling menjaga. Dokumen lainnya akan segera kuberikan setelah semuanya siap.” Kemudian Marc berjalan keluar ruangan Andrew walaupun sepupunya itu memanggil namanya.

Marc menulikan telinganya dan menutup rapat pintu ruangan Andrew.

*****

Max menatap ruangan yang hampir keseluruhannya dari kaca bening yang tebal. Jadi, Max bisa melihat semua kegiatan semua orang di laboratorium tersebut. Entah kenapa Marc membawanya ke laboratorium tersebut, bahkan pemuda tersebut kini sedang bicara dengan salah seorang pria dengan jubah putihnya. Max menatap Marc dan orang dengan jubah putih itu. Keduanya terlihat sedang berbicara serius dan sesekali Marc terlihat kesal. Max menghela nafas dan kembali memperhatikan ruangan tersebut. Ruangannya terlihat sama seperti ruangan kerja di kantor mereka. Tidak berbeda jauh tapi ada beberapa furniture yang terlihat sangat sains. Max bahkan tidak penasaran untuk menyentuhnya. Tak lama, Marc dan orang dengan jubah putih itu kembali masuk kedalam ruangan.

Marc menatap Max dengan lekat. “Ayo, mari lakukan tes.”

“Tes?” tanya Max bingung.

Orang dengan jubah putih itu menghela nafas panjang. “Marc tidak mengatakan apapun padamu sebelum datang kesini?” Max menggeleng dan orang itu menatap Marc dengan jengkel. Orang itu bahkan terlihat ingin memukulnya. Tapi Marc hanya menyeringai.

“Kenapa kau tidak mengatakan apapun padanya?!” seru orang itu lagi.

Marc menghela nafas. “Karena aku juga belum mengetahuinya dengan pasti. Aku ingin kau yang menjelaskan padanya, Steve,” kemudian Marc memandang Max, “Ohya, dia ini adalah Professor Stephen Jung. Kau bisa memanggilnya Steve atau Prof. Jung.”

Max menatap Steve yang kini juga memandanginya. Steve menarik nafas panjang. “Ini mungkin terdengar sangat aneh, tapi Marc percaya bahwa kau mempunyai kemampuan spesial. Untuk itu kami akan melakukan beberapa tes padamu untuk memastikan apa kemampuanmu tersebut. Untuk penjelasan lebih lanjut, kita bicarakan setelah tes-nya selesai.”

Max melirik Marc yang masih menyeringai padanya, lalu kembali menatap Steve. Ia mengangguk kecil. “Baiklah, lakukan saja tes itu. Walaupun sebenarnya aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan sejak tadi.”

Steve tersenyum tipis. “Tipikal bawahan yang penurut. Itu bagus, tapi kau seharusnya lebih percaya diri. Baiklah, ikuti aku.”

Kemudian Steve berjalan keluar ruangan tersebut. Marc memberikan isyarat pada Max untuk segera mengikuti pria tersebut. Sedangkan Marc kembali duduk pada sofa dan mengeluarkan ponselnya. Ia menghela nafas panjang ketika gadis itu belum juga menghubunginya.

Marc mendesis jengkel. “Apa dia sedang bermain-main denganku?” gumamnya. Tapi kemudian dengan tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dan Marc terburu-buru membaca pesan tersebut. Ia cukup berharap kalau Annabelle yang mengirimkan pesan tersebut, tapi ia kembali harus menelan kekecewaan.

Marc, bisa datang ke butikku? Kau mendapatkan undangan pernikahan dari Jo. Kalau kau ada waktu, kau bisa datang untuk mengambilnya. Atau aku harus mengirimnya ke apartment Andrew?

Isabella

*****

David mendesah ketika melihat Anna yang kembali datang ke kantornya tanpa sebuah pemberitahuan. Tapi Anna sepertinya terlihat tidak begitu peduli dengan ekspresi ayahnya. Anna tahu bahwa tindakannya salah –terlebih ketika salah satu staff David yang menerima panggilan telepon darinya mengatakan bahwa David sedang sibuk dan akan bicara dengan Anna di rumah. Hanya saja Anna tidak bisa –lebih tepatnya tidak mau– menunggu lebih lama lagi. Waktunya tidak banyak lagi.

David lalu memberi isyarat pada Anna untuk duduk di sofa. Putrinya tersebut menurut dan David memberi instruksi pada staff sekretariat untuk menunda pertemuan dengan kementerian energi. Mereka akan membahas mengenai perijinan salah satu project yang sedang dikerjakan oleh Skyline. Andrew sudah menjelaskan secara singkat mengenai project itu saat pertemuan makan malam kemarin, tapi David tetap harus mendapatkan laporan lengkapnya.

David lalu duduk pada salah satu sofa dan menatap putrinya. “Jadi, apa alasan kau tetap nekat datang menemui Daddy, padahal kita bisa bicara di rumah. Jika yang ingin kau bicarakan adalah masalah pribadi,” David mulai bicara.

Anna menarik nafas dan menatap David. “Bantu aku untuk bertemu dengan Andrew Choi. Daddy mengenal pria itu, bukan?”

David mengernyit saat mendengar permintaan putrinya. David memang pernah menyebutkan nama Andrew Choi pada Anna, tapi ia sama sekali tidak menyangka putrinya memiliki ketertarikan dengan pewaris Choi Incoporate tersebut. David menghela nafas dan menyandarkan punggungnya pada sofa. Ia masih menatap putrinya dengan lekat –tanpa memutuskan kontak mata.

“Kenapa kau menjadi tertarik dengan Andrew Choi? Daddy hanya menyebut namanya beberapa-kali. Untuk apa kau ingin menemui pria tersebut?” tanya David dengan sabar. Ia tidak ingin membuat kesalahan hingga emosi Anna tidak stabil. Seperti yang terjadi ketika hari kedatangan putrinya beberapa hari lalu.

“Untuk saat ini aku tidak bisa mengatakan apapun pada Daddy, tapi ini ada sangkut-pautnya dengan masa depan hampir seluruh kehidupan manusia,” tutur Anna tenang.

David semakin tidak mengerti dengan ucapan putrinya. Apa hubungan Andrew dengan Anna dan masa depan kehidupan manusia? Bahkan jika ini ada kaitannya dengan kemampuan special mereka, David tidak mengerti kenapa Andrew Choi bisa terkait. Kecuali jika…

David terdiam sejenak. Ia tidak melepaskan kontak mata dengan Anna. David berusaha membaca ekspresi putrinya. Anna mungkin terlihat sangat tenang, tapi hubungan mereka sebagai orangtua dan anak adalah sesuatu yang tidak terbantahkan. David bisa tahu hampir semua jalan pikiran putrinya. Terlebih jika putrinya tiba-tiba datang dari Berlin mengatakan bahwa Mom-nya mengusirnya dan kini putrinya malah meminta bantuannya untuk bertemu dengan Andrew Choi –salah seorang pengusaha terkenal di seluruh Korea Selatan dengan semua kesibukannya. Jika masalah ini bukanlah hal yang mendesak, Anna tidak mungkin akan datang menemuinya.

David menarik nafas. “Apa kau mendapatkan penglihatan masa depan? Apa yang kau lihat? Jelaskan pada Daddy, sebelum Daddy memutuskan membantumu atau tidak untuk bertemu dengan Andrew Choi.”

“Daddy, please. Aku akan menjelaskannya nanti. Saat aku bertemu dengan Andrew Choi, Daddy bisa ikut mendengarkan apa yang akan kukatakan padanya. Kumohon, aku tidak mempunyai banyak waktu lagi,” mohon Anna.

David semakin dibuat tidak mengerti. Anna tidak pernah memohon padanya seperti ini. Bahkan ketika David dan Sarah akan bercerai, Anna bahkan tidak memohon pada mereka untuk memikirkan keputusan tersebut. Anna terlihat menerima semua keputusan orangtuanya yang menginginkan perpisahan. Heck, Anna juga tidak memohon pada Sarah untuk tetap tinggal di Seoul walaupun sangat terlihat jelas ia tidak ingin pergi ke Berlin lima tahun lalu. Semua perubahan sikap putri yang dikenalnya selama belasan tahun, lenyap dalam hitungan hari. Anna benar-benar berubah sejak lima tahun terakhir.

“Kenapa kau tidak mempunyai banyak waktu lagi, Anna? Mom tidak mengatakan apapun saat Daddy menghubunginya. Apa kau tidak diusir? Apa kau datang kesini karena kau ingin bertemu dengan Andrew Choi? Kenapa? Jelaskan alasannya pada Daddy!” David sekarang terdengar seperti memberi sebuah perintah layaknya seorang ayah pada anaknya.

“Dad…”

No, Annabelle Kim! Jelaskan pada Daddy atau kau harus mencari sendiri jalan untuk bertemu dengan Andrew Choi. Percayalah, itu akan sangat sulit sekali!”

Anna menghela nafas. Well, ia memang tahu bahkan meminta bantuan pada ayahnya sama sulitnya jika ia meminta bantuan pada Marcus Cho. Tapi paling tidak, David mempunyai kekuasaan lebih. Jadi, Anna tidak perlu menunggu waktu lama untuk bisa bertemu dengan Andrew Choi. Tapi yang tidak disukainya adalah jika David sudah meminta penjelasan seperti sekarang ini. Bukan hal yang sulit, tapi Anna tidak bisa menceritakan apa yang dilihatnya dalam penglihatan masa depan. Masa depan adalah sesuatu yang belum pasti. Setiap keputusan yang dibuat hari ini akan mempengaruhi apa yang terjadi besok atau dalam beberapa jam. Oleh karena itu, Anna tidak ingin menjelaskan sebelum apa yang dilihatnya adalah sesuatu yang pasti.

Anna menggigit pipi bagian dalamnya sebelum akhirnya ia kembali bicara. “Aku tidak bisa memastikan hal ini, karena masih belum terjadi. Tapi aku merasa bahwa akan ada sesuatu hal besar yang akan terjadi. Terutama mengenai perusahaan milik Andrew Choi. Untuk itu aku datang kesini untuk menemuinya. Mom awalnya melarangku, karena Mom tahu Daddy pasti akan marah jika aku datang tanpa alasan jelas. Untuk itu aku meminta Mom “mengusirku” agar aku mempunyai alasan untuk datang kesini,” Anna menarik nafas lagi sembari terus memperhatikan setiap ekspresi kecil dari wajah ayahnya. Anna sangat berhati-hati menjelaskan kenapa dia datang ke Seoul dan alasannya ingin menemui Andrew Choi.

“Dad, aku tidak tahu apa yang akan terjadi tapi aku harus menemui Andrew Choi sebelum semuanya terlambat. Aku tidak tahu berapa lama waktu yang kumiliki sebelum masa depan itu terjadi. So, please help me, Dad.

David masih memperhatikan putrinya. Ekspresinya terlihat begitu tenang, walaupun ia mulai merasa cemas. Jika apa yang dikatakan oleh Anna adalah benar, David mempunyai kecurigaan mengenai project baru Skyline yang menggunakan energi nuklir. Beberapa staff di kementerian energi sudah menyatakan kekhawatirkan mereka mengenai keamanan project milik Skyline. Tapi perusahaan tersebut memastikan bahwa keamanan adalah faktor utama yang mereka perhatikan dengan baik. Jika project tersebut berbahaya, sejak awal mereka tidak akan mengerjakannya. Skyline bahkan mengaku bahwa mereka mempersiapkannya selama hampir dua tahun lebih sebelum proses pembangunan dilakukan. Walaupun begitu, David tetap saja merasa cemas.

David menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. “Kau yakin dengan apa yang kau lihat? Tidak peduli apakah itu akan terjadi atau tidak nantinya, apa kau yakin bahwa ini ada kaitannya dengan perusahaan milik Andrew Choi tersebut?”

Anna mengangguk. Walaupun ia masih ragu, tapi Anna harus memastikannya terlebih dahulu sebelum terlambat. David mengalihkan pandangannya sejenak. Masa jabatannya akan segera berakhir dan ia menginginkan tidak ada masalah baru yang muncul atau tidak terselesaikan sebelum ia melepaskan jabatannya sebagai Perdana Menteri. Kemudian David bangkit dan berjalan menuju meja kerjanya.

Anna memperhatikan setiap gerak-gerik ayahnya. Hampir tujuhpuluh persen kalau David akan membantunya bertemu dengan Andrew. Paling tidak, Anna tidak harus bertemu dengan Marcus Cho yang sedikit menyebalkan itu. Jujur saja, Anna tidak mendapatkan kesan pertama yang baik dengan sepupu Andrew Choi tersebut. Dan Anna tidak ingin bertemu lagi dengan pria itu –walaupun sepertinya akan sulit.

Anna kini melihat David menekan tombol intercom.

“Hubungi Andrew Choi. Buat janji dengannya dan katakan bahwa aku ingin bertemu. Katakan juga bahwa ini mengenai sangat penting. Atur jadwal pertemuan dengannya secepatnya,” tutur David.

“Baik, Pak Perdana Menteri.”

*****

Max menatap skeptis pada dua orang dihadapannya. Mereka terlihat serius dan tidak terlihat bahwa mereka sedang berakting padanya. Tapi pemikiran Max lainnya seakan tidak semua ucapan kedua pria –yang kebetulan adalah atasannya di kantor– mengenai kemampuan spesial yang dimilikinya. Max menganggap bahwa dia adalah manusia normal, tapi kedua orang ini yang baru ditemuinya hari ini –oh, well Max tidak setiap hari bisa bertemu dengan Marc walaupun mereka satu kantor– malah mengatakan sebaliknya. Max bukanlah manusia normal. Max adalah seorang super human dengan kemampuan pressure power atau semacamnya.

Hell, Max telah menjalani medical check-up sebelum dia dipindahkan ke Skyline dari TransWorld dan dokter mengatakan bahwa dia tidak mempunyai penyakit apapun atau kemampuan yang dikatakan oleh pria bernama Steve tersebut. Max berpikir kalau mereka berdua –Marc dan Steve– yang harusnya menjalani tes kejiwaan. Tapi Max tidak akan berani mengatakan hal itu secara langsung. Max masih cukup waras untuk tidak membiarkan Marc memecatnya.

Max menarik nafas. “Okay, aku masih tidak mengerti dengan ucapan kalian. Tapi aku akan berusaha memahaminya. Jadi, aku sama seperti Marc yang seorang super human? Begitu pula dengan Andrew Choi dan Victoria Song?”

“Begitulah. Oh, apa perlu kukatakan juga mengenai berita besar itu, Steve?” sahut Marc. Max menatapnya dengan bingung tapi Steve mendesah. Ia kembali duduk di balik meja kerjanya dan kembali memperhatikan hasil tes Max.

“Jangan mengatakannya, Marc. Kau sendiri mengatakan kalau kita perlu bertemu dengannya dulu, bukan?” ujar Steve sembari membolak-balik kertas hasil tes tersebut. Marc mengangguk lalu menarik kursi dan duduk menghadap Max yang duduk di sofa.

Marc menyeringai pada Max. “Sayang sekali, aku tidak bisa mengatakannya. Tapi aku yakin, kau pasti tertarik setelah mendengarnya nanti.”

Kening Max berkerut setelah mendengarnya. Ia tidak tahu apa yang begitu menarik, hingga dia merasa tertarik setelah mendengar apa yang ingin dikatakan oleh Marc. Mengenai sesuatu yang sedang ditutupi oleh mereka. Tapi untuk hari ini, Max tidak ingin bertanya mengenai hal itu. Terlalu banyak hal yang terjadi padanya. Tadi pagi dirinya bangun sebagai Max Shim seorang manusia biasa, tapi sekarang dia adalah Max Shim, seorang super human. Entah bagaimana Max menjelaskan hal ini pada roommate-nya nanti.

So, posisimu di Skyline akan kupindahkan. Mungkin butuh waktu beberapa hari tapi bersabarlah dan bersikaplah seperti biasa. Ada beberapa hal yang harus kau perhatikan mulai sekarang. Pertama, jangan menyentuhku secara langsung. Akan kujelaskan alasannya nanti. Kedua, jangan mengatakan apapun pada Andrew atau Victoria –untuk saat ini. Aku sendiri yang akan menjelaskannya pada mereka. Ketiga, jangan terlalu menarik perhatian manusia normal lain dengan kemampuan barumu itu. Well, intinya jangan mengatakan pada siapapun mengenai kemampuanmu itu. Tidak semua orang, maksudku manusia normal bisa menerima dengan baik bahwa kita berbeda dengan mereka.” Marc lalu beralih memandang Steve dan kembali menyeringai, “Well, tidak semua orang seperti Stephen Jung.”

Steve melirik Marc dan mendesis jengkel. Marc kembali menatap Max, “Kau pasti menyangka kalau dia juga seorang super human, bukan? Ah, sayang sekali.”

Max hanya tersenyum tipis. Memang itulah pertanyaan terbesarnya. Setidaknya Max tidak perlu bertanya dan menyinggung perasaan sang professor muda tersebut. Selain itu, Max juga lega Marc menyuruhnya untuk menyembunyikan kemampuannya dari semua orang –salah satunya roommate-nya atau orangtuanya. Max tidak tahu bagaimana harus menjelaskan mengenai kemampuannya itu disaat ia juga baru mengetahuinya.

Steve menghela nafas panjang. “Sebaiknya kalian kembali ke kantor. Max, kau harus kembali ke sini lagi. Untuk waktunya, Marc yang akan memberitahu detailnya nanti. Kau perlu belajar untuk mengontrol dan menggunakan kemampuanmu itu. Setidaknya, laboratorium ini bisa sedikit berguna setelah dana besar yang dikeluarkan selama bertahun-tahun.”

“Ma-maksudnya?”

Marc bangkit dari kursi. “Jangan dipikirkan. Dia memang sering-kali sensitif seperti itu. Ayolah! Tapi sebelum kembali ke kantor, aku harus pergi ke suatu tempat dulu.”

*****

Andrew mengernyit saat mendengar laporan dari sekretarisnya mengenai permintaan Perdana Menteri Kim yang ingin bertemu dengannya. Saat perjamuan makan malam tempo hari, Perdana Menteri David Kim dan dirinya memang secara tidak langsung telah membuat janji untuk kembali bertemu di waktu santai. Tapi Andrew tidak menyangka akan secepat ini. Jadi, bisa saja alasan prioritas Perdana Menteri Kim ingin bertemu dengannya adalah mengenai project nemesis atau berkaitan dengan bisnis lainnya. Andrew membalik dokumen laporan yang tengah diperiksanya dan menghela nafas panjang. “Apa Pak Perdana Menteri mengatakan kenapa beliau ingin bertemu denganku?”

“Staff Jang tidak mengatakan alasan spesifiknya. Dia hanya mengatakan kalau Pak Perdana Menteri ingin bertemu dengan anda secepatnya dan pertemuan ini sangat penting,” tutur Renee, sang sekretaris Andrew.

Andrew menghela nafas panjang dan mengangkat kepalanya. “Baiklah, katakan pada Staff Jang bahwa aku bisa menemui Perdana Menteri. Untuk waktunya, aku bisa mengikuti jadwal Perdana Menteri.”

Renee tersenyum kecil setelah mencatat ucapan Andrew. “Ada hal lainnya, Direktur?”

“Tidak, kau boleh kembali bekerja. Jangan lupa memberitahuku waktu pertemuannya,” tutur Andrew dengan tersenyum. Renee mengangguk lalu berjalan keluar ruangan tersebut.

Setelah pintu kembali tertutup, Andrew menghela nafas dan menyimpan dokumen yang selesai dibacanya. Lalu ia beralih pada dokumen lainnya, hingga Andrew melihat sebuah undangan berwarna putih gading. Sepertinya Renee tidak sengaja menaruh undangan tersebut diantara tumpukan dokumen yang dibawanya tadi. Andrew mengambil undangan tersebut dan membukanya.

Andrew membaca baik-baik tiap baris isi undangan tersebut. Namun, ketika ia melihat nama pengantin wanitanya, Andrew terdiam sejenak. “Jo? Dia akan menikah?” gumamnya.

Andrew lalu membaca nama pengantin prianya. Andrew menaikkan satu alisnya. “Oh, pewaris Jung Motors? Keluarga Seo cukup pandai mencari calon menantu rupanya.” Kemudian Andrew menyimpan undangan tersebut pada salah satu laci meja kerjanya. Setidaknya untuk hari ini, tidak perlu ada yang melihat undangan tersebut. Kecuali jika undangan itu sudah mulai disebarkan dan Marc mendapatkan salah satunya.

*****

Marc menatap butik yang terletak di seberang jalan dimana ia menghentikan mobilnya. Max yang duduk disampingnya meliriknya lalu mengikuti arah pandangan mata Marc. Ia mengernyit bingung. Kenapa Marc harus memandangi sebuah butik gaun pengantin? Setahu Max tidak akan ada pernikahan yang terjadi di keluarga Choi. Kecuali jika Marc mempunyai seseorang yang dikenalnya yang akan segera menikah dan Marc akan menemui seseorang itu di butik tersebut. Atau ada hal lainnya yang Max tidak ingin pikirkan.

Marc menghela nafas panjang dan melepaskan seatbeltnya. Ia lalu menatap Max, “Tunggu disini. Aku tidak akan lama,” ucapnya yang kemudian memanjat keluar mobil.

Max memperhatikan Marc yang menyebrang dan berjalan menuju butik tersebut. Max menghela nafas panjang dan kembali mulai berasa bosan. Sebelumnya mereka juga sempat mampir ke salah satu pusat perbelanjaan di mana Marc menemui seorang gadis yang memberikannya sebuah undangan. Well, mungkin karena undangan itu Marc membawa mereka ke daerah Gangnam tersebut.

Max menarik nafas dan menyandarkan punggungnya dengan nyaman. “Semoga aku tidak akan terkejut jika aku mendengar kalau orang yang dikenal Marc dan akan menikah itu adalah mantan kekasihnya atau cinta pertamanya.”

Max tidak mengetahui kalau apa yang diucapkannya adalah suatu kebenaran.

*****

Marc memasuki butik Vannesa Lee –salah satu designer yang cukup terkenal di Asia dan Eropa– dan melihat seorang gadis cantik tengah berdiri dihadapan sebuah cermin besar dan menatap refleksi dirinya yang sedang memakai gaun putih gading yang menjuntai panjang. Marc tersenyum tipis melihat sosok gadis tersebut.

Gadis yang dikenal Marc hampir sembilan tahun itu akan segera menikah. Mereka tidak pernah bertemu lagi setelah Marc berkuliah. Walaupun sesekali mereka berhubungan dengan saling berkirim e-mail, tapi kontak komunikasi mereka terputus sejak lima tahun lalu. Dan kini Marc kembali bertemu dengan sahabatnya tersebut disaat gadis itu akan segera menikah.

Sebuah ironi, pikir Marc.

Marc memperhatikan gadis yang kini tengah memandangi refleksinya di cermin besar. Gaun pengantin itu terlihat semakin cantik dan sang gadis terlihat lebih mempesona dari terakhir kali Marc bertemunya –saat upacara kelulusan sekolah menengah. Marc menarik nafas panjang saat mendengarkan percakapan antara si gadis dengan salah seorang pegawai butik.

“Bagaimana, nona? Apa anda menyukainya?” tanya pegawai tersebut.

Gadis itu menghela nafas. Ekspresi wajahnya tidak memperlihatkan dia sedang mempersiapkan pernikahannya, tapi sebuah acara pemakaman. Marc masih terdiam memandangi gadis tersebut tanpa berani untuk berjalan lebih dekat.

“Bisa aku mencoba gaun lainnya? Aku tidak terlalu menyukai gaun ini.”

“Tapi menurutku sangat cantik.”

Gadis tersebut berbalik dan terdiam seketika. Ia menatap Marc yang kini berjalan mendekatinya. Marc tersenyum padanya dan memperhatikan gadis itu dengan lekat. Sang gadis tidak pernah berubah sejak lima tahun lalu. Tentu saja, Marc salah.

Gadis tersebut tersadar. “Tolong tinggalkan kami,” ucap gadis itu pada pegawai butik. Pegawai tersebut menggangguk dan meninggalkan mereka berdua.

“Kau terlihat cantik dengan gaun itu, Jo.”

Jo –Josephine Seo, gadis tersebut terdiam menghela nafas dalam. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Marc akan menemuinya disini, dengan situasi seperti ini. Selain itu, ini adalah pertemuan pertama mereka setelah lima tahun. Jo terlihat begitu canggung dihadapan Marc yang masih menatap kagum pada dirinya yang memakai gaun pengantin. “Kenapa kau bisa tahu aku di sini, Marc?”

Marc kembali tersenyum tipis mendengar pertanyaan Jo. Seorang gadis yang merupakan teman, sahabat, cinta pertamanya sekaligus mantan kekasihnya. Marc dan Jo bersekolah di SMA yang sama. Mereka tidak sengaja bertemu pertama-kali di perpustakaan dan dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan yang tidak terduga lainnya. Marc dan Jo berteman cukup baik, mereka sering menghabiskan waktu bersama untuk mengerjakan tugas atau sekedar melepas stress. Keduanya lalu menjalin hubungan saat awal kelas tiga. Kedua sangat bahagia, bahkan seluruh sekolah memberikan julukan royal couple pada Marc dan Jo karena mereka terlihat begitu serasi. Hanya saja, Marc dan Jo memutuskan berpisah dua bulan sebelum upacara kelulusan. Sejak itu, mereka tidak pernah bertemu lagi dan kini mereka kembali bertemu disaat yang tidak tepat. Saat Jo tengah melakukan fitting gaun pengantinnya. Menyedihkan bagi Marc.

“Aku ingat kalau kau ingin memakai gaun buatan Vanessa Lee, jika kau ingin menikah nantinya. Jadi, aku kesini.”

Jo tersentak mendengarnya. Marc masih mengingat hal itu.

“Selamat untuk pernikahanmu.”

Jo sedikit menunduk –menghindari kontak mata. “Jangan lakukan itu, Marc. Jangan ucapkan apapun padaku,” ucapnya berbisik.

Kening Marc sedikit mengernyit. “Kenapa? Aku hanya memberikan ucapan selamat,” ungkap Marc, yang tanpa Jo sadari mulai menghampirinya lebih dekat lagi.

Jo menggeleng. “Kumohon jangan ucapkan apapun padaku saat ini. Marc, tolonglah. Mengerti kondisiku saat ini.”

Marc kini sudah berada dihadapan Jo. Tidak ada lagi tatapan mata lembut, Marc menatapnya dengan tegas. Tapi ia masih tersenyum tulus pada Jo. Hubungan Marc dan Jo tidak berjalan seperti apa yang dipikirkan semua orang. Kondisi Marc dengan kemampuannya membuat dia harus sedikit berhati-hati jika sedang bersama Jo sejak awal pertemanan mereka. Marc harus berusaha mengontrol kemampuannya agar tidak menakuti atau melukai Jo. Sampai akhirnya, Marc sendiri yang memutuskan hubungan mereka demi kebaikan Jo.

Namun, Jo tidak pernah menerima alasan yang diberikan oleh Marc saat mereka berpisah. Mungkin hingga hari ini pun Jo tidak dapat mengerti alasan Marc untuk mereka berpisah. Marc menarik nafas panjang. Kemudian tangannya bergerak menyentuh pipi kanan Jo dan mengelusnya lembut.

“Aku merindukanmu,” bisik Marc.

Marc mungkin mempunyai kemampuan menyerap dan mengkopi kemampuan jika dia bersentuhan dengan super human, tapi bukan berarti Marc tidak bisa menyentuh orang lain yang tidak mempunyai kemampuan. Marc masih bisa melakukannya, walaupun ia sendiri takut untuk menyentuh orang lain. Bahkan ini adalah pertama-kalinya Marc menyentuh Jo.

Jo terkejut ketika Marc menyentuhnya. Pasalnya, dulu Marc tidak pernah menyentuhnya seperti ini bahkan ketika mereka masih berteman sekali pun. Karena terlalu terkejut, Jo sontak menepis tangan Marc dari wajahnya. Marc tidak begitu terkejut dengan reaksi Jo. Marc masih tersenyum padanya. Gadis itu menatap mata yang selalu memandangnya dengan teduh dan menenangkan. Tatapan Marc yang sangat disukai oleh Jo dan akan sangat dirindukan oleh gadis tersebut. Kemudian Jo menghela nafas berat. Tangannya perlahan menggenggam erat tangan Marc.

“Aku juga merindukanmu, Marc.”

*****

Andrew baru saja kembali ke kantor setelah makan siang bersama dengan team marketing. Biasanya dalam sebulan, Andrew akan melakukan perjamuan makan siang dengan beberapa team untuk sekedar membicarakan masalah pekerjaan dan semacamnya. Bukan sebuah pembicaraan serius seperti rapat formal, hanya saja Andrew lebih menyukai cara seperti ini untuk melihat bagaimana perkembangan project yang tengah dikerjakan. Dan sekarang Andrew bersiap untuk kembali bekerja dibalik meja.

“Direktur Choi.”

Andrew berbalik sebelum ia memasuki ruangannya. Ia melihat Victoria sedang menghampirinya. Dari ekspresi wajahnya sangat terlihat kalau wanita itu ingin membicarakan sesuatu dengannya. Mungkin mengenai pekerjaan.

“Ada apa?”

Victoria menghela nafas sejenak. “Ada yang ingin kubicarakan. Ini adalah hal penting,” ucap Victoria to the point.

Andrew menatap Victoria untuk beberapa saat sebelum akhirnya kembali bicara, “Kita bicarakan di dalam,” tutur Andrew sembari masuk kedalam ruangannya. Victoria mengikutinya. Victoria menutup pintu dengan rapat, sedangkan Andrew membuka jas dan menyampirkan jasnya ke kursi kerjanya.

“Jadi, hal penting apa yang ingin kaubicarakan? Apa kau kembali melihat sesuatu berkaitan dengan Marc?” tanya Andrew sembari duduk dan membuka salah satu map dokumen diantara tumpukan dokumen lainnya. Victoria menghela nafas lalu ia memilih duduk di salah satu kursi dihadapan meja kerja Andrew.

“Maaf, tapi Aku belum melihat apapun yang berkaitan dengan Marc. Hanya saja…” Victoria mengantungkan pernyataanya yang membuat Andrew meliriknya.

“Kenapa?”

Victoria menatap Andrew dengan lekat. “Aku melihat gadis Berlin itu lagi.”

Ucapan Victoria membuat Andrew menutup dokumen dihadapannya. Kini Andrew menatap Victoria dengan lekat, “Apa yang kau lihat?” tanyanya.

“Gadis itu, sebuah ledakan dan juga dirimu.”

Andrew terdiam untuk beberapa detik, sebelum akhirnya ia menarik nafas dan kembali bicara, “Ledakan? Ledakan nemesis maksudmu?”

Victoria mengangguk. “Aku tidak tahu. Aku melihat sebuah ledakan yang cukup besar. Selain itu, gadis itu ada bersamamu. Maka dari itu aku langsung menemuimu. Apa gadis itu… apa kalian sudah pernah bertemu?”

Andrew menggelengkan kepalanya lalu menyandarkan punggungnya disandaran kursi. “Aku belum pernah bertemu dengannya. Hanya Marc yang pernah bertemu dengan gadis itu. Dan katanya, mereka juga akan bertemu lagi. Mungkin hari ini, tapi aku tidak tahu kapan. Victoria, aku tahu kau mungkin khawatir terlebih mengenai ledakan itu. Tapi yang kau lihat adalah masa depan. Kau sendiri yang mengatakan kalau masa depan adalah sesuatu hal yang tidak pasti. Jadi, mengenai ledakan…. Itu adalah belum tentu terjadi.”

Victoria kembali menarik nafas panjang setelah mendengarkan ucapan Andrew. “Baiklah, aku memang mengatakan itu, tapi aku juga cemas. Masa depan memang bukanlah sesuatu yang pasti, tapi akan terjadi. Jadi, jika kalian bertemu, aku harap kau berhati-hati.”

Andrew tersenyum dan mengangguk. “Kau tahu, aku selalu berhati-hati. Kembalilah bekerja,” tutur Andrew yang kembali membuka dokumen pekerjaannya.

Victoria menghela nafas dan berdiri, “Baiklah, aku akan kembali bekerja.”

“Jangan lupa makan siang, Vicky. Kau terlihat tidak sehat.”

Victoria hanya mengiyakan sembari membuka pintu. Ternyata Marc sudah berada disana bersiap untuk mengetuk pintu. Marc terlihat terkejut, “Wow!! Apa kau melihatku datang?” seru Marc.

Victoria hanya tersenyum tipis lalu berlalu begitu saja. Marc menatapnya aneh, lalu ia memasuki ruangan Andrew. “Dia kenapa?” tanya Marc pada Andrew.

Andrew menatapnya beberapa detik, menghela nafas, lalu kembali menatap kearah dokumen dihadapannya. “Mungkin hanya lapar.” Tapi Andrew tidak bisa fokus dengan pekerjaannya, ucapan Victoria mengenai kilasan masa depan mengenai dirinya sedikit menganggu pikirannya. Andrew menghela nafas lalu ia kembali menutup dokumen itu lagi dan berfokus pada Marc.

“Apa kau ingin membicarakan sesuatu?”

“Untuk saat ini tidak ada. Kecuali ada satu hal.”

“Tentang si gadis Berlin itu?”

Marc mengernyit heran. Seakan mengatakan “apa yang akan selalu kubicarakan hanya mengenai gadis Berlin itu”. Marc menarik nafas dan menghembuskan perlahan. “Tidak bisakah kita berhenti membicarakan mengenai gadis itu untuk sehari saja?”

“Ada sesuatu yang terjadi lagi? Kau sepertinya selalu kesal jika membicarakan gadis itu. Tapi baiklah, jadi kau ingin membicarakan apa?” tanya Andrew penasaran.

“Kau tahu pegawai pindahan dari TransWorld –Max Shim ternyata adalah super human. Hari ini aku membawanya bertemu dengan Steve. Dia menjalani beberapa tes dan Steve menyimpulkan kalau kemampuannya adalah Pressure Power. Kemampuan yang bisa menahan kemampuan dari super human lain. Dengan kata lain, jika kita berdekatan dengan Max maka kita tidak bisa menggunakan kemampuan kita,” jelas Marc.

Andrew mengangguk mengerti. “Lalu apa Max juga tahu siapa kita?”

“Tentu saja. Aku juga mengatakan siapa saja yang aku ketahui sebagai super human. Termasuk dirimu, Andrew. Dan dia sudah kuberitahu untuk tidak memberitahu siapapun,” ujar Marc lagi.

“Bagus, jika kau sudah mengingatnya mengenai hal itu. Tapi kau yang harus mengontrolnya. Jika dia berbuat masalah, maka….”

“Tenang saja. Karena hal itu, aku menemuimu sekarang. Aku ingin memindahkan posisinya menjadi assistant-ku untuk project nemesis. Setidaknya aku bisa sedikit mengontrol-nya. Lagipula kemampuannya adalah penahan kemampuan super human lain. Hal terburuk yang bisa terjadi adalah dia akan menahan kemampuan kita jika ia mulai memberontak.”

Andrew menghela nafas melihat sikap santai Marc mengenai Max Shim. Walaupun terlihat tidak terlalu membahayakan, Max Shim masih terlalu awam untuk mengenal dunia super human yang sesungguhnya. “Terserah, lakukan apapun yang menurutmu baik. Tapi mulai saat ini dia akan menjadi tanggung jawabmu, Marc. Apapun yang terjadi padanya atau masalah apapun yang muncul karena, kaulah yang mengurusnya.”

*****

NOTE: Makin aneh ya ceritanya??

Music: MBLAQ – You

Advertisements

13 thoughts on “[MM] Super Human – 1st Story [4]

  1. Nah lho bakal ada apa2 nih ma Andrew, udah sih project nemesisnya dibatalin aja hehehehe
    Ah ternyata Marc udah pernah pacaran ya, kirain cowo kaya dia ga pernah mikirin soal pacaran. Penasaran kelanjutan antara Angela ma Marc, berlanjutkah nanti?
    Oh iya, Marc kamu jangan coba2 ganggu wanita yg mau nikah ya. Berbahaya!!!

  2. wah akan ada bahaya yg datang semiga aja semuanya baik2 aja.orang yg beenama jo itu mantan pacar kyu ya.berarti kyu patah hati donk
    lanjut chapter selanjutnya ya

  3. Entah apa yang akan terjadi nanti.Melihat apa yang yang dikatakan Anna dan Vicky rasanya deg-deg an sendiri.
    Semoga..apapun yang akan terjadi nanti akan dihadapi dengan baik.

    Fighting!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s