[MM] Super Human – 1st Story [3]

super human

Chapter Three

 

Marc memasuki sebuah gedung besar yang mirip seperti rumah sakit atau laboratorium. Marc langsung menuju lift dan membuka pintu lift dengan kartu ID yang dimilikinya lalu ia menekan tombol tujuh. Kurang dari sepuluh detik, Marc sudah sampai di lantai tujuh tersebut. Ia berjalan keluar lift dan memutari beberapa ruang di lantai tersebut untuk mencari seseorang –Prof. Jung, tapi Marc lebih sering memanggilnya Stephen atau Steve. Tapi Marc hanya menemukan beberapa anggota team peneliti lainnya yang tengah sibuk dengan pekerjaan mereka. Marc kemudian menuju sebuah ruangan yang terletak diujung koridor sebelah kanan, kemudian mengetuk sebuah pintu dengan label Prof. S. Jung pada bagian depannya.

“Masuk.”

Marc menyeringai mendengar suara tersebut lalu membuka pintu tersebut –masih menggunakan kartu ID miliknya. Namun, Marc mendesis jengkel ketika ia melihat orang yang ia cari malah sibuk dengan game-nya. Marc menutup pintu dan menghampiri meja sang professor.

Prof. Stephen Jung –Steve, seorang professor muda dengan spesialisasi rekayasa genetika yang bekerja untuk Andrew dalam melakukan penelitian mengenai kemampuan super yang dimiliki oleh manusia-manusia tertentu. Well, Steve baru bekerja bersama Andrew selama lima tahun. Dia menggantikan posisi ayahnya yang terlebih dahulu bekerja dengan Andrew untuk penelitian kemampuan super human. Steve melirik Marc sekilas lalu mem-pause game yang tengah dimainkannya.

Steve menatap Marc lalu tersenyum. “Ada yang bisa kubantu, Marc-sshi.”

“Bisa kau memberikan data-data mengenai kemampuan super human itu? Oh, Andrew mengatakan bahwa kau menyebutnya super human sekarang,” kata Marc.

Steve menyeringai. “Well, super human lebih baik daripada sebutan ayahku yang menyebutnya manusia spesial bukan? Tapi untuk apa kau meminta data-data mengenai kemampuan itu? Ada yang ingin kau cari?”

Marc menghela nafas lalu duduk di sofa. Ia memperhatikan Steve yang sepertinya kembali memainkan game-nya. “Kau main lagi?” Steve menatapnya dan menyeringai. Kemudian Steve mengeluarkan aplikasi game di komputernya dan berfokus pada Marc.

“Carikan saja data mengenai absorption power mimicry, apa kau mempunyai data mengenai kemampuan itu?” tanya Marc.

Steve mengernyit lalu terfokus pada komputernya. Marc menunggu hingga Steve kembali bicara, tapi ia bisa membaca dari ekspresi Steve sekarang ini. Well, dugaannya benar. Mereka belum mempunyai data mengenai kemampuan tersebut.

“Tidak ada?” tukas Marc.

Steve menatap Marc dan mengangguk. “Dari data yang kami punya, kemampuan absorption power mimicry belum ada di database kami. Kau tahu kemampuan itu darimana?”

“Victoria tidak mengatakan apapun padamu? Mengenai super human yang baru datang dari Berlin?”

Steve menggeleng.

Marc mendesis. “Sudah kuduga. Well, hari ini aku bertemu dengannya. Gadis itu datang dari Berlin dan dia memiliki kemampuan absorption power mimicry. Dia menjelaskan kalau kemampuannya adalah menyerap kemampuan atau energi orang lain hanya melalui sentuhan dan biasanya orang tersebut akan mati –atau itulah pengakuannya.”

“Benarkah? Itu kemampuan yang sangat hebat sekaligus menyeramkan. Tapi dimana kau bertemu dengan gadis itu? Tidak mungkin kalian bertemu di jalan atau secara tidak terduga, bukan?” sahut Steve.

“Kami bertemu di acara perjamuan makan malam Perdana Menteri. Kurasa kau akan lebih terkejut jika mengetahui siapa yang memiliki kemampuan tersebut.”

Steve terlihat semakin penasaran dengan cerita Marc. “Siapa?”

“Putri Perdana Menteri David Kim, Annabelle Kim. Gadis itu baru datang hari ini dan aku berbicara selama sepuluh menit dengannya sebelum aku datang kesini. Hanya saja, dia datang dengan sebuah tujuan yang menurutku aneh.”

Mata Steve membulat. Mulutnya terbuka tapi dengan cepat Steve tersadar dari keterkejutannya. “Putri Perdana Menteri? Itu baru benar-benar sebuah berita besar. Tapi apa maksudmu dengan tujuan? Dia tidak datang kesini begitu saja, maksudku hanya aksi spontan begitu?”

Marc menghela nafas lagi. “Dia ingin bertemu dengan Andrew. Dia tidak mengatakan apapun mengenai alasan kenapa ingin bertemu dengan Andrew. Tapi aku mengatakan padanya bahwa dia harus bicara dulu denganku. Dan….”

“Kau ingin aku juga bertemu dengannya?” tebak Steve.

Marc tersenyum. “Bingo!”

Steve bangkit dari kursinya kemudian duduk di sebelah Marc. Ia memperhatikan pria itu dengan lekat, sebelum kembali menghela nafas panjang. Steve menyandarkan punggungnya. “Kau tahu, ini bukan seperti dirimu.”

Marc mengernyit. “Kenapa?”

“Karena kau tertarik dengan urusan super human lain. Biasanya kau tidak pernah bersikap seperti ini. Bahkan dengan Chase saja, kau terlihat tidak menyukai anak itu. Lalu kenapa kau sepertinya sangat penasaran dengan Annabelle Kim?”

Marc memutar bola matanya. “Jika aku penasaran dengan gadis ini, apa itu berlebihan? Victoria mengatakan bahwa dia jauh lebih kuat dariku dan gadis itu ingin bertemu dengan Andrew. Lagipula kemampuannya itu menyeramkan! Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Andrew ketika mereka bertemu? Aku hanya ingin memastikan, Steve. Ayolah…”

“Baiklah, aku ikut. Tapi kita harus bertemu disini. Jika benar hanya dengan menyentuhnya, energi orang lain akan terserap habis lalu mati maka kita harus melakukan pencegahan. Setidaknya disini cukup aman.”

Marc tersenyum puas. “Okay, no problem.”

*****

“Jadi, bagaimana Tuan Cho?” tanya Aiden sembari melahap roti panggang-nya. Karena Angela dan Ayahnya pulang terlalu malam, Aiden sama sekali tidak bisa bertanya apa-apa mengenai pertemuan adiknya dengan Marcus Cho.

Seorang pria yang dikenal sangat dingin dan galak pada hampir semua gadis –well… praktisnya, Marcus Cho dingin pada semua orang– tetapi sang ayah malah ingin menjodohkan pemuda tersebut dengan adiknya tersebut. Angela mendesah pelan sembari menaruh garpu diatas piring. Ia melirik kearah Aiden yang seperti penasaran sekali dengan hasil pertemuan singkat tersebut.

“Seperti semua orang katakan mengenai Marcus Cho. Sama persis. Dia benar-benar dingin. Kami bahkan mengobrol kurang dari lima menit, karena tiba-tiba saja dia langsung pergi untuk mencari sepupunya. Dia bahkan pulang tanpa pamit pada siapapun,” ujar Angela yang kemudian meneguk sedikit jus jeruk-nya.

Aiden memang mengira kalau hal itu akan terjadi. Malah ia bertaruh kalau Marcus Cho itu akan mengabaikan adiknya, secantik apapun adik itu berdandan semalam. Marcus Cho memang terkenal sebagai pria yang dingin dan cuek, termasuk pada para wanita yang menggilai-nya karena wajah tampannya dan kekayaannya yang bisa menghidupi satu blok komplek perumahan selama puluhan tahun.

Tapi ia tidak merasa kesal karena adik kesayangannya itu diabaikan oleh pria yang dianggap paling sempurna kedua setelah sepupunya, Andrew Choi. Karena Angela sendiri juga tidak pernah menginginkan perjodohan tersebut. Menurut Angela, menikah atas dasar nama cinta adalah sebuah kebahagian yang akan terus bertahan selamanya. Tapi sepertinya prinsip itu sama sekali tidak berlaku dikalangan elite.

Menikah dianggap seperti sebuah merger besar antar dua perusahaan untuk membuat perusahaan masing-masing keluarga semakin besar. Dan menikah dengan keluarga Choi adalah sebuah kesempatan emas bagi keluarga manapun. Tapi sayangnya, target utama keluarga tersebut, Andrew tidak akan menikah sampai usianya tigapuluhlima tahun dan tentu saja keluarga Choi sudah menentukan sendiri siapa pasangan untuk Andrew. Dan kini target utama beralih pada Marcus Cho sebagai pewaris utama kedua setelah Andrew Choi. Selain itu, ayah Marcus Cho adalah pewaris dari Grace Hotel yang memiliki hampir limapuluh hotel di seluruh dunia. Jadi, jika Marcus tidak mendapatkan Choi Incoporate, maka dia masih bisa mendapatkan Grace Hotel. Itu masih sebuah tangkapan yang besar.

“Yah, kalau itu aku sudah memprediksinya. Lalu selama kurang dari lima menit itu, kalian bicara apa saja?” tanya Aiden lagi.

“Kami tidak bicara banyak. Dia lebih banyak menginterupsi ucapanku dengan pertanyaan aneh mengenai Annabelle Kim,” ujar Angela sembari meneruskan sarapannya.

Kening Aiden sedikit berkerut. “Annabelle? Maksudmu, Annabelle Kim putri kandung Paman David?” Angela melirik Aiden sekilas sembari mengangguk. Tapi kemudian Angela menatap kakaknya dengan serius.

“Aiden, sepertinya kau harus menghilangkan kata sapaan paman itu. Beliau adalah Perdana Menteri negara kita. Kau harus memanggilnya dengan lebih pantas,” ujar Angela.

Aiden mendengus pelan. “Walaupun beliau adalah seorang Perdana Menteri, tetap saja status di keluarga kita, beliau adalah seorang paman. Lagipula, beliau juga tidak marah,” tukas Aiden.

Angela hanya mengedikkan bahu, tanda ia tidak mau berdebat tentang masalah ini. “Memangnya dia mengenal Annabelle dimana? Kudengar kemarin Annabelle baru sampai dari Berlin?” lanjut Aiden.

“Aku tidak tahu. Sepertinya, dia hanya bertemu dengannya sekali dan itupun hanya sekilas. Ah, sudahlah, jangan membicarakannya lagi. Lagipula aku benar-benar tidak tertarik dengannya. Aku duluan ke kampus.”

Angela menyambar tas ranselnya dan bergegas untuk pergi. Sedangkan Aiden masih terdiam dimeja makan. Sepertinya ia sedang memikirkan alasan seorang Marcus Cho menanyakan tentang Annabelle Kim. Lagipula Annabelle baru kembali ke Korea setelah lima tahun. Darimana Marcus mengetahui tentang sepupu tiri-nya tersebut. Itu benar-benar aneh, bukan?

*****

Marc keluar dari kamar sembari menguap kecil. Ia mengacak rambutnya dan berjalan menuruni tangga. Marc sedikit memijat tengkuk lehernya sembari berjalan menuju meja makan. Ia melihat Andrew sudah duduk disalah satu kursi sembari meminum black coffee –sarapan pagi harinya. Heck, tidak adakah menu sarapan yang lebih baik daripada black coffee?

Andrew menatap Marc. “Kau kesiangan? Tidak biasanya,” ujar Andrew sembari menaruh cangkir kopinya dan mengambil surat kabar dan membacanya.

Marc mendesah pelan kemudian duduk dihadapan Andrew. “Semalam sebelum pergi menemui Steve, aku bertemu dengan gadis itu di pintu utama,” tukas Marc sembari mengambil selembar roti dan juga botol selai coklat.

Andrew meliriknya sekilas lalu kembali berfokus membaca surat kabar. “Lalu? Kalian berbicara?” tanya Andrew.

Marc menggeleng sembari mengoleskan selai coklat diatas rotinya. Ia kemudian menutup botol selai “Tidak, tapi kami mungkin akan bertemu hari ini. Kalau dia menghubungiku. Well, untuk membicarakan masalah kemampuannya itu. Aku akan mengajak Steve untuk bertemu dengan gadis Berlin itu,” Marc menaruh kembali botol selai itu dan memulai ritual sarapan paginya. Oh, dan ia kembali berbohong pada Andrew.

Andrew kali ini benar-benar menatap Marc dengan serius. Terkejut karena Marc sepertinya bertindak melebihi apa yang pernah dilakukannya terlebih jika berurusan dengan super human. Tapi ia juga tidak terlalu terkejut karena Marc sepertinya sudah merencanakan sesuatu –atau menutupi sesuatu darinya. Jadi, Andrew akan menunggu hingga sepupunya itu bicara langsung padanya. “Prof. Jung? Okay, kalian akan bertemu dimana?” tanya Andrew lagi.

“Lab mungkin. Steve menyarankan untuk bertemu disana, karena kemampuannya yang sedikit menyeramkan. Jadi, untuk berjaga-jaga,” tukas Marc sembari melirik surat kabar yang masih berada ditangan Andrew.

Andrew menghela nafas dan melipat kembali surat kabar tersebut. “Kalian bertemu jam berapa? Aku juga ingin bertemu dengan gadis itu.”

“Eh? Bertemu dengan gadis itu?”

Andrew mengangguk. “Jika dia super human dengan kemampuan yang hebat, setidaknya dia bisa membantu untuk menambah database kita, bukan? Kita membutuhkan banyak sumber daya, Marc. Gadis itu mungkin sangat berguna untuk penelitian kita.”

“Okay, mungkin dia cukup berguna. Tapi bukankah hari ini kau ada meeting penting? Kau bisa bertemu dengannya lain hari. Tidak perlu hari ini, bukan? Sepertinya gadis itu akan cukup lama tinggal di Seoul,” ujar Marc.

Andrew memperhatikan Marc dengan curiga. Walaupun ia bisa saja menunggu, tapi sikap Marc pagi ini benar-benar aneh. Apalagi menyangkut gadis Berlin itu. Selain itu, ini pertama-kalinya Marc tertarik dengan super human. Marc menghabiskan sarapannya dengan cepat. Ia tidak ingin berlama-lama mengobrol dengan Andrew mengenai masalah gadis Berlin itu.

“Selamat pagi. Tuan Choi, hari ini anda ada rapat dengan para pemegang saham untuk membicarakan masalah penjualan Vynuse yang menurun tiga bulan terakhir. Dan jam sepuluh nanti, ada pertemuan dengan perwakilan dari London. Berkaitan dengan project nemesis milik Tuan Cho,” tutur Victoria yang tiba-tiba datang dan langsung memasuki ruang makan. Andrew menatap Victoria dan tersenyum sedangkan Marc mendesah pelan.

“Vicky, Berhentilah membicarakan masalah pekerjaan. Ini masih pagi, tahu!”

Andrew melirik Marc. “Hey, kau baru saja mengingatkanku mengenai meeting-ku hari ini.” Tapi Marc mengabaikannya.

Victoria menyeringai pada Andrew kemudian menyerahkan sebuah dokumen pada Andrew. Victoria melirik Marc yang terlihat bad mood pagi ini. “Kau kenapa? Biasanya setiap aku datang, aku memang membicarakan masalah pekerjaan, bukan?” ujar Victoria. Andrew terkekeh sembari membaca dokumen tersebut.

“Biarkan saja. Moodnya sedang buruk karena aku kembali mengenalkannya dengan seorang gadis. Dan dia juga bersikap aneh setelah bertemu dengan gadis Berlin yang kau ramalkan itu,” sahut Andrew.

Victoria tersenyum senang, sembari duduk di sebelah Andrew. Ia menatap Marc dengan antusias. “Benarkah? Jadi, kau sudah bertemu dengannya? Bagaimana orangnya?” tanya Victoria. Marc menatapnya dengan jengkel.

“Sebenarnya siapa yang kau tanyakan, Victoria? Orang yang dijodohkan olehku atau super human yang kau bilang kekuatannya jauh lebih hebat dibandingkan diriku?”

Victoria tersenyum. “Keduanya. Tapi ceritakan tentang gadis yang dijodohkan denganmu dulu.”

Marc mendengus jengkel. Kemudian ia bangkit. “Berhenti membicarakan tentang perjodohan, okay!” seru Marc dengan kelas lalu menaiki tangga dan menuju kamarnya. Ia harus mandi sebelum pergi ke kantor, bukan?

Victoria menghela nafas panjang. “Tuan Cho, hari ini anda ada rapat dengan team project nemesis!” ucapnya setengah berteriak agar Marc bisa mendengar suaranya. Tapi sebagai balasannya, hanya terdengar suara geraman kesal dari lantai dua. Andrew hanya terkekeh sembari meneruskan sarapannya.

“Kau mau ikut sarapan, Vicky?” ajak Andrew sembari menggodanya dengan memanggilnya Vicky, sebagai catatan hanya Marc yang memanggil Victoria dengan sebutan itu. Victoria menggeleng dan mendesah pelan sembari duduk kembali. Ia paling tidak suka kalau Andrew malah menggodanya dengan memanggilnya “Vicky”.

Andrew tertawa kecil. Tapi detik berikutnya, Andrew teringat mengenai gadis Berlin yang mempunyai kemampuan lebih hebat dari kemampuan Marc. “Vic, apa yang kau ketahui lagi mengenai gadis itu? Apa kau melihat kilasan lainnya mengenai gadis itu?” tanya Andrew sembari memasukkan potongan kecil roti kedalam mulutnya dan mengunyahnya perlahan.

Victoria berusaha mengingat apa dia pernah mendapatkan penglihatan masa depan tentang pembunuhan tersebut. Tapi hasilnya nihil, sejauh ini penglihatan masa depan yang ia lihat hanya berkaitan dengan Andrew dan Marc dan beberapa kejadian tertentu secara random. Victoria lalu menggeleng. “Tidak ada kilasan spesifik apapun mengenai gadis itu. Tapi kemarin aku sempat melihat beberapa kejadian random, dan lebih sering berhubungan dengan Marc,” ujar Victoria.

Kening Andrew sedikit berkerut. “Marc? Memangnya dia kenapa?” tanya Andrew lagi.

Victoria menarik nafas berat. Ia merasa ragu untuk mengatakan kilasan yang ia lihat kemarin dan pagi ini. Tapi karena sudah kepalang mengatakannya pada Andrew, maka ia harus menjelaskannya. Andrew menatap Victoria dengan lekat. Ia menunggu penjelasan Victoria.

“Hanya beberapa hal random. Tentang kecelakaan, tentang si gadis Berlin yang kau sebut tadi. Dan tentang… Nemesis.” ucap Victoria agak ragu.

Ini pertama kalinya Victoria merasa ragu dengan kilasan masa depan yang ia dapatkan. Karena semuanya berlangsung secara random dan ia tidak tahu apa arti masing-masing dari setiap kilasan penglihatan masa depannya. Dan apakah itu semua saling berkaitan, Victoria sama sekali tidak tahu.

“Kecelakaan? Nemesis? Apa Marc akan mengalami kecelakaan karena project nemesis?”

Victoria menggeleng lesu. “Entahlah. Semuanya terlihat kabur. Aku bahkan tidak yakin dengan project nemesis itu. Walaupun project nemesis itu terlihat sama seperti project lainnya yang dikerjakan oleh Marc, tapi entah kenapa ini terlalu berbahaya. Terlebih ini menggunakan energi nuklir,” ujar Victoria.

“Tapi kau tahu kalau semua teknologi yang kita gunakan sudah terbukti keamanannya. Walaupun ini memang berbahaya, tapi Marc pasti sudah memikirkan segala resikonya sebelum ia mengajukan proposal project nemesis,” tutur Andrew.

Victoria menarik nafas pelan. Kemudian ia mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan Andrew tadi. Skyline memang hanya sebagian kecil dari cabang perusahaan SkyWorld, tapi walaupun begitu Skyline. sangat memperhatikan segala sesuatu yang berkaitan tentang operasional perusahaan. Segala teknologi yang dipakai dijamin keamanannya.

“Semoga saja kecelakaan itu tidak ada kaitannya dengan Marc ataupun nemesis,” gumam Victoria.

*****

Anna memperhatikan kartu nama milik Marc dengan lekat. Seharusnya hari ini Anna menghubungi Marc untuk membicarakan pertemuan mereka sebelum Anna bertemu dengan Andrew. Tapi entah kenapa, Anna merasa ragu. Marc memang tidak terlihat seperti orang jahat, tapi Anna merasa ada sesuatu yang akan terjadi nanti. Entah itu hal baik atau hal buruk.

Anna tidak bisa memastikannya dengan jelas. Anna menghela nafas panjang dan menyambar ponselnya. Sekali lagi, Anna melirik kartu nama Marc. “Haruskah aku menghubunginya sekarang?” gumamnya pelan.

Saat ini baru pukul delapan pagi. Ayahnya sudah pergi untuk bekerja menyelesaikan beberapa hal sebelum masa jabatannya habis dalam beberapa bulan lagi, Nikky juga sudah pergi ke sekolah dengan cemberut karena dia dan Anna tidak bisa berinteraksi layaknya saudara. Well, Anna lebih sering berada di kamar dan Bibi Mary melarang Nikky untuk bertingkah layaknya anak kecil padahal dia sudah hampir tujuhbelas tahun. Oh, Bibi Mary sepertinya pagi ini sudah pergi untuk melakukan kegiatan sosial. Jadi, hanya ada Anna di rumah besar tersebut.

Anna kembali menghela nafas panjang dan menaruh kembali ponsel serta kartu nama tersebut diatas coffee table. Ia memutuskan untuk menunda menghubungi Marc. Kemudian Anna memilih untuk berkeliling rumah tersebut. David mengatakan bahwa mereka akan pindah ke rumah baru setelah masa jabatannya selesai dan menurut Anna sangat disayangkan.

Rumah ini sangat bagus, setidaknya David bisa membelinya karena rumah ini bukanlah milik negara. Tapi sekali lagi, itu adalah keputusan David sendiri. Anna kini tiba di taman dimana dia bertemu dengan Marcus Cho semalam. Bukan pertemuan yang dia harapkan tapi setidaknya satu langkah untuk bertemu dengan Andrew.

Andrew Choi. David sepertinya pernah menyebutkan nama itu semalam setelah acara makan malam selesai dan kelihatannya David cukup dekat dengan Andrew Choi. Anna bisa meminta bantuan David untuk bertemu Andrew tanpa harus melalui Marc. Well, itu bisa saja dilakukan oleh Anna, bukan? Anna tersenyum lalu bergegas kembali masuk kedalam rumah. Ia harus menelepon David.

*****

Marc telah menyiapkan dokumen terakhir untuk meeting hari ini mengenai kelanjutan project nemesis. Ia menghela nafas panjang lalu mengeluarkan ponsel dari saku dalam jasnya. Well, ia mungkin sangat jarang untuk memakai setelan jas jika di kantor, tapi Andrew memaksa Marc untuk berpakaian dengan pantas untuk waktu-waktu tertentu seperti meeting dan bertemu klien. Mereka harus menjaga integritas perusahaan, atau itulah yang dikatakan Andrew. Tapi Marc sama sekali tidak tahu dimana letak hubungan antara menjaga integritas perusahaan dengan memakai jas.

Marc menarik nafas panjang saat melihat tidak ada notifikasi apapun. Gadis Berlin itu belum menghubunginya padahal ini sudah pukul setengah sebelas dan Marc harus mematikan ponsel selama meeting. Bagaimana jika gadis itu menghubunginya ketika ia sedang meeting? Lebih buruk lagi, Marc tidak meminta nomor ponsel gadis itu. Tapi jika dipikir lagi, gadis itu baru datang dari Berlin, jadi mungkin dia belum sempat membeli ponsel dengan nomor Korea.

“Apa aku harus menunggu sampai dia menghubungiku?” gumam Marc.

Heck, Marc bahkan sama sekali tidak tahu kalau dia bisa melakukan hal itu. Selama ini, Marc hampir tidak pernah menunggu. Apalagi menunggu seorang gadis untuk menghubunginya. Marc mengerang kesal. “Seharusnya aku tidak memberikan nomorku padanya.”

Marc memasukkan kembali ponselnya lalu membawa map dokumen project nemesis itu keluar ruangannya. Ia harus segera menuju ruang meeting. Well, Andrew mungkin tidak ikut serta dalam meeting hari ini, tapi Marc tidak ingin mengambil resiko jika sepupunya itu sudah berada di ruang meeting saat ini.

*****

Seorang pria bertubuh tinggi dan tegap berlari sepanjang lorong. Ditangannya terdapat tumpukan dokumen. Sesekali ia berusaha tetap berlari sembari membenarkan posisi kacamatanya. Terlihat sangat menyusahkan baginya dan sepertinya tidak ada pegawai lain yang turun tangan untuk membantunya. Pria tersebut hendak berbelok ketika secara tidak sengaja ia menabrak seseorang dan membuat semua berkas-berkas ditangannya jatuh berantakan.

Pria itu hanya terhuyung kebelakang sedangkan orang yang dikira ditabrak olehnya malah jatuh terduduk. Pria tersebut terkejut ketika melihat orang yang sedang meringis kesakitan karena ditabrak olehnya adalah Marcus Cho.

Pria itu terlihat ketakutan. “Oh… Direktur Marcus, maaf. Saya tidak sengaja,” ucapnya itu sembari membungkuk lalu berjongkok untuk membereskan map-map yang berserakan dilantai.

Marc melirik pria yang terlihat seusia dengannya itu sembari menahan rasa sakit. Sepertinya mereka tidak bertabrakan terlalu keras atau malah sama sekali tidak bersentuhan, tapi kenapa rasanya ada sebuah benturan keras. Selain itu, pria tersebut masih berdiri tegak tapi Marc malah terjatuh duduk.

Marc menekan dadanya. “Tidak apa-apa, kurasa ini juga kesalahanku,” ujar Marc yang kemudian merapikan dokumen miliknya sendiri.

Marc merapikan dokumennya dan sekilas ia melirik ID si pemuda tersebut. Marc menatap wajah pemuda tersebut dengan lekat. “Kau si anak baru?” tanya Marc. Sontak pria tersebut mendongak menatap Marc sebentar. Kemudian ia mengangguk sembari masih membereskan semua dokumen tersebut.

Setelah semuanya beres, mereka berdua berdiri. Pria tersebut sedikit menunduk, sedikit merasa tidak nyaman dihadapan Marc karena dia telah berbuat kesalahan. Sedangkan Marc memperhatikan pria itu dengan serius. “Kau salah satu dari team project memesis ‘kan?” tanya Marc lagi.

Pria tersebut hanya mengangguk kecil. “Y-ya. Namaku Max Shim. Aku baru dipindahkan dari TransWorld lima bulan lalu. Project nemesis adalah team pertamaku sejak bergabung di Skyline,” ucap pria yang bernama Max.

TransWorld –salah satu cabang perusahaan SkyWorld lainnya yang lebih banyak menangani bidang ritel properti. Marc masih menatap Max dengan lekat. Dan itu membuat Max sedikit kikuk dengan perlakuan atasannya. Walaupun sebenarnya usia mereka sama, tapi kedudukan yang membuat Max harus bersikap sopan pada Marc.

Marc menarik nafas panjang. Ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan pria dihadapannya ini. Sebuah sensasi yang sama ketika Marc bertemu dengan Anna kemarin. Selain itu, ketika mereka hampir bertabrakan, Marc merasakan sebuah tekanan yang besar disekitar Max. Apakah mungkin kalau Max juga seorang super human, pikir Marc. Tapi Marc tidak bisa mengambil kesimpulan itu sendiri. Jika Max adalah seorang super human, sepertinya dia sama sekali tidak mengetahui kemampuan yang dimiliki olehnya.

“Maaf, Marcus, bukankah kita harus meeting? Ini sudah waktunya.”

Marc tersadar. “Ah, benar. Aku ada sesuatu yang ingin kuurus. Kau duluan saja ke ruang meeting. Katakan pada mereka untuk menunggu sepuluh menit lagi.”

Max mengangguk lalu berjalan meninggalkan Marc. Pria itu sesekali menoleh kebelakang menatap Marc. Setelah Max berbelok di koridor lainnya, Marc dengan segera menghubungi Steve. Well, jika Anna tidak menghubunginya hari ini, Marc mungkin bisa mengajak Max untuk bertemu dengan Steve, sekedar untuk memastikan asumsinya.

“Halo, Steve? Bisa kita ubah tujuan pertemuan untuk hari ini. Ada seseorang lainnya yang ingin kukenalkan padamu.

*****

 NOTE: Kritik dan saran diterima dengan senang hati.. ^^

Music: EXO – Black Pearl

Advertisements

12 thoughts on “[MM] Super Human – 1st Story [3]

  1. wah makin penasaran nih, tambah lagi super human yg muncul 🙂
    Kilasan yg diliat oleh victoria soal kecelakaan, nemesis, dan anna bikin galau nih. Mudah2an aja tidak terjadi apa2 sama Marc.
    Menarik banget ngeliat perjodohan antara Angela and Marc, sepertinya mereka cocok kalo ngeliat dari sifatnya. Seru aja dua kepribadian yang sangat berbeda disatuin hehehehe

    Diera, saya agak sedikit terganggu sama backgroudnya yg gambar gedung2 gitu, soalnya tulisannya jadi tidak terlalu kebaca. Apa karena saya baca di hp ya 🙂

  2. kalo marc udah bersentuhan sama max bukankah marc juga bisa punya kekuatan sama seperti max.atau mungkin tidak.jadi binggung
    lanjut ya

  3. Kira-kira apa yang akan terjadi???
    Vicky itu dengan banget sama Marcus dan andrew ya,
    Masih blm tau jelas knpa Annabel bgtu ingin bertemu dengn Andrew.
    Semoga projec’y Markus berjalan lancar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s