[MM] Super Human – 1st Story [2]

super human

Chapter Two

 

Anna memperhatikan rumah ayahnya yang begitu besar. Rumah ini bukan rumah yang sama seperti lima tahun lalu ketika ia pergi bersama ibunya. Setelah terpilih menjadi Perdana Menteri empat tahun lalu, ayahnya dengan keluarga barunya pindah ke rumah besar ini. Rumah mewah dengan semua pengawalnya. Kehidupan David terlihat normal walaupun dengan kemampuan flight-nya. David sepertinya bisa mengontrol kemampuannya dengan sangat baik.

David tersenyum pada Anna yang memperhatikan rumahnya. “Lebih besar dari rumah kita sebelumnya, ya?”

Anna mengangguk. “Sepertinya kehidupan Daddy jauh lebih baik setelah menikah dengan Bibi Mary. Itu hal baik.”

David menghela nafas lalu berjalan masuk. Anna mengikutinya. Rumah besar tersebut ternyata jauh lebih mewah dibagian interiornya dan sepertinya selera seni ayahnya tidak berubah walaupun sudah mempunyai keluarga baru. Bahkan sepertinya ada beberapa lukisan dulu pernah dibeli oleh ayahnya dan juga beberapa ukiran lainnya. Anna menarik nafas lalu mengikuti ayahnya hingga ke ruang tengah. Disana berdiri seorang wanita hampir seusia ibunya, tersenyum dengan cantik. Anna merapatkan bibirnya dan mencoba untuk tersenyum.

“Anna, ayo beri salam,” tutur David.

Anna lalu membungkuk. “Halo, Bibi Mary. Maaf, aku datang tanpa pemberitahuan sebelumnya.”

Mary tersenyum dan hendak memeluk Anna. Namun, David menahan lengan sang istri dengan cepat sebelum menyentuh Anna. Mary mengernyit dengan sikap suaminya. David tersenyum gugup. “Anna tidak suka dipeluk, bahkan aku saja tidak pernah memeluknya setelah dia berusia lima tahun,” ujar David.

Mary tersenyum maklum. “Ah, begitu. Selamat datang, Anna. Kuharap kau sering berkunjung, walaupun tanpa pemberitahuan. Aku dan Nikky sangat senang,” tutur Mary.

Anna mengangguk dengan canggung. David menghela nafas lega. “Baiklah, kau naiklah ke lantai dua. Dari tangga belok ke kanan, kamarmu pintu kedua. Bersebelahan dengan kamar Nikky. Dad akan menyuruh orang membawakan kopermu nanti.”

Anna kembali mengangguk dan menatap Mary. “Aku ke kamar dulu. Permisi.”

Mary tersenyum dan membiarkan Anna menaiki anak tangga. Mary dan David masih memperhatikan gadis itu sampai terdengar pintu tertutup dengan sayup. Mary menghela nafas dan menatap suaminya. “Dia terlihat kurus dari lima tahun lalu.”

“Benarkah? Dia terlihat baik-baik saja. Tapi aku akan memperhatikannya, aku juga minta tolong padamu,” ujar David.

Mary mengangguk.

“Ah, lalu beritahu Nikky mengenai Anna. Gadis itu tidak suka orang lain menyentuhnya. Aku tidak tahu alasannya, tapi sepertinya itu membuatnya tidak nyaman. Aku akan menghubungi Sara untuk mengetahui bagaimana kondisi Anna selama di Berlin. Selama dia disini, tolong buat dia nyaman,” jelas David.

Mary menatap David dengan penasaran. Tapi dia tidak ingin bertanya lebih jauh sebelum David yang mengatakannya sendiri padanya. Mary menghela nafas lalu mengangguk. “Baiklah, akan kukatakan ini pada Nikky. Walaupun kau tahu bagaimana kelakuan anak itu.”

David tersenyum. “Aku tahu. Bersiaplah untuk acara makan malam hari ini.”

*****

Marc mendesah pelan. Ia menatap kearah tamu-tamu yang hadir dalam acara makan malam di kediaman Perdana Menteri. Ditangannya, ia memegang gelas wine. Sejak Marc dan Andrew datang, Marc dengan sengaja menyendiri di balkon. Lebih baik menghindari daripada ia harus seperti Andrew yang saat ini sedang beramah-tamah dengan tamu-tamu lainnya. Marc kemudian berbalik dan menatap kearah taman rumah yang diterangi dengan cahaya lampu temaram. Marc meneguk sedikit wine-nya. Ia lalu menatap kearah langit yang sedikit mendung.

Marc kembali mendesah setelah ia menyesap wine-nya. Lalu Marc merasa bahwa dirinya tengah diamati oleh seseorang. Ia menoleh kearah bagian dalam rumah besar tersebut. Semua tamu tampak mengobrol, bahkan sepertinya tidak menyadari keberadaannya di balkon. Marc menarik nafas.

Namun, sensasi aneh itu kembali muncul. Marc lalu berpikir jika bukan dari dalam rumah. Apakah ada orang lain yang memperhatikannya dari luar? Marc lalu berjalan menuju anak tangga untuk menuruni balkon tersebut. Balkon rumah Perdana Menteri langsung terhubung dengan taman yang tidak begitu besar tapi cukup banyak tanaman. Marc pernah mendengar bahwa Perdana Menteri Kim menyukai aktivitas berkebun, jadi ia menduga bahwa taman ini dirawat oleh Perdana Menteri sendiri berserta istrinya. Marc berjalan di jalan batu taman. Setidaknya, disini jauh lebih baik ketimbang didalam yang penuh sesak dengan orang-orang yang hampir tidak dikenal oleh Marc.

Marc menarik nafas, tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat seorang gadis muda yang sedang memperhatikannya. Gadis itu berdiri tidak jauh dari sebuah pohon dekat kolam ikan. Marc mengernyit dan kembali berjalan menghampiri gadis tersebut. Marc hendak membuka mulutnya untuk bicara, tapi gadis itu mendahuluinya.

“Apa kau Andrew Choi?”

Kening Marc semakin berkerut. “Andrew? Oh, dia sepupuku. Aku…” Marc terdiam sejenak, lalu kembali bicara, “kau siapa? Kenapa bertanya mengenai Andrew.”

Gadis itu menarik nafas lalu mendekati Marc. Tapi ia berhenti ketika jarak mereka hanya dua meter. “Namaku Annabelle Kim. Kemampuanku adalah absorption power mimicry.”

Mata Marc membulat ketika gadis itu memberitahu kemampuannya. Bahkan Marc sepertinya tidak bernafas saat ini. Gelas wine jatuh dari tangannya karena Marc terlihat gemetaran. Anna melihat gelas itu. Cukup beruntung gelas itu tidak pecah. “Aku datang dari Berlin untuk menemui Andrew Choi. Bisa kau membantuku untuk bertemu dengannya?”

Marc berusaha bicara, tapi tidak ada suara yang keluar. Kemudian ia berdeham beberapa kali dan berusaha menyadarkan dirinya. Gadis dihadapannya berasal dari Berlin dan jika penglihatan Victoria benar, maka gadis itu mempunyai kemampuan yang lebih hebat dari kemampuan Marc. Hanya saja, Marc tidak tahu kemampuan absorption power mimicry itu seperti apa. Dari hasil penelitian Andrew, kemampuan absorption power mimicry itu sama sekali belum ada.

“Aku? Namaku Marcus Cho. Kemampuanku adalah power mimicry. Aku bisa saja membantumu untuk menemui Andrew, tapi untuk apa kau menemuinya?” tanya Marc setelah ia menemukan suaranya.

“Aku tahu kalau Andrew melakukan penelitian mengenai kemampuan super manusia. Aku datang dari Berlin untuk meminta bantuannya. Hanya itu yang bisa kukatakan padamu. Jadi, bisakah kau membantuku, Marcus?” ucap Anna.

Marc hendak membuka mulutnya lagi, tapi ia mendengar Andrew memanggilnya dari arah balkon. Sontak Marc menoleh. “Marcus Cho! Apa yang kau lakukan disana? Cepat kesini!” seru Andrew.

“Iya, aku datang!” serunya. Kemudian Marc berbalik tapi ia tidak melihat gadis itu lagi. “Heh? Kenapa dia pergi begitu saja?”

“Marc!”

Marc mendesis jengkel lalu kembali menuju balkon. Ia bahkan melupakan gelas wine yang dijatuhkannya. Tapi Marc tidak mempunyai waktu untuk mengurusi gelas. Andrew menatap Marc dengan penasaran.

“Apa yang kau lakukan disana?” tanya Andrew.

Marc menggeleng. “Tidak ada. Sepertinya aku melihat seseorang, tapi mungkin aku salah lihat,” ujar Marc berbohong. Ia tidak akan mengatakan pertemuan singkatnya dengan gadis dari Berlin itu pada Andrew sekarang. Marc perlu memastikan sesuatu terlebih dahulu mengenai gadis itu.

Andrew menghela nafas panjang. “Ya sudah. Ayo, kau harus menemui Presdir Lee terlebih dahulu,” tuturnya.

Marc mendesah pelan. Niatan Andrew untuk mengenalkannya dengan putri Presdir Lee Corp itu ternyata tidak berubah. Mungkin seharusnya Marc tidak perlu datang ke perjamuan makan malan ini. “Hentikan ini, Andrew. Aku tidak mau ada perjodohan,” protes Marc.

Andrew menoleh dan menatap Marc dengan bingung. “Marcus Cho, ini hanya sebuah perkenalan. Kalian tidak langsung menikah hanya dengan sekali bertemu. Lagipula kau bisa menolak jika…”

“Aku sudah menolaknya, Andrew. Berhenti menjadi orangtuaku. Sejak aku enambelas tahun, kau selalu menjagaku karena kemampuan ini. Tapi tidak bisakah kau bersikap layaknya seorang sepupu? Well, kau memang lebih sering bersikap seperti sepupu yang menyebalkan tapi ini bukanlah waktu dimana kau bersikap layaknya orangtuaku. Usiaku sudah duapuluhempat tahun, aku tahu apa yang ingin kulakukan,” tutur Marc.

Andrew menatap Marc dengan lekat untuk beberapa detik. Kemudian menghela nafas. Andrew tersenyum tipis. “Ah, aku melakukannya lagi ternyata. Maaf, tapi aku memang pengganti orangtuamu sejak kau berusia enambelas tahun. Sejak kau mendapatkan kemampuan itu, aku adalah orang yang selalu menjaga dan melindungimu. Mungkin mencarikanmu pasangan hidup bukanlah tugasku, tapi aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Dengan kemampuan kita ini, orang lain tidak mungkin melihat kita selayaknya manusia normal.”

“Kalau begitu, biarkan saja. Aku tidak perlu menikah. Andrew, please…”

Andrew memandang Marc dengan lekat. Mereka mungkin tidak akan bisa menikah dan menjalani kehidupan dengan normal seperti manusia lainnya. Tapi mereka bisa menemukan pasangan yang mengerti dengan kemampuan yang mereka miliki. Itulah kenapa Andrew gencar menjodohkan Marc dengan beberapa gadis. Andrew menginginkan Marc mempunyai seseorang yang mengerti dirinya berikut dengan kemampuan Marc. Sebelum Andrew….

“Selamat malam, tuan-tuan.”

Marc dan Andrew sontak menoleh. Dihadapan mereka berdiri seorang pria paruh baya dengan sebuah senyuman. James Lee adalah Presdir Lee Corp. Marc menarik nafas lalu tersenyum tipis sembari membungkuk pada Presdir Lee.

“Presdir Lee, senang bertemu dengan anda,” ucap Marc.

James tersenyum. “Senang bertemu denganmu lagi, Marcus. Kupikir Andrew datang sendiri karena aku melihatnya sendirian menyapa tamu lain.”

Marc masih tersenyum dan sedikit melirik Andrew yang tidak mengatakan apapun. “Maaf, aku sedikit kurang sehat jadi perlu udara segar jadi aku berada di balkon,” ujar Marc balas berbasa-basi. Walaupun ia sama sekali tidak suka dengan pembicaraan ini. Marc kembali melirik kearah Andrew yang sama sekali tidak membantunya dalam hal ini.

“Jaga kesehatanmu, Marcus. Kudengar, Skyline akan meluncurkan project baru hasil inovasimu. Kau pasti akan sangat sibuk sekali,” sahut James.

Marc masih tersenyum tipis. Tanpa sengaja, Marc melihat seorang gadis yang berdiri tidak jauh dari James dan dari gerak-gerik gadis itu yang sering-kali melirik kearah James, sepertinya dia adalah putri Presdir Lee Corp tersebut.

“Ah, akan kukenalkan dengan putriku.” James kemudian berbalik untuk memanggil putrinya, sedangkan Marc kembali menatap kesal pada Andrew tapi sepupunya itu tidak melakukan apapun.

“Angie,” panggil James dan seorang gadis muda menggenakan gaun chiffon putih gading dengan hiasan beberapa manic berkilau menghampiri mereka. James tersenyum pada putrinya kemudian berbalik lagi, dan Marc kembali memasang senyumannya. “Ini Angela Lee. Dia anak kedua-ku. Dan Angie, ini Marcus Cho, sepupu Andrew Choi.”

Marc menatap Angela sekilas lalu memberi salam membungkuk padanya. Angela membalas sedikit membungkuk sebagai rasa hormatnya.

James tersenyum melihat perkenalan antara Marc dan Angela tidak terlalu buruk. “Angie saat ini sedang kuliah di Seoul University jurusan Music and Art Modern. Kakaknya, Aiden, juga kuliah disana,” jelasnya.

“Oh? Aiden, putra anda yang akan menjadi pewaris Lee Corp?” kali ini Andrew mulai sedikit memasuki percakapan.

James mengangguk dan menghela nafas. “Begitulah. Tapi sepertinya aku harus menunggu lebih lama, karena sampai hari ini dia belum menyelesaikan tugas akhir-nya.”

Andrew melirik kearah Marc, yang sepertinya tidak tertarik dengan percakapan mengenai pewaris perusahaan, sekilas. “Aku bisa merasakannya. Marc juga seperti itu saat menyelesaikan tugas akhirnya-nya setahun lalu. Dan itu membuat orangtuanya dan Kakek merasa stress,” sahut Andrew.

Marc hanya memutar bola matanya. Ia benar-benar jengkel dengan Andrew yang kini malah membicarakan Kakek mereka. Mungkin tidak seharusnya ia datang ke acara ini, tidak peduli jika Andrew mengusirnya dari apartment. Marc bisa membeli sebuah flat untuk dirinya sendiri atau bahkan kembali tinggal bersama orangtuanya.

Andrew melirik Marc dan Angela bergantian. Ia kemudian tersenyum pada James. “Sebaiknya kita membiarkan mereka berdua untuk mengobrol. Kupikir Angela tidak akan menyukai percakapan mengenai bisnis dan semacamnya. Marc juga kadang merasa begitu setiap perjamuan makan malam seperti ini,” usul Andrew.

James mengangguk mengiyakan. Keduanya lalu meninggalkan Marc dan Angela di balkon berdua. Andrew menoleh pada Marc dan melihat ekspresi sepupunya masih belum berubah. Well, sepertinya malam ini pun akan gagal.

“Apa kau pikir mereka akan berhasil?” tanya James.

Andrew menatap Presdir James Lee dan mengedikkan bahunya. “Entahlah. Marc itu tidak bisa dekat dengan sembarang orang yang baru pertama kali bertemu. Mungkin dia akan bersikap sedikit kasar pada Angela, jadi kuharap anda bisa mengerti,” ujar Andrew.

James tertawa kecil dan mengangguk mengerti. “Aku juga tidak mengharapkan kalau mereka akan langsung akrab. Kurasa hubungan yang tidak ada pertengkarannya tidak akan bertahan lama. Aku dengan istriku saja sesekali bertengkar hanya untuk masalah sepele. Tapi, bukankah seharusnya kau yang terlebih dahulu menikah ketimbang Marcus? Keluargamu tidak bertanya mengenai pasanganmu?”

Andrew tersenyum tipis. “Well, aku pasti akan menikah suatu hari nanti. Hanya saja, aku sedikit mengkhawatirkan Marc. Jadi, aku harus melakukan ini walaupun terkadang ia menolaknya.”

*****

Aiden menggeliat pelan dan sedikit merenggangkan otot-otot punggungnya. Sudah hampir dua jam, dia bergelut dengan laptopnya untuk menyelesaikan tugas akhir-nya. Aiden menghela nafas panjang dan memijat tengkuk lehernya perlahan.

“Akhirnya tinggal satu bab lagi,” ujarnya lega. Kemudian ia melirik kearah tumpukan kertas yang merupakan hasil penelitiannya selama tiga minggu terakhir. Ia mendengus pelan dan menatap tumpukan kertas itu dengan jengkel.

“Dasar angka-angka menyebalkan?! Kenapa aku harus menghitung angka-angka aneh itu sih? Aigo… aku benci statistik,” tukasnya sebal.

Aiden menghela nafas untuk kesekian kalinya. Dan akhirnya ia malah menopangkan dagunya ditelapak tangan kanannya sembari menatap lesu kertas-kertas hasil penelitian yang masih harus diolahnya. “Hah… gara-gara angka sialan ini, aku tidak dibolehkan ikut datang ke acara makan malam itu,” gumam Aiden sebal. Kemudian ia melirik kearah jam digital yang ada dimeja belajarnya.

“Aku juga ingin lihat pria yang akan dijodohkan dengan Angie. Sekaligus gadis dari Berlin itu,” gumam Aiden yang kemudian mengacak rambutnya dan kembalo fokus pada tugas akhirnya.

*****

Marc dan Angela hanya saling melirik di balkon tersebut. Suasananya begitu canggung dan Marc masih sangat kesal dengan sikap sepupunya. Ia tidak mood untuk memulai percakapan basa-basi dengan seorang gadis yang sepertinya juga terlihat tidak menyukai dengan sikap ayahnya. Ketika seorang pelayan datang dengan membawa nampan minuman, Marc langsung mengambil segelas wine.

“Kau juga mau?” Marc menawarkan minuman pada Angela.

Well, setidaknya ia harus bersikap sopan dan menawarkan minuman, walaupun ia tidak suka dengan perjodohan konyol ini. Angela menggeleng. Marc mengedikkan bahunya dan menyesap wine ke-duanya. Mereka semakin canggung dan kini sama sekali tidak melirik satu sama lain. Marc kembali mencicipi wine itu hanya dengan membasahi bibirnya. Rasanya situasi ini sama sekali tidak mengenakan bagi mereka.

“Boleh aku jujur padamu, Marcus-sshi,” ucap Angela tiba-tiba.

Marc menatap gadis itu. “Panggil aku Marc saja. Marcus terlalu aneh bagiku. Seakan aku mendengar nama ayahku,” ujar Marc sembari menggoyang-goyangkan gelas wine-nya.

Angela menghela nafas lagi. Menurutnya, Marc benar-benar sesuai dengan apa yang ia dengar selama ini. Dingin dan tidak segan-segan bersikap kasar, walaupun dengan seorang wanita sekalipun. Hebatnya, banyak para gadis yang sangat tergila-gila padanya.

“Baiklah, Marc. Aku sama sekali tidak tertarik dengan perjodohan ini. Dan sepertinya kau juga demikian. Jadi…”

“Keluargamu itu kerabat dekat dengan keluarga Perdana Menteri, bukan?” tiba-tiba Marc menyela ucapan Angela.

Angela mendengus pelan tapi ia mengangguk.

“Apa kau mengenal anak-anaknya Perdana Menteri David?”

“Nikky? Dia adalah sepupuku. Kenapa kau bertanya?” Angela balas bertanya dengan nada sedikit ketus. Ia benar-benar tidak menyukai sikap pria satu ini.

“Tidak, bukan Nikky. Anak gadisnya. Sepertinya dari pernikahan Perdana Menteri David sebelumnya.”

Entah kenapa Marc menjadi tertarik dengan gadis yang ditemuinya. Marc berpikir kalau gadis yang ditemuinya tadi kemungkinan adalah anak Perdana Menteri David Kim karena nama marga mereka yang sama. Selain itu, gadis itu sepertinya bukan tamu di acara tersebut, jadi kemungkinan dia berada disini adalah dia tinggal di rumah ini. Yang membuat Marc terkejut adalah gadis itu ternyata seorang super human juga. Well, Marc sangat senang menyebut istilah baru itu.

Angela terlihat berpikir sejenak. “Maksudmu, Annabelle Kim? Dia tinggal di Berlin dengan ibu kandungnya. Tapi kudengar hari ini dia baru datang. Ada apa dengannya? Apa kau bertemu dengannya?”

Marc terdiam sejenak. Ucapan Victoria benar-benar terbukti dan super human yang baru datang dari Berlin adalah Annabelle Kim, putri Perdana Menteri David Kim. Seorang super human yang lebih jauh lebih kuat dari dirinya. Tapi jika Annabelle Kim adalah super human, apakah keluarganya tahu mengenai kemampuannya? Ayahnya adalah seorang Perdana Menteri, bukan. Fakta itu membuat Marc semakin berpikir keras.

“Marc, wajahmu pucat. Apa kau sakit?” tanya Angela yang bingung.

Marc tersentak dan menatap Angela yang memandangnya dengan cemas. Marc menggeleng. “Aku harus menemui Andrew.”

Tanpa sadar Marc menyodorkan gelas wine-nya kearah Angela yang masih menatapnya dengan bingung. Mau tak mau Angela menerimanya. Ketika Marc sedang mencari Andrew, tiba-tiba salah seorang staff mengumumkan bahwa makan malam telah siap. Sontak para tamu beranjak dari ruang tengah tersebut dan menuju ruang makan tepat disebelah ruang tengah. Marc masih berusaha mencari Andrew. Dan tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya dari belakang. Marc sontak menoleh.

“Kau sendirian? Angela mana?” tanya Andrew.

“Andrew, ada yang harus kubicarakan denganmu,” tukas Marc tanpa memperdulikan pertanyaan Andrew.

Andrew merangkul bahu Marc dan menggiringnya mengikuti para tamu lain yang sudah memasuki ruang makan. “Nanti saja di rumah, ayo kita makan malam. Kau tahu, kita akan satu meja dengan Perdana Menteri Kim,” ujar Andrew dengan nada senang. Marc melepaskan rangkulan Andrew dan menatap sepupunya itu dengan tatapan serius.

“Ini masalah serius. Ini masalah Annabelle Kim, putri Perdana Menteri Kim,” tutur Marc sedikit berbisik. Ia tidak mau kalau para tamu lain mendengar percakapan mereka mengenai masalah ini. Kening Andrew sedikit berkerut

“Annabelle Kim? Oh.. Putri Perdana Menteri yang baru datang dari Berlin?! Kapan kau bertemu dengannya? Kudengar dia tidak bisa ikut makan malam karena sedang kurang sehat,” sahut Andrew.

Marc menatap Andrew dengan bingung. Haruskah ia mengatakan bahwa alasan Annabelle datang ke Korea adalah untuk menemuinya? Dan Annabelle itu adalah seorang super human? Tapi Marc tidak bisa mengatakannya. Ia mendesah kesal. “Andrew, akan kujelaskan nanti mengenai Annabelle Kim, okay? Sekarang aku harus menemui Stephen terlebih dahulu.”

“Prof. Jung? Untuk apa? Ayolah, Marc. Kapan lagi kau bisa makan malam satu meja dengan Perdana Menteri Korea Selatan? Lagipula Perdana Menteri Kim akan melepas jabatannya dalam beberapa bulan lagi. Ini adalah kesempatan langka,” tutur Andrew.

Andrew sangat keras kepala. Mungkin Marc mengatakan satu rahasia yang ia ketahui agar dia bisa pergi dari rumah tersebut. Kemudian Marc membisikkan sesuatu pada Andrew. Mata Andrew sontak membulat ketika mendengar ucapan Marc. Andrew menatap Marc dengan tatapan tidak percaya.

“Apa kau yakin dia salah satu dari kita?” bisik Andrew.

“Tanyakan pada Victoria, jika kau masih belum percaya. Aku harus menemui Stephen untuk memastikan sesuatu. Jika kau sudah selesai, mungkin kita bisa bertemu di Lab. Okay?” ujar Marc dengan yakin.

Andrew menghela nafas berat. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa mereka akan menemukan super human lainnya disaat seperti ini. “Baiklah. Masalah ini kita urus nanti. Kau temui Prof. Jung dan mungkin aku bisa menyusul. Nanti kuhubungi dan aku akan mengatakan bahwa kau sedang kurang sehat.”

Marc mengangguk dan langsung bergegas pergi meninggalkan kediaman sang Perdana Menteri, sementara Andrew memasuki aula rumah makan dan duduk bersama sang Perdana Menteri. Andrew juga membuat alibi untuk Marc dengan mengatakan bahwa Marc benar-benar sedang sakit dan tidak bisa berlama-lama di acara tersebut.

Marc berjalan cepat menuju pintu keluar, setidaknya ia harus cepat-cepat pergi kalau ia tidak mau terjadi sesuatu masalah. Satu hal lagi, rumah Perdana Menteri adalah ruang publik dan tidak seharusnya mereka, super human, memperlihatkan kemampuan didepan umum. Marc memberikan kunci mobilnya pada seorang petugas valet, agar petugas itu bisa mengambilkan mobilnya yang diparkirkan entah dimana. Marc melirik kearah jam tangan Armani yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Kemudian ia mendesah pelan. Petugas valet tadi terlalu lama mengambilkan mobilnya. Marc sedikit menoleh kearah perginya petugas valet tadi.

“Marcus Cho.”

Marc sontak menoleh ketika namanya dipanggil. “Gadis tadi? Annabelle Kim?!” batin Marc terkejut. Ia bahkan tidak mengira kalau Anna akan kembali menemuinya setelah gadis itu menghilang begitu saja. Anna berdiri agak menjauh dari tempat Marc berdiri saat ini, lebih tepatnya dia berdiri dibalik salah satu pilar penyanggah yang cukup besar. Mungkin jarak diantara mereka sekitar 5 meter.

“Kau… Annabelle Kim, putri Perdana Menteri David Kim?” tanya Marc.

Anna mengangguk sembari keluar dari persembunyiannya, tapi ia tetap mempertahankan jarak diantara mereka berdua. “Kau sudah bicara pada Andrew? Mengenaiku?” ujar Anna.

Marc mengangguk. “Aku memberitahunya kalau kau juga mempunyai kemampuan. Tapi aku belum mengatakan bahwa kau ingin menemuinya.”

“Kenapa?” tanya Anna singkat.

Marc menarik nafas panjang. Dari ekspresi gadis itu, Marc bisa melihat jelas ada sebuah kekecewaan. Hell, gadis itu mungkin mempunyai kemampuan yang sama seperti mereka, tapi Marc tidak mungkin ceroboh dengan mempercayai orang yang baru ditemuinya –terlebih seorang gadis.

“Karena aku belum mendengar tujuanmu. Untuk apa kau datang menemui sepupuku dan kemampuanmu itu. Aku bahkan baru mendengarnya. Jelaskan padaku mengenai kemampuanmu itu dan aku akan membantumu menemui Andrew,” ujar Marc sembari memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. Kali ini ia merasa beruntung dengan lamanya si petugas valet mengambilkan mobilnya, setidaknya ia bisa mengetahui tentang siapa sebenarnya Annabelle Kim.

Absorption power mimicry adalah kemampuan menyerap kemampuan atau energi dari orang lain. Dengan kemampuan ini, aku bisa menyerap kemampuan dari orang lain hanya saja ada balasan yang setimpal,” tutur Anna.

“Mendengar penjelasanmu, sepertinya tidak berbeda jauh dengan kemampuanku. Tapi balasan apa yang kau maksud?”

“Kemampuan kita berbeda. Power mimicry adalah kemampuan untuk mengkopi kemampuan lain dengan melalui sentuhan, tapi absorption power mimicry adalah menyerap kemampuan itu. Absorption power mimicry bisa membuat orang lain mati karena energinya terserap habis olehku. Orang lain tidak bisa menyentuhku, bahkan yang tidak mempunyai kemampuan sekalipun,” jelas Anna.

Kali ini Marc terdiam setelah mendengarkan penjelasan Anna. Ia merasa dingin pada tengkuk lehernya. Ucapan Victoria ternyata terbukti kebenarannya, kemampuan yang dimiliki Anna jauh lebih hebat ketimbang kemampuan yang dimiliki Marc. Hanya saja, harus dibalas dengan kematian. Kemampuan yang hebat tapi juga menyeramkan. Mungkin karena kemampuannya itu juga Anna menutupi sebagian besar kulitnya. Satu sentuhan, maka kau bisa mati.

Marc berdeham pelan. “Sepertinya kau banyak tahu tentang kemampuan itu. Darimana kau mengetahuinya? Dan apa kau pernah menyerap kemampuan dari orang lain?” tanya Marc.

Anna menarik nafas. “Tidak cukup banyak yang kuketahui, maka dari itu aku datang untuk bertemu dengan Andrew. Di Berlin ada seseorang yang kukenal menyebut namanya. Well, aku sudah menyerap tiga kemampuan.”

“Lalu apa mereka mati?”

“Tentu saja tidak. Mereka hanya kembali seperti manusia normal.”

Marc terdiam ketika Anna berbicara dengan ekspresi tenang. Gadis itu kini terlihat lebih menakutkan berbanding terbalik dengan wajah manisnya. Marc menghela nafas dan mengeluarkan sebuah kartu nama. Ia menyodorkan pada Anna. Gadis itu berjalan mendekat dan mengambil kartu nama tersebut tanpa harus menyentuh kulit Marc.

“Itu nomorku. Kita harus bicara dulu sebelum kau bertemu dengan Andrew. Well, kemampuanmu itu sangat hebat tapi bisa menimbulkan masalah. Hubungi aku besok untuk membicarakan dimana kita bertemu,” tutur Marc.

Anna melihat kartu nama milik Marc ditangannya. Ia menghela nafas. Walaupun ini bukanlah yang diharapkan oleh Anna, tapi lebih baik begini daripada dia tidak bisa bertemu dengan Andrew sama sekali. “Baiklah, aku akan menghubungimu besok.”

Kemudian petugas valet tadi datang dengan menyetirkan mobil Marc. Mobil Porsche Carrera GT tersebut berhenti tepat dihadapan Marc.

Anna menatap Marc lekat. “Sepertinya kau sedang terburu-buru, apa kau tidak ikut acara makan malam?” tanya Anna.

Petugas valet turun dari mobil Marc dan memberikan kuncinya pada sang pemilik. Marc menatap Anna sekilas dan tersenyum. “Karena dirimu, aku tidak bisa duduk satu meja dengan Perdana Menteri Kim. Sangat disayangkan. Tapi aku berterima-kasih padamu, karenamu juga aku terbebas dari perjodohan konyol itu. Kalau begitu, sampai bertemu lagi Nona Kim.” Marc kemudian memasuki mobil-nya dan melaju kencang meninggalkan rumah megah tersebut. Anna hanya tersenyum tipis melihat kepergiannya.

“Sangat disayangkan. Siapa tahu kalau dia adalah jodohmu, Tuan Cho.”

*****

NOTE: Well… Responnya part pertama cukup lumayan, walaupun stat komentar sama yang baca rada gak seimbang. Sudahlah, ada yang baca dan beri respon ajah, aku sangat berterima-kasih sekali… ^^

Uhm.. cast Super Human lumayan banyak yang OC. jadi… aku mau ngomong apa sih tadi? Ah, sudah lupa.

Sampai jumpa di postingan fanfict berikutnya…

Music: Sunny Hill –  베짱이 찬가

Advertisements

21 thoughts on “[MM] Super Human – 1st Story [2]

  1. Yay / hihihi
    Ngomong2, kasian juga sama si annabelle. Jadi gak bisa sentuh orang sembarangan… dan susah pasti nyari alasan terus2an biar gak ada kontak fisik kayak salaman gitu ._. Untung di korea ya… bisa bungkuk aja caranya /eh
    udah ah. -3-
    Ditunggu next chapternya~

  2. Apa ini ff straight?
    Hemm.. rindu sama wonkyu moment.. hehehe
    Apa anna tertarik dengan andrew? Benarkah marc berjodoh dengan angie?
    Mengapa andrew ingin sekali menjodohkan marc padahal ia sendiri belum punya pasangan.
    jangan-jangan andrew sudah punya pasangan tapi belum ketahuan. Banyak sekali yang jadi pertanyaan..hehehe
    Tapi bikin penasaran.
    ok lanjut..

    1. Yes, ini ff tipe normal alias straight…
      Pertanyaan pertama dan kedua, jawabannya bisa diliat pada kelanjutannya hehehehe… aku gak mau spoiler.
      Pasangan andrew udah ditentuin. Cuma nanti pas dia usia 35 tahun ㅋㅋㅋ

  3. Aseeekkk update jga chap 2 ny,,,mmm msh bingung jga byangin sp ja cast ny heeee,,,ok diera-Ssi,tiap chap bikin pnsrn n suka bngt alurny,,,nunggu updateny lma jga ga mslh..hahahaaa

  4. Apa Anna udah punya kemampuan melihat masa depan seperti Victoria? Di akhir chapter kalimat Anna bikin penasaran hehehehe

    Kalo ngeliat dari film aslinya berarti masih banyak cast yg belum keluar ya kaya Hiro hehehehe

    Btw Diera, ff yg seri selain Scarface dan Only One apa lagi ya?

    1. Anna sudah punya 3 kemampuan salah satunya sama seperti victoria. Nanti bakal ada penjelasannya koq.
      Well… untuk cerita ini aku gak banyak ngeluarin cast karena takut bingung sendiri. Tapi kita lihat kelanjutannya ajah…
      Cerita seri lainnya ada Two Faces ato kamu bisa diliat di list category. Aku masukin semua judul yang udah dipublish koq…

  5. Mungkin mmng akan bnyk hal yang akan terjadi.
    Kenapa Andrew sepertinya bgtu mngawasi Mark.Memang apa yang telah terjadi dimasa lalu.Penasaran banget sama bgaimana kekuatan para super human itu bekerja.

  6. Wah… Ternyata memang seru. Tambah penasaran deh… Kyu bahaya disentuh anna juga, justru letak tantangannya disini. Keren. Jenius nih eonni kok bisa ya nyiptain ff sekeren ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s