[SF] Scarface Part 16

Scarface

16

Mata Kyuhyun membulat ketika ia merasakan sensasi lembut pada bibirnya. Kyuhyun dapat melihat Siwon sedang menciumnya dengan penuh gairah. Kyuhyun merasakan tangan Siwon yang berada dipunggungnya menekan tubuhnya pada tubuh Siwon dan tangan lain Siwon kini sudah berada di leher Kyuhyun.

Kyuhyun ingin sekali mendorong Siwon tapi tubuh dan tangannya tidak mengikuti perintah otaknya tersebut. Kyuhyun memejamkan dengan erat dan merasakan bibir Siwon melumat bibirnya. Kyuhyun tidak berani membalas ciuman tersebut, walaupun satu bagian dirinya ingin membalas ciuman Siwon.

Siwon membuka matanya perlahan dan menghentikan ciumannya. Ia menarik bibirnya dan memperhatikan Kyuhyun yang membuka mata. Siwon menarik nafas dan mengusap lembut pipi Kyuhyun dengan ibu jarinya. “Apa aku harus meminta maaf lagi? Apa aku melakukan kesalahan?” tanyanya berbisik.

Kyuhyun tidak mengatakan apapun. Dia hanya menatap Siwon dengan lekat. Siwon menghela nafas dan mendekatkan wajahnya lagi. Sontak Kyuhyun sedikit menjauhkan wajahnya, berpikir kalau Siwon mungkin akan menciumnya lagi.

Siwon menyeringai melihat reaksi Kyuhyun. “Jawab aku, Kyuhyun-sshi.”

Kyuhyun berkedip beberapa-kali lalu berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Siwon. “Bisa lepaskan aku terlebih dahulu?”

Siwon menghela nafas. Kemudian dia menarik diri. Kyuhyun juga menarik kedua tangannya yang berada dibahu Siwon. Kyuhyun masih memperhatikan Siwon dengan lekat. “Kenapa kau menciumku?” tanya Kyuhyun dengan suara pelan.

Siwon melirik pakaian Kyuhyun. Hari ini suhu Seoul memang tidak terlalu dingin, tapi sepertinya Kyuhyun benar-benar lupa kalau dia pernah hampir terkena hypothermia. Siwon lalu menarik lengan Kyuhyun hingga pria itu berdiri tepat dihadapannya. “Jangan bergerak,” ucap Siwon dengan tegas.

Kyuhyun benar-benar tidak mengerti dengan sikap Siwon hari ini. Kemudian Siwon merapikan jas serta kemeja Kyuhyun. Dengan telaten, Siwon kembali membuat simpul dasi pada kerah kemeja Kyuhyun.

“Siwon-sshi, kau belum menjawab pertanyaanku.”

Siwon meliriknya. “Jawab dulu pertanyaanku.”

Kyuhyun terdiam. Apa dia akan benar-benar meminta maaf karena menciumku? Itu… Apa itu kesalahan? Pikir Kyuhyun.

Siwon menghela nafas dan merapatkan jas milik Kyuhyun. Dia lalu menatap pria itu dengan lekat. Kyuhyun terlihat berpikir terlalu keras. Siwon mengulas sebuah senyuman. Kemudian ia menggosok kedua tangannya beberapa detik dan menangkupkan ke wajah Kyuhyun yang terasa dingin. Sontak membuat Kyuhyun terkejut. Namun anehnya, Kyuhyun sama sekali tidak menghindar.

“Jangan terlalu berpikir keras, Kyuhyun-sshi. Aku bertanya apa aku harus meminta maaf padamu karena aku menciummu. Apa itu adalah sebuah kesalahan?” tanya Siwon lagi.

Kesalahan? Tentu saja, itu sebuah kesalahan. Kami sama-sama pria dan ciuman diantara sesama pria itu….? Apa sesama pria tidak boleh berciuman? Apa karena berciuman, itu tandanya…

Siwon kembali menghela nafas dan menarik kedua tangannya dari wajah Kyuhyun. Ia memasukkan kedua tangannya tersebut kedalam saku celana. “Apa kau selalu seperti ini? Memikirkan semua pertanyaan dengan begitu detail, walaupun itu adalah pertanyaan mudah?”

“Ne?”

“Jika kau tidak menemukan jawabannya dengan memikirkannya. Maka temukan jawabannya dengan melakukannya. Cium aku,” ucap Siwon dengan tenang.

Kyuhyun kembali dikejutkan oleh pertanyaan Siwon. Tapi sepertinya Siwon terlihat begitu tenang dalam menyikapinya. Atau itulah yang Kyuhyun lihat saat ini. Tanpa ia sadari, Kyuhyun kembali menggigit ujung bibirnya. Siwon menyadari hal itu.

“Tolong, jangan gigit bibirmu,” tutur Siwon.

Dengan patuh, Kyuhyun melepaskan bibirnya. Ia tidak tahu sejak kapan dia begitu patuh dengan permintaan seseorang, terutama Choi Siwon.

“Kyuhyun-sshi…”

Menciumnya? Apa aku harus menciumnya untuk mendapatkan jawabannya? Yak, Cho Kyuhyun! Berapa usiamu sekarang, eoh? Itu hanya sebuah ciuman, bukan? Kau bahkan bisa mencium Hyukjae dengan mudah. Kyuhyun mengerutkan dahi begitu ia terpikir bisa mencium Hyukjae. Heck, memikirkannya saja sudah membuatku jijik. Tapi aku baru saja dicium oleh Siwon, lalu kenapa reaksinya berbeda?

“Kyuhyun-sshi..”

Kyuhyun kembali tersadar dari pikirannya sendiri. “Ya?”

Siwon menghela nafas. “Bagaimana dengan jawabanku, uhm? Apa kau masih ingin memikirkannya dulu selagi kita pergi ke rumah sakit?”

“Ru-rumah sakit? Ah, rumah sakit. Benar! Ayo, pergi ke rumah sakit dulu. Baru kuberi jawaban atas pertanyaanmu itu,” seru Kyuhyun cepat lalu bergegas kembali ke dalam gedung tersebut.

Siwon tersenyum kecil lalu mengikuti Kyuhyun.

*****

Joonmyeon bergegas menghampiri Sara. Wajahnya terlihat pucat. Joonmyeon juga mengeluarkan keringat dingin. Sara mengernyit melihat kondisi putra tirinya tersebut. Sara menggenggam tangan Joonmyeon yang terasa dingin. “Joon, apa kau sakit?” tanya Sara.

“Ne? Tidak, Mom. Aku baik-baik saja. Tapi bisa kita pulang sekarang?”

Sara melirik kearah Junhyeok yang masih berbicara dengan kenalannya. Sara kembali menatap Joonmyeon. Sara tersenyum tipis. “Mom akan memanggil Appamu. Tunggu disini eoh. Jangan pergi kemana-mana lagi.”

Joonmyeon mengangguk. Sara lalu berjalan menghampiri Junhyeok. Joonmyeon menghela nafas lega dan memperhatikan sekeliling ruangan tersebut. Sepertinya sudah ada beberapa undangan yang pulang. Ruangannya tidak terlalu penuh seperti sebelumnya.

Kemudian Joonmyeon melihat sosok Choi Siwon yang berjalan menuju meja resepsionis dengan diikuti oleh seorang pria lainnya. Sontak Joonmyeon kembali teringat dengan apa yang baru saja dilihatnya.

Joonmyeon benar-benar terkejut saat melihat Choi Siwon mencium seorang pria. Ia tidak pernah tahu kalau Choi Siwon adalah.. Oh, Joonmyeon bahkan tidak bisa mengatakan kata yang tepat. Terlebih, Joonmyeon juga pernah dicium oleh pria lain –dalam hal ini hanya Yifan yang pernah menciumnya. Lalu apa dengan itu Joonmyeon juga seorang..

Gay?

Joonmyeon memejamkan matanya dan mengatur nafasnya. Yang perlu Joonmyeon lakukan adalah tidak mengingat apapun yang ia lihat sepuluh menit lalu. Apapun itu. Tapi sialnya, kejadian itu kembali terlintas dari benaknya. Joonmyeon sontak membuka matanya ketika ia merasakan seseorang menyentuh bahunya.

Joonmyeon menghela nafas ketika melihat bahwa Sara yang menyentuh bahunya.

“Joon, kau terlihat semakin pucat,” ujar Sara yang kembali bersama Junhyeok.

Joonmyeon menatap Sara dan Junhyeok dan menggeleng. “Aku baik-baik saja, Mom. Appa, bisa kita pulang sekarang?”

Sara merangkul bahu Joonmyeon dengan erat. Setelah memperhatikan wajah putranya, Junhyeok mengangguk. “Ayo pulang dan mungkin kita bisa mampir di klinik dulu.”

Joonmyeon ingin protes dan mengatakan bahwa dia tidak sakit, tapi untuk saat ini Joonmyeon tidak akan membangkan ucapan orangtuanya.

*****

Kyuhyun masih menggenggam ponselnya dengan erat. Lima menit lalu dia baru saja memberitahu orangtuanya kalau dia pergi menemui Hyukjae. Oh, tentu saja Kyuhyun sudah memberitahu Hyukjae terlebih dahulu agar ketika orangtua-nya atau Ahra –yang terlalu protektif padanya– mencoba menghubungi Hyukjae dan bertanya mengenai dirinya, Hyukjae tidak terlalu gugup. Sahabat sekaligus rekan kerjanya itu paling tidak bisa berbohong pada Ahra dan orangtuanya. Selain itu, Kyuhyun tidak ingin membuat masalah lainnya.

Kyuhyun menarik nafas dan melirik kearah Siwon yang fokus menyetir. Dia pernah melihat Siwon menyetir sebelumnya, tapi tetap saja Kyuhyun selalu merasa –sedikit– terpukau dengan cara Siwon menyetir. Well, Kyuhyun tidak pernah menyadari kalau seorang pria pun bisa terlihat sexy jika sedang menyetir.

Damn! Berhenti bersikap kau masih berusia duapuluh-an Cho Kyuhyun! Lagipula kau itu seorang pria! Kenapa kau bertingkah seperti seorang gadis! Kyuhyun memaki dirinya sembari memukul keningnya dengan ponsel. Tapi karena terlalu keras, keningnya jadi sakit dan memerah. Kyuhyun merintih pelan.

Siwon melirik padanya. “Kau baik-baik saja? Kenapa kau memukuli keningmu sendiri?”

Kyuhyun mendesis pelan dan memasukkan ponselnya kedalam saku jas-nya. “Tidak apa-apa,” ujarnya sembari merapikan rambutnya untuk menutupi keningnya yang memerah. Tidak bisakah aku bersikap memalukan lebih dari ini.

“Oh ya, kita tidak akan pergi ke rumah sakit dimana temanmu itu bekerja. Aku akan membawamu ke Rumah Sakit Universitas Inha. Tidak apa-apa?” tanya Siwon lagi.

Kyuhyun menggumam pelan. Well, rumah sakit manapun sama saja, pikirnya.

Siwon menarik nafas dan melirik kearah Kyuhyun lagi. “Perjalanannya cukup lama, jadi kau mempunyai banyak waktu untuk memikirkan jawaban pertanyaanku sebelumnya.”

Kyuhyun kini menatap Siwon. “Kau benar-benar ingin mendengar jawabanku?”

“Tentu saja. Jika kau mengatakan bahwa itu adalah kesalahan, maka aku akan minta maaf lagi dan tidak akan mengulanginya,” ujar Siwon dengan tenang.

Kyuhyun terdiam sejenak. “Tidak akan mengulanginya?” gumamnya pelan sembari memandang lurus kearah jalanan.

“Karena kau mengatakan itu adalah kesalahan, maka aku tidak akan mengulanginya,” komentar Siwon. “Walaupun seberapa besar keinginanku untuk melakukannya lagi,” lanjutnya berbisik.

Sekali lagi, Kyuhyun dikejutkan dengan ucapan Siwon. Melakukannya lagi? Apa dia seorang…

Siwon menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Ejekan Changmin mengenai dirinya yang gay, kini mungkin sedikit ada benarnya. Walaupun masih dengan penyangkalan, Siwon mungkin mengakui kalau dia memiliki ketertarikan pada Cho Kyuhyun.

Siwon menghela nafas lagi. “Ini benar-benar gila,” gumamnya.

“Kenyataan kalau kau baru saja mencium seorang pria?”

Well, pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Kyuhyun tanpa dipikirkan sebelumnya. Kyuhyun terkejut dengan pertanyaannya sendiri, hingga dia mungkin akan membenturkan kepalanya ke dashboard mobil. Tapi ketika Kyuhyun melirik kearah Siwon, ia melihat ekspresi Siwon yang begitu tenang. Bahkan ketika mereka saling memandang untuk dua detik, Kyuhyun bisa melihat kalau Siwon juga setuju dengan pernyataannya.

Yeah, mencium seorang pria ketika kau bukan seorang gay memang benar-benar gila, pikir Kyuhyun. Tapi dia sendiri mengatakan kalau ingin melakukannya lagi. Adakah yang lebih gila dari itu?

“Bukan mengenai itu. Walaupun mencium seorang pria di tempat umum ketika kau adalah seorang Direktur perusahaan besar, itu juga sangat gila. Tapi yang kumaksud adalah ucapan Changmin. Mungkin dia akan berubah jadi peramal di masa depan,” ucap Siwon.

Kyuhyun mengernyit dengan ucapan Siwon. Memang apa yang diucapkan Changmin? Apa mengenai…

Siwon melirik Kyuhyun. “Kurasa aku tahu apa yang sedang kau pikirkan saat ini. Tapi itulah kenyataannya.”

“Jadi, kau benar-benar gay?!” seru Kyuhyun.

Siwon mendengus sembari memutar kemudinya. Mereka hampir sampai di rumah sakit yang dituju oleh Siwon. “Tch, kecuali untuk yang itu. Kau tahu, julukan itu pada mereka yang menyukai sesamanya, menurutku sangat merendahkan. Aku selalu berpikir kalau perasaan cinta itu tidak bisa diberikan nama yang absolut. Gay, lesbian? Jika aku mencintai ayahku sendiri apakah aku seorang gay?”

“Tidak, tentu saja tidak. Tapi itu incest,” tukas Kyuhyun.

Siwon mendelik jengkel. Nyatanya, Kyuhyun mempunyai kepribadian yang hampir mirip dengan Changmin. “Jangan terlalu banyak bergaul dengan Changmin. Kau akan menjadi sama menyebalkannya dengan sepupuku itu. Dan aku sama sekali tidak menyukainya.”

“Menyukai apa? Aku yang bersikap menyebalkan sama seperti sepupumu atau bergaul dengan Changmin?” tanya Kyuhyun dengan sedikit bercanda.

“Jawaban yang jujur?”

Kyuhyun mengangguk.

“Jawab dulu pertanyaanku sebelumnya, baru kuberitahu jawabanku,” tukas Siwon.

Kyuhyun mendecih jengkel. Dia sudah sangat berharap kalau Siwon tidak akan mengungkit pertanyaannya sebelumnya, tapi Kyuhyun harus setuju dengan Changmin. Selain Siwon lebih aneh dari biasanya, dia juga lebih menyebalkan.

Siwon hanya tertawa kecil melihat ekspresi jengkel Kyuhyun.

*****

Joonmyeon bergegas memasuki kamarnya. Namun, dia bertemu dengan Yifan yang baru saja keluar dari kamarnya. Joonmyeon terdiam dan menatap saudara tirinya tersebut dengan lekat. Yifan menarik nafas dan memperhatikan Joonmyeon yang terlihat pucat.

“Kau baik-baik saja, Joon? Wajahmu pucat,” kata Yifan.

Joonmyeon menghela nafas dan melirik kearah lantai bawah. Ia bisa mendengar percakapan Sara dan ayahnya. Joonmyeon kembali menatap Yifan. “Yifan, mengenai perjanjian kita sebelumnya. A-aku… tidak bisa. Kita batalkan perjanjian itu. Kau saudaraku sekarang. A-aku tidak bisa melakukannya.”

Joonmyeon kemudian berjalan melewati Yifan dan hendak membuka pintu kamar. Yifan berbalik dan menatap Joonmyeon. “Kenapa kau berubah pikiran? Kita sudah setuju sebelumnya. Perjanjian itu bahkan baru berlaku setelah aku pergi ke London.”

Joonmyeon melirik Yifan. “Itulah yang kusesali. Seharusnya aku tidak pernah menyetujuinya. Seharusnya aku langsung menolakmu ketika kau mengatakan perasaanmu padaku. Maafkan aku, Yifan.”

Joonmyeon membuka pintu dan bergegas masuk sebelum Yifan kembali bicara. Joonmyeon mengunci pintu kamarnya dan menarik nafas panjang. Ia bersandar pada pintu dan berusaha mengatur nafasnya.

“Kau melakukan sesuatu yang benar, Joonmyeon. Kau melakukan hal benar,” gumamnya pelan.

Joonmyeon memejamkan matanya untuk beberapa detik. Ia mendengar ketukan pintu. Itu pasti Yifan. Tapi Joonmyeon berusaha untuk berpegang pada keputusannya. Setidaknya apa yang dilakukannya belum terlambat. Perjanjian itu belum berjalan dan Yifan tetap akan pergi ke London. Dan sampai waktu itu tiba, Joonmyeon harus menguatkan dirinya.

“Joon…”

Itu adalah suara Sara. Joonmyeon membuka mata dan berbalik untuk membukakan pintu. Saat Joonmyeon membuka pintu, Sara membawa sebuah tray yang berisi makanan dan obat. Joonmyeon membuka pintu lebih lebar. Sara berjalan masuk dan menaruh tray tersebut di meja.

“Makan dulu sebelum minum obatnya. Lalu kau istirahat, okay. Mom tidak ingin kau semakin sakit saat kita pergi ke Guangzhou besok. Bahkan Appa berniat membatalkan kepergianmu,” tutur Sara.

Joonmyeon duduk di kursi dan menatap semangkuk bubur yang dibawakan oleh Sara. “Aku baik-baik saja, Mom. Jadi, aku akan tetap ikut pergi ke Guangzhou besok.”

Sara tersenyum dan mengusap pipi Joonmyeon lembut. “Mom tahu, tapi Mom khawatir. Appa mengatakan kalau kau sering-kali sakit ketika musim dingin. Sekarang masih bulan Januari dan suhunya masih cukup dingin. Jika sampai besok pagi kau masih sakit, sepertinya kita akan batal pergi ke Guangzhou.”

“Joonmyeon sakit?” ujar Yifan dari ambang pintu.

Joonmyeon menoleh dan memaki dalam hati. Sepertinya Yifan menunggu waktu yang tepat sampai Joonmyeon membukakan pintu dengan sukarela. Dan ketika Sara datang membawakan makanan untuknya, itulah waktu yang tepat.

Ketika Yifan berjalan memasuki kamarnya, Joonmyeon kembali berbalik untuk menghindari tatapan tajam saudaranya. Sara menghela nafas pendek. “Sehabis acara pertunangan itu, kami langsung pergi ke klinik. Dokter hanya menyarankan kalau Joonmyeon harus banyak istirahat. Kalau sampai besok Joonmyeon masih sakit, maka kita tidak akan pergi.”

Joonmyeon berusaha untuk tidak menatap Yifan. Dia hanya mengaduk buburnya dan mulai memakannya. Sara mengusap kepalanya dengan lembut lalu mengecupnya. “Makanlah lalu istirahat. Jangan lupa minum obatnya juga.”

“Iya, Mom,” ucap Joonmyeon pelan.

Kemudian Sara keluar dari kamarnya. Tinggallah Yifan dan Joonmyeon.

Joonmyeon menarik nafas dan melirik saudaranya. Ya, Joonmyeon kembali harus menekankan pada dirinya kalau Yifan adalah saudaranya.

“Kenapa?” tanya Joonmyeon pelan.

Yifan menghela nafas. “Kenapa tidak bilang kalau kau sakit? Saat kutanya, kenapa kau tidak mengatakan apapun?”

“Aku baik-baik saja, Yifan. Tolong, keluarlah dari kamarku. Aku ingin istirahat,” ucap Joonmyeon sembari melahap buburnya.

Yifan yang masih memperhatikan Joonmyeon kembali menghela nafas dan mengusap wajahnya yang terlihat lelah. Dia baru saja setelah menyelesaikan lukisannya yang lain. Selama dia mempunyai banyak waktu luang, Yifan memang lebih senang menghabiskan waktunya dengan melukis. Hingga saat ini, dia sudah menyelesaikan sekitar tiga lukisan baru. Yifan bahkan ketiduran saat dia bersiap-siap untuk pergi ke acara pertunangan pagi ini.

Tapi begitu dia bangun, Joonmyeon tiba-tiba berubah pikiran mengenai perjanjian yang mereka sepakati. Yifan hanya ingin tahu alasan dibalik perubahan sikap Joonmyeon. Namun, sepertinya Joonmyeon menolak untuk memberikan alasan.

Yifan masih menatap Joonmyeon yang melahap buburnya dengan enggan. “Joon..”

Joonmyeon menunggu hingga Yifan selesai bicara.

Yifan ingin sekali menyentuh Joonmyeon. Hanya bahunya, mungkin. Tapi dia menahan diri karena Joonmyeon bisa saja menepisnya. “Aku ingin kita bicara setelah kau merasa siap menjelaskan alasannya padaku.”

Kemudian Yifan berjalan keluar dari kamar tersebut dan menutup pintunya. Joonmyeon menaruh sendok ditangannya dan menghela nafas. Kemudian ia berdiri dan melepaskan jaket serta sepatunya. Joonmyeon melirik kantung plastic kecil berisi beberapa obat yang harus diminumnya.

Joonmyeon meraihnya dan membuka kantung tersebut. Ia memasukkan semua obat tersebut dan meminum habis segelas air yang tersedia.

Lalu Joonmyeon pergi tidur siang.

*****

Siwon mengernyit ketika seorang suster memberikan sepasang pakaian rumah sakit. Dia hanya mengantarkan Kyuhyun tapi kenapa suster itu malah membawanya masuk kedalam ruang pemeriksaan dan memberikan pakaian itu padanya? Suster itu tersenyum padanya.

“Untuk temanmu, Tuan Choi. Dia masih mengurus beberapa dokumen. Setelah dia selesai, suruh dia mengganti pakaiannya. Dokter akan datang sekitar lima menit lagi,” ujar suster tersebut.

Siwon mengangguk patuh dan suster itu berjalan keluar dari ruang pemeriksaan. Setelah pintu tertutup, Siwon menghela nafas dan menaruh pakaian yang ditangannya tersebut di meja pemeriksaan pasien. Siwon menghela nafas lalu duduk pada salah satu kursi. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan pada Changmin.

Hey, jangan mengatakan apapun pada siapapun mengenai apa yang kukatakan padamu tadi. Mengerti?

Siwon menekan tombol send. Bersamaan dengan itu, Kyuhyun memasuki ruangan tersebut. Siwon mengangkat kepalanya dan menatap pria yang terlihat gugup. Siwon lalu menunjuk pakaian rumah sakit.

“Suster menyuruhmu mengganti dengan itu,” ucap Siwon.

Kyuhyun melirik pakaian yang terletak diatas meja pemeriksaan pasien. Kyuhyun mengangguk dan berjalan menuju meja pemeriksaan. Kemudian ia menatap sekeliling ruangan tersebut. Tidak ada ruangan lain untuk mengganti baju.

Siwon memperhatikan Kyuhyun yang bersikap canggung. Ia menghela nafas. “Tarik tirainya. Aku bukan pria pervert yang akan mengintip orang lain mengganti baju.”

Kyuhyun mengangguk lagi dan menarik tirai berwarna putih gading itu. setelah memastikan tidak ada celah sedikit pun, Kyuhyun mulai melepaskan pakaiannya. Dibalik tirai, Siwon mendengus dengan sikap Kyuhyun.

“Apa dia bersikap seperti itu hanya karena menciumnya? Menciumnya sekali bukan berarti aku akan melakukan hal-hal pervert padanya,” gumam Siwon. Tak lama pesan balasan Changmin datang. Siwon membacanya.

Hentikan kebiasaanmu mengancam orang lain, sepupu. Tenang saja, untuk yang satu ini tidak akan kuceritakan pada Sooyoung ataupun Yunho. Karena pada akhirnya kau sendiri yang akan mengakui pada semua orang mengenai perasaanmu pada Pengacara Cho Kyuhyun yang terkenal itu.

Siwon mendecih membaca balasan dari sepupunya tersebut. Tanpa membalas lagi, Siwon menyimpan kembali ponselnya pada saku jaketnya. Kemudian menunggu Kyuhyun selesai mengganti baju. Namun, lima menit kemudian Kyuhyun belum menyibak tirainya.

Siwon menghela nafas dan mendengar pintu terbuka. Seorang dokter paruh baya memasuki ruangan tersebut dan tersenyum padanya. “Ah, Tuan Choi Siwon, senang bertemu dengan anda. Namaku Park Jungshin. Er.. dimana Tuan Cho Kyuhyun?”

Siwon menunjuk tirai putih gading. “Dia sedang ganti baju. Kyuhyun-sshi, apa kau belum selesai?”

“Tu-tunggu sebentar,” seru Kyuhyun. Kemudian dia melanjutkan. “Euhm… Dokter, apa kau mempunyai gunting atau semacamnya?”

Siwon mengernyit dan berjalan mendekati tirai tersebut. Kemudian ia menyibaknya. Siwon menghela nafas melihat kondisi Kyuhyun. “Apa yang kau lakukan?”

Kyuhyun hanya menyeringai. Kondisinya tidak begitu memalukan tapi rambutnya tersangkut pada kancing lengan kemejanya membuat kepalanya terasa sakit. Dokter Park tersenyum kecil dan mencari gunting. Siwon memperhatikan Kyuhyun dan menyuruh pria itu untuk duduk diatas meja pemeriksaan.

“Sayang sekali di ruangan ini tidak ada gunting. Aku akan keluar sebentar untuk mengambilkannya untuk membantu Tuan Cho,” ucap dokter Park yang langsung keluar dari ruangan tersebut.

Siwon menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Kyuhyun hanya menundukkan kepalanya. Dia seperti kembali berusia enambelas tahun dimana ia ketahuan membolos oleh gurunya. Setelah melepaskan jas-nya, Kyuhyun mengacak rambutnya dengan kasar hingga membuat rambutnya tersangkut di kancing kemeja. Dia berusha mengurainya tapi karena panik, rambutnya malah semakin kusut. Kejadiannya memang berbeda, tapi rasa malunya tetap sama.

“Berapa lama rambutmu tersangkut begitu?” tanya Siwon sembari mengambil satu langkah mendekat.

Kyuhyun hampir saja menahan nafasnya ketika tangan Siwon menyentuh pergelangan tangan kirinya. Siwon berusaha mengurai rambut Kyuhyun yang tersangkut. Selain itu, aroma parfum yang dipakai Siwon benar-benar memabukkan. Ditambah dengan jarak posisi mereka yang sangat dekat, membuat Kyuhyun tidak bisa melihat kemanapun selain bagian dada Siwon.

Kyuhyun menggigit ujung bibirnya lagi. “Tidak tahu. Berapa lama saat aku menarik tirai hingga dokter datang? Kurasa selama itu,” gumam Kyuhyun.

Siwon melirik Kyuhyun yang sedikit tertunduk dihadapannya. “Kenapa harus menunggu sampai dokter datang? Jika kau membutuhkan bantuan sebelumnya, aku bisa membantu.” Siwon dengan hati-hati mengurai rambut Kyuhyun agar tidak menyakiti kepala pria itu.

Kyuhyun mengetahui hal itu. Awalnya ia ingin meminta bantuan Siwon, tapi ciuman itu terlintas dalam benaknya. Kyuhyun akhirnya mengurungkan niatnya dan menunggu sampai dokter datang. Tindakan bodoh sekaligus memalukan. “Maaf..”

Siwon tidak mengatakan apapun. Perlahan rambut Kyuhyun mulai terurai, bahkan tidak membutuhkan waktu lama, tangan dan rambut Kyuhyun sudah terbebas. Siwon tersenyum. “Lihat, jika kau meminta bantuan sebelumnya, kau tidak perlu menahan rasa sakit,” ucapnya.

Wajah Kyuhyun kembali memerah. “Terima kasih.”

Siwon tertawa kecil melihat sikap Kyuhyun. “Sama-sama, Pengacara Cho.”

Kemudian dokter Park datang dengan membawa sebuah gunting. “Ah, Tuan Choi sudah memberikan bantuan rupanya. Jadi, guntingnya sudah tidak diperlukan lagi. Baiklah, Tuan Cho, tolong ganti baju dengan hati-hati dan kita bisa memulai pemeriksaannya.”

*****

Jinri mendelik melihat Changmin yang terlihat senang sekali. Entah bagaimana Changmin pulang terlebih dahulu dari acara pertunangan Cho Ahra dan meninggalkan Siwon sendirian. Tapi melihat ekspresi Changmin, Jinri yakin sekali kalau sedang terjadi sesuatu yang menarik sekalgus memalukan bagi Siwon. Well, salah satu kesenangan Changmin adalah kesenggaraan Siwon. Atau semacamnya yang berhubungan dengan Siwon.

Jinri mengambil bantal sofa dan melemparkannya kearah Changmin ketika sepupunya itu tiba-tiba tertawa dengan menakutkan. Changmin meringis dan menatap Jinri dengan jengkel.

“Jangan tertawa menyeramkan begitu. Atau kulempar pakai buku ini,” tukas Jinri.

Changmin mendengus dan kembali tersenyum. Jinri menutup bukunya dan memperhatikan Changmin dengan lekat. “Apa yang membuatmu begitu senang hari ini? Sesuatu yang berkaitan dengan Siwon Oppa.”

“Sesuatu yang menarik. Tapi sayangnya, Siwon melarangku membicarakannya dengan orang lain. Jadi, tahan rasa penasaranmu itu, Choi Jinri. Tunggu sampai kakakmu memberitahumu secara langsung,” ujar Changmin.

Jinri mengernyit. Siwon dan Changmin memang saling berbagi rahasia, tapi Changmin terkadang membicarakan rahasia Siwon padanya ataupun pada sepupu yang lain, seperti lelucon mengenai gay itu. Tapi Jika Changmin tidak mengatakan apapun padanya, itu tandanya rahasia yang dibagi oleh Siwon adalah sesuatu yang besar.

“Rahasia mengenai apa?” tanya Jinri lagi.

Changmin meliriknya dan tersenyum. “Sudah kubilang Siwon akan mengatakannya secara langsung. Mungkin setelah dia benar-benar yakin.”

“Apa mengenai seseorang? Seperti akhirnya Siwon Oppa menyukai seseorang?” tebak Jinri lagi.

Changmin terlihat berpikir sejenak. Lalu ia menyeringai lebih lebar. “Kira-kira begitu. Tapi itu hanya sampai Siwon merasa yakin. Aku tidak akan menjamin apapun. Siwon bilang ingin memastikannya terlebih dahulu.”

Jinri mengerutkan keningnya. Sikap Changmin benar-benar aneh. Tapi jika mendengar dari penjelasan Changmin, sepertinya Siwon benar-benar menemukan orang yang disukainya. Jinri berpikir kalau kakaknya bertemu dengan gadis itu di acara pertunangan Cho Ahra, karena sejak kemarin Siwon benar-benar terlihat galau sekali untuk memutuskan pergi atau tidak ke acara tersebut. Dan yang terpenting, Changmin sepertinya mengenal siapa orang yang disukai oleh Siwon.

Jinri menghela nafas dan membuka bukunya lagi. “Terserahlah. Jika Siwon Oppa telah menemukan gadis yang disukainya, itu bagus.”

Changmin tertawa kecil mendengar ucapan Jinri. Well, kalau nyatanya seorang pria, apa itu masih bagus?

*****

Luhan bergegas menuju sekolah setelah mendapatkan telepon dari Yifan. Sahabatnya itu tiba-tiba menghubunginya dan mengatakan kalau dia berada di sekolah untuk mengantarkan beberapa lukisan baru. Luhan tidak merasa aneh hingga ia mendengar suara Yifan yang terdengar begitu patah hati.

Jika berkaitan dengan Yifan dan patah hati, maka Luhan bisa menyimpulkan bahwa ada kaitannya dengan Kim Joonmyeon.

Luhan mempercepat langkahnya hingga ia sampai di galeri sekolah. Ia melihat Yifan baru saja menyerahkan dua lukisan pada Ahn Ssaem yang merupakan kurator untuk galeri sekolah mereka. Luhan menarik nafas panjang dan menatap Yifan yang tersenyum padanya.

Setelah berpamitan dengan Ahn Ssaem, Yifan menghampiri Luhan. “Sudah kubilang aku akan langsung ke dorm. Kenapa malah datang kesini?”

“Terjadi sesuatu? Ini hari Minggu, Yifan. Kenapa kau datang ke sekolah?” tanya Luhan.

Yifan merangkul bahu Luhan dan mereka berjalan keluar dari galeri tersebut. Well, ini memang hari Minggu. Tapi cukup beruntung karena Ahn Ssaem biasanya tetap datang ke sekolah untuk mengurus beberapa lukisan. Selain itu, Yifan sudah menghubungi Ahn Ssaem sebelumnya dan mengatakan kalau dia akan mengantarkan dua lukisan baru. Ditambah, Yifan terlalu lama berada di rumah, dia perlu pergi keluar sesekali.

Luhan memperhatikan Yifan dengan lekat. “Joonmyeon?”

Yifan meliriknya. “Joonmyeon? Kenapa dengannya?”

“Kau yang memberitahuku, Fan.”

Yifan tersenyum dan menghela nafas. “Euhm, apa yang harus kuberitahu mengenainya, Lu? Kurasa tidak ada yang begitu menarik.”

Luhan mengernyit mendengar ucapan Yifan. Tidak ada yang menarik untuk dibicarakan dari seorang Joonmyeon? Apa dia benar-benar sedang patah hati?

Well, asumsinya benar. Sesuatu telah terjadi diantara Yifan dan Joonmyeon. Kalau tidak, mana mungkin Yifan bersikap seperti ini. Lagipula beberapa bulan sebelumnya, Yifan terlihat begitu berbinar jika membicarakan siswa dari kelas music tersebut. Namun, setelah Yifan dan Joonmyeon menjadi saudara tiri, Yifan seperti kehilangan sinarnya. Terlebih jika mereka membicarakan Joonmyeon. Ditambah semua lukisan Yifan sekarang terkesan sangat gelap. Sahabatnya itu sepertinya benar-benar sedang patah hati.

Luhan menghela nafas panjang. “Kita pergi ke kedai Han Ajjhuma. Aku belum makan siang. Kau sudah makan?”

“Kedai Han Ajjhuma? Belikan aku jjampong, okay?” tukas Yifan sembari menyeringai.

Luhan mendengus. “Kalau jjajangmyeon, kubelikan. Tapi tidak dengan jjampong. Kau beli sendiri saja.”

*****

Haneul menghela nafas. “Sudah kuberikan padanya. Tapi apa kau yakin dengan firasatmu itu? Jika benar, maka Kyuhyun mungkin dalam bahaya,” tuturnya sembari memperhatikan pigura foto dirinya bersama Haesa.

“Sudah kubilang, aku tidak bisa menjamin seratus persen, Han. Tapi rekan kerjaku yang mengurus kasus tersebut, well… bisa dikatakan dia mendapatkan banyak masalah hingga akhirnya dia menyerah atas kasus tersebut. Aku tidak akan memintamu datang ke Jepang dengan berbohong jika situasinya tidak memungkinkan,” jelas Haesa dari seberang telepon.

Haneul ingin mengumpat, tapi Haesa bisa mengadukannya pada ibu mereka. Heck, Walaupun mereka sudah berusia tigapuluhdua tahun, Haesa tetaplah seorang anak yang suka mengadukan saudarany a pada ibu mereka. Sedikit salah cela yang dilakukan Haneul, Haesa bisa menjadikannya sebagai bahan aduan. Terkesan kekanakan.

“Lalu kenapa Appa menerima kasus Seon Hwan kalau begitu? Appa tidak mungkin sembarangan menerima kasus hanya karena bayaran mahal, bukan?” ujar Haneul frustasi. Setelah mendengar penjelasan langsung dari Haesa mengenai kasus Seon Hwan yang ditangani Kyuhyun, jujur saja dia merasa sangat cemas.

“Aku tidak tahu. Kau bisa bertanya langsung pada Appa kalau mengenai hal itu. Dengar Han, aku mungkin sangat kejam pada Kyuhyun karena memainkan perasaannya tapi aku juga tidak ingin melihatnya mendapatkan masalah karena kasus ini. Kudengar persidangannya baru dimulai minggu depan, kau masih mempunyai waktu untuk membujuk Appa atau Kyuhyun melepaskan kasus Seon Hwan.”

Haneul mengusap wajahnya. Kemudian ia duduk di tepi tempat tidur. “Bagaimana aku melakukannya? Apa aku memberitahu mereka tentang apa yang kau jelaskan padaku mengenai kasus itu? Kyuhyun mungkin akan membaca data-data yang kau berikan terlebih dahulu. Setelah itu, dia mungkin bisa memutuskan akan meneruskan kasus Seon Hwan atau tidak. Jika dia menolak kasus tersebut, Appa mungkin akan memberikan kasus itu pada pengacara lainnya. Namun, jika sebaliknya? Aku tidak akan bisa melakukan apapun, Haesa.”

“Kalau begitu, temui dia setelah dia membaca data yang kuberikan. Tanyakan pendapatnya. Bicarakan pada Appa juga. Kau tahu, aku melakukan ini bukan hanya karena Kyuhyun. Tapi demi Appa juga. Mereka bisa melakukan apapun, Han. Tolonglah…”

“Baiklah, akan kuusahakan. Tapi jika Appa dan Kyuhyun.. Hah, mereka berdua itu sangat keras kepala. Aku tidak akan menjamin apapun padamu, mengerti?” tukas Haneul sembari menjatuhkan tubuhnya keatas tempat tidur.

“Uhm, aku tahu hal itu. Kyuhyun sangat keras kepala untuk menungguku bertahun-tahun. Pastikan saja, semuanya dalam kondisi aman, Han. Terutama untuk Appa.”

Haneul memejamkan matanya. “Ya, kau membiarkannya menunggu sangat lama. Adikku benar-benar sangat kejam pada seorang pria yang baik. Selain itu, aku ini seorang dokter, Haesa. Bukan seorang polisi atau petugas keamanan yang bisa menjaga keselamatan semua orang. Tapi akan kuusahakan. Kutelepon lagi nanti.”

Haneul memutuskan sambungan teleponnya. Ia menghela nafas panjang dan menutup matanya menggunakan lengan kanannya. “Dan bodohnya, aku menyukai pria yang menunggu adikku selama bertahun-tahun.”

*****

Kyuhyun menghela nafas sembari memasang dasi hitamnya. Dokter Park sedang berbicara dengan Siwon diambang pintu. Setelah pemeriksaan, Kyuhyun hanya perlu istirahat yang cukup dan selebihnya kondisi tubuhnya tidak mempunyai luka apapun. Hal itu benar-benar sangat ajaib jika mengingat kemarin Kyuhyun jatuh dari kuda yang berlari kencang. Mungkin Tuhan masih baik pada Kyuhyun.

“Terima kasih dokter Park. Akan kupastikan minggu depan, dia kembali melakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ucap Siwon sembari menjabat tangan sang dokter. Kyuhyun melirik pria itu lalu mendengus pelan.

Dokter Park tersenyum dan meninggalkan ruangan pemeriksaan tersebut. Siwon melirik Kyuhyun yang masih memasang dasi. Kemudian Siwon menghampiri Kyuhyun dan memperhatikannya dengan lekat.

Kyuhyun meliriknya. “Jangan melakukan apapun,” ucapnya.

“Melakukan apa?” tanya Siwon.

Kyuhyun menghela nafas dan duduk di meja pemeriksaan. Ia menatap Siwon dengan jengkel. “Memastikan kalau aku akan ke rumah sakit lagi minggu depan. Setelah sidang besok, maka Choi Group tidak perlu bertanggung-jawab atas diriku. Lagipula dokter mengatakan kalau kondisiku baik-baik saja.”

“Oh. Well, kalau begitu aku akan mengatakan pada Pengacara Kang kalau kau harus pergi ke rumah sakit minggu depan. Hanya untuk berjaga-jaga,” sahut Siwon.

Kyuhyun menekan kedua bibirnya agar tidak mengeluarkan umpatan. Siwontersenyum dan meraih dasi Kyuhyun yang baru setengah jadi. Siwon melepaskan simpul setengah jadi itu dan mengulangnya. Kyuhyun mendesah pelan.

“Aku bisa melakukannya sendiri,” ucap Kyuhyun.

“Memberikan jawaban untuk pertanyaan mudah saja, kau masih perlu waktu lama untuk memikirkannya, apalagi memasang dasi,” tukas Siwon.

“Apa kau benar-benar ingin jawabannya?!” Kyuhyun hampir saja berteriak. Tapi dia masih sadar diri kalau dia berada di rumah sakit.

Siwon menatap Kyuhyun dan tersenyum. “Tentu saja.”

Kyuhyun lalu menarik dasinya dari tangan Siwon. Ia meraih jasnya dan menatap Siwon dengan lekat. “Itu adalah kesalahan, Choi Siwon. Tidak seharusnya anda mencium seorang pria. Terlebih pria itu adalah pengacara professional yang sedang mengurus kasus perusahaan anda. Ah, satu lagi. Seharusnya anda mencium seorang gadis, bukan seorang pria. Jadi, saya harap anda tidak akan melakukannya lagi, pada pria manapun. Selamat siang.”

Ketika Kyuhyun hendak pergi, Siwon menahan lengannya agar Kyuhyun tetap duduk di meja pemerikaan tersebut. Kyuhyun berusaha melepaskan lengannya. “Lepaskan, Choi Siwon-sshi. Anda sudah mendapatkan jawaban yang anda inginkan.”

“Well, itu benar. Terima kasih atas jawabanmu, Pengacara Cho,” ucap Siwon sembari merapikan dasi Kyuhyun.

Kyuhyun menahan nafas dan mencengkram jasnya dengan erat begitu Siwon semakin mendekatkan wajahnya pada Kyuhyun. Siwon tersenyum tipis. “Kau tahu, aku bisa memanggil dokter Park dalam waktu kurang dari satu menit jika kau tidak bernafas, Pengacara Cho,” bisiknya.

Kyuhyun kembali bernafas dengan normal. “Apa lagi yang anda inginkan, Direktur Choi? Aku sudah melakukan pemeriksaan dan memberikan jawaban atas pertanyaan konyolmu itu. Sekarang biarkan aku pulang.”

“Tenang saja, Pengacara Cho. Aku akan mengantarkanmu pulang dengan selamat. Aku tidak akan berani melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan pada pengacara professional seperti dirimu,” ucap Siwon dengan tersenyum.

Kyuhyun menghela nafas dan memejamkan matanya sejenak. Kyuhyun sangat tidak menyukai perlakukan Siwon padanya saat ini. Pria itu membuatnya kebingungan hingga tidak tahu bagaimana menghadapinya. “Kenapa kau melakukan ini padaku, Choi Siwon? Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?” gumam Kyuhyun.

Senyuman Siwon menghilang. Ia memperhatikan Kyuhyun dengan baik. Wajah pria dihadapannya ini masih terlihat pucat. Selain itu, Siwon juga melihat kantung mata Kyuhyun yang mulai menghitam. Siwon menyentuh bagian bawah mata Kyuhyun dengan hati-hati.

“Aku ingin kau istirahat dengan baik. Makan dan tidurlah yang teratur, Kyuhyun. Jangan mementingkan kasus-kasus itu daripada kesehatanmu sendiri. Jika kau mengabaikan kesehatanmu, dokter Park mengatakan kau mungkin akan kolaps kurang dari satu minggu.” ucap Siwon pelan.

Kyuhyun membuka matanya dan menatap langsung pada mata Siwon.

Siwon menarik nafas dan mengusap wajah Kyuhyun dengan lembut. “Yang kutakutkan, aku tidak akan berada disisimu untuk membawamu ke rumah sakit jika kau kolaps. Seperti saat kau hampir mati membeku di Pulau Jeju.”

Kyuhyun tidak mengatakan apapun. Kyuhyun tidak bisa membaca apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Siwon ketika mengatakan hal itu padanya. Terlebih selama ini perlakuan Siwon pada Kyuhyun terkesan begitu dingin. Lalu kenapa sekarang pria itu malah sangat memperhatikannya? Terlebih Siwon juga menciumnya.

Kyuhyun menarik nafas dan menghembuskan perlahan. “Apa kau menyukaiku, Siwon? Seperti rasa suka seorang pria pada seorang gadis?”

Kyuhyun tidak ingin bertanya mengenai itu pada Siwon. Tapi Kyuhyun teringat pada Haneul. Selama Kyuhyun mengenal Haneul, pria itu selalu memperlakukannya dengan dingin bahkan cenderung mengabaikannya. Tapi bertahun berlalu, Haneul kembali dari Jerman dan mengatakan kalau dia menyukai Kyuhyun. Siwon juga memberikan perlakuan yang sama pada Kyuhyun seperti yang Haneul lakukan. Jadi, Kyuhyun hanya ingin memastikan.

“Kalau jawabanku “iya”, apa boleh aku menciummu lagi? Tanpa peduli bahwa itu adalah kesalahan?” bisik Siwon.

Kyuhyun memejamkan matanya lagi. Ia menggigit ujung bibirnya. Sekarang ada dua orang pria yang mengatakan pada dirinya kalau mereka menyukai Kyuhyun. Hell, entah apakah di kehidupan sebelumnya Kyuhyun adalah seorang wanita hingga sekarang dua pria itu bisa menyukainya.

“Apa kau benar-benar seorang gay, Siwon?” tanya Kyuhyun lagi.

“Sudah kukatakan, memberikan julukan pada sebuah perasaan cinta itu sangat merendahkan cinta itu sendiri, Kyuhyun. Saat ini, aku hanya tahu kalau aku mempunyai perasaan ini padamu. Terlepas apakah aku seorang gay atau bukan, itu tidak penting,” tutur Siwon.

Entah, tapi Kyuhyun setuju pada penuturan Siwon. Jika dirinya mendapatkan ciuman dari seorang pria atau Kyuhyun mencium seorang pria, lalu apakah dirinya adalah seorang gay? Kyuhyun bukanlah pakar psikologi dalam masalah mencari jawaban atas jati diri seperti itu dan dia bukanlah hakim yang bisa memberikan penilaian hukum terhadap tindakan orang lain.

Kemudian Kyuhyun membuka matanya.

“Bolehkah?” tanya Siwon lembut.

Damn, aku mungkin akan menyesalinya.

Kyuhyun menghela nafas pendek dan mengangguk. Siwon tersenyum. Sebuah senyuman yang sama saat Kyuhyun melihat Siwon tersenyum pada seorang pemuda tadi. Heck, Kyuhyun akan melakukan apapun untuk bisa mendapatkan senyuman itu lagi. Mungkin.

Siwon mengambil satu langkah lebih dekat hingga ia berdiri diantara kedua kaki Kyuhyun yang masih duduk diatas meja pemeriksaan. Tangan kanannya masih mengusap lembut wajah Kyuhyun. Siwon bisa melihat kalau Kyuhyun terlihat menjadi tegang ketika ia lebih mendekatkan wajah mereka. Kemudian Siwon dengan lembut menyentuh bibir Kyuhyun.

Perlahan Kyuhyun memejamkan matanya –untuk kesekian kalinya– ketika ia merasakan bibir Siwon bergerak lembut melumat bibirnya. Kyuhyun juga bisa merasakan tangan Siwon menyentuh punggungnya dan menekan tubuhnya agar lebih mendekat pada Siwon. Tanpa disadarinya, tangan Kyuhyun bergerak mencengkram jaket Siwon dengan erat.

Kyuhyun tidak pernah dicium atau mencium seperti yang dilakukan Siwon saat ini. Pria yang mendekapnya tersebut begitu lihai memanjakan Kyuhyun. Hingga ketika Siwon menjilat bibirnya, sontak Kyuhyun membuka kedua bibirnya dan membiarkan Siwon mendominasinya –memberikan sensasi hangat yang begitu disukai oleh Kyuhyun. Sensasi hangat dari ciuman itu menyebar keseluruh tubuh Kyuhyun. Hingga mungkin saja kalau…

Oh.

Kyuhyun mendesah dalam ciuman Siwon. Ia membuka matanya dan menyadari sesuatu. Mereka masih berada di rumah sakit dan siapa saja bisa masuk kedalam ruangan tersebut dan melihat mereka sedang berciuman. Kyuhyun menghentikan ciuman mereka secara sepihak.

Siwon menarik bibirnya dan menatap Kyuhyun yang mengambil nafas banyak-banyak. Jujur, Siwon merasa sedikit kecewa karena Kyuhyun menyudahi ciuman mereka, tapi ia kemudian Siwon berterima-kasih karena Kyuhyun setidaknya masih cukup sadar untuk menyadari kalau mereka berada di rumah sakit.

Siwon lalu mengambil beberapa langkah menjauh dari Kyuhyun. Siwon menyentuh bibirnya dan tersenyum tipis. Ia melirik Kyuhyun yang berusaha memakai jasnya dengan wajah sedikit memerah.

Siwon mengulurkan tangannya pada Kyuhyun. Pria itu menatapnya dengan lekat. “Kuantar kau pulang.”

Kyuhyun merapikan jasnya dan menghela nafas. Ia lalu menyambut uluran tangan Siwon.

*****

NOTE: Main “layangan” itu gak seru. hahahahahaha…

Music: SM The Ballad – Love Again (Kyuhyun Solo)

Advertisements

57 thoughts on “[SF] Scarface Part 16

  1. Wonkyu nya di part ini daebak bgt ga ngerti lagi mau guling2 rasanya :”””))) dan semoga baik2 aja kyuhun kalo dia benerin nanganin kasus yg setelah choi group aminnnn.
    Sedih liat yifan. Miris amat sih kak idupnya 😭😭😭 huhu

  2. Huwa….kyuhyun, sprtnya jau tak akan pernah bs menolak siwon. Meskipun pkiranmu berusaha menolak sekeras apapun tp nyatanya tindakanmu tak bs menolaknya..
    Semoga kyuhyun baik” saja dan siwon bs selalu melindungi kyuhyun…
    Kali ini joonmyeon yg melihat wonkyu berciuman, sblmnya kyuhyun yg melihat krisho berciuman..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s