[SF] Scarface Part 12

scarface 1

12

 

Joonmyeon masih menundukkan kepalanya, sesekali ia melirik ayahnya yang membaca aplikasi universitas. Ia baru saja memberikan aplikasi yang dicarikan Yifan untuknya. Walaupun Joonmyeon sedikit ragu apakah Ayahnya akan memberikan ijin untuk kuliah di London atau tidak, tapi setidaknya hal tersebut cukup pantas untuk dicoba. Joonmyeon hampir saja menahan nafas ketika Junhyeok selesai membaca aplikasi tersebut dan meletakannya diatas meja. Junhyeok menatap putranya dengan serius.

“Kau ingin pergi ke London?”

Joonmyeon terdiam untuk beberapa detik. Lalu mengangguk.

“Apa alasannya? Sebelumnya kau tidak pernah mengatakan apapun mengenai kuliah di London. Apa kau ingin mengikuti Kev –ah, Yifan? Sara mengatakan bahwa kita harus lebih sering memanggil Kevin dengan nama Yifan,” tukas Junhyeok.

Joonmyeon sedikit membuka mulutnya. Ia hendak mengatakan sesuatu tapi tidak ada alasan yang terpikirkan olehnya. Yifan hanya memintanya untuk memberikan aplikasi tersebut pada ayahnya, tanpa memberitahu apa alasan yang harus diberikan Joonmyeon. Kemudian Joonmyeon menutup mulutnya dan sedikit menunduk.

Junhyeok menghela nafas. “Apa ini karena kau tidak ingin kuliah di Seoul-Dae? Aplikasi ini memang untuk jurusan Bisnis, tapi apa kau yakin ingin pergi ke London?”

Joonmyeon menggigit bibirnya dan membula mulutnya lagi, “Aku tidak akan memberikan alasan apapun. Aku hanya ingin meminta persetujuan Appa. Jadi, katakan saja iya atau tidak,” jelasnya.

“Jika Appa mengijinkanmu pergi ke London bersama Yifan yang akan kuliah di UAL, apa kau akan merasa senang kuliah disana?”

Joonmyeon menggeleng. “Kurasa sama saja. Baik di London atau Seoul, aku akan tetap kuliah jurusan Bisnis, bukan? Jika Appa tidak mengijinkanku, rasanya tidak ada yang berubah.”

“Itu benar. Jadi, untuk apa pergi jauh ke London?”

*****

Yifan membuka pintu kamarnya dan menatap Joonmyeon dengan lekat. Well, sesuai perjanjian mereka, Joonmyeon akan bicara terlebih dahulu dan akan menemui Yifan setelah pembicaraan dengan Junhyeok selesai di kamarnya. Apapun keputusan Junhyeok terhadap aplikasi Joonmyeon, maka akan mempengaruhi keputusan Yifan pada aplikasinya juga.

Yifan lalu mengijinkan Joonmyeon untuk memasuki kamarnya. Ia menutup pintu dan memperhatikan Joonmyeon yang sedang memandangi kanvas lukisannya. Yifan sedang melukis lagi. Setidaknya ia berusaha untuk melukis setelah lukisannya dirusak. Gurunya menginginkan lukisan baru Yifan sebelum bulan Maret. Walaupun bukan untuk dipajang di lobby utama sekolah, setidaknya lukisan Yidan akan di pajang di gallery utama sekolah.

“Lukisan barumu?”

Yifan menggumam pelan lalu menghampiri Joonmyeon. Ia sedikit melirik amplop coklat ditangan Joonmyeon.

“Akan dipajang di gallery utama bulan Maret nanti,” tukas Yifan.

Joonmyeon tersenyum. “Sepertinya mood melukismu sudah kembali. Itu bagus.”

Yifan hanya mengangguk kecil. Sebenarnya ia ingin sekali menanyakan mengenai keputusan Junhyeok mengenai aplikasi London itu. Tapi Yifan akan membiarkan Joonmyeon memberitahunya secara langsung. Selain itu, Yifan juga sesekali melirik kearah tempat tidurnya. Disana terdapat sebuah amplop lainnya untuk aplikasi Kyunghee.

Joonmyeon menatap Yifan yang membuat pemuda China-Kanada tersebut sontak menoleh berfokus pada Joonmyeon. Joonmyeon masih tersenyum. Ia menghela nafas lalu menyodorkan amplop yang dibawanya pada Yifan.

“Kau masih menyimpan aplikasi Seoul-Dae milikku?”

Yifan menghela nafas panjang lalu ia mengambil aplikasi Seoul-Dae Joonmyeon di laci meja belajarnya. Kemudian Yifan memberikannya pada Joonmyeon dan ia mengambil aplikasi London dari tangan Joonmyeon.

“Well, Kyunghee tidak terlalu buruk,” tukas Yifan.

“Tapi UAL lebih baik. Pergi saja, jangan membuang kesempatan yang diberikan padamu. Terlebih hanya karena diriku. Pergilah ke London dan kembali ke Seoul. Kita masih bisa bertemu di waktu liburan. Kau bisa pulang, atau kami bisa menemuimu di London sekedar untuk jalan-jalan,” tutur Joonmyeon.

“Kami?”

Joonmyeon mengangguk. “Aku, Mom dan Appa. Tapi kalau Appa sibuk dengan pekerjaannya, mungkin hanya aku dan Mom.”

Yifan menghela nafas panjang lagi. “Tapi itu tidak sama.”

“Menurutku sama saja, Yifan. Lagipula…” Joonmyeon menarik nafas lalu menghembuskan perlahan, “ini cukup baik. Maksudku mengenai perasaanmu padaku. Aku mungkin bersikap sangat egois, tapi saat ini hubungan kita adalah saudara. Walaupun hanya saudara tiri. Jadi, kupikir kau harus menghilangkan perasaan itu. Jika kau pergi ke London, kau bisa melupakanku dan mencari seseorang yang lebih baik dan yang menyukaimu juga.”

“Joonmyeon…”

“Kita serahkan aplikasi kita bersama-sama. Seoul-Dae untukku dan UAL untukmu. Okay?”

Yifan menarik nafas dan mengusap wajahnya. Yang dikatakan Joonmyeon mungkin adalah pilihan yang terbaik, tapi Yifan sama sekali tidak menyukainya. Yifan tidak ingin pergi, tapi Joonmyeon mungkin akan tetap memaksanya. Mungkin dengan bantuan Mom, jadi Yifan tidak bisa menolak lagi.

“Kita buat perjanjian saja.”

Joonmyeon mengerutkan dahinya. “Perjanjian?”

“Setahun setelah kita kuliah, jika perasaanku padamu tidak berubah, jika aku tetap menginginkan hubungan yang lebih jauh dari sekedar saudara denganmu, maka aku akan kembali ke Seoul. Tidak peduli dengan UAL atau Mom atau Appa. Aku juga akan mengatakan perasaanku pada orangtua kita, apapun perasaanmu padaku pada saat itu. Tapi kau harus berjanji satu hal padaku.”

Joonmyeon tidak mengatakan apapun. Ia hanya menatap Yifan dengan lekat.

“Sebelum waktu setahun itu berakhir, kau tidak boleh menjalani hubungan dengan siapapun. Kau harus menunggu kabar dariku. Jika perasaanku berubah, aku tidak akan pulang dan menyelesaikan kuliahku dan kau bisa bebas menyukai siapapun. Tapi jika aku kembali, kau harus menerima apapun perasaanku padamu.”

“Ta-tapi bagaimana jika kau kembali dan aku tetap tidak mempunyai perasaan yang sama denganmu? Bukankah hal itu… kau akan membuatku terlihat seperti saudara yang jahat.”

Yifan menggeleng. “Kau tidak pernah menjadi jahat, Joon. Aku yang memaksa perasaan ini tetap ada. Apapun perasaanmu padaku, akan kuterima. Jika kau memang menyukai orang lain, aku harus menyetujui siapa orangnya. Well, aku tidak bisa membiarkan orang lain menyakitimu. Siapapun orang yang kausukai nanti, maka dia harus menjagamu dengan baik. Okay?”

“Lalu bagaimana denganmu? Kau juga harus menemukan orang yang bisa kau jaga, bukan? Dan orang itu bukan diriku,” ucap Joonmyeon lirih.

Yifan tersenyum. Kemudian ia menyentuh pipi Joonmyeon dengan lembut. Cukup beruntung, Joonmyeon tidak menghindari sentuhannya. Perlahan sentuhan tangan Yifan beralih pada telinga Joonmyeon.

“Well, aku harus menemukan orang yang tepat untukmu terlebih dahulu. Tugasku sebagai saudaramu, yang akan berlaku setelah waktu perjanjian kita selesai. Sampai waktu itu tiba, jangan memberikan hatimu pada orang lain. Kita sepakat?”

Joonmyeon menghela nafas. Lagi. Dan ia mulai menyukai setiap sentuhan Yifan pada telinganya, yang sekarang berubah menjadi pijatan lembut pada lehernya. Joonmyeon juga baru menyadari bahwa jarak Yifan padanya sudah terlalu dekat. Pemuda itu berdiri terlalu dekat, hingga Joonmyeon bisa merasakan hembusan nafas dan parfum Yifan. Aroma masulin yang tidak menyengat dengan sedikit citrus dan lavender? Entahlah, Joonmyeon tidak yakin bahwa aroma tersebut tercium enak. Tapi ia menyukai aroma tubuh Yifan.

Hell, ia mungkin sudah mulai gila.

“Okay, kita sepakat. Satu tahun setelah kita masuk kuliah,” bisik Joonmyeon.

Kembali, Yifan tersenyum. Bukan hanya karena jawaban Joonmyeon atas perjanjian mereka, tapi juga karena Joonmyeon merasa nyaman dengan setiap sentuhan Yifan. Itu terlihat dari ekspresi Joonmyeon yang sama sekali tidak gugup saat mereka berada posisi sedekat ini.

“Good, tapi kau mungkin harus mulai berhati-hati. Karena kau mungkin yang tidak akan bisa melupakanku nanti,” Yifan juga berbisik.

Joonmyeon sontak mengambil satu langkah menjauh dari Yifan. Ia menatap Yifan dengan lekat selama beberapa detik, sebelum akhirnya meninggalkan kamar tersebut bersama aplikasi Seoul-Dae miliknya. Yifan menghela nafas panjang dan tersenyum tipis.

Yifan menatap kanvas lukisan barunya. Lukisan untuk Joonmyeon.

Lagipula aku masih mempunyai waktu beberapa bulan sebelum aku pergi ke London.

*****

Luhan menyingkirkan palet dari tangan Yifan untuk mendapatkan pemuda tersebut. Karena setelah duapuluh menit kembali dari ruang guru untuk menyerahkan aplikasi UAL, Yifan mengabaikan Luhan. Benar-benar mengabaikan Luhan sehingga pemuda Xi itu kesal –sangat kesal.

“Jadi, apa aku mendapat perhatianmu sekarang?” tutur Luhan dengan menahan amarahnya.

Yifan menatap Luhan dan tersenyum. Lalu menggeleng. “Tidak, karena perhatianku hanya untuk Joonmyeon.”

Ekspresi wajah Luhan mengerut. “Eck, itu terdengar menjijikkan Wu Yifan. Tapi sudahlah, aku tidak ingin berdebat mengenai itu. Kau akan pergi ke London dan Joonmyeon akan tetap kuliah di Seoul-Dae?”

“Begitulah. Maaf, karena usahamu terbuang sia-sia, Lu.”

Luhan menghela nafas. “Aku tidak masalah, tapi bagaimana dengan dirimu, eoh? Kau yakin bisa pergi?”

Yifan mengangguk. “Tapi kami membuat perjanjian kecil. Hanya saja baru berlaku dua tahun lagi.”

“Perjanjian apa?”

“Tidak bisa kukatakan. Joonmyeon memaksaku bahwa perjanjian ini hanya boleh diketahui oleh kami berdua. Akan kuberitahu jika sudah waktunya, Lu,” tutur Yifan.

Sifat keras kepala Yifan membuat Luhan memukul kepala sahabatnya tersebut. Tapi Yifan sepertinya sudah menjadi gila, karena dia hanya tertawa saja. Luhan mendesis jengkel. “Terserah. Apapun yang terjadi setelah perjanjian itu, kau tidak boleh datang padaku.”

“Eoh? Kita tidak bersahabat lagi?” tukas Yifan.

“Bukan itu maksudku, bodoh! Aku tidak mau membuat dirimu nyaman setelah perjanjian itu berakhir. Apapun hasilnya. Aku tidak ingin melihat seorang Wu Yifan yang patah hati atau berseri-seri atau apapunlah hasilnya. Simpan saja untuk dirimu sendiri, mengerti? Tapi aku tetap sahabatmu. Jadi kau harus memberitahuku detail perjanjian itu nanti. Okay?”

Yifan tersenyum dan mengambil paletnya lagi. “Mengerti, Xi Luhan. Selesaikan lukisanmu, agar kita bisa pulang.”

*****

Kyungsoo menghela nafas panjang. Setelah mendengarkan penjelasan dari Joonmyeon, ia sama sekali tidak mengerti kenapa Joonmyeon juga merelakan aplikasi untuk pergi ke London dan tetap menyerahkan aplikasi untuk Seoul-Dae. Sebenarnya itu adalah kesempatan bagus bagi Joonmyeon untuk sedikit menjauh dari ayahnya.

Selain itu, Kyungsoo juga mulai menyukai saudara tiri Joonmyeon yang bersusah payah membantu temannya itu mencarikan aplikasi lainnya. Kyungsoo merasa kalau Kevin –atau Yifan, heck siapalah namanya itu– sangat perhatian pada Joonmyeon. Kyungsoo juga merasa kalau perhatian Yifan sedikit berlebihan karena mereka adalah orang asing di sekolah tapi saudara di rumah, selain itu mereka juga tidak akrab sebelumnya –tidak pernah saling bicara malah. Yifan seharusnya tidak bersikap seperti itu pada Joonmyeon, kalau…

Ah, Kyungsoo melupakan bahwa Yifan itu sangat menyukai Joonmyeon. Bahkan sudah pernah mencium Joonmyeon.

“Kalian akhirnya akan berpisah. Kisah cinta yang tragis,” gumam Kyungsoo.

Joonmyeon melirik sahabatnya lalu merapatkan mantelnya. Mereka kini sedang berjalan menuju gerbang utama sekolah. Salju masih sedikit turun, jadi suhunya tidak berubah sejak tadi pagi.

“Kisah cinta yang tragis? Kami bahkan bukan…”

Kyungsoo menatap Joonmyeon, “Oh, ayolah. Itu hanya… ungkapan? Jangan terlalu dipikirkan, aku hanya berbicara saja. Lagipula selama dia pergi, kau bisa mencari orang yang kausukai, bukan? Tanpa ada saudaramu yang selalu memperhatikanmu selama duapuluhempat jam selama satu minggu. Itu bagus, bukan?”

Joonmyeon terdiam untuk sejenak. “Menurutmu begitu?”

“Eoh. Mengenai perjanjian yang kau tidak mau ceritakan detailnya itu, well lakukan saja. Satu tahun itu mungkin bukan waktu yang lama, tapi cukup lama untuk memberimu waktu bagi kalian untuk memikirkan bagaimana perasaan masing-masing. Dia bisa saja berubah, bukan?”

Joonmyeon meringis mendengarnya. Well, karena semalam Yifan mengatakan dengan sangat jelas kalau dia akan membuat Joonmyeon tidak bisa melupakannya. Joonmyeon hanya memikirkan kemungkinan yang akan terjadi setelah waktu setahun itu berakhir. Akankah dia bisa tetap pada perasaannya –tidak menyukai Yifan melebihi hubungan saudara, atau Yifan yang mungkin saja berubah dan menganggap perjanjian mereka hanya sebuah mainan anak kecil. Atau kemungkinan lainnya.

Terlalu banyak kemungkinan, pikir Joonmyeon.

“Jadi, apa kau akan ikut dengan kami pergi ke Thailand? Kau tahu, menghindari suhu dingin selama satu minggu?” tukas Kyungsoo.

Joonmyeon tersenyum kecil. “Tidak bisa. Aku harus mempersiapkan untuk ujian masuk universitas.”

“Hey, Kim Joonmyeon! Kegiatan belajar baru dimulai bulan Maret nanti, tapi kau sudah harus belajar? Oh, ayolah. Hanya satu minggu. Tanyakan ini pada Mom baru-mu, okay? Kau bisa meminta bantuan Mom-mu untuk bicara pada Appamu. Otthe?” ujar Kyungsoo.

Joonmyeon menghela nafas. Ia sangat yakin kalau Appanya akan langsung menolak, tapi dengan bantuan Sara, mungkin saja.

“Baiklah, akan kutanyakan. Tapi aku tidak menjanjikan apapun, okay?”

Kyungsoo tersenyum dan mengangguk. “Assa!! Kita makan di kedai Bibi Jang dulu, ya? Aku ingin makan ddeobokki.”

*****

Haneul berjalan memasuki gedung firma hukum milik ayahnya. Setelah beberapa hari di Jepang karena paksaan Haesa, akhirnya dia bisa pulang juga. Haneul juga cukup beruntung pihak rumah sakit memberikan ijin cuti beberapa hari walaupun dia adalah dokter baru. Jujur saja, Haneul merindukan Kyuhyun selama di Jepang tapi dia tidak bisa menghubugi pria itu secara langsung karena Haesa terus saja menempel padanya. Hal itu juga membuat Haneul merasa tidak nyaman menyebut nama Kyuhyun dihadapan Haesa.

Jadi, Haneul harus bersabar untuk tidak terlalu merindukan Kyuhyun. Walaupun akhirnya hari ini dia pergi ke firma hukum untuk bertemu dengan Kyuhyun. Padahal ia baru saja mendarat tiga jam lalu.

Haneul berpapasan dengan Hyukjae. Ia tersenyum tipis, tapi Hyukjae tidak merubah ekspresinya sama sekali. Pria Lee itu malah menatapnya dengan jengkel. Well, Haneul tidak peduli.

“Ini belum makan siang, bukan? Bagaimana kalau kita makan siang?” ujar Haneul.

Hyukjae menatap lekat. “Yang kau maksud dengan kita itu termasuk Kyuhyun?”

Haneul menyeringai dan mengangguk. “Aku, kau, Kyuhyun dan mungkin beberapa pengacara atau staff yang ingin ikut.”

“Aku dengan senang hati menerima tawaranmu itu, Haneul-sshi. Tapi sayang sekali, Kyuhyun tidak bisa ikut,” ujar Hyukjae.

Haneul mengernyit. “Kenapa? Apa dia sedang banyak pekerjaan? Kudengar dari Appa, dia akan menjalani sidang terakhir untuk kasus yang sedang ditanganinya hari Senin. Dan sidang untuk kasus baru, sekitar tiga minggu lagi. Jadi, seharusnya dia tidak terlalu sibuk sekarang ini.”

Hyukae mengernyit ketika Haneul menyebut jadwal persidangan Kyuhyun.

“Woah, kau tahu banyak mengenai jadwal sidang Kyuhyun. Apa kau juga bertanya pada ayahmu mengenai kegiatan pribadi Kyuhyun diluar kantor? Kalau iya, seharusnya kau tahu dimana Kyuhyun sekarang,” sahut Hyukjae –sedikit sarkastik.

“Kyuhyun tidak di kantor sekarang?Apa dia sakit atau hal lainnya?”

Hyukjae menghela nafas panjang. “Mungkin kau tidak harus tahu, Haneul-sshi. Jadi, bisa kita pergi sekarang? Haejin-ah, ayo pergi makan siang!” serunya yang meninggalkan Haneul yang kebingungan.

Haejin melirik Haneul untuk beberapa detik lalu mengejar Hyukjae. Haneul menghela nafas panjang dan berlari mengejar Hyukjae dan Haejin.

“Hey, Lee Hyukjae! Katakan padaku, kenapa Kyuhyun tidak di kantor? Dia sedang sakit? Atau dia sedang pergi ke suatu tempat? Yak, Lee Hyukjae!!”

*****

Changmin menyelesaikan dokumen terakhir untuk hari ini. Ia menghela nafas panjang lalu mengatur beberapa dokumen dan memanggil sekretarisnya untuk mengambil dokumen tersebut untuk ditindak-lanjuti.

Changmin menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya untuk beberapa detik. Kemudian ia mengangkat tangan kirinya dan melihat jam dipergelangan tangannya. “Tidak akan sempat pergi ke Ansan. Heck, Siwon akan membunuhku nanti,” gumamnya.

Sebenarnya hari ini, Changmin dan Siwon akan pergi berkuda di Ansan. Tapi rencana itu berubah ketika Kakek mereka mengatakan bahwa Changmin harus mengurus beberapa dokumen terkait proyek baru dan Jinri akan ikut pergi ke Ansan. Pada akhirnya, Siwon pergi dengan adik dan Kakek mereka.

Walaupun sebelum pergi, Siwon mengirimkan pesan padanya untuk segera menyusul ke Ansan setelah dokumennya selesai. Tapi nyatanya, terlalu banyak dokumen yang harus dikoreksi dan ditanda-tangani. Sekarang ini sudah pukul satu siang, jika Changmin pergi sekarang, mungkin dia baru sampai menjelang makan malam. Terlebih hari ini adalah hari Jumat, jalanan pasti macet sekali.

Changmin mengeluarkan ponselnya dari saku dalam jasnya dan menghubungi nomor Siwon.

“Yak! Kau sudah dimana?”

Teriakan Siwon adalah hal pertama yang didengar Changmin. Pria Shim itu menghela nafas panjang. Sepupu Choi-nya sepertinya sangat kesal sekarang ini, entah apa yang terjadi di Ansan.

“Aku masih di kantor. Baru selesai menanda-tangani dokumen terakhir. Aku tidak akan bisa pergi ke Ansan. Kalau aku pergi, pasti baru sampai menjelang makan malam. Kalian mungkin sudah pulang,” ujar Changmin.

“Mwo?!! Yak, Shim Changmin! Sudah kukatakan untuk segera kesini. Kau bisa pergi dengan helicopter milik Kakek. Lagipula Kakek mengatakan bahwa kami akan menginap. Jadi, sebaiknya kau cepat datang kesini!!”

Changmin sedikit menjauhi ponselnya untuk menghindari teriakan Siwon. Changmin mengusap wajahnya. “Kakek tidak akan memberikan ijin. Lagipula kenapa aku harus pergi? Disana ada Jinri, bukan? Kau tidak berdua saja dengan Kakek. Selain itu, kau bisa pulang sendiri, jika tidak ingin menginap.”

“Kalau hanya Jinri dan Kakek mungkin tidak apa-apa. Tapi Kakek mengajak Cho Kyuhyun!”

Sontak Changmin menegakkan tubuhnya. “Hehh? Cho Kyuhyun?! Kakek mengajak Pengacara Cho? Kenapa?”

“Aku tidak tahu! Tapi sepertinya Kakek ingin menjodohkan Jinri dengan Cho Kyuhyun. Ah.. aku tidak tahu!! Tapi sebaiknya kau cepat datang kesini, Shim Changmin!”

Changmin mengernyit. Sepertinya sikap Siwon pada Kyuhyun kembali berubah. Saat Kyuhyun menghilang bersama Kakek mereka, Siwon terlihat sangat khawatir tapi kenapa sekarang Siwon bersikap dingin –bahkan sekarang terkesan sangat tidak menyukai keberadaan Cho Kyuhyun.

“Hey, Choi Siwon. Ada apa dengan sikapmu itu, eoh? Kemarin kau khawatir sekali dengan Pengacara Cho, tapi kenapa sekarang kembali bersikap dingin saat membicarakannya. Kau bahkan terkesan sangat membenci kehadirannya sekarang ini.”

Changmin mendengar helaan nafas Siwon.

“Aku tidak tahu. Aku tidak menjelaskannya lewat telepon, jadi sebaiknya kau kesini, okay. Pakai saja helicopter Kakek. Aku yang akan bicara pada Kakek. Mengerti? Dalam dua jam kau sudah harus sudah sampai di Ansan!!”

Kemudian sambungan teleponnya terputus. Changmin menatap layar ponselnya dengan mengerutkan kening. “Dia terdengar seperti seseorang yang… Ah, sudahlah. Tapi Kakek ingin menjodohkan Jinri dengan Cho Kyuhyun? Sejak kapan Kakek terlibat masalah pernikahan? Dan kenapa harus Cho Kyuhyun?”

Changmin menghela nafas panjang dan tersenyum. Lalu ia berjalan keluar ruangannya. Well, setidaknya hari ini dia bisa menikmati fasilitas yang hanya dinikmati oleh Kakeknya seorang. Bahkan semua saudara sepupunya yang lain saja tidak pernah diperbolehkan menaiki helicopter Choi Group.

Sepertinya akan ada peristiwa menarik di Ansan.

*****

Satu hal yang ditemui Changmin setelah turun dari helicopter adalah ekspresi Kakeknya yang terlihat tidak senang. Changmin pikir Siwon yang akan menyambutnya di helipad, tapi ternyata Kakeknya sendiri. Changmin menghampiri Choi Daehan lalu membungkuk.

“Halo Kakek,” Sapa Changmin dengan menyeringai.

Choi Daehan menghela nafas panjang. “Ini adalah pertama dan terakhir kalinya. Mengerti?” ucapnya.

Changmin mengernyit tapi ia langsung bisa mengerti apa maksud sang kakek. Changmin menyeringai lalu berjalan bersama kakeknya kedalam rumah besar dihadapan mereka.

“Well, salahkan cucumu itu. Aku sudah mengatakan tidak bisa datang, tapi dia memaksa. Lagipula aku ini juga cucumu, Kek. Kenapa tidak boleh memakai fasilitas itu? Apa karena aku bukan Choi?” tukas Changmin.

Choi Daehan sontak memukul kaki Changmin dengan tongkat berjalannya. Changmin meringis karena tongkat itu mengenai tepat tulang keringnya, jadi rasanya sangat sakit.

“Jangan mengatakan hal konyol, Shim Changmin. Ibumu adalah anakku, jadi kau tetaplah seorang Choi. Begitu pula dengan semua cucu serta cicitku. Mengerti? Atau aku harus memukulimu, eoh?”

Changmin tertawa kecil lalu merangkul bahu sang Kakek. Well, Choi Daehan mungkin terkadang bisa sangat menyeramkan sekaligus menyebalkan tapi beliau tetaplah seorang Kakek yang menyayangi keluarganya.

“Aku mengerti, Kek. Tapi jangan memukul kakiku lagi. Kudengar Kakek mengundang Pengacara Cho. Jadi, apa rencana Kakek sekarang? Kemarin menculiknya, sekarang mengajaknya berkuda. Terlebih dengan Choi Jinri. Kakek ingin menjodohkan mereka, ya?” sahut Changmin.

Choi Daehan melirik Changmin. “Siwon mengatakannya padamu?”

“Tidak sepenuhnya mengatakan seperti itu. Tapi benarkah?” tanya Changmin penasaran.

Choi Daehan menghela nafas panjang. Kini mereka sudah berjalan sampai kedalam rumah. Keduanya melewati beberapa ruangan sebelum akhirnya menuju kesalah satu pintu keluar arah lapangan pacuan kuda dimana Jinri, Siwon dan Kyuhyun masih berkuda. Well, sebenarnya Kyuhyun hanya lebih sering melihat kedua Choi itu berkuda.

Choi Daehan menatap Kyuhyun yang hanya mengusap kuda berwarna coklat bernama Piere. Sedangkan Jinri dan Siwon sepertinya masih berlomba beberapa putaran. Changmin melepaskan rangkulannya.

“Jadi, benar?”

“Cho Kyuhyun adalah pria baik. Awalnya saat Kakek dengar Siwon akan dijodohkan dengan Cho Ahra, setidaknya itu adalah hal bagus. Tapi lagi-lagi saudaramu itu menghancurkan rencana tersebut. Kakek hanya memikirkan cucu perempuan terakhir Kakek. Siwon, kau dan Taemin bisa mencari pasangan sesuai keinginan kalian. Tapi untuk Jinri, setidaknya dia harus mendapatkan laki-laki baik. Seperti apa yang didapatkan Sooyoung,” jelas Choi Daehan.

Kali ini giliran Changmin yang mendesah. “Jika itu rencana Kakek, aku rasa tidak masalah. Tapi bukankah Kakek juga harus memikirkan Siwon? Kakek tahu, bagaimana hubungan Siwon dan Cho Kyuhyun, bukan? Mereka tidak saling membenci, tapi tidak juga saling menyukai. Terlalu banyak yang terjadi sebelumnya,” tukasnya.

“Mengenai di Pulau Jeju?”

Changmin melirik Kakeknya. Sedikit terkejut tapi jika dipikir lagi apa yang tidak diketahui oleh Kakek mereka –Choi Daehan. Changmin mengangguk.

“Saat itu mereka tidak saling mengenal, tapi itu membuat hubungan mereka menjadi seperti ini. Mungkin jika mereka tidak bertemu di Jeju, hanya bertemu sekali waktu pertemuan perjodohan untuk Cho Ahra, rasanya keduanya masih bisa berhubungan baik. Kakek tahu sendiri bagaimana sikap cucu Kakek yang bernama Choi Siwon itu.”

Choi Daehan menatap Changmin. “Lalu bagaimana dengan lelucon kalau Siwon itu adalah gay? Kau yang menyebarkannya?”

Sontak Changmin menatap Choi Daeha dengan kening berkerut. “Eh? Yang benar saja. Siwon sendiri yang mengatakan lelucon itu. Aku hanya kebetulan menceritakannya pada Sooyoung yang mungkin didengar oleh orang lain dan itu bukanlah kesalahanku. Tapi itu hanya lelucon, Kakek. Setidaknya aku berpikir seperti itu.”

Choi Daehan mengernyit. “Kau pikir seperti itu? Jadi, Siwon benar-benar…”

“Haruskah kita membahas orientasi seksual cucu Kakek yang sangat menyebalkan itu? Oh, ayolah.. Aku datang bukan untuk ini. Well, jika Kakek ingin menjodohkan Kyuhyun dengan Jinri, mungkin aku bisa mendukung rencana itu. Tapi aku tidak ingin ikut campur. Bahas masalah itu dengan Siwon saja, okay?”

Choi Daehan tidak mengatakan apapun selain mengerutu seperti pria tua lainnya. Changmin mendesis pelan. Rasanya adalah sebuah kesalahan untuk datang ke Ansan. Setidaknya dia bisa pergi ke Bar sendirian tanpa Siwon yang membuntutinya dan mengaturnya ini-itu.

“Kakek, bisakah aku makan dulu sekarang? Aku lapar sekali.”

*****

Joonmyeon merapatkan hoodie mantelnya ketika salju kembali turun. Hari sudah semakin sore dan suhu semakin turun. Hell, mungkin seharusnya Joonmyeon menolak ajakan Kyungsoo untuk pergi ke toko buku setelah dari kedai Bibi Jang. Joonmyeon menghela nafas dan mempercepat langkahnya. Ia ingin sekali minum coklat panas sebelum makan malam.

Ketika salju turun semakin banyak, Joonmyeon mulai berlari. Tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat Yifan berdiri didepan pintu gerbang rumah mereka. Sepertinya Yifan belum masuk kedalam rumah, karena ia masih membawa tas ranselnya.

Joonmyeon memperhatikan Yifan yang sedang mendengarkan music, tidak memperdulikan suhu dingin dan salju yang turun semakin banyak. Joonmyeon lalu menghampiri Yifan.

“Kenapa tidak masuk?”

Yifan sontak membuka matanya dan melepas satu earphone-nya. Ia tersenyum pada Joonmyeon. “Perintah Mom. Kita harus pulang bersama-sama. Aku melihatmu pergi dengan temanmu yang waktu itu datang. Jadi, kupikir akan menunggumu sampai kau pulang. Kau dari mana? Setidaknya, jika Mom bertanya aku…”

“Apa kau bodoh?!” seru Joonmyeon.

Yifan terdiam dan senyumannya menghilang. Joonmyeon terlihat marah padanya. Well, sangat marah.

“Kau itu bodoh atau tidak pintar, eoh?! Hari ini dingin sekali tapi kenapa kau malah menungguku disini? Sudah berapa lama kau berdiri disini, eoh?” seru Joonmyeon. Wajahnya kini semakin memerah karena udara dingin dan emosinya yang naik.

Yifan masih menatap Joonmyeon dengan lekat. “Kurasa tiga jam. Kita keluar dari sekolah pukul setengah dua dan sekarang jam lima lebih.”

“Tiga jam? Kenapa tidak menghubungiku?! Kenapa tidak bilang kalau kau akan menungguku?! Aku bisa saja pulang lebih cepat,” ujar Joonmyeon –suaranya masih terdengar marah.

“Aku tidak punya nomor ponselmu. Kita tidak pernah saling bertukar nomor ponsel, bukan? Kupikir kau tidak akan pergi lama, jadi…”

“Berikan ponselmu!” Joonmyeon terdengar memerintah dan Yifan mengeluarkan ponselnya.

Joonmyeon dengan cepat mengambil ponsel tersebut dan menyimpan nomor ponsel miliknya. Ia juga menghubungi nomornya tersebut. Setelah terdengar nada dering, Joonmyeon lalu memutuskan sambungan telepon dan mengembalikan ponsel itu pada Yifan.

“Kita sudah punya nomor ponsel masing-masing. Tadi aku pergi ke kedai Bibi Jang untuk makan ddeokbokki lalu pergi ke toko buku untuk menemani Kyungsoo. Ayo masuk kedalam. Kau pasti sudah kedinginan,” tukas Joonmyeon yang langsung berjalan masuk.

Yifan masih berusaha mencerna kejadian tadi. Joonmyeon yang marah padanya karena menunggunya pulang. Well, seharusnya Yifan yang marah pada Joonmyeon bukan? Tapi Yifan malah merasa sangat senang. Setidaknya Joonmyeon marah padanya karena perhatian padanya. Itu adalah hal bagus.

“Wu Yifan, sedang apa kau disana? Cepat masuk!!” seru Joonmyeon yang sudah berada di depan pintu.

Yifan tersenyum lalu berjalan masuk.

*****

Joonmyeon menghela nafas panjang sebelum ia memasuki area dapur. Ia melihat Sara sedang membuatkan coklat panas untuknya dan juga Yifan. Well, jujur saja sepertinya berat badan Joonmyeon sudah bertambah karena hampir setiap hari meminum coklat panas. Joonmyeon mungkin harus kembali pergi ke gym untuk menjaga berat badannya. Ia tidak mau terkena obesitas nantinya karena dimanjakan oleh Sara dengan coklat panas.

Sara tersenyum pada Joonmyeon ketika pemuda itu menghampirinya. “Yifan masih dikamarnya?”

“Sepertinya,” ucap Joonmyeon.

Sara lalu menaruh satu mug dihadapan Joonmyeon. “Sudah menyerahkan aplikasinya?” Joonmyeon meminum coklat panas tersebut lalu mengangguk. Sara masih tersenyum. “Dan kalian baru masuk lagi bulan Maret, bukan?”

“Iya.”

Sara mengangguk kecil dan masih memperhatikan Joonmyeon yang menghabiskan coklat panasnya. “Apa kau sudah mempunyai acara, Joon? Maksud Mom untuk liburan sebelum kalian masuk bulan Maret.”

Joonmyeon menurunkan mugnya. Ia menatap Sara lekat. “Kenapa?”

“Mom ingin mengajakmu dan Yifan ke Guangzhou untuk bertemu dengan keluarga disana. Appamu mungkin tidak bisa ikut karena pekerjaannya, tapi apa kau bisa?” ucap Sara.

“Eh? Ke Guangzhou? Ka-kapan?”

“Rencananya hari Senin. Appa sudah mengurus visa untukmu. Mungkin kita akan berada disana selama satu minggu. Kau sudah punya rencana lain?” tanya Sara.

Joonmyeon kini menatap mugnya. “Tidak, tapi temanku mengajak liburan ke Thailand. Aku belum mengatakan apapun karena aku ingin bertanya dulu pada Mom dan Appa.”

Sara terdiam sejenak. “Oh. Kapan? Kalau bersamaan dengan rencana ke Guangzhou….”

Joonmyeon menarik nafas lalu mengangkat kepalanya. Ia menatap Sara. “Untuk tanggal keberangkatannya belum dipastikan. Mungkin dua minggu lagi atau awal Februari nanti. Tapi aku bisa ikut ke Guangzhou, lagipula ini adalah acara keluarga, bukan?” ujarnya sembari tersenyum.

Sara ikut tersenyum. Ia lalu mengusap rambut Joonmyeon lembut. “Mom tidak akan melarangmu pergi ke Thailand bersama teman-temanmu. Mom akan membicarakan ini dengan Appamu. Mom akan mengusahakan agar kau bisa pergi karena kau berhak untuk liburan sebelum sibuk mempersiapkan ujian masuk universitas.”

Joonmyeon tersenyum. “Terima kasih, Mom.”

“Sama-sama, sayang. Dan sepertinya Yifan masih lama, jadi bisakah kau memberikan coklat panas ini untuknya? Mom harus memasak untuk makan malam,” Sara menyodorkan satu mug lainnya untuk Yifan.

*****

Malam ini, Haneul kembali ke rumah sakit. Walaupun tadi siang dia tidak bisa bertemu dengan Kyuhyun yang tidak diketahui dimana keberadaannya sekarang. Heck, Hyukjae benar-benar menutup rapat mulutnya. Haneul tidak punya pilihan selain menunggu Kyuhyun kembali. Mungkin besok atau Minggu, Haneul bisa menemui Kyuhyun di rumahnya atau mereka bisa bertemu. Setidaknya Haneul mempunyai alasan untuk mereka bisa bertemu dan bicara.

Selain itu, mengenai pertemuannya dengan Haesa di Jepang benar-benar sebuah hal tidak terduga. Haneul menganggap bahwa saudari kembarnya hanya meminta bantuan untuk hal yang tidak terlalu penting. Nyatanya, pertemuannya dengan Haesa membuat Haneul harus berada di Jepang lebih lama. Bahkan dia harus kembali ke Jepang bulan depan.

Terlalu merepotkan menurutnya. Padahal Haesa bisa saja kembali ke Seoul untuk beberapa waktu dan meninggalkan pekerjaannya sementara. Tapi adiknya itu sekeras karang dan Haneul tidak ingin mendengar ocehan Appa dan Eomma mereka hanya karena dia tidak menuruti keinginan Haesa.

Haneul mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan untuk Kyuhyun.

Bisa kita bertemu? Besok atau Minggu. Kumohon.

Haneul.

Haneul membaca pesan singkat tersebut sebelum menekan ‘send’. Ia tidak terlalu yakin dengan jawaban Kyuhyun. Tapi paling tidak dia sudah melakukan usaha dan jika tidak berhasil? Well, Haneul terpaksa menemui Kyuhyun di kantor hari Senin setelah persidangan.

*****

Yifan mengetuk pintu kamar Joonmyeon. Ia tersenyum tipis ketika pintu kamar terbuka. Joonmyeon menatap Yifan dengan bingung. “Ada apa?”

“Ke kamarku sebentar,” ucap Yifan yang kemudian langsung kembali ke kamarnya.

Joonmyeon menatap punggung Yifan untuk beberapa detik sebelum akhirnya ia menghela nafas panjang. Ia lalu berjalan keluar dan menutup pintu kamarnya. Joonmyeon berjalan menuju kamar Yifan. Pintunya tidak tertutup menandakan Joonmyeon harus langsung masuk.

Joonmyeon membuka pintu lebih lebar dan melihat Yifan berdiri dekat sebuah kanvas. Yifan masih tersenyum dan memberi isyarat untuk Joonmyeon masuk ke kamarnya. Joonmyeon menarik nafas lalu berjalan masuk. Ia memperhatikan Yifan lalu beralih pada kanvas didekat Yifan.

Joonmyeon terdiam.

“Untukmu. Aku ingin memperlihatkannya padamu sebelum kubawa ke sekolah nanti,” ucap Yifan.

Joonmyeon menatap Yifan lalu kembali menatap lukisan tersebut. Lukisan yang hampir sama dengan lukisan Yifan yang dirusak. Tapi kali ini lukisannya benar-benar terlihat seperti lukisan malaikat, bukan semata lukisan ilusi.

“Lukisan ini untukku? Tapi…”

Yifan lalu berdiri disamping Joonmyeon dan menatap lukisan teersebut. “Sebenarnya lukisan yang kemarin adalah lukisan untukmu. Itulah kenapa aku sangat terpukul ketika lukisan itu dirusak. Tapi aku berhasil membuat lukisan yang baru dan kau adalah orang pertama yang melihat lukisan ini. Kau menyukainya?”

Joonmyeon tidak mengatakan apapun selama beberapa saat. Ia hanya memandangi lukisan tersebut. Yifan juga tidak bergerak sedikitpun disisi Joonmyeon. Walaupun ia merasa sedikit gugup mengenai reaksi Joonmyeon terhadap lukisannya.

“Apa boleh aku menyentuhnya?” tanya Joonmyeon pelan.

Yifan menatapnya dan tersenyum. “Hati-hati, catnya belum kering sepenuhnya.”

Perlahan Joonmyeon mendekati lukisan tersebut dan mengulurkan tangannya. Dengan hati-hati, ia menyentuh lukisan tersebut. Joonmyeon masih bisa merasakan cat yang basah, tapi cukup beruntung lukisannya tidak rusak. Joonmyeon tersenyum tipis.

“Ini bagus sekali. Pantas saja kau mendapatkan undangan UAL,” ucap Joonmyeon.

Yifan menghela nafas lega. “Aku hanya beruntung. Banyak siswa di kelas Seni yang lebih pantas mendapatkan undangan UAL tersebut.”

Joonmyeon menoleh dan menatap Yifan. “Kudengar kelas Seni mendapatkan tiga undangan khusus. Jadi, selain dirimu, siapa lagi yang mendapatkannya?”

“Euhm… Park Chanyeol dari anggota Dewan Siswa dan seorang siswi. Aku tidak tahu siapa namanya,” jawab Yifan.

“Luhan tidak mendapatkannya? Bukankah lukisannya dipajang di lobby utama?”

Yifan kembali tersenyum. “Luhan langsung menolaknya. Ia yakin kalau ayahnya mungkin akan melakukan apapun untuk mencegah Luhan pergi ke London. Jadi, sebelum lulus, Luhan akan mencari cara untuk lepas dari kewajibannya pada ayahnya.”

Joonmyeon mengernyit. “Kenapa? Apa orangtuanya…” kemudian Joonmyeon terdiam. Sepertinya kasus Luhan, hampir sama dengan kasusnya. Tapi sepertinya Luhan masih cukup beruntung daripada dirinya. “Jadi, Luhan memilih universitas apa?”

“Dia sama sekali belum memasukkan aplikasi universitas. Pilihannya antara dia kembali ke Beijing setelah lulus, atau Luhan berusaha sendiri selama di Seoul,” tutur Yifan.

Joonmyeon menghela nafas. “Dia tidak berbeda dariku, tapi dia lebih beruntung dariku.”

“Luhan mempunyai pilihan, begitu juga denganmu, Joon. Kalian mungkin tidak berbeda, tapi kalian pun tidak sama. Luhan telah membuat pilihannya sendiri, begitu juga denganmu. Tidak ada dari pilihan yang kalian buat adalah benar atau salah. Kalian berdua mengikuti apa yang menurut kalian adalah hal yang benar untuk dilakukan,” jelas Yifan.

Joonmyeon tersenyum. “Kau lebih muda dariku, tapi sepertinya kau lebih tahu bagaimana menyikapi setiap masalah yang terjadi.”

“Menjadi dewasa bukan perkara soal angka usia. Aku rasa dengan semua yang pernah terjadi selama kehidupanmu selama ini dan bagaimana kau mengatasi setiap masalah adalah jawaban menuju kedewasaannya. Kita hanya berbeda beberapa bulan, tapi apa yang telah kita lalui yang membuat perbedaan itu terasa jauh. Aku masih cukup muda, Joon, begitu juga denganmu. Ah, sudahlah. Kita harus berhenti bicara seperti ini, rasanya aku malah bertambah tua,” sahut Yifan.

Joonmyeon tertawa kecil. Rasanya hari ini ia menemukan sisi lain dari seorang Wu Yifan. Bahkan sepertinya kemarahannya saat Yifan menunggunya di depan rumah ditengah udara dingin sudah tidak diingatnya lagi. Joonmyeon malah merasa bersalah pada Yifan.

“Terima kasih, Yifan. Maaf, karena telah membuatmu menungguku tadi sore. Aku seharusnya menemuimu terlebih dahulu sebelum pergi dengan Kyungsoo,” ucap Joonmyeon.

Yifan menggeleng. “Tidak apa-apa, lagipula karena kejadian tadi aku menjadi mendapatkan nomor ponselmu. Pergi tidurlah. Selamat malam, Joonmyeon.”

Joonmyeon mengangguk lalu berjalan keluar. Yifan menghela nafas panjang dan menatap puas dengan lukisan yang telah diselesaikannya. Joonmyeon masih belum pergi dan memandangi Yifan.

Tuhan, kumohon jangan membuatku jatuh padanya.

“Selamat malam Yifan,” gumam Joonmyeon dan kemudian menutup pintu kamar tersebut dengan rapat.

*****

NOTE: Hayo… apa yang terjadi di Ansan?

Advertisements

35 thoughts on “[SF] Scarface Part 12

  1. Eonniiiiiiii…..
    Akhirny update jg :’) . Udah beratus kali aku buka wp eonni utk lihat update-an ini.
    Aku kangen WonKyu dan HanKyu :3 .
    Tp sayang moment mereka malah g adaaaa T_T

  2. sayang sekali wonkyu momentnya dikit banget, jd…tujuan kakek choi mengajak kyuhyun ke ansan krn ingin menjodohkan kyuhyun dng jinri? benarkah itu? dan kenapa siwon sepertinya tdk suka dng hadirnya kyuhyun di ansan atau jng2 siwon…..cemburu???? he..he…he…, ternyata joon gak jd ke london, tp kevin jg gak jd kuliah di seoul. tp mereka membuat perjanjian kan?? ttng memantapkan perasaan masing2, semoga sj perasan mereka gak akan berubah. haneul…kenapa sich kau ngotot sekali??? mau apa coba dia ingin bertemu kyuhyun??? aaaiiisshhhh…….wonkyu momentnya, pleaseeeee

  3. Wonkyu moment nya g da ya!! tapi rasanya g rela bmget klw Kyu d jodohkan dg Choi yg lain,,, kayaknya Wonkyu butuh waktu lama bnget, apalagi mereka sama2 tidak menyadari perasaan mereka!! d tggu bnget kelanjutannya ya!!

  4. Penasaran bgt sama rencana perjodohan kyuhyun dan jinri.
    Ehmmmm kira” gmn reaksi siwonnn yach…
    Chingu di chapter ini knp partnya kyuhyun dikit amat…. hehe
    Btw fighting chingu buat next chapternya….

  5. halooo… aku baru nongol…
    hehehehe….
    aku cuma mau tanya….sebenernya hubungan wonkyu sama kople exo *aku gak tau siapa krna gak di baca* di cerita ini apa yah??? apa aku yg kelewat???
    kenapa gak di pisah ajah ceritanya??? mungkin kalo ada hubungannya seperti cerita wonkyu yg lain ok…
    aku gak tau sih kalo reader lain suka, cuma Ku ga suka, terutama di part ini….
    but itu hak author sih dan pilihan aku sebagai reader yah cuma baca cerita/part yg aku mau ajah…
    dr awal aku jatuh cinta sama karya kamu terutama 2face sama 1 lg lupa…
    semangat ajah !!!

  6. Hahaha ternyata dugaanku salah ya? aku kira kakek Choi mau menjodohkan Siwon sma Kyuhyun,tpi mlh Kyuhyun sma Jinri -_-
    duuh ~ kasian dong Siwon nya,nnti dibikin gondok sma KyuJin /? :3 kkk
    tapi tapi ~ sepertinya bakal ada kejadian nih di Ansan,entah itu apa,yg pasti tak tunggu aja deh hihi
    Diera-yaaaaa!! eung ~ sepertinya aku cma mau komen soal WK aja nih,haha soalnya bingung mau komen gmana soal KrisHo nya T.T *plakk
    oke keep fighting buat lanjutin FF lainnya ya ^^

  7. Akhirnya update juga udah lama nungguin ff ini 😄😊
    Moment wonkyu nya gaada padahal nunggu nya part wonkyu nya doang.
    Hehehe oke dilanjutnya ya eon jangan lama² updatenya😁

  8. huaaaa akhirnya update juga…. Alhamdulillah… eonn hambir setiap hari aku selalu mengunjungi eon heheheh…. berharap ada ff baru,,,, setelah buka tadi pagi haahahahah seneng bangettt…. trus capcus deh baca…. sedikit kecewa part wonkyunya dikit bangettt…. heheh tapi gak papa eon… eonni udah update ajah aku udah seneng bangetttt terima kasih yahhh eonn…. Semangattttt

    seneng bangettt…. semoga ajah kakek choi berubah pikiran heheheheh….

  9. Aku baru sempat baca kaaaak, jadwal kuliah semester 6 agak sedikit kacau. Jadi kudu konsen atur jadwal dulu :’)

    Lhoooo??? Kok jadi Kyu-Jinri gini?? ToT
    Aaaak~ penasaran apa aja yg udah terjadi di Ansan!
    Di part depan di jelasin kan? Atau akan menjadi misteri? hahaha
    Duh Chwang memang lucu. Pengen ngebully kan jadinya. Hahaha~
    Aku juga penasaran kenapa Haesa minta Haneul ke Jepang. Ada apa?

    Baca bagian KrisHo, rasanya pengen nyanyi “i’m singing my blueee huhuhu~ ♪”
    Mereka masuk tahap rumit dalam sebuah hubungan. Dengan Joon yg masih ‘denial’ dan Yifan yg berusaha ikhlas dg keputusan Joon. Duuuuh 😦
    Ditunggu kelanjutannya deh kak :’)

  10. Wow…sepertinya joonmyeon udh mulai merasakan apa yg dirasakan yifann omg..’Yu bakal dijodohin sm jinri, kasian siwon, pantesan siwon jadi dingin lagi seperti yg dibilang changmin

  11. Akhirnya di lanjut juga, udh gk ke itung buka ini wp cuma buat ngeliat ini ff di lanjut apa belum …* kekekekekek

    jadi kakek choi mau jodohin jinri sama kyukyu? kirain kyukyu mau d jodohin sama siwon. Cepat2 di lanjut dong jangan lama2 lagi, penasaran banget sama apa yang terjadi antara wonkyu di ansan, semoga akan ada moment mereka berdua yang membuat benih2 cinta mulai muncul …. Cieeeeee … Cieeeeee …* hehehehehheehheh 🙂

    haneul merindukan kyukyu eoh? Haesa minta haneul ke jepang di part sebelum nya, semoga gk rencanain yang aneh2 buat kyukyu …* 🙂

    cepet … Cepet … Di lanjuuuuuuuuuutttttt

  12. Holaaaa…
    aku baru baca2 disini..
    hohoho~
    jujur, pas aku baca ff ini, yang di ngertiin cuman bagian Wonkyu nya doang. yg exo nya kagak di baca .-.
    di bagian ini, ga ada Kyu nya o.O
    tapi penasaran nih, kira2 Siwon gimana ya kalo Kyu beneran jadi ama Jinri?
    oke lanjut eonn.. ^^

  13. Ansan…mngkin akn ada hal bsr yg terjadi.
    Oh ternyata..ternya Jinri yg akn dijodohkon ke Kyuhyun.Aq kira….Siwon…wkwkwk…

    Yifan..Joonmyon..mg aj mrka bs mllalui wktu perjnjian mrka dngn baik.

    Gumawo eonni…

    PS:pingin bc yg BROKEN…

  14. bner nih dugaan..
    kakek choi tuh bakalan ngjodohin kyu sama jinri
    soalnya kakenya tetp pake pmikiran kolot kn??
    perjodohan…
    tapi kenapa jinri dan kyu??
    hadeuh si kake gtw aja cucu nya tuh baru aja mau memulai kisah cintanya sama kyu, walo pada bego sama perasaan masing2 hahahaha
    won sih udh klytn suka
    tapi kyu nya.. dan kyaknya emang wk lambat bgd deh pergerakan kisah asmaranya

  15. Chap ini bnyk exo nya, kyu malah ga nongol sama sekali?? o_O
    wonkyu moment pun jg ga ada huhuhu pdahal kangen….
    Ah seriusan ini kyuhyun mau dijodohin sama jinri? Nah loh siwon gmna tuh kira”

    eonni, sbnernya kapan sih hbungan wonkyu ada perkembangan? Seenggaknya mreka baikkan atau akrab gitu klo emg belum bisa jadian skrng….hahhh

    lanjut dech

  16. yeaiiyy.. update ..
    sayang bgt gak ada wonkyu moment di part ini ..
    junmyeon galau bgt kayaknya sama perjanjiannya ama yifan..

  17. gk tahu dech apa yang terjadi diangsan hanya author dan kyu-won yang tahu

    joon-kevin emang pasangan paling manis

  18. Yah ternyata dugaanku salah, kirain Kakek Choi mau bikin pak boss cemburu aja pake ngundang Kyu kw Ansan ternyata beneran pengen ngejodohin Kyu ma Jinri 😦 But who knows something happen in Ansan hehehehe
    Lagian kakek Choi juga denger candaan kalo pak boss gay kan, harusnya dia liat gimana interaksi Siwon ma Kyu di Ansan. Biar ada titik terang, kakek Choi kan udah senior jadi tau donk kalo cucunya bersikap normal or abnormal kalo di deket Kyu.
    Itu Haneul ngebet banget ya pengen ma Kyu. Kan dia tau kalo Kyu masih lurus belum belok, kalo belok pun nanti ya hanya ma pak boss lah 🙂
    Joonie galau juga yaa hehehehe, mudah2an salah satu pihak bisa jaga perjanjiannya selama setaun itu. Kali aja bener apa kata Kevin, kalo Joonie yg ga bakalan ngelupain Kevin. Cihuyyyy

  19. Andweee!!!
    Choi haraboji, pliiiis jodohin kyunya ama won ajja yah jgan ama jinri ntar siwon tingkahnya makin gak karuan. . huhuhu

    Haah, part ini kyu gak kebagian sma sekali. -___-”
    Bkannya gak suka sih, cma aq msih blom ngeh ama hbgannya wonkyu ama krisho apa. .
    Sejauh yg aq baca dsni, gak ada petunjuk sma skali. 😞😞😞
    Apa aq yang kurang peka yah ama alurnya???

  20. Ga da momen wonkyunya!! Ya knp kake choi pngen jodohin kyu sma jinri,,,aku brharapnya kake choi pnya ide yg lbh gila lgi….hahahahahaahhahahaaa

  21. jadi kakek choi benar-benar mau jodohin kyu sma jinri.. oh noo lalu gimana sama siwon nanti padahal siwon udh mulai suka sama kyu, jangan sampai siwon tambah stress karna nggak bisa dapetin kyu..
    apa haesa merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan kyu sampai maksa haneul ke jepang ? nggak kan ya.. jangan sampai kang bersaudara bikin kyu menderita lagi

  22. Yah kok kyunya di jodohin sama sulli sih…. Apa itu akal2an kakek choi doang buat godai siwon? Apa beneran?
    Sedih deh joon sama yifan harus pisah karena masalah kuliah hixxx smg pas yifan pergi joon menyadari perasaannya hehe

  23. Huwaa….benarkah kakek choi akan menjodohkan kyuhyun dg jinri, sdangkan dia tau hubungan wonkyu sprt apa…
    Sbnernya apa yg direncanakan kakek choi, kalau dia mau menjodohkan kyuhyun dan jinri knp jg mengajak siwon??
    Apakah krisho akan tetap bertahan hingga perjanjian mrk brlaku??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s