[SF] Scarface Part 10

scarface2

10

Ahra memperhatikan Kyuhyun yang sedari tadi terus saja memegangi lehernya. Sejak dua hari yang lalu sikap adiknya begitu aneh, tapi setiap ditanya Kyuhyun akan selalu mengelak dan malah mengalihkan pertanyaaan. Ahra mungkin tahu kalau Kyuhyun tidak suka membicarakan masalah pribadinya, tapi sejak kejadian perpisahannya dengan Kang Haesa, ia menjadi sedikit mengkhawatirkan Kyuhyun.

Pagi ini, Kyuhyun sesekali memegangi bagian lehernya dengan ekspresi wajah tidak nyaman. Ahra menghela nafas panjang dan menaruh cangkir tehnya. Ia menatap Kyuhyun dengan lekat. Ahra sudah tidak bisa menahan diri lagi.

“Kyuhyun, aku tahu kau tidak mau membicarakan masalah pribadimu. Tapi paling tidak, kau bisa mengatakan beberapa hal padaku. Sejak pulang dari bar Heechul hari Senin lalu, kau selalu memegangi lehermu itu. Ada apa? Apa merasa sakit?” tanyanya berhati-hati.

Kyuhyun menatap Ahra dan menggeleng. “Tidak apa-apa, noona. Aku sama sekali tidak sakit. Maaf, jika aku mengkhawatirkan noona.”

“Jangan meminta maaf, Kyuhyun. Aku bertanya bukan karena kau telah membuat masalah. Ayolah, Kyuhyun. Aku adalah kakakmu, tidak perlu menyembunyikan apapun. Well, setidaknya lebih baik bercerita padaku ketimbang Eomma yang memaksamu bicara,” tutur Ahra.

Kyuhyun menunduk menatap cangkir tehnya. Walaupun ia ingin sekali mengatakannya pada Ahra tapi rasanya bukan hal yang tepat. Kyuhyun tidak ingin membuat kakaknya malah semakin khawatir. Well, Kyuhyun tahu persis bagaimana perubahan sikap Ahra padanya sejak kejadian di Jeju. Kyuhyun tidak menyalahkan kakaknya karena dimata Ahra, Kyuhyun akan selalu menjadi adik kecil yang harus dilindunginya –walaupun kini usianya sudah tigapuluh dua tahun.

Kyuhyun menghela nafas dan mengangkat kepalanya. Ia tersenyum tipis pada Ahra. “Aku akan bercerita jika aku sudah menyelesaikannya, noona. Jadi, untuk saat ini jangan terlalu mengkhawatirkanku. Lebih baik noona fokus pada persiapan pernikahan saja, okay. Aku harus ke kantor sekarang.”

Kyuhyun bangkit dari kursinya dan mengambil tas kerjanya. Ahra menatapnya dan hendak protes. Tapi Kyuhyun segera mencium kening Ahra dan berlalu pergi. Ahra yang masih duduk di meja makan pun tidak bisa mengatakan apapun lagi. Kini ia hanya berharap bahwa apapun masalah yang dialami Kyuhyun, bukanlah masalah besar.

*****

Hyukjae mengernyit ketika memasuki ruangan Kyuhyun namun melihat sahabatnya itu malah terlihat tidak fokus dengan pekerjaannya. Hyukjae memang menyadari bahwa sikap Kyuhyun sedikit berubah, tapi Kyuhyun tidak pernah mengatakan apapun setiap ditanya. Hyukjae pun tidak bisa memaksanya untuk bicara.

Kemudian Hyukjae menghela nafas dan menghampiri meja Kyuhyun. Ia melambaikan tangannya dihadapan Kyuhyun, tapi pria Cho itu sama sekali tidak bergerak. Lalu dengan sedikit keras, Hyukjae menaruh beberapa map dokumen diatas dokumen yang tengah dipelajari Kyuhyun –membuat Kyuhyun melonjak terkejut.

Kyuhyun menatap Hyukjae dengan jengkel, tapi Pengacara Lee hanya menyeringai tanpa dosa. “Kau terlihat tidak fokus, Kyu. Ada apa, eoh? Dan jangan mencoba untuk membohongi Lee Hyukjae,” tukas Hyukjae.

Kyuhyun hanya mendengus sembari menyingkirkan dokumen yang dibawa Hyukjae. Ia akan memeriksa dokumen itu setelah dokumen lainnya selesai. Kyuhyun menarik nafas dan kembali fokus membaca dokumen mengenai kasus baru yang akan ditanganinya setelah kasus Choi Inc. selesai.

“Tidak ada apapun, Lee Hyukjae. Aku akan memberikan laporannya setelah menyelesaikannya, okay,” ucap Kyuhyun.

Hyukjae tentu saja tidak percaya dengan ucapan Kyuhyun. Ia lalu menyentuh kening Kyuhyun dan segera menariknya ketika merasa suhu tubuh Kyuhyun tidak tinggi. “Kau tidak sakit. Tapi kau selalu saja terlihat sangat lelah dan melamun. Kau yakin tidak ada masalah? Well, kasus Choi Inc. mungkin memang menguras tenaga dan pikiran tapi bukankah selama ini persidangannya berjalan lancar? Kau juga tidak menemukan bukti-bukti yang membuat Choi Inc. akan kalah.”

Kyuhyun menghela nafas dan menatap Hyukjae dengan sedikit jengkel. “Hyuk, jika aku mengatakan tidak ada masalah apapun maka artinya….”

“Itu artinya kau sedang mempunyai masalah,” sela Hyukjae cepat. Well, ia sudah terlalu mengenal bagaimana sifat dan sikap Kyuhyun selama ini. “Kyuhyun-ah, apa kau tidak menyadari kalau kau itu mudah sekali untuk dibaca? Kau selalu mengatakan sebaliknya dari apa yang sebenarnya terjadi. Jika kau bersikeras mengatakan tidak ada masalah, maka itu artinya masalah besar. Jika kau mengatakan sehat, tapi semua orang bisa melihat kalau kau sakit hanya dari wajah lelah dan pucatmu. Dan jika kau….”

“Hyuk, please!! Jangan terlalu ikut campur dalam kehidupanku. A-aku sangat berterima kasih atas perhatianmu, tapi kau bukanlahkeluargaku. Okay, aku memang mempunyai masalah, tapi aku tidak akan mengatakannya padamu sekarang. Aku akan mengatakannya setelah aku merasa yakin dan masalah ini selesai. Please, ini adalah privasiku, Hyuk,” tutur Kyuhyun.

Hyukjae menatap Kyuhyun untuk beberapa detik sebelum akhirnya menghela nafas berat. “Baiklah. Maaf, jika aku terlalu ikut campur. Tapi itu karena aku mengkhawatirkanmu. Kau bisa datang padaku, kapanpun kau siap untuk bicara. Okay?”

Kyuhyun mengangguk. “Terima kasih, Hyuk.”

*****

Joonmyeon menghela nafas dan mengetuk pintu ruang guru. Kemudian Joonmyeon membuka pintu dan berjalan menuju salah satu meja guru. Well, bukan guru Joonmyeon, tapi guru Yifan –ah, Joonmyeon kini mulai agak terbiasa memanggil saudara tirinya tersebut dengan Yifan dan bukannya Kevin.

Joonmyeon agak membungkuk dihadapan Han Ssaem. “Anda memanggilku, Ssaem?”

Han Ssaem menatap Joonmyeon dan menghela nafas. “Well, kurasa kau berpikir kalau aku memanggilmu karena kejadian minggu lalu…”

“Anda sudah menemukan pelakunya?” tanya Joonmyeon sedikit antusias. Ia sangat berharap kalau pelakunya segera ditemukan. Terlebih dengan situasi Kevin yang masih belum bisa menerima kalau lukisannya dirusak orang.

Han Ssaem menggeleng. “Karena itu, kami tidak menemukan apapun pada rekaman cctv. Tapi ada sesuatu lain yang ingin kutanyakan padamu. Dan rasanya jika bertanya pada Kevin, sangat tidak mungkin.”

“Kenapa? Hal apa yang anda ingin tanyakan?” Kali ini, Joonmyeon merasa gugup.

Han Ssaem menarik nafas dan menaruh sebuah kertas diatas meja –agak dekat dengan posisi Joonmyeon agar pemuda itu bisa membacanya. Well, Joonmyeon tidak terlalu bisa membaca isi kertas tersebut tapi ia bisa melihat namanya, nama Kev –Yifan dan nama kedua orang tua mereka.

“Kau dan Kevin kini bersaudara? Maksudku, mempunyai hubungan keluarga?” tanya Han Ssaem.

Joonmyeon kini bisa menebak kalau kertas itu mungkin kartu keluarga baru. Appanya mungkin baru saja menggirim itu ke pihak sekolah. Joonmyeon menatap Han Ssaem dengan lekat dan mengangguk. Well, tidak mungkin dia akan menjawab tidak, bukan?

Han Ssaem mengangguk paham. “Hubungan kalian tidak buruk? Maksudku dengan hubungan antar dua kelas saat ini, kalian tidak sering bertengkar di rumah atau semacamnya?”

“Tidak, Ssaem. Hubungan kami baik-baik saja. Kevin… saudara yang baik. Well, di sekolah mungkin kedua kelas kami saling bermusuhan, tapi kami tidak harus bermusuhan juga, bukan?” tutur Joonmyeon.

Han Ssaem tersenyum. “Itu benar. Andai saja tradisi permusuhan itu bisa dihilangkan. Tapi guru tidak mempunyai kekuasaan apapun, terlebih keputusan dewan siswa yang lebih berpengaruh pada kalian semua, bukan.”

Joonmyeon terdiam untuk beberapa saat. Sepertinya pihak guru ingin sekali mengakhiri tradisi permusuhan tapi apa yang diucapkan oleh Han Ssaem benar. Dewan Siswa mempunyai pengaruh lebih besar diantara mereka ketimbang ucapan guru sendiri. Heck, bahkan Kepala Sekolah mungkin tidak bisa berbuat apapun – kecuali jika sang Kepala Sekolah memaksa pada Dewan Siswa.

“Well, kurasa Kepala Sekolah mempunyai pengaruh lebih besar. Jika Kepala Sekolah berani mengambil tindakan. Dewan Siswa mungkin diisi oleh siswa dari keluarga pendonor terbesar untuk sekolah, tapi….” Joonmyeon berhenti bicara ketika Han Ssaem menatapnya dengan serius.

Joonmyeon menarik nafas. “Maaf, Ssaem. Apa ada lagi yang anda ingin katakan, Ssaem?”

Han Ssaem menggeleng dan tersenyum. “Kau bisa kembali ke kelas, Joonmyeon. Dan kuharap, kau tidak akan bertengkar dengan Kevin. Jaga saudaramu.”

Joonmyeon mengangguk dan segera keluar dari ruang guru.

Selepas Joonmyeon pergi, Han Ssaem menatap kertas yang diatas meja. Ia tersenyum tipis dan menoleh pada Kang Ssaem –guru wali kelas Joonmyeon– yang selalu memperhatikan Joonmyeon sejak pemuda Kim itu masuk. Han Ssaem masih tersenyum.

“Well, seperti katamu. Dia memang berbeda.”

Kang Ssaem tertawa kecil. “Tentu saja. Well, anak didikku tidak pernah mengecewakan.”

*****

Changmin mengernyit saat ia memasuki ruangan kerja Siwon, sepupunya itu sedang tertidur di sofa. Changmin melihat jam dipergelangan tangannya dan memastikan bahwa ini belum waktu jam makan siang. Pria Shim itu menutup pintu dan menghela nafas panjang. Kemudian ia menuju salah satu kursi sofa dan menatap Siwon yang menutup matanya dengan lengan tangan kanannya.

“Kau baik-baik saja, Choi?” tanya Changmin.

Siwon menarik nafas perlahan dan menghembuskannya. “Tidak apa-apa, Shim,” jawabnya tanpa merubah posisinya.

Changmin semakin mengerutkan dahi. “Hey, ini belum waktu makan siang. Kau tidak sedang mengabaikan pekerjaanmu, bukan? Karena dokumen kerja sama dengan pihak London harus selesai hari ini.”

“Kau yang kerjakan, Changmin-ah. Aku sedang tidak ingin melakukan apapun. Aku hanya ingin tidur,” tukas Siwon lagi.

Kali ini, Changmin mulai merasa takut dengan sikap aneh Siwon. Tidak biasanya sepupunya itu mengabaikan pekerjaan dan bermalas-malasan. Well, kecuali jika Siwon sedang memikirkan sesuatu yang lebih penting dari sekedar pekerjaan. Tapi memangnya ada hal penting apa selain pekerjaan yang Siwon pikirkan saat ini?

“Kau… sedang memikirkan sesuatu? Bukan pekerjaan, tapi hal lainnya?” tanya Changmin lagi dengan berhati-hati. Siwon sangat sensitif jika ia sedang tidak ingin melakukan apapun seperti sekarang ini.

Siwon kembali menarik nafas. Kemudian dengan satu gerakan cepat, Siwon sudah merubah posisinya menjadi duduk menatap Changmin dengan serius. Perubahan ekspresi Siwon membuat Changmin sedikit menyesal telah bertanya.

“Cho Kyuhyun.”

Untuk beberapa detik, suasana di ruangan Siwon mendadak hening. Changmin menatap Siwon dengan lekat dengan beberapa kali mengedipkan matanya. Sedangkan Siwon sendiri mempertahankan ekspersi dinginnya. Changmin lalu menarik nafas dan memeriksa apakah ia mempunyai masalah pendengaran secara tiba-tiba.

“Uh? Tunggu, rasanya aku salah dengar. Bisa katakan lagi kau sedang memikirkan apa?” tanya Changmin lagi sedikit ragu. Ia mungkin akan mempertanyakan dirinya sendiri dengan apa yang didengarnya.

“Bukan apa, Shim Changmin. Tapi siapa. Lebih tepatnya, Cho Kyuhyun,” tutur Siwon sekali lagi dengan nada tegas.

Changmin membuka mulutnya secara perlahan tapi tidak ada suara apapun yang keluar. Detik berikutnya, Changmin menutup mulutnya. Tapi sangat terlihat bahwa ekspresi Shim itu benar-benar sangat terkejut dengan jawaban Siwon. Dan detik berikutnya lagi, Changmin mulai bereaksi –secara berlebihan.

“Yak!! Kau bukan Choi Siwon!! Mana mungkin Choi Siwon akan…. Oh, Tuhan!! Kau apakan Choi Siwon, eoh?!! Cho.. Cho Kyuhyun?!! Kau bukan Choi Siwon, iyakan!!!” seru Changmin dengan sangat histeris.

Siwon mendengus kesal dengan reaksi Changmin. Hell, tidak bisakah sepupunya itu bersikap normal? Well, tidak ada satu pun dari cucu keluarga Choi yang normal, bahkan adiknya sendiri pun sepertinya agak gila. Dan itu artinya, dirinya pun tidak normal.

Tidak normal hanya karena memikirkan Cho Kyuhyun? Lalu bagaimana seharusnya yang normal itu?

“Shim Changmin, jangan berteriak. Lagipula kau yang bertanya duluan, aku hanya menjawab jujur,” sahut Siwon.

“Ta-tapi kau…? Tapi kau bilang sedang memikirkan Cho Kyuhyun. Dan aku tahu sekali kalau Choi Siwon sangat tidak mungkin akan memikirkan pria lain atau bahkan wanita lain karena dia mengatakan bahwa tidak mau memiliki hubungan apapun. Dia hanya memikirkan pekerjaan. Jadi, kau bukan Choi Siwon!!”

Sekali lagi, Changmin berbicara ngawur. Entah itu masuk akal atau tidak, Changmin akan terus bicara jika ia merasa sangat shock. Siwon menjadi semakin sakit kepala karena reaksi sepupunya itu.

“Siapa yang bilang mau memiliki hubungan dengan Cho Kyuhyun atau siapapun, eoh?! Kau bertanya aku sedang memikirkan apa dan aku jawab bukan apa tapi siapa dan siapa itu adalah Cho Kyuhyun. Hanya itu, Shim Changmin. Berhentilah bereaksi berlebihan seperti itu! Karena itu sangat menyebalkan!!” Siwon hampir berteriak.

Changmin menarik nafas panjang. Ia berusaha menenangkan emosinya saat ini. Karena apa yang dikatakan Siwon beberapa menit lalu mengenai Cho Kyuhyun, membuat Changmin sakit kepala.

Changmin memegangi kepalanya. “Hey, kau serius? Mengenai memikirkan Cho Kyuhyun?”

“Yes!”

“Dan kau benar-benar Choi Siwon. Bukan orang lain yang menyamar atau…. Alien?”

Siwon mendesis. “Geez, aku Choi Siwon, Shim Changmin. Apa kau perlu bukti? Well, aku tahu kalau kau mempunyai sesuatu di kamarmu. Tepatnya disalah satu laci lemari bajumu. Perlu kukatakan yang lebih spesifik?”

“Ah!!! ANI! ANI! Aku percaya! Aku percaya. Tapi… Wow, Choi Siwon memikirkan orang lain selain pekerjaan. Terlebih orang ini adalah Pengacara Cho Kyuhyun yang sepertinya kau benci itu.”

“Apa aku pernah mengatakan kalau aku membenci Pengacara Cho?” ujar Siwon dengan jengkel.

Changmin menggeleng. Sepertinya emosinya sudah kembali stabil. “Well, tidak secara langsung. Tapi sangat terlihat dari sikapmu pada Kyuhyun selama ini. Kau sering kali memperlakukannya dengan dingin dan sebagainya. Jadi, bagaimana kau bisa memikirkannya? Terjadi sesuatu lagi diantara kalian?”

Siwon bersandar pada sofa. Ia menghela nafas berat. “Iya dan tidak.”

Changmin kembali mengernyit. “Jelaskan. Tolong dengan singkat dan bisa kumengerti. Okay?”

Siwon menghela nafas. Ini akan menjadi hari yang panjang dan Siwon berharap Changmin tidak akan membuat harinya semakin kacau.

*****

Kyuhyun tersenyum pada pramusaji dan mengambil pesanan kopinya. Hari ini Kyuhyun kembali meminum kopi latte –seperti biasanya, sebelum dia mencoba meminum kopi hitam selama sebulan terakhir. Heck, rasanya ia memang tidak bisa merubah kebiasaannya.

Kyuhyun berjalan keluar dari coffee shop dan berencana kembali ke kantor. Jarak antara coffee shop tersebut dengan kantor firma hukum tidak begitu jauh, jadi terkadang Kyuhyun sering berjalan sendiri ke coffee shop tersebut jika ia sedang stress dengan pekerjaannya.

Kyuhyun menghela nfas panjang. Suhu Seoul mulai menghangat. Walaupun sebenarnya masih sekitar minus dua sampai sepuluh derajat, tapi paling tidak bukan dibawah minus lima atau lebih seperti beberapa hari lalu. Kyuhyun meneguk lattenya sembari berjalan menuju zebra cross.

Lampu masih berwarna merah dan hanya ada Kyuhyun yang berdiri disana. Well, sedikit aneh karena ini sudah hampir jam makan siang tapi sepertinya tidak banyak orang yang berlalu-lalang. Mungkinkah karena suhu masih terlalu dingin? Kyuhyun mengabaikan pemikiran itu dan detik berikutnya ponselnya berdering.

Kyuhyun mengeluarkan ponselnya dari saku mantel dan berniat menerima panggilan tersebut ketika sebuah mobil hitam berhenti tepat dihadapannya. Kyuhyun mengerutkan dahi ketika beberapa orang keluar dan memaksanya untuk masuk kedalam mobil.

Tentu saja, Kyuhyun akan menolak –walaupun sepertinya adalah sebuah kesalahan karena tentu saja ia kalah jumlah. Gelas kopinya terjatuh, berikut dengan ponselnya yang masih berdering. Kyuhyun hendak berteriak minta tolong, tapi seseorang menutup mulutnya.

Detik berikutnya, pandangan Kyuhyun mengabur.

*****

Hyukjae mengernyit ketika ia masih mendapati ruang kerja Kyuhyun masih kosong. Rekan kerjanya itu sudah keluar untuk membeli kopi sejak empatpuluh menit lalu dan seharusnya sudah kembali karena mereka akan makan siang bersama. Untuk kesekian kalinya, Hyukjae berusaha menghubungi Kyuhyun lagi.

Terdengar nada sambung untuk beberapa detik.

“Yoboseyo..?”

Hyukjae mendapati yang menerima panggilan teleponnya bukan Kyuhyun. Padahal ia sangat yakin kalau tidak salah nomor. “Mianhae, ini siapa? Kenapa anda mengangkat teleponnya?”

“Ah? Apakah anda mengenal pemilik ponsel ini? Saya menemukan ponsel ini dipinggir jalan. Dan tidak ada siapapun disini. Jadi, saya…”

Perasaan Hyukjae semakin tidak enak. “Anda dimana? Bisa anda antarkan ponsel itu ke kantor firma hukum Kang Jaeha? Saya akan menemui anda di depan pintu.”

“Baiklah, saya mengerti.”

Hyukjae lalu bergegas menuju pintu utama tapi sebelumnya ia menemui Haejin yang sedang mengobrol dengan Jinhye. “Jin, hubungi Detektif Ji. Katakan untuk datang kesini sekarang!!”

Haejin dan Jinhye memandang Hyukjae dengan terkejut sekaligus khawatir. Pasalnya, setiap firma hukum Kang meminta bantuan polisi –terutama Detektif Ji– untuk datang ke kantor artinya telah terjadi sesuatu.

“Ada apa?” tanya Jinhye sedangkan Haejin langsung bergegas mengangkat gagang telepon untuk menghubungi kantor polisi.

Hyukjae menarik nafas. “Sepertinya terjadi sesuatu pada Kyuhyun,” ujar Hyukjae singkat dan langsung menuju pintu utama. Disana ia melihat seorang pria yang membawa ponsel milik Kyuhyun. Hyukjae menghampiri pria tersebut.

Pria itu menatap Hyukjae lalu menyodorkan ponsel Kyuhyun. “Aku tidak tahu apa yang terjadi karena aku hanya menemukan ponsel ini. Ah, ponselnya sepertinya sedikit retak karena terjatuh.”

Hyukjae memeriksa kondisi ponsel tersebut. Memang terdapat retakan dan masih cukup beruntung jika ponsel itu masih aktif. Hyukjae menatap pria itu lagi. “Anda tidak melihat apapun atau siapapun di tempat anda menemukan ponsel ini?”

Pria itu menggeleng. “Jalanan hari ini cukup sepi. Tapi aku juga melihat sebuah gelas kopi. Sepertinya ponsel dan gelas kopi itu jatuh bersamaan.”

“Ah, begitu rupanya. Terima kasih,” Hyukjae membungkuk dan membiarkan pria itu pergi.

Hyukjae menghela nafas. Ia menatap ponsel milik Kyuhyun lagi. Sepertinya ada seseorang yang membawa Kyuhyun secara paksa –kalau tidak, mana mungkin Kyuhyun akan menjatuhkan ponselnya begitu saja. Selain itu, perkataan pria tadi ada gelas kopi yang terjatuh. Sepertinya Kyuhyun dibawa setelah membeli kopi.

Haejin menghampiri Hyukjae. “Detektif Ji akan datang sekitar duapuluh menit lagi,” tutur Haejin yang kemudian melihat ponsel milik Kyuhyun ditangan Hyukjae. “Itu ponsel Kyuhyun bukan? Kenapa….? Ah, terjadi sesuatu pada Kyuhyun?”

Hyukjae menatap Haejin. “Sepertinya dia diculik. Laporkan masalah ini pada Pengacara Kang Jaeha, tapi jangan mengatakan apapun pada keluarga Kyuhyun. Kita harus menunggu sampai Detektif Ji datang.”

Haejin mengangguk.

*****

Joonmyeon sering-kali melirik kearah meja dimana Kevin –ah… Yifan, Joon!– sedang makan siang bersama dengan Luhan dan beberapa teman mereka. Well, sepertinya Kev–damnit!–Yifan terlihat lebih santai. Saudara tirinya itu sudah tersenyum lagi –hanya di sekolah dan bersama teman-temannya, karena saat di rumah Yifan –finally!– lebih sering menghabiskan waktu di kamar dengan melukis.

Joonmyeon kembali menatap makan siangnya dengan helaan nafas panjang. Kyungsoo yang duduk dihadapan Joonmyeon sering-kali memperhatikan sahabatnya tersebut. Sejak pengakuan Joonmyeon mengenai perasaan Kevin, Kyungsoo secara tanpa sadar sering-kali memperhatikan keduanya jika berada di ruangan yang sama –seperti di kantin sekarang.

Well, Kyungsoo bisa melihat kalau Joonmyeon berusaha bersikap normal tapi tetap saja Joonmyeon selalu mencari-cari kesempatan untuk bisa melihat saudara tirinya tersebut.

“Joon-ah, kau sudah mengisi aplikasi untuk ke HanEum?” tukas Kyungsoo tanpa memperdulikan ekspresi terkejut Joonmyeon.

Baekhyun yang duduk di meja yang sama dengan mereka kini memperhatikan keduanya dengan penasaran. Joonmyeon menatap Kyungsoo sebelum melanjutkan makan siangnya.

Joonmyeon berdeham. “Aku belum mengisinya. Appa belum memberikan kepastian.”

Sontak Baekhyun dan Kyungsoo mengerutkan dahi dengan jawaban Joonmyeon. “Katamu sudah diberi ijin. Aplikasinya sudah kau tunjukkan pada Appamu, bukan?” ujar Baekhyun.

Joonmyeon mengangguk. “Tapi aku belum mendapatkan aplikasi itu lagi. Tandanya Appa masih mempertimbangkan HanEum.”

“Apa kau mengincar aplikasi Juilliard?”

Kyungsoo menatap Baekhyun seolah mengatakan ‘Juilliard?’. Baekhyun terkekeh dan merangkul bahu Kyungsoo yang duduk disampingnya. “Soo, sekolah kita mendapat undangan dari Juilliard. Oh? Dan dari University of the Arts London untuk kelas Seni. Bahkan perwakilan mereka juga datang saat Festival kemarin.”

“UAL? Hanya untuk kelas Seni? Woah…” seru Kyungsoo.

Joonmyeon menahan tawanya karena ekspresi Kyungsoo benar-benar lucu.

Baekhyun lalu menarik tangannya dan kembali melahap nasinya. “Yang kudengar ada tiga orang dari kelas Seni yang mendapat undangan khusus untuk mengikuti ujian masuk, selain itu mereka harus mengikuti ujian biasa. Dari Juilliard, mereka hanya meminta video dari kelas Musik. Well, mereka tidak menyebutkan berapa total orang yang akan diterima,” jelas Baekhyun.

Kyungsoo lalu menatap Joonmyeon. “Kau ikut untuk aplikasi Juilliard?”

Joonmyeon menggeleng. “HanEum cukup baik. Juilliard? Terlalu ambisius. Kalian saja yang ikut.”

Baekhyun mendesis pelan. “Well, aku harus bertanya dulu pada Kang Ssaem. Tapi melihat dari sikap Appamu, selain HanEum, kau mempunyai pilihan Universitas Seoul. Untuk perusahaan Appamu itu,” tukas Baekhyun pada Joonmyeon.

Joonmyeon tersenyum tipis. Yang dikatakan Baekhyun memang ada benarnya. Dia adalah penerus keluarga Kim, jadi mungkin Appanya sengaja menunda kepastian HanEum agar Joonmyeon tidak mempunyai pilihan selain Universitas Seoul. Jurusan Bisnis.

Heck, Joonmyeon sama sekali tidak mengerti dengan masalah bisnis dan semacamnya. Ia cukup beruntung Appanya menuruti keinginannya saat ingin masuk KAMHS. Tapi Joonmyeon memang sedikit meragukan kalau Appanya juga akan mengijinkannya masuk HanEum.

Kali ini Kyungsoo yang mendesis. “Kim Joonmyeon yang membawa kelas Musik mendapatkan gelar tahunan di Festival malah masuk jurusan Bisnis? Kau yakin, Joon? Karena bisnis… Well, bukanlah dirimu.”

Joonmyeon tidak mengatakan apapun. Kedua temannya seakan sedang mengoloknya karena tidak bisa meminta ketegasan dari Appanya perihal aplikasi HanEum. Setidaknya jika Joonmyeon bisa mempersiapkan untuk aplikasi di sekolah music lainnya.

Seoul Arts and Music University, misalnya. Dan bukan Universitas Seoul.

*****

Luhan menyenggol lengan Kevin yang kini hanya memandangi makanannya saja. “Wae? Tidak mau ke UAL?” tukas Luhan.

Kevin hanya menghela nafas dan tersenyum. “Tentu saja mau. UAL? Mom pasti akan berteriak terus selama satu jam penuh.”

Luhan kemudian tertawa. Well, Sara Li memang sering-kali bereaksi berlebihan jika ada kabar baik. Ia pernah sekali mendengar teriakan Sara melalui telepon saat Kevin mengatakan bahwa dia mendapatkan penghargaan beberapa bulan lalu. Dan Luhan tidak ingin mengalami pengalaman yang kedua.

“Well, itu bagus, bukan? Mom-mu mungkin akan protes kalau kau harus pergi ke London sementara dia baru datang ke Seoul. Selain itu…” Luhan melirik kearah Joonmyeon yang bersama dengan teman-temannya. “Well, aku tahu alasan lainnya.”

Minseok mengernyit. “Alasan lain? Kau tidak ingin mengambil kesempatan itu? Kau tahu, kau cukup beruntung mendapatkan satu dari tiga undangan. Jika kau menolak, masih banyak yang mengincarnya.”

Luhan mendengus jengkel dan menyentil kening Minseok hingga sahabatnya itu meringis. Minseok mengusap keningnya dan mendelik kesal dengan Luhan. “Wae? Itu memang benar. Well, semua siswa kelas Seni tahu kalau Kevin itu sangat berbakat dan hampir semua siswa kelas Seni iri padanya.”

Luhan tertawa kecil. “Untuk itu aku setuju. Kau itu seperti jarum kecil yang tersembunyi di bantal sofa. Salah duduk, kau bisa menusuk orang lain.”

“Analogi yang mengagumkan, Xi Luhan,” sahut Minseok.

Kevin menghiraukan celoteh kedua sahabatnya yang kini seakan tidak menganggapnya ada didepan mereka. Well, sejak Kevin pindah sangat terlihat sekali kalau banyak dari siswa kelas Seni lainnya yang seperti Minseok dan Luhan bilang, sedikit iri. Ia mungkin sedikit mengerti dengan sikap iri mereka karena Kevin adalah siswa pindahan, tapi bukankah berlebihan kalau mereka menganggap Kevin adalah sebuah batu sandungan?

Bakat melukis Kevin tidak begitu hebat. Luhan dan Minseok dan beberapa siswa lainnya yang sudah bersekolah lebih lama darinya jauh lebih hebat. Kevin hanya suka melukis. Itu saja. Dia tidak pernah menganggap bahwa dia suatu hari akan sukses dengan lukisannya. Kevin mempunyai rencana sendiri untuk masa depannya.

Dan ia sangat berharap ada Joonmyeon didalam rencananya.

*****

Changmin telah menyelesaikan laporan untuk kerjasama dengan pihak London yang diabaikan Siwon. Kerjasama dengan London sangat penting, jadi dia tidak bisa membiarkan kemalasan Siwon hari ini akan mengacaukan project senilai miliaran dollar. Changmin melirik jam dipergelangan tangannya –sudah pukul dua dan dia belum makan siang.

Changmin mengeluarkan ponselnya dan berniat untuk mengirim pesan pada Siwon menanyakan apakah mereka bisa makan siang bersama. Tapi belum sempat Changmin mengetik pesan, Siwon membuka pintu ruangannya dengan kasar. Changmin hendak protes tapi ia melihat ekspresi Siwon yang terlihat khawatir.

“Ada apa? Aku baru saja ingin mengajakmu makan siang,” tutur Changmin.

Siwon menarik nafas. “Kita harus ke firma hukum Kang. Sekarang!”

Changmin mengernyit. “Firma hukum Kang? Kenapa?”

“Cho Kyuhyun menghilang,” ucap Siwon dan langsung pergi.

Siwon tidak peduli jika Changmin akan mengikutinya atau tidak. Well, ia bahkan tidak tahu kenapa ia harus menemui Changmin secara langsung setelah Lee Hyukjae menghubunginya untuk memberitahu bahwa Kyuhyun menghilang. Atau ia bahkan tidak tahu kenapa ia merasa begitu khawatir.

Changmin mengikuti Siwon setelah mengambil mantelnya. Ia berlari untuk mengejar Siwon yang sudah berada di depan pintu lift. Changmin menatap Siwon dengan bingung. “Katakan lebih jelas. Kyuhyun menghilang? Menghilang bagaimana?”

“Aku tidak tahu. Lee Hyukjae menghubungiku dan mengatakan Kyuhyun menghilang. Dia mempunyai firasat kalau ini ada hubungannya dengan kasus kita. Tapi mereka tidak bisa melakukan apapun sampai ada bukti yang jelas mengenai masalah penculikan ini,” jelas Siwon.

Pintu lift terbuka dan keduanya memasuki kotak baja tersebut. Siwon dengan cepat menekan tombol B1.

“Penculikan? Kau yakin ini ada kaitannya dengan Kim Jinhyeok? Maksudku, Kyuhyun mungkin sedang mengurus kasus lainnya dan ternyata kasus itu lebih berbahaya. Well, kau tahu maksudku dengan berbahaya. Kyuhyun tidak mungkin diculik oleh Kim Jinhyeok,” ujar Changmin.

Siwon menatap sepupunya dengan lekat. “Kenapa tidak mungkin? Pria tua itu akan melakukan apa saja agar mendapatkan tanah itu. Dia tidak peduli dengan kesepakatan yang kita tawarkan. Dia hanya orang tua yang serakah. Jika pada persidangan minggu depan, kita menang maka dia akan kehilangan kesempatannya untuk mendapatkan keuntungan besar dari tanah itu.”

“Jika kita menang dan mereka tidak puas, mereka bisa mengajukan banding, bukan?”

“Pengacara Cho mengatakan kemungkinan mereka akan mengajukan banding hanya tigapuluh persen dan itu pun jika bukti tambahan yang mereka serahkan pada mahkamah tinggi cukup kuat untuk membalikkan keputusan dari pengadilan tinggi. Kita memiliki peluang menang lebih besar dari mereka, Shim Changmin.”

Siwon kini terlihat sangat marah. Changmin hanya bisa menghela nafas panjang. Saudaranya memang selalu bereaksi berlebihan jika terjadi masalah yang menyangkut dengan perusahaan. Hanya saja, untuk kali ini Changmin merasa ada alasan lainnya yang membuat Siwon marah.

“Lalu kenapa mereka harus repot untuk menculik Kyuhyun jika pada akhirnya mereka akan tetap kalah? Bukankah mereka hanya akan menambah masalah? Kurasa mereka tidak akan melakukan penculikan. Choi Siwon, pikirkan dengan baik. Kasus kita dengan Kim Jinhyeok tidak akan membuat Kyuhyun diculik. Mungkin kasus lain yang lebih besar yang sedang diurus Kyuhyun menjadi salah satu alasannya. Kudengar, Kyuhyun menjadi pengacara untuk kasus dugaan korupsi kementerian energi dan lawan mereka adalah salah satu pengusaha pengimpor energi terbesar di Korea. Bahkan yang kudengar pengusaha itu ada kaitannya dengan yakuza atau mafia lainnya,” jelas Changmin.

Siwon menatap Changmin dengan mata hampir saja keluar. “Yakuza? Kau yakin?!! Itu bahkan lebih parah!!!”

Kemudian pintu lift terbuka dan mereka sudah tiba di basement. Siwon bergegas menuju mobilnya, disusul oleh Changmin. Pria Shim itu mengambil kunci dari tangan Siwon dan mengambil alih kursi driver.

“Aku tidak akan membiarkanmu menyetir pada kondisi seperti ini. Kau hanya akan membawa kita ke rumah sakit nantinya,” tukas Changmin.

Dan mungkin tidak seharusnya aku menyebut mafia.

*****

Changmin menatap ponsel Kyuhyun yang berada diatas meja. Sekita tigapuluh menit lalu mereka sampai di kantor firma hukum dan mendapati bahwa mereka sudah menghubungi polisi. Hyukjae menjelaskan sedikit mengenai kejadian awalnya dan kini mereka hanya bisa menunggu hasil menyelidikan Detektif Ji.

Changmin menarik nafas dan melirik pada Siwon yang berdiri didekat jendela. Mereka disuruh untuk menunggu diruangan Kyuhyun. Sepertinya kedatangan mereka tidak terlalu banyak membantu untuk mencari dimana keberadaan Kyuhyun sekarang. Dan Changmin sama sekali tidak mengerti kenapa Siwon ingin tetap disini bukannya kembali ke kantor dan menunggu kabar selanjutnya.

“Siwon-ah, kau harus ke Legiun, bukan?” ucap Changmin.

Siwon yang memandang kearah luar jendela menghela nafas dan berbalik. Ia menatap Changmin lalu melirik jam dipergelangan tangannya. Sudah hampir pukul 3. Siwon memang harus ke Legiun sejak satu jam lalu sebelum kembali ke kantor untuk menandatangani dokumen terakhir untuk hari ini. Tapi sejak pagi, Siwon tidak ingin melakukan apapun. Bahkan jika Appa atau Kakeknya memarahinya karena bermalas-malasan untuk alasan yang tidak jelas, Siwon tidak peduli.

“Kita pergi saja, lagipula sudah ada polisi yang akan mencari Kyuhyun. Kita tidak bisa melakukan apapun disini, Siwon” tutur Changmin lagi.

Ya, Siwon tahu akan hal itu. Tidak ada yang bisa dilakukannya –heck, bahkan mereka juga tidak tahu kenapa Kyuhyun sampai diculik. Ucapan Changmin mengenai bukan Kim Jinhyeok yang melakukannya sudah terbukti. Pihak firma hukum sudah mencari tahu langsung ke beberapa orang yang kemungkinan berpotensi menjadi pelaku.

Tapi hal itu juga yang membuat Siwon bertanya. Jika bukan dari lawan-lawan Kyuhyun, lalu siapa? Dan untuk apa mereka menculik Kyuhyun?

“Siwon-ah..”

Siwon mengusap wajahnya dan mengangguk. “Baiklah, ayo pergi.”

Lalu keduanya berjalan keluar ruangan Kyuhyun. Di koridor mereka bertemu dengan Hyukjae yang sepertinya hendak menemui mereka. Pria Lee itu terlihat lebih lelah dari setengah jam lalu sejak mereka datang.

“Kalian akan pergi?” tanya Hyukjae.

Changmin mengangguk. “Tidak ada yang bisa kami lakukan disini, bukan? Kami akan memberikan bantuan untuk mencari keberadaan Kyuhyun. Well, Choi Group mempunyai beberapa orang terpercaya, jadi kami akan melakukan penyelidikan juga. Dan tolong beritahu setiap perkembangannya pada kami.”

Hyukjae tersenyum tipis. “Terima kasih. Mengenai perkembangannya, aku sendiri yang akan menghubungimu atau Choi-sshi nanti. Ah, untuk sidang terakhir minggu depan, aku akan menjadi pengacara pengganti kalian. Jika sampai saat itu Kyuhyun belum ditemukan.”

Changmin tersenyum getir dan mengangguk. Kemudian ia menoleh dan memberi isyarat pada Siwon kalau mereka harus pergi. Changmin kembali tersenyum pada Hyukjae dan sedikit menunduk. Lalu pria Shim itu pergi. Tapi Siwon masih diam pada posisinya. Changmin membiarkannya dan akan menunggunya di mobil saja.

Hyukjae menatap Siwon dengan lekat. “Choi-sshi, anda tidak pergi?”

Siwon memandang Hyukjae. “Pengacara Lee…”

“Hyukjae saja,” sela Hyukjae cepat.

Siwon mengangguk kecil. “Hyukjae-sshi, tolong temukan Pengacara Cho.”

Hyukjae tersenyum. “Tentu saja. Kami akan melakukan segala cara untuk menemukannya. Anda tenang saja, Detektif Ji adalah salah satu petugas polisi yang handal. Dia sudah sering-kali membantu kami. Kyuhyun pasti akan ditemukan.”

Siwon tidak mengatakan apapun dan langsung pergi. Hyukjae menatap punggung pria Choi itu dengan helaan nafas panjang. Senyuman itu masih terpatri dibibirnya.

“Well, aku tidak tahu kalau Choi Siwon mempunyai sisi sensitive seperti itu. Cho Kyuhyun, sebaiknya kau baik-baik saja. Atau aku yang akan membunuhmu dengan tanganku sendiri nantinya.”

*****

Joonmyeon melepas sepatunya dan berjalan masuk. Ia tersenyum tipis melihat Sara yang sedang membaca majalah di ruang tengah. Dibelakang Joonmyeon, Kevin menutup pintu dan melepas sepatunya.

“Kami pulang, Mom” ucap Joonmyeon.

Sara mengangkat kepalanya dan tersenyum. “Selamat datang. Joonmyeon-ah, Appamu sedang menunggu di ruang kerjanya. Sebaiknya kau menemuinya dulu. Mom akan buatkan coklat panas. Okay?”

Joonmyeon mengangguk dan segera menuju ruang kerja ayahnya yang baru. Sara menaruh majalahnya dan beranjak menuju dapur untuk membuat coklat panas, ketika Kevin masuk. Sara tersenyum. “Selamat datang, Yifan.”

Kevin menggumam pelan. Ia lalu mengikuti Mom-nya menuju dapur. Sara menatap putranya sembari mempersiapkan bahan untuk membuat coklat panas. Well, ini adalah kebiasaan baru yang dilakukan Sara untuk Joonmyeon dan Kevin. Sara akan membuatkan coklat panas setelah keduanya pulang sekolah, sekedar untuk menghangatkan tubuh.

“Kenapa wajahmu begitu, euhm? Terjadi sesuatu lagi di sekolah?” tanya Sara.

Kevin menggeleng. “Tidak. Memangnya akan terjadi kejadian yang lebih buruk dari lukisanku itu.”

Sara hanya menyeringai. Well, putranya masih sensitive mengenai lukisannya yang dirusak. Kevin menghela nafas. “Kenapa Appa sudah pulang? Ini bahkan belum waktu pulang kantor. Ada apa?”

Sara mengangkat bahu. “Mom rasa mengenai aplikasi HanEum yang diberikan Joonmyeon kemarin.”

Kevin tidak mengatakan apapun lagi. Ia hanya memperhatikan ibunya membuat coklat panas. Tapi mengingat aplikasi HanEum, jika Appa mereka memberikan tandatangannya, maka Joonmyeon kemungkinan besar akan tinggal di dorm. Heck, bahkan jika Joonmyeon tidak masuk HanEum, dia akan tetap tinggal di dorm. Dan Kevin…

London? Haruskah dia pergi kesana? Momnya bahkan belum lama pindah dari Kanada. Jika Kevin harus pindah lagi ke London…

“Mom, boleh aku bertanya?” ucap Kevin.

Sara menaruh satu gelas mug coklat panas dihadapan Kevin dan satu mug lainnya untuk Joonmyeon. “Tanya mengenai apa?”

“Kalau aku pergi ke London, apa Mom akan mengijinkan?” tanya Kevin dengan pelan.

Sara menatap putranya dengan lekat. “London? Untuk kuliah?”

Kevin mengangguk lalu ia mengeluarkan amplop undangan dari UAL dan memberikannya pada Sara. Ibunya membaca isi surat itu dengan serius kemudian tersenyum tipis. Sara menghampiri Kevin dan mengusap wajah putranya.

“Kau tahu bukan, kalau Mom sangat bangga padamu, Yifan? Well, Mom sangat senang jika kau mendapatkan kesempatan ini dan Mom akan mengijinkan. Tentu saja. Tapi, bicarakan ini dengan Appamu juga. Sekarang, bukan hanya Mom yang orangtuamu. Jadi, bicarakan dulu okay,” tutur Sara dengan tersenyum.

Kevin mengangguk. “Tapi kalau Appa menolak?”

“Well, kalau begitu tanyakan pada dirimu sendiri apakah kau mau pergi ke London atau tidak? Jika kau ingin pergi tapi Appamu tidak mengijinkan maka yakinkan dia kalau itulah yang kau inginkan. Jika tidak, kau bisa mengikuti ujian di universitas pilihamu sendiri,” sahut Sara.

Tak lama, Joonmyeon memasuki area dapur dengan membawa sebuah amplop coklat ditangannya. Sara tersenyum pada putranya satu lagi. “Bagaimana? tanyanya.

Joonmyeon hanya tersenyum. Ia duduk disebelah Kevin dan menaruh amplop coklat itu diatas meja counter. Kevin melirik kearah amplop itu dan bisa melihat logo Universitas Seoul. Joonmyeon tidak mengatakan apapun dan meminum coklat panasnnya.

Sara menyodorkan lagi amplop undangan UAL pada Kevin. “Bicara pada Appamu sekarang. Tunjukkan ini padanya,” ucap Sara.

Kevin mengangguk dan mengambil amplop itu. Lalu Kevin berjalan menuju ruang kerja Appanya. Joonmyeon melirik Kevin yang pergi dengan sebuah amplop. Sara kemudian duduk disebelah Joonmyeon. Ia menatap amplop coklat dengan logo Universitas Seoul.

“Jadi, bukan HanEum?” tanya Sara.

Joonmyeon menatap Momnya dan menggeleng. Ia menaruh gelas mugnya dan melirik amplop coklat itu. “Aku harus mulai belajar untuk ujian masuk. Appa bilang, ada salah satu mahasiswa yang merupakan murid temannya akan datang mulai bulan Maret nanti untuk membantuku belajar.”

“Joon…”

“Aku tidak bisa menolak kan, Mom? Perusahaan Appa…. Appa mengatakan bahwa kami berdua akan menjadi pewaris perusahaan itu, tapi aku memiliki tanggungjawab lebih besar karena aku adalah Kim Joonmyeon.”

Sara tidak bisa mengatakan apapun. Ia tahu bahwa Joonmyeon ingin sekali masuk ke HanEum dan menjadi musisi –bukan seorang penyanyi. Tapi tanggung jawab untuk perusahaan yang kini dipimpin ayahnya adalah sebuah warisan yang tidak bisa ditolak oleh Joonmyeon.

Sara berusaha untuk tetap tersenyum. Ia lalu merentangan kedua tangannya. “Kemari, sayang.”

Joonmyeon menatap Sara dan kemudian menghampirinya. Joonmyeon lalu memeluk Sara. Ia menenggelamkan wajahnya dibahu wanita yang baru beberapa minggu menjadi ibunya. Rasanya begitu hangat. Sama seperti pelukan mendiang ibunya.

Sara mengusap rambut Joonmyeon dengan lembut. “Mom mungkin tidak bisa merubah pemikiran Appamu, tapi kau juga harus mengatakan apa yang menjadi keinginanmu, sayang.”

Joonmyeon mengangguk dalam pelukan Sara. “Terima kasih, Mom.”

*****

Kyuhyun perlahan membuka matanya. Kepalanya berdenyut keras sekali dan membuatnya sulit untuk bangun dari tempat tidur. Eh, tempat tidur? Kyuhyun lalu memperhatikan sekelilingnya. Ia berada disebuah kamar dengan design minimalis dengan dominasi warna putih. Kyuhyun mengernyit bingung. Jika ia diculik bukankah seharusnya dia berada di ruangan gelap dan terikat di kursi atau semacamnya? Karena itulah yang sering ia lihat di drama atau film.

Kemudian Kyuhyun menyingkap selimut tebal yang menyelimutinya dan beranjak menuruni tempat tidur. Ia tidak memakai sepatunya, tapi menemukan sebuah sandal jadi dia terpaksa memakainya. Kyuhyun berjalan menuju pintu dan berharap tidak dikunci. Er, mungkinkah penculiknya akan membiarkan pintu tidak terkunci dan Kyuhyun bisa kabur dengan mudah? Rasanya tidak mungkin.

Tapi Kyuhyun tetap menyentuh gagang pintu dan memutarnya. Perlahan pintu terbuka. Kyuhyun semakin merasa aneh dengan kejadian ini. Rasanya ini bukan penculikan sama sekali. Kyuhyun lalu keluar dari kamar dan berjalan menuju tangga. Tidak ada siapapun di lantai dua tersebut. Kyuhyun menuruni anak tangga dengan perlahan sembari memperhatikan situasi.

Heck, rumah itu sepi sekali. Kyuhyun seakan hanya seorang diri di rumah besar tersebut. Kyuhyun menatap kearah pintu utama. Setidaknya dia bisa kembali ke kantor atau pulang ke rumah.

“Jangan terlalu terburu-buru pergi, Pengacara Cho. Bagaimana kalau kita makan siang terlebih dahulu?”

Kyuhyun menoleh kearah sumber suara. Ia berjalan menuju ruang tengah dimana suara itu berasal. Well, dia mungkin sedikit ketakutan tapirasa penasarannya jauh lebih besar dari rasa takutnya. Dia ingin sekali tahu alasan kenapa dia dicu–dibawa ke rumah besar ini dan siapa pelakunya.

Kyuhyun berjalan perlahan dan saat tiba di ruang tengah ia melihat seseorang yang sedang membaca sebuah buku di sofa besar. Kyuhyun mengernyit menatap orang tersebut. Orang itu menutup bukunya dan tersenyum tipis pada Kyuhyun.

“Jadi, apakah anda menyukai steak?”

*****

NOTE: Maaf ya kalo part 9 kemaren banyak typonya T___T mudah-mudahan yang ini gak terlalu banyak typonya… Err, part ini kayaknya lebih banyak wonkyu. Soalnya biar hubungan wonkyu biar lebih cepet dan dinamis /halah… Dan ada yang kangen Kang Haneul? hehehehe

Euhm…… dadah?

Advertisements

44 thoughts on “[SF] Scarface Part 10

  1. Kyuhyun diculik?siapa pelakunya?
    Reaksi changmin berlebihan. Bukannya dia duluan yang bilang kalau dia tidak keberatan jika siwon menjadi gay?
    Siwon sudah mulai menyadari perasaannya pada kyuhyun. Tinggal kyuhyun saja yang belum. Berharap banget kalau part selanjutnya hubungan wonkyu lebih jelas lagi.
    Maaf,hanya bisa kasi komen buat partnya wonkyu saja.. hehehe
    Ditunggu kelanjutannya. Tetap semangat,Diera..

  2. Wahhhh..siapa tu yg menculik kyu?..tapi kok ditawarin steak…? penculiknya baik ya??..hehe
    siwon kayaknya dah mulai da rasa tu ama kyu…
    ok..ditunggu next nya ya…;-)

  3. siapa itu yg nyulik kyu.musuh siwon kah…
    siwon sampe kaya gitu cm gara kyu, kayanya dia udah mulai suka dan reaksi changmin dan hyukjae heboh bgt sih ama won maupun kyu…

    ditunggu lanjutannya dear

  4. Akhirnya WonKyu benar-benar menemukan pencerahan!!! Kyaaaa~
    Aduh Joonmyeon kasihan sekali. Harus menuruti apa maunya Appa-nya 😦
    Kira-kira, Yifan diijinkan utk ke UAL gak ya? Atau dia lebih memilih tinggal? :’)
    Heck! Aku jadi penasaran sama yg nyulik Kyu. Yakin bukan lawan hukumnya Kyu? Kalau bukan, kira-kira siapa ya? Aduh gemes lihat Siwon khawatir berlebihan gitu. Hahaha~
    Ditunggu deh kelanjutannya ^^

  5. Siwon mulai frustasi sma perasaan nya Ciee ~
    ngaku aja lah klo dirimu udh mulai trtarik sma Kyu.Tn.Choi :p
    kkk ~
    err yg nyulik Kang Haneul?! weew..
    klo baca ini entah knapa aku bayangin nya Yifan nya itu Sungyeol yg di High School Love On hahaha *abaikan XD
    gapapa..justru seneng klo kbnyakan WK moment nya,aku jg pgn cepet2 WK menjalin hubungan jyahaha
    ok ditunggu next nya ^^

  6. Itu kyu beneran di culik ato gimana?
    Kok kyu dibebasin gitu bukan disekap
    Siwon udh bener mulai suka sama kyu cuma blom menyadari dan mau menerimanya

    Kasian joon gak bisa masuk universitas impiannya

    Ditunggu kelanhutannya

  7. Setelah sekian lama saya bisa balik ke blog ini,, ff ni seru tp kok dah chap 10 aja 😦 jd penasaran ma chap awal”ijin ubek”ne kkkk~saia jg kangen two faces 😉

  8. itu yg culik kyu kang haneul eoh….????
    wonkyu udh mulai ad rasa ya..bgs deh…heheee…
    gmn ya reaksi ahra klo tw.. aplgi kel choi..pst heboh tuh….
    ok deh dtggu next chap yaa… ^^

  9. kyk ada sedikit kemajuan dalam hub. mereka..
    apa yg terjadi selanjutnya? kyu diculik? atau dijemput paksa? siapa? kang haneul?

  10. Bukan kang haneul kan yang nyulik kyu??

    Siwon benar2 mulai galau..
    Kapan pada benar2 nyadar kalo mereka saling suka #berharap
    N gomawo tuk update cpt nya

  11. Ya ampun..mitu siapa yang nyulik kyu…
    Sepertinya wonkyu mulai ada sedikit rasa2 nich…sampai2 seorang choi siwon bisa menelantarkan pekerjaannya demi memikirkan kyu..

  12. Aduh wonkyu walo jalannya lelet kays siput tapi mulai ada kemajuan,mereka mulai saling memikirkan….heeeee krisho bkl pisah kah?…….itu yg nyulik kyu siapaaaaaa?

  13. Jangan bilang klo yg menculik kyu ITU kang haneul?????
    Setuju DG chwang, sesuatu yg besar telah merubah siwon ahahahahahh uhuk uhuk uhuk
    Oh ayolaahhhh APA yg telah mmbuat mereka (wonkyu) menjadi saling memikirkan¿????

  14. btw kyu wkt megang kepala belakangnya dy masih ingat saat siwon megang tengkuknya ga sih???
    lalu itu juga soal kyu, dy juga sama2 berpikiran ke satu pusat yakni Siwon
    dan siwon pun sama hanya pada siapa? yakni Kyuhyun… wowowow..
    smoga cepet nyadar sama prasaan masing2 y..
    eum chang gwsah lebay, kamu sndiri yang slalu negasin kayaknya siwon gay lalu sekarang aneh,, hadeuh getok juga dah…
    itu yang culik kyu haneul atau sodara kembarnya y?? sypa y lupa, hehehehe…
    duh ngapain maen culik2 sih???

  15. hwaaa..siapa yg membawa si imut Kyuhyun???
    semoga Kyu g d apa apakan -.-
    Siwon sudah mulai menunjukkan perhatiannya pada Kyuhyun!! 😉 Semoga Wonkyu segera mendeklarasikan hubungan mereka… kkkkk; )

  16. aigoo…babykyu.apa yg kau pikirkan? kenapa kau sll memegang lehermu itu? apa kau teringat ttng kejadian di toilet itu???? bahkan kau rela menelantarkan pekerjaanmu itu hny demi melamun. gak cho kyuhyun gak choi siwon, si manusia perfect. gak biasanya siwon akan menghambur2kan waktunya utk sesuatu yg gak penting. tp apa yg dia lakukan skr ini? leyeh2 di jam kerja???? apa yg terjadi padamu choi siwon??? dan semua itu ada hubungannya dng cho kyuhyun. bahkan changmin smp di buat kalang kabut dan bereaksi berlebihan krn ulahmu itu. apakah choi siwon sdng mengalami…….falling in love..??? aaawwww….ckckck..sayangnya siwon gak nyadar sich. hmm….ngomong2 siapa sich pelaku pengrusakan lukisannya kevin itu? kenapa blm jg ketemu. kasihan suho…dia ingin kuliah di HanEum tp appanya gak mengijinkan, appanya malah menyuruh suho kuliah di jurusan bisnis, lalu bagaimana dng kevin ya? apa kevin akan kuliah di london atau nasibnya gak jauh beda ama suho? tp kl kevin jd kuliah di london, gimana dng hubungan kevin ama suho nntnya???? mwoooooo???? kyuhyun di culik?? tp siapa yg melakukannya? apa ini ada hubungannya dng kasus yg di tangani kyuhyun??? tp kok sepertinya kyuhyun kayak gak di culik deh, lalu skr kyuhyun ada di rumahnya siapa? dan siapa pula tu orang??? lanjutttttttttt dongggggggggggggg.

  17. wahhhh akhirnya eonn update lagi… semangatttt eonn updatenya heheheh….. maaf baru bisa komen….
    wahhhh kyu diculik siapa? kayaknya seh kang haneul…. q nunggu dengan sabar eonn ffnya karena aku penasaran dengan kisah wonkyunya heheheh

  18. eonni….
    ffmu udah byk yg update ternyata. aku pikir eonni udah berhenti nulis T_T ..
    Miss u so much :3 …
    entah kenapa, aku suka moment Kyuhyun & Haneul ♥♥♥

  19. Padahal undangan sudah jelas2 ada di depan mata. Apa nanti Kevin bakal pergi ke London dan ninggalin Joonmyeon? Semoga aja enggak. Rasa2nya aku bisa ngerasain gimana besarnya cinta Kevin buat Joonmyeon. Duhh, jadi gemes 😀

    Siwon, aku tau kamu udah mulai jatuh cinta sama Kyu. Jadi, lakukan apapun yang terbaik buat nyari Kyu dan bawa lari dia ke pelukanmu, okay? Hahahaha. Kayaknya bisa nebak siapa yang nyulik Kyuhyunih. Kalo bukan lawan sidangnya Siwon, mungkinkah itu Kang Haneul? Abisnya, penculiknya baik banget sampe biarin Kyu tidur di kasur empuk dan rumah besar. Tapi apa motifnya Haneul nyulik2 Kyu segala? (iya kalo yang nyulik itu emang beneran Haneul) kkkk. Lanjut ke chapter 11. Gak sabar nungguiin! 😀

  20. Siwon udah keliatan bgt punya perasaan lebih ke kyu…kyj di culik dia yg sangat mencemaskan kyu.siapa sih yg nyulik kyu? Apa lawan hukumnya siwon.

  21. yang bawa babykyu kakeknya siwon kah? Secara beliau kan’ selalu tau gerak gerik cucunya… mungkin juga haraboji yg paling sadar klo siwon itu ‘beda’..

    Wuiih Ga kebayang aj klo ternyata kyu diculik yakuza..

    Thank’s buat Updatenya Author-nim, Jd makin penasaran! Moga chap selanjutnya bisa lebih cepet jg ^^

  22. lho??? kyu di culik sama siapa???
    ya amplop…pnasaran nih
    kepo pake bgt..
    siwon wes mulai suka ma kyu
    tp kyu ndiri???

    keep writing

  23. Kyuhyun di culik ???? Siapa yang nyulik kyuhyun ???? Penasaran dech siapa itu orang nya? Kayanya di kenal sama kyuhyun, Gk mungkin kang ha neul kan???

    Siwon udh mulai keliatan suka nya yach, keliatan khawatir2 gimana gitu …* hehehe

    cepet2 di lanjut yach … Di tunggu … * hehehe

  24. siapa yg berani nyulik buntelan kapas -eh Kyu, maksudnya?
    Siwon heboh ya tau Kyu menghilang. kkk.. udah mulai saling memikirkan tuhh. heheee

  25. di part ini mulai kelihatan perasaan siwon,, krisho kok kelihatan jauh lagi sih .. apa jangan2 mereka pisah pas kuliah nanti ??
    ah, yg nyulik kyuhyun, apa mungkin haneul ??
    aarrgghh, penasaran…. update soon please….

  26. Ahra eonni…sprtinya Kyuhyun mmng sdnglagi galau krna tingkah Siwon yg mmbuat diabingung kkkkk.
    Tenang aj nonna.
    Gumawo eonni..fighting!

  27. changmin udah kayak abg 17tahun reaksinya selalu berlebihan hahahaha
    tapi bikin suasananya seru

    siapa yang nyulik cho kyuhyun hahhh ?
    mungkinkah haneul atau orang suruhan jiseok

  28. Sepertinya Kyu bukan diculik ya cuma dipinjem sementara hehehehe buktinya dia ga diiket or diapa2in, apa belum ya? eh malah ditawarin makan. Cuma siapa yg ngajak si embul makan steak?
    Wow ada yg khawatir banget nih kayanya ckckckckckckck
    Dua2nya galau akibat kejadian rekap ulang di tkp yg ga selesai hahahaha
    Tipikal pewaris suatu perusahaan pasti dia akan mengorbankan impiannya. Poor Joonie 😦
    Pak boss jangan galau tingkat dewa yaaaaa

  29. Wow,,reaksi siwon brlebihan bgt ya,,,wajar cwang mrasa ganjil….pi yg lbh bkin penasaran spa yg membawa kyu????nexxttt

  30. kenapa kyu megang leher terus ? apa masih ingat kejadian sama siwon waktu itu.. wonkyu lagi galau kayanya sampai pekerjaan aja jadi gak keurus dan sikap mereka bikin changmin dan hyukjae merasa heran bahkan changmin aja mengira kalo itu bukan siwon yang dia kenal.
    ciiieee yg mulai perhatian sama kyu, sampai khawatir gitu..
    siapa yg nyulik kyu ? apa mungkin haneul ?

  31. omggg kyu di culikk!!!! penasaran siapa yg nyulik…. siwon panik banget kayaknya pas tau kyu diculik ;;;;

    kasian sama jun yang ga boleh masuk univ pilihannya sama appa nya;; apa yifan bakal ttp milih ke london apa bakal di seoul aja nemenin jun……tp kok feeling ku dia bakal ttp nemenin jun di seoul ya..

  32. Siapa sbnernya orng yg sdh membawa kyuhyun, apakah dia berniat jahat atau ada niat lain??
    Sikap wonkyu sekarang mulai banyak berubah dr biasanya krna tanpa mrk sadari mrk akan memikirkan satu sama lain. Begitupun dg siwon, dia sdh tdk punya mood bkrja krna kyuhyun dan dia juga begitu khawatir saat tau kyuhyun menghilang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s