[SF] Scarface Part 9

scarface2

9

 

Joonmyeon menarik nafas panjang saat ia memandangi punggung Kevin yang berjalan didepannya. Pemuda lebih muda beberapa bulan darinya itu sibuk dengan headset yang tersumpal pada kedua telinganya. Sejak ciuman kedua mereka –atau itulah yang terjadi menurut Joonmyeon– Kevin seakan menutup dirinya lagi. Mereka hanya bicara seperlunya ketika dihadapan orangtua mereka dan Kevin lebih banyak memilih melukis dikamarnya.

Hari ini adalah ke-lima semester baru. Belum ada perubahan apapun mengenai sikap Kevin sejak minggu kemarin. Selain itu, di sekolah pun mereka jarang sekali bertemu. Mereka mungkin pergi dan pulang sekolah bersama, tapi Joonmyeon hampir tidak pernah bertemu dengan Kevin di area manapun di sekolah. Hal itu membuat Joonmyeon merasa sedikit tidak nyaman.

Joonmyeon menghela nafas ketika mereka di halte dan menunggu kedatangan bis berikutnya. Sesekali ia melirik Kevin yang berdiri disampingnya dan pemuda itu masih bergulat dengan musiknya sendiri. Joonmyeon menarik scarfnya hingga menutupi sebagian wajahnya lagi. Cuaca di Seoul masih belum bersahabat dengannya. Walaupun tidak seburuk hubungan Kyungsoo dengan cuaca dingin, Joonmyeon juga terkadang tidak menyukai musim dingin.

Disisi lain, Kevin juga membenci sikapnya yang kembali tak memperdulikan Joonmyeon seperti beberapa minggu sebelumnya. Tapi ia tidak mempunyai pilihan lain. Mereka sudah masuk sekolah dan Kevin tidak ingin memberi kesulitan bagi Joonmyeon nantinya. Well, memang belum semua orang di sekolah mengetahui pernikahaan ibunya dengan ayah Joonmyeon, tapi Kevin tidak ingin mengambil resiko. Jadi, untuk sementara –sampai mereka lulus mungkin– Kevin akan menjauhi Joonmyeon selama di sekolah.

Tak lama bis berhenti tepat dihadapan mereka. Kevin memasuki bis terlebih dahulu dan mengambil kursi dibagian belakang. Ia tahu kalau Joonmyeon akan memilih kursi lainnya yang kosong, berhubung pasti ada siswa lain dari sekolah mereka yang mungkin akan menaiki bis yang sama. Jadi, mereka berdua mengurangi resiko hubungan baru mereka diketahui oleh lebih banyak orang.

Joonmyeon menghela nafas dan mengeluarkan ponsel serta memasang headset. Entahlah, kebiasaan Kevin sepertinya sudah menular pada Joonmyeon. Ia jadi sering sekali mendengarkan music disaat tidak melakukan apapun. Hanya sekedar membuat perasaannya nyaman. Perlahan bis kembali berjalan menuju sekolah mereka.

*****

Joonmyeon menaruh tasnya dan melepaskan headset dari telinganya. Kemudian ia menyimpan ponselnya pada saku celana setelah melepaskan headset dari ponsel. Suasana sekolah tidak banyak berubah. Hell, tidak ada yang berubah kecuali hubungan persaudaraan antara Joonmyeon dan Kevin. Dan juga mengenai perasaan Kevin pada Joonmyeon.

Joonmyeon kemudian berjalan menuju jendela besar –tempat duduknya berada di baris kedua dekat jendela, meja ke tiga dari belakang. Cuaca Seoul masih mendung dan sepertinya berpeluang turun hujan atau bahkan salju lagi. Joonmyeon memperhatikan kumpulan awan yang berwarna abu-abu yang kemudian mengingatkannya pada lukisan Kevin.

Sebuah lukisan ilusi kumpulan awan putih yang ternyata membentuk seorang malaikat. Joonmyeon penasaran kemana lukisan itu sekarang. Karena ia tidak melihatnya lagi dirumah. Jika Kevin membawanya ke sekolah untuk dipajang di lobby utama sekolah, seharusnya ia bisa melihatnya sejak hari pertama masuk, bukan?

Joonmyeon menghela nafas lagi. Sudah, itu bukan urusanku, pikirnya.

Joonmyeon hendak kembali ke mejanya sesaat Kyungsoo setengah berlari memasuki kelas. Ia menghampiri Joonmyeon dengan nafas terengah. Joonmyeon mengernyit. “Kenapa kau terengah-engah begitu?”

Tanpa bicara sepatah kata, Kyungsoo lalu menarik tangan Joonmyeon dan membawanya keluar kelas. Beberapa siswa yang sudah datang memperhatikan keduanya dengan penasaran. Well, tidak biasanya seorang Do Kyungsoo bersikap seperti itu di pagi hari ketika cuaca dingin seperti sekarang ini.

Jadi, pasti sedang terjadi sesuatu.

*****

“Kenapa kau tidak bisa ikut denganku?!” seru Siwon dengan suara keras.

Changmin hampir menutup telinganya karena teriakan Siwon. Ia mendengus jengkel dan menatap sepupunya diantara kesibukannya dengan tumpukan dokumen. Kondisi perusahaan tidak cukup baik saat ini. Divisi yang dipimpin Changmin kembali mendapat masalah, jadi ia harus menyelesaikannya secepat mungkin. Hell, Changmin bahkan belum pulang sejak kemarin. Hampir semua pegawainya belum pulang.

“Alasannya bisa kau lihat sendiri dari tumpukan map-map dokumen ini, Choi Siwon. Kau juga tahu bagaimana situasinya sekarang. Ayolah, ini hanya persidangan seperti biasanya. Lagipula ini sudah persidangan ketiga, seharusnya tidak terlalu banyak masalah, bukan? Kyuhyun bisa mengatasinya dan kau hanya perlu duduk diam,” sahut Changmin.

Siwon mengerang. “Well, ini memang hanya sebuah persidangan biasanya. Tapi aku tidak bisa hanya duduk berdua dengan Pengacara Cho. Ayolah, kau tahu bagaimana hubungan kami selama ini. Aku akan membantumu menyelesaikan masalah kontrak dengan HaeAn, tapi asalkan kau ikut denganku ke persidangan hari ini.”

Changmin mendelik. “Choi Siwon, apa kau tidak lihat bagaimana kondisiku sekarang?! Aku bahkan belum mandi sejak kemarin! Apa kau pikir kondisiku sekarang memungkinkan untuk muncul di persidangan tanpa membuat headline di surat kabar?! Hell, no! Kau bisa mengajak Sooyoung noona atau Yunho hyung. Well, itu pun jika kau berani.”

“Shim Changmin…!!”

“Pergilah sekarang, Direktur Choi. Kau bisa terlambat datang ke persidangan dan itu bukanlah sebuah etika yang baik. Paling tidak, selama persidangan jaga sikapmu. Ah, bahkan sampai sidang itu selesai dan kau kembali ke kantor, jangan membuat perdebatan tidak perlu. Dengan siapapun!” tukas Changmin tegas.

Siwon menghela nafas frustasi. “Shim Changmin…”

“Direktur Choi Siwon!!” ucap Changmin lebih tegas.

Well, ia mungkin terkadang tunduk pada sikap Siwon, tapi Changmin juga bisa lebih tegas dari Siwon. Dan jika itu tidak berhasil, Changmin akan menggunakan cara terakhir. Mengadu pada ayah Siwon atau kakek mereka. Terkesan kekanakkan, tapi cukup ampuh sampai sekarang.

Siwon mendesis jengkel lalu meninggalkan ruangan Changmin dengan kesal sudah diubun-ubun kepala. Dengan sengaja, Siwon menutu pintu dengan kasar. Changmin menghela nafas dan bersandar pada kursinya. Ia mengusap wajahnya. Siwon benar-benar membuatnya frustasi. Bagaimana mungkin sepupunya itu bersikap seperti anak kecil hanya karena tidak mau berdua dengan Cho Kyuhyun selama persidangan.

Eh? Hanya berdua dengan Cho Kyuhyun?

Changmin baru tersadar. Ia menatap pintu dan menarik nafas. “Sudahlah, biarkan saja. Cepat atau lambat ini pun harus terjadi.”

Kemudian Changmin meneruskan pekerjaan. Ia harus menyelesaikannya dengan cepat jika ia ingin pulang ke rumah sebelum makan siang dan mandi air hangat.

*****

Well, pada akhirnya Siwon pergi sendirian ke pengadilan. Walaupun ia bisa mengikuti saran Changmin untuk meminta Sooyoung atau Yunho menemaninya, tapi itu tidak bisa dilakukannya. Hell, Choi Siwon bukan anak berusia enam tahun yang masih harus ditemani orang dewasa kemana pun ia pergi.

Siwon masih berada di mobilnya dan ia bisa mengetahui kalau Kyuhyun sudah datang –heck, ia mengenal jelas mobil milik sang pengacara. Siwon melirik jam dipergelangan tangannya. Masih ada waktu tigapuluh menit sebelum persidangan di mulai. Well, Siwon akan masuk lima menit sebelum sidang dimulai.

Atau itulah rencananya.

Siwon mendesis jengkel ketika ponselnya berdering dan terpampang nama Pengacara Cho pada layarnya. Siwon menggeser tombol hijau. “Ya, Choi Siwon imnida.”

“Ah, Choi-sshi, apakah anda masih dijalan? Aku baru saja menghubungi Shim Changmin dan ia mengatakan kalau hanya anda yang datang ke persidangan hari ini. Apa anda sudah dekat?”

Siwon menekan keningnya dengan keras. Damnit, Shim Changmin!

“Aku masih di perjalanan. Mungkin akan sampai sekitar lima atau sepuluh menit lagi,” jawab Siwon berbohong. Satu kebohongan tidak akan membuatnya terbunuh, bukan?

“Ah, begitu rupanya. Tapi bisakah lebih cepat karena sepertinya waktu sidangnya dimajukan. Para hakim sudah datang. Aku akan berusaha mengulur waktu.”

Satu hal yang tidak terpikirkan oleh Siwon. “Ye?! Di-dimajukan? Bukankah sidangnya dimulai pukul setengah sepuluh. Ini baru pukul Sembilan.”

“Mungkin karena agenda hari ini hanya mendengarkan pernyataan terakhir dari pihak Kim Jinhyeok sebelum sidang terakhir minggu depan. Aku akan berusaha mengulur waktu. Cepatlah, Choi-sshi.”

Kemudian Kyuhyun memutus panggilan telepon secara sepihak. Meninggalkan Siwon yang sepertinya masih shock dengan percepatan waktu sidang yang mendadak. Lalu tanpa membuang waktu, Siwon langsung keluar dari mobil dan berlari melewati lapangan parkir menuju gedung pengadilan.

Heck, dia membenci Shim Changmin.

*****

Joonmyeon memperhatikan Kevin yang menatap lukisannya yang sudah dirobek. Selain itu, fotonya yang terpasang pada mading sekolah juga ikut dirusak. Foto Joonmyeon ketika kelas Musik memenangkan festival tahunan. Pihak guru dan pihak keamanan sekolah sudah memeriksa CCTV sekolah untuk mencari tahu pelakunya tapi tidak ada bukti apapun.

Joonmyeon menghela nafas dan mengalihkan perhatiannya pada lukisan milik Kevin yang dirusak. Well, itu adalah lukisan ilusi milik Kevin. Menurut Han Ssaem, lukisan itu akan baru dipasang di lobby utama sekolah hari Senin depan. Tapi karena kejadian ini, kemungkinan lukisan milik Luhan yang akan dipajang.

“Ini sangat tidak terduga, tapi kami akan menyelidikinya sampai pelakunya tertangkap. Sebaiknya kalian kembali ke kelas,” tutur Jo Ssaem.

Joonmyeon mengangguk dan membungkuk. Kemudian ia meninggalkan ruang guru terlebih dahulu. Sebelum keluar, Joonmyeon kembali menatap Kevin yang tidak melepaskan pandangan mata dari lukisan miliknya –sampai akhirnya Han Ssaem menepuk bahunya dan bicara pada Kevin. Joonmyeon menghela nafas lalu berjalan keluar. Tapi ia tidak langsung kembali ke kelas. Joonmyeon menunggu hingga Kevin keluar dari ruang guru.

Tak lama setelah Joonmyeon, Kevin keluar dari ruang guru. Kevin menatap Joonmyeon untuk beberapa detik sebelum beranjak meninggalkan saudara tirinya tersebut.

“Kevin…”

Langkah kaki Kevin terhenti, tapi ia tidak berbalik.

Joonmyeon lalu menghampirinya. “Kita bicara dulu,” ucap Joonmyeon yang secara sadar menggenggam tangan Kevin.

Joonmyeon membawa Kevin keatap sekolah. Butiran tipis salju sudah turun dan menutupi sebagian atap. Keduanya kini saling berhadapan. Joonmyeon menatap Kevin dengan lekat, walaupun Kevin sepertinya lebih tertarik dengan sepatunya.

Joonmyeon menghela nafas dan mengambil ponsel serta headset dari saku jaket Kevin. Joonmyeon memasang headset tersebut ditelinga Kevin dan mulai memainkan playlist lagu yang sering didengarkan Kevin. Kemudian Joonmyeon memasukkan ponsel itu kedalam saku jaket Kevin. Joonmyeon kembali memperhatikan ekspresi Kevin yang sepertinya sangat terpukul dengan kejadian pagi ini. Well, ia tahu persis kalau Kevin bekerja keras untuk menyelesaikan lukisan ilusi tersebut.

Lagi, Joonmyeon menarik nafas. Perlahan Joonmyeon memeluk tubuh Kevin. Ia tahu kalau pelukan mungkin tidak akan mengembalikan lukisan Kevin seperti semula, tapi hanya ini yang bisa dilakukan Joonmyeon. Dengan lembut, Joonmyeon menepuk punggung Kevin.

“Tidak apa-apa. Para guru akan menemukan pelakunya. Jadi, tidak apa-apa,” bisik Joonmyeon.

Well, dengan perbedaan tinggi mereka yang cukup mencolok membuat Joonmyeon menenggelamkan wajahnya didada Kevin. Suhu udaranya mungkin sangat dingin, tapi entah kenapa Joonmyeon malah merasa kepanasan. Joonmyeon terus menepuk punggung Kevin dan mengucapkan “tidak apa-apa” berulang-ulang walaupun tidak ada respon dari Kevin.

Sampai akhirnya, Kevin membalas pelukan Joonmyeon dan Joonmyeon bisa merasakan setiap helaan nafas Kevin di telinganya. Dan setiap detik, Joonmyeon merasa suhu tubuhnya terus naik.

*****

Siwon menghela nafas sembari menuruni tangga. Persidangan hari ini begitu melelahkan walaupun hanya memakan waktu sekitar empatpuluh menit. Well, Kyuhyun sudah meyakinkannya kalau Choi Group akan memenangkan sengketa tersebut, tapi Siwon yakin Kim Jinhyeok tidak akan tinggal diam begitu saja. Mungkin saja pria tua itu akan mengajukan banding –Kyuhyun mengatakan bahwa kemungkinannya sangat kecil, jika melihat dari pernyataan terakhir yang disampaikan oleh Kim Jinhyeok.

Ah, Siwon tidak peduli. Menang atau kalah, ia hanya menginginkan persengketaan ini cepat berakhir –jadi ia tidak perlu bertemu dengan Pengacara Cho lagi. Well, hanya berharap.

“Choi Siwon-sshi..”

Siwon berbalik dan melihat Kyuhyun menghampirinya dengan setengah berlari. Siwon memandanginya dengan khawatir. Hell, tangganya cukup licin karena salju, bisa saja Kyuhyun akan….

Dalam hitungan detik berikutnya, Siwon berhasil menangkap Kyuhyun. Sang pengacara itu hampir saja akan kembali masuk rumah sakit karena patah tulang jika Siwon tidak berhasil menangkap tubuhnya. Siwon menahan nafasnya untuk beberapa detik. Setelah memastikan bahwa mereka masih berdiri, ia menghela nafas lega. Namun, ada sesuatu yang sedikit terasa janggal. Well, saat ini Siwon sedang memeluk Kyuhyun dengan erat dan ia dengan sangat jelas bisa mencium aroma manis dari rambut Kyuhyun.

Apel? Lemon atau bahkan vanilla, pikir Siwon.

Disaat Siwon masih mengira aroma apa yang menguar dari rambut Kyuhyun, sang pengacara sendiri terlihat sangat shock. Kyuhyun berpegangan pada Siwon dengan erat sekali. Ia merasa jantungnya terasa meledak. Damn, he’s smell so good.

Kemudian, Kyuhyun melepaskan pegangannya pada Siwon dan mengambil jarak untuk keduanya. Siwon terlihat canggung dengan apa yang baru saja terjadi. Ia menatap Kyuhyun –wajahnya sedikit memerah.

Siwon menarik nafas. “Kau baik-baik saja? Jangan berlari seperti itu lagi.”

Kyuhyun mengangguk. “Maaf, terima kasih karena menolongku. Lagi. Sepertinya aku tidak beruntung dengan salju.”

Siwon ikut setuju pada perkataan Kyuhyun. Ia berdeham pelan. “Ada yang ingin kau bicarakan denganku? Mengenai persidangan?” tanyanya kembali fokus kenapa Kyuhyun memanggilnya tadi.

“Ah, mengenai persidangan minggu depan jika keputusannya sesuai harapan kita maka itu tidak akan masalah. Namun, jika terjadi sesuatu yang diluar perkiraan, aku ingin tahu bagaimana keputusan internal Choi Group. Kau tahu, misalnya mengajukan banding atau semacamnya,” tutur Kyuhyun dengan kikuk.

Siwon menghela nafas panjang. “Well, kurasa kau melupakan bahwa Choi Group tidak mengharapkan kekalahan. Ada banyak kepentingan yang dipertaruhkan dalam persidangan ini. Lakukan apapun yang menurutmu bisa menyelamatkan pabrik dan juga semua pegawainya. Walaupun aku tidak tahu apa yang membuatmu kembali ragu, padahal tadi kau mengatakan padaku bahwa kita kemungkinan besar akan memenangkan kasus ini, aku hanya ingin kau mengingat akan hal ini, Pengacara Cho. Seluruh masa depan Choi Group dan semua pegawainya berada ditanganmu.”

Heck, ucapan Siwon membuat perut Kyuhyun merasa tidak nyaman. Kyuhyun mungkin sering mendapatkan kasus dengan tanggung jawab yang sangat besar. Tapi kasus Choi Group ini membuatnya merasa dia akan bunuh diri jika kalah. Kyuhyun tahu persis Choi Group adalah perusahaan besar dengan puluhan ribu pegawai, jika Choi Group kolaps karena mereka kalah dalam kasus sengketa tanah ini, tidak menutup kemungkinan bahwa selain semua pegawainya akan kehilangan pekerjaan, ekonomi korea juga akan terimbas.

“Aku tidak bermaksud menakutimu, Pengacara Cho. Kau telah bekerja keras dan apapun keputusan pengadilan minggu depan, well… kita hanya berharap yang terbaik, bukan?” tutur Siwon lagi.

Kyuhyun menelan salivanya. “Ya, kita hanya berharap yang terbaik, Choi Siwon-sshi. Kalau begitu sampai bertemu minggu depan dan kuharap kau tidak akan terlambat lagi.”

Siwon meringis, tapi ia berusaha untuk tetap tersenyum. “Akan kuusahakan, Pengacara Cho.”

Kyuhyun lalu membungkuk dan berjalan menuruni tangga. Ia meninggalkan Siwon yang memperhatikannya. Well, sebenarnya Siwon memperhatikan tangan kiri Kyuhyun. Tangan kiri itu masih dibalut perban dan membuat Siwon bertanya seberapa parah lukanya. Ini bahkan sudah satu bulan sejak kejadian di pabrik Incheon. Siwon menarik nafas panjang. Ia harus melakukan sesuatu untuk luka itu.

“Cho Kyuhyun-sshi..”

Kyuhyun menoleh. “Ya?”

“Kapan kau ke rumah sakit lagi? Untuk luka di tangan kirimu itu,” ucap Siwon yang kini berjalan menghampiri Kyuhyun.

Kyuhyun menatap tangan kirinya. Dia masih memperhatikannya?

“Jangan kau pikir, kalau aku tidak memperhatikannya. Ini sudah sebulan, tapi tanganmu masih diperban begitu. Apa lukanya begitu serius?” tanya Siwon yang kini sudah berada dihadapan Kyuhyun lagi.

Kyuhyun menurunkan tangan kirinya dan menggeleng. “Lukanya tidak serius. Hari ini aku akan ke rumah sakit untuk membuka perbannya. Seharusnya sudah sembuh, tapi dokter ingin memastikannya secara langsung.”

“Bagus, kalau begitu aku akan ikut bersamamu.”

Mata Kyuhyun membulat. “Ye?”

“Aku juga ingin memastikannya secara langsung kalau kau sudah sembuh. Well, kau adalah tanggung jawabku. Aku akan mengikuti mobilmu dari belakang, okay. Shall we?”

Kemudian Siwon berjalan menuju mobilnya, sedangkan Kyuhyun masih terdiam.

Aku adalah tanggung jawabnya? Hell, apa maksudnya itu?

*****

Kyuhyun berjalan menuju ER dimana Haneul sudah menunggunya. Ia merasa sedikit tidak nyaman dengan Siwon yang mengikutinya, tapi Kyuhyun juga tidak bisa mengusir Siwon. Kecelakaan waktu di pabrik itu mungkin memang tanggungjawab Choi Group, tapi Kyuhyun sama sekali tidak nyaman dengan perlakuan seperti ini. Karena itulah ia memilih untuk mengobati lukanya sendiri tanpa harus mengirimkan biaya pengobatannya ke Choi Group.

Kyuhyun memasuki ruang ER dan melihat Haneul sedang sibuk dengan tumpukan dokumen mengenai kondisi pasien –mungkin. Sebenarnya ER bukanlah tempat yang tepat untuk melihat perkembangan penyembuhan luka Kyuhyun, tapi karena Haneul lebih banyak di ER maka tidak ada jalan lain.

“Dokter Kang…”

Haneul mengangkat kepalanya ketika mendengar suara Kyuhyun. Ia tersenyum tipis tapi kemudian mengernyit saat melihat seorang pria lain dibelakang Kyuhyun. Well, mungkin karena pria itu juga, Kyuhyun memanggilnya dokter Kang –Hell, setiap Kyuhyun datang, Haneul selalu dipanggil dengan sebutan dokter Kang.

“Ah, Cho Kyuhyun-sshi, kupikir kau tidak akan datang,” ucap Haneul berbasa-basi.

Kyuhyun memutar bola matanya –beruntung Siwon berada dibelakangnya, jadi pria Choi itu tidak bisa melihat ekspresi Kyuhyun pada Haneul sekarang. “Well, kita sudah buat janji untuk ini, bukan?” Kyuhyun mengangkat tangan kirinya.

Haneul mengangguk dan tersenyum. “Baiklah. Ah, sebelumnya, sepertinya kau membawa seorang teman?” tutur Haneul sembari menatap Siwon.

Siwon sontak membungkuk pada Haneul. “Maaf, aku adalah kliennya. Pengacara Cho mendapatkan luka saat berkunjung ke pabrikku untuk melakukan negoisasi ulang dengan pihak yang bersengketa dengan perusahaanku. Jadi, aku mendampingi hari ini sebagai bentuk salah satu tanggung jawab kami.”

Haneul melirik Kyuhyun sekilas dan kembali memandang Siwon. “Ah, begitu rupanya. Kang Haneul imnida. Dokter sekaligus teman lama Pengacara Cho.”

Haneul mengulurkan tangannya. Siwon mengernyit dan menyambut uluran tangan tersebut. “Choi Siwon imnida. Well, klien Pengacara Cho.”

Haneul tersenyum dan ia mengarahkan Kyuhyun untuk menuju salah satu tempat tidur untuk melakukan pemeriksaan. Siwon mengikuti keduanya dengan sedikit pertanyaan yang berputar.

Hell, rasanya aku pernah melihatnya. Entah dimana. Dan jika mereka adalah teman, tapi kenapa sikap Kyuhyun padanya begitu…? Dingin. Ah, Choi Siwon, hentikan itu!!

Selama pemeriksaan, Siwon hanya memperhatikan dengan serius. Well, lukanya sudah sembuh tapi sepertinya meninggalkan bekas luka. Terlihat sebuah garis dengan warna kemerahan yang pudar, kontras sekali dengan kulit sang pengacara yang putih pucat.

Haneul menghela nafas. “Well, seperti dugaanku. Terserah pilihanmu, Kyuhyun-sshi. Kau mau membiarkan bekasnya tetap ada atau kau mau menghilangkannya?” tanya Haneul untuk kesekian kalinya.

Kyuhyun sudah bosan sekali dengan pertanyaan itu setiap ia datang ke rumah sakit. Kyuhyun menarik nafas. “Jawabanku tetap sama. Biarkan saja bekas lukanya. Aku tidak begitu peduli.”

Haneul terdiam untuk beberapa saat. Ia masih memperhatikan bekas luka ditangan kiri Kyuhyun. “Tapi aku peduli,” ucapnya pelan.

Suara Haneul mungkin terdengar seperti berbisik dan ER cukup ramai, tapi Siwon masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Ia kembali mengernyit melihat sikap keduanya. Well, cukup terlihat kalau mereka sudah lama saling mengenal tapi Siwon merasa ada sesuatu yang terjadi diantara mereka. Heck, selain itu Siwon masih sangat penasaran dengan dokter Kang itu.

Tiba-tiba ponsel Siwon bergetar. Ia sedikit menjauh untuk menerima panggilan telepon tersebut. Siwon menghela nafas saat melihat nama Changmin pada layar ponselnya. “Ya, Shim?”

“Bagaimana sidang hari ini? Lancar?”

Siwon bergumam dengan sesekali memperhatikan Kyuhyun dan dokter Kang itu. “Keputusannya minggu depan dan aku harap kau bisa datang, Shim.”

“Aku tahu. Maaf untuk hari ini, tapi masalah HaeAn benar-benar membuatku frustasi. Sekarang kau di perjalanan kembali ke kantor?”

“Ani. Aku di rumah sakit, mengantarkan Kyuhyun untuk melepas perban luka tangannya. Well, Choi Group masih memegang tanggung jawab terhadap Pengacara Cho, bukan?”

“Oh, baguslah. Lukanya memakan waktu lama sekali untuk sembuh, ternyata. Baiklah, aku sedang perjalanan pulang untuk istirahat. Kita bicara masalah HaeAn besok saja, okay?”

Siwon kembali bergumam lagi. “Baiklah, hati-hati menyetirnya. Dan aku berhutang permintaan maaf padamu untuk yang tadi pagi.”

“Tch, sudahlah. Kau seperti bicara dengan orang asing saja, Choi. Aku ini sepupumu.”

Siwon tersenyum dan melihat Kyuhyun sepertinya sudah selesai. “Okay, aku tutup dulu. Pengacara Cho sepertinya sudah selesai dengan dokter Kang Haneul. Aku akan….”

“Wait? Kau bilang siapa tadi? Kang Haneul?”

“Iya, dokter Kang Haneul. Dokter yang mengobati luka Pengacara Cho. Kenapa?” tanya Siwon penasaran.

“Ah… Aku baru ingat namanya kemarin. Nama saudara kembar Kang Haesa. Well, aku tahu kau tidak tertarik tapi akan tetap kuberitahu. Nama putra Kang Jaeha adalah Kang Haneul. Sepertinya kau beruntung sekali berurusan dengan Kang bersaudara itu.”

Mata Siwon membulat. Ia masih memperhatikan dokter Kang Haneul yang berbicara dengan Kyuhyun. Hell, pantas ia seperti pernah melihat pria itu. Dan ia sama sekali tidak merasa beruntung berurusan dengan Kang bersaudara. Saudarinya sudah cukup membuatnya menderita –karena entah bagaimana Kang Haesa mungkin adalah penyebab Siwon selalu bertemu dengan Kyuhyun, selain karena alasan perjodohan dengan Cho Ahra dan masalah pekerjaan. Kini ia hanya berharap, Siwon tidak perlu mempunyai urusan dengan Kang Haneul juga.

Siwon menghela nafas panjang. “Aku tutup teleponnya, Shim.”

“Tu-tunggu.. Choi….”

Siwon langsung memutuskan sambungan telepon dan menghampiri Kyuhyun dan dokter Kang itu. Siwon memperhatikan keduanya dengan lekat –apa lagi Kang Haneul. Well, ia mungkin setuju dengan Changmin. Haneul cukup mirip dengan Haesa. Tentu saja itu karena mereka adalah saudara kembar.

“Kau sudah selesai? Aku akan membayar untuk pemeriksaan hari ini, jika kau tidak keberatan,” ucap Siwon pada Kyuhyun.

Kyuhyun hendak membuka mulutnya untuk menolak, tapi Haneul terlebih dahulu yang bicara. “Itu tidak perlu, Choi Siwon-sshi. Ini hanya pemeriksaan terakhir. Lagipula hanya membuka perban dan melihat kondisi lukanya. Well, Kyuhyun-sshi tidak perlu membayar apapun.”

Kyuhyun dan Siwon menatap Haneul dengan mengernyit.

“Tidak perlu bayar?” tukas Siwon.

Haneul tersenyum dan mengangguk. “Baiklah, aku harus kembali bekerja. Kyuhyun-sshi, usahakan untuk tidak terluka lagi. Permisi.” Kemudian Haneul meninggalkan Siwon dan Kyuhyun.

Kyuhyun mendengus pelan. “Tidak terluka lagi? Apa-apaan dia?” gumamnya pelan.

Siwon lalu menatap Kyuhyun dengan serius. Ia sangat yakin terjadi sesuatu antara Kyuhyun dengan Kang bersaudara itu. Walaupun hubungan Kyuhyun dan Kang Haesa sudah berakhir, tapi entah bagaimana Kyuhyun kini masih terlibat dengan Kang Haneul. “Dia saudara Kang Haesa?” tanyanya.

Kyuhyun sontak memandang Siwon heran. “Darimana kau mengetahuinya?”

“Hanya tebakan. Sudah kuduga sebelumnya karena wajah mereka mirip,” sahut Siwon berbohong. Hah, kau pintar sekali Choi Siwon. Sebelumnya kau malah meragukan Changmin.

“Well, banyak orang yang mengatakan bahwa mereka tidak mirip –termasuk diriku. Jika kau melihat kemiripan diantara mereka, mungkin… kau mempunyai penglihatan yang bagus,” tutur Kyuhyun sembari berjalan keluar ER.

Siwon mengikutinya.

“So, kau masih berhubungan dengannya? Kang Haesa, maksudku. Karena kau sepertinya –walaupun terlihat cukup akrab dengan dokter Kang Haneul, tapi setidaknya kalian masih bisa saling menghubungi,” ujar Siwon.

Kyuhyun melirik Siwon. Dari ekspresi Kyuhyun, Siwon tahu kalau Kuhyun merasa tidak nyaman karena ia kembali menyebut Kang Haesa.

“Aku tidak pernah berhubungan dengan Haesa lagi sejak kejadian di pulau Jeju, Siwon-sshi. Bahkan bisa bertemu dengan Haneul, itupun sebuah kebetulan,” tutur Kyuhyun. Well, lebih tepatnya dia yang kebetulan mencariku.

Siwon menarik nafas. “Oh, kupikir kalian masih, well berteman? Maaf, jika membuatmu merasa tidak nyaman. Dan sepertinya, hubunganmu dengan dokter Kang tidak cukup baik. Kalian bersikap formal meskipun dia bilang kalian adalah teman lama.”

Kyuhyun menghela nafas dan berbalik menatap Siwon. “Choi Siwon-sshi, kurasa kau tidak perlu mengetahui apapun mengenai masalah kehidupan pribadiku. Well, hubungan kita hanya sebatas pekerjaan. Dan bagaimana aku bersikap dengan dokter Kang adalah pilihanku. Bukankah anda seharusnya kembali ke kantor sekarang? Terima kasih telah menemaniku ke rumah sakit, walaupun sebenarnya tidak perlu. Kita bertemu lagi minggu depan saat persidangan.”

Kemudian tanpa mendengar respon Siwon atau bahkan melihat bagaimana reaksi Siwon, Kyuhyun langsung pergi begitu saja. Siwon terlihat sangat terkejut dengan sikap defensif Kyuhyun saat ia bertanya mengenai hubungannya dengan Kang bersaudara. Well, itu memperlihatkan sesuatu dan tentu saja… Hell, apa-apaan sikapnya itu tadi?

Kemudian Siwon mengejar Kyuhyun.

*****

Luhan menghampiri Kevin yang sibuk dengan kanvas dan cat minyaknya. Ia baru mendengar mengenai kejadian tadi pagi mengenai lukisan Kevin yang di rusak. Seharian ini, Luhan sibuk dengan Go Ssaem mengenai masalah pameran yang akan dilakukan dua bulan lagi. Luhan memandangi Kevin yang sepertinya tidak memperdulikan keberadaannya di ruangan tersebut. Luhan menghela nafas dan mengambil sebuah kursi.

“Kau baik-baik saja, Fan?” tanya Luhan.

Kevin melirik sahabatnya yang duduk tidak jauh darinya. Lalu ia kembali terfokus pada lukisan yang tengah diselesaikannya. “Tidak apa-apa, Lu. Bukan masalah besar,” jawabnya singkat.

Well, Joonmyeon mengatakan bahwa tidak apa-apa, bukan?

“Tapi itu adalah lukisanmu, Fan. Kau bekerja keras untuk menyelesaikannya lebih cepat dari waktu yang diberikan Han Ssaem. Selain itu, lukisan itu harusnya dipajang di lobby utama bukan?” ujar Luhan.

Kevin menghela nafas. Ia menyimpan kuas serta paletnya, lalu menatap Luhan dengan serius. “Itu hanya sebuah lukisan, Lu. Aku bisa membuatnya lagi. Lukisan itu tidak berarti apapun –bahkan walaupun lukisan itu akan dipajang di lobby utama sekolah. Selain itu, aku merasa tidak puas dengan hasilnya. Oh, selamat untukmu.”

Luhan mendengus. “Kau bilang tidak berarti apapun lukisan yang dipajang di lobby utama, tapi kau memberiku selamat. Itu sebuah ironi, Wu Yifan.”

Kevin tersenyum tipis. “Itulah hidup, bukan? Penuh dengan ironi. Seperti aku menyukai Joonmyeon, tapi malah berakhir menjadi saudaranya.”

“Yifan…”

“Jangan menatapku seperti itu, Lu. Please…”

Luhan menghela nafas. Ia hendak berbicara lagi, sampai terdengar suara pintu terbuka. Luhan dan Kevin menoleh kearah pintu, dan melihat Joonmyeon disana dengan wajah sedikit khawatir.

“Woah, dia berani datang ke area kelas Seni?” gumam Luhan pelan.

Luhan tersenyum dan memberi isyarat agar Joonmyeon menghampiri mereka. Dengan langkah ragu, Joonmyeon memasuki ruangan tersebut dan menutup pintunya. Kevin menghela nafas. Sepertinya Joonmyeon terpaksa mencarinya. Ini sudah waktu pulang dan mereka tidak bisa pulang sendiri-sendiri, jika tidak ingin ditanya yang macam-macam oleh Mom.

“Sorry, Joonmyeon. Aku seharusnya menghubungimu. Tunggu disini, okay? Aku akan mengambil tasku di kelas,” ucap Kevin.

Joonmyeon menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit khawatir. Jadi, aku mencarimu.”

Kevin tersenyum tipis lalu berjalan keluar ruangan tersebut untuk mengambil tasnya. Kini tinggal Luhan dan Joonmyeon di ruangan tersebut. Luhan tersenyum pada Joonmyeon, jadi pemuda Kim itu membalas senyumannya. Lalu Joonmyeon melihat kearah kanvas.

“Lukisan Kevin?” tanyanya.

Luhan mengangguk. “Well, sepertinya dia masih sangat kecewa dengan kejadian tadi pagi. Lukisan ini begitu suram,” ujarnya.

Joonmyeon hanya bergumam dan memperhatikan lukisan yang baru setengah jadi. Well, sangat terlihat dari pemilihan warna-warna gelap kalau Kevin memang kecewa. Joonmyeon sedikit mempelajari bagaimana membaca situasi perasaan Kevin melalui lukisan yang yang dikerjakannya.

Kemudian Joonmyeon menatap Luhan. “Selamat untukmu. Aku sangat ingin melihat lukisanmu.”

Luhan tersenyum. “Well, lukisanku tidak sebagus lukisan Kevin. Tapi terima kasih.”

Tak lama Kevin kembali membuka pintu. Ia sudah memakai jaket serta tas ranselnya. “Ayo pulang, Joon. Lu, aku pulang duluan.”

Joonmyeon lalu sedikit membungkuk pada Luhan dan mengikuti Kevin. Sedangkan Luhan yang tinggal di ruangan tersebut. Ia kembali menatap lukisan Kevin dan menghela nafasn panjang.

“Hidup memang sebuah ironi, Yifan. Aku setuju denganmu.”

*****

Kevin melirik Joonmyeon yang mencari kehangatan dari scarf yang menutupi sebagian wajahnya. Ia kembali teringat mengenai tadi pagi, saat Joonmyeon memeluknya di atap sekolah. Well, Kevin tahu kalau Joonmyeon hanya sedang memberikan dukungan moral padanya. Tapi… Sudahlah, Kevin tidak mau berharap lebih banyak.

Setelah berjalan sepuluh menit dari halte, mereka akhirnya sampai di rumah. Kevin masuk terlebih dahulu dan langsung bergegas ke kamarnya walaupun Sara sudah memanggilnya dari arah dapur. Joonmyeon menghela nafas sembari melepaskan scarf merahnya. Ia menghampiri Sara yang terlihat bingung.

Sara menatap Joonmyeon dengan khawatir. “Terjadi sesuatu di sekolah?”

“Lukisan milik Kevin di rusak orang. Padahal lukisan itu akan dipajang di lobby utama sekolah hari Senin nanti,” jawab Joonmyeon sedikit ragu. Walaupun sebenarnya ia tidak yakin, apakah harus menceritakan masalah ini pada Sara atau tidak.

Sara menghela nafas sembari menatap kearah lantai dua. “Pantas saja. Kevin sangat sensitif jika berhubungan dengan lukisannya. Cepat ganti bajumu, okay. Mom akan menyiapkan coklat hangat. Sekalian jika bisa ajak Kevin juga.”

Joonmyeon mengangguk lalu berjalan menuju tangga. Ia berjalan perlahan menuju kamarnya dan ketika hendak membuka pintu, Joonmyeon terhenti sejenak. Ia memandang pintu kamar Kevin.

Joonmyeon menghela nafas dan membuka pintu. Ia melepaskan tas ranselnya dan menaruh scarfnya diatas meja, kemudian keluar kamar. Joonmyeon lalu berdiri di depan pintu kamar Kevin dan mengetuk perlahan.

“Kevin…”

Joonmyeon mendengar sahutan Kevin yang menyuruhnya untuk masuk. Joonmyeon membuka pintu dan melihat Kevin tengah berbaring di tempat tidur. Kevin bahkan belum melepaskan mantelnya. Joonmyeon berjalan masuk dan menutup pintu kembali.

“Kevin, kau baik-baik saja?” tanya Joonmyeon sembari menghampiri saudara tirinya tersebut.

Kevin sontak bangun dan menatap Joonmyeon. Ia tersenyum tipis. “Kau bilang tidak apa-apa, bukan? Maka aku baik-baik saja.”

Joonmyeon mengangguk kecil. Ia menarik nafas panjang. “Cepat ganti baju. Mom sudah membuatkan coklat hangat. Kau harus turun.”

Kevin tidak mengatakan apapun. Ia hanya memperhatikan Joonmyeon dengan lekat. Kevin perlu mengakui bahwa Joonmyeon semakin terlihat… menarik. Entah, Kevin tidak tahu pujian yang tepat untuk Joonmyeon. Anak dari ayah tirinya adalah seorang pria, tapi Kevin mendapati Joonmyeon terlihat begitu cantik.

“Kev, kau yakin baik-baik saja?” tanya Joonmyeon yang sepertinya khawatir karena Kevin tidak mengatakan apapun.

Kevin menghela nafas dan menepuk tempat tidur –tepat disamping ia duduk saat ini. “Kesini sebentar, Joon.”

Joonmyeon menggigit pipi bagian dalam mulutnya. Dengan sedikit ragu, Joonmyeon mendekati Kevin tapi ia tidak duduk disebelah Kevin. Joonmyeon kini berdiri dihadapan Kevin. “Ada apa?”

Kevin tersenyum. Sepertinya Joonmyeon masih menjaga jarak dengannya. Mungkin karena perasaan Kevin pada Joonmyeon yang membuat pemuda Kim itu selalu canggung jika berada di dekat Kevin. Terlebih, Kevin sudah dua kali mencium Joonmyeon –tanpa permisi.

Kevin menarik nafas. Ia menggenggam jangan Joonmyeon dan menarik tubuh pemuda itu lebih dekat. Kemudian Kevin memeluk Joonmyeon dengan erat. Ia menenggelamkan wajahnya diperut Joonmyeon.

“Peluk aku selama lima menit, okay. Hanya lima menit,” gumamnya pelan.

Joonmyeon yang terlihat terkejut karena perbuatan tiba-tiba Kevin tidak bisa menolak. Kevin memeluk tubuhnya dengan erat. Rasa canggung itu kembali muncul, tapi kemudian diikuti oleh rasa nyaman dan hangat yang perlahan menyebar keseluruh tubuhnya. Joonmyeon menghela nafas panjang sebelum akhirnya menyentuh rambut Kevin dengan perlahan.

Kevin tersenyum dalam pelukan Joonmyeon. Ia mungkin bisa saja tertidur dalam pelukan Joonmyeon. Tapi waktu lima menit berlalu begitu cepat. Kevin merasa kehilangan rasa hangat itu ketika Joonmyeon mulai menarik diri. Kevin menunduk menatap lantai dan menertawainya sendiri. Seberapa besar perasaannya pada Joonmyeon, tidak bisa menghapus sebuah ikatan persaudaran diantara mereka.

“Kenapa kau tertawa?” tanya Joonmyeon.

Kevin mengangkat kepalanya dan menatap Joonmyeon. Ia lalu menggeleng. “Aku begitu bodoh. Iya kan? Kita adalah saudara, tapi aku tidak pernah menganggap ikatan itu. Semua yang kulakukan hanya sebuah bentuk penyangkalan –membodohi diriku sendiri kalau kita bukanlah saudara.”

Joonmyeon terdiam. Ia tidak berani mengatakan apapun. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Kevin lalu berdiri dan melepaskan mantelnya serta jas seragamnya. Kemudian diikuti oleh dasinya. Joonmyeon masih di kamar itu, memperhatikan Kevin yang mulai mengganti seragamnya. Dan ketika Kevin hendak membuka kancing seragamnya, tangan Joonmyeon menyentuh tangan Kevin.

Kevin sontak menatap Joonmyeon.

“Kau tidak bodoh… Yifan.”

Ini adalah pertama-kalinya Joonmyeon memanggil Kevin dengan nama Yifan. Ia tahu persis nama Kevin sebenarnya dari Sara dan alasan kenapa Yifan memakai nama Kevin saat mendaftar masuk sekolah. Dan juga kenapa Kevin selalu menggunakan inisial WYF disemua lukisannya. Alasan sentimentil.

Kevin menatap Joonmyeon dengan lekat. “Kau memanggilku Yifan?”

Joonmyeon menarik nafas dan menyuruh Kevin untuk kembali duduk di tempat tidur.Ia membalas tatapan Kevin. “Di rumah, aku akan memanggilmu dengan Yifan karena Mom dan Appa juga memanggilmu begitu.”

Kevin masih tidak melepaskan fokus perhatiannya dari Joonmyeon. Ia ingin mengetahui apa sebenarnya yang akan dikatakan Joonmyeon –atau mungkin dilakukan oleh Joonmyeon. Kevin mungkin hanya berharap.

“Dan kau tidak bodoh. Karena kita memang bukan saudara. Kupikir hanya karena sebuah ikatan pernikahan, tidak membuat orang asing akan menjadi saudara,” ucap Joonmyeon lagi.

Kevin menarik nafas. “Sebenarnya apa yang ingin kau katakan, Joon?”

Joonmyeon kemudian menyentuh wajah Kevin dengan perlahan. Hal itu membuat Kevin menahan nafasnya seketika. Ujung jemari Joonmyeon diatas kulitnya menciptakan sebuah sensasi aneh pada perut Kevin.

“Sebaliknya, sebenarnya apa yang ingin kau lakukan, Yifan? Apa yang ingin kau lakukan jika kedua orang tua kita tidak menikah?”

*****

Siwon mendesis melihat Changmin yang tengah tertidur. Ia berjalan menghampiri tempat tidur, lalu mengambil bantal hingga membuat Changmin mengerang kesal karena kegiatan tidurnya terganggu.

“Eomma.. aku masih mengantuk. Biarkan aku tidur,” tukas Changmin dengan setengah terjaga.

Siwon mendengus. “Hey, ini aku. Bangun sebentar, Shim.”

Changmin mengernyit dan berusaha membuka matanya. Ketika melihat sosok Siwon dengan ekspresi menyebalkannya, Changmin mengerang lebih kesal. Tapi ia kemudian bangun dan mengacak rambutnya. “Wae? Kenapa kau kesini? Aku lelah sekali, Choi Siwon.”

Siwon menimpuk wajah Changmin dengan bantal yang masih ditangannya lalu duduk di tepi tempat tidur. “Bosan di kantor.”

Changmin semakin mengerutkan dahi dengan jawaban Siwon. Hell, Choi Siwon bosan di kantor? Mungkinkah kiamat akan segera datang? Pasalnya Choi Siwon adalah tipe pria wokerholic dan mendengarnya merasa bosa di kantor, pasti sebuah kesalahan besar.

“Terjadi sesuatu di rumah sakit? Kau dan Kyuhyun bertengkar atau semacamnya?” tebak Changmin. Walaupun sebenarnya tidak mungkin karena….

Oh? Changmin melihat ekspresi Siwon berubah. “Jadi, terjadi sesuatu?”

Siwon menghela nafas lalu merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Geez, rasanya Changmin ingin sekali menendang tubuh Siwon hingga terguling jatuh dari tempat tidur. Tapi Changmin masih mempunyai rasa kemanusiaan yang sedikit lebih banyak dari Choi Siwon, jadi dia tidak melakukannya. Changmin hanya melempar kembali bantal kewajah Siwon –sebagai balasan karena Siwon tadi menimpuknya.

“Tidak terjadi apapun, Shim Changmin!!” seru Siwon jengkel. Siwon lalu menaruh bantal itu dibawah kepalanya.

“Benar tidak terjadi apapun?” ujar Changmin lagi.

Siwon meliriknya jengkel. Well, sepertinya ia tidak bisa berbohong pada sepupunya yang satu ini. Siwon menghela nafas panjang. “Baiklah, memang terjadi sesuatu. Well, dia sedikit kesal karena aku bertanya mengenai hubungannya dengan Kang Haesa itu.”

Changmin lalu melempar bantal lagi kearah wajah Siwon. Namun, kali ini Siwon membalas melempar bantal yang sama pada Changmin. Well, jika Changmin membalas mungkin akan terjadi perang bantal. Tapi Changmin teringat kalau usianya sudah tigapuluh tahun lebih dan perang bantal diantara pria berusia tigapuluh tahunan, benar-benar sangat kekanakan.

“Well, aku tidak menyangka selain berhati dingin, menyebalkan dan brengsek ternyata kau juga tidak peka sekaligus bodoh. Hey, kau itu sebenarnya pria bukan sih? Kenapa kau mengungkit masalah itu? Jika seorang pria berpisah dengan kekasihnya dengan cara mengenaskan seperti yang terjadi pada Kyuhyun, maka kau tidak bisa mengungkit untuk bertanya bagaimana hubungan keduanya. Kau itu bodoh atau tidak pintar sih?” tutur Changmin.

Siwon mengernyit. “Hah, tidak bisa mengungkitnya? Dia masih terjebak masa lalu begitu? Itu lebih menyedihkan, Shim Changmin. Bukankah seharusnya dia melupakan masalah itu dan setidaknya masih berhubungan baik dengan mantan kekasihnya itu.”

“Tidak semua orang mempunyai pemikiran yang sama denganmu, Choi Siwon. Jika Kyuhyun bersikap seperti itu, maka….” Ucapan Changmin terhenti dan ia menatap Siwon dengan lekat. “Tunggu dulu. Kenapa kau sepertinya ingin tahu sekali mengenai kehidupan pribadi Kyuhyun? Hubungan kita dengannya hanya sebatas pengacara dan klien, selain itu kau sendiri selalu membatasi diri dengan semua rekan kerja. Tapi kenapa sekarang kau penasaran sekali dengan kehidupan Kyuhyun?”

Siwon melempar bantal kearah Changmin yang menjadi sandaran kepalanya. Changmin mengerang kesal. “Yak, kenapa melempariku lagi?!”

“Karena kau berisik, Shim Changmin.” Siwon lalu bangun dan berjalan menuju pintu.

“Hey, kau mau kemana?”

Siwon menoleh. “Legiun. Kau mau ikut?”

Changmin mengerucut. “Tidak, terima kasih. Tapi setidaknya kau bisa menjawab pertanyaanku tadi. Kenapa kau penasaran dengan kehidupan pribadi Cho Kyuhyun, eoh?”

Well, Siwon tentu saja mengabaikan pertanyaan itu. Ia hanya melambaikan tangan dan keluar dari kamar tersebut. Changmin kemudian hanya mengerutu kesal dengan sikap Siwon yang selalu kabur ditengah pembicaraan jika dia tidak mempunyai jawabannya.

Choi Siwon yang selalu lari dari pertanyaan jika dia tersudut. Hah, seharusnya aku tidak kaget lagi.

*****

Kyuhyun menghampiri Heechul yang berada di bar dengan memasang ekspresi kesal. Rasanya hari ini berjalan lambat sekali. Kyuhyun menarik nafas dan menatap Heechul –bersiap untuk mendengar celotehan sepupunya tersebut. Heechul meneleponnya dan menyuruhnya untuk segera ke bar karena terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Walaupun Kyuhyun sudah bertanya puluhan kali mengenai apa, tapi Heechul memaksanya untuk datang terlebih dahulu.

Hell, ini sudah pukul sebelas malam. Kyuhyun hanya ingin pulang dan tidur.

“Aku sudah datang, hyung. Jadi, masalah tidak menyenangkan apa yang kau bilang tadi?” tanya Kyuhyun dengan lelah. Ia mengusap wajahnya dan menarik nafas.

Heechul menatapnya dengan lekat. “Kau kurang tidur?”

Kyuhyun mengangguk. “Kasus Choi Inc. Jadi, ada apa hyung?”

“Lihat ke toilet. Masalah tidak menyenangkan itu ada disana dan jika kau berhasil menariknya pergi maka aku akan membiarkan temanmu itu datang setiap hari kesini,” tukas Heechul.

Kyuhyun mengernyit. “Toilet? Hyung, aku ini pengacara bukannya tukang pipa. Dan siapa teman yang hyung maksud? Temanku? Lee Hyukjae?”

“Iya, Lee Hyukjae. Aku tahu kalau setiap dia kesini hanya untuk memandangi “pria”ku dan aku juga tahu kalau itu pengacara, Cho Kyuhyun. Tapi bisakah kau pergi ke toilet saja? Jadi, aku bisa membiarkan semua pengunjungku untuk memakai toilet itu dan bukannya toilet khusus karyawan,” tukas Heechul yang kemudian mendorong Kyuhyun kearah toilet.

Kyuhyun menghela nafas. Ia benar-benar tidak mengerti dengan ucapan sepupunya. Tapi ia tetap berjalan menuju toilet. Heck, Kyuhyun tidak ingin kembali ke bar ini untuk beberapa waktu –terlebih dengan kejadian hampir sebulan lalu yang tidak bisa diingatnya. Namun, Heechul memaksanya untuk datang. Jadi dengan terpaksa, Kyuhyun harus kembali ke bar itu dan berjalan menuju toilet.

Ada apa dengan toilet ini sih? pikir Kyuhyun dengan memandang pintu berwarna hitam tersebut.

Kyuhyun membuka pintu toilet dan terdiam untuk beberap saat ketika melihat ada seseorang lainnya di dalam toilet tersebut. Kyuhyun menghela nafas panjang. Tidak bisakah aku tidak bertemunya secara terus menerus seperti ini?

Kyuhyun berjalan masuk dan menutup pintu. Ia menatap pria yang kini bersandar pada wastafel. “Pernahkah kau berpikir kenapa kita selalu bertemu dengan seperti ini?”

Pria itu menatap Kyuhyun dan menghela nafas. “Entalah, Pengacara Cho. Sebenarnya aku tidak berniat untuk menemuimu disini.”

“Lalu untuk apa kau berada disini, Choi-sshi? Sepupuku terlihat marah karena kau sepertinya menguasai toilet ini sendirian,” tutur Kyuhyun berusaha untuk tenang. Ia sudah lelah dan tidak ingin mencari masalah lagi dengan Choi Siwon. Terlebih dengan kejadian di rumah sakit.

Siwon melipat kedua tangannya didada. Ia juga tudak tahu kenapa ia malah datang ke bar ini lagi dan menginvansi toiletnya. Tapi harus diakui oleh Siwon, kalau dia akhir-akhir ini memikirkan masalah di toilet waktu itu. Hari ini bahkan lebih parah. Saat ia melakukan kunjungan ke Legiun, Siwon lebih sering mendatangi toilet pada setiap lantai yang ada di Legiun. Asal tahu saja, Legiun itu mempunyai hampir sepuluh lantai dan di masing-masing lantai mempunyai empat sampai lima toilet. Dan Siwon mengunjungi setiap toilet itu seharian ini.

“Maaf, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya perlu berpikir sejenak. Mengenai kejadian disini waktu itu. Dan aku pikir bisa menemukan jawabannya sendiri.” Ucap Siwon tenang.

Wajah Kyuhyun kini terasa hangat. Hell, satu-satunya alasan yang ia tidak ingin dengar dari Choi Siwon kenapa dia berada di toilet bar sepupunya adalah memikirkan kejadian waktu itu. Tidak bisakah Siwon melupakan masalah itu karena mereka berdua juga tidak bisa mengingatnya?

“Choi Siwon-sshi, kita berdua tidak mengingat apapun yang terjadi. Begitu pula dengan sepupumu dan temanku, bukan? Tidak ada sesuatu apapun yang bisa menjadi petunjuk hal apa yang pernah terjadi disini. Pada kita berdua,” ucap Kyuhyun pelan.

Siwon memperhatikan Kyuhyun dengan lekat. Pria Cho itu berdiri dengan bersandar pada pintu. Terlihat bahwa kalau dia ingin sekali keluar dari toilet dan pergi dari bar itu secepatnya. Siwon lalu menurunkan kedua tangannya. Perlahan ia mendekati Kyuhyun.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita mencoba untuk mengingatnya?”

Kyuhyun menatap horror pada Siwon yang kini sudah berdiri dihadapannnya. Kyuhyun ingin sekali membuka pintu dan keluar, tapi rasanya tatapan mata itu malah membuat Kyuhyun tidak bisa bergerak. “Maksudmu apa? Mengingat apa?”

Siwon memperhatikan wajah Kyuhyun dengan lekat. Heck, Siwon perlu mengakui kalau Cho Kyuhyun memang terlihat menarik. Well, Choi Siwon hanya perlu mengontrol dirinya.

“Tidak tahu. Tapi karena kau sudah disini, jadi kuharap kau bisa membantuku mencari jawabannya, Cho Kyuhyun-sshi,” ucap Siwon dengan berbisik.

Kyuhyun tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari wajah Siwon. Bahkan ia tidak ingin berkedip, karena Kyuhyun takut terjadi sesuatu. Apapun itu.

“Ch-Choi Siwon-sshi…”

“Changmin mengatakan sesuatu mengenai bagaimana posisi kita saat mereka menemui kita disini. Bagaimana kalau kita mulai dari situ?”

Kyuhyun menahan nafas ketika wajah Siwon malah semakin dekat dengan wajahnya. “Eoh? Posisi seperti apa?”

Siwon tersenyum melihat ekspresi Kyuhyun. “Jangan terlihat takut begitu. Kita berdua tidak mabuk, jadi tidak akan terjadi apapun. Lagipula kita hanya mencari jawaban, bukan?”

Hell, bagaimana aku tidak takut dengan ekspresinya seperti itu.

Siwon lalu menyentuh leher Kyuhyun dengan tangan kirinya. Sontak Kyuhyun menghindar, tapi tangan kanan Siwon malah menahan tubuhnya. Siwon menatap Kyuhyun dengan serius. “Jangan bergerak. Well, jika kita mendapatkan jawabannya, bukankah ini adalah hal baik? Setelah persidangan terakhir minggu depan, kita tidak perlu bertemu lagi. Kau bisa terbebas dari Choi tanpa sebuah masalah yang tidak terpecahkan.”

Kemudian Siwon kembali menyentuh leher Kyuhyun dengan tangan kirinya. Kali ini, Kyuhyun tidak bergerak menghindar. Ia hanya memejamkan matanya ketika jemari tangan Siwon menyentuh kulitnya. Terasa dingin yang kemudian perlahan menjadi hangat.

Siwon tersenyum lagi. “Buka matamu, Cho Kyuhyun-sshi.”

Perlahan Kyuhyun membuka matanya dan mendapati Siwon masih tersenyum padanya. Well, rasanya tidak sebegitu menyeramkan seperti yang dipikirkan Kyuhyun sebelumnya. Situasinya masih terkontrol.

“Tidak buruk?”

Kyuhyun menggeleng. Siwon mengangguk dan menarik nafas. “Baiklah, kita lanjutkan.”

Siwon lalu menyentuh pinggang Kyuhyun dengan tangan kanannya dan ia menenggelamkan wajahnya dibahu Kyuhyun. Heck, kali ini Kyuhyun yakin bahwa dia seratus persen sama sekali tidak bernafas. Kyuhyun bisa merasakan setiap tarikan nafas Siwon. Hell, ini benar-benar sangat….

Oh, Tuhan! Kyuhyun bahkan tidak tahu kata yang tepat.

“Pernahkah ada yang mengatakan padamu kalau kau mempunyai aroma tubuh yang menarik?” bisik Siwon dengan suara dalamnya.

Kyuhyun menjadi merinding. Kyuhyun kini berusaha bernafas. “Well, temanku?”

Kyuhyun bisa merasakan kalau Siwon tersenyum dibahunya. “Temanmu mempunyai penciuman yang menarik.”

“Choi Siwon-sshi, sebenarnya apa yang kau lakukan sekarang? Bukankah kau bilang….”

Ucapan Kyuhyun terhenti ketika ia merasakan helaan nafas Siwon pada bagian lehernya. Kyuhyun bisa saja mendorong pria Choi itu menjauh dari dirinya, tapi kedua tangan Kyuhyun seperti lumpuh. Kyuhyun cukup beruntung kakinya masih bisa berdiri karena ia tidak bisa membayangkan kalau….

Arghh.. hentikan Cho Kyuhyun!!

Kyuhyun memejamkan matanya untuk beberapa detik. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya sebelum kembali bicara. “Choi Siwon-sshi, menjauhlah dariku. Ini pelecehan seksual.”

Siwon menarik wajahnya dari leher Kyuhyun dan menatap pria Cho itu. “Pelecehan seksual? Bagaimana bisa dikatakan pelecehan seksual jika kita sedang berusaha mencari jawaban apa yang terjadi sebulan lalu, Cho Kyuhyun-sshi. Selain itu, jika kau tidak mau melakukannya, seharusnya sejak tadi kau menolak. Tapi kau tidak mengatakan penolakan apapun. Jadi, ini bukan pelecehan seksual.”

“Tapi kau melakukan hal yang tidak pantas. Kau… menyentuhku dengan tidak pantas,” tutur Kyuhyun dengan tegas –berusaha tegas lebih tepatnya.

Siwon tersenyum. “Menyentuhmu dengan tidak pantas. Lalu bagaimana caranya untuk menyentuhmu dengan pantas, Cho Kyuhyun-sshi?”

Kyuhyun terdiam. Ia tidak menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan aneh Choi Siwon. Hell, menyentuhnya dengan pantas? Choi Siwon mungkin sudah gila karena takut mereka kalah. Mungkin.

Tidak mendapat jawaban apapun dari Kyuhyun, Siwon lalu menarik diri. Ia mengambil jarak dari tubuh Kyuhyun. Rasanya dengan cara seperti ini pun, Siwon tidak bisa mengingat apa yang terjadi. Well, alcohol memang tidak baik jika dikonsumsi berlebihan.

“Aku tidak bisa mengingatnya. Mungkin kita harus berhenti memikirkan apa yang terjadi sebulan lalu. Maaf, telah membuatmu tidak nyaman Cho Kyuhyun-sshi. Ah, jika kau akan keluar, sampaikan permintaan maafku karena menginvansi toiletnya. Aku akan keluar lima menit lagi,” ucap Siwon dengan datar.

Kyuhyun tidak mengatakan apapun hanya langsung keluar dari toilet tersebut. Siwon menghela nafas dan melihat refleksinya pada cermin. Apa benar kau tidak gay, Choi Siwon?

Siwon mendengus dengan pikirannya sendiri. “Bahkan sekarang pun aku mulai tidak yakin dengan seksualitasku sebenarnya.” Lalu pria Choi itu berjalan keluar dari toilet.

Sepertinya rahasia yang terjadi sebulan lalu antara dirinya dan Cho Kyuhyun akan terus tersimpan di toilet tersebut. Hell, menyedihkan sekali.

*****

NOTE: Halo… bertemu lagi. Hehehehe… maaf ya kalo updatenya kelamaan. Lagi keasyikan menikmati masa-masa pengangguran, malah jadi ikutan kelupaan nerusin fanficnya. Well, udah lama gak diupdate, sepertinya makin kacaunya. Di part 10, akan diusahakan hubungan mereka berempat (wonkyu dan krisho) bisa lebih jelas lagi deh ya.

sampai bertemu di update fanfic selanjutnya…

Advertisements

35 thoughts on “[SF] Scarface Part 9

  1. “aku merupakan tanggung jawabnya?” itu maksudnya kamu akan jadi pendamping Choi Siwon Kyuhyun-ssi…. kkkkk
    Wonkyu moment nya greget banget, apalagi adegan terakhir itu….
    d tggu kelanjutannya ya unnie!!! 🙂

  2. Akhirnya kk ingat ttg ff ini ya :’D
    Ini tumben banget banyak typo kak .-.
    Aaaakk~ kok aku ngerasain manisnya Joonmyeon waktu manggil Kevin dg nama Yifan ya? *blushing*
    Mungkin selanjutnya Joon bisa manggil Kevin dg nama Yifan aja. Lebih dapet feel romantisnya ^^
    Wow! Siwon akhirnya mulai ragu dg orientasi seksualnya hahaha
    Percayalah, Kyu orang yg sukses buat Siwon mempertanyakan ttg orientasi seksualnya, dan bahkan mungkinKyu juga orang yg membuatnya memilih lelaki utk menjadi pasangannya kelak :p
    Ditunggu kak kelanjutannya ^^

  3. Diera!! hyaaa..saking asik nya ga ada tugas kuliah ff nya mlh dianggurin,pdhal bnyak yg nunggu -_-

    Kevin sma Joonmyeon kan cma saudara tiri,jdi ga salah kan klo mreka jadian? tpi pasti ortu mereka shock klo tau Yifan sma Joonmyeon ada hubungan .
    naah gmana tuh nnti nya? backstreet aja atau terang2an sma ortu? kkk ~
    jyah ~ krna Kyuhyun tanggung jwb mu Choi?? ciee ~ yg blm nyadar perasaan nya,pdhal jelas2 Siwon udh tertarik sma Kyu :3
    tpi gmana sma Kyu?? eum ~
    ahahaha Kyu lagi..Kyu lg yg sukses bkin Siwon bingung sma Orientasi seksualitas nya .
    smoga chap dpn udh ada jawaban nya ya klo Siwon bener2 trtarik sma Kyu,nd Yeah abis itu Wonkyu jadian!!
    duuh lama bgt nunggu WK jadian nya -_-

  4. asik..akhirnya muncul juga kelanjutannya.hubungan kevin kayaknya tidak ada peningkatan?
    tapi sudah cukup puas dengan perkembangan siwon-kyuhyun. siwon sepertinya cemburu dengan kedekatan kyu-haneul.
    apa akhirnya kau sadar dengan perasaanmu,siwon?

  5. aq kra si kyu bkal di this and that lngsung
    tp trnyata engga ya
    kekeke
    dan abang won km it ud gay
    jgn bingung lg
    lnjuut lagi y ffny
    keep writing

  6. Dan krisho ttp beberapa langkah lebih depan…… Dan yeaayyyyyy wonkyu Sudan mulai asking “menyentuh’?????here geregetan sihhhhh tapi kayàknya author-nya sengaja nkin reader dug dug serrrrr eheheheheh

  7. Huaaaa..huaaaa.. senengnya akhirnya update.
    Bisa baca ff wonkyu lagi…
    Baca pas awal2nya nahan ketawa karna sikap siwon yang sepertinya mang kekanakan banget.
    Tapi pas mau akhir malah nahan nafas ma sikap siwon.
    Mogaaaaa bisa cepet updatenya…
    Thank u tuk ff nya yang buat semangat lagi tuk baca ff wonkyu

  8. kyaaaaaaaaaaaaa………………..aku seneng banget di part ini, bikin deg2an. hubungan suho dng kevin kok kayak maju mundur gini sich, kl di sekolah kevin terkesan menjaga jarak dng suho agar tdk ketahuan orang lain tp itu sm aja dng mengombang ambingkan perasaan suho. bersikap biasa aja lgi tp sulit jg ya. walaupun mereka hny saudara tiri tp ttp aja ortu yg jd penghalang blm lg respon dr orang luar, aaaiiiissshhh…malah makin pusing nich, ngomong2 kevin ama suho lg bicarain apa sich? kayaknya makin serius aja. aigoo….wonkyu…kalian bikin aku jantungan dng setiap tingkah kalian. bikin gregeten deh, sll ada aja hal2 yg tak terduga dng hubungan wonkyu, meskipun wonkyu mencoba menyangkal perasaan masing2 tp sll ada kebetulan2 yg terjadi di antara mereka. mereka sll berharap tdk ingin bertemu lg tp gak tahunya mereka sll betemu…bertemu..dan bertemu, kata orang itu berarti jodoh lho…, semoga sj. aku jg penasaran nich misteri di toilet legiun itu. ayo dong reka ulang agar terkuak apa yg terjadi sebenarnya, choi siwon..kau memang hrs mempertanyakan orientasi sexmu, gara2 cho kyuhyun kau jd galau. kira2 apa yg terjadi dng kyuhyun ya, kenapa dia pergi begitu sj? apa dia kecewa, marah, atau dag…dig..dug..duarrrr. lanjuttttttttttttttt dongggggggggggg

  9. sekalipun nanti kyu gagal memenangkan sidang, tapi dia uda sukses nyadarin won ttg orientasi seksualnya… Hihi

    Thank’s uda Update Author-nim, n Dtunggu bgt chapter selanjutnya.

  10. Hahaha Choi Siwon sudah gila, apa yang dilakukannya di toilet pada Kyu??
    aduh pesona Kyu terlalu besar, hingga membuat Siwon gila.
    Ditunggu lanjutannya

  11. Uwaaaa,,,,,, best best,, gregetan sendiri jadinya sama moment krisho wonkyu,, kkk
    Waduuh,, joon dah mulai berani nih ceritanya,, ecieee yang peluk2,, terus malah nantang yifan lagi,,!! Kira2 apa yang bakal di lakuin yifan ya,,!!!
    Wonkyu nya juga udah mulai berani nih,,!! Udah peluk2 juga di toilet lagi,, kkkk
    Sebenernya apa yang terjadi sih sama wk di toilet waktu itu,, Aduuhh,,,
    Udah mulai kepo nih sih abang,, semangat ya abang, cari tau terus soal Mr Cho,, hhhh

  12. Aduh wonkyu greget bgt,,,,,
    siwon segitu frustasi*y,,,kh sm kejadian ‘toilet’,,,ckck,,,wonkyu momentnya
    banyakin kak,,,wonkyu pelan tp pasti kyknya,,,dn siwon bakalan cnta sm posesif dh ke kyu,,,
    yuhuuu,,,ditunggu chp 10nya😍

  13. wah persidangan terakhir tapi hubungan wonkyu belum jelas..
    maksudnya gak ada saling rasa mungkin antara mereka brdua..
    asli kepo apaan sih yg trjadi di toilet??
    sbnrnya sih prsidangannya jangan smp kalah, lalu ntar ada party karna menang persidangan, mabuk2an lagi ketauan deh apa yg terjadi kemarin, hahahaha

  14. Ada kmajuan 1% lah sama hbungan wonyu 😀
    Aiihh kirain siwon berani bneran ngapa”in kyu.. Tp serius dech makin pnasaran aja aku sama kjadian di toilet itu apaaaaa???

    Ya udhlah.. Oya eonni next chap wonkyu moment bnyakin lg ya klo prlu full ff aja #ngarep

  15. “Pernahkah kau berpikir kenapa kita selalu bertemu dengan seperti ini?”
    Aduh mas, yang namanya jodoh ya nggak bakalan kemana. Sadar nggak sih, kalo kalian itu sebenernya saling menunjukkan ketertarikan satu sama lain? Bikin gemes pengen gigit es batu. Dua-duanya sama2 saling gengsi, padahal sebenernya sama2 saling mengamati. Aaahk, nggak sabar nungguin chapter 10nya. Hubungan wonkyu bikin deg2an tiap chapternya. Lambat, tapi gereget 😀

    Buat Joonmyeon, kamu imut sekali disini Nak, sekaligus agresif. Kkkkkkk. Chapter depan mungkin bisa lebih agresif lagi 😀 aduh duh, nggak tau deh mau ngomong apa. Kayaknya mulai kecanduan sama kisahnya Kevin – Joonmyeon.

  16. aaccckkk … krisho ama wonkyu bikin gemes gak ketulungan..
    seneng banget di part ini wonkyu moment nya banyak..
    author-nim fighting~

  17. hadeuhhh abang siwon kamu bikin gregetan aja hahaha adegannya itu lho…
    kyuhyun jadi gemeteran hahahahaha
    hyukjae sich gk mau jujur dengan apa yang terjadi ditoilet sebenarnya

    kevin kasian banget lukisannya dirusak
    kok aku ngrasa pelakunya mungkin salah satu teman joonmyeon mungkinkah baekhyun ? karna pernah dibahas kan ma kyungsoo kalo baekhyun gk boleh tahu apapun tentang joon dan kevin

  18. Kayanya chapter ini episode galau deh buat kedua main pair kita hehehehhee..
    Joonie, jangan kau kasih angin segar buat Kevin kalo kamu sendiri tidak yakin dengan perasaanmu sendiri. Boleh ga saya curiga kaloa yang ngerusak lukisan Kevin itu Luhan, ga berdasar sih cuma agak curiga aja meskipun mungkin tingkat kebenarannya kecil banget cause mereka sahabatan.
    “dia tanggung jawab aku” wow dalem banget pak boss hehehe. Lucu aja liat Wonkyu yg saling meragukan seksualitas Siwon hahahaha. Kesambet setan apa sih pak boss ini sampe adegan di toilet aja pengen direka ulang sampe ke tkp segala. Bener2 bikin kepo ya hahahahaha
    Ditunggu deh progress hubungan Krisho terutama Wonkyu. Masa tiap ketemu berantemmmm aja. Lagian kayanya pak boss udah ada sedikit rasa ya, mungkin itu juga hahahaha.

  19. haaahhh…aq udah deg2n bakal diapain kyu sama siwon….uggh siwon kayaknya udah mule sadar klo dirinya menyimpang

  20. Ommo, ommo , adegan terakhirnya bkin greget ih. .
    Kyaaaa!!!
    Cie cie bang won udh mulai tergoda ama kyu nih. . hihihihi
    Cpatlah, kalian saling suka. Kkk~

    Ya ampuuuun, kjadian di toilet masih ajja jdi misteri. . huft, pnasaran pke banget ama insiden toilet. ―,.―

  21. Aigooo…knp jg siwon pngen tau hbngn kyu dgn mantannya????dn apa maksud siwon mndatangi toilet dn mlakukan hal yg agk sdkit diluar bats bgi pria yg sllu mngaku normal….
    Akhirnya yg plng mnyenangka kyu mulae mragukan seksualitasnya sndri….hehehehhehe

  22. duuh siwon.. hanya karena seorang kyuhyun aja dia jadi kaya gitu, tingkahnya aneh-aneh.. ngapain coba mau mengulang kejadian yg sudah sebulan yg lalu ? apa sebegitu penasaraannya..
    meskipun wonkyu berusaha menyangkal tapi pada akhirnya mereka meragukan seksualitas mereka juga apalagi siwon.. gemes banget liat mereka berdua…

  23. uu suka banget part krisho disini ;;;; jun nya kayak udah mulai peduli sama yifan;;; huhu but kasian yifan lukisannya dirusak :(((
    fix siwon udah mulai tertarik sama kyu fix cuma masihh gamau ngaku dan nyangkal weh terus om kalo ga suka :”))

  24. Choi siwon….begitu penasarannyakah dirimu dg kejadian ditoilet tu sampai” mengajak kyuhyun utk mencoba melakukannya lagi…
    Stlh beberapa kejadian siwon sdh mulai ragu dg keyakinannya sendiri kalau dia bukan seorang gay

  25. duh memangnya apa yg terjadi sama wonkyu saat di toilet? bikin penasaran..
    nah kan siwon mulai ragu kalo dia tdk gay ~~
    hubungan krisho bagaimanaa gitu sweet tapi rumit juga walau mereka bukan saudara kandung sih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s