[SF] Good Luck

good luck

Good Luck

Siwon membuka pintu dan menyeringai lebar melihat sepupunya berdiri dibalik pintu sembari menyodorkan satu kotak ayam goreng dengan beberapa kaleng beer.

“Totalnya tigabelas ribu won,” tukas Jaeshin dengan jengkel.

Siwon mempersilahkan gadis itu masuk dan menutup pintu. “Letakkan di meja counter, aku akan mengambil uangnya,” ujar Siwon sembari berjalan melalui hallway lalu berbelok menuju kamarnya.

Jaeshin menghela nafas sembari melepaskan sepatunya. Tapi ia mengernyit ketika ia melihat sepasang sepatu lainnya, kemudian ia mengeluarkan ponselnya untuk membaca pesan masuk. Jaeshin berjalan melewati hallway dengan terfokus pada ponselnya.

“Apa Kyuhyun datang? Kupikir dia sedang latihan musical,” tutur Jaeshin tanpa melepaskan fokusnya dari ponsel. Jemari tangan kanannya bergerak untuk membalas pesan tersebut. Ia berhenti di ruang tengah.

“Eoh? Kyuhyun memang sedang latihan musical. Aku akan menjemputnya nanti,” sahut Siwon dari kamarnya.

Jaeshin menoleh kearah kamar. “Lalu sepatu siapa di depan?”

Siwon keluar dari kamar dengan membawa beberapa lembar uang dan tersenyum lebar. “Sepatu dia.”

Jaeshin mengernyit lalu menoleh kearah pandangan Siwon. Ia hampir saja berteriak ketika melihat Junmyeon sedang duduk disofa dengan memperhatikannya –cukup beruntung Jaeshin hanya terkejut saja. Pemuda itu tersenyum. Jaeshin meringis. Ia pasti terlihat seperti orang bodoh sekarang.

Lalu tiba-tiba Siwon mengambil kantung ditangannya dan memberikan uang pada Jaeshin. Siwon lalu berjalan menuju dapur. “Junmyeon sudah sejak siang disini. Jun-ah, ayo makan dulu.”

Junmyeon bangkit dari sofa lalu berjalan menuju dapur. Jaeshin mengumpat dalam hati dan menyusul kedua pria itu. Siwon sudah membuka kotak ayam yang dibawanya dan membuka tiga kaleng beer. Sedangkan Junmyeon langsung duduk pada salah satu stool dan mengambil satu potong ayam. Siwon menatap Jaeshin.

“Ayo makan bersama.”

Jaeshin berjalan mendekat dan duduk disebelah Junmyeon. Ia menaruh tasnya diatas meja dan dengan canggung, Jaeshin melirik pemuda yang sepertinya lebih tertarik pada ayam. Jaeshin menghela nafas lagi dan mengambil satu kaleng beer yang sudah dibuka. Ia meneguknya. “Jika kau akan pergi menjemput Kyuhyun, bukankah seharusnya kau tidak minum beer?”

Siwon masih tersenyum. “Teddy akan kesini dulu sebelum kami pergi ke tempat latihan musical Kyuhyun. Well, seharusnya kau tidak minum beer.”

Jaeshin mendengus dan meneguk beernya lagi. “Aku pergi dengan taksi. Dad mengambil fasilitas mobilku selama tiga bulan. Dia bilang aku harus bersikap layaknya pegawai baru. Menyebalkan.”

“Ah, benar. Kau sudah mulai bekerja di perusahaan paman. Ambil ayamnya, Jae,” tukas Siwon sembari mengunyah makanannya.

Jaeshin melirik kotak berisi beberapa potong ayam dan menggeleng. “Aku tidak nafsu makan. Aku harus pergi sekarang, Dad….”

“Ah, maaf Jaeshin. Bisa kau menemani Junmyeon disini? Aku harus pergi lima menit lagi,” sela Siwon cepat.

Jaeshin melirik Junmyeon yang kini menatap Siwon dengan bingung. Jaeshin lalu memandang Siwon lagi. “Kenapa?”

“Kenapa apanya?”

Jaeshin menghela nafas. “Kenapa aku harus menemaninya? Aku harus pergi, Dad hanya memberiku ijin pergi beberapa jam. Ini memang hari Minggu tapi…”

“Aku sudah bicara dengan paman. Kau bisa keluar dari kantor juga karena diriku. Jadi, temani Junmyeon sampai jam enam. Lalu kalian bisa pergi,” Siwon lalu memeriksa jam tangannya. “Ah, aku harus pergi sekarang!” kemudian pria Choi itu bergegas mengambil jaket, ponsel serta dompetnya.

Jaeshin menatap Junmyeon yang sepertinya jadi pendiam sekali. Hah, kapan terakhir kali mereka bertemu? Jaeshin bahkan tidak ingat. Mungkin beberapa bulan lalu. Jaeshin menghela nafas lalu beranjak menghampiri Siwon.

“Aku pergi, okay.”

Tapi Jaeshin menahan lengan sepupunya tersebut. “Apa rencanamu, Choi Siwon?” ucap Jaeshin dengan berbisik. Ia masih merasa canggung dengan keberadaan Junmyeon.

Siwon mengernyit. “Rencana apa? Aku tidak…”

“Jangan berlagak tidak mengetahui apapun, Choi Siwon!!”

Siwon menghela nafas dan melepaskan tangan Jaeshin. “Aku hanya membantu kalian, okay. Sama yang kau lakukan untukku dan Kyuhyun. Well, kalian hanya perlu bicara. Terlebih, kejadian itu terulang lagi. Walaupun tidak seperti kejadian enam bulan lalu tapi dia mungkin saja terguncang. Bicaralah. Sebagai teman, sahabat. Kakak adik? Terserah.”

Siwon tersenyum dan mencium pipi Jaeshin. “Good luck, Choi Jaeshin.”

Kemudian pria itu pergi meninggalkan Jaeshin berdua dengan Junmyeon. Jaeshin menghela nafas dan menekan leher bagian belakangnya. Sepertinya dia akan terkena darah tinggi kalau sepupunya terus saja bertingkah menyebalkan seperti ini. Jaeshin menoleh kearah Junmyeon yang masih sibuk dengan ayamnya.

Jaeshin lalu kembali ke meja counter. Ia kembali duduk dan meneguk beernya.

“Jika kau ingin pergi, pergi saja. Berikan saja kuncinya padaku, nanti akan kutitip di SM atau manager SJ lain,” akhirnya kalimat pertama Junmyeon setelah Jaeshin sampai di apartment tersebut.

Jaeshin melirik kaleng beer yang belum disentuh oleh Junmyeon. Ia menarik nafas panjang dan beranjak menuju lemari pendingin. “Tidak apa, Siwon sudah bicara dengan Dad. Kurasa keluar untuk beberapa jam tidak akan membuatku dipecat. Mau sesuatu selain beer?” tuturnya sembari membuka pintu lemari pendingin.

Junmyeon mengambil potongan ayam lainnya. “Siwon hyung punya cola? Atau air juga boleh.”

Jaeshin mengambil satu kaleng cola dan menutup pintu. “Kau tidak apa-apa?” tanya Jaeshin sembari menaruh kaleng cola itu diatas meja.

Junmyeon melirik gadis Choi itu dan meletakkan potongan ayam pada sebuah piring yang disiapkan Siwon tadi. Ia membuka kaleng cola tersebut dan menatap Jaeshin dengan lekat. “Tidak apa-apa,” jawabnya lalu meneguk cola.

Jaeshin mengangguk kecil dan kembali ke kursinya. Ia menghabiskan beer yang tersisa. Lalu situasi diantara mereka kembali hening. Jaeshin mengambil beer yang belum disentuh Junmyeon dan menghabiskannya. Sedangkan Junmyeon menghabiskan ayam yang dibeli Jaeshin.

Keduanya sama sekali tidak bicara, hanya sesekali bertukar pandang. Well, Jaeshin sangat membenci situasi ini, tapi ia juga tidak bisa melakukan apapun. Perasaan canggung dan sedikit bersalah pada Junmyeon karena mengabaikan pemuda itu beberapa bulan terakhir ini, agak sedikit menganggu Jaeshin. Junmyeon memang beberapa kali mencoba menghubungi Jaeshin, tapi gadis itu selalu mencari cara untuk menghindar. Bukan tindakan yang tepat, tapi Jaeshin tetap melakukannya.

Perhatian Jaeshin teralihkan ketika ponselnya kembali bergetar. Ia membaca pesan yang masuk dan kembali membalasnya dengan cepat. Dan kembali menatap Junmyeon ketika pemuda itu bangkit untuk membuang semua tulang-tulang ayam yang dilahapnya.

“Kau menghabiskan satu porsi ayam? Sendirian?” tukasnya.

Junmyeon tertawa kecil lalu mencuci tangannya di wastafel. “Well, aku kelaparan. Siwon hyung mengajakku bermain game selama tiga jam. Jadi, aku lapar.” Kemudian ia juga membuang kaleng beer yang sudah kosong –oh dan juga kaleng cola miliknya.

Junmyeon lalu menatap Jaeshin dan tersenyum kecil. “Kurasa kita bisa pergi sekarang.”

“Kau yakin ingin pergi? Kau tidak ingin bertanya, kenapa aku mengabaikan semua telepon dan pesanmu? Kenapa aku menghindarimu selama beberapa bulan ini? Apa kau tidak marah padaku, Jun?” tutur Jaeshin.

Junmyeon menghela nafas. “Aku ingin bertanya, tapi kupikir kau pasti punya alasan untuk melakukannya. Itu adalah pilihanmu, jadi aku tidak akan bertanya apapun. Dan aku juga tidak marah padamu. Aku tidak punya hak untuk marah pada Choi Jaeshin,” tukas Junmyeon sembari tersenyum.

“Kau juga tidak mempunyai hak untuk marah atas apa yang terjadi pada kalian? Aku mungkin bisa mengerti alasan masalah kesehatan, tapi….”

“SM atau siapapun termasuk diriku bukan pemilik penuh atas mereka. Jika mereka ingin pergi, maka aku akan membiarkannya pergi tanpa harus membuat masalah baru bagi SM atau member lain,” ujar Junmyeon.

Gadis itu terdiam untuk sejenak. Mungkin apa yang dikatakan Junmyeon memang benar, tapi benarkah semuanya berpikiran seperti apa yang dipikirkan oleh Junmyeon? Jaeshin masih ingat bagaimana reaksi saat Yifan pergi dan ketika Luhan pergi pun sebenarnya tidak berbeda jauh, tapi tidak pernahkah Junmyeon merasa bahwa ia harus sedikit egois? Jaeshin mengambil tasnya dan berdiri. Well, sepertinya julukan malaikat itu memang cocok bagi Junmyeon.

“Terserah padamu, Kim Junmyeon. Telepon managermu untuk menjemputmu,” tukas Jaeshin.

Junmyeon menatap gadis yang kini mengambil tasnya dan beranjak untuk pergi. Hanya beberapa bulan dan Junmyeon merasa perbedaan yang begitu besar dari seorang Choi Jaeshin. Rasanya ia merindukan seorang Choi Jaeshin yang dulu datang menemuinya setelah kepergian Yifan dan selalu tersenyum padanya. Tapi entah sejak konser mereka di Seoul, Jaeshin malah menjadi menghindarinya. Tidak pernah menjawab teleponnya, membalas pesannya atau bahkan menemuinya. Siwon selalu mengatakan kalau Jaeshin sedang sibuk dengan persiapan kelulusannya dan setelah lulus, gadis itu langsung mulai magang di perusahaan ayahnya sendiri sebelum menjadi pegawai tetap.

Junmyeon bisa mengerti. Tapi setelah sekian lama, hari ini mereka kembali bertemu dan situasinya benar-benar canggung –atau bahkan canggung sekali. Junmyeon mengambil jaketnya di sofa dan mengikuti Jaeshin menuju pintu depan. Gadis itu masih sesekali sibuk dengan ponselnya. Junmyeon ikut berhenti ketika Jaeshin sibuk membalas pesan.

Junmyeon memperhatikan gadis itu dengan lekat. “Jaeshin…” ucap Junmyeon sembari memakai sepatunya.

“Uhm?”

Gadis itu tidak menatapnya atau menjawab dengan sepantasnya. Junmyeon menghela nafas panjang. “Aku merindukanmu.” Kemudian Junmyeon meninggalkan Jaeshin yang masih termenung menatap ponselnya.

*****

Kyuhyun menghela nafas ketika melihat Siwon yang masih saja menyeringai tidak jelas. Sejak Kyuhyun masuk kedalam mobil, Siwon sudah seperti itu dan sedikit membuat Kyuhyun takut dan kesal. Siwon sama sekali tidak menjawab apapun pertanyaan Kyuhyun dan hanya mengatakan “lihat saja nanti”. Hell, jawaban apa itu?

“Jadi, kapan hyung pergi untuk syuting lagi?” tanya Kyuhyun untuk kesekian kalinya dan kali ini ia berharap bukan jawaban “lihat saja nanti” yang ia dapatkan. Atau Siwon akan… Pokoknya asal jangan jawaban itu saja.

Siwon menatap Kyuhyun dan tersenyum. “Kurasa besok. Kenapa?”

“Besok? Oh.”

Siwon mengernyit dan melirik Teddy yang fokus menyetir. Lalu ia kembali menatap Kyuhyun dengan lekat. “Kenapa?”

Kyuhyun menggeleng dan tersenyum. Siwon menarik nafas dan sedikit mendekat pada kekasihnya tersebut. Ia merangkul bahu Kyuhyun. “Kenapa?” tanyanya dengan lembut.

Kyuhyun melirik Siwon dan menjauhkan tangan Siwon dari bahunya yang kemudian malah digenggamnya. “Besok tanggal tigabelas.”

“Aku tahu. Lalu?”

Kyuhyun mendengus kesal. “Hyung!!”

Siwon tertawa melihat ekspresi kekesalan Kyuhyun. Rasanya sudah lama sekali, Siwon tidak melihat Kyuhyun marah padanya. Well, mungkin karena dia sibuk pergi syuting film terbarunya. Jadi, mereka jarang sekali bisa bersama –kecuali jika Super Junior sedang melakukan promosi ataupun konser.

“Hey, jangan cemberut begitu. Aku tahu maksudmu, sayang. Tapi kurasa tahun ini kita tidak bisa merayakannya bersama. Tidak apa?” ujar Siwon.

Kyuhyun menatap tangan Siwon dalam genggamannya. Kemudian ia mengecup punggung tangan Siwon. Kyuhyun lalu menatap Siwon dan tersenyum. “Tidak apa-apa. Aku khan kekasih yang pengertian.”

Siwon masih tersenyum dan mengusap kepala Kyuhyun –kekasihnya terkadang tidak pernah menyadari kalau sikapnya seperti anak kecil dan itu membuat Siwon sangat gemas. “Benar, Cho Kyuhyun adalah kekasih yang pengertian. Dan Choi Siwon sangat beruntung.”

“Kalian berdua tampak menjijikkan,” sahut Teddy yang ternyata memperhatikan keduanya dari spion.

Sontak Kyuhyun kembali cemberut kesal dan memukul lengan Teddy dengan keras hingga membuat sang manager berteriak. Cukup beruntung jalanan tidak cukup ramai. Sedangkan Siwon sendiri malah terkikik melihat manager yang sering menemaninya –terkadang menemani Kyuhyun juga– dibully oleh kekasihnya.

“Yak, Cho Kyuhyun! Kau benar-benar… Akh, rasanya sakit sekali. Hey, Choi Siwon, jaga kekasihmu itu baik-baik!” seru Teddy.

Siwon merangkul Kyuhyun dan tersenyum bangga. “Well, aku tidak bisa mengaturnya, hyung.” Kyuhyun menyeringai penuh kemenangan karena Siwon membelanya.

Teddy mendesis jengkel dan memilih untuk tidak menanggapi keduanya lagi. Hahh… Rasanya ia ingin bertukar posisi dengan manager lainnya. Rasanya ia sudah tidak tahan lagi dengan sikap keduanya, tapi mau bagaimana lagi. Ini adalah pekerjaan, Teddy tidak bisa protes –bahkan Junghoon sudah mengalami yang lebih parah darinya. Jadi, dia cukup bersyukur.

Suasana didalam mobil terpecah ketika ponsel Siwon berbunyi. Spontan Siwon menarik tangannya dan memeriksa ponselnya. Hal itu membuat Kyuhyun sedikit merasa jengkel. Terlebih, Siwon juga agak menjauh agar Kyuhyun tidak melihat pesan yang masuk.

Kyuhyun menatapnya dengan curiga. “Siapa?”

“Euhm? Jaeshin. Bukan hal penting,” jawab Siwon sembari membalas pesan tersebut –tanpa melihat ekspresi jengkel Kyuhyun karena diabaikan.

Kyuhyun mendengus dan mengambil ponsel Siwon dengan cepat. Siwon sontak menatap Kyuhyun dengan terkejut. “Kyu…”

Ucapannya Siwon terhenti karena Kyuhyun langsung menciumnya –setelah menyingkirkan ponsel kekasihnya. Siwon sendiri tidak bereaksi cepat. Ia hanya menatap Kyuhyun yang menciumnya sembari menarik tubuh Siwon agar lebih dekat dan kedua tangan Kyuhyun sudah melingkari lehernya. Tidak mendapat respon dari Siwon, Kyuhyun melepaskan ciuman mereka. Ia menatap kekasihnya dengan lekat untuk beberapa detik, sebelum akhirnya kembali mencium Siwon. Beruntung, kali ini Siwon meresponnya. Siwon membuka mulutnya dan membiarkan Kyuhyun yang mengambil dominasi. Meskipun begitu, tangan Siwon tidak pasif. Ia menyentuh Kyuhyun dengan lembut. Eoh, entah berapa lama mereka tidak melakukannya –bahkan hanya sekedar berciuman seperti ini.

Kemudian, Kyuhyun menghentikan ciuman mereka. Ia menatap kedalam mata Siwon dan menyeringai. “Abaikan sepupumu untuk hari ini. Mengerti? Hari ini, kau adalah milikku sepenuhnya, Choi Siwon.”

Siwon tersenyum. Ia menyentuh wajah Kyuhyun dengan hati-hati. Kekasihnya jelas adalah sebuah karya seni Tuhan yang sangat berharga. “Aku adalah milikmu sepenuhnya sejak lima tahun lalu, Cho Kyuhyun. Dan kau akan menjadi milikku sepenuhnya hingga Tuhan memutuskan.”

Keduanya kembali berciuman.

Ketika keduanya sibuk dengan kegiatan romantisme mereka, Teddy hanya berusaha untuk tidak menabrak mobil atau apapun.

Hell, jika ini adalah yang terburuk yang pernah kualami. Aku tidak ingin tahu apa hal terburuk yang Junghoon pernah alami jika bersama mereka berdua.

*****

Kyuhyun tertawa kecil ketika Siwon menggelitikinya di bagian leher dengan helaan nafasnnya yang begitu erotis. Kyuhyun menarik nafas panjang sebelum mendorong tubuh Siwon. Kini keduanya berbaring saling menatap dan tersenyum puas.

Kyuhyun menyentuh wajah Siwon. Ujung jemarinya menyusuri garis wajah Siwon. “Kau yakin, Jaeshin tidak akan marah? Ini apartmentnya,” ucapnya.

Siwon tertawa dan menarik Kyuhyun lebih dekat, hingga ia bisa merasakan setiap helaan nafas kekasihnya diwajahnya sendiri. Ia menyukainya –sangat menyukai ketika Kyuhyun berada dalam dekapannya, saat Siwon bisa merasakan setiap helaan nafas kekasihnya. Terlebih ketika mereka tanpa pakaian seperti sekarang.

Siwon mengecup ujung hidung Kyuhyun. “Kau sudah bertanya hal itu puluhan kali sejak kemarin. Dan jawabanku tetap sama. Aku yang bertanggungjawab, jadi jangan khawatir.”

Dan Kyuhyun mengecup bibir Siwon. “Aku tahu. Tapi tetap saja, aku merasa tidak nyaman. Kita mengotori tempat tidurnya. Dia bisa membunuhmu, Choi Siwon.”

“Well, harus diakui Jaeshin mungkin bisa saja membunuhku ketika tahu kita melakukan seks di tempat tidurnya. Tapi aku bisa membelikannya tempat tidur baru, sayang. Jadi, dia tidak akan membunuhku. Percayalah,” ujar Siwon.

Kyuhyun tertawa. “Apa kau juga menyelesaikan setiap masalahmu dengan Jaeshin dengan uang? Selalu membelikan apapun untuknya? Keluarga Choi yang tidak pernah kehabisan uang, eoh.”

Siwon tersenyum. Kini, Siwon yang menyusuri garis wajah Kyuhyun dengan lembut. Ia akan merindukan kekasihnya sampai mereka bertemu hari Sabtu nanti. Eoh, Siwon bahkan sudah mulai merindukan Kyuhyun sekarang ini. Penerbangannya mungkin masih sekitar empat jam lagi. Dan walaupun mereka sudah melakukan seks beberapa-kali karena Siwon dan Kyuhyun tidak pernah turun dari tempat tidur sejak mereka sampai di apartment Jaeshin –kecuali untuk ke kamar mandi ataupun makan– kemarin. Hah, cukup beruntung sepupu Siwon itu belum benar-benar pindah ke apartment ini.

“Aku merindukanmu, sayang.” ucap Siwon.

Kyuhyun kembali mencium Siwon selama beberapa detik. “Aku juga merindukanmu. And good luck, Choi Siwon. Kembali padaku secepatnya, mengerti?”

Siwon mengangguk dan tersenyum. “Selamat tanggal tigabelas oktober, Cho Kyuhyun.”

“Selamat tanggal tigabelas oktober, Choi Siwon.”

*****

Kyuhyun bergegas menuju kesalah satu kamar, setelah pintu lift terbuka. Ia bahkan meninggalkan Ryeowook yang menjadi roomatenya kali ini. Kyuhyun memeriksa setiap angka yang terpasang di setiap pintu.

“3101.. 3101.. 3101…” gumamnya secara terus menerus.

Setelah tiga menit, akhirnya Kyuhyun menemukan kamar tersebut. Tanpa mengetuk pintu, Kyuhyun langsung menerobos masuk dan menemukan Choi Siwon sedang duduk di sofa sembari memegang ponselnya. Kekasihnya tersebut masih memakai cervical collar.

Siwon menoleh dan tersenyum padanya. “Hai…”

Kyuhyun menutup pintu kamar dan melemparkan tasnya disembarang tempat. Kemudian dalam hitungan detik, Kyuhyun sudah memeluk Siwon dengan erat –sedikit berhati-hati dengan leher kekasihnya. Siwon meletakkan ponselnya dan membalas pelukan Kyuhyun.

“Aku tidak apa-apa, sayang. Aku sudah pergi ke rumah sakit,” ucap Siwon.

Kyuhyun melepaskan pelukannya dan duduk disebelah Siwon. “Kapan kejadiannya?”

“Beberapa hari yang lalu. Hanya sebuah kecelakaan kecil, Kyu.”

“Kecelakaan kecil?! Kau sampai dilarikan ke rumah sakit dan berdarah, kau bilang hanya kecelakaan kecil?!! Lalu kenapa tidak memberitahuku? Kenapa aku harus tahu dari Kennie noona? Aku ini siapamu, Choi Siwon?”

Siwon tersenyum dan mengusap pipi Kyuhyun. Siwon mungkin yang paling sering mengkhawatirkan Kyuhyun dan sering-kali bersikap over protektif pada kekasihnya. Dan Kyuhyun pun juga begitu –walaupun dia tidak pernah menunjukkannya secara langsung. Saat ini Siwon cukup menikmati setiap omelan Kyuhyun. “Kau adalah Cho Kyuhyun. Maknae Super Junior yang mempunyai suara indah. Kau juga seorang adik yang luar biasa. Kau adalah anugerah terindah Tuhan untuk orangtuamu, Super Junior dan Choi Siwon. Maafkan aku karena membuatmu khawatir, okay?”

Kyuhyun mengigit pipi bagian dalam mulutnya. Lalu memukul lengan Siwon kesal dan kembali memeluknya lagi. “Jangan melakukannya lagi, eoh? Kau harus memberitahuku untuk setiap hal yang terjadi menimpamu. Walaupun dari manager sekalipun, aku harus mengetahuinya hari itu juga. Mengerti?”

Siwon tersenyum. “Mengerti, sayang.”

Selama lima menit, akhirnya Kyuhyun menjadi lebih tenang dan melepaskan pelukannya lagi. Ia melihat bagian leher Siwon. “Masih sakit?”

“Sedikit, tapi dengan dirimu disini sudah lebih baik. Sakitnya berkurang banyak.”

Kyuhyun menghela nafas dan mengecup bibir Siwon. “Orangtuamu sudah tahu?” Siwon menggeleng. “Kalau Jaeshin?”

“Kalau Jaeshin sudah tahu, maka dia sudah disini, sayang. Tidak. Aku tidak memberitahunya. Mungkin dia akan membunuhku, ketika aku pulang nanti. Jadi, tolong tenangkan dia, okay?”

Kyuhyun mengenggam tangan kiri Siwon dengan kedua tangannya. “Eoh, mungkin kali ini aku yang harus dibunuhnya untuk menyelamatkanmu.”

Siwon tertawa kecil, lalu meringis.

“Jangan tertawa begitu. Aku tidak mau kau kesakitan, hyung.”

Siwon hanya tersenyum.

“Lalu bagaimana dengan konsernya? Kondisimu tidak memungkinkan. Kau bisa absen untuk konser kali ini jika…”

“Aku akan tetap tampil, Kyuhyun. Mungkin harus ditutupi dengan scarf. Tapi aku akan tetap tampil walaupun beberapa lagu bersama kalian. Aku akan berhenti jika rasa sakitnya kembali muncul, okay.”

Kyuhyun mengalah. Walaupun sekeras apapun dia protes, Siwon akan bersikap lebih keras lagi. Untuk saat ini, Kyuhyun akan membiarkan Siwon melakukan sampai batas kemampuannya. Kyuhyun mengangguk dengan menghela nafas.

Siwon tersenyum dan mengecup pipi Kyuhyun. “Aku merindukanmu, sayang.”

“Aku juga merindukanmu, Siwon.”

*****

Siwon melepaskan pelukannya. Ia tersenyum pada Kyuhyun dan menaikkan resleting jaket hitam kekasihnya. “Good luck with Jaeshin,” ucapnya.

Kyuhyun memutar bola matanya dengan jengkel. “Jaeshin mungkin marah, tapi membunuhku? Kurasa tidak.”

“Itu memang benar, tapi tetap saja. Nyawaku nanti berada ditanganmu, sayang. Kau harus bisa meyakinkan Jaeshin, eoh? Jebal,” tutur Siwon dengan khawatir.

Kyuhyun menghela nafas panjang dan mengambil tas ranselnya. “Okay, nanti di bandara aku akan membelikannya sesuatu. Setidaknya, aku harus membawakan “oleh-oleh” bukan?”

Siwon kembali tersenyum tipis. “Kalau sempat belikan magnet untukku, ya? Sepertinya aku tidak akan sempat membelinya.”

Lagi, Kyuhyun mendengus. “Arraseo. Aku akan mencari model baru. Sudah? Tidak ada titipan lainnya? Aku harus turun sekarang.”

Siwon menarik nafas dan memeluk Kyuhyun sekali lagi. Ia menenggelamkan wajahnya diantara leher dan bahu Kyuhyun. Aroma apel manis ini akan selalu dirindukannya. “Tuhan, aku menitipkan dia padaMu. Jaga dia. Jangan biarkan dia menangis atau mengalami kesakitan. Biarkan dia terus tersenyum tanpa harus merasakan kesedihan.”

Kyuhyun melepaskan pelukan Siwon dan menatapnya. Ia tersenyum tipis. “Dan aku juga memohon padaMu, untuk menjaganya. Jangan biarkan dia kembali merasakan kesakitan. Jangan biarkan dia merasa kesedihan. Buat dia selalu tersenyum.”

Siwon tertawa kecil. “Amin.”

Kemudian Siwon mencium Kyuhyun dengan lembut.

*****

Kyuhyun menyeringai seperti orang tanpa dosa dihadapan Jaeshin yang menatapnya dengan datar –tapi sangat terlihat dari sorot matanya bahwa gadis itu bisa membunuhnya kapan saja. Maka dari itu, Kyuhyun dengan sengaja mengajak Junmyeon –dengan sedikit paksaan.

Kyuhyun mengangkat tangannya. “Hai. Kau… sudah mau pergi kerja?”

Jaeshin tidak menjawab apapun. Situasinya sangat canggung, bahkan Junmyeon yang berdiri dibelakang Kyuhyun menghindari kontak mata dengan Jaeshin. Well, hari ini Jaeshin terlihat lebih menyeramkan dari biasanya ketika ia sedang marah.

Kyuhyun menghela nafas panjang. “Bisa kita bicara di dalam? Tidak enak dengan tetanggamu, Jae.”

Jaeshin berjalan masuk kedalam apartmentnya dan meninggalkan pintu terbuka. Kyuhyun melirik Junmyeon dan menyuruh hoobae-nya itu masuk duluan. Kembali, sedikit terpaksa Junmyeon masuk duluan dan diikuti Kyuhyun. Hell, Junmyeon ingin sekali mengumpat karena Kyuhyun suka sekali memaksanya. Termasuk saat mereka melakukan cover-dance Something untuk konser SMTown di Seoul, bulan Agustus lalu. Walaupun dengan setengah hati, Junmyeon akhirnya harus mengikuti apapun kata seniornya –menyebalkan menjadi yang “termuda”.

Junmyeon memperhatikan apartment Jaeshin dengan lekat. Ini pertama-kalinya ia datang, walaupun sebenarnya dulu Jaeshin sering-kali mengajaknya kesini tapi akhirnya Junmyeon selalu menolak dengan halus.

Kyuhyun berjalan melewati Junmyeon yang sedang memperhatikan ruang tengah, menuju ruang dapur dimana Jaeshin kembali menghabiskan serealnya. Well, sepertinya gadis itu sedang sarapan. Tanpa sadar, Junmyeon memegangi perutnya. Kyuhyun datang ke dorm terlalu pagi, bahkan Junmyeon baru bangun ketika kekasih Siwon itu menerobos masuk kedalam kamarnya.

Kyuhyun menatap Jaeshin lalu menaruh sebuah kantung diatas meja counter. Jaeshin melirik kantung untuk beberapa detik, sebelum akhirnya kembali melahap serealnya. Kyuhyun menarik nafas panjang.

“Jangan marah padanya, okay? Aku sudah memukulinya karena tidak berhati-hati. Jadi, saat dia pulang, kau jangan membuatnya kembali masuk rumah sakit. Janji?” tutur Kyuhyun to the point.

Jaeshin menaruh mangkuk serealnya kedalam wastafel dan meneguk habis jus apelnya. Ia kembali menatap Kyuhyun. “Baik. Hanya itu? Pergilah, aku juga harus pergi.”

Well, reaksi Jaeshin sesuai perkiraan Kyuhyun. Jaeshin lalu berjalan menuju ruang tengah untuk mengambil tas dan jaketnya. Ia menatap Junmyeon untuk beberapa saat sebelum menoleh menatap Kyuhyun yang mengikutinya.

“Bawa dia pergi untuk sarapan. Jangan mengajak orang lain untuk menderita bersamamu, Kyuhyun,” tukas Jaeshin datar.

Kyuhyun menggaruk lehernya dan menatap Junmyeon. Well, pemuda itu memang terlihat pucat. Memang salahnya karena datang terlalu pagi ke dorm EXO, tapi Kyuhyun tidak mau menunggu Jaeshin hingga ia pulang dari kantor nanti sore.

“Aku tahu, Jae. Tapi kau juga janji untuk tidak membunuh sepupumu itu,” sahut Kyuhyun.

Jaeshin menghela nafas. “Aku bukan Tuhan, Cho Kyuhyun. Jika aku membunuhnya, maka aku akan dihukum mati pula. Lagipula apa urusanku dengan Siwon. Aku hanya sepupunya, bukan orangtuanya. Aku pergi duluan. Kunci pintunya dan titip pada respsionis dibawah.”

Kemudian gadis itu pergi –bahkan tanpa melihat Junmyeon yang sedari tadi terus memperhatikannya tapi tidak bicara sepatah kata pun. Kyuhyun menghela nafas lagi setelah pintu tertutup. Ia menatap Junmyeon dengan lekat. Sepertinya ada yang aneh dengan hubungan keduanya. Kyuhyun tidak pernah melihat Jaeshin mengabaikan Junmyeon seperti tadi.

“Kalian berdua bertengkar? Rasanya Jaeshin bersikap dingin sekali padamu. Kalau padaku atau Siwon, itu sudah biasa. Tapi pada Kim Junmyeon?” Kyuhyun mengernyit.

Junmyeon menggeleng. “Tidak ada masalah, hyung. Kami hanya sibuk dan tidak sering mengobrol atau komunikasi lainnya. Jadi, memang canggung.”

“Aku tidak mengatakan kalian bersikap canggung, Jun. Tapi dia bersikap dingin padamu, seolah menghindarimu. Jika kalian tidak ada masalah, walaupun kalian tidak sering berkomunikasi setidaknya sikapnya tadi tidak akan seperti itu,” tutur Kyuhyun lagi.

Junmyeon menggigit pipi bagian dalam mulutnya. Ia tidak ingin membicarakan masalah ini dengan Kyuhyun. Setidaknya bukan sekarang. “Hyung, aku lapar. Bisa kita sarapan dulu?” mohonnya sekaligus menghindari pertanyaan Kyuhyun.

“Arraseo, kita makan dulu. Tapi aku masih akan bertanya mengenai hal ini padamu, Jun. Atau aku akan mencaritahu sendiri. Entah bagaimana pun caranya.”

*****

Junmyeon menghela nafas pendek. Ia memeriksa jam tangannya lagi. Sudah pukul delapan malam dan si pemilik apartment belum pulang. Walaupun ia memegang kunci pintu, tapi rasanya sangat tidak sopan masuk tanpa ijin. Junmyeon menunduk melihat sepatunya. Ia kembali teringat pembicaraannya tadi pagi dengan Kyuhyun saat mereka sarapan bersama.

Walaupun dengan sedikit terpaksa, Junmyeon akhirnya mengatakan apa yang terjadi diantaranya dengan Jaeshin –padahal ia tidak yakin dengan apa yang sedang terjadi. Tapi ia tidak bisa menyimpan masalah ini sendiri. Saat ia bertemu dengan Siwon, Junmyeon ingin sekali bertanya tapi seniornya itu adalah sepupu Jaeshin. Rasanya tidak baik. Dan berbicara pada Kyuhyun mungkin adalah pilihan yang terbaik. Dan Kyuhyun mengatakan kalau Junmyeon harus bicara serius dengan Jaeshin. Walaupun akan sulit, tapi Junmyeon harus memaksa gadis itu membicarakan masalah mereka.

Junmyeon hanya berharap kalau Jaeshin akan sedikit bersikap kooperatif padanya.

Setelah hampir setengah jam menunggu –waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh– terdengar suara pintu lift terbuka. Sontak Junmyeon mengangkat kepalanya dan berharap Jaeshin pulang. Well, akhirnya penantian Junmyeon terbayar. Jaeshin kini berdiri duapuluh meter darinya dengan ekspresi datarnya. Hell, tidak bisakah gadis itu tersenyum kecil pada Junmyeon. Mereka tidak benar-benar mempunyai masalah, bukan?

Jaeshin menghela nafas dan berjalan mendekat. Ia mengulurkan tangannya pada Junmyeon. “Kau memegang kuncinya, bukan?”

Junmyeon mengangguk dan mengeluarkan kunci itu dari saku jaketnya. Ia mengembalikannya pada Jaeshin. Lalu Jaeshin membuka pintu. “Masuklah, akan kubuatkan teh hangat.”

Junmyeon kembalik mengangguk dan mengikuti langkah Jaeshin.

Keduanya kini berada di dapur. Jaeshin membelakangi Junmyeon untuk menyiapkan teh, sedangkan Junmyeon sendiri memperhatikan gadis itu bekerja. Tiga menit kemudian, sebuah mug sudah berada dihadapan Junmyeon. Jaeshin sendiri kini sedang mencuci mangkuk bekas serealnya tadi pagi. Bahkan kantung yang dibawa Kyuhyun masih berada di meja counter tanpa posisinya bergeser.

Junmyeon meneguk teh itu dengan pelan-pelan.

“Ada yang ingin kau katakan, Jun?” tanya Jaeshin yang sudah selesai dengan kegiatannya. Kini gadis itu mengambil sekaleng cola untuknya sendiri.

Junmyeon menatap Jaeshin. “Aku tidak yakin.”

“Jika kau tidak yakin, maka jangan bicara. Ayo, kuantar pulang ke dorm,” sahut Jaeshin.

Mata Junmyeon membulat. Dengan cepat ia menahan lengan Jaeshin, ketika gadis itu beranjak. Jaeshin menatap Junmyeon serius. “Jika kau ingin bicara, maka bicara. Jika tidak, jangan membuang waktuku seperti ini. Aku lelah, Kim Junmyeon.”

Junmyeon melepaskan lengan Jaeshin. Ia menarik nafas dan agak menunduk. “Jangan bersikap dingin padaku, Jae. Kau boleh marah padaku, memakiku atau bahkan memukulku. Tapi jangan mengabaikanku seperti ini. Jangan tinggalkan aku seperti ini.”

Jaeshin yang masih memperhatikan Junmyeon menghela nafas panjang. Ia melepaskan jaketnya dan menaruhnya diatas meja counter. Ia berjalan mendekat pada Junmyeon. “Aku tidak mengabaikanmu, Junmyeon. Tidak pernah meninggalkanmu.”

“Tapi kau bersikap dingin. Kau seolah tidak pernah melihatku. Saat kau datang ke apartment Siwon hyung atau tadi pagi. Kau jelas-jelas melihatku, tapi kau memilih untuk menganggapku tidak ada. Seolah aku ini transparan. Jika aku melakukan kesalahan, katakan kesalahanku,” tutur Junmyeon lagi.

Jaeshin menarik nafas. “Jika kau sedang bicara pada orang lain, setidaknya tatap lawan bicaramu, Kim Junmyeon. Aku pikir seorang Leader harus bersikap percaya diri dan tegas.”

Sontak Junmyeon mengangkat wajahnya dan menatap mata Jaeshin.

“Baiklah, aku minta maaf karena mengabaikamu. Maaf, jika kau merasa aku bersikap dingin padamu. Kau tidak melakukan kesalahan apapun, Junmyeon. Kau tidak perlu harus meminta maaf atas apa yang tidak pernah kau lakukan. Aku hanya sedang sibuk dan kelelahan. Aku bahkan tidak mempunyai waktu untuk diriku sendiri sekarang. Aku minta maaf jika kau berpikir bahwa aku meninggalkamu, Junmyeon,” ucap Jaeshin.

Junmyeon tidak mengatakan apapun. Dia hanya menatap Jaeshin.

Jaeshin kemudian memakai jaketnya lagi. “Ini sudah malam. Kuantar kau pulang. Jika kau ingin bicara padaku, tidak perlu menungguku seperti tadi. Kau bisa kirim sms dan mungkin aku akan pulang lebih cepat. Atau kita bisa bertemu di tempat lain.”

“Jika aku kirim sms untuk mengatakan ingin bicara padamu, apa kau akan membalasnya? Bahkan jika aku meneleponmu untuk memastikan, apa kau akan mengangkatnya?” ujar Junmyeon tiba-tiba.

Jaeshin menatapnya.

“Kau mungkin tidak akan pernah melakukannya, Jaeshin. Bahkan jika aku menunggumu di depan pintu seperti tadi, kau mungkin akan pulang lebih larut dan membuatku pergi sendiri. Choi Jaeshin, kau bilang tidak akan pernah meninggalkanku. Kau bilang aku adalah kakakmu, tapi kenapa kau mengabaikan kakakmu sendiri?”

“Jun…”

“Aku belum selesai bicara, Choi Jaeshin!! Kau bilang kita sudah seperti kakak-adik, tapi kenapa kau malah memperlakukan seperti orang penjahat yang harus dihindari? Kau mengatakan banyak janji padaku, Choi Jaeshin. Tapi tidak ada satupun yang kau tepati. Sama sepertinya yang pergi setelah mengatakan puluhan janji manis padaku. Tapi kenyataan tidaklah sama seperti mimpi, bukan? Lain kali, jika kau ingin pergi sebaiknya kau mengatakannya langsung padaku, Choi Jaeshin. Jangan bersikap seperti ini. Kau bilang tidak mengabaikanku, tapiitulah yang kau lakukan sekarang padaku!!”

Junmyeon mengeluarkan semua emosinya. Nafasnya terlihat memburu dan matanya kini memerah. Pemuda itu berusaha untuk tidak menangis dihadapan Jaeshin. Sangat memalukan jika ia harus menangis dihadapan seorang gadis. Hell, Junmyeon bahkan berusaha untuk tidak menangis dihadapan member lainnya.

Junmyeon menarik nafas tenang. “Jika kau ingin memutuskan semua hubungan, maka aku akan menghapus nomormu. Aku juga tidak akan menemuimu lagi. Tapi paling tidak, kau harus mengatakannya secara langsung padaku.”

Kemudian terjadi jeda beberapa menit.

“Kau sudah selesai?” ucap Jaeshin pelan.

Junmyeon mengangguk. “Aku akan pulang sendiri.”

“Siapa bilang kau boleh pulang? Setelah kau berteriak seperti itu padaku. Aku mungkin memang bersalah padamu karena mengabaikanmu. Tapi kau tidak berhak menyamakanku dengan dia yang pergi, Kim Junmyeon. Hubungan kita berbeda dengan hubungan kalian. Aku bahkan tidak pergi meninggalkan Seoul. Kita masih mempunyai banyak peluang untuk bertemu. Berbeda dengan dia yang kembali ke Beijing. Kalian mungkin tidak mempunyai peluang sama sekali untuk bertemu. Dan apa kau pikir semua janji yang pernah kuucapkan padamu, adalah janji yang sama yang pernah diucapkannya? Kim Junmyeon, dia yang pergi adalah kekasihmu. Seorang co-leader sekaligus sahabatmu. Tapi aku hanya temanmu. Kita bahkan belum lama saling mengenal. Kenapa kau menyamakanku dengannya, eoh?!”

“Aku tidak menyamakan dirimu dengannya, Jae…”

“Ani. Kau melakukannya, Jun. Kau baru saja melakukannya, Kim Junmyeon –ah ani, Suho-sshi,” Jaeshin berbicara dengan datar. Nyaris tanpa ekspresi sama sekali. Hal itu membuat Junmyeon kembali merasa takut pada gadis dihadapannya kini.

Jaeshin menarik nafas. “Well, mungkin ada satu persamaan antara diriku dengannya. Selain semua perbedaan yang begitu mencolok.”

Junmyeon kali ini mengernyit. “Apa maksudmu?” bisiknya.

Jaeshin semakin mendekati Junmyeon hingga hampir tidak ada jarak diantara mereka. Hal itu membuat Junmyeon menahan nafas. Keduanya mungkin pernah dalam jarak yang begitu dekat, tapi tidak dalam kondisi sekarang disaat semua emosi meluap tak terbendung. Junmyeon kini merasa wajahnya menghangat. Tatapan Jaeshin yang begitu dalam membuatnya bahkan tidak berani mengedipkan mata.

Saat masih ada jeda, Junmyeon merasa tangan Jaeshin menyentuh tangannya dan mengenggamnya erat.

“Jae…” bisik Junmyeon lagi.

“Persamaan diantara kami adalah kami mencintaimu, Kim Junmyeon,” ucap Jaeshin pelan. “Itulah kenapa aku mengabaikanmu selama ini, karena aku mencintaimu Kim Junmyeon.”

From Kyuhyun

Jae, aku tidak ingin campur masalahmu dengan Junmyeon. Tapi setidaknya biarkan dia bicara padamu. Jangan memperlakukannya sama seperti kau bersikap pada kami. Dia masih terlalu muda untuk menanggung semua masalah yang terjadi pada grupnya. Lepaskan satu masalah dari bahunya, Jae. Kumohon.

Dan, kau juga harus mengaku padanya. Mengenai perasaanmu padanya. Siwon menceritakannya padaku kalau kau benar-benar menyukainya (kau sudah berjanji untuk tidak membunuh sepupumu itu, Nona Choi). Lepaskan satu beban dari hatimu itu. Kau tahu, kau terlihat lebih tua dari usiamu sekarang.

Good luck, Choi Jaeshin.

*****

Advertisements

19 thoughts on “[SF] Good Luck

  1. omo!! err udh kuduga dri awal sih klo Jaeshin sepertinya suka sma Junmyeon,tpi trnyata beneran :3
    gmana dgn Yifan? apa kah mreka udh putus?? haha
    yaa klo Yifan sma Junmyeon nya udh putus sih gapapa,yg pnting Junmyeon nnti ada tempat sandaran nya *eeaaa XD
    apakah mereka udh jadian? chukkae deh!!

    kyaa..WONKYU!!
    poor Teddy..kasian jadi penonton pasangan Crazy,tpi harus nya bersyukur bisa liat fanservice yg lain dri fanservice yg biasa nya di stage kkk ~
    enak bgt tuh jadi Jaeshin,walaupun keluarga nya kaya,dikasih duit mulu sma Siwon -_-
    ditunggu FF lain nya :^)

    -Shin SiHyun-

  2. Ckckck…kasian banget teddy, mellihat wonkyu pacaran mulu…
    Wow…jaeshin ternyata mencintai suho…wah bakal tambah seru nich,..apa suho juga suka sm jae ya…

  3. cieee disni kyu romantis bgd dah ama siwonnya…
    porsi romance mereka juga lebih banyak…
    akhirnya tw kenapa tuh jae marah2 gaje ma suho,, tw nya suka ma suho toh
    suho sndiri suka ga ma jae??
    siwon cepet sembuh ya.. kalo pulang ke kprea kan ada yang jagain
    makanya jangan syuting mulu…
    kyu paniknya bkin seneng
    teddy yang sabar yang sama kelakuan duo wonkyu, hahahaha
    tapi kau pengcover yang amat dibutuhkan teddy…

  4. Good luck, baby good luck to you!
    Lihat judulnya aku jadi inget lagunya BEAST hihi 😀
    dan sepertinya lagu itu cocok utk ff ini :’)
    Well, akhirnya Jaeshin ngaku kalo suka sam Junmyeon. Tapi kok feel-nya gini ya kak? Kenapa rasanya Junmyeon lebih cocok jadi adek kecilnya Jaeshin :’)
    Aku berharap Jaeshin nanti menemukan lelaki yg sedikit humoris tapi sangat dewasa. Lelaki gentlemen yg siap menjadi penopang Jaeshin, dan aku rasa itu bukan Junmyeon. Maaf :’
    Hah~ jadi inget sama Siwon yg tetap tampil tampan menawan walau dg leher yg pakai penyangga gitu. huhu
    Ditunggu ff yg lainnya kak. Dan kelanjutan dari Scar Face (bener kan?) ^^

  5. mwoo???? choi jaeshin menyukai suho? serius??? seorang choi jaeshin, tipikal cewek yg sangat sulit sekali utk jatuh cinta, mempunyai sifat yg cukup keras kepala dan terkesan cuek. benar2 gak yangka. tp kenapa sikapnya hrs seperti itu terhadap suho? kasihan suho kan kl di perlakukan seperti itu, harusnya jaeshin bisa memberikan semangat dan dorongan pada suho agar kuat menghadapi semua masalah yg datang silih berganti. please…jae.., dengarkan apa kata kyuhyun. aigoo…aigoo…aigoo…..wonkyuuuuuuuuuuuuu, kenapa kalian tdk bisa melihat tempat sich??? apa sdh biasa? ckckckck…, teddy manager…tabahkan hatimu dng kalakuan 2 artismu yg absurd bin mesum. bahkan junghoon manager pernah melihat yg lebih dari ini.

  6. teddy km blm lht yg lbh gila dr yg td..
    kekekeke..
    gila si wonkyu g lht tempat bgt
    ad orang msh nyosor aj
    fiuuuuh

    keep writing ya

  7. aacckkk .. bingung ama masalah jae ama jun ..
    tp wonkyu momentnya disini… bikin melting ..
    good luck jg buat author~
    fighting~

  8. Kira2 suho punya perasaan sama gaknya kyk jaeshin???
    Mudah2an aja suho juga mencintai jaeshin
    Dilihat dr sikap suho yg takut kehilangan jaeshin kyknya suho juga mencintai jaeshin

  9. Omg … Aku bener2 suka banget sama semua ff kamu, cerita dari ff kamu itu bener2 kaya nyata gitu ….* hehehe pokok nya aku suka banget

    wonkyu mesra banget, jaeshin suka sama suho?????

    Cepet di lanjut ff mu yang lain yach, di tungguin banget … ^_^

  10. klo teddy malah kesel aku malah mau dah gantiin posisi teddy jadi manajer wonkyu.
    biar bisa liat wonkyu ciuman ato mungkin yang katanya lebih parah tu.heee

    wonkyu momentnya benar2 buat iri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s