[SF] Scarface Part 8

scarface2

8

Kyuhyun menatap Haneul dengan lekat. Well, Kyuhyun sudah menyangka kalau Haneul pada akhirnya akan menemuinya secara langsung setelah ia mengabaikan semua panggilan telepon dari pria tersebut. Tapi Kyuhyun sama sekali tidak berpikir kalau Haneul akan menunggunya sampai sidang selesai.

Kyuhyun menghela nafas panjag dan menyesap Americanonya. Hah, entah sejak kapan Kyuhyun mulai menyukai meminum minuman hitam itu. Tapi kafeinnya cukup membantu Kyuhyun untuk sedikit rileks dari semua masalah yang timbul pada kehidupannya. Terlebih dari Kang bersaudara –oh dan juga keluarga Choi.

Haneul menarik nafas. “Sejak kapan kau mulai meminum Americano?”

Kyuhyun menaikkan satu alisnya dan menaruh kembali gelas kopinya diatas meja. “Kau menemuiku hanya untuk bertanya mengenai hal itu?”

“Tentu saja, tidak. Tapi….” Haneul terdiam sejenak. “Baiklah, kurasa kau juga tidak ingin menemuiku lama-lama. Mengenai tempo hari, saat aku…”

“Tempo hari? Apa kita bertemu? Ah, kita memang bertemu di rumah sakit bukan? Untuk mengobati lukaku lagi,” ujar Kyuhyun dengan cepat memotong ucapan Haneul.

Haneul mengepalkan tangannya dengan kuat. “Kyuhyun, apa kau akan bersikap tidak pernah mendengarnya?”

“Memang apa yang kudengar? Kita membicarakan sesuatu? Seingatku tidak ada pembicaraan kita yang membuatmu harus bersikap seperti ini,” sahut Kyuhyun.

“Bersikap seperti apa maksudmu?” Haneul mulai mengikuti permainan Kyuhyun. Walaupun Haneul tidak ingin mencari masalah baru dengan Kyuhyun, tapi pria dihadapannya ini sangat sulit untuk diajak bicara.

“Bersikap layaknya kau…”

“Apa? Layaknya aku sedang mencari kepastian mengenai pengakuanku padamu? Mengenai perasaanku padamu? Begitu?”

Kyuhyun hanya diam. Ia kembali meminum Americanonya. Haneul menghela nafas panjang kemudian mengecek jam dipergelangan tangannya. Sudah waktunya ia kembali ke rumah sakit, tapi Haneul tidak bisa pergi ditengah pembicaraan mereka.

Kyuhyun meliriknya. “Pergilah. Kau harus kembali ke rumah sakit, bukan? Aku juga harus kembali ke kantor. Kita bertemu lagi di rumah sakit untuk lukaku,” ucapnya yang kemudian bangkit dan meninggalkan coffee shop tersebut.

Haneul sendiri hanya memandang kepergiaan Kyuhyun tanpa bisa menahan pria itu lagi.

Begitu sulitkah untukmu menerima bagaimana perasaanku ini, Kyuhyun?

*****

Changmin mengikuti Siwon yang sedang berkeliling Legiun. Sesekali keduanya masuk kedalam beberapa toko dan mengobrol dengan pemilik atau staff toko tersebut. Legiun adalah sebuah mall besar yang dibangun oleh Choi Group dengan profit tahunan mencapai lebih dari duapuluh miliar per tahunnya. Dengan ratusan toko brand-brand terkenal baik dalam maupun luar negeri, Legiun adalah salah satu asset terbesar di Choi Group selain beberapa anak usaha Choi Group dibidang otomotif, property atau pertambangan.

Changmin menghela nafas.

Siwon meliriknya. Sejak mereka sampai dan berkeliling Legiun, Changmin terlihat tidak bersemangat. Hah, seharusnya yang tidak bersemangat adalah dirinya. Terlebih dengan kejadian di pengadilan tadi. “Jika kau membenci pekerjaanmu ini, lebih baik kau kembali ke perusahaan ayahmu, Shim.”

“Jangan mengungkit tentang itu lagi, Choi. Kau benar-benar menyebalkan,” sahut Changmin.

Siwon tertawa kecil. “Kenapa? Apa karena kita berada di Legiun? Kau tidak ingin menemuinya?”

“Aku akan kembali ke kantor saja,” tukas Changmin sembari beranjak pergi.

Siwon berbalik dan menatap Changmin yang meninggalkannya. “Hey, setelah dari Legiun, bukankah kita akan makan siang dengan Yunho dan Sooyoung? Ayolah, jangan pergi.”

Changmin berbalik dan menatap Siwon dengan jengkel. “Kalau begitu aku akan pergi ke kantor Yunho saja. Kau bawa mobilnya, aku akan pergi dengan taksi,” kemudian ia melemparkan kunci mobil pada Siwon.

Siwon menangkapnya dengan cepat dan membiarkan Changmin pergi. Well, setidaknya hari ini bukan moodnya saja yang buruk. “Hanya seorang gadis, Shim. Tapi kau benar-benar membuatnya seakan kau sedang menghadapi kematian,” gumam Siwon yang kemudian meneruskan berkeliling.

*****

Hyukjae menghampiri Kyuhyun yang baru saja datang. Seharusnya Kyuhyun sudah sampai di kantor pukul sebelas, tapi ia malah sampai setengah satu siang. Terlebih dengan ekspresi wajahnya yang terlihat tidak baik. Hyukjae berpikir pasti terjadi sesuatu. “Jadi, persidangannya lancar?”

Kyuhyun menghela nafas dan langsung memasuki ruangannya. Hyukjae masih mengikutinya. Kyuhyun menaruh tasnya di atas meja dan melepaskan jas hitamnya. “Tidak buruk. Mungkin dalam dua atau tiga kali persidangan lagi, hakim sudah bisa memutuskan.”

“Choi Group akan menang?”

Kyuhyun menekan tombol intercom. “Bin-ah, tolong satu kopi. Terima kasih,” ucapnya dan kembali menatap Hyukjae yang kini mengernyitkan kening. “Tergantung dari seberapa kuat bukti-bukti Choi Group. Kenapa wajahmu begitu?”

“Kopi? Kopi hitam dan bukannya Latte seperti biasanya? Kebiasaanmu berubah,” tukas Hyukjae.

Kyuhyun menghela nafas dan duduk. Ia mengeluarkan beberapa dokumen. “Jika tidak ada yang kau ingin bicarakan, keluarlah Hyuk. Bukankah kau juga mempunyai banyak kasus yang harus diselesaikan.”

“Well, itu memang benar. Terima kasih pada Pengacara Cho yang hebat. Tapi jangan lupakan siapa Pengacara Lee Hyukjae, Cho Kyuhyun. Sejak kapan kau jadi menyukai meminum kopi hitam, eoh? Apa karena kemarin?” tanya Hyukjae lagi.

Kyuhyun menatap Hyukjae dengan serius. Kemudian Bin mengetuk pintu dengan membawakan kopi untuk Kyuhyun. Setelah meletakkan gelas kopi itu diatas meja, Bin keluar dari ruangan tersebut dengan menutup pintu. Hyukjae menghela nafas. Setidaknya pembicaraan mereka tidak akan didengar oleh pengacara lainnya.

“Kyu, itu hanya kecelakaan. Kalian tidak melakukannya. Well, sebenarnya hampir. Tapi saat itu kalian sedang mabuk, kenapa kau membuatnya seakan itu adalah….”

“Hyuk, kumohon. Jangan mengatakannya lagi. Aku sudah cukup mendengarnya sekali, okay? Hari ini aku sedang tidak ingin bertengkar dengan siapapun, dengan masalah apapun. Termasuk apapun yang terjadi kemarin. Bahkan saat Choi Siwon… oh, ya Tuhan!! Tolong keluarlah, okay,” tutur Kyuhyun.

Hyukjae menaikkan satu alis. “Choi Siwon bicara padamu? Mengenai kemarin?”

“Lee Hyukjae…”

“Okay, aku tahu. Sorry, tapi benarkah? Lalu kau bilang apa padanya?” Hyukjae penasaran.

Kyuhyun mendesis jengkel. Ia menekan keningnya. “Aku hanya mengatakan bahwa aku tidak ingat dan lebih baik kami menganggap tidak pernah terjadi apapun. Lagipula kami berdua tidak ingat apapun mengenai hal itu. Kau puas? Keluarlah, kumohon.”

“Menganggap tidak pernah terjadi apapun? Well, kurasa itu memang yang terbaik. Baiklah, aku akan keluar tapi kau ingat bukan kalau jam setengah dua nanti kita ada janji makan siang dengan Pengacara Kang? Kita semua.”

Kyuhyun mengangguk. “Aku ingat. Aku hanya ingin mengurus beberapa dokumen. Kau bawa mobil, bukan? Aku ikut denganmu, ya.”

“Baiklah.”

Kemudian Hyukjae keluar dari ruangan Kyuhyun. Dari ekspresi wajah Hyukjae saat ini bisa dipastikan bahwa sebenarnya ia merasa bingung dengan keputusan Kyuhyun untuk menganggap bahwa tidak pernah terjadi apapun di bar kemarin.

“Tapi kemarin itu, mereka…. Ya sudahlah, biarkan saja.”

*****

Yunho tersenyum sembari menyimpan ponselnya pada saku dalam jasnya. Kemudian ia menatap Changmin yang terlihat bosan sibuk dengan ponselnya –mungkin bermain game. Lalu Yunho bangkit dan menghampiri Changmin.

“Hey, kau bermasalah lagi dengan Siwon?” tanya Yunho sembari duduk pada sofa.

Changmin melirik Yunho dan mendengus. “Apakah jika aku kesini, itu tandanya aku bertengkar dengan Siwon? Lagipula kami memang sering bertengkar? Bukan hal aneh.”

“Memang. Tapi ekspresi wajahmu berbeda. Kau dari Legiun?” tanya Yunho lagi.

Changmin menghela nafas dan menyimpan ponselnya. Ia menatap Yunho dengan jengkel. “Bisa kita pergi? Aku tidak mau bertengkar dengan istrimu, Jung Yunho. Dia itu sangat menyebalkan.”

Yunho tertawa kecil. “Masih ada empatpuluh lima menit sebelum waktu reservasi. Dan Sooyoung harus ke rumah sakit dulu. Jinhae sakit lagi,” tuturnya.

“Sakit lagi? Bahkan di Seoul saja, anak itu sering sakit, bagaimana jika mereka pindah ke Beijing?” tukas Changmin.

Yunho tersenyum. “Keluarga Han pasti tahu yang terbaik untuk mereka, Min. Lagipula Beijing mempunyai salah satu rumah sakit terbaik di dunia. Kenapa kau selalu saja menentang kepindahan mereka ke Beijing, eoh? Kau merasa kehilangan Jinhae? Apa anak-anakku masih kurang cukup?”

“Bicaramu terdengar menjijikkan, Jung Yunho. Jangan membuatku seperti seorang pedofil. Istirmu bisa membunuhku, jika kau bicara seperti itu dihadapannya. Ayolah, aku sudah lapar. Bisa kita pergi sekarang? Setidaknya aku bisa memesan dumpling sebelum Siwon dan Sooyoung datang.”

Yunho tertawa lagi. Rasanya menyenangkan bisa menggoda seorang Shim Changmin. “Well, mungkin kau harus segera menikah, Shim Changmin,” tukasnya sembari bangkit.

Changmin mendesis. “Katakan itu pada Choi Siwon, Jung Yunho.”

*****

Siwon baru saja memasuki lobby Imperial Hotel dimana mereka berempat –ia, Changmin, Yunho dan Sooyoung– akan makan siang bersama, ketika Sooyoung keluar dari lift. Siwon tersenyum dan menunggu hingga Sooyoung menghampirinya.

“Kudengar kau dari rumah sakit, bagaimana Jinhae?” tanya Siwon sembari mereka berjalan menuju salah satu restaurant yang paling terkenal di hotel tersebut.

Sooyoung menghela nafas. “Tidak parah, tapi dokter menyarankan untuk dirawat inap selama beberapa hari. Selama enam bulan terakhir, dia sudah sakit sebanyak tujuh kali. Itu tidak wajar, Siwon.”

“Kau yakin, Jinhae tidak sakit yang serius?” tanya Siwon khawatir.

Sooyoung tersenyum kecil. “Jangan khawatir. Diagnosis dokter Ji tidak mungkin salah. Dia sudah menjadi dokter keluarga Choi selama tigapuluh tahun, Siwon. Kalau ada masalah, Kakek adalah orang yang pertama mengetahuinya.”

Siwon mengangguk. Well, itu memang benar. Segala sesuatu yang berkaitan dengan Keluarga Choi, Kakek mereka adalah orang pertama yang mengetahuinya. Bahkan jika masalahnya pun berada di perusahaan. Siwon tidak tahu bagaimana sang Kakek mengetahuinya, tapi ia sangat yakin ada banyak orang yang bekerja sebagai “mata” sang Kakek.

Hell, Siwon baru teringat hal itu. Mungkin ia harus mulai berdoa, agar saat pertemuan keluarga nanti, sang Kakek tidak akan membahas mengenai masalah bar. Geez, Siwon bahkan tidak ingin tahu apakah Kakeknya mengetahuinya atau tidak.

Siwon dan Sooyoung memasuki restaurant dan melihat Changmin yang sibuk dengan dumpling gorengnya, dan Yunho yang terlihat menikmati Changmin makan. Siwon mengernyit heran.

Orang itu memang selalu aneh. Terlebih dia cucu tertua keluarga Choi.

*****

Haneul menghela nafas. “Bisakah kau tidak mengangguku,” tuturnya.

“Kenapa? Aku ini adalah saudaramu. Jangan selalu bersikap dingin seperti itu padaku, Han. Appa tidak akan menyukainya, jika ia mengetahuinya.”

Haneul mendesis. “Jika Appa mengetahuinya, maka aku tahu siapa yang memberitahunya. Untuk apa meneleponku, eoh? Apa kau ingin pamer padaku mengenai kehidupanmu di Jepang?”

“Han, kau bicara seakan aku sudah membuat dosa besar. Well, sebenarnya aku memang ingin memintamu datang ke Jepang. Aku butuh bantuanmu.”

Haneul mengernyit. “Bantuan apa? Aku ini adalah seorang dokter, untuk apa aku membantu seorang pengacara?”

“Tepat sekali. Karena kau adalah seorang dokter, Han. Masalahnya cukup rumit jika aku bicara melalui telepon. Apa dalam waktu dekat ini kau bisa ke Jepang? Setidaknya dalam waktu dua minggu?”

“Haesa, posisiku saat ini tidak memungkinkan untuk cuti. Lagipula aku baru mulai bekerja? Apa kau menyuruhku meminta ijin ke rumah sakit, eoh?” seru Haneul sebal. Saudari kembarnya selalu saja berbuat semaunya –termasuk pada Kyuhyun, dan Haneul membenci sikap saudarinya itu.

“Aku bisa membantumu untuk ijin ke rumah sakit, Han. Ayolah, aku ini adalah saudari kembarmu. Bantu aku, eoh.”

Haneul memijat keningnya. “Kau memang saudari kembarku, tapi bukan berarti kau bisa bersikap sesuai kehendakmu Kang Haesa. Dan aku tidak butuh bantuanmu untuk meminta ijin ke rumah sakit. Akan kulakukan sendiri, tapi aku tidak menjanjikan apapun. Jika rumah sakit tidak memberi ijin, maka kau cari dokter yang lain.”

“Arraseo. Tapi tolong diusahakan, okay? Aku tidak ingin berurusan dengan dokter di Jepang. Gomawo, Kang Haneul. Kau memang penyelamatku.”

Haneul sontak memutuskan kontak. Ia mendengus jengkel. Sikap Haesa benar-benar membuatnya kesal. Terlebih dengan semua hal yang terjadi. Tapi bagaimana pun juga Haneul tidak bisa mengabaikan adiknya –seberapa besar kebenciannya pada Haesa karena menyakiti Kyuhyun.

Haneul menarik nafas panjang. “Well, jika aku ke Jepang, setidaknya aku bisa membuatnya merasa sedikit menderita. Sedikit balas dendam, tidak akan membunuh seorang Kang Haesa.”

*****

Kyungsoo menyeruput mango coconutnya sembari memperhatikan Joonmyeon dengan lekat. Sahabatnya sedang sibuk sendiri memandangi kearah lapangan basket dimana beberapa siswa –termasuk Kevin– sedang bermain. Terdengar gila karena suhu saat ini masih cukup dingin dan mereka hanya memakai seragam tanpa jaket tebal. Salah satu cara bunuh diri tercepat mungkin.

Kyungsoo menghela nafas. “Kau kenapa lagi, eoh? Selama beberapa hari tidak bertemu, kau malah terlihat sakit. Ada yang kau pikirkan?”

“Tidak,” jawab Joonmyeon cepat.

Dia berbohong, pikir Kyungsoo sembari kembali memperhatikan kearah lapangan. Saat itu Kevin berhasil memasukkan bola kedalam ring. Pemuda itu tersenyum dan ber-hi-five dengan teman satu teamnya. Kyungsoo jadi berpikir apakah Joonmyeon mempunyai masalah dengan saudara tirinya. Lagipula sedikit aneh saja, ketika Joonmyeon menyeretnya ke lapangan basket setelah melihat Kevin membawa bola.

Kyungsoo menyeruput minumannya lagi dan menatap Joonmyeon. “Sesuatu terjadi pada kalian?”

Sontak Joonmyeon menatap Kyungsoo. “Eoh?”

“Ayolah, Kim Joonmyeon. Aku cukup mengetahui sifat dan sikapmu. Berbohong padaku bukanlah pilihan yang terbaik. Apa Kevin mulai menganggumu di rumah? Layaknya saudara tiri yang menyebalkan?” tutur Kyungsoo.

Joonmyeon menghela nafas dan melirik kearah Kevin yang sedang memberikan passing pada temannya. “Kau tidak ingin mendengarnya, Do Kyungsoo.”

“Hah?! Katakan saja, memangnya hal apa yang terburuk yang bisa terjadi diantara kalian,” sahut Kyungsoo lagi.

Joonmyeon sedikit menunduk, menatap sepatunya. Ia menarik nafas panjang dan menatap Kyungsoo dengan lekat. “Jika Baekhyun mengetahui ini maka aku tidak peduli jika harus penjara, kau mengerti?” Kyungsoo hanya mengangguk mantap. Joonmyeon mengancamnya, jadi mungkin masalahnya memang rumit sekali.

“Kevin menyukaiku,” ungkap Joonmyeon pada akhirnya.

Kyungsoo mengernyit dengan mata besarnya. “Itu bagus, bukan? Jadi, dia tidak akan jadi saudara tiri yang menyebalkan.”

“Bukan menyukai seperti itu, Soo. Lebih dari itu,” gumam Joonmyeon pelan.

Terdapat jeda untuk beberapa menit. Kyungsoo menatap Joonmyeon dengan lekat, lalu ia beralih menatap Kevin yang kali ini sedang memperhatikan Joonmyeon, namun kembali bermain. Kyungsoo mungkin buta, tapi suasananya memang sedikit aneh sejak ia pertama kali bertemu Kevin di rumah Joonmyeon.

Kyungsoo menyeruput minumannya hingga habis. Kemudian ia kembali menatap Joonmyeon. Well, Kyungsoo tidak melihat kebohongan. Lebih banyak rasa khawatir. “Oh, aku mungkin tidak harus mengetahuinya. Tapi, sudah terlanjur. Aku tidak menyangka kalau… Euhm, kau tahu sejak kapan dia mulai…”

“Dia tidak mengatakan tepatnya kapan, tapi sejak pertama bertemu ia merasa penasaran denganku. Jadi, sejak awal semester? Entahlah,” jawab Joonmyeon.

Kyungsoo kembali menarik nafas. “Lalu reaksimu? Kau tidak…”

Joonmyeon hanya diam dan mengalihkan pandangannya. Kyungsoo kembali membuka mulutnya, tapi tidak ada kata-kata yang tepat untuk dikeluarkan. Kyungsoo berniat menyeruput minumannya, tapi ia sadar kalau minumannya sudah habis.

Kyungsoo berdeham pelan. “Kau juga menyukainya? Dengan cara yang sama?”

“Kurasa tidak. Atau belum. Kau percaya jika aku mengatakan kalau aku bingung dengan semua ini? Bahkan sejak dia menciumku…”

“Mencium?! Kapan?!” Kyungsoo hampir berteriak keras.

Joonmyeon mengangguk. “Sehari sebelum kau datang ke rumah untuk mengambil buku. Itu terjadi begitu saja. Hanya sebuah ciuman singkat dan tidak lebih. Tapi sejak itu, aku berusaha berpikir mengenai semuanya. Kami adalah saudara sekarang, ibunya adalah ibuku dan ayahku adalah ayahnya. Ini tidak harus terjadi, bukan?”

Kyungsoo memandang Kevin yang kembali berhasil memasukkan bola. “Memang tidak harusnya terjadi. Tapi ada hal ingin kutanyakan lagi. Bagaimana dengan orang yang sering memandangimu dari kelas Seni? Oh, tunggu! Dia orangnya?! Atau…”

Joonmyeon mengangguk lagi. Kali ini, Kyungsoo merasakan sakit kepala. Terlalu banyak informasi yang diterimanya dalam waktu kurang dari limabelas menit. Ia perlu berpikir sejenak, tapi Kyungsoo tidak bisa membiarkan Joonmyeon tenggelam dalam kebingungan.

“Joon-ah, aku tidak bisa mengatakan apapun. Terlebih ini adalah kehidupanmu sendiri. Kau pikirkan dulu baik-baik. Kalian mungkin harus bicara mengenai ini dan jika tidak ada jalan keluar, kalian harus bicara dengan orangtua kalian. Joon-ah, aku hanya temanmu, tapi bisa kupastikan aku akan selalu dibelakangmu. Apapun yang menjadi keputusanmu, akan kuhargai. Dan Baekhyun tidak akan mengetahuinya, kupastikan hal itu,” tutur Kyungsoo.

Joonmyeon tersenyum tipis. “Terima kasih, Soo.”

Well, kurasa orang itu pun tidak harus mengetahui hal ini.

*****

Kevin menunggu Joonmyeon di depan gerbang. Ia sedikit merapatkan jaketnya. Sepertinya salju akan kembali turun. Saat ini masih bulan Januari dan suhu belum menghangat. Kevin sedikit menyesali keputusannya untuk ikut bermain basket dengan teman-teman kelas Seni lainnya, ia merasa hidungnya mulai berair dan memerah. Saat sampai dirumah, Mom pasti akan memarahinya dan menyuruhnya minum ramuan obat cina yang pahit.

“Kau menungguku?”

Kevin menoleh dan mendapati Joonmyeon berdiri didekatnya. Pemuda Kim itu terlihat lebih kecil dari ukuran sebenarnya dengan jaket tebal yang sepertinya terlalu besar dan scarf rajut berwarna merah yang menutupi leher dan sebagian wajahnya. Kevin mengangguk dengan cepat.

“Maaf, Jo Ssaem ingin bicara dulu denganku tadi untuk persiapan semester baru. Seharusnya kau pulang duluan,” tutur Joonmyeon dari balik scarfnya.

Kevin menggeleng. “Dan mendengar ocehan Mom karena membiarkanmu pulang sendiri? Tidak terima kasih.”

Joonmyeon tersenyum dibalik scarfnya. Kemudian mereka berjalan menuju halte bis. Kevin ingin mengusulkan naik taksi lagi, tapi ia mengurungkan niatnya. Keduanya berjalan dengan ada jarak sekitar satu meter diantara mereka. Kevin berjalan duluan dan dibelakangnya Joonmyeon mengikuti dengan tatapan lekat pada punggung pemuda tinggi tersebut.

Mereka tiba di halte yang sepi. Masih ada waktu empat menit sebelum bis datang. Kevin mengeluarkan headset dari saku jaket tebalnya, memasangnya pada satu telinganya. Kevin melirik Joonmyeon sembari menunjukkan satu earphone lainnya. Joonmyeon menggeleng dengan memperlihatkan eye-smile-nya. Kevin mengedikan bahunya dan memakai keduanya.

Joonmyeon menghela nafas dan menunduk menatap sepatunya. Suasananya begitu canggung, bahkan Joonmyeon tidak tahu sejak kapan situasinya kembali berubah menjadi seperti ini. Mungkin sejak orangtua mereka kembali dari Kanada.

“Joon…”

Joonmyeon mendengar suara Kevin, sontak ia menoleh dan sedikit mendongak. Hanya saja ia sedikit terkejut ketika Kevin sudah berdiri didekatnya –dengan jarak yang dekat sekali. Joonmyeon terdiam.

“Joonmyeon,”

Kevin menyebut namanya lagi. Joonmyeon berkedip beberapa-kali.

“Ya?”

Kevin tersenyum. “Kau sadar ternyata. Kupikir kau tertidur sembari berdiri,” tukanya.

Joonmyeon mengernyit. “Huh?”

Kevin masih tersenyum dan ia menyentuh kepala Joonmyeon lalu mengusapnya perlahan. Joonmyeon masih menatap Kevin dengan lekat tanpa bisa bergerak. Walaupun ia merasa ini adalah kesalahan, tapi Joonmyeon tidak bisa menghindarinya. Ia tidak mau menghindarinya.

“Bisnya akan segera datang, jadi aku harus cepat,” gumam Kevin.

Joonmyeon tidak mengerti dengan ucapan Kevin. Tapi ia merasa tangan Kevin menyentuh wajahnya dan perlahan menurunkan scarf yang menutupi sebagian wajahnya tersebut. Joonmyeon merasa waktu bergerak dengan cepat ketika ia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya dan detik berikutnya digantikan oleh udara dingin.

Joonmyeon kembali berkedip beberapa-kali, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi –dalam waktu kurang dari sepuluh detik. Joonmyeon menyentuh bibirnya, mencari sensasi lembut itu lagi.

“Joonmyeon, ayo cepat naik!” seruan Kevin yang memasuki bis menyadarkan Joonmyeon.

Joonmyeon kemudian bergegas menaiki bis dengan puluhan pertanyaan yang berputar dikepalanya. Joonmyeon duduk disamping Kevin yang memilih deret kursi paling belakang. Bis itu kembali melaju dan Joonmyeon masih memperhatikan Kevin yang sibuk dengan earphone dan memandang kearah luar.

Apa dia baru saja menciumku lagi?

*****

Hyukjae mengernyit ketika melihat Kyuhyun tersenyum. “Ada sesuatu yang menarik perhatianmu?”

Kyuhyun mengalihkan perhatiannya pada Hyukjae yang menyetir. Ia masih tersenyum. “Apa kau pikir dunia ini aneh, Hyuk?”

“Kupikir, kau yang aneh, Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun kembali berfokus pada puluhan mobil yang bergerak diantara mereka. Ia menarik nafas panjang. “Dunia ini aneh, Hyuk. Tuhan juga aneh, menurutku.”

Hyukjae kali ini benar-benar tidak mengerti dengan ucapan Kyuhyun. “Kyu, kau sedang mengolok Tuhan, kau sadar itu bukan?”

“Ya, aku menyadarinya. Hari Minggu nanti aku akan membuat pengakuan dosa, jadi kau tenang saja,” tukas Kyuhyun.

Hyukjae menghela nafas panjang. Sepertinya Kyuhyun masih belum bisa berpikir jernih sejak ia memberitahu masalah di bar. Hell, bagaimana bisa hanya kejadian yang hampir terjadi bisa membuat Kyuhyun –hampir– gila seperti ini. Mengolok Tuhan dengan mengatakan bahwa Ia aneh. Tidakkah itu sedikit berlebihan?

“Kyuhyun…”

“Jika kubilang aku baru saja melihat seorang siswa mencium siswa lainnya saat kita melewati halte, apa kau percaya, Hyuk?” ucap Kyuhyun cepat.

Hyukjae melirik Kyuhyun. “Huh? Siapa mencium siapa di halte?”

Kyuhyun menggeleng. “Sudah lupakan saja. Menyetirlah dengan baik, Pengacara Lee Hyukjae.” Kemudian Kyuhyun kembali diam dan memperhatikan jalanan Seoul yang cukup ramai.

Dunia ini memang sudah gila dan aneh.

*****

Hyukjae melirik Kyuhyun yang sedang memegangi tangan kirinya saat mereka keluar dari lift. Keduanya berjalan melewati lobby menuju salah satu restaurant di hotel dimana mereka akan makan siang bersama. Firma hukum Kang Jaeha dalam sebulan memang biasanya membuat acara makan siang atau makan malam untuk seluruh pengacara serta pegawai, sebagai acara kumpul bersama di tengah kesibukan semua pengacara yang mengurusi kasus-kasus.

Hari ini adalah hari dimana mereka akan makan siang bersama dan biasanya Pengacara Kang Jaeha akan memilih restaurant di hotel besar atau bahkan menyewa restaurant terkenal lainnya di daerah gangnam. Tapi sejak mereka sampai, Kyuhyun sesekali memijat pelan tangan kirinya. Hyukjae berasumsi mungkin lukanya kembali terasa sakit.

“Tanganmu sakit lagi? Apa karena lukanya?” tanya Hyukjae.

Kyuhyun menggeleng. “Bukan karena lukanya. Jangan terlalu khawatir, besok aku akan ke rumah sakit lagi.”

Hyukjae menghela nafas lagi. “Jika kau akan menemui Haneul lagi, itu bagus. Pengacara Kang tidak akan menyukai pengacara kesayangannya terluka terlalu lama. Well, baik karena luka atau karena putrinya.”

Kyuhyun melirik Hyukjae sebal. “Jangan diungkit lagi.”

“Aku tahu, sorry. Tapi itu tidak bisa dicegah. Mungkin kau bisa mengikuti perjodohan seperti Ahra. Well, Ahra sudah mengikuti pertemuan lagi?” tanya Hyukjae yang akhirnya mengalihkan pembicaraan.

“Ahra sudah bertemu dengan pria dari keluarga Shin dan sepertinya akan terus berlanjut. Dia pulang dengan senyuman. Itu hal bagus. Tapi jika aku harus ikut perjodohan? Ah, terima kasih tapi aku menolak.”

Hyukjae mengernyit dan bersamaan mereka memasuki restaurant. Kyuhyun kini yang menghela nafas. Ia melihat beberapa rekan kerja lainnya yang sudah berkumpul pada beberapa meja besar.

“Kenapa menolak? Jika Ahra menikah, pada akhirnya kau pun akan… oh? Woah, apa kita berjodoh dengan mereka?” seru Hyukjae saat ia melihat kearah sisi lain restaurant tersebut.

“Siapa?” tanya Kyuhyun.

Hyukjae menunjuk pada salah satu meja dengan pandangan matanya. Kyuhyun akhirnya mengikuti sorot mata Hyukjae dan terdiam. Kyuhyun mendesis tanpa sadar. Tadi pagi ia sudah bertemu dengan mereka, tapi apakah Tuhan sedang melampiaskan kekesalanNya karena Kyuhyun tadi mengolok Tuhan dengan cara seperti ini?

“Oh, hebat!”

Kyuhyun segera bergegas menuju meja sebelum orang-orang dari Choi Group itu melihatnya. Hyukjae mengikutinya tanpa berkata apapun, karena ia bisa melihat ekspresi jengkel Kyuhyun saat melihat Siwon, Changmin dan dua orang lainnya.

Well, mungkin karena tadi pagi mereka sudah bertemu, pikir Hyukjae.

*****

NOTE: ………..

Advertisements

40 thoughts on “[SF] Scarface Part 8

  1. ok update dan aq suka..
    kekeke
    jd kyu lg jengkel gt ma won
    trs kpn mrka suka2an nya
    apkh msh lama???
    heeemm..
    ok siiip…lnjuut lg ya
    keep writing

  2. Ahhhhhhhh krisho lagi2 selangkah lebih majuuu….Dan benang antata wonkyu Dan krisho mlai terlihat…..

    Siwon Dan kyuhyun sllu brada dalam situasi kebetulan, semoga g Ada has yg dianggap kesialan

  3. Hubungan KrisHo lebih maju di banding WonKyu. Kevin mencium Joon lagi?Hebat..hehehe
    Hati-hati Kyu,rasa jengkelmu bisa berubah jadi suka.
    Haneul sepertinya tidak mau menyerah.
    Semoga hubungan WonKyu lebih jelas. Sudah tidak sabar ingin tahu bagaimana jadinya mereka

  4. di bar mereka ngapain sih? guling2an? kuda2an? *plaak
    Kyu lagi PMS ya kayanya. marah mulu…

    tuh kan~ Siwon emang jodohnya Kyu, mereka ketemu terus.
    dan Haneul akan bersaing dengan Siwon. xixixi

    hmm.. cinta memang kejam, udah bikin salah satu dari si kembar jadi evil. tehehehe..

  5. Kyuhyun lagi sensi kyknya,..
    Ampe tuhan dibilang aneh..
    Eunhyuk bener tuh kyu ma siwon emang berjodoh, makanya sering ketemu…

    Ditunggu lanjutannya..

  6. Heol ~ Kyu lg dpt ya? knapa akhir2 ini aku baca ff yg Kyu nya sensi tiap ktemu Siwon? err
    jdi penasaran sma kejadian di bar itu,kira2 mreka ngapain? ahaha
    well ~ Joonmyeon lg galau sma perasaan nya,lha Kevin mlh cuek aja ckck
    gapapa lha yaa KrisHo jdian,lgian bkan saudara kandung kkk ~
    -Shin SiHyun-

  7. KrisHo lebih aktif (?) dibanding WonKyu. Ya pastinya karena KrisHo sudah saling mengetahui ttg perasaan masing-masing ya. Beda sama WonKyu yg masih gak jelas sampe sekarang :’)
    WonKyu terkesan saling membenci. Well, kita lihat saja nanti *smirk* 😀
    Oh! Yang dilihat Kyu di halte itu KrisHo kan? Benang merah antara KrisHo dan WonKyu sudah mulai terjalin *sok tau* ^^v
    Ditunggu kelanjutannya kak ^^

  8. ga da wonkyu momentnya… Tp ttp seru!

    haneul datang juga kah nanti di acara lunch? Moga aja… apalagi klo diselipin moment haneulxkyuhyun (bingung nama pairnya), trus disusul moment wonkyu dech..! Hihihihi #ngarep

  9. Aduh hbungan wonkyu msih belum ada kemajuan siknifikan nih #plak klo ga saling tatap”an pasti dech pda diem”an 😀 hehe

    oya ksih tau dong kronologi kjadian wonkyu kmaren gmna sih bkin pnasaran….

    Ok lanjutlah

  10. Aku gk berfikir dunia ini aneh, tp aku berfikir klo kyu itu emang berjodoh sama siwon …* kekekekekek

    kyu itu sensin banget sich apa karna choi dan kang itu yach …* hehehe

    disini masih pada jaim2 yach, belum ada getaran2 cinta kecuali kang haneul ……

    Masih penasaran sama kejadian di toilet, kenapa gk di ceritain sich de, kan penasaran banget.

    Cepet di lanjut yach …. 🙂

  11. apa sich yg terjadi di toilet itu…?????? kenapa seperti ada sesuatu yg gimana gitu, hubungan wonkyu itu seperti gunung es di benua selatan, hampir mustahil utk bisa cair, benar2 butuh keajaiban. makanya kyu..jng suka mengeluh…krnTuhan tahu apa yg terbaik buat kamu. contohnya sj kalian ada di restaurant yg sama, jodoh…??? mudah2an sj. masih mending hubungan krisho, meskipun mereka saudara tiri tp mereka ttp bisa mesra. lanjut deh….

  12. Aaaak. Yifan sama Joonmyeon udah jauh banget hubungannya. Sementara Siwon-Kyuhyun masih ketinggalan kereta. Duhhh, gak sabar pengen baca kelanjutannya lagi. Semoga di chap depan dibanyakin wonkyu momentnya.

  13. kevin kamu nyosor mulu sich bikin joonmyeon jadi blank gitu kan hahahahaha

    dan kyuhyun ngeliat lagi apa yang dilakukan kevin ma joon hahahahaha

    ceritanya mulai berinteraksi nich
    dan aku masih penasaran apa yang terjadi ditoilet itu pasti lebih dari sekedar bercumbukan … iya kan…..

  14. Tuh kan pasti bener2 terjadi sesuatu deh di toilet itu, bikin penasaran bgt sih. Lho ko pak boss mau nerima pertunangan gitu aja, halah ga keren deh..
    Ih ga Haesa sekarang giliran Haneul yg bikin sebel. Udah sih kalo Kyu nya ga mau nerima ga usah dipaksa-paksa deh.
    Masih nunggu kapan Krisho sama Wonkyu saling berhubungan, setidaknya di chapter ini Kyu ngeliat mereka kissing di halte hehehehe. Bagaimana rasanya dicium dua kali ma Kevin, Joon?
    Tuh kan ya kalo emang jodoh mah pasti aja ada jalan buat ketemu terus. Kalo Tuhan sudah mengijinkan apapun pasti akan terjadi

  15. Ish,, di part ini kejadian di bar blom di ekspos. . kkkk~
    Kepo bneran sy. Ahahaha

    Kyu msih sbel ajja nih ma won, kpan mreka bsa kek krisho. . kevin ajja dh 2x nyium si joon. . muehehehe. .

  16. Kyu sensi bgt,,,kasian jg sm hyukjae,,,hahahahhahhaaaaaa….spertinya nasib hyuk ga jauh beda sma cwang….sm2 tertindas….hehehehehehhee…..

  17. kyu kenapa jadi sensi gitu.. kayanya wonkyu benar-benar berjodoh, meskipun kyu atau siwon berusaha untuk tidak bertemu tapi pada akhirnya mereka tetap bertemu juga.. kapan mereka mulai tertarik satu sama lain ?

  18. kyaaa yifannn berani bingit nyium jun lg dan di pinggir jalan lg :”’)) wkwk
    dan btw lupa blg di comment chapter sebelumnya siwon akanya baperan ye kyuhyun juga disini bapeeran wk tapi gapapa wajar manusia kalo baperan apalagi masalah kayak gt :’)

  19. Aigooo….krisho berciuman lagi dan yg dilihat kyuhyun tu sprtnya pasangan krisho
    Sdh dipastikan wonkyu akan sering bertemu krna mrk klient, tp knp siwon jg bs ada disana. Apa mrk diundang oleh pengacara kang atau hanya sekedar kbetulan mrk juga makan disana??

  20. krisho bikin senyum sendir bacanya, apa lagi suho terlalu jujur cerita sama kyungsoo tapi kris mah cuek aja hehe
    entah kenapa suka dengan haneulkyu, tapi lebih suka wonkyu lah.. belum ada apa2 sih sama mereka cuman masih rasa benci? yg ada , nanti juga saling suka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s