[SF] You, You, You

1

You, You, You

Kyuhyun menghela nafas panjang setelah ia mendengar berita yang muncul pagi ini dari penjelasan Ryeowook. Ia tidak pernah menyangka kalau permasalahan ini akan kembali muncul lagi setelah lima tahun. Tapi rasanya melihat apa yang terjadi setahun lalu, Kyuhyun mempunyai firasat bahwa ada sesuatu yang salah.

Ryeowook meletakkan segelas air di dekat mangkuk nasi Kyuhyun. “Hari ini kau latihan musical lagi?”

Kyuhyun mengangguk sembari memasukkan suapan nasi berikutnya. “Kalau kau sempat hubungilah Myeonie. Aku yakin saat ini dia mengalami apa yang pernah dialami Jungsoo hyung dan Yunho hyung. Rasanya tidak mudah tampil diacara music dengan berita yang muncul.”

Kyuhyun menelan makanannya. Ia teringat saat berita Han Geng yang memasukkan tuntutannya bahkan sebelumnya tiga member TVXQ juga mengajukan tuntutan yang hampir serupa. Saat itu Jungsoo dan Yunho seperti berada diatas seutas tali diantara dua tebing. Mereka seakan dihadapkan pada dua pilihan, yakni kejatuhan atau keberanian untuk terus berjalan tanpa rasa takut. Dan kini Junmyeon merasakan hal yang sama.

Namun, yang membedakan adalah kesiapan mental mereka menerimanya. Jungsoo dan Yunho sudah cukup dewasa saat masalah ini muncul, tapi Junmyeon? Dia baru akan menginjak usia duapuluh tiga tahun dan mereka baru debut selama dua tahun. Selain itu, minggu depan adalah konser pertama mereka. Terlalu banyak perubahan yang terjadi dalam sehari.

Ryeowook menghela nafas berat. “Aku benar-benar tidak percaya kalau kita akan menghadapi masalah yang sama sekarang ini? Kupikir management sudah merubah system mereka semenjak dua kasus sebelumnya. Nyatanya, memang sangat sulit untuk dihilangkan. Tapi rasanya kasus Yifan berbeda dengan kasus sebelumnya, bukan?”

Kyuhyun sama sekali tidak berkomentar apapun. Rasanya jika ia tidak mengetahui persis masalahnya, maka Kyuhyun tidak bisa berkomentar apapun mengenai masalah yang dialami hoobaenya. Mungkin ada baiknya jika Kyuhyun bicara langsung dengan Junmyeon. Tapi ia harus menunggu.

*****

Junmyeon menggigit bibir bawahnya hingga membuatnya memerah. Tatapannya tertuju pada ponsel yang diletakkan diatas meja rias. Sudah tigapuluhenam jam semenjak ia terakhir kali berkomunikasi dengan Yifan, tapi hingga saat ini Junmyeon tidak mendapatkan kabar apapun bahkan tidak bisa menghubungi Yifan.

Terlebih pagi ini berita mengerikan itu muncul ke permukaan dan membuat kehebohan massal diantara para fans –bahkan para manajer sepertinya juga kerepotan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Junmyeon menarik nafas dan melirik Sehun yang bersandar pada Chanyeol di sofa. Jongin dan Kyungsoo tidak mengatakan apapun, sedangkan Baekhyun sibuk dengan ponselnya sendiri.

Junmyeon menarik nafas panjang dan kemudian ponselnya bergetar. Dengan cepat, Junmyeon mengambil ponselnya dan membaca pesan yang masuk.

From: Manager K

Kalian hanya akan melakukan pre-recording dan tidak tampil live. Tuntutannya sudah diterima dan SM sedang mengurusnya. Lakukan pekerjaan kalian dengan baik. Kau harus tampil sebagai Leader. Semuanya akan berakhir. Cepat atau lambat.

Junmyeon merasa tersedak ketika membaca bagian “semuanya akan berakhir” di pesan salah satu managernya. Tapi benarkah semuanya akan berakhir seperti ini? Tidak adakah jalan lain yang lebih baik agar mereka tetap bisa bersama? Berdua-belas?

Hah, rasanya Junmyeon sedang membohongi diri sendiri ketika menyebutkan angkat tersebut. Dua-belas? Apa benar mereka berdua-belas sejak awal? Junmyeon sudah sangat khawatir sejak Yifan kembali ke Kanada sebelum comeback album pertama mereka. Yifan mungkin terlihat kuat dari luar. Penampilannya yang selalu dingin membuat semua orang melihatnya sebagai sosok yang kuat. Tapi Junmyeon sedikit banyak mengetahui sisi kepribadian seorang Wu Yifan dibandingkan orang lain –bahkan para member lainnya.

Yifan tidak sekuat apa yang terlihat. Yifan tidak sedingin apa yang terlihat. Yifan sendiri seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja. Junmyeon melihat itu sejak masa training mereka. Dan kini bom waktu itu sudah hampir mencapai titik ledaknya. Yifan sudah mengambil keputusan akhir.

Junmyeon selalu menghargai apapun keputusan Yifan. Baik sebagai Wu Yifan atau Kris seorang Leader EXO-M, co-leadernya. Tapi yang membuat Junmyeon kecewa adalah Yifan tidak pernah membicarakan apa yang selalu dipendamnya sendiri. Masalah yang dialami Yifan selalu ditelan sendiri. Junmyeon bahkan tidak pernah bisa mengetahui apa yang dipikirkan Yifan, sebagai co-leadernya. Atau bahkan kekasihnya.

Kekasih? Junmyeon menertawakan hal itu. Mereka adalah sepasang kekasih? Sejak kapan Junmyeon dan Yifan masih memegang status itu? Tiga bulan terakhir, saat mereka mempersiapkan album Overdose, Junmyeon sudah merasakan perbedaan dengan diri Yifan. Tapi Junmyeon selalu menyingkirkan firasat itu.

Hanya saja firasat itu kini berubah menjadi kenyataan yang mengerikan.

“Hyung…”

Junmyeon menoleh ketika Chanyeol memanggilnya. “Kenapa?”

Chanyeol menunjuk ponsel yang ditangannya. “Itu terus berbunyi. Apa kau tidak mau mengangkat teleponnya?”

Junmyeon tersentak. Ia bahkan tidak mendengarkan suara dering ponselnya. Junmyeon menarik nafas lagi dan menggeser image hijau. “Ya?”

“Bisa kita bertemu? Jam berapa kalian selesai recording di MNet?”

Junmyeon memijat keningnya. “Entahlah. Mungkin sekitar pukul tujuh. Kenapa kau ingin bertemu? Aku sedang…”

“Aku tahu apa yang sedang kau alami saat ini. Aku hanya ingin memastikan satu hal. Bisa kita bertemu di dorm kalian? Kirimkan alamatnya padaku, okay?”

“Ta-tapi…”

“Kim Junmyeon, kumohon. Aku akan membawakan beberapa kotak pizza untuk member, okay? Sampai bertemu nanti.”

Junmyeon meletakkan ponselnya kembali. Ia tahu kalau orang itu sangat keras kepala, tapi tidak pernah menyangka akan sekeras batu karang. Ini adalah waktu yang krusial, tapi orang itu seakan tidak peduli. Oh? Atau bahkan sebenarnya dia sangat peduli maka dari itu dia akan datang? Entahlah, Junmyeon sedang tidak bisa berpikir dengan rasional saat ini.

Rasionalitas? Sepertinya itulah yang dibutuhkannya saat ini.

*****

Kyuhyun menimang ponselnya. Ia berpikir untuk menghubungi Junmyeon, karena menemuinya disaat seperti ini rasanya tidak mungkin. Sebenarnya Kyuhyun bisa saja pergi menemui Junmyeon, tapi situasi dan kondisinya sangat tidak memungkingkan, walaupun Kyuhyun sudah berpakaian rapi dan sangat siap untuk pergi kapan saja untuk latihan. Dan ia bisa saja mampir sebentar ke dorm EXO untuk menemui Junmyeon, hanya saja…

“Jika tidak bisa menemuinya, kau bisa meneleponnya, Kyu” tukas Sungmin.

Kyuhyun menghela nafas panjang. “Aku tahu, hyung. Hanya saja, aku merasa kalau Junmyeon perlu waktu untuk bersama membernya dulu.”

“Kalau begitu cepat pergi latihan. Manager bisa memarahimu lagi karena membuatnya menunggu,” ujar Sungmin setelah menghela nafas.

Manager mereka sudah menunggu di basement selama lima belas menit tetapi Kyuhyun sama sekali tidak beranjak dari sofa dan hanya menimang-nimang ponselnya. Sungmin saja sampai kesal melihat tingkah maknae-nya tersebut. Kyuhyun menatap Sungmin untuk beberapa detik. Kemudian ia mengambil tas ranselnya dan bangkit.

“Aku pergi, hyung” ucapnya dengan lemas.

Sungmin memperhatikan Kyuhyun yang pergi dengan mendesah. “Mereka masuk hampir bersamaan, tapi Kyuhyun jauh lebih beruntung karena debut terlebih dahulu. Dan Junmyeon…” Sungmin menghela nafas panjang lagi.

“Kehidupan di dunia nyata memang tidak seperti fanfiction,” kemudian Sungmin melanjutkan membaca salah satu fanfiksi yang entah sejak kapan menjadi kesibukannya ketika tidak mempunyai jadwal pekerjaan.

*****

“Kau bisa menghubunginya, Kyu? Kurasa Junmyeon membutuhkan seseorang yang bisa dijadikan sandaran baginya. Kau tahu, dia adalah seorang leader dan semua member pasti akan tergantung padanya. Itu adalah beban yang besar.”

Kyuhyun mendesah –entah untuk keberapa-kalinya. Bahkan sang manager yang sedang menyetir sesekali meliriknya dengan jengkel karena suara desahan Kyuhyun yang terdengar benar-benar putus asa sekali.

“Aku ingin sekali, hyung. Hanya saja, ada bagian diriku yang mengatakan aku harus memberikan waktu untuknya mengatasi ini sendiri. Sebagai leader. Jungsoo hyung dan Yunho juga begitu, bukan?” ujar Kyuhyun.

“Tapi kali ini berbeda, Kyuhyun. Pihak Yifan sepertinya sudah merencanakan hal ini sejak lama sekali. Dan semuanya terjadi secara tiba-tiba. Aku yakin, member China-line yang lain juga sangat terkejut. Hubungi dia sekali saja, Kyu. Tanyakan kondisinya. Aku merasa kasihan sekali saat melihat dia berdiri sendiri di stage hari ini.”

Kyuhyun memijat keningnya. Ia juga melihat acara EmKa hari ini dan Junmyeon benar-benar berusaha untuk tetap terlihat kuat dan membiarkan hanya dirinya seorang yang berada diatas panggung –bertanggung jawab atas sepuluh member lainnya. “Siwon hyung, jangan membuatku lebih sulit lagi. Kumohon? Jika kau mengkhawatirkannya, kenapa tidak hyung saja yang menghubunginya?” tutur Kyuhyun.

“Well, aku bisa saja melakukannya. Tapi aku lebih memilih mencoba menghubungi Yifan saat ini. Karena kami berada di kota yang sama,” tukas Siwon.

Kyuhyun mengernyit dan sedikit melirik manager yang focus menyetir. “Kau bisa melakukannya?”

“Entahlah. Tapi aku pernah mencobanya ketika Han keluar. Kau tahu, dengan sedikit resiko.”

Kyuhyun menggigit bibir bawahnya. “Kalau begitu jangan lakukan. Aku akan mengirim pesan padanya. Itu lebih baik ketimbang aku harus mendengar suaranya. Aku yakin, aku pasti akan segera menangis jika mendengar suaranya.”

“Apapun yang menurutmu terbaik, Kyuhyun. Lalu bagaimana reaksi yang lainnya?”

“Aku tidak yakin. Tapi aku rasa semuanya akan berhati-hati untuk mengomentari masalah ini. Kecuali Heechul hyung, mungkin. Aku yakin masalah ini pasti akan dibahas di Ssul Zun dan Heechul hyung akan berbicara sesuai pendapatnya sendiri. Sudahlah, hyung. Jangan membahas ini sekarang, okay?” pinta Kyuhyun.

“Arraseo, maaf. Aku sulit sekali menghubungimu tapi ketika ada kesempatan untuk bicara kita malah membicarakan hal lain.”

Kyuhyun memejamkan matanya untuk sejenak. “Tidak apa, hyung. Pastikan saja kau pulang tepat waktu sesuai yang kau janjikan padaku kemarin.”

“Aku mengerti, sayang. Baiklah, nanti kita bicara lagi. Okay? Semangat latihan hari ini, ne?”

Kyuhyun tersenyum. “Terima kasih, Siwon hyung.”

*****

Chanyeol membuka pintu dorm dan tersenyum kecil saat melihat sosok gadis yang dikatakan Junmyeon akan datang. Gadis itu menghela nafas pendek dan menyodorkan dua kantung besar berisi beberapa kotak pizza pada Chanyeol.

“Jangan tersenyum ketika kau tidak bisa tersenyum, Park Chanyeol-sshi,” tukasnya.

Chanyeol mengambil dua kantung tersebut dan mempersilahkan si gadis untuk masuk. Chanyeol memastikan pintunya sudah tertutup dan menunggu gadis itu selesai melepaskan sepatunya.

“Kau sudah mengenal nama kami semua?” tanya Chanyeol.

Gadis itu mengangguk. “Dengan susah payah. Tapi rasanya pun sama saja ketika aku harus menghapal nama member Super Junior. Semuanya ada di dorm ini? Bahkan member M?”

Chanyeol mengangguk. “Sejak kembali dari Shanghai, Junmyeon hyung meminta semuanya berkumpul di satu dorm. Mungkin dia sudah menyadari hal ini akan terjadi sebelumnya, Jaeshin-sshi.”

“Kurasa tidak,” gumam Jaeshin.

Chanyeol lalu berjalan masuk diikuti Jaeshin dari belakang. Jaeshin memperhatikan situasi dorm yang sepertinya tidak terlalu “gloomy” yang seperti dibayangkannya. Beberapa member masih bercanda dan bermain game. Beberapa lainnya sibuk dengan dirinya sendiri. Tapi ia tidak melihat Junmyeon.

“Woah!! PIZZA!!” seru Sehun dan Zitao ketika Chanyeol meletakkan kotak-kotak pizza yang dibawa Jaeshin diatas meja. Kedua maknae tersebut langsung mengambil slice dan memakannya dengan lahap.

Jaeshin tersenyum seraya melepaskan jaketnya. Ia melihat Luhan yang tersenyum padanya. “Kenapa Luhan-sshi?”

Luhan menggeleng dan kemudian mengambil slice lainnya. Kini hampir semua member sibuk dengan pizza-nya masing-masing. Kyungsoo dan Jongdae bahkan sibuk mondar-mandir ke dapur untuk mengambil gelas dan botol minuman.

“Terima kasih,” tukas Baekhyun seraya menyodorkan satu slice pada Jaeshin.

Jaeshin mengambil slice pizza itu. “Bukan hal besar. Dimana Junmyeon?”

“Di kamarnya. Sedang mengurus beberapa hal dengan manager melalui telepon,” tukas Jongin dengan mulut penuhnya.

Jaeshin mengedarkan pandangannya ke beberapa pintu yang diduganya kamar-kamar para member. Tapi tetap saja dia tidak tahu dimana kamar Junmyeon. Ia menghabiskan slice pizzanya dengan cepat.

Kyungsoo kemudian menunjuk salah satu pintu. “Kamarnya disana,” ucapnya.

Jaeshin mengangguk dan bergegas menuju kamar yang dimaksud oleh Kyungsoo. Jaeshin mengetuk pintu dan menatap sepuluh member yang tengah menghabiskan tujuh kotak pizza yang dibawanya. Bahkan Jongdae berteriak pada tiga maknae yang sibuk melahap pizza agar menyisakan untuk Junmyeon. Jaeshin mengetuk pintu lagi karena tidak mendapat sahutan dari dalam kamar.

“Junmyeon, boleh aku masuk?”

Jaeshin menghela nafas ketika terdengar suara Junmyeon yang menyuruhnya masuk. Jaeshin membuka pintu dan memasuki ke kamar yang cukup besar tersebut karena ada empat member yang tinggal dikamar tersebut. Jaeshin menutup pintu dan memperhatikan Junmyeon yang duduk di tempat tidurnya dengan wajah lelahnya.

“Kau baik-baik saja, Jun?”

Junmyeon menatap Jaeshin dan mengangguk. “Kau benar-benar membawa pizza?”

“Tentu saja. Aku sudah bilang akan membawa pizza untuk kalian, bukan? Jongdae bahkan sedang berusaha menyisakan beberapa slice untukmu sebelum ketiga maknae itu menghabiskan semuanya,” tukas Jaeshin yang masih berdiri agak jauh dari posisi Junmyeon.

Jaeshin bisa melihat gurat kelelahan diwajah pucat Junmyeon. Bahkan rambut pirangnya membuat Junmyeon lebih pucat dari biasanya. Junmyeon menarik nafas dan tersenyum tipis. “Baguslah, karena aku lapar sekali.”

“Junmyeon-ah, kau yakin baik-baik saja? Karena…”

Junmyeon kemudian berdiri dan menatap Jaeshin dengan lekat. Senyuman Junmyeon tidak menghilang walaupun ekspresinya berkata sebaliknya. “Aku baik-baik saja, Jae. Kami akan baik-baik saja. Aku pernah melihat kondisi yang hampir sama sebelumnya dan mereka bisa bertahan hingga hari ini. Kami baru berusia dua tahun. Perjalanan kami masih sangat panjang dan kami tidak akan menyerah begitu saja.”

“Aku tahu kalian bisa melewatinya. Tapi Jun, maksudku…”

“Aku lapar, Jae. Bisa kita bicara nanti setelah aku makan malam?” sela Junmyeon seraya berjalan menuju pintu.

Namun, Jaeshin yang masih berdiri dekat pintu dengan mudah menghalangi jalan Junmyeon dan menatapnya dengan serius. Junmyeon menarik nafas panjang. “Choi Jaeshin…”

“Kim Junmyeon! Aku ingin bicara dengan Kim Junmyeon dan bukannya Suho. Jika kau sebagai Suho, aku sangat yakin kau bisa melewatinya. Kalian bersebelas bisa melewatinya. Tapi sekarang aku ingin bicara dengan Kim Junmyeon. Bolehkah?” tutur Jaeshin.

Junmyeon menatap Jaeshin dengan lekat. Namun ia tidak mengatakan apapun. Jaeshin menarik nafas panjang dan menyentuh lengan Junmyeon. Kemudian mengenggam tangannya. “Apa kau baik-baik saja, Jun? Yifan tidak menghubungimu? Menjelaskan mengenai apa yang terjadi?”

Junmyeon menggeleng. “Di-dia tidak bisa di-dihubungi, Jae. A-aku tidak tahu apa yang terjadi pa-pada kami selanjutnya. Yi-Yifan bahkan tidak meninggalkan sebuah surat. Atau pe-pesan suara. Di-dia pergi tanpa mengatakan apapun padaku.”

“Junmyeon-ah…”

“A-aku bahkan tidak tahu, apakah kami masih sepasang ke-kekasih atau bukan? Jaeshin-ah, bo-boleh aku minta tolong? Kumohon hubungi dia. Hu-hubungi Yifan dan tanyakan padanya mengenai masa depan kami. Ku-kumohon? Ya.”

Jaeshin menarik nafas lagi dan memeluk Junmyeon dengan erat. Ia membiarkan Junmyeon untuk bersandar pada bahunya. Tenggelam diantara kesedihan, keraguan, rasa tidak berdaya, serta kekecewaan yang besar terhadap kepergian Yifan. Junmyeon kini menangis dibahu Jaeshin dan memeluk gadis itu dengan erat.

“Ku-kumohon Ja-Jae… Hu-hubungi dia. Ta-tanyakan pa-padanya alasan di-dia pergi.”

*****

Jaeshin menyodorkan piring yang berisi beberapa slice pizza yang berhasil diamankan oleh Jongdae dan meletakkan segelas air di meja terdekat. Junmyeon bergumam terima-kasih dan mulai memakan pizza-nya. Jaeshin memilih duduk disamping Junmyeon dan memperhatikan pemuda itu yang sedang makan.

Setelah hampir sepuluh menit menangis, akhirnya Junmyeon menjadi lebih tenang. Jaeshin keluar untuk mengambilkan makanan dan mengawasi Junmyeon untuk sementara. Junmyeon menghabiskan makanannya dengan lahap walaupun masih menyisakan dua slice.

“Sudah kenyang?”

Junmyeon mengangguk. Jaeshin mengambil piring tersebut dan mengambil gelas berisi air diatas meja. Jaeshin kemudian berdiri untuk menaruh piring serta gelas itu di dapur, tapi Junmyeon menahan pergelangan tangannya.

“Nanti saja, Jae. Bisakah kau menemaniku sebentar? Kumohon?”

Jaeshin menghela nafas dan meletakkan piring dan gelas diatas meja nakas yang sama. Kemudian ia kembali duduk disamping Junmyeon. “Sudah merasa lebih baik?”

Junmyeon mengangguk. “Terima kasih.”

“Jangan sungkan. Aku adalah temanmu. Selain itu ada banyak orang yang menyayangimu, Jun” tutur Jaeshin.

“Yeah. Kyuhyun hyung bahkan masih sempat menanyakan kabarku disaat dia sibuk mempersiapkan musikalnya,” ujar Junmyeon.

“Dia menghubungimu?”

“Hanya sebuah pesan. Dia mengatakan ingin meneleponku, tapi tidak jadi. Dia mengatakan jika aku membutuhkan seseorang untuk bicara, aku bisa mengandalkannya atau dirimu.”

“Tch.. tipikal Cho Kyuhyun. Jadi, aku akan terlibat dalam kehidupan Kim Junmyeon juga?”

Junmyeon tertawa kecil. Masih terdengar canggung, namun jauh lebih baik. Junmyeon menatap Jaeshin. “Apa kau keberatan?”

“Well… Kau tahu, saat pertemuan pertamaku dengan Yifan, aku menyuruhnya untuk menjagamu dengan baik. Tapi sepertinya dia tidak bisa melakukannya, jadi kurasa aku yang harus melakukannya sendiri. Kau sudah seperti saudaraku sendiri, Jun. Apa kau keberatan?”

Junmyeon menggeleng. “Kalau aku menjadi saudaramu, maka kau harus bertemu dengan hyungku.”

“Kurasa itu bisa diatur. Tapi dia bukan tipikal kakak yang menyebalkan, bukan? Maksudku, aku sudah muak sekali dengan sikap sepupu-sepupuku –kau tahu siapa yang kumaksud, Jun.”

Junmyeon tertawa lagi. “Hyungku… cukup baik, kurasa. Sedikit menyebalkan, tapi itu adalah hal baik.”

“Okay.”

Kemudian suasananya berubah agak canggung. Jaeshin memperhatikan sekeliling kamar tersebut. Dia mungkin pernah hanya berdua saja dengan Siwon. Atau Kyuhyun. Atau dengan beberapa teman prianya. Tapi tidak dengan orang-orang yang baru dikenalnya selama beberapa bulan dan jarang bertemu. Junmyeon adalah salah satunya. Mereka mungkin pernah bertemu beberapa-kali, tapi tetap saja terkadang Jaeshin merasa canggung dengan Junmyeon. Hell, dia bahkan juga canggung dengan pria itu.

Junmyeon melirik Jaeshin yang sepertinya kikuk dengan situasi saat ini. Kemudian ia menggenggam tangan Jaeshin dan menyandarkan kepalanya di bahu Jaeshin. “Terima kasih, Jae.”

“Kau sudah mengatakannya, Jun.”

“Yeah, tapi aku rasanya satu kali rasa terima-kasih tidak akan cukup.”

Jaeshin menatap tangan Junmyeon yang menggenggam tangannya dengan erat. Sedikit aneh karena seberapa seringnya Jaeshin menggenggam tangan Kyuhyun atau pria siapapun, Jaeshin tidak akan merasakan sensasi ini. Kecuali dengan pria itu.

“Tapi aku tidak melakukan apapun kecuali membawakan tujuh kotak pizza berukuran besar.”

Junmyeon kembali tertawa. “Itu sudah lebih dari cukup, Jae.”

“Baiklah. Lain kali mungkin aku akan membawakan ayam.”

“Yeah, Jongin pasti senang sekali.”

Jaeshin tertawa kecil. Kemudian Junmyeon menegakkan tubuhnya dan melingkarkan tangannya melewati bahu Jaeshin. Junmyeon merangkulnya dengan erat. Jaeshin tersenyum. That’s stupid galaxy. Dia benar-benar telah melakukan kesalahan besar karena meninggalkanmu disaat seperti ini.

*****

Siwon memperhatikan Jaeshin yang sibuk dengan laptopnya sejak gadis itu datang ke apartmentnya. Ia pikir Jaeshin memilih apartmentnya untuk mengerjakan tugas akhirnya yang Jaeshin bilang segera selesai. Tapi karena penasaran Siwon akhirnya sedikit mengintip apa yang dikerjakan Jaeshin.

“Beijing? Apa yang sedang kau lakukan, Jae?” seru Siwon.

Jaeshin menatap Siwon dengan kesal. “Kau selalu mengatakan padaku kalau mengintip privasi orang itu tidak baik? Ini adalah privasiku, Choi Siwon. Jangan ikut campur jika kau tidak ingin terlibat masalah.”

Siwon menghela nafas dan beranjak menuju dapur untuk mengambil minum. Tapi perhatiannya masih tertuju pada sepupunya. Siwon sedikit merasa aneh dengan sikap Jaeshin akhir-akhir ini. Walaupun sepupunya itu suka sekali ikut campur, tapi jika berhadapan dengan orang-orang yang tidak begitu akrab dengannya Jaeshin tidak akan melakukan hal-hal gila seperti ini.

Siwon menuangkan jus kedalam sebuah gelas lalu menghabiskan dengan cepat. Ia mengembalikan kotak jus itu kedalam lemari pendingin dan kembali duduk disebelah Jaeshin. “Jae…”

“Jika kau ingin bertanya mengenai kenapa, apa, dan bagaimana aku melakukan hal ini sebaiknya simpan saja, Siwon. Aku tidak akan menjawabnya,” tukas Jaeshin dengan cepat.

Siwon mengerucutkan bibirnya. “Hey, beginikah sikapmu pada sepupumu yang sudah lama sekali tidak pulang, eoh? Kau tidak sayang lagi pada sepupumu ini?”

Jaeshin melirik Siwon. “Tidak ada hubungannya, Siwon. Katakan apa yang ingin kau tanyakan kecuali mengenai apa yang sedang kukerjakan sekarang.”

“Baiklah. Aku akan bertanya hal lain. Euhm…. Kau tahu, hadiah besar yang dipersiapkan oleh Kyuhyun untukku? Maksudku aku sudah dua hari pulang tapi dia belum memberikan hadiah besar yang dijanjikannya. Kau tahu mengenai hadiah itu?” tutur Siwon.

Jaeshin menarik nafas panjang. Kemudian ia menutup layar laptopnya dan menatap Siwon dengan lekat. “Kau tahu, itu adalah pertanyaan yang salah. Walaupun aku sedikit mengetahuinya, tapi Kyuhyun akan membunuhku jika aku memberitahumu sebelum dia yang melakukannya sendiri. Jadi, tunggu saja. Okay?”

“Tidak bisakah memberiku sedikit petunjuk? Hint?”

Jaeshin mengambil tas ranselnya dan memasukkan laptop tersebut. Ia lalu bangkit sembari memakai jaketnya. Kemudian ia menyampirkan tas ranselnya dengan menatap Siwon dengan serius. “Baiklah, akan kuberitahu. 1986, 1988, dan 2007. Aku pergi dulu, sepupu.”

Siwon terdiam dan ia baru menyadari bahwa sepupunya itu sudah pergi. Siwon menarik nafas panjang dengan dahi mengerut. “1986? 1988? 2007? Ada apa dengan ketiga tahun itu?”

*****

Kyuhyun melepaskan mantelnya dan duduk disebelah Siwon dengan ekspresi berpikir dengan keras. Sedikit aneh tapi Kyuhyun diberitahu oleh Jaeshin kalau gadis itu memberikan sedikit hint mengenai hadiah besarnya. Kyuhyun menarik nafas panjang. “Sudah memecahkan hint yang diberikan Jaeshin?”

Siwon mendesah dan menjatuhkan kepalanya dibahu Kyuhyun. “Aku hanya tahu itu adalah tahun kelahiranku, tahun kelahiranmu. 2007 mungkin adalah tahun dimana kau mendapatkan kecelakaan dan keajaiban. Dan aku tidak tahu dimana letak keterkaitan ketiga tahun itu. Ugh… Memikirkannya saja membuatku sakit kepala yang hebat.”

Kyuhyun tersenyum. “Dan dimana sepupu yang membuatmu sakit kepala?”

“Entahlah. Dia langsung pergi setelah mengatakannya. Mungkin melakukan sesuatu untuk Junmyeon,” sahut Siwon.

Kyuhyun mengernyit. “Jadi, dia benar-benar terlibat dalam kehidupan Junmyeon? Kupikir dia tidak akan mudah ikut campur. Kau tahu maksudku, hyung.”

Siwon memejamkan matanya. “Aku tidak tahu. Kau tahu, ini hampir sama ketika ia tertarik padamu dulu. Saat dia berubah menjadi fans-mu ketika ia mendengarmu menyanyi dan sejak hari itu dia “ikut campur” dalam setiap masalahmu atau masalahku. Hal yang hampir sama terjadi pada Junmyeon, tapi kurasa ada yang berbeda.”

“Kita akan membicarakan Junmyeon dan Jaeshin, bukannya hadiah besar yang kujanjikan?” Tanya Kyuhyun sedikit mengalihkan.

Siwon menegakkan tubuhnya dan menatap Kyuhyun dengan lekat. Ia mencium ujung bibir Kyuhyun dengan cepat. “Aku ingin hadiahnya. Tapi aku juga penasaran dengan sikap Jaeshin pada Junmyeon.”

Kyuhyun tertawa kecil. “Baiklah, kita lihat hadiahmu dulu. Baru kita diskusikan masalah sepupumu. Otthe?”

Siwon mengangguk dengan antusias. Kyuhyun lalu bangkit dan mengulurkan tangannya. “Shall we? And don’t think something pervert.”

Siwon menyeringai dan menyambut tangan Kyuhyun. Ia mencium sedikit bagian rahang Kyuhyun. “Sedikit gigitan tidak akan menyakiti, sayang.”

*****

Jaeshin mengetuk jemarinya dikemudi mobilnya. Sesekali pandangannya kearah pintu masuk stadium dimana EXO akan menggelar konsernya. Jaeshin mengusap wajahnya dan menyandarkan punggungnya. “Kenapa aku datang sekarang?” gumamnya.

Kemudian ia meraih ponselnya dan mencari nomor kontak Junmyeon. Ia memandangi layar ponselnya untuk beberapa detik. Jaeshin menarik nafas panjang dan memilih untuk memanjat keluar dari mobil. Setelah memastikan terkunci, Jaeshin berjalan menuju pintu masuk.

Namun, disaat yang sama member EXO dan beberapa staff SM keluar. Sepertinya rehearsalnya sudah selesai. Kyungsoo yang melihatnya pertama-kali sedikit terkejut. “Oh? Jaeshin-sshi, ada apa? Bagaimana kau tahu kalau kami…”

Jaeshin tersenyum tipis. “Aku bertanya pada Junmyeon tadi.”

Kyungsoo, Chanyeol dan Sehun saling menatap sebelum akhirnya Junmyeon muncul dengan wajah lelahnya. Junmyeon sedikit tersenyum pada Jaeshin. “Kupikir kita akan bertemu di dorm saja?”

“Inginnya begitu tapi… Bisakah kita bicara sekarang? Kita bicara di mobil saja. Aku akan mengantarkanmu pulang. Otthe?” Tanya Jaeshin.

Junmyeon menatap dongsaengnya sekilas. “Aku akan bertanya ke manager dulu. Kau tunggu di mobil saja, Jae.”

Jaeshin mengangguk dan kembali ke mobilnya. Sedangkan Junmyeon berbicara dengan beberapa manager. Well, Jaeshin bisa melihat tatapan manager EXO yang sepertinya tidak menyukai keberadaannya –bahkan dari dalam mobil. Tapi melihat Junmyeon yang berjalan ke mobilnya, sepertinya manager itu terpaksa memberi ijin. Mungkin karena Jaeshin adalah sepupu Siwon.

Junmyeon menutup pintu dengan keras dan menatap Jaeshin. “Okay, apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya sembari memasang seatbelt.

Jaeshin menarik nafas sebelum ia juga memasang seatbelt dan memacu mobilnya. Junmyeon menatapnya dengan bingung tapi ia membiarkan saja. Toh, Jaeshin pasti akan mengantarkannya pulang, tidak peduli apapun yang ingin dibicarakannya. Namun sepanjang perjalanan yang sunyi, Junmyeon tidak akan menyangka kalau Jaeshin malah membawanya ke taman dekat gedung dorm mereka.

Mereka masih berada di mobil dan Junmyeon masih menatap Jaeshin dengan lekat, sekaligus dengan rasa penasaran yang begitu besar.

“Jangan menatapku begitu, Jun” ucap Jaeshin yang kini terfokus pada ponselnya.

Junmyeon sedikit menunduk. “Maaf, Jaeshin. Tapi kenapa kau membawaku kesini? Bukannya kau ingin bicara?”

Jaeshin lalu menyodorkan ponselnya kearah Junmyeon. Pemuda itu menatap ponsel Jaeshin dan mengambilnya dengan ragu. “Bicaralah,” tutur Jaeshin.

Junmyeon kemudian mendekatkan ujung ponsel ke telinganya. Ia tidak tahu dengan siapa dia akan bicara, namun Junmyeon cukup penasaran. “Yo-yoboseyo…”

“Halo, Junmyeonie.”

Sontak seluruh system syaraf tubuh Junmyeon tidak berfungsi. Suara itu yang tidak pernah didengarnya selama seminggu terakhir, bahkan hanya dengan dua kata saja sudah membuat Junmyeon tidak bisa bereaksi. Junmyeon menatap Jaeshin.

“Bicara, Jun.” kemudian Jaeshin keluar dari mobil untuk membuat ruang bagi Junmyeon bicara dengan leluasa.

Junmyeon menarik nafas panjang. “Yi-Yifan..?”

“Ini aku, Jun. Ba-bagaimana keadaanmu? Dan juga member lainnya?”

Kerongkongan Junmyeon spontan terasa kering. Tapi Junmyeon berusaha untuk tetap tenang. “Ka-kami baik. Kurasa kami bisa bertahan.”

“Itu bagus. Maaf…”

“Sudah seharusnya, bukan? Kau pergi tanpa mengatakan apapun pada kami. Padaku. Kau hanya pergi begitu saja dan meninggalkan kami.”

“Maaf, Jun. Aku ingin sekali berpamitan, tapi aku tidak bisa melakukannya jika hanya akan menambah kesakitanmu. Kesakitan kalian.”

“Lalu kenapa kau pergi? Kau bisa bicara padaku dan kita mencari jalan keluarnya bersama-sama. Kau tidak perlu pergi, Yifan. Kau tidak harus pergi.”

“A-aku juga tidak ingin. Tapi aku harus, Jun. Mereka mungkin akan melakukan segala cara untuk…”

“Mereka siapa, Yifan? Orang-orang di SM? Orang yang membantumu pergi? Siapa yang kau maksud dengan Mereka?! Damn!! Kenapa aku harus bicara denganmu sekarang?! Ini bahkan…”

“Selamat ulang tahun, Junmyeon.”

Kemudian tanpa Junmyeon sadari, airmatanya sudah mengalir. Junmyeon bahkan tidak berusaha untuk menahan dirinya. Junmyeon menoleh pada sosok Jaeshin yang masih berada diluar mobil.

“Bagaimana Jaeshin bisa menghubungimu? SM bahkan tidak bisa menghubungimu selama seminggu ini. Aku bahkan tidak bisa menghubungimu!!”

“Kau tahu siapa Jaeshin, Jun. Kau berteman dengan Choi Jaeshin. Dia bisa melakukan apapun dengan bantuan nama keluarganya.”

Junmyeon lalu menyeka airmata dari wajahnya. Sorot matanya tidak lepas dari punggung Jaeshin. “Yeah, suatu keberuntungan bisa berteman dengannya. Ada lagi yang diingin kau katakan, Yifan?”

“Kupikir kau yang ingin mengatakan sesuatu padaku.”

Junmyeon mendesah. Ia menarik nafas lagi dan memejamkan matanya. Junmyeon tidak ingin mengatakannya saat ini karena dia masih belum yakin. Tapi Junmyeon tidak yakin kalau dia akan mendapatkan kesempatan seperti ini lagi.

“Kau akan tetap menjadi bagian keluarga kami, Yifan. Semoga sukses untukmu. Dan…”

Junmyeon tidak bisa mengatakan kalimat terakhirnya. Ia menghela nafas berat.

“Semoga kita bisa menjadi teman, Junmyeon? Bisakah?”

Dan kemudian Yifan yang malah mengatakannya. Junmyeon membuka matanya dan membuka pintu mobil. “Yeah. Kau masih teman kami, Yifan. Kau akan selalu menjadi teman Kanada pertamaku,” tuturnya sembari memanjat keluar dan berjalan menghampiri Jaeshin.

Junmyeon menatap gadis itu dengan lekat. “Selamat tinggal Yifan.”

“Selamat tinggal Junmyeon. Sekali lagi, selamat ulang tahun untukmu.”

Junmyeon lalu mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya. Jaeshin memasukkan ponselnya kedalam saku jaketnya dan menatap Junmyeon. “Kalian sudah selesai bicara? Otthe?”

“Semuanya sudah berakhir, Jae. Terima kasih… Ini adalah hadiah ulang tahun yang…”

“Wait? Kau menganggap usahaku untuk membuat kalian bicara adalah hadiah ulang tahun dariku? Kau pasti bercanda jika berpikiran seperti itu, Kim Junmyeon,” tukas Jaeshin sebelum Junmyeon bisa menyelesaikan ucapannya.

Junmyeon menatap Jaeshin dengan bingung. Sejak pertama-kali mengenal gadis itu setahun lalu hingga hari ini, Junmyeon tidak pernah bisa mengerti sifat Jaeshin yang sebenarnya. Kyuhyun selalu mengatakan kalau Jaeshin bertingkah seperti bunglon atau bahkan seperti serigala yang menyeramkan. Termasuk rubah yang licik. Tapi tetapi ada satu bagian dari sifat Jaeshin yang membuat gadis itu seperti anak anjing yang manis.

Junmyeon perlu bersabar untuk menghadapi Jaeshin.

“Jadi..?”

“Usahaku untuk membuat kalian bicara adalah karena kau memintaku untuk melakukannya seminggu lalu. Walaupun sebenarnya aku mengira kalau kalian akan bicara lebih lama. Tapi itu adalah urusan kalian. Maaf, jika waktunya tidak tepat karena kau tahu sulit sekali untuk menghubungi orang-orang yang terlibat kasus hukum dengan SM. Well, kau tahu kejadian lima tahun lalu, bukan?”

“Jaeshin…! Aku mengerti maksudmu mengenai telepon tadi. Tapi apa maksudmu dengan hadiah ulang tahun?!” seru Junmyeon.

Jaeshin terdiam. “Oh, right! Hadiahmu? Sudah kukirim ke dorm. So, kita pulang sekarang?”

*****

Siwon menatap tiga botol wine yang berada dihadapannya kini. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Kyuhyun bisa mendapatkan wine merk tersebut bahkan dengan tahun pembuatan tertentu. Siwon menatap Kyuhyun. “Wow! Romanée-Conti Grand Cru Domaine de la Romanée-Conti tahun 1986? Château Lafite Rothschild Red Bordeaux Blend Pauillac tahun 1988? Dan… Le Vieux Donjon Châteauneuf-du-Pape tahun 2005?”

Kyuhyun mengangkat bahunya. “Aku berusaha mencari wine yang dibuat tahun 2007, tapi sedikit sulit. Akhirnya aku mencari wine yang terbaik di tahun 2007.”

“Okay. Tapi 1986 dan 1988? Kyuhyun, wine ini bahkan cukup langka? Kalau pun ada pasti sangat mahal,” tutur Siwon.

Kyuhyun tersenyum. “Memang sedikit mahal. Well, baiklah memang sangat mahal. Dua wine itu memang menghabiskan lebih banyak dari yang kuduga. Tapi hasilnya sepadan bukan? Lagipula kau juga sering memberikan hadiah-hadiah mahal untukku, hyung.”

“Tapi Kyuhyun…”

Sontak Kyuhyun mengerucutkan bibirnya. “Jadi, kau tidak menyukai hadiah yang kuberikan?”

“Bu-bukan? Tapi ini sangat mahal, sayang. Aku menyukai apapun yang kau berikan, tapi setidaknya pikirkan dirimu juga. Kau bekerja keras tetapi kau malah menghabiskannya untuk membeli wine? Untuk hadiahku? Jaeshin bahkan tidak memberiku hadiah semahal ini.”

“Erm… Soal Jaeshin…”

Siwon mengernyit. “Waeyo? Apa yang dilakukan? Tunggu, kalian berdua yang membeli ini?”

“Praktisnya begitu. Jaeshin hanya menambahkan dari dana yang sudah kusiapkan. Aku sudah memintanya untuk mencari yang sedikit lebih murah, tetapi saat paketnya datang inilah yang dibelinya.”

“Hah, pantas saja! Dia hanya memberiku sebuah baju. Dia bilang karena aku pasti bisa membeli yang lebih pantas dengan uangku sendiri. Jadi, kalian merencanakan hal ini berdua? Oh, Ajhumma akan membunuhku jika mengetahui tagihan Jaeshin nanti.”

Kyuhyun menggigit bibirnya. “Sorry…”

Siwon menghela nafas pendek dan merengkuh tubuh Kyuhyun. Siwon memeluk Kyuhyun dengan erat. “Oh, sayang. Jangan meminta maaf. Aku akan menyimpan dua wine itu, okay. Mungkin suatu hari nanti kita bisa melelangnya atau kau bisa membukanya untuk event tertentu. Terima kasih untuk hadiahnya, ya?”

Kyuhyun mengangguk.

“Lalu jika kau memberikan wine ini untuk hadiahku. Bagaimana dengan hadiah Junmyeon? Besok… Eoh, tunggu! Ini sudah tanggal duapuluh dua. Kau membelikan sesuatu untuknya?” Tanya Siwon.

“Tentu saja sudah. Jaeshin sudah mengurusnya. Jadi, tenang saja. Lagipula Junmyeon pasti mendapat banyak hadiah dari para fans-nya. Kita juga pernah merasakan fase itu, bukan?” sahut Kyuhyun.

Siwon tersenyum. “Yeah. Fase yang menyenangkan. Tapi lebih menyenangkan jika seseorang yang sangat berharga bagimu berada bersamamu disaat hari bahagiamu, bukan?”

Kyuhyun hanya terdiam.

*****

“Seharusnya aku pergi sendirian saja,” tukas Jaeshin.

Siwon tertawa kecil. “Kenapa? Kita sudah hampir sampai, Jae. Lagipula tidak akan terjadi sesuatu yang buruk.”

Jaeshin menatap Siwon dengan jengkel. Ia benar-benar dibodohi oleh Siwon. Sepupunya memang sudah mengetahui rencananya untuk pergi ke konser EXO pada hari terakhir dan Siwon sebagai sepupu yang perhatian menawarkan diri untuk mengantarkannya. Hell, Jaeshin tentu saja tidak keberatan –jika Siwon hanya mengantarkannya sampai pintu gerbang utama stadium. Tapi yang benar-benar diluar dugaan adalah Siwon juga akan pergi menonton. Bersama Kyuhyun, Donghae, Zhoumi, Ryeowook dan BoA.

Hah, Jaeshin seharusnya bisa mengetahuinya. Tapi ia tetap saja tertipu dengan Siwon. Dan kini Jaeshin sedikit khawatir. Beberapa orang mungkin pernah melihatnya bersama Siwon atau member Super Junior lainnya disebuah kesempatan tertentu. Namun terlihat bersama menonton konser bukanlah sebuah pernyataan yang diinginkan gadis itu kalau Jaeshin adalah sepupu misterius Siwon.

“Tenanglah, Jaeshin. Lagipula mereka mungkin akan mengenalimu. Kau cukup sering pergi ke SM dan terlihat bersamaku atau Kyuhyun, bukan?” tutur Siwon seraya memutar kemudi ketika mereka memasuki area stadium.

“Well, mereka hanya berpikir kalau aku salah satu staff atau teman kalian saja. Jika aku pergi bersamamu seperti ini rasanya…”

Siwon mengernyit. “Kenapa? Apa kau tidak ingin identitasmu sebagai Choi yang misterius akan terungkap? Oh, ayolah Choi Jaeshin. Kau sudah cukup misterius bagi mereka selama empat tahun? Ini sudah waktunya.”

Jaeshin menghela nafas pendek. Well, menjadi sepupu Choi Siwon yang misterius memang sudah menjadi identitasnya selama beberapa tahun terakhir. Itu karena dia tidak ingin disorot media. Bahkan jika orangtua-nya diundang ke sebuah acara resmi, Jaeshin menolak dengan halus untuk ikut. Ayahnya mungkin mempunyai reputasi bagus diantara para relasi media lain tapi Jaeshin tidak terlalu menyukai sorotan seperti itu.

“Kau akan turun duluan. Sedangkan aku akan memarkirkan mobilmu. Kita bertemu didalam saja, okay. Suruh siapapun untuk menungguku di pintu tapi jangan mengatakan apapun. Kumohon, Siwon?” ujar Jaeshin.

Siwon melirik sepupunya. Ia mendesah panjang. “Baiklah, terserah dirimu. Kau akan berada di section mana? Karena kemungkinan kita akan sulit bertemu.”

“Section B. Setelah konser selesai aku akan langsung ke parkiran untuk mengambil mobilmu,” tukas Jaeshin.

“Kau tidak mau ke backstage? Kau tahu, bertemu dengan Junmyeon terlebih dahulu?”

Jaeshin menatap Siwon. “Fine. Kita bertemu di apartment-mu saja. Aku akan langsung pulang. Kunci mobilmu akan kutitip pada orang yang akan menungguku di depan pintu masuk nanti. Otthe?”

“Choi Jaeshin…”

Jaeshin mengalihkan perhatiannya. Mereka sudah sampai. “Turunlah. Biarkan petugas valet atau siapapun yang memarkirkan mobilnya.”

Siwon memandang Jaeshin dengan helaan nafas. Jaeshin bersikap keras kepala lagi. Kemudian Siwon memakai kacamata hitamnya. Ia melepaskan seatbelt dan mengambil ponselnya. “Kau yakin tidak ingin masuk bersamaku?”

Jaeshin menggeleng. Siwon lalu membuka pintu dan memanjat keluar. Jaeshin melirik sepupunya yang sedang berbicara pada seorang pria. Well, mungkin Siwon mengatakan bahwa didalam mobil masih ada dirinya. Tak lama Siwon bergegas masuk dan tak lupa sedikit menyapa beberapa fans. Pintu mobil kembali terbuka. Jaeshin menatap pria yang bersiap membawa mobil Siwon.

“Pastikan tidak ada orang yang melihatku nanti,” ucap Jaeshin.

“Baik, nona.”

*****

Siwon menutup pintu apartment-nya dengan helaan nafas panjang ketika ia melihat sepasang sepatu yang dikenalinya. Kemudian ia melepaskan sepatunya dan berjalan masuk. Siwon mendesah saat melihat sepupunya sedang sibuk menghabiskan choco pie sembari menonton tv.

“Kau benar-benar langsung pulang sendiri,” tukas Siwon.

Jaeshin melirik Siwon sekilas sembari melahap gigitan terakhir choco pie ke-tujuhnya. “Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, sepupu.”

Siwon menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. “Kau tahu, Jae? Junmyeon bertanya mengenaimu. Dia memberikan satu tiket masuk padamu, bukan? Bahkan sekaligus akses untuk ke backstage, tapi kau tidak pernah muncul untuk menemuinya,” tutur Siwon sembari menuangkan air pada sebuah gelas.

Jaeshin menarik nafas dan membuka bungkus ke-delapan choco pie. “Aku tidak berminat untuk ke backstage. Tapi aku sudah mengirim pesan kalau aku pergi ke konser.”

Siwon meneguk habis minumnya. “Tidak biasanya? Kau sering-kali meminta akses ke backstage saat konser kami. Bahkan kau juga meminta akses backstage saat konser SHINee. Tapi kenapa saat Junmyeon dengan senang hati mengusahakan akses itu kau malah menolaknya?”

Siwon lalu kembali ke ruang tengah dan duduk disebelah Jaeshin yang sibuk menghabiskan choco pie-nya tanpa terpengaruh dengan pertanyaannya. Siwon mendesis jengkel. “Choi Jaeshin, kau kenapa eoh? Terjadi sesuatu antara kau dan Junmyeon? Kalian bertengkar karena sesuatu? Atau kau marah padaku karena masalah tadi? Atau mungkin karena pria itu?”

“Pria itu?”

“Kyuhyun mengatakan padaku mengenai pria itu. Well, aku tidak ingin ikut campur jika ternyata masalahnya adalah pria itu. Tapi kau bersikap aneh, Jae” sahut Siwon.

Jaeshin mengambil remote dan mengganti channel televisi. “Apapun yang dikatakan Kyuhyun mengenai pria itu, jangan dipikirkan. Tidak pernah ada “pria itu”, Siwon. Aku hanya tidak ingin pergi ke backstage saja.”

Siwon kemudian merangkul bahu Jaeshin. Ia mengusap lembut lengan sepupunya. Rasanya memang terjadi sesuatu pada Jaeshin. Sepupunya tidak akan bersikap seperti ini –hell, bahkan Jaeshin sudah bersikap agak aneh sejak seminggu terakhir. Dan sebenarnya orangtua Jaeshin sudah menghubungi Siwon untuk bertanya mengenai kondisi putri mereka. Itu pun jika Siwon mengetahui sesuatu.

“Aku bisa mengira kalau ini adalah masalah perasaan. Kenapa? Kau ditolak oleh pria itu?” Tanya Siwon.

Jaeshin menghela nafas dan melirik Siwon. “Tidak pernah ada perasaan, Siwon.”

“Lalu mengenai ucapan Kyuhyun tentang kedekatan kalian berdua beberapa bulan ini? Apa hanya sebatas pertemanan?”

“Begitulah. Oh, come on. Kau tidak mungkin membuka sesi curhat, bukan? Choi Siwon, kita sudah lama sekali tidak bisa bicara mengenai hal seperti ini. Kau tahu, ini canggung sekali.”

Siwon tertawa kecil. “Ah, waeyo~? Kita mungkin sudah lama tidak bicara seperti ini, tapi bukan berarti kita tidak bisa membicarakannya lagi, bukan? Atau kau merasakan sesuatu yang sama. Kau tahu pada siapa yang kumaksud.”

Jaeshin mengernyit. “Siapa?”

“Haruskah aku menyebutkan namanya? Well, kau tahu.. Putra kami?”

Jaeshin menatap Siwon dan memberikan ekspresi jengkel. “Tidak, tentu saja tidak.”

“Benarkah? Karena sepertinya kau lebih perhatian padanya ketimbang aku dan Kyuhyun akhir-akhir ini. Kau tahu, jika Choi Jaeshin sudah melibatkan diri pada masalah seseorang maka ada sesuatu yang membuat gadis itu tertarik. Sama seperti kau tertarik pada Kyuhyun.”

“Mwo?! A-aku?! Tertarik pada Kyuhyun?”

Siwon mengangguk sembari mengeratkan rangkulannya. “Jangan mencoba berbohong, sepupuku sayang. Aku tahu bagaimana sikapmu pada idol. Sikapmu hanya berubah ketika kau mendengar Kyuhyun bernyanyi dan sejak itu kau tidak pernah melihat idol lainnya. Namun ketika kau mengenal Junmyeon, entahlah tapi kau menunjukkan reaksi yang hampir sama. Kau menyukai Junmyeon?”

“Huh? Me-menyukainya? Aku hanya menganggapnya seperti kakak yang tidak pernah kumiliki. Kami berdua sebaya dan saat berbicara dengannya aku merasa nyaman. Seperti…”

“Seperti adik pada kakaknya?”

“Ya. Seperti adik dan kakak. Lagipula dia baru saja mendapatkan masalah yang cukup rumit. Sebagai temannya, aku hanya berusaha membantunya. Tidak lebih.”

Siwon mencium pipi Jaeshin. “Teruslah mencari alasan, Choi Jaeshin. Lalu apa alasanmu jika aku mengatakan bahwa dulu kau sempat menaruh hati pada Kyuhyun. Tapi ketika kau mengetahui mengenai perasaanku padanya, kau malah berbalik membantuku. Apa alasanmu untuk menyangkalnya, eoh?”

“A-aku ti-tidak pernah me-menyukai Kyuhyun.”

“Kau berbicara gagap, Choi Jaeshin. Kau sedang berbohong, sepupu sayang.”

Jaeshin menatap Siwon dengan kesal. Kemudian ia berusaha untuk melepaskan rangkulan Siwon. Tapi sepupu lelakinya itu memeluknya dengan sangat erat. Siwon bahkan mulai tertawa melihat penderitaan Jaeshin untuk melepaskan diri.

“Yak! Choi Siwon, lepaskan aku!! Aku mau tidur!!” seru Jaeshin denga marah.

Siwon menghiraukan Jaeshin. “Hey Jaeshin-ah, kuberitahu satu hal padamu. Dengarkan aku baik-baik.”

“Apa?”

“Jika kau memang menyukai Junmyeon, maka katakan saja padanya. Tapi sebelum mengatakannya, kau perlu memastikan perasaanmu padanya. Tanyakan pada dirimu sendiri seberapa besar kau menyukainya. Aku mengatakan ini karena aku tidak menginginkan sepupuku tersayang ini malah patah hati untuk ketiga-kalinya.”

Jaeshin mendesis dan berhasil melepaskan rangkulan Siwon. “Aku tidak patah hati!!” dan kemudian Jaeshin masuk kedalam kamar yang biasa ia tempati jika menginap. Meninggalkan Siwon yang malah tertawa senang.

*****

NOTE: Well, butuh sepuluh hari untuk bikin satu fanfic ini. Beberapa jam setelah Scarface part 5 dipublish, ternyata berita Kevin malah menyeruak dan bener-bener bikin shock. Hari itu mood bener-bener rusak dan gak tahu mesti ngapain. Tapi dua hari berikutnya udah mulai tenang dan menerima apapun yang terjadi sebenarnya. Nerima kalo gak bakal ada lagi moment KrisHo di EXO.

Mungkin bagi yang gak suka sama EXO karena beberapa alasan akan memberikan pendapat sedikit negatif (aku tahu koq ada ELF atau fans dari group lain yang gak suka sama kelakuan fans EXO, akhirnya malah ikut sebel sama EXO-nya). Kalian yang gak suka atau gak mengenal EXO pasti atau mungkin berpikir toh SJ dan TVXQ juga pernah ngalamin kejadian yang sama dan mereka masih baik-baik saja sampe hari ini, masa EXO gak bisa tahan sama ujian gini.

Aku gak bakal ngomong banyak mengenai hal itu karena toh pasti kalian (yang gak terlalu suka) juga gak bakal ambil pusing sama tulisan note aku. atau bahkan mungkin ada yang bakal langsung berenti baca fanfic ini setelah liat ada EXO-nya. Tapi inilah cara aku ngeluarin rasa frustasi.

Aku gak pernah memaksa kalian untuk membaca atau memberikan komentar (entah itu baik atau buruk) untuk setiap fanfic aku. Karena dengan nulis fanfic, aku bisa nyalurin apa yang aku rasain sekarang. Fanfic bukan hanya jadi alat pemuas imajinasi absurd aku tentang WonKyu, KrisHo atau siapapun, tapi juga jadi alat penyalur emosi ketika aku seneng, sedih, frustasi, stress, sampe dalam keadaan “idiot”.

Kalian bebas membaca, berkomentar dan aku gak akan membatasi. Tapi aku juga gak akan membatasi diri aku untuk “menyukai” apa yang aku “sukai”. Aku adalah orang yang selalu diam dan membiarkan orang lain menikmati “kesenangannya” sendiri, walaupun aku sangat tidak menyukai “kesenangannya” itu. Karena aku respect pada orang itu dan mengharapkan orang itu “bisa” respect terhadap diriku.

Setelah ini, aku akan benar-benar hiatus mungkin untuk sampai bulan Agustus. Dan saat “comeback”, aku akan buat beberapa perubahan untuk blog ini. Terima Kasih.

Regards,

Febiyanti Mega

Advertisements

16 thoughts on “[SF] You, You, You

  1. Ehmmm…. cukup sedih pas baca nich ff. But I like it….. makin suka sama karakternya choi jaeshin. And karakternya wonkyu tentunya . And g’ nyangka si jaeshin pernah suka sama kyuhyun oppa…. so fighting chingu……

  2. Dear Mega, thanks untuk update cerita nya. Selalu suka & makin suka sama karakter nya Choi Jaeshin & interaksi nya dengan wonkyu. Please..please hiatus nya jangan lama-lama coz i’m gonna miss your stories. well, sukses yach dengan apapun yang kamu kerjain sekarang. Thanks 🙂

  3. Apa yg di alami exo hampir sama dg yg di alami suju ma tvxq,kaget jga sih pas liat TL pada ngomongin kris kirain cuma hoax eh ternyata emg kejadian
    beneran jaeshin pernah naksir kiyu berarti dia skrg naksir ma suho dong

  4. beneran hiatus kak? yaaaaah, mesti nunggu lama lg donk baca lanjutan the president? Tapi gpp, ditunggu comeback nya eonni^^

  5. Jadi, Jaeshin memang merasakan sesuatu yg berbeda ya ke Junmyeon? Woah. Bertepatan dg KrisHo yg putus, sepertinya Jaeshin punya kesempatan :’)
    Kak, kita berfikiran yg sama. Waktu tau Kris keluar, awalnya aku nanggapinnya gini ‘Ck, Kris akhirnya melayangkan gugatan juga.’ terus temenki ngelihat aku dg tatapan kosong dan bilang ‘Son, KrisHo son. KrisHo moment gak ada lagi soooon!!!!’
    Barulah kemudian aku menyadarinya. Dan berakhir dg kami yg buru-buru search KrisHo moment dlm.bentuk video sampe ke fanfic! Hikshaha :’D
    WonKyu moment-nya ketutup sama kisah Junmyeon dan Jaeshin u.u
    Di tunggu ff yg lain. Menunggu comeback-nya kk 😉

  6. aah ~ padahal aku bru move on soal masalah WYF,eeh disuguhi sma FF ini jdi nya sedih lg T.T
    jujur aja dri awal pas tau brita ini sedih plus kecewa sma Yifan,dan brharap ini cma brita iseng2 aja .
    tpi trnyta beneran -_-
    kkk ~ Jaeshin suka sma Joonmyeon?*uhukks
    huhu nnti udh ga ada moment krisho lg daahh..nd bakal kangen sma Naga china itu :3

  7. Entah lah, aq berasa ff ini seperti kenyataan…wonkyu mulai bisa saling memahami, malah mulai gaje, suka skap kyu menyikapi kondisi krisho..choi jaeshin sepertinya suka sm suho..tp kasian juga suho ditinggalin sm yifan..
    Aq terus terang ga suka exo, hanya suka suho krn suho srering jadi anaknya wonkyu. Dan kris sering jadi menantunya alias pasangan suho…
    Aq ga suka exo ditambah dg fans labil mereka yg bikin sakit hati baca komentarnya. Exo itu jadi jelek krn fans labil mereka. Padahal mereka blon tentu jelek..

  8. Ahhhhh aku cuma bisa doain supaya exo tetap semangat dan ceria seperti biasa ….^_^
    aku suka bgt moment wonkyunya pokoknya is the best deh buat eonni….^_^

  9. Kayaknya SM bener2 gag pernah belajar dari kasus2 sebelumnya,, sangat di sayangkan,, tapi ambil disini positive nya,, mungkin itu yg terbaik utk kris,, liat jyj dan hangeng yg menjadi orang2 sukses setelah terlepas dari SM,,

    Dan krisho beneran berakhir nih,,!! Serius,,! Gitu doang putusnya,,!! Huh so bad,, padahal Jujur aku mulai menyukai ni couple,,

    Aku pikir siwon yg bakalan ngasih wine ke kyu,, kan siwon pulang kemarin bawa wine tu,, eh disini malah kyu yg ngasih wine,, hhh
    Gag kaget klo ternyata jae ada perasaan dg kyu dulu,, sgt terlihat menurutku,, dan sekarang dia menyukai suho,,!!

  10. Choi Jaeshin..sprtinya..dialah pemeran utama disini.kkkk.
    Seseorang yg bgtu misterius untuk bbrpa orang.Sifat2 yg bgtu mngejutkan.
    Trmkasih sdh hadir diantara WonKyu dan KrisHo.Smga mslh apapun skrng yg sdng dihadapi..smg bs kelar dngn baik.

    Jeongmal gumawo Eonni …#bow

  11. SF ini panjang..
    jd kris beneran keluar¿ dy gk Kan muncul di ff ini lg dong???
    oy, awal nya SF tuch gimana sie? kisah mula percintaannya wonkyu? aku gk tw..

  12. kalo krisho putus, ini bukan shounen-ai lagi dong.?????
    huweeee T.T padahal udah seneng setelah ngubek”(?) google ketemu ff krisho yang belum pernah kubaca T.T jadilah author yang kuat T.T iya sih moment krisho berkurang,,,, nggak akan ada lagi malah. tapi krisho shipp (mungkin) mggak akan hilang. sekalipun hilang, seenggaknya masih ada satu dua T.T huweee kuharap author-nim masih mau bikin krisho T.T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s