[SF] Scarface Part 5

scarface2

5

Siwon menghela nafas. Rasanya ia ingin sekali keluar dari ruangan tersebut dan kembali ke apartmentnya sendiri atau kemana pun asalkan dia tidak perlu berada di pertemuan perjodohan ini lagi. Well, Eommanya kembali membuat pertemuan perjodohan dengan salah satu putri relasi Choi Group. Jika biasanya Siwon akan datang namun tidak berbicara apapun sehingga membuat calon istrinya tersebut yang menyerah sendiri, kali ini Siwon yang terkena sial. Eommanya menemaninya sepanjang pertemuan. Mungkin hanya sekedar makan malam, tapi Siwon benar-benar tersiksa.

Siwon beberapa kali mengecek ponselnya –mengirim pesan singkat yang tidak penting pada Changmin. Walaupun ia tidak pernah mendapatkan balasan apapun dari Changmin, Siwon tetap mengirim pesan-pesan tersebut dan berpura kalau ia sedang sibuk.

“Siwon juga bisa bermain piano, hanya saja dia tidak pernah melakukannya sejak masuk ke perusahaan. Benar, Siwon?”

Siwon sontak menatap pada Eommanya ketika namanya disebut. “Huh?” tanyanya bingung.

Eommanya tersenyum. “Kau bisa bermain piano, bukan?” tukas Eommanya sembari memberi isyarat bahwa ia harus lebih fokus dan ikut terlibat dalam percakapan.

Siwon melirik pada seorang gadis muda yang duduk dihadapannya. “Oh. Sedikit,” ucapnya datar. Tapi sang Eomma tidak puas dengan jawaban putranya, dengan sengaja menginjak kaki Siwon.

Siwon meringis pelan. Ia menatap ibunya dengan tatapan protes, tapi sang ibu malah kembali sibuk berbincang dengan calon istrinya –well, yang kemungkinan besar akan gagal lagi. Siwon bisa menjaminnya hingga tujuhpuluh persen.

*****

“Eomma benar-benar tidak mengerti dengan sikapmu, Siwon. Kami hanya menginginkan kau menikah dan bukannya pergi berperang. Kenapa kau selalu menggagalkan semua pertemuan perjodohan ini, Siwon?” Sekali lagi, Siwon harus mendengarkan keluhan ibunya sepanjang perjalanan pulang.

Ini sebenarnya adalah pertemuan keduabelas dengan sepuluh gadis yang berbeda. Dua gadis pernah bertahan hingga pertemuan antarkeluarga tapi tetap saja gagal karena Siwon yang malah tidak pernah muncul. Dan walaupun sebenarnya Siwon sudah menunjukkan ketidaktertarikannya pada pernikahan –well, untuk saat ini–tapi keluarganya masih saja membuat pertemuan-pertemuan dengan gadis-gadis yang dianggap cocok. Mereka beranggapan kalau Siwon sudah cukup matang untuk pernikahan. Tapi karena pria itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya, mereka menjadi sedikit khawatir.

Siwon menghela nafas dan terus menyetir dengan tenang walaupun ibunya masih saja terus mengeluh mengenai sikapnya yang bersikap acuh pada semua gadis. Well, ibunya mungkin nanti lelah karena bicara dan berakhir membiarkan putra tertuanya untuk melakukan apapun keinginannya. Dulu selalu berhasil.

“Apa yang dikatakan Changmin adalah benar? Kau adalah gay, Siwon?”

Mata Siwon hampir keluar ketika pertanyaan itu meluncur dan ia cukup beruntung karena tidak melakukan rem mendadak yang bisa saja berakhir dengan panggilan ambulance. Siwon menatap Eommnya.

“Eomma!!” seru Siwon tidak terima.

“Lalu kenapa kau selalu saja menolak gadis-gadis itu, eoh? Jika kau bukan gay, seharusnya kau merasakan ketertarikan pada salah satu dari mereka, Siwon,” ucap Eomma.

Siwon menarik nafas. “Tapi aku tidak merasakan apapun saat melihat mereka, Eomma. Dan jangan menyalah-artikan bahwa aku adalah gay! Aku benar-benar akan membunuh Changmin setelah dia menyelesaikan masalah sengketa tanah itu,” sahutnya.

Sang Eomma menghela nafas. “Pamanmu mungkin tidak akan keberatan jika kau membunuh sepupumu, tapi kau harus mengambil-alih posisi Changmin saat proses merger Shim dan Choi selesai nanti.”

Siwon mendecih. “Geez, baiklah mungkin hanya sampai membuatnya masuk rumah sakit saja.”

“Siwon, kami bisa mengerti jika kau tidak mau menikah dalam waktu dekat ini. Tapi usiamu sudah kepala tiga sekarang. Kami hanya ingin melihatmu mempunyai kesibukan lain selain di kantor. Pergi dengan teman-temanmu, pergi berkencan. Seperti pria muda lainnya. Kau mungkin memiliki tanggung-jawab besar sebagai satu-satunya pria Choi saat ini, tapi bukan berarti kau harus menanggungnya sekarang. Appamu masih ada di kantor. Begitu pula dengan paman-pamanmu yang lain,” tutur Eomma.

Siwon terdiam mendengarkan ucapan sang ibu. Walaupun hal itu benar, Siwon masih mempunyai waktu sebelum ia benar-benar mendapatkan tanggung-jawab besar Choi Group, tapi ia tidak bisa hanya menikmati kesuksesan Choi Group tanpa merasakan kerja keras yang pernah dilakukan kakek, ayah dan paman-pamannya untuk membuat Choi Group sebesar sekarang.

Eommanya menatap Siwon dengan lekat. “Bahkan jika kau benar-benar tertarik dengan pria, Eomma rasa keluarga yang lain tidak akan keberatan.”

“Eomma!!!”

*****

Joonmyeon menatap teman Kevin yang baru saja datang. Namun ia merasa sedikit canggung karena teman Kevin itu terus saja memandanginya yang sedang melahap ramyeon. Joonmyeon meneguk segelas air untuk sedikit menghilangkan rasa gugup. “Apa kau mau?” tanyanya.

Luhan –teman Kevin yang dimaksud– hanya menggeleng. Kemudian ia berjalan mendekati meja counter dapur dan memperhatikan Joonmyeon dengan lekat. “Rasanya ini pertama-kalinya aku melihatmu dari sedekat ini,” tukasnya.

Joonmyeon mengernyit. “Huh?”

Luhan tersenyum. “Kevin benar-benar beruntung.”

“Beruntung?” Joonmyeon benar-benar tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Luhan.

Luhan mengangguk. “Dia beruntung karena bisa tinggal satu atap denganmu. Bersaudara denganmu, Kim Joonmyeon.”

“Eoh?”

Namun, sebelum percakapan mereka berlanjut, Kevin datang dengan membawakan buku seni yang ingin dipinjam Luhan. Setelah orangtua mereka menikah, Kevin tinggal di rumah Kim sementara ibunya harus kembali ke Kanada –ditemani dengan ayah barunya– untuk mengurus beberapa barang sekaligus bulan madu.

“Thanks, Kevin,” tukas Luhan saat menerima buku itu. Kevin hanya menggumam sembari berjalan menuju lemari pendingin dan mengeluarkan botol jus dan menuangkannya hingga setengah penuh pada sebuah gelas.

Kevin menutup kembali pintu lemari pendingin setelah mengembalikan botol jus tersebut. “Ada lagi yang kau butuhkan, Luhan?” tanyanya lalu meminum jus tersebut. Kevin tidak berniat untuk menawarkan minuman pada Luhan.

Luhan mendecih. “Hey, beginikah kau bersikap pada sahabatmu?”

Joonmyeon memperhatikan keduanya dengan lekat. Ia bahkan tidak ingin memakan sisa ramyeon yang masih banyak di mangkuknya. Kevin meletakkan gelas itu di dekat Joonmyeon dan menatap Luhan dengan serius. “Sudah hampir jam malam, Lu. Kau tidak mau tidur diluar gedung dorm, bukan?”

“Well, aku bisa menginap disini, bukan?” sahut Luhan kemudian menatap Joonmyeon. “Bolehkan aku menginap disini, Joonmyeon?”

“Eh?”

Kevin mengambil tindakan. Ia mendorong tubuh Luhan kearah pintu keluar. “Ucapkan selamat malam padanya, Joon,” tukas Kevin.

Tapi belum sempat Joonmyeon bicara, Kevin sudah mendorong Luhan keluar. Joonmyeon tersenyum tipis dan menatap mangkuknya. Well, ia benar-benar tidak ingin makan lagi. Sedangkan diluar rumah Luhan menatap jengkel pada Kevin.

“Hey, kau tidak mau diganggu, ya?”

Kevin memutar bola matanya. “Apa maksudmu, Lu? Ini sudah hampir jam malam, pintu gerbang gedung dorm akan segera dikunci. Kau harus kembali. Kita bertemu minggu depan di sekolah, okay.”

“Jangan mengalihkan perhatian, Kevin Wu. Aku tahu persis kalau kau ingin menikmati waktu berdua dengan Joonmyeon sementara orangtua kalian pergi,” sahut Luhan.

Kevin mengambil buku dari tangan Luhan dan memukul kepala sahabatnya dengan buku itu. “Jauhkan pikiran kotormu itu, Xi Luhan. Saat ini kami adalah saudara. Jangan berpikir yang macam-macam,” ucapnya.

Luhan mendengus sembari mengambil buku itu dan gantian memukul kepala Kevin. “Hanya saudara tiri, bodoh. Kalian tidak mempunyai ikatan darah apapun. Bahkan jika kau mengaku pada ibumu dan…..”

“Itu tidak akan pernah terjadi, Lu. Joonmyeon tidak pernah menganggap perasaanku padanya nyata. Sudah sana pergi. Selamat malam,” kemudian Kevin menutup pintu.

Luhan sendiri hanya mendengus kesal pada sikap Kevin. “Apa dia akan menyerah sebelum bertindak?”

*****

Kevin kembali ke dapur dan mendapati Joonmyeon sedang membuat teh untuknya. Joonmyeon sedikit meliriknya dan kembali fokus pada mug tehnya. “Temanmu sudah pulang?”

Kevin menggumam sembari duduk di meja counter. Ia melihat ramyeon yang tersisa dan menarik mangkuk itu kemudian memakannya. Joonmyeon kembali duduk di meja counter dengan membawa mug tehnya. “Hey, itu sudah dingin. Kau bisa membuat lagi.”

“Tidak baik membuang makanan. Lagipula ini masih enak,” sahut Kevin yang menghabiskan ramyeon itu dengan cepat.

Joonmyeon memperhatikannya dengan lekat. Sepertinya Kevin kelaparan sekali. walaupun dua jam yang lalu mereka sudah makan malam, tapi lima jam sebelumnya Kevin lebih banyak menghabiskan waktu untuk melukis. “Apa kau kelaparan? Ingin makan sesuatu yang lain?”

Kevin menggeleng. Ia meraih gelas jusnya dan meneguknya hingga habis. “Ini saja sudah cukup,” ucapnya yang membawa gelas serta mangkuk kotor ke wastafel dan mencucinya bersama dengan panci untuk memasak ramyeon.

“Biar aku yang mencucinya, Kevin.”

Tapi Kevin mengabaikan Joonmyeon. Walaupun bukan keinginannya, tapi Kevin hanya bisa bersikap seperti ini jika didekat Joonmyeon. Setelah peristiwa di Lotte World, awalnya Joonmyeon yang sedikit mengabaikan Kevin. Tapi kemudian Kevin yang lebih sering menjauhi Joonmyeon karena jujur saja Kevin mungkin tidak akan bisa menahan dirinya sendiri jika terlalu lama berdekatan dengan Joonmyeon.

Joonmyeon menarik nafas dan mendekati Kevin. Ia mengambil sarung tangan karet lainnya dan membantu Kevin untuk membilas mangkuk. Kevin melirik pada Joonmyeon dan saudara barunya itu membalas tatapan.

“Kenapa? Apa aku tidak boleh membilasnya?” tanya Joonmyeon.

Kevin tidak mengatakan apapun. Ia hanya melanjutkan kegiatannya dan membiarkan Joonmyeon berdiri didekatnya –yang sebenarnya sangat dinikmati oleh Kevin. Ia menyukai aroma vanila manis yang menguar dari tubuh Joonmyeon. Well, terkadang Kevin bisa mencium aroma melon yang membuatnya penasaran apakah Joonmyeon suka sekali memakai sabun beraroma buah?

Kevin dan Joonmyeon melepaskan sarung tangan karet setelah semua peralatan makan dibersihkan. Mereka tidak saling bicara selama lima menit dan hal itu membuat Kevin frustasi. Ia mungkin tidak menyukai Joonmyeon sebagai saudaranya, tapi ia juga tidak bisa terus menerus bersikap seperti ini setiap berada didekat Joonmyeon –dan mengabaikannya. Kevin bisa meledak kapan saja.

Ketika Joonmyeon hendak meninggalkan dapur, disaat yang sama Kevin tidak sengaja menghalangi jalan Joonmyeon. Selain itu lengan mereka saling bersentuhan –membuat Kevin semakin gila. Keduanya kini saling menatap dan Kevin sekali lagi jatuh kedalam pesona Kim Joonmyeon. Entah bagaimana kedua bola mata itu menyihirnya begitu hebat. Kevin seakan bisa melupakan semua hal yang terjadi di sekitarnya –termasuk status mereka saat ini. Bahkan Kevin tidak tahu bagaimana wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Joonmyeon.

Kevin menyadari kesalahannya, tapi bisakah ia berharap sedikit? Joonmyeon tidak bergerak dari posisinya. Bahkan sorot matanya juga tidak melepaskan dari wajah Kevin. Joonmyeon juga tidak tahu mengapa dia tidak menghindari Kevin. Bahkan ketika jarak bibir mereka semakin habis.

Namun, suara ponsel Joonmyeon menyadarkan keduanya. Joonmyeon sontak mengambil satu langkah mundur sedangkan Kevin menegakkan tubuhnya kembali. Mereka saling menatap untuk beberapa detik, sebelum akhirnya Kevin memilih kembali ke kamarnya.

Joonmyeon menarik nafas dan mengambil ponselnya di meja counter. “Ya, Mom?”

Langkah kaki Kevin terhenti ketika Joonmyeon berbicara. Sara memang meminta Joonmyeon untuk memanggilnya dengan sebutan Mom –sama seperti Kevin–dan Junhyeok meminta Kevin untuk memanggilnya Appa.

“Ke-Kevin? Di-dia sudah naik ke lantai dua, mungkin sudah ingin tidur. Selama siang ini, Kevin terus melukis karena…”

Kevin memutuskan untuk tidak mendengarkan percakapan Joonmyeon dengan Momnya dan memilih untuk menyelesaikan lukisan barunya sebelum semester baru dimulai.

*****

Kyuhyun sangat tidak menyukai kunjungannya ke salah satu pabrik Choi Group yang saat ini menjadi sengketa di Incheon. Ini memang pekerjaannya tapi ia bahkan belum menyiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan namun Changmin sudah menghubunginya untuk negoisasi dengan pihak ahli waris Kim Hyunseok. Kyuhyun menghela nafas panjang dan memanjat keluar dari mobilnya.

Kyuhyun tidak melihat Changmin atau siapapun yang mungkin harus menyambut kedatangannya. Kyuhyun memeriksa jam dipergelangan tangannya. Sudah hampir pukul sembilan. Kemudian ponselnya bergetar dan Kyuhyun segera memeriksa pesan yang masuk.

From: Shim Changmin

Apa kau sudah sampai? Aku akan sampai sekitar sepuluh menit lagi. Jika kau tidak melihat siapapun, maukah kau menunggu di parkiran?

Kyuhyun mendesis jengkel. Baru kali ini dia harus menunggu kliennya. Biasanya ia yang membuat kliennya menunggu karena kesibukannya. Tapi membuat Kyuhyun bingung adalah kenapa ia harus datang lebih awal?

To: Shim Changmin

Aku baru sampai. Baiklah, aku akan menunggumu.

Toh, sekali ia menunggu tidak apa-apa, bukan? Kyuhyun kembali masuk kedalam mobilnya untuk menunggu Changmin. Dan selama ia menunggu, Kyuhyun memeriksa sekeliling pabrik besar tersebut. Sepertinya prospek lahan tersebut sangat bagus. Sebenarnya jika tidak dikelola dengan baik, lahan itu mungkin tidak akan menghasilkan apapun. Tapi Choi Group memang sangat pandai melihat peluang. Well, berbicara mengenai Choi Group, Kyuhyun menjadi teringat dengan orang yang menolongnya di resort.

Choi Siwon.

Hah, bahkan jika ia tidak bertemu dengan Changmin, mungkin saja Kyuhyun tidak akan pernah ingat dengan pria itu. Sebenarnya Kyuhyun juga tidak mengharapkan akan ingat atau bertemu lagi dengan pria Choi itu. Pertemuan pertama mereka tidak berjalan baik. Dan pertemuan kedua rasanya sangat memalukan.

Kyuhyun kini jadi memikirkan bagaimana pertemuan ketiga mereka –jika mereka ditakdirkan untuk bertemu lagi. Ia hanya berharap kalau hari ini kalau dia tidak akan bertemu dengan Choi Siwon. Walaupun kemarin Changmin sudah memberitahu bahwa akan ada seorang lagi dari Choi Group yang akan menghadiri negoisasi ulang tersebut.

Kyuhyun memejamkan matanya dan menarik nafas panjang. “Ya Tuhan, sedikit berbaiklah padaku hari ini,” gumamnya.

Lalu tak lama sebuah mobil mewah terparkir tepat disamping mobil Kyuhyun. Kyuhyun membuka matanya dan memperhatikan orang yang berada di dalam mobil tersebut. Well, jelas ada dua orang dan salah satunya adalah Shim Changmin. Kyuhyun menarik nafas panjang untuk kesekian kalinya. Ia mengambil tasnya dan memanjat keluar lagi.

“Halo Kyuhyun-sshi, maaf membuatmu menunggu,” seru Changmin.

Kyuhyun hanya tersenyum sembari menutup pintu mobilnya. Namun ia menunggu siapa orang kedua yang akan keluar dari mobil tersebut. Tapi sepertinya ini memang adalah harinya. Choi Siwon memanjat keluar dari sisi lain mobil tersebut. Pria itu menatap Kyuhyun dengan lekat.

Kyuhyun sedikit membungkuk sopan pada Siwon. Changmin menoleh dan mendapati sepupunya sepertinya tidak terlalu peduli dengan keberadaan Kyuhyun. Changmin mendesis jengkel dengan sikap Siwon.

“Baiklah, sebaiknya kita masuk.”

*****

Siwon menyibukkan diri dengan tabletnya –memeriksa email-email yang dikirimkan oleh sekretarisnya. Walaupun ia menolak untuk ke Incheon, tapi Changmin adalah tipe orang yang suka sekali memaksakan kehendaknya. Bahkan kali ini Changmin mengancamnya akan menyebarkan mengenai lelucon dirinya yang adalah gay pada media. Rasanya Siwon ingin sekali meninju wajah Changmin.

Siwon terlalu sibuk bahkan sampai mengabaikan keberadaan Kyuhyun di ruangan yang sama dengannya. Kyuhyun sendiri hanya sibuk membaca beberapa dokumen. Sedangkan Changmin sedang menemui pihak ahli waris Kim Hyunseok di pintu utama pabrik. Ruangan itu begitu sunyi selama hampir sepuluh menit. Tidak ada satu pun dari mereka yang bicara. Bahkan mereka duduk saling berjauhan.

Kyuhyun menarik nafas dan menutup dokumen ditangannya. Ia melirik kearah Siwon. Well, melihat pria itu, Kyuhyun kembali teringat kejadian di resort Jeju yang ingin dilupakannya. Kedengarannya seperti sebuah kebohongan kalau Kyuhyun selalu mengatakan baik-baik saja, namun dia tidak ingin berada didalam situasi yang menyedihkan itu terlalu lama.

“Choi-sshi…” ucap Kyuhyun pelan.

Siwon yang bisa mendengar jelas suara Kyuhyun, sontak mengangkat wajahnya dan menatap sang pengacara. Kyuhyun menghela nafas pendek dan memandang Siwon dengan lekat. “Terima kasih. Aku belum sempat mengatakannya padamu.”

Siwon menaikkan satu alisnya. “Terima kasih untuk….?”

“Waktu di Jeju. Saat kau membawaku ke rumah sakit,” ucap Kyuhyun.

Siwon menarik nafas. “Oh. Tapi kau tidak perlu berterima-kasih. Waktu itu aku hanya…” Siwon terdiam beberapa detik untuk memikirkan kata yang tepat, “Kebetulan lewat. Bahkan jika bukan aku, pasti akan ada orang lain yang akan menemukanmu. Cho-sshi.”

Kyuhyun menatap Siwon dengan lekat. Rasanya setiap ucapan yang dilontarkan Siwon sangat sulit untuk dicerna oleh Kyuhyun. Tapi ada satu hal yang dirasakan oleh Kyuhyun pada Siwon. Pria Choi itu benar-benar sangat dingin.

Kemudian Changmin membuka pintu. “Sudah waktunya,” ucapnya.

Kyuhyun langsung bangkit dan keluar ruangan tersebut dengan membawa tas serta dokumennya. Changmin mengernyit melihat sikap Kyuhyun yang terlihat kesal. Ia menatap Siwon yang berjalan kearahnya. “Ya, kau melakukan apa hingga dia terlihat kesal begitu?”

Siwon mengangkat bahunya. “Kami hanya bicara singkat. Mungkin dia sedang sensitif hari ini. Jangan membahas ini, Min. Aku harus kembali ke kantor untuk rapat. Jadi, selesaikan dalam satu jam, okay.”

*****

Joonmyeon mengetuk pintu kamar Kevin beberapa kali, namun tidak ada sahutan dari dalam. Joonmyeon menarik nafas dan memeriksa jam tangannya. Setengah jam lagi ia harus sudah harus bertemu dengan Kyungsoo tapi Joonmyeon tidak bisa membiarkan Kevin tidak makan siang.

Joonmyeon mengetuk pintu lagi. “Kevin, aku harus pergi sekarang. Apa kau ingin makan sesuatu? Akan kupesankan. Kev?”

Masih tidak ada sahutan apapun. Sejak pukul sepuluh, Kevin tidak keluar kamar lagi. Entah melakukan apa tapi Joonmyeon hanya diberitahu untuk tidak menganggunya. Joonmyeon menggigit bibirnya. Haruskah aku masuk tanpa ijinnya? Tapi dia bilang untuk tidak menganggunya?

Joonmyeon menarik nafas dan menyentuh handle pintu. “Kevin, aku masuk, ne?”

Dengan perlahan Joonmyeon membuka pintu. Aroma cat minyak langsung menyeruak. Joonmyeon membuka pintu lebih lebar. Dan pandangan Joonmyeon tertuju pada Kevin yang sedang tertidur di ranjang. Joonmyeon menghela nafas lega.

Kemudian Joonmyeon berjalan mendekat. Ia bisa melihat kotak yang berisi puluhan botol cat minyak, pallet serta kuas. Joonmyeon tersenyum tipis. Ia belum pernah peralatan melukis sebelumnya atau orang yang melukis secara langsung. Joonmyeon memperhatikan sebuah lukisan yang mungkin hampir selesai.

“Woah, dia benar-benar berbakat,” gumam Joonmyeon.

Tapi disebuah sudut bawah kanvas tersebut, Joonmyeon melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. “WYF? Rasanya aku pernah melihat ini juga. Oh…”

Joonmyeon teringat dengan lukisan saat Festival Tahunan Sekolah. Nyatanya lukisan dengan inisial WYF adalah lukisan milik Kevin. Namun Joonmyeon malah mengernyit. “Kenapa inisialnya WYF? Namanya Kevin Wu, bukan?”

Joonmyeon lalu menatap Kevin yang sedang tertidur dengan posisi tengkurap. Joonmyeon bisa melihat noda cat pada jemari Kevin, bahkan wajahnya. Perlahan Joonmyeon mendekati tempat tidur Kevin. Ia merendahkan tubuhnya disisi ranjang.

“Kevin…”Joonmyeon menyentuh lengan saudaranya, “Kevin, aku harus pergi menemui Kyungsoo. Aku tidak sempat membuat makan siang. Apa kau mau kupesankan makanan? Kevin.”

Tapi Kevin sama sekali tidak terbangun. Joonmyeon mendesah pelan. “Kevin Wu, ayo bangun!!” Joonmyeon sedikit berteriak di telingat Kevin, berharap pemuda itu akan bangun.

Well, memang sedikit berhasil. Kevin kemudian membuka matanya dan menatap wajah Joonmyeon yang dekat dengannya. “Bisakah kau tidak mengangguku? Aku baru tidur pukul enam pagi dan baru menyelesaikan lukisanku.”

Joonmyeon mengernyit. “Tapi saat sarapan kau terlihat tidak begadang. Ini sudah hampir makan siang. Tapi tidak ada makanan apapun. Mau kupesankan sesuatu?”

Kevin menarik nafas dan perlahan bangun dari posisinya. Joonmyeon memperhatikan pemuda itu dan berdiri. Kevin mengacak rambut hitamnya. “Jjajangmyeon saja. Tapi memangnya kau mau pergi kemana?”

“Menemui Kyungsoo. Tadi aku sudah mengatakannya padamu saat sarapan. Sebelum pulang, aku akan ke supermarket membeli bahan makanan. Aku akan meninggalkan uangnya di meja dapur, okay,” tutur Joonmyeon. Hell, aku terdengar seperti seorang ibu.

Kevin mengangguk dan kembali berbaring. Joonmyeon menghela nafas dan beranjak meninggalkan kamar Kevin. Namun ia berbalik ketika tangan Kevin menahan pergelangan tangannya. “Ada apa lagi? Aku sudah hampir terlambat, Kev.”

Kevin menatap Joonmyeon yang berdiri disisi tempat tidurnya. “Kau terlihat…”

“Apa?”

Kevin melepaskan tangan Joonmyeon. Kemudian ia menarik bantal dan menutupi sebagian wajahnya. “Pergilah.”

*****

Siwon memijat keningnya dengan keras. Dia berada di luar ruangan, tempat negoisasi ulang dilakukan. Tapi suara Kim Jinhyeok yang berteriak penuh amarah masih bisa terdengar dengan jelas. Siwon sudah keluar dari ruangan itu sekitar setengah jam dan dia sudah berada di pabrik selama dua jam tapi negoisasi ulang ini berjalan dengan alot.

“Oh, tidak seharusnya aku ikut kesini,” gumam Siwon.

Kemudian salah seorang staff menghampirinya dengan wajah khawatir. Siwon menatapnya. “Ada apa?”

“Sajangnim, saya pikir kita harus memulangkan pegawai pabrik.”

Siwon mengernyit. “Kenapa? Apa yang terjadi?”

“Sekumpulan orang datang dan menutup akses masuk menuju pabrik. Sepertinya mereka adalah suruhan dari Kim Jinhyeok. Dan sesuai prosedur kita harus menghentikan aktivitas pabrik disaat genting seperti ini. Demi keselamatan pegawai.”

Siwon menghela nafas. Permasalahan menjadi lebih rumit dari yang dibayangkan Siwon. Ia memijat keningnya dengan keras dan menatap staff tersebut. “Baiklah, lakukan sesuai prosedur. Pastikan para pegawai keluar dengan selamat. Pakai jalur evakuasi darurat untuk menghindari keributan lainnya. Dan jika kau melihat Manager Han, katakan untuk menemuiku.”

Staff itu mengangguk mengerti dan bergegas melakukan perintah Siwon. Sepertinya negoisasi ulang memang bukan jalan yang tepat. Seharusnya mereka menyelesaikan kasus ini melalui pengadilan. Walaupun hak itu diluar kehendak Kakeknya. Tapi masalah ini sudah terlalu rumit. Dan mungkin memakai jasa firma hukum Kang Jaeha adalah keputusan yang tepat.

Siwon sendiri sudah mengecek track-record firma hukum tersebut. Termasuk Cho Kyuhyun, pengacara yang ditugaskan untuk menyelesaikan kasus ini. Pria itu memang cukup handal dalam bidangnya dan Siwon beruntung karena Kang Jaeha menunjuk Kyuhyun untuk kasus ini. Tapi kemudian Siwon malah menjadi teringat pertemuan-pertemuannya dengan Cho Kyuhyun yang menurutnya sama sekali tidak berkesan. Entah, namun Siwon merasa sedikit tidak nyaman dengan semua kejadian diantara mereka.

Siwon begitu sibuk dengan pikirannya sendiri, sampai akhirnya ia mendengar suara pecahan kaca –atau semacamnya. Bergegas, Siwon kembali ke ruangan tersebut dan ia melihat cangkir kopi sudah pecah dilantai. Selain itu ia melihat bercak darah.

“Yak! Choi Siwon, cepat panggil ambulance!!”

*****

Kyungsoo menyantap curry ramyeonnya dengan mata yang membulat. Joonmyeon bahkan hampir tertawa melihat ekspresi temannya itu. “Hey, kontrol ekspresimu, Soo. Wajahmu itu benar-benar lucu,” tukasnya.

Kyungsoo menelan makanannya. “Ah, mian. Tapi benarkah? Kenapa kau tidak pernah mengatakan padaku kalau ayahmu menikah lagi? Terlebih sekarang kau bersaudara dengan siswa kelas Seni dari sekolah kita.”

Joonmyeon kini hanya menyeringai dengan memperlihatkan eye-smile-nya. “Aku juga tidak menyangka kalau Appa akan memajukan tanggal pernikahannya. Jadi, maaf karena tidak memberitahumu dan yang lainnya.”

“Lalu siapa siswa kelas Seni yang menjadi saudaramu?”

Senyuman Joonmyeon menghilang. Ekspresinya menjadi sedikit tegang ketika Kyungsoo menanyakan nama saudara tirinya. “Err.. Kau tahu siswa pindahan awal semester di kelas Seni?”

“Kevin Wu?”

Hah, nama Kevin Wu benar-benar terkenal ternyata. Joonmyeon tidak menyangka kalau Kyungsoo akan mengenal pemuda itu. “Dia orangnya.”

Sekali lagi mata Kyungsoo yang sudah besar semakin terlihat besar. “Jjinja?!! Kevin Wu? Siswa kelas Seni yang salah satu lukisannya dilelang waktu festival dengan harga tertinggi itu?! Kevin Wu yang itu?”

“Do Kyungsoo, kau harus belajar mengontrol ekspresimu. Aku serius! Dan ya, Kevin Wu yang itu. Kenapa?”

Ekspresi Kyungsoo kembali normal –hah, bahkan dengan ekspresi normal pun mata Kyungsoo masih saja terlihat besar sekali seperti mata boneka. Kyungsoo kembali melahap jjajangmyeonnya lagi. “Ani. Tapi kurasa kalian jangan terlalu sering berinteraksi di sekolah. Kau tahu sendiri bagaimana sikap Chanyeol dan Siwan. Kelas kita mungkin saling bersaing setiap festival tahunan tapi haruskah tradisi itu membuat kita harus membenci?” ucap Kyungsoo sembari mengunyah makanannya.

“Itulah yang ditanyakan oleh Mom,” sahut Joonmyeon.

Kyungsoo menatapnya. “Mom? Ah, ibu barumu?”

Joonmyeon mengangguk. “Aku harus memanggil dengan sebutan Mom karena Kevin terbiasa dengan sebutan itu. Tapi sebagai gantinya Kevin juga harus memanggil sebutan Appa.”

Kyungsoo memperhatikan ekspresi Joonmyeon. Sahabatnya itu terlihat tidak mempunyai masalah apapun dengan ibu dan saudara barunya. Bahkan Joonmyeon terkesan sudah hidup lama dengan ibu dan saudaranya itu. Well, memang bukan hal aneh tapi tetap saja..

“Sepertinya kau sudah terbiasa dengan keluarga barumu,” tukas Kyungsoo.

Joonmyeon berkedip beberapa kali. “Huh?”

Kyungsoo menggeleng. “Sudah makan saja.”

*****

Siwon menyimpan ponselnya dalam saku dalam jasnya setelah melakukan panggilan telepon darurat. Situasi di pabrik mulai terkendali dan orang-orang suruhan Kim Jinhyeok sudah pergi bersama pria paruh baya itu. Dan walaupun tidak terjadi menimbulkan kericuhan, Siwon akan menambah petugas keamanan di sekitar pabrik untu mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Kemudian Siwon berbalik dan menatap Changmin yang baru saja selesai membalut luka di tangan kiri Kyuhyun. Sebenarnya Changmin memaksa untuk memanggil ambulance tapi Kyuhyun ternyata lebih keras kepala. Siwon menghela nafas panjang. Kejadian Kim Jinhyeok yang melemparkan cangkir berisi kopi kearah Kyuhyun sangat tidak diduga oleh siapapun termasuk Siwon.

Cukup beruntung perbuatan itu hanya sekedar sebuah ancaman yang mengenai sasaran. Atau itu sebenarnya adalah kesialan? Kim Jinhyeok sendiri juga terlihat terkejut saat darah keluar dari luka ditangan Kyuhyun. Dan pria paruh baya itu bersyukur karena Kyuhyun tidak akan memperpanjang masalah “ketidak-sengajaan” itu.

“Kyuhyun-sshi, apa benar kau tidak perlu ke rumah sakit? Lukamu itu cukup besar. Sepertinya harus mendapat jahitan,” tutur Changmin dengan khawatir.

Well, tentu saja Changmin khawatir. Cho Kyuhyun adalah pengacara andalan firma hukum Kang Jaeha dan sang pemilik firma hukum itu sangat “menjaga” Kyuhyun. Pernah untuk sebuah kasus korupsi dua tahun lalu, Kang Jaeha menyewa pengawal pribadi untuk Kyuhyun selama proses persidangan. Jika Kang Jaeha mengetahui pengacara “kesayangannya” terluka, bisa saja beliau akan mengganti Kyuhyun dengan pengacara lain.

Kyuhyun melihat tangannya yang terbalut perban dan tersenyum. “Tidak apa-apa. Jika lukanya terlihat parah, aku akan pergi ke rumah sakit sendiri. Jangan khawatir.”

“Tapi tetap saja…”

Siwon menarik nafas panjang. “Changmin, kita harus kembali ke kantor,” ucapnya.

Changmin dan Kyuhyun sontak menatap Siwon. Changmin mendesah, “Ah, aku lupa kau ada rapat penting. Tapi bukankah kau bisa saja pergi terlebih dahulu? Tidak harus menunggu.”

“Kau yang memegang kunci mobilnya, Shim,” tukas Siwon.

Changmin lalu melemparkan kunci mobil pada Siwon. “Kau bisa memintanya. Biasanya juga begitu? Bahkan saat meeting dengan Han Jinhye, kau meminta kunci mobil ditengah pembicaraan dan keluar tanpa banyak bicara. Kenapa sekarang kau harus menunggu?”

Siwon mendesis jengkel. Changmin kembali bersikap menyebalkan dengan pertanyaan bodohnya. Namun Siwon sedang tidak ingin berdebat dengan sepupunya saat ini. Ia memilih untuk meninggalkan ruangan itu, tapi kembali berbalik menatap Kyuhyun. “Pergilah ke rumah sakit dan kirimkan tagihannya ke kantor kami.”

Kyuhyun berkedip beberapa-kali dengan sikap Siwon. Tapi tanpa mendengar jawaban apapun, pria Choi itu pergi begitu saja. Membuat Changmin yang mendengus kesal. “Dia menjadi pria dingin yang brengsek lagi. Kupikir dia hanya akan bersikap begitu jika dihadapan para gadis yang dijodohkan untuknya.”

Kyuhyun memandang Changmin lekat. “Pria dingin yang brengsek?”

“Choi Siwon selalu mempunyai sisi kepribadian yang berbeda tergantung dengan siapa dia berhadapan dan situasinya. Kau baru saja melihat dua sisi kepribadiannya hari ini. Pria dingin yang brengsek dan pria menyebalkan yang perhatian,” jelas Changmin.

Tapi Kyuhyun tidak mengerti dengan ucapan kliennya tersebut. Changmin tertawa kecil melihat ekspresi Kyuhyun. Tapi kemudian Changmin menyeringai tanpa rasa bersalah pada Kyuhyun. “Dan berhubung Siwon sudah pergi sedangkan aku masih berada disini. Jadi, bisakah aku menumpang denganmu kembali ke Seoul? Aku bisa menyetir karena dengan kondisi tanganmu sekarang sepertinya agak sulit untuk memegang kemudi.”

“Eh?”

*****

Joonmyeon meletakkan kantung belanja diatas meja counter. Ia menarik nafas dan melihat kondisi dapur yang sepertinya sama sekali tidak tersentuh. Tapi uang yang ditinggalkan Joonmyeon diatas meja sudah tidak ada. Artinya, Kevin sudah makan jjajangmyeon yang dipesankannya.

“Mungkin dia langsung membersihkannya,” gumam Joonmyeon.

Kemudian Joonmyeon mengeluarkan semua bahan makanan yang dibelinya dan menatanya ke dalam lemari pendingin. Sejak kecil, Joonmyeon selalu memperhatikan mendiang sang ibu jika berada di dapur. Sang ibu selalu menata bahan makanan yang baru dibelinya dengan teratur. Bahkan hampir pekerjaan rumah selalu dikerjakan secara teroganisir. Mungkin karena itu, Joonmyeon selalu terbiasa merapikan barang-barangnya.

Bahkan setelah ibunya meninggal, Joonmyeon yang mengambil alih hampir seluruh pekerjaan rumah. Ayahnya mungkin bisa memperkerjakan seseorang untuk mengurus rumah, tapi Joonmyeon selalu mengatakan bahwa ia bisa mengerjakannya sendiri kecuali untuk memasak. Joonmyeon melakukannya agar keberadaan sang ibu tidak hilang. Joonmyeon mengetahui persis dimana dan bagaimana sang ibu selalu mengerjakannya.

Namun, walaupun demikian Joonmyeon tidak bisa menggantikan posisi ibunya untuk sang ayah. Sara Li adalah orang yang tepat untuk melakukannya. Joonmyeon menghela nafas panjang setelah ia selesai.

Kemudian Joonmyeon berjalan menuju tangga. Ini sudah hampir waktu makan malam dan ia juga harus melihat bagaimana Kevin. Joonmyeon sedikit tidak enak hati pada Kevin karena meninggalkannya sendirian. Joonmyeon berjalan menuju kamar Kevin yang terletak disebelah kamarnya. Sebenarnya kamar Kevin adalah ruang belajarJoonmyeon, tapi ayahnya merubahnya dua minggu sebelum hari pernikahan. Bagaimana pun Kevin membutuhkan kamarnya sendiri.

Joonmyeon mengetuk pintu beberapa kali. “Kevin,”

“Masuklah, Joonmyeon.”

Joonmyeon lalu membuka pintu kamar dan tidak melihat Kevin. Namun, jendelanya terbuka. Joonmyeon berjalan masuk kearah jendela besar. “Kupikir kau tidur,” ucap Joonmyeon.

“Kau ingin bertanya menu makan malam?” tanya Kevin.

Joonmyeon mengangguk. Kevin menarik nafas dan tersenyum. “Kalau begitu kita masak bersama.”

“Eh?”

Kevin menyentuh kepala Joonmyeon dan mengusapnya lembut. Kemudian ia berjalan keluar kamar meninggalkan Joonmyeon yang hanya berdiri mematung. Joonmyeon perlahan menyentuh kepalanya dimana ia masih merasakan sentuhan Kevin yang terasa hangat.

Joonmyeon lalu menghela nafas panjang. “Sadarlah Kim Joonmyeon. Sadarlah,” gumamnya sendiri.

Joonmyeon kemudian hendak berjalan keluar namun perhatiannya tertuju pada sebuah kanvas besar di kamar tersebut. Joonmyeon memperhatikan lukisan itu dengan lekat. “Eoh?” Perlahan kaki Joonmyeon membawanya lebih dekat pada kanvas tersebut. Ia memperhatikan setiap garis lukisan itu dengan seksama.

“Itu lukisan ilusi,”

Joonmyeon sontak menoleh dan melihat Kevin berdiri diambang pintu. “Ne?”

Kevin lalu berjalan mendekati Joonmyeon dan ikut menatap hasil lukisan yang dibuatnya selama seminggu terakhir. Tidak begitu memuaskan tapi Kevin bersyukur lukisan itu selesai sebelum semester baru dimulai. “Kau bisa menebak apa yang kulukis?”

Joonmyeon memperhatikan lukisan itu dengan lekat. “Kumpulan awan dilangit?”

“Well, sekilas memang itu tapi coba perhatikan baik-baik. Lukisan ilusi biasanya menyimpan dua atau tiga gambar dalam sebuah lukisan yang sama. Kau baru melihat satu, Joon,” tutur Kevin.

Joonmyeon menghela nafas panjang dan berusaha melihat lebih seksama lukisan Kevin. Lukisan yang pada awalnya memang hanya kumpulan awan putih di langit biru. Namun, perlahan semakin Joonmyeon perhatikan bentuk awan tersebut membentuk sebuah gambar lainnya.

“Eoh?! Ini… Malaikat?! Benar?!” seru Joonmyeon yang kemudian menatap Kevin.

Kevin tersenyum dan mengangguk. Joonmyeon tersenyum dan kembali menatap lukisan tersebut. “Woah!! Ini benar-benar hebat. Kau benar-benar hebat, Kevin.”

“Ani. Aku masih perlu belajar. Aku butuh waktu seminggu untuk menyelesaikannya,” tutur Kevin.

Joonmyeon kembali menatap Kevin. “Kau memang masih harus belajar, tapi bakatmu benar-benar luar biasa. Aku yakin suatu hari nanti kau akan menjadi pelukis hebat.”

Kevin kembali mengusap kepala Joonmyeon. “Dan kau akan menjadi penyanyi yang hebat di masa depan, Joon.” Namun, senyuman Joonmyeon menghilang. Kevin menatapnya dengan bingung. “Ke-kenapa?”

Joonmyeon menggeleng.

“Ani. Kau mau makan apa untuk makan malam? Ohya, Mom dan Appa akan pulang…” tanya Joonmyeon seraya hendak berjalan keluar kamar, namun Kevin menarik pergelangan tangan Joonmyeon.

“Ke-Kevin…”

Kevin menatap Joonmyeon dengan lekat dan kemudian melepaskan pergelangan tangan Joonmyeon. Ia kembali menatap lukisannya. “Joonmyeon,”

“Ya?”

Kevin menarik nafas panjang dan kembali menoleh pada Joonmyeon. “Kau menganggapku sebagai saudaramu, bukan?”

Joonmyeon sedikit terkejut dengan pertanyaan Kevin, namun ia masih bisa mengangguk untuk menjawabnya. Kevin tersenyum dan sedikit menunduk untuk mencapai level pandangan Joonmyeon. “Bisakah kau tidak menganggapku sebagai saudaramu hari ini?”

“Huh?”

“Sorry,” bisik Kevin pelan.

Dan kemudian Kevin mencium Joonmyeon.

*****

NOTE: Hahhh…. Part 5 dipublish!! Sekaligus melepaskan stress sejenak karena 3 bab udah ke-acc, jadi harap maklum kalau alur ceritanya makin… Makin? ya begitu deh. Aku lagi menulis The Last King part 12(?) karena perlu dikumpulkan dulu niatan politiknya.. /halah..

kalo diliat hubungan yifan-joonmyeon lebih dinamis ketimbang siwon-kyuhyun ya? hehh… gak juga koq. joonmyeon masih menyangkal perasaan yifan dan siwon masih menyangkal kalau dia gay (well, gak tahu deh bakal beneran gay apa engga, itu sih tergantung kemampuan kyuhyun bisa apa engga ngerubah siwon jadi gay /ditabok kyuhyun)

kemungkinan bakal semi hiatus lagi nih. sampe bulan agustus mungkin karena jadwal sidang kayaknya bulan itu /kalo gak ada perubahan. jadi, harap bersabar sama saya yaah. didoakan saja supaya ditengah kestressan nulis skripsi, saya masih bisa nyicil nulis fanfic. itung-itung buat refreshing… /ditabok dospem

Advertisements

46 thoughts on “[SF] Scarface Part 5

  1. Wonkyu dan krisho blom ada kemajuan ini…siwon dingin banget sich sm orang, sm kyu juga…nanti jatuh cinta lho

  2. Pembagian part WonKyu dan KrisHo-nya imbang di part ini. Aduh, itu aku pengen banget nimpuk Siwon. Kenapa dia tetep ketus dingin ke Kyu sih? Padahal Kyu diem lho .-.
    Woaaah!! Luhan tau masalah perasaa Kris ke Suho ya?
    Hah~ ini mereka belum terlibat konflik besar. Masih santai. Tapi pasangan KrisHo lebih terlihat agresif (?) Dibandingksn WonKyu. Oke. Semoga kk bisa melanjutkan ff ini di sela-sela kesibukan kk 🙂

  3. kayaknya Siwon dapat lampu hijau dari eommanya kalau dia gay!! jadi ada kemungkinan Wonkyu bersatu nih… hehehe
    😉 tapi sikap Siwon k Kyu itu bkin gregetan deh,,
    Sukses buat Skripsinya ya eonnie!! 🙂

  4. yg saia bca cuma bagian wonkyu aj…entah knpa??
    kekekeke
    ok siiip
    lnjuuut lg ya
    da semangat buat skripsi nya
    keep writing

  5. Tuh kan.. umma choi saja tidak keberatan kalau siwon gay.. tapi siwon benar-benar dingin dan cuek banget.. lho,kenapa changmin perhatian banget sama kyu?
    jangan-jangan dia tertarik juga sama kyu..aigo,pesona kyu memang kuat ya.. siwon juga sebenarnya tertarik khan sama kyu?tapi dia masih berusaha menyangkal..

  6. ihhhhh gemes deh ma kelakuan wonppa..
    tp insiden tangan kyu itu aq masih bngung.. tiba” gtu..

  7. aaah..kapan yaa mreka ada kemajuan? masih canggung smpe skrg -_-
    siwon sma joonmyeon sma2 nyangkal soal perasaan,walaupun cma joonmyeon doang sih,tpi kan nnti jg siwon nyadar klo dia g*y trgantung kyu nya gmana sma siwon :3
    wkwk
    di TF Kyu nya yg dingin,skrg Siwon nya yg dingin .
    gantian ya .
    ckck
    okelah ~ semangat buat skripsi sma sidang diera-ya :^)
    kambek nya sperti nya hbis lebaran nd samaan sma SJ kambek ya (?) :3

  8. sdh smpe part 5,hubungan wonkyu masih biasa2 aja,ga ada yg berkesan bagi keduany malah kayak ga akur gitu,
    siwon dingin amat nyebelin lagi,bener tuh kata changmin.
    babykyu sabar yach…buat siwon bertekuk lutut padamu (uh lebay)
    moga di part slnjutny ada perkembangan buat hubungan mereka,

    d tggu lanjutanny..

    buat andiera semoga sukses yaa

  9. aigooo…choi siwon…kau benar2 sangat2 dingin. kok gak ada reaksi gimana gitu waktu bertemu dng babykyu atau melihat babykyu terluka, masih aja cuek. eommanya aja smp kewalahan dng sikapnya siwon yg dingin dan datar. masih mending dng hubungannya krisho, meskipun suho masih berusaha utk menyangkal akan perasaannnya terhadap kris tp setidaknya krisho masih saling berinteraksi. next chap. wonkyu momentnya, please. semoga sidangnya berjalan dng lancar, semangat, ne,

  10. perkembangan wonkyu masih belum ada di chap ini, tapi secara memang siwon sedikit aneh. Kadang baik dan perhatian, kadang dingin ky kulkas dan angkuh jadi satu ( tergantung mood kynya)
    Semoga di chap selanjutnya ada perkembangan yang berarti dgn wonkyu dan ga sabar melihat kyuhyun bekerja sebagai pengacara di chap selanjutnya untuk membela choi group

  11. pertemuan ke tiga udah mulai perhatian sama Kyu. tapi Siwon sok dingin gituuuu… menyebalkan!
    Siwonnie, eommonim udah kasih lampu kuning tuh, berhubungan sama namja juga tak masalah. teheeee….

    semangat tuk nulis skripsinya ne!!!!

  12. Hhmmmm…pengen nabok siwon,ahahahah. Tpi ada yg mnarik dr prkataan uri changiminnie baby, “sikap siwon ketika menghdapi kyuhyun sm dinginnya ketika menghdapi para gadis”. Apa siwon mlihat kyuhyun sprti mlihat seorang gdis?? (Mikir keras).
    Llu sisi menyebalkan tpi prhatian seorang siwon,apa artinya yah? Apa hanya pda kyuhyun saja? (Kembali mikir)
    Untuk krisho side,mreka trlihat jauh lbih manis ahahahahha….
    Oh yah bad news ttg isu kris dg SM,sya bkan fans exo tpi trut mnyayangkan, jika benar maka SM bnar2 tdk bisa blajar dr kasus sebelumnya, ckup cassie yg berdarah2 ketika TVXQ harus pcah ( dan saya msih trluka sampe sekarang #gakadayangnanya),llu ksus hangeng,skrng kris?mudah2an exofans bisa tegar….
    Semnagat diera-ssi untuk skripsinya!!!! Terima kasih nyempetin update

  13. Hahh…sbrnya aq gemes sndri dngn sikap Siwon yg sdkit mnyebalkan itu#plak
    Dan untuk KrisHo…bisakah cinta mrka terwujudkan bersama????

  14. haduh siwon -_- smpai kapan sikapmu sperti itu??
    ga ada kemajuan apapun dengan hubungan mereka
    siwon yang dingin , kyuhyun yang juga lum ada perasaan apapun ma si dingin
    hadeh…

  15. Aihhh gregetan dech… Kapan hbungan wonkyu ada kemajuan nya eon #ikutan stress ngeliat ini psangan *plak* :3
    oke lanjut lah

  16. Hmmm siwon,,! Kamu kok gitu sih sama Babykyu,, awas lo nanti jatuh cinta trus keduluan lagi sama chwang,, kkkk
    Di saat family merestui eh,, wonkyu nya yg blom(?) ada apa2,, di saat wonkyunya ada apa2(?) eh,, family nya pula yg menentang abis2an,, ckckck wonkyu wonkyu 😀

    Tu krisho makin so sweet aja,, aw aw aw kris dah start kissiu,, kkkk

  17. ckckckc, pria dingin yg brengsek dan pria menyebalkan yg perhatian..
    siwon mendpt julukan sprti itu,,
    tp bener, sikapnya benar2, gk di gadis2 di kyuhyunpun jg begitu,,
    aigoo,,,ayo Kyu rubah tuh si Kuda,,supaya gk nyangka klw dirinya itu gay #plak

  18. iya. kyknya hub. wonkyu bakalan jalan lambat yaa..!! alo krisho khan serumah, jd sering ketemu..
    semoga sukses sama skripsinnya.. aku ngerti kok gimna rasanya..
    tinggal 2 bab lagi. semangat..
    mending alo mw up date yg ini aja..
    alo yg the last king agak berat, masalah politik khan..

  19. Kyu yg sabar ne,,,siwon emng rada nyebelin
    But,,gk bklan lma ko sikap dinginya,,,,huft tapi moment wonkyunya dikittt bgt chingu,,,

  20. Eh,mamanya siwon ko kocak si?hahaha!jadi ga masalah klo siwon gay?waaaahhhh#peluk mrs choi
    Duh si siwon ntar nyesel loh udah jutek2 sama kyuhyun!awas ntar kualat,jadi cinta bngt sama kyuhyun,

  21. Anyeong, ak reder bru d blog ini. Aku uda ca ff ini dr chap 1-5. Maaf bru kasi komentar d chap 5.
    Ceritanya bgus bgt. Tp untuk alurnya wonkyu masi lambat. Siwon? Knapa dirimu dingin sekalii? Tp kyu akan menghangatkan hati siwon kan? Hehe..
    Dan siwon, lihatlah, kau akan menjadi gay. Hahaha…
    Omo, kevin, berani bgt cium junmyon. Reaksi junmyon gmn ya slanjutnya?

  22. Keliatan banget kalo Siwon mulai ngasih2 sinyal ke Kyuhyun tuh. Tinggal Kyuhyunnya aja nih yang sepertinya masih misterius soal perasaannya ke Siwon. Kalo Siwon kan udah jelas tuh, diliat dari sikapnya yang dingin tapi perhatian. Ciyeee…

  23. Ini si suho kyknya blom menyadari oerasaannya ke kris deh..
    Keluarganya siwon bener2 pengen bgt liat siwon nikah, bahkan siwon jd gay pun keluarganya gak keberatan, tp gimana mau dpt pacar klo dianya dingin gitu

  24. siwon biasanya yang kocak kenapa sekarang jadi kebalikan ma kyuhyun sifatnya yang cuek dan dingin
    masih panjang kayaknya moment wonkyu

    lebih dinamis emang sich hubungan kevin-joonmyeon
    kiss beneran itu kevin
    lama” luluh juga kamu joon

  25. So mari kita ikutin gimana kedua cowo keren ini jadi belok hahahahahaha
    Tapi tetep ya, yg lebih kasian tuh Krisho deh. Kevin nyium Joonie lagi, walah tambah awkward aja nanti hehehehe

  26. slbm komen mo mnt maaf dulu k author nya…aq cuma baca bagian wonkyu…yg bagian suho dan krin sering aq lewatin…bkn krn apa…aq bnrn suka ny cm yg ada kyuhyun
    yah kadang aq baca sih sepintas..gpp yaa

    siwon masi g sadar klo dirinya gay. dan klo pun dia gay..kelg sepertinya oke oke saja..siip klo gt

  27. Part wonkyu ma krishonya imbang di chap ini. . ^^
    Choi Family bner2 pngertian yah, gak mksa won buat jdi straight yg pnting dy nikah. . kkkk~
    Semoga kyu bsa bkin won jdi gay scepatnya. . wkwkwkwkwkw
    Hbngan mreka emang berasa kek jlan di tmpat -___-”
    Tp, sabar nunggu moment wonkyu ajjalah. . hahahaha

  28. siwon itu kenapa siwatnya menyebalkan.dan kyuhyun belum apa”dia sudah dilukai gimana nanti kalo kasusnya dibuka dipengadilan.

    lanjut chap 6 ya

  29. Aigooo,,,,sungguh sikap siwon bkin gregetan,,,manknya kyu salah apa smpe dy brsikap bgtu sma kyu,,,ckkkkkk….ku pikir dy akan mnyadari klo dy mank gay dn itu pasti krna kyu…..nexxttt

  30. meskipun siwon bilang dia gay cuma lelucon tapi sepertinya banyak yang mendukung. sikap siwon ke kyu kenapa jadi jutek banget gitu padahal kyu nggak melakukan apapun, hati-hati siwon nanti dari benci jadi cinta..

  31. Hadeh hadeh siwon dingin banget si di lelehin pake apa biar ga jutek kayak gitu :””)) kurang2in jutek nya sama kyu ya siwon kkk

    Kyakya yifan!!!! Bisa ae nyium joonmyeon ;;;;;; udah lelah menahan rasa suka ya :””)

  32. Hubungan krisho terhalang krna mrk terikat sbg saudara tiri, jd mrk susah bersatu krna suho memang yg menyangkalnya. Kalau utk wonkyu sprtnya msh terlalu jauh utk bs bersama krna siwon bgtu dingin thdp kyu dan sprtnya msh blm melihat pesona babykyu

  33. ckckck siwon dingin sekali sih lalu emangnya kepribadian siwon ada berapa sampe changmin bilang begitu, lucu juga saat changmin bilang siwon itu menyebalkan tapi perhatian hehe
    lalu kris mencium suho? >_<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s