[SF] Scarface Part 3

scarface2

3

“Terima kasih,”

Siwon menatap seorang wanita dihadapannya. Cho Ahra, kakak dari Kyuhyun datang disaat hampir jam makan siang, hanya berselang satu jam ketika Kyuhyun pertama sadar. Siwon meneguk kopinya. “Aku hanya kebetulan lewat. Bukan hal besar,” tutur Siwon.

Ahra menatapnya lekat. “Tapi jika kau tidak lewat, kemungkinan Kyuhyun akan…”

Siwon melirik wanita yang duduk dihadapannya sekilas. Ia meletakan kembali cangkir kopinya. “Ya, itu bisa saja. Kau datang dan langsung diantar ke kamar mayat –ah, maaf. Tapi walaupun begitu, jika bukan diriku pasti ada orang lain yang akan menolong.”

Ahra kemudian hanya menunduk. Berita mengenai Kyuhyun yang masuk rumah sakit karena hypothermia membuatnya sangat terkejut terlebih kabar mengenai Haesa. Dan Ahra juga tidak menyangka bahwa ia akan bertemu dengan mantan calon tunangannya yang menolong adiknya. Sebuah kebetulan yang beruntun.

Disisi lain, Siwon sudah mengetahui bahwa dia akan bertemu dengan Ahra –dan mungkin keluarganya juga– dan ia mungkin akan merasa canggung mengenai pembatalan perjodohan pada beberapa bulan yang lalu. Tapi pada kenyataannya Siwon sama sekali tidak merasa canggung, terkesan bahwa ia sudah sangat akrab dengan keluarga Cho. Oh hell, apa yang baru saja kupikirkan?

“Boleh bertanya sesuatu?” ucapnya tiba-tiba.

Ahra kembali mengangkat kepalanya. “Mengenai apa?”

Siwon memperhatikan ekspresi Ahra terlebih dahulu. Ia menimang apakah tepat jika ia bertanya mengenai hal tersebut pada Ahra. Mereka baru saja bertemu, bahkan jauh dari kata akrab. Tapi Siwon penasaran sekali. “Mengenai perjodohan sebelumnya, kau…” Choi Siwon, apa yang baru saja kau katakan?

Ahra tersenyum tipis pada Siwon. “Kurasa kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Perjodohan memang bukan jalan yang tepat. Seberapa pun sering aku mendapat tawaran perjodohan, aku hampir tidak pernah melakukannya dengan senang hati. Jadi, selalu berakhir gagal.”

“Oh,” Walaupun sebenarnya bukan itu yang ingin kutanyakan.

“Aku akan kembali ke kamar rawat Kyuhyun. Sekali lagi terima kasih karena menolong adikku, Siwon-sshi,” Ahra kemudian bangkit dan menunduk sopan.

Siwon sendiri tidak berkata apapun lagi dan hanya memandangi wanita Cho itu meninggalkannya sendiri. Siwon menarik nafas panjang dan beranjak meninggalkan rumah sakit.

Tapi sebelum ia benar-benar pergi, Siwon kembali berbalik. “Kurasa ini adalah terakhir kalinya. Well, semoga saja kita tidak akan pernah bertemu lagi, Cho Kyuhyun.”

*****

Changmin mengernyit ketika Siwon memasuki kamar. “Kau kembali?”

“Eoh. Sudah ada kakaknya yang menjaga pria itu,” tutur Siwon sembari melepaskan mantelnya dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.

Changmin masih memperhatikannya dengan lekat. “Kakaknya? Kau bertemu dengan Cho Ahra?”

Siwon hanya menggumam. Matanya sudah terpejam dan dia berharap Changmin bisa menutup mulutnya sebentar saja. Siwon ingin sekali tidur tanpa gangguan dari celotehan Changmin saat ini. Changmin menarik nafas panjang melihat reaksi Siwon.

“Kau tidak mau kuganggu, ya?”

Siwon tersenyum. “Pintar!”

Changmin mendengus jengkel. Ia lalu kembali terfokus pada laptop dihadapannya. “Yah, baiklah. Walaupun sebenarnya ada yang ingin kutunjukkan padamu. Mengenai Cho Kyuhyun dan gadis yang kau bilang sebagai mantan kekasihnya itu.”

Siwon membuka matanya dan melirik Changmin. Ada sedikit rasa penasaran yang mengusik Siwon, tapi pria itu sudah terlalu lelah. Ia tidak mau mengikuti permainan Changmin untuk saat ini. “Tidak tertarik. Biarkan aku tidur sebelum meeting malam ini, eoh?” sahut Siwon yang kembali memejamkan mata.

Changmin mendesis kesal. “Terserah padamu, Choi Siwon.”

*****

Ketika Kyuhyun terbangun, ia melihat Ahra duduk didekat tempat tidurnya. Ahra dengan sangat erat menggenggam tangan Kyuhyun sehingga pria itu tersenyum tipis. “Kau datang.”

“Kau membuat semua orang khawatir, Kyu. Aku menginginkan hadiah natal darimu tapi yang kudapat malah telepon dari pihak resort yang mengatakan kau dilarikan ke ER. Eomma bahkan hampir pingsan mendengarnya, tapi karena kami hanya mendapat satu tiket jadi…”

“Noona, jangan mengomel. Aku sedang sakit,” tukas Kyuhyun menghentikan ucapan Ahra.

Ahra mendesis. “Jangan lakukan lagi, mengerti? Ini adalah terakhir kalinya kau berbuat hal konyol, okay?”

Kyuhyun mengangguk patuh. Ahra kemudian menyentuh wajah adiknya dan mengusapnya lembut. Sepertinya suhu tubuh Kyuhyun perlahan kembali normal dan dokter yang memeriksanya Kyuhyun tidak menunjukkan gejala aneh lainnya sehingga dua atau tiga hari kemudian sudah bisa keluar rumah sakit. Ahra menghela nafas panjang sembari memperhatikan adiknya dengan lekat.

“Kyuhyun-ah, kau baik-baik saja?”

Kyuhyun kembali mengangguk. Ahra semakin mengeratkan genggaman tangannya. “A-aku mendengar apa yang terjadi. Ha-Haesa tidak menemuimu? Di-dia benar-benar tidak peduli lagi?”

Senyuman Kyuhyun menghilang. “Noona, aku tidak apa-apa. Jangan terlalu khawatir. Bukan karena Haesa, aku menjadi seperti ini. Jangan menyalahkannya, ne? Aku seharusnya kembali ke resort, tapi kemarin malah…” Kyuhyun berusaha untuk tersenyum tapi gagal. “Kemarin aku berubah menjadi orang yang sangat bodoh.”

“Kyu, jangan bicara seperti itu. Aku tidak menyalahkan Haesa atau siapapun, tapi…” Ahra menarik nafas. “Kau cukup beruntung, Siwon-sshi menemukanmu. Jika tidak, kau mungkin tidak akan selamat.”

Ah, benar. Kyuhyun melupakan orang yang menyelamatkan hidupnya. Tapi dilihat dari kondisi kamar rawatnya saat ini sepertinya Choi Siwon tidak lagi menungguinya. Kyuhyun menarik nafas lagi. “Aku akan mengucapkan terima kasih langsung padanya. Noona, pergilah ke resort tempatku menginap. Noona bisa diistirahat di kamarku. Lagipula rumah sakit, sedikit tidak nyaman.”

“Eoh? Kau mengusirku sekarang? Hey, aku ingin sangat khawatir padamu.”

Kyuhyun kini tersenyum. “Aku tahu, tapi Noona pasti lelah. Aku akan baik-baik saja di rumah sakit. Sebaiknya Noona pergi ke resort saja, ne. Aku juga tidak tega membuat Noonaku yang cantik ini harus menderita bersamaku di rumah sakit. Jadi, pergilah ke resort, eoh.”

Ahra menghela nafas pendek. “Arraseo. Aku akan ke resort nanti. Oh, apa kau ingin makan? Ini sudah waktunya makan siang, bukan?”

*****

Ahra baru saja mengambil kunci kamar Kyuhyun di meja resepsionis ketika ia berpapasan dengan Haesa yang membawa kopernya. Haesa sedikit terkejut melihat kedatangan Ahra, tapi ia juga tidak bisa menghindarinya. Haesa menatap Ahra dengan canggung.

“A-annyeongha…”

Belum sempat Haesa menyelesaikan ucapannya, Ahra sudah melayangkan tangan di pipi Haesa. Gadis itu terdiam. Bahkan beberapa pengunjung lainnya juga terkejut melihat peristiwa itu.

“Apa kau sudah puas sekarang? Kyuhyun sudah di rumah sakit. Apa kau sudah puas membuatnya menderita, eoh?” seru Ahra dengan marah. Bahkan wajahnya memerah dan matanya mulai berkaca-kaca.

Haesa menatap Ahra dengan lirih. “Eo-eonni..”

Ahra menarik nafas perlahan untuk meredam emosinya sejenak. “Dia sangat mencintaimu, bahkan melebihi kasih sayangnya padaku. Tapi kenapa kau malah menyakitinya?! Apa salah Kyuhyun padamu, eoh?! Kang Haesa, kau memberikan hadiah natal yang tidak akan pernah dilupakan oleh Kyuhyun.”

“Eonni, maaf. A-aku benar-benar minta maaf, ta-tapi…”

“Tapi apa? Kau sudah tidak mempunyai perasaan apapun lagi pada Kyuhyun, begitu? Jika kau tidak menyukainya, seharusnya kau mengatakannya secara langsung. Tapi yang kau lakukan adalah membuatnya menunggumu hingga tiga tahun. Dan bahkan sepertinya kau juga tidak mengatakan apapun pada orangtuamu!”

Haesa kini tidak bisa mengatakan apapun lagi. Ahra benar-benar marah padanya dan tidak memberikannya kesempatan bicara. Disisi lain para pengunjung resort masih memperhatikan mereka berdua. Bahkan para pegawai pun tidak bisa berbuat apapun.

Kemudian Changmin yang diusir keluar dari kamar oleh Siwon mendengar ada keributan di lobby utama juga memperhatikan pembicaraan antara dua wanita tersebut. Ia menarik nafas panjang. “Disaat seperti ini Siwon malah memilih untuk tidur,” gumamnya.

Changmin lalu menghampiri kedua wanita tersebut. Bagaimana pun juga harus ada orang yang menghentikan kekacauan tersebut, bukan? Changmin menatap kedua wanita itu bergantian. “Maafkan kelancangan saya, tetapi jika kalian ingin bertengkar dimohon untuk mencari tempat yang cukup sepi,” tuturnya.

Ahra melirik pria yang menghampiri mereka. “Maaf,” ucap Ahra dengan sopan. Namun ketika ia kembali menatap Haesa, tatapan Ahra kembali menjadi dingin. “Kau tidak perlu menjelaskan apapun pada orangtuamu. Kau mungkin hanya akan memberikan alasan untuk kepentinganmu sendiri. Tapi disini Kyuhyun adalah korbannya. Jika kau ingin pergi, maka pergilah yang jauh dan jangan menemui adikku lagi.”

Ahra kemudian pergi meninggalkan lobby. Sedangkan Haesa masih belum bergerak dari posisinya. Changmin sendiri hanya bisa menghela nafas lega. Setidaknya pertengkaran mereka telah berakhir dan para pengunjung mendapat kenyamanan mereka.

Changmin melirik Haesa. Well, Changmin pernah mendengar bahwa anak perempuan keluarga Cho terkenal dengan sikapnya yang sopan dan lembut, namun hari ini dia melihat hal yang sebaliknya. Tapi Changmin bisa mengerti dibalik sikap tegas seorang Cho Ahra. Tidak ada kakak yang tinggal diam melihat adiknya disakiti oleh orang lain.

“Perlu dipanggilkan taksi?” ucap Changmin menawarkan.

Haesa sontak menatap Changmin dan menggeleng. Dan tanpa sepatah kata pun Haesa berjalan menuju pintu keluar dengan diiringi oleh tatapan dari pengunjung lain yang masih penasaran mengenai pertengkaran barusan.

Changmin menarik nafas panjang. “Memang ada banyak hal yang perlu dirubah di resort ini.”

*****

Kyuhyun menatap kotak berisi cincin yang sudah lama dibelinya. Kemudian kejadian kemarin kembali terlintas dalam benaknya. Kyuhyun memejamkan mata dan menarik nafas panjang. Rasanya ia tidak pernah terpikir sebelumnya kalau Haesa ternyata tidak menyukainya lagi. Oh tunggu, pernahkah Haesa mengatakan langsung bahwa ia juga menyukai Kyuhyun?

Kyuhyun membuka matanya dan tertawa miris. Menertawakan kebodohannya selama enam tahun. Hubungannya dengan Haesa bahkan tidak nyata. Mereka hanya kebetulan bersama dan saling cocok dalam beberapa aspek. Tidak pernah lebih dari itu. Hanya Kyuhyun seorang yang mengatakan bahwa ia menyukai wanita itu. Tapi Haesa? Dia tidak pernah mengatakannya.

Perlahan Kyuhyun menyingkap selimutnya dan bangkit dari tempat tidurnya. Ia kemudian membuang kotak ditangannya ketempat sampah dan berjalan mendekati jendela besar kamar rawatnya. Jeju sedang turun salju.

Sejak kecil Kyuhyun sangat menyukai musim dingin dimana ia bisa bermain salju dan membuat snowman dengan Ahra. Tapi kini salju malah membuatnya hampir mati kedinginan. Kyuhyun mungkin bisa membenci salju, tapi ia tidak akan mencobanya.

“Kyuhyun…”

Kyuhyun memejamkan matanya saat suara itu terdengar di telinganya. Ia ingin sekali bahwa ia sedang mengalami halusinasi, tapi nyatanya suaranya itu sangat nyata. Kyuhyun tidak ingin berbalik.

“Kyuhyun, aku minta maaf.”

Kyuhyun tidak memberikan respon apapun dan ia menahan diri agar tidak berbalik. Karena Kyuhyun tahu, jika ia berbalik maka dia menjadi lebih lemah dari sebelumnya.

“Kyuhyun, berbaliklah. Kumohon,”

“Ka-kau tidak perlu meminta maaf, Haesa. Kurasa memang kesalahanku karena tidak pernah menyadarinya. Jangan merasa bersalah atas kebodohanku sendiri. Jika kau ingin pergi, maka pergilah,” ucap Kyuhyun pada akhirnya.

Haesa yang berdiri tak kurang dari tiga langkah dari Kyuhyun hanya menatap punggung pria itu. Wanita itu merasa sedikit bersalah karena ia tidak memeriksa apakah Kyuhyun sudah kembali ke kamarnya atau tidak malam itu.

Haesa kembali berjalan mendekati Kyuhyun. Ia menyentuh punggung Kyuhyun dengan hati-hati dan kemudian memeluk pinggang pria itu. Sontak tubuh Kyuhyun menjadi tegang ketika Haesa memeluknya. Ia tidak memprediksi kalau Haesa akan melakukannya. Tapi Kyuhyun hanya diam saja.

“Aku minta maaf, Kyuhyun. Kau adalah teman terbaik yang pernah kumiliki. Namun, keegoisanku malah membuatmu menderita. Maaf, karena tidak mengatakannya lebih cepat. Ta-tapi bisakah kita tetap berteman, Kyu?”

Kyuhyun kini tidak bisa menahan diri lagi. Ia melepaskan tangan Haesa dan berbalik menatap wanita itu. Kyuhyun menyentuh pipi Haesa dengan tangannya yang terasa dingin, lagi. “Kurasa pertemanan bukanlah hubungan yang tepat setelah apa yang terjadi, Haesa. Aku tidak menyalahkanmu atas kebodohanku, tapi aku tidak bisa berteman denganmu,” tutur Kyuhyun.

“Kyuhyun…”

“Tidak, Haesa. Kali ini aku yang memohon padamu. Pergilah jika kau menginginkannya. Disaat aku membiarkanmu untuk pergi,” ucap Kyuhyun.

Haesa kemudian mengambil satu jarak menjauh dari Kyuhyun. Ia menatap pria yang tersenyum padanya. Hanya saja senyuman itu tak lagi sama seperti senyuman Kyuhyun sebelumnya.

“Selamat tinggal, Kyuhyun.”

Kemudian Haesa meninggalkan kamar rawat itu dengan membawa kopernya. Kyuhyun sendiri kembali memandang kearah luar jendela. Rasa dingin itu kembali menyeruak dan membuat tubuhnya menggigil. Tapi Kyuhyun masih tetap berdiri dengan tegak.

“Selamat tinggal, Kang Haesa.”

*****

Kevin tidak menyukai acara makan malam yang diadakan Momnya. Terlebih jika ia harus duduk berhadapan dengan Joonmyeon yang selalu tersenyum. Setelah pertemuan mengejutkan di aula sekolah pada acara festival tahunan –yang pada akhirnya dimenangkan oleh kelas Musik. Oh… Hell, Kevin tidak peduli dengan festival itu karena hidupnya berubah total sejak hari itu. Sekarang Mom-nya memaksa dirinya untuk ikut datang ke restaurant untuk makan malam.

Kevin menyantap sup asparagusnya dalam diam. Ia bahkan tidak berencana untuk memandang Joonmyeon dari dekat sepuasnya. Tidak dalam situasi dimana mereka akan menjadi saudara. Kevin juga tidak tertarik untuk masuk kedalam percakapan antara Sara Li –Mom Kevin, pria yang akan menjadi ayah tirinya dan pemuda yang akan menjadi saudaranya ketimbang kekasihnya. Ya, Kevin tahu kalau apa yang diinginkannya terlalu tinggi mengenai Joonmyeon sebagai kekasihnya.

Kevin menghela nafas dan hal itu membuat pria Kim itu menatapnya. “Sepertinya Kevin sangat bosan dengan makan malam ini.”

Sontak Kevin mengangkat kepalanya. Ia menyadari kalau Sara memberikan tatapan tidak senang dan Joonmyeon juga menatapnya dengan lekat. “A-ani. Aku bukan bosan, hanya saja kecewa.”

Pria Kim itu mengernyit. “Kecewa? Kenapa?”

“Mungkin karena festival tahunan kemarin. Kelas Seni kalah dari Kelas Musik tahun ini,” tutur Joonmyeon.

Kevin menatap Joonmyeon sekilas lalu kembali menunduk menatap mangkuk supnya. Kevin bahkan tidak ingin mengingat masalah festival kemarin. Sara menarik nafas pendek. “Memangnya kenapa kalau kalah? Kau masuk ke sekolah itu bukan untuk saling bersaing, Kevin. Joon-ah, apakah selalu seperti itu tiap tahunnya?”

Joonmyeon menatap Sara dan mengangguk. “Aku tidak tahu apa alasannya. Tapi sejak aku masuk, sistem sekolah itu sudah seperti itu. Bahkan guru saja tidak berniat merubahnya.”

Sara menatap kekasihnya. “Junhyeok, kenapa kau membiarkan putramu masuk ke sekolah itu? Sistemnya buruk sekali. Sekolah seharusnya memberikan pengetahuan serta pengalaman, bukannya tradisi persaingan seperti itu,” tutur Sara.

Junhyeok hanya tersenyum. “Itu pilihan Joonmyeon, Sara. Aku hanya mengikuti kemauannya. Jika ia merasa nyaman di sekolah itu, aku tidak akan berkomentar apapun mengenai kurikulum atau tradisi sekolah itu. Paling tidak, sekolah pasti tahu apa yang terbaik untuk siswanya.”

Sara mendecih tapi akhirnya tersenyum. “Kau memang selalu melihat sesuatu hanya dari sisi baiknya saja.”

Joonmyeon tersenyum ketika ayahnya kembali mengobrol dengan Sara. Tapi ketika ia melihat ekspresi Kevin, Joonmyeon merasa ada yang berbeda dari Kevin yang pernah ditemuinya saat ia tidak sengaja masuk ke area pameran kelas Seni. Kevin terlihat menghindari percakapan bahkan seperti tidak ingin menatapnya. Joonmyeon menjadi bertanya-tanya apakah ia membuat kesalahan pada Kevin. Hanya saja, Joonmyeon tidak bisa bertanya mengenai hal itu sekarang ini. Jadi, dia akan menahan diri untuk mengetahui alasan sebenarnya.

*****

Setelah makan malam, Junhyeok berencana mengajak mereka untuk menonton film tapi Joonmyeon dan Kevin menolak. Akhirnya, Joonmyeon dan Kevin pulang dengan taksi. Oh, sebenarnya Kevin yang mengantar Joonmyeon pulang ke rumah sebelum ia kembali ke dormnya karena Sara masih tinggal di hotel. Apartment yang disewa ibunya masih memperlukan waktu untuk mempersiapkan surat-suratnya.

Namun, selama perjalanan menuju rumah Kim, Kevin sama sekali tidak berbicara apapun. Dia hanya sibuk menatap keluar jendela dengan telinga yang tersumpal oleh earphone. Joonmyeon merasa canggung dan sesekali melirik calon saudara tirinya tersebut.

Joonmyeon menarik nafas dan melihat kesisi lainnya. Sedangkan Kevin sendiri berusaha mengabaikan debar jantungnya. Kevin menghela nafas pendek dan melepaskan satu earphonenya. Ia melirik kearah Joonmyeon.

“Joonmyeon…” panggilnya pelan. Tapi Joonmyeon cukup dekat untuk mendengar suara Kevin yang hampir menyerupai bisikan. Joonmyeon menoleh dan melihat Kevin menyodorkan satu earphone yang dilepasnya.

Joonmyeon tersenyum dan mengambil earphone itu lalu memasangnya ditelinga sebelah kanannya. Terdengar alunan musik jazz yang lembut. Joonmyeon menatap Kevin dengan tidak percaya. “Jazz?”

Kevin mengangguk. “Kenapa?”

“Tidak. Kupikir kau tipe orang yang menyukai musik rock atau semacamnya. Penampilanmu sangat menipu, Kevin,” tutur Joonmyeon sembari tertawa.

Kevin hanya tersenyum tipis. “Saat melukis aku lebih menyukai lagu-lagu yang… tidak begitu berisik? Walaupun sebenarnya aku tidak begitu pemilih dalam masalah musik.”

Joonmyeon mengangguk mengerti. Dan kemudian sunyi kembali. Joonmyeon kembali menatap kearah luar jendela taksi, sedangkan Kevin masih memperhatikannya. Kevin benar-benar bersyukur kalau saja mereka pergi berdua tanpa sebuah alasan pertemuan keluarga membahas pernikahan. Kevin bukannya tidak senang Momnya menemukan kebahagian setelah kematian ayahnya, tapi jika itu artinya ia harus bersaudara dengan Joonmyeon, maka….

“Kehidupan kita akan berubah saat semester baru,” tutur Kevin.

Joonmyeon kembali menoleh. “Berubah? Apanya?”

“Kita akan menjadi saudara di rumah tapi di sekolah kita menjadi musuh? Entahlah, aku tidak menyukai hal itu.”

Joonmyeon mengernyit. “Apa yang tidak kau sukai? Menjadi musuh di sekolah atau menjadi saudara?”

Kevin terdiam. Keduanya, Joon. Aku tidak menyukai keduanya.

Kevin tersenyum tipis. “Tentu saja menjadi musuh di sekolah, Joonmyeon.”

“Lalu apa kau menganggapku sebagai musuhmu di sekolah?” tanya Joonmyeon lagi.

“Tidak.”

Joonmyeon tersenyum. “Kalau begitu jangan menganggapku musuh ketika kita bertemu di sekolah. Aku juga tidak pernah menganggap dirimu atau siapapun dari kelas Seni adalah musuhku.”

“Teman-temanmu dari kelas yang sama?”

Joonmyeon mengangkat bahunya. “Itu pilihan mereka. Aku tidak mempunyai masalah dengan siapapun, jadi untuk apa memusuhi orang lain. Kalau teman-temanmu?”

Kevin tersenyum. “Tidak tahu. Aku tidak peduli.”

“Itu bagus.”

*****

Kevin memperhatikan rumah Joonmyeon –yang kemungkinan juga akan menjadi rumah barunya setelah Mom-nya menikah dengan ayahnya Joonmyeon. Sebenarnya Kevin ingin langsung kembali ke dorm, tapi Joonmyeon memaksanya untuk tinggal lebih lama. Setidaknya ayahnya bisa mengantar Kevin ke dorm nanti atau Kevin bisa menginap dirumah. Lagipula mereka akan menjadi saudara, bukan?

“Kau mau minum sesuatu, Kevin?” tanya Joonmyeon dari arah dapur.

Kevin sontak langsung menuju asal suara dan ia melihat Joonmyeon sedang membuat segelas teh. “Itu teh hijau?”

Joonmyeon mengangguk. “Mau?”

“Tidak. Jika kau punya jus, itu juga tidak apa-apa,” ujar Kevin sembari duduk pada salah satu kursi meja counter dapur.

Joonmyeon lalu bergerak menuju lemari pendingin dan mengeluarkan botol jus mangga. “Jus mangga? Kami tidak ada jus lainnya karena Appa hanya menyukai jus mangga dan aku tidak suka jus.”

Kevin mengangguk. “Tidak apa-apa.”

Kemudian Joonmyeon menuangkan jus mangga tersebut kedalam sebuah gelas dan menyodorkannya pada Kevin. Ia membawa gelas tehnya dan duduk disebelah Kevin.

Kevin memperhatikan Joonmyeon yang menikmati teh hijaunya. “Kau menyukai teh hijau?”

“Tidak bisa dibilang menyukai, tapi aku sering meminumnya.”

Kevin hanya mengangguk lalu meneguk jusnya sendiri. Lalu sunyi lagi. Well, Kevin benar-benar membenci situasi seperti ini. Walaupun ada begitu banyak yang ingin ditanyakannya, tapi mereka belum lama berkenalan selain itu mereka juga bertemu untuk kedua kalinya saat orangtua mereka masing-masing mengatakan akan menikah. Itu agak canggung.

Joonmyeon meneguk teh hijaunya lagi sebelum bicara, “Kevin, bisa aku bertanya sesuatu padamu?”

“Apa?”

“Selama makan malam tadi, kau selalu diam. Kau seperti tidak tertarik mengobrol atau bahkan sekedar menatap ibumu. Kenapa?” tanya Joonmyeon.

Kevin melirik Joonmyeon dan menarik nafas. “Tidak ada alasan khusus. Aku hanya lelah karena festival kemarin. Maaf, jika sikapku malam ini sangat tidak sopan.”

Joonmyeon menggeleng. “Ani, bukan itu maksudku. Aku bisa mengerti,” kemudian Joonmyeon kembali terdiam. Ia menatap gelas ditangannya. “Boleh, aku bertanya lagi?”

Kevin kali ini memandang Joonmyeon dengan serius. Joonmyeon menggigit bibirnya sebelum kembali bicara. “Kau tahu siapa yang sering melukis di kelas Seni di lantai dua yang menghadap kearah lapangan dimana kelas Musik sering latihan” tanya Joonmyeon dengan ragu.

Kevin hanya terdiam mendengar pertanyaan itu. Joonmyeon menatap Kevin dan tertawa canggung. “Maaf, jika pertanyaanku terdengar konyol. Tapi setiap kali aku berlatih di lapangan itu, aku sering –kali merasa ada seseorang yang memperhatikan kelas kami. Aku tidak tahu dia memperhatikan siapa, tapi…”

“Apa kau tahu siapa yang biasa melukis disana?”

Kevin kembali meneguk jusnya, sedikit terlihat bahwa ia kembali menghindari kontak mata dengan pemuda disebelahnya. Joonmyeon kembali menatap gelas tehnya. Sepertinya Kevin tidak ingin menjawab pertanyaannya. “Jika kau tidak ingin…”

“Apa kau benar-benar ingin tahu, Joon?” ucap Kevin.

Joonmyeon hanya mengangguk. Selama ini, dia sangat penasaran tapi Joonmyeon tidak tahu harus bertanya pada siapa. Dan kebetulan ia berkenalan dengan Kevin ditambah mereka akan menjadi saudara, jadi Joonmyeon bisa bertanya pada Kevin. Sedikit informasi tidak akan membunuhnya, bukan?

Kevin menghabiskan jusnya sebelum ia menatap Joonmyeon dengan intens. Well, itu sedikit membuat Joonmyeon tidak nyaman. Joonmyeon melirik Kevin dengan canggung. “Ke-kenapa memandangku begitu? Apa pertanyaanku membuatmu marah? Kalau begitu, tidak perlu…”

“Aku yang memperhatikanmu, Joon.”

Ucapan Kevin membuat Joonmyeon terdiam. Sontak tangannya terasa dingin walaupun gelas tehnya masih terasa hangat. Joonmyeon menatap Kevin dengan ekspresi tak terbaca. “A-apa yang kau katakan, Kevin?”

“Setiap kelasmu berlatih di lapangan itu, entah kenapa selalu bersamaan dengan kelasku melukis di lantai yang kau sebutkan. Saat itulah aku memperhatikanmu. Aku selalu memperhatikanmu dari jauh sejak pertemuan pertama kita secara tidak sengaja di ruang guru. Awalnya aku tidak merasakan apapun, tapi semakin lama aku memperhatikanmu…”

Joonmyeon sontak mengalihkan pandangannya. “A-ani. Jangan diteruskan, Kevin. Aku hanya ingin tahu siapa orangnya bukan…”

“Kau harus mendengar alasanku, Joonmyeon. Sebelum kita menjadi saudara tiri nantinya,” ucap Kevin lagi.

Joonmyeon menggigit bibir bawahnya. Tangannya terasa semakin dingin jadi dia menggenggam gelas teh dengan erat. Ia sangat tidak menyukai situasi ini. Joonmyeon hanya bertanya mengenai orang yang selalu memperhatikan saat kelasnya berlatih di lapangan. Dan ia sama sekali tidak menyangka bahwa Kevin malah memberikan pengakuan seperti ini. Kevin masih memandang Joonmyeon dengan serius.

“Aku menyukaimu, Kim Joonmyeon. Sejak awal aku masuk sekolah itu, aku menyukaimu. Dan aku tidak berharap kalau kita akan menjadi saudara. Tapi sepertinya Tuhan selalu mempunyai rencana yang berbeda, bukan?”

Joonmyeon tidak mengatakan apapun. Situasinya berubah menjadi sanga tidak terduga. Sedangkan Kevin kini menarik nafas panjang. Kemudian ia berdiri dari kursinya. “Aku akan pulang, terima kasih atas jus-nya. Kurasa, sampai bertemu lagi saat pernikahan, Kim Joonmyeon.”

Joonmyeon tidak bergerak sedikit pun saat Kevin pergi. Atau bahkan setengah jam setelahnya. Joonmyeon menarik nafas panjang dan menyingkirkan gelasnya kemudian merebahkan kepalanya diatas meja counter. Apa yang diucapkan Kevin terlalu tiba-tiba baginya. Bahkan rencana pernikahan ayahnya dengan ibu Kevin juga masih belum diterima oleh Joonmyeon.

Joonmyeon memejamkan matanya dan menarik nafas lagi. Ia baru saja berkenalan dengan Kevin, tapi pemuda itu sudah menyukainya sejak lama. Dan kini mereka akan menjadi saudara dalam waktu tiga minggu.

“Kau benar Kevin, Tuhan memang selalu mempunyai rencana yang berbeda.”

*****

NOTE: Well, seharusnya ngerjain teori buat skripsi tapi rasanya itu….

Ah, sudahlah. Maaf. Jarang-jarang sebulan bisa update sebanyak ini kan? Yah, mumpung lagi ada mood.

Dan Cho Kyuhyun, kamu dikasih makan apa sama Siwon sampe gendut begitu??? Gemes banget liatnya. Pengen bejek-bejek

Advertisements

55 thoughts on “[SF] Scarface Part 3

  1. woww cho ahra sadis juga langsung nampar haesa padahal baru bertemu hehe
    kyu sabar ya kan ada siwon kok.. walau masih belum ada apa2 sih dengan perasaannya..
    yaaahh kris sama suho mau jadi saudara?
    baru dua kali bertemu aja kris sdh nyatain perasaannya >_< malah buat suho bingung

  2. woww cho ahra sadis juga langsung nampar haesa padahal baru bertemu hehe
    kyu sabar ya kan ada siwon kok.. walau masih belum ada apa2 sih dengan perasaannya..
    yaaahh kris sama suho mau jadi saudara?
    baru dua kali bertemu aja kris sdh nyatain perasaannya >_< malah buat suho bingung

  3. Haesa harus di buat jera tuh
    Kasian kyuhyun nunggu 6thn di sia siakan
    Tindakan ahra ke haesa aq setuju
    Biar dia tau sakit tu pa rasanya

    Kevin n joonmyeon cinta terhalang orangtua tua
    Hehhehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s