[MM] The Last King Part 11 [2/2]

the president

Catch Me

Part 2

Presiden Lee membaca hasil laporan yang diberikan oleh Kepala Pengawas Park mengenai kondisi Hyde saat ini. Beliau menarik nafas panjang dan menatap bawahannya tersebut dengan lekat. “Mereka masih di Seorak?”

“Ne. Mereka baru saja sampai dan tidak mungkin memutuskan untuk kembali ke Seoul. Saat ini hanya Seungho, Siwon dan Haena yang melindungi mereka. Kami sedang mengusahakan untuk masuk kedalam area tersebut,” tutur Kepala Pengawas Park.

Presiden Lee mengangguk. “Aku pikir kita masih bisa bernafas lega. Jeonghyuk dan Seunghoon juga pergi bersama mereka. Tapi tetap usahakan agar ketiga Pangeran tetap aman. Hyde tidak akan bertindak gegabah jika mereka tidak mempunyai rencana yang matang.”

Kepala Pengawas Park menunduk patuh. Kemudian beberapa staff Cheongwadae memasuki ruangan dengan ekspresi cemas. “Pak Presiden, sudah waktunya.”

Presiden Lee lalu berdiri dan masih menatap Kepala Pengawas Park. “Terus lakukan kontak pada mereka. Dan kabari aku mengenai perkembangannya.”

*****

Henry tersenyum ketika bola putih itu melayang jauh dan mendarat hampir mendekati lubang golf. “Cheongwadae sudah meresponnya?”

“Ne, Mr. Hyde. Saat ini kami sudah memblokir akses masuk ke resort gunung Seorak. Bahkan para Pengawal Negara akan sulit memasuki area tersebut. Hanya saja, sepertinya ada beberapa orang yang berhasil masuk karena kedatangan mereka bersamaan dengan mobil Byunghee.”

Henry menatap Kim. “Ah, mereka pasti pengawal pribadi pangeran-pangeran itu. Tidak apa-apa. Kita tetap membutuhkan saksi mata, bukan? Lalu bagaimana rencananya?”

“Sepertinya mereka akan melakukan pendakian esok hari, jadi kami akan bergerak mengikuti waktu mereka. Selain itu, beberapa team sudah ditempatkan pada posisi mereka masing-masing.”

Henry mengangguk. “Kerja bagus, Kim. Dan aku mohon, jangan ada sampai yang terluka, okay? Kita tidak mau membuat Cheongwadae bertindak mendahului rencana, bukan?”

“Baik, saya mengerti, Mr. Hyde.”

*****

Tuan Kang memasuki ruang kontrol pengamanan di Paviliun. Semua orang sontak berdiri tegak menyambut kedatangan beliau. Tuan Kang menarik nafas dan menatap Kepala Pengawal Cha. “Bagaimana situasinya?”

“Mereka sudah sampai di resort dan ketiga Pangeran masih dalam pengawasan ketat. Kami terus melakukan komunikasi dengan Seungho,” tutur Kepala Pengawal Cha.

“Lalu bagaimana dengan profil teman-teman kuliah Pangeran yang pergi hiking? Kau sudah memeriksanya?” tanya Tuan Kang.

Kepala Pengawal Cha kemudian memberikan sebuah map berwarna hitam. “Ketiga orang yang pergi bersama mereka tidak memiliki latar belakang yang mencurigakan. Hanya saja, ada satu orang yang mungkin anda kenal, Pak.”

Tuan Kang mengernyit. “Siapa?” tanyanya sembari membuka dokumen tersebut. Ia membaca satu per satu profil dari teman-teman kuliah dua Pangeran. Tetapi ketika ia membuka lembar profil terakhir, Tuan Kang sangat terkejut.

Kepala Pengawal Cha menatapnya dengan ragu. “Kang Jaeshin adalah salah satu teman Pangeran Jonghyun. Dia adalah putri angkat, Anda.”

*****

Tuan Kang melemparkan map berwarna hitam yang diterimanya dari Kepala Pengawal Cha ke atas meja sesaat ia memasuki ruang perpustakaan. Kemudian ia mengeluarkan ponsel dan menekan nomor istirnya.

“Yeobo, hari ini Jaeshin pergi hiking, bukan? Dia pergi kemana? Bersama siapa?”

“Waeyo? Bukankah dia sudah mengatakannya padamu kalau dia pergi ke resort Seorak. Bersama Minho dan teman-temannya. Ada apa?”

Tuan Kang menghela nafas panjang dan menekan keningnya dengan kuat. “Ani, tidak apa-apa,” kemudian Tuan Kang kembali menekan sebuah nomor.

“Ne, Appa.”

“Kau pergi hiking ke gunung Seorak? Bersama Minho dan teman-temanmu yang lain?”

“Ne, kemarin aku sudah mengatakannya, bukan? Ada apa, Appa?”

“Apa salah satu teman yang ikut ada yang bernama Lee Jonghyun?”

“Ne, waeyo?”

Tuan Kang menghela nafas. “Ani, tidak apa-apa. Appa hanya bertanya. Lalu berapa lama kalian pergi?”

“Kurasa hanya tiga hari dua malam.”

“Jaeshin, besok malam kalian harus kembali ke Seoul, okay? Appa tidak bisa mengatakan alasannya saat ini. Tapi kau harus menuruti ucapan Appa, mengerti? Paling lambat kalian harus pulang besok malam.”

“Sebenarnya ada apa, Appa? Kenapa Appa terdengar cemas sekali? A-apa terjadi sesuatu? Pa-pada Eomma?”

“Ani. Tidak terjadi apa-apa. Tapi Appa mohon menurutlah, sayang. Besok kalian harus pulang, mengerti? Nanti Appa akan menghubungimu lagi.”

*****

Jaeshin menyimpan ponselnya dan meneruskan makan. Disaat ia, Minho dan Byunghee sedang makan malam, tiba-tiba saja Appanya menelepon dan berbicara dengan nada cemas. Tapi Jaeshin sendiri tidak mau berpikir mengenai hal buruk, bisa saja Appanya hanya sekedar khawatir.

Minho yang sedari tadi memperhatikannya, akhirnya bertanya, “Appamu?” Jaeshin mengangguk dan Byunghee sedikit melirik kearahnya. “Ada apa?” tanya Minho lagi.

Jaeshin mengangkat bahunya. “Tidak tahu. Sepertinya Appaku sangat cemas. Tapi tidak tahu karena apa. Dan kuharap tidak terjadi sesuatu pada Eomma.”

Minho mengangguk paham dan kemudian menghela nafas panjang. “Ini terlalu besar untuk kita bertiga,” ujarnya sembari memperhatikan bungalow yang disewa oleh Jaeshin.

“Mau bagaimana lagi, kupikir kita akan tinggal berenam. Tapi siapa sangka mereka malah menyewa bungalow lainnya. Tidak mungkin untuk ganti bungalow, Min,” ujar Jaeshin.

“Aku tahu. Tapi bagaimana dengan biaya sewanya? Jika kita berenam mungkin masih bisa, tapi jika bertiga? Ah….”

Byunghee menatap Minho. “Aku yang akan bayar setengah dari biaya sewanya.”

Sontak Jaeshin dan Minho menatap Byunghee. “Hey, tidak apa-apa kau membayar setengah? Rasanya tidak adil. Selain itu, kita pergi dengan mobilmu. Apa perlu biaya bensin atau…” ucapan Jaeshin terpotong karena Byunghee menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa-apa. Lagipula ini memang diluar dugaan bukan?”

“Maaf, Byunghee-ya. Liburan pertama kau bersama kami harus berakhir dengan kau mengeluarkan uang paling banyak,” sahut Minho.

“Sudahlah, jangan dibicarakan lagi. Kalau kubilang tidak apa-apa ya tidak apa-apa, Minho.”

*****

Di bungalow lainnya dimana ketiga Pengawal Negara bersama Jeonghyuk dan Seunghoon yang menjaga ketiga Pangeran terlihat cukup sepi. Jonghyun dan Donghae memilih untuk ke kamar setelah makan malam. Sepertinya Jonghyun masih cukup kesal dengan perubahan rencana yang tiba-tiba. Tapi hal itu memang tidak bisa dihindari. Sedangkan Jeonghyuk dan Seunghoon masih terus melakukan komunikasi dengan pihak Paviliun dan Kepengawalan Negara mengenai kondisi saat ini. Seungho dan Haena sedang bertugas untuk patroli diluar bungalow hanya untuk pengawasan standar.

Kyuhyun sendiri sedang sibuk membaca di ruang tengah. Tidak ada yang bisa dilakukan malam ini. Selain itu, mereka baru berencana melakukan pendakian besok, jadi mereka harus menyimpan tenaga. Setelah hampir satu jam, Kyuhyun melepaskan kacamata bacanya dan menaruh buku diatas meja.

Kyuhyun sedikit merenggangkan ototnya sebelum ia bangkit dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Disana ia melihat Siwon sedang fokus memperhatikan layar laptop. Kyuhyun memperhatikannya sejenak. “Sedang mengawasi situasi?”

Siwon mengangkat kepalanya. Ia tersenyum pada Kyuhyun dan mengangguk. Kyuhyun lalu mengambil gelas dan mengisinya dengan air. “Apa kondisinya begitu berbahaya hingga kalian melakukan perubahan rencana awal?” tanya Kyuhyun lagi dan kemudian ia meneguk habis minumannya.

“Kami tidak ingin mengambil resiko demi keselamatan kalian bertiga, Pangeran,” tutur Siwon.

Kyuhyun tanpa sadar mengerucutkan bibirnya. “Hey, kita hanya berdua. Ingat perjanjiannya, Siwon hyung?”

Siwon tertawa canggung. “Ah, maaf. Aku masih belum bisa beradaptasi. Kyuhyun-sshi…”

“Tidak pakai honorifik apapun, hyung. Kyuhyun, panggil aku begitu saja,” sahut Kyuhyun lagi.

Siwon tersenyum dan mengangguk. Kemudian ia kembali fokus dengan laptopnya. Sejauh ini belum ada pergerakan mencurigakan disekitar resort. Dan mereka juga cukup beruntung, pihak resort memberikan akses penuh pada semua kamera pengawas yang terpasang di wilayah resort tersebut.

Kyuhyun merasa penasaran dengan cara kerja para Pengawal Negara. Selama ini dia hanya melihat bagaimana semua orang terlihat begitu waspada, tapi ia tidak mengerti dengan tata prosedur keamanannya. Perlahan Kyuhyun mendekati dimana Siwon duduk untuk melihat apa yang tengah diawasi Siwon melalui laptopnya.

Kyuhyun kemudian berdecak kagum membuat Siwon menyadari bahwa sang Pangeran sudah berdiri disisinya. Sontak Siwon sedikit mengambil jarak karena wajah mereka terlalu dekat. “Kalian mendapat akses kamera pengawas resort?”

Siwon mengangguk. “Pihak resort sangat kooperatif,” tuturnya.

Kyuhyun tersenyum dan menarik nafas lega. “Aku memang tidak mengerti tapi aku tahu pekerjaan kalian sangat berat. Untuk karena itu, aku sangat berterima-kasih. Jonghyun dan Donghae hyung akan aman bersama kalian.”

“Kyu-Kyuhyun-ah… kau tahu, tugas kami adalah menjaga kalian bertiga. Bukan hanya Pangeran Jonghyun dan Pangeran Donghae saja,” ucap Siwon.

Kyuhyun mengangguk paham. “Aku tahu, tapi bagaimana pun mereka berdua adalah pangeran yang sebenarnya, bukan? Aku…? Aku bahkan tidak tahu identitasku sebenarnya. Jika aku memang seorang Pangeran, lalu hubunganku dengan Jonghyun dan Donghae hyung itu apa? Tidak ada seorang pun yang memberikan jawaban padaku.”

Siwon memperhatikan ekspresi Kyuhyun. Pemuda dihadapannya memang masih tersenyum, tapi Siwon bisa melihat perubahan ekspresi wajah serta perbedaan senyumannya. “Kau adalah seorang Pangeran, itu artinya kau adalah keluarga Pangeran Donghae dan Pangeran Jonghyun. Kalian berasal dari keturunan yang sama yaitu Pangeran Gyungho. Bukankah itu saja sudah cukup?”

Kyuhyun memandang Siwon. “Hyung benar. Aku adalah keluarga mereka. Sekali keluarga tetap keluarga, bukan?”

Siwon menatap Kyuhyun dengan lekat. Ia tahu betul apa yang diucapkan Kyuhyun barusan hanya sebagai pembelaan semata. Kyuhyun masih merasa bahwa ia bukanlah bagian dari keluarga Kerajaan karena identitasnya. Mungkin jika Presiden Lee menjelaskannya secara langsung semua kebingungan ini akan hilang. Tapi Siwon tahu kalau mereka harus menunggu hingga waktu yang tepat.

Kemudian Siwon memperhatikan gelang yang dipakai Kyuhyun. Rasanya ia juga pernah melihat gelang yang sama dipakai oleh Jonghyun. “Gelang itu…”

Kyuhyun melihat gelangnya. “Ah, Jonghyun yang membelikannya. Untuk kami bertiga.”

“Pangeran Donghae juga?”

Kyuhyun mengangguk. “Jonghyun membelikannya saat kami kabur ke Myeong-dong. Sejak hari itu aku tidak pernah melepaskannya.”

Siwon tersenyum. Yah, walaupun kejadian itu membuat semua orang panik tapi Siwon cukup senang melihat ketiga Pangeran itu bisa merasakan kebebasan walaupun hanya sebentar.

“Pergilah tidur, Kyuhyun. Besok kau akan mendaki, bukan? Istirahatlah,” tutur Siwon.

“Baiklah. Selamat malam, Siwon hyung,” kemudian Kyuhyun meninggalkan Siwon sendiri dan masuk ke kamarnya.

Sedangkan Siwon masih memandang kearah dimana Kyuhyun pergi. Ia menarik nafas panjang. “Selamat malam, Pangeran.”

*****

Keesokan paginya, mereka berangkat untuk mendaki setelah sarapan dan tentu saja Siwon, Seungho dan Haena terus mendampingi ketiga Pangeran walaupun dengan jarak sekitar tiga meter. Hal itu diminta khusus Jonghyun karena ia tidak ingin teman-temannya merasa canggung dengan keberadaan tiga pengawal. Selain itu teman-teman Jonghyun juga tidak mengetahui mengenai identitas Jonghyun, Kyuhyun dan Donghae yang adalah Pangeran. Jeonghyuk dan Seunghoon sendiri tetap berada di bungalow untuk memberikan perkembangan situasi di resort gunung Seorak.

Di musim dingin ada beberapa jalur pendakian yang ditutup karena berbahaya, jadi mereka hanya akan mendaki sampai batas yang diijinkan oleh pihak resort. Namun, walaupun jalur yang dilalui mereka cukup aman, tapi tetap melelahkan bagi Donghae yang bar pertama-kali mendaki. Beberapa kali Kyuhyun atau Jonghyun harus menunggu Donghae yang berjalan di paling belakang.

“Hae Hyung, kau masih bisa melanjutkan pendakian? Kau bisa turun terlebih dulu dengan Seungho-sshi,” tutur Kyuhyun.

Donghae tersenyum dan menggeleng. “Ani, aku tidak apa-apa. Terus berjalan, Kyu. Yang lain sudah jauh di depan.” Kemudian Donghae kembali berjalan. Namun Kyuhyun masih terlihat khawatir. Kyuhyun menatap kearah tiga pengawal dibelakangnya untuk beberapa saat sebelum menyusul Donghae.

Seungho menarik nafas. “Ini jalur pendakian yang terpanjang,” ucapnya.

“Ne, karena beberapa jalur yang lebih pendek biasanya berbahaya. Pihak resort selalu menutupnya disaat musim dingin seperti ini,” tutur Haena yang kemudian menoleh untuk melihat kondisi Siwon.

Haena tertawa kecil. “Pangeran Donghae ternyata masih lebih baik,” tukasnya.

Seungho ikut menoleh dan tersenyum. “Kurasa dia sama sekali tidak pernah mendapatkan pelatihan mendaki gunung saat di CIA.”

Haena menunggu Siwon sedangkan Seungho berjalan terlebih dahulu. Haena memperhatikan Siwon yang sepertinya sudah kelelahan. “Sunbaenim, cepat sedikit.”
Siwon mengatur nafasnya terlebih dahulu. Ia menatap Haena yang sepertinya senang sekali melihatnya kelelahan seperti sekarang. Kemudian ia mengibaskan tangannya sebagai isyarat agar Haena tidak perlu menunggunya.

“Arraseo, cepat menyusul, okay.”

Siwon hanya mengangguk dan Haena kembali berjalan. Siwon mengeluarkan botol minumannya dari tas dan meneguknya habis. Ini pertama-kalinya sejak terakhir kali ia mendaki gunung. Ah, bahkan Siwon tidak ingat kapan terakhir kali itu. Siwon selalu berpikir kalau setiap misinya di CIA adalah yang paling berat diantara pekerjaan serupa lainnya. Tapi mendaki gunung jelas adalah yang paling berat.

Siwon memperhatikan jam tangannya. Sudah hampir tiga jam mendaki dan mereka belum mencapai titik puncak pendakian. Selain itu, suhu juga semakin dingin dan menurut perkiraan cuaca akan turun salju. Mereka harus bergerak cepat jika tidak ingin terjebak salju saat turun nanti.

Siwon menarik nafas panjang. “Kau pasti bisa, Choi Siwon.”

*****

Seunghoon memberikan segelas kopi pada Jeonghyuk. Sahabatnya itu tersenyum dan meneguk sedikit kopi tersebut. Seunghoon lalu kembali duduk di sebelah Jeonghyuk yang masih memperhatikan rekaman kamera pengawas.

“Seungho sudah memberikan lokasi terbaru?”

Jeonghyuk mengangguk. “Mereka sudah sampai pada titik puncak pendakian. Selain itu tidak ada gerakan mencurigakan apapun,” tutur Jeonghyuk.

“Tapi sepertinya rencana ini tidak berjalan dengan baik. Kita kekurangan orang sedangkan Hyde bisa berada dimana saja di resort ini. Apa Kepengawalan Negara benar-benar tidak bisa masuk ke area resort?” tanya Seunghoon lagi.

Jeonghyuk menghela nafas. “Mereka masih berusaha untuk mencari jalan lainnya. Hyde bergerak lebih cepat dari apa yang kita duga. Kita cukup beruntung bisa masuk, Hoon.”

Kali ini Seunghoon mengangguk. Kemudian ia melihat kearah luar jendela. Langit berubah menjadi gelap, sepertinya salju akan segera turun. Yang terburuk mungkin akan terjadi badai salju sebelum mereka bisa pulang sore ini setelah ketiga Pangeran selesa mendaki.

“Hyuk, sebaiknya kau beritahu mereka untuk segera turun sekarang. Cuaca akan semakin memburuk,” tutur Seunghoon dengan nada khawatir.

Jeonghyuk ikut memperhatikan kearah luar jendela. “Ne, kurasa mereka harus segera turun.”

*****

Haena mendesah dan sedikit mendongak untuk melihat langit. “Arraseo, kami akan turun sekarang,” ucapnya melalui ear-piece pada Jeonghyuk yang berada di bungalow.

Kemudian ia menatap Seungho dan Siwon. Kedua Pengawal Negara tersebut bisa mengerti isyarat yang diberikan Haena. Seungho langsung mendekati Jonghyun dan mengatakan kalau mereka harus turun sekarang.

Jonghyun menatap Siwon dan Haena yang mulai bersiap untuk mengawal mereka. “Tapi kita baru sepuluh menit disini,” bisik Jonghyun.

“Cuacanya tidak mendukung, Pangeran. Kita harus kembali ke bungalow sebelum turun salju,” bisik Seungho.

Jonghyun menarik nafas panjang. Ia menatap Kyuhyun yang memperhatikan mereka. Kemudian Kyuhyun berjalan mendekat dan memandang Seungho. “Bawa Donghae hyung terlebih dahulu. Kami akan menyusul bergantian,” ucapnya.

“Tapi Pangeran Kyu…”

Belum selesai Seungho bicara, Kyuhyun langsung pergi menghampiri Donghae dan menyuruhnya untuk bersiap turun bersama Seungho. Donghae sontak menatap Seungho.

Seungho menghela nafas pendek. “Baiklah, tapi Siwon dan Haena akan tetap bersama kalian, Pangeran. Dan kumohon untuk berhati-hati.”

“Aku tahu, Seungho-sshi.”

Seungho lalu mendekati Donghae dan mengajaknya turun terlebih dahulu. Beruntung, Donghae tidak banyak protes dan mengikuti Seungho. Kyuhyun menatap Jonghyun. “Sepuluh menit lagi kau yang turun, Hyun,” ucapnya.

Jonghyun mengangguk. Kemudian ia bergabung dengan Minho, Jaeshin dan Byunghee. Minho menatap Jonghyun. “Kenapa sepupumu turun duluan?” tanyanya.

“Ah, dia hanya ingin turun duluan. Dia tidak begitu menyukai di tempat dingin,” tukas Jonghyun.

Byunghee sedari tadi terus memperhatikan gerak-gerik Jonghyun, Kyuhyun serta ketiga orang yang mendaki bersama mereka hanya tersenyum tipis. “Kurasa aku juga akan turun duluan.”

Sontak Jaeshin, Minho dan Jonghyun menatapnya bingung.

“Kenapa? Kita belum lama sampai. Lagipula kita belum berfoto,” sahut Jaeshin.

“Aku sudah kelelahan. Mungkin karena ini pertama-kalinya aku mendaki. Jadi, sekitar lima menit lagi aku akan turun. Kita bisa berfoto nanti, Jae,” tuturnya.

Jaeshin mendengus. “Hah, rasanya hiking kali ini tidak begitu menyenangkan. Selain hanya sedikit orang yang ikut, cuacanya benar-benar tidak mendukung.”

“Lalu ide siapa yang mengajak hiking disaat seperti ini, eoh?” tukas Minho.

*****

Jonghyun dan Byunghee berjalan bersama sedangkan Haena berjalan didepan mereka untuk memastikan jalur turun tidak berbahaya. Well, sesuai dengan keinginan Kyuhyun, Jonghyun turun setelah Donghae. Namun, Byunghee juga turun bersama mereka. Dan Kyuhyun akan turun sepuluh menit kemudian bersama Siwon. Jaeshin dan Minho akan menyusul setelah mereka puas berada di puncak.

Sesekali Haena menoleh kebelakang dan memastikan bahwa Jonghyun tetap aman. Jonghyun sendiri terlihat mengobrol dengan Byunghee. Haena tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya sesuatu yang berhubungan dengan musik –atau apapun itu.

Byunghee juga memperhatikan setiap gerak-gerik gadis yang berjalan didepan mereka. Minho dan Jaeshin mungkin tidak akan mempertanyakan kenapa dua orang –well, tiga dengan Seungho– selalu mengikuti kemana pun Kyuhyun dan Jonghyun pergi. Tapi Byunghee jelas mengetahui alasannya.

Byunghee melirik Jonghyun yang berjalan disebelahnya. “Kau mengetahui identitas kalian, Jonghyun.”

Jonghyun melirik Byunghee dengan ekspresi bingung. “Kau bicara apa? Identitas apa?”

Byunghee tersenyum. “Kalian bertiga adalah Pangeran, keturunan terakhir dari Pangeran Gyungho.”

Langkah Jonghyun terhenti. Ia menatap Byunghee dengan serius. Jonghyun tidak tahu bagaimana Byunghee bisa mengetahuinya. Bahkan walaupun Haena selalu mengikutinya kemana pun, ia berusaha agar Minho, Jaeshin dan teman-temannya di kampus tidak mengetahui yang sebenarnya. Tapi Byunghee…

Jonghyun memang merasa Byunghee selalu menyimpan sebuah rahasia. Pemuda itu menyimpan rahasia dengan sangat hebat.

Byunghee lalu menoleh dan tersenyum pada Jonghyun. “Bisa kita bicara? Tentu saja tanpa Pengawal-mu, Pangeran.”

Jonghyun menarik nafas dan kembali berjalan. Byunghee kini berjalan dibelakang Jonghyun sembari terus memperhatikan pemuda itu. Jonghyun menatap punggung Haena. “Kau ingin bicara mengenai apa, Byunghee?”

“Bukan permasalahan besar. Hanya mengenai Kerajaan dan beberapa hal. Oh, aku tahu kau tidak ingin saudaramu dilibatkan juga, bukan? Jadi, hanya kita berdua.”

“Kita bicara saat waktunya memungkinan, Byunghee.”

Byunghee tersenyum. “Ini waktu yang tepat, Pangeran. Setelah kita turun, para Pengawalmu akan membawa kalian kembali ke Seoul. Dan mungkin setelah itu kita akan kesulitan untuk bertemu lagi.”

Jonghyun terdiam. Byunghee jelas mengetahui mengenai rencana kepulangan mereka ke Seoul. Namun, Jonghyun masih tidak tahu darimana Byunghee mendapatkan informasi seperti itu. Keberadaan dirinya, Kyuhyun dan Donghae sebagai Pangeran masih dirahasiakan oleh Cheongwadae. Sepengetahuan Jonghyun, hanya orang-orang dalam Cheongwadae yang mengetahui rencana Pendirian Kerajaan. Apakah salah seorang dari Cheongwadae membocorkan informasi rahasia tersebut?

“Bagaimana kita bisa bicara, eoh? Kau lihat gadis didepan kita? Jika dia tidak melihatku mengikutinya maka…”

“Waktunya tidak akan lama, Pangeran. Kau bisa beralasan kita salah mengambil jalur karena terlalu fokus mengobrol. Di depan ada jalur lain, kau bisa berbelok disana. Lagipula jarak kita dengan pengawal muda itu cukup jauh,” sahut Byunghee.

Jonghyun masih menatap pemuda itu dengan lekat. Byunghee kembali tersenyum dan mengambil kalung dari leher Jonghyun. “Kurasa ini perlu ditinggal disini,” ucapnya sembari membuang kalung dengan bandul cincin tersebut. Byunghee kemudian berjalan terlebih dahulu di depan Jonghyun.

Jonghyun memperhatikan Byunghee yang mengambil jalur yang dia sebutkan. Suhu sudah semakin dingin dan salju juga turun semakin banyak. Jonghyun menatap punggung Haena yang sudah agak jauh di depannya namun masih menjaga jarak. Jonghyun menarik nafas panjang dan mengambil jalur yang sama dengan Byunghee.
Meninggalkan kalung miliknya di tanah begitu saja.

*****

Seunghoon mengernyit saat melihat sebuah titik merah di layar laptop sama sekali tidak bergerak dari posisinya. Sedangkan sebuah titik berwarna biru terus berjalan mendekati posisi dimana titik merah itu berada. Seunghoon memperhatikan layar laptop dengan serius. Namun, ketika titik biru itu melewati titik mereka begitu saja maka ia tahu ada sesuatu yang sama.

Seunghoon kemudian bergegas keluar bungalow. Jeonghyuk yang menyambut kedatangan Donghae dan Seungho berbalik karena Seunghoon datang seperti orang yang dikejar pencuri. Jeonghyuk menatap sahabatnya dengan lekat. “Kenapa?”

Seunghoon tidak menjawab pertanyaan Jeonghyuk. Ia malah menatap Seungho.

“Hubungi Haena dan Siwon! Konfirmasi keberadaan mereka sekarang!” perintahnya.
Seungho hanya menurut dan mencoba menghubungi salah satu dari rekan kerjanya tersebut. Jeonghyuk masih menatap Seunghoon dengan serius.

“Jeonghyuk, bawa Pangeran Donghae masuk ke kamar. Nanti akan kujelaskan,” ucap Seunghoon.

Jeonghyuk tidak berkata apapun dan mengajak Donghae yang memasang ekspresi bingung dengan situasi sekarang ini. Tapi ia bisa melihat bahwa Seunghoon sedang panik.

“Mwo?!!” seru Seungho yang menarik perhatian Seunghoon. Seungho menatap kakak dari Choi Siwon dengan khawatir. “Mereka kehilangan Pangeran Jonghyun. Haena dan Siwon sedang mencarinya.”

“Lalu Pangeran Kyuhyun?” tanya Seunghoon.

Seungho menarik nafas terlebih dahulu. “Siwon sudah meminta Pangeran Kyuhyun untuk kembali sendiri, tapi Pangeran bersikeras untuk mencari Pangeran Jonghyun,” tutur Seungho.

“Mencari Pangeran Jonghyun? Apa yang terjadi?”

Seunghoon menoleh dan mendapati Jeonghyuk sudah berdiri di depan pintu dengan wajah pucat. “Sepertinya Pangeran Jonghyun salah mengambil jalur. Haena dan Siwon sedang mencarinya. Pangeran Kyuhyun ingin ikut mencari,” jelas Seunghoon pada sahabatnya.

Jeonghyuk tidak menunjukkan perubahan ekspresi apapun. Wajahnya hanya semakin pucat, terlebih dengan suhu yang semakin turun. Jeonghyuk menarik nafas panjang. Jeonghyuk tahu bahwa ia harus bersikap tenang. Ia menatap Seungho dengan lekat.

“Katakan pada Siwon untuk mengirim Kyuhyun turun, Seungho. Aku akan naik,” tuturnya.

Mata Seunghoon membulat mendengar keputusan Jeonghyuk tersebut. Kemudian ia mengejar Jeonghyuk yang masuk kembali ke dalam bungalow. Jeonghyuk mengganti mantelnya dengan jaket tebal dan membawa beberapa peralatan dalam tas khusus. Ia mengabaikan Seunghoon yang berusaha bicara padanya.

“Apa yang mau kau lakukan, eoh? Salju semakin lebat, kau tidak bisa naik sekarang. Pihak resort sudah memberitahu bahwa jalur pendakian akan ditutup!!” seru Seunghoon.

Jeonghyuk menatap Seunghoon, “Anakku hilang diatas sana, Seunghoon!! Aku ingin mencarinya!!”

“Dia bukan lagi anakmu, Moon Jeonghyuk! Dia adalah seorang Pangeran. Jika kau ingin mencarinya maka biarkan aku yang pergi. Kau tidak mempunyai pengalaman apapun dalam situasi ini,” sahut Seunghoon.

“Apa maksudmu situasi ini? Hy-Hyde?!”

Seunghoon mengangguk. “Itu bisa saja. Kau adalah seorang staff Cheongwadae. Jika Pangeran Jonghyun memang hanya tersesat, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena Pangeran Jonghyun pasti bisa menjaga dirinya sendiri hingga team pencari diturunkan. Tetapi saat ini kita sedang berhadapan dengan Hyde. Mungkin saja hilangnya Pangeran Jonghyun saat ini adalah rencana mereka. Maka kau tidak akan bisa membantu. Biarkan aku dan Seungho akan naik. Jaga Pangeran Donghae disini. Aku akan membantu Haena dan Siwon mencari Pangeran Jonghyun sedangkan Seungho akan membawa Pangeran Kyuhyun turun. Kau bisa mengikuti rencana itu?”

“Lalu bagaimana dengan team pengawas di Cheongwadae dan Paviliun. Jika Jonghyun menghilang, maka…”

“Itu adalah tugasmu untuk menjaga rahasia ini. Berikan aku waktu tigapuluh menit. Jika kami tidak bisa menemukannya, maka kau harus mengirimkan kode merah,” ucap Seunghoon.

Jeonghyuk sangat membenci kode merah.

*****

“Jonghyun!!!”

Kyuhyun berteriak dengan seluruh tenaganya yang tersisa. Mereka sudah mencari selama sepuluh menit ketika ia dan Siwon bertemu dengan Haena yang sangat pucat. Setelah mendengar penjelasan Haena, Kyuhyun langsung bergerak untuk mencari Jonghyun. Walaupun Siwon menyuruhnya untuk turun terlebih dahulu, tapi Kyuhyun menolak. Ia harus menemukan saudaranya.

Kyuhyun merasa sangat putus asa. Ditangannya ia menggenggam erat kalung milik Jonghyun yang mereka temukan. Awalnya Siwon berencana mencari keberadaan Jonghyun melalui alat pelacak di kalungnya, tapi mereka malah menemukan kalung itu tergelatak diatas tanah. Terlebih salju turun semakin banyak.

Jonghyun-ah..

Kyuhyun memandang kearah Haena dan Siwon yang sama putus asanya seperti dirinya. Tapi bukankah mereka adalah Pengawal Negara? Adalah tugas mereka untuk menjaga mereka dan paling utama adalah Jonghyun karena dia adalah pewaris tahta Kerajaan. Rasa amarahnya tiba-tiba saja memuncak ketika fokus perhatiannya pada Haena. Gadis itu seharusnya menjaga Jonghyun, tapi kenapa dia bisa kehilangan Jonghyun dan Byunghee.

Byunghee?

“Apa kalian memeriksa latar belakang Jung Byunghee?” tanya Kyuhyun tiba-tiba.
Siwon dan Haena sontak menatap Kyuhyun dengan serius. Siwon sedikit melirik pada Haena. Dia ingat betul Haena bersikap sangat waspada ketika Byunghee berada di dekat kedua Pangeran.

“Kami memeriksanya dan tidak ada hal yang mencurigakan. Kecuali mengenai pamannya,” ucap Haena.

“Kalian melakukan penyelidikan lebih lanjut?” tanya Kyuhyun lagi. Kali ini Siwon bisa merasakan amarah Kyuhyun dalam setiap kata yang diucapkannya. Haena menggeleng.

Kyuhyun mengerang frustasi mendengar pengakuan Haena. Situasi kode biru sudah diberlakukan sejak Presiden Lee mengatakan pada mereka mengenai Hyde, seharusnya semua Pengawal Negara yang bertugas tetap waspada. Tapi Haena melakukan kesalahan dan itu membuat saudaranya hilang.

Siwon yang melihat Kyuhyun hendak melampiaskan amarahnya pada Haena segera menahan tubuh Kyuhyun. Walaupun sebenarnya kontak langsung pada anggota keluarga Kerajaan harus berdasarkan persetujuan, tapi Siwon harus bertindak cepat. Ia memegangi tubuh Kyuhyun.

“Pangeran Kyuhyun..”

Kyuhyun berusaha untuk melepaskan diri dari rangkulan Siwon. Ia benar-benar marah pada Haena. Kyuhyun mungkin selalu bertindak sesuai rasionalitasnya, tapi kini ia tidak bisa berpikir sesuai rasionalitas. Jonghyun hilang dan Byunghee mungkin saja….

“Siwon!!” terdengar suara Seunghoon.

Siwon menoleh keasal suara dan melihat Seunghoon datang bersama Seungho. Ia melepaskan Kyuhyun dan menatap kakak lelakinya. “Kalian belum menemukannya?”

Siwon menggeleng. Seunghoon mengumpat pelan dan memeriksa jam dipergelangan tangannya. Ia menarik nafas panjang dan kembali menatap Siwon. Dari ujung matanya, ia bisa melihat Haena yang terlihat bersalah. “Aku meminta waktu tigapuluh menit sebelum Jeonghyuk melaporkan kejadian ini. Masih tersisa limabelas menit. Kita menyebar untuk mencari keberadaan Pangeran.”

Siwon mengangguk mengerti dengan rencana kakaknya. Kemudian Seunghoon memandang Kyuhyun. “Pangeran Kyuhyun, anda harus kembali sekarang. Biarkan kami yang mencari Pangeran Jonghyun.”

“Ani! Aku akan tetap ikut!”

Well, Seunghoon mengingat jelas ucapan Jeonghyuk bahwa anak-anaknya sangat keras kepala. Ia melirik pada Seungho. “Saya tahu anda khawatir dengan keberadaan Pangeran Jonghyun. Tapi biarkan itu menjadi tanggung-jawab kami. Anda harus kembali sekarang. Pangeran Donghae mungkin kebingungan saat ini. Lagipula anda adalah prioritas.”

“Jangan bicara mengenai prioritas padaku. Semua orang selalu mengatakannya dan berusaha untuk melindungi kami. Tapi kalian tidak melakukan apapun. Bahkan Jonghyun hilang pun, kalian tidak tahu!!” seru Kyuhyun marah. Jelas sekali kemarahannya ditujukan pada Haena yang bertugas melindungi Jonghyun.

Seunghoon menarik nafas sekali lagi. “Kyuhyun-ah, ayahmu sangat khawatir saat ini. Kembali ke bungalow bersama Seungho akan membuatnya sedikit tenang. Salju semakin banyak dan kami tidak bisa membiarkanmu ikut dalam pencarian ini. Kembalilah ke bungalow. Tenangkan ayahmu.”

Kyuhyun terdiam ketika Seunghoon menyebut ayahnya. Kyuhyun bisa membayangkan betapa panik dan cemasnya ayahnya saat ini setelah mendengar Jonghyun menghilang. Tapi berdiam diri di bungalow tidak akan menghilangkan kecemasan ayahnya. Kyuhyun menatap Seunghoon dengan serius.

“Ani, aku akan tetap ikut. Appa, mungkin khawatir saat ini. Tapi rasanya tidak ada yang bisa kulakukan jika di bungalow. Aku akan tetap ikut mencari Jonghyun. Aku ini saudaranya. Aku juga seorang Pangeran. Maka ini adalah perintah!”

*****

Jeonghyuk terus menghitung waktu yang tersisa. Tinggal tiga menit tapi belum kabar apapun mengenai keberadaan Jonghyun. Seunghoon hanya memberi informasi kalau Kyuhyun menolak untuk kembali ke bungalow. Jeonghyuk sendiri tidak mungkin melarang jika Kyuhyun sudah bersikap keras seperti itu. Putranya pasti akan aman bersama para Pengawal Negara lainnya. Tapi Jeonghyuk mencemaskan bagaimana ia harus memberitahu pihak Cheongwadae mengenai kejadian ini.

Donghae yang juga berada diruang tengah memperhatikan Jeonghyuk dengan lekat. Ia tidak diberitahu ada masalah apa, tapi Donghae bisa merasakan telah terjadi suatu yang buruk. Donghae menarik nafas panjang. Semua orang selalu menutupi sesuatu darinya. Dan ia sangat membenci hal itu. Donghae bukanlah anak kecil yang tidak mengetahui apapun.

Kemudian terdengar suara bel pintu berbunyi. Jeonghyuk dan Donghae mendongak. Tapi ekspresi Jeonghyuk tidak menunjukkan perubahan apapun. Jadi, Donghae tahu siapapun yang menekan bel pintu bukanlah seseorang yang diharapkan oleh Jeonghyuk. Donghae lalu berinisiatif untuk membuka pintu.

Namun, ketika ia melihat Minho dan Jaeshin yang datang, Donghae mengernyit. “Ada apa?” tanyanya.

Minho terlihat ragu untuk bertanya, tapi Jaeshin menyuruhnya bicara. “Maaf Donghae-sshi, apa Jonghyun dan Kyuhyun sudah kembali?”

“Ani, belum. Kenapa?”

“Byunghee juga belum kembali. Padahal ia turun bersama Jonghyun, bukan? Lalu kenapa Jonghyun dan Kyuhyun juga belum kembali? Kami pikir mereka sudah sampai,” sahut Jaeshin.

Saat itu, Donghae mulai menyadari sesuatu. Ia menoleh kearah dalam bungalow dan menarik nafas. Donghae kembali menatap Minho dan Jaeshin. “Kalian jangan khawatir. Mereka pasti kembali. Tunggu saja di bungalow dan jangan pergi kemana-mana. Hujan saljunya semakin lebat. Mereka baik-baik saja.”

Saat itu Minho dan Jaeshin saling menatap. Walaupun mereka tidak yakin dengan ucapan Donghae, tapi pemuda itu mengatakannya dengan nada serius. Jadi, Minho dan Jaeshin memutuskan untuk kembali ke bungalow mereka. Sedangkan Donghae kembali berjalan menuju ruang tengah dimana ia melihat Jeonghyuk sedang berbicara dengan seseorang. Ekspresinya benar-benar serius.

Selesai bicara, Jeonghyuk lalu menatap Donghae dengan lekat. “Pangeran Donghae, situasi saat ini adalah kode merah. Kedudukan Anda berubah menjadi level satu.”

“Terjadi sesuatu, bukan? Pada Jonghyun dan Kyuhyun?” ucap Donghae.

Jeonghyuk mengangguk. “Pangeran Jonghyun telah menghilang.”

Advertisements

28 thoughts on “[MM] The Last King Part 11 [2/2]

  1. Aduhhh..knpa Jonghyun gmpang bnget terpengaruh dngn smua omongan orang baru itu sich.Bukankah dia yg pnsaran dngn identitas orang baru itu..shingga ia bgtu mudah mngikutinya.
    Ahhh..mg aj Jonghyun cpt kmbli dngn baik2 sj.
    Kyuhyun…yg sabar ya…!!!

  2. itu jonghyun kok mudah percaya sama byunghee sih,, malah makin rumitkan, mungkin hilangnya jonghyun merupakan peringatan dari hyde,,.. semoga mereka selamaaatt…
    d tggu bnget kelanjutannya!! 😉

  3. tuh kan bakal ada kejadian……… u_____u
    semoga setelah ini semua masih baik2 aja >< terserah byunghee nya mau ketangkep atau nggak yg penting pangeran bisa kumpul lagi ;;;;
    next chapter ditunggu~!

  4. Code red! Semoga hae ga ikut panik berlebihan..

    penasaran dg kesepakatan apa yg sedang dibuat oleh jonghyun n hyde.
    tp jujur… Entah knp dr awal sampai chap ini aq kurang suka dg sikap n sifat’a jonghyun…

    uda mulai tegang ni, Jd penasaran utk next chap..

  5. tuh kan..aku udh curiga pas Byunghee minta bicara berdua sma Jonghyun tanpa Haena,trnyata itu modus nya Byunghee .
    ckck
    aigoo smoga Byunghee ga ngapa2in Jonghyun dah,mksdnya kan dia ga bawa kabur ke Hyde ._.
    nd smoga Jonghyun bisa mengatasi situasi nya,jonghyun kan pinter :3
    yossh..smoga Jonghyun bisa ditemukan di chap depan nya.
    hoho
    -Shin SiHyun-

  6. mudah-mudahan Jonghyun baik-baik aja…
    Baby King Kyu~ hati-hati juga nyari Jonghyun. ntar malah dirimu yang terluka. andwae…

  7. Penasaran dengan apa yang akan dibicarakan Jonghyun dan Byunghee.
    Kemarahan Kyu terhadap hilangnya Jonghyun menunjukan betapa sayangnya Kyu terhadap Jonghyun.
    Ditunggu banget lanjutannya…..

  8. jonghyun….., kemana dirimu nak?? knp kau percaya sj dng perkataan byunghee? di bawa kemana tu anak? bikin pusing orang lain aja. babykyu kl marah cukup menakutkan jg ya, mudah2an jonghyun gak kenapa2 and segera di temukan. sabar babykyu…jonghyun pasti baik2 sj, siwon…haena…kalian hrs segera bertindak sebelum hyde bertindak terlalu jauh. eh…interaksi yg gak di sengaja antara wonkyu waktu lihat rekaman di laptop itu so sweet jg ya., he…he…he…

  9. Terlalu gampang terpengaruh jonghyun…hrusnya para pengawal juga bisa lebih waspada kejadian jg kn akhirnya :3

    ehem.. Sbnernya sih tadi nya ngarep klo kyuhyun yg hilang trnyata tidak hehe

  10. itu dibawa kemana sih jonghyun ?????? doh apa rencana hyde sebenarnya ?????? makin menegangkan weiiiiii….. bkin penasaran… huhuhuuuuu…..

    Choi_Chahyun

  11. penasaran ama pembicaraan jonghyun dan byunghee.semoga kyu dan para pengawal segera menemukan jonghyun.
    makin penasaran dengan ceritanya.ditunggu chapter selanjutnya ya.

  12. Aku bru nemu ni ff dan blog nie..
    Salam saya reader baru..
    Saya bacanya juga lonct2 habzz penasaran… jadi ijinkan saya baca ff2Y ne?
    Kapan ff nie.mw.dilanjut..
    Di tunggu next chapnya..

  13. Selalu keren..
    Makin penasaran campur was-was..
    Konfliknya makin ditingkatin lagi kak..
    Selalu ditunggu kelanjutannya..

  14. Gak tau karena efek baca nya malem…
    Atau aku yang kebiasaan baca di hape..

    Aku jadi kurang nge feel kalo bacanya via lappy…
    Aku nanggapi ceritanya entar dulu yaa… kurang fokus nih… mungkin perlua aku* :v #loh

    Tapi aku suka deh konflik sama ide ceritanya…
    Nyari satu pangeran… nemunya dua #mungkin
    Saudara angkat tapi ternyata diperkirakan kembar…
    dan yang pasti setingnya kerajaan gitu tapi bukan saengguk..
    aku paling suka itu ^^

    Nb: aku orang yang sama dengan yang dalam emailnya ada nomor 1315nya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s