[SF] Only One Epilog

Amiens

EPILOG

Joonmeyon memperhatikan rumah besar itu untuk terakhir kalinya. Selama hampir sepuluh tahun ia tinggal dirumah itu dan terlalu banyak kenangan yang ia tinggalkan jauh dibelakang. Kematian orangtua angkatnya bukanlah sesuatu yang diinginkan Joonmyeon. Kau tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya kehilangan orangtua yang merawatmu untuk kedua-kalinya. Joonmyeon berpikir bahwa Tuhan terlalu menyayanginya, hingga Ia membuat Joonmyeon hanya merasakan kebahagiaan yang singkat. Dan kemudian Tuhan akan mengirimkan kebahagiaan lainnya untuk Joonmyeon.

Joonmyeon menarik nafas panjang ketika seorang pria dengan pakaian formal keluar dari rumah lamanya dengan sebuah dokumen ditangannya. Joonmyeon menatap pria tersebut dengan lekat.

Pria itu tersenyum tipis pada Joonmyeon. “Masuklah, aku akan mengantarkanmu.”

“Apa aku tidak bisa berpamitan dulu? Pada paman dan bibiku?” tanya Joonmyeon.

Pria itu tidak menghilangkan senyumannya. Ia hanya membuka pintu mobil. “Masuklah, Joonmyeon.”

Joonmyeon mengerti. Ia menurut dan memanjat masuk kedalam mobil. Pria itu memutar dan memanjat masuk untuk duduk dikursi driver. Joonmyeon memasang seatbelt tanpa melepaskan pandangannya dari rumah tersebut.

Pria itu memandang Joonmyeon dengan lekat. Ia menyentuh kepala Joonmyeon dan mengusapnya lembut. “Kau akan mempunyai keluarga baru, Joonmyeon. Mungkin tidak sempurna, tapi ayah barumu akan berusaha memberikan kebahagiaan untukmu.”

Joonmyeon hanya mengangguk mengerti.

*****

Hal berikutnya yang disadari Joonmyeon adalah dia berada di sebuah kamar yang besar dengan segala funiture yang terlihat mewah. Joonmyeon menarik nafas perlahan. Kamar ini bahkan dua kali lebih besar dari kamarnya terdahulu. Joonmyeon memperhatikan seluruh bagian kamar, mulai dari meja belajarnya, lemari pakaian, beberapa rak besar dan terakhir tempat tidur besarnya.

Joonmyeon menyentuh tempat tidur barunya dengan sedikit ragu. Tapi ketika sensasi lembut itu terasa pada ujung jemarinya, Joonmyeon tersenyum.

“Kau menyukai kamar barumu, Joon?”

Sontak Joonmyeon menoleh dan mengangguk canggung. Seseorang itu berjalan masuk dan mendekatinya. Joonmyeon masih agak menunduk dan melirik orang dihadapannya. “Hey, aku ini adalah ayahmu sekarang. Jangan bersikap layaknya aku adalah atasanmu. Angkat kepalamu, Joon.”

Joonmyeon menggigit bibirnya. Ia baru mengenal orang yang menjadi ayah barunya selama dua minggu. Bahkan Joonmyeon tidak mempunyai keinginan untuk mendapatkan keluarga baru setelah kematian orangtua angkatnya.

“Joonmyeon…”

Orang itu memanggilnya dengan lembut. Kemudian Joonmyeon mengangkat kepalanya dan bertatap langsung pada seorang pria yang tersenyum padanya. “Choi Joonmyeon, itu nama barumu sekarang.”

“Ta-tapi aku menyukai Kim Joonmyeon,” ucap Joonmyeon pelan. Walaupun sepertinya terkesan kasar, tapi selama sepuluh tahun ia hidup sebagai Kim Joonmyeon.

“Aku tahu. Kau akan tetap memakai nama itu hingga lulus sekolah. Tapi ketika kau masuk universitas, nama Choi Joonmyeon yang akan terdaftar secara resmi. Paman Jungsoo akan mengurus beberapa dokumen ke sekolahmu nanti,” tutur Choi Siwon –yang kini menjadi ayah baru Joonmyeon.

Joonmyeon tahu bahwa ia tidak bisa menolak. Jadi, Joonmyeon hanya mengangguk. Siwon tersenyum dan mengusap kepala Joonmyeon –anak laki-laki barunya dengan lembut. “Ah, kau mungkin terbiasa memanggil Appa. Tapi Hyunsa bersikeras bahwa kau juga harus memanggilku Daddy. Jadi, untuk menghindari pertengkaran dengan adikmu, maka turuti saja keinginannya. Panggil aku dengan Daddy, okay?”

Sekali lagi, Joonmyeon mengangguk.

“Dad,” Siwon menoleh dan Hyunsa sudah berdiri diambang pintu kamar. “Kakek memanggilmu. Kurasa mengenai masalah Joonmyeon,” ucapnya.

Siwon mengangguk, kemudian ia kembali menatap Joonmyeon. “Rapikan barang-barangmu, Joon. Hyunsa akan membantumu,” Siwon kembali mengusap kepala Joonmyeon sebelum ia keluar.

Hyunsa menarik nafas dan menghampiri Joonmyeon yang masih belum berpindah dari posisinya. Hyunsa memandang Joonmyeon dengan lekat dan Joonmyeon sendiri terlihat tegang. Hyunsa tertawa kecil. “Jangan tegang begitu. Aku bukan tipe adik tiri yang suka menyiksa saudara angkatnya.”

Joonmyeon hanya tersenyum canggung. Hyunsa menghela nafas pendek. “Kita mungkin belum mengenal satu sama lain, tapi berhubung saat ini kita sudah menjadi saudara maka ada satu hal yang perlu kau ketahui.”

“Mengenai apa?” tanya Joonmyeon.

“Aku mengidap bipolar, lebih tepatnya Borderline Personality Disorder. Tidak cukup parah tapi sedikit merepotkan. Aku sedang menjalani terapi. Selain itu ada banyak hal yang harus kau ketahui mengenai keluarga kami. Ketika kau mengetahuinya, mungkin kau akan berpikir untuk kembali ke panti asuhan atau mungkin berusaha untuk menjauhiku. Tapi aku ingin kau berjanji satu hal padaku,” ucap Hyunsa.

Joonmyeon masih menatapnya dengan serius. Ia sedikit terkejut dengan pengakuan Hyunsa, tapi Joonmyeon tidak akan langsung menilai adik barunya hanya karena penyakit yang dideritanya saat ini. “Berjanji mengenai apa?”

“Jangan melakukan atau memikirkan rencana-rencana bodoh setelah kau mengetahui apa yang pernah terjadi di keluarga ini sebelum kau datang. Aku mengatakannya berdasarkan pengalaman.”

Dan Joonmyeon hanya bisa menatap Hyunsa dengan bingung.

*****

Tinggal di keluarga Choi, tidak banyak membawa perubahan bagi Joonmyeon. Walaupun ia merasakan ada perbedaan yang mencolok. Jika dulu Joonmyeon selalu pergi ke sekolah dengan bus, kali ini ia harus diantar dengan supir karena jarak rumah Choi cukup jauh dari sekolahnya. Dulu, Joonmyeon juga senang sekali pergi ke sebuah toko musik untuk mencoba beberapa piano disana –beruntung sang pemilik tidak keberatan– tapi sekarang dia bisa bermain piano di rumah barunya, karena Siwon membelikannya sebuah grand piano berwarna hitam elegan untuk hadiahnya setelah mendengar Joonmyeon memenangkan perlombaan musik.

Banyak dari teman-temannya mengatakan bahwa Joonmyeon selalu diliputi dengan keberuntungan. Terlebih setelah menjadi anggota keluarga Choi. Dulu, Joonmyeon hanya seorang siswa biasa yang tidak mencolok, tapi sekarang ia berubah menjadi perhatian semua orang. Ia tidak menyukainya tapi Joonmyeon tidak bisa menampik hal tersebut. Joonmyeon hanya berusaha untuk menjadi dirinya yang dulu. Tapi hal yang tidak disukainya, banyak dari teman-teman sekolahnya yang dulu mengacuhkannya kini berlomba-lomba untuk akrab dengannya.

Perubahan tidak selalu membawa dampak baik.

Joonmyeon menarik nafas panjang ketika melihat Hyunsa menunggunya di depan gerbang sekolah. Ia merasa sedikit tidak nyaman karena siswa lain memperhatikannya dan juga Hyunsa. Joonmyeon kemudian bergegas menghampiri Hyunsa.

“Kupikir hanya Han ajhusi yang menjemputku,” ucap Joonmyeon canggung. Ia sudah tinggal selama enam bulan, tapi masih merasa canggung dengan keluarga barunya.

Hyunsa tersenyum. “Hari ini jadwal terapiku. Aku ingin kau yang menemaniku.”

Mata Joonmyeon membulat. Setelah ia mendengar mengenai terapi yang dijalani Hyunsa, tidak sekalipun ia menghadiri sesi terapi itu. Walaupun Siwon dan Jungsoo beberapa-kali mengajaknya. Tapi Hyunsa selalu melarang.

Hingga hari ini.

“Ke-kenapa tiba-tiba mengajakku? Sebelumnya kau selalu melarangku untuk menghadiri sesi terapimu, kenapa sekarang kau ingin aku datang?” tanya Joonmyeon.

Hyunsa mengusap kepala Joonmyeon. Walaupun sebenarnya Joonmyeon sebulan diatas usia Hyunsa, tapi ia selalu merasa bahwa Hyunsa-lah yang menjadi kakak. Hyunsa selalu menjaganya, terlebih ketika Joonmyeon menjalani masa adaptasi di keluarga Choi. Terutama dari Choi Songjoo yang sebenarnya tidak menyetujui keputusan Siwon.

Tapi lambat laun, sikap Kakek Choi mulai berubah pada Joonmyeon. Bahkan Joonmyeon merasa tekanan yang begitu besar –menjadi salah satu pewaris Hyunwon Group bersama dengan Hyunsa.

“Karena dulu aku tidak siap. Masa awal terapiku sangat buruk. Aku tidak mau kau menjadi takut padaku setelah melihat diriku yang sebenarnya. Untuk itu aku mencoba untuk memperbaiki diri hingga aku siap. Jadi, kau mau ikut denganku atau tidak?”

Entah apa yang dipikirkan Joonmyeon saat itu. Tapi ia hanya mengangguk.

*****

Joonmyeon terkejut melihat Siwon sedang menegak wisky di dapur saat ia hendak mengambil minum. Siwon yang menyadari keberadaan putranya hanya tersenyum setelah ia meletakan gelas kedalam wastafel.

“Ada apa Joon?”

“A-aku ingin mengambil minum,” ucap Joonmyeon sembari berjalan menuju lemari pendingin. Ia mengeluarkan botol besar dan hendak mengambil gelas. Tapi Siwon sudah menyodorkan satu padanya.

Joonmyeon mengambil gelas tersebut dan menuangkan air hingga setengah. Ia buru-buru meneguknya habis dan mengembalikan botol besar tersebut kedalam lemari pendingin. Ia tahu bahwa Siwon memperhatikannya. Dan Joonmyeon ingin cepat-cepat kembali ke kamar. Melihat Siwon dengan botol wisky artinya ayah angkatnya sedang stress –itulah menurut Hyunsa. Mungkin karena pekerjaan. Jadi, Joonmyeon tidak ingin menganggunya.

“Joonmyeon…”

Panggilan Siwon membuat langkah Joonmyeon terhenti. Ia baru akan meninggalkan dapur, tapi harus menahan diri dan berbalik menatap ayahnya. “Ya, Dad?”

“Apa saja yang sudah kau ketahui mengenai keluarga ini?” tanya Siwon.

Joonmyeon sedikit mengernyit. Sedikit aneh karena Siwon-lah yang lebih banyak menceritakan padanya mengenai keluarga Choi. Bukankah seharusnya Siwon sudah tahu apa yang diketahuinya?

“Tidak banyak. Hanya sedikit mengenai perusahaan, mendiang istri Daddy, Paman Jungsoo dan Paman Woon. Lalu mengenai Hyunsa,” jawab Joonmyeon pelan.

Siwon tersenyum. Kemudian ia menarik sebuah kursi di meja counter dapur dan menyuruh Joonmyeon untuk duduk disampingnya. Joonmyeon tidak punya pilihan walaupun ia bisa saja beralasan ingin kembali ke kamar dan meneruskan mengerjakan tugas. Tapi entah mengapa ada sesuatu dari sorot mata ayahnya yang membuat Joonmyeon selalu menurut patuh.

Siwon masih tersenyum dan mengusap lembut kepala putranya. “Daddy tidak tahu apakah kau siap mendengarkan mengenai cerita ini. Tapi Daddy rasa akan sangat tidak nyaman melihat kau terus melihat Daddy dalam kondisi seperti ini tanpa mengetahui apapun.”

Joonmyeon mengernyit. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang diucapkan Siwon. Kemudian Siwon menarik tangannya. Ia masih tersenyum. Joonmyeon menarik nafas. “Apa yang Daddy ingin ceritakan?”

“Cerita mengenai Choi Siwon dan Cho Kyuhyun.”

*****

Joonmyeon menghentikan permainan pianonya ketika ia melihat Hyunsa pulang dengan tas besarnya. Hyunsa bermain bisbol –lagi. Hyunsa pernah mengajak Joonmyeon untuk bermain bisbol bersama dan hanya dalam beberapa bulan ia sudah cukup pandai bermain. Walaupun sekarang ini, Joonmyeon lebih terfokus pada pelajarannya. Ujian sudah semakin dekat. Joonmyeon menarik nafas dan mengikuti Hyunsa menuju dapur. Ia memperhatikan Hyunsa yang mengeluarkan botol minuman.

“Ada yang ingin kau katakan Joonmyeon?” tanya Hyunsa.

“Habis dari lapangan lagi?” Hyunsa mengangguk. Joonmyeon menghela nafas. “Ujian universitas sebentar lagi, Hyun. Kau seharusnya belajar.”

“Aku tahu,” Hyunsa meneguk habis minumannya. “Tapi aku butuh bisbol untuk melepaskan stress. Dan sepertinya kau tertarik untuk bermain bisbol juga.”

“Aku harus belajar.”

Hyunsa menatap Joonmyeon dengan lekat. Kemudian ia tersenyum lirih. “Harapan Kakek terlalu besar padamu. Maaf, karena ini juga bagian kesalahanku.”

Joonmyeon menggeleng. “Tidak apa-apa. Jadi, Cambridge University?”

Hyunsa tertawa kecil mendengarnya. “Jangan bercanda. Itu levelmu, bukan levelku. Lagipula aku berniat kabur ke Kanada.”

Joonmyeon membulatkan matanya. “Kanada? Kau mengirimkan aplikasi pilihan universitasmu ke Kanada? Apa sudah mendapat responnya?”

Hyunsa tersenyum dan mengangguk. “Aku tidak bisa ke Kanada sekarang ini, jadi mereka akan melakukan ujian di kantor kedutaannya. Maaf, aku harus meninggalkanmu di Seoul.”

“Sudah kubilang tidak apa-apa. Lagipula Universitas Seoul sudah membuatku kewalahan,” tutur Joonmyeon.

“Aku yakin kau pasti bisa, Joon.”

Joonmyeon tersenyum. Lalu ia teringat pada cerita Siwon dua minggu lalu. Joonmyeon sudah bertanya pada Jungsoo mengenai hal tersebut dan kini ia hanya ingin mendengarnya dari Hyunsa. “Hyunsa…”

“Ya?”

“Aku ingin tahu, kenapa Daddy tidak menikah lagi setelah kematian ibumu?” tanya Joonmyeon sedikit berhati-hati. Ia tidak mau membuat Hyunsa marah hanya karena pertanyaannya.

Jika Hyunsa tidak mau menjawab, maka Joonmyeon tidak akan memaksanya. Ia sengaja menanyakan alasan kenapa Siwon tidak menikah lagi setelah kematian istrinya, agar Joonmyeon melihat reaksi Hyunsa terlebih dahulu sebelum ia menanyakan mengenai seseorang yang diceritakan Siwon dan Jungsoo sebagai mantan kekasih ayahnya.

Hyunsa terdiam dan memandang Joonmyeon dengan lekat. “Kau sudah mengetahuinya, bukan?”

“Apa?”

“Mengenai Cho Kyuhyun. Daddy yang menceritakannya padamu?” Joonmyeon terkejut. Joonmyeon tidak tahu bagaimana Hyunsa bisa mengetahui maksud pembicaraan ini tapi ia mengangguk membenarkan ucapan Hyunsa.

Hyunsa menarik nafas. “Apa yang ingin kau ketahui dariku, Joon? Jika Daddy sudah memberitahumu, maka itulah yang terjadi. Aku tidak akan mengatakan apapun.”

Hyunsa marah dan Joonmyeon bisa melihatnya. “Aku tidak akan bertanya lagi. Jangan marah padaku.”

“Aku tidak marah, Joon. Aku hanya tidak ingin membicarakannya lagi. Kumohon mengertilah,” tutur Hyunsa dengan tenang.

Joonmyeon mengangguk. “Aku mengerti dirimu, tapi aku tidak bisa mengerti Daddy. Daddy selalu saja tersenyum, bahkan ketika sorot matanya terlihat kesedihan. Itu tidak baik, Hyunsa. Aku perlahan bisa mengerti keluarga ini, dirimu, Kakek, Paman Jungsoo. Tapi aku tidak bisa mengerti Daddy. Terkadang aku merasa kasihan melihat Daddy. Kau tidak berniat…”

Hyunsa lalu mendekati Joonmyeon dan memandangnya lekat. “Joon, ingat janji padaku di hari pertama kau datang di rumah ini?”

Joonmyeon mengangguk cepat. “Kalau kau ingat, maka seharusnya kau tahu untuk tidak berbuat apapun. Daddy… aku juga tidak bisa mengerti dirinya. Daddy memang sedikit berubah sejak itu, tapi aku tidak akan membicarakannya lagi. Dan kau juga akan melakukan hal yang sama. Demi Daddy. Selain itu, aku tidak berniat mengubah keputusanku dalam waktu dekat ini.”

Saat itu, Joonmyeon tahu bahwa ia tidak setuju dengan Hyunsa.

*****

“I’m a gay,” ucap Joonmyeon pelan saat ia membantu Hyunsa mengepak pakaian.

Dua hari lagi Hyunsa akan berangkat ke Kanada. Dan untuk mengurangi berat beban bagasi, beberapa koper akan dikirimkan besok. Kemudian disaat mereka sedang sibuk, Joonmyeon mengaku pada Hyunsa.

Hyunsa yang sedang memasukkan beberapa buku kedalam kotak kini memperhatikan Joonmyeon dengan lekat. Joonmyeon sendiri tidak berani menatap langsung pada adiknya. Terkadang Joonmyeon mendapati Hyunsa bisa sangat mengintimidasi bahkan hanya dengan kontak mata.

“Oh,” Hyunsa merespon. “Wu Yifan?”

Joonmyeon mengangguk. Ia pernah mengenalkan Yifan –tetangganya dulu saat di rumah Kim, tapi Yifan sedang kuliah di China– pada Hyunsa. Dan Joonmyeon tahu bahwa Hyunsa sedikit menaruh curiga. Hyunsa menarik nafas dan menutup kotak tersebut. Kemudian ia duduk disebelah Joonmyeon yang sedang duduk dilantai dengan bersandar pada tempat tidurnya.

“Well, aku hanya berharap mempunyai saudara yang ‘normal’. Tapi aku tidak bisa, bukan?”

Joonmyeon menatap Hyunsa. “Apa aku tidak ‘normal’?”

Hyunsa tertawa. “Lalu apa aku ‘normal’? Sebelum kau datang, aku sudah pernah mengalami situasi seperti ini. Dua kali. Dan aku berakhir harus mengikuti sesi terapi setiap minggu. Itu tidak normal, Joon.”

“Jadi?”

“Apa kau merasa bahagia?” Joonmyeon mengangguk. “Maka kau tahu jawabannya, Joonmyeon.”

Joonmyeon mengernyit. Jika Hyunsa bisa mudah menerima bahwa ia juga seorang gay, kenapa Hyunsa tidak bisa menerima Siwon? “Kau tidak bisa melakukan hal yang sama? Untuk Daddy? Maaf, jika aku kembali membicarakannya lagi.”

Hyunsa menarik nafas. “Kau tidak akan berhenti, bukan?”

Joonmyeon menggeleng. “Pikirkan lagi, Hyunsa. Setidaknya biarkan Daddy bertemu dengannya.”

*****

Joonmyeon menatap Jungsoo dengan memelas. Pamannya itu hanya bisa menghela nafas, karena Joonmyeon pandai sekali mengatur ekspresinya. Jungsoo memijat keningnya dengan keras. “Joon, kau tahu apa yang kau minta dari Paman, bukan?”

Joonmyeon mengangguk. “Ayolah, Paman. Aku hanya ingin tahu dimana keberadaannya. Aku tidak mengetahui kejadian sebelumnya, tapi Daddy…” ucapan Joonmyeon terhenti.

“Siwon tidak akan menyukai apa yang kau lakukan, Joon. Kau tahu kenapa sampai hari ini Siwon tidak pernah menyebut namanya atau mencari keberadaannya?”

Joonmyeon menggeleng.

“Itu karena Siwon menginginkan dia pergi untuk menenangkan dirinya. Siwon yakin suatu hari dia pasti kembali. Tapi Siwon tidak ingin memaksanya atau bahkan mencari tahu dimana keberadaannya.”

Joonmyeon tidak memberikan reaksi apapun. Sepertinya ucapan Jungsoo ada benarnya. Tapi Joonmyeon sekali lagi merasa tidak setuju pada Pamannya. Jadi, ia kembali menatap Jungsoo dengan memohon. “Paman Jungsoo…”

Jungsoo mendesah pelan. Ia mengusap wajahnya. Kini ia benar-benar tidak bisa terlepas dari pengaruh Joonmyeon. “Baiklah. Paman akan mencari tahu, tapi hanya kau yang boleh mengetahui hasilnya. Kau tidak boleh mengatakannya pada siapapun mengerti?”

Joonmyeon tersenyum.

*****

Ulang tahun pertama Joonmyeon di keluarga Choi, ia diperkenalkan secara resmi kepada seluruh pegawai perusahaan serta relasi Hyunwon Group sebagai putra Choi Siwon. Namun, ulang tahun kedua Joonmyeon, ia diperkenalkan sebagai salah satu ahli waris Hyunwon Group dengan secara resmi. Rasanya lebih mewah karena Siwon –oh tunggu, Kakek Choi yang mengusulkan untuk mengadakan sebuah pesta di sebuah hotel mewah –acara tahun sebelumnya hanya di sebuah hall besar perusahaan. Joonmyeon sedikit merasa tidak nyaman karena Hyunsa masih di Kanada dan tidak bisa datang. Biasanya jika Joonmyeon harus datang ke acara perusahaan atau semacamnya, Hyunsa selalu menemaninya. Walaupun Joonmyeon sudah hampir dua tahun berada di keluarga Choi dia masih belum bisa beradaptasi –terutama mengenai publisitas.

Setelah acara utama yakni tiup lilin –well, bagaimana pun ini adalah pesta ulang tahun, bukan?– Joonmyeon sedikit menghindari keramaian. Kebanyakan tamu yang datang ada relasi keluarga dan perusahaan. Joonmyeon tidak mengenal mereka, kecuali beberapa pegawai perusahaan yang cukup dekat dengan mendiang orangtua Kim-nya.

Joonmyeon tersenyum tipis ketika ia membaca pesan singkat Hyunsa dan Yifan. Walaupun mereka tidak bisa datang, hanya dengan sebuah pesan Joonmyeon sudah merasa senang.

“Hyunsa sudah menghubungimu, Joon?”

Joonmyeon berbalik dan menatap Siwon yang berdiri dibelakangnya. Ayahnya tersenyum. Joonmyeon ikut tersenyum dan mengangguk. “Dia bilang untuk menghindari minuman diatas meja. Usiaku mungkin duapuluh tapi dia tidak mau aku belajar minum sekarang ini,” tutur Joonmyeon.

Siwon mendekatinya. “Kau mungkin akan menikmati minuman pertamamu saat berusia duapuluh lima tahun.”

Joonmyeon kembali tersenyum dan menyimpan ponselnya pada saku jasnya. Siwon menarik nafas panjang dan memperhatikan putra angkatnya. “Kau belum lama tinggal bersama kami, tapi rasanya kau sudah tumbuh sangat besar.”

“Dad, usiaku saat masuk keluarga Choi adalah delapanbelas tahun. Ini sudah hampir dua tahun, tentu saja aku semakin besar,” sahut Joonmyeon dengan sedikit tertawa.

“Yeah, itu benar. Walaupun sebenarnya kau harus menunggu setahun lagi untuk bisa menikmati hadiahmu sendiri,” ucap Siwon.

Tawa Joonmyeon terhenti. Ketika Siwon mengatakan hadiah dan setahun lagi, ia mempunyai banyak asumsi mengenai hadiah mewah yang akan ia dapatkan. Joonmyeon bukan tidak menyukainya, hanya saja hadiah yang diterimanya selalu melebihi ekspetasinya.

“Daddy…”

Siwon tersenyum dan mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya. Sebuah kunci mobil. “Kau lihat mobil yang diantar pagi ini?” Joonmyeon mengangguk sebagai jawabannya. “Itu adalah mobil barumu. Han Ajhussi akan mengantarkanmu ke kampus dengan mobil itu. Setelah kau belajar dan mendapatkan lisensi tahun depan, kau bisa menyetir sendiri.”

Mulut Joonmyeon terbuka lebar. Hell, no. Mobil yang tadi pagi diantarkan oleh petugas showroom adalah Audi RS 7 Sportback berwarna hitam elegan yang begitu cantik. Dan setiap Joonmyeon pergi ke kampus –atau kemana pun– akan diantar dengan mobil itu?

“Bu-but Dad, Hyunsa bahkan belum mendapatkan mobil pertamanya. A-aku bahkan bukan…”

“Jangan mengatakan kau bukan putra Daddy, Joon,” ucap Siwon menyela ucapan Joonmyeon.

Sejak diangkat keluarga Choi, jika Joonmyeon mendapatkan hadiah mewah, bukan hanya dari Siwon tapi anggota Choi yang lain, Joonmyeon terkadang menggunakan alasan dia hanya sebagai putra angkat Choi dan tidak pantas menerima hadiah-hadiah mewah tersebut. Yang kemudian membuat Siwon marah.

“Kau adalah putra Daddy, Choi Joonmyeon. Hyunsa akan mendapatkan mobil pertamanya jika ia sudah pulang nanti. Selain itu, Daddy ingin memberikan yang terbaik untuk putra Daddy, apa itu berlebihan?” ujar Siwon.

Joonmyeon sedikit menunduk. “Maaf, Dad. Tapi aku terkadang merasa tidak nyaman dengan hadiah mewah itu. Aku tidak terbiasa mendapatkannya dengan mudah.”

Siwon mengusap rambut Joonmyeon. “Kau akan terbiasa, Joon. Suatu hari kau harus terbiasa dengan semua hal yang tidak pernah kau temui sebelumnya.”

“Karena aku adalah pewaris Hyunwon Group?” ucap Joonmyeon pelan.

“Bicara dengan suara tegas, Joon. Banggalah pada dirimu saat ini. Walaupun semua orang mengatakan bahwa kau cukup beruntung karena diadopsi oleh keluarga Choi, tapi percayalah kau harus berusaha sendiri untuk mencapai posisi tertinggi. Apa yang akan kau raih tergantung dari seberapa besar usahamu, Joon. Dan saat ini, dengan semua hadiah yang Daddy berikan, itu adalah reward kerja kerasmu selama ini. Apa kau mengerti?”

Joonmyeon mengangkat kepalanya, menatap Siwon. Kemudian ia mengangguk.

Siwon tersenyum lagi. “Itu baru Choi Joonmyeon, putra keluarga Choi.”

*****

“Selamat ulang tahun untukmu, Joon,” ucap Jungsoo sembari menyodorkan sebuah map coklat pada Joonmyeon.

Joonmyeon menatap map itu dan mengambilnya. Ia memandang Jungsoo yang tersenyum. Sepertinya ini adalah kabar baik. Joonmyeon kemudian membuka map tersebut dan membaca apa yang tertulis di kertas tersebut.

“Toronto?” seru Joonmyeon.

Jungsoo mengangguk. “Ia baru dipindahkan dari Paris sekitar tujuh bulan lalu. Maaf, jika terlalu lama untuk memberikan hadiah ulang tahunmu, Joon.”

Joonmyeon lalu memeluk Jungsoo dengan erat. “Terima kasih, Paman Soo.”

Jungsoo menepuk punggung Joonmyeon lembut. “Lakukan dengan baik. Dan jangan sampai membuat Hyunsa atau Daddy-mu marah. Paman mungkin tidak bisa membantu lebih banyak dari ini.”

“Tidak apa-apa, Paman Soo. Bahkan bantuan Paman berikan ini jauh lebih dari cukup untuk membantuku. Terima kasih.”

*****

Sejak kecil, Joonmyeon selalu diajarkan untuk membalas kebaikan yang ia terima dari orang lain. Oleh karena itu, Joonmyeon ingin sekali membalas kebaikan Siwon karena telah membawanya kedalam keluarga yang begitu luar biasa. Walaupun sebenarnya ia tidak begitu yakin, tapi Joonmyeon tidak mempunyai pilihan. Ia hanya ingin mempertemukan Siwon dengan Kyuhyun.

Hanya sebuah usaha kecil atas semua kebaikan besar yang diberikan Siwon padanya. Mungkin Joonmyeon akan membalas kebaikan lainnya di masa depan, tapi untuk saat ini Joonmyeon hanya ingin melihat Siwon benar-benar tersenyum. Walaupun akhirnya malah membuat Yifan dan Hyunsa marah atas perbuatannya. Tapi itu adalah resiko kecil yang harus diterimanya.

Namun hal yang terjadi berikutnya, Joonmyeon mendapatkan kebahagiaan lainnya. Senyuman Siwon dan sebuah pelukan ayahnya. Joonmyeon bahkan hampir menangis ketika Siwon mengucapkan terima kasih tanpa henti padanya dan bahwa Joonmyeon adalah sebuah anugerah terbesar untuknya selain Hyunsa. Hanya saja, Joonmyeon sedikit merasa bersalah pada adiknya. Tapi ia malah mendapat sebuah usapan lembut dikepalanya. Hyunsa jarang sekali melakukan hal seperti itu padanya. Dan ketika Joonmyeon melihat senyuman Hyunsa, ia tahu bahwa apa yang dilakukannya tidak membuat saudaranya marah.

Selama empat tahun, rasanya hari dimana Kyuhyun kembali dari Toronto adalah hari paling bersejarah bagi Siwon –dan juga Joonmyeon. Walaupun pada hari berikutnya, sang Kakek sangat marah pada Joonmyeon atas apa yang dilakukannya demi mempertemukan Siwon dan Kyuhyun. Bahkan Siwon saja tidak bisa membelanya. Tapi Joonmyeon cukup beruntung karena Hyunsa berdiri disampingnya dan mengatakan bahwa ia juga ikut turut campur tangan dengan rencana Joonmyeon. Well, pada akhirnya mereka berdua harus dikenakan hukuman oleh sang Kakek. Tapi nyatanya hal itu tidak menghalangi pernikahan Siwon dan Kyuhyun.

Dan hari ini adalah hari bahagia untuk Daddynya.

*****

Joonmyeon tersenyum melihat Kyuhyun yang sedang merapikan jas putihnya. Kyuhyun yang melihat refleksi Joonmyeon dari cermin besar dihadapannya juga ikut tersenyum tipis. “Kenapa? Apa aku terlihat aneh dengan jas ini?”

Joonmyeon menggeleng. “Ani, hyung… Ah, Appa terlihat tampan,” ujar Joonmyeon.

Kyuhyun tertawa kecil dan berbalik. “Appa? Kupikir kau akan bersikap sama seperti Hyunsa yang menggodaku dengan panggilan Mommy.”

“Aku ingin melakukannya, tapi aku tidak berani,” tukas Joonmyeon sembari menghampiri Kyuhyun. “Daddy tidak akan senang jika pendamping hidupnya selalu diejek oleh anak-anaknya. Well, kurasa cukup empat tahun saja aku melihat Daddy menjalani hidup tanpa kebahagiaannya.”

Senyuman Kyuhyun menghilang. Ia telah mendengar cerita mengenai kehidupan Siwon setelah kepergiannya ke Paris dari Jungsoo sekitar sebulan lalu saat pengacara itu kembali dari Tokyo. Nyatanya, hidup Siwon tidak jauh berbeda dengan hidup Kyuhyun. Mereka masih saling mencintai dan merindukan tapi tidak bisa bertemu atau sekedar berbicara.

“Ucapanku membuat Appa sedih, ya?” ujar Joonmyeon tiba-tiba. Ia mengetahui perubahan ekspresi wajah Kyuhyun setelah ucapannya barusan.

Kyuhyun menggeleng. “Tidak ada yang sedih, Joon.”

Sebelum Joonmyeon sempat bicara lagi, pintu ruangan itu terbuka. Hyunsa muncul dari balik pintu dengan dress putihnya. Kyuhyun dan Joonmyeon menatapnya dengan lekat. Hyunsa menarik nafas pendek. “Joon, Yifan mencarimu.”

Joonmyeon mengangguk. Sebelum ia keluar, Joonmyeon kembali menatap Kyuhyun dan tersenyum tipis. “Aku akan melihatmu di altar, Appa.”

Kyuhyun hanya tersenyum dan melihat Joonmyeon keluar. Kini hanya ada dia dan Hyunsa diruangan tersebut. Kyuhyun memperhatikan Hyunsa yang sepertinya tegang sekali. Kyuhyun lalu menghampirinya dan mengajaknya untuk duduk di sofa.

“Kau terlihat tegang sekali, Hyunsa.”

Hyunsa sedikit melirik Kyuhyun dan menarik nafas sekali lagi. “Aku baik-baik saja.”

Kyuhyun lalu duduk disebelah Hyunsa. “Apa kau masih tidak merelakan kami menikah? Jika itu keinginanmu, masih ada waktu untuk…”

“Ani! Aku sangat baik-baik saja. Lagipula tidak akan ada yang bisa merubah apa yang akan terjadi hari ini. Bahkan termasuk Kakek sendiri,” ucap Hyunsa dengan cepat.

Kyuhyun tersenyum. “Well, apa yang seharusnya terjadi hari ini belum terjadi, Hyunsa. Semuanya masih bisa berubah bahkan di satu menit terakhir.”

Hyunsa sontak menatap Kyuhyun dengan lekat. “Kenapa bicara seperti itu? Apa kau pikir aku akan melakukan hal aneh lagi?”

Kyuhyun menggeleng sembari tertawa kecil. Reaksi Hyunsa terlalu berlebihan untuk ucapan tidak seriusnya. “Aku tidak berpikir hal itu, Hyunsa. Walaupun tetap ada sedikit kekhawatiran. Aku masih mengenalmu dengan baik, Choi Hyunsa.”

“Aku tidak akan bertindak bodoh lagi untuk melihat Daddy menangis…” ucapan Hyunsa terhenti sebelum ia kembali melanjutkan, “Appa..”

Kyuhyun terkejut melihat perubahan sikap Hyunsa. Kini gadis muda itu terlihat seperti anak kecil berusia sepuluh tahun yang menggemaskan. “Appa? Bukan Mommy?” goda Kyuhyun.

“Jangan menggodaku, Cho Kyuhyun-sshi. Dulu kau bilang sebutan Mommy terlalu berlebihan mengingat dirimu adalah pria. Pernikahan akan dimulai setengah jam lagi, jangan membuatku kesal di hari seperti ini,” sahut Hyunsa dengan jengkel.

Kyuhyun kembali tertawa melihat sikap Hyunsa. “Arraseo. Maaf, aku tidak akan mengulanginya. Well, tidak dalam waktu dekat ini.”

Hyunsa mendesis jengkel karena Kyuhyun masih saja menggodanya. Rasanya Cho Kyuhyun yang dikenalnya empat tahun lalu tidak akan mengoloknya seperti sekarang. Well, empat tahun memang waktu yang lama untuk membuat seseorang sedikit berubah. “Karena ini hari penting bagi Daddy dan juga dirimu, maka untuk kali ini akan kubiarkan. Tapi jika…. Appa mengolokku lagi, aku akan mengadu pada Daddy!”

Kyuhyun tersenyum mendengar ancaman kekanakan Hyunsa. Usianya mungkin sudah duapuluh empat tahun, tapi Hyunsa masih seperti gadis berusia delapanbelas tahun yang manja pada Siwon.

Hyunsa kemudian bangkit dan beranjak meninggalkan ruangan. Namun sebelum ia keluar, Hyunsa kembali berbalik menatap Kyuhyun. “Mulai hari ini, kumohon untuk bahagiakan Daddyku, Appa.”

Tapi sebelum Kyuhyun sempat membalas ucapannya, gadis itu sudah keluar. Kyuhyun menarik nafas panjang dan melihat cincin yang diberikan Siwon saat mereka bertemu di High Park –saat Siwon melamarnya. “Kami akan bahagia, Hyunsa. Terima kasih.”

*****

Siwon menarik nafas panjang. Ia mungkin sudah pernah menikah, tapi jelas sekali pengalaman ini sangat berbeda jauh dengan pernikahan yang sebelumnya. Siwon sudah berdiri di altar dan menunggu kedatangan Kyuhyun. Sesekali ia melirik pada Jungsoo dan Woon yang sibuk dengan putra angkat mereka, Haejin. Atau pada Joonmyeon yang sibuk berbisik dengan Yifan. Atau pada Hyunsa yang mendengarkan apa yang dikatakan Sam.

Oh, ini adalah pernikahannya tapi kenapa keluarganya malah sibuk sendiri? Kemudian sekilas ia melihat pada Jinho. Pemuda memperhatikannya dengan lekat sebelum akhirnya tersenyum. Siwon juga tersenyum. Sebenarnya Siwon cukup beruntung karena Jungsoo dan Joonmyeon menyiapkan pernikahan yang sederhana dan dihadiri oleh keluarga dan sahabat terdekat saja. Well, mungkin karena pernikahan Siwon dan Kyuhyun dilakukan di Paris, jadi sedikit undangan bisa mengurangi biaya perjalanan.

Siwon lalu melihat pada baris pertama sebelah kiri tempat ia berdiri. Seharusnya baris itu adalah tempat untuk ayahnya, tapi Choi Songjoo menggunakan alasan ia sudah terlalu tua untuk melakukan perjalanan jauh. Jadi, beliau tetap di Seoul dengan Sunghee yang menemaninya. Rasanya ketidak-beradaan ayahnya sekarang mengingatkan Siwon pada pernikahan pertamanya dimana sang ayah juga tidak hadir. Siwon tersenyum lirih mengingat kenangan itu harus kembali terulang pada pernikahannya dengan Kyuhyun.

Lamunan Siwon terbuyarkan dengan alunan mars wedding yang menggema ke seluruh ruangan kapel di katedral Notre-Dame d’Amiens. Siwon tidak tahu bagaimana cara Jungsoo bisa mendapatkan ijin untuk menggelar pernikahan di gereja terbesar di Paris itu. Kemudian Kyuhyun muncul dan membuat perhatian semua orang tertuju pada dirinya. Kyuhyun tersenyum tipis dan menarik nafas untuk mengurangi rasa gugupnya. Siwon tersenyum  lebar melihat sosok Kyuhyun dengan jas putihnya, sedangkan dirinya mengenakan jas hitam. Perlahan Kyuhyun berjalan mendekati altar.

Perhatian Siwon hanya tertuju pada Kyuhyun yang begitu mempesona. Ia bahkan hampir tidak bernafas ketika Kyuhyun hanya berjarak satu langkah darinya. Siwon mengulurkan tangannya dan Kyuhyun menyambutnya tanpa ragu. Kini mereka berdiri berhadapan dan disaksikan oleh Tuhan.

“Cho Kyuhyun, kuingatkan padamu, sekali kau berdiri disini dan mengucapkan sumpah pernikahan, maka mulai saat itu aku tidak akan pernah melepaskanmu sampai kapan pun,” ucap Siwon.

Kyuhyun tersenyum. “Well, aku juga tidak berencana untuk meninggalkanmu atau melepaskanmu  lagi, Choi Siwon.”

*****

Siwon menutup pintu kamar setelah mengambil pesanan wine yang diantarkan oleh salah satu petugas room service. Ia tersenyum tipis ketika melihat Kyuhyun yang sedang memperhatikan pemandangan malam hari kota Paris. Siwon lalu menaruh botol wine itu di meja sebelum mendekati Kyuhyun dan memeluknya dari belakang.

Kyuhyun tersenyum dengan sentuhan pria yang kini sudah resmi menjadi pendamping hidupnya. “Kau bahagia, hyung?”

Siwon mencium leher Kyuhyun dan menikmati aroma tubuh Kyuhyun yang tidak pernah berubah –aroma apel yang begitu manis. “Tentu saja aku bahagia, Kyuhyun. Rasanya aku tidak menginginkan apapun lagi setelah mendapatkanmu dalam pelukanku saat ini.”

“Cheesy as usual. Tapi aku merindukannya,” sahut Kyuhyun.

Siwon tersenyum dan mencium bahu Kyuhyun sembari mengeratkan pelukannya. “Tenang saja, kau akan mendengarnya setiap hari dan setiap saat, Choi Kyuhyun.”

Kyuhyun mengernyit. “Aku tidak merubah margaku, Choi Siwon. Itu perjanjian kita, bukan?”

“Aku tahu, tapi Choi Kyuhyun terdengar lebih menyenangkan untuk diucapkan. Yakin, kau tidak mau menghapus poin itu dari perjanjian pra-nikah kita?”

Kemudian Kyuhyun melepaskan pelukan Siwon dan mengambil jarak. Siwon menatapnya dengan bingung. “Aku tidak akan merubah apapun dari perjanjian pra-nikah kita, Choi Siwon. Dan jika kau terus memaksa untuk melanggar satu poin saja, maka…”

Mata Siwon membulat. “Hey, kau tidak akan meminta cerai, kan?!” seru Siwon dengan panik.

Kyuhyun tertawa melihat reaksi Siwon yang berlebihan. Choi Siwon dan Choi Hyunsa memang banyak kemiripan. Dan Kyuhyun cukup beruntung karena Choi Joonmyeon memiliki sedikit perbedaan. Ia tidak tahu harus bersikap apa menghadapi ketiga Choi itu secara bersamaan.

“Yah, kenapa kau tertawa?! Aku bertanya serius, Cho Kyuhyun!”

Kyuhyun menghentikan tawanya dan memandang Siwon yang kini sedang cemberut. “Cerai mungkin tidak, tapi melarangmu untuk menyentuhku selama tiga bulan, kurasa itu adalah hal yang pantas.”

Mulut Siwon terbuka lebar ketika Kyuhyun menyebut tiga bulan. Ia berusaha menghampiri Kyuhyun tapi pria itu masih menghindarinya. “Yah, tiga bulan? Kau mau membunuhku?!! Dan kenapa kau menghindariku, Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun  masih terus menghindari Siwon. “Karena aku mempunyai firasat buruk jika kau berhasil menangkapku, hyung.”

Siwon mengeringai dan semakin agresif mengejar Kyuhyun. Kamar suite di hotel berbintang lima yang menjadi kamar honeymoon Siwon dan Kyuhyun memang cukup luas, tapi pergerakan Siwon lebih lincah dibandingkan Kyuhyun. Bahkan dalam tiga menit, Kyuhyun kini sudah terperangkap dengan tubuh Siwon yang berada diatasnya –Kyuhyun sedikit menyesal karena ‘bermain-main’ dengan Siwon.

Kyuhyun menarik nafas banyak-banyak dan berusaha melepaskan diri dari Siwon. Tapi nyatanya sulit sekali dan sofa bukanlah tempat yang cocok untuk melawan Siwon. “Hyung, biarkan aku bernafas sejenak.”

“Aku membiarkanmu bernafas saat ini, Kyuhyun.”

Kyuhyun mendesah. “Maksudku, tolong lepaskan pelukanmu saat ini. Sofanya tidak nyaman.”

Siwon menaikkan satu alisnya. Tapi senyuman menyeringainya tidak hilang. Kyuhyun benar-benar merasa firasat buruk saat ini. “Jadi, kau menginginkan tempat yang nyaman? Bagaimana kalau tempat tidur?”

“Hyun…” Belum selesai Kyuhyun protes, Siwon sudah menelan semua protes Kyuhyun dalam ciumannya.

Kyuhyun memejamkan matanya begitu sentuhan bibir Siwon terasa begitu lembut pada bibirnya. Dalam hitungan detik, Kyuhyun kini tenggelam dalam nikmatnya ciuman Siwon. Ia membiarkan Siwon untuk membuka mulutnya dan menciumnya lebih dalam. Kedua tangan Kyuhyun perlahan bergerak pada tubuh Siwon dan menariknya lebih dekat pada tubuhnya. Well, sofa memang bukan tempat yang tepat.

Kyuhyun mendesah ketika sentuhan dingin tangan Siwon mulai bergerak pada bagian perut dibalik kaus yang dipakainya. Dan Kyuhyun harus menelan desahannya ketika ciuman Siwon semakin liar dengan sentuhan tangan pria itu yang membuat Kyuhyun mabuk.

Kyuhyun tanpa sengaja menggigit bibir Siwon ketika tangan pria itu bergerak mendekati area yang paling sensitif diatas celana jeansnya. Kyuhyun membuka mulutnya lagi ketika tangan Siwon membuatnya semakin kehilangan akal sehat.

“Hyu… nggh..”

Namun, Siwon tidak berhenti. Well, ia tidak akan pernah berhenti sekarang. Siwon mencium bagian belakang telinga Kyuhyun dengan sensual dan ia bisa merasakan kalau Kyuhyun mulai masuk pada gairahnya. Siwon tersenyum puas ketika ia masih mengingat titik sensitif prianya.

Kyuhyun mencengkram bahu dan lengan Siwon dengan kuat begitu Siwon kembali menggodanya. Ia tidak menahan suaranya lagi. Kyuhyun tidak akan peduli lagi. Rasanya terlalu menyesakkan dan terlalu panas. Bahkan sepertinya ia akan mencapai puncak kepuasannya hanya dengan sentuhan Siwon saat ini.

Siwon menatap Kyuhyun dan mengecup kelopak mata prianya. Kyuhyun menarik nafas dan membuka matanya perlahan. Siwon tersenyum padanya. “Laters, baby?”

“Huh?”

Siwon menyeka keringat di kening Kyuhyun dengan lembut. “Kau belum makan malam, sayang. Aku tidak mau membuatmu pingsan.”

Kemudian Siwon bangkit dan membuat Kyuhyun menatapnya bingung. Siwon lalu mengulurkan tangannya. “Ayo, makan.”

Kyuhyun menghela nafas dengan sedikit kecewa. Ia menyambut uluran tangan Siwon yang membantunya untuk kembali berdiri. Siwon sedikit merapikan rambut Kyuhyun. Namun, gurat kecewa terlihat jelas diwajah Kyuhyun. Siwon yang memulainya terlebih dahulu tapi ketika Kyuhyun mulai menginginkannya, Siwon malah menghentikannya. Hanya karena mereka belum makan malam.

“Hey, jangan kecewa begitu. Aku mengkhawatirkan kesehatanmu, Kyuhyun. Sebelum pernikahan ini, kau begitu sibuk dengan pekerjaan. Bahkan dua minggu sebelumnya kau pingsan, bukan?” tutur Siwon.

Kyuhyun sedikit tertunduk. Well, kejadian pingsan waktu itu memang diluar prediksinya. Terlebih waktu ia pingsan bertepatan dengan acara peluncuran proyek yang dikerjakan untuk Hyunwon Group. Bahkan saat sadar, Kyuhyun sudah berada di rumah sakit dengan Siwon dan wajah khawatirnya. “Aku tahu, hyung. Aku akan lebih berhati-hati lagi.”

Siwon tersenyum dan memeluknya dengan erat. “Mulai dari sekarang, tolong perhatikan kesehatanmu, okay. Aku tidak mau melihatmu pingsan atau dilarikan ke rumah sakit lagi.”

Kyuhyun mengangguk. Siwon mencium telinga Kyuhyun dan berbisik, “Anak pintar. Setelah makan malam, aku akan memberikan reward untukmu, Kyuhyun. Saat kita di tempat tidur. Tanpa pakaian.”

“Eewwh… Kalian menjijikkan!!” seru Hyunsa dan Joonmyeon bersamaan.

Sontak Siwon dan Kyuhyun melepaskan pelukan mereka dan melihat kearah pintu. Hyunsa dan Joonmyeon berdiri diambang pintu dengan ekspresi mereka yang tidak terlihat baik. Siwon menghela nafas pendek. “Seharusnya kalian mengetuk pintu,” ujarnya.

“Sudah, tapi kalian sepertinya sedang sibuk,” tukas Hyunsa.

Siwon mendesis. Hell, bagaimana bisa setelah menikah pun, rasanya ia dan Kyuhyun tidak mempunyai ruang privasi untuk mereka sendiri. Terlebih yang harus mereka hadapi sekarang bukan hanya Hyunsa, tapi juga Joonmyeon.

“Ayo turun makan malam. Yang lain sudah menunggu, Dad,” tutur Joonmyeon.

Siwon mengangguk. Lalu ia menggenggam tangan Kyuhyun dan menariknya. Kyuhyun sepertinya masih merasa canggung dengan status barunya. Reaksinya masih sama ketika Hyunsa atau orang lain memergoki mereka sedang bercumbu. Siwon tersenyum jika mengingat kenangan itu.

“Hilangkan senyuman pervertmu itu, Dad. Mertuamu ada dibawah. Bersikaplah sopan,” tukas Hyunsa tiba-tiba.

Siwon mengusap rambut putrinya dengan tertawa kecil, sedangkan wajah Kyuhyun malah terlihat semakin memerah. “Kau cerewet sekali. Sudah, jalan duluan.”

Hyunsa mendesis jengkel lalu berjalan keluar terlebih dahulu. Yang diikuti oleh Joonmyeon. Siwon menatap Kyuhyun dan beralih untuk merangkul bahunya. “Kupikir kau sudah kebal dengan keberadaan Hyunsa. Nyatanya, kau masih malu,” goda Siwon.

Kyuhyun menatap Siwon dengan jengkel. “Bukan karena Hyunsa. Tapi Joonmyeon…”

“Dia sudah terbiasa, Kyuhyun. Percayalah, Joonmyeon tidak se-polos yang kau lihat, sayang. Kurasa, itu adalah kesalahan Yifan. Kita harus segera menikahkan mereka sebelum terjadi sesuatu yang lebih buruk,” tukas Siwon.

Mata Kyuhyun membulat. “Mwo? Se-sesuatu yang buruk?”

Siwon menutu pintu kamar dan mereka berjalan menyusuri lorong yang akan membawa mereka kearah lift. Siwon mengangguk kecil. “Seperti hamil atau semacamnya,”

Sontak Kyuhyun meninju perut Siwon. “Joonmyeon itu pria! Dia tidak mungkin hamil!”

Siwon meringis pelan. “Itu bisa saja. Bahkan, kau mungkin juga bisa saja hamil. Bahkan Jinho pernah mengatakan bahwa dia hampir saja melakukan check-up menyeluruh padamu agar memastikan bahwa kau tidak akan bisa hamil.”

“Mw-mwo?! Yak, Choi Siwon, kau bicara apa?! Aku ini adalah pria! Seorang pria, Choi Siwon!!”

“Arra! Jangan berteriak, sayang. Tapi kurasa kita harus membuat janji dengan dokter ahli untuk lebih memastikannya. Kau tahu khan, aku menginginkan seorang anak darimu,” tukas Siwon lalu berjalan lebih cepat untuk menghindari Kyuhyun akan memukulnya.

Kyuhyun sendiri dibuat tidak bisa berkata apapun lagi. Bagaimana bisa Siwon menganggap bahwa dirinya bisa hamil layaknya seorang wanita? Namun, kemudian Kyuhyun menyentuh bagian perutnya. Ha-hamil?

Tapi Kyuhyun dengan cepat menghilangkan pemikiran konyol itu. Keluarga Choi memang selalu membuatnya gila.

“Yah! Choi Siwon, aku ini pria!! Aku tidak bisa hamil!!”

*****

I laugh for no reason, I get happy for no reason

Your voice is already like a spell cast on me

I thank you – it’s the first i felt like this

Don’t say anything and please hug me

Please accept my heart, Every morning i open my eyes

And drink the morning coffee

It feels just like a dream, Whether you really don’t know

Or you just can’t catch it, Or if you know how much my heart is burning

My heart is only you, I promise that I’ll never change

I promise you eternity

Every day in the same bed, Every day dreaming the same dreams

A sweet kiss with you, Please only love me

I will promise you

You’re my Only One

*****

NOTE: Well, aku gak terlalu puas dengan epilognya dan -sebenernya- gak mempunyai niatan untuk merubahnya lagi nanti (biasanya aku selalu ganti alur untuk epilog, contohnya epilog Two Faces) karena tugas akhir kampus yang bikin stress. Okay.. karena gak mau curhat, jadi…. abaikan. Sekali lagi, aku tidak menjelaskan secara keseluruhan, ya? Maaf yaaaaaa…..

Er… untuk katedral Notre-Dame dijadikan tempat pernikahan Siwon-Kyuhyun, yah anggap ajah fiksi belaka. Well, semua ini hanya fiksi -kecuali hubungan Siwon dan Kyuhyun yang terkadang aku berharap bukan fiksi /saya memang shipper yang agak gila…

Advertisements

33 thoughts on “[SF] Only One Epilog

  1. Hmmm….eh g nyangka joonmyon itu gay jg di sini,kkk….eiya,knp g sekalian bikin kyuhyun bnrn hamil?kn makin kocak,haha!ah tp aku ttp setuju soal kyu bisa hamil cm di jadiin guyonan aja,soalnya malah jadi kedengeran aneh dan malah jd terkesan mengada ada si,,jd biarlah alami begini aja,hehe,bagus ko,malah endingnya kocak pula,eonnie puas!!

  2. Akhirnya.. ada juga lanjutannya.
    Puas tapi kurang greget. Karena adegan ‘first night’nya kurang lengkap..hehehe
    Jadi penasaran apa kyu bisa hamil karena siwon bilang ingin punya anak dengan kyu.
    Oia,diera..bagaimana skripsinya?
    Pasti sukses ya.. 🙂
    Ok,ditunggu ff yang lain..(scarface terutama)

  3. lyey..akhirnya wonkyu bersatu juga…dengan adanya joonmyeon bisa sedikit merubah hyunsa…berharap cita2 siwon dikabulkan, agar kyu hamil,,..

  4. berakhir deh, sedih juga ff nya berakhir. tapi Wonkyu benar-benar bahagia, puas banget.
    FFnya kereeeennnnnn.

    Ditungg ff wonkyu lagi ya….

  5. Yeyyy…akhirnya Wonkyu nikah juga, meskipun blum sampai tahap this and that aq suka wonkyu moment-nya, ini udahan ya??!! bakal kangen sama ff ini ╭(╯ε╰)╮
    d tggu karya2 lainnya aja deh!! b^^b

  6. Joonmyun moga ga ketularan ga ‘normal’nya keluarga Choi. sampai kapanpun. kkkkk….
    ngomongin hamil, jadi berharap Kyu beneran hamil di fict ini kaann.. teheee
    kurang greget di akhir, tapi cukup puas dengan epilognya…

    oke, moga berhasil dengan skripsinya, Diera…

  7. Dan akhirnyaaaa epilogpun datang,
    Wooooowwwww semuanya hmpri ttg jonmyoon kkkkkkkk
    Klo d pikir jonmyoon bnr jdi antiklimaks dr semuanya, klo diliat dr kemungkinan wonkyu kyk yg mngkin bsa kembali lagi. Dri penolakan hyunsa,kekerasan hati kakek choi, kebulatan tekad wonkyu buat pisah,semuanya trsa mustahil buat wonkyu.tapiiiiii trnyata jonmyoon memiliki pran bsar dlm besatunya wonkyu….

  8. Akhirnya … Bisa baca juga … ^_^

    seneng nya wonkyu bisa menikah dan bahagia bersama … ^_^

    ending bikin ngakak dan penasaran juga …* gimana klo bikin sequel lagi dan bikin kyu hamil …

    Please … Bikinin sequel nya lagi, kyu nya hamil

  9. Wuahhh..Eonni daebak!!!
    Jeongmal gumaweoyo Eonni! !!
    Ahh..sprtinya Jonmyoon berperan besar untuk bersatunya WonKyu.
    Senangnya …mlht keadaan Cho-i family skrng.
    Smga mrka sllu bersama dngn cinta dan kasih yg mrka miliki.Wlau mngkin akn bnyk hal yg mngujinya.
    Klau Kyuhyun bs hamil …kirar2 gmna ya….??!!!!
    Smga Eonni mau mmbikin itu kkkkk::)p

  10. kyaaaaaaa………akhirnya wonkyu menikah, terima kasih joon..semua ini krn usahamu utk menyatukan wonkyu kembali dan membuat daddymu tersenyum lg. walaupun akhirnya kamu dpt hukuman dr kakek choi, sayang banget lg seru2nya first nightnya hrs di tunda dulu, untung aja masih tahap pemanasan coba kl smp tahap inti bisa2 hyunsa and joon menonton live NC scr gratis. mwoo??? babykyu hamil???? mudah2an aja.., he..he…he,

  11. jonmeyon memang choi sejati deh..
    dy bisa membuat hyunsa setidaknya tidak seliar dulu,hehehehe…
    berarti pengobatan hyunsa berjalan dengan baik bukan?
    wonkyu akhirnya menikah,senangnya…
    ya cho kyuhyun cobalah untuk pemeriksaan menyerluruh sypa tw jadi m-preg,hehehehe…
    tidak ada salahnya kan?

  12. Akhirnya muncul juga ini epilog…
    Syukur lah klo hyunsa udh mulai bisa nerima kyu gitu ga kyk dlu :3
    dan aku berharap mreka bisa jadi kluarga bahagia slamanya~ 🙂 xixi

    kirain tadi bkalan ada adegan malam prtama wonkyu trnya hnya separuh saja -,- tapi ga apa”
    cukup puas lah sama epilog nya…

  13. Jiaaaahhh selalu kepotong “acara”nya,, kkk
    Btw, thanks banget buat joon yang udah ngerencanain pertemuan wonkyu,, finally,, happy ending,, hyunsa-Sam joon-yifan dan won-kyu pastinya,, 😀

  14. KYAAA AKHIRNYAAAA WONKYU MERIT JUGA!!
    aigoo aigoo ~ saya senyum2 gaje pas WonKyu lg di kamar hotel .
    haha kasian Kyu..di bkin terbuai sma Siwon,mlh Siwon nya yg ngebatalin sndiri .
    ckck bener2 ya :3
    wkwk klo Mpreg sih bisa hamil,lha ini?? ga tau dah nnti Kyu bisa hamil apa ngga .
    mau nya sih iya..pasti lucu bgt klo Hyunsa sma Joon punya adik kecil lg XD
    saya jg kurang puas nih sma crita nya,masih nge gantung tuh -_- *plakk
    but..yasudah gapapa,yg pnting udh ada epilog nya 😀
    -Shin SiHyun-

  15. sbnrnya msh bingung jg dg perasaannya hyunsa, terasa msh ad yg blum terungkap. But, itulah hyunsa dg sgl keanehannya.

    Nice ending…! Bgtu natural n aku sukkaaaa. Thank’s diera.
    But, sekali kali buat ff dg Mpreg!kyu boleh jg kali… ^^

  16. Akhirnya wonkyu nikah jga….tpi sayang acara first nightnya ga tuntas sampe akhir.ya udahlah yg penting wonkyu bahagia dg kedua anaknya

  17. hemmmm , akhirnya happyending jg , wonkyu nikaaaaaaahhhh……. *kecup satusatu

    dohhh gagal deh intip wonkyu yg mau first kiss sampe pagi #eh

    klo mau nya sih ada epilog season 2 saeng *plak digampar , mwoya epilog season 2 ???

    ha ha ha ha ha, rasanya saia blom rela berpisah sm mereka …. hhuhuuuuu

    @Choi_Chahyun

  18. Akhirnya epilog-nya muncul juga. Maaf telat baca dan komentar. Aku suka endingnya. Benar-benar tipikal keluarga Choi sekali 😀
    Wuhuuuu~ ucapan Siwon bener-bener deh yaaaa~
    Kayaknya dia lebih khawatir sama Joonmyeon dibanding sama Hyunsa -____-
    Dan Hyunsa memang lebih cocok jadi noona atau bahkan ‘hyung’ untuk Joonmyeon /plak :’D
    Puas sama endingnyaaaaaaaaaaaaa~ ^^

  19. Akhirnya wonkyu bisa juga bersatu di epilognya ni.
    Jeongmal gomawo.

    Setelah beberapa rintangan yang buat mewek2 tapi terbayar dah di chapter ni

  20. waaaah puas lah sama epilog nya jadi jelas sudah semua penasaran kemaren …. dan suho banyak berperan merubah hyunsa disini…. wonkyu akhirnya nikah dan lelucon hamilnya bikin ngakak hihihi

  21. ahhhh aku ketilnggalan… uhh ending yg membahagiakan… tp lucu juga kalo kyu sampe hamil… aku pengen liat reaksi hyunsa sama kakek choi… ㅋㅋㅋㅋ

  22. Akhirnya setelah semua masalah yg dihadapi dan harus berpisah wonkyu bisa bersaru lagi dlm pernikahan…
    Joonmyeon emang membawa perubahan dlm keluarga choi
    Dia berhasil membuat wonkyu bersatu kembali..
    Hyunsa juga udh mulai nerima kyuhyun sebagai appanya walaupun masih dengan berat hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s