[SF] Scarface Part 2

scarface2

2

Kevin memandang secara lekat pada seseorang yang tengah berbincang dengan temannya. Mereka tertawa bersama, sepertinya temannya itu sedang menceritakan lelucon yang sangat lucu hingga membuatnya tertawa begitu lepas, bahkan hingga wajahnya memerah. Kevin tersenyum juga. Hanya dengan melihatnya tersenyum, entah mengapa Kevin juga merasa senang.

Itu bermula bulan Maret lalu, ketika Kevin adalah seorang siswa baru di Kyunghee Art and Music High School dan ia tanpa sengaja bertemu dengan salah seorang siswa kelas musik. Pada awalnya Kevin tidak memiliki ketertarikan apapun, tapi semakin sering ia melihatnya menimbulkan rasa keingin-tahuan yang begitu besar. Sayangnya, Kevin hanya bisa memandanginya dari kejauhan karena tradisi aneh di sekolah barunya.

KAMHS memiliki tradisi di mana kedua kelas yakni seni dan musik selalu bersaing untuk mendapatkan gelar tahunan. Dan kebanyakan siswa dari kedua kelas memang selalu bermusuhan. Kevin benar-benar tidak mengerti dengan tradisi tersebut, karena musik adalah bagian dari seni dan seni selalu terkait dengan musik. Bagaimana bisa seni dan musik menjadi bagian yang terpisah?

Tapi sebagai siswa baru, Kevin tidak mempunyai banyak pilihan. Jadi, ia hanya mengikuti apa yang dikatakan teman-teman barunya. Kecuali pada siswa kelas musik itu.

“You’re hopeless, Wu Yifan,” Luhan, salah satu siswa kelas seni yang berasal dari China, mengejeknya dengan menyebut nama chinese-nya.

Well, untuk saat ini memang hanya Luhan yang mengetahui apa yang dipikiran Kevin mengenai siswa musik tersebut. Kevin tidak ingin mengambil resiko dengan menceritakannya pada temannya yang lain.

Kevin tersenyum dan kembali pada lukisannya. “I know, but i cant resist it, Lu.”

Luhan hanya menggelengkan kepalanya lalu menyelesaikan lukisannya. Sementara Kevin masih sempat beberapa kali melirik ke arah lapangan di mana siswa musik itu berada. Kelas siswa musik itu mungkin melakukan latihan luar ruangan lagi, dan Kevin sangat beruntung karena lokasi yang mereka pilih bisa terlihat jelas dari kelasnya saat ini.

“But seriuosly, Fan. Kau harus segera menyelesaikan lukisanmu sebelum Han Ssaem datang. Ayolah, fokus dulu pada tugasmu,” sahut Luhan.

Kevin kembali tersenyum. Ia menarik nafas dan mencoba untuk berkonsentrasi pada lukisannya.

*****

Joonmyeon sedikit mengernyit saat ia mendongak ke arah jendela salah satu kelas seni. Entah, tapi ia selalu merasa ada seseorang yang memperhatikannya dari sana. Tapi Joonmyeon selalu menampik perasaan itu. Joonmyeon menghela nafas panjang dan kembali memperhatikan Baekhyun yang sedang melemparkan lelucon.

Joonmyeon tertawa lagi.

Kemudian Joonmyeon merasa ada seseorang yang merangkulnya. “Waeyo? Kau merasakan kehadiran orang itu lagi?” tanya Kyungsoo.

Joonmyeon mengangguk. “Ne. Aku tidak tahu, tapi selalu ada orang yang memperhatikanku dari kelas Seni. Tapi itu tidak mungkin, bukan?”

“Kecuali mereka menganggapmu saingan, itu mungkin saja. Joon-ah, Festival tahunan tinggal beberapa bulan lagi dan semua orang sedang sibuk mempersiapkan diri. Kau harus berhati-hati. Tahun lalu, salah satu siswa Seni meracuni minuman siswa dari kelas Musik. Beruntung, tidak ada yang meminumnya. Kurasa mereka akan lebih bersikap agresif kali ini. Jadi, jaga dirimu baik-baik,” ujar Kyungsoo.

Joonmyeon melepaskan rangkulan Kyungsoo dan tersenyum. “Ne, Eomma Soo. Tapi perwakilan dari kelas Musik belum ditentukan, Soo. Bisa saja kau, Baekhyun atau Jongdae yang diutus. Seharusnya kau juga memberikan nasihat itu pada mereka atau siswa yang akan diutus nanti.”

Kyungsoo menghela nafas panjang. “Tapi kesempatan itu selalu ada, Joon. Park Ssaem selalu memujimu. Beliau juga selalu mengatakan bahwa kelas Musik akan mengirim empat sampai lima orang sebagai soloist. Kau masih mempunyai kesempatan, Kim Joonmyeon.”

“Arraseo! Arraseo!”

*****

“Yifan!!”

Kevin berbalik dan melihat Luhan berlari menghampirinya. Kevin tersenyum dan langsung merangkul bahu sahabatnya ketika Luhan sudah berada di sampingnya.

“Jangan memanggil nama China-ku lagi di depan umum, Lu. Itu terdengar…”

“Tidak keren? Terlalu China? Memangnya kau mengharapkan apa? Itu memang namamu, Yifan,” sahut Luhan dengan jengkel.

Kevin terkekeh dan mereka berjalan menuju gerbang utama sekolah. Luhan menarik nafas dan sesekali memperhatikan Kevin. “Kau tidak mau berkenalan dengannya?”

Kevin menggumam. “Siapa?”

“Siswa musik itu,” ucap Luhan berbisik. Ia tidak ingin ada siswa seni yang mendengar mereka tengah membicarakan salah satu siswa musik. Itu akan menjadi masalah besar nantinya. “Tahun depan kita sudah kelas tiga dan akan mempersiapkan untuk kelulusan, juga ujian masuk universitas. Ah… Aku bahkan tidak percaya diri untuk masuk Seoul Art. Apa aku harus kembali ke Beijing saja, ya?”

“Beijing? Kau yakin bisa bertahan dengan ocehan ayahmu karena kau memilih seni. Kau itu harusnya masuk sekolah bisnis, Lu,” tukas Kevin.

Luhan tertawa kecil. “Tidak juga. Mungkin saat di Beijing pun, aku akan memilih tinggal di apartement kecil. Rasanya tidak sanggup mendengar ayahku mengomel setiap hari dengan mengatakan bahwa aku hanyalah satu-satunya anak lelaki Xi. Itu terdengar sangat menyeramkan. Lalu bagaimana denganmu? Apa rencanamu setelah lulus, eoh?”

“Kembali ke Kanada? Entahlah, rasanya pun di Kanada tidak ada yang bisa aku kerjakan. Jadi, menetap di Seoul? Lihatlah nanti, Lu,” ujar Kevin.

“Tidak berusaha untuk meraih siswa musik itu? Jika kau memang tertarik dengannya, kenapa kau tidak mendekatinya setelah kita lulus? Paling tidak, kau tidak lagi terikat dengan tradisi bukan?” usul Luhan.

Langkah kaki Kevin terhenti. Luhan menatapnya dengan bingung, tapi sedetik kemudian Kevin tersenyum dan merangkulnya lebih erat. “Xi Luhan, kau kadang memang jenius!!”

Luhan –berpura– mengerang kesakitan dan berusaha untuk melepaskan diri dari rangkulan Kevin. “Aku tahu, aku ini jenius tapi bisakah kau tidak meremukkan tubuhku?! Kevin Wu!!”

Tapi Kevin mengabaikan keluhan Luhan dan menariknya ke arah asrama mereka yang terletak di sebelah gedung sekolah mereka. Kebanyakan dari siswa KAMHS memang tinggal di asrama yang sudah disiapkan oleh sekolah, karena mereka datang dari berbagai kota di Korea Selatan, bahkan dari luar negeri sekalipun. Kecuali untuk mereka yang memang tinggal di Seoul.

Di antaranya adalah Kevin dan Luhan yang tinggal di asrama tersebut.

*****

“Hah, aku benci musim dingin,” tukas Kyungsoo sembari merapatkan mantelnya. Joonmyeon hanya tersenyum tipis.

Sudah memasuki bulan Desember dan suhu juga semakin menurun. Dan menurut perkiraan cuaca untuk bulan Desember dan Januari tahun depan akan menjadi bulan yang cukup dingin dibandingkan tahun sebelumnya. Kyungsoo sebenarnya terlahir di bulan Januari, seharusnya ia bisa bertahan di musim seperti ini tapi dia malah membencinya, seperti ia membenci jika harus makan sup tauge yang dibuatkan ibunya.

Kyungsoo menoleh pada sahabatnya. “Joon-ah, bagaimana persiapan akhirnya? Apakah kau benar-benar akan memilih lagu itu? Park Ssaem memberikan judul lagu lain, bukan?”

Joonmyeon kembali tersenyum. “Aku tahu, tapi aku menyukai lagu itu. Lagipula aku sudah berlatih selama dua bulan dengan lagu itu dan pertunjukkan tinggal satu minggu lagi. Sangat tidak mungkin untuk mengganti judul lagu. Hey, apa kau mau kita kalah dengan kelas Seni?”

Well, pada akhirnya Joonmyeon, Jongdae dan Kyungsoo yang terpilih untuk mengikuti Festival tahunan KAMSH. Sebenarnya, masih ada Yixing dan Baekhyun yang juga terpilih untuk mewakilkan kelas Musik, tapi Yixing harus kembali ke Changsa karena Neneknya meninggal dunia. Sedangkan Baekhyun, dia harus beristirahat total selama tiga minggu karena pneumonia. Jadi, beban tanggung-jawab tersebut diberikan pada tiga perwakilan tersisa. Walaupun ada beberapa siswa lainnya, tapi beban sebagai soloist adalah yang paling besar.

Kyungsoo menarik nafas panjang. “Dan mendengar ocehan Park Ssaem di semester berikutnya? Oh tidak, terima kasih. Tapi Park Ssaem bilang lagu itu tidak menonjolkan karakter suaramu. Kau juga kesulitan dengan beberapa nada, bukan? Terlalu beresiko, Joon,” sahut Kyungsoo.

Joonmyeon kemudian merangkul bahu Kyungsoo. “Soo-ya, kau percaya padaku, bukan?”

Kyungsoo hanya mengangguk. Joonmyeon tersenyum kembali. “Kalau begitu percayalah aku pasti bisa. Lagipula di dunia ini, tidak ada yang tidak mungkin.”

“Yah, tipikal Kim Joonmyeon. Arraseo. Lanjutkan apa yang ingin kau lakukan. Fighting, Kim Joonmyeon!!” seru Kyungsoo.

Joon tertawa kecil. “Fighting, Do Kyungsoo!!”

*****

Kevin tidak bisa berhenti melirik ke arah kumpulan siswa musik yang tengah berkumpul. Dia memaki Luhan yang mengajaknya ke aula sekolah untuk membahas festival tahunan. Waktunya tidak cukup banyak, jadi mereka harus mempersiapkan diri dengan baik. Seharusnya Kevin berkonsentrasi dengan pengarahan dari salah satu gurunya, tapi bagaimana bisa jika siswa Musik itu juga berada di aula yang sama –hanya berjarak beberapa meter darinya.

Luhan menghela nafas dan menyenggol lengannya. Kevin menatap Luhan.
“Kau bisa memandanginya nanti, tapi untuk saat ini fokus dulu dengan pengarahan dari Song Ssaem,” bisik Luhan yang hanya bisa didengar Kevin.

Kevin mengangguk dan menarik nafas panjang. Ia berusaha keras untuk tidak menoleh ke arah kumpulan siswa musik itu selagi gurunya bicara.

Di sisi lain, Joonmyeon memperhatikan seseorang dari kelas Seni. Entah mengapa Joonmyeon merasa tertarik pada salah satu dari mereka. Joonmyeon merasa bahwa dia adalah orang yang sering memperhatikannya dari ruang kelas Seni.

“Joon, apa yang kau lihat?” tanya Kyungsoo.

Joonmyeon menatap Kyungsoo dan menggeleng. “Bukan apa-apa, Soo.”

Kyungsoo tidak percaya begitu saja dengan alasan Joonmyeon. Ia memperhatikan arah pandangan Joonmyeon barusan. Well, dia tidak akan terkejut jika apa yang diperhatikan Joonmyeon adalah beberapa siswa Seni yang sedang melakukan pengarahan. Kyungsoo menarik nafas dan kembali fokus pada pengarahan gurunya sendiri. Ia tidak akan berasumsi apapun. Lagipula Joonmyeon tidak mengenal salah satu dari siswa kelas Seni, jadi tidak ada yang perlu dicemaskan.

Semoga saja.

*****

Joonmyeon kembali ke ruang aula sekolah karena partitur lagunya tertinggal. Dan tanpa itu, Joonmyeon tidak bisa membuat arransemen baru untuk lagu yang akan dibawakannya. Ruang aula sekolah kini sudah berubah menjadi area panggung untuk kelas Musik dan area pameran untuk kelas Seni. Tidak terlalu besar, tapi cukup luas jika hanya dibagi menjadi dua bagian.

Joonmyeon menghela nafas frustasi ketika ia tidak menemukan partiturnya. Well, mungkin dia harus meminta partitur lainnya dan mengerjakan lagunya secepat yang ia bisa. Festival akan dimulai tiga hari lagi. Kemudian Joonmyeon berjalan menuju pintu keluar. Namun, ia terhenti ketika sebuah lukisan menarik perhatiannya.

Joonmyeon mendekati lukisan itu untuk memperhatikannya lebih dekat. Well, Joonmyeon tidak mengerti mengenai lukisan, tapi dia bisa menilai bahwa lukisan itu sangat indah. “WYF? Inisial pelukisnya?” gumam Joonmyeon.

Kemudian tanpa sadar, Joonmyeon berjalan memasuki area pameran untuk melihat lukisan lainnya. Dia menemukan beberapa lukisan dengan insial yang sama.

Joonmyeon tersenyum. “Dia sangat berbakat dalam melukis,” ucapnya.

Namun, perhatian Joonmyeon terhenti pada sebuah lukisan potret. Dan Joonmyeon merasa sedikit familiar dengan sosok pada lukisan tersebut. Sosok yang dikenalnya, tapi siapa?

“Kau siapa?”

Joonmyeon menoleh ketika mendengar suara. Well, orang yang memanggilnya salah satu siswa Seni. Tapi yang membuat Joonmyeon bingung adalah ekspresi orang itu saat melihatnya. Apa semua siswa Seni selalu membenci siswa Musik, bahkan mereka tidak ingin bertemu dengan salah satu dari kami? Pikir Joonmyeon.

“Maaf, aku hanya kebetulan lewat. A-aku tidak melakukan apapun pada lukisannya. Aku hanya melihatnya,” ucap Joonmyeon yang hendak meninggalkan area pameran.

Tapi siswa Seni itu menahannya. Joonmyeon menatapnya bingung. Namun, siswa Musik itu malah memandang nametagnya. “Kim Joonmyeon? Itu namamu?”

Joonmyeon mengangguk dan ia juga melihat nametag siswa Seni tersebut. “Kevin Wu? Oh, kau murid pindahan itu?”

Kevin sontak melepaskan Joonmyeon. “Ka-kau mengenalku?”

Joonmyeon tersenyum dan menggeleng. “Tidak. Tapi aku banyak mendengar bahwa siswa pindahan di kelas Seni mempunyai bakat melukis yang sangat hebat. Apa kau juga bagian dari festival? Lukisanmu yang mana?”

Kevin tidak menjawab pertanyaan Joonmyeon. Dia terlalu terkejut. Well, bagaimana tidak? Siswa Musik yang selalu diperhatikannya kini berada dihadapannya. Dan Kevin mengetahui namanya dengan mudah. Terlebih siswa Musik itu memuji dirinya. Oh, Tuhan pasti sangat menyayangi Kevin.

Joonmyeon memperhatikan Kevin yang tidak bereaksi apapun. Dia merasa sedikit canggung. “A-aku akan pergi saja. Maaf jika aku masuk tanpa ijin. Terlebih aku adalah siswa Musik. Kau pasti….”

“Tidak apa-apa. A-aku tidak akan mengatakannya pada siapapun. Termasuk teman-temanku,” ucap Kevin dengan gugup.

Joonmyeon kembali tersenyum. Kevin bersumpah, senyuman Joonmyeon adalah yang paling indah yang pernah dilihatnya. Dan Kevin ingin melihat senyuman itu terus. Tapi kemudian suasananya berubah menjadi sangat canggung. Kevin sesekali melirik pada Joonmyeon, sebelum akhirnya ponsel milik Joonmyeon berbunyi.

Joonmyeon menerima panggilan telepon tersebut. “Ne, Appa. Ah, di depan gerbang sekolah? Aku segera ke sana.” Setelah melakukan perbincangan singkat Joonmyeon kembali menatap Kevin. Ia tersenyum lagi. “Kalau begitu aku pergi dulu.”

Kevin hanya mengangguk dan Joonmyeon beranjak meninggalkan aula tersebut sebelum akhirnya berbalik. “Kevin-sshi, semoga beruntung di Festival nanti.”

Tanpa mendengar respon dari Kevin, Joonmyeon langsung berlari meninggalkan aula tersebut. Kevin sendiri merasa wajahnya mulai terasa panas. Ia menarik nafas panjang dan menyentuh dada kirinya. Jantungnya berdetak cepat sekali.

Lalu Kevin tersenyum. “Semoga beruntung untukmu juga, Joonmyeon.”

*****

Hari Festival Tahunan tiba dan aula sekolah benar-benar penuh dengan para siswa dengan orangtuanya atau bahkan siswa dari sekolah lain. Festival Tahunan KAMSH memang diadakan besar-besaran selain itu pemenang dari kelas terbaik akan ditentukan oleh voting dari pengunjung tanpa perhitungan suara dari siswa KAMSH sendiri untuk mendapatkan hasil yang objektif.

Kevin menarik nafas panjang. Ia berdiri di dekat pintu masuk menuju area pameran bersama teman-temannya yang lukisannya dipilih. Sesekali ia mencari-cari sosok yang dirindukannya, Kim Joonmyeon. Oh, padahal kemarin mereka bertemu atau lebih tepatnya Kevin melihatnya di aula yang sama. Tapi Joonmyeon sepertinya tidak menyadari keberadaannya. Sedikit mengecewakan Kevin, tapi rasanya wajar. Mereka hanya bertemu sekali, mana mungkin Joonmyeon akan memperhatikannya terlebih mereka adalah “musuh”. Well, seumur hidup Kevin akan membenci pilihan Mom-nya karena menyuruhnya masuk sekolah ini. Tunggu! Jika dia tidak masuk sekolah ini maka dia tidak akan bertemu dengan Joonmyeon, bukan?

Kevin mengacak rambutnya frustasi.

“Hey, aku sulit sekali mengatur rambutmu itu!” seru Luhan yang datang dengan membawakan segelas minuman.

Kevin mendesah dan menerima minuman tersebut. “Lu, jangan sekarang okay.”

Luhan terkekeh melihat sikap Kevin yang sangat gugup. Kemudian ia menarik Kevin menjauh dari teman-temannya yang dari kelas Seni. Kevin tidak peduli jadi dia mengikuti Luhan keluar dari aula. Paling tidak, dia memang membutuhkan udara segar. Sampai Luhan menyodorkan sebuah selebaran padanya.

“Lihatlah,” ucap Luhan.

Kevin mengernyit dan mengambil selebaran tersebut. Matanya menjadi terbuka lebar.

Luhan tertawa melihatnya. “Jika kau tidak melihatnya, mungkin dia sedang bersiap-siap, Kevin. Lihat, dia tampil setengah jam dari sekarang.”

“Da-dari mana kau mendapat ini? Bukannya…”

“Aku mengambilnya dari siswa sekolah lain. Beruntung mereka tidak tahu kalau aku dari sekolah ini juga. Tapi paling tidak, kau bisa sedikit lega bukan? Kau tegang sekali. Terlalu merindukan siswa Musik itu?” tukas Luhan.

Kevin memukul kepala Luhan dengan selebaran itu. “Jangan mengolokku, Lu.”

Luhan hanya kembali tertawa. Tapi ia melirik jam di pergelangan tangan Kevin. “Hey, Mom-mu jadi datang tidak?”

Kevin mengangkat bahunya. Ia menghela nafas lagi. Saat ini, Kevin tidak terlalu peduli apakah Mom-nya datang atau tidak. Yang terpenting, Kevin sudah memberikan undangan. Jadi, terserah keputusan Mom-nya sendiri. Selain itu, Kevin terlalu memikirkan Kim Joonmyeon.

Luhan kembali tertawa melihat betapa menyedihkannya seorang Kevin Wu saat ini. Mereka memang belum lama akrab, tapi berasal dari satu negara yang sama yaitu China, membuat mereka sedikit seperti saudara. Luhan kemudian mengedarkan pandangannya melihat sekeliling. Festival tahun ini lebih ramai dari tahun sebelumnya, mungkin karena promosi yang dilakukan pihak sekolah sangat besar-besaran. Selain itu kabarnya ada beberapa perusahaan agensi besar yang sengaja diundang. Sepertinya jika beruntung, beberapa orang bisa mengikuti audisi untuk masuk ke perusahaan besar tersebut dan menjadi terkenal. Hah, itu bisa saja terjadi, bukan?

“Eoh? Kevin, itu Mom-mu?! Ta-tapi dengan siapa?” Luhan menunjuk pada seorang wanita yang cantik berjalan berdampingan dengan seorang pria.

Kevin memperhatikan dengan lekat. Ia mendengus. “Mom tidak bercanda kalau dia akan datang dengan kekasih barunya.”

Luhan menatap Kevin dengan mulut terbuka. “Ke-kasih? Maksudmu, calon ayah tirimu?”

Kevin mengangguk. “Masuklah, Lu,” kemudian Kevin berjalan menghampiri ibunya sedangkan Luhan masih berdiri dengan ekspresi terkejutnya.

Well, Luhan mengetahui bahwa ayah Kevin sudah meninggal beberapa tahun lalu dan ibunya memutuskan untuk pindah ke Kanada setelah enam bulan kepergian suaminya. Dan cerita yang didengar oleh Luhan, Kevin pindah ke KAMSH ini karena rekomendasi seseorang. Sepertinya seseorang itu adalah kekasih ibunya sendiri.

Luhan akhirnya memutuskan untuk kembali ke dalam aula dan Kevin kini berdiri dihadapan sang ibu. Walaupun suatu hari ia tahu akan bertemu dengan kekasih Mom-nya, tapi Kevin tidak pernah merasa siap. Kevin menghela nafas.

Mom-nya tersenyum. “Kau tidak memberi salam? Ini Kim Junhyeok.”

Kevin menatap pria itu dan sedikit membungkuk. Well, ia tidak mau dihukum hanya karena bersikap tidak sopan. “Kevin Wu imnida.”

Pria bernama Kim Junhyeok itu tersenyum. “Senang bertemu denganmu, Yifan. Akhirnya, kita bisa bertemu.”

Kevin tersenyum paksa. Pria dihadapannya memanggilnya Yifan dan bisa dipastikan ulah ibunya. Kevin menatap Mom-nya. Tapi sepertinya sang ibu hanya sibuk pada kekasihnya.

“Mom…”

Sang ibu akhirnya menatap Kevin. Sebenarnya Kevin ingin sekali protes tapi situasinya sangat tidak tepat. Lagipula Ibunya juga baru sampai seminggu yang lalu dari Kanada dengan membawa berita besar. Mengenai pernikahan. Ugh, memikirkan itu saja membuat Kevin sakit kepala.

“Ayo masuk. Acaranya sudah dimulai. Jika semakin ramai akan sulit mencari tempat. Lagipula aku ingin Mom melihat lukisanku,” tutur Kevin.

Ibunya tersenyum dan mengangguk. “Baiklah.”

Kevin tidak ingin mendengar apapun lagi, jadi dia berjalan terlebih dahulu dengan ibunya dan pria Kim itu dibelakangnya mengobrol sesuatu mengenai festival. Kevin tidak terlalu mendengarnya, karena suasananya sangat ramai. Tapi ia mungkin akan menampar dirinya saat pria Kim itu secara samar menyebut nama Joonmyeon.

*****

Kevin melewatkan penampilan Joonmyeon karena dia terlalu sibuk di area pameran. Ia memang bisa mendengar suara Joonmyeon, tapi Kevin ingin menonton penampilan siswa Musik itu secara langsung. Selain itu, ibunya dan pria Kim itu juga entah berada di mana. Setelah melihat lukisan-lukisan Kevin dan memberikan pujian, mereka langsung bergegas ke area stage. Kevin berpikir bahwa mungkin ada penampilan seseorang yang mereka ingin lihat. Tapi itu membuat Kevin bertanya, siapa.

Lalu kemudian secara tiba-tiba, Mom-nya datang dan menarik lengannya. “Mom?! Kau mau membawaku kemana?”

“Diamlah, Yifan dan ikut saja, okay. Ada seseorang lagi yang harus kau temui,” ucap Ibunya.

Kevin memutar bola matanya. Harinya sudah sangat berat tapi ia tidak bisa berharap kalau ibunya tidak merencanakan sesuatu lagi. “Siapa? Dan kenapa kita menuju belakang panggung? Mom, aku dari kelas Seni!!”

“Memangnya kenapa kau dari kelas Seni, eoh? Lagipula mereka memang menunggu di belakang panggung, Fan.”

Kevin tidak pernah mengatakan mengenai pemusuhan dua kelas di sekolah pada ibunya. Jadi, dia harus menelan sendiri tatapan aneh dari para siswa kelas Musik yang melihatnya ditarik paksa oleh ibunya sendiri. Ugh, tahun depan hidupku akan lebih buruk, pikir Kevin.

Kevin terus menggerutu sendiri sampai akhirnya langkah mereka terhenti. Kevin menarik nafas panjang dan masih memperhatikan situasi sekitarnya. Tatapan dari siswa kelas Musik membuatnya sangat tidak nyaman dan Kevin ingin segera kembali ke dorm dan tidur. Atau mungkin melihat Joonmyeon sekali baru kembali ke dorm untuk tidur.

“Ah, maaf. Aulanya terlalu besar dan sangat ramai.” Kevin mendengar ibunya bicara tapi ia masih tidak memperhatikan.

“Tidak apa-apa. Kupikir kita seharusnya pergi ke restaurant saja. Suasana di sini tidak cukup baik.”

“Ani, pergi makan bersama bisa direncanakan lain waktu. Lagipula sekarang waktu yang tepat,” tutur ibu Kevin yang kemudian menarik lengan Kevin untuk mendapat perhatian putranya. Kevin menoleh dan terpaku melihat seseorang yang kini berada dihadapannya.

“Joon-ah, kenalkan ini adalah Kevin Wu, putra Ajhumma. Dan Kevin, dia adalah Kim Joonmyeon, putra Junhyeok. Kevin, Mom berharap kau bisa bersikap baik pada Joonmyeon. Karena dia akan menjadi saudaramu.”

Oh, shit!!

 *****

NOTE: Well, sebenernya Scarface terdiri dari dua cerita yaitu Siwon – Kyuhyun dan Yifan – Joonmyeon. Makanya untuk dua part awal, memang sengaja dipisah. Dan kemungkinan mereka akan mempunyai part masing-masing atau bahkan digabung. Tapi nanti ceritanya tetap utuh koq. Err.. soal pemilihan nama Kevin itu karena terkadang aku lebih suka ajah manggil Yifan dengan Kevin ketimbang Kris hahahaha

Satu lagi, kemungkinan untuk beberapa minggu (bisa cuma seminggu atau dua minggu, tergantung ya) bakal gak update fanfic apapun. karena mulai agak sibuk dengan skripsi, jadi… harap dimaklumi ya :^)

udah koq itu ajah. kalau mau komen silahkan dikomen, kalau engga ya udah dadah~ kekekekeke…

Advertisements

37 thoughts on “[SF] Scarface Part 2

  1. Ooihh… jadi ceritanya ini ada dua pasangan ya..hehehe..
    Tadi sempat bingung juga waktu baca kog wonkyunya g ada..
    Aku kira ceritanya bakal seperti Two Faces..
    Iya g?.. kangen juga sama TF..
    buat diera.. semoga sukses dengan skripsinya,ya..
    Semangat..

  2. Eonni cm ngakak aja, eonni g kenal mmber exo (kecuali suho dan mngkin kevin kris ato yifan,oh God bahkan eonni msih bingung,kkk) tpi well, g ada slhnya bkan eonni mncoba brusaha menikmti ff-nya meski bingung sm cast-nya ahahahha,anggap saja eonni sdg baca teenlit atau apapun yg mmg bnr2 fiksi.
    Part krisho ato eonni akan mnybutnya part exo, mnrik!!! Dinamika khdupan siswa high school,dan bkan high school biasa. Dan omo… Suho dan kevin akan jdi saudra?? Disini menariknya….
    Mnrut eonni mnding d pisah aja, part wonkyu dan part exo dipisah aja gmn??? Cm opini eonni aja sih,tehehehheh

  3. sebenarnya aq g tau member2 EXO, cuma sdikit tau nama namanya saja. jadi agak bingung pas bacanya.. ini orangnya yg manaa?? kkkk
    tapi tetep baca aja deh.. 😉
    fighting buat skripsinya ya eon??!!!

  4. sempet bingung bacanya kapan nih adegan wonkyu muncul..
    owh taunya ini partnya suho ma kriss..
    sbnrnya karena g trlalu tau exo jadi gak ngerti,hadeuh..
    tapi lanjut deh..
    udh nyangka aja bakalan gmn soal wonkyu yang kyu nya masih skit itu..

  5. jd ceritanya ini terpisah ya.., pantesan kok bingung waktu baca ini ff. tp ada hubungan apa antara wonkyu dng krisho? makin penasaran aja. buat diera semangat utk mengerjakan skripsinya.

  6. agak bingung juga, cast’a aq ga ada yg kenal… Kirain bakal full dg wonkyu moment. But Thank’s uda update..

    Wah, fighting utk tugas akhir’a ya…!

  7. Naah udh ketebak kan pas Mom nya Yifan kenalin kekasih nya? apa lg marga nya Kim,lngsung saja saya mikirin joonmyeon ._.
    wkwk bakal jdi saudara nih KrisHo :3
    tp gapapa lha pacran,kan bkan saudara kandung XD
    udh sibuk skripsi?? good luck ya buat smuanya :^)

  8. Aku fikir lho ya kak, ini semacam cerita dimana Kyu dan Siwon itu dari masa lalu, kemudian Joonmyeon dan Yifan itu di masa depan -_-
    Habisnya cerita di sini bener-bener kepisah. Aku tadi nebaknya kalo Joonmyeon anaknya Kyu atau Siwon *oke ini aku ngaco abis!* hahaha
    Yuhuuuuu~ ada dua cerita dalam satu ff. Ditunggu part selanjutnya ^^

  9. jdinya ff nih menceritakan 2 pasangan yg berbeda yah..
    kirain tadi beda soalnya member exo gk ada wonkyunya sama sekali…
    keke, ternyata di bagi,,,

    ok di tunggu part selanjutnya,,

  10. akhirnya ada ff baru lagi
    Baca part 2 nyari2(?) WonKyu ko’ g’ ada, ternyata terbagi 2 cerita
    Ini yg pertama nih kaya’nya, 1 ff dengan 2 cerita
    penasaran banget, hubungan Wonkyu & Kevin-Joon nanti di ff ini

  11. Sebenernya agak kurang kenal sama para personilnya Exo. Tapi entah kenapa baca awalnya aja, udah tertarik. Dan akhirnya keterusan deh. Kasian Kevin dong ya, cinta dalam hati tapi harus dihadapkan pada kenyataan yang pahit.

  12. hallloooooo kak dierra …

    ya Tuhan krisho ….kaliaan bener2 imut
    untuk ffnya …bener2 bikin penasaran deeh

  13. Sebenarnya ini pertama x aq baca ff cast nya member exo, jd agak sedikit bingung ngebayanginnya krn gak kenal mereka
    Tp klo untuk krisho ya lumaya kenallah soalnya couple ini juga sering berhubungan ma wonkyu….

    Next read next chap

  14. Awalnya aku bingung,knpa ceritanya malh jdi krisho.. Aku kira malah slah ff..wkkwkw
    Uhhh sakit bgt tuh kris,baru aja suka sma orang eh malah itu anaknya bkal jdi sodara sma kriss T.T *pelukkris* *ikutnangis* :v
    Gmna reaksi suho itu?suhonya sih belom suka2 bgt,belom tau juga kris suka..
    Tapi krisnya itu lohh,mirissss kwkwk
    Fighting krisss,buang smua penghalang *teriakgaje* *plak!*

  15. yahhh udah dech kevin terlanjur tertarik ma joonmyeon
    dan bahkan joonmyeon pun kayaknya juga punya ketertarikan yang sama kekevin

    ohh jadi ini emang terkonsep kayak gitu ada dua pairing
    mian ne aku juga jarang baca yang gak tahu dech ini genrenya masuk apa
    tapi bikin menarik dari awalnya

  16. Baru mau nanya apa Krisho ini ada hubungannya sama Wonkyu nanti, apa ada ceritanya masing2 yg ga terikat, apa malah nanti saling melengkapi. Eh ternyata di bawah ada Note nya. Lengkap pula sama jawaban kenapa Diera lebih memilih Kevin dibandingin Kris hehehehe

    Kasian Kevin ya, belum apa2 udah pupus harapan aja. Kecuali ada takdir kalo ortu mereka ga jadi merit hehehehe

  17. aq sempet bingung..kok tiba2 jd EXO??pas baca note br tau
    aq krg tau ttg exo..cm tau ny suho doank krn srg jd anak kyu d ff 😀

  18. Hmmm, ini partnya khusus exo yah,
    Aq gak terlalu suka EXO sih, tp tau smw membernya terutama Suho dy mirip abang won sih. Wkwkwkwk

    Aq bngung mo komen apa, aq lanjut ajja ke part selanjutnya. .
    Mianhe *bow*

  19. Wadu… Gawat nih kalo beneran jd saudara gagal sudah deketin joonmyeonnya 😂😂 kasian kalo beneran jadi saudara habis kayaknya joon nya juga suka sm yifan hmm

  20. Utk cerita ini ada 2 maincast ya??
    Sbnernya krg srek sich baca yg harusnya nma yifan tu adl kris diganti dg kevin, tp terserah authorlah krna saya cuma tinggal baca. 😁😁😁😁
    Orng yg menjadi perhatian yifan selama ini ternyata akan menjadi saudara tirinya, akankah dia menerima semua kenyataan ini??

  21. Utk cerita ini ada 2 maincast ya?
    Sbnernya rada krg srek baca nama kris menjadi kevin tp smua tu terserah authorlah krna saya cuma tinggal baca 😁😁😁😁
    Orng yg menjadi perhatian yifan selama ini akan menjadi saudara tirinya,akankah yifan menerima semua ini??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s